Anda di halaman 1dari 22

1

I. Pendahuluan
Seorang dokter pasti akan dihadapkan pada kasus kematian dalam
melaksanakan profesinya, baik kematian wajar maupun kematian tidak wajar.
Pada kasus kematian tidak wajar, dokter atas permintaan penyidik menentukan
apakah korban masih hidup ataukah sudah mati, pada korban masih hidup dapat
secepatnya mendapatkan perawatan sedangkan pada korban mati perlu ditentukan
perkiraan saat kematiaanya.
1
Memperkirakan saat kematian yang mendekati ketepatan mempunyai arti
penting khususnya bila dikaitkan dengan proses penyidikan, oleh karena dengan
demikian penyidik dapat lebih terarah dan selektif di dalam melakukan
pemeriksaan terhadap para tersangka pelaku tindak pidana. Benar tidaknya alibi
seseorang yang diduga mempunyai hubungan dengan sebab kematian korban
dapat diketahui dari perkiraan saat kematian. Untuk dapat memperkirakan saat
kematian perlu diketahui perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh seseorang
yang meninggal dunia, dan faktor-faktor apa saja yang berperan di dalam
terjadinya perubahan-perubahan tersebut.
2

Tanatologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perubahan-perubahan
pada tubuh seseorang yang telah meninggal. Pengetahuan ini berguna untuk:
menentukan apakah seseorang benar-benar telah meninggal atau belum,
menentukan berapa lama seseorang telah meninggal, membedakan perubahan-
perubahan post mortal dengan kelainan-kelainan yang terjadi pada waktu korban
masih hidup. Seseorang dikatakan meninggal bila faal system pernapasan dan
sistem peredaran darahnya berhenti secara lengkap dan permanen. Dengan
bertambah majunya ilmu kedokteran, maka penentuan seseorang yang telah
meninggal menjadi lebih sulit.
1

Oleh karena itu pada tahun 1968 telah dicetuskan Declaration Of Sydney yang
isinya antara lain : penentuan seseorang telah meninggal harus berdasarkan atas
pemeriksaan klinis, dan bila perlu dibantu dengan pemeriksaan laboratoris. Dan
apabila hendak dilakukan transplantasi jaringan, maka penentuan bahwa
2

seseorang telah meninggal harus dilakukan oleh dua orang dokter atau lebih dan
dokter ini bukan lah dokter yang akan mengerjakan transplantasi nanti.
1



Mati mempunyai dua stadium antara lain somatic death atau systemic death
atau clinical death dan cellular death atau molecular death. Dalam stadium
somatic death fungsi pernapasan dan peredaran darah telah berhenti, sehingga
terjadi anoksia yang lengkap dan menyeluruh dalam jaringan-jaringan. Akibatnya
proses aerobik dalam sel-sel berhenti, sedangkan proses anaerobic masih
berlangsung. Beberapa jaringan masih dapat hidup terus selama beberapa waktu,
misalnya: sel sel syaraf masih hidup selama 5 menit setelah orang meninggal,
jaringan otot dalam waktu 3 jam masih dapat di rangsang secara mekanik maupun
elektrik serta pemberian atropin dalam waktu 4 jam setelah orang meninggal
masih dapat menimbulkan midriasis.
1

Tanda-tanda kematian yang dapat diperiksa dalam stadium somatic death ialah:
hilangnya pergerakan dan sensibilitas, berhentinya pernafasan, berhentinya denyut
jantung dan peredaran darah.
1

Dalam stadium cellular death baru timbul tanda-tanda kematian pasti yaitu:
1

- Menurunnya suhu mayat (argor mortis)
- Timbulnya lebab mayat (livor mortis)
- Terjadinya kaku mayat ( rigor mortis)
- Perubahan pada kulit
- Perubahan pada mata
- Proses pembusukan dan kadang-kadang ada proses mumifikasi dan
adipocera

3


Grafik 1. Grafik dari fase lanjutan kematian
Kegunaan tanatologi dalam bidang forensik adalah sebagai berikut:
undip

