Anda di halaman 1dari 16

Penyearah Gelombang Penuh (Full

Wave Rectifier)
{0 Comments}
in Dioda
Bagikan
Rangkaian J embatan Penyearah
Level tegangan DC dari sinyal output pada penyearah setengah gelombang kurang dari 50% dari
sinyal inputnya karena outputnya hanya separuh siklus dari sinyal inputnya. Level tegangan DC ini
bisa ditingkatkan hingga 100% dengan menggunakan penyearah gelombang penuh. Rangkaian
yang paling banyak digunakan sebagai penyearah umumnya berbentuk rangkaian jembatan dioda
seperti ditunjukkan pada gambar 1.
Gambar 1 Rangkaian jembatan penyearah
gelombang penuh (full wave bridge rectifier)
Pada saat t = 0 hingga t = T/2, polaritas dari tegangan input, vi, ditunjukkan pada gambar 2.Dengan
polaritas tegangan input seperti ditunjukkan pada gambar 2, membuat dioda D2 dan D3menjadi on
sedangkan dioda D1 dan D4 menjadi off. Dioda yang on diganti dengan short circuit sedangkan
dioda yang off diganti open circuit. Kita bisa lihat bagaimana arus dapat mengalir melewati dioda
D2 dan D3. Apabila keempat dioda pada rangkaian tersebut ideal (tidak ada drop tegangan pada saat
on) maka tegangan input, vi, sama dengan tegangan output, vo(vo = vi).
Gambar 2 Jalur konduksi yang dilewati arus pada saat siklus tegangan positif vi
Sedangkan pada saat siklus negatif, dioda D1 dan D4 menjadi on sedangkan dioda D2 dan
D3menjadi off seperti ditunjukkan pada gambar 3. Arus mengalir dalam rangkaian melewati dioda
D2 dan D3. Hal penting yang perlu kita perhatikan pada gambar 3 adalah pada sinyal outputnya (vo).
Pada saat tegangan input vi bernilai negatif ternyata tegangan output vo bernilai positifnya (vo = -vi)
sehingga menghasilkan sinyal positif yang kedua pada outputnya.
Gambar 3 Jalur
yang dilewati oleh arus listrik pada saat siklus tegangan negatif. Perhatikan sinyal outputnya bernilai
positif.
Jadi, selama satu siklus penuh dari sinyal input vi, hasil sinyal outputnya ditunjukkan pada gambar 4.
Kita lihat pada gambar 4 seakan-akan sinyal input yang bernilai negatif dibalik menjadi bernilai
positif di outputnya.
Gambar 4 Bentuk gelombang tegangan input
dan output dari rangkaian penyearah gelombang penuh
Karena area di atas sumbu horisontal dari sinyal outputnya memiliki luas dua kali lipat sinyal output
penyearah setengah gelombang, maka level tegangan DC nya (tegangan rata-rata) juga menjadi
dua kali lipat
VDC = 2 VDC setengah gelombang = 2(0.318 Vm)
VDC = 0.636Vm untuk penyearah gelombang penuh
Apabila kita menggunakan model dioda yang tidak ideal, misal kita menggunakan dioda silikon,
maka tegangan output tidak akan sama dengan tegangan input karena tegangan inputnya akan
dipotong untuk membuat dioda on (VT, tegangan on). Karena pada saat siklus positif dan siklus
negatif terdapat dua buah dioda yang on, dengan menggunakan hukum Kirchoff tegangan (KVL)
pada jalur yang dilalui arus seperti ditunjukkan pada gambar 5, diperoleh persamaan
vi VT vo VT = 0
vo = vi 2VT
dan tegangan output maksimum adalah
Vomax = Vm 2VT
Tegangan DC rata-rata dari outputnya apabila tegangan drop pada dioda diperhitungkan
VDC = 0.636(Vm 2VT)
Gambar 5 Menghitung tegangan output
apabila drop tegangan dioda diperhitungkan
Penyearah Gelombang Penuh dengan Trafo Center-Tap (CT)
Rangkaian penyearah gelombang penuh yang juga banyak digunakan ditunjukkan pada gambar 6.
