Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I
PENDHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan umat islam masyarakat meyakini dan mengetahui bahwa
sholat merupakan perintah yang harus dilakukan oleh umat islam itu sendiri. Didalam
pelaksanaan sholat ada beberapa hal yang harus dilakukan seseorang yang hendak
melaksanakan sholat seperti mempunyai wudu‟ suci tempatnya dan pakaiannya
karena kedua hal tersebut merupakan salah satu dari syarat sholat sehingga ketika
seseorang melakukan sholat dan keduanya ditinggalkan maka hal tersebut dapat
membatalkan sholat seseorang karena ketika salah syarat shahnya sholat di tinggalkan
maka secara langsung sholatnya itu tidak di terima oleh Allah SWT, baik itu sholat
yang wajib ataupun sholat sunnah, yang keduanya itu pernah di lakukan/dipraktekkan
oleh Nabi Muhammad SAW sehingga sampai sekarang hal itu dilakukan secara
berkesinambungan.
Sholat merupakan salah satu bentuk interaksi langsung antara manusia dengan
Allah SWT, maka dari itu ketika kita melakukan atau melaksanakan sholat kita di
anjurkan untuk khususk dalam sholat supaya sholat tersebut bisa di terima oleh Allah
SWT Yang Maha Esa. Selain dari itu sholat memiliki berbagai macam keistimewaan.
Di dalam pelaksanaan sholat, Allah tidak memberatkan umat-Nya, artinya
sholat dapat ditinggalkan ketika seseorang tersebut mempunyai halangan seperti haid
bagi wanita, dan Allah juga memberikan keringanan terhadap pelaksanaan sholat
seperti memperpendek sholat dan juga melaksanakan sholat dengan duduk atau
berbaring.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian sholat ?
2. Bagaimanakah hukum dan dalil mengenai sholat?
3. Bagaimanakah sejarah mengenai kewajiban sholat?
4. Sunnah apa saja yang harus dilakukan sebelaum melakukan sholat?
5. Apa sajakah kriteria yang harus dipenuhi untuk melaksanakan sholat?
6. Bagaimana struktur sholat Nabi Muhammad SAW?
7. Kapan pelaksanaan sholat?
8. Apa saja manfaat dan hikmah dari sholat?
2

C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk dapat memenuhi tugas
mata kuliah Pendidikan Agama Islam D3 Penilai STAN yang dibina oleh bapak
Syukron Makmun sehingga dengan penulisan makalah ini kami dapat lebih luas
tentang sholat.

D. Manfaat Penulisan Makalah
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah memberikan kemudahan
kepada siapa saja untuk dapat memahami kewajiban sholat dan mempraktekkannya
secara benar dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan dalil dalam Al-Quran dan
Hadist seperti yang Nabi Muhammad SAW contohkan terdahulu.























3

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Sholat
Sholat berasal dari bahasa Arab, yakni حلصٌا. Secara etimologi sholat berarti
do‟a dan secara terminologi atau istilah, para ahli fiqih mengartikan secara lahir dan
hakiki. Secara lahiriah sholat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai
dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah
menurut syarat – syarat yang telah ditentukan (Sidi Gazalba,88).
Adapun secara hakikinya, sholat ialah “berhadapan hati (jiwa) kepada Allah,
secara yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa
kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya” atau “mendahirkan hajat dan
keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau
dengan kedua – duanya” (Hasbi Asy-Syidiqi, 59).
Dalam pengertian lain sholat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba
dengan Tuhannya sebagai bentuk, ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang
tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ikhram
dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan
syara‟ (Imam Bashari Assayuthi, 30).
Shalat dengan makna doa dicontohkan di dalam Al-Quran pada ayat berikut ini.
ْ ُُٙ
َ
ٌ ٌ َٓ ىَ ع َ هَرلَ ص ّ ْ
ِ
إ ْ ُ
ِ
ْٙ ١
َ
ٍ َ ػ ّ ًَ ص
َ
ٚ بَٙ
ِ
ث ْ ُ
ِ
ٙ١
ّ
وَ ض
ُ
ر
َ
ٚ ْ ُُُ٘ شّٙ
َ
ط
ُ
ر
ً
خَلَ ذ َ ص ْ ُ
ِ
ٙ
ِ
ٌا
َ
ْٛ ِ
َ
أ ْ ٓ
ِ
ِ
ْ
ز
ُ
خ
ٌ
ُ١
ِ
ٍ َ ػ ٌ غ١
ِ
َّ ع ُ
ّ
ا
َ
ٚ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan shalatlah (mendo'alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat
(do'a) kamu itu merupakan ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.(QS. At-Taubah : 103)
Dalam ayat ini, shalat yang dimaksud sama sekali bukan dalam makna syariat, melainkan
dalam makna bahasanya secara asli yaitu berdoa. Adapun makna menurut syariah, shalat
didefinisikan sebagai “serangkaian ucapan dan gerakan yang tertentu yang dimulai
dengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai sebuah ibadah ritual”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sholat adalah
merupakan ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan denga perbuatan yang diawali
dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan
syara”. Juga sholat merupakan penyerahan diri (lahir dan bathin) kepada Allah dalam
rangka ibadah dan memohon ridho-Nya.
4


B. Hukum dan Dalil Tentang Sholat
Sholat diwajibkan dengan dalil yang qath`i dari Al-Quran, As-Sunnah dan
Ijma‟ umat Islam sepanjang zaman. Tidak ada yang menolak kewajiban sholat kecuali
orang-orang kafir atau zindiq. Sebab semua dalil yang ada menunjukkan kewajiban
sholat secara mutlak untuk semua orang yang mengaku beragama Islam yang sudah akil
baligh. Bahkan anak kecil sekalipun diperintahkan untuk melakukan sholat ketika
berusia 7 tahun. Dan boleh dipukul bila masih tidak mau sholat usia 10 tahun, meski
belum baligh.
1. Dalil dari Al-Quran
Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kareim

َ
ر
َ
ٚ َحبَ و
ّ
ضٌا اٛ
ُ
ر ْ ؤُ٠
َ
ٚ َحلّ صٌا اٛ
ُ
ّ١
ِ
مُ٠
َ
ٚ
َ
ءبَفَٕ ُ ؽ َ ٓ٠ّ ذٌا ُٗ
َ
ٌ َ ٓ١
ِ
ص
ِ
ٍ
ْ
خ
ُ
ِ
َ
ّ
ا اُٚ ذُج ْ ؼَ١
ِ
ٌ ل
ِ
إ اُٚ ش
ِ
ِ
ُ
أ ب
َ
ِ
َ
ٚ َ ه
ِ
ٌ
ِ
خ
َ
ّّ١َم
ْ
ٌا ُ ٓ٠
ِ
د
"...Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam agama yang lurus , dan supaya mereka
mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus."(QS. Al-Bayyinah : 5)
ْ ُ
ُ
ى١
ِ
ث
َ
أ َخ
ّ
ٍ
ِ
ِ
ٍ
طَ شَ ؽ ْ ٓ
ِ
ِ
ِ
ٓ٠ّ ذٌا ٟ
ِ
ف ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ َ ًَ ؼَ ع ب
َ
ِ
َ
ٚ ْ ُ
ُ
وبَجَز ْ عا
َ
ُٛ٘
ِ
ٖ
ِ
دبَٙ
ِ
ع ّ كَ ؽ
ِ
ّ
ا ٟ
ِ
ف اُٚ ذ
ِ
٘ب َ ع
َ
ٚ
ُ
ُ
ُ
وب
ّ
َّ ع
َ
ُٛ٘
َ
ُ١
ِ
٘ا َ شْ ث
ِ
إ
ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ اً ذ١
ِ
َٙ ش ُ يُٛ عّ شٌا َ ْٛ
ُ
ىَ١
ِ
ٌ ا
َ
زَ٘ ٟ
ِ
ف
َ
ٚ ُ ًْ جَل ْ ٓ
ِ
ِ َ ٓ١
ِ
ّ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ّ
ْ
ٌا َحبَ و
ّ
ضٌا اٛ
ُ
را
َ
ء
َ
ٚ َحلّ صٌا اٛ
ُ
ّ١
ِ
ل
َ
أَف
ِ
طب
ّ
ٌٕا ٝ
َ
ٍ َ ػ
َ
ءاَ ذَٙ
ُ
ش اٛ
ُ
ٔٛ
ُ
ىَر
َ
ٚ
ُ ش١
ِ
ص
ّ
ٌٕا
َ
ُْ ؼ
ِ
ٔ
َ
ٚ ٝ
َ
ٌ ْ ٛ
َ
ّ
ْ
ٌا
َ
ُْ ؼ
ِ
َٕف ْ ُ
ُ
ولْ ٛ
َ
ِ
َ
ُٛ٘
ِ
ّ
لب
ِ
ث اٛ
ُ
ّ
ِ
صَز ْ ػا
َ
ٚ
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia
telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama
suatu kesempitan. agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian
orang-orang muslim dari dahulu , dan dalam ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas
dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka
dirikanlah sholat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu,
maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (QS. Al-Hajj : 78)

َ
ِ بًثبَز
ِ
و َ ٓ١
ِ
ٕ
ِ
ِْ ؤ
ُ
ّ
ْ
ٌا ٝ
َ
ٍ َ ػ
ْ
ذَٔبَ و َحلّ صٌا ّ ْ
ِ
إ ب
ً
رٛ
ُ
ل ْ ٛ
"...Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-
orang yang beriman." (QS. An-Nisa : 103)
َ ٓ١
ِ
ؼ
ِ
وا ّ شٌا َ غ
َ
ِ اُٛ ؼَ وْ سا
َ
ٚ َحبَ و
ّ
ضٌا اٛ
ُ
را
َ
ء
َ
ٚ َحلّ صٌا اٛ
ُ
ّ١
ِ
ل
َ
أ
َ
ٚ
"Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang
ruku".(QS. Al-Baqarah : 43)
Dan masih banyak lagi perintah di dalam kitabullah yang mewajibkan umat Islam
melalukan sholat. Paling tidak tercatat ada 12 perintah dalam Al-Quran lafaz
5

“aqiimush-sholata” (حلصٌا اّٛ١لأ) yang bermakna "dirikanlah sholat" dengan fi`il Amr
(kata perintah) dengan perintah kepada orang banyak (khithabul jam`i). Yaitu pada
surat :
 Al-Baqarah ayat 43, 83 dan110
 Surat An-Nisa ayat 177 dan 103
 Surat Al-An`am ayat 72
 Surat Yunus ayat 87
 Surat Al-Hajj : 78
 Surat An-Nuur ayat 56
 Surat Luqman ayat 31
 Surat Al-Mujadalah ayat 13
 Surat Al-Muzzammil ayat 20.
Ada 5 perintah sholat dengan lafaz "aqimish-sholata" (حلصٌا ُلأ) yang bermakna
"dirikanlah sholat" dengan khithab hanya kepada satu orang. Yaitu pada :
 Surat Huud ayat 114
 Surat Al-Isra` ayat 78
 Surat Thaha ayat 14
 Surat Al-Ankabut ayat 45
 Surat Luqman ayat 17.
2. Dalil dari As-Sunnah
Di dalam sunnah Raulullah shallallahu „alaihi wasallam, ada banyak sekali
perintah sholat sebagai dalil yang kuat dan qath`i tentang kewajiban sholat.
Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini :
ُ عَ س
ُ
ذْ ػ ِ ِ
َ
ُع : َ يبَل ب
َ
ُّٙ
ْ
َٕ ػ ُا
َ
ٟ
ِ
ظَ س
ِ
ةب
ّ
طَ خٌا
ِ
ْٓ ث َ ش
َ
ُّ ػ
ِ
ْٓ ث ا
ِ
ذْ جَ ػ َ ٓ
َ
ّْ ؽّ شٌا
ِ
ذْ جَ ػ ٟ
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ
ِ
ا َ يْ ٛ
ُ
ََلْ ع
ِ
لا
َ
ٟ
ِ
ُٕث : ُ يْ ٛ
ُ
ل

ِ
ءبَزْ ٠
ِ
إ
ِ
ٚ ،
ِ
حَلّ صٌا
ِ
َبَل
ِ
إ
َ
ٚ ،
ِ
ا ُ يْ ُٛ عَ س اً ذ
ّ
َّ ؾ
ُ
ِ ّ ْ
َ
أ
َ
ٚ ، ُا
ّ
ل
ِ
إ َٗ
َ
ٌ
ِ
إ َل ْ ْ
َ
أ
ِ
حَ دبََٙ ش :
ٍ
ظ
َ
ّخ ٝ
َ
ٍ َ ػ ،
ِ
ذْ ١َجٌا ّ ظَ ؽ
َ
ٚ ،
ِ
حبَ و
ّ
ضٌا
ٍُغِ ٚ ٞسبخجٌا ٖاٚس َ ْب َ ع
َ
َِ س
ِ
َ ْ َٛ ص
َ
ٚ
Dari Ibni Umar radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,"Islam didirikan di atas lima hal. Sahadat bahwa tiada tuhan
kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, penegakan sholat,
pelaksanaan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah bila mampu".
(HR. Bukhari dan Muslim)

6

.

1:
333
Dari „Abdullah bin „Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu terdiri
atas lima rukun. Mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan
sesungguhnya Muhammat itu adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan
zakat, hajji ke Baitullah dan puasa Ramadlan. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim,
dalam Nailul Authar juz 1, hal. 333]

.

043 1
Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara
seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. [HR. Jama‟ah, kecuali
Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340]

.

.

.

1: 343
Dari „Abdullah bin „Amr bin Al-‟Ash, dari Nabi SAW bahwa beliau pada suatu hari
menerangkan tentang sholat, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa memeliharanya,
maka sholat itu baginya sebagai cahaya, bukti dan penyelamat pada hari qiyamat.
Dan barangsiapa tidak memeliharanya, maka sholat itu baginya tidak merupakan
cahaya, tidak sebagai bukti, dan tidak (pula) sebagai penyelamat. Dan adalah dia
pada hari qiyamat bersama-sama Qarun, Fir‟aun, Haaman, dan Ubay bin Khalaf”.
[HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

.

.

1: 345
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari qiyamat,
adalah sholat wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya (maka selesailah
persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna sholatnya, dikatakan (kepada
malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah mengerjakan sholat sunnah ! Jika ia
7

mengerjakan sholat sunnah, maka kekurangan dalam sholat wajib disempurnakan
dengan sholat sunnahnya”. Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan
seperti itu”. [HR. Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 345

Menyuruh anak kecil untuk sholat

.

.

1: 348
Dari „Amr bin Syu‟aib, dari ayahnya, dari datuknya, ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Suruhlah anak-anak kecilmu melakukan sholat pada (usia) tujuh tahun,
dan pukullah mereka (bila lalai) atasnya pada (usia) sepuluh tahun, dan pisahkanlah
mereka pada tempat-tempat tidur”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud, dalam Nailul
Authar juz 1, hal. 348]
Keterangan :
Hadits tersebut menunjukkan wajibnya bagi orang tua menyuruh (mendidik) anak-
anaknya untuk melakukan sholat, apabila mereka berusia tujuh tahun. Dan mereka
harus dipukul (diberi hukuman yang mendidik, bukan menyiksa) karena
meninggalkannya, apabila berusia sepuluh tahun. Dan mereka harus dipisahkan
tempat tidurnya.
3. Dalil dari Ijma`
Bahwa seluruh umat Islam sejak zaman nabi shallallahu „alaihi wasallam
hingga hari ini telah bersepakat atas adanya kewajiban sholat dalam agama Islam.
Lima kali dalam sehari semalam.
Dengan adanya dalil dari Quran, sunnah dan ijma` di atas, maka lengkaplah dalil
kewajiban sholat bagi seorang muslim. Maka mengingkari kewajiban sholat termasuk
keyakianan yang menyimpang dari ajaran Islam, bahkan bisa divonis kafir bila
meninggalkan sholat dengan meyakini tidak adanya kewajiban sholat.

C. Sejarah Penetapan Sholat
Perintah tentang diwajibkannya mendirikan sholat tidak seperti Allah
mewajibkan zakat dan lainnya. Perintah mendirikan sholat yaitu melalui suatu proses
yang luar biasa yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW yaitu melalui Isra dan
Mi‟raj, dimana proses ini tidak dapat dipahami hanya secara akal melainkan harus
secara keimanan sehingga dalam sejarah digambarkan setelahnya Nabi melaksanakan
Isra dan Mi‟raj, umat Islam ketika itu terbagi tiga golongan yaitu, yang secara terang
8

– terangan menolak kebenarannya itu, yang setengah – tengahnya dan yang yakin
sekali kebenarannya. Dilihat dari prosesnya yang luar biasa maka sholat merupakan
kewajiban yang utama, yaitu mengerjakan sholat dapat menentukan amal – amal
yang lainnya, dan mendirikan sholat berarti mendirikan agama dan banyak lagi yang
lainnya

.

