Anda di halaman 1dari 35

Oleh

MUHAMMAD REZA, SE
3. Sejarah Pemikiran Manusia
tentang Tuhan

Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah
konsep yang didasarkan atas hasil pemikiran baik
melalui pengalaman lahiriah maupun batiniah, baik
yang bersifat penelitian rasional maupun
pengalaman batin.
Dalam literatur sejarah agama, dikenal teori
evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya
proses dari kepercayaan yang amat sederhana,
lama kelamaan meningkat menjadi sempurna.
Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max
Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor,
Robertson Smith, Lubbock dan Javens.


Perkembangan Pemikiran Tentang Tuhan Menurut Teori
Evolusionisme adalah sebagai berikut :

1.Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif
telah mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh
dalam kehidupan.
Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut
ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai
pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruh
positif dan ada pula yang berpengaruh negatif.
Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan
nama yang berbeda-beda, seperti mana
(Melanesia), tuah (Melayu), dan syakti (India).


Mana adalah kekuatan gaib yang tidak dapat dilihat
atau diindera dengan pancaindera. Oleh karena itu dianggap
sebagai sesuatu yang misterius. Meskipun Mana tidak dapat
diindera, tetapi ia dapat dirasakan pengaruhnya.

2. Animisme
Masyarakat primitif pun mempercayai adanya peran
roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik,
mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai
sebagai sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah mati.
Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang selalu
hidup, mempunyai rasa senang, rasa tidak senang apabila
kebutuhannya dipenuhi. Menurut kepercayaan ini, agar
manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut,
manusia harus menyediakan kebutuhan roh. Saji-sajian yang
sesuai dengan saran dukun adalah salah satu usaha untuk
memenuhi kebutuhan roh.




3.Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak
memberikan kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi
sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian
disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu
sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang bertanggung jawab
terhadap cahaya, ada yang membidangi masalah air, ada yang
membidangi angin dan lain sebagainya.

4.Henoteisme
Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum
cendekiawan. Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan
seleksi, karena tidak mungkin mempunyai kekuatan yang sama. Lama-
kelamaan kepercayaan manusia meningkat menjadi lebih definitif
(tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut
dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan (Ilah) bangsa
lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan
henoteisme (Tuhan Tingkat Nasional).


5.Monoteisme

Kepercayaan dalam bentuk henoteisme melangkah
menjadi monoteisme. Dalam monoteisme hanya
mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat
internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat
Ketuhanan terbagi dalam tiga paham, yaitu: deisme,
panteisme, dan teisme.

Evolusionisme dalam kepercayaan terhadap Tuhan
sebagaimana dinyatakan oleh Max Muller dan EB. Taylor
(1877), ditentang oleh Andrew Lang (1898) yang menekankan
adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia
mengemukakan bahwa orang-orang yang berbudaya rendah
juga sama monoteismenya dengan orang-orang Kristen.
Mereka mempunyai kepercayaan pada wujud yang Agung
dan sifat-sifat yang khas terhadap Tuhan mereka, yang tidak
mereka berikan kepada wujud yang lain.

Dengan lahirnya pendapat Andrew Lang, maka berangsur-
angsur golongan evolusionisme menjadi reda dan sebaliknya
sarjana-sarjana agama terutama di Eropa Barat mulai
menantang evolusionisme dan memperkenalkan teori baru
untuk memahami sejarah agama. Mereka menyatakan bahwa
ide tentang Tuhan tidak datang secara evolusi, tetapi dengan
relevansi atau wahyu.


Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan pada penyelidikan
bermacam-macam kepercayaan yang dimiliki oleh
kebanyakan masyarakat primitif. Dalam penyelidikan
didapatkan bukti-bukti bahwa asal-usul kepercayaan
masyarakat primitif adalah monoteisme dan monoteisme
adalah berasal dari ajaran wahyu Tuhan (Zaglul Yusuf,
1993:26-27).


