Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN III

I. Tujuan Percobaan

BELERANG

Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :

1. Mempelajari modifikasi belerang

2. Mempelajari sifat belerang

II. Landasan Teori

Sulfur terdapat di alam secara luas di alam sebagai unsur, sebagai H 2 S dan SO 2 . Dalam bijih sulfide, logam, dan sebagai sulfat seperti gips dan anhidrit (CaDO 4 ),

magnesium sulfat, dan sebagainya. Sulfur diperoleh dalam skala besar dari gas hidrokarbon alamiah seperti yang ada di Alberta, Kanada, yang mengandung sampai 30% H 2 S, ini dihilangkan melalui interaksi dengan SO 2 yang diperoleh dari pembakaran sulfir di udara.

S + O 2 = SO 2 2H 2 S + SO 2 = 3S +2H 2 O

Cotton.2007. Hal: 363 Ada beberapa allotropi belerang , yaitu: Belerang rombik (Sα) Belerang monoklinik (Sß) Belerang cair (Sλ) Belerang cair (Sµ).

Petrucci.1985. Hal : 129 Belerang terdapat dalam batubara dan minyak bumi sebagai senyawa organic belerang dan dalam gas alam sebagai hydrogen sulfide. Belerang bebas terdapat pada beberapa wilayah vulkanik. Unsur ini dibentuk oleh reaksi hydrogen sulfide dan belerang dioksida, yang terdapat dalam gas vulkanik.

16H 2 S (g) + 8so 2(g)

16H 2 O (l) + 3S 8(S)

44

Belerang bereaksi dengan hampir semua unsur. Belerang terbakar di udara dengan nyala biru yang khas, menghasilkan belerang dioksida yang dapat dikenal melalui baunya. Belerang menghasilkan sulfide dan disulfide (S 2- )

Belerang

bereaksi

Hg (l)

+

S

(s)

Suhu Kamar

bereaksi Hg (l) + S (s) S u h u K a m a r HgS

HgS (s)

Fe (s) + S (s)

Fe (s) + 2S (s)

FeS (s) (s)

FeS 2(s) FeS

dalam

keadaan

panas

dengan

asam

nitrat

pekat

menghasilkan H 2 SO 4, suatu asam dalam keadaan oksidasi +6.

S (s) + 6HNO 3(aq)

H 2 SO 4(a) + 6NO 2(g) + 2H 2 O (l)

Bentuk stabil dari belerang adalah belerang rombik berwarna kuning, suatu Kristal padat dengan kisi molekul berbentuk mahkota S 8 . Belerang rombik meleleh pada 113 menghasilkan cairan berwarna jingga. Belerang mulai menguap pada

445 menghasilkan uap molekul S 8 , S 6 , S 4 , dan S 2 .

Yayan Sunarya.2012.Hal : 422 Bahan baku utama untuk membuat asam sulfat adalah sulfur atau sulfur diosida. Sumber untuk bahan kimia ini telah berubah dari waktu ke waktu, didasari atas pertimbangan harga dan keinginan untuk mengurangi pencemaran udara. Berabad abad yang lalu, tambang sulfur di Sisilia adalah sumber utama sulfur unsur. Karena meningkatnya harga, terutama setelah didirikannya kartel untuk mengeksploitasi tambang, orang mulai mencari sumber lain. Dengan meningkatnya penggunaan logam pada abad ke -19, sulfur diperoleh dalam bentuk SO 2 sebagai produk samping dari pemanggangan biji sulfide dari zink, besi, atau tembaga, melalui reaksi seperti

ZnS (s) +

O 2(g)

ZnO (s) + SO (g)

Penangkapan sulfur dioksida dan konversinya menjadi asam sulfat menciptakan bahwa awal yang murah dan mengurangi pencemaran udara oleh SO 2 .