.
433 1
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Diwajibkan sholat itu pada Nabi SAW pada
malam Isra‟, lima puluh kali. Kemudian dikurangi sehingga menjadi lima kali,
kemudian Nabi dipanggil, “Ya Muhammad, sesungguhnya tidak diganti (diubah)
ketetapan itu di sisi-Ku. Dan sesungguhnya lima kali itu sama dengan lima puluh
kali”. [HR. Ahmad, Nasai dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam
Nailul Authar juz 1, hal. 334]

D. Sunnah
Adapun yang sunah dilakukan ketika seseorang tersebut hendak melakukan
atau melaksanakan sholat ialah ketika waktu sampai pada waktunya yang biasanya di
tandai dengan kumandang adzan, maka seorang hamba wajib melaksanakan shlat
tersebut.
Adzan memiliki arti ”memberitahukan” yang dimaksud disini ialah
”memberitahukan bahwa waktu sholat telah tiba dengan lafaz yang ditentukan oleh
syarat”. Dalam lafaz adzan itu terdapat pengertian yang mengandung beberapa
maksud penting, yaitu sebagai akidah, seperti adanya Allah yang Maha Besar bersifat
Esa, tidak ada sekutu bagi0Nya; serta menerangkan bahwa Nabi Muhammad adalah
utusan allah yang cerdik dan bijaksana untuk menerima wahyu dari Allah. Sesudah
kita bersaksi bahwa tidak ada Allah SWT melainkan Allah dan Nabi Muhammad
utusan-Nya, kita diajak menanti perintahnya, yakni mengerjakan sholat, kemudian
diajaknya pula pada kemenangan dunia dan akhirat. Akhirnya disudahi dengan
kalimat tauhid.
Adzan dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa waktu sholat telah tiba
dan menyerukan untuk melakukan sholat berjamaah. Selain itu untuk mensyiar
9

agama islam di muka umum. Allah telah berfirman dalam surat Al-Jumuah ayat 9
sebagai berikut :
ُزٕو ْا ُىٌ ش١خ ُىٌر غ١جٌا اٚسرٚ اشور ٌٝااٛؼعبف خؼّغٌا َٛ٠ ِٓ حلصٌٍ ٞدٛٔارا إِٛا ٓ٠زٌا بٙ٠ب٠
)خؼّغٌا( ٍّْٛؼر
”Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat
pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (sholat) dan
tingglkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.” (Al-Jumu‟ah).

E. Kriteria dalam Sholat
Sebelum melakukan sholat, tentunya ada beberapa kriteria yang wajib dipenuhi
terlebih dahulu.
a. Syarat Wajib Sholat
Bila semua syarat wajib terpenuhi, maka wajiblah bagi seseorang yang telah
memenuhi syarat wajib untuk melakukan ibadah sholat. Sebaliknya, bila salah
satu dari syarat wajib itu tidak terpenuhi, maka dia belum diwajibkan untuk
melakukan sholat.
Adapun yang termasuk dalam syarat wajib sholat adalah hal-hal berikut ini.
1. Beragama Islam
Seseorang harus beragama Islam terlebih dahulu agar punya beban kewajiban
sholat. Selama seseorang belum menjadi seoarang muslim, maka tidak ada
beban kewajiban sholat baginya.
Tidak ada konsekuensi hukuman buat non muslim bila tidak mengerjakan
sholat di dunia ini. Namun meski demikian, di akhirat nanti dia tetap akan
disiksa dan dibakar di neraka. Sedangkan seorang muslim bila tidak sholat,
selain disiksa di akhirat, di dunia ini pun harus dijatuhi hukuman oleh
pemerintah Islam atau mahkamah syar`iyah. Itulah yang membedakan antara
kewajiban sholat seorang muslim dengan non muslim.
Namun bila ada seorang kafir yang masuk Islam, tidak ada kewajiban untuk
mengqadha` sholat yang selama ini ditinggalkannya. Hal itu berdasarkan
firman Allah SWT :
َف اُٚ دُٛ ؼَ٠ ْ ْ
ِ
إ
َ
ٚ َ ف
َ
ٍَ ع ْ ذَل ب
َ
ِ ْ ُُٙ
َ
ٌ ْ شَف
ْ
غُ٠ اَُٛٙز
ْ
َٕ٠ ْ ْ
ِ
إ اُٚ شَفَ و َ ٓ٠
ِ
ز
ّ
ٍ
ِ
ٌ ْ ً
ُ
ل َ ٓ١
ِ
ٌ ّ ٚلا
ُ
خ
ّ
ُٕ ع
ْ
ذَ ع
َ
ِ ْ ذَم
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : "Jika mereka berhenti ,
niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang
10

sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku sunnah
orang-orang dahulu ".(QS. Al-Anfal : 38)
Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam dalam
haditsnya :

ِ
صب َ ؼ
ْ
ٌا
ِ
ْٓ ث ُٚ شْ َّ ػ َٓ ػ
ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا ّ ْ
َ
أ  ذّؽأ ٖاٚس ٗ
َ
ٍْ جَل ب
َ
ِ ّ تُ غَ٠
ُ
ََلْ ع
ِ
لا َ يبَل
Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Keislaman seseorang akan menghapus semua
dosa sebelumnya". (HR. Ahmad, At-Tabarany dan Al-Baihaqi).
Namun sebaliknya, bila ada seorang muslim murtad dari agama Islam. Lalu
masuk lagi ke dalam agama Islam, maka sholat yang pernah ditinggalkannya
wajib digantinya dengan qadha`. Sebagai hukuman untuknya dan juga karena
kekufurannya sesaat itu tidak lah menggugurkan kewajibannya kepada Allah.
Persis seperti hutang seseorang kepada sesama manusia. Tetap wajib
dibayarkan meski seseorang murtad dari Islam.
Namun menurut pendapat kalangan Al-Hanafiyah, orang yang murtad tidak
wajib untuk mengqadha` sholat yang ditinggalkannya, lantaran pada
hakikatnya dia adalah seorang non muslim yang tidak wajib sholat.
2. Baligh
Bagi anak laki-laki, baligh artinya adalah mereka yang sudah mengalami
mimpi basah, sedangkan bagi perempuan, yang disebut baligh adalah mereka
yang sudah mengalami masa menstruasi. Sejak kedua saat itulah perintah
diwajibkan untuk sholat berlaku, serta segala amal perbuatan mereka dari
yang baik hingga yang buruk mulai dihitung secara nafsi-nafsi tidak
bergantung lagi pada kedua orang tuanya.
Seorang anak kecil yang belum mengalami baligh tidak wajib sholat.
Dasarnya adalah sabda Rasululah shallallahu „alaihi wasallam :

ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕ
َ
ا ْ َٓ ػ بَٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا
َ
ٟ
ِ
ظَ س َخَ ش
ِ
ئب َ ػ ْ َٓ ػ
َ
ٚ
ِ
َٓ ػ
َ
ٚ ,
َ
ع
ِ
مْ ١َزْ غَ٠ ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
ُ
ِ
ئب
ّ
ٌٕ
َ
ا
ِ
َٓ ػ :ٍ خ
َ
صل
َ
ص ْ َٓ ػ
ُ
ُ
َ
ٍَم
ْ
ٌ
َ
ا َ غ
ِ
ف ُ س : َ يبَل
ٛ
ُ
ٕ ْ غ
َ
ّ
ْ
ٌ
َ
ا
ِ
َٓ ػ
َ
ٚ َ شُج
ْ
ىَ٠ ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
ش١
ِ
غّ صٌ
َ
ا ُ ذ
َ
ّْ ؽ
َ
أ
ُ
ٖا
َ
َٚ س َ ك١
ِ
فَ٠ ْ ٚ
َ
أ َ ً
ِ
م ْ ؼَ٠ ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
ْ
Dari Ali radhiyallahu „anhu dan Umar radhiyallahu „anhu bahwa
Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Pena telah diangkat dari
tiga orang, dari seorang yang tidur hingga terjaga, dari seorang anak kecil
hingga mimpi dan dari seorang gila hingga waras "(HR. Ahmad, Abu Daud,
Al-Hakim)
11

Meskipun demikian, seorang anak kecil yang belum baligh tetap dianjurkan
untuk diperintahkan mengerjakan sholat ketika berusia 7 tahun. Dan boleh
dipukul bila masih belum mau mengerjakannya setelah berusia 10 tahun.
Dalilnya adalah hadits berikut ini :

ِ
ّ
ا ُ يْ ُٛ عَ س َ يبَل َ يبَل
ِ
ّٖ ذ َ ع ْ َٓ ػ
ِ
ْٗ ١
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ ٍ ت١َ ؼ
ُ
ش
ِ
ْٓ ث ُٚ شْ َّ ػ ْ َٓ ػ َ ْٓ ١
ِ
ٕ
ِ
ع
ِ
غْ جَ غ
ِ
ٌ
ِ
حَلّ صٌب
ِ
ث ْ ُ
ُ
ىَٔبَ١ْ ج
ِ
ص اُٚ ش
ُ
ِ

ْ
شَ ؼ
ِ
ٌ بَْٙ ١
َ
ٍ َ ػ ْ ُُْ٘ ُٛث
ِ
شْ ظا
َ
ٚ َ ْٓ ١
ِ
ٕ
ِ
ع
ِ
ش غ
ِ
عب َ ع
َ
ٌّا
ِ
ٟف ْ َُُْٕٙ ١َث اٛ
ُ
ل ّ شَف
َ
ٚ دٚاد ٛثأٚ ذّؽأ ٖاٚس
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Perintahkanlah anakmu untuk sholat pada usia 7
tahun dan pukullah pada usia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka
(anak-anak laki dan anak-anak perempuan)".(HR. Ahmad, Abu Daud dan
Al-Hakim)
Namun perintah ini bukan untuk anak melainkan kepada para orang tua, yakni
mereka diwajibkan untuk memerintahkan anaknya sholat pada usia 7 tahun.
Sebagaimana firman Allah SWT
ٜ
َ
ٛ
ْ
م
ّ
زٍ
ِ
ٌ
ُ
خَج
ِ
لب َ ؼ
ْ
ٌا
َ
ٚ َ ه
ُ
ل
ُ
صْ شَٔ ُ ْٓ ؾَٔ ب
ً
ل
ْ
ص
ِ
س َ ه
ُ
ٌ
َ
أ ْ غَٔ ل بَْٙ ١
َ
ٍ َ ػ ْ ش
ِ
ج
َ
طْ صا
َ
ٚ
ِ
حلّ صٌب
ِ
ث َ ه
َ
ٍْ ٘
َ
أ ْ ش
ُ
ِ
ْ
أ
َ
ٚ
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah
kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah
yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat itu adalah bagi orang yang
bertakwa.".(QS. Thaha : 132)
3. Berakal
Orang yang tidak waras seperti gila, ayan dan berpenyakit syaraf tidak wajib
mengerjakan sholat karena mereka tidak sadar diri dan tidak mampu berpikir.
Maka tidak ada beban kewajiban beribadah atas dirinya. Kewajiban sholat
hanya ada pada saat mereka sadar dan waras, dimana terkadang memang
seseorang tidak selamanya gila atau hilang akal. Namun begitu ketidak-
sadaran atas dirinya datang, maka dia tidak wajib mengerjakan sholat.
Menurut jumhur ulama, orang yang sempat untuk beberapa saat hilang
kewarasannya, begitu sudah kembali ingatannya tidak wajib mengqadha`
sholat. Namun hal itu berbeda dengan pendapat kalangan Al-Hanafiyah yang
justru mewajibkannya mengqadha` sholat.
Sedangkan bila hilang akal dan kesadaran karena seseorang mabuk, maka dia
wajib mengqadha` sholatnya, karena orang yang mabuk tetap wajib sholat.
Demikian juga hal yang sama berlaku pada orang yang tidur, begitu dia
12

bangun, wajiblah atasnya mengqadha` sholat yang terlewat. Dalilnya adalah
sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam :
َ ػ
ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا ّ ْ
َ
أ ٍ ه
ِ
ٌب
َ
ِ
ِ
ْٓ ث
ِ
ظَٔ
َ
أ ْ ٓ 
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ َ ه
ِ
ٌ
َ
ر لإ بَٙ
َ
ٌ َح َ سب
ّ
فَ و ل بََ٘ شَ و
َ
ر ا
َ
رإ بَٙ
ّ
ٍ َ صُ١
ْ
ٍَف
ً
حلَ ص
َ
ٟ
ِ
غَٔ ْ ٓ
َ
ِ : َ يبَل
Dari Anas bin Malik radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Orang yang lupa sholat hendaklah segera sholat
begitu ingat. Tidak ada kaffarah atasnya kecuali hanya melakukan sholat itu
saja".(HR. Bukhari dan Muslim)
Tiga hal di atas adalah syarat-syarat wajib sholat, dimana bila syarat itu
terpenuhi pada diri seseorang, wajiblah atasnya untuk melakukan sholat.
b. Syarat Sah Sholat
Sebagaimana dijelaskan di atas, syarat sah sholat adalah hal-hal yang harus
terpenuhi sebelum seseorang mengerjakan sholat agar sholatnya menjadi sah
hukumnya. Diantaranya adalah :
1. Mengetahui Bahwa Waktu Sholat Sudah Masuk
Bila seseorang melakukan sholat tanpa pernah tahu apakah waktunya sudah
masuk atau belum, maka sholatnya itu tidak memenuhi syarat. Sebab
mengetahui dengan pasti bahwa waktu sholat sudah masuk adalah bagian dari
syarat sah sholat.
Bahkan meski pun ternyata sudah masuk waktunya, namun sholatnya itu
tidak sah lantara pada saat sholat dia tidak tahu apakah sudah masuk
waktunya atau belum.
Tidak ada bedanya, apakah seseorang mengetahui masuknya sholat dengan
yakin atau sekedar berijtihad dengan dasar yang kuat dan bisa diterima. Dasar
keharusan adanya syarat ini adalah firman Allah SWT :
ب
ً
رٛ
ُ
ل ْ ٛ
َ
ِ بًثبَز
ِ
و َ ٓ١
ِ
ٕ
ِ
ِْ ؤ
ُ
ّ
ْ
ٌا ٝ
َ
ٍ َ ػ
ْ
ذَٔبَ و َحلّ صٌا ّ ْ
ِ
إ
"...Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas
orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa : 103)
2. Suci dari Hadats Besar dan Kecil
Hadats besar adalah haidh, nifas dan janabah. Dan untuk mengangkat /
menghilangkan hadats besar harus dengan mandi janabah. Sedangkan hadats
kecil adalah kondisi dimana seseorang tidak punya wudhu atau batal dari
wudhu`nya. Dan untuk mengangkat hadats kecil ini bisa dilakukan dengan
wudhu` atau bertayammum. Allah SWT berfirman :
13

ْ ِا
َ
ٚ
ِ
ك
ِ
فا َ ش
َ
ّ
ْ
ٌا ٝ
َ
ٌ
ِ
إ ْ ُ
ُ
ىَ٠
ِ
ذْ ٠
َ
أ
َ
ٚ ْ ُ
ُ
ىَُ٘ٛ عُ ٚ اٛ
ُ
ٍ
ِ
غ
ْ
غبَف
ِ
حلّ صٌا ٝ
َ
ٌ
ِ
إ ْ ُ
ُ
ز ْ ّ
ُ
ل ا
َ
ر
ِ
إ اٛ
ُ
ٕ
َ
ِا
َ
ء َ ٓ٠
ِ
ز
ّ
ٌا بَّٙ٠
َ
أبَ٠ ْ ُ
ُ
ى
ِ
عُٚ ءُ ش
ِ
ث اُٛ ؾَ غ
َف بًج
ُ
ٕ ُ ع ْ ُ
ُ
ز
ْ
ٕ
ُ
و ْ ْ
ِ
إ
َ
ٚ
ِ
ْٓ ١َج ْ ؼَ ى
ْ
ٌا ٝ
َ
ٌ
ِ
إ ْ ُ
ُ
ى
َ
ٍ ُ عْ س
َ
أ
َ
ٚ َ ٓ
ِ
ِ ْ ُ
ُ
ى
ْ
ٕ
ِ
ِ ٌ ذ َ ؽ
َ
أ
َ
ءب َ ع ْ ٚ
َ
أ
ٍ
شَفَ ع ٝ
َ
ٍ َ ػ ْ ٚ
َ
أ َٝ ظْ ش
َ
ِ ْ ُ
ُ
ز
ْ
ٕ
ُ
و ْ ْ
ِ
إ
َ
ٚ اُٚ شّٙ
ّ
غب