Pemikiran Umat Islam
Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu
Tauhid, Ilmu Kalam, atau Ilmu Ushuluddin di kalangan umat
Islam, timbul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW. Secara
garis besar, ada aliran yang bersifat liberal, tradisional, dan
ada pula yang bersifat di antara keduanya. Sebab timbulnya
aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan metodologi
dalam memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan
kontekstual sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional.
Sedang sebagian umat Islam yang lain memahami dengan
pendekatan antara kontektual dengan tektual sehingga lahir
aliran yang bersifat antara liberal dengan tradisional. Ketiga
corak pemikiran ini telah mewarnai sejarah pemikiran ilmu
ketuhanan dalam Islam.
Aliran tersebut yaitu:

a. Mutazilah yang merupakan kaum rasionalis di kalangan
muslim, serta menekankan pemakaian akal pikiran dalam
memahami semua ajaran dan keimanan dalam Islam. Orang
islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mukmin.
Ia berada di antara posisi mukmin dan kafir (manzilah bainal
manzilatain).
Dalam menganalisis ketuhanan, mereka memakai
bantuan ilmu logika Yunani, satu sistem teologi untuk
mempertahankan kedudukan keimanan. Hasil dari paham
Mutazilah yang bercorak rasional ialah muncul abad
kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun kemajuan
ilmu pengetahuan akhirnya menurun dengan kalahnya mereka
dalam perselisihan dengan kaum Islam ortodoks. Mutazilah
lahir sebagai pecahan dari kelompok Qadariah, sedang
Qadariah adalah pecahan dari Khawarij.

b. Qodariah yang berpendapat bahwa manusia mempunyai
kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri
yang menghendaki apakah ia akan kafir atau mukmin dan hal
itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab
atas perbuatannya.

c. Jabariah yang merupakan pecahan dari Murjiah berteori
bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam
berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia
ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan.

d. Asyariyah dan Maturidiyah yang pendapatnya berada di
antara Qadariah dan Jabariah
Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran
ketuhanan dalam kalangan umat islam periode masa lalu.
Pada prinsipnya aliran-aliran tersebut di atas tidak
bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Oleh karena itu
umat Islam yang memilih aliran mana saja diantara aliran-
aliran tersebut sebagai teologi mana yang dianutnya, tidak
menyebabkan ia keluar dari islam. Menghadapi situasi dan
perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, umat Islam
perlu mengadakan koreksi ilmu berlandaskan al-Quran dan
Sunnah Rasul, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik
tertentu. Di antara aliran tersebut yang nampaknya lebih
dapat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan
meningkatkan etos kerja adalah aliran Mutazilah dan
Qadariah.
Tuhan Menurut Agama-
agama Wahyu

Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya
didasarkan atas pengamatan dan pengalaman serta
pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab
Tuhan merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga
informasi tentang Tuhan yang hanya berasal dari
manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil renungan
maupun pemikiran rasional, tidak akan benar.

Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap
Tuhan antara lain tertera dalam:

1.QS 21 (Al-Anbiya): 92, Sesungguhnya agama yang
diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh
karena itu seharusnya manusia menganut satu agama, tetapi
mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali kepada
Allah dan Allah akan menghakimi mereka.

Ayat tersebut di atas memberi petunjuk kepada
manusia bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan konsep
tentang ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu hingga
sekarang. Melalui Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan
dirinya melalui ajaran-Nya, yang dibawa para Rasul, Adam
sebagai Rasul pertama dan Muhammad sebagai terakhir.
Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan
di antara agama-agama adalah karena perbuatan manusia.
Ajaran yang tidak sama dengan konsep ajaran aslinya,
merupakan manipulasi dan kebohongan manusia yang
teramat besar.
2. QS 5 (Al-Maidah):72, Al-Masih berkata: Hai Bani Israil
sembahlah Allah Tuhaku dan Tuhanmu. Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat mereka
adalah neraka.

3. QS 112 (Al-Ikhlas): 1-4, Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang
Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya
segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan
Dia.

Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah
Allah. Kata Allah adalah nama isim jumid atau personal
name. Merupakan suatu pendapat yang keliru, jika nama
Allah diterjemahkan dengan kata Tuhan, karena dianggap
sebagai isim musytaq.
Tuhan yang haq dalam konsep al-Quran adalah Allah. Hal ini
dinyatakan antara lain dalam surat Ali Imran ayat 62, surat Shad
35 dan 65, surat Muhammad ayat 19. Dalam al-quran
diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan yang diberikan
kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga.
Perhatikan antara lain surat Hud ayat 84 dan surat al-Maidah
ayat 72. Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam
surat al-Ankabut ayat 46, Thaha ayat 98, dan Shad ayat 4.

Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka
menurut informasi al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan
yang benar-benar Tuhan adalah sebutan Allah, dan
kemahaesaan Allah tidak melalui teori evolusi melainkan melalui
wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti konsep tauhid telah
ada sejak datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa menurut
al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak
berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi
bagian-bagian.
Keesaan Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau
disejajarkan dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang
mengikrarkan kalimat syahadat La ilaaha illa Allah harus
menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam setiap
tindakan dan ucapannya.

Konsepsi kalimat La ilaaha illa Allah yang bersumber dari al-
quran memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai
kecenderungan untuk mencari Tuhan yang lain selain Allah
dan hal itu akan kelihatan dalam sikap dan praktik menjalani
kehidupan.
Tuhan dalam Agama Samawi
Agama samawi atau agama langit dimaksudkan untuk menunjuk agama
Yahudi, Nasrani (Kristen/Katolik) dan Islam. Diantara agama-agama ini
menggunakan sebutan/panggilan yang berbeda yang dikarenakan
perbedaan bahasa dan ajarannya.

Allah, sebutan bagi Tuhan dalam bahasa Arab. Biasanya dipakai oleh
umat Islam. Dalam agama Islam, Tuhan memiliki 99 nama suci.

Yehowa atau Yahweh, salah satu istilah yang dipakai Alkitab. Istilah ini
berasal dari istilah berbahasa Ibrani tetragrammaton YHVH (). Nama
ini tidak pernah dilafalkan karena dianggap sangat suci, maka cara
pengucapan YHVH yang benar tidaklah diketahui. Biasanya yang
dilafalkan adalah Adonai yang berarti Tuan.

Sang Hyang Tritunggal Mahasuci, yang artinya adalah Bapa, Putra, dan
Roh Kudus, terutama dipakai dalam Gereja Katolik dan Gereja
Ortodoks. Konsep ini dipakai sejak Konsili Nicea pada TAHUN 325 M.



Tuhan dalam agama Buddha


Dalam ajaran agama Buddha, Sang Buddha bukanlah
Tuhan dalam agama Buddha yang bersifat non-teis (yakni,
pada umumnya tidak mengajarkan keberadaan Tuhan sang
pencipta, atau bergantung kepada Tuhan sang pencipta demi
dalam usaha mencapai pencerahan; Sang Buddha adalah
pembimbing atau guru yang menunjukkan jalan menuju
nirwana).

Tuhan menurut Hindu
Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin
dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini
merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa
sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan
Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang
disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa
atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari
Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan
Pelebur alam semesta dengan segala isinya.

Tuhan dalam Islam

Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai
Yang Tunggal dan Maha Kuasa (tauhid). Dia itu wahid dan Esa
(ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut al-Qur'an
terdapat 99 Nama Allah (asma'ul husna artinya: "nama-nama
yang paling baik") yang mengingatkan setiap sifat-sifat Tuhan
yang berbeda. Semua nama tersebut mengacu pada Allah,
nama Tuhan Maha Tinggi dan Maha Luas. Diantara 99 nama
Allah tersebut, yang paling terkenal dan paling sering
digunakan adalah "Maha Pengasih" (ar-rahman) dan "Maha
Penyayang" (ar-rahim).

Pembuktian Wujud Tuhan

1. Metode Pembuktian Ilmiah
Tantangan zaman modern terhadap agama terletak
dalam masalah metode pembuktian. Metode ini
mengenal hakikat melalui percobaan dan
pengamatan, sedang akidah agama berhubungan
dengan alam di luar indera, yang tidak mungkin
dilakukan percobaan (agama didasarkan pada
analogi dan induksi). Hal inilah yang menyebabkan
menurut metode ini agama batal, sebab agama
tidak mempunyai landasan ilmiah.

