Anda di halaman 1dari 16

1.

Ayat Al-Qur’an yang menggambarkan umat Islam sebagai umat terbaik

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli
Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Qs.3:110
a. Yang dimaksud dengan umat terbaik adalah memerintah yang ma’ruf. Peranan ini tidak mungkin
bisa dilakukan oleh orang yang tidak memeiliki kekuasaan untuk memerintah. Oleh karena itu
menjadi manusia terbaik mesti memiliki kekuasaan untuk memerintah yang ma’ruf. Semakin
tinggi kekuasaannya untuk amar ma’rum semakin mulia kedudukannya sebagai umat pilihan.
Semakian sering beramar ma’ruf semakin tinggai derajatnya bakal diraih. Keriteria manusia
terbaik berikutnya adalah nahy munkar, yaitu mencegah kemunkaran. Rasul SAW bersabda:

barangsiapa yang melihat
kemunkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu maka hendaklah
mengubahnya dengan lisan. Jika tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan sikap dalam
hati. Namun yang terakhir ini adalah orang yang paling lemah imannya. Hr.Msulim, Abu Daud,
dan al-Tirmidzi.
b. Mengapa kehidupan kaum muslimin saat ini umumnya berada dalam kondisi terbelakang
secara ekonomi, social, dan politik. Seperti Realitas terkini menunjukkan bahwa Islam
sangat jauh dari kehidupan bahkan kehidupan kaum muslimin sendiri. Islam unggul dan
tidak terungguli namun kaum muslimin mundur dan terpinggirkan.Syaikh Syakib Arselan
menulis kitab dengan judul “Mengapa Muslim Terbelakang dan Non Muslim Maju”.
Dalam kitab itu beliau menjawab bahwa kaum muslimin terbelakang karena mereka
meninggalkan kitab sucinya sementara non muslim maju karena mereka meninggalkan
kitab sucinya.
c. Yang harus dilakukan segera agar umat Islam yang di gambarkan dalam ayat tersebut
dapat terwujud dengan cara , orang yang paling tinggai derajat imannya adalah yang bisa
memberantas kemunkaran dengan tangan, alias kekuasaannya. Orang yang tidak berdaya
dalam memberantas kemunkaran, melainkan hanya dalam hati, maka paling lemah
imannya. Semakin berkuasa memberantas kemunkaran, semakian tinggi dan kuat
imannya. Semakian rendah kualitas dalam memberantas kemunkaran maka semakin
rendah pula nilai keimanannya. Dalam riwayat lainnya, Rasul SAW bersabda yang
artinya:
Sesungguhnya manusia yang jika melihat kemunkaran dan tidak mencegahnya maka
Allah akan menimpakan siksaan-Nya secara keseluruhan.


Kondisi seperti di atas harus diubah menjadi kondisi yang Islami melalui perjuangan dakwah dan
jihad nan ikhlas tak kenal lelah, lemah dan menyerah. Barisan mukmin harus sabar dan tabah,
selalu istighfar dan memohon ampun kepada Allah, serta menghindari perbuatan yang
melampaui batas. Mereka harus selalu teguh hingga datangnya kemenangan dan pertolongan
Allah. Amal Islam meliputi:
1. Dakwah dan tarbiyah
Mendakwahkan Islam adalah upaya menyampaikan Islam kepada seluruh manusia melalui
berbagai cara dan pendekatan yang sah lagi halal. Selain itu mereka yang telah menerima
dakwah juga harus mendapat pembinaan dan pendidikan Islam secara cukup dan baik. Tarbiah
adalah usaha untuk merawat dan menlayani jamaah agar komitmen dan loyalitas mereka kepada
Allah, Islam, dan Rasulullah tetap segar.
2. Harakah dan jihad
Islam tidak cukup hanya disampaikan melalui tabligh. Harus ada upaya-upaya sadar dan
terprogram untuk mengimplementasikan dalam kehidupan nyata dalam semua lini kehidupan.
Masyarakat yang stagnan, pasif, apatis, dan beku harus digerakkan kembali. yang dapat
menggerakkan mereka tidak lain adalah aktifitas yang berkemampuan sebagai reformer di
levelnya. Dakwah dan tarbiyah serta harakah dan jihad harus berorientasi pada pemurnian ibadah
kepada Allah untuk mencapai masyarakat yang bertakwa. Bila itu dapat diwujudkan, manusia
dapat menyaksikan bukti kebenaran Islam yang unggul dan tidak terungguli. Amal Islam yang
dilakukan secara manhaji memberi harapan kepada kita akan kemenangan. Kepercayaan dan
dukungan akan diberikan Allah [hablun minallah] dan umat manusia [hablun minannaas]
kepada kaum muslimin. Jika demikian, pertolongan dan kemenangan tinggal menghitung hari.
Kepercayaan adalah amanah yang harus dijaga dengan baik agar kemapanan yang Allah janjikan
pun terwujud. Sebagaimana tersebut dalam surah an-Nuur: 55.
d.

.

dan beriman kepada Allah.
Keriteria manusia terbaik yang laing pokok adalah beriman jepada Allah. Yang dimaksud
beriman pada Allah tentu saja mencakup atas segala yang mesti diimani berdasar apa yang
diajarkan-Nya. Keimanan baru dianggap bnar apabila mengimani seluruh apa yang mesti diimani
yaitu enam rukunnya. Dalam adits diterangkan lebi rinci baa rukun iman itu adala enam.
asul bersabda

ش

ش

س ذ

ش

ع س

iman adalah
beriman pada Allah, mala`ikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, pada hari akhir dan pada
taqdir baik dan buruknya. Hr. Ahmad.[11] Dengan demikian kepercayaan seratus prosen
hanyalah kepada yang enam yang disebutkan dalam hadits ini. Tidak ada yang mesti dipercayai
sepenuhnya selain pada apa yang tersirat dan tersurat pada rukun iman tersebut. Inilah perinsip
pertama dan utama untuk mencapai derajat kebaikan. Itulah sebabnya ulama aqidah memberikan
definsi iman dengan ع

ذ

membenarkan apa yang dibawa oleh
nabi Muhammad SAW, yang diucapkan oleh lisan, diyakini dalam hati serta diwujudkan dalam
amal perbuatan.