ِ
ذْ ٠
َ
أ
َ
ٚ ْ ُ
ُ
ى
ِ
ُ٘ٛ عُ ٛ
ِ
ث اُٛ ؾَ غْ ِبَف بًجّ١
َ
غ اً ذ١
ِ
ؼَ ص اٛ
ُ
ّ
ّ
َّ١َزَف ً ءب
َ
ِ اُٚ ذ
ِ
غَر ْ ُ
َ
ٍَف
َ
ءبَ غ
ّ
ٌٕا
ُ
ُ
ُ
ز ْ غ
َ
ِل ْ ٚ
َ
أ
ِ
ػ
ِ
ئب َ غ
ْ
ٌا ُ
ّ
ا ُ ذ٠
ِ
شُ٠ ب
َ
ِ ُٗ
ْ
ٕ
ِ
ِ ْ ُ
ُ
ى٠
َ ًَ ؼْ غَ١
ِ
ٌ َ ؼ
َ
ٌ ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ َُٗز
َ
ّْ ؼ
ِ
ٔ
ّ
ُ
ِ
زُ١
ِ
ٌ
َ
ٚ ْ ُ
ُ
وَ شّٙ
َ
طُ١
ِ
ٌ ُ ذ٠
ِ
شُ٠ ْ ٓ
ِ
ى
َ
ٌ
َ
ْٛ ّ
ُ
وَ شّٙ
َ
طُ١
ِ
ٌ ُ ذ٠
ِ
شُ٠ ْ ٓ
ِ
ى
َ
ٌ
َ
ٚ
ٍ
طَ شَ ؽ ْ ٓ
ِ
ِ ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ َ ُْٚ ش
ُ
ى
ْ
شَر ْ ُ
ُ
ى
ّ
ٍ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat,
maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub
maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari
tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh
air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu,
supaya kamu bersyukur.. (QS. Al-Maidah : 6)
Selain itu ada hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam berikut ini :

ٍ
سْ ُٛٙ
َ
غ
ِ
شْ ١ َ غ
ِ
ث
ً
حَلَ ص ا ُ ًَج
ْ
مَ٠ َل : َ ي
َ
بل ا َ يُٛ عَ س ّ ْ
َ
أ َ ش
َ
ُّ ػ
ِ
ٓثا
ِ
َٓ ػ
Dari Ibnu Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,"Allah tidak menerima sholat tanpa thaharah".(HR.
Jamaah kecuali Bukhari)
أ َ ظ
َ
َٛزَ٠ ٝ
ّ
ز َ ؽ ٍ س
ِ
ذ ْ ؾ
ُ
ِ ٍ ء
ِ
شِا حَلَ ص ا ُ ًَج
ْ
مَ٠ َل : يبَل ا يُٛ عَ س ّ ْ
َ
أ َح َ شْ ٠ َ شُ٘
ِ
ٟث
َ
أ ْ َٓ ػ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,"Allah tidak menerima sholat seorang kamu bila
berhadats sampai dia berwudhu`"(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan
Tirmizy).
3. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Sholat Dari Najis
Tidak sah seseorang sholat dalam keadaan badannya terkena najis, atau
pakaiannya atau tempat sholatnya. Sebelum berwudhu, wajiblah atasnya
untuk menghilangkan najis dan mencucinya hingga suci. Setelah barulah
berwudhu` untuk mengangkat hadats dan mulai sholat. Dalil keharusan
Sucinya badan dari najis adalah
"Bila kamu mendapat haidh, maka tinggalkanlah sholat. Dan bila telah usai
haidh, maka cucilah darah dan sholatlah".(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalil keharusan sucinya pakaian dari najis adalah firman Allah SWT :
ْ شّٙ
َ
طَف َ هَثبَ١
ِ
ص
َ
ٚ
"Dan pakaianmu, bersihkanlah".(QS. Al-Muddatstsir : 4)
14

Ibnu Sirin mengatakan bahwa makna ayat ini adalah perintah untuk mencuci
pakaian dengan air.
Dalil keharusan sucinya tempat sholat dari najis
Hadits yang menceritakan seorang arab badawi yang kencing di dalam
masjid. Oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam diperintahkan untuk
menyiraminya dengan seember air.
"Siramilah pada bekas kencingnya dengan seember air".(HR.)
4. Menutup Aurat
Tidak sah seseorang melakukan sholat bila auratnya terbuka, meski pun dia
sholat sendirian jauh dari penglihatan orang lain. Atau sholat di tempat yang
gelap tidak ada sinar sedikitpun.
Dalil atas kewajiban menutup aurat pada saat melakukan sholat adalah firman
Allah SWT berikut ini :

ْ
شا
َ
ٚ اٛ
ُ
ٍ
ُ
و
َ
ٚ ٍ ذ
ِ
غْ غ
َ
ِ ّ ً
ُ
و َ ذ
ْ
ٕ
ِ
ػ ْ ُ
ُ
ىَزَٕ٠
ِ
ص اٚ
ُ
ز
ُ
خ
َ
ََ دا
َ
ء ٟ
ِ
َٕثبَ٠ َ ٓ١
ِ
ف
ِ
شْ غ
ُ
ّ
ْ
ٌا ّ ت
ِ
ؾُ٠ ل ُٗ
ّ
ٔ
ِ
إ اٛ
ُ
ف
ِ
شْ غ
ُ
ر ل
َ
ٚ اُٛث َ ش
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap mesjid , makan
dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.".(QS. Al-A`raf : 31)
Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu berkata bahwa yang dimaksud dengan
perhiasan dalam ayat ini maksudnya adalah pakaian yang menutup aurat.
Selain itu ada hadits nabi yang menegaskan kewajiban wanita memakai
khimar pada saat sholat.

ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا ّ ْ
َ
أ َخَ ش
ِ
ئب َ ػ ْ َٓ ػ ٟئبغٌٕا لإ خغّخٌا ٖاٚس
ٍ
سب
َ
ّ
ِ
خ
ِ
ث
ّ
ل
ِ
إ
ٍ
ط
ِ
ئب َ ؽ َحَلَ ص ا ُ ًَج
ْ
مَ٠ َل َ يبَل
Dari Aisah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,"Tidak sah sholat seorang wanita yang sudah mendapat
haidh kecuali dengan memakai khimar.(HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai).
Khimar adalah kerudung yang menutup kepala seorang wanita.
Dari Aisah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,"Wahai Asma`, bila seorang wanita sudah mendapat
haidh maka dia tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini". Lalu beliau
shallallahu „alaihi wasallam menunjuk kepada wajah dan kedua tapak
tangannya. (HR. Abu Daud - hadits mursal).
15

Kewajiban menutup aurat ini berlaku bagi setiap wanita yang sudah haidh
baik di dalam sholat maupun di luar sholat. Kecuali di dalam rumahnya yang
terlinding dari penglihatan laki-laki yang bukan mahramnya.
5. Menghadap ke Kiblat
Tidak sah sebuah ibadah sholat manakala tidak dilakukan dengan menghadap
ke kiblat. Dalilnya adalah firman Allah SWT :

ِ
ٌ
ُ
ٖ َ ش
ْ
طَ ش ْ ُ
ُ
ىَُ٘ٛ عُ ٚ اٛ
ّ
ٌ
َ
َٛف ْ ُ
ُ
ز
ْ
ٕ
ُ
و ب
َ
ِ
ُ
شْ ١ َ ؽ
َ
ٚ
ِ
َا َ شَ ؾ
ْ
ٌا
ِ
ذ
ِ
غْ غ
َ
ّ
ْ
ٌا َ ش
ْ
طَ ش َ هَْٙ ع
َ
ٚ ّ ي
َ
َٛف َ ذْ عَ شَ خ
ُ
شْ ١ َ ؽ ْ ٓ
ِ
ِ
َ
ٚ َ ْٛ
ُ
ىَ٠ لَئ

ّ
ٍٕ
ِ
ٌ َ ؼ
َ
ٌ
َ
ٚ ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ ٟ
ِ
ز
َ
ّْ ؼ
ِ
ٔ
ّ
ُ
ِ
ر
ُ
ِ
ل
َ
ٚ ٟ
ِ
ٔ ْ َٛ ش
ْ
خا
َ
ٚ ْ ُُْ٘ َٛ ش
ْ
خَر لَف ْ ُُٙ
ْ
ٕ
ِ
ِ اٛ
ُ
ّ
َ
ٍ
َ
ظ َ ٓ٠
ِ
ز
ّ
ٌا ل
ِ
إ
ٌ
خّ غُ ؽ ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ
ِ
طب َ ُْٚ ذَزْ َٙر ْ ُ
ُ
ى
ّ
ٍ
"Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil
Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke
arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang
yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku . Dan agar Ku-sempurnakan ni'mat-Ku atasmu, dan
supaya kamu mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqarah : 150)
c. Hal-hal Yang Membatalkan Sholat
Di antara ha-hal yang membatalkan sholat sebagaimana yang telah dijabarkan
oleh para fuqaha adalah sebagai berikut :
1. Berbicara
Dari Zaid bin Al-Arqam ra berkata,"Dahulu kami bercakap-capak pada saat
sholat. Seseorang ngobrol dengan temannya di dalam sholat. Yang lain
berbicara dengan yang disampingnya. Hingga turunlah firman Allah SWT
"Peliharalah semua sholat, dan sholat wusthaa . Berdirilah untuk Allah
dengan khusyu". Maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang
berbicara dalam sholat". (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah).
2. Makan dan Minum
Makan dan minum di sini adalah ketika sholat, secara sengaja kita
memasukkan makanan atau minuman ke mulut kita kemudian menelannya.
Adapun setelah wudhu kemudian kita makan dan minum, itu tidak apa-apa.
3. Banyak Gerakan dan Terus Menerus
Yang dimaksud adalah gerakan yang banyak dan berulang-ulang terus.
Mazhab As-syafi'i memberikan batasan sampai tiga kali gerakan berturut-
turut sehingga seseorang batal dari sholatnya. Namun bukan berarti setiap ada
gerakan langsung membatalkan sholat. Sebab dahulu Rasulullah SAW pernah
sholat sambil menggendong anak (cucunya).
16

Rasulullah SAW sholat sambil mengendong Umamah, anak perempuan dari
anak perempuannya. Bila beliau SAW sujud, anak itu diletakkannya dan bila
berdiri digendongnya lagi". (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan Beliau SAW memerintah orang yang sedang sholat untuk membunuh
ular dan kalajengking (al-aswadain). Dan beliau juga pernah melepas
sandalnya sambil sholat. Kesemuanya gerakan itu tidak termasuk yang
membatalkan sholat.
4. Tidak Menghadap Kiblat
Bila seserang di dalam sholatnya melakukan gerakan hingga badannya
bergeser arah hingga membelakangi kiblat, maka sholatnya itu batal dengan
sendirinya. Hal ini ditandai dengan bergesernya arah dada orang yang sedang
sholat itu, menurut kalangan As-Syafi'iyah dan Al-Hanafiyah. Sedangkan
menurut Al-Malikiyah, bergesernya seseorang dari menghadap kiblat ditandai
oleh posisi kakinya. Sedangkan menurut Al-Hanabilah, ditentukan dari
seluruh tubuhnya. Kecuali pada sholat sunnah, dimana menghadap kiblat
tidak menjadi syarat sholat. Rasulullah SAW pernah melakukannya di atas
kendaraan dan menghadap kemana pun kendaraannya itu mengarah.
Namun yang dilakukan hanyalah sholat sunnah, adapun sholat wajib belum
pernah diriwayatkan bahwa beliau pernah melakukannya. Sehingga sebagian
ulama tidak membenarkan sholat wajib di atas kendaraan yang arahnya tidak
menghadap kiblat.
5. Terbuka Aurat Secara Sengaja
Bila seseorang yang sedang melakukan sholat tiba-tiba terbuka auratnya,
maka sholatnya otomatis menjadi batal. Maksudnya bila terbuka dalam waktu
yang lama. Sedangkan bila hanya terbuka sekilas dan langsung ditutup lagi,
para ulama mengatakan tidak batal menurut As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah.
Namun Al-Malikiyah mengatakan secepat apapun ditutupnya, kalau sempat
terbuka, maka sholat itu sudah batal dengan sendirinya.
Namun perlu diperhatikan bahwa yang dijadikan sandaran dalam masalah
terlihat aurat dalam hal ini adalah bila dilihat dari samping, atau depan atau
belakang. Bukan dilihat dari arah bawah seseorang. Sebab bisa saja bila
secara sengaja diintip dari arah bawah, seseorang akan terlihat auratnya.
Namun hal ini tidak berlaku.
6. Mengalami Hadts Kecil atau Besar
17

Bila seseorang mengalami hadats besar atau kecil, maka batal pula sholatnya.
Baik terjadi tanpa sengaja atau secara sadar. Namun harus dibedakan dengan
orang yang merasa ragu-ragu dalam berhadats. Para ulama mengatakan
bahwa rasa ragu tidak lah membatalkan sholat. Sholat itu baru batal apabila
memang ada kepastian telah mendapat hadats.
7. Tersentuh Najis baik pada Badan, Pakaian atau Tempat Sholat
Bila seseorang yang sedang sholat terkena benda najis, maka secara langsung
sholatnya menjadi batal. Namun yang dijadikan patokan adalah bila najis itu
tersentuh tubuhnya atau pakaiannya. Adapun tempat sholat itu sendiri bila
mengandung najis, namun tidak sampai tersentuh langsung dengan tubuh atau
pakaian, sholatnya masih sah dan bisa diteruskan. Demikian juga bila ada
najis yang keluar dari tubuhnya hingga terkena tubuhnya, seperti mulut,
hidung, telinga atau lainnya, maka sholatnya batal. Namun bila kadar najisnya
hanya sekedar najis yang dimaafkan, yaitu najis-najis kecil ukuran, maka hal
itu tidak membatalkan sholat.
8. Tertawa
Orang yang tertawa dalam sholatnya, batallah sholatnya itu. Maksudnya
adalah tertawa yang sampai mengeluarkan suara. Adapun bila sebatas
tersenyum, belumlah sampai batal puasanya.
9. Murtad, Mati, Gila atau Hilang Akal
Orang yang sedang melakukan sholat, lalu tiba-tiba murtad, maka batal
sholatnya. Demikian juga bila mengalami kematian. Dan orang yang tiba-tiba
menjadi gila dan hilang akal saat sedang sholat, maka sholatnya juga batal.
10. Berubah Niat
Seseorang yang sedang sholat, lalu tiba-tiba terbetik niat untuk tidak sholat di
dalam hatinya, maka saat itu juga sholatnya telah batal. Sebab niatnya telah
rusak, meski dia belum melakukan hal-hal yang membatalkan sholatnya.
11. Meninggalkan Salah Satu Rukun Sholat
Apabila ada salah satu rukun sholat yang tidak dikerjakan, maka sholat itu
menjadi batal dengan sendirinya. Misalnya, seseorang lupa tidak membaca
surat Al-Fatihah lalu langsung ruku', maka sholatnya menjadi batal.
Kecuali dalam kasus sholat berjamaah dimana memang sudah ditentukan
bahwa imam menanggung bacaan fatihah makmum, sehingga seorang yang
tertinggal takbiratul ihram dan mendapati imam sudah pada posisi rukuk,
18

dibolehkan langsung ikut ruku' bersama imam dan telah mendapatkan satu
rakaat.
Demikian pula dalam sholat jahriyah (suara imam dikeraskan), dengan
pendapat yang mengataka bahwa bacaan Al-Fatihah imam telah menjadi
pengganti bacaan Al-Fatihah buat makmum, maka bila makmum tidak
membacanya, tidak membatalkan sholat.
12. Mendahului Imam dalam Sholat Jama'ah
Bila seorang makmum melakukan gerakan mendahului gerakan imam, seperti
bangun dari sujud lebih dulu dari imam, maka batal-lah sholatnya. Namun
bila hal itu terjadi tanpa sengaja, maka tidak termasuk yang membatalkan
sholat.
AS-Syafi'iyah mengatakan bahwa batasan batalnya sholat adalah bila
mendahului imam sampai dua gerakan yang merupakan rukun dalam sholat.
Hal yang sama juga berlaku bila tertinggal dua rukun dari gerakan imam.
13. Terdapatnya Air bagi Orang yang Sholatnya dengan Tayammum
Seseorang yang bertayammum sebelum sholat, lalu ketika sholat tiba-tiba
terdapat air yang bisa dijangkaunya dan cukup untuk digunakan berwudhu',
maka sholatnya batal. Dia harus berwudhu' saat itu dan mengulangi lagi
sholatnya.
14. Mengucapkan Salam Secara Sengaja
Bila seseorang mengucapkan salam secara sengaja dan sadar, maka sholatnya
batal. Dasarnya adalah hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa salam
adalah hal yang mengakhiri sholat. Kecuali lafadz salam di dalam bacaan
sholat, seperti dalam bacaa tahiyat.

F. Struktur Sholat
Telah jelas pengertian dan dalil wajib mengenai sholat dalam Al-Quran dan Hadist.
Mengingatkan kembali, bahwa pegangan hukum utama kita adalah Al-Quran dan
Hadist. Nabi SAW pernah bersabda
ٍٝصا ٝٔاّٛز٠اسبّواٍٛص
“Shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat“.
Nabi Muhammad SAW begitu khawatir apabila umatnya nanti tidak sholat
sebagaimana dengan apa yang dilakukannya. Kita mengenal bid‟ah, yaitu sesuatu
yang diperbaharui. Nabi khawatir jika umatnya melakukan bid‟ah dalam ibadah,
19

terutama dalam sholat. Mengapa? Karena sholat merupakan amalan pertama yang
nantinya di hisab di hari kiamat nanti. Untuk itu, Nabi perintah supaya umatnya
sholat dengan benar, dan benar ini adalah sesuai dengan apa yang Nabi lakukan
karena semua yang Nabi lakukan dalam ibadah merupakan wahyu atau petunjuk dari
Allah SWT.
Agar tingkat kekhawatiran Rasulullah SAW tidak menjadi kenyataan, dibawah
ini diterangkan bagaimana shalat pernah dilakukan beliau secaa utuh dan bernilai
bagi kehidupan.
Shalat berbentuk struktural, yaitu shalat wajib yang dilakukan lima kali sehari
semalam, yaitu subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isya‟ yang dimulai dari takbir dan
diakhiri dengan salam. Adapun di luar itu bersifat sunnah, baik
yang muakkat maupun yang sunnah biasa. Pembahasan disini dikhususkan pada
masalah shalat wajib, dan dampak siklus rutinitas sehari-hari, sehingga terbentuk
kehidupan manusia proaktif dan berkembang secara dinamis menuju kehidupan yag
lebih baik. Shalat struktural merupakan bentuk shalat vertikal, yaitu hablum
minallah (hubungan manusia dengan Tuhan Allah swt). Sedangkan shalat struktural
ada tiga pokok utama sebagai satu paket yang harus dilakukan secara utuh, yaitu
wudhu, shalat dan do‟a.