1. Untuk diagnosis kematian; sebetulnya menentukan kematian
seseorang tidaklah sulit sehingga orang awam (termasuk penegak
hukum) dapat melakukannya, tetapi juga tidak selalu gampang
sehingga kadang-kadang dokter pun dapat melakukan kesalahan.
Oleh sebab itu ilmu ini perlu dipahami sungguh-sungguh agar tidak
terjadi kesalahan dalam mendiagnosis kematian.
Tanatologi juga perlu dipelajari oleh penegak hukum sebab dalam
pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) tidak tertutup
kemungkinan menemukan korban yang ada kemungkina masih
dalam keadaan hidup meskipun terlihat tidak bergerak seperti mati.
Dalam situasi seperti ini penentuan kematian dapat dilakukan
dengan menggunakan tanda-tanda pasti kematian, antara lain lebam
mayat, kaku mayat, pembusukan.
Jika tanda-tanda pasti kematian tidak ditemukan maka korban
harus dianggap masih hidup sehingga perlu mendapat pertolongan
(misalnya dengan melakukan pernafasan bantuan) sampai
4

menunjukkan tanda-tanda kehidupan atau sampai munculnya tanda
pasti kematian yang paling awal, yaitu lebam mayat.
2. Untuk penentuan saat kematian; sehubungan dengan alibi
seseorang, pemeriksaan forensik untuk menentukan saat kematian
korban menjadi sangat penting sebab dapat tidaknya seseorang
diperhitungkan sebagai pelaku pembunuhan tergantung dari
keberadaannya ketika tindak pidananya terjadi. Tidaklah logis
seseorang dituduh membunuh jika pada saat dilakukannya tindak
pidana berada di tempat yang sangat jauh. Perubahan-perubahan
yang dapat dijadikan bahan kajian tersebut terdiri atas:
a. Perubahan eksternal, antara lain : penurunan suhu, lebam
mayat, kaku mayat, pembusukan, timbulnya larva.
b. Perubahan internal, antara lain : kenaikan potasium pada cairan
bola mata, kenaikan non protein nitrogen dalam darah,
kenaikan ureum darah, penuruan kadar gula darah, kenaikan
kadar dekstrose pada vena cava inferior
3. Untuk perkiraan sebab kematian; perubahan tak lazim yang
ditemukan pada yubuh mayat sering dapat memberi petunjuk
tentang sebab kematiannya.
a. Perubahan warna lebam mayat menjadi merah cerah (cherry-
red) memberi petunjuk keracunan karbon monoksidan (CO).
Coklat memberi petunjuk keracunan pottasium chlorate. Dan
lebih gelap memberi petunjuk kekurangan oksigen.
b. Keluarnya urine, feces atau vomitus memberi petunjuk ada
relaksasi sphinctetr akibat kerusakan otak, anoksia atau kejang-
kejang.
4. Untuk perkiraan cara kematian
Perubahan yang terjadi pada tubuh mayat juga dapat memberi
petunjuk cara kematiannya. Distribusi lebam mayat misalnya,
dapat memberi petunjuk apakah yang bersangkutan mati karena
bunuh diri atau pembunuhan.
5

Pada mayat dari orang yang mati akibat gantung diri, biasanya
didapati lebam mayat pada ujung kaki, ujung tangan atau alat
kelamin laki-laki. Jika disamping itu juga ditemukan lebam mayat
di tempat lain maka hal itu dapat dipakai sebagai petunjuk cara
kematiannya karena akibat pembunuhan.


I. Tanda Pasti Kematian
A. Penurunan Suhu Mayat
Penurunan suhu mayat atau algor mortis akan terjadi setelah kematian
dan berlanjut sampai tercapai suatu keadaan dimana suhu mayat sama
dengan suhu lingkungan. Berdasarkan penelitian kurva penurunan suhu
mayat akan berbentuk kurva sigmoid, dimana pada jam-jam pertama
penurunan suhu akan berlangsung dengan lambat, demikian pula bila suhu
mayat telah mendekati suhu lingkungan.
2
Panas yang dilepaskan melalui permukaan tubuh, dalam hal ini, kulit
adalah secara radiasi, dan oleh karena itu terdiri berbagai lapisan yang
tidak homogen, maka lapisan yang berada di bawah kulit akan
menyalurkan panasnya ke arah kulit; sedangkan lapisan tersebut juga
menerima panas dari lapisan yang berada di bawahnya. Keadaan tersebut
yaitu dimana terjadi pelepasan atau penyaluran panas secara bertingkat
dengan sendirinya membutuhkan waktu, hal ini yang menerangkan
mengapa pada jam-jam pertama setelah terjadi kematian somatis
penurunan suhu berlangsung lambat. Bila telah dicapai suatu keadaan yang
dikenal sebagai temperatur gradient, yaitu suatu keadaan dimana telah
terdapat perbedaan suhu yang bertahap diantara lapisan-lapisan yang
menyusun tubuh, maka penyaluran panas dari bagian dalam tubuh ke
permukaan dapat berjalan dengan lancar; penurunan suhu tubuh mayat
akan tampak jelas. Proses metabolisme sel yang masih berlangsung
beberapa saat setelah kematian somatis dimana juga terbentuk energi,
6

