Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MATA KULIAH

PERANCANGAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN
Chemical Precipitation






Disusun Oleh :
Rantidaista Ayunin W.
21080111130057


PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengendapan secara kimia melibatkan penambahan zat kimia untuk merubah
keadaan fisika dari padatan terlarut dan tersuspensi serta memfasilitasi
penghilangannya melalui sedimentasi. Di masa lalu, pengendapan secara kima
sering digunakan untuk mempertinggi tingkat penyisihan TSS dan BOD: (1) di
mana ada beberapa variasi musiman pada konsentrasi limbah (seperti pada limbah
pabrik pengalengan), (2) di mana tingkat menengah dari pengolahan dibutuhkan,
dan (3) sebagai bantuan untuk proses sedimentasi. Dalam prakteknya saat ini,
pengendapan secara kimia digunakan (1) sebagai alat untuk meningkatkan
performa dari fasilitas pengendapan pertama, (2) sebagai langkah awal dalam
pengolahan fisika mandiri dari air limbah, (3) untuk penyisihan fosfat, dan (4)
untuk penyisihan logam-logam berat.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan pengendapan secara kimia (chemical
Presipitation)?
2. Apa saja jenis pengendapan secara kimia (chemical Presipitation)?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Reaksi Kimia pada Penerapan Pengendapan Air Limbah
Selama bertahun-tahun sejumlah zat berbeda telah digunakan sebagai
pengendap. Tingkat klarifikasi yang didapatkan tergantung pada kuantitas bahan
kimia yang digunakan dan perawatan yang prosesnya dikendalikan. Hal ini
mungkin terjadi dengan pengendapan secara kimia untuk mendapatkan efluen
yang jernih, substansial yang bebas dari zat dalam suspense atau dalam keadaan
koloid. Zat-zat kimia yang ditambahkan pada interaksi air limbah dengan bahan-
bahan baik yang secara normal berada di air limbah maupun yang secara sengaja
ditambahkan. Zat-zat kimia yang paling umum tercantum dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Zat-zat Kimia Anorganik yang Umum Digunakan untuk Proses
Koagulasi dan Presipitasi dalam Pengolahan Air Limbah
Zat Kimia Formula
Berat
Molekul
Berat
Ekivalen
Ketersediaan
Bentuk Percent
Alum Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O
Al
2
(SO
4
)
3
.14H
2
O
666.5
594.4

114
Liquid
Lump
8.5(Al
2
O
3
)
17(Al
2
O
3
)
Alumunium
klorida
AlCl
3
133.3 44 Liquid
Kalsium
hidroksida
(Kapur)
Ca(OH)
2


56.1 as CaO


40


Lump
Powder
Slurry
63-73 as CaO
85-99
15-20
Ferri klorida FeCl
3
162.2 91 Liquid
Lump
20 (Fe)
20 (Fe)
Ferri sulfat Fe
2
(SO
4
)
3
400 51.5 Granular 18.5 (Fe)
Ferro sulfat
(Copperas)
FeSO
4
.7H
2
O 278.1 139 Granular 20 (Fe)
Sodium aluminate Na
2
Al
2
O
4
163.9 100 Flake 46(Al
2
O
3
)
*Jumlah molekul air yang berikatan biasanya akan bervariasi dari 14 sampai 18

