Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penduduk Indonesia yang saat ini berjumlah kurang lebih 237 juta jiwa
diprediksi akan mengalami peningkatan di tahun 2035 sebesar 28,6 persen atau
berjumlah 305,6 juta jiwa. Peningkatan ini menurut Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono merupakan berkah tersendiri yang dapat menjadi kekuatan bagi
bangsa Indonesia. Meningkatnya jumlah penduduk tentu saja diringi dengan
meningkatnya jumlah penduduk usia produktif yang sangat besar yang
diistilahkan dengan bonus demografi.
Pada kurun waktu tahun 2020-2030 nanti, penduduk usia produktif
Indonesia akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya 30 persen adalah
penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun ). Bonus
demografi ini tentu akan membawa dampak sosial ekonomi, seperti sumber daya
yang melimpah tentu dapat menggerakkan roda perekonomian yang besar yang
selanjutnya dapat menggerakkan pembangunan di segala sektor kehidupan yang
pada gilirannya Indonesia berpeluang menjadi negara maju.
Usaha untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia tersebut tidak ada
pilihan lain kecuali peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia
yang menitik beratkan pada pembangunan di bidang pendidikan. Karena
pendidikanlah yang menyiapkan generasi penerus yang pada saat usia produktif
nanti menjadi pemimpin dan penggerak pembangunan untuk mewujudkan cita-
cita Indonesia Emas tahun 2045 yaitu saat memperingati 100 tahun kemerdekaan
Republik Indonesia.
Berbicara cita-cita Indonesia emas tahun 2045 berarti berbicara tentang
manusia berusia 36 tahun dari usia sekarang. Jika usia manusia Indonesia
sekarang ini 5 tahun. Artinya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM)
Indonesia produktif 2045 dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang
sekarang ini berusia 5 tahun. Untuk itu, jika lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
2


(PAUD) memiliki tingakt kualitas yang tinggi maka diharapkan dapat
menghasilkan generasi usia produktif yang menjadi penggerak pembangunan
Indonesia untuk mewujudkan Indonesia emas tahun 2045.
Tantangan yang terjadi sekarang ini adalah masih banyak lembaga
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang belum memenuhi standar pelayanan
pembelajaran secara berkualitas. Untuk meningkatkan layanan pembelajaran yang
berkualitas perlu inovasi manajemen lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD). Inovasi manajemen yang dimaksud adalah pemanfaatan sebesar-
besarnya segala sumber daya yang ada baik dari pemerintah maupun non
pemerintah agar dapat menghasilkan lulusan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) atau dalam hal ini Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Inovasi manajemen lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam
upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dapat mengadopsi
strategi Total Quality Mangement (TQM). Secara filosofis, strategi Total Quality
Management (TQM) menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap
perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan
pelanggan. Maka perlu pendekatan dalam penerapan Total Quality Management
(TQM) di dalam dunia pendidikan, pendekatan yang dapat diadaptasi untuk
mendukung penggunaan Total Quality Management (TQM) tersebut adalah
pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang merupakan program
nasional sebagaimana tercantum dalam Undang -undang No. 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional pasal 50 (1).
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan paradigma baru
pendidikan yang dalam penilaiannya meliputi tiga pilar yaitu implementasi
manajemen sekolah, pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan,
dan peran serta masyarakat.
Masyarakat adalah mitra sekolah yang sangat dapat diandalkan yang dapat
mendukung implementasi manajemen sekolah dan pembelajaran yang aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan. Di dalam masyarakat terdapat berbagai sumber
daya yang dapat dijadikan mitra dalam mengelola pendidikan. Sumber daya
3


