Anda di halaman 1dari 11

67

PRODUKSI BIOGAS DARI TIGA
JENIS KOTORAN TERNAK
PADA BERBAGAI SUHU

(The Biogas Production from Three
Kinds of Domestic Animal’s Faeces
in Various Temperature)


Masjhudi



Abstrak: Biogas merupakan campuran gas-gas: metana, karbon
dioksida, nitrogen, oksigen, propana, hidrogen sulfida, dan lain-lain
sebagai hasil penguraian sampah organik oleh mikroba secara
anaerob. Kotoran ternak termasuk salah satu contoh sampah organik.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi biogas antara lain:
(1) perbandingan atom carbon dan nitrogen (C/N) dari masing-masing
sampah organik, dan (2) suhu. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh jenis kotoran ternak, dan suhu terhadap
produksi biogas. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak
Kelompok (RAK). Eksperimen ini terdiri atas 2 faktor yaitu faktor A
berupa 3 jenis kotoran ternak (kotoran kambing, sapi dan kuda) dan
faktor B berupa 3 tingkat suhu (25,8
0
C, 33
0
C, dan 40,8
0
C). Data hasil
penelitian adalah volume biogas (cc) yang dihasilkan oleh penguraian
ketiga jenis kotoran ternak. Data tersebut dianalisis dengan ANAVA
(Analisis Varians), dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa: (1) jenis kotoran ternak berpengaruh nyata
terhadap produksi biogas dengan urutan produksi rerata biogas dari
yang tertinggi ke yang terendah adalah sebagai berikut: kotoran sapi
(139,4 cc), kotoran kuda (118,1 cc), kotoran kambing (70,8 cc), (2)
suhu berpengaruh nyata terhadap produksi biogas dengan urutan
produksi rerata biogas dari yang tertinggi ke yang terendah adalah
suhu 40,8
0
C (143,3 cc), suhu 33
0
C (108,2 cc), suhu 25,8
0
C (76,8 cc).
Kata kunci: biogas, kotoran ternak, suhu.
Masjhudi adalah Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

CHIMERA, TAHUN 8, NOMOR 2, JULI 2003


68
Abstract: Biogas is composed of methana, carbondioxyde, nitrogen,
oxygen, propane, hydrogensulphide, etc. as a product of anaerob
decomposition of organic waste by microorganisms. Domestic
animal’s faeces is one example of organic waste product. Some
factors which influences on biogas production includes: (1) carbon-
nitrogen ratio (C/N) of each organic waste product, and (2)
temperature. The purpose of this reseach was to know the effect of
source of faeces, and temperature on biogas production. This
experiment had two factors: A factor was three source of faeces (goat,
cow, and horse), B factor was three degree of temperature (25.8
o
C,
33
o
C, and 40.8
o
C). Research data was the volume of biogas (cc)
produced from decomposition process of three kinds of domestic
animal’s faeces. ANAVA was used to data analysis and continued
with LSD test. The result showed that (1) the source of faeces
significantly affect biogas production in different temperature and
cow’s faeces produced 139.4 cc, horse’s faeces 118.1 cc, and goat’s
faeces 70.8 cc biogas, respectively; (2) temperature significantly
affect the average of biogas production: 143.3 cc (40.8
o
C), 108.2 cc
(33
o
C), and 76.8 cc (25.8
o
C), respectively.
Key words: animal’s faeces, biogas, temperature.



Biogas merupakan salah satu energi alternatif yang dapat digunakan untuk
menanggulangi kekurangan minyak bumi. Pemikiran itu didasarkan atas
pertimbangan bahwa nilai kalori yang dihasilkan biogas cukup tinggi. Blot
(1976) menyebutkan bahwa nilai kalori biogas per meter kubik mencapai
17% lebih tinggi daripada bensin. Nilai kalori gas metana murni adalah
8.900 kilo kalori per m
3
, sedangkan nilai kalori biogas (campuran dari
gas-gas) berkisar antara 5.000--6.515 kilo kalori per m
3
. Di samping itu,
biogas merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui dan proses
pembuatannya relatif mudah serta bahan bakunya melimpah. Beberapa
keuntungan yang dapat diperoleh dari pemrosesan biogas menurut Borda
(1990:13): beaya pengolahannya relatif lebih murah jika dibandingkan
dengan bahan bakar minyak, sisa pemrosesannya dapat dimanfaatkan untuk
pupuk yang bernilai nutrisi lebih tinggi daripada kotoran ternak segar, dapat
mengurangi kerusakan hutan dan biogas bebas asap.
Biogas merupakan hasil penguraian sampah-sampah organik yang
dilakukan oleh mikroba secara anaerob. Hasil penguraiannya berupa
campuran gas-gas: metana, karbon dioksida, nitrogen, oksigen, propana,
hidrogen sulfida dan lain-lain. Dari campuran gas-gas tersebut, Henderson
Masjhudi, Produksi Biogas dari …