45

Pada akhir tahu 1890-an , perkembangan baru menggeser minat dari biji sulfide kembali ke sulfur unsur sebagai bahan awal, sekurang kurangnya di Amerika Serikat. Ini merupakan hasil penemuan Herman Frasch, berupa metode baru untuk mengekstraksi sulfur dari deposit bawah tanah. Proses Frasch merupakan metode penambangan yang cerdik yaitu mencairkan sulfur dengan uap air yang diinjeksikan ke dalam deposit dan dipompa ke permukaan. Sulfurnya biasanya diangkut sebagai cairan dalam bejana panas pabrik asam sulfat, dan selanjutnya dibuat menjadi asam sulfat.

asam sulfat, dan selanjutnya dibuat menjadi asam sulfat. Asam sulfat murni tidak berwarna, berupa cairan kental

Asam sulfat murni tidak berwarna, berupa cairan kental yang membeku pada suhu 10,4 dan mendidih pada suhu 279,6 . Materi ini bereaksi keras dengan air dan dengan senyawa organic. Asam sulfat dapat dicampur dengan air dalam segala perbandingan, dengan membebaskan banyak sekali klor. Disamping sifanya korosif, asam sulfat mudah ditangani dan diangkut dalam drum baja. Dalam pengolahan logam, asam sulfat digunakan untuk melindikan tembaga, uranium, dan vanadium dari bijihnya dan untuk mengasamkan atau menghilangkan kerak baja. Banyak asam sulfat digunakan sebagai zat pendehidrasi dalam sintesis bahan kimia organic dan dalam petrokimia.

David Oxtoby.2001.Hal : 226-227

46

III.

Prosedur Percobaan

3.1 Alat dan Bahan

3.1.2 Alat

- pembakar

- gelas ukur

- sendok plastic kecil

- gelas kimia 250 ml

- tabung

- penjepit tabung reaksi

- kaca arloji

- cawan penguap

- corong

- rak tabung reaksi

3.1.2 Bahan

-

-

- Belerang

- Pb 1 M

- Gula pasir C 2 H 5 OH

- BACl 2

-

-

-

K

H

2 Cr 2 O 7

2 SO 4

CH 3 COOH

Na

CS

2 SO 3

2

47

3.2

Skema Kerja

3.2.1 Modifikasi Belerang

Serbuk Belerang 0,5 gr

Skema Kerja 3.2.1 Modifikasi Belerang Serbuk Belerang 0,5 gr → Dilarutkan dalam 5 ml CS 2

Dilarutkan dalam 5 ml CS 2

Larutan Belerang +CS 2

Dituangkan kedalam kaca arloji

Ditutup dengan kertas saring, tetapi dibiarkan sebagian kecil permukaan tidak tertutup

Diperhatikan Kristal yang terbentuk

HASIL

Serbuk belerang

Dilebur dalam cawan penguap

Dipanaskan dengan hati hati jangan sampai berwarna coklat

Hentikan pemanasan bila semua telah mencair

Dibiarkan hingga membeku

Diperhatikan garis garis Kristal yang terbentuk

Hasil

48

Serbuk Belerang

Hasil

Dipanaskan dalam tabung reaksi sambil digoyangkan

Diamati warna viskositas sejak meleleh hingga mendidih

3.2.2 Hidrogen Sulfida

Belerang

Dididihkan

Dituangkan ke dalam gelas kimia yang berisi air hingga terbentuk batang yang panajang dan tipis

Hasil

Parafin + belerang + asbes

Dipanaskan dalam tabung reaksi

Diperiksa gas yang keluar dengan kertas timbal asetat

Dicatat pengamatan

Hasil

49

Sebutir FeS

Direaksikan dengan HCl dalam tabung reaksi yang dilengkapi dengan pipa yang ujungnya lancip

Hasil

3.2.3 Sifat Asam Sulfat

Sekeping Tembaga

Hasil

Dipanaskan dengan 1 ml asam sulfat pekat

Dicatat hasil pengamatan

Kertas Saring

Hasil

Dibasahi dengan K 2 Cr 2 O 7 yang diasamkan

Diletakkan pada mulut tabung reaksi

Dicatat reaksi yang terjadi

Asam Sulfat Pekat

Ditambahkan pada gula dalam tabung reaksi

Hasil

50

2 ml Asam Asetat + 2 ml alkohol

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat

Dipanaskan diatas penangas air

Hasil

Na 2 SO 3

Dilarutkan dalam air

Ditambahkan barium klorida dan

beberapa asam klorida

Endapan

disaring

Filtrat

Ditambahkan air brom sehingga warna

kuning tidak hilang

Hasil

51

IV.