Penyearah gelombang penuh tersebut hanya menggunakan dua dioda tetapi harus menggunakan
trafo center tap (CT). Keluaran dari trafo CT dimasukkan ke rangkaian penyearah gelombang penuh
yang terdiri dari dua buah dioda ini.
Gambar 6 Rangkaian penyearah gelombang
penuh menggunakan trafo center tap (CT)
Pada saat tegangan input vi bernilai positif dan diinputkan pada lilitan primer dari trafo, maka
rangkaian ekivalennya ditunjukkan pada gambar 7. Ada dua keluaran tegangan dari trafo CT ini
pada lilitan sekundernya. Kedua keluaran ini memiliki bentuk gelombang yang sama apabila
susunan polaritas dari kedua tegangannya seperti ditunjukkan pada gambar 7. Pada saat siklus
tegangan positif, dioda D1 on dan dioda D2 off. Arus dapat mengalir melewati dioda D1. Sehingga
tegangan output vo (atau tegangan pada resistor R) memiliki bentuk yang sama dengan tegangan
inputnya.
Gambar 7 Kondisi rangkaian
pada saat siklus tegangan positif vi.
Pada saat siklus tegangan negatif, kondisi rangkaian ditunjukkan pada gambar 8. Kali ini dioda
D1off dan dioda D2 on, arus masih bisa mengalir melewati dioda D2. Dan tegangan output, yaitu
tegangan pada resistor R, bernilai positif sesuai dengan polaritas vo yang telah ditentukan. Jadi,
rangkaian ini memiliki fungsi yang sama dengan rangkaian penyearah gelombang penuh pada
gambar 1.
Gambar 8 Kondisi rangkaian
pada saat siklus tegangan negatif vi
Sekilas, penyearah gelombang penuh dengan trafo CT ini terlihat lebih ringkas karena hanya
menggunakan dua buah dioda. Tetapi untuk rangkaian dengan kebutuhan daya yang tinggi, trafo CT
tersedia dalam ukuran yang sangat besar dan harganya yang mahal. Konsekuensinya, rangkaian
penyearah dengan trafo CT ini lebih umum digunakan untuk membuat power supply daya rendah
(low power).
Contoh Soal
Tentukan bentuk gelombang output dari rangkaian pada gambar 9, lalu hitunglah level tegangan DC
nya (tegangan rata-rata).
Gambar 9 Contoh soal angkaian jembatan
penyearah
Solusi
Pada saat tegangan input bernilai positif, kondisi rangkaian ditunjukkan pada gambar 10. Tetapi
untuk mengitung tegangan output, vo, pada rangkaian gambar 10 ini agak sulit karena hubungan
seri-paralel dari ketiga resistor itu tidak begitu jelas. Maka rangkaian pada gambar 10 digambar
ulang sehingga tampak pada rangkaian gambar 11 dimana hubungan seri paralel antar resistor bisa
terlihat. Dari rangkaian pada gambar 10, tegangan vo dapat dihitung dengan mudah dengan
menggunakan aturan pembagi tegangan (voltage divider) yaitu
Maka tegangan maksimum dari outputnya adalah

Gambar 10 Kondisi rangkaian pada saat tegangan
input bernilai positif Gambar 11 Rangkaian pada gambar
10 digambar ulang untuk mempermudah analisa seri-paralel
Tegangan maksimum dari outputnya adalah 5 V. Hasil yang sama persis diperoleh saat tegangan
input bernilai negatif. Arus listrik mengalir melewati dioda yang sebelah kiri. Hasil tegangan output
untuk satu siklus penuh tegangan input ditunjukkan pada gambar 12.