tersebut meliputi tokoh, masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri yang dalam
karya tulis ini disingkat menjadi TOMASDUDI.
Kemitraan dengan tokoh, masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri
(TOMASDUDI) merupakan model kemitraan yang melibatkan masyarakat secara
langsung dan saling menguntungkan dengan tujuan mewujudkan lembaga
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mandiri untuk menghasilkan lulusan
atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Lulusan atau Sumber Daya
Manusia (SDM) yang berkualitas ini akan menghasilkan tokoh yang berkualitas,
masyarakat yang terdidik yang mendukung tersedinnya tenaga kerja berkualitas
untuk dunia usaha dan dunia industri.
Untuk itu, pemberdayaan lembaga Pendidikan Anak usia Dini (PAUD)
yang mandiri dengan jalinan jejaring kemitraan dengan tokoh, masyarakat, dunia
usaha, dunia industri (TOMASDUDI) sangat mendesak guna meningkatkan
kualitas layanan pembelajaran. Maka, dalam karya tulis ini akan dikemukakan
Model kemitraan dengan Tokoh, masyarakat, dunia usaha, dunia industri
(TOMASDUDI) untuk mendukung lembaga PAUD yang mandiri.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan model kemitraan Tokoh, Masyarakat,
Dunia Usaha, dan Dunia Industri (TOMASDUDI)?
2. Bagaimanakah cara penerapan Model kemitraan Tokoh, Masyarakat,
Dunia Usaha, dan Dunia Industri (TOMASDUDI) dalam manajemen
PAUD untuk meningkatkan lembaga PAUD yang mandiri?
3. Apakah penerapan model kemitraan Tokoh, Masyarakat, Dunia Usaha,
dan Dunia Industri (TOMASDUDI) dalam manajemen PAUD dapat
meningkatkan kemandirian lembaga PAUD?

C. Tujuan
1. Memberikan pemahaman tentang model kemitraan dengan Tokoh,
Masyarakat, Dunia Usaha, dan Dunia Industri (TOMASDUDI) untuk
kemandirian lembaga PAUD
4


2. Menjelaskan cara penerapan model kemitraan dengan Tokoh,
Masyarakat, Dunia Usaha, dan Dunia Industri (TOMASDUDI) dalam
manajemen PAUD terhadap kemandirian lembaga PAUD?
3. Menjelaskan manfaat penerapan model kemitraan dengan Tokoh,
Masyarakat, Dunia Usaha, dan Dunia Industri (TOMASDUDI) dalam
manajemen PAUD terhadap kemandirian lembaga PAUD?

























5


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Kemandirian
Menurut Titik Kristiyani, kemadirian dapat diartikan sebagai suatu
kemampuan untuk memikirkan, merasakan, serta melakukan, sesuatu sendiri.
Sementra Menurut Barnadib, seperti yang dikutip oleh Syafaruddin, menyatakan
bahwa kemandiri adalah keadaan seseorang yang dapat menentukan diri sendiri
dimana dapat dinyatakan dalam tindakan atau perilaku seseorang dan dapat
dinilai, meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi
hambatan/masalah, rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa
bantuan orang lain
Conell seperti yang dikutip oleh Kupermic, Allen, dan Arthur,
mendefinisikan kemandirian sebagai latihan untuk berinisiatif dalam memilih,
memelihara, dan mengatur perilaku serta latihan dalam menghubungkan perilaku
dan tujuan pribadi dan nilai.

B. Pengertian Kemitraan
Menurut Johannes Ibrahim, Kemitraan adalah asosiasi sukarela dari dua
atau lebih orang untuk bersama-sama dalam kegiatan usaha dan menjadi mitra
untuk memperoleh keuntungan. Bentuk-bentuk kemitraan menimbulkan hak dan
kewajiban diantara keduanya. Hak dan kewajiban para pihak dinyatakan dalam
perjanjian kemitraan ataupun ditentukan undang-undang.
Sedangkan menurut Muhammad Jafar Hafsah, Kemitraan adalah suatu
strategi bisnis yang dilakukan dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu
untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling
membesarkan. Karena merupakan strategi bisnis maka keberhasilan kemitraan
sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara yang bermitra dalam
menjalankan etika bisnis.