69
dan Knutton (1990:91) menyebutkan bahwa kandungan gas metana berkisar
antara 60--70%; sedangkan Price (1981:1) menyebutkan kandungannya
berkisar antara 50--70%.
Beberapa contoh sampah organik adalah sampah dedaunan, sisa
pengolahan bahan makanan, limbah rumah tangga, tinja manusia, dan
kotoran ternak. Sebagaimana diketahui bahwa kotoran ternak banyak
dijumpai di daerah pedesaan. Ternak sapi potong dan kambing, menurut
catatan dari Dinas Peternakan Kodya Malang pada triwulan I tahun 1996
populasinya masih cukup tinggi; masing- masing 4.093 dan 1.419 ekor.
Kedua jenis ternak ini tergolong ternak ruminansia. Disebutkan oleh J unus
(1995:94), mikroba pembentuk metana hanya dikandung oleh kotoran
ternak ruminansia. Ternak kuda tergolong ternak non-ruminansia. Apakah
dari kotoran ternak kuda dapat dihasilkan biogas, hal ini perlu diadakan
penelitian.
Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi biogas adalah
perbedaan kualitas bahan baku. Kualitas bahan baku yang dimaksud adalah
perbandingan antara atom C dan atom N (C/N). Rakhmadiono (1987) dan
Hadi (1979) menyebutkan bahwa perbandingan C/N pada beberapa jenis
kotoran ternak berbeda-beda. Kotoran sapi, kuda dan kambing mempunyai
perbandingan C/N berturut-turut: 18, 25, dan 30. Atas dasar perbedaan
kandungan C/N tersebut, diduga perbedaan jenis kotoran ternak dapat
menimbulkan perbedaan dalam hal produksi biogas yang dihasilkannya.
Faktor lain yang juga mempengaruhi produksi biogas adalah suhu.
Suhu udara dan suhu substrat di dalam tangki pencerna (tangki penghasil
biogas) mempunyai peranan cukup besar dalam menghasilkan biogas. Suhu
udara dapat mempengaruhi suhu substrat di dalam tangki pencerna,
terutama tangki pencerna yang ditempatkan di atas permukaan tanah.
Perkembangan bakteri di dalam tangki pencerna sangat dipengaruhi oleh
suhu. Menurut Harahap (1994), pencernaan anaerob untuk menghasilkan
biogas dapat berlangsung pada kisaran suhu 5-55
o
C dengan suhu optimum
35
o
C. Suhu yang lebih tinggi akan menghasilkan biogas yang lebih banyak.
Price (1981:11) menyebutkan bahwa proses pencernaan dan produksi biogas
dapat terjadi pada kisaran suhu 4-60
o
C dengan suhu optimum 29-35
o
C.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas, menunjukkan bahwa
suhu berpengaruh terhadap produksi biogas, di samping terdapat perbedaan
pendapat tentang suhu optimum bagi proses pembentukan biogas. Oleh
karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh suhu
terhadap produksi biogas yang dihasilkan oleh tiga jenis kotoran ternak.
Berdasarkan uraian di atas, dilakukan penelitian tentang “Produksi
biogas dari tiga jenis kotoran ternak pada berbagai suhu", dengan rumusan
CHIMERA, TAHUN 8, NOMOR 2, JULI 2003


70
masalah sebagai berikut: (1) Adakah pengaruh jenis kotoran ternak terhadap
produksi biogas pada berbagai suhu, (2) Adakah pengaruh variasi suhu
terhadap produksi biogas.

