Anda di halaman 1dari 155

BAB II

DASAR KETIDAKSERAGAMAN RESERVOAR


2.1. Lithologi Dan Struktur Geologi
2.1.1. Lithologi
Batuan didefinisikan sebagai massa yang terdiri dari satu atau lebih
macam mineral yang mempunyai komposisi kimia atau mineral tertentu, yang
membentuk satuan terkecil dari kulit bumi sehingga dengan jelas dapat dipisahkan
satu dengan yang lainnya. Batuan sebagai mineral yang membentuk kulit bumi,
secara genesa dapat dibagi menjadi tiga jenis batuan yaitu :
1. Batuan beku (Igneous Rock), Merupakan kumpulan interlocking
agregat mineral-mineral silikat hasil penghabluran magma yang
mendingin.
2. Batuan sedimen (Sedimentary Rock), merupakan batuan hasil
lithifikasi bahan rombakan batuan hasil denudasi atau hasil reaksi
kimia maupun hasil kegiaatan organisme.
3. Batuan Metamorf (Methamorphic Rock), merupakan batuan yang
berasal dari suatu batuan induk yang mengalami perubahan tekstur dan
komposisi pada fasa padat sebagai akibat perubahan kondisi fisika
tekanan, temperatur atau keduanya!
2.1.1.1. Batuan Beku
Berdasarkan cara pembentukannya batuan beku berasal dari pembekuan
magma dari permukaan bumi atau pembekuan magma di permukaan.
"ada umumnya sifat atau ciri batuan beku antara lain :
1. #mumnya kristalin
2. Butirannya interlocking secara rapat.
3. Masif
Mineral-mineral dari batuan beku yang sering dijumpai pada umumnya terbentuk
pada saat penurunan temperatur dari magma yang menerobos keatas, peristi$a ini
dikenal dengan istilah penghabluran.
2.1.1.1.1. Tektur !an Struktur Batuan Beku
%alam pengamatan batuan beku ini hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :
&arna
'truktur
(ekstur
Bentuk
)omposisi Mineral
A. Warna Batuan Beku
&arna batuan beku berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya.
Mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma
asalnya, sehingga dari $arna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali
untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
Batuan beku yang ber$arna cerah umunya adalah batuan beku asam yang
tersusun atas mineral-mineral felsik misalnya kuarsa, potas feldspar,
musko*it.
Batuan beku yang ber$arna gelap sampai hitam umumnya adalah batuan
beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama
banyak.
Batuan beku yang ber$arna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku
basa dengan mineral penyususn dominan adalah mineral-mineral mafik.
Batuan beku yang ber$arna hijau kelam dan biasanya monomineralik
disebut batuan beku ultrabasa dengan komposisi hampir seluruhnya mineral
mafik.
B. Struktur Batuan Beku
'truktur batuan beku merupakan kenampakan tekstur dalam skala besar,
yang dapat dilihat jelas di lapangan, dimana pengertian tekstur sendiri adalah
hubungan antara unsur-unsur mineral dengan massa gelas yang membentuk
massa yang merata dari batuan. Macam-macam struktur batuan beku adalah :
Masif
+aitu struktur dari batuan beku apabila tidak menunjukkan adanya sifat
aliran atau jejak gas, atau tidak menunjukkan adanya fragmen batuan lain
yang tertanam dalam tubuhnya.
Pilow a!a atau a!a Bantal
+aitu merupakan struktur khas batuan ,ulkanik ba$ah laut, membentuk
struktur seperti bantal.
"oint
+aitu struktur yang ditandai dengan adanya kekar-kekar yang tersusun
secara teratur tegak lurus arah aliran.
#esikuler
+aitu merupakan struktur yang ditandai adanya lubang-lubang dengan arah
teratur. -ubang ini terbentuk akibat keluarnya gas pada saat pembekuan
berlangsung.
Skoria
+aitu struktur *esikuler tetapi tidak menunjukkan arah yang teratur
$migdaloidal
+aitu struktur dimana lubang-lubang keluarnya gas terisi oleh mineral-
mineral sekunder seperti .eolit, karbonat dan bermacam-macam silika.
%enolit
+aitu struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang
masuk atau tertanam ke dalam batuan beku. 'truktur ini terbentuk sebagai
akibat peleburan tidak sempurna dari sutu batuan samping didalam magma
yang menerobos.
C. Tekstur Batuan Beku
"engertian tekstur dalam batuan beku mengacu pada kenampakan butir-
butir mineral di dalamnya, yang meliputi tingkat kristalisasi, ukuran butir, bentuk
butir, granularitas dan hubungan antar butir fabric!. /ika $arna batuan berkaitan e
dengan komposisi kimia dan mineralogi maka tekstur berhubungan dengan
sejarah pembentukan dan keterdapatannya. "engamatan tekstur meliputi :
a. Tingkat kristalisasi
(ingkat kristalisasi pada batuan beku tergantung pada proses pembekuan itu
sendiri. Bila pembekuan magma berlangsung lambat maka akan terdapat
cukup energi pertumbuhan kristal pada saat mele$ati perubahan fase cair ke
padat sehingga akan terbentuk kristal-kristal yang berukuran besar.. bila
penurunan suhu relatif cepat maka kristal yang dihasilkan kecil-kecil dan tidak
sempurna. 0pabila pembekuan magma terlalu cepat maka kristal tidak akan
terbentuk karena tidak ada energi yang cukup untuk pengintian dan
pertumbuhan kristal sehingga akan dihasilkan gelas. %apat dibagi menjadi :
- 1olokristalin, bila seluruh batuan tersusun atas kristal-kristal mineral.
- 1ypokristalin2hipohyalin2merokristalin, bila batuan beku terdiri dari sebagian
kristal dan sebagian gelas.
- 1olohyalin, bila seluruh batuan tersusun atas gelas.
b. Ukuran kristal
#kuran kristal merupakan sifat tekstural yang mudah dikenali. #kuran kristal
ini dapat menunjukkan tingkat kristalisasi pada batuan dan dapat dilihat pada
(abel 33-1.
Ta"el II#1
)isaran harga ukuran kristal dari beberapa sumber
%iktat "etrologi., 1454!
$o%& 'ri(e& )arte *.T.G )einri(
)alu + 1 ,, + 1 ,, + 1 ,,
Se!ang 1 - . ,, 1 - . ,, 1 - 1/ ,,
Kaar 0 . ,, . - 1/ ,, 1/ - 1/ ,,
Sangat kaar 0 1/ ,, 0 1/ ,,
c. Granularitas
%alam batuan beku, granularitas menyangkut derajat kesamaan ukuran butir
dari kristal penyusun batuan. 6ranularitas dapat dibagi menjadi :
&'uigranular
Mempunyai ukuran kristal yang seragam. %ibagi menjadi
1. 7anerik granular, kristal dapat dibedakan dengan mata telanjang dan
berukuran seragam. 8ontoh : granit, gabro.
2. 0fanitik, kristal sangat halus dan tidak bisa dibedakan dengan mata
telanjang. 8ontoh : basalt.
Ine'uigranular
'uatu batuan beku disebut memiliki tekstur ine9uigranular apabila ukuran
kristal pembentuknya tidak seragam. %apat dibagi menjadi :
1. 7aneroporfiritik, bila kristal mineral yang besar fenokris! dikelilingi
kristal mineral yang lebih kecil masa dasar! dan dapat dikenali dengan
mata telanjang. 8ontoh : %iorit, porfir.
2. "orfiroafanitik, bila fenokris dikelilingi oleh massa dasar yang afanitik.
8ontoh : andesit, porfir.
3. 6elasan glassy! Batuan beku dikatakan memiliki tekstur gelasan apabila
semuanya tersusun atas gelas.

() Bentuk *ristal
#ntuk kristal-kristal yang mempunyai ukuran besar dapat dilihat
kesempurnaan bentuk kristalnya. 1al ini dapat memberikan gambaran mengenai
proses kristalisasi mineral-mineral pembentuk batuan. Bentuk kristal dapat dilihat
pada 6ambar 2.1. dan dibedakan menjadi :
&uhedral, apabila bentuk kristal sempurna dan dibatasi oleh bidang-bidang
kristal yang jelas.
Subhedral, apabila bentuk kristal tidak sempurna dan hanya sebagian saja
yang dibatasi bidang-bidang kristal.
$nhedral, apabila bidang batas kristal tidak jelas.
Ga,"ar 2.1 Bentuk-bentuk kristal : a! euhedral,
b! subhedral, c! anhedral
%iktat "etrologi.,1454!

&) *omposisi Mineral Batuan Beku
"ada batuan beku, mineral yang sering dijumpai dapat dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu :
1. Mineral-mineral felsik : tersusun atas silika dan alumina, umumnya ber$arna
cerah. Mineral itu antara lain kuarsa, plagioklas, ortoklas, musko*it.
2. Mineral-mineral mafik : tersusun atas unsur-unsur besi, magnesium, kalsium.
#mumnya mineral-mineral ini ber$arna gelap, misalnya oli*in, piroksen,
hornblende, biotit. Mineral-mineral ini berada pada jalur kiri dari seri Bo$en
Bo$en membuat urut-urutan penghabluran mineral-mineral silikat
berdasarkan pada kenaikan temperatur yang mempengaruhi kondisi dari silika,
urut-urutan itu dapat dilihat pada (abel 33-2.
Ta"el II#2
Bo$en ;eaction 'eries
'uhartono 7., 1454!
Di(ontinue .............................................................................................................................
Continue 1200
o
Olivin Ca. Feldsar
!iro"en B#to$%it
A%&ibole Andesin
Biotit Oligoklas
'a. Feldsar
K. 2el!3ar
(uscovit
K4ara )*0
o