Gambar 12Bentuk gelombang hasil tegangan output dari contoh soal
Penyearah Gelombang Penuh Dua Kutub (Bipolar)
Penyearah gelombang penuh dengan trafo CT pada penjelasan di atas menghasilkan tegangan
output DC yang bernilai positif. Kita bisa memodifikasi rangkaian tersebut sehingga dapat
menghasilkan tegangan output DC yang bernilai negatif. Caranya adalah dengan membalik arah
dioda pada rangkaian gambar 6. Lebih jauh lagi, kita bisa menempatkan penyearah gelombang
penuh positif dan penyearah gelombang penuh negatif secara paralel seperti ditunjukkan pada
gambar 13.
Gambar 13 Rangkaian
penyearah gelombang penuh dua kutub (bipolar) dengan trafo CT.
Rangkaian penyearah gelombang penuh polaritas (kutub) positif menggunakan dua dioda berwarna
hitam. Sedangkan rangkaian penyearah gelombang penuh polaritas negatif menggunakan dua
dioda yang berwarna biru. Bisa anda lihat pada gambar 13, rangkaian ini menghasilkan dua sinyal
output yaitu tegangan DC positif dan tegangan DC negatif dengan menggunakan sebuah trafo CT
dan satu sinyal input AC (tegangan AC satu fasa).
Alternatif lain dari rangkaian penyearah gelombang penuh bisa anda perhatikan pada gambar 14.
Gambar 14 Rangkaian
jembatan penyearah gelombang penuh alternatif.
Satu keuntungan bila kita menggunakan rangkaian penyearah pada gambar 14, yaitu kita bisa
mengembangkan rangkaian penyearah ini untuk sistem sumber AC tiga fasa (three-phase) seperti
ditunjukkan pada gambar 15.
Gambar 15 Rangkaian jembatan
penyearah gelombang penuh tiga fasa
Masing-masing line dari sistem tiga fasa ini dihubungkan diantara sepasang dioda : satu dioda
menyediakan jalan menuju kutub positif dari beban dan satu dioda lainnya menyediakan jalan
menuju kutub negatif dari beban. Bahkan sistem yang lebih dari 3 fasa juga bisa menggunakan
rangkaian penyearah model ini. Seperti rangkaian penyearah 6 fasa pada gambar 16.
Gambar 16 Rangkaian penyearah
gelombang penuh 6 fasa
Ketika tegangan AC polifasa disearahkan, beda fasa dari masing-masing pulsanya akan saling
menindih satu sama lain sehigga menghasilkan tegangan DC yang lebih halus (riak tegangan DC
nya lebih kecil) dari pada sinyal yang dihasilkan dari penyearah tegangan AC fasa tunggal. Bentuk
sinyal input tegangan tiga fasa dan hasil outputnya ditunjukkan pada gambar 17.
Gambar 17 Output penyearah
gelombang penuh tiga fasa
Salah satu kelebihan dari penyearah gelombang penuh tiga fasa ini adalah hasil tegangan
outputnya yang lebih halus (perhatikan garis hijau pada gambar 17) daripada output penyearah
gelombang penuh fasa tunggal (bentuk gelombangnya seperti gunung-gunung). Sehingga
diperlukan suatu filter untuk memperkecil bentuk gunung-gunung dari output penyearah fasa
tunggal ini. Sedangkan pada penyearah tiga fasa, kita tidak memerlukan filter lagi.
Terkadang metode penyearahan (rectification) ini diberi nama berdasarkan jumlah pulsa tegangan
DC yang dihasilkan setiap 1 periode sinyal input AC (360
o
). Misalkan pada rangkaian penyearah
setengah gelombang fasa tunggal, rangkaian tersebut diberi nama penyearah 1 pulsa (1 pulse
rectifier) karena rangkaian tersebut menghasilkan satu pulsa tegangan DC untuk tiap 1 periode
tegangan inputnya.Sedangkan penyearah gelombang penuh fasa tunggal disebut
dengan penyearah 2 pulsa (2 pulse rectifier) karena rangkaian ini menghasilkan dua pulsa DC
tiap 1 periode sinyal inputnya. Berdasarkan penamaan ini, maka penyearah gelombang penuh 6
fasa disebut dengan penyearah 6 pulsa.