Hasil dan Pembahasan

No

Percobaan

Perlakuan

Hasil

   

a. 0,5 gram serbuk belerang dilarutkan dalam 5 ml CS 2 , dituangkan pada kaca arloji dan ditutup dengan kertas saring

Kristal yang terbentuk menggumpal di tepi larutan dan berwarna kuning

b. Serbuk belerang dilebur di cawan penguap hingga berwarna kuning

Ketika

dihentikan

pemanasan,

cairan

lama

kelamaan

 

membeku dan garis

garis

Kristal

yang

Modifikasi

terbentuk memanjang

1

seperti

air

yang

Belerang

membeku

c. Serbuk belerang dipanaskan di tabung reaksi dan digoyang - goyang

Ketika belerang meleleh berwarna kuning kemudian menjadi coklat pekat dan mengeluarkan bau yang menyengat

d. Belerang yang mendidih dituang dalam air

Terbentuk batang yang berwarna coklat dan tidak tercampur dengan air

   

a. Campuran paraffin, belerang dan asbes dipanaskan

Keluar

gas

dan

2

Hidrogen Sulfida

terbentuk

warna

kuning

pada

kertas

 

saring

52

   

b. FeS direaksikan dengan HCl encer

Timbul gelembung, FeS, FeS melarut, larutan menjadi keruh, berbuih dan berbau menyengat.

   

a. Sekeping temabaga dipaanskan dengan 1 ml asam sulfat pekat

Terbentuk gelembung

b. Kertas saring yang telah dibasahi dengan K 2 Cr 2 O 7 diletakan pada mulut tabung reaksi yang berisi campuran tembaga dan H 2 SO 4 yang dipanaskan

Kertas

saring

yang

semula

berwarna

kuning

berubah

3

Sifat Asam Sulfat

menjadi biru

c. Gula pasir ditambahkan dengan beberapa tetes

Gula pasir melarut

H

2 SO 4

d. 2 ml

CH 3 COOH + 2 ml

Terbentuk

gelembung

alcohol + 2 ml H 2 SO 4 dipanaskan diatas penangas air

- gelembung

53

3.2 Pembahasan 3.2.1 Modifikasi Belerang Sulfur terdapat di alam secara luas di alam sebagai unsur, sebagai H 2 S dan SO 2 . Dalam bijih sulfide, logam, dan sebagai sulfat seperti gips dan anhidrit (CaDO 4 ), magnesium sulfat, dan sebagainya. Belerang terdapat dalam lebih dari satu bentuk kristalin. Bentuk kristalin yang dihasilkan biasanya berwarna kuning.bentuk kristal tergantung pada suhu.Suhu dimana sati bentuk kistalin berubah menjadi kristalin lain disebut kristalin transisi. Menurut Petrucci (1985:129) Ada beberapa allotropi belerang , yaitu: Belerang rombik (Sα) Belerang monoklinik (Sß) Belerang cair (Sλ) Belerang cair (Sµ). Percobaan yang pertama ini yaitu modifikasi belerang dimana praktikan dapat melihat bagaimana beberapa bentuk Kristal dari belerang. Pada pengamatan pertama yaitu mengamati bentuk kristal belerang yang terbentuk dari reaksi antara serbuk belerang dan CS 2 yang diletakan diatas kaca arloji dan ditutup dengan kertas saring, dimana Kristal yang terbentuk berwarna kuning, dan menggumpal di tepi larutan. Kristal belerang yabg dihasilkan ini merupakan belerang rombik atau disebut juga belerang a terdiri dari molekul S8. Belerang rombik larut dalam alcohol. Eter dan karbon disulfide dan hasil penguapan perlahan-lahan dari larutan belerang dalam ini menghasilkan kristal octahedral. Pengamatan yang kedua yaitu mengamati bentuk garis garis pada Kristal dengan cara melebur serbuk belerang hingga mencair dan berwarna kuning. Ketika belerang mulai mencair dan didiamkan beberapa saat, cairan belerang ini perlahan lahan mulai membeku seperti es, garis garis yang terbentuk pada Kristal belerang ini sama persis seperti es batu, dimana garis-garis kristal yang terbentuk memanjang dan berwarna kuning. Jika belerang dipanaskan perlahan lahan, belerang akan meleleh akan menjadi cairan kuning terdiri dari molekul S 8 . Titik leleh S 1130 dan suhu transisi kedua modifikasi adalah 95,60 , dan titik leleh yang diamati bergantung pada kecepatan pemanasan. Kristal yang diperoleh dari percobaan kedua ini merupakan belerang monoklin. Belerang monoklin disebut juga belerang ß.