'ebagaimana telah dijelaskan diatas bah$a jenuh tidaknya suatu magma
sangat ditentukan oleh kandungan silika didalam magma tersebut. Berdasarkan
asosiasi mineral pembentuk batuan beku yang didasarkan pada seri reaksi bo$en,
pengelompokan mineral dan jenis batuannya dapat diketahui seperti tampak pada
(abel 33-3.
Ta"el II#1
1ubungan 0sosiasi Mineral "embentuk Batuan
Beku %engan )elompok Batuan Beku +ang %ibentuk
%iktat "etrologi.,1454!
Mineral
3e,"entuk
"atuan
Aoiai Mineral Batuan 5ang
Ter"entuk
Oli6in Oli6in 1// 7
Oli6in 8 'iroken
Dunit 9:ltra Baa;
'eri!otit 9:ltra Baa;
'iroken 'iroken 1//7
'iroken8'lagiokla8Oli6in
'irokenit 9:ltra
Baa;
Ga"ro 9:ltra Baa;
'lagiokla 'lagiokla 1//7
'lagiokla8'iroken8A,3hi"
ol82el!3ar
Anortoit 9:ltra Baa;
An!eit#!iorit
9Inter,e!iet;
Biotit Biotit8K#2el!3ar8'lagiokla
aa,8K4ara
Grano!iorit#Granit
9aa,;
2.1.1.1.2. 'e,"agian Batuan Beku
a. !e%bagian Secara Genetik +cara ter,adin#a-
%engan dasar ini ;osenbusch 15<< = 14><!, membagi tiga macam batuan
beku yaitu :
1. ?kstrusif
+aitu untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan
2. 3ntrusif
+aitu untuk batuan beku yang terbentuk di ba$ah permukaan bumi
%i samping itu batuan beku juga dapat dibagi menjadi 3 kelompok :
1. #ulkanik, yang merupakan hasil *ulkanisme
Batuan ini biasanya mempunyai ukuran kristal yang relatif halus, karena
membeku di permukaan atau di dekat permukaan.
2. Plutonik, yang terbentuk jauh di dalam bumi
Mempunyai kristal-kristal yang berukuran kasar, karena membeku jauh
dari permukaan bumi.
3. +ipabisal, yang merupakan produk intrusi minor
Biasanya mempunyai kristal-kristal yang berukuran sedang atau
pencampuran antara kasar dan halus, karena membeku di permukaan
bumi.
b. !e%bagian Berdasarkan .o%osisi .i%ia
%asar pembagian ini biasanya adalah kandungan oksida tertentu dalam
batuan, seperti 'i@
2
, 0l
2
@
3,
salah satu pembagiannya antara lain :
,) Batuan beku asam
+aitu bila batuan beku tersebut mengandung lebih >>A silika, contoh :
6ranit, ;iolit.
-) Batuan beku menengah (intermediet)
+aitu bila batuan beku tersebut mengandung B2 = >> A silika, contoh :
%iorit, 0ndesit.
.) Batuan beku basa
+aitu bila kandungan silikanya berkisar antara CB = B2 A silika contoh :
6abro.
/) Batuan Beku 0ltra Basa
+aitu jika mengandung kurang dari CB A silika, contoh : "eridotit, %unit.
8ontoh lainnya adalah pembagian berdasarkan kandungan mineral mafik :
'./ 'hand membagi empat menjadi macam batuan, yaitu :
,) eocrocatic Rock
Mengandung kurang 3D A mineral mafik.
-) Mesocratic Rock
Mengandung 3D = >D A mineral mafik.
.) Melanocratic Rock
Mengandung >D = 4D A unsur mineral mafik.
/) +ipermelanick Rock
Mengandung lebih 4D A mineral mafik.
c. !e%bagian Berdasarkan Sususnan (ineraln#a
Berdasarkan mineral penyusunnya batuan beku dapat dibedakan menjadi
empat yaitu :
1. *elompok 1ranit 2 Riolit3 berasal dari magma yang bersifat asam, terutama
tersusun oleh mineral kuarsa, ortoklas, plagioklas Ea, kadang terdapat
hornblende biotit, musko*it dalam jumlah kecil.
2. *elompok (iorit 2 $ndesit3 Berasal dari magma yang bersifat intermediet,
terutam tersusun atas mineral-mineral plagioklas, hornblende, piroksen dan
kuarsa biotit, ortoklas dalam jumlah kecil.
3. *elompok 1abro 2 Basalt3 tersusun dari magma asal yang bersifat basa dan
terdiri dari mineral-mineral oli*in, plagioklas 8a, piroksen, dan hornblende.
/) *elompok 0ltra basa3 terutama tersusun oleh oli*in, piroksen. Mineral lain
yang mungkin adalah plagioklas 8a dalam jumlah yang sangat kecil.
2.1.1.2. Batuan Meta,or<
Batuan metamorf adalah hasil ubahan dari batuan asal batuan beku,
sedimen dan metamorf! akibat perubahan temperatur, tekanan atau keduanya.
"roses ubahan terjadi dalam suasana padat melalui proses isokimia, dimana
susunan kimia batuan tidak berubah, yang berubah hanya susunan mineralogi
sehingga terbentuk mineral baru. %engan demikian batuan ini akan mengalami
perubahan tekstur, struktur dan komposisi mineral.
2.1.1.2.1. Tektur Batuan Meta,or<
(ekstur merupakan kenampakan batuan yang berdasarkan pada ukuran, bentuk
dan orientasi butir mineral indi*idual penyusun batuan metamorf. "enamaan
tekstur batuan metamorf umumnya menggunakan a$alan blasto atau akhiran
blastic yang ditambahkan pada istilah dasarnya. "enamaan tekstur tersebut akan
dibahas pada bagian berikut.
a. Tekstur berdasarkan keta&anan ter&ada %eta%or/osa
Berdasarkan ketahanannya terhadap proses metamorfosa ini tekstur batuan
metamorf dapat dibedakan menjadi :
1. Relict4palimpset4sisa
(ekstur ini merupakan tekstur batuan metamorf yang masih menunjukkan sisa
tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan asalnya masih tampak pada batuan
metamorf tersebut. 0$alan blasto digunakan untuk penamaan tekstur batuan
metamorf ini. 8ontohnya adalah blastofirik yaitu batuan metamorf yang tekstur
porfiritik batuan beku asalnya masih bisa dikenali. Batuan yang mempunyai
kondisi seperti ini sering disebut batuan metabeku atau meta sedimen.
2. *ristaloblastik
(ekstur kristaloblastik merupakan tekstur batuan metamorf yang terbentuk
oleh sebab proses metamorfosa itu sendiri. Batuan dengan tekstur ini sudah
mengalami rekristalisasi sehingga tekstur asalnya tidak tampak. "enamaannya
menggunakan akhiran blastik.
b. Tekstur berdasarkan ukuran butir
1. fanerit, bila butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata.
2. afanit, bila butiran kristal tidak dapat dilihat dengan mata
c. Tekstur berdasarkan bentuk individu kristal
Bentuk indi*idu kristal pada batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :
a! 0u&edral, bila kristal dibatasi ileh bidang permukaan kristal
itu sendiri
b! Sub&edral1 bila kristal dibatasi sebagian oleh bidang
permukaannya sendiri dan sebagian oleh bidang permukaan
kristal di sekitarnya.
c! An&edral1 bila kristal dibatasi seluruhnya oleh bidang
permukaan kristal lain di sekitarnya.
"engertian bentuk kristal ini sama dengan yang digunakan pada batuan
beku. Berdasarakan bentuk kristal tersebut maka tekstur batuan metamorf dapat
dibedakan menjadi :
a! Idioblastik, apabila mineralnya didominasi ileh kristal
berbentuk euhedral
b! %enoblastik4hypidioblastik, apabila mineralnya didominasi oleh
kristal berbentuk anhedral.
d. Tekstur berdasarkan bentuk %ineral
Berdasarkan bentuk mineralnya tekstur batuan metamorf dapat dibedakan
menjadi :
1. epidoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk tabular.
2. 5ematoblastik, apabila mineral penyusunnyaberbentuk prismatik
3. 1ranoblastik, apabila mineral penyususnnya berbentuk granular,
e9uidemensional, batas mineralnya bersifat sutured tidak teratur! dan
umumnya mineralnya berbentuk anhedral.
C. 1ranuloblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular,
e9uidimensional, batas mineralnya bersifat unsutured lebih teratur! dan
umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
2.1.1.2.2. Struktur "atuan ,eta,or<
1. Struktur Foliasi
7oliasi adalah sifat berlapis atau berdaun. Eamun harus diebdakan dari
lapisan sedimen. %isini terjadi penyusunan kristal-kristal daripada mineral secara
pertumbuhan dalam arah panjang dari mineral. Batuan ini ditunjukkan oleh
adanya penjajaran mineral-mineral penyusun batuan metamorf.
7oliasi ini dapat berjenis-jenis antara lain :
a) Slaty cle!eage
'truktur foliasi ini umumnya ditemukan pada batuan metamorf berbutir
sangat halus mikrokristalin! yang dicirikan oleh adanya bidang-bidang
planar yang sangat rapat, teratur dan sejajar. Batuannya disebut slate
batusabak!
b) Phylitic
'truktur ini hampir sama dengan struktur clay cle*eage tetapi terlihat
rekristalisasi yang lebih kasar dan mulai terlihat pemisahan mineral pipih
dengan mineral granular. Batuannya disebut phyllite filit!.
c) Schistosic
'truktur schistosic terbentuk oleh adanya susunan pararel mineral-
mineral pipih prismatik atau lentikuler umumnya mika atau klorit! yang
berukuran butir sedang sampai kasar. Batuannya disebut schist sekis!.
d) 1neissic4gneissoe
'truktur gneissic terbentuk oleh adanya perselingan lapisan penjajaran
mineral yang mempunyai bentuk berbeda, umumnya antara mineral-
mineral granuler misalnya feldspar dan kuarsa! dengan mineral tabular
atau prismatik misalnya mineral ferromagnesium!. "enjajaran mineral
ini umumnya tidak menerus melainkan terputus-putus. Batuannya disebut
gneis.
2. Struktur 'on Foliasi
'truktur ini terbentuk oleh adanya mineral-mineral e9uidimensional dan
umumnya terdiri dari butiran-butiran granular!. 'truktur non foliasi yang
umumnya dijumpai antara lain :
a) +ornfelsik4granulose
'truktur hornfelsik terbentuk oleh mo.aic mineral-mineral
e9uidimensional dan e9uigranular dan umumnya berbentuk poligonal.
Batuannya disebut hornfels batutanduk!.
b) 6ataclastic
'truktur ini terbentuk oleh pecahan2fragmen betuan atau mineral
berukuran kasar dan umumnya membentuk membentuk kenampakan
breksiasi. 'truktur cataklastic ini terjadi akibat metamorfosa kataklastik.
Batuannya disebut cataclasite kaltaklasit!.
c) Mylonitic
'truktur mylonitic juga dihasilkan oleh adanya penggerusan mekanik pada
metamorfosa kataklatik. 8iri struktur ini adalah mineralnya berbutir halus,
menunjukkan kenampakan goresan-goresan searah dan belum terjadi
rekristalisasi mineral-mineral primer. Batuannya disebut mylonite
milonit!.
d) Phyllonitic
'truktur phllonitic mempunyai gejala dan kenampakan yang sama dengan
struktur mylonitic tetapi umumnya telah terjadi rekristalisasi. 8iri lainnya
adalah kenampakan kilap sutera pada batuan yang mempunyai struktur ini.
Batuannya disebut phyllonite filonit!
Ga,"ar 2.2
(ekture batuan metamorphic
a! 7oliated dan b! nonfoliated
Eorman /. 1yne, "h.%.145C!
2.1.1.2.1. 'e,"agian Batuan Meta,or<
)ebanyakan batuan metamorf dikelompokan atau dinamakan berdasarkan
tekstur dan strukturnya. 'elain batuan yang penamannya berdasarkan struktur atau
tekstur batuan metamorf yang lain antara lain :
a. $mphibolit, yaitu batuan metamorf dengan besar butir sedang sampai kasar
dan mineral utama penyusunnya adalah amfibol umumnya hornblende! dan
plagioklas. Batuan ini menunjukkan schistosity bila mineral prismatiknya
terorientasi.
b. &clogit, yaitu batuan metamorf dengan besar butir sedang sampai kasar dan
mineral penyusunnya utamanya adalah piroksen diopsid kaya sodium dan
allumunium! dan garnet kaya pyrope
c. 1ranulit, yaitu batuan metamorf dengan tekstur granoblastik yang tersusun
oleh mineral utama kuarsa dan feldspar serta sedikit piroksen dan garnet.
)uarsa dan feldspar yang pipih kadang dapat menunjukkan struktur gneisic.
d. Surpentinit, yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineralnya hampir
semuanya berupa mineral kelompok serpentin. )adang dijumpai mineral
tambahan seperti klorit, talk dan karbonat yang umumnya ber$arna hijau.
e. Marmer, yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineral karbonat kalsit
atau dolomit! dan umumnya bertekstur granoblastik.
f. Skarn, yaitu marmer yang tidak murni karena mengandung mineral calsilikat
seperti garnet, epidot. #mumnya terjadi karena perubahan komposisi batuan di
sekitar kontak dengan batuan beku.
g. *uarsit, yaitu bahan metamorf yang mengandung lebih dari 5DA kuarsa
h. Soapstone, yaitu batuan metamorf dengan komposisi utama talk.
i. 2odingit1 yaitu batuan metamorf dengan komposisi calc = silicat yang terjadi
akibat alterasi metasomatik batuan beku basa didekat batuan beku ultrabasa yang
mengalami serpentinisasi.
2.1.1.1. Batuan Se!i,en
Berdasarkan genesanya batuan sedimen berasal dari hasil pengendapan
berbagai proses yang berbeda. 'ecara garis besar dibedakan atas dua kelompok
yaitu : )elompok batuan sedimen klastik dan sedimen non klastik. 'ecara genetik
betuan sedimen dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : batuan sedimen
mekanis2klastik, sedimen kimia$i2non klastik dan sedimen organik.
,) Batuan sedimen mekanis, terbentuk karena prosese pelapukan mekanis dan
pengendapan daripada material hasil suatu rombakan batuan asal dan
bersifat fragmental, klastik dan membutir. )eberadaan batuan sedimen
klastik ini, hampir mendominasi seluruh batuan sedimen yang ada pada
kerak bumi. )edalam kelompok ini termasuk juga batuan proklastik atau
epiklastik, yaitu batuan hasil pengendapan material *ulkanik oleh angin
dan medium air.
-) Batuan sedimen kimiawi, dapat tebentuk karena proses pelapukan kimia,
membentuk sedimen residu, maupun karena hasil pengendapan larutan
garam yang bersifat hablur kristalin, akibat proses penguapan2 e*aporasi.
"roses pembentukan batuan sedimen kima$i ini tanpa melalui
taransportasi, mengendap di tempat asal dan bersifat non klastik.
.) Sedimen organic, terbentuk karena akumulasi material organik yang
terjebak atau terendapkan pada suatu lingkungan khusus, sehingga
tera$etkan dengan baik dan mengalami diagenesa. Batuan sedimen
organik ini dapat bersifat klastik atau non klastik, tergantung dari genesa
yang mempengaruhi.
2.1.1.1.1. Tektur Batuan Se!i,en
a) 7ekstur 5on *lastik
#mumnya memperlihatkan kenampakan mo.aik kristal penyusunnya.
)ristal penyususn biasanya terdiri dari satu macam mineral monomineralik!,
seperti gypsum, kalsit dan anhydrite.
Macam-macam tekstur non klastik
a! $morf : berukuran lempung2koloid, non kristalin
b! 8olitik : kristal berbentuk bulat yang berkumpul ukurannya
D,2B = 2 mm .
c! Sakarodial : butir kristalnya berukuran sangat halus, seperti gula.
d! *ristalin : tersusun oleh kristal-kristal.
Besar butir kristal dibedakan menjadi :
F B mm kasar
1-B mm sedang
G1 mm halus
/ika kristalnya sangat halus sehingga tidak dapa dibedakan disebut mikrokristalin)
b) 7ekstur *lastik
#nsur dari tekstur adalah fragmen, masa dasar matrik! dan semen.
- 9ragmen : butiran yang berukuran lebih besar daripada pasir.
- Matrik : butiran yang berukuran lebih kecil daripada fragmen dan
diendapkan bersama-sama dengan fragmen.
- Semen : material halus yang menjadi pengikat, semen diendapkan
setelah fragmen dan matrik. 'emen umumnya berupa silika, kalsit, sulfat
atau oksida besi.
(ekstur klastik dibagai atas :
#kuran butir
Menurut skala wentworth ukuran butir dibagi pada (abel 33-C di ba$ah ini :
Ta"el II#=.
#kuran Butir 'kala &ent$orth
%iktat "etrologi.,1454!
:kuran Butir
9,,;
Na,a Butir Na,a Batuan
02.>
>= - 2.>
= - >=
2 - =
Bongkah
Berangkal
Kerakal
Kerikil
Breki ? @ika
<rag,ennAa ,e,3unAai
"entuk run(ing
Konglo,erat ? @ika
<rag,ennAa ,e,"ulat
1 - 2
1B2 - 1
1B= - 1B2
1BC - 1B=
1B1> -1BC
'air angat
kaar
'air kaar
'air e!ang
'air halu
'air angat
halu
Batu3air
1B1> - 1B2.> Lanau Batulanau
+ 1B2.> Le,3ung Batule,3ung
Besar butir dipengaruhi oleh : jenis pelapukan, jenis transportasi, $aktu dan jarak
transport, resistensi.
Ga,"ar 2.1. (ekstur batuan sedimen
a! tekstur klastik dan b! kristalin tekstur
Eorman /. 1yne, "h.%. 145C!
(ingkat kebundaran butir
(ingkat kebundaran butir dipengaruhi oleh komposisi butir, ukuran butir,
jenis proses transportasi dan jarak transport. Butiran dari mineral yang
resisten seperti kuarsa dan .ircon akan berbentuk bundar dibandingkan
butiran dari mineral kurang resisten seperti feldspar dan pyroHene. Butiran
berukuran besar dari kerakal akan lebih mudah membundar daripada yang
berukuran pasir. /arak transport akan mempengaruhi tingkat kebundaran
butir dari jenis butir yang sama, makin jauh jarak transport butiran akan
semakin bundar.
Ga,"ar 2.=. (ingkat kebundaran butir
%iktat "etrologi.,1454!
'ortasi pemilahan!
'ortasi baik : bila besar butir merata atau sama besar
'ortasi buruk : bila besar butir tidak merata, terdapat matrik dan fragmen
)emas
)emas terbuka : bila butiran tidak saling bersentuhan mengambang
dalam matrik!
)emas tertutup : butiran saling bersentuhan satu sama lainnya
2.1.1.1.2. Struktur Batuan Se!i,en
"ada batuan sedimen dikenal 2 macam struktur yaitu :
1. Struktur Syngenetik : terbentuk bersamaan dengan terjadinya batuan
sedimen, disebut juga sebagai struktur primer batuan.
2. Struktur &pigenetik : terbentuk setelah batuan tersebut terbentuk seperti
kekar, sesar dan lipatan. %isebut juga sebagai struktur sekunder batuan.
Macam-macam struktur primer batuan sedimen adalah sebagai berikut :
Karena 3roe <iik
a) Struktur &ksternal
(erlihat pada kenampakan morfologi dan bentuk batuan sedimen secara
keseluruhan dilapangan. 8ontoh struktur eksternal adalah : lembaran sheet!,
lensa, membaji $edge!, prisma tabular.
b) Struktur internal
'truktur ini terlihat pada bagian dalam batuan sedimen, macam struktur
internal:
- "erlapisan dan laminasi
%isebut dengan perlapisan jika tebalnya lebih dari 1 cm dan disebut
laminasi bila kurang dari 1 cm. "erlapisan dan laminasi batuan sedimen
terbentuk karena adanya perubahan fisik, kimia dan biologi. Misalnya
terjadi perubahan energi arus sehingga terjadi perubahan ukuran butir yang
diendapkan. Macamnya :
a! "erlapisan 2 laminasi sejajar current bedding 2 normal!
"erlapisan batuan tersusun secara horisontal dan saling sejajar.
b! "erlapisan 2 laminasi silang siur cross bedding 2 lamination !
"erlapisan batuan yang saling memotong satu dengan lainnya.
c! "erlapisan tersusun 6raded Bedding!
(erjadi perubahan ukuran butir secara bergradasi baik secara normal
gradasi butirnya makin halus kearah atas! atau gradasi terbalik
makin kasar kearah atas!
- Masif
c) *enampakan pada permukaan lapisan
- Ripple mark : Bentuk permukaan yang bergelombang karena adanya arus
- 9lute cast : Bentuk gerusan pada permukaan lapisan akibat akti*itas
arus.
- Mud cracks : Bentuk retakan pada lapisan lumpur, berbentuk poligonal
- Rain marks : )enampakan permukaan sedimen akibat tetesan air hujan.
d) Struktur yang ter:adi karena deformasi
- oad cast : -ekukan di permukaan lapisan akibat tekanan beban diatasnya
- 6on!olute structure : -ekukan pada batuan sedimen akibat proses
deformasi
- Sandstone dike and sill : )arena deformasi pasir dapat terinjeksi pada
lapisan sedimen diatasnya.
Karena 3roe geologi
%ibagi menjadi atas :
a) "e:ak (tracks and trail)
(rack : jejak berupa tapak organisme
(rail : jejak berupa seretan bagian tubuh organisme
b) 1alian (burrow)
0dalah lubang atau bahan galian hasil akti*itas organisme
c) 6etakan (cast and mold)
Mold : cetakan bagian tubuh organisme
8ast : cetakan dari mold
Macam-macam struktur sekunder batuan sedimen adalah sebagai berikut :
'roe <iik?
a) Struktur eksternal)
I Batas antara lapisan
- Batas tegas tiap lapisan
- Batas selaras 2 graduil
I -ipatan dan sesar
b) Struktur internal
I 8lastic dike: adanya tekanan hidrostatik kuat, material seperti diinjeksikan.
'roe ki,ia4i
a) Sylolites : Bentuk irregular, terdapat pada limestone dan dolomite.
b) 6one in cone : "engembangan kolom bentuk cone irregullar.
c. 6oncretion : Bentuk membulatIinorganik silika, kalsit, sulfida!.
d. Septarian : 3rregular, conceretion komposisi shaly.
e. 1eode : lubang tubuh spherical, khas dengan garis ke dalam
menggambarkan k$arsa atau kristal lain terdapat pada limestone dan
dolomite.
'truktur batuan sedimen juga dapat digunakan untuk menentukan bagian
atas suatu batuan sedimen. "enentuan bagian atas dari batuan sedimen sangat
penting artinya dalam menentukan urutan batuan sedimen tersebut.
2.1.1.2.1. 'e,"agian Batuan Se!i,en
)lasifikasi batuan sedimen klastik yang umum digunakan adalah
berdasarkan ukuran butirnya menurut ukuran butir dari $ent$orth!, komposisi
dan struktur.
)lasifikasi menurut 1uang adalah seperti tabel diba$ah ini :
Ta"el II#.
)lasifikasi batuan sedimen menurut 1uang
%iktat "etrologi.,1454!
2.1.2. Struktur Geologi
'truktur batuan adalah bentuk dan kedudukan batuan yang terlihat pada
singkapan. 'ecara umum bentuk struktur kulit bumi dipengaruhi tekanan dan
temperatur pada saat pembentukannya. (ekanan dan temperatur ini ber*ariasi dari
satu tempat ke tempat yang lain dan tergantung pada kedalaman geothermal
gradient, dimana distribusi gayanya sangat mempengaruhi pembentukan kulit
bumi. 6aya-gaya yang mempengaruhi bentuk struktur kulit bumi ini adalah
compression, tension, couple dan torsion.
'ebagai akibat gaya-gaya tersebut maka material yang dikenai gaya akan
berubah bentuknya. Materi yang dikenai gaya akan mengalami tiga fase :
a. ?lastis
b. "lastis
c. Brittle
7ase elastis akan terpenuhi apabila gaya stress yang bekerja pada materi
tidak cukup kuat untuk merubah bentuk dan ukuran materinya. 'edangkan fase
plastis tercapai apabila gaya yang bekerja melebihi batas elastisitas materi dimana
sebagian kecil materinya kembali ke bentuk asalnya. %an apabila gaya ini
semakin membesar maka akan mengakibatkan materi tersebut retak2patah brittle
substances!.
'truktur geologi tidak lain merupakan bentuk dan kedudukan dari batuan.
Berdasarkan cara terjadinya dikenal dua macam struktur batuan yaitu :
,) Struktur primer
Merupakan struktur yang terbentuk bersamaan dengan pembentukan batuan
contoh :
- 'truktur perlapisan, contoh : laminasi dan graded bedding
- 'truktur sedimentasi, contoh : plannar bedding, cross bedding dan ripple
mark
- 'trutur aliran la*a
-) Struktur sekunder
Merupakan struktur yang terbentuk setelah terjadi proses pengendapan.
8ontoh : kekar, sesar, lipatan.
2.1.2.1. Kekar
)ekar atau joint adalah sebutan untuk struktur rekahan dalam batuan
dimana sedikit2tanpa mengalami pergeseran. %alam batuan sedimen kekar dapat
terjadi mulai dari sedimen yang diendapkan hingga sesudah proses pengendapan
tersebut berlangsung, ketika batuan sedang mengeras. 'elain itu juga terbentuk
pada akhir deformasi atau terbentuk bersamaan struktur lain, seperti perlipatan
dan sesar.
Migrasi minyak melalui kekar ini dapat mengakibatkan larinya minyak ke
permukaan sehingga tidak terbentuk jebakan. Meskipun demikian adanya kekar
ini mengakibatkan minyak dapat keluar dari batuan induk ke batuan reser*oir
serta menyebabkan minyak akan bermigrasi dari reser*oir satu ke reser*oir
lainnya. 1al ini dapat dipakai untuk menerangkan terjadinya akumulasi minyak di
dalam basement basalt!.
)ekar dapat diklasifikasikan dan diperikan berdasarkan salah satu atau
beberapa sifat-sifatnya, yaitu : bentuk, ukuran, kerapatan dan gabungan antara
ukuran dengan kerapatannya.
a) *lasifikasi kekar berdasarkan bentuknya
1. *ekar sistematik
)ekar sistematik selalu dijumpai dalam bentuk yang berpasangan. %i setiap
pasangannya ditandai oleh arahnya yang serba sejajar2hampir sejajar
apabila dilihat dari kenampakan diatas permukaan. )ekar sistematik ini
pada umumnya mempunyai bidang-bidang kekar yang rata atau
melengkung lemah dan biasanya hampir tegak lurus dengan batas
lithologinya bidang perlapisan!.
2. *ekar non sistematik
)ekar non sistematik dapat saling bertemu, akan tetapi tidak memotong
kekar lainnya. "ermukaannya selalu melengkung dan pada umumnya
berakhir pada bidang-bidang perlapisan.
b) *lasifikasi kekar berdasarkan ukurannya
1. Master joint, ukuran : "uluhan = ratusan feet
2. Major joint, ukuran : G Master joint
3. Minor joint, ukuran : G Major joint
C. Mikro joint, ukuran : G 1 in
c) *lasifikasi kekar berdasarkan cara pembentukannya
1. )ekar yang disebabkan oleh tekanan, disebut JshearK atau Jcompression
jointK.
0da tiga sifat shear joint yang perlu diperhatikan yaitu :
a. 'hear joint biasanya mempunyai bidang yang rata2licin dan memotong
seluruh lapisan batuan dan sulit dibedakan dengan joint lainnya. /ika
ada slinkenside gores garis! pada bidangnya, maka ini tidak berarti
telah terjadi pergeseran akibat kompresi, tetapi mungkin hal ini
disebabkan oleh pergerakan-pergerakan sesudahnya.
b. %i dalam beberapa hal dapat juga dianggap bah$a shear joint akan
memotong langsung melalui butir-butir komponen pada konglomerat,
jadi tidak mengelilingi butir-butir seperti yang diakibatkan oleh tarikan.
c. 0danya joint set pasangan kekar! mencirikan shear joint. %i dalam
batuan yang berlapis seringkali bidang perlapisannya berubah menjadi
salah satu joint set. 'edangkan yang lainnya akan tegak lurus pada
bidang perlapisan, dengan catatan kalau belum terlipat. 0pabila sudah
terjadi perlipatan maka shear joint akan memotong bidang perlapisan
dengan sudut tertentu.
2. )ekar yang disebabkan oleh tarikan, disebut J tension jointK atau Jkekar
teganganK.
Berbeda dengan shear joint, tension joint ini sangat tidak teratur dimana
bidang-bidangnya tidak rata. %ari tension joint ini yang paling khas adalah
bah$a kekarnya akan selalu terbuka. 'edangkan yang paling sederhana
adalah yang diakibatkan oleh adanya gejala pengerutan.
2.1.2.2. Sear
'esar atau sering disebut fault merupakan suatu rekahan dalam batuan yang
telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian
yang berhadapan, dengan arah yang sejajar bidang patahan.
'eringkali rekahan yang telah mengalami pergeseran yang arahnya sejajar
dengan bidang rekahannya tercermin secara morfologis sebagai Jga$ir sesarK,
sedangkan bidangnya dinamakan bidang sesar. "erpotongan bidang sesar dengan
permukaan tanah disebut sebagai garis sesar fault line atau fault trace!.
)edudukan dari bidang sesar dinamakan jurus sesar yang merupakan perpotongan
antara bidang sesar dengan hori.ontal dan kemiringan sesar, yaitu sudut yang
dibuat antara bidang sesar dengan hori.ontal.
0tap sesar atau sering disebut Jhanging $allK merupakan bongkah patahan
yang berada di bagian atas bidang sesar, sedangkan bongkah patahan yang ada di
bagian ba$ah bidang sesar disebut Jfoot$allK.
6erakan dari pembentukan sesar ada dua macam yaitu :
1. 6erak lurus atau translation
2. 6erak berputar atau rotation
Mengenai pergeseran sesar dalam arah *ertikal atau Jthro$K dikenal dua
pengertian yaitu :
1. Menyatakan ukuran jumlah pergeseran semu dari suatu lapisan atau *ein
yang dibuat tegak lurus bidang sesar yang dapat berubah dari gerak yang
sebenarnya.
2. Menyatakan pergeseran semu dari lapisan atau *ein yang dibuat tegak
lurus pada bidang sesar yang dapat berubah dari gerak yang sebenarnya.
6erak relatif ini dikenal sebagai slip. /arak pergeseran seluruhnya disebut
dengan Jnet slipK atau pergeseran yang sesungguhnya. )omponen hori.ontal pada
bidang sesar disebut Jstrike slipK, sedangkan komponen *ertikalnya disebut
JdislipK atau perpindahan miring. /enis gerakan pembentukan sesar diperlihatkan
pada 6ambar 2.B.
Ga,"ar 2... /enis gerakan pembentukan sesar Billings, 145>!
0! dan B! 6erak lurus atau translation
8! dan %! 6erak berputar atau rotation
2.1.2.2.1. Sear Nor,al
'esar normal atau sesar biasa atau sesar turun merupakan gejala
pensesaran dimana hanging $all bergeser seakan-akan relatif turun terhadap foot
$all. %itinjau dari susunan poros utama tegasan menunjukkan bah$a arah tegasan
terbesar adalah *ertikal. 6aya yang mempunyai arah demikian adalah gaya berat.
%ugaan bah$a sesar normal disebabkan oleh gaya berat didasarkan pada
kenyataan kemiringan bidang sesar mempunyai sudut CB
o
atau lebih. 'elain dari
itu turunnya hanging $all diduga sebagai akibat tarikan gaya berat. @leh karena
itu sesar yang mempunyai karakteristik seperti itu disebut sebagai gra*ity fault.
)e arah lateral, sesar normal ini akan menghilang dan berubah bentuk
menjadi engsel dan disertai dengan pengurangan thro$.
Ga,"ar 2.>.
'esar normal Billings, 145>!
'uatu daerah yang dilalui sejumlah sesar normal disebut sebagai gejala
sesar bongkah block faulting!. 'eperangkat gejala sesar turun dengan arah thro$
yang sama disebut Jstep faultingK sesar tangga!. 1al ini terjadi biasanya pada
sesar yang masih relatif muda.
'esar normal atau sesar turun 6ambar 2.>! diduga berhubungan erat
dengan pengembangan kerak bumi atau disebabkan karena adanya pemuaian ke
arah luar dari suatu antiklin. 1al ini dapat berbentuk graben dan horst. 6raben
merupakan bongkah besar yang menurun dengan bentuk sempit dan memanjang
serta dibatasi oleh bidang sesar yang arahnya hampir sejajar. 'edangkan horst
adalah bagian meninggi atau muncul terhadap daerah sekitarnya yang kedua
sisinya dibatasi oleh sesar turun. 'esar yang demikian ini banyak dijumpai pada
puncak-puncak kubah dome! di daerah lapangan-lapangan minyak.
'elain dari graben dan horst, dikenal juga Jgro$th faultsK yang merupakan
sesar biasa dimana gerakan-gerakannya terus berlangsung selama pengendapan.
0dapun ciri-ciri sesar yang demikian ini adalah pada lapisan yang turun jauh lebih
tebal, dibandingkan dengan lapisan yang naik. 3ni merupakan bukti bah$a sesar
ini masih aktif pada saat pengendapan berlangsung.
2.1.2.2.2. Sear Naik
'esar naik disebut juga dengan Jre*erse faultK atau dapat pula disebut
JthrustK. "ada sesar ini hanging $all relatif naik terhadap foot $all. 'usunan dari
tegasan utamanya adalah sama halnya seperti perlipatan.
%ilihat dari cara terjadinya sesar ini dapat dibagi menjadi 2 golongan,
yaitu:
1. 'esar naik yang terjadi sebelum gejala perlipatan
2. 'esar naik yang terjadi setelah perlipatan
Bentuk sesar naik dapat dilihat pada 6ambar 2.<. "ada sesar naik dengan
kemiringan kecil thrust fault! pergeseran lateral akan lebih menonjol. 0danya
tekanan dengan arah hori.ontal akan dile$atkan melalui lapisan yang kompeten
dan di$ujudkan sebagai pelengseran-pelengseran dan ini merupakan sesar naik
yang terbentuk tanpa ada hubungan dengan gejala perlipatan
Ga,"ar 2.D. a! 'esar naik sebelum terjadi perlipatan
b! 'esar naik setelah terjadi perlipatan Billings, 145>!
2.1.2.2.1. Sear Datar
'esar datar sering disebut dengan Jstrike slip faultsK. 6erakan dari sesar
ini yang dominan adalah hori.ontal. 3ni berarti bah$a dalam jumlah yang terbatas
juga mempunyai gerak *ertikal. "ada umumnya sesar ini dijumpai pada daerah
yang mengalami perlipatan dan pensesaran naik. 0rtinya dapat memotong poros
lipatan secara diagonal atau kadang-kadang hampir tegak lurus. 'trike 'lip 7ault
dapat dilihat pada gambar 2.5.
Ga,"ar 2.C. 'trike slip faults Billings, 145>!
2.1.2.1. 'erli3atan
%apat disebut juga dengan folds. Bentuk lengkung suatu benda
pipih2lempeng dapat diakibatkan oleh dua macam mekanisme, yaitu : JbucklingK
dan JbendingK. "ada gejala buckling2melipat, gaya penyebabnya adalah gaya
tekan yang arahnya sejajar dengan permukaan lempeng. 'edangkan pada
bending2pelengkungan , gaya utamanya mempunyai arah tegak lurus terhadap
permukaan lempeng.
0pabila suatu lempeng dikenai oleh gaya hori.ontal yang arahnya sejajar
dengan bidang lempengnya maka lempeng tersebut akan berubah strukturnya dan
terjadi gejala melipat dan apabila dikenai gaya *ertikal yang arahnya tegak lurus
dengan lempeng maka akan terjadi gejala pelengkungan2bending akibatnya bila
kedua gaya yang bekerja bersama-sama pada lempeng tersebut maka akan
terbentuk struktur yang terbentuk lipatan.
2.1.2.1.1. GeEala 'erli3atan
"roses terjadinya lipatan disamping diakibatkan oleh adanya gaya dari
luar, lipatan juga disebabkan oleh faktor alamiah, misalnya saja pada proses
pengendapan batuan sedimen sampai terbentuknya suatu lipatan. 'ebelum batuan
sedimen mengalami gejala perlipatan, batuan tersebut pada saat diendapkan sudah
mempunyai timbulan-timbulan yang disebabkan oleh sifat permukaan yang tidak
rata dari tempat pengendapan tersebut dasar cekungan! dan juga dapat
disebabkan oleh adanya penurunan dasar cekungan dan sedimen akan terendapkan
secara horisontal. -apisan sedimen lama kelamaan akan mengalami tekanan dan
tarikan oleh gaya-gaya endogen. 'epanjang sejarah geologinya akan
mengakibatkan terjadinya lipatan-lipatan berukuran besar dan kecil.
'elain itu lipatan juga dapat disebabkan oleh adanya gaya-gaya yang
langsung berhubungan dengannya, seperti intrusi magma, kubah garam serta
gaya-gaya *ertikal lainnya. 'ebagai hasil gejala non tektonik biasanya lipatan
dihasilkan sebagai akibat gerakan yang dipengaruhi oleh beda gra*itasi di sekitar
muka bumi, glasiasi dan sebagainya.
#ntuk mengetahui kedudukan lipatan maka perlu diketahui arah dari
lapisan tersebut. 0rah lapisan ini ditunjukkan oleh adanya jurus strike! dan
kemiringan dip!. 'ecara umum strike didefinisikan sebagai arah garis atau tempat
kedudukan yang dibentuk dari perpotongan bidang perlapisan dengan bidang
horisontal. 'edangkan dip didefinisikan sebagai sudut yang dibentuk oleh bidang
perlapisan dengan bidang horisontal.
2.1.2.1.2. Struktur Li3atan
'truktur lipatan meliputi :
1. 0nticlin
Merupakan struktur lipatan dengan bentuk cembung keatas.
2. 'yncline
Merupakan struktur lipatan dengan bentuk cembung keba$ah
3. 'truktur diapir dan robohan
%iapir merupakan struktur yang disebabkan oleh adanya tekanan yang
arahnya keatas dari ba$ah!, sedangkan struktur robohan terbentuk karena
adanya ruang hampa diba$ah permukaan yang disebabkan oleh adanya
berbagai hal. )ebanyakan struktur diapir ini membentuk kubah. )ubah
merupakan suatu bentuk lipatan yang kira-kira simetris, dimana lapisan-
lapisan sedimennya miring ke segala arah dengan kemiringan kurang lebih
sama. )arena bentuknya yang sedemikian rupa maka kubah ini merupakan
gejala fleHure yang sangat sulit. 0dapun sifat yang paling penting dalam
kubah atau antiklin yang menyerupai kubah adalah adanya closure yang dapat
memberikan arti penting dalam pencarian minyak dan gas bumi.
8losure didefinisikan sebagai jumlah seluruh kemiringan yang memancar
radiating! dari puncak ke arah dimana kemiringan mencapai minimum.
/umlah closure diukur dari jarak *ertikal dari titik kulminasi ke suatu bidang
horisontal yang dibuat menyinggung pada lapisan yang sama dimana
kemiringannya sudah mulai membaik.
C. 'truktur kekar pada batuan yang mengalami perlipatan
0da tiga macam kekar yang berhubungan erat dengan pembentukan lipatan
yaitu : kekar memanjang longitudinal joint!, kekar melintang tran*erse2cross
joint! dan kekar diagonal.
2.1.2.1.1. Klai<ikai 'erli3atan
"engklasifikasian struktur lipatan biasanya dilakukan setelah pengukuran
di lapangan yang kemudian dipetakan dan selanjutnya akan dibagikan cara
penggolongannya. Bilkling di dalam bukunya pada bab Jnomenclature of foldsK
mengemukakan C cara yaitu :
1. Berdasarkan bentuk dari lipatan
meliputi : lipatan simetri, asimetri, rebah, menggantung, isoklinal,
monoklinal, fan fold dan sebagainya.
2. Berdasarkan besar dan kedudukan sudut dari sayapnya
3. Berdasarkan besar tekanan yang membentuk lipatan
C. )ombinasi sincline dan anticline.
Macam bentuk perlipatan dapat dilihat pada 6ambar 2.4. %an macam
perlipatan isoclinal dapat dilihat pada 6ambar 2.1D.
Ga,"ar 2.F. Macam bentuk perlipatan
0! 'imetri, B! 0simetri, 8! Menggantung, %! -ipatan rebah
Billings, 145>!.
Ga,"ar 2.1/. Macam perlipatan 3soclinal
0! ,ertikal isoclinal folds B! 3nclined isoclinal folds
8! ;ecumbent isoclinal folds Billings, 145>!.
Menurut Budgely, lipatan digolongkan menjadi B cara :
1. 'ecara deskriptif atau secara geometris, meliputi : lipatan asimetri, simetri.
2. 'ecara morfologis yang berdasarkan kepada :
- bentuk dari lipatan di dalam
- bentuk dalam penampang denah plan *ie$!
- jumlah anticline dan sincline
3. Berdasarkan mekanisme terjadinya
C. Berdasarkan gerak kinematisnya
B. Berdasarkan kedudukan pola tektonik
-ipatan, bentuk dan kedudukan dari tiap-tiap lapisan yang mengalami
perlipatan, akan tidak sama. Mereka ditentukan oleh sifat-sifat fisik dari masing-
masing lapisan batuan dan mekanisme dari proses perlipatan itu sendiri. Mengenai
sifat-sifat fisik ini maka dapat kita kenal adanya istilah lapisan kompeten dan
inkompeten.
)ompeten dalam sifat fisik ini diartikan sebagai sifat batuan dimana dalam
gejala perlipatan akan melengkung secara kaku. 'edangkan inkompeten adalah
sifat dimana lapisan itu akan mengalir dalam bentuk sesuai dengan gaya yang
bekerja terhadapnya.
Berdasarkan mekanisme terbentuknya dan kinematik di dalam lipatan
dikenal 3 macam mekanisme perlipatan, yaitu :
,) 9le;ure 9olds
(iap lipatan akan melengkung dan lapisan paling luar akan menggeser
lapisan yang lebih dalam ke arah poros. -ipatan yang berkembang seperti
ini akan mempunyai bentuk yang tetap sejajar.
-) Shear 9olding
Mekanisme dari gerakannya adalah melalui bidang yang berjarak rapat
fracture! yang disebut secondary surface yang tidak sejajar dengan bidang
perlapisan primary surface!.
.) 9low 9olding
Merupakan suatu deformasi dimana tidak nampak sama sekali adanya arah
tertentu dari bidang-bidang shear terhadap arah rekahan. /adi tidak dapat
disangsikan lagi bah$a plastic flo$ telah terjadi disini.
0dapun klasifikasi lipatan berdasarkan bentuk dari penampang yang tegak lurus
sumbu adalah :
1. -ipatan simetri, tanpa penunjaman
2. -ipatan asimetri, menunjam
3. -ipatan isoklused, tanpa penunjaman
C. lipatan menggantung
B. -ipatan rebah
>. -ipatan monoklin
<. -ipatan silindris
2.1.2.=. Keti!akelaraan
)etidakselarasan atau sering disebut JunconformitiesK merupakan struktur
yang menggambarkan adanya suatu selang masa tenggang! yang merupakan
masa dimana tidak terjadi proses sedimentasi pada suatu urutan perlapisan, yang
memisahkan batuan tua dengan batuan muda yang berada diatasnya. Masa
tenggang disini terjadi akibat erosi ataupun tektonik.
Berdasarkan cara terjadinya dan hubungan antara batuan diatas dan di
ba$ah bidang ketidakselarasan, struktur ketidakselarasan dapat dikelompokkan
menjadi C kelompok yaitu :
,) 5onconformities
Merupakan struktur ketidakselarasan dimana lapisan batuan yang berada
diba$ah bidang ketidakselarasan adalah batuan beku.
-) $ngular 0nconformities
Merupakan struktur ketidakselarasan dimana lapisan batuan diatas dan di
ba$ah bidang ketidakselarasan akan membentuk sudut.
.) (isconformities
Merupakan suatu ketidakselarasan dimana batuan diatas dan diba$ah bidang
ketidakselarasan posisinya sejajar akan tetapi bidang ketidakselarasannya
tidak sejajar dengan perlapisan batuan.
/) Para 6onformities
Merupakan suatu ketidakselarasan dimana urutan lapisan batuan diatas dan di
ba$ah bidang ketidakselarasannya sejajar.
Ga,"ar 2.11. Macam bentuk ketidakselarasan Billings, 145>!
0! 0ngular unconformity B! %isconformity 8! Eonconformity
%! Eonconformity dan adanya bidang intrusi
)etidakselarasan atau sering disebut dengan unconformity 6ambar 2.11! dapat
diamati dengan :
1. Melihat langsung di lapangan.
2. 0danya basalt konglomerat.
3. 0danya perbedaan intensitas perlipatan.
C. 0danya perbedaan kompaksi batuan yang berurutan dan sangat menyolok.
B. 0danya perbedaan tingkat metamorfosa yang sangat menyolok pada batuan
yang berdekatan.
2.2. Karakteritik Batuan Reer6oar
;eser*oar adalah bagian kerak bumi yang mengandung minyak dan gas
bumi. 8ara terdapatnya minyak bumi di ba$ah permukaan haruslah memenuhi
beberapa syarat, yang merupakan unsur-unsur suatu reser*oar minyak bumi.
#nsur-unsur tersebut, yaitu :
1. Batuan reser*oar, sebagai $adah yang diisi dan dijenuhi oleh minyak dan gas
bumi. Biasanya batuan reser*oar berupa lapisan batuan yang berongga-rongga
ataupun berpori-pori.
2. -apisan penutup cap rock!, yaitu suatu lapisan yang tidak permeable terdapat
di atas suatu reser*oar dan penghalang minyak dan gas bumi yang akan keluar
dari reser*oar.
3. "erangkap reser*oar reser*oar trap!, merupakan suatu unsur pembentuk yang
bentuknya sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan
bentuk konka* ke ba$ah dan dan menyebabkan minyak dan gas bumi berada
dibagian teratas reser*oar.
;uangan penyimpan minyak dalam reser*oar berupa ronga-ronga atau
pori-pori yang terdapat diantara butiran mineral atau dapat pula didalam rekahan
batuan yang mempunyai porositas rendah. "ada hakekatnya setiap batuan dapat
bertindak sebagai batuan reser*oar asalkan mempunyai kemampuan untuk dapat
menyimpan serta melepaskan minyak bumi, dalam hal ini batuan reser*oar harus
mempunyai porositas yang memberikan kemampuan untuk menyimpan: juga
kelulusan atau permeabilitas, yaitu kemampuan untuk melepaskan minyak bumi
itu. /adi, secara singkat dapat disebutkan bah$a reser*oar haruslah berongga-
rongga atau berpori-pori yang berhubungan "orositas dan permeabilitas sangat
erat hubungannya, sehingga dapat dikatakan bah$a permeabilitas tidak mungkin
tanpa adanya porositas, $alaupun sebaliknya belum tentu demikian. Batuan dapat
bersifat $adah, tetapi tidak permeable.
%ua macam batuan yang penting untuk bertindak sebagai reser*oar adalah
Batupasir dan 6amping atau )arbonat. %iagram pada gambar 2.1 memperlihatkan
bah$a >DA daripada reser*oar minyak terdiri dari batupasir, 3DA terdi dari
batugamping dan sisanya batuan lainnya. Eamun de$asa ini batugamping
memegang peranan besar sekali dan pada suatu ketika akan merupakan batuan
yang jauh lebih penting daripada batupasir.
Ga,"ar 2.12. %iagram yang memperlihatkan perbandingan berbagai
Macam jenis batuan reser*oar
)nebel dan ;odrigue.,14B>!