[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
21 dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas,(QS. 35:21)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 21
س ش

21)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa yang terlindung tidak sama dengan yang kena panas. Sebagian ulama tafsir mengartikan
"Zill" (sejuk) di sini dengan surga karena surga itu mempunyai naungan yang menyebabkan hawa sejuk. Sebagaimana firman Allah SWT:

ه ظ د ه سه نل ه يشج ذ ة ج ث
Artinya:
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman) mengalir sungai-sungai di dalamnya buahnya tak
henti-hentinya sedang naungannya (demikian pula). (Q.S. Ar Ra'd: 35)
Sedang "hari" (panas) diartikan dengan neraka, karena neraka itu, memang satu tempat yang amat panas penuh dengan api yang menyala-
nyala, jauh lebih panas dari api yang dikenal di dunia. Sepercik bunga api neraka saja jatuh di dunia, maka dunia akan panas seluruhnya
sebagaimana dijelaskan di dalam satu hadis.
Artinya:
Sekiranya sepercik bunga api dari bunga-bunga api neraka (berada) di barat maka akan dirasakan panasnya oleh orang-orang yang berada di
timur. (H.R. Ibnu Mardawaih dari Anas)
22 dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya
Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada
sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.(QS. 35:22)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 22

غ

ن

غ

ل

ل ي

غ

س22)
Pada awal ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang hatinya hidup karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan
mengetahui Alquran dan isinya, tiada sama dengan orang yang mati hatinya, akibat kekafiran yang menutupi hatinya, sehingga tidak mau
mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, tidak dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Ini adalah
perumpamaan bagi orang-orang yang mukmin dan bagi orang-orang kafir. Firman Allah SWT:

ه جسخ ظ ث ط س ن ع أ
Artinya:
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu
dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar dari padanya ?. (Q.S. Al An'am: 122)
Dan firman-Nya:

ث غ ه غ ش ل ل شف ث
Artinya:
Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin) seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat
dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? (Q.S. Hud: 24)
Orang mukmin itu melihat, mendengar dan bermandikan cahaya terang benderang melintasi siratal mustaqim sampai di surga yang sejuk,
mempunyai naungan dan banyak mata air, sedang orang kafir buta dan tuli berjalan di dalam gelap gulita tidak dapat keluar dari padanya,
bahkan selalu menyombong di dalam kesesatannya di dunia dan di akhirat sampai dia diberi keputusan masuk neraka yang sangat panas,
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
penuh api menyala-nyala. Allah SWT memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, mau mendengar hujah atas kebenaran
Rasul, dan menerima agama yang dibawanya yaitu Islam dengan baik. Sebagaimana halnya orang yang telah mati dimasukkan dalam kubur,
tidak dapat mendengar nasihat-nasihat dan saran-saran yang akan membimbingnya ke jalan yang benar begitu pula yang mati hatinya tidak
akan bermanfaat baginya peringatan-peringatan Allah tidak dapat memahami isi Alquran dan ajaran-ajaran agama.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Faathir 22
غ

س

غ

ن

غ

ل

ل ي

22)
(Dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati) orang-orang beriman dengan orang-orang kafir; ditambahkannya
lafal Laa pada ketiga ayat di atas untuk mengukuhkan makna tidak sama. (Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa
yang dikehendaki-Nya) untuk mendapat hidayah, karena itu tidak beriman (dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di
dalam kubur dapat mendengar) yakni orang-orang kafir; mereka diserupakan dengan orang-orang yang telah mati, maksudnya kamu tidak
akan sanggup menjadikan mereka mendengar, kemudian mereka mau menerima seruanmu.
23 Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.(QS. 35:23)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 23
ش زن

ن

23)
Pada ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa tugas Rasulullah Muhammad saw, hanyalah memberi peringatan kepada manusia yang belum
mendapat petunjuk, ia tidak dibebani perintah untuk memaksakan mereka menerima petunjuk dan agama yang dibawanya, karena petunjuk
itu adalah sepenuhnya di tangan Allah, Oleh karena itu tidak pada tempatnya Muhammad bersedih hati dan merasa kecewa kalau mereka itu
belum mau menyambut baik seruan ajarannya. Tugas ini ditegaskan sendiri oleh Nabi Muhammad saw sebagaimana firman Allah SWT:

سز ن ن ق
Artinya:
Katakan: "Sesungguhnya aku (Muhammad) hanya seorang pemberi peringatan". (Q.S. Sad: 65)
Dan firman-Nya:

ش ز ن ن ن
Artinya:
Tidak diwahyukan kepadaku. melainkan bahwa sesungguhnya aku hanya lah seorang pemberi peringatan yang nyata. (Q.S. Sad: 70)
24 Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada
padanya seorang pemberi peringatan.(QS. 35:24)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 24
ش زن ه

ة

ش زن

ش

ع س

ن

24)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia mengutus Muhammad kepada manusia agar manusia beriman kepada Allah Yang Maha
Esa disertai pula dengan syariat yang diwajibkan kepada hamba-Nya, memberi kabar gembira kepada orang yang membenarkan risalahnya,
dan menerima baik agama yang dibawanya dari Allah SWT, bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan
kenikmatan dan kesenangan. Juga memberi peringatan kepada orang yang mendustakannya dan menolak wahyu yang diturunkan dari Allah
SWT bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang penuh dengan azab dan siksa yang amat pedih. Pada ayat yang lain Allah
menegaskan sebagai berikut:

ش ز ن ش ع س
Artinya:
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Q.S. Al Isra': 105)
Tidak ada suatu umatpun sejak Nabi Adam as kecuali diutus kepada mereka oleh Allah SWT seorang utusan yang memberi peringatan
supaya umat itu tidak mempunyai alasan lagi untuk membantah Allah sesudah diutus-Nya Rasul-rasul itu Firman Allah SWT:
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3

ع ش ذع ةج ط ئ سز ش ع س
Artinya:
(Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul membawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia
membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu (Q.S. An Nisa: 165)
Dan firman-Nya:

ع س ثع ن زع
Artinya:
Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul (Q.S. Al Isra': 15)
Pada ayat lain ditegaskan juga sebagai berikut:

ه ز ث ش أ ع بز ذ ب ط ق هش ق د ث د ح ن ق ه ق ز ذ ز ف
ش ن
Artinya:
Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, Ad
dan Samud, dan kaum Ibrahim dan kaum Lut, dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, laIu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk
orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka. maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu). (Q.S. Al Hajj: 42-
44)
25 Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka
telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan
membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.(QS.
35:25)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 25 - 26

ش

ض

ه

ع س ه

ه ق ز

ب

ز ذ

ز

ش

ب

ش ن شف ز

ز

ث26)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa setelah mereka mengingkari kedatangan Rasul dan mendustakan agama yang dibawanya,
Allah mengazab orang-orang kafir itu dengan azab yang pedih. Alangkah hebatnya kemurkaan Allah kepada mereka, apabila mereka tetap
dalam keadaan membangkang, tetap mengingkari kerasulan Muhammad dan agama yang dibawanya. Dan mereka itu akan mengalami
seperti apa yang telah dialami umat dahulu. Demikian Sunatullah tetap berlaku dan tidak akan berubah. Sebagaimana firman Allah SWT:

ذ ة غ ذج ق ز ة ع
Artinya:
Sebagai Sunah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan menemukan
perubahan pada Sunah Allah. (Q.S. Al ahzab: 62)
26 Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat
kemurkaan-Ku.(QS. 35:26)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
27 Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan
dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung
itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang
hitam pekat.(QS. 35:27)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 27