6


1. Aspek yang dapat dimitrakan
Selama menjalin kegiatan kemitraan, hal yang dapat dikembangkan di
antaranya:
a. Program Kegiatan
Penyelenggaraan kegiatan bersama dengan lembaga mitra merancang program
bersama. Pada pelaksanannya paling tidak ada tiga kemungkinan bentuk
kerjasama yang dapat dilakukan yaitu; (a) Bersama melaksanakan kegiatan
pada setiap tahapan pengelolaan program, (b) Sebuah lembaga melakukan
bagian kegiatan pada tahapan pengelolaan tertentu atau melaksanakan seluruh
kegiatan pada tahapan pengelolaan program. (c) Sebuah lembaga
melaksanakan program kegiatan awal atau lanjutan dari program kegiatan yang
telah dirancang oleh lembaga lain.
b. Sarana dan Prasarana
Yang dimaksudkan dalam bagian ini adalah sarana dan prasarana kegiatan
pengembangan program, seperti: tempat atau ruang pelatihan dan praktek,
bahan belajar dan alat peraga, modal dll. Bentuk kemitraan dapt dilakukan
secara timbal balik. Sebuah lembaga dapat memanfaatkan sarana dan
prasarana lembaga lain atu sebaliknya.
c. Dana atau Pembiayaan
Dana merupakan salah satu faktor utama yang menunjang berjalannya sebuah
program . Kemitraan dengan lembaga lain yang memiliki dana perlu dijalin
dalam rangka menjaring lembaga donor guna mewujudkan sebuah program
yang akan dilaksanakan.
d. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Kemitraan di bidang ini dapat dilakukan dengan cara pertukaran pendidik dan
tenaga kependidikan.
e. Pendayagunaan Hasil
Aspek pendayagunaan hasil, dapat berupa pendayagunaan/penempatan hasil
kreativitas, hasil produksi, dan hasil kerja masyarakat oleh Dunia Usaha dan
Dunia Industri (DUDI).

7


2. Mitra lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Mitra Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah Tokoh,
Masyarakat, Dunia Usaha, Dunia Industri (TOMASDUDI)

C. Pengertian Manajemen
Menutut George R. Terry, manajemen adalah suatu proses tahapan kegiatan
yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan
dengan memadukan penggunaan ilmu dan seni untuk mencapai tujuan organisasi.
Dalam pandangan Stewart, definisi manajemen yang mencakup kecakapan di
atas perlu ditambahkan seperangkat kecakapan baru yang perlu dikuasai oleh
manajer era baru yaitu harus mampu (enabling), memperlancar (facilitating),
berkonsultasi (consulting), bermitra (collaborating), membimbing (mentoring),
dan mendukung (supporting).




Gambar 1








Planning Organizing Actuating Controlling
mampu (enabling), memperlancar (facilitating), berkonsultasi (consulting),
bermitra (collaborating), membimbing (mentoring), dan mendukung (supporting)
Teori manajemen tradisional : George R. Terry
Teori manajemen modern: Stewart
Teori manajemen
8








BLANK





D. Definisi Total Quality Managemant (TQM)
Menurut M. N. Nasution , Total Quality Management (TQM) merupakan
suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimalkan
daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk jasa, tenaga
kerja, proses, dan lingkungan.
Sementara Dorothea WahyuArini mendefinisikan Total Quality Management
(TQM) merupakan sekumpulan langkah yang harus dilalui tingkat demi tingkat
untuk dapat menerapkannya. Pada dasarnya untuk dapat menerapkan Total
Quality Management (TQM) yang paling diperlukan adalah dukungan atau
komitmen dari pimpinan puncak, komunikasi antar seluruh anggota organisasi dan
adanya perubahan budaya.

1. TQM dalam Pendidikan
Kualitas pendidikan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi
pelanggan atas pelayanan yang diperoleh atau diterima secara nyata oleh mereka
dengan pelayanan yang sesungguhnya diharapkan. Jika kenyataan lebih dari yang
diharapkan, pelayanan dapat dikatakan bermutu. Sebaliknya jika kenyataan
9


kurang dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan tidak bermutu. Namun
apabila kenyataan sama dengan harapan, maka kualitas pelayanan disebut
memuaskan. Dengan demikian, kualitas pelayanan dapat didefinisikan seberapa
jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang
diterima mereka.