merupakan faktor yang menyebabkan mengapa penurunan suhu mayat
pada jam-jam pertama berlangsung dengan lambat.
2

Oleh karena suhu mayat akan terus menurun, maka akan dicapai suatu
keadaan dimana perbedaan antara suhu mayat dengan suhu lingkungan
tidak terlalu besar; hal ini yang menerangkan mengapa penurunan suhu
mayat pada saat mendekati suhu lingkungan berlangsung lambat.
2
Pengukuran suhu mayat dilakukan dengan memasukkan termometer ke
dalam rektum, atau dapat pula ke dalam alat-alat dalam tubuh seperti hati,
atau otak, yang tentunya baru dapat dilakukan bila dilakukan bedah mayat.
Bila yang dipergunakan adalah termometer air raksa yang konvensional,
maka pembacaan hasil baru dilakukan setelah sekurang-kurangnya 3 menit
termometer tersebut dimasukkan ke dalam rektum, sedalam 10 sentimeter.
Bila yang digunakan adalah termometer elektronis maka pembacaan hasil
pengukuran dapat dilakukan dengan segera.
2

Setelah seseorang meninggal, maka produksi panas berhenti,
sedang pengeluaran panas berlangsung terus, dengan akibat suhu jenazah
turun. Cara mengukur penurunan suhu jenazah adalah dengan termo
couple. Penurunan suhu jenazah dapat dipakai untuk memperkirakan saat
kematian korban, yaitu dengan memakai rumus sebagai berikut:
1
Lama kematian (jam) = (98,6
0
F suhu rektal jenazah
0
F)
1,5
Suhu tubuh normal adalah sebesar 98,6
0
F, sedangkan rata-rata
penurunan suhu per jam dimana suhu lingkungan 70
0
F adalah sebesar 1,5.
Secara kasar dapat dikatakan bahwa rata-rata penurunan suhu pada jam-
jam pertama adalah sebesar 2
0
C, dan 1
0
C setelahnya sampai tercapai
keseimbangan antara suhu tubuh dengan lingkungan. Bila pada tubuh
korban yang tewas akibat pembunuhan suhu rektalnya sebesar 32
0
C dan
7

suhu lingkungan adalah sebesar 20
0
C, maka dapat diperkirakan bahwa
perkiraan saat kematian adalah 12 jam yang lalu.
2


B. Lebam Mayat (Livor Mortis/Post Mortem Lividity)
Lebam mayat atau livor mortis (post mortem, hypostasis, suggilation).
Terjadi sebagai akibat pengumpulan darah dalam pembuluh-pembuluh
darah kecil, kapiler dan venule, pada bagian tubuh yang terendah, hal
mana disebabkan karena daya gravitasi. Lebam mayat akan tampak
sebagai darah pada kulit yang berwarna merah ungu (livide); dan dengan
berlangsungnya waktu lebam mayat, akan tampak semakin meluas. Oleh
karena pengumpulan darah tersebut terjadi secara pasif, maka pada
tempat-tempat terdapat tekanan, yang menyebabkan tertekannya pula
pembuluh-pembuluh darah, maka daerah daerah tersebut tidak akan
dijumpai adanya lebam mayat.
2
Darah akan tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal
dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30
menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi
lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini, lebam mayat
masih hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi
mayat diubah memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna
apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan dalam 6
pertama setelah mati klinis. Tetapi, walaupun setelah 24 jam, darah masih
tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan
membentuk lebam mayat d tempat terendah yang baru. Kadang-kadang
dijumpai bercak perdarahn berwarna biru kehitaman akibat pecahnya
pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh bertimbunnya
sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi.
Selain itu kekakuan otot-otat dinding pembuluh darah ikut mempersulit
perpindahan tersebut.
3

