Anda di halaman 1dari 16

Peran Keluarga dalam Perawatan Anggota Keluarga Gangguan

Jiwa Skizofrenia
Di Ruang 23 PSIKIATRI
Rumah Sakit Dr. SAIFUL ANWAR MALANG






Disusun oleh kelompok 1 & 2
Adi Abdullah Aswandi
Nur Halilah Ade Rosviani
Harsono Septriani
Norma Yanti Rudy febrian


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSIAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2014

Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan seluruh alam, salawat serta salam selalu kita
limpahkan kepada Nabi junjungan seluruh umat Muhammad Rasulullah SAW. Atas
rahmat dan hidayah-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul Peran Keluarga dalam Perawatan Anggota Keluarga Gangguan Jiwa
Skizofrenia
Penulis sadar dalam makalah ini masih banyak sekali kekurangan baik dalam
penulisan materi maupun tata bahasa yang digunakan, maka dari itu dengan segala
kerendahan hati penulis mengharapkan adanya masukan baik berupa kritikan dan
saran demi menyempurnakan skripsi ini. Semoga apa yang menjadi sumbangan
dalam bentuk apapun agar memperoleh skripsi yang lebih baik mendapat imbalan
yang berlipat ganda dari Allah SWT.



Malang, 25 Juli 2014
Penulis






Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah Penelitian ........................................................................................ 1
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ......................................................................................................................... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................................................................... 3
2.1 Pengertian Keluarga ..................................................................................................... 3
2.2 Peran dan Fungsi Keluarga .......................................................................................... 5
2.3 Upaya Yang Dapat Dilakukan Keluarga Dalam Membantu Pemenuhan
Kebutuhan Anggota Keluarga Yang Mengalami Gangguan Jiwa ............................... 12
2.4 Hak Keluarga atas Informasi Anggota Keluarga yang Dirawat di Rumah Sakit .......... 13
BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 15
3.1 Kesimpulan Dan Saran .................................................................................................. 15
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 16






BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan jiwa bukanlah penyakit jiwa yang tidak dapat disembuhkan.
Peningkatan angka relapse pada pasien gangguan jiwa pasca perawatan dapat
mencapai 25% - 50% yang pada akhirnya dapat menyebabkan keberfungsian
sosialnya menjadi terganggu. Peranan keluarga diperlukan untuk menekan sekecil
mungkin angka relapse dan mengembalikan keberfungsian sosialnya. Keluarga
dapat mewujudkannya dengan memberi bantuan berupa dukungan emosional,
materi, nasehat, informasi, dan penilaian positif yang sering disebut dengan
dukungan keluarga.
Peran keluarga dalam menangani anggota keluarganya yang menderita
gangguan jiwa tidak hanya penting di rumah, tetapi juga selama di rumah sakit,
keluarga mempunya peran yang diharapkan dapat dilakukan untuk meningkatkan
optimalisasi kesembuhan pasien. Keluarga merupakan bagian dari tim
pengobatan dan perawatan. Apalagi di Indonesia dengan kultur sosialnya tinggi di
tambah keterbatasan jumlah perawat di rumah sakit sehingga tugas merawat
orang sakit yang dirawat di rumah sakit umumnya dilakukan oleh keluarga yang
menjaga dan menunggui secara bergantian, bahkan sering menjaga bersama-
sama. Sementara perawat di rumah sakit yang seharusnya merawat orang sakit
juga harus melakukan tugas-tugas yang lain di bangsal perawatan. Hal itu harus
dimaklumi.
Tugas keluarga biasanya memenuhi kebutuhan harian yang tidak bisa
dipenuhi pasien secara mandiri. Khususnya untuk pasien gangguan jiwa yang
dirawat di rumah sakit, jika secara fisik tidak mengalami gangguan maka
ketergantungan terhadap orang lain biasanya minimal sehingga jarang pasien
gangguan jiwa ditunggui oleh keluarga. Perawatan dan pengawasan diserahkan
kepada fihak rumah sakit.
Pasien yang dirawat di rumah sakit menemukan teman-teman dan kelompok
yang mengalami masalah yang sama. Walaupun begitu keluarga perlu menjajagi
kebutuhan pasien akan komunikasi dengan keluarga di kurun waktu hospitalisasi.
Berbagai respon yang berbeda tiap-tiap pasien akan dialami saat mulai hari
pertama di rumah sakit sampai pemulangan. Pasien mungkin awalnya merasa
terasing, mungkin juga kerasan, mungkin tidak mau pulang, atau bahkan ingin
pulang. Peran keluarga penting untuk memantau kebutuhan pasien dari laporan
perawat atau jika perlu malakukan komunikasi langsung.
Pada beberapa rumah sakit mungkin mengizinkan pasien untuk membawa
alat komunikasi maka ini perlu digunakan. Pada pasien gangguan jiwa di rumah
sakit yang untuk memenuhi kebutuhan hiegien dan toilet secara fisik tergantung
maka keluarga berperan menjadi caregiver (umumnya di Indonesia).
.............................