SELURUH DUNIA 1956 SELURUH DUNIA
TANPA TIMUR TENGAH
1956
2,1 %

lain-lain
21 %
KARBONAT
77 %
BATU PASIR
1 %
lain-
lain
!%
KARBONAT
59 %
BATUPASIR
2.2.1.Ko,3oii Ki,ia Batuan Reer6oar
Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral. 'edangkan suatu mineral
dibentuk dari beberapa ikatan komposisi kimia. Banyak sedikitnya suatu
komposisi kimia akan membentuk suatu jenis mineral tertentu dan akan
menentukan macam batuan.
Batuan reser*oar umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa
batupasir, batuan karbonat, dan shale atau kadang-kadang *ulkanik. Masing-
masing batuan tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda, begitu pula
sifat fisiknya. #nsur atau atom-atom penyusun batuan reser*oar perlu diketahui
mengingat macam dan jumlah atom-atom tersebut akan menentukan sifat-sifat
dari mineral yang terbentuk, baik sifat-sifat fisik maupun sifat-sifat kimia$inya.
Mineral merupakan .at-.at yang tersusun dari komposissi kimia tertentu yang
dinyatakan dalam bentuk rumus-rumus dimana menunjukkan macam unsur-unsur
serta jumlahnya yang terdapat dalam mineral tersebut.
2.2.1.1. Batu3air
Batupasir termasuk golongan batuan klastik detritus dan sebetulnya yang
dimaksud batupasir disini adalah batuan detritus pada umumnya yang berkisar
dari lanau sampai konglomerat. Eamun secara praktis hanyalah batupasir yang
dibahas.
Batupasir merupakan reser*oar yang paling penting dan paling banyak
dijumpai, >D A daripada semua batuan reser*oar adalah batupasir. "orositas yang
didapat di dalam batupasir ini hanya bersifat intergranular, pori-pori terdapat
diantara butir-butir dan khususnya terjadi secara primer, jadi rongga-rongga
terjadi pada $aktu pengendapan. Eamun tidak dapat dipungkiri, bah$a setelah
proses pengendapan tersebut dapat terjadi berbagai modifikasi dari pada rongga-
ronga, misalnya sementasi ataupun pelarutan dari pada semen dan juga proses
sekunder lainnya seperti peretakan.
Menurut "ettijohn, batupasir dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
@rtho9uart.ites, 6ray$acke, dan 0rkose. "embagian tersebut didasarkan pada
jumlah kandungan mineralnya. )andungan mineral dan komposisi kimia
penyusun batuan reser*oar sangat berpengaruh terhadap besarnya sortasi yang
dapat mempengaruhi besarnya pori-pori batuan reser*oar.
a) 8rtho'uart<ites
@rtho9uart.ites merupakan jenis batuan sedimen yang terbentuk dari
proses yang menghasilkan unsur silica yang tinggi, dengan tidak mengalami
metaformosa perubahan bentuk! dan pemadatan, terutama terdiri atas mineral
k$arsa 9uart.! dan mineral lainnya yang stabil. Material pengikatnya semen!
terutama terdiri atas carbonate dan silica. @rtho9uart.ites merupakan jenis batuan
reser*oar sangat baik karena pemilahannya sangat baik, butirannya berbentuk
bundar dan padanya tidak terdapat matriks kecuali semen saja, bebas dari
kandungan shale dan clay. (abel 33->! menunjukkan komposisi kimia
ortho9uart.ites.
Ta"el II#>.
)omposisi )imia Batupasir @rtho9uart.ites
1C!

%ari table 33->, dapat dilihat bah$a ortho9uart.ite mempunyai susunan
unsur silica dengan prosentase yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan
unsur-unsur yang lainnya. /adi pada ortho9uart.ite ini unsure silikanya sangat
dominan sekali, yaitu berkisar antara >1,< A sampai hampir 1DD A sedangkan
sisanya adalah unsure lainnya sepeti (iD2, 0l2D3, 7e2D3, 7eD, MgD, 8aD, Ea2D, )2D,
12DL, 12D-, dan 8D2. Batupasir @rtho9uar.ite relatif bersih karena matrik dan
sementasinya jumlah unsurnya kecil sehingga persen dari pada porositasnya
besar .
b) 1raywacke
6ray$acke merupakan jenis batupasir yang tersusun dari unsur-unsur
mineral yang berbutir besar, terutama k$arsa dan feldspar serta fragmen-fragmen
batuan. Material pengikatnya adalah clay dan carbonate. +ang sangat penting
adalah bah$a grey$acke itu mempunyai matriks dan hal ini mengurangi
porositasnya. /uga pemilahannya tidak baik, sehingga sebagai batuan reser*oar
grey$acke tidak terlalu baik. 6ray$ackey banyak berasosiasi dengan turbidit
ataupun diendapkan oleh arus turbid. %i 3ndonesia Mgray$ackeN masih belum
ditemukan sebagai batuan reser*oar, akan tetapi di 0merika 'erikat di cekungan
,entura dan cekungan -os 0ngeles grey$acke atau batu pasir turbit diketahui
sebagai lapisan reser*oar yang cukup penting. 'ecara lengkap mineral-mineral
penyusun gray$acke terlihat pada (abel 33-<!.

Ta"el II#D.
)omposisi Mineral 6ray$acke A
1C!


)omposisi gray$acke tersusun dari unsur silica dengan kadar lebih rendah
dibandingkan dengan rata-rata batupasir, dan kebanyakan silica yang ada
bercampur dengan silikat silicate!. 'ecara terperinci komposisi kimia gray$acke
dapat dilihat pada (abel 33-5!
Ta"el II#C.
)omposisi )imia 6ray$acke
1C!
c) $rkose
0rkose merupakan jenis batupasir yang biasanya tersusun dari kuarsa
sebagai mineral yang dominan, meskipun seringkali mineral arkose feldspar
jumlahnya lebih banyak dari kuarsa. Biasanya cukup bersih tetapi kebundaran
daripada butirannya tidak terlalu baik karena bersudut-sudut dan juga
pemilahannya tidak terlalu baik. 0rkose biasanya didapatkan sebagai hasil
pelapukan batuan granit. 'ebagai contoh adalah Mgranit $ashN di pendopo,
'umatra 'elatan yang biasa bertindak sebagai batuan reser*oar. 'edangkan unsur-
unsur lainnya, secara berurutan sesuai prosentasenya ditunjukkan pada (abel 33-
4!. )omposisi kimia arkose ditunjukkan pada (abel 33-1D!, dimana terlihat bah$a
arkose mengandung lebih sedikit silica jika dibandingkan dengan ortho9uart.ites,
tetapi kaya akan alumina, lime, potash, dan soda.
Ta"el II#F.
)omposisi Mineral dari 0rkose A!
1C!

Ta"el II#..
)omposisi )imia dari 0rkose A!
1C!

Ta"el. II#1/.
)omposisi )imia 0rkose A!
1C!
%ari ketiga kelompok reser*oar batupasir tersebut, komposisi mineralnya
dapat dibagi dalam tiga macam teHture yang terdiri dari grains, matriks dan semen
yang diperlihatkan pada gambar 2.13.
TEGT:RAL 'ARAMETERS SANDSTONE
Grain - Ouart.
- 7eldspars
- Mica
- ;ocks 7ragments
- Mudstone grains
- Bioclasts
- 6laucorula
Matri% # 0brasion product
'ilt si.e,Ouart.,
7eldspars, mica!
- 8lay minerals
- 0ccessory mineral

$e,ent - 'ilica
- 8alcite
- %olomite
- 3ron @Hide
- 0nhydrite
- 1alite
# 8lay minerals
- 0sphalt
Ga,"ar 2.11
)omposisi mineral sandstone
/umlah mineral dan komposisi kimia yang terkandung dalam batupasir
memiliki komposisi yang berbeda-beda penyebab terjadinya perbedaan ini adalah
karena proses sedimentasi dan lingkungan pengendapan yang berbeda. "erbedaan
kestabilan chemically dan mechanically pada sanstone gambar 2.1C!.
Ga,"ar 2.1=.
)estabilan 8hemically dan mechanically batupasir
terhadap pembentukan porositas
from 1ayes, 14<5!
2.2.1.2. Batuan Kar"onat
Batuan karbonat merupakan batuan yang terjadi akibat proses
pengendapan, adapun cara atau proses terbentuknya batuan karbonat adalah
merupakan proses sedimentasi kimia dan biokimia yang berupa karbonat, sulfat,
silikat, phospat dan lain-lain. )esemua sedimentasi tersebut diendapkan di air
dangkal melalui proses penguapan dan kumpulan koloid-koloid organik dari
larutan garam-garaman dan organisme yang berupa bakteri atau binatang-
binatang. ?ndapan organisme ini disebut sedimen organik atau sedimen biogenik
seperti limestone, dolomit, koral, algae dan batubara.
-ingkungan pengendapan yang paling baik untuk proses terjadinya dan
sekaligus menjadi perangkap hidrokarbon pada batuan karbonat adalah
lingkungan karbonat lagoon dan shelf yang mengalami subsidensi secara cepat,
kemudian komplek terumbu yang berasosiasi dengan lingkungan tersebut dan
daerah turbidit dari batuan karbonat. %i daerah yang tersebut tadi sangat subur
bagi organisme, karena mereka menerima banyak makanan nutrient! yang
terba$a oleh arus naik.
Batuan reser*oar yang terbentuk bersama-sama bergantian atau
berdampingan! dengan batuan induk dapat terdiri dari batuan karbonat bioklastik,
oolite, terumbu dan dolomite.
Batuan karbonat merupakan batuan reser*oar penting untuk minyak dan
gas bumi, dari <B A daratan yang diba$ahi oleh batuan sedimen, kira-kira 12B
dari massa sedimen ini terdiri dari batuan karbonat gamping dan dolomit!.
"ada umumnya batuan karbonat dapat dibagi C macam yaitu :
,)7erumbu *arbonat
(erumbu reef! dapat merupakan batuan reser*oar yang sangat penting.
"ada umumnya terumbu terdiri dari suatu kerangka dari koral, ganggang dan
sebagainya yang tumbuh dalam laut yang bersih, berenergi gelombang tinggi dan
mengalami banyak pembersih. 'ehingga rongga-rongga menjadi sangat bersih.
/uga diantara kerangka tersebut terdapat banyak fragmen koral, foraminifera dari
butiran bioklastik lainnya. (etapi karena pertumbuhan ini terjadi didaerah yang
berenergi tinggi maka biasanya menjadi lebih bersih.
%alam hal ini porositas yang didapatkan terutama berada dalam kerangka
yang berbentuk rongga-rongga bekas binatang hidup yang biasanya disemen
dengan spary calcite sehingga porositasnya menjadi kecil.
0da kalanya porositas juga diperbesar karena mengalami pelarutan lebih
lanjut, sehingga menjadi lorong-lorong atau bergua-gua. 'eringkali dalam
reser*oir semacam itu didapatkan lubang-lubang atau gero$ong, yang dalam
pemboran mengakibatkan hilangnya banyak lumpur pemboran, sehingga pipa bor
tiba-tiba jatuh.
-) 1amping *lastik
6amping klastik sering juga merupakan reser*oar yang sangat baik,
terutama asosiasinya dengan oolite, yang sering disebut sebagai kakarenit.
/adi jelas bah$a batuan reser*oar yang terdapat didalam oolite itu
merupakan pengendapan yang berenergi tinggi dan didapatkan dalam jalur
sepanjang pantai atau jalur dangkal dengan arus gelombang yang kuat.
"orositas yang didapatkan biasanya ialah jenis porositas intergranuler,
yang kadang-kadang juga diperbesar oleh adanya pelarutan. "orositas bisa
mencapai setinggi 32A, tetapi hanya mempunyai permeabilitas B millidarcy.
.) (olomit
%olomit merupakan batuan reser*oar karbonat yang jauh lebih penting
dari jenis batuan karbonat lainnya. 8ara terjadinya dolomit ini tidak begitu jelas,
tetapi pada umumnya dolomit ini bersifat sekunder, atau sedikit banyak dibentuk
sesudah sedimentasi. Masalah cara pembentukan porositas dalam dolomit banyak
menghasilkan berbagai macam interpretasi.
'alah satu teori mengenai hal ini ialah porositas timbul karena dolomitasi
batuan gamping, sehingga molekul kalsit diganti oleh molekul dolomit. )arena
molekul dolomit lebih kecil dari molekul kalsit, maka hasilnya akan merupakan
pengecilan *olume sehingga timbullah rongga-rongga.
/adi jelaslah adanya hubungan antara dolomitasi dan porositas. %olomit
yang biasanya mempunyai porositas yang baik bersifat sukrosik, yaitu berbentuk
hampir menyerupai gula pasir. 'ering juga dolomit ini terdapat porositas yang
bersifat gero$ong yang mungkin disebabkan karena banyak kalsit yang belum
diganti oleh dolomit, dan berbentuk patches atau berbentuk yang lebih besar dari
satu kristal. 'emua bentuk itu kemudian dilarutkan dan menghasilkan porositas
gero$ong ini. %olomitasi juga terjadi dalam batuan gamping yang bersifat
terumbu. Bahkan banyak koral yang didolomitasi juga menimbulkan gero$ong-
gero$ong yang besar, sehingga akan memperlihatkan porositas interkristalin.
%alam hal ini ada dua macam dolomit yang terjadi:
a)) (olomit yang bersifat primer
(erbentuk dalam suatu laguna atau laut tertutup yang sangat luas, dengan
temperatur sangat tinggi.
b)) (olomit rubahan (replacement)
(erutama terjadi pada dolomitasi gamping yang bersifat terumbu, dengan
teori yang terkenal yaitu Supratidal Seepage Reflu;. %isini dijelaskan bah$a
terumbu yang bersifat penghalang akan membentuk suatu laguna dibelakangnya.
-aguna ini hanya terisi air laut pada $aktu-$aktu badai, dan air laut yang terdapat
dibelakang terumbu yang menghalangi itu menjadi tinggi kegaramannya. 0kan
tetapi air garam yang terjebak didalam laguna yang demikian, Mg-nya akan
sangat tinggi dan juga berat jenisnya akan meningkat. @leh karena itu akan terjadi
suatu perembesan kembali refluH! melalui pori-pori yang terdapat dalam
gamping kerangka ataupun terumbu tersebut kembali lagi ke laut bebas.
"ada $aktu perembesan melalui kerangka gamping, terjadilah dolomitasi.
'ehingga jelaslah bah$a dolomitasi ini merupakan proses yang paling penting dan
asosiasianya dengan porositas sangat jelas.
/) 1amping $fanitik
Batu gamping yang bersifat afanitik dapat pula bertindak sebagai batuan
reser*oir, terutama kalau porositasnya didapatkan secara sekunder. Misalnya
karena peretakan ataupun karena pelarutan diba$ah suatu ketidakselarasan.
Batuan karbonat dapat dibagi menjadi berbagai klasifikasi yaitu:
a)) 7ype 6ompact 6rystallin
"ada tipe ini matrik tersusun rapat oleh kristalin yang saling mengisi
diantara pori-pori yang non *isbel, diperkirakan 1-B A dari pori-pori ini kurang
begitu efektif. "ermukaan batuannya merupakan permukaan yang paling licin.
b)) 7ype 6halky
#ntuk tipe ini matrik batuan tersusun dari kristal-kristal kecil, sehingga
ruang pori-pori terisi rapat oleh partikel-partikel tersebut dan hanya tampak bila
dilihat dengan mikroskop. "ermeabilitasnya berkisar antara 1D-3D md. %engan
kenampakan batuannya yang baru dibelah akan menunjukkan permukaan yang
suram seperti kapur.
c)) 7ype 1ranular satu sacharoidal
"ada tipe ini matrik tersusun dari kristal-kristal, yang hanya sebagian saja
kontak antara satu sama lainnya. 'ehingga akan memberikan ruang antar pori-pori
yang saling berhubungan. "ermeabilitas sangat tinggi, hingga bisa mencapai
beberapa ratus millidarcy.
)lasifikasi ukuran pori masih dibagi menjadi empat kelas, yaitu:
"orositas yang tidak tampak oleh mata biasa maupun dengan
mikroskop yang diperbesar 1D kali.
"orositas yang tidak dapat dilihat tanpa pembesaran, tapi terlihat
pada pembesaran 1D kali.
"orositas yang kelihatan oleh mata biasa, tetapi garis tengahnya
berkisar antara D,1-1,D mm.
"orositas yang berukuran pori-pori lebih besar dari 1,D mm.
.o%osisi .i%ia 3an (ineral Batuan .arbonat
+ang termasuk dalam kelompok batuan karbonat adalah limestone,
dolomite dan yang bersifat diantara keduanya.
3stilah limestone biasanya dipakai untuk kelompok batuan yang
mengandung paling sedikit 5D A calcium carbonate atau magnesium, juga dipakai
untuk batuan yang mempunyai fraksi carbonate melebihi unsur non carbonate-
nya. "ada limestone, fraksi disusun terutama oleh mineral calcite. 'edangkan pada
dolomite, mineral penyusun utamanya adalah mineral dolomite.
)omposisi limestone terutama didominasi oleh calcite, sehingga
mengandung 8a@ dan 8@
2
sangat tinggi. Bahkan sering kali jumlahnya mencapai
lebih dari 4B A. #nsur lainnya yang lebih penting adalah Mg@, dimana jika
jumlahnya lebih dari 1 A atau 2 A, kemungkinan besar mengandung mineral
dolomite. )ebanyakan limestone mengandung Mg8@
3
kurang dari C A sampai
lebih dari CD A. )omposisi kimia limestone dapat dilihat secara lengkap pada
(abel 33-11.
'edangkan dolomite adalah jenis batuan yang merupakan *ariasi dari
limestone yang mengandung unsur carbonate lebih besar dari BD A. 'edangkan
untuk batuan-batuan yang mempunyai komposisi antara limestone dan dolomite
akan mempunyai nama bermacam-macam, tergantung dari unsur yang
dikandungnya. #ntuk batuan yang unsur calcite, disebut limy, calcitic calciferous
atau calcodolomite.
"ada dasarnya komposisi kimia dolomite hampir sama dengan limestone, kecuali
pada unsur Mg@ yang merupakan unsur yang penting dengan jumlah yang cukup
besar. )omposisi kimia dolomite dapat dilihat secara lengkap pada (abel 33-12.
Ta"el II#11.
)omposisi )imia -imestone
1C!

Ta"el II#12.
)omposisi )imia %olomite
1C!
TEGT:RAL 'ARAMETERS $ARBONATE

Grain - Bioclasts
- 7eldspars
- Ouart.



Matri% - 8lay minerals




$e,ent # sparry
8alcite


Ga,"ar 2.1.. )omposisi batuan karbonat
2.2.1.1.Batuan Shale
)omposisi dasar shale adalah mineral clay. (ipe clay yang sering terdapat
dalam formasi hidrokarbon, yaitu : Montmorillonite, 3llite dan )aolinite.
Montmorillonite terdiri dari 3 lapisan struktur, dimana dua lapisannya
adalah 'i
C
@
1D
, kandungan @
2
dalam ikatan tersebut tidak dapat dipisahkan secara
langsung. -apisan montmorillonite diikat bersama-sama oleh aluminium hidroksil
pada keadaan tetap dimana aluminium dikelilingi oleh empat @
2
dan dua
hidroksil. )arakteristik dari montmorillonite air yang terdapat dalam pola. "ola
montmorillonite adalah mengembang. (ingkat s$ellingnya lebih tinggi jika
dibandingkan dengan clay yang lain. 8lay ini memperkecil dengan harga yang
lebih besar daripada clay yang lain. )omposisi kimianya @1!
C
.0l
C
'i
5
@
2D
.1
2
@,
sedangkan rumus oksidanya adalah 31
2
@.20l
2
@
3
.5'i@
2
.
3llite merupakan kandungan yang umum dan penting dalam clay dan shale.
+ang mempunyai pola dasar seperti montmorillonite kecuali ion ) yang
menempati posisi antara pola lapisan. 3llite lebih kompleks dari montmorillonite
dan kaolinite. "ada dasarnya illite adalah clay dalam ukuran musco*ite. 3llite
dikategorikan sebagai clay non s$elling $alaupun sedikit mengabsorbsi air.
)aolinite terdiri dari dua lapisan struktur. +ang satu terbentuk dari 'i@"
C
dan yang lain terbentuk dari aluminium hidroksil. "engganti silika atau aluminium
oleh elemen yang lain tidak diperlukan. 'ehingga hasil analisa kaolinite
mendekati ikatan kimia @1!
5
0l
C
'i
C
@
1D
dan ikatan oksidanya adalah
C1
2
@.20l
2
@
3
.C'i@
2
. )aolinite relatif tidak mengembang bila kena air.
Batu lempung biasanya tidak dianggap sebagai batuan reser*oar karena
porositas dan permeabilitasnya kecil tetapi di beberapa tempat batu lempung dapat
menghasilkan minyak atau gas.
"ada umumnya unsur penyusun batuan shale terdiri dari kurang lebih B5
A silicon dioHide 'i@
2
!, 1B A alumunium oHide 0l
2
@
3
!, > A iron oHide 7e@!
dan 7e
2
@
3
, 2 A magnesium oHide Mg@!, 3 A calcium oHide 8a@!, 3 A
potassium oHide )
2
@!, 1 A sodium oHide Ea
2
@!, dan B A air 1
2
@!. 'isanya
adalah metal oHide dan anion, seperti terlihat pada (abel 33-13.
%alam keadaan normal shale mengandung sejumlah besar 9uart., silt,
bahkan jumlah ini dapat mencapai >D A. (etapi dalam keadaan tertentu shale bisa
mengandung silika dengan kandungan tinggi yang bukan berasal dari kandungan
silt. )ebanyakan kandungan silika yang berlebihan tersebut didapatkan dalam
bentuk crystalline 9uart. yang sangat halus, chalcedony atau opal. Beberapa
kemungkinan dari keadaan ini adalah hasil dari sejumlah besar diatom atau abu
*ulkanik didalam lingkungan pengendapan. Beberapa silika merupakan unsur
tambahan yang mungkin berasal dari proses alterasi kimia dari mineral-mineral
utama silika.
Ta"el II#11.
)omposisi )imia 'hale
1C!

