Anda di halaman 1dari 3

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan granul instant.

Pembuatan granul instant ini
menggunakan metode granulasi basah. Granulasi basah yaitu memproses campuran partikel zat
aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam
jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya
digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang
sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik.
Pada praktikum ini pembuatan granul instant menggunakan formula :
- Jus Buah Jambu 200 ml
- Laktosa 210 g
- Na-cmc 100 g
- Asam Benzoat 80 mg
- Vitamin C 10 g
- Sukrosa Serbuk 65 g
- Sorbitol 50 ml
- Asam Sitrat 100 mg
- Na-bikarbonat 380 mg
- Nacl 65 mg
Formula tersebut dibuat dengan cara granulasi instan. Disebut granulasi instan berdasarkan
pada saat proses granulasi tidak langsung mencampurkan zat aktif yang dituju, melainkan
langsung mencampurkan buah-buahan ataupun sayur-sayuran yang mengandung zat aktif .
Jus buah mangga sebanyak 200 ml dimasukkan ke dalam beaker gelas. Kemudian
dimasukkan 80 mg asam benzoate, 50 mg Natrium CMC lalu diaduk sampai semua bahan
tercampur dan menjadi homogen. Penambahan Na-cmc sebagai bahan pengikat pada proses
granulasi instan ini. Fungsi sebagai pengisi untuk menambah massa granul yang akan dicetak
dan fungsi sebagai pengikat untuk mengikat zat aktif dan zat pengisi sehingga dapat tercampur
dengan homogen. Setelah itu, ke dalam jus buah mangga ditambahkan 50 ml sorbitol dan diaduk
sampai homogen. Penambahan sorbitol digunakan sebagai suatu humektan (pelembab) pada
berbagai jenis produk sebagai pelindung melawan hilangnya kandungan moisture. Dengan sifat
tekstur dan kemampuan untuk menstabilisasi kelembaban, sorbitol banyak digunakan untuk
produksi permen, roti dan cokelat dan produk yang dihasilkan cenderung menjadi kering atau
mengeraskan.
Jus buah mangga yang telah dicampur dengan bahan-bahan fase dalam dipanaskan pada suhu
70-80
0
C di atas pemanas kemudian didinginkan. Kemudian dipanaskan, dan didinginkan
kembali. Seterusnya dilakukan sampai 3 kali. Hal tersebut dilakukan agar tercapai massa
mucilago yang kental. Setelah itu, jus buah mangga ditimbang bersama beaker glass dan batang
pengaduk dan diperoleh massa sebesar 535,5 gr. Penimbangan dilakukan agar diperoleh massa
jus buah mangga yang terpakai saat granulasi basah.
Kemudian dipersiapkan baskom yang sudah mengandung 210 gr laktosa. Jus buah mangga
yang telah menjadi massa mucilago perlahan-lahan dimasukkan ke dalam baskom dalam jumlah
yang sedikit demi sedikit. Setelah dimasukkan, diaduk dengan tangan hingga memperoleh massa
yang dapat dikepal. Kemudian sisa jus buah mangga ditimbang ditimbang bersama beaker glass
dan batang pengaduk dan diperoleh massa sebesar 488,6 gr. Maka dapat diketahui massa jus
buah mangga yang terpakai dalam proses granulasi basah, yaitu dari pengurangan jus buah
mangga sebelum granulasi basah dan setelah granulasi basah, dan diperoleh massa sebesar 46,9
gr. Penambahan laktosa bertujuan untuk membantu mengikat air dimana membantu proses dalam
pembuatan granulasi.
Setelah terbentuk massa yang dapat dikepal, massa granul diayak menggunakan mesh no
10 untuk meningkatkan luas permukaan kontak dan untuk memudahkan pengeringan. Setelah
diayak, kemudian dikeringkan dengan oven selama 18 - 24 jam. Pengeringan tidak boleh
dilakukan pada suhu yang terlalu tinggi karena dapat merusak granul dan juga tidak terlalu
rendah karena tidak sepenuhnya kering dan dapat mengganggu pada hasil akhir. Setelah granul
kering, diayak kembali dengan ayakan nomor 16 mesh untuk menyeragamkan ukuran partikel.
Setelah diayak, massa granul ditimbang kembali dan diperoleh massa sebesar 133,2 gr.
Kemudian dari granul kering tersebut diambil 10 gr untuk uji loss on drying.
Kemudian granul dibagi menjadi 2, campuran pertama dicampur dengan asam sitrat dan
vitamin C sedangkan campuran ke dua dicampur dengan natrium bikarbonat, NaCl dan sukrosa.
Setelah kedua campuran tersebut masing-masing sudah tercampur secara homogen kemudian
kedua campuran tersebut digabungkan hingga homogen. Maksud dari pencampuran ini adalah
untuk membuat hasil granul yang bersifat buffer dimana merupakan campuran dari asam lemah
yaitu asam sitrat dengan basa lemah yaitu natrium bikarbonat dimana sifat asam lebih dominan
dikarenakan adanya penambahan vitamin C.