Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

NAMA PESERTA : KHUSNUL AFLAH
KELOMPOK : GURU KELAS MI 01
NO PESERTA : 13-0319-028-20128
KABUPATEN : KUDUS

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN
FIQIH TENTANG WUDLU MENGGUNAKAN METODE
PICTURE AND PICTURE KELAS I MI NU MIFTAHUL ULUM
TAHUN PELAJARAN 2013/2014

BAB I : PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran sangat kompleks. Faktor-faktor tersebut antara
lain : guru, siswa, materi pembelajaran, model strategi pembelajaran, dan
metode/media pembelajaran.
Pembelajaran di SD/MI akan lebih efektif, menarik, dan menyenangkan
apabila guru dapat menerapkan dan memanfaatkan model strategi pembelajaran
yang bervariasi. Pemanfaatan model strategi pembelajaran yang berfariasi
bertujuan agar peserta didik lebih aktif dan terlibat langsung dalam PBM. Peserta
didik akan lebih kreatif dan bergairah dalam PBM apabila guru dalam
menjalankan tugas mengajarnya memiliki kemampuan merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangakan
untuk peserta didiknya.
Tetapi fenomena tersebut di atas kenyataan di lapangan masih banyak guru
yang melaksanakan pembelajaran dengan cara konvensional. Guru mengajar tanpa
perencanaan dan persiapan yang matang. Mereka masih menerapkan metode
ceramah yang membosankan peserta didik. Kondisi ini diperarah dengan
pemanfaatan media pembelajaran yang hamper tidak pernah digunakan. Apabila
situasi dan kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut berdampak negatif pada
prestasi hasi belajar peserta didik. Akibatnya mereka menjadi enggan daan tidak
bergairah dalam mengikuti PBM. Hal ini terjadi di MI NU Miftahul Ulum Loram
Kulon Jati Kudus.Contohnya PBM di kelas I mata pelajaran Fiqih tentang wudlu.
Materi pembelajaran yang menuntut aktifitas siswa ini hanya disampaikan dengan
metode ceramah yang membosankan tanpa memanfaaatkan media pembelajaran.
Akibatnya setelah diadakan evalulasi melalui tes formatif, anak yang mendapat
nilai di atas KKM minimal hanya 10 siswa (28,57%). Sedangkan 25 peserta didik
(71,43%) masih memperoleh nilai di bawah KKM, dengan standar KKM untuk
mata pelajaran Fiqih di Kelas I sebesar 70.
Rendahnya hasil belajar peserta didik dalam materi wudlu pada mata
pelajaran Fiqih tersebut berdasarkan hasil pengamatan dan analisis guru mata
pelajaran (peneliti) serta masukan dari dua orang teman sejawat sebagai
pengamat, ternyata sebagian besar peserta didik kurang menguasai konsep
mengurutkan dalam mata pembelajaran fiqih. Hal ini dikarenakan pada waktu
PBM dengan metode ceramah tanpa alat peraga banyak peserta didik bercakap-
cakap dengan temannya, dan melihat keluar kelas.
Dipilihnya metode picture and picture karena metode pembelajaran ini
dapat meningkatkan keaktifan, kreatif, efektif dan menyenangkan peserta didik.
Berdasarkan pengamatan dan hasil analisis dari pelaksanaan pembelajaran fiqih
tentang wudlu kelas I semester II MI NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus
maka peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Mengapa hasil belajar siswa kelas I MI NU Miftahul Ulum dalam
pembelajaran fiqih tentang wudlu pada semester I tahun 2013 rendah?
2. Upaya apakah yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik
pada pembelajaran fiqihtentang wudlu di kelas I semester I MI NU Miftahul
Ulum tahun 2013?
3. Metode pembelajaran apakah yang relevan untuk pembelajaran fiqih tentang
wudlu di Kelas I semester I MI NU Miftahhul Ulum tahun 2013?


2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah peneliti menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Upaya apakah yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik
pada pembelajaran fiqih tentang wudlu di kelas I semester I MI NU Miftahul
Ulum tahun pelajaran 2013/2014?
2. Metode apakah yang relevan untuk pembelajaran pembelajaran fiqih tentang
wudlu di kelas I semester I MI NU Miftahul Ulum tahun pelajaran 2013/2014?

3. Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan upaya
peningkatan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran fiqih tentang wudlu
dengan metode picture and picture di kelas I semester I MI NU Miftahul Ulum
tahun pelajaran 2013/2014.
Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar
peserta didik pada pembelajaran fiqih tentang wudlu di kelas I semester I MI
NU Miftahul Ulum tahun pelajaran 2013/2014
2. Untuk mengetahui metode pembelajaran yang relevan pada pembelajaran fiqih
tentang wudlu di kelas I semester I MI NU Miftahul Ulum tahun pelajaran
2013/2014

4. Manfaat Penelitian

1. Bagi guru atau peneliti
a. Mendorong meningkatkan profesionalisme guru
b. Mampu mengatasi masalah dalam pembelajaran
c. Mengembangkan kompetensi diri
2. Bagi peserta didik
a. Meningkatkan minat belajar pada pembelajaran fiqih di kelas I.
b. Meningkatkan ketrampilan tentang wudlu di kelas I dengan urutan yang
benar.
c. Menumbuhkan motivasi belajar, karena peserta didik belajar secara aktif,
kreatif dan menyenangkan.
d. Meningkatkan prestasi belajar.
3. Bagi Madrasah
a. Meningkan mutu kualitas pendidikan sehingga dapat memenuhi standar
nasional pendidikan.
b. Terbinanya iklim pembelajaran yang konduktif karena teman sejawwat
terjalin kolaborasi dalam rangka perbaikan pembelajaran.
c. Tercapainya visi madrasah yang telh dirumuskan dan ditetapkan.
4. Pendidikan Dasar
a. Meningkatkan kemampuan professional para tenaga guru sehingga dapat
meningkatkan kualitas pendidikan.
b. Meningkatkan mutu lulusan/sumber daya manusia sehingga mampu
bersaing dalam jenjang pendidikan diatasnya maupun bursa tenaga kerja
sesuai kompetensinya.
c. Tercapainya tujuan pendidikan dasar, yaitu meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.










