Anda di halaman 1dari 21

1

PERCOBAAN VI
SENYAWA AMINA

I. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui uji spesifik amina
2. Mengetahui perbedaan reaksi senyawa amina primer dan sekunder pada
penambahan reagen-reagen tertentu

II. Landasan Teori
Terdapat tiga jenis amina sesuai dengan jumlah atom H yang diganti oleh
gugus alkil, yaitu amina primer (R-NH
2
), amina sekunder (R
2
-NH), dan amina tersier
(R
3
-N).

Tatanama trivial untuk ketiga senyawa amina tersebut diturunkan dari nama gugus
alkilnya, contoh :

Nama sistematis menurut IUPAC, amina primer diturunkan dari alkana induk dengan
menambahkan kata depan amino dan nomor tertentu karbon yang membawa gugus
. Contoh

2

Kimia amina dapat dianggap cerminan dari kimia amonia. Amonia adalah
basa lemah yang dapat mengikat proton (H
+
) membentuk garam amonium.

begitu pula dengan amina. Misalnya, trimetilamin bereaksi
dengan asam membentuk ion trimetilamonium :

Garam ini lebih larut dalam air daripada amina yang sederajat dan reaksinya dapat
digunakan untuk melarutkan amina lain dalam larutan air.
Amina primer dengan berat molekul rendah berupa gas atau cairan yang
mudah menguap. Pada umumnya mempunyai seperti amonia. Amina sekuinder dan
tersier mempunyai bau amis, tetapi kemudahan menguapnya lebih rendah
dibandingkan amina primer. Kegunaan senyawa amina umumnya banyak dipakai
untuk obat obatan, seperti stimulan dan obat batuk.
(Yayan Sunarya.2012:495)
Sifat fisis dan Interaksi Antarmolekul pada Amina
Metilamina dan etilamina berwujud gas, tetapi amina primer dengan tiga atau
lebih karbon berwujud cair. Amina primer mendidih jauh diatas alkana dengan bobot
molekul yang setara, tetapi dibawah alkohol setara. Ikatan hidrogen
penting disini akan meningkatkan titik didih amina primer dan sekunder meskipun
tidak sekuat ikatan hidrogen
O H
pada alkohol. Alasannya ialah nitrogen
tidak seelektronegatif seperti oksigen.
Ketiga golongan amina dapat membentuk ikatan hidrogen dengan gugus OH
dari air. Amina primer dan sekunder juga dapat membentuk ikatan hidrogen dengan
atom oksigen dari air. Jadi, kebanyak amina sederhana dengan sampai lima atau enam
atom karbon dapat larut sempurna atau larut cukup dalam air.
(Harold Hart. 2003: 349)
Amina bersifat basa sebab ada pasangan elektron menyendiri pada atom
nitrogen yang dapat menerima satu ion hidrogen, sama seperti pasangan menyendiri
pada nitrogen dalam amonia. Amina primer atau sekunder (atau amonia itu sendiri)
3

dapat berekasi dengan asam karboksilat membentuk amida. Ini adalah reaksi
kondensasi yang lain dan analog dengan pembentukan ester dari reaksi alkohol
dengan asam karboksilat. Contoh pembentukan amida ialah :

Jika amonia adalah reaktan, satu gugus NH
2
menggantikan gugus OH dalam asam
karboksilat dan amida terbentuk :

Ikatan amida ada dalam tulang punggung setiap molekul protein dan oleh karena itu,
sangat penting dalam biokimia.
(David W Oxtoby.2004:128)
Amian merupakan senyawa organik dimana atom atom hidrogen NH
3
telah
digantikan oleh gugus alkil atau aril :

Dalam larutan berair, pasangan yang tidak dipakai bersama ini terlihat dalam
pengikatan hidrogen dengan molekul air (ikatan hidrogen bertitik titik) :

Selain itu, amina primer dan sekunder dapat membentuk ikatan hidrogen
dengan molekul air lain,
menghasilkan klaster :

4

kelarutan yang tinggi dari amina, yang memiliki berat molekul kecil dalam air,
sebagian disebabkan oleh ekstensifnya oleh pengikatan hidrogen antara amina dan
pelarut.
(R. A. Day & A.L. Underwood. 2002:131)

