Anda di halaman 1dari 6
Program Studi Teknik Geodesi,Universitas Diponegoro Jurnal Bersama Kuliah Pengolahan Citra Digital Semester Genap 2013 - Analisis Kerapatan Vegetasi Untuk Lahan Pertanian Dengan Metode NDVI (Studi Kasus : Provinsi Jawa Tengah) Maulvi Surya G ,Putri Mariasari Sukendar ,Annisa Usolikhah ,Dita Rizki A Program Studi Teknik Geodesi, Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Sudarto, SH, Tembalang, Semarang, Telp,/Fax (024) 76480788 Email : geodesi@undip.ac.id Abstrak Konsevasi lahan tidak hanya berpengaruh terhadap produksi pangan tetapi hilangnya investasi untuk membangun infrastruktur. Menurut Sumaryanto dan Tahlim Sudaryanto dari Pusat Studi Sosial Ekonomi IPB, nilai investasi perhektar sawah pada tahun 2000 lebih dari Rp. 25 juta dan tahun 2004 mencapai Rp.42 juta, jika biaya pemeliharaan system irigasi dan pengembangan kelembagaan pendukung juga diperhitungkan maka investasi yang dibutuhkan dan hilang untuk mengembangkan ekosistem sawah akan mencapai lima kali lipat dari investasi tersebut. Kerugian lain akibat alih fungsi adalah hilangnya hamparan efektif untuk menampung kelebihan air limpasan yang bias membantu mengurangi banjir. Di Jawa Tengah alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan industri dan properti semakin meningkat dan memperihatinkan. Hal ini tentu menjadi catatan penting untuk pemerintah daerah, hal ini disebabkan karena kurangnya monitoring lahan pertanian. Sehingga Untuk penjagaan aset di bidang pertanian di Provinsi Jawa Tengah perlu dilakukan monitoring secara serius, sehingga kondisi lahan pertanian bisa tetap terkontrol Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga aset di bidang pertanian yaitu salah satunya dengan analisis kerapatan vegetasi menggunakan metode NDVI. Metode ini digunakan untuk mengetahui nilai kerapatan vegetasi (indeks vegetasi) sehingga luasan lahan setiap jeda tahun tertentu bisa dilihat perubahannya. Adapun metode NDVI ini dilakukan dengan menggunakan sumber data citra landsat 8 tahun 2011 , software ENVI.4.6.1 dan ArcGis 9.3. Keluaran yang dapat dihasilkan berupa peta kerapatan vegetasi Jawa Tengah. Kata Kunci : NDVI, Kawasan Lahan Pertanian, Citra Satelit Landsat Program Studi Teknik Geodesi,Universitas Diponegoro Jurnal Bersama Kuliah Pengolahan Citra Digital Semester Genap 2013 - I. PENDAHULUAN I.1. Latar belakang Pada tahun 2008 Penggunaan lahan yang paling besar di Provinsi Jawa Tengah adalah lahan pertanian yang mencapai 1.728.501 ha atau 53,12% dari luas wilayah Jawa Tengah terdiri dari Lahan Sawah seluas 990.824 Ha dan Lahan Tegal/Kebun seluas 737.677 Ha. Akan tetapi sekarang ini perubahan alih fungsi lahan pertanian di Jawa Tengah menjadi kawasan industri dan properti semakin meningkat mencapai 5%- Pemerintah diminta segera bertindak menahan laju alih fungsi lahan pertanian tesebut karena sudah sangat memperihatinkan. Hal ini karena disebabkan kurangnya monitoring secara serius oleh pemerintah daerah. Hal tersebut tentu menjadi catatan bahwa perlunya dilaksanakan monitoring lahan pertanian secara berkelanjutan yang dilakukan minimal 2 tahun sekali. Sehingga sektor pertanian yang menjadi komoditi terbesar di provinsi Jawa Tengah akan tetap terkontrol setiap jeda tahunnya. Hal ini tentu bermanfaat untuk keseimbangan dalam penggunaan lahan antara industri dan sektor pertanian. Untuk mencapai hal dapat diatasi dengan menggunakan analisis kerapatan vegetasi untuk lahan pertanian dengan menggunakan metode NDVI dengan sumber data citra landsat dan menggunakan software ENVI 4.6.1, ArcGis 9.3. Output yang dihasilkan berupa peta kerapatan vegetasi untuk lahan pertanian. I.2. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui tata guna lahan di Jawa Tengah. 