2. Strategi Peningkatan Mutu Layanan Pendidikan.
Kepuasan pengguna jasa pendidikan merupakan faktor yang sangat
penting dalam TQM. Oleh sebab itu, identifikasi pengguna jasa pendidikan dan
kebutuhan mereka merupakan aspek yang krusial. Adapun langkah pertama TQM
adalah memandang peserta didik sebagai pelanggan yang harus dilayani dengan
baik.
Kualitas manajerial pimpinan harus dapat memberikan inspirasi pada
semua jajaran manajemen agar mampu memperagakan kualitas kepemimpinan
yang sama, yang diperlukan untuk mengembangkan budaya TQM. Oleh sebab itu,
keterlibatan langsung pemimpin lembaga pendidikan sangat penting.

E. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Pendekatan yang dapat diadaptasi untuk mendukung penggunaan Total
Quality Management (TQM) di sekolah adalah pendekatan Manajemen berbasis
sekolah (MBS). Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan program
nasional sebagaimana tercantum dalam Undang -undang No. 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional pasal 50 (1) Pengelolaan satuan pendidikan
anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan
berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis
sekolah/madrasah

F. Analisi SWOT untuk menganalisis potensi internal dan eksternal PAUD
Menurut Daniel Start dan Ingie Hovland, Analisis SWOT adalah
instrument perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka
kerja kekuatan-kelemahan dan kesempatan-ancaman, instrument ini memberikan
10


cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah
strategi.
Lembaga PAUD dapat menggunakan analasis SWOT untuk
mengidentifikasi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari
strengts atau kekuatan dan weakness atau kelemahan yang meliputi :
a. pendidik dan tenaga kependidikan
b. kurikulum yang digunakan
c. sarana prasarana
d. pembiayaan
e. proses pembelajaran
f. pencapaian perkembangan, dan
g. sistem penilaian.
Sedangkan faktor ekternal terdiri dari opportunities atau peluang dan threats atau
tantangan yang meliputi :
a. angka partisipasi kasar (APK) PAUD
b. masyarakat
c. tokoh figur
d. dunia usaha
e. dunia industri
f. kebijakan pemerintah
g. lingkungan, dan
h. pertumbuhan ekonomi.









11


BAB III
PEMBAHASAHAN


A. Model Kemitraan TOMASDUDI
Model kemitraan TOMASDUDI adalah model kemitraan yang mendukung
kegiatan atau kerjasama dengan Tokoh, Masyarakat, Dunia Usaha dan Dunia
Industri dengan tujuan untuk kemandirian lembaga PAUD.

B. Langkah-langkah implementasi modeal kemitraan TOMASDUDI
Dalam menjalin kemitraan, diperlukan langkah-langkah agar proses kemitraan
dapat berhasil sesuai dengan rencana. Langkah-langkah kemitraan tersebut adalah:
1. Identifikasi faktor internal dan ekternal Lembaga
Lembaga PAUD mengadakan identifikasi komponen-komponen faktor
internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan lembaga. Selain itu,Lembaga
PAUD juga mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang menjadi peluang dan
tantangan lembaga. Faktor internal dan eksternal tersebut dianalisis dengan
menggunakan analisis SWOT seperti terurai dibawah ini :
No Faktor internal Kondisi saat ini S W
Perlu/tidak
perlu
kemitraan
1 Standar isi 1. Menggunakan KTSP
2. Kurikulum 2013
3. RKH
4. RKM
5. Pembelajaran karakter
v Perlu
kemitraan
2 Standar proses 1. Metode PAIKEM
2. Pendekatan spiritual, psikologis, dan
emosional Quation
3. Moving class
4. Sentra belajar
5. Outing class
6. Parents teaching day
v Perlu
kemitraan
3 Standar
pendidik dan
tenaga
1. Memiliki 6 guru PAUD dengan
kualifiksi 3 guru S1, 1 D2, dan 2 SMA
2. Semua belum memiliki NUPTK
v v Perlu
kemitraan
12