III. Prosedur Kerja
3.1 Alat dan Bahan
Alat
Tabung reaksi
Pipet tetes
Pemanas air
Erlenmeyer
Gelas ukur 25 mL
Gelas piala
Bahan
Na-nitrit 10%
HCl 2N
Aseton
Na-nitroprusid 1%
NaOH 0,5% dan 5%
Dimetilamina
Kloroform
Anilin
Kanji
KI
-naftol
Benzoil klorida
Asetaldehid

3.2 Skema Kerja
Amina Primer
1. Reaksi dengan Asam Nitrit


Dilarutkan dengan 5 mL HCl 2N
0,1 gr sampel
5

Didinginkan dengan es


Ditambahkan 2 mL larutan NaNO
2

10%
Dipanaskan perlahan dengan
penangas air
Diamati gas hasil reaksi yang terjadi


2. Tes Rimini


Dimasukkan dalam tabung reaksi
Ditambahkan 1 mL aseton dan 1
tetes larutan Na-Nitroprusid 1%
Diamati warna merah yang timbul
setelah 1 menit


3. Reaksi Karbilamin


Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 0,1 gr sampel dan 3
tetes CHCl
3

Dipanaskan sampai mendidih
Diamati karbilamin yang terbentuk



Larutan sampel + HCl 2N
HASIL
1 tetes sampel
HASIL
1 mL NaOH 0,5
N
HASIL
6

4. Pembentukan garam diazonium


Dilarutkan dalam 3 mL HCl pekat dan
5 mL air
Didinginkan


Ditambahkan 5 mL air secara perlahan
sambil diaduk sampai menghasilkan
hasil positif dengan HNO
2



Diencerkan dengan 4 tetes air
Diteteskan pada kertas yang telah
direndam dalam kanji dan KI
Dibagi menjadi dua larutan


Ditambahkan larutan dingin dipanaskan untuk
0,4 gr -naftol dalam larutan membebaskan
NaOH 5% yang akan mengahsilkan NaOH dan meng-
larutan Jingga hasilkan fenol






1 gr anilin
Larutan dingin NaNO
2
1 tetes hasil reaksi
Bagian pertama Bagian kedua
HASIL HASIL
7

Amina Sekunder
1. Tes Simon

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 2 tetes larutan
asetaldehid dan 1 tetes Na-
Nitroprusid 1%
Diamat perubahan warna dalam 5
menit


2. Tes dengan Benzoil Klorida


Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 20 mL larutan NaOH
5% dan 1 mL Benzoil Klorida
Ditutup tabung dan dikocok sampai
benzoil klorida hilang
Diuji sifat yang terbentuk


Diencerkan dengan 10 mL air
Dikocok, jika endapan tidak larut
menunjukan amina sekunder dan jika
larut serta memberikan warna merah
kongo dengan penambahan HCl
encer menunjukan amina primer



1 tetes larutan sampel
HASIL
0,5 gr sampel
Endapan dalam
larutan alkali
HASIL
8

IV. Hasil dan Pembahasan
4.1 Data Pengamatan
A. Amina Primer
Percobaan Perlakuan Hasil
Reaksi dengan Asam
Nitrit
1 mL anilin + 5 mL HCl
2 N + 2 mL NaNo
2
10%
Larutan awal berwarna orange,
setelah dipanaskan menjadi
merah dan setelah dingin
terbentuk gumpalan cokelat
Tes Rimini 1 tetes anilin + 1 mL
aseton + 1 tetes Na-
Nitroprusid 1%
Setelah satu menit larutan
berwarna merah
Reaksi Karbilamin 1 mL NaOH + 1 mL
anilin + 3 tetes CHCl
3

Larutan awal kuning, setelah
dipanaskan menjadi kuning
kemerahan, tercium bau busuk,
dan terbentuk 3 lapisan : lapisan
endapan, larutan orange
kemerahan, dan larutan
berwarna kuning
Pembentukan
garam diazonium
1 mL anilin + 3 mL HCl
+ air
+ 1 gr NaNO
3
+ 5 mL air



1 tetes larutan hasil
reaksi + air + Kanji + KI

Laruta I + -naftol +
NaOH

Larutan II dipanaskan

Terbentuk larutan berwarna
ungu
Larutan menjadi orange dan
terdapat gumpalan serta larutan
mendidih