Teknik elektro modern menggunakan suatu istilah penyederhanaan untuk tiap-tiap model rangkaian
penyearah. Istilah penyederhanaan ini menunjukkan tiga parameter dari rangkaian penyearah
tersebut, yaitu jumlah fasa, jumlah arah arus, dan jumlah pulsa DC outputnya. Misalkan rangkaian
penyearah setengah gelombang fasa tunggal yang memiliki nama 1Ph1W1P (1 phase, 1 way, 1
pulse) atau (1 fasa, 1 arah, 1 pulsa). 1 fasa menunjukkan rangkaian tersebut menggunakan
tegangan AC 1 fasa (fasa tunggal), 1 arah menunjukkan bahwa arus yang lewat dalam rangkaian
penyearah tersebut memiliki 1 jalur arah, 1 pulsa karena rangkaian tersebut menghasilkan 1 pulsa
tegangan DC tiap 1 periode tegangan inputnya. Rangkaian penyearah gelombang penuh fasa
tunggal dengan trafo CT disebut dengan 1Ph1W2P karena inputnya adalah tegangan AC 1 fasa,
hanya ada 1 jalur arah yang dilewati arus dalam rangkaian itu dan ada 2 pulsa tegangan DC yang
dihasilkan tiap 1 periode tegangan inputnya. Sedangkan rangkaian jembatan penyearah gelombang
penuh fasa tunggal disebut dengan 1Ph2W2P karena tegangan inputnya 1 fasa, ada 2 arah jalur
yang bisa dilewati arus dalam rangkaian penyearah itu, dan ada 2 pulsa tegangan DC tiap 1 periode
tegangan inputnya. Jadi, untuk rangkaian penyearah gelombang penuh tiga fasa disebut dengan
3Ph2W6P.
Ada satu tips untuk meningkatkan jumlah pulsa tegangan DC output dari rangkaian peyearah
khususnya pada sistem 3 fasa. Caranya adalah dengan memodifikasi trafo 3 fasanya dan
meletakkan sepasang rangkaian penyearah pada outputnya secara paralel. Pada trafo tiga fasa,
apabila model konfigurasi pada lilitan primer dan sekundernya berbeda, maka tegangan output pada
bagian sekundernya memiliki beda fasa sebesar 30
o
terhadap tegangan lilitan primernya. Apabila
model konfigurasinya sama antara lilitan primer dan sekunder, maka tidak akan ada beda fasa. Jadi,
untuk trafo dengan model wye to delta (Y-) atau delta to wye (-Y), tegangan pada lilitan primer
dan sekundernya memiliki beda fasa sebesar 30
o
. Sedangkan trafo yang memiliki hubungan wye to
wye (Y-Y) dan delta to delta (-), tegangan pada lilitan primer dan sekundernya memiliki beda fasa
sebesar 0
o
. Kita bisa memanfaatkan kedua prinsip ini untuk menghasilkan pulsa tegangan output
yang lebih banyak yaitu dengan menyusun sepasang penyearah yang diparalel dan trafo 3 fasa
seperti ditunjukkan pada gambar 17. Lilitan sekunder yang di atas memiliki hubungan wye to wye
(Y-Y) sehingga tegangan pada lilitan sekunder ini memiliki beda fasa 0
o
dengan tegangan primernya
dan menghasilkan 6 pulsa DC dari rangkaian penyearahnya. Sedangkan lilitan sekunder yang di
bawah memiliki hubungan wye to delta (Y-) sehingga tegangan pada lilitan ini memiliki beda fasa
sebesar 30
o
dengan tegangan pada lilitan primer dan lilitan sekunder yang atas. Dari rangkaian
penyearah pada lilitan sekunder bawah ini juga menghasilkan 6 pulsa DC. Karena kedua lilitan
primer ini (atas dan bawah) dirangkai paralel, maka jumlah pulsa output penyearahnya adalah 6
pulsa + 6 pulsa = 12 pulsa. Jadi, untuk satu siklus/periode tegangan AC 3 fasa, bisa menghasilkan
tegangan output 12 pulsa DC. Lalu, apa keuntungan dari jumlah pulsa DC yang lebih banyak seperti
ini? Tentu saja, semakin banyak pulsa DC yang dihasilkan, maka semakin halus tegangan DC
output yang dihasilkan oleh penyearah tersebut.