1. Wudhu
Secara bahasa, wudhu berasal “al wadaa‟ah”, yaitu kebersihan dan kesegaran.
Secara istilah, wudhu adalah memakai air untuk anggota tertentu (wajah, kedua
tangan, kepala dan kedua kaki) menghilangkan apa yang menghalangi untuk
sholat dan selainnya.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an surat Al-Maidah ayat 6

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”
Selain itu, Sabda Nabi yang dituangkan dalam Shahih Bukhari : 135 dan Shahih
Muslim : 225

“Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadas sehingga dia berwudhu”.
20

Sifat wudhu yang lengkap atau sempurna :

“Humran budak Utsman, telah menceritakan kepadanya, bahwa Utsman bin Affan
meminta air untuk berwudlu, kemudian dia membasuh dua tangan sebanyak tiga
kali, kemudian berkumur-kumur serta memasuk dan mengeluarkan air dari
hidung. Kemudian ia membasuh muka sebanyak tiga kali dan membasuh tangan
kanannya hingga ke siku sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh tangan
kirinya sama seperti beliau membasuh tangan kanan, kemudian mengusap
kepalanya dan membasuh kaki kanan hingga ke mata kaki sebanyak tiga kali.
Selepas itu, ia membasuh kaki kiri, sama seperti membasuh kaki kanannya.
Kemudian Utsman berkata, „Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam berwudlu seperti cara aku berwudlu.‟ Kemudian dia berkata lagi, „Aku
juga telah mendengar beliau shallallahu „alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa
mengambil wudlu seperti cara aku berwudlu kemudian dia menunaikan shalat dua
rakaat dan tidak berkata-kata antara wudlu dan shalat, maka Allah akan
mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu‟.” Ibnu Syihab berkata, “Ulama-
ulama kami berkata, „Wudlu ini adalah wudlu yang paling sempurnya yang
dilakukan oleh seseorang untuk melakukan shalat.” (Shahih Bukhari 158 dan
Shahih Muslim 226)
2. Rukun Sholat
Rukun adalah pondasi atau tiang pada suatu banguna. Bila salah satu rukunnya
rusak atau tidak ada, maka bangunan itu akan roboh. Bila salah satu rukun shalat
tidak dilakukan atau tidak sah dilakukan, maka keseluruhan rangkaian ibadah
shalat itu pun menjadi tidak sah juga.
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa rukun adalah perbuatan yang
hukumnya wajib dilakukan dan menjadi bagian utuh dari rangkaian ibadah.
Sedangkan syarat adalah gerakan ibadah yang wajib dilakukan namun bukan
bagian dari rangkaian gerakan ibadah.
21

Para ulama mazhab yang paling masyhur berbeda-beda pendapatnya ketika
menetapkan mana yang menjadi bagian dari rukun shalat.
Kalangan mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlah rukun shalat hanya
ada 6 saja. Sedangkan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa rukun shalat ada 14
perkara. As-Syafi`iyah menyebutkan 13 rukun shalat dan Al-Hanabilah
menyebutkan 14 rukun.
Ada 2 hal yang bukan merupakan rukun sholat, tetapi merupakan bagian dari
norma sholat itu sendiri, yaitu
1. Menghadap Ka’bah
Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat fardhu atau
sholat sunnah, beliau menghadap Ka‟bah. Beliau memerintahkan berbuat
demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang sholatnya salah:
“Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu‟mu, kemudian
menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.”
(HR. Bukhari, Muslim dan Siraj).
2. Menghadap Sutrah
Sutrah (pembatas yang berada di depan orang sholat) dalam sholat menjadi
keharusan imam dan orang yang sholat sendirian, sekalipun di masjid besar,
demikian pendapat Ibnu Hani‟ dalam Kitab Masa‟il, dari Imam Ahmad.Beliau
mengatakan, “Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang sutrah di depan
saya, padahal saya melakukan sholat di dalam masjid kami, Imam Ahmad
melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya, „Pasanglah sesuatu sebagai
sutrahmu!‟ Kemudian aku memasang orang untuk menjadi sutrah.”Syaikh Al
Albani mengatakan, “Kejadian ini merupakan isyarat dari Imam Ahmad
bahwa orang yang sholat di masjid besar atau masjid kecil tetap berkewajiban
memasang sutrah di depannya.”Nabi shallallahu „alaihi wasallam bersabda
“Janganlah kamu sholat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau
membiarkan seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia
terus memaksa lewat di depanmu, bunuhlah dia karena dia ditemani oleh
setan.”
(HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang jayyid (baik)).
Adapun yang dapat dijadikan sutrah antara lain: tiang masjid, tombak yang
ditancapkan ke tanah, hewan tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon,
22

tempat tidur, dinding dan lain-lain yang semisalnya, sebagaimana telah
dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam.
Di bawah ini adalah rukun sholat
1. Niat
Niat berarti menyengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah
Ta‟ala semata, serta menguatkannya dalam hati.Nabi shallallahu „alaihi
wasallam bersabda:
Niat tidak dilafadzkan
Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam dan tidak
pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan. Abu Dawud
bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, “Apakah orang sholat
mengatakan sesuatu sebelum dia takbir?” Imam Ahmad menjawab,
“Tidak.” (Masaail al Imam Ahmad hal 31 dan Majmuu‟ al Fataawaa
XXII/28).
AsSuyuthi berkata, “Yang termasuk perbuatan bid‟ah adalah was-was
(selalu ragu) sewaktu berniat sholat. Hal itu tidak pernah diperbuat oleh
Nabi shallallahu „alaihi wasallam maupun para shahabat beliau. Mereka
dulu tidak pernah melafadzkan niat sholat sedikitpun selain hanya lafadz
takbir.”
Asy Syafi‟i berkata, “Was-was dalam niat sholat dan dalam thaharah
termasuk kebodohan terhadap syariat atau membingungkan akal.” (Lihat al
Amr bi al Itbaa‟ wa al Nahy „an al Ibtidaa‟).
2. Takbiratul Ihram
Takbiratul Ihram maknanya adalah ucapan takbir yang menandakan
dimulainya pengharaman. Yaitu mengharamkan segala sesuatu yang
tadinya halal menjadi tidak halal atau tidak boleh dikerjakan di dalam
shalat. Seperti makan, minum, berbicara dan sebagainya. Frman Allah
SWT :
ْ شّجَ ىَف َ هّث َ س
َ
ٚ
"dan Tuhanmu agungkanlah! (Bertakbirlah untuknya)" (QS. Al-
Muddatstsir : 3)
Juga ada dalil dari hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam :
ُ سُٛٙ
ّ
طٌا
ِ
حلّ صٌا ُ ػبَز
ْ
ف
ِ
ِ : ا ُ يْ ُٛ عَ س َ يبَل َ يبَل
ّ
ٟ
ِ
ٍ َ ػ ْ َٓ ػ
ُ
ٖا
َ
َٚ س
ُ
ُ١
ِ
ٍ ْ غ
ّ
زٌا بَٙ
ُ
ٍ١
ِ
ٍ ْ ؾَر
َ
ٚ ُ ش١
ِ
ج
ْ
ى
ّ
زٌا بَٙ
ُ
ّ٠
ِ
شْ ؾَر
َ
ٚ

ُ
خَ غْ َّ خ
ْ
ٌا
ّ
ٟ
ِ
ئبَ غ
ّ
ٌٕا لإ
23

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian (thahur) dan
yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah takbir".
(HR. Khamsah kecuali An-Nasai)
Lafaz takbiratul-ihram adalah mengucapkan lafadz Allahu Akbar, artinya
Allah Maha Besar.
Lafaz ini diucapkan ketika semua syarat wajib dan syarat sah shalat
terpenuhi. Yaitu sudah menghadap ke kiblat dalam keadaan suci badan,
pakaian dan tempat dari najis dan hadats. Begitu juga sudah menutup
aurat, tahu bahwa waktu shalat sudah masuk dan lainnya.
Jumhur ulama mengharamkan makmum memulai takbir permulaan shalat
ini kecuali bila imam sudah selesai bertakbir. Dengan dasar berikut ini :

ِ
ا َ يْ ُٛ عَ س ّ ْ
َ
أ َح َ شْ ٠ َ شُ٘ ٟ
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ اٛ
ُ
ف
ِ
ٍَز
ْ
خَر َلَف
ِ
ٗ
ِ
ث
ّ
َُر ْ ؤُ١
ِ
ٌ
ُ
َب
َ
ِ
ِ
لا َ ً
ِ
ؼُ ع ب
َ
ّ
ّ
ٔ
ِ
إ: َ يبَل ٖاٚس اُٚ شّجَ ىَف َ شّجَ و ا
َ
ر
ِ
ئَف
ْبخ١شٌا
Imam itu dijadikan untuk diikuti, maka jangan berbeda dengannya. Bila
dia bertakbir maka bertakbirlah (HR. Muttafaq Alaihi)
Sedangkan kalangan Al-Hanafiyah membolehkan makmum bertakbir
bersama-sama dengan imam
3. Berdiri
Berdiri adalah rukun shalat dengan dalil berdasarkan firman Allah SWT :
َ ٓ١
ِ
ز
ِ
ٔبَل
ِ
ّ
ِ
ل
ْ
اٛ
ُ
ِٛ
ُ
ل
َ
ٚ
"...Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'." (QS. Al-Baqarah : 238)
Juga ada hadits nabawi yang mengharuskan berdiri untuk shalat

ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا َ ي
َ
أَ ع ُٗ
ّ
ٔ
َ
أ
ٍ
ْٓ ١ َ صُ ؽ
ِ
ْٓ ث َ ْا َ شْ ّ
ِ
ػ ْ َٓ ػ 
ِ
حَلَ ص ْ َٓ ػ ْ غ
ِ
طَزْ غَر ْ ُ
َ
ٌ ْ ْ
ِ
ئَف ب
ً
ّ
ِ
ئبَل ّ ًَ ص َ يبَمَف اً ذ
ِ
ػبَل
ِ
ًُ عّ شٌا
سبخجٌا ٖاٚس ٍ ت
ْ
ٕ َ ع ٝ
َ
ٍ َ ؼَف ْ غ
ِ
طَزْ غَر ْ ُ
َ
ٌ ْ ْ
ِ
ئَف اً ذ
ِ
ػبَمَف ٞ
Dari `Imran bin Hushain radhiyallahu „anhu bahwa beliau bertanya
kepada Nabi shallallahu „alaihi wasallam tentang shalat seseorang sambil
duduk, beliau bersabda,"Shalatlah dengan berdiri, bila tidak sanggup
maka sambil duduk dan bila tidak sanggup sambil berbaring".(HR.
Bukhari)
Hadits ini juga sekaligus menjelaskan bahwa berdiri hanya diwajibkan
untuk mereka yang mampu berdiri. Sedangkan orang-orang yang tidak
mampu berdiri, tidak wajib berdiri. Misalnya orang yang sedang sakit yang
24

sudah tidak mampu lagi berdiri tegak. Bahkan orang sakit itu bila tidak
mampu bergerak sama sekali, cukuplah baginya menganggukkan kepada
saja menurut Al-Hanafiyah. Atau dengan mengedipkan mata atau sekedar
niat saja seperti pendapat Al-Malikiyah. Bahkan As-Syafi`iyah dan Al-
Hanabilah mengatakan bahwa bisa dengan mengerakkan anggota tubuh itu
di dalam hati.
Para fuqaha mazhab sepakat mensyaratkan bahwa berdiri yang dimaksud
adalah berdiri tegak. Tidak boleh bersandar pada sesuatu seperti tongkat
atau tembok, kecuali buat orang yang tidak mampu. Terutama bila tongkat
atau temboknya dipisahkan, dia akan terjatuh. Adapun As-Syafi`iyah tidak
mengharamkan melainkan hanya memakruhkan saja. Dan Al-Malikiyah
hanya mewajibkan berdiri tegak tanpa bersandar kepada benda lain pada
saat membaca Al-Fatihah saja. Sedangkan di luar bacaan Al-Fatihah
dibolehkan bersandar.
4. Membaca Al-Fatihah
Jumhur ulama menyebutkan bahwa membaca surat Al-Fatihah adalah
rukun shalat, dimana shalat seseorang tidak sah tanpa membacanya.
Dengan dalil kuat dari hadits nabawi :

ِ
ذ
ِ
ِب ّ صٌ
َ
ا
ِ
ْٓ ث َحَ دبَجُ ػ ْ َٓ ػ
َ
ٚ
ِ
ّ
َ ا ُ يُٛ عَ س َ يبَل : َ يبَل
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ
ِ
ْآ ْ ش
ُ
م
ْ
ٌ
َ
ا
ّ
َ
ُ
أ
ِ
ث
ْ
أ َ ش
ْ
مَ٠ ْ ُ
َ
ٌ ْ ٓ
َ
ّ
ِ
ٌ َحَلَ ص َل
Dari Ubadah bin Shamit ra berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,”Tidak sah shalat kecuali dengan membaca ummil-
quran"(HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya)
a. Mazhab As-Syafi`i
Mazhab As-syafi`iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah
untuk membaca surat Al-Fatihah sendiri meski dalam shalat jahriyah
(yang dikeraskan bacaan imamnya). Tidak cukup hanya mendengarkan
bacaan imam saja. Kerena itu mereka menyebutkan bahwa ketika
imam membaca surat Al-Fatihah, makmum harus mendengarkannya,
namun begitu selesai mengucapkan, masing-masing makmum
membaca sendiri-sendiri surat Al-Fatihah secara sirr (tidak terdengar).
Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat Al-
Fatihah gugur dalam kasus seorang makmum yang tertinggal dan
mendapati imam sedang ruku`. Maka saat itu yang bersangkutan ikut
ruku` bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat.
25

b. Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah
Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang
makmum dalam shalat jamaah yang jahriyah (yang bacaan imamnya
keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan
imam. Sebab bacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum.
c. Mazhab Al-Hanafiyah
Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa Al-Fatihah
itu bukan rukun shalat, cukup membaca ayat Al-Quran saja pun sudah
boleh. Sebab yang dimaksud dengan `rukun` menurut pandangan
mazhab ini adalah semua hal yang wajib dikerjakan baik oleh imam
maupun makmum, juga wajib dikerjakan dalam shalat wajib maupun
shalat sunnah. Sehingga dalam tolok ukur mereka, membaca surat Al-
Fatihah tidak termasuk rukun shalat, sebab seorang makmum yang
tertinggal tidak membaca Al-Fatihah tapi sah shalatnya. Bahkan
makmum shalat dimakruhkan untuk membaca Al-Fatihah karena
makmum harus mendengarkan saja apa yang diucapkan imam.
5. Ruku`
Ruku` adalah gerakan membungkukkan badan dan kepala dengan kedua
tangan diluruskan ke lulut kaki. Dengan tidak mengangkat kepala tapi juga
tidak menekuknya. Juga dengan meluruskan punggungnya, sehingga bila
ada air di punggungnya tidak bergerak karena kelurusan punggungnya.
Perintah untuk melakukan rukuk adalah firman Allah SWT
َ ُْٛ ؾ
ِ
ٍ
ْ
ف
ُ
ر ْ ُ
ُ
ى
ّ
ٍ َ ؼ
َ
ٌ َ شْ ١ َ خ
ْ
ٌا اٛ
ُ
ٍ َ ؼ
ْ
فا
َ
ٚ ْ ُ
ُ
ىّث َ س اُٚ ذُج ْ ػا
َ
ٚ اُٚ ذ ُ غْ عا
َ
ٚ اُٛ ؼَ وْ سا اٛ
ُ
ٕ
َ
ِآ َ ٓ٠
ِ
ز
ّ
ٌا بَّٙ٠
َ
أ بَ٠
"Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat
kemenangan. (QS. Al-Hajj : 77)
Dan juga hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam berikut ini.