2.1.1. Alum
Ketika alum ditambahkan ke air limbah yang mengandung alkalinitas
kalsium dan magnesium bikarbonat, sebuah endapan alumunium hidroksida akan
terbentuk. Keseluruhan reaksi yang terjadi ketika alum ditambahkan ke air akan
digambarkan sebagai berikut:
3 x 100 (as CaCO3) 666.5
3Ca(HCO
3
)
2
+ Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O
Kalsium bikarbonat Alumunium sulfat
(larut) (larut)
2 x 78 3 x 136 6 x 44 18 x 18
2Al(OH)
3
+ 3CaSO
4
+ 6CO
2
+ 18H
2
O
Alumunium Kalsium Karbon
hidroksida sulfat dioksida
(tidak larut) (larut) (larut)
Angka-angka di atas formula kimia tersebut adalah kombinasi berat molekul
dari zat-zat yang berbeda, jadi, menunjukkan kuantitas dari masing-masing.
Reaksi pengendapan seperti di atas juga terjadi dengan penambahan alumunium
klorida (AlCl
3
). Alumunium hidroksida yang tidak larut adalah flok gelatin yang
menetap secara perlahan melalui air limbah, menyapu keluar bahan tersuspensi
dan memproduksi perubahan lain. Reaksinya persis analog ketika magnesium
bikarbonat disubstitusi untuk garam kalsium.
Karena alkalinitas pada persamaan tersebut dilaporkan dalam hal kalsium
karbonat (CaCO
3
), berat molekul adalah 100, kuantitas alkalinitas dibutuhkan
untuk beraksi dengan 10 mg/L alum adalah

[
(

)
(

)
]
Jika kurang dari jumlah alkalinitas ini tersedia, harus ditambahkan. Kapur
pada umumnya digunakan untuk tujuan ini ketika perlu, tetapi jarang dibutuhkan
dalam pengolahan air limbah.
2.1.2. Kapur
Ketika kapur saja ditambahkan sebagai pengendap, prinsip klarifikasi
dijelaskan dengan reaksi di bawah ini untuk asam arang dan alkalinitas
44 (as CO
2
) 56 (as CaO) 100 2 x 18
H
2
CO
3
+ Ca(OH)
2
CaCO
3
+ 2H
2
O
Asam Kalsium Kalsium
karbonat hidroksida karbonat
(larut) (sedikit larut) (agak larut)
100 (as CO2) 56 (as CaO) 2 x 100 2 x 18
Ca(HCO
3
)
2
+ Ca(OH)
2
2CaCO
3
+ 2H
2
O
Kalsium Kalsium Kalsium
bikarbonat hidroksida karbonat
(larut) (sedikit larut) (agak larut)
Jumlah kapur yang cukup oleh karena itu harus ditambahkan untuk
menggabungkan dengan semua asam arang bebas dan asam arang dari bikarbonat
(asam arang setengah terikat) untuk memproduksi kalsium karbonat. Kapur yang
lebih banyak pada umumnya dibutuhkan ketika digunakan sendiri daripada ketika
digunakan sulfat dari besi pula. Di mana limbah industri memmasukkan asam-
asam mineral atau garam-garam mineral ke dalam air limbah, mereka pasti
ternetralisasi sebelum pengendapan terjadi.
2.1.3. Ferro sulfat dan Kapur
Karena banyak permasalahan terkait dengan penggunaan ferro sulfat, ferri
klorida adalah garam besi yang paling umum digunakan dalam aplikasi
pengendapan. Ketika feer klorida ditambahkan ke air limbah, reaks berikut terjadi

2.1.4. Ferri Klorida dan Kapur
Jika kapur ditambahkan untuk melengkapi alkalinitas alami dari air limbah, reaksi
berikut diasumsikan dapat terjadi

2.1.5. Ferri Sulfat dan Kapur
Semua reaksi yang terjadi ketika ferri sulfat dan kapur ditambahkan ke air limbah
dapat ditunjukkan sebagai berikut

2.2. Meningkatkan Penghilangan Padatan Tersuspensi pada Sedimentasi
Primer
Tingkat klarifikasi diperoleh ketika zat-zat kimia ditambahkan ke air limbah
yang belum diolah tergantung pada jumlah zat kimia yang digunakan, waktu
pencampuran, dan perwatan yang prosesnya dipantau dan dikendalikan. Dengan
pengendapan secara kimia, hal ini memungkinkan untuk menyisihkan 80 sampai
90% dari total padatan tersuspensi (TSS) termasuk beberapa partikel-partikel
koloid, 50 sampai 80% BOD, dan 80 sampai 90% bakteri. Nilai penyisihan yang
sebanding untuk desain yang baik dan operasi yang baik tangki sedimentasi
primer tanpa penambahan zat-zat kimia adalah 50 sampai 70% dari TSS, 25
sampai 40% dari BOD, dan 25 sampai 75% dari bakteri. Karena karakteristik
variable dari air limbah, dosis zat kimia yang diperlukan harus ditentukan dari tes
bench-scale ataupun tes pilot-scale. Laju beban permuakaan yang disarankan
untuk bermacam suspense kimia yang digunakan dalam desain fasilitas
sedimentasi ditunjukkan dalam Tabel 2.2 berikut