'hale yang kaya akan besi berisi lebih banyak pyrite atau siderite, atau
silikat besi, yang kesemuanya itu secara tidak langsung menunjukkan bah$a pada
kondisi lingkungan pengendapan asalnya tidak terjadi penurunan atau bahkan
kekurangan unsur alumina. 0danya kandungan lime yang tinggi juga dapat
diasosiasikan dengan dijumpainya gypsum sehingga hal ini menunjukkan adanya
kondisi hypersaline
)andungan potash hampir selalu lebih banyak dibandingkan dengan soda, yang
mana hal ini kemungkinan sebagai hasil fiksasi didalam mineral-mineral illitic
clay. 'edangkan pada beberapa shale yang sangat kaya sekali akan alkali, maka
akan mengandung sejumlah besar authigenic feldspar.
TEGT:RAL 'ARAMETERS S)ALE

Grain 'ilt si.e old
- Ouart.
- 7eldspars
- Mica
- 1ea*y minerals

Matri% - 8lay minerals




$e,ent # 8alcite organics




Ga,"ar 2.1>. )omposisi batuan 'hale
Analii Ki,ia4i Mineral $laA
Mineral 8lay dibuat secara baku berdasarkan struktur ikatan atom-atom yang
terkait. 3ni menghasilkan dua kelompok utama mineral 8lay, yaitu :
1. (hree = layer mineral
2. ($o = layer mineral
@ctahedral 'heet merupakan struktur ikatan aluminium-oksigen-hidroksil
atau magnesium-oksigen-hidroksil, sedangkan (etrahedral 'heet merupakan
struktur ikatan atom-atom silicon dan oksigen.
)ombinasi ikatan! antara satu octahedral sheet dan satu atau dua tetrahedral
sheet disebut sebagai unit layer. Mineral 8lay merupakan bentuk gabungan dari
banyak unit layer yang menyatu secara parallel.
'elain berdasarkan struktur ikatan atom, jenis mineral dibagi berdasarkan
analisis kimia$inya, yaitu :
1. Montmorillonite atau 'mectite
2. 3llite
3. )aolinite
C. 8hlorite
B. 0ttapulgite
>. MiHed-layer 8lay
,) Montmorillonite atau Smectite
Montmorillonite mempunyai struktur sheet 3 lapis aluminica octahedral
ditengah dan 2 silica tetrahedral di sisi luar! dan atom-atom oksigen yang
berdekatan saling mengikat. Bilamana sebagian atau seluruh unsur 0l
3L
digantikan
oleh 7e
2L
atau Mg
2L
, dan 'i
CL
oleh 0l
3L
maka permukaan partikel-partikel
montmorillonite akan bermuatan negatif. Muatan negatif ini biasanya diimbangi
dengan mengikat ikatan kimia$i! ion-ion 8a
2L
dan atau Mg
2L
, 1
L
, )
L
, Ea
L
.
3katan fisik! antar layer kristal! yang lemah mengakibatkan kemudahan
bagi molekul-molekul air untuk masuk terabsorbsi kedalam celah-celah antar
layer2kristal. 1al ini sebetulnya diakibatkan oleh kecenderungan kation-kation
8a
2-
, Ea
L
, dsb.! untuk terhidrasi yaitu mengikat molekul-molekul 1
2
@!.
'etiap unit-unit struktur2kristal montmorillonite yang ukurannya sekitar
0ngstrom bisa mencapai dua kalinya pada kondisi terhidrasi. %erajat hidrogen
s$elling affinity! tergantung pada jenis kationnya dan komposisi airnya.
-) Illite
3llite disebut juga sebagai three-layer clay seperti halnya dengan
montmorillonite karena struktur sheetnya sama yaitu dua silica tetrahedral sheet
dan satu octahedral sheet!. Bedanya adalah bah$a permukaan unit kristal
mengikat kation kalium )
L
! dan sifatnya relati*e tetap. &alaupun )
L
dapat
menarik molekul-molekul 1
2
@ tetapi karena ikatan antara unit-unit kristalnya kuat
maka penyerapan molekul-molekul 1
2
@ sangat terbatas dan tidak menyebabkan
pengembangan partikel-partikel illite secara signifikan.
"artikel-partikel illite berbentuk panjang rambut! dan montmorillonite
berbentuk pipih kecuali yang JstackedK pelapisan!. #kuran berfariasi, mulai dari
yang lebih kecil dari 1 micron sampai beberapa micron.
.) *aolinite
)aolinite disebut juga t$o-layer clay, yaitu struktur sheetnya terdiri dari
satu tetrahedral sheet dan satu octahedral sheet. 3katan hydrogen bounding! antar
kristal2sheet sangat lemah dan penyerapan molekul-molekul 1
2
@ sangat kecil
sekali. )arena itu kaolinite tidak s$elling pada kondisi dalam formasi.
"engelompokkan partikel-partikel kaolinite biasanya berbuku-buku. Bentuk
partikelnya lebih teratur persegi!.
/) 6hlorite
8hlorite termasuk jenis three-layer clay seperti montmorillonite tetapi
octahedral sheetnya mengandung Mg
LL
brucite!. )emampuan pertukaran kation
sangat rendah karena ikatan antara octahedral sheet positi*e charge! dan
tetrahedral sheet negati*e charge! sangat kuat. )arena itu juga maka partikel-
partikel chlorite tidak menyerap air. Bentuk partikel adalah pipih.
=) $ttapulgite
0ttapulgite mempunyai struktur sheet yang tidak teratur. #nit sheetnya
berkemampuan melakukan pertukaran kation dan menyerap molekul 1
2
@ tetapi
dalam jumlah yang terbatas sehingga derajat s$ellingnya rendah. Bentuk partikel-
partikelnya panjang mirip jarum.
>) Mi;ed?layer 6lay
Mineral ini sesungguhnya kumpulan ikatan sejumlah unit layer dari
beberapa jenis clay. 3katan antar layer sangat kuat. Mineral ini bukan campuran
partikel-partikel clay yang tidak sejenis. )alau campuran2kumpulan beberapa
jenis clay mudah dipisah tetapi miHed-layer merupakan jenis mineral clay
tersendiri.
2.2.2. Si<at 2iik Batuan Reer6oar
"ada dasarnya semua batuan dapat menjadi batuan reser*oar asalkan
mempunyai porositas dan permeabilitas yang cukup, namun pada kenyataannya
hanya batuan sedimen yang banyak dijumpai sebagai batuan reser*oar, khususnya
reser*oar minyak. @leh karena itu dalam penilaian batuan reser*oar selanjutnya
akan banyak berhubungan dengan sifat-sifat fisik batuan sedimen, terutama yang
porous dan permeable.
2.2.2.1. 'oroita
"orositas ! didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari *olume ruang
pori-pori terhadap *olume batuan total bulk *olume!. Besar-kecilnya porositas
suatu batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reser*oar. 'ecara
matematis porositas dapat dinyatakan sebagai :

,b ,s
,b
,p
,b
PPPPPPPPPPPPPPPPPPP..2-1!
dimana :
,b Q *olume batuan total bulk *olume!
,s Q *olume padatan batuan total *olume grain!
,p Q *olume ruang pori-pori batuan.
"orositas batuan reser*oar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Porositas absolut, adalah persen *olume pori-pori total terhadap *olume
batuan total bulk *olume!.


,olume pori total
bulk *olume
1DDA
PPPPPPPPPPPPPPPP..2-2!
2. Porositas efektif, adalah persen *olume pori-pori yang saling berhubungan
terhadap *olume batuan total bulk *olume!.


,olume pori yang berhubungan
bulk *olume
1DDA
P..PPPPPPPPP..2-3!
#ntuk selanjutnya porositas efektif digunakan dalam perhitungan karena dianggap
sebagai fraksi *olume yang produktif.
%isamping itu menurut $aktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat
juga diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada $aktu batuan sedimen
diendapkan.
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan
sedimen terendapkan.
(ipe batuan sedimen atau reser*oar yang mempunyai porositas primer
adalah batuan konglomerat, batupasir, dan batu gamping. "orositas sekunder dapat
diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses
pelarutan batuan.
2. Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari *ariasi beban, seperti : lipatan,
sesar, atau patahan. "orositas tipe ini sulit untuk die*aluasi atau ditentukan
secara kuantitatip karena bentuknya tidak teratur.
3. (olomitisasi, dalam proses ini batugamping 8a8@
3
! di transformasikan
menjadi dolomite 8aMg8@
3
!
2
! atau menurut reaksi kimia :
28a8@
3
L Mg8l
2
8aMg8@
3
!
2
L 8a8l
2
Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas yang
lebih besar dari pada batugampingnya sendiri.
Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : ukuran
butir semakin baik distribusinya, semakin baik porositasnya!, susunan butir
susunan butir berbentuk kubus mempunyai porositas lebih baik dibandingkan
bentuk rhombohedral!, kompaksi, dan sementasi.
2.2.2.2. *etta"ilita
0pabila dua fluida bersinggungan dengan benda padat, maka salah satu
fluida akan bersifat membasahi permukaan benda padat tersebut, hal ini
disebabkan adanya gaya adhesi. %alam sistem minyak-air benda padat 6ambar
2.1<!, gaya adhesi 0
(
yang menimbulkan sifat air membasahi benda padat adalah:
0
(
Q
so
-
s$
Q
$o
. cos
$o
PPPPPPPPPPPPPP..P.2-C!
dimana :

so
Q tegangan permukaan minyak-benda padat, dyne2cm

s$
Q tegangan permukaan air-benda padat, dyne2cm

$o
Q tegangan permukaan minyak-air, dyne2cm

$o
Q sudut kontak minyak-air.
'uatu cairan dikatakan membasahi .at padat jika tegangan adhesinya
positip G 4D
o
!, yang berarti batuan bersifat $ater $et. 'edangkan bila air tidak
membasahi .at padat maka tegangan adhesinya negatip F 4D
o
!, berarti batuan
bersifat oil $et.
"ada umumnya reser*oar bersifat $ater $et, sehingga air cenderung untuk
melekat pada permukaan batuan sedangkan minyak akan terletak diantara fasa air.
/adi minyak tidak mempunyai gaya tarik-menarik dengan batuan dan akan lebih
mudah mengalir.
Ga,"ar 2.1D.
)esetimbangan 6aya-gaya pada Batas 0ir-Minyak-"adatan
2!
%istribusi cairan dalam sistem pori = pori batuan tergantung pada
kebasahan, %istribusi fluida tersebut ditunjukkan pada 6ambar 2.15!. %istribusi
pendulair ring adalah keadaan dimana fasa yang membasahi tidak kontinyu dan
fasa yang tidak membasahi ada dalam kontak dengan beberapa permukaan butiran
batuan. 'edangkan distribusi funiculair ring adalah keadaan dimana fasa yang
membasahi kontinyu dan secara mutlak terdapat pada permukaan butiran.
Ga,"ar 2.1C.
%istribusi 3deal 7asa 7luida J&ettingJ dan JEon &ettingK
untuk )ontak antar Butir = butir Batuan yang Bulat
2!
a! %istribusi J"endulair ;ingK
b! %istribusi J7uniculair ;ingK
2.2.2.1............................................................................................................... Teka
nan Ka3iler
(ekanan kapiler "
c
! didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada
antara permukaan dua fluida yang tidak tercampur cairan-cairan atau cairan-gas!
sebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan mereka.
"erbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida Jnon-
$etting fasaK "
n$
! dengan fluida J&etting fasaK "
$
! atau :
"
c
Q "
n$
- "
$
PPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP.P2-B!
(ekanan permukaan fluida yang lebih rendah terjadi pada sisi pertemuan
permukaan fluida immiscible yang cembung. %i reser*oar biasanya air sebagai
fasa yang membasahi $etting fasa!, sedangkan minyak dan gas sebagai non-
$etting fasa atau tidak membasahi.
(ekanan kapiler dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori
dan macam fluidanya. 'ecara kuantitatif dapat dinyatakan dalam hubungan
sebagai berikut
"
r
g h
c

2. .cos
. .

PPPPPPPPPPPPPPPPP.2-
>!
dimana :
"
c
Q tekanan kapiler, psi
Q tegangan permukaan antara dua fluida
cos Q sudut kontak permukaan antara dua fluida
r Q jari-jari lengkung pori-pori
Q perbedaan densitas dua fluida, lb2cuft
g Q percepatan gra*itasi
h Q tinggi kolom, ft
%ari "ersamaan 2-> dapat dilihat bah$a tekanan kapiler berhubungan
dengan ketinggian di atas permukaan air bebas oil-$ater contact!, sehingga data
tekanan kapiler dapat dinyatakan menjadi plot antara h *ersus saturasi air '
$
!,
seperti pada 6ambar 2.14!.
"erubahan ukuran pori-pori dan densitas fluida akan mempengaruhi
bentuk kur*a tekanan kapiler dan ketebalan .ona transisi.
%ari "ersamaan 2-> ditunjukkan bah$a h akan bertambah jika perbedaan
densitas fluida berkurang, sementara faktor lainnya tetap. 1al ini berarti bah$a
reser*oar gas yang terdapat kontak gas-air, perbedaan densitas fluidanya
bertambah besar sehingga akan mempunyai .ona transisi minimum. %emikian
juga untuk reser*oar minyak yang mempunyai 0"3 gra*ity rendah maka kontak
minyak-air akan mempunyai .ona transisi yang panjang.
#kuran pori-pori batuan reser*oar sering dihubungkan dengan besaran
permeabilitas yang besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan
ketebalan .ona transisinya lebih tipis dari pada reser*oar dengan permeabilitas
yang rendah.
Ga,"ar 2.1F.
)ur*a (ekanan )apiler
2!
%ari gambar diatas dapat dilihat bah$a saturasi air akan menurun dengan
naiknya tekanan kapiler, sampai pada suatu saat saturasi air konstan $alaupun
tekanan ditambah terus. )eadaan tersebut terjadi pada $aktu kondisi air mencapai
kondisi saturasi connate $ater.
2.2.2.=. Saturai 2lui!a
%alam batuan reser*oar minyak umumnya terdapat lebih dari satu macam
fluida, kemungkinan terdapat air, minyak, dan gas yang tersebar ke seluruh bagian
reser*oar.
'aturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara *olume
pori-pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan *olume pori-
pori total pada suatu batuan berpori.
Saturasi minyak (S
o
) adalah :

total pori pori !olume
yak oleh diisi yang pori pori !olume
So

min
@PPP..PPPP...
2-<!
Saturasi air (S
w
) adalah :

'
*olume pori pori yang diisi air
*olume pori pori total
$

PPPPPPPPPPP..P..2-5!
Saturasi gas (Sg) adalah :

'
*olume pori pori yang diisi oleh gas
*olume pori pori total
g

PPPPPPPPP..P.2-4!
/ika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :
'
g
L '
o
L '
$
Q 1 PPP.P..PPPPPPPPPPPPPPPP..2-1D!
/ika diisi oleh minyak dan air saja maka :
'
o
L '
$
Q 1 PPPP..PPPPPPPPPPPPPPPPPP.2-11!
(erdapat tiga faktor yang penting mengenai saturasi fluida, yaitu :
'aturasi fluida akan ber*ariasi dari satu tempat ke tempat lain dalam reser*oar,
saturasi air cenderung untuk lebih besar dalam bagian batuan yang kurang
porous. Bagian struktur reser*oar yang lebih rendah relatip akan mempunyai
'
$
yang tinggi dan '
g
yang relatip rendah. %emikian juga untuk bagian atas
dari struktur reser*oar berlaku sebaliknya. 1al ini disebabkan oleh adanya
perbedaan densitas dari masing-masing fluida ditunjukkan pada 6ambar
2.2D.!
'aturasi fluida akan ber*ariasi dengan kumulatip produksi minyak. /ika
minyak diproduksikan maka tempatnya di reser*oar akan digantikan oleh air
dan atau gas bebas, sehingga pada lapangan yang memproduksikan minyak,
saturasi fluida berubah secara kontinyu.
'aturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam istilah pori-pori
yang diisi oleh hidrokarbon. /ika *olume contoh batuan adalah ,, ruang pori-
porinya adalah .,, maka ruang pori-pori yang diisi oleh hidrokarbon adalah :
'
o
.., L '
g
.., Q 1-'
$
!.., PPPPPPPPPPPPPPPP...2-12!
Ga,"ar 2.2/.
,ariasi "
c
terhadap '
$
2!
a! #ntuk 'istem batuan yang 'ama dengan
7luida yang berbeda.
b! #ntuk 'istem 7luida yang 'ama dengan
Batuan yang Berbeda.
2.2.2... 'er,ea"ilita Batuan
"ermeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan yang menunjukkan
kemampuan dari suatu batuan untuk mengalirkan fluida. "ermeabilitas batuan
merupakan fungsi dari tingkat hubungan ruang antar pori-pori dalam batuan
%efinisi k$antitatif permeabilitas pertama-tama dikembangkan oleh 1enry %arcy
15B>! dalam hubungan empiris dengan bentuk differensial sebagai berikut :

,
k d"
d-

P...PPPPPPPPPPPPPPPPP.PPP2-13!
dimana :
, Q kecepatan aliran, cm2sec
Q *iskositas fluida yang mengalir, cp
d"2d- Q gradien tekanan dalam arah aliran, atm2cm
k Q permeabilitas media berpori, darcy
(anda negatif dalam "ersamaan 2-13 menunjukkan bah$a bila tekanan
bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya berla$anan dengan arah
pertambahan tekanan tersebut.
Beberapa anggapan yang digunakan oleh %arcy dalam "ersamaan 2-13
adalah:
1. 0lirannya mantap steady state!
2. 7luida yang mengalir satu fasa
3. ,iskositas fluida yang mengalir konstan
C. )ondisi aliran isothermal
B. 7ormasinya homogen dan arah alirannya hori.ontal
>. 7luidanya incompressible.
%alam batuan reser*oar, permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
Permeabilitas absolut, adalah permeabilitas dimana fluida yang mengalir
melalui media berpori tersebut hanya satu fasa, misal hanya minyak atau gas
saja.
Permeabilitas efektif, adalah permeabilitas batuan dimana fluida yang
mengalir lebih dari satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan gas, gas dan
minyak atau ketiga-tiganya.
Permeabilitas relatif, adalah perbandingan antara permeabilitas efektif
dengan permeabilitas absolut.
%asar penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang
dilakukan oleh 1enry %arcy. %alam percobaan ini, 1enry %arcy menggunakan
batupasir tidak kompak yang dialiri air. Batupasir silindris yang porous ini 1DDA
dijenuhi cairan dengan *iskositas , dengan luas penampang 0, dan panjanggnya
-. )emudian dengan memberikan tekanan masuk "
1
pada salah satu ujungnya
maka terjadi aliran dengan laju sebesar O, sedangkan "
2
adalah tekanan keluar.
%ari percobaan dapat ditunjukkan bah$a O..-20."
1
-"
2
! adalah konstan dan
akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang tidak tergantung dari cairan,
perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang digunakan. %engan mengatur laju O
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran turbulen, maka diperoleh harga
permeabilitas absolut batuan. %itunjukkan pada 6ambar 2.21!.
Ga,"ar 2.21.
'kema "ercobaan "engukuran "ermeabilitas
2!

)
O -
0 " "

. .
. !

1 2
PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP. 2-
1C!
'atuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah :
) darcy
O cm centipoise - cm!
0 s9cm!. " " atm!
!
2 sec!. !
!

3
1 2

PPPPPPP..2-1B!
%ari "ersamaan 2-1C dapat dikembangkan untuk berbagai kondisi aliran
yaitu aliran linier dan radial, masing-masing untuk fluida yang compressible dan
incompressible.
"ada prakteknya di reser*oar, jarang sekali terjadi aliran satu fasa,
kemungkinan terdiri dari dua fasa atau tiga fasa. #ntuk itu dikembangkan pula
konsep mengenai permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif. 1arga
permeabilitas efektif dinyatakan sebagai )
o
, )
g
, )
$
, dimana masing-masing untuk
minyak, gas, dan air. 'edangkan permeabilitas relatif dinyatakan sebagai berikut :
)
)
)
ro
o
, )
)
)
rg
g
, )
)
)
r$
$

dimana masing-masing untuk permeabilitas relatif minyak, gas, dan air. "ercobaan
yang dilakukan pada dasarnya untuk sistem satu fasa, hanya disini digunakan dua
macam fluida minyak-air! yang dialirkan bersama-sama dan dalam keadaan
kesetimbangan. -aju aliran minyak adalah O
o
dan air adalah O
$
. /adi *olume total
O
o
L O
$
! akan mengalir melalui pori-pori batuan per satuan $aktu, dengan
perbandingan minyak-air permulaan, pada aliran ini tidak akan sama dengan O
o
2
O
$
. %ari percobaan ini dapat ditentukan harga saturasi minyak '
o
! dan saturasi air
'
$
! pada kondisi stabil. 1arga permeabilitas efektip untuk minyak dan air
adalah :

)
O -
0 " "
o
o o

. .
. !

1 2
PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP2-
1>!

)
O -
0 " "
$
$ $

. .
. !

1 2
PPPPPPPPPPPPPPPPPPP...2-
1<!
dimana :
)
o
Q permeabilitas effektif minyak, m%
O
o
Q "roduksi harian, B@"%

o
Q *iskositas minyak, cp

$
Q *iskositas air, cp
"ercobaan ini diulangi untuk laju permukaan input rate! yang berbeda
untuk minyak dan air, dengan O
o
L O
$
! tetap kontan. 1arga-harga )
o
dan )
$
pada "ersamaan 2-1> dan 2-1< jika diplot terhadap '
o
dan '
$
akan diperoleh
hubungan seperti yang ditunjukkan pada 6ambar 2.22. %ari 6ambar 2.22. dapat
ditunjukkan bah$a )
o
pada '
$
Q D dan '
o
Q 1 akan sama dengan harga ) absolut,
demikian juga untuk harga ) absolutnya titik 0 dan B pada 6ambar 2.22!.
Ga,"ar 2.22.
)ur*a "ermeabilitas ?fektif untuk 'istem Minyak dan 0ir
2!
2.2.2.>. Ko,3rei"ilita Batuan
Menurut 6eerstma 14B<! terdapat tiga konsep kompressibilitas batuan,
antara lain :
*ompressibilitas matriks batuan, yaitu fraksi perubahan *olume material
padatan grains! terhadap satuan perubahan tekanan.
*ompressibilitas bulk batuan, yaitu fraksi perubahan *olume bulk batuan
terhadap satuan perubahan tekanan.
*ompressibilitas pori?pori batuan, yaitu fraksi perubahan *olume pori-pori
batuan terhadap satuan perubahan tekanan.
%iantara konsep diatas, kompressibilitas pori = pori batuan dianggap yang paling
penting dalam teknik reser*oar khususnya.
Batuan yang berada pada kedalaman tertentu akan mengalami dua macam
tekanan, antara lain :
1. (ekanan hidrostatik fluida yang terkandung dalam pori-pori batuan
2. (ekanan-luar eHternal stress! yang disebabkan oleh berat batuan yang ada
diatasnya o*erburden pressure!.
"engosongan fluida dari ruang pori-pori batuan reser*oar akan
mengakibatkan perubahan tekanan-dalam dari batuan, sehingga resultan tekanan
pada batuan akan mengalami perubahan pula. 0danya perubahan tekanan ini akan
mengakibatkan perubahan pada butir-butir batuan, pori-pori dan *olume total
bulk! batuan reser*oar. #ntuk padatan grains! akan mengalami perubahan yang
serupa apabila mendapat tekanan hidrostatik fluida yang dikandungnya.
"erubahan bentuk *olume bulk batuan dapat dinyatakan sebagai
kompressibilitas 8
r
atau :
8
,
d,
d"
r
r
r

1
.
PPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP.2-15!
'edangkan perubahan bentuk *olume pori-pori batuan dapat dinyatakan
sebagai kompressibilitas 8
p
atau :
8
,
d,
d"
p
p
p

1
.
R
PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP...2-14!
dimana :
8
p
Q kompresibilitas batuan, psi
-1
,
r
Q *olume padatan batuan grains!
,
p
Q *olume pori-pori batuan matriks!
" Q tekanan hidrostatik fluida di dalam batuan, psi
"
R
Q tekanan luar tekanan o*erburden!, psi
2.1. Karakteritik 2lui!a Reer6oar
7luida reser*oar yang terdapat dalam ruang pori-pori batuan reser*oar
pada tekanan dan temperatur tertentu, secara alamiah merupakan campuran yang
sangat kompleks dalam susunan atau komposisi kimianya. 'ifat-sifat dari fluida
hidrokarbon perlu dipelajari untuk memperkirakan cadangan akumulasi
hidrokarbon, menentukan laju aliran minyak atau gas dari reser*oar menuju dasar
sumur, mengontrol gerakan fluida dalam reser*oar dan lain-lain.
7luida reser*oar minyak dapat berupa hidrokarbon dan air air formasi!.
1idrokarbon terbentuk di alam, dapat berupa gas, .at cair ataupun .at padat.
'edangkan air formasi merupakan air yang dijumpai bersama-sama dengan
endapan minyak.
2.1.1. Ko,3oii Ki,ia 2lui!a Reer6oar
7luida reser*oar terdiri dari hidrokarbon dan air formasi. %alam
pembahasannya akan dibicarakan mengenai sifat-sifat kimia dan fisika kedua jenis
fluida reser*oar tersebut.
2.1.1.1. Ko,3oii Ki,ia )i!rokar"on
1idrokarbon adalah senya$a yang terdiri dari atom karbon dan hidrogen.
'enya$a karbon dan hidrogen mempunyai banyak *ariasi yang terdiri dari
hidrokarbon rantai terbuka, yang meliputi hidrokarbon jenuh dan tak jenuh serta
hidrokarbon rantai tertutup susunan cincin! meliputi hidrokarbon cyclic aliphatic
dan hidrokarbon aromatic. )eluarga hidrokarbon dikenal sebagai seri homolog,
anggota dari seri homolog ini mempunyai struktur kimia dan sifat-sifat fisiknya
dapat diketahui dari hubungan dengan anggota deret lain yang sifat fisiknya sudah
di ketahui 'edangkan pembagian tingkat dari seri homolog tersebut didasarkan
pada jumlah atom karbon pada struktur kimianya.
2.1.1.1.1. Golongan )i!rokar"on @enuh
'eri homolog dari hidrokarbon ini mempunyai rumus umum 8
n
1
2nL1
dan
mempunyai ciri dimana atom-atom karbon diatur menurut rantai terbuka dan
masing-masing atom dihubungkan oleh ikatan tunggal, dimana tiap-tiap *alensi
dari satu atom 8 berhubungan dengan atom 8 disebelahnya. 'eri homolog
hidrokarbon ini biasanya dikenal dengan nama alkana 3nggris : alkene! dimana
penamaan anggota seri homolog ini disesuaikan dengan jumlah atom karbon
dalam sebutan +unani dan diakhiri dengan akhiran JanaK 3nggris : JaneK!.
'enya$a dari golongan ini alkana! disebut juga sebagai hidrokarbon golongan
paraffin. (abel 33-1C! menunjukkan contoh-contoh nama-nama anggota alkana
sesuai dengan jumlah atom karbonnya.
Ta"el II#1=.
0lkana 8
n
1
2nL2
!
13!