54

Beleramg berntuk ini mengkristal dari leburan belerang di atas 95,60C,berbentuk jaru-jarum, melekul belerang ß terdiri dari cincin S 8 . Pengamatan yang ketiga yaitu mengamati warna viskositas belerang mulai dari meleleh hingga mendidih, dengan cara memanaskan serbuk belerang. Ketika belerang mulai meleleh berwarna kuning kemudian menjadi coklat pekat dan mengeluarkan bau yang menyengat. Viskositas berkurang sampai titik didih tercapai. Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya gesekan di dalam fluida. Makin besar viskositas suatu fluida, maka makin sulit suatu fluida mengalir dan makin sulit suatu benda bergerak di dalam fluida tersebut. Pengamatan yang keempat yaitu mengemati bentuk Kristal belerang yang terbentuk dalam air dengan cara menuangkan cairan belerang yang mendidih ke dalam air. Pengamatan ini menghasilkan krital belerang berbentuk bola bola yang

menggumpal yang berwarna coklat dan tidak tercampur dengan air. Lelehan belerang

langsung dibekukan secara tiba-tiba sehingga melekul-melekul belerang itu tak mempunyai waktu untuk membentuk kristal yang lebih baik, Kristal belerang yang terbentuk pada pengamatan ini seperti plastik yang dibakar. Kristal yang terbentuk ini biasanya disebut dengan belerang plastik atau belerang berbetuk rantai spiral. Belerang plastik terbentuk bila cairan Sµ dituangkan ke dalam air dingin. Terdiri dari molekul seperti rantai dan mempunyai kualitas seperti karet ketika mula-mula terbentuk . Tapi, selanjutnya menjadi gampang rusak dan mungkin berubah menjadi belerang Rombik.

3.2.2 Hidrogen Sulfida Hidrogen sulfida, H 2 S, adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk, H 2 S adalah gas racun yang bisa melumpuhkan sistem pernafasan & dapat membunuh hanya dalam hitungan menit, bahkan dalam junlah sedikit bisa berbahaya bagi kesehatan. Gas ini memiliki barat jenis lebih berat dari udara, jadi untuk mengetaui gas H 2 S kita membutuhkan sebuah detektor dan sensor.

55

Percobaan kedua ini bertujuan untuk mengamati terbentuknya gas H 2 S melaui reaksi reaksi antar senyawa senyawa. Pengatamatan yang pertama yaitu mengamati gas yang timbul dari pemanasan antara campuran paraffin, belerang, dan asbes. Pada pengamatan ini timbul gas dari pemanasan yang diamati menggunakan kertas saring, dimana warna kertas saring menjadi kuning. Pengamatan kedua yaitu mengamati reaksi antara FeS dan HCl, dimana pada pengamatan ini timbul gelembung, FeS melarut, larutan menjadi keruh, berbuih dan berbau menyengat. Menurut reaksi berikut, reaksi FeS dan HCl menghasilkan H 2 S