Tabel 2.2 Laju Beban Permukaan yang Disarankan untuk Tangki
Sedimentasi untuk Bermacam Zat Kimia Suspensi

Pengolahan Fisika-Kimia Independen
Pada beberapa lokalitas, limbah industri telah memberikan air limbah
perkotaan sulit untuk diolah secara biologis. Pada situasi demikan, pengolahan
fisika-kimia dapat menjadi pendekatan alternatif. Metode pengolahan ini telah
menemui keberhasilan terbatas karena kurangnya konsistensi pada pemenuhan
persyaratan debit, zat-zat kimia yang mahal, penanganan dan pembuangan volume
yang besar dari lumpur yang dihasilkan dari penambahan zat-zat kimia, dan
sejumlah permasalahan operasi. Berdasarkan hasil kinerja tipikal dari pabrik skala
penuh menggunakan karbon aktif, kolom karbon aktif yang dihilangkan hanya 50
sampai 60% dari total BOD terapan, dan pabrik tidak menemui konsistensi efluen
standar untuk pengolahan sekunder. Pada beberapa instansi, modifikasi proses
substansial telah dibutuhkan untuk mereduksi permasalahan operasi dan
mendapatkan persyaratan performa, atau prosesnya telah digantikan dengan
pengolahan secara biologi. Karena alasan-alasan tersebut, aplikasi baru dari
pengolahan fisika-kimia untuk air limbah perkotaan adalah jarang. Pengolahan
fisika-kimia digunakan lebih ekstensif untuk pengolahan air limbah industri.
Bergantung pada objek pengolahan, kebutuhan dosis zat kimia dan laju aplikasi
sebaiknya ditentukan dari uji bench-scale ataupun uji pilot-scale.
Diagram alir untuk pengolahan fisika-kimia dari air limbah yang belum
terolah ditunjukkan pada Gambar 2.1. Pada gambar tersebut, setelah tahap
pengendapan pertama dan penyesuaian pH dengan rekarbonisasi (jika
dibutuhkan), air limbah dilewatkan melalui filter medium granular untuk
menghilangkan flok residual yang ada dan kemudian melewati kolom karbon
untuk menghilangkan senyawa organik terlalut. Filter ditunjukkan sebagai
opsional, tetapi kegunaannya adalah disarankan untuk mereduksi ikatan dan
headloss yang terbentuk dalam kolom karbon. Efluen yang terolah dari kolom
karbon biasanya terklorinasi sebelum dikeluarkan ke badan air penerima.