BAHAN DAN METODE
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental, untuk menguji
pengaruh suhu terhadap produksi biogas pada berbagai jenis kotoran ternak.
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK).
Setiap perlakuan diulang 3 kali.
Variabel-variabel bebas yang akan dilihat pengaruhnya pada
penelitian ini meliputi: (1) Faktor A: (a) kambing, (b) sapi, dan (c) kuda, (2)
Faktor B: (a) 25,8
0
C, (b) 33
0
C , dan (c) 40,8
0
C, Sedangkan variabel
terikat pada penelitian ini adalah volume biogas (dalam cc) yang dihasilkan
setiap 1 x 24 jam.
Sampel kotoran ternak dikumpulkan pada pagi hari sekitar pukul 6.00
WIB dari seorang peternak di desa Bandulan, Sukun, Kodya Malang.
Kotoran yang diambil adalah kotoran yang masih segar (keluaran dari tubuh
ternak ± 1) dan dipilih yang baik (misalnya: butiran kotoran kambing tidak
pecah, kotoran sapi dan kuda tidak berbentuk cair) serta tidak bercampur
dengan sisa pakan. Masing-masing kotoran dimasukkan ke dalam kantong
plastik untuk menghindari penguapan dan pengeringan lebih lanjut. Rentang
waktu antara keluaran kotoran dari tubuh ternak sampai dengan awal
pemrosesan bahan isian diusahakan sama untuk semua jenis kotoran ternak,
yaitu ± 2 jam.
Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a).
Alat penghasil biogas (lihat Gambar 1), b). Termometer alkohol, c).
Termometer ruang, d). pH-meter digital, e). Slang silikon, f). Klem,
g). Cetok, h). Kantong plastik, i). Timbangan, j). Gelas ukur, k). Tong
plastik, l). Alat pengaduk, m). Waring blendor, n). Lampu pijar, dan o). Air
sumur.









Masjhudi, Produksi Biogas dari …

71
















Gambar 1 Alat Penghasil Biogas (dimodifikasi dari: Harahap, 1994:33)

Keterangan:
A. Digester (tangki pencerna).
B. Tangki penampung biogas.
C. Gelas ukur (untuk mengukur volume air yang tumpah dari tabung B, karena tekanan dari
biogas).
1. Slurry (campuran antara kotoran ter-
nak dan air).
2. Pengaduk slurry
3. Termometer.
4. Lubang tempat memasukan slurry.
5. Pipa penyalur biogas.
6. Stop kran/klem.
7. Lubang untuk memasukan air ke dalam tangki
penampung biogas.
8. Pipa untuk saluran air yang tumpah dari
tabung B ke gelas ukur C.

Langkah-langkah Pelaksanaan Eksperimen
(1). Pencampuran Kotoran Ternak dengan Air
Setiap tangki pencerna diperlukan 5000 g campuran kotoran ternak
dan air. Hasil campuran tersebut diusahakan mengandung 8% bahan kering.
Karena kandungan bahan kering setiap jenis kotoran ternak berbeda, maka
penambahan air untuk masing-masing kotoran ternak juga berbeda. Secara
lengkap, perbandingan antara masing-masing jenis kotoran ternak dan air
dapat dilihat pada Tabel 1.
Untuk kotoran kambing, dihancurkan terlebih dahulu dengan waring
blendor sebelum pencampuran. Agar hasil pencampuran menjadi homogen,
perlu dilakukan pengadukan sebelum dimasukkan ke dalam digester (tangki
CHIMERA, TAHUN 8, NOMOR 2, JULI 2003


72
pencerna).

Tabel 1 Perbandingan Antara Tiap Jenis Kotoran Ternak dan Air

J enis
Kotoran
J umlah Kotoran
(g)
J umlah Air (g) Hasil Campuran
(g)
Keterangan
Kambing 5.549,13 24.450,87 30.000 Untuk 6
digester
Sapi 13.745,70 16.254,30 30.000 Untuk 6
digester
Kuda 9.216,59 20.783,41 30.000 Untuk 6
digester

(2). Membuat Berbagai Variasi Suhu
Untuk mendapatkan tingkat suhu yang berbeda, digunakan lampu
pijar dengan merek sama (Philips), tetapi dayanya berbeda 10 watt dan 25
Watt. Lampu pijar ini ditempatkan di bawah tangki pencerna. Kedua lampu
pijar tersebut berturut-turut menghasilkan suhu 33
o
C dan 40,8
o
C.
Sedangkan apabila tanpa lampu pijar, menghasilkan suhu 25,8
o
C
(3). Memasukkan Bahan Isian ke dalam Tangki Pencerna
Campuran kotoran ternak dan air yang sudah homogen dimasukkan ke
dalam tabung pencerna dan segera menutupnya dengan tutup karet yang
sudah dilengkapi dengan termometer. Pipa penyalur pada tabung pencerna
dihubungkan dengan ujung pipa penyalur yang terdapat pada tabung
penampung biogas. Penghubung pipa penyalur ini terbuat dari slang silikon.
Pada slang penghubung dipasang klem. Sementara itu, tabung penampung
biogas diisi air sampai penuh dan segera ditutup dengan tutup karet.
(4). Menempatkan Alat Penghasil Biogas
Menempatkan alat penghasil biogas yang sudah berisi bahan isian
(campuran kotoran ternak dan air) pada tempat yang sudah disiapkan di
ruang penelitian Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang.
(5). Mengukur Volume Biogas
Mengukur volume biogas yang dihasilkan pada setiap unit alat
penghasil biogas. Pengukuran awal (hari pertama) dilakukan setelah 24 jam
sejak penempatan alat penghasil biogas. Pengukuran volume biogas
dilakukan setiap 1 x 24 jam pada pukul 11.00 WIB, mulai dari hari ke 1
sampai dengan hari ke 45.
Data hasil penelitian adalah produksi biogas/volume biogas. Analisis
data dilakukan dengan Analisis Varians (ANAVA) dan dilanjutkan dengan
uji Beda Nyata Terkecil (BNT).