ج

ه

ن

ف

خ

ش

ث

ش

أ

غ ض

ن

ش

د ع

ش

ه

ن

خ

ش

د ذ

27)
Pada ayat ini Allah SWT menguraikan beberapa hal yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaan Nya yang oleh kaum musyrikin dapat
dilihat setiap waktu yang kalau mereka menyadari dan menginsafi semuanya itu tentunya mereka akan menyadari pula keesaan dan
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
kekuasaan Allah Yang Maha Sempurna itu. Allah SWT menjadikan sesuatu yang beraneka ragam macamnya yang bersumber dari yang
satu. Allah menurunkan hujan dari langit, karenanya tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang mengeluarkan buah-buahan yang beraneka ragam
warna, rasa dan baunya, sebagaimana yang kita saksikan. Buah-buahan itu warnanya ada yang kuning, ada yang merah, ada yang hijan dan
sebagainya. Hal yang sama dijelaskan pula di dalam ayat yang lain. Firman Allah SWT:

ع هض ع ضف ن ذ غ ش خ ن عسص ب سج ط ق ضسل ل
ع ك ر
Artinya:
Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang
dan yang tidak bercabang disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang
rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar Ra'd: 4)
Kecuali itu Allah juga menciptakan gunung-gunung yang kelihatan seperti garis-garis ada yang kelihatan putih, ada yang merah dan ada
yang hitam pekat, sebagaimana yang dapat kita saksikan. Di antara gunung-gunung itu terbentang pula jalan-jalan yang beraneka ragam
pula warnanya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Faathir 27

ج

ه

ن

ف

خ

ش

ث

ش

أ

غ ض

ن

ش

د ع

ش

ه

ن

خ

ش

د ذ 27)
(Tidakkah kamu melihat) mengetahui (bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan) di dalam ungkapan ayat ini
terkandung Iltifat dari dhamir Gaib (dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya) ada yang berwarna hijau, merah dan
kuning dan warna-warna lainnya. (Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis) Judadun adalah bentuk jamak dari lafal Juddatun,
artinya jalan yang terdapat di gunung dan lainnya (putih, merah) dan kuning (yang beraneka macam warnanya) ada yang tua dan ada yang
muda (dan ada -pula yang hitam pekat) di'athafkan kepada lafal Judadun, artinya ialah batu-batu yang besar yang hitam pekat warnanya.
Dikatakan Aswadu Gharbiibu, hitam pekat; tetapi sangat sedikit dikatakan Gharabiibu Aswadu.
28 Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang
ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Pengampun.(QS. 35:28)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 28

ع

د

خ

ن

ك

ز

ن

خ

ع

ن

ل

ب

ذ

ط

س

ف

ض

ض

28)
Pada ayat ini Allah SWT menambah menjelaskan lagi tentang hal-hal yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaan Nya Allah SWT
menciptakan binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak, yang bermacam-macam warnanya sekalipun berasal dari jenis yang
satu, bahkan ada binatang yang satu, sering terdapat warna yang bermacam-macam. Maha Suci Allah Pencipta Alam semesta dengan
sebaik-baiknya. Sejalan dengan ini firman Allah SWT:

ن غ ف ضسل غ آ
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. (Q.S. Ar
Rum: 22)
Demikianlah Allah SWT membentang tanda-tanda kekuasaan Nya seperti tersebut di atas untuk dapat diketahui secara mendalam. Dan
hanya ulama lah yang benar-benar menyadari dan mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah, sehingga mereka benar-benar tunduk akan
kekuasaan Nya dan takut akan siksa Nya.
Berkata Ibnu `Abbas: "Yang dinamakan ulama ialah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu". Di
dalam suatu riwayat dari Ibnu `Abbas ia berkata: "Ulama itu ialah orang yang tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu apapun, yang
menghalalkan yang telah dihalalkan Allah dan mengharamkan yang telah di haramkan Nya, menjaga perintah-perintah Nya, dan yakin
bahwa dia akan bertemu dengan Nya yang akan menghisab dan membatasi semua amalan manusia". Ayat ini ditutup dengan suatu
penegasan bahwa Allah SWT Maha Perkasa menindak orang-orang yang kafir kepada Nya. Dia bukan mengazab orang-orang yang beriman
dan taat kepada Nya. Maha Pengampun kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada Nya. Dia kuasa mengazab orang-orang yang
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
selalu berbuat maksiat dan bergelimang dosa, sebagaimana Dia kuasa memberi pahala kepada orang-orang yang takut kepada Nya dan
mengampuni dosa-dosa mereka, maka sepatutnya manusia itu takut kepada Nya.
29 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan
menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam
dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,(QS. 35:29)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 29 - 30
ش

ةن

ش ع ه

ق ص س

ف

ن

ق

ب

ز

س

س ج س

س

ف

ن

ض ه ذ

ض

ه س

ه

30)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang selalu membaca Alquran dan mengamalkan isinya, mengerjakan salat yang
diwajibkan pada waktunya, sesuai dengan cara yang telah ditetapkan, dan dengan penuh ikhlas dan khusyuk, menafkahkan harta bendanya
tanpa berlebih-lebihan dengan ikhlas tanpa ria, baik secara diam-diam atau terang-terangan, mereka itulah ulama yang mengamalkan
ilmunya dan berbuat baik dengan Tuhan mereka. Mereka itu ibarat pedagang yang tidak merugi tetapi memperoleh pahala yang berlipat
ganda, sebagai karunia Allah SWT, berdasarkan amal baktinya. Firman Allah SWT:

ض هذ ض هس ه آ ز أ
Artinya:
Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk
mereka sebagian dari karunia Nya. (Q.S. An Nisa: 173)
Selain dari itu, mereka akan memperoleh ampunan alas kesalahan-kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukannya, karena Allah itu Maha
Pengampun lagi Maha Mensyukuri hamba-hamba Nya, memberikan pahala yang sempurna terhadap amal-amal hamba-hamba Nya,
memaafkan kesalahannya dan menambah nikmat Nya. Sejalan dengan ini firman Allah SWT:

س سف
Artinya:
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Q.S. Asy Syu'ara: 23)
30 agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka
dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.(QS. 35:30)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 29 - 30
ش

ةن

ش ع ه

ق ص س

ف

ن

ق

ب

ز

س

س ج س

س

ف

ن

ض ه ذ

ض

ه س

ه

30)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang selalu membaca Alquran dan mengamalkan isinya, mengerjakan salat yang
diwajibkan pada waktunya, sesuai dengan cara yang telah ditetapkan, dan dengan penuh ikhlas dan khusyuk, menafkahkan harta bendanya
tanpa berlebih-lebihan dengan ikhlas tanpa ria, baik secara diam-diam atau terang-terangan, mereka itulah ulama yang mengamalkan
ilmunya dan berbuat baik dengan Tuhan mereka. Mereka itu ibarat pedagang yang tidak merugi tetapi memperoleh pahala yang berlipat
ganda, sebagai karunia Allah SWT, berdasarkan amal baktinya. Firman Allah SWT:

ض هذ ض هس ه آ ز أ
Artinya:
Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk
mereka sebagian dari karunia Nya. (Q.S. An Nisa: 173)
Selain dari itu, mereka akan memperoleh ampunan alas kesalahan-kesalahan dan kejahatan yang telah dilakukannya, karena Allah itu Maha
Pengampun lagi Maha Mensyukuri hamba-hamba Nya, memberikan pahala yang sempurna terhadap amal-amal hamba-hamba Nya,
memaafkan kesalahannya dan menambah nikmat Nya. Sejalan dengan ini firman Allah SWT:

س سف
Artinya:
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Q.S. Asy Syu'ara: 23)
31 Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al quran) itulah yang benar,
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi
Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.(QS. 35:31)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 31

خ

د ع

ذ

ق ذ

ه ب

ك

ي ز

ش ش31)
Sesungguhnya Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah Kitabullah yang benar-benar diturunkan dari Allah. Oleh
karena itulah Allah mewajibkan kepada pribadi Nabi sendiri dan kepada segenap umatnya untuk mengamalkan ajarannya dan mengikuti
pedoman-pedoman hidup yang terdapat di dalamnya. Bila seorang muslim telah mematuhi secara sempurna ajaran Alquran itu, maka
tidaklah perlu lagi ia mengamalkan kitab-kitab suci sebelumnya, sekalipun diwajibkan untuk mengimaninya. Sebab apa yang pernah
diterangkan dalam kitab-kitab sebelumnya, telah dibenarkan oleh Alquran. Dengan kata lain, beriman dengan kitab-kitab suci yang pernah
diturunkan kepada para Rasul sebelum Nabi Muhammad saw, tidaklah berarti mengamalkan ajarannya, tetapi cukup mengimani
kebenarannya, sebab intisari dari apa yang tercantum dalam kitab-kitab itu telah tertera pula dalam Alquran. Allah Maha Mengetahui
perihal hamba Nya. Allah Maha Teliti akan aturan-aturan hidup yang perlu bagi mereka. Atas dasar itulah Dia menetapkan aturan dan
hukum-hukum yang sesuai dengan kehidupan mereka, di mana dan kapan mereka berada. Guna kesejahteraan manusia seutuhnya Allah
mengutus para Rasul Nya dengan tugas menyampaikan syariatnya, di mana Nabi Muhammad saw adalah Rasul terakhir yang dibangkitkan
untuk sekalian manusia sampai Hari Kiamat. Risalah dan syariat yang dibawanya kekal dan abadi sampai tibanya Hari Kiamat.
Firman Allah SWT:

ع س ع ج ث
Artinya:
Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan (Q.S. Al An'am: 124)
Imam Ibnu Kasir mengomentari maksud pengetahuan Allah yang Maha Luas mengenai perihal hamba Nya itu, ialah Dia meninggikan
derajat para Nabi dan Rasul melebihi manusia keseluruhannya. Bahkan antara mereka (para Nabi) itu sendiri berbeda-beda tingkat
ketinggiannya, di mana kedudukan Nabi Muhammad saw melebihi sekalian para Nabi dan Rasul itu.
32 Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba
Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada
yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan
izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.(QS. 35:32)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 32

ذ

ه

غ

ف

ظ ه

ن د ف

ط ز

ب

ث س

ث ش

ضف

ه ك

ر

ر

ش خ

ع ه32)
Allah mewahyukan Alquran itu kepada Nabi Muhammad saw, kemudian ilmu dan pengetahuan Alquran itu diwariskan Nya kepada hamba-
hamba Nya yang pilihan. Mereka itu adalah umat Nabi Muhammad, seperti yang dinukilkan dari Ibnu `Abbas. Sebab Allah telah
memuliakan umat ini melebihi kemuliaan yang diperoleh umat sebelumnya. Kemuliaan itu tergantung kepada faktor sejauh manakah ajaran
Rasulullah itu mereka amalkan, dan sampai di mana mereka sanggup mengikuti petunjuk Allah (Tafsir Al Khazib Juz: V, hal: 248). Lebih
jauh dijelaskan tingkatan-tingkatan orang mukmin yang mengamalkan Alquran itu, sebagai berikut:
1. Orang yang zalim kepada dirinya. Maksudnya orang yang mengerjakan sebahagian perbuatan yang wajib (menurut hukum agama) dan
juga tidak meninggalkan sebagian perbuatan terlarang (haram).
2. Muqtasid, yakni orang-orang yang melaksanakan segala kewajiban-kewajiban agamanya, dan meninggalkan larangan-larangannya, tetapi
kadang-kadang ia tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang sunah atau masih mengerjakan sebagian pekerjaan-pekerjaan
yang dipandang makruh.
3. Sabiqun bil khairat, yaitu orang yang selalu mengerjakan amalan yang wajib dan sunah, meninggalkan segala perbuatan yang haram dan
makruh serta sebahagian hal-hal yang mubah (dibolehkan).
Menurut Mustafa Al Maragi pembagian di atas dapat pula diungkapkan dengan kata-kata lain, yaitu:
1. Orang yang masih sedikit mengamalkan ajaran Kitabullah dan terlalu senang memperturutkan kemauan nafsunya, atau orang yang masih
banyak amal kejahatannya dibanding dengan amal kebaikannya.
2. Orang yang seimbang antara amalan kebaikan dan kejahatannya.
3. Orang yang terus menerus mencari ganjaran Allah dengan melakukan amal-amal kebaikan.
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
Para ulama ahli tafsir telah meriwayatkan beberapa hadis sehubungan dengan maksud di atas, antara lain ialah:
1. Hadis Rasulullah riwayat Al Bagawy dari Abu Darda', di mana setelah beliau membaca ayat 32 surat Fatir di atas bersabda:

ز ,ش غ غ ع ز كئ أ ذ ق ز .بغ ش غ ة ج ذ ز كئ أ ش خ ع ز أ
غ ف ن ظ س ض هر يز ذ ث .ة ج ذ ض ه ك ر غ ز كئ أ
)ذ س س سف غ
Artinya:
Adapun orang yang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan mereka akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan), sedang orang-orang
pertengahan (muqtasid) mereka akan dihisab dengan hisab yang ringan, dan orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri mereka akan
ditahan dulu di tempat (berhisab nya), sehingga ia mengalami penderitaan kemudian dimasukkan ke dalam surga. Kemudian beliau
membaca "Alhamdulilldhil lazi azhaba annal hazana inna rabbana lagafurun syakur". (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan
duka cita dari kami, sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri). (H.R. Ahmad)
Warisan mengamalkan kitab suci dan kemuliaan yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad itu merupakan suatu karunia yang amat
besar dari Allah, yang tidak seorang pun dapat menghalangi ketetapannya itu.
33 (Bagi mereka) syurga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan
dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah
sutera.(QS. 35:33)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 33 - 34
ش

ش ه ه ع

ه

ر س

ع

ه

هن

ذ

ذ

س

س

ف غ

س

ض

ه

ر

ي ز

ذ

ق

34)
Kemudian Allah menerangkan pahala yang akan diterima orang mukmin di atas yakni surga `Adn, tempat tinggal abadi buat selama-
lamanya, yang akan mereka diami kelak di Hari Akhirat ketika mereka telah menghadap Tuhan Rabbul Alamin. Mereka dianugerahi
perhiasan yang terbuat dari emas, dan pakaian yang dibikin dari sutera. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

.ض غ ث ة غ
Artinya:
Sebagian dan orang mukmin itu akan memperoleh perhiasan (di surga) diletakkan pada anggota badan yang kena (air) wudu. 101) Juga
diriwayatkan bahwa Abu Umamah mendengarkan penjelasan dari (H.R. Bukhari)
Rasulullah tentang pakaian orang dalam surga ujarnya:

ك دش دش ب ج ج ه ة قأ سد ه سذ ة ةضف هز سغ
Artinya:
Mereka diberi kalung emas dan perak yang bertaburkan mutiara dan kalung bunga yang terbuat dari mutiara dan permata yakut berantai
(kepalanya) dihiasi mahkota seperti mahkota raja. Mereka (kelihatan) muda, tidak berjenggot dan berkumis, dan mata mereka bercelak.
Atas anugerah Allah yang berlipat ganda itu, mereka memuji kebesaran Tuhan dan bersyukur atas selamatnya mereka dari kesedihan dan
kepedihan. Ibnu Abbas mengartikan kesedihan (hazan) itu dengan api neraka, karena kepedihan akibat dosa atau kepedihan akibat hebatnya
siksaan di padang mahsyar. Lepasnya mereka dari segala siksaan dan ketakutan adalah semata-mata karena ampunan Allah bagi orang yang
berbuat kesalahan (dosa) dan balasan syukur bagi orang yang selalu menaatinya. Dan diriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Umar berbunyi:

ذ هع س بش ض هأ نأ هس ن هس ق ة ه ظ يز
.س سف غ س ض هر
Artinya:
Orang (yang selalu mengucapkan): "La ilaha illallahu", tidak akan merasa kesepian di dalam kuburnya, demikian juga pada hari berbangkit.
Seolah-olah aku (Muhammad) berada dengan mereka di mana mereka membersihkan kepalanya dari tanah/debu, dan mereka berkata:
"Segala Puji bagi Allah yang telah melenyapkan kedukaan dari kami!. Sesungguhnya Tuhan kami Maha Pengampun lagi Maha
Mensyukuri".
Ringkasnya mereka terlepas dari segala ketakutan dan siksaan yang telah diancamkan pada orang-orang yang berdosa akibat bisikan dan
rayuan setan ketika hidup di dunia ini.
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
34 Dan mereka berkata:` Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.
Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.(QS. 35:34)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
35 Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (syurga) dari karunia-Nya; di dalamnya
kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu `.(QS. 35:35)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 35
ب

غ

ه غ

ن ه غ

ض ة

س د

ي ز

35)
Orang yang telah memperoleh nikmat dari Allah itu menyadari bahwa semua pemberian tersebut adalah semata-mata karena kasih sayang
Allah juga. Tidaklah seimbang =besarnya pemberian Allah itu dengan amal perbuatan baik yang mereka kerjakan. Oleh karena itu
masuknya orang-orang mukmin ke dalam surga, sama sekali bukanlah karena amal kebaikan yang mereka kerjakan, tetapi adalah karena
rahmat dan karunia Allah bagi orang yang mematuhi perintah Nya.
Rasulullah Saw bersabda:

خ س .ض ش ع ذغ ن ق ? ع س ن ق .ة ج ذ ذ س )ي
Artinya:
Tiadalah salah seorang di antara kamu masuk surga karena amal perbuatannya. Mereka (para sahabat) bertanya, apakah engkau juga tidak
begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: "Aku juga tidak, melainkan karena Allah memberi rahmat dan karunia kepadaku. (H.R.
Bukhari dan Muslim)
Di surga itu mereka tidak memenuhi kesulitan atau rintangan lagi sebagaimana yang mereka rasakan dalam kehidupan di dunia ini. Mereka
juga tidak merasa lelah dan letih. Semuanya terasa nikmat dan menggembirakan.
Ringkasnya surga itulah tempat nikmat yang kekal dan abadi, di mana penghuninya dapat menikmati kesenangan itu sebagai ganjaran
kepatuhan dan ketaatan mereka di dunia ini. Allah berfirman:

ة خ ل ف ع ئ ه ش
Artinya:
(Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu".
(Q.S. Al Haqqah: 24)
36 Dan orang-orang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga
mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas
setiap orang yang sangat kafir.(QS. 35:36)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 36

ز ه

ز ه

ف خ

ه

ض

ه سن ه

شف ز

س

ف

ي

ض جن ك36)
Orang-orang kafir yang senantiasa menyembunyikan kebenaran agama yang telah diperoleh buktinya oleh akal mereka, baik dari
keterangan ayat-ayat Alquran maupun melalui hasil pemikiran yang mendalam, bagi mereka itu disediakan Allah neraka Jahanam. Keadaan
mereka di sana antara hidup dan mati. Mungkin kematian lebih baik kiranya dari pada menanggung kesengsaraan serupa itu, tapi Allah
sengaja menetapkan siksaan demikian sebagai balasan kejahatan yang mereka lakukan. Dalam surat Al A'la ayat 13 ditegaskan bahwa
keadaan mereka tidak mati dan tidak hidup, sebagai tafsiran dari lafal "tidak ditetapkan kematian atas mereka". Di samping itu dijelaskan
bahwa azab neraka Jahanam tidak pula dikurangi kehebatannya, sekalipun manusia-manusia malang yang sedang mengalami siksaan di
sana menjerit-jerit minta tolong. Ada keterangan dari ayat lain yang menggambarkan bahwa kematian adalah sangat mereka harapkan dari
pada keadaan mereka antara hidup dan mati", harapan kematian itu disimpulkan dari makna yang terkandung dalam ayat:

ث ن ق ك س ك د ن
Artinya:
Mereka berseru: "Hai Malik (Malaikat penjaga neraka), biarlah Tuhanmu membunuh kami saja "Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal
(di neraka ini). (Q.S. Az Zukhruf: 77)
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
Tentang siksaan yang tidak diringankan itu malah makin ditambah lagi, juga diperoleh penjelasan dalam ayat lain, misalnya:

غ ه ر ذ ذ بز ر ه ر
Artinya:
Hingga apabila kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada azab (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa. (Q.S. Al
Mu'min: 77)
Dan firman Nya:

ز ذ ض ن قز
Artinya:
Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepadamu selain daripada azab. (Q.S. An Naba' : 30)

ع ع ه ندص ه هأ هه ة هش ن س
Artinya:
Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada Hari Kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat
kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. (Q.S.
Al Isra': 97)
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis tentang keadaan orang-orang kafir yang berbunyi sebagai berikut:

. ه ه ه ز س ه
Artinya:
Adapun penghuni neraka di mana mereka sebagai penduduknya tidaklah mereka mati dan juga tidak hidup.
Siksaan demikian itu balasan yang pantas bagi setiap orang yang mengingkari nikmat Allah, tidak mengakui ke Maha Esaan Nya dan tidak
percaya kepada Rasul yang diutus Nya.
37 Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:` Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami
akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan `. Dan apakah
Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang
mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah
(azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.(QS. 35:37)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 37