Gambar 2.1 Diagram Alir Tipikal dari Bangunan Pengolahan Fisika-Kimia
Independen
(Sumber : Tchobanoglous, 2002)
2.3. Pengendapan secara Kimia untuk Penyisihan Fosfor
Penyisihan fosfor dari air limbah melibatkan penggabungan fosfat ke dalam
TSS dan penyisihan padatan berikutnya. Fosfor dapat digabungkan baik menjadi
padatan biologis (misal mikroorganisme) atau presipitasi kimia.
Pengendapan secara kimia dari fosfor dibawa oleh penambahan garam-
garam dari ion-ion logam multivalent yang membentuk endapan dari fosfat yang
sedikit larut. Ion-ion logam multivalent yang digunakan secara umum adalah
kalsium [Ca(II)], alumunium [Al(III)], dan besi [Fe(III)]/ polmer telah digunakan
secara efektif pada hubungan alum dan kapur sebagai penunjang flokulan. Karena
kimia dari pengendapan fosfat dengan kalsium cukup berbeda daripada dengan
alumunium dan besi, dua tipe berbeda dari pengendapan dianggap terpisah
sebagai berikut.
2.3.1. Pengendapan Fosfat dengan Kalsium
Kalsium biasanya ditambahkan pada bentuk kapur Ca(OH)
2
. Ketka kapur
ditambahkan ke air, air akan beraksi dengan alkalinitas bikarbonat alami untuk
mengendapkan CaCO
3
. Sebagai nilai pH dari air limbah meningkat melewati 10,
melebihi ion-ion kasium kemudian bereaksi dengan fosfat, seperti reaksi di bawah
ini, untuk mengendapkan hidroksilaparit Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
.
10Ca
2+
+ 6PO
3-
4
+ 2OH
-
Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
Hydroxylparite
Karena reaksi dari kapur dengan alkalinitas dari air limbah, jumlah dari
kapur yang dibutuhkan akan, secara umum, independen dari jumlah fosfat yang
ada dan akan bergantung terutama pada alkalinitas air limbah (Gambar 2.2).
jumlah kapur yang dibutuhkan untuk mengendapkan fosfor dalam air limbah
tipikal antara 1.4 sampai 1.5 kali total alkalinitas diekspresikan sebagai CaCO
3
.
Karena nilai pH yang tinggi dibutuhkan untuk mengendapkan fosfat, kopresiptasi
biasanya tidak layak. Ketika kapur ditambahkan ke air limbah baku atau efluen
sekunder, pengaturan pH biasanya dibutuhkan sebelum pengolahan selanjutnya
atau pembuangan. Rekarbonisasi dengan karbon dioksida (CO
2
) digunakan untuk
nilai pH yang lebih rendah.

Gambar 2.2 Dosis Kapur yang Dibutuhkan untuk Menaikkan pH menjadi 11
sebagai Fungsi dari Alkalnitas Air Limbah yang Tidak Terolah
(Sumber : Tchobanoglous, 2002)
2.3.2. Pengendapan Fosfat dengan Alumunium dan Besi
Reaksi dasar yang terlibat dalam pengendapan fosfat dengan alumunium
dan besi adalah sebagai berikut
Pengendapan fosfat dengan alumunium
Al
3+
+ H
n
PO
4
3-n
AlPO
4
+ nH
-
Pengendapan fosfat dengan besi
Fe
3+
+ H
n
PO
4
3-n
FePO
4
+ nH
-

Pada kasus alum dan besi, 1 mol akan mengendapkan 1 mol fosfat; akan
tetapi, reaksi tersebut yang tampak sederhana dan harus dipertimbangkan dari
banyak reaksi bersaing dan mereka membentuk kesetimbangan konstan, dan efek
alkalinitas, pH, jejak elemen-elemen, ligan yang ditemukan di air limbah.
Kemudian, dosis secara umum diseimbangkan pada tes bench-scale dasar dan
terkadang dengan tes full-scale, terutama jika polimer digunakan. Sebagai contoh,
untuk konsentrasi equimolar awal dari Al(III), Fe(III), dan fosfat, konsentrasi total
dari fosfat larut dalam kesetimbangan dengan kedua AlPO
4
dan FePO
4
tak larut.
Padatan member jejak konsentrasi dari residu fosfat larut setelah pengendapan.
Logam fosfat murni diendapkan dalam area yang diarsir, dan jenis-jenis campuran
polynuclear kompleks terbentuk di luar terhadap pH yang lebih tinggi dan lebih
rendah.