Masjhudi, Produksi Biogas dari …

73
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ringkasan hasil analisis varians dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Ringkasan Hasil Analisis Varians Pengaruh Jenis Kotoran Ternak
dan Suhu Terhadap Produksi Biogas

Sum of
Squares
df Mean
Square
F Sig.
Biogas Main
Effects
Kotoran 1000132 2 500066.052 46.271 .000
Suhu 896783 2 448391.291 41.490 .000
2-Way
Interactions
Kotoran
* Suhu
404671 4 101167.714 9.361 .000
Residual 13033527 1206 10807.236
Total 15335113 1214 12631.888


1. Pengaruh Jenis Kotoran Ternak Terhadap Produksi Biogas pada
Variasi Suhu
Dari Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata
dari jenis kotoran ternak terhadap produksi biogas pada variasi suhu. Hal ini
ditunjukkan dengan taraf signifikansi (0.000) yang lebih kecil dari 0.05.
Untuk mengetahui urutan tingkat produksi biogas rerata dari yang
tertinggi ke yang terendah, dilakukan uji lanjut dengan BNT. Hasil uji lanjut
dengan BNT dapat dilihat pada Tabel 3.
Uji lanjut dengan BNT (Tabel 3) memperlihatkan bahwa pengaruh
antar kotoran ternak terhadap produksi biogas berbeda nyata. Selanjutnya,
dari Tabel 3 memperlihatkan pula bahwa rerata biogas yang dihasilkan oleh
ketiga jenis kotoran ternak dari yang tertinggi ke yang terendah berturut-
turut: kotoran sapi (139,4 cc), kotoran kuda (118,1 cc), dan kotoran kambing
(70,8 cc).

CHIMERA, TAHUN 8, NOMOR 2, JULI 2003


74
Tabel 3 Uji BNT Pengaruh Jenis Kotoran Ternak Terhadap Produksi Biogas
pada Perlakuan Suhu

{1} {2} {3}
KOT 70.8 139.4 118.1
1 {1} .000000* .000000*
2 {2} .000000* .005378*
3 {3} .000000* .005378*
* The mean difference is significant at the .05 level
Keterangan: KOT = jenis kotoran ternak (1 =kotoran kambing, 2 =kotoran sapi,
3 =kotoran kuda)

2. Pengaruh Variasi Suhu Terhadap Produksi Biogas
Dari Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata
dari variasi suhu terhadap produksi biogas. Hal ini di tunjukkan oleh
angka taraf sig-nifikansi sebesar 0.000 yang lebih kecil dari 0.05.
Untuk mengetahui urutan produksi biogas rerata dari yang tertinggi
ke yang terendah akibat pengaruh variasi suhu, dilakukan uji lanjut dengan
BNT. Hasil uji lanjut dengan BNT dapat dilihat pada Tabel 4.
Uji lanjut dengan BNT (Tabel 4) memperlihatkan bahwa pengaruh
antar perlakuan suhu (suhu 25,8
o
C, suhu 33
o
C, dan suhu 40,8
o
C) terhadap
produksi biogas berbeda nyata. Rerata biogas yang dihasilkan oleh kotoran
ternak karena pengaruh ketiga jenis suhu tersebut berturut-turut dari yang
tertinggi ke yang terendah adalah sebagai berikut: suhu 40,8
o
C (143,3 cc),
diikuti oleh suhu 33
o
C (108,2 cc), dan terakhir suhu 25,8
o
C (76,8 cc).