1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengertian keluarga?
b. Apa Peran dan Fungsi Keluarga dalam menangani anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa?
c. Apa upaya yang dapat dilakukan keluarga dalam membantu pemenuhan
kebutuhan anggota keluarga yang mengalmai gangguan jiwa?

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan karya tulis ini adalah untuk mengeetahui
bagaimana peran keluarga dalam Perawatan Anggota Keluarga Gangguan
Jiwa

b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui peran dan fungsi keluarga sebagai caregiver
2. Mengetahui peran dan fungsi keluarga dalam menangani anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa
3. Mengetahui upaya atau usaha yang dapat dilakukan keluarga dalam
membantu pemenuhua kebutuhan anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa.

1.4 Manfaat
a. Bagi perawat
Dapat memberikan informasi kepada anggota keluarga dalam
menjalankan peran dan fungsinya dalam menangani anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa.
b. Bagi keluarga
Dapat menjalankan peran dan fungsinya selaku keluarga dalam
menjalankan peran dan fungsinya dalam menangani anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa.






















BAB II
KAJIAN TEORI
3.1 Pengertian Keluarga
Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan
darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi
satu sama lain. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat di
pengaruhi oleh suprasistemnya yaitu lingkungan atau masyarakat, oleh karena itu
betapa pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam membentuk manusia sebagai
anggota masyarakat yang sehat bio-psiko-sosial dan spiritual (Santoso, 2010).
Tipe keluarga secara tradisional di kelompok menjadi dua antara lain sebagai
berikut(Sundari, 2011) :
a. Keluarga Kecil (Nuclear Family)
Keluarga inti adalah keluarga yang hanya terdiri ayah. ibu dan anak yang
diperoleh dari keturunan atau adopsi atau keduanya.
b. Keluarga Besar (Extended Family)
Keluarga besar didasarkan pada keluarga inti ditambah anggota keluarga lain
yang masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek, paman-bibi).
3.2 Peran dan Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (dalam Suparyanto, 2011) lima fungsi dasar keluarga
adalah sebagai berikut:
1. Fungsi afektif, adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan
psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih serta, saling menerima
dan mendukung.
2. Fungsi sosialisasi, adalah proses perkembangan dan perubahan individu keluarga,
tempat anggota keluarga berinteraksi social dan belajar berperan di lingkungan
social
3. Fungsi reproduksi, adalah fungsi keluarga meneruskan kelangsungan keturunan
dan menambah sumber daya manusia
4. Fungsi ekonomi, adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga,
seperti sandang, pangan, dan papan
5. Fungsi perawatan kesehatan, adalah kekampuan keluarga untuk merawat anggota
keluarga yang mengalami masalah kesehatan.Kemampuan keluarga melakukan
asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan memengaruhi status kesehatan
keluarga dan individu.
3.3 Upaya Yang Dapat Dilakukan Keluarga Dalam Membantu Pemenuhan
Kebutuhan Anggota Keluarga Yang Mengalami Gangguan Jiwa
1. Setelah Kembali ke Rumah
Penderita gangguan jiwa yang di bawah ke rumah sakit jiwa akan memperoleh
pengobatan yang diperlukan untuk mengurangi gejala, mencegah kekambuhan, dan
menghilangkan gejala. Pertanyaannya adalah apakah pengobatan di rumah sakit
sudah cukup? Jawabannya adalah pengobatan pasien di Rumah Sakit tidaklah cukup
sampai di situ saja, begitu di rawat dan kemudian dinyatakan sembuh total kemudian
pasien pulang dan dengan pengobatan dan penaganganan kontinu dirumah pasien
diharapkan memperkecil peluang untuk kambuh.
Pasien yang datang ke rumah sakit dengan diagnosa gangguan jiwa memperoleh
stressornya dari lingkungan sebelumnya yaitu rumah tinggal atau lingkungan kerja
dimana waktu sering di gunakan di situ, begitu pasien datang ke rumah sakit, pasien
memperoleh situasi dan suasana terapi yang berbeda dengan situasi sebelumnya.
2. Menyadari Masa Transisi: Adaptasi keluarga
Begitu kembali ke rumah atau lingkungan semula maka segala hal di rumah bisa
menjadi trigger pada situasi mental dimana kemudian memudahkan pasien untuk
kembali mengalami gangguan jiwa. Karena itu pengobatan dan pengelolaan pasien di
rumah sangat penting. Beberapa waktu begitu pasien tiba dirumah setelah diputuskan
pulang merupakan masa terapi transisi. Adanya terapi transisi ini hendaknya disadari
oleh keluarga bahwa mereka berfungsi sebagai terapist yang mengajari dan
membimbing pasien agar bisa beradaptasi secara mental di lingkungan yang ada.
Keluarga melakukan pengawasan yang hati-hati dan mendeteksi situasi emosional
dan kemampuan beradaptasi pasien. Keluarga juga perlu melakukan perubahan
lingkungan yang diduga atau diyakini berkaitan dengan stressor pasien. Pasien juga
diajari untuk beradaptasi.