Gambar 2.3 Konsentrasi Alumunium dan Ferri Sulfat pada Kesetimbangan
dengan Fosfor Larut: (a) Al(III)-fosfat, (b) Fe(III)-fosfat
(Sumber : Tchobanoglous, 2002)
Contoh 2.1 Menentukan Dosis Alum untuk Penyisihan Fosfor
Tentukan jumlah alum cair yang dibutuhkan untuk mengendapkan fosfor dalam
suatu air limbah yang mengandung 8 mg P/L. Serta tentukan kapasitas
penyimpanan alum yang dibutuhkan jika suatu persedian 30 hari disimpan pada
fasilitas pengolahan. Berdasarkan uji laboratorium, 1.5 mol Al akan dibutuhkan
per mol P. Debit 12000 m
3
/hari. Data berikut untuk persediaan alum cair
1. Formula alum cair Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O
2. Kekuatan alum = 48%
3. Berat jenis larutan alum cair = 1.2 kg/L
Jawab:
1. Menentukan bera alumunium (Al) tersedia per liter alum cair.
a. Berat alum per liter
Alum/L = (0.48)(1.2 kg/L) = 0.576 kg/L
b. Berat alumunium per liter
Alumunium/L = (0.58 kg/L)(2 x 26.98/666.5) = 0.0466 kg/L
2. Menentukan berat Al yang dibutuhkan per unit berat P
a. Dosis teoritis = 1.0 mol Al per 1.0 mol P
b. Alumunium yang dibutuhkan = 1.0 kg x (BM Al/BM P)
= 1.0 kg x (26.98/30.97)
= 0.87 kg Al/kg P
3. Menentukan jumlah larutan alum yang dibutuhkan per kg P

4. Menentukan jumlah larutan alum yang dibutuhkan per hari

5. Menentukan kapasitas penyimpanan larutan alum yang dibutuhkan
berdasar pada laju rata-rata
Kapasitas penyimpanan = (2688 L larutan alum/hari).(30 hari)
= 80640 L = 80.6 m
3

 Strategi untuk Penyisihan Fosfor
Pengendapan fosfor dari air limbah dapat terjadi dalam sejumlah lokasi berbeda
seperti diagram alir berikut