Tabel 4 Uji BNT Pengaruh Suhu Perlakuan Terhadap Produksi Biogas






* The mean difference is significant at the .05 level
Keterangan: SU = tingkat suhu (1 =25,8
o
C, 2 =33
o
C, 3 =40,8
o
C)

{1} {2} {3}
SU 76.8 108.2 143.3
1 {1} .000045* .000000*
2 {2} .000045* .000005*
3 {3} .000000* .000005*
Masjhudi, Produksi Biogas dari …

75
PEMBAHASAN
1. Pengaruh Jenis Kotoran Ternak Terhadap Produksi Biogas
pada Variasi Suhu
Pengaruh jenis kotoran ternak terhadap produksi biogas berbeda
nyata pada perlakuan suhu. Hasil analisis data dengan ANAVA
memperlihatkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari jenis kotoran ternak
terhadap produksi biogas pada variasi suhu dengan taraf nyata 5%. Uji lanjut
dengan BNT menunjukkan bahwa kotoran ternak yang paling tinggi
produksi biogasnya adalah kotoran sapi (139,4 cc) dikuti berturut-turut oleh
kotoran kuda (118,1 cc), dan kotoran kambing (70,8 cc).
Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi biogas adalah kandungan
unsur C/N. Perbandingan unsur C/N yang optimum untuk menghasilkan
biogas adalah 30 : 1 (Sanusi dan Santoso, 1980: Lastriyanto, 1993). Hasil
analisis kan-dungan unsur C/N dari sampel kotoran ternak yang dilakukan di
Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan dan
Laboratotium Tanah Fakultas Pertanian UNIBRAW MALANG, dari 3 kali
ulangan menghasilkan rerata rasio C/N untuk kotoran sapi, kuda dan
kambing berturut-turut: 36,33, 20,86, dan 49,28. J ika dikaitkan dengan
produksi biogas yang tertinggi adalah kotoran sapi, maka hasil ini sesuai
dengan rasio C/N optimum 30. Rasio C/N kotoran sapi lebih mendekati rasio
C/N optimum dari pada kotoran kuda dan kambing.
2. Pengaruh Variasi Suhu Terhadap Produksi Biogas
Hasil analisis varians menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata
dari variasi suhu terhadap produksi biogas pada taraf nyata 5%. Uji lanjut
dengan BNT menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar variasi suhu
dalam hal penga-ruhnya terhadap produksi biogas. Produksi rerata biogas
dari yang tertinggi ke yang terendah dapat diurutkan sebagai berikut: suhu
40,8
o
C (143,3 cc), suhu 33
o
C (108,2 cc), dan suhu 25,8
o
C (76,8 cc). Hal ini
berarti tingkat suhu yang dapat menghasilkan rerata biogas tertinggi terjadi
pada suhu 40,8
0
C. Hasil ini sesuai dengan pendapat Paimin (1995) yang
menyebutkan bahwa makin tinggi suhu makin banyak menghasilkan biogas;
namun suhu tersebut sebaiknya tidak melebihi suhu kebutuhan bakteri
pembentuk metana. Menurut Harahap (1994), pencernaan anaerob untuk
menghasilkan biogas dapat berlangsung pada kisaran suhu 5--55
0
C dengan
suhu optimum 35
0
C. Selanjutnya, Harahap (1994:59) menyebutkan bahwa
suhu bagi mikroorganisma dapat diidentikkan dengan energi yang dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan metabolisme sel dan aktivitas enzim.
Dalam proses perombakan bahan organik oleh mikroorganisma, pengaruh
suhu ini berhubungan dengan tingkat metabolisme sel dan aktivitas enzim
CHIMERA, TAHUN 8, NOMOR 2, JULI 2003


76
yang dihasilkannya yang cenderung meningkat sejalan dengan kenaikan
suhu. Meningkatnya metabolisme akan meningkatkan pula produk
metabolisme seperti biogas.
Suhu yang dimaksudkan oleh para ahli di atas adalah suhu di dalam
tangki pencerna, sedangkan pada penelitian ini merupakan suhu udara di luar
tangki pencerna. Walaupun demikian, kondisi yang berbeda ini masih dapat
dikaitkan; mengingat suhu udara di luar dapat mempengaruhi suhu di dalam
tangki pencerna melalui proses konveksi dan konduksi. Akibat adanya
konveksi dan konduksi panas ke dalam campuran kotoran ternak dan air
yang ada di dalam tangki pencerna, maka suhu di dalam tangki akan sesuai
dengan suhu di luar tangki. Dengan demikian suhu di luar tangki juga
mempengaruhi aktivitas mikroba penghasil biogas yang terdapat di dalam
tangki pencerna.
Data penunjang berupa fluktuasi suhu di dalam tangki pencerna yang
diamati selama 45 hari di tiap ulangan, menunjukkan adanya pengaruh suhu
luar terhadap suhu di dalam tangki pencerna. Fluktuasi di dalam tangki
pencerna disebabkan oleh terjadinya aktivitas mikroorganisma yang terdapat
di dalam tangki pencerna, mengingat proses fermentasi anaerob selain
mengha-silkan gas metana, gas CO
2
,