Gambar
18 Rangkaian penyearah tiga fasa : 3 phase 2 way 12 pulse (3Ph2W12P)









Prinsip Kerja Dioda
Sebuah dioda adalah komponen listrik yang dapat mengalirkan arus dalam satu arah dan menahan
arus litrik dalam arah yang sebaliknya. Jenis dioda modern yang banyak digunakan dalam
mendisain rangkaian adalah dioda semikonduktor, walaupun dioda dengan teknologi lainnya juga
ada. Dioda semikonduktor memiliki simbol rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar 1. Biasanya,
istilah dioda menunjuk pada komponen yang digunakan untuk sinyal-sinyal kecil , yaitu untuk arus
yang kurang dari 1 A (I < 1 A). Sedangkan dioda untuk keperluan daya besar (I > 1 A) biasanya
lebih dikenal dengan nama penyearah (rectifier).
Gambar 1 Simbol rangkaian dioda semikonduktor. Arah panah
menunjukkan arah arus listrik yang dapat dilewati oleh elektron.
Ketika dioda digunakan pada rangkaian lampu sederhana, dioda dapat mengalirkan atau menahan
arus listrik yang menuju ke lampu, tergantung dari polaritas dari sumber tegangan yang
dihubungkan pada terminal dioda. Perhatikan gambar 2.
Gambar 2 Operasional dioda : (a) Arus
bisa lewat menuju lampu; pada kondisi ini dioda mengalami bias maju (forward bias). (b) Arus
tidak bisa lewat ke lampu; dioda mengalami bias terbalik (reverse bias)
Ketika polaritas baterai yang terhubung pada dioda memungkinkan arus dapat mengalir ke lampu,
dioda dikatakan mengalami bias maju (forward bias). Sebaliknya, ketika polaritas baterai dibalik
sehingga dioda menahan arus dalam rangkaian, dioda dikatakan mengalami bias terbalik(reverse
bias).
Cukup jelas, arah anak panah dari simbol dioda menunjukkan kemana arah arus listrik dapat
mengalir. Sebelum membahas arah arus pada dioda. Pertama kita perlu mengetahui, dalam analisa
rangkaian listrik ada dua aturan arah arus listrik. Pada jaman awal-awal penemuan listrik, orang-
orang menganggap listrik adalah gerakan muatan listrik positif yang mengalir dari kutub positif
menuju kutub negatif baterai/sumber tegangan. Namun seiring kemajuan ilmu pengetahuan,
diketahui bahwa yang sebenarnya bergerak adalah muatan listrik negatif atau disebut elektron. Dan
pada kenyataannya, arus listrik adalah gerakan elektron dari kutub negatif menuju kutub positif.
Tentu saja penemuan gerakan elektron ini bertentangan dengan pendapat orang jaman dahulu. Jadi
kesimpulannya, aturan lama (arah arus konvensional) menyatakan arus listrik mengalir dari kutub
positif menuju negatif, sedangkan aturan baru (arah arus elektron) menyatakan bahwa arus listrik
mengalir dari kutub negatif menuju positif. Tetapi karena arah arus konvensional ini sudah dipakai
terlebih dahulu, maka banyak literatur yang menggunakan arah arus konvensional ini daripada
menggunakan arah arus elektron. Begitu juga dengan simbol anak panah dari dioda. Pada saat
dioda ditemukan, orang-orang menganggap arus mengalir dari kutub positif menuju negatif,
sehingga simbol anak panah dioda memakai aturan arah arus konvensional. Semua pembahasan
dalam artikel ini menggunakan aturan arah arus konvensional.