Larutan menjadi kuning dan
terbentuk lapisan seperti minyak

Larutan berwarna cokelat


Larutan menjadi cokelat pekat
dan uap berwarna kuning

B. Amina Sekunder
Percobaan Perlakuan Hasil
Tes Simon 1 tetes dimetilamin + 2
tetes asetaldehid + 1 tetes
Na-Nitroprusid
Larutan dimetilamin berwarna
bening, ditambahkan asetaldehid
menjadi kuning, ditambahkan
Na-Nitroprusdi menajadi biru,
setelah 5 menit menjadi kuning,
dan terbentuk 2 lapisan dimana
lapisan atas kuning dan lapisan
bawah hitam
9

Tes dengan Benzoil
Klorida
1 mL dimetilamin + 10
mL NaOH + 1 mL
Benzoil Klorida
Terbentuk endapan dan larutan
menajadi keruh setelah
penambahan benzoil klorida
Tes dengan Benzen
Sulfonilklorida
Larutan I + air
Larutan II + HCl pekat
Endapan tidak larut
Terbentuk asap dalam gelas

4.2 Pembahasan
4.2.1 Amina Primer
4.2.1.1 Tes dengan Asam Nitrit
Jika senyawa anilin direaksikan dengan asam nitrit akan diubah menjadi
kation benzendiazonium. Dalam reaksi yang terjadi, akan terjadi suatu reaksi
diazotasi yaitu proses pembentukan garam diazonium, dimana ikatan antara atom N
dengan ikatan rangkap tiga yang melekat pada cincin benzen. Reaksi ini
memanfaatkan sifat benzena yang bisa diotak atik untuk membentuk suatu
senawa aromatik yang kita inginkan. Biasanya reaksi diazotasi dimanfaatkan untuk
mensinstesis fenol dikarenakan benzena tidak dapat langsung bereaksi dengan air.
Inti reaksi ini adalah, anilin direaksikan dengan NaNO
2
bersama HCl pada suhu
dingin untuk membentuk benzenadiazonium.

Pada percobaan ini, direaksikan anilin dengan HCl dan NaNO
2
dihasilkan
larutan berwarna orange dan setelah dilakukan pemanasan menjadi merah dan
terbentuk gumpalan cokelat. Digunakan HCl bertujuan untuk membuat asam nitrit,
asam klorida akan bereaksi dengan natrium nitrit untuk membentuk asam nitrit.
Reaksi ini diperlukan karena asam nitrit tidak dapat dibuat secara langsung karena
10

asam nitrit akan dengan mudah teroksidasi menjadi asam nitrat (HNO
3
) apabila tidak
diisolasi dengan benar. Penambahan NaNO
2
berfungsi mengubah anilin menjadi
kation benzendiazonium dan disebut diazotasi. Reaksi yang terjadi pada percobaan ini
sebagai berikut


Setelah dilakukan pemanasan terbentuk reaksi seperti diatas, dapat dilihat gas yang
terbentuk merupakan uap dari asam nitrit.
4.2.1.2 Tes Rimini
Untuk menguji suatu amina, apakah termasuk amina primer atau amina
sekunder dapat dilakukan dengan cara mereaksikan suatu senyawa amina dengan
aseton dan natrium nitroprusid, pengamatan pada reaksi ini dapat diliihat dengan
adanya perubahan warna dalam larutan, jika mula mula larutan berwarna ungu dan
lama kelamaaan menjadi merah maka senyawa yang diuji merupakan senyawa
amina primer, jika lama kelamaan warna menjadi biru maka senyawa termasuk ke
dalam golongan amina sekunder
Tes rimini pada percobaan ini dilakukan dengan mereasikan anilin dengan
asetaon dan Na-Nitroprusid, dimana reaksi yang terjadi pada anilin yang merupakan
amina primer dengan aseton yang merupakan keton adalah reaksi adisi nukleofilik
amina membentuk imina. Dengan reaksi sebagai berikut