2. Untuk mendapatkan nilai indeks vegetasi kawasan Lahan Pertanian di Jawa Tengah. II. METODE PENGOLAHAN II.1. Data yang digunakan Citra Satelit Landsat , Jawa Tengah. Gambar 1. Citra Landsat II.2. Perangkat yang digunakan Pada penelitian ini digunakan beberapa perangkat penunjang yaitu : software ENVI 4.6.1, ArcGIS 9.3, adapun data yang digunakan adalah citra landsat 8 Jawa Tengah. II.3. Pengolahan data III.3.1. Peningkatan Kualitas Citra Radiometrik Koreksi radiometrik merupakan tahap awal pengolahan data sebelum analisis dilakukan untuk suatu tujuan, misalnya untuk Program Studi Teknik Geodesi,Universitas Diponegoro Jurnal Bersama Kuliah Pengolahan Citra Digital Semester Genap 2013 - identifikasi lahan pertanian. Proses koreksi radiometrik mencakup koreksi efek-efek yang berhubungan dengan sensor untuk meningkatkan kontras (enhancement) setiap piksel (picture element) dari citra, sehingga objek yang terekam mudah diinterpretasikan atau dianalisis untuk menghasilkan data/informasi yang benar sesuai dengan keadaan lapangan. III.3.2. Koreksi geometrik citra satelit Koreksi geometrik adalah transformasi citra hasil penginderaan jauh sehingga citra tersebut mempunyai sifat-sifat peta dalam bentuk, skala dan proyeksi. Transforamasi geometrik yang paling mendasar adalah penempatan kembali posisi pixel sedemikian rupa, sehingga pada citra digital yang tertransformasi dapat dilihat gambaran objek dipermukaan bumi yang terekam sensor. Pengubahan bentuk kerangka liputan dari bujur sangkar menjadi jajaran genjang merupakan hasil transformasi ini. Tahap ini diterapkan pada citra digital mentah (langsung hasil perekaman satelit), dan merupakan koreksi kesalahan geometric sistematik. III.3.3. Klasifikasi Penggunaan lahan Kenampakan penggunaan lahan berubah berdasarkan waktu, yakni keadaan kenampakan penggunaan lahan atau posisinya berubah pada kurun waktu tertentu. Perubahan penggunaan lahan dapat terjadi secara sistematik dan non- sistematik. Perubahan sistematik terjadi dengan ditandai oleh fenomena yang berulang, yakni tipe perubahan penggunaan lahan pada lokasi yang sama. Perubahan non-sistematik terjadi karena kenampakan luasan lahan yang mungkin bertambah, berkurang, ataupun tetap. Perubahan ini pada umumnya tidak linear karena kenampakannya berubah- ubah, baik penutup lahan maupun lokasinya. Pada tahun 2008 Penggunaan lahan yang paling besar di Provinsi Jawa Tengah adalah lahan pertanian yang mencapai 1.728.501 ha atau 53,12% dari luas wilayah Jawa Tengah terdiri dari Lahan Sawah seluas 990.824 Ha dan Lahan Tegal/Kebun seluas 737.677 Ha III.3.4. Penentuan nilai indeks vegetasi Prinsip kerja analisis NDVI adalah dengan mengukur tingkat intensitas kehijauan. Intensitas kehijauan pada citra Landsat berkorelasi dengan tingkat kerapatan vegetasi dan untuk deteksi tingkat kehijauan pada citra Landsat yang berkorelasi dengan kandungan klorofil daun, maka saluran yang baik digunakan adalah saluran infra merah dan merah. Klasifikasi NDVI dapat diketahui dengan interpretasi secara digital menggunakan software ENVI 4.6.1. Pengolahan data citra dan analisis menggunakan teknik penginderaan jauh. Nilai-nilai asli Program Studi Teknik Geodesi,Universitas Diponegoro Jurnal Bersama Kuliah Pengolahan Citra Digital Semester Genap 2013 - yang dihasilkan NDVI selalu berkisar antara -1 hingga +1. Nilai- nilai asli antara -1 hingga +1 hasil dari transformasi NDVI ini mempunyai presentasi yang berbeda pada penggunaan lahannya. Nilai- nilai NDVI di sekitar 0,0 biasanya mempresentasikan penggunaan lahan yang mengandung unsur vegetasi sedikit sampai tidak mempunyai vegetasi sama sekali. III. HASIL DAN PEMBAHASAN III.1. Hasil klasifikasi penggunaan lahan Gambar 2. Hasil klasifikasi