3. Memantau terapi farmakologi
Setelah pasien dinyatakan boleh dipulangkan dari Rumah Sakit umumnya pasien
tetap memperoleh terapi farmakologi yang perlu untuk diminum dalam waktu tertentu
kadang-kadang relatif lama untuk mencegah kekambuhan. Pasien diberi tanggung
jawab untuk melakukan ke-ajeg-an minum obat. Ini merupakan bentuk kecil
pengajaran tanggung jawab yang berkonsekwensi besar. Nah peran keluarga adalah
memantau sebarapa jauh tanggung jawab ini dapat ditunaikan oleh pasien. Pada titik
tertentu pasien teledor maka keluarga bukan sekedar memantau tetapi memberikan
penekanan ulang terhadap tanggung jawab ke-ajegan minum obat ini secara persuasif
untuk mencapai perubahan perilaku internal. Pemaksaan terhadap suatu perilaku
tertentu terhadap pasien hanya akan memperoleh efek jangka pendek, bahkan pasien
sering melakukan manipulasi dengan pura-pura minum obat. Karena itu penyadaran
terhadap ke-ajegan minum obat ini penting sehingga pasien mampu mengontrol diri
sendiri, bukan keluarga.
4. Peka Terhadap Kemungkinan Reaksi Emosional Penderita
Keluarga adalah orang-orang terdekat. Saling melindungi dan mencintai tumbuh
tanpa disadari antar anggota keluarga. Interaksi paling intens adalah keluarga sebagai
orang terdekat. Setiap perilaku akan direspon secara keseluruhan oleh anggota
keluarga lain. Ada sebuah ungkapan bahwa orang yang paling kita cintailah yang
berpotensi besar melahirkan sakit hati dan penderitaan pada seseorang. Artinya
stressor terbesar dapat dengan mudah kita temukan berasal dari dalam anggota
keluarga sendiri. Keluarga pasien gangguan mental perlu peka terhadap setiap
keputusan, tingkah laku dan sikap yang akan terespon secara emosional atau fisikal
oleh anggota keluarga yang sakit. Jadi harus diingat yang dimaksud respon disini
adalah bukan hanya gejala yang terlihat tetapi juga yang bersifat laten. Jadi keluarga
harus peka terhadap suasana emosional pasien atas interaksi yang dihasilkan dengan
anggota lainnya.
5. Garda Terdepan dan Tumbuhkan Keterbukaan
Kembali ke rumah setelah dinyatakan sembuh dari sakit jiwa berbeda dengan
pulang sembuh dari rumah sakit non jiwa. Beban lain perlu di atasi oleh pasien yaitu
rasa malu dan rendah diri karena stigma sakit ingatan yang pernah diderita. Pasien