Sehingga pada percobaan ini menjadi
11


Hasil tes Rimini pada percobaan ini yaitu setelah satu menit warna larutan berubah
menjadi merah, ini artinya percobaan yang dilakukan sesuai dengan literatur yang
sudah ada, seperti yang diketahui sampel senyawa amina yang dipergunakan adalah
anilin yang merupakan amina primer maka reaksi pada tes ini menunjukan hasil
positif.
4.2.1.3 Rekasi Karbilamin
Reaksi Karbilamin digunakan sebagai tes untuk identifikasi amina primer.
Ketika amina primer alifatik dan aromatik yang dipanaskan dengan kloroform dan
etanol kalium hidroksida, karbilamin (atau isosianida) terbentuk. karbilamin ini
memiliki bau yang sangat tidak menyenangkan. Amina sekunder dan tersier tidak
menunjukan hasil positif dengan tes ini. Reaksi karbilamin telah digunakan sebagai
tes kualitatif untuk amina primer.

Mekanisme reaksi pembentukan karbilamin yaitu:

12

Pada percobaan ini, etanol kalium hidroksida digantikan dengan etanol
natrium hidroksida tetapi hasil yang diperoleh tetap sama yakni dengan timbulnya
bau busuk, bau busuk yang dihasilakan seperti bau ikan yang sudah membusuk.
Timbulnya bau busuk ini menunjukan bahwa sampel yang dipergunakan pada tes ini
merupakan amina primer. Sampel yang dipergunakan pada tes ini adalah anilin, yang
telah diketahui bahwa anilin merupakan salah satu contoh dari amina primer.
Reaksi yang terjadi pada tes karbilamin adalah
R-NH
2
+ CHCl
3
+ 3KOHRNC (karbilamin) + 3KCl + 3H
2
O
Karena pada percobaan ini etanol kalium hidroksida diganti menjadi etanol natrium
hidroksida, maka reaksi menjadi
R-NH
2
+ CHCl
3
+ 3NaOHRNC (karbilamin) + 3NaCl + 3H
2
O
Reaksi pembentukan karbilamin pada percobaan ini adalah

4.2.1.4 Pembentukan Garam Diazonium
Garam diazonium adalah kelompok senyawa organik dengan gugus
fungsional RN
2
+
X
-
di mana R dapat berupa residu organik seperti alkil atau aril dan
X adalah anion anorganik atau organik seperti halogen. Proses pembentukan senyawa
diazonium disebut "diazotation", "diazoniation", atau "diazotisasi". Metode yang
paling penting untuk pengolahan garam diazonium adalah mereaksika amina
aromatik seperti anilin dengan asam nitrit. Biasanya asam nitrit dihasilkan dari
natrium nitrit dan asam mineral. Larutan garam diazonium tidak stabil pada suhu di
atas +5 C, karena kelompok N
+
N cenderung lepas sebagai N
2
(gas nitrogen).
Pembentukan garam diazonium pada percobaan ini dilakukan dengan
mereasikan anilin dengan HCl pekat dan air kemudian larutan didinginkan dengan
cara merendam dalam air es, setelah itu ditambahkan larutan dingin NaNO
2
.
Penambahan NaNO
2
bertujuan untuk membentuk asam nitrit bersama HCl pekat
sehingga terbentuk garam diazoniumklorida. Seperti yang telah dijelaskan diatas,
13

bahwa larutan garam diazonium tidak stabil bila diperlakukan pada suhu diatas 5
sehingga pada percobaan ini dilakukan perendaman dalam air es.
Reaksi yang terbentuk adalah

Dalam hal ini ion klorida dari asam tidak terlibat dengan cara apapun. Karena
menggunakan asam klorida maka larutan akan berisi benzenediazonium klorida.
Garam diazonium sangat tidak stabil dan cenderung mudah meledak dalam bentuk
padatan.
Sebagian larutan garam diazonium yang telah didapat kemudian diencerkan
dengan 4 tetes air dan kemudian larutan ini diteteskan pada larutan kanji dan KI, hasil
dari percobaan ini yaitu larutan menajdi kuning dan didalam larutan terbentuk lapisan
seperti minyak. Sebagian larutan yang telah diencerkan kemudian dibagi dua untuk
dilakukan identifikasi selanjutnya.
Larutan encer garam diazonium pertama ditambahkan larutan dingin larutan
-naftol yang dibuat dari 0,4 gr -naftol yang dilarutkan dengan NaOH 5%. -Naftol
berisi sebuah gugus-OH terikat pada molekul naftalena pada sebuah cincin benzen
sederhana. Naftalena memiliki dua cincin benzena yang menyatu. -Naftol dilarutkan
dalam larutan natrium hidroksida untuk menghasilkan ion seperti fenol. Larutan ini
didinginkan dan dicampur dengan larutan benzenediazonium klorida.
Endapan oranye-merah terbentuk pada proses ini, dengan reaksi sebagai berikut:

Larutan encer garam diazonium yang kedua kemudian dipanaskan. Seperti
penjelasan sebelumnta, garam diazonium tidak stabil pada suhu diatas 5 karena
14

dapat melepaskan N
2
dan digantikan oelh senyawa lain, karena proses pemanasan
maka terbentuk uap air, sehingga larutan garam diazonium bereaksi dengan uap air
tersebut dan membentuk fenol, dengan reaksi sebagai beriku :

4.2.2 Amina Sekunder
4.2.2.1 Tes Simon
Pereaksi simon merupakan natrium nitroprusid dalam larutan buffer basa.
Peraksi simon digunakan untuk mengidentifikasi senyawa amina yang tergolong
dalam amina sekunder. Pada percobaan identifikasi senyawa amina sekunder
menggunakan pereaksi Simon, digunakan sampel amina sekunder berupa
dimetilamina yang direaksikan dengan natrium nitroprusid dan asetaldehid (gugus
aldehid). Hasil pengamatan pada percobaan ini adalah warna larutan berubah menajdi
biru, hasil ini sesuai dengan literatur yang mana jika suatu sampel direaksikan dengan
Na-Nitroprusid dan sebuah aldehid dimana warna awal ungu dan lama kelamaan
menajdi biru menunjukan sampel tersebut positif senyawa amina sekunder. Selain itu,
sampel yang dipergunakan adalah dimetilamin yang merupakan senyawa amina
sekunder sehingga ketika direaksikan dengan pereaksi Simon menghasilkan hasil
positif berupa perubahan warna menjadi biru.
Reaksi pada percobaan ini merupakan reaksi pembentukan enamina, dimana
merupakan reaksi antara suatu amina sekunder dengan gugus aldehid atau keton,
dengan reaksi sebagai berikut

Sehingga reaksi pembentukan enamina pada percobaan ini adalah
15


4.2.2.2 Tes dengan Benzoil Klorida
Percobaan ini dilakukan dengan cara mereaksikan dimetilamina dengan
NaOH 5% dan benzilklorida(C
6
H
5
CH
2
Cl), dan dikocok hingga bau benzil klorida
hilang. Hasil dari percobaan ini yaitu terbentuk endapan dan larutan bening, namun
setelah ditambahkan benzil klorida larutan menajdi keruh. Praktikan sulit mengetahui
apakh hasil dari reaksi ini positif atau tidak dengan benzil klorida karena praktikan
tidak menemukan literatur mengenai percobaan ini, akan tetapi praktikan berusaha
membuat persamaan reaksinya, dengan reaksi yang terbentuk adalah:
4.2.2.3 Tes dengan Benzen Sulfonil Klorida
Identifikasi amina sekunder dengan Benzen Sulfonil klorida merupakan uji
Hinsberg, identifikasi ini didasarkan pada pembentukan sulfonamida. Pada uji
Hinsberg, amina direaksikan dengan benzena sulfonil klorida. Jika sulfonamida yang
terbentuk larut dalam larutan natrium hidroksida menunjukan amina primer tetapi jika
sulfonamide tidak larut dalam natrium hidroksida, itu adalah amina sekunder. Jika
sulfonamide yang tidak larut dalam air natrium hidroksida, itu adalah amina
sekunder. Jika sulfonamida yang terbentuk larut dalam larutan natrium hidroksida
berair, itu adalah amina primer. Sulfonamida dari amina primer larut dalam basa
berair karena masih memiliki sebuah hidrogen pada asam nitrogen, yang bisa hilang
untuk membentuk garam natrium.
Proses percobaan ini hampir sama dengan proses pada uji dengan benzil
klorida, dimana sampel (dimetilamina) direaksikan dengan larutan NaOH dan benzen
16