kependidikan 3. Belum semua sertifikasi
4. Telah sering mengikuti pelatihan
4 Standar
penilaian
1. Penilaian observasi
2. Penilaian kepribadian
3. Catatan anekdot
4. Tingkat pencapaian perkembangan
v Perlu
kemitraan
5 Standar sarana
dan prasarana
1. Gedung masih mengontrak
2. Sarana bermain: 2 ayunan, 1 plosotan,
1 puteran
3. Tidak punya halaman
4. Ruang kelas 3 ruang
5. Perpustakaan 500 judul buku
v v Perlu
kemitraan
6 Standar tingkat
pencapaian
perkembangan
1. Diterima di TK dan SD terbaik di kota
Tangsel dan DKI Jakarta
2. Memiliki kemampuan calistung dengan
baik
3. Memiliki kemampuan motorik kasar
dan halus dengan baik
4. Memiliki kemampuan sosialisasi
dengan baik
5. Memiliki kemampuan bahasa dengan
baik
v Perlu
kemitraan
7 Standar
pembiayaan
1. SPP sebesar Rp 25.000,00
2. Uang gedung Rp 50.000,00
3. Uang pendaftaran 450.000,00
v Perlu
kemitraan
8 Standar
pengelolaan
1. Belum terakreditasi
2. Pengelolaan masih bersifat
v Perlu
kemitraan
9 hubungan baik
yang
terlembaga
dengan orang
tua
POMG v Perlu
kemitraan

Tabel 1: Analisis internal SWOT

Sedangkan analisis faktor-faktor eksternalnya adalah sebagai berikut :
No Faktor ekternal Kondisi saat ini O T
Perlu/tidak
perlu
kemitraan
1 Kebijakan
pemerintah
1. Kurikulum 2013
2. Dana BOS
3. Dana BOP
4. Dana hibah
v Perlu
kemitraan
13


5. Satu desa satu PAUD
6. 20% APBN
7. Dana APBD
2 Lingkungan
perumahan
sekitar PAUD
1. Perumahan (2 RW) dengan 500
KK dan banyak perumah
disekitarnya
2. Penduduk usia produktif dengan
jumah Angka Aartisipasi Kasar
(APK) 200 peserta didik
v Perlu
kemitraan
3 Tokoh 1. Terdapat 10 tokoh masyarakat di
lingkungan perumahan
2. Terdapat 2 ketua RW
3. Terdapat 8 ketua RT
4. Terdapat 8 ketua majlis talim
5. Terdapat 1 ketua DKM
v Perlu
kemitraan
4 Masyarakat 1. Terdapat 2 lembaga LSM di
lingkungan perumahan
Perlu
kemitraan
5 Dunia usaha 1. 2 alfamart dan 2 indomart
2. 1 pemotongan hewan
3. 1 industri baso
v Perlu
kemitraan
6 Dunia industri 1. 2 pabrik roti
2. 2 parbrik krupuk
v v Perlu
kemitraan
7 Kompetisi
lembaga PAUD
lain
1. Hanya ada 1 PAUD di perumahan (2
RW)
2. Hanya Terdapat 1 TK di perumahan (2
RW)
3. Terdapat 45 Paud di kecamatan
Pamulang
4. Terdapat 10 PAUD di kelurahan
Pamulang Barat
v Perlu
kemitraan