Gambar 2.4 Poin-poin Alternatif Penambahan Zat Kimia untuk Penyisihan
Fosfor; (a) Sebelum Sedimentasi Primer, (b) Sebelum dan/atau Setelah
Pengolahan Biologis, (c) Setelah Pengolahan Sekunder, dan (d-f) Pada
Beberapa Lokasi dalam Proses (disebut sebagai “Pengolahan Terpisah”)
(Sumber : Tchobanoglous, 2002)
Lokasi-lokasi umum di mana fosfor dapat disisihkan dapat diklasifikasi sebagai
(1) pre-presipitasi, (2) kopresipitasi, dan (3) postpresipitasi. Faktor yang
mempengaruhi pemilihan zat kimia untuk menyisihkan fosfor antara lain :
1. Tingkat influen fosfor
2. Padatan tersuspensi air limbah
3. Alkalnitas
4. Biaya bahan kimia (termasuk transportasi)
5. Keandalan pasokan bahan kimia
6. Fasilitas penanganan lumpur
7. Metode pembuangan akhir
8. Kesesuaian dengan proses pengolahan lain
- Pre-presipitasi
Penambahan bahan-bahan kimia ke air limbah baku untuk mengendapkan fosfor
pada fasilitas pengendapan primer disebut “pre-presipitasi”. Fosfat terendap
disisihkan dengan lumpur primer.
- Kopresipitasi
Penambahan bahan-bahan kimia untuk membentuk endapan yang disisihkan
selama dengan lumpur limbah biologis didefinisikan sebagai “kopresipitasi”.
Bahan-bahan kimia dapat ditambahkan ke (1) efluen dari fasilitas sedimentasi
primer, (2) larutan campuran (pada proses lumpur aktif), atau (3) efluen dar proses
pengolahan biologis sebelum sedimentasi sekunder.
- Postpresipitasi
Postpresipitasi melibatkan penambahan bahan-bahan kimia ke efluen dari fasilitas
sedimentasi sekunder dan penyisihan selanjutnya dari pengendapan secara kimia.
Pada proses ini, pengendapan kimia biasanya menyisihkan dalam fasilitas
sedimentasi terpisah atau dalam filter-filter efluen.
2.3.3. Penyisihan Fosfor Menggunakan Garam-garam Logam dan Polimer
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, garam-garam besi atau
alumunium dapat ditambahkan pada bermacam poin-poin berbeda dalam proses
pengolahan, tetapi karena polifosfat dan fosfor organik kurang mudah disisihkan
daripada ortofosfor, penambahan garam-garam alumunium atau besi setelah
pengolahan sekunder (di mana fosfor organik dan polifosfor ditransformasikan
menjadi ortofosfor) biasanya menghasilkan penyisihan terbaik. Beberapa
penambahan penyisihan nitrogen terjadi karena pengendapan yang lebih baik,
tetapi dasarnya tidak ada ammonia tersisihkan kecuali jika penambahan bahan
kimia untuk pengolahan kimia mereduksi beban BOD untuk poin di mana
nitrifikasi dapat terjadi. Sejumlah fitur penting dari penambahan garam-garam
logam dan polimer pada keadaan berbeda dalam proses pengolahan akan
dijelaskan sebagai berikut.
2.4. Penambahan Garam Logam untuk Tangki Sedimentasi Primer
Ketika garam alumunium atau besi ditambahkan ke air limbah yang tidak
terolah, mereka bereaksi dengan ortofosfat larut untuk menghasilkan endapan.
Fosfor organik dan polifosfat disisihkan dengan reaksi yang lebih kompleks dan
dengan adsorpsi atas partikel flok. Fosfor tidak dilarutkan, serta jumlah yang
cukup besar dari BOD dan TSS, disisihkan dari sistem sebagai lumpur primer.
Pencampuran awal yang memadai dan flokulasi diperlukan hulu fasilitas primer,
baik bak terpisah disediakan atau fasilitas yang tersedia dimodifikasi untuk
menyediakan fungsi tersebut. Penambahan polimer dapat diperlukan untuk
membantu pengendapan. Pada air dengan alkalinitas rendah, penambahan pada
dasar terkadang diperlukan untuk menjaga pH pada batasan 5 sampai 7. Alum
pada umumnya diaplikasikan pada rasio molar dalam batasan 1.4 sampai 2.5 ml
Al/mol P. Rasio molar ferri klorida ditunjukkan pada Gambar 2.5. tingkat aplikasi
yang tepat ditentukan dengan tes onsite, dan variasi dengan karakteristik dari air
limbah dan penyisihan fosfor yang diinginkan.
Tabel 2.3 Dosis Alum Tipikal yang Dibutuhkan untuk Beberapa Tingkat
Penyisihan Fosfor

(Sumber : Tchobanoglous, 2002)

Gambar 2.5 Penyisihan Fosfor Larut dengan Penambahan Ferri Klorida
(Sumber : Tchobanoglous, 2002)
2.5. Penambahan Garam Logam ke Pengolahan Sekunder
Garam logam dapat ditambahkan ke air limbah yang belum terolah, pada
tangki aerasi lumpur aktif, atau pada saluran influen clarifier akhir. Pada sistem
trickling filter, garam-garam ditambahkan ke air limbah yang belum terolah atau
pada efluen filter. Penambahan multipoint juga telah digunakan. Fosfor disisihkan
dari fase cair melalui kombinasi pengendapan, adsorpsi, pertukaran, dan
aglomerasi, serta penyisihan dari proses baik dengan lumpur primer ataupun
lumpur sekunder, atau keduanya. Secara teoritis, kelarutan minimum AlPO
4

terjadi pada pH sekitar 6.3 dan pada FePO
4
terjadi pada pH sekitar 5.3,
bagaimanapun juga, aplikasi praktek telah menghasilkan penyisihan fosfor yang
baik di manapun pada kisaran pH 6.5 sampai 7.0, di mana cocok dengan proses
pengolahan biologi.
Kegunaan garam-garam ferro terbatas karena mereka memprodusi tingkat
fosfor rendah hanya pada nilai pH tinggi. Pada air dengan alkalinitas rendah, baik
sodium aluminate dan alum atau ferri ditambah kapur, atau keduanya, dapat
digunakan untuk menentukan pH lebih dari 5.5. meningkatkan pengendapan dan
hasil BOD efluen rendah dari penambahan bahan kimia, khususnya jika polimer
juga ditambahkan pada clarifier akhir. Dosis pada umumnya jatuh pada kisaran 1
sampai 3 rasio molar fosfor logam.