Dioda dapat mengalirkan arus listrik apabila terminal anoda dari dioda (simbol anak panah, ),
dihubungkan ke terminal yang tegangannya lebih positif daripada terminal katodanya (simbol garis
lurus tegak, |) sehingga arus listrik konvensional dapat mengalir sesuai dengan arah panah simbol
dioda. Sebaliknya, apabila katoda diberi tegangan yang lebih positif daripada anoda, arus tidak
dapat mengalir.
Perhatikan gambar 3, apabila arah arus listrik yang keluar dari sumber tegangan memiliki arah yang
sesuai dengan arah anak panah dari dioda, maka dioda mengalami bias maju (forward bias) dan
arus dapat mengalir dalam rangkaian. Sebaliknya, apabila arah arus listrik yang keluar dari baterai
memiliki arah yang berlawanan dengan arah panah dari dioda, maka dioda mengalami bias terbalik
(reverse bias) dan arus listrik tidak dapat mengalir dalam rangkaian.
Gambar 3 Agar arus dapat mengalir
dalam rangkaian, maka arah arusnya harus sesuai dengan arah panah dari dioda
Sekarang mari kita lihat rangkaian sederhana yang terdiri dari sumber tegangan, dioda, dan lampu
pada gambar 4. Kita akan mengukur tegangan pada masing-masing komponen pada saat dioda
mengalami bias maju dan bias terbalik.
Gambar
4 Mengukur tegangan pada rangkaian dioda : (a) Bias maju. (b) Bias terbalik
Pada saat dioda mengalami bias maju (forward bias), dioda dapat mengalirkan listrik. Pada kondisi
ini, dioda seakan-akan menjadi short circuit. Tetapi walaupun dioda mengalami short circuit, tetapi
hasil pengukuran tegangan pada dioda tidak menunjukkan angka nol volt. Ada sedikit tegangan
yang terukur pada dioda saat mengalami bias maju, pada voltmeter nilai tegangan yang terukur
sekitar 0.7 V. Pada saat yang bersamaan tegangan pada lampu hampir sama dengan tegangan
sumber, yaitu 5.3 V. Sebaliknya, pada gambar b, dioda mengalami bias terbalik (reverse bias). Pada
kondisi ini, arus listrik tidak dapat mengalir menuju lampu sehingga lampu tidak menyala. Tegangan
dioda sama dengan tegangan sumbernya, sedangkan tegangan lampu menunjukkan angka nol volt.
Dari percobaan sederhana ini, bisa dikatakan bahwa dioda hampir mirip dengan saklar. Pada saat
bias maju, dioda seperti saklar yang tertutup, sedangkan pada saat bias terbalik, dioda seperti
saklar yang terbuka. Perbedaan utama dengan saklar adalah, pada saat bias maju (saklar menutup)
dan arus dapat mengaliri dioda, tegangan dioda tidak sama dengan nol volt, tetapi ada nilai drop
tegangan pada dioda yaitu sebesar 0.7 V.
Drop tegangan sebesar 0.7 V saat kondisi bias maju ini disebabkan ada sesuatu yang terjadi
pada daerah pemisah (depletion region). Daerah pemisah (depletion region) adalah suatu
titik/daerah sambungan yang memisahkan antara dua jenis bahan semikonduktor yang menyusun
dioda, yaitu bahan semikonduktor jenis P dan jenis N. Materaial tipe P adalah penyusun utama dari
anoda, sedangkan material tipe N adalah penyusun utama katoda. Apabila tidak ada tegangan pada
katoda dan anodanya, daerah pemisah ini hadir diantara dua jenis material semikonduktor tersebut
dan mencegah terjadinya aliran listrik (Gambar 5a). Daerah pemisah ini adalah daerah netral yang
mencegah terjadinya aliran muatan listrik dan bertindak sebagai isolator:
Gambar
5 Representasi dioda : (a) model sambungan PN (PN-junction), (b) simbol dioda, (c) bentuk fisik
komponen dioda
Simbol rangkaian dioda ditunjukkan pada gambar 5b. Bagian anak panah disebut dengan anoda
dan tersusun dari materaial tipe P. Bagian katoda adalah garis tegak yang ditunjuk oleh anak panah
dan tersusun dari material tipe N. Untuk membedakan anoda dan katoda, pada badan dioda diberi
suatu strip berwarna putih untuk menandakan bahwa kaki tersebut adalah katodanya.