Tabel 2: Analisis eksternal SWOT








14




a. Kemitraan dengan tokoh agama yaitu kolaborasi program-program yang
ada dengan lembaga yang tokoh agama pimpin seperti DKM atau Majlis
Talim dalam peningkatan kualitas pendidik, santunan anak yatim,
peringatan Hari Besar Islam.
b. Kemitraan dengan tokoh pendidikan seperti guru, dosen, kepala sekolah
tokoh dongeng yaitu peningkatan kualitas pendidik dan pendidikan,
Kemitraaan dalam penyaluran lulusan, Kemitraan dalam informasi
penerimaan siswa baru, Kemitraan dalam beasiswa, mengundang
pendongenguntuk meningkatkan imajinasi anak.
c. Kemitraan tokoh LSM dengan kolaborasi program-program yang ada pada
lembaga, seperti peningkatan kualitas pendididk dengan mengadakan
pelatihan untuk kreatifitas.
d. Peningkatan kesehatan peserta didik PAUD bermitra dengan Posyandu.
1. Masyarakat
Menggerakkan masyarakat untuk peran serta dalam meningkatkan kualitas
pendidikan di PAUD dengan menggunakan lahan tanah masyarakat untuk
kegiatan PAUD,terutama lembaga PAUD yang tidak memiliki sarana dan
prasarana yang luas dan lengkap.
a. Mengembangkan Kemitraan dengan POMG
Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) merupakan mitra strategis
dalam melaksanakan pengelolaan PAUD. Orang tua murid memiliki ikatan
emosional yang lebih dalam terhadap lembaga dimana anak-anaknya
disekolahkan. Untuk itu, bermitra dengan orang tua murid dalam hal ini POMG
sangatlah penting karena besar kemungkinan untuk mengalami hambatan dan
gangguan.
Kemitraan dengan POMG dapat berupa kemitraan dalam hal :
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
15


POMG termasuk dalam hal ini Orang tua murid adalah mitra promosi yang
sangat startegis dalam menjaring peserta didik baru. Peningkatan kesejahteraan
pendidik dan tenaga kependidikan.
Pengadaan alat peraga edukasi
Proses pembelajaran akan semakin bermakna jika menggunakan alat peraga
edukasi,dengan mengumpulkan Mainan yang masih layak pakai.
Program kegiatan Studi Wisata
Kemitraan yang yang dibangun dapat berupa pendelegasian pengelolaan
kegiatan program kegiatan studi wisata.
Pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan.
Kemitraan ini dapat dilakukan dengan jalan menghadirkan pembicara yang
kompeten dalam bidang pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan.
Pemberian makanan sehat
Pemberiaan makanan sehat dapat melibatkan orang tua dalam menyediakan
segala kebutuhan gizi anaknya. Orang tua tentunya tidak sedikit yang memiliki
pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana melayani gizi anak-anaknya.
Program orang tua mengajar (Parents Day)
Orang tua peserta didik dapat dilibatkan dalam proses pembelajaran dengan
menjadi guru di kelas. Kegiatannya dapat berupa pengenalan profesi,
penanaman karakter dengan teknik bercerita dan outbond, dan pembelajaran
memasak.
Penerapan muatan entrepreneurship dalam kurikulum
Muatan entrepreneurship dalam kurikum PAUD dengan membuat kreativitas
yang memiliki nilai jual, memberi nilai tambah pada suatu produk yang telah
ada, dan menciptakan produk makanan yang menjadi trend masyarakat saat itu.
Kurikulum muatan entrepreneurship PAUD Naura Babussalam adalah:
Kantin sehat yaitu Penjualan makanan sehat oleh tim Komite atau POMG
kepada peserta didik
Pembuatan kreatifitas tas dan dompet dari barang bekas bungkus kopi, sabun,
deterjen, dll
16


