Anda di halaman 1dari 5

I.

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan tablet yang berisi Teofilin
sebagai zat aktif dengan metode granulasi basah dengan formulasi sebagai
berikut:
R/ Teofilin 100 mg
Laktosa 137,1 mg
Amprotab 60 mg
Cab-o-sil 1,5 mg
Mg stearat 1,5 mg


Tablet dibuat sebanyak 200 buah dengan komposisi tiap tablet sebesar 100
mg/tablet Teofilin yang sesuai dengan dosis lazim terapeutik teofilin. Metode
granulasi basah merupakan suatu metode pembuatan tablet dengan pencampuran
fase dalam tablet terlebih dahulu dengan pengikat yang basah, digranulasi lalu
dicampurkan dengan fase luar tablet, kemudian dicetak menjadi tablet. Granulasi
basah digunakan karena zat aktif dan beberapa zat tambahan pada formula di atas
memiliki laju alir yang buruk sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan
metode kempa langsung, seperti teofilin memiliki sifat alir yang buruk, karena
teofilin memiliki kelarutan yang buruk dan permeabilitas rendah, maka digunakan
metode granulasi basah dalam pembuatan tablet untuk memperbaiki sifat kohesi
dari suatu obat, selain itu juga teofilin tahan terhadap panas dan kelembaban.
Granulasi basah juga merupakan salah satu cara pembuatan tablet kompresi yang
paling banyak digunakan. Granulasi merupakan perlakuan awal terhadap serbuk
yang sukar untuk dicetak menjadi massa yang dapat ditabletasi, juga proses
peningkatan ukuran dimana partikel-partikel kecil digabungkan menjadi partikel
dengan ukuran lebih besar, membentuk aglomerat atau granul stabil sehingga
lebih mudah mengalir. Granulasi dilakukan karena sebagian besar serbuk tidak
dapat dibentuk menjadi tablet secara langsung karena kohesivitasnya rendah, tidak
memiliki sifat lubrikasi dan disintegrasi yang diperlukan dalam proses tabletasi.
Pembagian fase luar dan fase dalam pada granulasi basah berdasarkan fungsi
dan karakteristik setiap zat. Fase dalam biasanya terdiri dari zat aktif, zat pengisi,
dan zat pengikat yang tahan terhadap suhu tinggi dalam waktu lama karena pada
proses pembuatan granulasi basah, pemanasan dalam oven untuk menghilangkan
air dilakukan setelah terbentuk granul yang tujuannya untuk meningkatkan laju
alir campuran zat atau kemampuan kempa. Fase luar adalah zat eksipien yang
berfungsi untuk membantu proses pengempaan tablet, yaitu zat pelincir dan zat
eksipien lain yang tidak tahan pemanasan dalam waktu lama (tanpa pemanasan
dalam pencampurannya).
Pada formula di atas, teofilin sebagai zat aktif dengan efek farmakologis
meringankan dan mengatasi asma bronkial. Teofilin dimasukkan ke fase dalam
karena stabil dalam pemanasan yang lama, stabil dalam suhu 45
0
C dengan titik
lebur teofilin 270ºC-274ºC (FI IV, tahun 1995, halaman 783-784).
Bahan kedua yaitu laktosa merupakan zat tambahan fase dalam yang
digunakan sebagai pengisi. Fungsi sebagai pengisi untuk menambah massa tablet
yang akan dicetak. Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai
karena tidak bereaksi dengan hampir semua bahan obat, baik yang digunakan
dalam bentuk hidrat atau anhidrat. Bahan ketiga yaitu amprotab merupakan zat
tambahan fase dalam yang digunakan sebagai pengikat. fungsi sebagai pengikat
untuk mengikat zat aktif dan zat pengisi sehingga dapat tercampur dengan
homogen dan juga sebagai desintegran (penghancur tablet setelah ditelan), dimana
desintegran yang paling banyak digunakan adalah pati, salah satu nya amprotab.
Amprotab dapat digunakan sebagai zat pengikat. Zat pengikat ini dapat
ditambahkan dalam bentuk kering, tetapi lebih efektif jika ditambahkan dalam
larutan (DepkesRI,1995). Sehingga dibuat juga amprotab dalam bentuk larutan
yaitu dengan pencampuran amprotab dan aquadest hangat dengan konsentrasi 3-
20 % b/b untuk mendapatkan pasta amprotab segar (HOPE, 2009). Pada
praktikum ini dibuat amprotab propasta dengan konsentrasi 15%, karena masih
dalam rentang konsentrasi yang dianjurkan sehingga dapat menghasilkan pasta
amprotab yang baik, lalu ditambahkan secukupnya. Fungsi zat pengikat ini untuk
mengikat partikel-partikel padat di bawah pengempaan dalam membentuk suatu
tablet yang kompak, meningkatkan pembesaran ukuran untuk membentuk granul
sehingga meningkatkan kemampuan alir.