No. Kar"on& n Na,a
1 Methane
2 Etahne
1 'ro3ane
= Butane
. 'entane
> )e%ane
D )e3tane
C O(tane
F Nonane
1/ De(ane
2/ Ei(oane
1/ Tria(ontane
"ada tekanan dan temperatur normal empat alkana yang pertama
merupakan gas. 'ebagai hasil meningkatnya titik didih boiling point! karena
penambahan jumlah atom karbon maka mulai pentana 8
B
1
12
! sampai hepta
dekana 8
1<
1
3>
! merupakan cairan. 'edangkan alkana yang mengandung 15 atom
karbon atau lebih merupakan padatan solid!. 0lkana dengan rantai bercabang
memperlihatkan gradasi sifat-sifat fisik yang berlainan dengan n-alkana, dimana
untuk rantai bercabang memperlihatkan sifat-sifat fisik yang kurang beraturan.
"erubahan dalam struktur menyebabkan perubahan didalam gaya antar molekul
inter molekuler force! yang menghasilkan perbedaan pada titik lebur dan titik
didih diantara isomer-isomer alkana.
'eri n-alkana yang diberikan pada (abel 33-1B memperlihatkan gradasi
sifat-sifat fisik yang tidak begitu tajam.
Ta"el II#1..
'ifat = sifat 7isik n-0lkana
13!
N Na,e Boiling 'oint
o
2
Melting 'oint
o
2
S3e(i<i( Gra6itA
>/
o
B>/
o
2
1 Methane #2.C.D #2F>.>
2 Ethane #12D.. #2FD.F
1 'ro3ane #=1.D #1/..C /../C
= Butane 11.1 #21D./ /..C=
. 'entane F>.F #2/1.. /.>11
> )e%ane 1...D #11F.> /.>>=
D )e3tane 2/F.2 #111.1 /.>CC
C O(tane 2.C.2 #D/.2 /.D/D
F Nonane 1/1.= #>=.1 /.D22
1/ De(ane 1=... #21.= /.D1=
11 :n!e(ane 1C=.> #1. /.D=/
12 Do!e(ane =21.1 1= /.D=F
1. 'enta!e(ane .1F.1 ./ /.D>F
2/ Ei(oane >=C.F FF
1/ Tria(ontane C1... 1.1
2.1.1.1.2. Golongan )i!rokar"on Tak @enuh
1idrokarbon ada yang mempunyai ikatan rangkap dua ataupun rangkap
tiga triple!, yang digunakan untuk mengikat dua atom 8 yang berdekatan. @leh
karena itu, *alensi yang semula tersedia untuk mengikat atom hidrokarbon telah
digunakan untuk mengikat atom 8 yang berdekatan, dengan cara ikatan rangkap
dua atau rangkap tiga yang mengikat dua atom 8, maka hidrokarbon seperti ini
disebut hidrokarbon tak jenuh atau disebut juga sebagai keluarga alkena 3nggris :
alkene! dengan rumus umum 8
n
1
2n
%alam keadaan yang menguntungkan, hidrokarbon tak jenuh dapat
menjadi jenuh dengan penambahan atom-atom hidrokarbon pada rantai ikatan
tersebut.
'ecara garis besar, sifat-sifat fisik alkena sama seperti sifat-sifat fisik
alkana, sebagai bahan perbandingan sifat-sifat fisik alkena, dapat dilihat pada
(abel 33-1>!. 'ebagaimana pada alkana, maka untuk alkena terjadi juga
peningkatan titik didih dengan bertambahnya kandungan atom karbon, dimana
peningkatannya mendekati 2D - 3D
o
8 untuk setiap penambahan atom karbon.
'ecara kimia$i, karena alkena merupakan ikatan rangkap, maka alkena
lebih reaktip bila dibandingkan dengan alkana. 'enya$a hidrokarbon tak jenuh
yang telah dijelaskan diatas hanya mempunyai satu ikatan rangkap yang lebih
dikenal dengan deretan olefin, tetapi ada juga diantara senya$a-senya$a
hidrokarbon yang mengandung dua atau lebih ikatan ganda double bond!, seperti
alkadiena, alkatriena, serta alkatetraena.
Ta"el II#1>.
'ifat-sifat 7isik 0lkena
13!


Na,e 2or,ula Boiling
'oint&
o
2
Melting
'oint&
o
2
S3e(i<i(
Gra6itA&
>/
o
B>/
o
2
EthAlene $)2 H$)2 #1.=.> #2D2..
'ro3Alene $)2H$)$)1 #.1.F #1/1.=
1#"utene $)2H$) $)2$)1 2/.D #1/1.> /.>/1
1#3entene $)2H$)9$)2;2$)1 C> #2>..= /.>=>
1#he%ene $)2H$)9$)2;1$)1 1=> #21> /.>D.
1#he3tene $)2H$)9$)2;=$)1 1FF #1C2 /.>FC
1#o(tene $)2H$)9$)2;.$)1 2.2 #1.. /.D1>
1#nonene $)2H$)9$)2;>$)1 2F. /.D11
1#!e(ene $)2H$)9$)2;D$)1 1=/ /.D=1
'elain ikatan ganda, senya$a hidrokarbon tak jenuh ada juga yang
mempunyai ikatan rangkap tiga triple bond! yang dikenal sebagai deretan
asetilen. ;umus umum deretan asetilen adalah 8
n
1
2n-2
, dimana dalam tiap molekul
terdapat ikatan rangkap tiga yang mengikat dua atom karbon yang berdekatan.
"emberian nama untuk deret ini sama dengan untuk deret alkena dengan memberi
akhiran JunaK 3nggris : JyneK!.
'ifat-sifat fisik deret asetilen ini hampir sama dengan alkana dan alkena,
sedang sifat-sifat kimianya hampir sama dengan alkena, dimana keduanya lebih
reaktip dari alkana.
2.1.1.1.1. )i!rokar"on $A(lik Ali3hati(
'enya$a golongan ini merupakan senya$a hidrokarbon, dimana susunan
atom karbonnya berbentuk cincin. 6olongan ini termasuk hidrokarbon jenuh
tetapi rantai karbonnya merupakan rantai tertutup. +ang umum dari golongan ini
adalah sikloalkana atau dikenal juga sebagai naftena, sikloparafin atau
hidrokarbon alisiklik. %isebut sikloparafin karena sifat-sifatnya mirip dengan
parafin sebagaimana terlihat pada (abel 33-1<!. 0pabila dalam keadaan tidak
mengikat gugus lain, maka rumus golongan naftena atau sikloparafin ini adalah
8
n
1
2n
. ;umus ini sama dengan rumus untuk seri alkena, tetapi sifat fisik keduanya
jauh berbeda karena strukturnya yang sangat berbeda.
Ta"el II#1D.
'ifat-sifat 7isik 1idrokarbon Eaftena

0romat yang "olisiklis
13!
Na,e Boiling
'oint&
o
2
Melting
'oint&
o
2
S3e(i<i(
Gra6itA&
>/
o
B>/
o
2
$A(lo3ro3ane #2D #1FD
$A(lo"utane .. #112
$A(lo3entane 121 #11D /.D./
$A(lohe%ane 1DD == /.DC1
$A(lohe3tane 2== 1/ /.C1/
$A(loo(tane 1// .D /.C1/
MetAl(A(lo3entane 1>1 #22= /.D.=
$i#1& 2#!i,ethAl(A(lo3entane 21/ #C/ /.DD2
Tran#1& 2#
!i,ethAl(A(lo3entane
1FC #1C= /.D./
MethAl(A(lohe%ane 21= #1F> /.DD=
$A(lo3entene 11. #11. /.DD=
1& 1#(A(lo3enta!iene 1/C #121 /.DFC
$A(lohe%ene 1C1 #1.. /.C1/
1&1#(A(lohe%a!iene 1DD #1== /.C=/
1&=#(A(lohe%a!iene 1CF #.> /.C=D
2.1.1.1.=. Golongan Aro,atik
"ada deret ini hanya terdiri dari ben.ena dan senya$a-senya$a
hidrokarbon lainnya yang mengandung ben.ena. ;umus umum dari golongan ini
adalah 8
n
1
2n->
, dimana cincin ben.ena merupakan bentuk segi enam dengan tiga
ikatan tunggal dan tiga ikatan rangkap dua secara berselang-seling.
0danya tiga ikatan rangkap pada cincin ben.ena seolah-olah memberi
petunjuk bah$a golongan ini sangat reaktif. (etapi pada kenyataannya tidaklah
demikian, $alaupun golongan ini tidak sestabil golongan parafin. /adi deretan
ben.ena tidak menunjukkan sifat reaktip yang tinggi seperti olefin. 'ecara
sederhana dapat dikatakan bah$a sifat ben.ena ini pertengahan antara golongan
parafin dan olefin. 3katan-ikatan dari deret hidrokarbon aromatik terdapat dalam
minyak mentah yang merupakan sumber utamanya.
"ada suatu suhu dan tekanan standard, hidrokarbon aromatik ini dapat
berada dalam bentuk cairan atau padatan. Ben.ena merupakan .at cair yang tidak
ber$arna dan mendidih pada temperatur 1<>
o
7. Eama hidrokarbon aromatik
diberikan karena anggota deret ini banyak yang memberikan bau harum.
2.1.1.2. Ko,3oii Ki,ia Air 2or,ai
0ir formasi mempunyai komposisi kimia yang berbeda-beda antara
reser*oar yang satu dengan yang lainnya. @leh karena itu analisa kimia pada air
formasi perlu sekali dilakukan untuk menentukan jenis dan sifat-sifatnya.
%ibandingkan dengan air laut, maka air formasi ini rata-rata memiliki kadar
garam yang lebih tinggi. 'ehingga studi mengenai ion-ion air formasi dan sifat-
sifat fisiknya ini menjadi penting artinya karena kedua hal tersebut sangat
berhubungan dengan terjadinya plugging penyumbat! pada formasi dan korosi
pada peralatan di ba$ah dan di atas permukaan.
0ir formasi tersebut terdiri dari bahan-bahan mineral, misalnya kombinasi
metal-metal alkali dan alkali tanah, belerang, oksida besi, dan aluminium serta
bahan-bahan organis seperti asam nafta dan asam gemuk. 'edangkan komposisi
ion-ion penyusun air formasi seperti terlihat pada (abel 33-15! terdiri dari kation-
kation 8a, Mg, 7e, Ba, dan anion-anion chlorida, 8@
3
, 18@
3
, dan '@
C
.
0ir formasi mempunyai kation-kation dan anion-anion dengan jumlah
tertentu yang biasanya dinyatakan dalam satuan part per million ppm! seperti
yang ditunjukkan pada (abel 33-15!. )ation-kation air formasi antara lain adalah :
8alcium 8a
LL
!, Magnesium Mg
LL
!, Eatrium Ea
L
!, 7errum 7e
L
!, dan Barium
Ba
LL
!. 'edangkan yang termasuk anion-anion air formasi adalah 8hloride 8l
-
!,
8arbonate 8@
3
! dan Bicarbonate 18@
3
!, serta 'ulfat '@
C
!.
Ta"el II#1C.
)omposisi )imia 0ir 7ormasi
13!


$o,3oition Ion
$onnate *ater
2ro, 4ell I 21
Sto6er 2aria&
M(Kean $ountrA&
'a.
'art 3er ,illion
Sea *ater
'art 3er ,illion
$a88 11&2>/ =2/
Mg88 1&F=/ 1&1//
Na8 11&F./ 1/&D1/
K8 >./ JJJJ.
SO=
#
D1/ 2&D//
$l DD&1=/ 1F&=1/
Br
#
12/ JJJJ.
I
#
1/ JJJJ.
Total 12>&2// 1=&.=/
2.1.2. Si<at 2iik 2lui!a Reer6oar
Beberapa sifat fisik fluida yang perlu diketahui adalah : berat jenis,
*iskositas, faktor *olume formasi, dan kompresibilitas.
2.1.2.1. Si<at 2iik Ga
6as merupakan suatu fluida yang homogen dengan densitas dan *iskositas
rendah serta tidak tergantung pada bentuk tempat yang ditempatinya, sehingga
dapat mengisi semua ruangan yang ada. Berdasarkan jenisnya, gas dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1. 6as ideal, adalah fluida dimana :
Mempunyai molekul yang dapat diabaikan bila dibandingkan dengan
*olume fluida keseluruhan.
(idak mempunyai tenaga tarik-menarik maupun tolak-menolak antar
molekul-molekulnya atau antara molekul-molekul dengan dinding
$adahnya.
(umbukan antar molekul-molekulnya bersifat lenting sempurna, sehingga
tidak terjadi kehilangan tenaga akibat tumbukan tersebut.
"ersamaan untuk gas ideal adalah sebagai berikut :
R7
M
m
nR7 P#
PPPPPPPPPPPPPPPPPP 2-2D!
%imana :
" Q tekanan, psi
, Q *olume, 8uft
( Q temperatur,
o
;
n Q jumlah mol gas, lb-mol
m Q berat gas, lb
M Q berat molekul gas, lb2lb-mol
; Q konstanta gas, psi-8uft2lb-mol
o
;!.
)onstanta gas ;! memiliki harga berlainan, tergantung satuan yang
digunakan. (abel 33-14. menunjukkan harga ; untuk beberapa unit satuan.
2. 6as nyata, adalah gas yang tidak mengikuti hukum-hukum gas ideal.
"ersamaan untuk gas nyata adalah sebagai berikut :
AR7
M
m
nAR7 P#
PPPPPPPPPPPPPPPPP 2-21!
keterangan :
S Q faktor kompressibilitas gas.
1arga S untuk gas ideal adalah satu. 'edangkan untuk gas nyata, harga S
ber*ariasi tergantung dari tekanan dan temperatur yang bekerja.
#ntuk suatu gas tertentu yang belum diketahui harga S-nya, dapat dicari
berdasarkan hukum corresponding state yang berbunyi, pada suatu tekanan dan
temperatur tereduksi yang sama, maka semua hidrokarbon mempunyai harga S
yang sama. (ekanan dan temperatur tereduksi untuk gas murni dapat dinyatakan
dengan persamaan sebagai berikut :
P
P
P
r
c

, dan
7
7
7
r
c

PPPPPPPPPPPPPPPPPP 2-
22!
%imana :
"
r
Q tekanan tereduksi gas murni
(
r
Q temperatur tereduksi gas murni
" Q tekanan reser*oir, psi
( Q temperatur reser*oir,
o
;
"
c
Q tekanan kritik gas murni, psi
(
c
Q temperatur kritik gas murni,
o
;.
Ta"el II#1F.
Berbagai 1arga ; #ntuk Beberapa #nit 'atuan
D4
:nit R
atm, cc2g-mole,
o
). PPPP... DD52.D>DDDD
atm, liter2g-mole,
o
). PPPP DDDD.D52D>D
B(#2lb-mole,
o
;. PPPPP.. DDD1.45<DDD
psia, cu ft2lb-mole,
o
;. PPP.. DD1D.<3DDDD
lb2s9 ft abs, cu ft2lb-mole,
o
;. P 1BCC.DDDDDD
atm, cu ft2lb-mole,
o
;. PPP.. DDDD.<3DDDD
k$h2lb-mole,
o
). PPPPP.. DDDD.DD1DC4
hp-hr2lb-mole,
o
;. PPPPP. DDDD.DDD<5D
atm, cu ft2lb-mole,
o
). PPP... DDD1.31CBDD
mm 1g, liters2g-mole,
o
). PP. DD>2.3<DDDD
in. 1g, cu ft2lb-mole,
o
;. PP.. DD21.5BDDDD
cal2g-mole,
o
). PPPPPP. DDD1.45<DDD
atm, cu ft2lb-mole,
o
). PPP... DDD1.31CDDD
1arga "
c
dan (
c
untuk masing-masing gas murni ditentukan dari (abel 33-2D.
)emudian dengan menggunakan grafik yang sesuai dengan jenis gasnya, maka akan
diperoleh harga S.
#ntuk suatu gas campuran yang terdapat senya$a impurities E
2
, 8@
2
,
1
2
'!, maka dalam penentuan harga S terlebih dahulu harus diketahui komposisi
campurannya. )emudian harga " dan ( kritik gas campuran ditentukan dengan
persamaan berikut :
( )
i
c i pc
P B P
, dan
( )
i
c i pc
7 B 7
PPPPPPPPPPPPP.. 2-
23!
%imana :
"
pc
Q tekanan kritik gas campuran, psi
"
ci
Q tekanan komponen ke-i, psi
(
pc
Q temperatur kritik gas campuran,
o
;
(
ci
Q temperatur komponen ke-i,
o
;
+
i
Q fraksi mol komponen ke-i.
'edangkan " dan ( tereduksi untuk gas campuran dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan berikut :
P
P
P
pr
pc

, dan
7
7
7
pr
pc

PPPPPPPPPPPPPPPPP2-
2C!
%imana :
"
pr
Q tekanan tereduksi untuk gas campuran
(
pr
Q temperatur tereduksi untuk gas campuran
Ta"el II#2/.
)onstanta 7isik Beberapa /enis 1idrokarbon "embentuk 6as 0lam
DC
$o,3oun! $he,i(al
$o,3oition
SA,"ol
9<or $al(ulation;
Mole(ular
*eight
$riti(al
'reure& 3i
$riti(al
Te,3eratue&
o
R
Methane $)= $1 /1>./= />D1 /1==
Ethane $2)> $2 /1/./D /D/F /../
'ro3ane $1)C $1 /==./F />1C />>>
Io#Butane $=)1/ i#$= /.C.12 /.1/ /D11
n#Butane $=)1/ n#$= /.C.12 /..1 /D>>
Io#'entane $.)12 i#$. /D2.1. /=C2 /C1/
n#'entane $.)12 n#$. /D2.1. /=C. /C=D
n#)e%ane $>)1= n#$> /C>.1D /=1= /F1.
n#)e3tane $D)1> n#$D 1//.2/ /1FD /FD1
n#O(tane $C)1C n#$C 11=.2/ /1>1 1/2=
Nitrogen N2 N2 /2C./2 /=F2 /22D
$ar"on
!io%i!e
$O2 $O2 /==./1 1/D2 /.=C
)A!rogen
Sul<i!e
)2S )2S /1=./C 11/> />D1
2.1.2.1.1. Vikoita Ga
,iskositas gas akan naik dengan bertambahnya suhu, dalam hal ini tabiat
gas akan berlainan dengan cairan, untuk gas sempurna *iskositasnya tidak
tergantung dari tekanan. 6as sempurna berubah menjadi gas tidak sempurna bila
tekanannya dinaikkan dan tabiatnya mendekati tabiat .at cair.
'alah satu cara untuk menentukan *iskositas gas yaitu dengan korelasi
grafis 8arr et al!, dimana cara ini untuk menentukan *iskositas gas campuran
pada sembarang tekanan maupun suhu dengan memperhatikan adanya gas-gas
ikutan, seperti 1
2
', 8@
2
, dan E
2
. 0danya gas-gas non-hidrokarbon tersebut akan
memperbesar *iskositas gas campuran.

Ga,"ar 2.21.
,iscositas 6as pada (ekanan 0tmosphire
13!
2.1.2.1.2. Denita Ga
%ensitas didefinisikan sebagai massa tiap satuan *olume dan dalam hal ini
massa dapat diganti oleh berat gas, m!. 'esuai dengan persamaan gas ideal, maka
rumus densitas untuk gas ideal adalah :

g
m
,
"M
;(

PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP...2-2B!
dimana :
m Q berat gas, lb
, Q *olume gas, cuft
M Q berat molekul gas, lb2lb mole
" Q tekanan reser*oir, psia
( Q temperatur,
o
;
; Q konstanta gas Q 1D.<3 psia cuft2lbmole
o
;
;umus di atas hanya berlaku untuk gas berkomponen tunggal. 'edangkan
untuk gas campuran digunakan rumus sebagai berikut :

g
a
"M
. ;(

PPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP.2-2>!
dimana :
. Q faktor kompresibilitas gas
M
a
Q berat molekul tampak Q y
i
M
i
y
i
Q fraksi mol komponen ke-i dalam suatu campuran gas
M
i
Q berat molekul untuk komponen ke-i dalam suatu campuran gas.
2.1.2.1.1. 2aktor Volu,e 2or,ai Ga
7aktor *olume formasi gas adalah perbandingan *olume dari sejumlah gas
pada kondisi reser*oar dengan kondisi standar, dapat dituliskan :
B
,
,
g
res
sc

PPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP2-2<!
atau

,
_

scf
ft cu
P
7 <
B
g
.
D252 . D
PPPPP..PPPPPPPPPPPP
2-25!
2.1.2.1.=. Ko,3rei"ilita Ga
)ompressibilitas gas didefinisikan sebagai fraksi perubahan *olume per
unit perubahan tekanan, atau dapat dinyatakan dengan persamaan :
8
g ,
d,
d"

1
!
P.PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP2-24!
2.1.2.1... 2aktor De6iai
%engan diketahuinya harga "
pc
dan (
pc
, maka harga "
r
dan (
r
dapat
dihitung. #ntuk menentukan harga . de*iation faktor!, )at. dan 'tanding telah
membuat korelasi berupa grafik :
. Q f"
r
,(
r
! dapat dilihat pada 6ambar 2.2C!
2.1.2.2. Si<at 2iik MinAak
2.1.2.2.1. Vikoita MinAak
,iskositas minyak adalah suatu ukuran tentang besarnya keengganan
minyak untuk mengalir.
,iskositas dinyatakan dengan persamaan :

dy
d!
$ 9 2

P.PPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP.2-3D!
dimana :
Q *iskositas, gr2cm.sec!
7 Q shear stress
0 Q luas bidang paralel terhadap aliran, cm
2
d*
dy
Q
gradient kecepatan, cm2sec.cm!.
,iskositas minyak dipengaruhi oleh ", (, dan ;
s
. 1ubungan antara
*iskositas minyak
o
! terhadap " dan ( dapat dilihat pada 6ambar 2.2B!.

Ga,"ar 2.2=.
)oreksi 1arga . de*iation faktor! )at. dan 'tanding
13!
Ga,"ar 2.2..
"engaruh ,iscositas Minyak terhadap berbagai (ekanan
1C!
2.1.2.2.2. Denita MinAak
%ensitas adalah perbandingan berat masa suatu substansi dengan unit dari
*olume tersebut. 8ara penentuan diantaranya dengan mencari hubungan antara
densitas minyak dengan pengaruh 6@; dikembangkan oleh )at.!. %engan cara
ini ketelitian berbeda 3 A dari hasil percobaan.
1ubungan tersebut dapat dituliskan :
Bo
Rs
g sc
o
! D<>C , D ! C , >2

+
PPPPPP...PPPPPPPPP..
2-31!
dimana :

o
Q densitas minyak, lbm2cuft

sc
Q
$PI
o
+ B , 131
B , 1C1
.PPPP.PPPPPPPPPPPPPP2-
32!
'pesific gra*ity gas yang terlarut dalam minyak ini dapat dicari
hubungan ;
s
6ambar 2.2>!.
Ga,"ar 2.2>.
6rafik "enentuan 6ra*ity 6as bila diketahui ;s dan
D
0"3
4!
Bila harga kelarutan gas dan komposisi gas diketahui, maka untuk menghitung
D
dapat digunakan korelasi 'tanding, yaitu mengoreksi adanya 81
C
8
2
1
>
yang
masih berupa gas 6ambar 2.2<!.
Ga,"ar 2.2D.
)oreksi 6ra*ity 6as (erhadap 81
C
dan 8
2
1
>
yang Masih Berupa 6as
<!
2.1.2.2.1. 2aktor Volu,e 2or,ai MinAak
7aktor *olume formasi minyak adalah perbandingan relatip antara *olume
minyak a$al kondisi reser*oar! terhadap *olume minyak akhir kondisi tangki
pengumpul!, bila diba$a ke keadaan standart.
'tanding melakukan perhitungan Bo secara empiris :
Bo Q D.4<2 L D.DDD1C<.7
1.1<B
PPPPPPPPPPPPPPP2-33!
7 ; (
s
g
o

_
,
+ . .