sulfonil klorida. Dimana hasil yang didapatkan adalah terbentuknya endapan,
kemudian untuk menguji apakah sampel ini amina sekunder atau bukan dilakukan
pengenceran dengan menambahkan air, jika endapan yang terbentuk tidak larut maka
sampel positif amina sekunder, endapan yang tidak larut ini menunjukan bahwa
sulfonida yang terbentuk tidak bereaksi dengan air. Hasil dari percobaan ini yaitu
endapan yang terbentuk tidak larut dalam air. Karena sampel yang digunakan adalah
dimetilamina yang merupakan amina sekunder, maka percobaan ini dilakukan
bertujuan untuk membuktikan bawha tes dengan benzen sulfonil klorida yang
dilakukan praktikan sesuai dengan literatur yang sudah ada. Reaksinya adalah

V. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
1. Terdapat tiga jenis amina sesuai dengan jumlah atom H yang diganti oleh
gugus alkil, yaitu amina primer (R-NH2), amina sekunder (R2-NH), dan
amina tersier (R3-N).
2. Reaksi antara anilin dan asam nitrit merupakan reaksi diazotasi yaitu proses
pembentukan garam diazonium
3. Tes Rimini memberikan hasil positif dengan terjadinya perubahan warna
menjadi merah
4. Tes Karbilamin memberi hasil positif dengan timbulnya bau busuk hasil
reaksi antara anilin dan kloroform yang dipanaskan
5. Pada reaksi pembentukan garam diazonium larutan dibagi menajdi dua
bagian, bagian pertama direaksikan dengan larutan -naftol menghasilkan
endapan orange, dan bagian kedua dipanaskan membentuk fenol
6. Pada Tes Simon memberikan hasil positif dengan adanya perubahan warna
menajadi biru
7. Tes dengan Benzil Klorida menghasilkan endapan putih
8. Tes dengan Bnezen Sulfonil Klorida mengahsilkan sulfonimida yang tak
laruta dalam air yang menunjukan adanya senyawa amina sekunder



17

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu untuk selalu melengkapi alat dan bahan agar
proses praktikum berjalan dengan lancar dan untuk praktikan harus memahami
prosedur kerja sehingga dapat meminimalisir kesalahan dam percobaan.

VI. Daftar Pustaka
Day, R.A dan Underwood, A.L. 2012. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta :
Erlangga
Hart, Harold. 2003. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Oxtoby, David.W. 2004. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta :
Erlangga
Sunarya, Yayan. 2012. Kimia Dasar Jilid 2. Bandung : Yrama Widya















18

Lampiran
1. Tuliskan reaksi antara NaNO
2
dengan HCl dan anilin, etilanilin, dimetilanilin,
dan metilamina!
Jawab :
NaNO
2
+ HCl HNO
2
+ NaCl
a. Reaksi dengan anilin



b. Reaksi dengan etilanilin


c. Reaksi denganDimetilanilin






d. Reaksi dengan Metil amina






R = CH
3

CH
3
CH
2

CH
3
CH
2

OH
CH
3

CH
3

OH
CH
3
CH
3

19

2. Mengapa digunakan campuran NaNO
2
dengan HCl, bukan larutan NaNO
2
?
Jawab :
Hal ini dikarenakam amina hanya dapat bereaksi dengan asam bukan dengan
garam. Reaksi antara NaNO2 dan HCl akan menghasilkan reaksi sebagai berikut:
NaNO
2
+ HCl HNO
2
+ NaCl
3. Bagaimana membedakan amina alifatik dan amiba aromatik?
Jawab:
Perbedaan amina alifatik dan aromatik dapat dilihat dari kebasaan keduanya,
dimana amina aromatik merupakan basa yang jauh lebih lemah daripada amina
alifatik.
4. Apa yang dimaksud dengan reaksi Sandmayer?
Jawab:
Reaksi Sandmayer merupakan suatu reaksi kimia dimana aryl halida disintesis
dari aril garam diazonium






















20

Gambar Percobaan








Tes dengan asam nitrit sebelum dipanaskan Tes dengan asam nitrit setelah
Dipanaskan







Tes Rimini Tes Karbilamin









Pembentukan garam diazonium Endapan pada tes dengan Benzensulfonil klorida

21










Perubahan warna menjadi jingga Larutan keruh pada tes dengan
pada tes simon benzoil klorida