tata guna lahan Kota Semarang tahun 2014 Proses dengan metode NDVI menghasilkan peta tingkat kerapatan vegetasi di Jawa Tengah. Nilai NDVI yang dihasilkan, bervariasi. Hasil transformasi NDVI untuk setiap kelas penggunaan lahan diperoleh nilai digital kelas kerapatan vegetasi jarang dengan kisaran -, Kerapatan vegetasi sedang dengan kisaran 0.0204 – . Nilai digital tersebut ditentukan berdasarkan kriteria kerapatan vegetasi. Kisaran nilai 0.0204 – terdapat pada kelas penggunaan lahan pertanian sedangkan untuk kisaran nilai - terdapat pada kelas penggunaan lahan yaitu perkebunan yang menunjukan bahwa kondisi kerapatan vegetasi kurang cukup baik. Untuk kisaran nilai -- - terdapat pada kelas penggunaan lahan yaitu lahan basah, semak, sedangkan kisaran nilai NDVI antara -- terdapat pada kelas awan. Berdasarkan data yang dapat diasumsikan kondisi vegetasi di lokasi penelitian kurang cukup baik dengan nilai rasio maksimum karena rasio nilai NDVI -1 sampai dengan 1, semakin tinggi nilai maksimal maka kondisi vegetasi di Jawa Tengah. Semakin baik. Nilai NDVI memiliki hubungan terhadap keberadaan vegetasi di permukaan bumi dan dapat digunakan untuk menunjukan kondisi vegetasi. Nilai NDVI berkisar antara -1 hingga +. Nilai NDVI yang rendah (negatif) menunjukan tingkat vegetasi yang rendah seperti awan, air, tanah kosong, bangunan, dan unsur non vegetasi lainnya. Sedangkan NDVI tinggi (+) menunjukan tingkat vegetasi hijau tinggi. Jadi nilai indeks yang lebih besar dihubungkan dengan semakin tingginya tingkat kesuburan penutupan vegetasi. Hubungan antara NDVI dengan penggunaan lahan dapat diketahui dengan menggunakan persamaan korelasi nilai NDVI yang digunakan adalah berkisar antara . Program Studi Teknik Geodesi,Universitas Diponegoro Jurnal Bersama Kuliah Pengolahan Citra Digital Semester Genap 2013 - IV. PENUTUP IV.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut : 1. Kondisi tata guna lahan pertanian di Jawa Tengah kurang cukup baik. Hal ini disebabkan karena nilai rasio maksimum NDVI adalah 0.3004 sangat jauh mendekati +1. 2. Tingkat kerapatan yang dihasilkan di kawasan Jawa Tengah bervariasi dengan kelas non vegetasi, vegetasi sangat jarang, sedang, rapat IV.2. Saran 1. Perlu di lakukan pemantauan penggunaan lahan di Jawa Tengah secara serius menggunakan metode NDVI secara periodik agar perubahan yang terjadi dapat terpantau dengan baik 2. Perlu dilakukan penenlitian lanjutan dengan menggunakan citra satelit terbaru untuk memperoleh kondisi aktual mengenai kerapatan vegetasi sehingga tidakan preventif dalam pengelolaan lahan pertanian dapat lebih dini dilakukan dalam kaitannya pangan di Jawa tengah. DAFTAR PUSTAKA http://erinainggolan.blogspot.com/20 13/06/analisis vegetasi.html. Di akes pada tanggal 29 juni 4 pukul 15.20 http://geomangraho.blogspot.com/20 11/04/penginderaan-jauh- indrajapj.html . Di akes pada tanggal 29 juni 2014 pukul http://citrasatelit.wordpress.com/jual- citra-satelit/resolusi-menengah- 10-meter-20-meter/landsat- . Di akes pada tanggal 29 juni 2014 pukul 15.20 http://agroindonesia.co.id/2013/04/1 7/sos-alih-fungsi-lahan- pertanian/ . Di akes pada tanggal 29 juni 2014 pukul http://dinpertantph.jatengprov.go.id/p otensi.html . Di akes pada tanggal 29 juni 2014 pukul Julia rahmi, 2008. hubungan kerapatan tajuk dan PGL berdasarkan analisis citra satelit dan SIG. Managemen hutan. Sumut. IDENTITAS PENULIS Nama mhs : Maulvi Surya G NIM mhs : Nama mhs : Putri Mariasari S NIM mhs : Email mhs : pu3_zha93@ymail.com Nama mhs : Annisa Usolikhah NIM mhs : Email mhs : annisa.nisa20@gmail.com Nama mhs : Dita Rizki A. NIM mhs : Program Studi Teknik Geodesi,Universitas Diponegoro Jurnal Bersama Kuliah Pengolahan Citra Digital Semester Genap 2013 -