Sebenarnya sebagian ilmu modern juga batal, sebab
juga tidak mempunyai landasan ilmiah. Metode baru tidak
mengingkari wujud sesuatu, walaupun belum diuji secara
empiris. Di samping itu metode ini juga tidak menolak analogi
antara sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang telah
diamati secara empiris. Hal ini disebut dengan analogi ilmiah
dan dianggap sama dengan percobaan empiris.

Suatu percobaan dipandang sebagai kenyataan ilmiah,
tidak hanya karena percobaan itu dapat diamati secara
langsung. Demikian pula suatu analogi tidak dapat dianggap
salah, hanya karena dia analogi. Kemungkinan benar dan
salah dari keduanya berada pada tingkat yang sama.

Percobaan dan pengamatan bukanlah metode sains yang
pasti, karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada persoalan
yang dapat diamati dengan hanya penelitian secara empiris
saja.


Teori yang disimpulkan dari pengamatan merupakan
hal-hal yang tidak punya jalan untuk mengobservasi. Orang
yang mempelajari ilmu pengetahuan modern berpendapat
bahwa kebanyakan pandangan pengetahuan modern, hanya
merupakan interpretasi terhadap pengamatan dan pandangan
tersebut belum dicoba secara empiris. Oleh karena itu banyak
sarjana percaya padanya hakikat yang tidak dapat diindera
secara langsung. Sarjana mana pun tidak mampu melangkah
lebih jauh tanpa berpegang pada kata-kata seperti: Gaya
(force), Energy, alam (nature), dan hukum alam. Padahal
tidak ada seorang sarjana pun yang mengenal apa itu: Gaya,
energi, alam, dan hukum alam. Sarjana tersebut tidak mampu
memberikan penjelasan terhadap kata-kata tersebut secara
sempurna, sama seperti ahli teologi yang tidak mampu
memberikan penjelasan tentang sifat Tuhan. Keduanya
percaya sesuai dengan bidangnya pada sebab-sebab yang
tidak diketahui.
Dengan demikian tidak berarti bahwa agama adalah
iman kepada yang ghaib dan ilmu pengetahuan adalah
percaya kepada pengamatan ilmiah. Sebab, baik agama
maupun ilmu pengetahuan kedua-duanya berlandaskan pada
keimanan pada yang ghaib. Hanya saja ruang lingkup agama
yang sebenarnya adalah ruang lingkup penentuan hakikat
terakhir dan asli, sedang ruang lingkup ilmu pengetahuan
terbatas pada pembahasan ciri-ciri luar saja. Kalau ilmu
pengtahuan memasuki bidang penentuan hakikat, yang
sebenarnya adalah bidang agama, berarti ilmu pengetahuan
telah menempuh jalan iman kepada yang ghaib. Oleh sebab
itu harus ditempuh bidang lain.

Para sarjana masih menganggap bahwa hipotesis yang
menafsirkan pengamatan tidak kurang nilainya dari hakikat
yang diamati.
Mereka tidak dapat mengatakan: Kenyataan yang
diamati adalah satu-satunya ilmu dan semua hal yang
berada di luar kenyataan bukan ilmu, sebab tidak dapat
diamati.

2. Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan

Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan
dan rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan
penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah
menciptakannya, suatu Akal yang tidak ada batasnya.
Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya ada dan
percaya pula bahwa alam ini ada. Dengan dasar itu dan
dengan kepercayaan inilah dijalani setiap bentuk kegiatan
ilmiah dan kehidupan.