12B PPPPPPPPPPPPPPPPPP..2-3C!
dimana :
;
s
Q kelarutan gas dalam minyak, scf2stb

o
Q specific gra*ity minyak, lb2cuft

g
Q specific gra*ity gas, lb2cuft
( Q temperatur,
o
7.
1arga B
o
dipengaruhi oleh tekanan, dimana :
(ekanan diba$ah "
b
" G "
b
!, B
o
akan turun akibat sebagaian gas terbebaskan.
(ekanan diantara "
i
dan "
b
"
b
G " G "
i
!, B
o
akan naik sebagai akibat terjadinya
pengembangan gas.
6rafik hubungan Bo terhadap tekanan dapat dilihat pada 6ambar 2.25.!
Ga,"ar 2.2C.
Bo 'ebagai 7ungsi (ekanan
<!
2.1.2.2.=. Ko,3rei"ilita MinAak
)ompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan *olume minyak
akibat adanya perubahan tekanan, secara matematis dapat dituliskan sebagai
berikut:
( ) 8
o ,
d,
d"

1
PPPP.PPPPPPPPPPPPPPPPP2-3B!
"ersamaan 2-3D dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami,
sesuai dengan aplikasi di lapangan, yaitu :
( )
8
B B
B " "
o
ob oi
oi i b

PPPPPPPPPPPPPPPPPPP.2-3>!
dimana :
B
ob
Q faktor *olume formasi pada tekanan bubble point
B
oi
Q faktor *olume formasi pada tekanan reser*oar
"
i
Q tekanan reser*oar
"
b
Q tekanan bubble point.
2.1.2.2... Kelarutan Ga !ala, MinAak
)elarutan gas ;
s
! adalah banyaknya *olume gas yang terbebaskan pada
kondisi standart! dari suatu minyak mentah di dalam reser*oar, yang di
permukaan *olumenya sebesar satu stock tank barrel ditunjukkan pada 6ambar
2.24!.
7aktor yang mempengaruhi ;
s
adalah :
(ekanan, pada suhu tetap, kelarutan gas dalam sejumlah .at cair tertentu
berbanding lurus dengan tekanan .
)omposisi minyak dalam gas, kelarutan gas dalam minyak semakin besar
dengan menurunnya specific gra*ity minyak.
(emperatur, ;
s
akan berkurang dengan naiknya temperatur.

Ga,"ar 2.2F.
;s 'ebagai 7ungsi (ekanan
<!
2.1.2.1. Si<at 2iik Air 2or,ai
2.1.2.1.1. Vikoita Air 2or,ai
,iskositas air formasi
$
! akan naik terhadap turunnya temperatur dan
terhadap kenaikkan tekanan seperti terlihat pada 6ambar 2.3D!. yang merupakan
hubungan antara kekentalan air formasi terhadap tekanan dan temperatur.
)egunaan mengetahui perilaku kekentalan air formasi pada kondisi reser*oar
terutama untuk mengontrol gerakan air formasi di dalam reser*oar.
2.1.2.1.2. Denita Air 2or,ai
%ensitas air formasi brine! pada kondisi standart yang merupakan fungsi
total padatan. Berat jenis formasi
$
! pada reser*oar dapat ditentukan dengan
membagi
$
pada kondisi standart dengan faktor *olume formasi B
$
! dan
perhitungan itu dapat dilakukan bila air formasi jenuh terhadap gas alam pada
kondisi reser*oar.
Ga,"ar 2.1/.
,iscositas 0ir 7ormasi 'ebagai 7ungsi (emperatur
13!
2.1.2.1.1. 2aktor Volu,e Air 2or,ai
7aktor *olume air formasi B
$
! menunjukkan perubahan *olume air
formasi dari kondisi reser*oar ke kondisi permukaan. 7aktor *olume air formasi
ini dipengaruhi oleh pembebasan gas dan air dengan turunnya tekanan,
pengembangan air dengan turunnya tekanan dan penyusutan air dengan turunnya
suhu. 6ambar 2.31!. menunjukkan hubungan faktor *olume air formasi dengan
tekanan.
7aktor *olume air formasi bisa ditentukan dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
B
$
Q 1 L ,
$p
!1 L ,
$t
! PPPPPPPPPPPPPPPP.2-3<!
dimana :
,
$t
Q penurunan *olume sebagai akibat penurunan suhu, faktor ini ditentukan
dengan menggunakan 6ambar 2.33!.
,
$p
Q penurunan *olume selama penurunan tekanan, faktor ini ditentukan
dengan menggunakan 6ambar 2.3C!.
Ga,"ar 2.12.
(ipe 7aktor ,olume 0ir 7ormasi 'ebagai 7ungsi (ekanan
13!
Ga,"ar 2.11.
,$t 'ebagai fungsi 'uhu ;eser*oar
1C!
Ga,"ar 2.1=.
,$p 'ebagai 7ungsi (ekanan ;eser*oar
13!
7aktor *olume air formasi meningkat, hal ini disebabkan oleh
pengembangan air formasi pada tekanan diba$ah tekanan jenuh, gas keluar dari
larutan tetapi karena rendahnya kelarutan gas dalam air formasi, maka penyusutan
fasa cair relatip kecil. %an biasanya penyusutan ini tidak cukup untuk
mengimbangi pengembangan air formasi pada penurunan tekanan, sehingga faktor
*olume air formasi terus meningkat diba$ah tekanan jenuh.
2.1.2.1.=. Ko,3rei"ilita Air 2or,ai
)ompresibilitas air murni tergantung pada suhu, tekanan, dan kelarutan
gas dalam air. )ompresibilitas air murni tanpa adanya gas terlarut didalamnya
ditunjukkan pada 6ambar 2.3B!.
)ompresibilitas air murni pada suhu konstan dinyatakan dalam persamaan
berikut
8
,
"
$p ,

_
,

PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP2-35!
dimana :
8
$p
Q kompressibilitas air murni, psi
-1
.
, Q *olume air murni, bbl
, Q perubahan *olume air murni, bbl
" Q perubahan tekanan, psi.
'elain itu kompresibilitas air formasi dapat ditentukan dengan persamaan :
8
$
Q 8
$p
1 L D.DD55 ;
s$
! PPPPPPPPPPPPPPPP..2-34!
dimana :
;
s$
Q kelarutan gas dalam air formasi
8
$p
Q kompressibilitas air murni, psi
-1
8
$
Q kompressibilitas air formasi, psi
-1
Ga,"ar 2.1..
)ompresibilitas 0ir 7ormasi 'ebagai 7ungsi (ekanan dan (emperatur
13!
Ga,"ar 2.1>.
7aktor )oreksi (erhadap 6as yang (erlarut
13!
2.1.2.1... Kelarutan Ga !ala, Air 2or,ai
)elarutan gas dalam air formasi akan lebih kecil bila dibandingkan dengan
kelarutan gas dalam minyak di reser*oar pada tekanan dan temperatur yang sama.
"ada temperatur tetap, kelarutan gas dalam air formasi akan naik dengan naiknya
tekanan. 'edangkan pada tekanan tetap, kelarutan gas dalam air formasi mula-
mula menurun sampai harga minimum kemudian naik lagi terhadap naiknya suhu,
dan kelarutan gas dalam air formasi akan berkurang dengan bertambahnya kadar
garam 6ambar 2.3<!. %engan demikian kelarutan gas dalam air formasi juga
dipengaruhi
oleh kadar garaman air formasi, maka harga kelarutan gas dalam air formasi perlu
dikoreksi, seperti yang ditunjukkan pada 6ambar 2.35!.
Ga,"ar 2.1D.
)elarutan 6as dalam 0ir 7ormasi 'ebagai

7ungsi (emperatur dan (ekanan
13!

Ga,"ar 2.1C.
)oreksi terhadap )egaraman untuk )elarutan 6as

dalam 0ir 7ormasi
13!

2.=. Kon!ii Reer6oar
(ekanan dan temperatur merupakan besaran-besaran yang sangat penting
dan berpengaruh terhadap keadaan reser*oar, baik pada batuan maupun fluidanya
air, minyak, dan gas!. (ekanan dan temperatur lapisan kulit bumi dipengaruhi
oleh adanya gradient kedalaman, letak dari lapisan, serta kandungan fluidanya.
2.=.1. Tekanan Reer6oar
(ekanan reser*oar dapat terjadi oleh salah satu atau kedua sebab-sebab
berikut:
(ekanan hidrostatik, yang disebabkan oleh fluida terutama air! yang mengisi
pori-pori batuan diatasnya.
(ekanan o*erburden, yang disebabkan oleh berat batuan diatasnya serta
kandungan fluidanya.
"ada prinsipnya tekanan reser*oar adalah ber*ariasi terhadap kedalaman.
1ubungan antara tekanan dengan kedalaman ini disebut dengan gradient tekanan.
6radient tekanan hidrostatik air murni adalah D.C33 psi2ft, sedangkan untuk air
asin berkisar antara D.C>B psi2ft. "enyimpangan dari harga tersebut dianggap
sebagai tekanan abnormal. 6radient tekanan o*erburden adalah 1 psi2ft
'etelah akumulasi hidrokarbon didapat, maka salah satu test yang harus
dilakukan adalah test untuk menentukan tekanan reser*oar, yaitu tekanan a$al
reser*oar, tekanan statik sumur, tekanan alir dasar sumur, dan gradient tekanan
reser*oar. %ata tekanan tersebut akan berguna didalam menentukan produkti*itas
formasi produktif serta metode produksi yang akan digunakan, sehingga dapat
diperoleh reco*ery hidrokarbon yang optimum tanpa mengakibatkan kerusakan
formasi.
(ekanan a$al reser*oar adalah tekanan reser*oar pada saat pertama kali
diketemukan. (ekanan dasar sumur pada sumur yang sedang berproduksi disebut
tekanan aliran flo$ing! sumur. )emudian jika sumur tersebut ditutup maka
selang $aktu tertentu akan didapat tekanan statik sumur.
%alam pembentukan tekanan yang terdapat dalam permukaan bumi, maka
terdapat tiga factor yang saling mempengaruhi. )etiga faktor itu adalah :
- beban batuan diatas suatu titik pengamatan
- kekuatan rangka batuan
- fluida yang mengisi pori-pori dalam batuan
2.=.1.1. Tekanan o6er"ur!en
(ekanan o*erburden disebut juga sebagai tekanan geostatic, yaitu tekanan
yang disebabkan oleh berat batuan diatasnya. 'ecara sistematik tekanan
o*eburden, untuk setiap kedalaman dinyatakan sebagai :
Berat sedimen L berat fluida
"o Q PP...PPPPPP 2-CD!
-uas
Berat sedimen Q 1 - !.%.0.
ma
PPPPPPP...PPPP. 2-C1!
Berat fluida Q .%.0.
f
PPPPPPPPPPPPPPP 2-C2!
%imana :
"o Q tekanan o*erburdeb, psi
% Q kedalaman, ft

ma
Q berat jenis matrik tanpa fluida, lb2cuft

f
Q berat jenis fluida dalam batuan, lb2cuft
kombinasi dari persamaan ketiga persamaan diatas :
1 - !.%.0.
ma
L .%.0.
f
"o Q
0
"o Q 1 - !.%.
ma
L %.0.
f

"o Q %T 1 - !.
ma
L .
f
.PPPPPPPPPPP 2-C3!
"ada cekungan sedimen umumnya tekanan o*erburden berbanding lurus
dengan kedalaman.
2.=.1.2. Tekanan <or,ai
(ekanan formasi adalah tekanan yang diberikan pengisi rongga batuan
reser*oir berupa air, miyak dan gas. (ekanan pori fluida batuan dipengaruhi oleh
gradien tekanan hidrostatik suatu kolom fluida didalam formasi. 6radien tekanan
hidrostatik dapat ditentukan dari tekanan hidrostatik, berat dan ketinggian *ertical
suatu kolom fluida dalam formasi. Bentuk dan ukuran besar kolom fluida tidak
berpengaruh terhadap besarnya tekanan hidrostatik.
Besarnya tekanan formasi tergantung pada jenis fluida dan kedalamnnya,
makin besar massa jenis dan kedalaman maka makin besar pula formasinya. "ada
gambar memebrikan keterangan bah$a tekanan hidrostatik fluida didalam
tabung hanya tergantung pada besarnya berat jenis fluida 12 ppg! dan ketinggian
BDDD ft!. Bagaimanapun bentuk tabung, beasrnya tekanan hidrostatik sama yaitu
sebesar 311C psi.
'ecara matematis tekanan hidrostatis dapat dinyatakan
Berat cairan
"h Q
-uas
Q h H 0 H

0
Q H h PPPPPPPPPP..PPPPPPPPP. 2-CC!
dimana :
"h Q tekanan hidrostatis, psi
0 Q luasan. 3nch
2
Q berat jenis, lb 2 gallon
h Q ketinggian kolom fluida, ft
"ersamaan di lapangan :
"h Q D,DB2 . . h PPPPPPPPPPPPPP. . .. . P.. 2-CB!
%imana :
D,DB2 adalah factor kon*ersi
%ari persamaan 2.C4 dapat menghitung gradien tekanan hidrostatik 6! yaitu :
"h
6 Q
1
Q D,DB2 . . psi2ft
2.=.1.1. Tekanan Nor,al
(ekanan formasi normal adalah suatu tekanan formasi sebagai akibat
tekanan hidrostatik fluida formasi. 'ebagai contoh didaerah ;ocky Mountain, air
formasinya adalah ta$ar fresh $ater!, yang mempunyai gradien 5,33 H D,DB2
adalah D,C33 psi2ft.
6radien tekanan berhubungan dengan lingkungan pengendapan geologi.
)arena pada umumnya sedimen diendapakan pada lingkungan air garam, maka
banyak tempat di dunia ini mempunyai gradien tekanan antara D,C33 psi2ft sampai
D,C>B psi2ft. /adi formasi yang mempunyai gradien tekanan formasi antara D,C33
psi2ft samapi D,C>B psi2ft merupakan tekanan normal.
2.=.1.=. Tekanan Su"nor,al
(ekanan formasi subnormal adalah formasi yang mempunyai gradien
tekanan diba$ah D,C33 psi2ft. (ekanan subnormal diakibatkan adanya rekahan-
rekahan batuan, atau adanya gaya diatrophisma penekanan batuan dan isinya oleh
gaya pada kerak bumi!
Mekanisme terjadinya tekanan subnormal dapat diuraikan sebagai berikut.
a) 7hermal &;pansion
)arena batuan sedimen dan fluida dalam pori dipengaruhi oleh adanya
temperatur, jika fluida mengalami pengembangan maka densitas akan
berkurang dan juga tekanan akan berkurang.
b) 9ormation 9oreshortening (Pengkerutan 9ormasi)
'elama kompresi akan ada beberapa lapisan yang melengkung perlapisan
teratas melengkung keatas sementara perlapisan terba$ah melengkung
keba$ah sedangkan lapisan tengah mengembang sehingga dapat
menghasilkan .ona tekanan subnormal. "ada kondisi ini juga menyebabkan
terjadinya o*erpressure pada lapisan teratas dan terba$ah.
Ga,"ar 2.1F. "engkerutan formasi
12
c. "otentiometric 'urface
Mekanisme ini menunjukkan adanya relief struktur suatu formasi yang
dapat menghasilkan baik .ona bertekanan subnormal maupun .ona
o*erpressured. "otentiometric surface didefinisikan sebagai ketinggian
dimana air yang terperangkap akan muncul dalam sumur-sumur yang di
bor pada a9uifer yang sama. "otentiometric surface dapat mencapai ribuan
feet diba$ah atau diatas ground le*el.
2.=.1... Tekanan A"nor,al
(ekanan abnormal adalah tekanan formasi yang mempunyai gradien
tekanan lebih besar dari harga D,C>B psi2ft. (ekanan abnormal tidak mempunyai
komunikasi tekanan secara bebas sehingga tekanannya tidak akan cepat
terdistribusi dan kembali menuju tekanan normalnya. (ekanan abnormal berkaitan
dengan sekat seal! terbentuk dalam suatu periode sedimentasi, kompaksi atau
tersekatnya fluida didalam suatu lapisan yang dibatasi oleh lapisan yang
permeabilitasnya sangat rendah. 1al ini ditunjukkan pada 6ambar 2.CD.
Ga,"ar 2.=/. (ekanan abnormal akibat proses kompaksi
12
"ada proses kompaksi normal, mengecilnya *olume pori akibat dari
pertambahan berat beban diatasnya dapat mengakibatkan fluida yang ada didalam
pori terdorong keluar dan mengalir ke segala arah menuju formasi di sekitarnya.
'ehingga berat batuan diatasnya akan ditahan oleh partikel-partikel sedimen.
)ompaksi normal umumnya menghasilkan suatu gradient tekanan formasi yang
normal.
)ompaksi abnormal akan terjadi jika pertambahan berat beban diatasnya
tidak menyebabkan berkurangnya ruang pori. ;uang pori tidak mengecil karena
fluida didalamnya tidak bisa terdorong keluar. (ersumbatnya fluida didalam ruang
pori disebabkan karena formasi itu terperangkap didalam formasi lain yang
menyebabkan permeabilitas sangat kecil.
Beberapa mekanisme terbentuknya tekanan abnormal adalah sebagai berikut :
,) Incomplete Sediment 6ompaction
'edimentasi clay atau shale yang berlangsung sangat cepat mengakibatkan
terbatasnya $aktu bagi fluida untuk membebaskan diri. %i ba$ah kondisi
normal porositas a$al yang tinggi berkurang karena fluida terbebaskan
melalui permeabel sand atau penyaringan melalui shale atau clay. /ika
sedimentasi berlangsung cepat maka proses membebaskan fluida tidak dapat
terjadi, sehingga fluida terjebak didalamnya.
-) 9aulting
"atahan dapat menyebabkan redistribusi sedimen, dan menempatkan .one-
.one permeabel berla$anan dengan .one-.one impermeabel, sehingga
terbentuk penghalang bagi aliran fluida. 1al ini akan mencegah keluarnya
fluida dari shale diba$ah kondisi terkompaksi. 7enomena faulting yang
menyebabkan adanya tekanan abnormal ditunjukkan pada 6ambar 2.C1.
Ga,"ar 2.=1. 7enomena tekanan abnormal akibat fault
13
.) *ubah garam
6erakan keatas intrusi! kubah garam dengan densitas rendah karena gaya
apung yang menerobos perlapisan sedimen normal akan menghasilkan
anomali tekanan. 7enomena kubah garam ditunjukkan pada 6ambar 2.C2.
Ga,"ar 2.=2. )ubah garam
13
/) Massi!e Shale
'hale yang tebal dan impermeabel akan menghalangi jalannya fluida keluar dari
porinya, sehingga fluida akan ditahan oleh shale yang impermeabel. %engan
adanya pertambahan tekanan akibat tekanan o*erburden yang bertambah oleh
karena sedimentasi yang terus berlangsung maka fluida akan tertekan dan tertahan
di dalam pori. 1al ini akan mengakibatkan tekanan abnormal. Massi*e shale
ditunjukkan pada 6ambar 2.C3.
Ga,"ar 2.=1. Massi*e shale
13
=) 6harged Aone
%isebabkan oleh adanya migrasi fluida dari .one bertekanan tinggi ke tekanan
rendah pada .one yang tidak terlalu dalam. 1al ini terjadi karena adanya
patahan atau casing2penyemenan yang jelek. (ekanan tinggi ini dapat
menyebabkan terjadinya kick karena tidak ada lithologi yang dapat
mengidentifikasikannya. 7enomena charged .one ditunjukkan pada 6ambar
2.CC.
Ga,"ar 2.==. 8harged .one
13
=) Struktur antiklinal
'truktur geologi yang berbentuk antiklin perlu di$aspadai adanya tekanan tinggi.
(erutama pada struktur antiklinal pada kedalaman yang tinggi.
2.=.2. Te,3eratur Reer6oar
(emperatur akan mengalami kenaikan dengan bertambahnya kedalaman,
ini dinamakan gradien geothermal yang dipengaruhi oleh jauh dekatnya dari pusat
magma.
%alam kenyataannya temperatur reser*oar akan bertambah terhadap
kedalaman, yang mana sering disebut sebagai gradient geothermis. Besaran
gradient geothermis ini ber*ariasi dari satu tempat ke tempat lain, dimana harga
rata-ratanya adalah 2
o
721DD ft. 6radient geothermis yang tertinggi adalah C
o
721DD
ft, sedangkan yang terendah adalah D.B
o
721DD ft. ,ariasi yang kecil dari gradient
geothermis ini disebabkan oleh sifat kondukti*itas thermis beberapa jenis batuan.
Besarnya gradien geothermal dari suatu daerah dapat dicari dengan
menggunakan persamaan :
9ormasi n *edalalama
7 7
geothermal 1radien
dart s formasi tan

PPPPPP..P 2-CB!
1arga gradien geothermal berkisar antara 1.11
o
sampai 2
o
721DD f. 'eperti
diketahui temperatur sangat berpengaruh terhadap sifat = sifat fisik fluida
reser*oar
1ubungan temperatur terhadap kedalaman dapat dinyatakan sebagai
berikut :
(
d
Q (
a
L U H % PPPPPPPPPPPPPPPPPPPP.2-C>!
dimana :
(
d
Q temperatur reser*oar pada kedalaman % ft,
o
7
(
a
Q temperatur pada permukaan,
o
7
U Q gradient temperatur,
o
721DD ft
% Q kedalaman, ratusan ft.
"engukuran temperatur formasi dilakukan setelah JcompletionK dan
temperatur formasi ini dapat dianggap konstan selama kehidupan reser*oar,
kecuali bila dilakukan proses stimulasi. 'uatu contoh kur*a temperatur *ersus
kedalaman dapat dilihat pada 6ambar 2.CB!.
Ga,"ar 2.=..
6radient (emperatur ;ata-rata

untuk 'uatu -apangan.
B!
2... 'ro!ukti6ita 2or,ai
"rodukti*itas formasi menyatakan kemampuan formasi untuk
mengalirkan fluida pada kondisi tertentu. "ada umumnya sumur- sumur yang baru
diketemukan mempunyai tenaga pendorong alamiah yang mampu mengalirkan
fluida hidrokarbon dari reser*oar kepermukaan dengan tenaganya sendiri.
2...1. Aliran <lui!a Dala, Me!ia Ber3ori
7luida yang mengalir dari formasi produktif ke lubang sumur
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut :
/umlah fasa yang mengalir.
'ifat fisik fluida reser*oar
'ifat fisik batuan reser*oar.
)onfigurasi disekitar lubang bor, yaitu adanya lubang perforasi, skin, gra*el
pack, dan rekahan hasil perekahan hidrolik.
)emiringan lubang sumur pada formasi produktif
Bentuk daerah pengurasan.
)eenam faktor tersebut di atas, secara ideal harus di$akili dalam setiap
persamaan perhitungan kelakuan aliran fluida dari formasi masuk ke lubang
sumur. (etapi hingga saat ini belum tersedia suatu persamaan praktis yang
memperhitungkan keenam faktor di atas secara serentak. 'ampai saat ini tersedia
banyak persamaan untuk memperkirakan kelakuaan aliran fluida dari formasi ke
lubang sumur, dimana masing-masing persamaan mempunyai anggapan-anggapan
tertentu sesuai dengan teknik pengembangannya. /adi perlu diperhatikan tentang
anggapan-anggapan tersebut sebelum menggunakan suatu persamaan pada suatu
sumur.
0liran fluida dalam media berpori telah dikemukakan oleh %arcy dalam
persamaan 2-C<!. "ersamaan tersebut selanjutnya dikembangkan untuk kondisi
aliran radial, dimana dalam satuan lapangan persamaan tersebut berbentuk :

! 2 .
!
1D D5 . <
3
w e o o
wf e
r r n B
P P kh
; '


PPPPPPPPPPPPP.. 2-
C<!
dimana :
9 Q laju produksi, '(B2hari
k Q permeabilitas efektif minyak, md
h Q ketebalan formasi produktif, ft
"e Q tekanan formasi pada jarak re dari sumur, psi
"
$f
Q tekanan alir dasar sumur, psi.

o
Q *iskositas, cp
B
o
Q faktor *olume formasi, BB-2'(B
r
e
Q jari-jari pengurasan sumur, ft
r
$
Q jari-jari sumur, ft
"ersyaratan yang harus dipenuhi untuk menggunakan persamaan 2-C<!
(ersebut adalah :
7luida berfasa tunggal
0liran mantap steady state!
7ormasi homogen dan arah alirannya horisontal
7luida incompressible.
%engan demikian apabila *ariabel-*ariabel dari persamaan 2-C<!
diketahui, maka laju produksi sumur dapat ditentukan.
2...2. 'ro!u(ti6itA In!e%
"roducti*ity 3ndeH "3! adalah indeks yang digunakan untuk menyatakan
kemampuan produksi dari suatu sumur pada kondisi tertentu, dimana "3 juga
merupakan perbandingan antara laju produksi yang dihasilkan oleh suatu sumur
pada suatu harga tekanan aliran dasar sumur tertentu dengan pressure dra$ do$n,
yaitu selisih antara tekanan statik dasar sumur "s! dan tekanan alir dasar sumur
"$f!, yang secara matematis dapat dituliskan :
/ Q
psi day bbl
Pwf Ps
'
2 2 ,

.............................................................. 2-C5!
%imana :
9 Q laju produksi, bbl2day
"
s
Q tekanan statik , psi
"
$f
Q tekanan alir dasar sumur, psi
%engan melakukan subtitusi persamaan 2-C<! kedalam persamaan 2-C5!,
maka / dapat pula ditentukan berdasarkan sifat-sifat fisik fluida reser*oar, batuan
reser*oir, serta geometri sumur dan reser*oar, yaitu :

! 2 ln
1D D5 . <
.
3
w e o o
r r B
kh
; "

PP.PPPPPPPPPPPP.2-
C4!
(entunya penggunaan persamaan 2-C4! tersebut harus memperhatikan
persyaratan yang harus dipenuhi dalam persamaan 2-C<!.
"ersyaratan persamaan 2-C5! tidak selalu dipenuhi, misalkan yang
paling sering ditemui dalam praktek adalah adanya gas dalam aliran tersbut. 1al
ini akan dijumpai apabila tekanan reser*oar diba$ah tekanan buble point minyak.
"ada kondisi ini / tidak dapat ditentukan dengan persamaan 2-C5!maupun 2-C4!,
dan harga / untuk setiap harga "
$f
tertentu tidak sama dan selalu berubah.
'ehubungan dengan perubahan tersebut, maka persamaan / diperluas menjadi :

wf
dP
d'
"
PPPPPPPPPPPPPPPPPPP..2-
BD!
"ersyaratan berfasa tunggal untuk persamaan 2-C5! dapat pula tidak
terpenuhi apabila dalam aliran fluida tersebut terdapat air formasi. (etapi dalam
praktek, keadaan ini masih dapat dianggap berfasa satu, sehingga persamaan 2-
C5! dapat lebih diperjelas dengan memasukkan laju produksi air kedalam
persamaan tersebut :

wf s
w o
P P
' '
"

PPPPPPPPPPPPPPPPPPP2-
B1!
'esuai dengan persamaan %arcy persamaan 2-C<! dan persamaan 2-B1! dapat
ditulis kembali dalam bentuk :