Hal pertama yang dilakukan dalam pembuatan tablet dengan metode granulasi
basah, adalah menimbang bahan-bahan di atas sesuai dengan formulasi
menggunakan neraca digital untuk mendapatkan hasil timbangan yang akurat,
dengan ketelitian 0,001 gram. Selanjutnya menggranulasi fase dalam dari formula
di atas. Fase dalam biasanya terdiri dari zat aktif, pengisi dan pengikat. Pertama-
tama membuat Pasta amprotab yang digunakan sebagai pengikat dibuat dengan
cara 12 gram amprotab ditimbang dan dilarutkan dalam 100ml air dan dipanaskan
hingga terbentuk suatu mucilago yang bening. Dihasilkan berat pasta yaitu 12,99
gram, hasil ini didapatkan dari pengurangan jumlah massa total pasta beserta
wadah dikurangi dengan berat wadah tanpa pasta.
Kemudian, teofilin sebagai zat aktif, laktosa yang telah ditimbang,
dicampurkan didalam wadah kemudian diaduk. Setelah itu ditambahkan pasta
yang telah dibuat sebelum nya dicampurkan sedikit demi sedikit hingga terbentuk
suatu massa yang dapat dikepal. Penambahan pasta amprotab harus dilakukan
dengan hati-hati dan secara perlahan, karena apabila pasta amprotab yang
digunakan terlalu banyak akan menyulitkan proses granulasi dan pada akhirnya
tablet yang dihasilkan akan sangat keras, menghasilkan granul yang berbentuk
panjang dan menyatu, seharunya terbentuk granul kecil yang terpisah-pisah, dan
juga menghasilkan waktu hancurnya akan sangat lama. Selanjutnya, massa
campuran tadi diayak dengn menggunakan mesh no 14. Granul yang dihasilkan
berbentuk granul kecil yang terpisah-pisah, ini menunjukkan bahwa hasil granul
baik sehingga tidak akan menghasilkan tablet yang keras, selanjutnya granul yang
terbentuk dikeringkan dengan cara dimasukan ke dalam oven pada suhu 50-60
0
C
selama 18-24 jam yang berfungsi untuk menghasilkan granul kering dengan
kelembapan yang sesuai sehingga dapat meningkatkan laju alir zat. Setelah proses
pengeringan selesai, granul diayak kembali dengan mesh no 16.
Granul yang telah diayak kemudian ditimbang pada neraca digital, dan
didapatkan berat nyata granul 45,08 gram, hasil yang didapatkan berbeda dengan
berat teoritisnya yaitu 60,41 gram. Hal ini terjadi karena pada saat dilakukan
pengayakan pada granulator, banyak granul basah atau adonan yang melekat pada
alat sehingga menyebabkan penyusutan jumlah bobot granul dari seharusnya atau
dengan adanya pengeringan juga menjadi faktor penyusutan bobot granul. Dengan
adanya penyusutan ini , sehingga perlu dilakukan evaluasi pada granul fase dalam
yaitu uji LOD (Lost of Drying) atau susut pengeringan. Uji ini dilakukan untuk
menentukan kadar kelembapan pada granul fase dalam, karena pada fase ini
pernah mengandung air atau kelembapannya tinggi ketika dicampurkan dengan
pasta amprotab untuk membentuk adonan, sehingga perlu dilakukan pengecekan
kadar air kembali setelah dilakukan pengeringan dengan oven, karena jika granul
memiliki kadar air yang lebih besar dari 1-2% dari bahan, maka akan
menyebabkan terjadi penempelan pada alat pencetak dan menghasilkan laju alir
yang buruk. Pengujian dilakukan dengan mengambil sebanyak 10 gram granul
disimpan secara merata diatas piringan logam pada alat uji. Kemudian suhu diatur
pada 70
0
C, dan kemudian alat dinyalakan selama 10 menit. Dari hasil pengujian
diperoleh % LOD atau kadar air yang terkandung dalam granul sebesar 0,44 %.
Nilai ini menujukan bahwa granul memiliki kadar air yang baik, karena batas
maksimum kadar air untuk granul adalah 2 %.
Kemudian ditimbang bahan-bahan untuk fase luar yakni aerosil dan
Magnesium stearate. Aerosil berfungsi sebagai glidant yang dapat meningkatkan
sifat aliran massa kempa tablet. Mg stearate berfungsi sebagai pelincir. Bahan
pelincir memudahkan pendorongan tablet ke atas dan ke luar ruang cetak melalui
pengurangan penggesekan antara dinding dalam lubang ruang cetak dengan
permukaan sisi tablet. Hasil terbaik saat ini sebagai bahan pelicin adalah talk serta
kalsium atau magnesium stearat. Bahan pelicin ditambahkan dengan maksud :
1. Meningkatkan daya alir granul-granul pada corong pengisi.
2. Mencegah melekatnya massa pada punch dan die.
3. Mengurangi pergesekan antara butir-butir granul.
4. Mempermudah pengeluaran tablet dari die.