ش

ع

ن

عن

ي ز

ش

عن

ش

س ه

ش

ط ه

ش ن

ق

ز ش ز

ش

ز

ش

ز37)
Lebih lanjut diterangkan, bahwa yang bernasib malang itu memohon kepada Tuhan agar dilepaskan dari azab itu dan dikembalikan ke dunia
lagi. Mereka berjanji akan menaati Allah yang selama itu mereka lalaikan. Akan tetapi andaikata permohonan demikian itu dikabulkan (dan
ini tidak mungkin sama sekali) tentulah mereka akan mengulangi kembali pekerjaan lama yang terlarang. Pekerjaan yang mereka sesali dan
pernah mereka kerjakan di dunia dulu adalah perbuatan syirik dan segala perbuatan jahat lainnya. Allah menjawab dan menghardik mereka
dengan ucapan yang menghina, bahwa di dunia dulu kepada mereka telah diberikan kesempatan hidup dengan umur yang cukup panjang
untuk memperbaiki kesalahan dan menerima kebenaran yang disampaikan Rasul selaku orang yang memberi peringatan. Dengan kata lain
permohonan demikian tidak diterima Allah sama sekali. Ayat lain menyatakan:

ه غ ق ظ ن نذ ه ش س
Artinya:
Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari padanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran),
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim". Allah berfirman: "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara
dengan Aku. (Q.S. Al Mu'minun: 107-108)
Allah SWT berfirman:

ض ع دش ه بزع سس ىش ذع
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
Artinya:
Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang
zalim ketika mereka melihat azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia) ?. (Q.S. As Syura: 44)
Tentang kadar umur yang dimaksudkan dalam ayat ini, Ibnu Abbas menerangkan ada yang mengatakan 40 tahun, dan ada yang mengatakan
60 tahun. lbnu Kasir dalam tafsirnya memilih riwayat yang paling sahih dari Ibnu `Abbas yakni 60 tahun. Demikian pula hadis riwayat
Imam Ahmad dari Abi Hurairah.
Di antara sekian banyak lafal hadis itu, ada yang berarti sebagai berikut: Adapun orang yang memberi peringatan yang disebutkan dalam
ayat ini adalah Nabi Muhammad saw sendiri yang mengajarkan Kitabullah kepada umatnya, mengancam mereka dengan siksaan yang
pedih bagi siapa yang tidak patuh kepada perintah Nya dan tidak mau menaati Nya. Ringkasnya permohonan mereka itu tidak dikabulkan
Allah (untuk kembali ke dunia) ialah karena dua hal. Pertama karena mereka (rata-rata) telah diberi kesempatan untuk hidup begitu lama
antara 60-70 tahun, dan kedua, Rasul sudah diutus kepada mereka untuk menyampaikan ajaran-ajaran dan peringatan-peringatan dari
Tuhan.
Perhatikanlah firman Allah SWT:

ش ز ن أ ه نض ه أع ج ه ع غ ض د
Artinya:
Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah karena marah setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-
penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?. (Q.S. Al
Mulk: 8)
Pengarang Tafsir Al Wadih mengatakan, di samping nazir (pemberi peringatan) dalam ayat ini berarti Rasulullah yang membawa Alquran,
boleh pula diartikan sebagai umur tua dan kematian. Dan memang umur dan kematian tersebut adalah peringatan serius bagi manusia
bahwa sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia yang fana ini, dan diwajibkan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Jelaslah
bahwa orang-orang kafir di atas kekal di dalam neraka dan tidak dikeluarkan selama-lamanya. Azab nerakalah yang mereka rasakan selalu
sepanjang masa sebagai imbalan yang setimpal bagi orang yang zalim yang tidak man tunduk kepada ajaran Rasul sebagai utusan Tuhan
dalam kehidupan duniawinya. Dan ayat ini menegaskan jangan diharap mereka akan memperoleh penolong yang akan menyelamatkan
mereka dari azab neraka, dari rantai dan belenggu yang terbuat dari api neraka.
38 Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui segala isi hati.(QS. 35:38)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 38

س ذ

ز

ن

ض س

ل

غ

38)
Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar orang-orang musyrik itu diberi peringatan keras bahwa Allah Maha Mengetahui
segala apa yang mereka sembunyikan, Maha Mengetahui perasaan yang terkandung dalam hatinya Maha Mengetahui rencana apa yang
akan mereka kerjakan. Allah pulalah yang mengetahui segala yang tak terlihat oleh pancaindera manusia baik yang ada di langit maupun di
bumi. Oleh karena itu hendaklah orang-orang musyrik itu merasa takut kepada Tuhan, sebab segala gerak gerik mereka di bawah
pengawasan Nya. Segala apa yang mereka rencanakan untuk menipu Rasul melenyapkan kebenaran agama Nya di bumi ini, atau usaha-
usaha dan ikhtiar mereka untuk membantu sekutu-sekutu mereka dalam menuhankan berhala, pasti diketahui Allah. Ringkasnya Dialah
Yang Maha Mengetahui segala perasaan yang terkandung dalam hati sanubari manusia, dan amal perbuatan apa saja yang mereka kerjakan.
Lafal "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada manusia", mengisyaratkan kepada pengertian sekalipun orang-orang
kafir diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, namun mereka tidak akan meninggalkan kekafirannya. Karena itu sia-sia Allah
memanjangkan umurnya melebihi dari apa yang telah ditakdirkan Nya.
39 Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka
(akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak
lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang
kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.(QS. 35:39)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 39

ه ش

ف

ش

ذ

ض

ش

ف

ع شف

ض س

ل

ع ي ز

ه س غ

ه ش

ف

ش

ذ

ض

ه س ذ39)
[TAFSI
R] :
FAAT
HIR
Ayat [45]

Hal:2/3
Alasan dari kepercayaan bahwa Allah Maha mengetahui ialah ayat 39 ini, yang menegaskan bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah di
muka bumi. Sebagai khalifah yang dapat diartikan sebagai penguasa. Manusia diberi kemampuan untuk memanfaatkan alam ini dengan
sebaik-baiknya guna kesejahteraan hidup mereka jua. Semuanya dengan tujuan agar mereka insaf siapakan mereka itu yang sebenarnya.
Rasa keinsafan demikian insya Allah akan mendorong untuk mensyukuri segala nikmat-Nya yang tidak terhingga itu, mengesakan Nya dari
segala perbuatan dan kepercayaan yang berbau syirik, Serta menaati segala perintah Nya. Semakin bertambah rasa kekafiran itu dalam
lubuk hati mereka, makin bertambah pula kemarahan dan kemurkaan Allah. Akan tetapi tidaklah berarti bahwa hal demikian akan
mengurangi kebesaran dan keagungan Allah, sebab untuk keagungan dan kemuliaan Allah, Dia tidak memerlukan puji dan syukur manusia,
seperti bunyi ayat:

ذ شف غ ف ش ن ش
Artinya:
Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah). maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak
bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S. Luqman: 12)
Sebaliknya kerugian jualah yang akan menimpa mereka di hari akhirat kelak, seandainya mereka tidak mau kembali ke jalan yang benar,
dan tetap berada dalam kekafiran. Kerugian mana antara lain kekalnya mereka dalam siksaan api neraka Jahanam seperti diuraikan di atas.
Sengaja kalimat "tidaklah menambah kekafiran itu bagi orang-orang kafir" disebutkan dua kali karena mengandung maksud, bahwa kafir
yang menimbulkan kemarahan Allah dan kafir yang mendatangkan kerugian, keduanya terpisah dan mengandung makna sendiri-sendiri.
40 Katakanlah:` Terangkanlah kepadaku-xx tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain
Allah. Perlihatkanlah kepadaku-xx (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka
ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami
memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan
yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak
menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka `.(QS. 35:40)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 40
ه