8

Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian:
memperkirakan sebab kematian, misalnya lebam berwarna merah terang
pada keracunan CO atau CN, warna kecoklatan pada keracunan anilin,
nitrit, nitrat, sulfonan; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan
setelah terjadinya lebab mayat yang menetap; dan memperkirakan saat
kematian.
3

Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum
menetap dilakukan perubahan posisi menjadi telengkup, maka setelah
beberapa saat akan berbentuk lebam mayat baru di daerah dada dan perut.
Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan
menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat
pemeriksaan.
3

Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh
darah, maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan
resapan darah akibat trauma (ekstravasasi). Bila pada darah tersebut
dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah
darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat sedangkan pada resapan
darah tidak menghilang.
3




9


Gambar 1.1. Livor mortis. Darah mengendap akibat gravitasi setelah orang
meninggal. Darah menjadi tetap dalam posisi di bawah sekitar 8-10 jam.
Sebelum fiksasi , jika tubuh berpindah maka darah akan terdistribusi ke
lokasi tubuh di bawah. Warna normal livor mortis adalah ungu kebiruan.
Merah kebiruan dapat disebabkan oleh dingin, sianida, dan karbon
monoksida. Warna kebiruan pada foto ini merupakan warna garis ungu
dan merah yang disebabkan oleh alat pendingin
(Dikutip dari kepustakaan 4)
Pada umumnya lebam mayat sudah timbul dalam waktu 15 sampai 20
menit setelah orang meninggal. Lebam mayat ini mirip dengan luka
memar, oleh karena itu lebam mayat harus dibedakan dengan luka
memar.
1


Tabel perbedaan antara lebam mayat dengan luka memar.
1

LEBAM MAYAT LUKA MEMAR
Lokalisasi Bagian tubuh terendah Sembarang tempat
Ditekan Biasanya hilang Tidak hilang
Pembengkakan Tidak ada Sering ada
Incisi Bintik-bintik darah
intravascular
Bintik-bintik darah
ekstravascular
10

Tanda intra vital Tidak ada ada

C. Kaku Mayat (Rigor Mortis)
Kaku mayat (rigor mortis) adalah kelunturan otot setelah kematian masih
dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa
pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini
digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP
maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam
otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal
dan otot menjadi kaku.
3

Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai
tampak kira kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh
(otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa
kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat
menjadi lengkap, dipertahankan selam 12 jam dan kemudian menghilang
dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan
serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi
teregang maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot.
3

Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas
fisik sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-
otot kecil dan suhu lingkungan tinggi.
3

Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian
dan memperkirakan saat kematian. Terdapat kekakuan pada mayat yang
menyerupai kaku mayat antara lain sebagai berikut:
3

1. Cadaveric spasm (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang
terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya
merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa
didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya
11

cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis
karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum
meninggal.cadaveric spasm ini jarang di jumpai ,tetapi sering terjadi
dalam masa perang . Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan
sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya , tangan yang menggenggam erat
benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam
senjata pada kasus bunuh diri.
2. Heat sttifening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh
panas. Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek).
Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada Heat
sttifening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan
fleksi leher, siku, paha dan mulut, membentuk sikap petinju (Pugilistic
attitude). Sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup,
intravitalitas, penyebab atau cara kematian.
3. Cold sttifening yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga
terjadi pembekuan cairan tubuh , termasuk cairan sendi, pemadatan
jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi di tekuk akan
terdengar bunyi pecahnya es dalam \rongga sendi .