Sekarang, apabila dioda mengalami bias terbalik yaitu saat kutub positif sumber tegangan
dihubungkan ke katoda, dan kutub negatif ke anoda, daerah pemisah (depletion region) akan
semakin lebar. Hal ini disebabkan, material tipe N pada katoda tertarik menuju kutub positif sumber
tegangan, dan material tipe P pada anoda tertarik menuju kutub negatif sumber tegangan. Akibatnya
kedua jenis material ini sama-sama tertarik ke arah luar dan daerah pemisahnya semakin lebar
dan arus semakin sulit untuk bisa lewat. Penjelasan ini diilutrasikan pada gambar 6.
Gambar 6 Daerah pemisah (depletion
region) semakin lebar saat bias terbalik (reverse bias)
Sebaliknya, pada saat dioda mengalami bias maju (forward bias), daerah pemisah ini semakin
sempit dan akhirnya jebol sehingga arus dapat mengalir melewati dioda. Pada saat bias maju,
kutub positif sumber tegangan dihubungkan pada anoda (bahan tipe-P) dan kutub negatif
dihubungkan pada katoda (bahan tipe-N). Sebagaimana kita ketahui, muatan listrik sejenis akan
saling tolak menolak. Bahan tipe-P akan ditolak oleh kutub positif sumber tegangan dan bahan tipe-
N ditolak oleh kutub negatif sumber tegangan, akibatnya material tipe P dan N ini sama-sama
didesak ke arah tengah dan daerah pemisahnya menjadi semakin sempit. Apabila sumber tegangan
cukup kuat untuk mendesak terus (sumber tegangan > 0.7 V), maka daerah pemisah ini akan jebol
dan arus dapat mengalir melewati dioda. Penjelasan ini diilutrasikan pada gambar 7.
Gambar
7 Dioda mengalami bias maju. (a) Tegangan maju tapi masih belum terlalu kuat untuk menjebol
daerah pemisah. (b) Tegangan sudah cukup besar untuk dapat menjebol daerah pemisah
Untuk dioda yang dibuat dari bahan silikon, tegangan maju (forward voltage) adalah 0.7 V.
Sedangkan untuk dioda berbahan germanium memiliki tegangan maju sebesar 0.3 V. Perbedaan
bahan kimia antara silikon dan germanium yang membuat tegangan maju kedua jenis dioda ini
memiliki perbedaan. Tegangan maju ini akan relatif bernilai konstan berapapun besarnya arus yang
mengaliri dioda, ini berarti dioda memiliki sifat yang berbeda dengan resistor dimana tegangan
resistor linier dengan arus yang mengaliri resistor. Untuk mempermudah analisa rangkaian,
biasanya dioda diganti dengan sumber tegangan sebesar 0.7 V (untuk dioda silikon) saat dioda
mengalami bias maju, berapapun itu nilai arus yang mengaliri diioda.