,
_

+

w w
w
o o
o
w e
B
k
B
k
r r
h
; "
! 2 ln
1D D5 . <
3
PPPPPPPPPP..2-
B2!
"ada beberapa sumur harga / tetap konstan untuk laju aliran yang
ber*ariasi, tetapi pada sumur lain untuk laju aliran yang besar harga / tidak
konstan melainkan menurun. 1al ini disebabkan oleh aliran turbulen sebagai
akibat naiknya laju produksi, turunnya permeabilitas akibat terbentuknya gas
bebas karena turrunnya tekanan sumur, turunnya tekanan di ba$ah "
b
menyebabkan *iskositas minyak naik, dan berkurangnya permeabilitas akibat
adanya kompresibilitas batuan.
2...1. In<lo4 'er<or,an(e Relationhi3
3ndeks produktifitas yang diperoleh dari hasil tes maupun dari
perkiraan, hanya merupakan gambaran secara kualitatif mengenai kemampuan
sumur untuk berproduksi. %alam kaitannya dengan perencanaan suatu sumur,
ataupun untuk melihat kelakuan suatu sumur untuk berproduksi, maka harga /
tersebut dapat dinayatakan secara grafis, yang disebut dengan grafik kur*a 3";.
Berdasarkan definisi / pada persamaan 2-C5!, untuk suatu saat tertentu dimana "
s
konstan dan / juga konstan, maka *ariabelnya adalah laju produksi 9! dan
tekanan aliran dasar sumur "
$f
!. "ersamaan 2-C5! dapat diubah menjadi :
"
'
P P
s pwf

PPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP 2-
B3!
Berdasarkan anggapan di atas, maka garis dari persmaan 2-C5 ! adalah
merupakan garis lurus 6ambar 2.B3 !.
(itik 0 adalah harga "
$f
pada saat 9Q D, dan sesuai dengan persmaan 2-
B3!, maka "
$f
Q "
s
. 'edangkan titik B adalah harga 9 pada saat "$f Q D, dan sesuai
dengan persamaan 2-B3!, maka 9 Q / H "
s
, dan harga laju produksi ini merupakan
harga laju produksi maksimum. 1arga laju produksi maksimum ini disebut
sebagai potensial sumur, dan merupakan batas laju produksi yang diperbolehkan
dari suatu sumur. 0pabila sudut @0B adalah , maka :

"
P
" P
8$
8B
s
s
tan
PPPPPPPPPPPPPPPPP.2-BC!
%engan demikian / menyatakan 12kemiringan dari garis kur*a 3";.
Ga,"ar 2.=>
)ur*a 3"; -inier.
5!
Bentuk dari 3"; akan linier bila fluida yang mengalir satu fasa, Muskat
menyatakan apabila yang mengalir dalah fluida dua fasa minyak dan gas!, maka
bentuk kur*a 3"; membentuk kelengkungan 6ambar.2.C>! dan harga / tidak lagi
merupakan harga yang konstan, karena kemiringan garis 3"; akan berubah secara
kontinyu untuk setiap harga "
$f
. %alam hal ini persamaan 2-C5! tidak lagi
berlaku, dan secara umum definisi yang tepat adalah persamaan 2-BD!.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh ,ogel terhadap sumur-sumur yang
berproduksi dari reser*oar solution gas dri*e, maka diperoleh suatu hasil disebut
JdimensionlessK 3";. 6rafik 3"; tak berdimensi tersebut dapat dinyatakan dalam
bentuk persamaan :

2
maH
5 . D 2 . D 1

,
_

,
_


s
wf
s
wf
P
P
P
P
'
'o
PPPPPPPPPPPPP..2-
BB!
"ersamaan diatas hanya dapat digunakan untuk "
$f
yang lebih kecil dari "
b
'edangkan bila "
s
diatas "
b
maka sebagian dari kur*a 3"; merupakan garis lurus
dan selanjutnya melengkung seperti pada gambar 2-C< !.
Ga,"ar.2.=D
)ur*a 3"; tidak -inear.
5!
#ntuk bagian yang tidak linear, maka persamaan kur*a 3"; adalah sebagai berikut
:

2
maH
5 . D 2 . D 1

,
_

,
_

b
wf
b
wf
b
b o
P
P
P
P
' '
' '
PPPPPPPPP...P2-
B>!
dimana :
9
o
Q rate produksi minyak, bbl2hari
9
maH
Q rate produksi mkasimum pada "$fQD, B@"%
9
b
Q rate produksi pada saat "$fQ "b, bbl2hari
"
$f
Q tekanan alir dasar sumur, psi
"
b
Q tekanan bubble point, psi.
2.>. @eni#@eni Reer6oar
/enis-jenis reser*oar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
berdasarkan fasa fluida, perangkap reser*oar, dan mekanisme pendorong.
2.>.1. Ber!aarkan 'erangka3 Reer6oar
/enis reser*oir berdasarkan perangkap reser*oar dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu perangkap struktur, perangkap stratigrafi, dan perangkap kombinasi struktur
dan stratigrafi.

2.>.1.1. 'erangka3 Struktur
"erangkap struktur merupakan perangkap yang paling orisinil dan sampai
de$asa ini merupakan perangkap yang paling penting. /elas di sini berbagai unsur
perangkap yang membentuk lapisan penyekat dalam lapisan reser*oar sehingga
dapat menangkap minyak, disebabkan gejala tektonik atau struktur, misalnya
pelipatan dan patahan. 'ebetulnya kedua unsur ini merupakan unsur utama dalam
pembentukan perangkap.
"erangkap yang disebabkan perlipatan merupakan perangkap utama.
#nsur yang mempengaruhi perangkap ini adalah lapisan penyekat dan penutup
yang berada diatasnya dan dibentuk sedemikian sehingga minyak tidak dapat lagi
kemana-mana, seperti yang ditunjukkan pada 6ambar 2.C5!.
#ntuk menge*aluasi suatu perangkap lipatan terutama mengenai ada
tidaknya tutupan batas maksimal $adah dapat diisi oleh fluida !, jadi tidak
dipermasalahkan apakah lipatan itu ketat atau landai, yang penting ialah adanya
tutupan. 'uatu lipatan dapat saja terbentuk tanpa terjadinya suatu tutupan
sehingga tidak dapat disebut suatu perangkap. %isamping itu ada tidaknya tutupan
tergantung pada faktor struktur dan posisinya ke dalam. 8ontohnya, pada
permukaan didapatkan struktur tutupan tetapi makin ke dalam makin menghilang.
/adi untuk menge*aluasi perangkap pelipatan selain dari adanya tutupan juga
harus die*aluasi apakah tutupan tersebut terdapat pada lapisan reser*oar.
Ga,"ar 2.=C.
"erangkap -ipatan 0ntiklin
11!
"erangkap patahan sering juga terdapat dalam berbagai reser*oar minyak
dan gas. 6ejala patahan sesar! dapat bertindak sebagai unsur penyekat dalam
penyaluran minyak. 'ering dipermasalahkan apakah patahan itu merupakan
penyekat atau penyalur. 'ecara teoritis, memperlihatkan bah$a patahan dalam
batuan yang basah air tergantung pada tekanan kapiler dari medium dalam jalur
patahan tersebut. Besar-kecilnya tekanan yang disebabkan oleh pelampungan
minyak atau kolom minyak terhadap besarnya tekanan kapiler, menentukan sekali
apakah patahan itu bertindak sebagai penyalur atau penyekat. /ika tekanan
tersebut lebih besar daripada tekanan kapiler maka minyak masih dapat
tersalurkan melalui patahan, tetapi jika lebih kecil maka patahan tersebut
bertindak sebagai suatu penyekat. "atahan yang berdiri sendiri tidaklah dapat
membentuk suatu perangkap. 0da beberapa unsur lain yang harus dipenuhi untuk
terjadinya suatu perangkap yang betul-betul hanya disebabkan karena patahan,
yaitu :
1. 0danya kemiringan $ilayah
-apisan yang sejajar atau tidak miring tidak dapat membentuk perangkap
karena $alaupun minyak tersekat pada arah pematahan, tetapi pada arah lain
tidak tersekat, kecuali kalau ketiga arah lainnya tertutup oleh berbagai macam
patahan.
2. "aling sedikit harus ada dua patahan yang berpotongan
/ika hanya terdapat suatu kemiringan $ilayah dan suatu patahan di satu pihak,
maka dalam suatu penampang kelihatannya sudah terjadi perangkap yang
terlihat pada 6ambar 2.C4! tetapi harus dipenuhi syarat juga bah$a
perangkap atau penutup itu terjadi dalam tiga dimensi, maka dalam dimensi
lainnya harus terjadi juga pematahan atau menutup ke arah tersebut.
3. 0danya suatu pelengkungan lapisan atau suatu pelipatan
%alam hal ini, patahan merupakan penyekat ke suatu arah sedangkan pada
arah lainnya tertutup oleh adanya pelengkungan dari perlapisan ataupun
bagian dari perlipatan, seperti yang dapat dilihat pada 6ambar 2.C4!.
C. "elengkungan dari patahan itu sendiri dan kemiringan $ilayah
%i suatu arah mungkin lapisan itu miring tetapi di pihak lainnya terdapat
patahan yang melengkung sehingga semua arah tertutup oleh patahan seperti
pada 6ambar 2.C4!.
%alam prakteknya jarang sekali terdapat perangkap patahan yang murni.
"atahan biasanya hanya merupakan suatu pelengkungan dari suatu perangkap
struktur.
Ga,"ar 2.=F.
"erangkap "atahan Melengkung %engan )emiringan &ilayah
11!
2.>.1.2. 'erangka3 Stratigra<i
"rinsip perangkap stratigrafi ialah minyak dan gas terjebak dalam
perjalanannya ke atas, terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan
pinggir, karena batuan reser*oar menghilang atau berubah fasies menjadi batuan
lain atau batuan yang karakteristik reser*oar menghilang sehingga merupakan
penghalang permeabilitasnya. Beberapa unsur utama perangkap stratigrafi ialah :
1. 0danya perubahan sifat lithologi dengan beberapa sifat reser*oar, ke satu atau
beberapa arah sehingga merupakan penghalang permeabilitas.
2. 0danya lapisan penutup 2 penyekat yang menghimpit lapisan reser*oar
tersebut ke arah atas atau ke pinggir.
3. )eadaan struktur lapisan reser*oar yang sedemikian rupa sehingga dapat
menjebak minyak yang naik. )edudukan struktur ini sebetulnya melokalisasi
posisi tertinggi daripada daerah potensial rendah dalam lapisan reser*oar yang
telah tertutup dari arah atas dan pinggir oleh beberapa unsur tersebut di atas.
)edudukan struktur ini dapat disebabkan oleh kedudukan pengendapan atau
juga karena kemiringan $ilayah.
"erubahan sifat litologi 2 sifat reser*oar ke suatu arah daripada lapisan
reser*oar dapat disebabkan :
a. "embajian, dimana lapisan reser*oar yang dihimpit di antara lapisan penyekat
menipis dan menghilang 6ambar 2.BD!.
b. "enyerpihan shale-out!, dimana ketebalan tetap, akan tetapi sifat litologi
berubah 6ambar 2.BD!.
c. "ersentuhan dengan bidang erosi .
"ada hakekatnya, perangkap stratigrafi didapatkan karena letak posisi
struktur tubuh batuan sedemikian sehingga batas lateral tubuh tersebut merupakan
penghalang permeabilitas ke arah atas atau ke pinggir. /ika tubuh batuan reser*oar
itu kecil dan sangat terbatas, maka posisi struktur tidak begitu penting, karena
seluruhnya atau sebagian besar dari tubuh tersebut merupakan perangkap. "osisi
struktur hanya menyesuaikan letak hidrokarbon pada bagian tubuh reser*oar. /ika
tubuh reser*oar memanjang atau meluas, maka posisi struktur sangat penting.
"erangkap tidak akan terjadi jika tubuh reser*oar berada dalam keadaan
horisontal. /ika bagian tengah tubuh terlipat, maka perangkap yang terjadi adalah
perangkap struktur antiklin!. #ntuk terjadinya perangkap stratigrafi, maka posisi
struktur lapisan reser*oar harus sedemikian sehingga salah satu batas lateral tubuh
reser*oar yang dapat berupa unsur di atas tadi!, merupakan penghalang
permeabilitas ke atas.
-e*orsen 14BC!, membagi perangkap stratigrafi sebagai berikut :
1. (ubuh batuan reser*oar terbatas lensa!
a. Batuan reser*oar klastik detritus dan *olkanik.
b. Batuan reser*oar karbonat: terumbu, bioherm
2. "embajian, perubahan fasies ataupun porositas dari lapisan reser*oar ke suatu
arah regional ataupun lokal dari :
a. Batuan reser*oar klastik detritus
b. Batuan reser*oar karbonat.
3. "erangkap ketidakselarasan.
Ga,"ar 2../.
#nsur-#nsur "erangkap 'tratigrafi
11!
Ga,"ar 2..1.
#nsur perangkap +ang %isebabkan @leh "emancungan -apisan
;eser*oar @leh )etidakselarasan
11!
Ga,"ar 2..2.
"enampang Beberapa (ubuh "asir Memperlihatkan "osisi 0kumulasi
Minyak Bumi )arena )edudukan 'truktur
11!
2.>.1.1. 'erangka3 Ko,"inai
"erangkap reser*oar kebanyakan merupakan kombinasi perangkap struktur
dan perangkap stratigrafi dimana setiap unsur struktur merupakan faktor bersama
dalam membatasi bergeraknya minyak dan gas. Beberapa kombinasi antara unsur
stratigrafi dan unsur struktur adalah sebagai berikut :
1. )ombinasi antara lipatan dengan pembajian
%alam 6ambar 2.B3.!, dapat dilihat bah$a kombinasi lipatan dengan
pembajian dapat terjadi karena salah satu pihak, pasir menghilang dan di lain
pihak hidung antiklin menutup arah lainnya. Maka jelaslah hal ini sering
terjadi pada perangkap stratigrafi normal.
2. )ombinasi antara patahan dan pembajian
"embajian yang berkombinasi dengan patahan jauh lebih biasa daripada
pembajian yang berdiri sendiri. )ombinasi ini dapat terjadi karena terdapat
suatu kemiringan $ilayah yang membatasi bergeraknya ke suatu arah dan
diarah lain ditahan oleh adanya suatu patahan dan pada arah lainnya lagi
ditahan oleh pembajian.
Ga,"ar 2..1.
)ombinasi "erangkap 'tratigrafi %an 'truktur -ipatan %imana
%isatu "ihak -apisan ;eser*oar Membaji
11!
2.>.2. Ber!aarkan 2aa 2lui!a )i!rokar"on
/enis reser*oar berdasarkan fasa fluida reser*oar dapat dibagi menjadi
lima, yaitu reser*oar minyak berat, reser*oar minyak ringan, reser*oar gas
kondensat, reser*oar gas basah, dan reser*oar gas kering.
2.>.2.1. Reer6oar MinAak Berat
%iagram fasa dari minyak berat lo$ shrinkage crude oil! diperlihatkan
pada 6ambar 2.BC!. 'ebagai catatan disini adalah bah$a daerah dua fasa
mencakup kisaran tekanan yang lebar dan juga bah$a temperatur kritik dari
minyak adalah lebih tinggi dari temperatur reser*oar.
Ga,"ar 2..=.
%iagram 7asa dari Minyak Berat
13!

6aris *ertikal 1 - 2 - 3 memperlihatkan pengurangan tekanan dengan
temperatur konstan yang terjadi apabila minyak tersebut di produksikan. 6aris
yang putus-putus memperlihatkan kondisi tekanan-temperatur yang terjadi apabila
minyak meninggalkan reser*oar dan mengalir mele$ati tubing menuju ke
separator.
(itik 1 menunjukkan bah$a keadaan reser*oar dikatakan tidak jenuh
undersaturated!, sedangkan titik 2 menunjukkan keadaan reser*oar jenuh
saturated! dimana minyak mengandung gas sebanyak-banyaknya dan suatu
pengurangan tekanan akan menyebabkan pembentukan fasa gas. "ada titik 3
fluida yang tetap berada di reser*oar terdiri dari <BA mol cairan atau 2BA mol
gas.
(itik yang menunjukkan tekanan dan temperatur di dalam separator
terletak hampir dekat dengan garis titik gelembung yang diperkirakan 5BA mol
minyak di produksikan tetap sebagai cairan pada kondisi seperator. )arena
mempunyai prosentase cairan yang cukup tinggi, maka minyak ini disebut Jlo$
shrinkage crude oilK.
0pabila di produksikan maka minyak berat ini biasanya menghasilkan gas
oil ratio permukaan sebesar BDD scf2stb dengan gra*ity 3D
o
0"3 atau lebih. 8airan
produksi biasanya ber$arna hitam dan lebih pekat lagi.
2.>.2.2. Reer6oar MinAak Ringan
%iagram fasa dari minyak ringan high shrinkage crude oil! diperlihatkan
pada 6ambar 2.BB!. 6aris *ertikal menunjukkan pengurangan tekanan dengan
temperatur tetap selama produksi. (itik 1 dan titik 2 mempunyai pengertian yang
sama dengan diagram sebelumnya, bedanya apabila tekanan di turunkan di ba$ah
garis titik gelembung, prosentase gas akan lebih besar. (itik 3 reser*oar
mengandung CDA mol cairan.
Ga,"ar 2....
%iagram 7asa dari Minyak ;ingan
1<!


%iperkirakan >BA fluida tetap sebagai cairan pada kondisi separator. @leh
karenanya minyak disebut sebagai minyak ringan high shrinkage crude oil!. /adi
minyak ini mengandung relatip sedikit molekul berat bila dibandingkan dengan
minyak berat.
0pabila diproduksikan maka minyak ringan ini biasanya menghasilkan gas
oil ratio permukaan sebesar kurang lebih 5DDD scf2stb dengan gra*ity sekitar
BD
o
0"3. 8airan produksi biasanya ber$arna gelap.
2.>.2.1. Reer6oar Ga Kon!enat
0dakalanya temperatur reser*oir terletak diantara titik kritis dengan
cricondenterm dari fluida reser*oar 6ambar 2.B>.!. 'ekitar 2B A mol fluida
produksi tetap sebagai cairan di permukaan. 8airan yang diproduksikan dari
campuran hidrokarbon ini disebut Jgas kondensatK.
Ga,"ar 2..>.
%iagram 7asa dari 6as )ondensat
C!

"ada titik 1 reser*oar hanya terdiri dari satu fasa dan dengan turunnya
tekanan reser*oar selama produksi berlangsung, terjadi kondensasi retrograde
dalam reser*oar. "ada titik 2 titik embun! cairan mulai terbentuk dan dengan
turunnya tekanan dari titik 2 ke titik 3, jumlah cairan dalam reser*oar bertambah.
"ada titik 3 ini merupakan titik dimana jumlah maksimum cairan yang bisa
terjadi. "enurunan selanjutnya menyebabkan cairan menguap.
6as oil ratio produksi dari reser*oar kondensat dapat mencapai sekitar
<D,DDD scf 2 stb dengan gra*ity cairan sebesar >D
o
0"3. 8airan produksi biasanya
ber$arna cerah.
2.>.2.=. Reer6oar Ga Baah
%iagram fasa dari campuran hidrokarbon terutama mengandung molekul
lebih kecil, umumnya terletak diba$ah temperatur reser*oar. 8ontoh dari diagram
fasa untuk gas basah diberikan 6ambar 2.B<!.
Ga,"ar 2..D.
%iagram 7asa dari 6as Basah
C!

%alam kasus ini fluida berbentuk gas secara keseluruhan dalam
pengurangan tekanan reser*oar. )arena kondisi separator terletak di dalam daerah
dua fasa, maka cairan akan terbentuk di permukaan. 8airan ini umumnya dikenal
sebagai JkondensatK atau gas yang dihasilkan disebut Jgas kondensatK.
)ata basah menunjukkan bah$a gas mengandung molekul-molekul
hidrokarbon ringan yang pada kondisi permukaan membentuk fasa cair. "ada
kondisi separator, gas biasanya mengandung lebih banyak hidrokarbon menengah.
)adang-kadang gas ini diproses untuk dipisahkan cairan butana dan propananya.
6as basah dicirikan dengan gas oil ratio permukaan lebih dari 1DD,DDD
scf2stb. 0sosiasi minyak tangki pengumpul biasanya adalah air sebagai gra*ity
lebih besar daripada BD
o
0"3.
2.>.2... Reer6oar Ga Kering
%iagram fasa untuk gas kering diperlihatkan pada 6ambar 2.B5!. #ntuk
campuran ini, baik kondisi reser*oarnya maupun kondisi seperator terletak di
luar daerah dua fasa. (idak ada cairan yang dapat dibentuk dalam reser*oar atau
di permukaan dan gasnya disebut Jgas alamK.
)ata kering menunjukkan bah$a fluida tidak cukup mengandung molekul
hidrokarbon berat untuk membentuk cairan di permukaan. (etapi perbedaan antara
gas kering dan gas basah tidak tetap, biasanya sistem yang gas oil ratio-nya lebih
dari 1DD,DDD scf 2 stb dipertimbangkan sebagai gas kering.
Ga,"ar 2..C.
%iagram 7asa dari 6as )ering
C!
2.>.1.Ber!aarkan Mekani,e 'en!orong Reer6oar
(elah diketahui bah$a minyak bumi tidak mungkin mengalir sendiri dari
reser*oarnya ke lubang sumur produksi bila tidak terdapat suatu energi yang
mendorongnya. /enis reser*oar berdasarkan mekanisme pendorong reser*oar
dibagi menjadi lima, yaitu : gas cap dri*e, $ater dri*e , depletion dri*e
,segregation dri*e dan combination dri*e reser*oar.
2.>.1.1. Ga $a3 Dri6e Reer6oar
%alam beberapa tempat dimana terakumulasinya minyak bumi, kadang-
kadang pada kondisi reser*oarnya komponen-komponen ringan dan menengah
dari minyak bumi tersebut membentuk suatu fasa gas. 6as bebas ini kemudian
melepaskan diri dari minyaknya dan menempati bagian atas dari reser*oar itu
membentuk suatu tudung. 1al ini bisa merupakan suatu energi pendesak untuk
mendorong minyak bumi dari reser*oar ke lubang sumur dan mengangkatnya ke
permukaan. Bila reser*oar ini dikelilingi suatu batuan yang merupakan perangkap,
maka energi ilmiah yang menggerakkan minyak ini berasal dari dua sumber, yaitu
ekspansi gas cap dan ekspansi gas yang terlarut lalu melepaskan diri.
Mekanisme yang terjadi pada gas cap reser*oar ini adalah minyak pertama
kali diproduksikan, permukaan antara minyak dan gas akan turun, gas cap akan
berkembang ke ba$ah selama produksi berlangsung. #ntuk jenis reser*oar ini,
umumnya tekanan reser*oar akan lebih konstan jika dibandingkan dengan
solution gas dri*e. 1al ini disebabkan bila *olume gas cap dri*e telah demikian
besar, maka tekanan minyak akan jadi berkurang dan gas yang terlarut dalam
minyak akan melepaskan diri menuju ke gas cap, dengan demikian minyak akan
bertambah ringan, encer, dan mudah untuk mengalir menuju lubang bor 6ambar
2.B4!.
)enaikan gas oil ratio juga sejalan dengan pergerakan permukaan ke
ba$ah, air hampir-hampir tidak diproduksikan sama sekali. )arena tekanan
reser*oar relatip kecil penurunannya, juga minyak berada di dalam reser*oarnya
akan terus semakin ringan dan mengalir dengan baik, maka untuk reser*oar jenis
ini akan mempunyai umur dan reco*ery sekitar 2D - CD A, yang lebih besar jika
dibandingkan dengan jenis solution gas dri*e. 'ehingga residu oil yang masih
tertinggal di dalam reser*oar ketika lapangan ini ditutup adalah lebih kecil jika
dibandingkan dengan jenis solution gas dri*e 6ambar 2.>D!.
Ga,"ar 2..F.
6as 8ap %ri*e ;eser*oar
C!

Ga,"ar 2.>/.
)arakteristik (ekanan, "3, dan 6@;
pada 6as 8ap %ri*e ;eser*oar
C!
2.>.1.2. *ater Dri6e Reer6oar
#ntuk reser*oar jenis $ater dri*e ini, energi pendesakan yang mendorong
minyak untuk mengalir adalah berasal dari air yang terperangkap bersama-sama
dengan minyak pada batuan reser*oarnya.
0pabila dilihat dari terbentuknya batuan reser*oar $ater dri*e, maka air
merupakan fluida pertama yang menempati pori-pori reser*oar. (etapi dengan
adanya migrasi minyak bumi maka air yang berada disana tersingkir dan
digantikan oleh minyak. %engan demikian karena *olume minyak ini terbatas,
maka bila dibandingkan dengan *olume air yang merupakan fluida pendesaknya
akan jauh lebih kecil 6ambar 2.>1!.
6as oil ratio untuk reser*oar jenis ini relatif lebih konstan jika
dibandingkan dengan reser*oar jenis lainnya. 1al ini disebabkan karena tekanan
reser*oar relatif akan konstan karena dikontrol terus oleh pendesakan air yang
hampir tidak mengalami penurunan.
Ga,"ar 2.>1.
&ater %ri*e ;eser*oar
C!
"roduksi air pada a$al produksi sedikit, tetapi apabila permukaan air telah
mencapai lubang bor maka mulai mengalami kenaikan produksi yang semakin
lama semakin besar secara kontinyu sampai sumur tersebut di tinggalkan karena
produksi minyaknya tidak ekonomis lagi 6ambar 2.>2!.
#ntuk reser*oar dengan jenis pendesakan $ater dri*e maka bagian minyak
yang terproduksi akan lebih besar jika dibandingkan dengan jenis pendesakan
lainnya, yaitu antara 3B - <BA dari *olume minyak yang ada. 'ehingga minyak
sisa residual oil! yang masih tertinggal didalam reser*oar akan lebih sedikit.
Ga,"ar 2.>2.
)arakteristik (ekanan, "3, dan 6@;
pada &ater %ri*e ;eser*oar
C!
2.>.1.1. De3letion Dri6e Reer6oar
;eser*oar jenis ini sering disebut juga sebagai reser*oar solution gas
dri*e, dissol*ed gas dri*e atau internal gas dri*e solution gas dri*e disebabkan
oleh karena energi pendesak minyaknya adalah terutama dari perubahan fasa pada
hidrokarbon-hidrokarbon ringannya yang semula merupakan fasa cair menjadi
gas. )emudian gas yang terbentuk ini ikut mendesak minyak ke sumur
produksinya pada saat penurunan tekanan reser*oar karena produksi tersebut.
6ambar 2.>3!.
Ga,"ar 2.>1.
%epletion 6as %ri*e ;eser*oar
C!
'etelah sumur selesai dibor menembus reser*oar dan produksi minyak
dimulai, maka akan terjadi suatu penurunan tekanan di sekitar lubang bor.
"enurunan tekanan ini akan menyebabkan fluida mengalir dari reser*oar menuju
lubang bor melalui pori-pori batuan. "enurunan tekanan disekitar sumur bor akan
menimbulkan terjadinya fasa gas. "ada saat a$al, karena saturasi gas tersebut
masih kecil belum membentuk fasa yang kontinyu!, maka gas tersebut
terperangkap pada ruang antar butiran reser*oarnya, tetapi setelah tekanan
reser*oar tersebut cukup kecil dan gas sudah terbentuk banyak atau dapat
bergerak maka gas tersebut turut serta terproduksi ke permukaan 6ambar 2.>C!.
Ga,"ar 2.>=.
)arakteristik (ekanan, "3, dan 6@; pada
'olution 6as %ri*e ;eser*oar
C!