FeS + 2HCl

FeCl 2 + H 2 S

3.2.3 Sifat Asam Sulfat Asam sulfat murni tidak berwarna, berupa cairan kental yang membeku pada suhu 10,4 dan mendidih pada suhu 279,6 . Materi ini bereaksi keras dengan air dan dengan senyawa organic. Asam sulfat dapat dicampur dengan air dalam segala perbandingan, dengan membebaskan banyak sekali klor. Dalam pengolahan logam, asam sulfat digunakan untuk melindikan tembaga, uranium, dan vanadium dari bijihnya dan untuk mengasamkan atau menghilangkan kerak baja. Banyak asam sulfat digunakan sebagai zat pendehidrasi dalam sintesis bahan kimia organik dan dalam petrokimia. Pada percobaan ketiga ini dilakukan untuk mengamati dan mengidentifikasi sifat sifat dari asam sulfat dari setiap pengamatan. Pengamatan yang pertama yaitu mereaksikan sekeping temabaga dengan H 2 SO 4 pekat melaui proses pemanasan namun tidak sampai mendidih. Dari pengamatan yang dilakukan, terjadi reaksi yang ditunjukan dengan adanya gelembung gelembung gas. Menurut Yayan Sunarya (2012:429) tembaga tidak larut dalam dalam asam, tetapi dapat larut dalam asam sulfat pekat membentuk tembaga sulfat dan belerang dioksida.

Cu (s) + 2H 2 SO 4(aq)

CuSO 4(aq) + SO 2(g) + 2H 2 O (l)

Asam sulfat pekat yang digunakan pada percobaan ini merupakan zat pengoksid kuat. Asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan logam melalui reaksi

56

penggantian tunggal yang menghasilkan gas hirogen dan logam sulfat. Reaksi dengan timah dan tembaga memerlukan asam sulfat yang panas dan pekat, dan reaksi ini akan menghasilkan sulfur dioksida (SO 2 ) dari pada hydrogen. Hal ini karena asam sulfat pekat panas berperan sebagai oksidator. Sehingga ketika asam pekat panas bereaksi dengan tembaga, seng dan timah akan menghasilkan garam, air dan sulfur dioksida. Pengamatan yang kedua yaitu, meletakan kertas saring yang sudah dibasahi dengn K 2 Cr 2 O 7 yang telah diasamkan pada mulut tabung reaksi yang berisi H 2 SO 4 dan tembaga yang dipanaskan. Dari percobaan yang dilakukan terjadi perubahan warna dari kertas saring, dimana semula kertas saring berwarna kuning berubah menjadi biru, berikut persamaan reaksinya

Cr 2 O 7 2- + SO 2 + H +

reaksinya Cr 2 O 7 2 - + SO 2 + H + 2Cr 3 +

2Cr 3+ + SO4 2- + 5H 2 O

Warna biru yang dihasilkan disebabkan oleh pembentukan ion kromium (III). Pengamatan yang ketiga yaitu mereaksikan gula pasir dengan H 2 SO 4 pekat. Dari percobaan ini gula pasir yang ditetesi H 2 SO 4 pekat lama kelamaan melarut dan berwarna coklat dan lama kelamaan menjadi hitam seperti caramel, persaaam reaksi

yang terjadi.

C 6 H 12 O 6 + H 2 SO 4

6C + 6H 2 O + H 2 SO 4

Dari reaksi diatas, dapat dilihat bahwa H 2 SO 4 menguraikan gula atau memisahkan atom hydrogen dan oksigen dari gula tersebut. Asam sulfat pekat merupakan zat dehidrasi yang kuat. Dehidrasi adalah keluarnya molekul air dari suatu bahan, yang ditarik oleh suatu bahan misalnya H 2 SO 4 . Adanya karbon yang dihasilkan dari reaksi ini dapat dilihat dengan terbentuknya warna hitam pada campuran ketika ditambahkan dengan H2SO4 pekat. Pengamatan keempat yaitu mereaksikan asam asetat, alcohol, dan asam sulfat kemudian dilakukan pemanasan. Sebelum dilakukan pemanasan, dinding tabung reaksi terasa panas, hal ini dikarenakan adanya reaksi antar asam sulfat terhadap asam asetat dan alcohol. Kemudian dilakukan pemansan yang menghasilkan gelembung gelembung udara, reaksi ini dapat ditulis ke dalam persamaan