GAMBAR 1.2. Orang ini ditemukan pada posisi sehari setelah ia meninggal.
Tubuhnya benar-benar kaku. Kekakuan semua otot ini (rigor mortis) dimulai 1-2
jam setelah kematian ketika suhu lingkungan sekitar 75
0
F. Tubuh akan berada
dalam kekakuan lengkap dalam 10-12 jam dan tetap kaku selama 24-36 jam di
12

lingkungan dengan suhu yang sama.Hal ini
dipengaruhi oleh kecepatan proses panas dan
penghambatan dingin. Lihat foto selanjutnya.
(Dikutip dari kepustakaan 4)













GAMBAR 1.3. Lutut pria ini masih tetap bengkok setelah ia dipindahkan karena
rigor mortis. Jika ditemukan dalam posisi ini,pemeriksa akan mengetahui bahwa
tubuh pasien telah dipindahkan.
D. Pembusukan (Decomposition/Putrefaction)
13

Proses pembusukan disebabkan oleh pengaruh enzim proteolitik dan
mikroorganisme. Dan pada umumnya proses pembusukan dimulai 18 sampai 24
jam setelah seseorang meninggal.
1

Adapaun tanda-tanda pembusukan yang dapat diperiksa adalah:
1

- Warna kehijauan pada dinding perut daerah caecum, yang disebabkan
reaksi haemoglobin dengan H2S menjadi Sulf-met-hemoglobin
- Wajah dan bibir membengkak
- Scrotum dan vulva membengkak
- Distensi dinding abdomen sebagai akibat adanya gas pembusukan dalam
usus, sehingga mengakibatkan keluarnya feces dari anus dan keluarnya isi
lambung dari mulut dan lubang hidung.
- Vena-vena superfisialis pada kulit berwarna kehijauan yang disebut
MARBLING.
- Pembentukan gas-gas pembusukan di bawah lapisan epidermis sehingga
timbul BULLAE.
- Akibat tekanan gas-gas pembusukan, maka gas dalam paru akan terdesak
sehingga menyebabkan darah keluar dari mulut dan hidung
- Bola mata menonjol keluar akibat gas pembusukan dalam orbita
- Kuku dan rambut dapat terlepas, serta dinding perut dapat pecah
- Alat-alat dalam tubuh juga mengalami proses pembusukan serta dapat
dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
a. Golongan yang cepat membusuk: Jaringan otak, lambung dan usus,
uterus yang hamil atau post partum
b. Golongan yang lambat membususk: jantung, paru, ginjal, dan
diafragma
c. Golongan yang paling lambar membusuk : prostat, dan uterus yang
tidak hamil

Pembusukan merupakan suatu keadaan dimana bahan-bahan
organik tubuh mengalami dekomposisi baik yang disebabkan oleh
14

karena adanya aktivitas bakteri, maupun karena autolisis.Setelah
terjadi kematian bakteri yang normal ada lama tubuh segera
mengadakan invasi ke dalam jaringan, darah adalah medium yang
paling baik untuk perkembangan dan pertumbuhan bakteri tersebut.
Bakteri terutama datang dari usus besar, dimana klostridium welchii
yang paling dominan. Dengan sendirinya bila kematian seseorang
disebabkan karena penyakit infeksi, pembusukan akan berlangsung
lebih cepat. Autolisis merupakan perlunakan atau pencairan jaringan
tubuh yang terjadi dalam kondisi steril, tanpa pengaruh bakteri. Hal
tersebut dikarenakan adanya aktivitas enzimatik , yang berasal dari sel
itu sendiri yang dilepaskan setelah terjadi kematian. Aktivitas enzim
yang menyebabkan autolisis dapat dihambat dengan jalan menaruh
jaringan tersebut di dalam suatu tempat yang suhu nya sangat rendah
sekali, misalnya di dalam freezer.
2

Proses pembusukan akan dipercepat dengan adanya panas, pada
suhu linbgkungan di atas 20
0
C, misalnya di daerah tropis,
pembusukan akan dapat dilihat dalam waktu 24 jam; bila suhu
lingkungan sesuai dengan suhu optimal bagi pertumbuhan bakteri,
maka pembusukan akan cepat terjadinya.
2