"ada a$al produksi, karena gas yang dibebaskan dari minyak masih
terperangkap pada sela-sela pori batuan, maka gas oil ratio produksi akan lebih
kecil jika dibandingkan dengan gas oil ratio reser*oar. 6as oil ratio produksi akan
bertambah besar bila gas pada saluran pori-pori tersebut mulai bisa mengalir, hal
ini terus-menerus berlangsung hingga tekanan reser*oar menjadi rendah.
Bila tekanan telah cukup rendah maka gas oil ratio akan menjadi berkurang sebab
*olume gas di dalam reser*oar tinggal sedikit. %alam hal ini gas oil produksi dan
gas oil ratio reser*oar harganya hampir sama.
;eco*ery yang mungkin diperoleh sekitar B - 3D A. %engan demikian
untuk reser*oar jenis ini pada tahap teknik produksi primernya akan
meninggalkan residual oil yang cukup besar. "roduksi air hampir-hampir tidak ada
karena reser*oarnya terisolir, sehingga meskipun terdapat connate $ater tetapi
hampir-hampir tidak dapat terproduksi.

2.>.1.=. Segregation Dri6e Reer6oar
'egregation dri*e reser*oar atau gra*ity drainage merupakan energi
pendorong minyak bumi yang berasal dari kecenderungan gas, minyak, dan air
membuat suatu keadaan yang sesuai dengan massa jenisnya karena gaya
gra*itasi!.
6ra*ity drainage mempunyai peranan yang penting dalam memproduksi
minyak dari suatu reser*oar. 'ebagai contoh bila kondisinya cocok, maka
reco*ery dari solution gas dri*e reser*oar bisa ditingkatkan dengan adanya gra*ity
drainage ini. %emikian pula dengan reser*oar-reser*oar yang mempunyai energi
pendorong lainnya.
'eandainya dalam reser*oar itu terdapat tudung gas primer primary gas
cap! maka tudung gas ini akan mengembang sebagai proses gra*ity drainage
tersebut. ;eser*oar yang tidak mempunyai tudung gas primer segera akan
mengadakan penentuan tudung gas sekunder secondary gas cap!.
"ada a$al dari reser*oar ini, gas oil ratio dari sumur-sumur yang terletak
pada struktur yang lebih tinggi akan cepat meningkat sehingga diperlukan suatu
program penutupan sumur-sumur tersebut. %iharapkan dengan adanya program
ini perolehannya minyaknya dapat mencapai maksimum.
Besarnya gra*ity drainage dipengaruhi oleh gra*ity minyak, permeabilitas
.ona produktif, dan juga dari kemiringan dari formasinya. 7aktor-faktor
kombinasi seperti misalnya, *iskositas rendah, specific gra*ity rendah, mengalir
pada atau sepanjang .ona dengan permeabilitas tinggi dengan kemiringan lapisan
cukup curam, ini semuanya akan menyebabkan perbesaran dalam pergerakan
minyak dalam struktur lapisannya 6ambar 2.>B.!.
Ga,"ar 2.>..
'egregational %ri*e ;eser*oar
C!

%alam reser*oar gra*ity drainage perembesan airnya kecil atau hampir
tidak ada produksi air. -aju penurunan tekanan tergantung pada jumlah gas yang
ada. /ika produksi semata-mata hanya karena gas gra*itasi, maka penurunan
tekanan dengan berjalannya produksi akan cepat. 1al ini disebabkan karena gas
yang terbebaskan dari larutannya terproduksi pada sumur struktur sehingga
tekanan cepat akan habis.
;eco*ery yang mungkin diperoleh dari jenis reser*oar gra*ity drainage ini
sangat ber*ariasi. Bila gra*ity drainage baik, atau bila laju produksi dibatasi untuk
mendapatkan keuntungan maksimal dari gaya gra*ity drainage ini maka reco*ery
yang didapat akan tinggi. "ernah tercatat bah$a reco*ery dari gra*ity drainage
melebihi 5DA dari cadangan a$al 3@3"!. "ada reser*oar dimana bekerja juga
solution gas dri*e ternyata reco*ery-nya menjadi lebih kecil 6ambar 2.>>.!.
Ga,"ar 2.>>.
"engaruh 'egregation %ri*e ;eser*oar
C!

2.>.1... $o,"ination Dri6e Reer6oar
'ebelumnya telah dijelaskan bah$a reser*oar minyak dapat dibagi dalam
beberapa jenis sesuai dengan jenis energi pendorongnya. (idak jarang dalam
keadaan sebenarnya energi-energi pendorong ini bekerja bersamaan dan simultan.
Bila demikian, maka energi pendorong yang bekerja pada reser*oar itu merupakan
kombinasi beberapa energi pendorong, sehingga dikenal dengan nama
combination dri*e reser*oar. )ombinasi yang umum dijumpai adalah antara gas
cap dri*e dengan $ater dri*e. 'ehingga sifat-sifat reser*oarnya jadi lebih
kompleks jika dibandingkan dengan energi pendorong tunggal 6ambar 2.><.!.
Ga,"ar 2.>D.
8ombination %ri*e ;eser*oir
C!

#ntuk reser*oar minyak jenis ini, maka gas yang terdapat pada gas cap
akan mendesak kedalam formasi minyak, demikian pula dengan air yang berada
pada bagian ba$ah dari reser*oar tersebut. "ada saat produksi minyak tidak
sempat berubah fasa menjadi gas sebab tekanan reser*oar masih cukup tinggi
karena dikontrol oleh tekanan gas dari atas dan air dari ba$ah. %engan demikian
peristi$a depletion untuk reser*oar jenis ini dikatakan tidak ada, sehingga minyak
yang masih tersisa di dalam reser*oar semakin kecil karena reco*ery minyaknya
tinggi dan efesiensi produksinya lebih tinggi.
6ambar 2.>5!. merupakan salah satu contoh kelakuan dari combination
dri*e dengan $ater dri*e yang lemah dan tidak ada tudung gas pada reser*oarnya.
6as oil ratio yang konstan pada a$al produksi dimungkinkan bah$a tekanan
reser*oar masih di atas tekanan jenuh. %i ba$ah tekanan jenuh, gas akan bebas
sehingga gas oil ratio akan naik.

Ga,"ar 2.>C.
"engaruh 8ombination %ri*e ;eser*oar
C!

2.D. 'erkiraan $a!angan
#ntuk memperkirakan besarnya cadangan hidrokarbon yang terdapat
dalam rese*oir dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode
*olumetris, material balance dan decline cur*e.
2.D.1. Meto!e Volu,etri
Metode *olumetris digunakan untuk memperkirakan besarnya cadangan
reser*oir pada suatu lapangan minyak atau gas baru, dimana data-data yang
tersedia belum lengkap. %ata-data yang diperlukan untuk perhitungan perkiraan
cadangan dengan metode *olumetris, adalah porositas rata-rata, saturasi fluida
rata-rata, faktor *olume formasi minyak dan gas, serta *olume bulk batuan.
'edangkan penentuan *olume bulk batuan ,
b
! dapat dilakukan secara analitis
dan grafis.
2.D.1.1. 'enentuan Volu,e Bulk Batuan Se(ara Analiti
-angkah pertama yang dilakukan dalam menentukan *olume bulk batuan
adalah membuat peta kontur ba$ah permukaan dan peta isopach. "eta kontur
ba$ah permukaan merupakan peta yang menggambarkan garis-garis yang
menghubungkan titik-titik dengan kedalaman yang sama pada tiap puncak
formasi. 'edangkan peta isopach merupakan peta yang menggambarkan garis-
garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketebalan yang sama dari formasi
produktif seperti ditunjukkan pada 6ambar 2.>4.
a b
Ga,"ar 2.>F.
a! "eta 6as 3sopach dan b! @il 'and 3sopach
7rick, 14>2!
'etelah peta isopach dibuat, maka luas daerah setiap garis isopach dapat
dihitung dengan menggunakan planimeter dan diplot pada kertas, yaitu luas
lapisan produktif *ersus kedalaman. /ika peta isopach telah dibuat, maka
perhitungan *olume bulk batuan dapat dilakukan dengan menggunakan metode :
2.D.1.1.1. Meto!e 'Ara,i!al
Metode ini digunakan apabila perbandingan antara luas garis isopach
yang berurutan D,B, yang secara matematis dituliskan :
B , D
1

i
i
$
$

[ ]
1 1
3
+ +
+ +
i i i i bi
$ $ $ $
h
#
PPPPP.....PPPPPPPP...2-B<!

( )

n
i
bi b
# #
1
PPPPPPP.PPPPPPPPPPPP.P2-
B5!
%imana:
,
bi
Q ,olume antara dua garis isopach yang berurutan, ac-ft
,
b
Q *olume bulk batuan , ac-ft
h Q inter*al peta isopach, ft
0
3
Q luas yang dibatasi garis isopach 3, acre
0
3L1
Q luas yang dibatasi garis isopach 3L1, acre
Ga,"ar 2.D/. "enampang Melintang %an "eta 3sopach
%ari ;eser*oir +ang 3deal 8raft, B.8., 14B4!
2.D.1.1.2. Meto!e Tra3eKoi!al
Metode ini digunakan apabila perbandingan antara luas garis isopach yang
berurutan F D.B, yang secara matematis dituliskan :
B , D
1
>
i
i
$
$

[ ]
i i o b
$ $ $ $ $
h
# + + + + +
1 2 1
2 ... 2 2
2
L h
3
0
3
PPPPP.P2-B4!
%imana :
h
3
Q ketebalan rata-rata do atas isopach teratas, ft
2.D.1.1.1. Meto!e Si,3on
Metode ini digunakan jika inter*al kontur dan isopach tidak sama tidak
teratur! dan hasilnya akan lebih teliti jika dibandingkan dengan metode
trape.oidal. 'ecara matematis dituliskan :

[ ]
i i i o b
$ $ $ $ $ $ $
h
# + + + + + + +
1 2 3 2 1
C 2 ... C 2 C
3
PPPPP2-
>D!
2.D.1.2. 'enetuan Volu,e Bulk Batuan Se(ara Gra<i
"enentuan *olume bulk batuan secara garafis dilakukan dengan cara
membuat plot antara ketebalan yang ditunjukkan oleh tiap-tiap garis kontur
terhadap luas daerah masing-masing, seperti terlihat pada 6ambar 2.<1. %ari
6ambar 2.<1. terlihat bah$a *olume bulk batuan merupakan luas daerah yang
ditunjukkan di ba$ah kur*a.
#ntuk menentukan besarnya original oil in place @@3"! dapat dilakukan
dengan persamaan :


S7B
B
S #
88IP
oi
w b
,
! 1 <<B5


PPPPPPPP.PP.PP.2-
>1!

Ga,"ar 2.D1. 8ontoh 6rafik #ntuk Menentukan
,olume Bulk Batuan %ari "eta 3sopach
0myH, /.&., 14>D!
'edangkan untuk menentukan besarnya original gas in place @63"!
dapat dilakukan dengan persamaan :

S69
B
S #
81IP
gi
w b
,
! 41 C3B>D


PPPPP.PPP..PPP..2-
>2!
%imana :
Q porositas rata-rata, fraksi
'
$
Q saturasi air rata-rata, fraksi
B
oi
Q faktor *olume formasi minyak mula-mula, bbl2'(B
B
gi
Q faktor *olume formasi gas mula-mula, 8uft2'87
#ltimate reco*ery merupakan jumlah maksimum hidrokarbon yang
diperoleh dari reser*oar dengan mekanisme pendorongnya secara alamiah.
#ltimate reco*ery biasanya dinyatakan dengan parameter unit reco*ery #;!,
yang merupakan hasil bagi antara ultimate reco*ery terhadap *olume bulk batuan
yang dapat diproduksi oleh beberapa pengaruh mekaisme pendorong sampai saat
abandonment.
:nit re(o6erA untuk !e3letion !ri6e reer6oar ?

1
]
1

oa
gr w
oi
w
B
S S
B
S
0R
1
1
<<B5
, '(B2ac-ft PPPPPPPP2-
>3!
:nit re(o6erA untuk 4ater !ri6e reer6oar ?

1
]
1

oi
or w
B
S S
0R
!
1
<<B5
, '(B2ac2-ft PPPPPPPPP...2->C!
:nit re(o6erA untuk reer6oar ga !engan ,ekani,e 3en!orong
4ater !ri6e ?

1
1
]
1

ga
gr
gi
wi
B
S
B
S
0R
! 1
C3B>D
, '872ac-ft PPPP...PP.PP2-
>B!
%imana:
B
ga
Q faktor *olume formasi gas akhir, cuft2'87
'
or
Q saturasi minyak sisa, fraksi
'
gr
Q saturasi gas sisa, fraksi

2.D.2. Meto!e Material Balan(e
Metode material balance digunakan untuk memperkirakan besarnya
cadangan reser*oar pada suatu lapangan minyak atau gas yang telah
dikembangkan, dimana data-data produksi yang diperoleh sudah cukup banyak.
"rinsip penurunan persamaannya didasarkan pada persamaan 'chilthuis 143>!,
yang berdasarkan hukum kekekalan massa, dimana jumlah massa dalam sistem
adalah tetap atau terjadinya kesetimbangan *olume antara produksi komulatif
terhadap pengembangan fluida reser*oar.
0sumsi yang digunakan dalam konsep material balance, adalah :
1. ;eser*oar merupakan satu kesatuan, sehingga perhitungan tidak tergantung
pada jumlah sumur produksi,
2. "roses produksi dianggap proses isothermal,
3. )esetimbangan antara semua fasa adalah sempurna,
C. 1ubungan antara tekanan dan *olume tidak tergantung pada masing-masing
fluida reser*oar.
2.D.2.1. 'era,aan Material Balan(e :ntuk Reer6oar MinAak
"ersamaan material balance untuk suatu reser*oar yang mempunyai gas
cap mula-mula dan bertenaga pendorong air dapat dinyatakan :
[ ]
Cater
lu;
an Pengembang
cap
an Pengembang
yak
gas <ona
inf
min
+
1
]
1

+
1
]
1


1
]
1

+
1
]
1

+
1
]
1

oduksi
komulatif
oduksi
*omulatif
oduksi
komulatif
air gas yak
"r "r "r
min

+

+
e
gi
gi g ti i
ti t
C
B
B B mB 5
B B 5i
!
!
E
p
B
t
L E
p
;
p
= ;
si
! B
g
L B
$
&
p
PPPPP...PPP..PP..2->>!
/ika persamaan 2-B5! disusun kembali, maka akan diperoleh besarnya
initial oil in place E
i
!, yaitu :

[ ]
!
! !
gi g
gi
ti
ti t
p w e g si p t p
i
B B
B
mB
B B
C B C B R R B 5
5
+
+

PP...P.PPPP2-
><!
%imana:
E
i
Q jumlah minyak mula-mula, bbl
E
p
Q produksi minyak komulatif, bbl
&
e
Q perembesan air, bbl
&
p
Q produksi air komulatif, bbl
B
ti
Q faktor *olume formasi total mula-mula, bbl2'(B
B
t
Q faktor *olume formasi total saat t, bbl2'(B
Q B
o
L B
g
;
si
= ;
s
!
B
o
Q faktor *olume formasi minyak saat t, bbl2'(B
B
gi
Q faktor *olume formasi gas mula-mula, cuft2'87
B
g
Q faktor *olume formasi gas saat t, cuft2'87
B
$
Q faktor *olume formasi air saat t, bbl2'(B
;
si
Q jumlah gas yang terlarut dalam minyak mula-mula, '872'(B
;
s
Q jumlah gas yang terlarut dalam minyak saat t, '872'(B
;
p
Q perbandingan gas komulatif dengan minyak komulatif, '872'(B
m Qperbandingan jumlah *olume gas cap mula-mula dengan *olume
minyak mula-mula, '872'(B
#ntuk reser*oir undersaturated, &
e
Q D dan tidak ada gas cap mula-mula
m Q D!, sehingga persamaan 2-B4! menjadi :

[ ]
ti t
g si p t p
i
B B
B R R B 5
5

PPPPPPPPPPPPPP2->5!
#ntuk depletion dri*e reser*oar, dimana tenaga pendorongnya adalah
pengembangan gas yang terlarut dalam minyak, maka penurunan persamaan
material balancenya dilakukan dua tahap, yaitu :
,) Bila tekanan reser!oir di atas tekanan :enuh D

oi o
o p
i
B B
B 5
5

PPPPP....PPPPPP.PPPPPPP2->4!
-) Bila tekanan reser!oir di bawah tekanan :enuh D

[ ]
g s si oi o
g s p o p
i
B R R B B
B R R B 5
5
!
!
+
+

PPPPPPP.PPPPPP2-<D!
2.D.2.2. 'era,aan Material Balan(e :ntuk Reer6oar Ga
"ersamaan material balance untuk reser*oar gas didasarkan pada
kesetimbangan mol gas, dengan anggapan komposisi gas tetap selama produksi
berlangsung.
1. 0ntuk water dri!e reser!air, persamaannya D

gi gf
p w e gf p
B B
C B C B 1
1

!
PPPPPPPPPPPPP..2-
<1!
2. 0ntuk depletion dri!e reser!air, persamaannya D

gi gf
gf p
B B
B 1
1

PPPPPPPPPP.PPPPPPPP2-<2!
%imana:
6 Q jumlah gas mula-mula, '87
6
p
Q produksi komulatif gas, '87
B
gf
Q faktor *olume formasi gas akhir, cuft2'87
0danya perembesan air $ater influH! sering menjadi problem untuk
reser*oar yang berbatasan dengan a9uifer, oleh karena itu pada bagian ini akan
sedikit dibicarakan mengenai persamaan $ater influH &
e
!, yaitu :
1. Schilthuis (,E.>), menurunkan persamaan dengan anggapan bah$a kondisi
steady state, penurunan tekanan teratur dan bertahap, *iskositas, permeabilitas,
dan geometri a9uifer konstan, maka :


t
i e
t P P k C
D
! atau ! P P k
t
C
i
e

PPP..PPPP...2-
<3!
%imana:
k Q konstanta $ater influH, bbl2%2psi
"
3
= " Q penurunan tekanan, psi
2. +urst (,E/.), menurunkan persamaan pengembangan dari persamaan
'chilthuis, yaitu :

t
i
e
at
P P
c C
D
log
!
PPP.PPPP..PPP..PPPPPPP2-
<C!
%imanana :
c Q konstanta $ater influH, bbl2%2psi
a Q konstanta kon*ersi $aktu
3. #an &!erdingen dan +urst (,E/E), menurunkan persamaan dengan anggapan
bah$a kondisi steady state, yaitu :

t
e
P B C
D

Ot! PPP..PPPPPP..PPPPPPP2-
<B!
%imana :
B Q konstanta $ater influH, bbl2psi
Q 1,114 8
e
r
$
2
h 23>D!
Q porositas rata-rata, fraksi
8
e
Q kompressibilitas air formasi, psi
-1
r
$
Q jari-jari sumur, ft
h Q ketebalan lapisan, ft
Q sudut yang dibentuk oleh lingkaran reser*oar
Ot! Q $ater influH yang merupakan fungsi dari t
%
, tak berdimensi
t
%
Q $aktu perembesan air, tak berdimensi

2
3
1D 323 , >
w e
r 6
kt
;

k Q permeabilitas, m%
t Q $aktu perembesan air, hari day!
Q *iskositas air formasi, cp
2.D.1. Meto!e De(line $ur6e
Metode decline cur*e merupakan penentuan perkiraan cadangan
hidrokarbon yang dilakukan berdasarkan data-data produksi atau grafik penurunan
produksi, yang biasanya menunjukkan hubungan antara laju produksi *ersus
$aktu atau prosuksi komulatif, seperti terlihat di 6ambar 2.<2.
Ga,"ar 2.D2.
(ype "lot -aju "roduksi *s "roduksi )omulatif
@deh, 0.'., 1455!
%ari 6ambar 2.<2. terlihat bah$a laju produksi mula-mula stabil dan
setelah periode produksi tertentu, laju produksi mengalami penurunan.
0nalisa decline cur*e merupakan suatu interpolasi data-data produksi yang telah
diperoleh sebelumnya tanpa memperlihatkan hukum-hukum kimia dan fisika
tentang aliran minyak atau gas dalam reser*oar.
'yarat-syarat yang harus dipenuhi dalam memperkirakan besarnya
cadangan hidrokarbon dengan metode decline cur*e, adalah :
- "roduksi telah turun,
- 'umur diproduksi pada kapasitasnya, dan
- (idak terjadi perubahan metode produksi.
Berdasarkan bentuk penurunannya, ada tiga jenis decline cur*e, yaitu eHponential,
hyperbolic dan harmonic decline.
2.D.1.1. E%3onential De(line
?Hponential decline sering disebut constant percentage decline, dimana
kur*anya mempunyai harga penurunan laju produksi persatuan $aktu sebanding
dengan laju produksinya, yang secara matematis dituliskan :

a
t
' '

2
atau
t a
'
'


PPPPPPPPPP.P.2-<>!
0pabila persamaan 2-<>! diintegralkan, dimana 9
3
adalah laju mula-
mula, dan 9
t
adalah laju produksi pada saat t, maka :



't
'i
t
o
' t a
PPPPPPPP.PPPP...PPPPP.2-
<<!
a t Q ln 9
3
= ln 9
t

1
]
1

t
i
'
'
ln
9
t
Q 9
3
eHp -a t! PPPPPPPPPP...PPPPPP..2-<5!
keterangan :
9 Q laju produksi
a Q decline rate

9
2
t
Q perubahan laju produksi terhadap $aktu
Bentuk grafik hubungan antara laju produksi *ersus $aktu pada kertas
semi-log adalah garis linier, seperti terlihat pada 6ambar 2.<3.c!.
/ika E
p
adalah produksi komulatif, maka besarnya dapat ditentukan
dengan persamaan :

t
p
' 5
D

PPPP..PPPP.P...PPPP...PPP.P.2-
<4!
%engan mensubstitusikan persamaan 2-<5! ke dalam persamaan 2-<4!, maka :


't
'i
p
a
'
5

PPPPPPP.PPP.PPPPPPP.P2-
5D!

a
't 'i
5
p

PPPPP.PP..PPPPPPPPPP...2-51!
0pabila persamaan 2-5D! disubstitusikan ke dalam persamaan 2-52!
untuk produksi sampai batas ekonomisnya economic limit!, maka akan
diperoleh :

a i
a i
p a
' '
' '
5 t

2 lnT
PPP..PPPPP...PPPPP..P.2-52!
2.D.1.2. )A3er"oli( De(line
Besarnya decline rate pada hyperbolic decline adalah berubah-ubah, yang
secara matematis dituliskan :

n
i
n
i
'
'
a
a

PPP..PPPPPPP..PPPPPPPP..2-53!
%imana :
n Q konstanta yang menyatakan nomor antara D = 1. 0pabila persamaan 2-<5!
disubstitusikan ke dalam persamaan 2-5C!, maka :

n
i
n
i
'
'
a
t '
'

1
]
1

atau

! 1 +

n '
' '
t a
n
i
i

PPPPP..PPPPPPPPP..P.2-
5C!
0pabila persamaan 2-<>! diintegralkan, dimana 9
3
adalah laju mula-
mula, dan 9
t
adalah laju produksi pada saat t, maka :


+

t
i
'
'
' n n
i
t
' ' t ai

! 1
D
PPPPP...PPPPPP..PP2-
5B!
ai t Q
1
]
1


n
'i 't
'i
n n
n
atau
n ai t Q
1
1
]
1

n
n
't
'i
PPPPPPPPP...P.PPPPP2-5>!
[ ]
! 2 1
1
n
nait 'i 't

+ PPPPPP....PP...PPPP.P2-5<!
1ubungan antara produksi komulatif dengan laju produksi, seperti pada
persamaan 2-5<!, adalah :


1
]
1



't
'i
't
'i
n
n
p
'
ai
'i
'
a
'
5

PPPPPPPPPP..2-
55!

[ ]
! 1 ! 1
! 1
n n
n
p
't 'i
n ai
'i
5

PPPPPPPPP..P.2-
54!
1ubungan antara produksi komulatif dengan laju produksi hasil persamaan
2-55!, apabila diplot pada kertas grafik semi-log, maka akan berbentuk garis
linier, seperti terlihat pada 6ambar 2.<3.d!.
2.D.1.1. )ar,oni( De(line
1armonic decline merupakan bentuk khusus dari hyperbolic decline,
dimana penurunan laju produksi persatuan $aktu berbanding lurus terhadap laju
produksinya, karena harga n Q 1.
'ecara matematis, bentuk persamaan hormonic decline sama dengan
persamaan 2-54!, untuk harga n Q 1 yaitu :

! 1 t a
'
't
i
i
+

PPPP..PPP.PPPPPP...PP.2-4D!
1ubungan antara produsi komulatif dengan laju produksi, seperti pada
persamaan 2-55!, adalah :



't
'i
't
'i i i
p
a ' '
'
a
'
5
! 2

PPPPPP..PPP...PP.2-
41!
1
]
1

1
]
1

't
'i
ai
'i
5
p
ln
PPPPPPP...PPP.PP..P...2-42!
Ga,"ar 2.D1.
6rafik 1ubungan -aju "roduksi *s &aktu dan "roduksi
)omulatif #ntuk Beberapa 1arga %ecline ;ate
Bro$n,145C!