2.6. Penambahan Garam Logam dan Polimer pada Clarifier Sekunder
Pada kasus-kasus tertentu, seperti trickling filtration dan proses lumpur aktif
extended aeration, padatan mungkin tidak terfloklulasi dan mengendap pada
clarifier sekunder. Masalah pengendapan ini dapat menjadi akut di bangunan yang
melebihi beban. Penambahan garam-garam alumunium atau besi akan
menyebabkan pengendapan logam hidroksida atau fosfat, atau keduanya/ garam
alumunium dan besi, selama dengan polimer organik tertentu, dapat juga
digunakan partikel koloid koagulasi dan untuk meningkatkan penyisihan pada
filter. Koloid terkoagulasi resultan dan pengendapan akan mengendap segera pada
clarifier sekunder, mereduksi TSS pada efluen dan mempengarungi penyisihan
fosfor. Dosis garam alumunium dan besi biasanya jatuh pada kisaran 1 sampai 3
ion logam/fosfor pada dasar rasio molar jika residu fosfor pada efluen sekunder
lebih besar dari 0.5 mg/L. Untuk mendapatkan level di bawah 0.5 mg/L, secara
signifikan dosis garam logam lebih tinggi dan filtrasi akan dibutuhkan.
Polimer mungkin ditambahkan (1) ke zona pencampuran pada clarifier
highly mixed atau internally recirculated, (2) mendahului pencampuran statis atau
dinamis, atau (3) ke saluran teraerasi. Walaupun waktu pencampuran 10 sampai
30 detik telah digunakan untuk polmer, waktu pencampuran yang lebih singkat
disukai (tipikal kurang dari 10 detik). Polimer sebaiknya tidak dikenakan pada
pencampuran yang tidak cukup ataupun berlebih, karena efisiensi proses
berkurang, menghasilkan pengendapan dan karakteristik pengentalan yang buruk.
Menyisihkan Fosfor Menggunakan Kapur
Penggunaan kapur untuk penyisihan fosfor menurun karena (1) substansi
meningkatkan masa lumpur yang akan ditangani dibandingkan dengan garam
logam, dan (2) masalah operasional dan pemeliharaan terkait dengan penanganan,
penyimpanan, dan pemberian kapur. Ketika kapur digunakan, variable prinsip
mengendalikan dosis adalah tingkat penyisihan yang diperlukan dan alkalinitas air
limbah. Dosis operasi biasanya harus ditentukan dengan uji onsite. Kapur telah
digunakan secara layak baik sebagai pengendap pada tangki sedimentasi awal atau
klarifikasi pengolahan sekunder berikutnya.
Walaupun rekalsinasi kapur menurunkan biaya bahan kimia, ini hanya
alternatif yang cocok untuk bangunan besar. Di mana sistem recovery kapur
dibutkan untuk operasi biaya-efektif, hal ini termasuk fasilitas regenerasi termal,
di mana mengkonversi kalsium karbonat pada lumpur menjadi kapur dengan
pemanasan sampai 980ºC (1800ºF). Karbon dioksida dari proses ini atau dari
stack gas lain (mengandung 10 sampai 15% karbon dioksida) pada umumnya
digunakan sebagai sumber rekarbonisasi untuk mengatur pH pada air limbah.
Penambahan Kapur pada Tangki Sedimentasi Primer
Baik pengolahan kapur rendah ataupun tinggi bisa digunakan untuk
mengendapkan sebagian fosfor (biasanya sekitar 65 sampai 80%). Ketika kapur
digunakan, baik kalsium dan hidroksida bereaksi dengan ortofosfor untuk
membentuk hydorxypatite yang tidak larut [Ca
5
(OH)(PO
4
)
3
]. Tingkat residu
fosfor 1.0 mg/L dapat diterima dengan penambahan fasilitas filtrasi efluen untuk
penambahan bahan kimia. Pada sistem kapur tinggi, kapur yang cukup
ditambahkan untuk menakkan pH menjadi sekitar 11. Setelah pengendapan,
efluen harus direkarbonasi sebelum pengolahan biologis. Pada sistem lumpur
aktif, pH dari efluen primer sebaiknya tidak melebihi 9.5 atau 10; pH lebih tinggi
dapat mengganggu proses biologis. Pada proses trickling filter, karbon dioksida
yang terbentuk selama pengolahan biasanya cukup untuk menurunkan pH tanpa
rekarbonasi. Dosis untuk pengolahan kapur rendah biasanya pada kisaran 75
sampai 250 mg/L sebagai Ca(OH)
2
pada nilai pH 8.5 sampai 9.5. pada sistem
kapur rendah, bagaimanapun, kondisi yang dibutuhkan untuk pengendapan lebih
special; rasio mol Ca
2+
/Mg
2+
adalah ≤ 5/1.