Kretivitas tas, dompet, boneka, gantungan kunci dari manik-manik yang nilai
ekonominya cukup tinggi
Mengadakan Bank sampah pada kalangan komite atau POMG yang hasil
penjualannya untuk kas POMG yang menunjang sarana dan pra sarana juga
untuk kegiatan pendidikan di PAUD.
Mengikuti bazar di berbagai event
Kegitan parenting
Orang tua siswa yang memiliki kesamaan dalam menangani anak akan
memudahkan pendidik untuk mengajar dan memberikan bimbingan kepada
anak-anak. Maka orang tua juga harus diberikan bimbingan dengan
mengadakan seminar parenting yang membekali orang tua untuk semakin
berkualitas dalam mendampingi anak-anaknya.
b. Kemitraan dengan lembaga PAUD lain
Kemitraan dengan lembaga PAUD lain dilakukan dalam rangka brainstorming
dan mencontoh hal-hal yang baik yang dimiliki PAUD lain
Kemitraan dalam peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan.
Melaksanakan pelatihan bersama dalam meningkatkan kualitas pendidik dan
tenaga kependidikan.
Kemitraan dalam pembuatan program pembelajaran. Saling menguatkan dalam
pembuatan program pembelajaran dan program kerja PAUD.
Kemintraan dalam pertukaran guru. Saling mengirimkan guru PAUD untuk
mengajar di tempat PAUD lain.
Kemitraan dalam kegiatan pembelajaran. Dapat melakukan salah satu kegiatan
secara bersama-sama.
Kemitraan dalam penggalangan dana operasional. Dengan bermitra dengan
PAUD lain maka akan memiliki posisi tawar karena jumlah siswa yang
semakin banyak.
c. Lembaga Sosial Masyarakat
Kemitraan Lembaga Sosial Masyarakat adalah kemitraan dengan
memaksimalkan potensi LSM yang ada di sekitar PAUD seperti ACT, CMS,
P2TP2A dalam kegiatan : Peningkatan kualitas pendidik PAUD dengan
17


mengadakan pelatihan dan seminar, Kolaborasi program dengan lembaga
mitra, Pengajuan dana opersiaonal PAUD, dan Pengadaan bantuan PMT.



2. Dunia Usaha
Kemitraan dengan Dunia Usaha adalah memaksimalkan potensi Dunia Usaha
kecil dan menengah yang ada di sekitar PAUD seperti : koperasi Alfamart,
Superindo, CSR , lembaga tujuan wisata edukasi atau field trip seperti:
a. Pengajukan proposal dana operasional PAUD.
b. Kolaborasi program peningkatan kualitas pendidikan.
c. Kolaborasi program dengan lembaga mitra.
d. Pelatihan Wira Usaha.
e. Sponsor kegiatan lomba mewarnai dan lomba kreatifitas peserta didik dan
pendidik PAUD.
f. Pengajuan potongan harga atau bahkan bebas biaya pada obyek tujuan
wisata edukasi atau field trip.
3. Dunia Industri
Kemitraan dengan Dunia Industri adalah memaksimalkan potensi Dunia
Industri yang ada di sekitar PAUD untuk meningkatkan kualitas pendidikan
seperti kemitraan dengan Home Industri roti, baso, Mc D,Kalbe Farma,
Cerebrovot, Fiesta, dll seperti:
a. Pengadaan Alat Permainan Edukatif ( APE ) indoor dan outdoor.
b. Pengajuan dana operasional PAUD.
c. Kolaborasi program yang ada pada lembaga mitra
d. Sponsor dalam kegiatan lomba mewarnai dan lomba peningkatan kreatifitas
peserta didik dan pendidik PAUD.
e. Peningkatan kualitas pendidik dengan pelatihan dan seminar pendidik
PAUD.
D. Strategi Pemecahan Masalah dan Dampak model Kemitraan
TOMASDUDI
18


Berdasarkan kajian model kemitraan TOMASDUDI adalah pemecahan masalah
bagi ketergantungan lembaga PAUD pada bantuan pemerintah baik yang berupa
dana bantuan atau peningkatan kualitas pendidik. Model kemitraan TOMASDUDI
juga berdampak pisitif bagi lembaga PAUD dalam pengelolaan lembaga agar
lebih mandiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan pada lembaga PAUD.


























19


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kemitraan merupakan solusi manajemen modern yang memanfaatkan
potensi masyarakat dengan konsep saling menguntungkan.
Kemitraan lembaga PAUD dengan Tokoh, Masyarakat, Dunia usaha, dan
Dunia Industri (TOMASDUDI) merupakan model kemitraaan yang dapat
menjadi solusi untuk mewujudkan PAUD yang mandiri.



B. Saran
Setiap lembaga PAUD harus memiliki prinsip kemandirian dalam
pengelolaannya
Setiap lembaga PAUD harus memiliki model kemitaraan yang sesuai
dengan tokoh, masyarakat, dunia usaha ,dan dunia industri
(TOMASDUDI).