Tanda awal dari pembusukan akan tampak sebagai pewarnaan
kehijauan pada daerah perut kanan bawah, dimana usus besar di daerah
tersebut banyak mengandung cairan dan bakteri; selain memang letak
usus tersebut dekat dengan dinding perut. Pewarnaan akan menyebar
ke seluruh perut dan kemudian ke daerah dada, pada saat ini dapat
tercium bau bembusukan. Pada akhir minggu pertama tubuh akan
seluruhnya berwarna kehijauan dan disana sini akan tampak warna
merah ungu. Gambaran pembuluh darah balik akan tampak dengan
jelas terutama di daerah bahu, dada bagian atas, perut bagian bawah
dan pada daerah lipat paha. Jika proses pembusukan cepat gambaran
pembuluh balik akan tampak dalam waktu 24 jam saja.
2

15

Warna hijau disebabkan karena terbentuknya sulf-Hb; dimana H
2
S
yang berasal dari pemecahan protein akan bereaksi dengan Hb,
membentuk Hb-S dan Fe-S. Kulit ari kemudian akan dengan mudah
terlepas bila tergeser atau tertekan. Dalam minggu kedua akan
terbentuk gelembung-gelembung pembusukan yang merupakan
kelanjutan dari perubahan kulit ari di atas, gelembung-gelembung
tersebut berisi cairan berwarna merah kehitaman yang disertai dengan
bau pembusukan; yang bila dipecahkan akan tampak kulit pada dasar
gelembung tersebut licin dan berwarna merah jambu.
2

Pembentukan gas dalam tubuh akan dimulai pada awal minggu ke
dua, pembentukan gas tersebut dimulai di lambung dan usus, hal ini
akan menyebabkan perutbakan tampak menggelembung dan
dindingnya tegang. Adanya tekanan pada perut akibat pembentukan
gas tersebut akan menyebabkan keluarnya cairan merah kehitaman dari
mulut dan hidung, sebagian berasal dari saluran pernafasan dan
sebagian berasal dari lambung. Adanya gas dalam jaringan tubuh akan
menimbulkan kesan krepitasi, terabanya derik udara bila daerah
tersebut diraba, Gelembung pembusukan akan tampak jelas biasanya
pada daerah kantung zakar dan buah dada.
2

Setelah tiga atau empat minggu rambut akan mudah dicabut, kuku-
kuku akan terlepas, wajah akan tampak menggembahung, mata akan
tertutup erat oleh karena penggembungan pada kedua kelopak mata,
bibir akan menggembung dan mencucur, lidah akan mmenggembung
dan terjulur keluar. Lalat dapat meletakkan telurnya pada lubang-
lubang tubuh, dan ini kemudian akan menjadi larva yang tampak
banyak berkumpul di daerah mata, hidung dan mulut, yang pada
umumnya akan mencapai pertumbuhan yang optimal dalam waktu 4
hari.
2

Pembusukan pada alat-alat dalam akan terjadi pada kecepatan yang
berbeda, salah satu faktor yang berperan dalam kecepatan
pembususkan adalah banyak sedikitnya darah yang terdapat di dalam
16

alat dalam tersebut. Kelenjar prostat dan kandung rahim non-gravid
paling lama mengalami pembusukan. Lambung akan berwarna coklat
keunguan dalam waktu 24 jam, akan tetapi hal tersebut pada umumnya
terjadi dalam waktu 4-5 hari; mukosa saluran pernafasan, endokardium
dan intima pembuluh darah akan berwarna merah kehitaman.
2

Dalam minggu ke dua pembusukan pada jaringan otak, paru-paru,
hati, jantung, limpa dan ginjal akan mudah dikenali. Otak akan
melunak membubur, paru-paru menjadi lembek, hati akan
menunjukkan gambaran honey-comb, limpa lunak dan mudah hancur,
otot jantung tampak suram dan pucat keunguan. Dengan berlanjutnya
proses pembusukan, alat-alat dalam akan menciut tapi masih tetap
dapat dikenali. Kelenjar prostat dan rahim paling lama mengalami
pembusukan, sehingga pada keadaan tertentu dimana telah terjadi
pembusukan lanjut, kedua alat dalam tersebut dapat di pakai sebagai
petunjuk untuk menentukan jenis kelamin dari mayat yang
bersangkutan. Rumus Caasper, menunjukkan perbedaan kecepatan
pembusukan pada keadaan lingkungan yang berbeda-beda. Menurut
Casper keadaan mayat setelah berada selama satu minggu di udara
terbuka adalah sama dengan dua minggu di dalam air dan delapan
minggu dalam kuburan.
2