Contoh 2.2 Perkiraan Volume Lumpur dari Pengendapan secara Kimia
Fosfor dengan Kapur pada Tangki Sedimentasi Primer.
Perkirakan massa dan volume lumpur yang dihasilkan dalam tangki sedimentasi
primer dari pengendapan fosfor dengan kapur. Asumsikan 60% dari TSS
disisihkan tanpa penambahan kapur, dan penambahan 400 mg/L Ca(OH)
2

menghasilkan peningkatan penyisihan TSS hingga 85%. Asumsikan data berikut
digunakan:


Jawab:
1. Menghitung massa dan volume padatan tersisihkan tanpa bahan kimia,
mengasumsikan lumpur mengandung 94% moisture dan memiliki specific
gravity 1.03
a. Menentukan massa TSS yang disisihkan

b. Menentukan volume lumpur yang dihasilkan

2. Menentukan massa Ca
5
(PO
4
)
3
OH, Mg(OH)
2
, dan CaCO
3
yang dihasilkan
dari penambahan 400 mg/L kapur.
a. Menentukan massa Ca
5
(PO
4
)
3
OH yang terbentuk
i. Menentukan mol P yang disisihkan

ii. Menentukan mol Ca
5
(PO
4
)
3
OH yang terbentuk.

iii. Menentukan massa Ca
5
(PO
4
)
3
OH yang terbentuk

b. Menentukan massa Mg(OH)
2
yang terbentuk
i. Menentukan mol Mg
2+
yang tersisihkan

ii. Menentukan massa Mg(OH)
2
yang terbentuk

c. Menentukan massa CaCO
3
yang terbentuk
i. Menentukan massa Ca
2+
dalam Ca
5
(PO
4
)
3
(OH)

ii. Menentukan massa Ca
2+
yang ditambahkan dalam dosis asli

iii. Menentukan massa Ca yang ada sebagai CaCO
3


iv. Menentukan massa CaCO
3


3. Menentukan massa total padatan yang disisihkan sebagai hasil dari dosis
kapur
a. TSS dalam air limbah

b. Padatan kimia

c. Massa total padatan yang disisihkan

4. Menentukan volume total dari lumpur yang dihasihkan dari pengendapan
secara kimia, dengan asumsi bahwa lumpur memiliki specific gravity 1.07
dan moisture content 92.5%

5. Tabel massa dan volume lumpur dengan dan tanpa pengendapan secara
kimia
DAFTAR PUSTAKA

Tchobanoglous, George. 2002. Wastewater Engineering Treatment and Reuse
(Fourth Edition). USA: McGraw Hill