merasa dirinya akan menjadi bahan gunjingan, mungkin jadi bahan olokan, atau akan
ditolak dalam kegiatan sosial dan kekhawatiran lepasnya peran penting di masyarakat
maupun lingkungan kerja. Belum lagi terjadi semua hal tersebut, bayangan dan
perasaan negatif ini saja sudah cukup membebani pasien. Keluarga harus segera
menyadari hal ini dan melakukan perlindungan terhadap perasaan negatif ini dengan
menjadi yang terdepan memberi rasa aman, rasa positif, rasa memerlukan pasien,
bersikap terbuka. Perilaku minimal adalah anda jangan berbisik-bisik dengan anggota
keluarga lain atau orang lain di depan pasien. Hal ini akan membuka peluang pasien
untuk menciptakan prasangka negatif tentang dirinya, menumbuhkan rasa curiga, dan
akhirnya suasana tidak sehat karena hubungan dan interaksinya tumbuh berdasarkan
prasangka. Perilaku yang didasari prasangka pastilah salah. Perilaku yang salah
cenderung akan direspon salah jika tidak terjalin suasana terbuka.
6. Terbuka terhadap Lingkungan Sosial
Selanjutnya keluarga sebagai lingkaran terdalam dari interaksi pasien bertanggung
jawab untuk melakukan edukasi terhadap komunitas lingkaran lebih luar dari
interaksi pasien dengan melakukan pendekatan-pendekatan melalui kemungkinan
kesempatan yang ada ataupun kesempatan yang direncanakan. Mengidentifikasi dan
mengenali orang penting pasien diluar keluarga dan mengoptimalkan perannya dalam
perubahan komunitas interaksi pasien. Sebelum pasien tiba di rumah menjelaskan
secara terbuka tentang apa yang terjadi dan peran yang diharapkan atas mereka.
7. Geser Aspek Nilai Kehidupan ke Nilai yang Menguatkan
Keluarga berperan dalam memberikan harapan yang realistis terhadap anggota
keluarga. Harapan yang tidak realistik terlalu tinggi menjatuhkan pasien secara
mental. Jatuh dari tempat tinggi tentu lebih menyakitkan. Harapan yang tinggi bisa
menghancurkan mental pasien yang memandang harapan tersebut adalah segala-
galanya. Berikan alternatif harapan lain, dan ajari untuk belajar bersyukur dan puas
dengan apa yang sudah diterima. Sandaran nilai agama juga merupakan alternatif
utama. Islam misalnya mengajarkan bahwa apa yang kita raih milik Allah dan semua
akan kembali lagi kepada pemilik-Nya. Begitu juga dengan nilai-nilai agama lain
tentunya mengajarkan nilai-nilai yang menguatkan.