ض س

ل

ر

ن س

د ذ ز

ش

س

ق ع ه ض ع

ذ ع

ة

ه ه آ

غ ش

ض س ش

(40)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar mengajak orang-orang musyrik itu untuk sekadar berdialog menjajaki jalan
pikiran mereka yang salah. Apa sebabnya orang-orang musyrik itu meminta pertolongan kepada patung dan berhala yang mereka
persyarikatkan kepada Allah. Dan adakah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa patung-patung dan berhala itu menciptakan manusia atau
binatang. sehingga patung-patung dan berhala itu pantas disembah. Orang-orang musyrik Quraisy itu tidak paham benar akan hakikat tuhan
mereka, betapa dan bagaimana keadaannya. Seandainya mereka menyadari bahwa tuhan-tuhan mereka itu tidak sanggup berbuat apa-apa,
tentulah mereka tidak menyembahnya. Tetapi sebaliknya kalau memang betul berhala-berhala itu mempunyai kekuatan (untuk mencipta)
tentulah mereka mampu memperlihatkan hasilnya. Demikian juga, apabila Allah mempunyai syarikat dalam menciptakan langit, sehingga
syarikat itu disembah seperti yang mereka duga. Ataukah ada sesuatu kitab suci (yang benar isinya) yang dapat menguatkan dalil-dalil
tentang adanya sekutu bagi Tuhan itu? Ringkasnya Nabi Muhammad saw memberi kesempatan kepada kaum musyrikin agar
mengemukakan alasan-alasan penyembahan mereka terhadap patung-patung dan berhala yang disembah itu. Terutama kemampuan tuhan-
tuhan itu untuk menciptakan makhluk, sehingga ia berhak disembah dan dipersyarikatkan dengan Allah dalam soal penciptaan. Oleh karena
memang kepercayaan demikian hanya semata-mata warisan dan nenek moyang mereka belaka (lihat surat Al Baqarah ayat 170), maka tiada
satu alasan yang dapat mereka kemukakan, baik alasan yang diterima dari para ahli (naqli) maupun alasan logika (aqli). Di mana pun tidak
pernah ada dijumpai suatu kitab suci yang menyerukan manusia menyembah berhala, sebab semuanya hanyalah imajinasi dan khayalan
orang-orang dahulu saja. Setelah Alquran menyalahkan dan mematahkan jalan pikiran mereka, dan bahwa apa yang mereka turuti itu adalah
jalan pikiran pemimpin-pemimpin mereka yang sesat, maka tentulah pendapat mereka batil dan membawa kepada kesengsaraan.
Home » Raddusy Syubuhat » Umat Islam Bukan Umat yang Terbelakang
Umat Islam Bukan Umat yang Terbelakang
posted by Al-Ikhwan.net August 20, 2008 Raddusy Syubuhat
Dalam kehidupan umat saat ini, terutama kalangan Barat dan orang-orang yang berfikiran
kebarat-baratan; kebanyakan dari mereka memandang bahwa Islam dan kaum muslimin
memiliki penilaian yang hampir merata walaupun memiliki keragaman dalam memberikan solusi
dan cara menanggulanginya, perangkat yang digunakan dan tujuan yang ingin diraih; yaitu
bahwa umat Islam yang selalu menyeru untuk kembali kepada Aqidah yang lurus dan bersih, dan
agama yang benar, berhukum kepada syariat Allah dalam segala urusannya, tidak memiliki
wawasan dan pandangan politik yang mumpuni, tidak memiliki program yang jelas terhadap
permasalaan ekonomi, sosial, politik, pembangunan dan pendidikan…dst, sebagaimana yang
terjadi di tengah masyarakat Islam saat ini.
Bahwa pandangan dan wawasan yang diajukan oleh sebagian umatnya hanyalah sekedar
slogan dan hanya sekedar ceramah umum dari suatu program dan pelajaran yang selalu
diulang dan telah usang. Walaupun mereka dapat meraih simpati di tengah masyarakat, namun
pada hakikatnya adalah merupakan kemunduran, kemorosotan dan kehancuran sehingga dapat
menghilangkan prestasi peradaban yang ada, kembali pada zaman badui, lemah dalam
berinteraksi terhadap permasalahan kontemporer yang membutuhkan penyelesaian secara
kongkrit dan wawasan yang cemerlang. Sehingga walaupun mereka memaparkan sebagian etika
politik seperti orang lain dengan pendekatan nilai-nilai Islam, dan menuntut untuk diberikan hak
mereka untuk berperan aktif dalam teknik dan kesadaran politik. Namun bersamaan dengan itu,
mereka akan ditolak dan dituduh bahwa yang demikian merupakan tipu daya belaka yang hanya
bertujuan untuk mengambil/mencari kekuasaan di tengah masyarakat, dan kepemimpinannya
akan selalu diwarnai dengan otokrasi politik, teror ideologi, dan mengingkari setiap slogan dan
syiar yang disebarkan sebelum mencapai tampuk kekuasaan. Mereka tidak akan pernah tinggal
diam melakukan dan menyebarkan isu dengan berbagai bentuk yang menyesatkan dan dibuat-
buat; ekstrim, bom bunuh diri (pengeboman secara brutal) yang -padahal- pelakunya adalah
musuh Islam itu sendiri yang telah ditugaskan kepada para pesuruh bayaran untuk melakukan
kekacauan. Karena konsep yang busuk tersebut merupakan salah satu bentuk untuk mengaburkan
ajaran Islam, menakut-nakuti kaum muslimin yang lain dan menghantam para aktivis gerakan
Islam.
Nampaknya penyembelihan ruh ektstrimisme dan intimidasi, dan membentuk opini dalam
pengkaburan nilai-nilai sampai saat ini telah membuahkan hasil; baik nasional maupun
internasional, dilihat dari pencapaian dan usaha mereka yang tidak hanya menghancurkan umat
dan memeranginya, namun lebih dari itu; untuk mencapai ambisi mereka dan cita-cita yang
selalu didengungkan; pelestarian kekuasaan dan hukum di tengah kancah perpolitikan dunia.
Bagi kalangan Islam ada yang menganggap perwujudan niat mereka sudah pasti bertentangan
dengan slogan yang selalu didengungkan; demokrasi, sekularisasi dan liberalisasi…dst, namun
kelompok politik lainnya tidak menganggap tindak tanduk mereka yang jelas merupakan
kediktatoran, repressive, melanggar Hak Asasi Manusia dan bagian dari terror politik dan
ideology di bawah slogan pembohong, seperempat lebih utama daripada kejujuran namun
berbahaya.
Secara umum problema ini tidak keluar dari kebanyakan orang, namun tidak seluruhnya
memusuhi dan membenci Islam dan umat Islam, seperti para budayawan dan politikus yang
bekerja dalam negeri Islam untuk kebaikan. Adapun mereka yang lalai yang dikuasai oleh ruh
jahat akan selalu berjalan dibelakang orang-orang yang jahat, maka permasalahan mereka akan