57

CH 3 COOH + C 2 H 5 OH+ H 2 SO 4

CH 3 COOC 2 H 5 + H 2 O

Dari persamaan reaksi diatas dapat diketahui bahwa reaksi tersebut merupakan reaksi esterifikasi, dimana asam karboksilat direaksikan dengan alcohol dengan katalis asam menghasilkan ester dan molekul air. Disini dapat dilihat pula bahwa H 2 SO 4 berperan sebagai katalis dalam proses esterfikasi. Namun, pada reaksi ini tidak muncul aroma esens apapun sebagaimana mestinya. Bau khas ester seringkali tertutupi atau terganggu oleh bau asam karboksilat. Sebuah cara sederhana untuk mendeteksi bau ester adalah dengan menaburkan campuran reaksi ke dalam sejumlah air di sebuah gelas kimia kecil. Pengamatan kelima yaitu melarutkan Na 2 SO 3 dalam air dan menmbahkan beberpa tetes BaCl. Menurut literature, pengamatan ini akan menghasilkan endapan berwarna putih. Reaksi yang tebentuk antara Na 2 SO 3 dengan barium klorida, yaitu

Na 2 SO 3 + BaCl 2

dengan barium klorida, yaitu Na 2 SO 3 + BaCl 2 BaSO 3 + 2NaCl Dari

BaSO 3 + 2NaCl

Dari pengamatan yang telah dilakukan mengenai sifat dari asam sulfat dapat

diketahui bahwa asam sulfat memiliki sifat sebagai berikut :

1. Sifat sebagai pengoksidasi

Cu (s) + 2 H 2 SO 4 (l)

CuSO 4 (s) + 2H 2 O (l) + SO 2 (g)

2. Sifat dehidrasi C 6 H 12 O 6 + H 2 SO 4

3. Sebagai katalis pembentukan ester CH 3 COOH + C 2 H 5 OH + H2SO4

6C + 6H 2 O + H 2 SO 4

CH 3 COOC 2 H 5 + H 2 O

58

V.

Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal, yaikni:

1. Belerang dapat mengalami beberapa bentuk modifikasi seperti berbentuk Kristal dan belerang plastic, dimana bentuk kristalnya dapat bebentuk kristal rombik dan kristal monoklin

2. Bentuk Kristal yang terbentuk dan viskositas belerang dapat

dipengaruhi oleh suhu.

3. Hydrogen sulfide dapat dihasilkan dari reaksi antara asam dan logam sulfide

4. Asam sulfat memiliki sifat sebagai :

- Oksidator

- Dehydrator

- Katalis dalam pembentukan ester

5.2 Saran Karena ada percobaan yang tidak dilakukan dikarenakan tidak tersedianya bahan dan alat yang menunjang kelangsungan dalam praktikum, oleh karena itu, diharapkan kekurangan bahan dan alat dapat diatasi dengan baik sehingga praktikan dapat melakukan percobaan dengan baik sehingga untuk kedepannya praktikan dapat lebih memahami akan percobaan yang dilakukan.

59

VI. Daftar Pustaka

Cotton, F. Albert. 1989.Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI Press Oxtoby, David. 2001. Prinsip Prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga Petrucci, Ralph H. 1985. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga Sunarya, Yayan. 2012. Kimia Dasar 2. Bandung : Yrama Widya

60

Pertanyaan:

LAMPIRAN

1. Tuliskan semua reaksi kimia yang terjadi dalam pembuatan belerang rombis dan

monoklin serta reaksi antara firit dan HCl ?