Gambar 1.4 Sebagian besar badan berubah menjadi hijau selama
dekomposisi. Gambar yang satu ini tidak terjadi. Tubuh menjadi
17

bengkak (kembung) dari perubahan gas bakteri dan lapisan kulit, dan
marbling subkutan (garis pembuluh darah di bawah kulit.
(Dikutip dari Kepustakaan 4)
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembusukan antara lain adalah sebagai
berikut:
1

1. Faktor dari luar:
- Sterilitas
- Suhu sekitar
Proses pembusukan tejadi pada suhu optimal 70
0
F sampai 100
0
F (21
0
C
38
0
C). Apabila suhu sekitar rendah, proses pembusukan terhambat, sebab
pembusukan bakteri berhenti. Sedangkan suhu di atas 100
0
F proses
pembusukan semakin lambat dan berhenti pada suhu 212
o
F
- Kelembaban
Makin tinggi kelembaban makin cepat proses pembusukan
- Medium
Udara : air : tanah = 8:2:1 (di udara 8 kali lebih cepat pembusukan
dibandingkan dengan di dalam tanah, dan di air 2 kali lebih cepat
pembusukannya dibandingkan dengan di dalam tanah)
Pembusukan terjadi terutama dari faktor internal yaitu proses otolisis sel
dan invasi bakteri usus, terutama Clostridium welchii. Selain faktor
internal, ada faktor eksternal yang bisa mempercepat proses pembusukan
luka yaitu keberadaan serangga dan hewan pemakan bangkai. Bila
dibiarkan di udara bebas, maka serangga akan lebih mudah untuk
meletakkan telurnya dan dalam waktu 8-12 jam larva sudah menetas dan
mulai hidup dalam jaringan otot manusia. Selain itu serangga-serangga
seperti kecoa juga dapat memakan jasad tersebut. Hewan-hewan pengerat
juga bisa merusak jasad. Sedangkan di air, faktor-faktor seperti larva dan
hewan pengerat dapat dikurangi tetapi masih ada hewan seperti golongan
crustacea dan ikan tertentu yang memakan jasad mayat yang berada di
dalam air. Bila dikuburkan, maka faktor-faktor eksternal bisa dihambat
18

dan selain itu suhu dalam tanah cenderung lebih rendah sehingga bisa
memperlambat proses otolisis sel.
Undip Tanya jawab

2. Faktor dari dalam:
- Umur
Bayi lahir yang belum pernah diberi makan, umumnya lebih tahan
terhadap proses pembusukan. Anak-anak dan orang yang tua
sekali, karena mengandung sedikit jaringan lemak sehingga tubuh
menjadi lebih cepat dingin, maka proses pembusukannya lebih
lambat dari pada orang dewasa muda.
- Keadaan-keadaan pada waktu meninggal
Apabila pada waktu meninggal tubuh dalam keadaan oedomatous,
akan lebih cepat membusuk, sedangkan bila tubuh dalam dehidrasi
akan lebih lambat membusuk. Orang gemuk lebih cepat
membusuk, karena jaringan lemak yang banyak memperlambat
penurunan suhu
- Sebab kematian
Proses pembususkan akan lebih cepat apabila korban meninggal
karena peradangan atau jika tubuh korban mengalami mutilasi,
sebaliknya proses pembusukan akan lebih lambat bila korban
meninggal akibat keracunan dengan arsenicum, antimony atau
carbolic acid yang kronis sebab racun itu memiliki sifat sebagi
pengawet.
- Jenis Kelamin
Wanita yang baru melahirkan dan kemudian meninggal akan lebih
cepat membusuk.

E. Mumifikasi
Mumifikasi adalah proses pengeringan dan pengisutan alat-alat
tubuh akibat penguapan. Mumifikasi adalah proses penguapan cairan
atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan
jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan
19

berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap dan berkeriput dan
tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada
lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat,
kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi
dalam waktu yaang lama (12-14 minggu). Mumifikasi jarang dijumpai
pada cuaca yang normal.
1,3

