Anda di halaman 1dari 8

Pengertian Rumah Sehat

Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, perumahan
adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Rumah adalah sebuah tempat tujuan
akhir dari manusia.
Rumah menjadi tempat berlindung dari cuaca dan kondisi lingkungan sekitar, menyatukan
sebuah keluarga, meningkatkan tumbuh kembang kehidupan setiap manusia, dan menjadi bagian
dari gaya hidup manusia Sedangkan pengertian Sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang
sempurna baik fisik, mental maupun sosial budaya, bukan hanya keadaan yang bebas penyakit dan
kelemahan (kecacatan).
Rumah harus dapat mewadahi kegiatan penghuninya dan cukup luas bagi seluruh pemakainya,
sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap penghuninya dapat berjalan dengan baik.
Lingkungan rumah juga sebaiknya terhindar dari faktor- faktor yang dapat merugikan kesehatan
(Hindarto, 2007). Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung, dan
tempat untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani,
maupun sosial (Sanropie dkk., 1991). Sedangkan menurut Hermawan (2010) yang dikutip dari Azwar,
rumah sehat adalah tempat berlindung atau bernaung dan tempat untuk beristrahat sehingga
menimbulkan kehidupan yang sempurna baik fisik,rohani maupun sosial.

B. Fungsi Rumah

Fungsi rumah rumah bagi manusia yang diposkan oleh suhadi (2007) yang dikutip dari Azwar adalah
:
· Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah penat melasanakan
kewajiban sehari-hari.
· Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa kekeluargaan bagi
segenap anggota keluarga yang ada.
· Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang datang mengancam.
· Sebagai lambang status sosial yang dimiliki yang masih dirasakan hingga saat ini.
· Sebagai tempat untuk meletakan atau menyimpan barang-barang berharga yang dimiliki,
yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan.
C. Persyaratan Rumah Sehat
Menurut Budiman Chandra (2007), persyaratan rumah sehat yang tercantum dalam Residential
Environment dari WHO (1974) antara lain :
a. Harus dapat berlindung dari hujan, panas, dingin, dan berfungsi sebagai tempat istrahat.
b. Mempunyai tenpat-tempat untuk tidur, memasak, mandi, mencuci, kakus dan kamar mandi.
c. Dapat melindungi bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.
d. Bebas dari bahan bangunan berbahaya.
e. Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya dari gempa,
keruntuhan, dan penyakit menular.
f. Member rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi.
Persyaratan rumah sehat berdasarkan pedoman teknis penilaian rumah sehat (Depkes RI, 2007).
a. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi
yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah, adanya ruangan khusus untuk
istirahat (ruang tidur), bagi masing-maing penghuni.
b. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan
penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit
dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi,
terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan
penghawaan yang cukup.
c. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena
pengaruh luar dan dalam rumah, antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi
bangunan rumah, bahaya kebakaran dan kecelakaan di dalam rumah.
Persyaratan rumah sehat menurut Winslow dan APHA yang dikutip (Ircham Machfoedz, 2008)
adalah sebagai berikut :
a. memenuhi kebutuhan physiologis, yang meliputi :
· Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat dipelihara atau
dipertahankan temperatur lingkungannya. Sebaiknya temperatur udara dalam ruangan
harus lebih rendah paling sedikit 4°C dari temperatur udara luar untuk daerah tropis.
Umumnya temperatur kamar 22°C - 30°C sudah cukup segar.
· Rumah tersebut harus terjamin pencahayaannya yang dibedakan atas cahaya
matahari (penerangan alamiah) serta penerangan dari nyala api lainnya
(penerangan buatan). Semua penerangan ini harus diatur sedemikian rupa sehingga
tidak terlalu gelap atau tidak menimbulkan rasa silau.
· Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna sehingga aliran udara segar
dapat terpelihara. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan,
sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas
lantai sehingga jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai.
· Ruangan. Ini diatur sedemikian rupa agar udara yang masuk tidak terlalu deras dan tidak
terlalu sedikit.
· Rumah tersebut harus dapat melindungi penghuni dari gangguan bising yang berlebihan
karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan baik langsung maupun dalam jangka
waktu yang relatif lama. Gangguan yang dapat muncul antara lain gangguan fisik seperti
kerusakan alat pendengaran dan gangguan mental seperti mudah marah dan apatis.
· Rumah tersebut harus memiliki luas yang cukup untuk aktivitas dan untuk anak- anak
dapat bermain. Hal ini penting agar anak mempunyai kesempatan bergerak, bermain
dengan leluasa di rumah agar pertumbuhan badannya akan lebih baik, juga agar anak
tidak bermain di rumah tetangganya, di jalan atau tempat lain yang membahayakan.
b. memenuhi kebutuhan psychologis, yang meliputi :
· Cukup aman dan nyaman bagi masing-masing penghuni Adanya ruangan khusus untuk
istirahat bagi masing-masing penghuni, seperti kamar tidur untuk ayah dan ibu. Anak-
anak berumur di bawah 2 tahun masih diperbolehkan satu kamar tidur dengan ayah dan
ibu. Anak-anak di atas 10 tahun laki-laki dan perempuan tidak boleh dalam satu kamar
tidur. Anak-anak di atas 17 tahun mempunyai kamar tidur sendiri.
· Ruang duduk dapat dipakai sekaligus sebagai ruang makan keluarga, dimana anak-anak
sambil makan dapat berdialog langsung dengan orang tuannya.
· Dalam memilih letak tempat tinggal, sebaiknya di sekitar tetangga yang memiliki tingkat
ekonomi yang relatif sama, sebab bila bertetangga dengan orang yang lebih kaya atau
lebih miskin akan menimbulkan tekanan batin. Dalam meletakkan kursi dan meja di
ruangan jangan sampai menghalangi lalu lintas dalam ruangan.
· W.C. (Water Closet) dan kamar mandi harus ada dalam suatu rumah dan
terpelihara kebersihannya. Biasanya orang tidak senang atau gelisah bila terasa ingin
buang air besar tapi tidak mempunyai W.C. sendiri karena harus antri di W.C. orang lain
atau harus buang air besar di tempat terbuka seperti sungai atau kebun.
· Untuk memperindah pemandangan, perlu ditanami tanaman hias, tanaman bunga yang
kesemuanya diatur, ditata, dan dipelihara secara rapi dan bersih, sehingga menyenangkan
bila dipandang.