Sebenarnya, tegangan maju pada suatu dioda dapat dihitung tetapi sangat sulit karena untuk
menghitung tegangan maju suatu dioda harus mempertimbangkan banyak variabel. Sebuah
persamaan pendekatan untuk menghitung tegangan maju dioda bergantung pada beberapa variabel
yaitu arus yang mengaliri dioda, suhu sambungan P-N nya, dan beberapa konstanta fisika. Berikut
ini persamaan dioda yang umum :
Dimana,
ID : arus dioda dalam ampere
IS : arus saturasi dalam ampere (biasanya bernilai 1 10
-12
ampere)
e : konstanta euler (~ 2.718281828)
q : muatan elektron (1.6 10
-19
coulomb)
VD : sumber tegangan yang dihubungkan ke dioda dalam volt
N : koefisien emisi atau ketidakidealan (biasanya diantara 1 atau 2)
k : konstanta Boltzman (1.38 10
-23
)
T : suhu sambungan PN dalam Kelvin
Variabel kT/q menunjukkan bahwa tegangan maju yang dihasilkan diantara sambungan P-N
dipengaruhi oleh suhu, dan ia disebut dengan tegangan thermal, atau Vt dari sambungan. Pada
suhu ruangan, nilainya sekitar 26 milivolt. Dengan mengetahui ini, dan kita mengasumsikan dioda
koefisien emisi sama dengan satu, kita dapat menyederhanakan persamaan di atas menjadi:
dimana
ID : arus dioda dalam ampere
IS : arus saturasi dalam ampere (biasanya 1 10
-12
ampere)
e : konstanta euler (~ 2.718281)
VD : tegangan yang dihubungkan ke dioda
Anda tidak perlu familiar dengan persamaan ini untuuk menganalisa rangkaian dioda yang
sederhana. Yang perlu dimengerti adalah tegangan dioda tidak akan berubah saat dilalui arus,
berapapun itu besar arusnya. Inilah mengapa dalam banyak referensi dikatakan bahwa tegangan
dari dioda semikonduktor akan bernilai konstan 0.7 V untuk silikon dan 0.3 V untuk germanium.
Selain itu ada hal lain yang harus anda perhatikan, pada saat dioda mengalami bias terbalik, arus
memang tidak bisa melewati dioda. Tapi pada kenyataannya terdapat arus dalam jumlah yang
sangat kecil (nano hingga mikro ampere) yang mengaliri dioda. Arus ini disebut dengan arus
bocor (leakage current). Karena nilainya yang sangat kecil, biasanya arus ini diabaikan. Arus
bocor ini disebabkan adanya aliran dari pembawa minoritas (minority carriers) yang mengalami
bias maju saat dioda mengalami bias terbalik. Penjelasan lebih lengkap mengenai arus dari
pembawa minoritas ini akan dibahas pada bagian dioda zener.
Dioda memang bisa menahan arus apabila tegangan dari sumber terbalik terhadap arah dioda.
Tetapi sama seperti kebanyakan insulator, dioda memiliki keterbatasan terhadap tegangan reverse
ini. Mungkin tegangan reverse 10 hingga 30 V dapat ditahan oleh dioda yang mengalami bias
terbalik. Tetapi apabila tegangan baliknya sudah sekitar ratusan volt bisa saja dioda yang
seharusnya bisa menahan arus, tiba-tiba jebol (break down) sehingga arus bisa mengalir saat dioda
mengalami bias terbalik. Tegangan bias terbalik maksimum yang bisa ditahan oleh dioda disebut
dengan tegangan balik puncak (Peak Inverse Voltage atau disingkat PIV). Berapa besar dari PIV
ini dapat anda lihat pada datasheet yang dikeluarkan oleh pabrikan dioda tersebut. Sama seperti
tegangan bias maju, rating dari PIV juga dipengaruhi oleh suhu. Biasanya rating PIV untuk dioda
yang umum berkisar 50 V pada suhu ruangan. Tetapi ada juga dioda dengan PIV ratusan bahkan
hingga ribuan volt namun tentunya dengan harga yang lebih mahal.
Gambar 8 Kurva dioda
yang menunjukkan hubungan antara arus dengan tegangan dioda. Perhatikan tegangan bias maju
untuk dioda silikon sebesar 0.7 V. Selain itu dioda juga memiliki batas maksimum tegangan
balik (tegangan break down).