8. Senantiasa Belajar dan Mengikuti Pengetahuan Baru
Pengetahuan senantiasa berkembang, cara-cara baru relatif lebih sempurna. Peran
keluarga adalah selalu belajar dan mencari pengetahuan dari sumber yang bisa
dipercaya dan pada bidangnya. Masyarakat tertentu begitu mendewakan dan fanatik
pada figur keagaaman tertentu dimasyarakat sehingga segala hal ditanyakan dan
konsultasi pada figur agama tersebut. Masalah bisnis, masalah pekerjaan, masalah
rumah tangga, masalah jodoh, masalah rumah dikonsultasikan dan pamit pada satu
orang. Ini adalah kultur yang perlu di kikis agar tidak menghancurkan. Pengalaman
penulis bertemu dengan seorang yang obesitas, dan perokok berat dan mengalami
hipertensi kronis. Saya berkata kepada orang tersebut dengan cara halus bahwa
merokok membahayakan dirinya. Dia malah menceritakan pengalamannya tentang
rasa pusing yang diderita setelah itu dia bertanya kepada seoranga figur agama /
tokok untuk mencari jalan keluar, dan memperoleh jawaban dari tokoh tersebut agar
dia merokok, karena merokok menghilangkan pusing. Saat artikel ini ditulis, orang
tersebut meninggal dunia karena penyakit kardiovaskuler. Pengalaman ini
mengharuskan saya untuk menyarankan untuk menanyakan informasi dari ahlinya.
9. Meningkatkan Partisipasi Anggota Keluarga Lain sebagai Support
Perlu diingat bahwa riwayat sakit mental atau kekambuhan sakit mental
merupakan faktor resiko bunuh diri. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang
bunuh diri atau usaha bunuh diri mempunyai riwayat gangguan kejiwaan atau sudah
pernah di rawat-inapkan di rumah sakit (HIMH, 2012). Peran keluarga juga
bertambah berkaitan dengan faktor resiko bunuh diri ini. Peran keluarga sangat
penting dan telah didukung dengan berbagai penelitian mengenai peran keluarga ini
antara lain Knitzer,Steinbergh, & Fleich, (1993) yang menyatakan bahwa partisipasi
keluarga mendorong peningkatan fokus keluarga.
Secara singkat menurut Marsh et all (2012) peran keluarga dalam menangani
anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa sbb:
- Pendampingan pengobatan
- Fahami dan normalkan pengalaman penderita
- Pusatkan pada kelebihan-kelebihan dan kekuatan penderita
- Pelajari tentang sakit jiwa dan sumber-sumber yang berkaitan
- Ciptakan lingkungan yang mendukung penderita
- Tingkatkan kemampuan memecahkan masalah
- Bantu memulihkan perasaan sedih dan kehilangan penderita
- Kembangkan harapan yang realistis

3.4 Hak Keluarga atas Informasi Anggota Keluarga yang Dirawat di Rumah
Sakit

Keluarga nantinyalah yang akan menerima penderita di rumah sepulang dari
rumah sakit. Begitu siap dipulangkan keluarga menerima estafet pengelolaan
penderita di rumah sebagai kelanjutan pengelolaan di rumah sakit. Karena itu
selama di rumah sakit keluarga berhak atas informasi pengobatan, perawatan,
dan penanganan lainnya terhadap penderita. Karena itu bertanya kepada pihak
rumah sakit merupakan hak keluarga untuk memperoleh informasi tersebut.
Keluarga perlu perlu mulai membuka dan menjalin kedekatan dengan personel
rumah sakit untuk keperluan ini. Aspek-aspek yang perlu ditanyakan adalah
sebagai berikut :
a. Apa diagnosa sakit kejiwaannya yang diangkat?
b. Pengobatan apa yang telah diterima ?
c. Apa rencana pengobatan dan penanganan selanjutnya?
d. Obat apa yang sedang diberikan selama di rumah sakit?
e. Efek samping apa yang harus saya ketahui?
f. Apa yang harus saya lakukan jika muncul efek samping?
g. Bagaimana prognosisnya?
Keluarga perlu mengetahui persiapan apa yang perlu dilakukan sebelum anggota
keluarga sakit dipulangkan kerumah. Keluarga harus sudah melakukan introspeksi
dan melakukan ancang-ancang perubahan yang diperlukan bagi kesehatan anggota
keluarga yang baru dirawat di rumah sakit. Semua anggota keluarga perlu mengetahui
dan mengerti perilaku apa yang mendukung kesehatan mental pasien dan perilaku apa
yang merusak kesehatan jiwa. Hal ini sudah mulai direnungkan dan tidak ada
salahnya memperoleh informasi dari fihak rumah sakit. Rumah sakit yang bermutu
akan menyiapkan edukasi keluarga menjelang pemulangan.







BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keluarga merupakan orang-orang yang sangat dekat dengan pasien dan
dianggap paling banyak tahu tentang kondisi yang dialami pasien serta dianggap
paling banyak memberi pengaruh pada pasien. Sehingga peran keluarga sangat
penting artinya dalam perawatan dan penyembuhan pasien.
Peran keluarga dalam menangani anggota keluarganya yang menderita
gangguan jiwa tidak hanya penting di rumah, tetapi juga selama di rumah sakit,
keluarga mempunya peran yang diharapkan dapat dilakukan untuk meningkatkan
optimalisasi kesembuhan pasien. Keluarga merupakan bagian dari tim pengobatan
dan perawatan. Apalagi di Indonesia dengan kultur sosialnya tinggi di tambah
keterbatasan jumlah perawat di rumah sakit sehingga tugas merawat orang sakit yang
dirawat di rumah sakit umumnya dilakukan oleh keluarga yang menjaga dan
menunggui secara bergantian, bahkan sering menjaga bersama-sama.
3.2 Saran
3.2.1 Saran untuk keluarga
Dengan adanya karya tulis ini, diharapkan keluarga klien nantinya lebih bisa
menerapkan atau benar-benar memperhatikan tentang pentingnya peran serta
keluarga dalam upaya penyembuhan anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa.
3.2.1 Saran untuk petugas kesehatan/perawat
Memberikan informasi, edukasi kepada keluarga klien dalam upaya
penyembuhan klien gangguan jiwa




DAFTAR PUSKATA
Anonim (2012) Mental Disorder Toolkit Diakses di http://www.relatedminds.com/
wp-content/uploads/ 2011/06/mdtoolkit.pdf pada 15 Mei 2012
Anonim (2012). When a Family Member has Mental Illness Diakses di
http://wcmhar.org/familymembers.htm pada Mei 15 2012
Marsh., D. & Schenk, S. & Cook., A (2012) Families and Mental Illness . Diadaptasi
oleh National Alliance on Mental Illness / NAMI.Diakses di :
www.namigc.org/content/fact_sheet/familyinfo/familiesweb.htm pada 15 Mei
2012
Hunter Institute Of Mental Health / HIMH (2012) Mental illness and Suicide
www.responseability.org/site/index.cfm?display=134913 Diakses pada 15
Mei 2012
Knitzer, J., Steinberg, Z., & Fleisch, B. (1993). At the Schoolhouse Door: An
Examination of Programs and Policies for Children with Behavioral and
Emotional Problems. New York: Bank Street College of Education.
Action of Mental Ilness (AMI) .(tanpa tahun) Role of the Family. Diakses di :
www.amiquebec.org/RoleoftheFamily.htm . Diakses pada : Juni 2012.
Suparyanto, 2011. Pengertian Keluarga.http://www.dr-suparyanto.blogspot.com.
Diakses tanggal 18-05-2013 jam 10.00 WIB.

Santoso, B.A. 2010. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep Dan Aplikasi. Jakarta:
Selemba Medika