Jawab :

Reaksi belerang rombis

S 8

Reaksi belerang monoklin

S 8

(s)

(s)

+

+

CHCl 3 (aq)

CS 2 (aq)

S 8 (rombis)

S

8 (monoklin)

2. Gambarkan struktur dari belerang rombis dan monoklin ?

Jawab :

Gambar belerang rombis

rombis dan monoklin ? Jawab : Gambar belerang rombis Gambar belerang monoklin 3. Sebutkan sifat-sifat fisika

Gambar belerang monoklin

? Jawab : Gambar belerang rombis Gambar belerang monoklin 3. Sebutkan sifat-sifat fisika dan kimia dari

3. Sebutkan sifat-sifat fisika dan kimia dari H 2 S

Jawab:

Sifat Fisik Gas Hidrogen sulfida

Gas Hidrogen sulfida atau H2S mempunyai sifat dan fisik sebagai berikut :

- Terbentuk dari 2 unsur Hidrogen dan 1 unsur sulfur.

- Tidak bewarna.

- Bau yang merangsang, seperti telur busuk.

- Dalam kosentrasi agak tinggi dapat menyebabkan orang jadi pingsan secara

cepat bila mencium baunya.

61

- Pada kosentrasi yang lebih tinggi mempunyai bau dan rasa yang agak manis. Dan segera dapat melumpuhkan saraf penciuman sehingga gas H2S ini tidak dapat diketahui berdasarkan penciuman.

- Konsentrasinya sangat rendah.

- Sangat beracun.

- Berat jenis Hidrogen sulfida sekitar 20% lebih berat daripada berat jenis udara.

- Dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi LEL ( Lower Explosive Limit )

4,3 % ( 43.000 PPM ) sampai UEL ( Upper Explosive Limit ) 46% (460.000 PPM) dengan nyala api bewarna biru pada temperatur 500° F (260° C).

- Dapat larut dalam air ( daya larut dalam air 437 ml/100ml air pada 0° C, 186 ml/100ml air pada 40° C ), dan larut dalam hydrogen cair.

- Bersifat korosif, sehingga dapat menyebabkan karat pada peralatan logam.

- Bersifat iritasi terhadap mata, dan saluran pernafasan.

- Bersifat flammable ( mudah terbakar ).

- Bila terbakar menghasilkan asam belerang (SO2) yang kurang berbahaya dari H2S. Tetapi mengganggu mata dan paru-paru yang menyebabkan infeksi kimiawi dalam beberapa jam saja.

- Mempunyai nilai ambang batas (NAB) : 10 PPM (part per million).

Rumus molekul

H 2 S

Berat molekul

34.08

Berat jenis, Spesifik grafitasi Titik lebur

Titik didih temp. Auto-pengapian Angkauan ledakan di udara Bau ambang Pencium tingkat kelelahan

1,192 (udara = 1,00) 82.9°C - 82,9 ° C 61,8 ° C 250 ° C 4,5 - 45,5% 0,02 ppm 100 ppm

62

Sifat Kimia Gas Hidrogen sulfide

Hidrogen sulfida merupakan hidrida kovalen yang secara kimiawi terkait dengan air (H2O) karena oksigen dan sulfur berada dalam golongan yang sama di tabel periodik.

Hidrogen sulfida merupakan asam lemah, terpisah dalam larutan aqueous (mengandung air) menjadi kation hidrogen H+ dan anion hidrosulfid HS−:

H 2 S → HS + H + Ka = 1.3×10−7 mol/L; pKa = 6.89.

Ion sulfid, S 2 , dikenal dalam bentuk padatan tetapi tidak di dalam larutan aqueous (oksida). Konstanta disosiasi kedua dari hidrogen sulfida sering dinyatakan sekitar 10−13, tetapi sekarang disadari bahwa angka ini merupakan error yang disebabkan oleh oksidasi sulfur dalam larutan alkalin. Estimasi terakhir terbaik untuk p Ka 2 adalah 19±2.

Merupakan asam lemah. Bila terdapat ion-ion hidroksil akan terbentuk Hydrogen sulfide dan sulfide.

Sebagai pereduksi. Hydrogen sulfide terbakar di udara dan menghasilkan belerang, namun belerang akan terbakar dan terbentuk belerang dioksida.

63