juga menghasilkan energi panas.
Adanya panas yang terbebaskan menyebabkan naik-turunnya suhu di dalam
tangki pencerna. Rerata suhu di dalam tangki pencerna yang dipengaruhi
oleh suhu luar 25,8
0
C , 33
0
C dan 40,8
0
C berturut-turut menghasilkan kisaran
suhu 26,9-27,4
0
C, 30,6-31,3
0
C, dan 33,5-35,2
0
C. Dengan kata lain, semakin
tinggi suhu udara di luar, semakin tinggi pula suhu di dalam tangki pencerna.
Kisaran suhu di dalam tangki pencerna sebesar 33,5-35,2
0
C akibat pengaruh
suhu luar 40,8
0
C merupakan kisaran suhu yang paling mendekati suhu
optimum 35
0
C.

SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa
J enis kotoran ternak berpengaruh nyata terhadap produksi biogas pada
berbagai suhu. Rerata biogas yang dihasilkan oleh ketiga jenis kotoran
ternak dari yang tertinggi ke yang terendah berturut-turut: kotoran sapi
(139,4 cc), kotoran kuda (118,1 cc), kotoran kambing (70,8 cc); Variasi suhu
berpengaruh nyata terhadap produksi biogas. Rerata biogas yang dihasilkan
oleh ketiga jenis suhu dari yang tertinggi ke yang terendah adalah suhu
40,8
0
C (143,3 cc), diikuti oleh suhu 33
0
C (108,2 cc), dan yang terakhir suhu
25,8
0
C (76,8 cc);

Masjhudi, Produksi Biogas dari …

77
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, dalam memproduksi biogas
disarankan menggunakan bahan baku kotoran sapi dengan kondisi suhu
40,8
o
C, dan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu kegiatan
praktikum matakuliah yang berkaitan dengan mikroba penghasil biogas
seperti Mikrobiologi.

DAFTAR RUJUKAN
Blot, de, Sj, P. 1976. Recycling Process. Dalam Integrated Rural Development
System. Seksi Pengabdian Masyarakat. Yogyakarta: Yayasan Realino.
BORDA (Bremen Overseas Research & Development Association).1990. Biogas-
The Foolish Flame. Biogas Forum, IV (43):13--15.
Harahap, Nuraini. 1994. Pengolahan Limbah Bagase Pabrik Gula Sei Semayang
Menjadi Gas Bio. Tesis tidak diterbitkan. Bogor: Program Pasca Sarjana
Institut Pertanian Bogor.
Hadi, N. 1979. Teknologi Gas Bio Sebagai Sumber Energi dan Pengembangan
Desa. Lembaran Publikasi PPTM-Lemigas, VII (4):41---61.
Henderson, J . and Knutton, S. 1990. Biotechnology in Schools. Philadelphia:
Open University Press.
J unus, Mochamad. 1995. Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gas Bio.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Lastriyanto, Anang. 1993. Upaya Mengaktifkan Kembali Unit Biogas di Wilayah
Kerja Koperasi Peternakan dan Pemerahan Susu Sapi Rakyat "SAE"
Pujon Kabupaten Malang Jawa Timur. Malang: Lembaga Pengabdian
Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya Malang.
Paimin, Farry B. 1995. Alat Pembuat Biogas Dari Drum. J akarta: Penebar Swadaya.
Price, E.C. dan Cheremisinoff, P.N. 1981. Biogas: Production & Utilization.
USA: Ann Arbor Science Publisher, Inc.
Rakhmadiono, S. 1987. Gas Bio, Cara Pembuatan dan Pengoperasian.Makalah
dalam Acara Temu Wicara Dengan Petani Pemilik Gas Bio di
Kecamatan Pujon, Malang, J uni 1987.
Sanusi, H. dan Santoso, R. 1980. Prospek Penggunaan Limbah Kota Untuk
Energi di Indonesia. Bogor: Institut Pertanian Bogor.