ِ
ْٗ ١َزَج
ْ
وُ س ْ ٓ
ِ
ِ
ِ
ْٗ ٠َ ذَ٠ َ َٓ ىْ ِ
َ
أ َ غَ وَ س ا
َ
ر
ِ
إ ُٗ
ُ
زْ ٠
َ
أ َ س
ْ
ذ
َ
ٌبَل َخَ ش
ِ
ئب َ ػ ْ َٓ ػ
Dari Aisah radhiyallahu „anhu berkata,"Aku melihat beliau shallallahu
„alaihi wasallam ketika ruku` meletakkan tangannya pada lututnya." (HR.
Muttafaqun Alaihi)
Adalah Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bila ruku` tidak
mengangkat kepalanya dan juga tidak menekuknya. Tetapi diantara
keduanya".
26

Untuk sahnya gerakan ruku`, posisi seperti ini harus terjadi dalam
beberapa saat. Tidak boleh hanya berupa gerakan dari berdiri ke ruku` tapi
langsung bangun lagi. Harus ada jeda waktu sejenak untuk berada pada
posisi ruku` yang disebut dengan istilah thuma`ninah. Dalilnya adalah
sabda Nabi shallallahu „alaihi wasallam berikut ini :

ّ
ٟج
ِ
ٕ
ّ
ٌا ّ ْ
َ
أ َحَ دبَزَل
ِ
ٟث
َ
أ ْ َٓ ػ ْ ٓ
ِ
ِ ُ ق
ِ
شْ غَ٠ َ فْ ١َ و
َ
ٚ َ ًْ ١
ِ
ل
ِ
ٗ
ِ
رَلَ ص ْ ٓ
ِ
ِ ُ ق
ِ
شْ غَ٠ ٞ
ّ
زٌا
ً
خَل
ِ
شَ ع
ِ
طب
ّ
ٌٕا ُ ء
َ
ْٛ ع
َ
أ َ يبَل
ُوبؾٌاٚ ذّؽأ ٖاٚس بََٙ ػْ ٛ
ُ
ش
ُ
خ َل
َ
ٚ بََ٘ د ْ ُٛ غُ ع َل
َ
ٚ بََٙ ػْ ٛ
ُ
وُ س
ّ
ُ
ِ
زُ٠ َل َ يبَل ؟
ِ
ٗ
ِ
رَلَ ص
Dari Abi Qatadha berkata bahwa Rasululah shallallahu „alaihi wasallam
bersabda,"Pencuri yang paling buruk adalah yang mencuri dalam
shalatnya". Para shahabat bertanaya,"Ya Rasulallah, bagaimana mencuri
dalam shalat?". "Dengan cara tidak menyempurnakan ruku` dan
sujudnya". atau beliau bersabda,"Tulang belakangnya tidak sampai lurus
ketika ruku` dan sujud". (HR. Ahmad, Al-Hakim, At-Thabarany, Ibnu
Khuzaemah, Ibnu Hibban)
Para ulama fiqih menyebutkan bahwa perbedaan ruku`nya laki-laki dan
wanita adalah pada letak tangannya. Laki-laki melebarkan tangannya atau
merenggangkan antara siku dengan perutnya. Sedangkan wanita
melakukan sebaliknya, mendekatkan tangannya ke tubuhnya
6. I`tidal
I`tidal adalah gerakan bangun dari ruku` dengan berdiri tegap dan
merupakan rukun shalat yang harus dikerjakan menurut jumhur ulama.
Kecuali pendapat Al-Hanafiyah yang agak tidak kompak sesama mereka.
Sebagian dari mereka mengatakan bahwa i`tidal tidak termasuk rukun
shalat, melainkan hanya kewajiban saja. Sebab i`tidal hanyalah
konsekuensi dari tuma`ninah. Dasarnya adalah firman Allah SWT yang
menyebutkan hanya ruku` dan sujud tanpa menyebutkan i`tidal.
"Dan ruku` lah dan sujudlah" (QS. Al-Hajj : 77)
Namun sebagian ulama mazhab ini seperti Abu Yusuf dan yang lainnya
mengatakan bahwa i`tidal adalah rukun shalat yang tidak boleh
ditinggalkan. Menurut mereka, bila seseorang shalat tanpa i`tidal maka
shalatnya batal dan tidak sah.
7. Sujud
Secara bahasa, sujud berarti
27

 al-khudhu` (عٛعخٌا)
 at-tazallul (ًٌززٌا) yaitu merendahkan diri badan.
 al-mailu (ً١ٌّا) yaitu mendoncongkan badan ke depan.
Sedangkan secara syar`i, yang dimaksud dengan sujud menurut jumhur
ulama adalah meletakkan 7 anggota badan ke tanah, yaitu wajah, kedua
telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua tapak kaki.
Pensyariatan Sujud
Al-Quran Al-Kariem memerintahkan kita untuk melakukan sujud kepada
Allah SWT. Dasarnya adalah hadits nabi :

ٍ
طبّجَ ػ
ِ
ْٓ ث
ِ
ا ْ َٓ ػ - ب
َ
ُّٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا
َ
ٟ
ِ
ظَ س - ٝ
َ
ٍ َ ػ :
ٍ
ُ
ُ
ظْ ػ
َ
أ
ِ
خَ ؼْ جَ ع ٝ
َ
ٍ َ ػ َ ذُ غْ ع
َ
أ ْ ْ
َ
أ
ُ
دْ ش
ِ
ِ
ُ
أ
ِ
ّ
َ ا ُ يُٛ عَ س َ يبَل : َ يبَل

ِ
خَْٙ ج َ غ
ْ
ٌ
َ
ا -
ِ
ٗ
ِ
ف
ْ
ٔ
َ
أ ٝ
َ
ٌ
ِ
إ
ِ
ٖ
ِ
ذَ١
ِ
ث َ سبَ ش
َ
أ
َ
ٚ - َ١
ْ
ٌا
َ
ٚ
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ
ِ
ْٓ ١
َ
َِ ذَم
ْ
ٌ
َ
ا
ِ
فا َ ش
ْ
غ
َ
أ
َ
ٚ ,
ِ
ْٓ ١َزَج
ْ
وّ شٌا
َ
ٚ ,
ِ
ْٓ ٠َ ذ
Dari Ibnu Abbas ra berkata,"Aku diperintahkan untuk sujud di atas 7
anggota. (Yaitu) wajah (dan beliau menunjuk hidungnya), kedua tangan,
kedua lutut dan kedua tapak kaki.(HR. Bukhari dan Muslim)
Manakah yang lebih dahulu diletakkan, lutut atau tangan?
Dalam masalah ini ada dua dalil yang sama-sama kuat namun
menunjukkan cara yang berbeda. Sehingga menimbulkan perbedaan
pendapat juga di kalangan ulama.
Jumhur ulama umumnya mengatakan bahwa yang disunnahkan ketika
sujud adalah meletakkan kedua lutut di atas tanah telebih dahulu, baru
kemudian kedua tangan lalu wajah. Dan ketika bangun dari sujud, belaku
sebaliknya, yang diangkat adalah wajah dulu, kemudian kedua tangan baru
terakhir lutut. Dasar dari praktek ini adalah hadits berikut ini.
َ٠ َ غَف َ س َ طََٙٔ ا
َ
ر
ِ
إ
َ
ٚ
ِ
ْٗ ٠َ ذَ٠ َ ًْ جَل
ِ
ْٗ ١َزَج
ْ
وُ س َ غَ ظ
َ
ٚ َ ذَ غَ ع ا
َ
ر
ِ
إ ا َ يْ ُٛ عَ س
ُ
ذْ ٠
َ
أ َ س : َ يبَل شْ غُ ؽ ٓث ً
ِ
ئا
َ
ٚ ْ َٓ ػ َ ًْ جَل
ِ
ْٗ ٠َ ذ

ِ
ْٗ ١َزَج
ْ
وُ س – ذّؽأ لإ خغّخٌا ٖاٚس
Dari Wail Ibnu Hujr berkata,"Aku melihat Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.
Dan bila bangun dari sujud beliau mengangkat tangannya sebelum
mengangkat kedua lututnya. (HR. Khamsah kecuali Ahmad)
Namun Al-Malikiyah berpendapat sebaliknya, justru yang disunahkan
untuk diletakkan terlebih dahulu adalah kedua tangan baru kemudian
kedua lututnya. Dalil mereka adalah hadits berikut ini :
28

ْ جَ٠ َلَف ْ ُ
ُ
وُ ذ َ ؽ
َ
أ َ ذ َ غَ ع ا
َ
ر
ِ
إ ا يٛعس يبل يبل َح َ شْ ٠ َ شُ٘
ِ
ٟث
َ
أ ْ َٓ ػ
ِ
ْٗ ٠َ ذَ٠ ْ غَ عَ١
ْ
ٌ
َ
ٚ ُ شْ ١
ِ
ؼَجٌا ُ نُ شْ جَ٠ ب
َ
َّ و ْ نُ ش

ِ
ْٗ ١َزَج
ْ
وُ ش
ّ
ّ
ُ
ص - ٞزِشزٌاٚ ٟئبغٌٕاٚ ذّؽأ ٖاٚس
Dari Abi Hurariah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasululah
shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Bila kamu sujud janganlah seperti
duduknya unta. Hendaklah kamu meletakkan kedua tangan terlebih dahulu
baru kedua lutut. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Tirmizy)
Ibnu Sayid An-Nas berkata bahwa hadits yang menyebutkan tentang
meletakkan tangan terlebih dahulu lebih kuat. Namun Al-Khattabi
mengatakan bahwa hadits ini lebih lemah dari hadits yang sebelumnya.
Maka demikianlah para ulama berbeda pendapat tentang mana yang
sebaiknya didahulukan ketika melakukan sujud. Dan Imam An-Nawawi
berkata bahwa diantara keduanya tidak ada yang lebih rajih (lebih kuat).
Artinya, menurut beliau keduanya sama-sama kuat dan sama-sama bisa
dilakukan.
8. Duduk Antara Dua Sujud
Duduk antara dua sujud adalah rukun menurut jumhur ulama dan hanya
merupakan kewajiban menurut Al-Hanafiyah. Posisi duduknya adalah
duduk iftirasy, yaitu dengan duduk melipat kaki ke belakang dan bertumpu
pada kaki kiri. Maksudnya kaki kiri yang dilipat itu diduduki, sedangkan
kaki yang kanan dilipat tidak diduduki namun jari-jarinya ditekuk
sehingga menghadap ke kiblat. Posisi kedua tangan diletakkan pada kedua
paha dekat dengan lutut dengan menjulurkan jari-jarinya.
9. Duduk Tasyahhud Akhir
Duduk tasyahhud akhir merupakan rukun shalat menurut jumhur ulama
dan hanya kewajiban menurut Al-Hanafiyah.
Sedangkan jumhur ulama menetapkan bahwa posisi duduk untuk
tasyahhud akhir adalah duduk tawaruk. Posisinya hampir sama dengan
istirasy namun posisi kaki kiri tidak diduduki melainkan dikeluarkan ke
arah bawah kaki kanan. Sehingga duduknya di atas tanah tidak lagi di atas
lipatan kaki kiri seperti pada iftirasy. Asy-syafi`iyah dan Al-Hanabilah
sama-sama berpendapat bahwa untuk duduk tasyahhud akhir, yang
disunnahkan adalah duduk tawaruk ini.
29

Menurut Al-Hanafiyah, posisi duduk tasyahhud akhir sama dengan posisi
duduk antara dua sujud, yaitu duduk iftirasy. Dalilnya adalah hadits
berikut :
َ شغُ١ٌا ُٗ
َ
ٍ ْ ع
ِ
س َ طَ شَز
ْ
فا َ ظ
َ
ٍ َ ع ب
ّ
ّ
َ
ٍَف ا
ِ
يْ ُٛ عَ س
ِ
حَلَ ص ٝ
َ
ٌ
ِ
إ ّ َْ ش
ُ
ظ
ْ
ٔ
َ
ل َخَْٕ ٠
ِ
ذ
َ
ٌّا
ُ
ذْ ِ
ِ
ذَل شغؽ
ِ
ٓث ً
ِ
ئا
َ
ٚ ْ َٓ ػ ٜ
َٕٝ ْ ُّ١ٌا ُٗ
َ
ٍ ْ ع
ِ
س َ تَ صَٔ
َ
ٚ َٜ شْ غُ١ٌا
ِ
ٖ
ِ
ز
ِ
خَف ٝ
َ
ٍ َ ػ َٜ شْ غُ١ٌا
ُ
َٖ ذَ٠ َ غَ ظ
َ
ٚ
َ
ٚ – ٞزِشزٌا ٖاٚس
Dari Wail Ibnu Hajar,"Aku datang ke Madinah untuk melihat shalat
Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam. Ketika beliau duduk (tasyahhud),
beliau duduk iftirasy dan meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya
dan menashabkan kakinya yang kanan". (HR. Tirimizy)
Ada pun Al-Malikiyah sebagaimana diterangkan di dalam kitab Asy-
Syarhu Ash-Shaghir menyunnahkan untuk duduk tawaruk baik pada
tasyahhud awal maupun untuk tasyahhud akhir. Dalilnya adalah hadits
Nabi : Dari Ibnu Mas`ud berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam duduk di tengah shalat dan akhirnya dengan duduk tawaruk.
10. Salam Pertama
Ada dua salam, yaitu salam pertama dan kedua. Salam pertama adalah
fardhu shalat menurut para fuqaha, seperti Al-Malikiyah dan Asy-
Syafi‟iyah. Sedangkan salam yang kedua bukan fardhu melainkan sunnah.
Namun menurut Al-Hanabilah, kedua salam itu hukumnya fardhu, kecuali
pada shalat jenazah, shalat nafilah, sujud tilawah dan sujud syukur. Pada
keempat perbuatan itu, yang fardhu hanya salam yang pertama saja
Salam merupakan bagian dari fardhu dan rukun shalat yang juga berfungsi
sebagai penutup shalat. Dalilnya adalah :
ُ سُٛٙ
ّ
طٌا
ِ
حلّ صٌا ُ ػبَز
ْ
ف
ِ
ِ : ا ُ يْ ُٛ عَ س َ يبَل َ يبَل
ّ
ٟ
ِ
ٍ َ ػ ْ َٓ ػ
ُ
ُ١
ِ
ٍ ْ غ
ّ
زٌا بَٙ
ُ
ٍ١
ِ
ٍ ْ ؾَر
َ
ٚ ُ ش١
ِ
ج
ْ
ى
ّ
زٌا بَٙ
ُ
ّ٠
ِ
شْ ؾَر
َ
ٚ
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian (thahur) dan
yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah takbir".
(HR. Muslim)
Menurut As-Syafi‟i, minimal lafadz salam itu adalah (ُى١ٍػ َلغٌا), cukup
sekali saja. Sedangkan menurut Al-Hanabilah, salam itu harus dua kali
dengan lafadz (ا خّؽسٚ ُى١ٍػ َلغٌا), dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
Tidak disunnahkan untuk meneruskan lafadz (ٗربوشثٚ) menurut Asy-
Syafi‟iyah dan Al-Hanabilah, dengan dalil :
30


ِ
سبَ غَ٠ ْ َٓ ػ
َ
ٚ
ِ
ٗ
ِ
ْٕ ١
ِ
َّ٠ ْ َٓ ػ
ُ
ُ
ّ
ٍَ غُ٠ َ ْبَ و
َ
ُ
ّ
ٍَ ع
َ
ٚ
ِ
ٗ
ِ
ٌآ
َ
ٚ
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ُ
ّ
ا ٝ
َ
ٍ َ ص
ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا ّ ْ
َ
أ ٍ د ْ ُٛ ؼْ غ
َ
ِ
ِ
ْٓ ثا
ِ
َٓ ػ ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ
ُ
ََلّ غٌا
ِ
ٖ
َٜ شَ٠ ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
ّ
ا
ُ
خ
َ
ّْ ؽَ س
َ
ٚ ْ ُ
ُ
ىْ ١
َ
ٍ َ ػ
ُ
ََلّ غٌا
ِ
ّ
ا
ُ
خ
َ
ّْ ؽَ س
َ
ٚ
ِ
ّٖ ذ َ خ َ ضبَ١َث - ٞزِشزٌا ٗؾؾصٚ خغّخٌا ٖاٚس
Dari Ibni Mas‟ud radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam memberi salam ke kanan dan ke kiri : Assalamu „alaikum
warahmatullah Assalamu „alaikum warahmatullah, hingga nampak
pipinya yang putih. (HR. Khamsah)
Selain sebagai penutup shalat, salam ini juga merupakan doa yang
disampaikan kepada orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya,
bila tidak ada maka diniatkan kepada jin dan malaikat.
11. Thuma`ninah
Menurut jumhurul ulama‟, seperti Al-Malikiyah, Asy-Syafi‟iyah dan Al-
Hanabilah, tuma‟ninah merupakan rukun shalat, yaitu pada gerakan ruku‟,
i‟tidal, sujud dan duduk antara dua sujud
َ د ْ ُٛ غُ ع َل
َ
ٚ َُٗ ػْ ٛ
ُ
وَ س
ّ
ُ
ِ
زُ٠ َل
ً
لُ عَ س ٜ
َ
أ َ س ُٗ
ّ
ٔ
َ
أ خَفْ ٠
َ
زُ ؽ ْ َٓ ػ ب
َ
ِ :خَفْ ٠
َ
زُ ؽ ُٗ
َ
ٌ َ يبَمَف
ُ
ٖب َ ػَ د َُٗرَلَ ص َٝ عَل ب
ّ
ّ
َ
ٍَف
ُ
ٖ