c. mencegah penularan penyakit, yang meliputi.
· Penyediaan Air Bersih yang memenuhi syarat kesehatan
· Bebas dari kehidupan serangga dan tikus
· Pembuagan sampah
· Pembuangan air limbah.
· Pembuangan Tinja
· Bebas pencemaran makanan dan minuman.
d. mencegah terjadinya kecelakaan yaitu rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat
melindungi penghuni dari kemungkinan terjadinya bahaya atau kecelakaan. Termasuk dalam
persyaratan ini antara lain bangunan yang kokoh, tangga yang tidak terlalu curam dan licin,
terhindar dari bahaya kebakaran, alat-alat listrik yang terlindung, tidak menyebabkan keracunan gas
bagi penghuni, terlindung dari kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya (Azwar, 1990; CDC,
2006; Sanropie, 1991).
Menurut Soedjajadi (2006), persyaatan rumah sehat harus dapat mencegah atau mengurangi resiko
kecelakaan seperti jatuh, keracunan dan kebakaran. Persyaratan tersebut meliputi:
a. Membuat konstruksi rumah yang kokoh dan kuat.
b. Bahan rumah terbuat dari bahan tahan api.
c. Pertukaran udara dalam rumah baik sehingga terhindar dari bahaya racun dan gas.
d. Lantai terbuat dari bahan yang tidak licin sehingga bahaya jatuh dan kecelakaan mekanis
dapat dihindari.
e. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak
yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut Keputusan Menteri
Kesehatan (Kepmenkes) No.829/Menkes/SK/VII/ 1999 meliputi dua aspek yaitu :
1. Lingkungan perumahan yang terdiri dari lokasi, kualitas udara, kebi singan dan getaran, kualitas
tanah, kualitas air tanah, sarana dan prasarana lingkungan, binatang penular penyakit dan
penghijauan.
2. Rumah tinggal yang terdiri dari bahan bangunan, komponen dan pena taan ruang rumah,
pencahayaan, kualitas udara, ventilasi, binatang penular penyakit, air, makanan, limbah, dan
kepadatan hunian ruang tidur.

Adapun persyaratan kesehatan lingkungan perumahan menurut Keputusan Menteri Kesehatan
(Kepmenkes) No.829/Menkes/SK/VII/ 1999 sebagai berikut :
a. Lokasi
· Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran lahar,
tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa, dan sebagainya;
· Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau bekas
tambang;
· Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti alur
pendaratan penerbangan.
b. Kualitas udara
· Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beracun
dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan sebagai berikut :
· Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi;
· g/m3 ;mg maksimum 150 mDebu dengan diameter kurang dari 10
· Gas SO2 maksimum 0,10 ppm;
· Debu maksimum 350 mm3 /m2 per hari.
c. Kebisingan dan getaran
· Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A;
· Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik.
d. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
· Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
· Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
· Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
· Kandungan Benzopyrene maksimum 1 mg/kg

e. Prasarana dan sarana lingkungan

· Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi yang
aman dari kecelakaan;
· Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit;
· Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak mengganggu
kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki dan penyandang cacat,
jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan, jalan tidak menyilaukan
mata;
· Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas air yang memenuhi
persyaratan kesehatan;
· Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi persyaratan
kesehatan;
· Pengelolaan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi syarat kesehatan;
· Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja, tempat
hiburan, tempat pendidikan, kesenian, dan lain sebagainya;
· Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya;
· Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi makanan
yang dapat menimbulkan keracunan.
f. Vektor penyakit
· Indeks lalat harus memenuhi syarat.
· Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.
g. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan juga berfungsi
untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.

Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Kepmenkes No.
829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut :
a. Bahan bangunan
· Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat membahayakan
kesehatan, an tara lain : debu total kurang dari 150 mg/m2 , asbestos kurang dari 0,5
serat/m3 per 24 jam, plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan;
· Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme patogen.
b. Komponen dan penataan ruangan
· Lantai kedap air dan mudah dibersihkan;
· Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci kedap air dan mudah
dibersihkan;
· Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan;
· Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir;
· Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya;
· Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.
c. Pencahayaan
Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat menerangi seluruh
ruangan dengan intensitas penerangan minimal 60 lux dan tidak menyilaukan mata.

d. Kualitas udara
· Suhu udara nyaman antara 18 – 30 o C;
· Kelembaban udara 40 – 70 %;
· Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam;
· Pertukaran udara 5 kaki 3 /menit/penghuni;
· Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam;
· Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3
e. Ventilasi : Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas lantai.
f. Vektor penyakit : Tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di dalam rumah.
g. Penyediaan air
· Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60 liter/ orang/hari;
· Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan/atau air minum
menurut Permenkes 416 tahun 1990 dan Kepmenkes 907 tahun 2002.
h. Pembuangan Limbah
· Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan
bau, dan tidak mencemari permukaan tanah;
· Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan bau, tidak mencemari
permukaan tanah dan air tanah.
i. Sarana Penyimpanan Makanan
Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman.

j. Kepadatan hunian Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih dari 2 orang
tidur.

Persyaratan tersebut diatas berlaku juga terhadap kondominium, rumah susun (rusun), rumah took
(ruko), rumah kantor (rukan) pada zona pemukiman. Pelaksanaan ketentuan mengenai
persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menjadi tanggung jawab
pengembang atau penyelenggara pembangunan perumahan, dan pemilik atau penghuni rumah
tinggal untuk rumah.

PENILAIAN RUMAH SEHAT
Menurut Munif Arifin (2009), kriteria rumah sehat didasarkan pada pedoman teknis penilaian rumah
sehat Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI tahun 2007.
Pedoman teknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan. Sedangkan pembobotan
terhadap kelompok komponen rumah, kelompok sarana sanitasi, dan kelompok perilaku didasarkan
pada teori Blum, yang diinterpetasikan terhadap Lingkungan (45%), Perilaku (35%), Pelayanan
Kesehatan (15%), Keturunan (5%).

Dalam hal rumah sehat, persentase pelayanan kesehatan dan keturunan diabaikan, sedangkan untuk
penilaian lingkungan dan perilaku ditentulan sebagai berikut :
1.Bobot komponen rumah (25/80 x 100%) : 31
2.Bobot sarana sanitasi (20/80 x 100%) : 25
3.Bobot perilaku (35/80 x 100%) : 44
Penentuan kriteria rumah berdasarkan pada hasil penilaian rumah yang merupakan hasil perkalian
antara nilai dengan bobot, dengan criteria sebagai berikut :
1. Memenuhi syarat : 80 -100 % dari total skor.
2. Tidak memenuhi syarat : < 80 % dari total skor.

Kelompok Komponen Rumah yang dijadikan dasar penilaian rumah sehat menggunakan Indikator
komponen sebagai berikut :
1. Langit-langit
2. Dinding
3. Lantai
4. Jendela kamar tidur
5. Jendela ruang keluarga
6. Ventilasi
7. Lubang asap dapur
8. Pencahayaan
9. Kandang
10. Pemanfaatan Pekarangan
11. Kepadatan penghuni.
Indikator sarana sanitasi yang dijadikan dasar penilaian rumah sehat menggunakan Indikator sarana
sebagai berikut :
1. Sarana air bersih
2. Jamban
3. Sarana pembuangan air limbah
4. Sarana pembuangan sampah.
Indikator penilaian perilaku penghuni rumah meliputi bebrapa parameter sebagai berikut :
1. kebiasaan mencuci tangan.
2. keberadaan tikus.
3. keberadaan jentik.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI – Ditjen PPM dan PL (2002) Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat.
Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 ttg Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Munif Arifin, 2009. Rumah Sehat dan Lingkunganya. diakses dari
environmentalsanitation.wordpress.com, Desember 2012
Jurnal Kesehatan Lingkungan http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/JKL/article/view/692/691.
Diakses Desember 2012