berbada.
Dan dari itulah perlu ada perenungan walaupun hanya sebentar/sekejap terhadap fenomena
tersebut, lalu mengemukakan sebagian solusi/arahan yang dapat dijadikan saham untuk
menampakkan bentuk yang sebenarnya, walaupun sifatnya hanya sederhana yang tidak
memakan waktu yang lama dan dan tidak membutuhkan ruangan yang begitu besar.
Adapun tuduhan bahwa umat Islam tidak memiliki wawasan yang cemerlang/jelas dan tidak
memiliki program yang akurat untuk bisa disampaikan kepada yang lainnya dan pada
akhirnya mereka dapat memberikan ketentraman terhadap masa depan umat yang
berada dibawah naungan Islam dan memberikan rahmat kepada seluruh umat manusia, oleh
karena Islam merupakan agama untuk seluruh manusia bukan untuk satu kelompok atau
jama’a.. Bole jadi keterangan tersebut merupakan keberanan yang mengara pada
kebatilan. Hakekatnya adalah harus dilihat lebih akar permasalahan dari berbagai segi; sebagai
usaha untuk mensederhanakan masalah ini secara baik.
Anggapan bahwa umat Islam tidak memiliki sisi pandang yang jernih dan program yang jelas
dalam menghadapi suatu permasalahan yang sedang dihadapi oleh umat –yang mana pada
hakekatnya merupakan rekayasa orang lain, yang boleh jadi hal ini terlahir karena jauhnya nilai-
nilai dan dhowabith umat islam dari pangkalnya, dan menimpor solusi dari luar Islam- tidak
berarti orang lain yang menuduhkan Islam demikian memiliki pandangan dan program yang
baik, kecuali kalau kita menganggap bahwa pemindahan kebudayaan, peradaban, dan sistem-
sistem yang lainnya, yang dapat memberikan keistimewaan kepadanya, yang boleh jadi dia juga
tidak lebih baik dari sisi lain walaupun berbicara atas namanya sendiri, namun sekedar
menunjukkan kebanggaan terhadap prestasi yang diraih, yang kalau lepas dan jauh darinya
mungkin tidak akan terjadi. Maka yang demikian itu merupakan keadaan yang paling buruk dari
umat Islam, yang sebenarnya mereka lebih membutuhkan wawasan dan program, karena mereka
lebih membutuhkan dan lebih buruk kondisinya.
Jika kita bertanya apa programnya? tentunya kita tidak akan merasa malu menyebutkan bahwa
keberhasilan orang lain yang merasa bangga terhadap apa yang mereka miliki untuk membuat
gentar negara Islam adalah merupakan suatu kebohongan dan kedustaan. Kebanggaan dan
kecaman ini, yang menyebabkan terjadinya musibah dan kesengsaraan terhadap umat,
karena mereka -orang-orang barat dan sekularis- datang dengan berusaha mengubah aqidah dan
syariat Islam. Dan pada realitanya merupakan saksi pelecehan dimana umat Islam telah
tenggelam dalam hutang dan permasalahan yang beragam.
Kalaulah kita mau melakukan balance dan perbandingan sederhana, kita dapat mengatakan :
bahwa jika kita kembalikan pada permasalahan yang sebebnarnya bahwa umat Islam tidak
memiliki wawasan yang cemerlang dan program yang jelas, hal ini merupakan permasalahan
tersendiri, maka yang lainnya pun sebenarnya tidak lebih baik dari sebelumnya, namun boleh
jadi mereka lebih buruk, karena mereka telah meninggalkan peradaban dan kebudayaan mereka,
akibat lemahnya mereka dalam melahirkan, mencipta dan mengembangkannya, bahkan secara
sadar mereka rela mengekor pada kebudayaan dan peradaban orang lain, tanpa memiliki
kemampuan untuk membedakan antara yang kurus dan yang gemuk. Bahkan bisa disimpulkan
: hal tersebut terjadi disebabkan oleh tabiat kelemahan dan pendidikan mereka yang terbelakang,
sehingga sulit bagi mereka untuk penelitian terhadap sesuatu yang mahal namun cukup dengan
yang murah. Maka dari itu, agama mereka sebenarnya menghancurkan jati diri mereka, dan
menggembosi ruh yang hina dan rendah di tengan umat yang lainnya.
Adapun kaum muslimin, cukuplah bagi mereka menjadi opitionedness diri, lalu
mempertahankannya, dan mempokuskan diri pada karakteristik peradaban yang klasik,
experimen yang gemilang, berperan serta dan memberikan masukan dalam berbagai segi
kahidupan, dan berusaha mengembalikan peranan mereka sebagai tauladan dam saksi atas umat
yang lain dan memimpin mereka; yaitu dengan segala sesuatu yang mereka miliki dari
pengetahuan, peradaban dan kebudayaan. Walaupun -kadang kala- mereka memiliki
keberhasilan namun -kadang kala pula- mengalami kegagalan, namun secara umum mereka telah
memilih jalan yang benar, meskipun langkah mereka belum begitu jauh sebagaimana mestinya
yang disebabkan oleh diri mereka sendiri –pertama-, dan adanya rintangan dan cobaan yang
diimpor dari musuh-musuh Islam dimana mereka telah menjembataninya ke tengah dunia Islam.
Sedangkan point lainnya yang menjadi keharusan untuk ditunjukkan sebagai bahan pembicaraan
: bahwa kaum muslimin tidak pernah maju dalam kehampaan seperti yang terjadi di masa lalu,
namun mereka selalu memusatkan fikiran untuk menegakkan peradaban, yang keberadaannya
diakui dalam berbagai segi; politik dan budaya serta ekonomi, sebagaimana mereka memusatkan
diri pada pengerahan fikiran (ijtihad) dan experimen yang terprogram dan beragam pengalaman
lainnya sesuai kemampuan mereka, jika mereka berazam untuk melakukan dan menentu suatu
perkara dalam rangka menciptakan dan melahirkan sesuatu yang baru; mereka mengedepankan
program yang terpokus pada nilai-nilai yang akurat, tidak seperti yang lainnya, yang jauh dari
nilai-nilai sehingga dapat program sirna secara bersamaan dengan apa yang ingin mereka
lahirkan dan cetuskan. Karena itu kelompok manakah yang lebih utama untuk dicerca dan diikuti
?
Pertanyaan yang terlintas adalah : sampai dimana intropoksi kaum muslimin dan agama Islam
saat ini, dalam membuat solusi terhadap segala permasalahan yang muncul selain karena adanya
sebab-sebab internal? Apakah yang demikian dapat memaafkan mereka dari melakukan
perbuatan membuat program dan pemisahan terhadap realita yang terjadi di tengah umat?
Demikianlah permasalahan yang harus dilontarkan dari segala aspeknya untuk dicari solusinya
dan pandangan yang memungkinkan untuk berinteraksi bersamanya.