Anda di halaman 1dari 3

KEJAHATAN SEKSUAL

Kejahatan seksual (secsual offences), sebagai salah satu bentuk dari kejahatan yang
menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, mempunyai kaitan yang erat dengan
Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Kedokteran Forensik; Yaitu di dalam upaya
pembuktian bahwasanya kejahatan tersebut memeng telah terjadii !danya kaitan antara
Ilmu Kedokteran dengan kejahan seksual dapat dipandang sebagai suatu konsekwensi
dari pasal"pasal didalamKitab #ndang"#ndang $ukum %idana (K#$%) serta Kitab
#ndang"#ndang $ukum !cara %idana (K#$!%), yang memuat ancaman hukum serta
tata cara pembuktian pada setiap kasus yang termasuk didalam pengertian kasus
kejahatan seksual
&idalam upaya pembuktian secara kedokteran forensik, faktor keterbatasan didalam ilmu
kedokteran itu sendiri dapat sangat berperan, demikian halnya dengan factor waktu serta
factor keaslian dari barang bukti (korban), maupun faktor"faktor dari sipelaku kejahatan
seksual itu sendiri
&engan demikian upaya pembuktian secara kedokteran forensic pada setiap kasus
kejahatan seksual sebenarnya terbatas didalam upaya pembuktian ada tidaknya tanda"
tanda persetubuhan, ada tidaknya tanda kekerasan, perkiraan umur serta pembuktian
apakah seseorang itu memeng sudah pantas atau sudah mampu untuk dikawini atau
tudak
Persetubuhan Yang Merupakan Kejahatan
%ersetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang"undang
dapat dilihat pada pasal"pasal yang tertera pada bab 'I( K#$%, yaitu bab tentang
kejahatan terhadap kesusilaan, yang meliputi baik yang persetubuhan didalam
perkawinan maupun persetubuhan diluar perkawinan
%ersetuhan didalam perkawinan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksud oleh
pasal )** K#$%, ialah bila seorang suami melakukan persetubuhan dengan istrinya yang
belum mampu kawin dengan mengakibatkan luka"luka, luka berat atau mengakibatkan
kematian
Pembuktian Adanya Persetubuhan
%ersetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis kedalam +agina,
penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai
ejakulasi
&engan demikian hasil dari upaya pembuktian adanya persetubuhan dipengaruhi
berbagai factor, diantaranya,
-esarnya penis dan derajat penetrasinya
-entuk dan elastisitas selaput dara ( hymen)
!da tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sendiri
%osisi persetubuhan dan
Keaslian barang bukti dan waktu pemeriksaan
&engan demikian tidak terdapatnya robekan pada hymen tidak dapat dipastikan bahwa
pada wanita tidak terjadi penetrasi; sebaliknya adanya robakan pada hymen hanya
merupakan pertanda adanya suatu benda (penis atau benda lain) yang masuk kedalam
+agina
!pabila pada persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan ejakulet tersebut
mangandung sperma, maka adanya sperma didalam liang +agina merupakan tanda pasti
adanya persetubuhan !pabila ejakulat tidak mengandung sperma maka pembuktian
adanya persetubuhan dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap ejakulat
tersebut
Komponen yang terdapat didalam ejakulat yang dapat diperiksa adalah en.im asam
fosfatase, kholin dan spermin -aik en.im asam fosfatase, kholin dan spermin bila
dibandingkan dengan sperma, nnilai untuk pembuktian lebih rendah oleh karena ketiga
komponen tersebuttidak spesifik /alaupun demikian en.im fosfatase masih dapat
diandalkan, oleh karena keadaan en.im fosfatase yang terdapat dalam +agina ( barasal
dalam wanita itu sendiri, kadarnya jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan asam
fosfatase yang berasal dari kelenjar prostate
&engan demikia apabila dengan kejahatan seksual yang disertai dengan persetubuhan itu
tidak sampai berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya pembuktian adanya
persetubuhan secara kedokteran forensic tidak mungkin dapat dilakukan secara pasti
0ebagai konsekwensinya dokter tidak dapat secara pasti pula menentukan bahwa pada
wanita tidak terjadi persetubuhan; maksimal dokter harus mengatakan bahwa pada diri
wanita yang diperiksanya itu tidak ditemukan tanda"tanda persetubuhan, yang mencakup
dua kemungkinan, pertama, memng tidak adad persetubuhan dan kedua persetubuhan ada
tetpi tanda"tandanya tidak dapat ditemukan
!pabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara pasti, maka perkiraan saat terjadinya
persetubuhan harus ditentukan $al ini menyangkut masalah alibi yang sangat penting
didalam penyidikan
0perma didalam liang +agina masih dapat bergarak dalam waktu 1"2 jam postcoital,
sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai sekitar )1"34 jam postcoital, dan
bila wanitanya mati masih akan ditemukan sampai 5"* hari
%erkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat ditentukan dari proses penyembuhan
dari selaput dara yang robek, yang pada umumnya penyembuhan tersebut akan dicapai
dalam waktu 5"67 hari postcoital
a) %emeriksaan adanya kehamilan
8erjadinya kehamilan jelas merupakan tanda adanya persetubuhan, akan tatapi
oleh karena waktu yang dibutuhkan untuk itu cukup lama, dengan demikian nilai
bukti ini menjadi kurang oleh karena kemungkinan yang menjaditersangka pelaku
kejahatan menjadi bertambah, hal mana mempersulit penyidikan dan
membutuhkan waktu yang leih banyak untuk mengungkap kasusnya
b) Faktor waktu dan factor keaslian dari barang bukti
&idalam pemeriksaan kasus"kasus korban kejahatan seksual faktorwaktu dan
keaslian barang bukti yang diperksasangat berperan didalam menentukan
keberhasilan pemeriksaan 8anda"tanda persetubuhan dengan berlangsungnya
waktu akan menghilang dengan sendirinya, luka"luka akan menyembuh &engan
demikian pemeriksaan sedini mungkin merupakan keharusan, bila dari
pemeriksaan diharapkan hasil yang maksimal %akaian korban yang telah diganti,
tubuh wanita yang telah dibersihkan akan menyulitkan pemeriksaan oleh karena
keadaanya sudah tidak asli
Pembuktian Adanya Kekerasan
%embuktian adanya kekerasan pada tubuh wanita korban tidak sulit, dalam hal ini perlu
diketahui lokasiluka"luka yang sering ditemukan, yaitu, didaerah mulut dan bibir, leher,
putting susu, pergelangan tangan, pangkal paha dan disekitar dan pada alat genital 9uka"
luka akibat pada kejahatan seksual biasanya berbentuk luka"luka lecet bekas kuku,
gigitan serta luka memar
%erlu diketahui dalam hal pembuktian adanya kekerasan bahwa tidak selamanya
kekerasan itu meninggalkan jejak atau bekas yang berbentuk luka dengan demikian tidak
ditemukanya luka tidak berarti pada wanita korban tidak terjadi kekerasan
8indakan pembiusan dikategorikan pula sebagai tindakan kekerasan, maka dengan
sendirinya diperlukan pemeriksaan untuk menentukan ada tidaknya obat"obat atau racun
yang kiranya dapat membuat wanita menjadi pingsan, ini menimbulkan konsekwensi
bahwa pada setiap kasus kejahatan seksual pemeriksaan toksikologi menjadi prosedur
yang rutin dikerjakan