ِ
ٌآ
َ
ٚ
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ُ
ّ
ا ٝ
ّ
ٍ َ ص اً ذ
ّ
َّ ؾ
ُ
ِ بَْٙ ١
َ
ٍ َ ػ ُ
ّ
ا َ ش
َ
طَف ٟ
ِ
ز
ّ
ٌا
ِ
ح َ ش
ْ
ط
ِ
فٌا
ِ
شْ ١َ غ ٝ
َ
ٍ َ ػ
ّ
ذ
ُ
ِ
ّ
ذ
ُ
ِ ْ ٛ
َ
ٌ
َ
ٚ َ ذْ ١
ّ
ٍ َ ص
َ
ُ
ّ
ٍَ ع
َ
ٚ
ِ
ٗ – ٖاٚس
ٞسبخجٌاٚ ذّؽأ
Dari Hudzaifah ra bahwa beliau melihat seseorang yang tidak
menyempurnakan ruku‟ dan sujudnya. Ketika telah selesai dari shalatnya,
beliau memanggil orang itu dan berkata kepadanya,”Kamu belum shalat,
bila kamu mati maka kamu mati bukan di atas fitrah yang telah Allah
tetapkan di atasnya risalah nabi Muhammad shallallahu „alaihi wasallam.
(HR. Bukhari)
12. Tertib
3. Doa
Adapun do‟a yang sering Rasulullah baca ketika selesai shalat ialah sebagai
berikut :
خ١طػأ غٔبِ ل ٌٍُٙا ,ش٠ذل ئش ُو ٍٝػ ٛ٘ٚ ذّؾٌا ٌٗٚ هٌٍّا ٌٗ ,ٌٗ ه٠ششل ٖذؽاٚ الا ٌٗا ل بٌّ ٟطؼِ لٚ
شّؼٌا يرسا ٌٝا دسا ْا ِٓ هث رٛػاٚ ٓجغٌا ِٓ هثرٛػاٚ ًخجٌا ِٓ هثرٛػا ٝٔا ٌٍُٙا ذغٌار غفٕ٠لٚ ذؼِٕ
يلغٌارب٠ بٕثس ذوسبزث َلغٌا هِٕٚ َلغٌ ذٔا ٌٍُٙا شجمٌا ةازػ ِٓ هثرٛػاٚ ب١ٔذٌا خٕزف ِٓ هثرٛػاٚ
َاشولاٚ
Setelah slesai seluruh prosesi shalat yang mulai dari takbir hingga salam,
kemudian membaca do‟a-do‟a sesuai dengan contoh Rasulullah saw atau dapat
juga ditambah asalkan riwatnya sah. Do‟a sesuadah shalat yang pernah dilakukan
Rasulullah saw,:
31

“Tidak ada Tuhan kecuali Allah sendiri, tiada sekutu baginya, kepunyaan-Nyalah
sekalian kerajaan dan bagi-Nyalah sekalian pujian dan ia di atas sesuatu amat
berkuasa. Wahai Tuhan yang tidak ada yang bisa menghlangi apa yang engkau
beri dan tidak ada yang bisa menarik manfaat dari padamu untuk si kaya“ (HR.
Muttafaqun‟Alaih). “Wahai Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari pada
kebakhilan dan aku berlindung kepadamu dari pada ketakuta, dan aku berlindung
dari padamu daripada umur yang pikun dan aku berlindung kepadamu daripada
percobaan hidup dan aku berlindung kepadamu dari azab kubur“ (HR.
Bukhari).“Wahai Tuhan, tolonglah aku untuk dapat mengingatmu dan berterima
kasih kepadamu dan beribadah yang baik kepadamu“ (HR. Abu Daud, Ahmad
dan An-Nasa‟i).

G. Waktu Pelaksanaan Sholat
Shalat hanya boleh dikerjakan pada waktu-waktu yang sudah ditetapkan oleh Allah
SWT. Bila shalat dikerjakan di luar waktu yang telah ditetapkan, maka shalat itu
tidak sah.
Kecuali bila ada uzur tertentu yang memang secara syariah bisa diterima. Seperti
mengerjakana shalat dengan dijama` pada waktu shalat lainnya. Atau shalat buat
orang yang terlupa atau tertidur, maka pada saat sadar dan mengetahui ada shalat
yang luput, dia wajib mengerjakannya meski sudah keluar dari waktunya. Ada pun
bila mengerjakan shalat di luar waktunya dengan sengaja dan diluar ketentuan yang
dibenarkan syariat, maka shalat itu menjadi tidak sah.
Dalam hal keharusan melakukan shalat pada waktunya, Allah SWT telah berfirman
dalam Al-Quran :
١
ِ
ٕ
ِ
ِْ ؤ
ُ
ّ
ْ
ٌا ٝ
َ
ٍ َ ػ
ْ
ذَٔبَ و َحلّ صٌا ّ ْ
ِ
إ ب
ً
رٛ
ُ
ل ْ ٛ
َ
ِ بًثبَز
ِ
و َ ٓ
"...Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-
orang yang beriman." (QS. An-Nisa : 103)
Di dalam Al-Quran sesungguhnya sudah ada sekilas tentang penjelasan waktu-waktu
shalat fardhu, meski tidak terlalu jelas diskripsinya. Namun paling tidak ada tiga ayat
di dalam Al-Quran yang membicarakan waktu-waktu shalat secara global.

ِ
ٌ َٜ ش
ْ
و
ِ
ر َ ه
ِ
ٌ
َ
ر
ِ
دبَئّ١ّ غٌا َ ْٓ ج
ِ
٘
ْ
زُ٠
ِ
دبََٕ غَ ؾ
ْ
ٌا ّ ْ
ِ
إ
ِ
ًْ ١
ّ
ٌٍا َ ٓ
ِ
ِ ب
ً
ف
َ
ٌ
ُ
ص
َ
ٚ
ِ
سبَٙ
ّ
ٌٕا
ِ
َٟف َ ش
َ
غ َحلّ صٌا
ِ
ُ
ِ
ل
َ
أ
َ
ٚ
ِ
وا
ّ
زٍ َ ٓ٠
ِ
ش
"Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-
32

perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat"(QS. Huud :
114)
Menurut para mufassriin, di ayat ini disebutkan waktu shalat, yaitu kedua tepi siang ,
yaitu shalat shubuh dan ashar. Dan pada bahagian permulaan malam, yaitu Maghrib
dan Isya`.
Ayat kedua
ْ ش
ُ
ل
َ
ٚ
ِ
ًْ ١
ّ
ٌٍا
ِ
كَ غَ غ ٝ
َ
ٌ
ِ
إ
ِ
ظْ ّ
ّ
شٌا
ِ
نٛ
ُ
ٌُ ذ
ِ
ٌ َحلّ صٌا
ِ
ُ
ِ
ل
َ
أ اً دُٛٙ
ْ
ش
َ
ِ َ ْبَ و
ِ
شْ غَف
ْ
ٌا َ ْا
َ
ءْ ش
ُ
ل ّ ْ
ِ
إ
ِ
شْ غَف
ْ
ٌا َ ْا
َ
ء
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan
Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra` : 78)
Menurut para mufassrin, di dalam ayat ini disebutkan waktu shalat yaitu sesudah
matahari tergelincir , yaitu shalat Zhuhur dan Ashar. Sedangkan gelap malam adalah
shalat Maghirb dan Isya` dan Qur`anal fajri yaitu shalat shubuh.
Waktu-waktu Shalat Fardhu di Dalam Al-Hadits
Sedangkan bila ingin secara lebih spasifik mengetahui dalil tentang waktu-waktu
shalat, kita bisa merujuk kepada hadits-hadits Rasululah shallallahu „alaihi wasallam
yang shahih dan qath`i. Tidak kalah qath`inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran Al-
Kariem. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini :

ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا ّ ْ
َ
أ
ِ
ا
ِ
ذْ جَ ػ
ِ
ٓثْ
ِ
َٓ ػ
َ
ءب َ ع
ّ
ُ
ُ
ص ، ُ ظْ ّ
ّ
شٌا
ِ
ذ
َ
ٌا َ ص
ّ
ٝز َ ؽ َ شْ ٙ
ّ
ظٌا
ّ
ٍٝ َ صَف
ِ
ٗ
ّ
ٍ َ صَف ْ ُ
ُ
ل : ُٗ
َ
ٌ َ يبَمَف
ِ
ََلّ غٌا
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ُ ً٠
ِ
شْ ج
ِ
ع
ُ
ٖ
َ
ءب َ ع
ُ
ٖ
َ ص َ ْٓ ١
ِ
ؽ
ِ
شصَ ؼٌا
ّ
ٍٝ َ صَف
ِ
ٗ
ّ
ٍ َ صَف ْ ُ
ُ
ل : َ يبَمَف ُ شْ صَ ؼٌا
ّ
ٍٝ َ صَف
ِ
ٗ
ّ
ٍ َ صَف ْ ُ
ُ
ل : َ يبَمَف ُ ة
ِ
ش
ْ
غ
َ
ٌّا
ُ
ٖ
َ
ءب َ ع
ّ
ُ
ُ
ص ، ُٗ
َ
ٍ
ْ
ض
ِ
ِ ٍ ء ْ َٟ ش ّ ً
ُ
و ّ ً
ِ
ظ َ سب

ّ
شٌا َ ةب َ غ َ ْٓ ١
ِ
ؽ ُ ءبَ ش
ِ
ؼٌا
ّ
ٍٝ َ صَف ِ ٍِّٗ َ صَف ْ ُ
ُ
ل : َ يبَمَف ُ ءبَ ش
ِ
ؼٌا
ُ
ٖ
َ
ءب َ ع
ّ
ُ
ُ
ص ، ُ ظْ ّ
ّ
شٌا
ِ
ذَج َ ع
َ
ٚ َ ْٓ ١
ِ
ؽ َ ة
ِ
ش
ْ
غ
َ
ٌّا ُ شْ غَفٌا
ُ
ٖ
َ
ءب َ ع
ّ
ُ
ُ
ص ، ُ كَف
َ ْٓ ١
ِ
ؽ ُ شْ غَفٌا َ ق
ِ
شَث – ُ شْ غَفٌا َ غ
َ
ٍ
َ
غ َ ْٓ ١
ِ
ؽ َ يبَل ْ ٚ
َ
أ - . ُ شْ غَفٌا َ ق
ِ
شَث َ ْٓ ١
ِ
ؽ َ ؼْ ج ّ صٌا
ّ
ٍٝ َ صَف
ِ
ٗ
ّ
ٍ َ صَف ْ ُ
ُ
ل : َ يبَمَف
Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi shallallahu „alaihi wasallam didatangi oleh
Jibril „alaihissalam dan berkata kepadanya,"Bangunlah dan lakukan shalat". Maka
beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar
menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau shallallahu
„alaihi wasallam melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda
sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril
berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau shallallahu „alaihi wasallam
melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya`
menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau shallallahu
„alaihi wasallam melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang.
Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat".
Maka beliau shallallahu „alaihi wasallam melakukan shalat Shubuh ketika waktu
fajar menjelang. (HR. Ahmad, Nasai dan Tirmizy. )
33

Selain itu ada hadits lainnya yang juga menjelaskan tentang waktu-waktu shalat.
Salah satunya adalah hadits berikut ini :
ُ عَ س ّ ْ
َ
أ ٍ ذْ ٠
ِ
ضَ٠
ِ
ْٓ ث
ِ
ت
ِ
ئبّ غٌا
ِ
َٓ ػ
ِ
ا َ يْ ٛ
ِ
َ ْ ُٛ غ
ّ
ٌٕا
ِ
عْ ٛ
ُ
ٍ
ُ
غ َ ًْ جَل َ ة
ِ
ش
ْ
غ
َ
ٌّا اٛ
ّ
ٍ َ ص ب
َ
ِ
ِ
ح َ ش
ْ
ط
ِ
فٌا ٝ
َ
ٍ َ ػ ٟ
ِ
ز
ّ
ِ
ُ
أ ُ يا َ ضَر َل: َ يبَل – ٖاٚس
ٟٔاشجطٌاٚ ذّؽأ
Dari As-Saib bin Amir radhiyallahu „anhu bahwa Nabi shallallahu „alaihi wasallam
bersabda,"Ummatku selalu berada dalam kebaikan atau dalam fithrah selama tidak
terlambat melakukan shalat Maghrib, yaitu sampai muncul bintang".(HR. Ahmad,
Abu Daud dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)
Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan yang lebih jelas dari hadits-hadits
nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah untuk lebih jauh
mendiskripsikan apa yang mereka pahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati
deskripsi yang jauh lebih jelas dalam kitab-kitab fiqih yang menjadi masterpiece para
fuqoha. Diantaranya yang bisa disebutkan adalah :
a. Kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 151-160,
b. Kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 331 s/d 343,
c. Kitab Al-Lubab jilid 1 halaman 59 - 62,
d. Kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 43,
e. Kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 219-338,
f. Kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 1 halaman 176-181,
g. Kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 121 - 127,
h. Kitab Al-Muhadzdzab jilid 1 halaman 51 - 54 dan
i. Kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 289 - 298.
Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan yang jauh lebih spesifik tentang
waktu-waktu shalat. Kesimpulan dari semua keterangan itu adalah sebagai berikut :
a. Waktu Shalat Fajr (Shubuh)
Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam
istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar,
bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang
menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit.
Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar
yang `bohong` sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari
menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas
di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor sirhan (srigala), kemudian langit
menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib. Sedangkan fajar yang kedua adalah
34

fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak
terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum
matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh. Jadi ada dua kali
fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan
fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar
shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Maka
waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah yang menjadi waktu
untuk shalat shubuh. Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini :

َ
أَف :َٝ عٛ
ُ
ِ ٟ
ِ
ث
َ
أ
ٌ
ُ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ِ
ُ
ٖا
َ
َٚ س ب ً عْ ؼَث ْ ُُُٙ عْ ؼَث ُ ف
ِ
شْ ؼَ٠ ُ دبَ ىَ٠ ل ُ طب
ّ
ٌٕا
َ
ٚ , ُ شْ غَف
ْ
ٌ
َ
ا ّ كَ ش
ْ
ٔ
ِ
ا َ ٓ١
ِ
ؽ َ شْ غَف
ْ
ٌ
َ
ا
َ
َبَل
Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan makan dan
menghalalkan shalat. Kedua, fajar yang mengharamkan shalat (shalat Shubuh)
dan menghalalkan makan.". (HR. Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim)
ب َ ؼ
ّ
طٌ
َ
ا
ُ
َ ّ شَ ؾُ٠ ٌ شْ غَف :
ِ
ْا َ شْ غَف ُ شْ غَف
ْ
ٌ
َ
ا
ِ
ّ
َ ا ُ يُٛ عَ س َ يبَل : َ يبَل ب
َ
ُّٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا
َ
ٟ
ِ
ظَ س
ٍ
طبّجَ ػ
ِ
ْٓ ث
ِ
ا ْ َٓ ػ ,
ُ
حلّ صٌ
َ
ا
ِ
ٗ١
ِ
ف ّ ً
ِ
ؾَر
َ
ٚ
َ
َ

ُ
حلّ صٌ
َ
ا
ِ
ٗ١
ِ
ف
ُ
َُ شْ ؾَر ٌ شْ غَف
َ
ٚ - ْ ٞ
َ
أ
ِ
ؼْ ج ّ صٌ
َ
ا
ُ
حلَ ص : -
ُ
ٖب َ ؾّ ؾَ ص
َ
ٚ
ُ
ُ
ِ
وب َ ؾ
ْ
ٌا
َ
ٚ َخ
َ
ّْ ٠ َ ض
ُ
خ ُ ْٓ ث
ِ
ا
ُ
ٖا
َ
َٚ س
ُ
َب َ ؼ
ّ
طٌ
َ
ا
ِ
ٗ١
ِ
ف ّ ً
ِ
ؾَ٠
َ
ٚ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda,"Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang
mengharamkan makan dan menghalalkan shalat. Kedua, fajar yang
mengharamkan shalat (shalat Shubuh) dan menghalalkan makan.". (HR. Ibnu
Khuzaemah dan Al-Hakim)
Batas akhir waktu shubuh adalah terbitnya matahari sebagaimana disebutkan
dalam hadits berikut ini.
َ ػ ْ َٓ ػ
ِ
عٛ
ُ
ٍ
ُ
غ ْ ٓ
ِ
ِ
ِ
ؼْ ج ّ صٌ
َ
ا
ِ
حلَ ص
ُ
ذ
ْ
ل
َ
ٚ
َ
ٚ : َ يبَل
ِ
ّ
َ ا
ّ
ٟ
ِ
جَٔ ّ ْ
َ
أ ;ب
َ
ُّٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا
َ
ٟ
ِ
ظَ س
ٍ
ٚ
ِ
شْ َّ ػ
ِ
ْٓ ث
ِ
ّ
َ ا
ِ
ذْ ج ْ غ
ُ
ٍ
ْ
طَر ْ ُ
َ
ٌ ب
َ
ِ
ِ
شْ غَف
ْ
ٌ
َ
ا