Proses mumifikasi lengkap dalam waktu 1-3 bulan, dan jenazah
yang mengalami mumifikasi ini dapat bertahan lama sekali. Gejala-
gejala yang tampak ialah: tubuh menjadi kurus kering dan mengkerut,
warna coklat muda sampai warna coklat kehitaman, kulit melekat erat
pada jaringan di bawahnya, susunan anatomi alat-alat tubuh masih
baik. Adapun kepentingan mumifikasi dari segi kedokteran forensik
adalah untuk identifikasi korban, sebab bentuk wajahnya hampir tidak
berubah dan tanda-tanda kekerasan masih tetap ada.
1

F. Adipocera / Saponifikasi
Adipocere atau saponifikasi adalah suatu keadaan dimana tubuh
mayat mengalami hidrolisis dan hidrogenisasi pada jaringan
lemaknya, dan hidrolisis ini dimungkinkan oleh karena terbentuknya
lesitinase, suatu enzim yang dihasilkan oleh Klostridium welchii, yang
berpengaruh terhadap jaringan lemak. Untuk dapat terjadi adipocere
dibutuhkan waktu yang lama, sedikitnya beberapa minggu sampai
beberapa bulan dan keuntungan adanya adipocere ini, tubuh korban
akan mudah dikenali dan tetap bertahan untuk waktu yang sangat lama
sekali, sampai ratusan tahun . Saponifikasi dapat terjadi pada mayat
yang berada di dalam suasana hangat, lembab, dan basah. Tanda-tanda
saponifikasi sebagai berikut:
5,6
-
Warna keputihan

-
Bau tengik seperti bau minyak kelapa

20


Jika pada mayat terjadi proses saponifikasi atau mumifikasi maka hal
itu dapat dimanfaatkan guna kepentingan identifikasi ataupun
pemeriksaan luka-luka, meskipun terjadinya kematian sudah lama.
Pada pembusukan mayat kita juga dapat menginterpretasikan suatu
kematian sebagai tanda pasti kematian, untuk menaksir saat kematian,
untuk menaksir lama kematian, serta dapat membedakannya dengan
bulla intravital

Perbedaan Bulla Intravital Bulla Pembusukan
Warna kulit ari Kecoklatan Kuning
Kadar Albumin & Chlor Tinggi Rendah / Tidak ada
Dasar bulla Hiperemis Merah pembusukan
Jaringan yg terangkat Intraepidermal Antara epidermis & dermis
Reaksi jaringan & respon darah Ada Tidak ada



Gambar 1.5. Mayat ini masih
dapat diidentifikasi meskipun
telah 10 bulan berada dalam
21

air. Pada pemeriksaan yang lebih dekat, kulit nampak menebal dan lapisan
kulit terluar menebal dan kulit ari nya menghillang. Inilah adipocere.

G. MASERASI
Tanda awal pada maserasi adalah terkelupasnya kulit (terpisahnya
lapisan epidermis dan dermis). Tanda ini muncul pada awal 6 jam
setelah kematian dalam rahim dan diperkirakan setelah 12 jam. Pada
dekomposisi intrauterine berlanjut, bulla terbentuk pada lapisan kulit.
Robeknya pada lapisan kulit sehingga dapat menjadi kering dan
berwarna merah coklat. Jaringan akan berkembang menjadi berwarna
kemerahan karena hemolisis. Cairan serosanguin akan terakumulasi
pada rongga dada dan perut. Organ dalam akan berdekomposisi. Jika
janin masih berada di dalam rahim selama beberapa hari, maka
tengkoraknya akan hancur dan otaknya menjadi semi-cair.
3










22

DAFTAR PUSTAKA

1. Hoediyanto, Hariandi A. Tanatologi. Dalam Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal. Fakultas Kedokteran Airlangga: Surabaya. Edisi 7.
p.115-126
2. Idries AM, Lyndon S. Saat Kematian. Dalam : Pedoman Ilmu Kedokteran
Forensik. Tanggerang : Binapura Aksara Publisher. 2002. p.54-77
3. Budianto A, dkk.Tanatologi Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
1997. p.25-36.
4. Dix, J., Graham,M. Causes of death atlas Series : Time of Death,
Decomposition and Identification. New York : CRC Press, 2006.
5. A Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta:
Binarupa Aksara, 1997; p.131-168.
6. Di Maio, V., Di Maio, D. Forensic Pathology, Second Edition. New York :
CRC Press, 2001.

Beri Nilai