BUKTI ADANYA ALLAH

1. Dalil Fitrah
Manusia diciptakan dengan fitrah bertuhan, sehingga
kadangkala disadari atau tidak, disertai belajar ataupun
tidak naluri berketuhanannya itu akan bangkit. Firman Allah

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka
menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi. (al-Araf:172)

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:
Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka
menjawab: Allah, maka bagaimanakah mereka dapat
dipalingkan (dari menyembah Allah)?, (az-Zukhruf:87)



Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan
sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Al Bukhari)

2. Dalil Akal
Akal yang digunakan untuk merenungkan keadaan
diri manusia, alam semesta dia dapat membuktikan adanya
Tuhan. Di antara langkah yang bisa ditempuh untuk
membuktikan adanya Tuhan melalui akal adalah dengan
beberapa teori, antara lain;


a. Teori Sebab.
Segala sesuatu pasti ada sebab yang
melatarbelakanginya. Adanya sesuatu pasti ada yang
mengadakan, dan adanya perubahan pasti ada yang
mengubahnya. Mustahil sesuatu ada dengan sendirinya.
Mustahil pula sesuatu ada dari ketiadaan. Pemikiran tentang
sebab ini akan berakhir dengan teori sebab yang utama
(causa prima), dia adalah Tuhan.
b. Teori Keteraturan.
Alam semesta dengan seluruh isinya, termasuk
matahari, bumi, bulan dan bintang-bintang bergerak dengan
sangat teratur. Keteraturan ini mustahil berjalan dengan
sendirinya, tanpa ada yang mengatur.
c. Teori Kemungkinan (Problabyitas)
Adakah kemungkinan sebuah komputer ditinggalkan
oleh pemiliknya dalam keadaan menyala. Tiba-tiba datang
dua ekor tikus bermain-main di atas tuts keyboard, dan
setelah beberapa saat di monitor muncul bait-bait puisi yang
indah dan penuh makna?
3. Dalil Naqli
Meskipun secara fitrah dan akal manusia telah
mampu menangkap adanya Tuhan, namun manusia tetap
membutuhkan informasi dari Allah swt untuk mengenal dzat-
Nya. Sebab akal dan fitrah tidak bisa menjelaskan siapa
Tuhan yang sebenarnya.

Allah menjelaskan tentang jati diri-Nya di dalam Al-Quran;
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia
bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada
siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya
pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan
semesta alam.(al-Araf:54)
4. Dalil Inderawi
Bukti inderawi tentang wujud Allah swt dapat dijelaskan
melalui dua fenomena:

a. Fenomena Pengabulan doa
Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya
doa orang-orang yang berdoa serta memohon pertolongan-
Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan
musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud
Allah Swt. Allah berfirman:
Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan
Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia
beserta keluarganya dari bencana yang besar. (Al Anbiya:
76)
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada
Robbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu (Al Anfaal: 9)
b. Fenomena Mukjizat
Allah
berfirman,
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: Pukullah lautan itu
dengan tongkatmu.: Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap
belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy Syuaraa: 63)
Contoh kedua adalah mukjizat Nabi Isa as. ketika
menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu
mengeluarkannya dari kubur dengan ijin Allah. Allah swt
berfirman:
dan aku menghidupkan orang mati dengan seijin Allah (Ali
Imran: 49)
dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari
kuburnya (menjadi hidup) dengan ijin-Ku. (Al Maidah 110)
Tanda-tanda yang diberikan Allah, yang dapat dirasakan oleh
indera kita itu adalah bukti pasti wujud-Nya.

Dimana Allah?

Jawaban yang pertama berasal dari kaum wihdatul wujud
(kesatuan wujud Allah dengan manusia) yang telah
dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang.
Sedangkan jawaban yang kedua keluar dari kaum
Jahmiyyah (faham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan
Mutazilah, serta mereka yang sefaham dengan keduanya
dari ahlul bidah.

Rasulullah pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang
budak perempuan milik Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulamy
sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh
tuannya yaitu Muawiyah :

Artinya :

Beliau bertanya kepadanya : Di manakah Allah ?.

Jawab budak perempuan :
Di atas langit.

Beliau bertanya (lagi) : Siapakah Aku ..?.

Jawab budak itu : Engkau adalah Rasulullah.

Beliau bersabda : Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya
ia muminah (seorang perempuan yang beriman).

SEKIAN

TERIMAKASIH ATAS
PERHATIANNYA