ٌ
ُ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ِ
ُ
ٖا
َ
َٚ س ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar
(shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari". (HR. Muslim)
b. Waktu Shalat Zhuhur
Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak
condong ke arah barat. Istilah yang sering digunakan dalam terjemahan bahasa
Indonesia adalah tergelincirnya matahari. Sebagai terjemahan bebas dari kata
zawalus syamsi. Namun istilah ini seringkali membingungkan karena kalau
dikatakan bahwa `matahari tegelincir`, sebagian orang akan berkerut keningnya,
"Apa yang dimaksud dengan tergelincirnya matahari?".
35

Zawalusy-syamsi adalah waktu di mana posisi matahari ada di atas kepala kita,
namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tidak tepat di atas kepala.
Dan waktu untuk shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda
menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan
tongkat yang tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah
yang rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiring
dengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang
bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zhuhur berakhir
dan masuklah waktu shalat Ashar. Ketika tongkat itu tidak punya bayangan baik
di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa
matahari tepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa`.
Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur. Begitu muncul bayangan tongkat
di sebelah timur karena posisi matahari bergerak ke arah barat, maka saat itu
dikatakan zawalus-syamsi atau `matahari tergelincir`. Dan saat itulah masuk
waktu zhuhur. Namun hukumnya mustahab bila sedikit diundurkan bila siang
sedang panas-panasnya, dengan tujuan agar memudahkan dan bisa menambah
khusyu‟. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berikut
ini :
ٌا ّ ذَز
ْ
شا ا
َ
ر
ِ
إ
َ
ٚ
ِ
حَلّ صٌب
ِ
ث َ ش
ّ
ىَث ُ د ْ شَجٌا ّ ذَز
ْ
شا ا
َ
ر
ِ
إ
ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا َ ْبَ و : َ يبَل
ٍ
ظَٔ
َ
أ ْ َٓ ػ ٞسبخجٌا ٖاٚس
ِ
حَلّ صٌب
ِ
ث َ د َ شْ ث
َ
أ ّ شَ ؾ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu „anhu berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bila dingin sedang menyengat, menyegerakan shalat. Tapi bila panas
sedang menyengat, beliau mengundurkan shalat. (HR. Bukhari)
c. Waktu Shalat Ashar
Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu
semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan
panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari
tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut
ini :
ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا َ غ
ُ
ٍ
ْ
طَر ْ ْ
َ
أ
ِ
ًْ جَل
ً
خَ ؼ
ْ
وَ س
ِ
ؼْ ج ّ صٌ
َ
ا ْ ٓ
ِ
ِ َ نَ سْ د
َ
أ ْ ٓ
َ
ِ : َ يبَل
ِ
ّ
َ ا َ يُٛ عَ س ّ ْ
َ
أ َح َ شْ ٠ َ شُ٘ ٟ
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ
َ
ٚ , َ ؼْ ج ّ صٌ
َ
ا َ نَ سْ د
َ
أ ْ ذَمَف

ِ
ِ
ً
خَ ؼ
ْ
وَ س َ نَ سْ د
َ
أ ْ ٓ
َ
ِ
َ
ٚ
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ َ شْ صَ ؼ
ْ
ٌ
َ
ا َ نَ سْ د
َ
أ ْ ذَمَف ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا َ ةُ ش
ْ
غَر ْ ْ
َ
أ َ ًْ جَل
ِ
شْ صَ ؼ
ْ
ٌ
َ
ا ْ ٓ
Dari Abi Hurairah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat
shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan
shalat shubuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum
36

matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar". (HR.
Muttafaq „alaihi).
Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan shalat Ashar
tatkala sinar matahari sudah mulai menguning yang menandakan sebentar lagi
akan terbenam. Sebab ada hadits nabi yang menyebutkan bahwa shalat di waktu
itu adalah shalatnya orang munafiq.

ِ
ا َ يُٛ عَ س
ُ
ذْ ػ ِ ِ
َ
ُع : َ يبَل
ٍ
ظَٔ
َ
أ ْ َٓ ػ َ و ا
َ
ر
ِ
إ ٝ
ّ
ز َ ؽ َ ظْ ّ
ّ
شٌا ُ ت
ُ
ل ْ شَ٠ ُ ظ
ِ
ٍ َ غ٠
ِ
ك
ِ
فبَٕ
ُ
ٌّا
ُ
حَلَ ص َ ه
ْ
ٍ
ِ
ر : ُ يٛ
ُ
مَ٠ َ ْٓ ١َث
ْ
ذَٔب
خعبِ ٓثاٚ ، ٞسبخجٌا لإ ، خػبّغٌا ٖاٚس
ً
لْ ١
ِ
ٍَل
ّ
ل
ِ
إ
َ
ا ُ ش
ُ
و
ْ
زَ٠ َل ب ً ؼَث ْ س
َ
أ بََ٘ شَمََٕف
َ
َبَل َ ْب
َ
طْ ١
ّ
شٌا َٟٔ ْ شَل
Dari Anas bin Malik radhiyallahu „anhu berkata,”Aku mendengar Rasulullah
shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"...Itu adalah shalatnya orang munafik
yang duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara dua
tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali, tidak menyebut nama Allah
kecuali sedikit". (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).
Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir
sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di
ufuk barat sebelum terbenam.
ْ صَر ْ ُ
َ
ٌ ب
َ
ِ
ِ
شْ صَ ؼ
ْ
ٌ
َ
ا
ُ
ذ
ْ
ل
َ
ٚ
َ
ٚ : َ يبَل
ِ
ّ
َ ا
ّ
ٟ
ِ
جَٔ ّ ْ
َ
أ ;ب
َ
ُّٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا
َ
ٟ
ِ
ظَ س
ٍ
ٚ
ِ
شْ َّ ػ
ِ
ْٓ ث
ِ
ّ
َ ا
ِ
ذْ جَ ػ ْ َٓ ػ
ٌ
ُ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ِ
ُ
ٖا
َ
َٚ س ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا ّ شَف
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari
menguning".(HR. Muslim)
Shalat Ashar adalah shalat wustha menurut sebagian besar ulama. Dasarnya
adalah hadits Aisah ra.
ا َ يُٛ عَ س ّ ْ
َ
أ بَٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا
َ
ٟ
ِ
ظَ س َخَ ش
ِ
ئب َ ػ ْ َٓ ػ ٝ
َ
طْ عُ ٛ
ْ
ٌا
ِ
حَلّ صٌاٚ
ِ
دا
َ
ٛ
َ
ٍ ّ صٌا ٝ
َ
ٍ َ ػ
ْ
اٛ
ُ
ظ
ِ
فب َ ؽ: َ يبَل - ٝ
َ
طْ عُ ٛ
ْ
ٌا
ُ
حَلّ صٌاٚ

ِ
شصؼ
ْ
ٌا
ُ
حَلَ ص
Dari Aisah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam
membaca ayat :"Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat Wustha". Dan shalat
Wustha adalah shalat Ashar. (HR. Abu Daud dan Tirmizy dan dishahihkannya)
Dari Ibnu Mas`ud dan Samurah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah
shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Shalat Wustha adalah shalat Ashar".
(HR. Tirmizy)
Namun masalah ini memang termasuk dalam masalah yang diperselisihkan para
ulama. Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar jilid 1 halaman 311
menyebutkan ada 16 pendapat yang berbeda tentang makna shalat Wustha. Salah
satunya adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa shalat Wustha
37

adalah shalat ashar. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa shalat itu adalah
shalat shubuh.
d. Waktu Shalat Maghrib
Dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma`
(kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan
bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah
sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam :
ب
َ
ِ
ِ
ة
ِ
ش
ْ
غ
َ
ّ
ْ
ٌ
َ
ا
ِ
حلَ ص
ُ
ذ
ْ
ل
َ
ٚ
َ
ٚ : َ يبَل
ِ
ّ
َ ا
ّ
ٟ
ِ
جَٔ ّ ْ
َ
أ ;ب
َ
ُّٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا
َ
ٟ
ِ
ظَ س
ٍ
ٚ
ِ
شْ َّ ػ
ِ
ْٓ ث
ِ
ّ
َ ا
ِ
ذْ جَ ػ ْ َٓ ػ
ٌ
ُ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ِ
ُ
ٖا
َ
َٚ س ُ كَف
ّ
شٌ
َ
ا ْ ت
ِ
غَ٠ ْ ُ
َ
ٌ

Dari Abdullah bin Amar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu
„alaihi wasallam bersabda,"Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)".
(HR. Muslim).
Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah adalah mega
yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat.
Sedangkan Abu Hanifah berpendapt bahwa syafaq adalah warna keputihan yang
berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah
hilang. Dalil beliau adalah :
Dari Abi Hurairah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,"Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi
hitam". (HR. Tirmizy)
Namun menurut kitab Nashbur-rayah bahwa hadits ini sanadnya tidak shahih.
e. Waktu Shalat Isya`
Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari
tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang
menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu
shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat
shubuh.

ّ
زٌ
َ
ا ب
َ
ّ
ّ
ٔ
ِ
إ : َ يبَل
ِ
ّ
َ ا َ يُٛ عَ س ّ ْ
َ
أ َحَ دبَزَل ٟ
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ ُ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ِ َُٗ عَ ش
ْ
خ
َ
أ " َٜ ش
ْ
خ
ُ
لا
ُ
ذ
ْ
ل
َ
ٚ َ ً
ُ
خْ ذَ٠ ٝ
ّ
ز َ ؽ َحلّ صٌا َ ش
ّ
خَ ؤُ٠ ْ ْ
َ
أ
ُ
ػ٠
ِ
ش
ْ
ف
Dari Abi Qatadah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam bersabda,"Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi
orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat berikutnya". (HR. Muslim)
Sedangkan waktu mukhtar (pilihan) untuk shalat `Isya` adalah sejak masuk waktu
hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.
َ
ٟ
ِ
ظَ س َخَ ش
ِ
ئبَ ػ ْ َٓ ػ
38


ِ
ًْ ١
ّ
ٌٍ
َ
ا
ُ
خ
ّ
ِب َ ػ َ تَ٘
َ
ر ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
ءبَ شَ ؼ
ْ
ٌب
ِ
ث ٍ خ
َ
ٍْ ١
َ
ٌ َ دا
َ
ر
ِ
ّ
َ ا ُ يُٛ عَ س
َ
َُز ْ ػ
َ
أ :
ْ
ذ
َ
ٌبَل بَٙ
ْ
َٕ ػ ُ
ّ
َ ا بَٙ
ُ
ز
ْ
ل
َ
ٛ
َ
ٌ ُٗ
ّ
ٔ
ِ
إ" : َ يبَل
َ
ٚ ٝ
ّ
ٍ َ صَف , َ طَ شَ خ
ّ
ُ
ُ
ص
ْ ٛ
َ
ٌ ل
ٌ
ُ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ِ
ُ
ٖا
َ
َٚ س ٟ
ِ
ز
ّ
ِ
ُ
أ ٝ
َ
ٍ َ ػ ّ ك
ُ
ش
َ
أ ْ ْ
َ
أ
Dari Aisah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi
wasallam mengakhirkan / menunda shalat Isya` hingga leat tengah malam,
kemudian beliau keluar dan melakukan shalat. Lantas beliau
bersabda,"Seaungguhnya itu adalah waktunya, seandainya aku tidak
memberatkan umatku.". (HR. Muslim)
ا َح َ صْ شَث ٟ
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ
َ
ٚ ل َ و
َ
ٚ ,
ِ
ءبَ ش
ِ
ؼ
ْ
ٌ
َ
ا ْ ٓ
ِ
ِ َ ش
ّ
خَ ؤُ٠ ْ ْ
َ
أ ّ ت
ِ
ؾَزْ غَ٠ َ ْبَ و
َ
ٚ : َ يبَل
ّ
ٟ
ِ
ّ
َ
ٍ ْ ع بََ٘ ذْ ؼَث َ ش٠
ِ
ذ َ ؾ
ْ
ٌا
َ
ٚ بَٙ
َ
ٍْ جَل
َ
َ ْ ٛ
ّ
ٌٕ
َ
ا
ُ
ٖ َ ش
ْ
ىَ٠ َ ْب

ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ
Dari Abi Bazrah Al-Aslami berkata,”Dan Rasulullah suka menunda shalat Isya‟,
tidak suka tidur sebelumnya dan tidak suka mengobrol sesudahnya. (HR.
Muttafaq „alaihi)
ل
ٍ
ش
ِ
ثب َ ع ٓػ َ ؼْ ج ّ صٌا
َ
ٚ , َ ش
ّ
خ
َ
أ اٛ
ُ
ئ
َ
طْ ث
َ
أ ْ ُُ٘آ َ س ا
َ
ر
ِ
إ
َ
ٚ , َ ًّ غَ ػ اُٛ ؼ
َ
َّز ْ ع
ِ
ا ْ ُُ٘آ َ س ا
َ
ر
ِ
إ ب
ً
ٔبَ١ ْ ؽ
َ
أ
َ
ٚ ب
ً
ٔبَ١ ْ ؽ
َ
أ
َ
ءبَ ش
ِ
ؼ
ْ
ٌا
َ
ٚ :يب
ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕ
َ
ا َ ْبَ و :

ٍ
ظ
َ
ٍ َ غ
ِ
ث بَٙ١
ّ
ٍ َ صُ٠
Dan waktu Isya‟ kadang-kadang, bila beliau shallallahu 'alaihi wasallam melihat
mereka (para shahabat) telah berkumpul, maka dipercepat. Namun bila beliau
melihat mereka berlambat-lambat, maka beliau undurkan. (HR. Bukhari Muslim)

Waktu Shalat Yang Diharamkan
Ada lima waktu dalam sehari semalam yang diharamkan untuk dilakukan shalat
di dalamnya. Tiga di antaranya terdapat dalam satu hadits yang sama, sedangkan
sisanya yang dua lagi berada di dalam hadits lainnya.
ٍ دب َ ػبَ ع
ُ
سل
َ
ص
ٍ
ش
ِ
ِب َ ػ
ِ
ْٓ ث َخَج
ْ
مُ ػ ْ َٓ ػ ُ غ
ُ
ٍ
ْ
طَر َ ٓ١
ِ
ؽ :بَٔبَر ْ ٛ
َ
ِ ّ ٓ
ِ
ٙ١
ِ
ف َ شُج
ْ
مَٔ ْ ْ
َ
أ
َ
ٚ , ّ ٓ
ِ
ٙ١
ِ
ف ٟ
ّ
ٍ َ ص
ُ
ٔ ْ ْ
َ
أ بَٔبَٙ
ْ
َٕ٠
ِ
ّ
َ ا ُ يُٛ عَ س َ ْبَ و
ُ فّ١ َ عَزَر َ ٓ١
ِ
ؽ
َ
ٚ , ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا َ يٚ
ُ
ضَر ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
ح َ ش١
ِ
ٙ
ّ
ظٌ
َ
ا
ُ
ُ
ِ
ئبَل
ُ
َٛ
ُ
مَ٠ َ ٓ١
ِ
ؽ
َ
ٚ ,َ غ
ِ
فَر ْ شَر ٝ
ّ
ز َ ؽ
ً
خَ غ
ِ
صبَث ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا
ُ
غ
ْ
ٍ
ِ
ٌ ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا
ِ
ةُٚ ش

ٌ
ُ
ِ
ٍ ْ غ
ُ
ِ
ُ
ٖا
َ
َٚ سDari 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiyallahu „anhu berkata,"Ada tiga
waktu shalat yang Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam melarang kami untuk
melakukan shalat dan menguburkan orang yang meninggal di antara kami. [1]
Ketika matahari terbit hingga meninggi, [2] ketika matahari tepat berada di
tengah-tengah cakrawala hingga bergeser sedikit ke barat dan [3] berwarna
matahari berwarna kekuningan saat menjelang terbenam. .(HR. Muslim)
Sedangkan dua waktu lainnya terdapat di dalam satu hadits berikut ini :

َ
ا َ غ
ُ
ٍ
ْ
طَر ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
ؼْ ج ّ صٌ
َ
ا َ ذْ ؼَث َحلَ ص ل : ُ يٛ
ُ
مَ٠
ِ
ّ
َ ا َ يُٛ عَ س َ ذْ ؼ
ِ
َّ ع : َ يبَل ّ ٞ
ِ
سْ ذ
ُ
خ
ْ
ٌ
َ
ا ٍ ذ١
ِ
ؼَ ع ٟ
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ
َ
ٚ َحلَ ص ل
َ
ٚ ُ ظْ ّ
ّ
شٌ

ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا َ ت١
ِ
غَر ٝ
ّ
ز َ ؽ
ِ
شْ صَ ؼ
ْ
ٌ
َ
ا َ ذْ ؼَث
39

Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu „anhu berkata,"Aku mendengar Rasulullah
shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Tidak ada shalat setelah shalat shubuh
hingga matahari terbit. Dan tidak ada shalat sesudah shallat Ashar hingga
matahari terbenam.(HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua waktu ini hanya melarang orang untuk melakukan shalat saja, sedangkan
masalah menguburkan orang yang wafat, tidak termasuk larangan. Jadi boleh saja
umat Islam menguburkan jenazah saudaranya setelah shalat shubuh sebelum
matahari terbit, juga boleh menguburkan setelah shalat Ashar di sore hari.
Maka kalau kedua hadits di atas kita simpulkan dan diurutkan, kita akan
mendapatkan 5 waktu yang di dalamnya tidak diperkenankan untuk melakukan
shalat, yaitu :
a. Setelah shalat shubuh hingga matahari agak meninggi.
Tingginya matahari sebagaimana di sebutkan di dalam hadits Amru bin
Abasah adalah qaida-rumhin aw rumhaini. Maknanya adalah matahari terbit
tapi baru saja muncul dari balik horison setinggi satu tombak atau dua
tombak. Dan panjang tombak itu kira-kira 2,5 meter 7 dzira' (hasta). Atau 12
jengkal sebagaimana disebutkan oleh mazhab Al-Malikiyah.
b. Waktu I stiwa`
Yaitu ketika matahari tepat berada di atas langit atau di tengah-tengah
cakrawala. Maksudnya tepat di atas kepala kita. Tapi begitu posisi matahari
sedikit bergeser ke arah barat, maka sudah masuk waktu shalat Zhuhur dan
boleh untuk melakukan shalat sunnah atau wajib.
c. Saat Terbenam Matahari
Yaitu saat-saat langit di ufuk barat mulai berwarna kekuningan yang
menandakan sang surya akan segera menghilang ditelan bumi. Begitu
terbenam, maka masuklah waktu Maghrib dan wajib untuk melakukan shalat
Maghrib atau pun shalat sunnah lainnya.
d. Setelah Shalat Shubuh Hingga Matahari Terbit
Namun hal ini dengan pengecualian untuk qadha' shalat sunnah fajar yang
terlewat. Yaitu saat seseorang terlewat tidak melakukan shalat sunnah fajar,
maka dibolehkan atasnya untuk mengqadha'nya setelah shalat shubuh.
e. Setelah Melakukan Shalat Ashar Hingga Matahari Terbenam.
Maksudnya bila seseorang sudah melakukan shalat Ahsar, maka haram
baginya untuk melakukan shalat lainnya hingga terbenam matahari, kecuali
40

ada penyebab yang mengharuskan. Namun bila dia belum shalat Ashar, wajib
baginya untuk shalat Ashar meski sudah hampir maghrib.
Bila Waktu Shalat Telah Lewat
Bila seseorang bangun kesiangan dari tidurnya dan belum shalat shubuh, maka
yang harus dilakukan adalah segera shalat shubuh pada saat bangun tidur. Tidak
diqadha dengan zhuhur pada siangnya atau esoknya. Sebab kita telah
mendapatkan keterangan jelas tentang hal itu dari apa yang dialami oleh
Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam sendiri. Beliau dan beberapa shahabat
pernah bangun kesiangan dan melakukan shalat shubuh setelah matahari
meninggi.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda:
ل بََ٘ شَ و
َ
ر ا
َ
رإ بَٙ
ّ
ٍ َ صُ١
ْ
ٍَف
ً
حلَ ص
َ
ٟ
ِ
غَٔ ْ ٓ
َ
ِ : َ يبَل
ّ
ٟ
ِ
ج
ّ
ٌٕا ّ ْ
َ
أ ٍ ه
ِ
ٌب
َ
ِ
ِ
ْٓ ث
ِ
ظَٔ
َ
أ ْ َٓ ػ
ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ َ ه
ِ
ٌ
َ
ر لإ بَٙ
َ
ٌ َح َ سب
ّ
فَ و
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam
bersabda,"Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan shalat) atau
lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia
menyadarinya”. (HR Muttafaq alaihi)
Oleh karena itu, orang-orang yang kesiangan wajib menunaikan shalat shubuh
tersebut pada saat ia tersadar atau terbangun dari tidurnya (tentunya setelah
bersuci terlebih dahulu), walaupun waktu tersebut termasuk waktu-waktu yang
terlarang melaksanakan shalat. Karena pelarangan shalat pada waktu-waktu
tersebut berlaku bagi shalat-shalat sunnah muthlak yang tidak ada sebabnya.
Sedangkan bagi shalat yang memiliki sebab tertentu, seperti halnya orang yang
ketiduran atau kelupaan, diperbolehkan melaksanakan shalat tersebut pada
waktu-waktu terlarang.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda:
َف ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا َ غ
ُ
ٍ
ْ
طَر ْ ْ
َ
أ ًْ جَل
ً
خَ ؼ
ْ
وَ س
ِ
ؼْ ج ّ صٌ
َ
ا ْ ٓ
ِ
ِ َ نَ سْ د
َ
أ ْ ٓ
َ
ِ : َ يبَل
ِ
ّ
َ ا َ يُٛ عَ س ّ ْ
َ
أ َح َ شْ ٠ َ شُ٘ ٟ
ِ
ث
َ
أ ْ َٓ ػ َ ؼْ ج ّ صٌ
َ
ا َ نَ سْ د
َ
أ ْ ذَم ْ ٓ
َ
ِ
َ
ٚ ,

ِ
ْٗ ١
َ
ٍ َ ػ ٌ كَف
ّ
ز
ُ
ِ َ شْ صَ ؼ
ْ
ٌ
َ
ا َ نَ سْ د
َ
أ ْ ذَمَف ُ ظْ ّ
ّ
شٌ
َ
ا َ ةُ ش
ْ
غَر ْ ْ
َ
أ َ ًْ جَل
ِ
شْ صَ ؼ
ْ
ٌ
َ
ا ْ ٓ
ِ
ِ
ً
خَ ؼ
ْ
وَ س َ نَ سْ د
َ
أ
Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat sebelum matahari terbit maka dia
telah mendapatkan shalat tersebut (shalat shubuh)." (HR Bukhari dan Muslim)
Salah satu rahasia untuk bisa bangun di waktu shubuh bukan memasang alarm,
tetapi dengan cara tidur di awal malam. Kebiasaan tidur terlalu larut malam akan
menyebabkan badan lesu dan juga sulit bangun shubuh. Orang yang tidur di awal
malam, pada jam 04.00 dini hari sudah merasakan istirahat yang cukup. Secara
biologis, tubuh akan bangun dengan sendirinya, bergitu juga dengan mata.
41

Sebaliknya, orang yang tidur larut malam, misalnya di atas jam 24.00, sulit
baginya untuk bangun pada jam 04.00 dini hari. Sebab secara biologis, tubuhnya
masih menuntut lebih banyak waktu istirahat lebih banyak. Tapi yang paling
utama dari semua itu adalah niat yang kuat di dalam dada. Ditambah dengan
kebiasaan yang baik, dimana setiap anggota keluarga merasa bertanggung-jawab
untuk saling membangunkan yang lain untuk shalat shubuh. Kalau mau
memasang alarm, letakkan di tempat yang mudah terjangkau, deringnya cukup
lama dan harusa memekakkan telinga. Jangan diletakkan di balik bantal, karena
biasanya dengan mudah bisa dimatikan lalu tidur lagi
H. Hikmah dan Manfaat Sholat
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran 191)
Shalat merupakan ibadah yang penting dan utama bagi umat Islam. Begitu
pentingnya shalat sehingga untuk memberikan perintah shalat Allah berkenan
memanggil sendiri Rasulullah SAW untuk menghadap-Nya secara langsung.
Sedangkan untuk perintah-perintah Allah yang lain selalu disampaikan kepada
Rasulullah melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena shalat merupakan ibadah yang
terpenting bagi kehidupan umat, maka tentulah banyak mengandung hikmah baik
ditinjau secara moral (rohani) maupun fisik (jasmani).
1. Tinjauan dari segi moral
Shalat merupakan benteng hidup kita agar jangan sampai terjerumus ke dalam
perbuatan keji dan munkar. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah SWT :
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
munkar"(QS. Al Ankabut 45)
Shalat yang khusu‟ mewujudkan suatu ibadah yang benar-benar ikhlas, pasrah
terhadap zat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Di dalam shalat tersebut kita
meminta segala sesuatu dari-Nya, memohon petunjuk untuk mendapatkan jalan
yang lurus, mendapat limpahan rahmat, rizki, barokah dan pahala dari-Nya. Oleh
karena itu orang yang shalatnya khusu‟ dan ikhlas karena Allah SWT akan selalu
merasa dekat kepada-Nya dan tidak akan menghambakan diri, tidak akan
menjadikan panutan selain daripada Allah SWT. Dengan kata lain segala sesuatu
yang dilakukan hanyalah karena Allah dan hanya untuk mendapatkan ridlo‟ dari
Allah. Maka pantaslah jika Allah berfirman :
42

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang
yang khusu‟ dalam sembahyangnya"
(QS. Al Mu‟minuun 1-2)
Disamping itu shalat juga membersihkan jiwa dari sifat-sifat yang buruk,
khususnya cara-cara hidup yang materialis yang menjadikan urusan duniawi lebih
penting dari segala-galanya termasuk ibadah kepada Allah. Kebersihan dan
kesucian jiwa ini digambarkan dalam sebuah hadits :
"Jikalau di pintu seseorang diantara kamu ada sebuah sungai dimana ia mandi
lima kali, maka apakah akan tinggal lagi kotorannya (yang melekat pada
tubuhnya) ? Bersabda Rasulullah saw : „Yang demikian itu serupa dengan shalat
lima waktu yang (mana) Allah dengannya (shalat itu) dihapuskan semua
kesalahan‟." (HR. Abu Daud)
Yang dimaksud kesalahan disini adalah yang berupa dosa-dosa kecil, sedangkan
yang berupa dosa besar tetap wajib dengan bertaubat kepada Allah.
Jadi pada hakekatnya shalat itu mendidik jiwa kita agar terhindar dari sifat-sifat
takabur, sombong, tinggi hati, dan sebagainya, serta mengarahkan kita agar selalu
tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal ini karena pada dasarnya
manusia selalu berkeluh kesah apabila ditimpa kesusahan dan bersifat kikir
apabila mendapat kebaikan, ini sesuai dengan salah satu firman Allah :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia
ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia
amat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap
mengerjakan shalatnya" (QS. Al Ma‟aarij)
Apabila kita mendapat suatu musibah maupun kesulitan, maka kita harus
memohon pertolongan kepada Allah dengan mengerjakan shalat dan bersabar
serta tawakal.
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu‟." (QS. Al
Baqarah 45)
"Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah 153)
Di dalam salah satu firman-Nya Allah juga menegaskan nilai positif dari shalat :
43

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram"
(QS. Ar Ra‟d 28)
Disamping hal-hal diatas, shalat juga membina rasa persatuan dan persaudaraan
antara sesama umat Islam. Hal ini dapat kita lihat antara lain, apabila seseorang
shalat tidak dalam keadaan yang khusus pasti selalu menghadap kiblat yaitu
Ka‟bah di Masjidil Haram Mekah. Umat Islam di seluruh dunia mempunyai satu
pusat titik konsentrasi dalam beribadah dan menyembah kepada Khaliq-nya yaitu
Ka‟bah, hal ini akan membawa dampak secara psikologis yaitu persatuan,
kesatuan, dan kebersamaan umat. Contoh lain adalah pada shalat berjamaah,
shalat berjamaah juga mengandung hikmah kebersamaan, persatuan,
persaudaraan dan kepemimpinan dimana pada setiap gerakan shalat ma‟mum
mempunyai kewajiban mengikuti gerakan imam, sedangkan imam melakukan
kesalahan, maka ma‟mum wajib mengingatkan. Sehingga pada shalat berjamaah
keabsahan maupun kebenaran dalam shalat lebih terjamin, dan diantara jama‟ah
akan timbul rasa kebersamaan dan persatuan untuk menyelamatkan jama‟ah
mereka. Ibarat orang berkendaraan, penumpang akan selalu ikut menjaga
keamanan dan keselamatan kendaraan yang ditumpanginya. Oleh karena itu
tidaklah berlebihan jika shalat berjamaah mendapatkan tempat yang lebih
dibandingkan dengan shalat sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
"Shalat berjamaah lebih utama (pahalanya) dua puluh derajat" (HR. Bukhary &
Muslim dari Ibnu Umar)
2. Tinjauan dari segi fisik (kesehatan)
Shalat disamping mengandung hikmah secara moral seperti diuraikan diatas, juga
mengandung hikmah secara fisik terutama yang menyangkut masalah kesehatan.
Hikmah shalat menurut tinjauan kesehatan ini dijelaskan oleh DR. A. SABOE
yang mengemukakan pendapat ahli-ahli (sarjana) kedokteran yang termasyhur
terutama di barat. Mereka berpendapat sebagai berikut :
1. Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas pergelangan tangan
kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan sebab
sendi-sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat penuh.
Sikap seperti ini akan memudahkan aliran darah mengalir kembali ke
jantung , serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari kedua
44

persendian tangan akan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam
persendian akan menjadi lebih lancar. Hal ini akan menghindari
timbulnya bermacam-macam penyakit persendian seperti rheumatik.
Sebagai contoh, orang yang mengalami patah tangan, terkilir maka
tangan/lengan penderita tersebut oleh dokter akan dilipatkan diatas dada
ataupun perut dengan mempergunakan mitella yang disangkutkan di
leher.
2. Ruku‟, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan
diatas lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus. Sikap
yang demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan
dengan ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas
tulang pinggang, dsb.
3. Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan bergerak.
Hal ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat, tetapi
peredaran urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah
serta limpa akan menjadi lancar di tubuh kita. Dengan sikap sujud ini
maka dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih dengan
membiasakan untuk menerima aliran darah yang lebih banyak dari
biasanya, karena otak (kepala) kita pada waktu itu terletak di bawah.
Latihan semacam ini akan dapat menghindarkan kita mati mendadak
dengan sebab tekanan darah yang menyebabkan pecahnya urat nadi
bagian otak dikarenakan amarah, emosi yang berlebihan, terkejut dan
sebagainya yang sekonyong-konyong lebih banyak darah yang di
pompakan ke urat-urat nadi otak yang dapat menyebabkan pecahnya urat-
urat nadi otak, terutama bila dinding urat-urat nadi tersebut telah menjadi
sempit, keras, dan rapuh karena dimakan usia.
4. Duduk Iftirasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal), posisi duduk
seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal ini
mengakibatkan pangkal paha terpijit. Pijitan tersebut dapat
menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha
(neuralgia) yang menyebabkan tidak dapat berjalan. Disamping itu urat
nadi dan pembuluh darah balik di sekitar pangkal paha dapat terurut dan
tirpijit sehingga aliran darah terutama yang mengalir kembali ke jantung
45

dapat mengalir dengan lancar. Hal ini dapat menghindarkan dari pengakit
bawasir.
5. Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat menghindarkan
penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. Kemudian
duduk tawaruk ini juga dapat untuk mempermudah buang air kecil.
6. Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini sangat
berguna untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat
pula untuk menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku.
Dari penjelasan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa sholat disamping
merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung manfaat
yang sangat besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia.























46

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Ada beberapa hal yang dapat kami simpulkan dari kajian teori yang telah kami
paparkan
1. Sholat merupakan ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan denga perbuatan yang
diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang
telah ditentukan syara
2. Sholat hukumnya wajib bagi setiap umat Islam yang sudah baligh dan berakal
sehat, sesuai dengan dalil dalam Al-Quran dan Hadist
3. Sholat merupakah perintah yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW
pada saat Isra‟ Mi‟raj
4. Sebelum melaksanakan sholat, didahului dengan adzan, yaitu seruan atau
panggilan untuk melaksanakan sholat
5. Kriteria mengenai sholat terdiri dari syarat wajib dan syarat sah sholat
6. Struktur sholat yang seharusnya kita kerjakan adalah sholat yang sesuai dengan
yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, beserta bacaan-bacaan dan
gerakan yang sesuai dengan yang tercantum dalam Hadist
7. Waktu pelaksanaan untuk sholat subuh, dhuhur,ashar, maghrib, dan isya‟ sudah
tertera dalam Quran dan Hadist, yang memiliki batas waktu pelaksanaannya
8. Sholat merupakan tiang agama. Sholat memiliki manfaat bagi jiwa dan raga kita.
Bagi jiwa, menjauhkan kita dari sifat dengki dan mungkar sedangkan bagi raga,
bisa menyehatkan
B. Saran
Ada beberapa saran yang ingin kami sampaikan
1. Setelah mengetahui hal ihwal mengenai sholat, hendaknya kita semakin sadar
untuk menyempurnakan sholat kita layaknya Nabi Muhammad SAW
2. Sholatlah secara tuma‟ninah dan khusuk karena sholat merupakan indikator utama
akhlak dan pahala bagi seorang muslim
3. Sholatlah tepat pada waktunya
4. Jaga pakaian dan aurat ketika akan sholat


47

DAFTAR PUSTAKA

Rasyid Sulaiman, Fiqih Islam, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 1994).
Nasution Lahmuddin, Fiqih Ibadah (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999).
As‟ad Aliy, Fathul Mu‟in (Kudus : Menara Kudus, 1979 M).
Abdul Karim Nafsin, Menggugat Orang Sholat Antara Konsep dan Realita (Mojokerto : C
Al-Himah, 2005).