BAB II : KAJIAN TEORI
A. Kajian Toritis
1. Hakekat Belajar
a. Pengertian Belajar
Menurut Gagne (1984) belajar adalah suatu proses dimana
suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Definisi
belajar dijelaskan oleh Driscoli (2000) yaitu perubahan yang terus menerus
dalam kinerja atau potensi kinerja manusia. Oemar Hamalik (1995)
berpendapat belajar adalah modifikasi atau memperteduh kelakuan melalui
pengalaman. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam
perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan
yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus
dan respon.
Berdasarkan beberapa diskripsi pendapat para ahli pendidikan
di atas peneliti menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha sadar
manusia melalui proses atau kegiatan yang dilakukan sehingga terjadi
perubahan perilaku yang berbentuk kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dalam hal ini belajar yang dimaksud adalah belajar pada mata pelajaran
fiqih tentang wudlu menggunakan metode picture and picture di kelas I
semester I MI NU Miftahul Ulum tahun pelajaran 2012/2013.
b. Prinsip Belajar
Menurut Anitah (2008 : 1.17-1.18) supaya belajar terjadi secara
efektif perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu motivasi, perhatian,
aktifitas, balikan, pembelajaran dan individu. Kaitannya dengan penelitian
ini guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran fiqih
tentang urutan wudlu kelas I semester I MI NU MIftahul Ulum tahun
pelajaran 2013/2014 harus menerapkan prinsip-prinsip belajar di atas.
c. Tipe-tipe Belajar
Menurut Robert M. Gagne belajar mempunyai 8 tipe. Kedelapan
tipe ini bertingkat- ada hirarki dalam masing-masing tipe. Setiap tipe
belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Tipe belajar
dikemukakan oleh Gagne pada hakekatnya merupakan prinsip umum baik
dalam belajar maupan mengajar. Artinya, dalam mengajar atau
membimbing siswa belajarpun terdapat tindakan sebagaimana tingkatan
belajar tersebut di atas. Kedelapan tipe belajar itu adalah :
 Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons atau respon bersyarat.
Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak
bicara. Lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut
dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah
respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu
isyarat. Jadi respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur dan
emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk belajar semacam ini biasanya
bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.
 Belajar Stimulus – respons ( Stimulus Respons Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat, respons bersifat umum, kabur dan
emosional. Tipe belajar S – R, respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah
bentuk suatu hubungan S-R. Mencium bau masakan sedap, keluar air liur,
itupun ikatan S-R. Jadi belajar stimulus respons sama dengan teori asosiasi
(S-R bond). Setiap respons dapat diperkuat dengan reinforcement. Hal ini
berlaku pula pada tipe belajar stimulus respons.
 Belajar Rangkaian ( Chaining)
Rangkaian atau rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antar S-
R yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik, seperti
gerakan dalam mengikat sepatu, makan, minum, atau gerakan verbal
seperti selamat tinggal, bapak-ibu.
 Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)
Suatu kalimat “unsur itu berbangun limas” adalah contoh asosiasi verbal.
Seseorang dapat menyatakan bahwa unsur berbangun limas kalau ia
mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau kerucut.
Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terdapat
dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.
 Belajar Diskriminasi ( Discrimination Learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti
membedakan berbagai bentuk wajah, waktu, binatang, atau tumbuh-
tumbuhan.
 Belajar Konsep (Concept Learning)
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat
tafsiran terhadap fakta. Dengan konsep dapat digolongkan binatang
bertulan belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas), seperti kelas mamalia,
reptilia, amphibia, burung, ikan. Dapat pula digolongkan, manusia
berdasarkan ras (warna kulit) atau kebangsaan, suku bangsa atau hubungan
keluarga. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi jika orang dapat
melakukan diskriminasi.
 Belajar Aturan (Rule Learning)
Hukum, dalil atau rumus adalah rule (aturan). Tipe belajar ini banyak
terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai jika
dipanaskan, besar sudut dalam segitiga sama dengan 180 derajat. Belajar
aturan ternyata mirip dengan verbal chaining (rangkaian verbal), terutama
jika aturan itu tidak diketahui artinya. Oleh karena itu setiap dalil atau
rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.
 Belajar Pemecahan masalah ( Problem Solving Learning)
Memecahkan masalah adalah biasa dalam kehidupan. Ini merupakan
pemikiran. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan
berbagai urusan yang relevan dengan masalah itu. Dalam pemecahan
masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat adakalanya lama. Juga
seringkali harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur
dalam masalah itu, mencari hubungannya dengan aturan (rule) tertentu.
Dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Tampaknya pemecahan
masalah terjadi dengan tiba-tiba (insight). Dengan ulangan-ulangan
masalah tidak terpecahkan, dan apa yang dipecahkan sendiri-yang
penyelesaiannya ditemukan sendiri- lebih mantap dan dapat ditransfer
kepada situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah
memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.
Kedelapan tipe belajar di atas itu ada hirarkinya. Setiap tipe
belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Untuk
memecahkan masalah misalnya, perlu dikuasai sejumlah aturan yang
relevan dan untuk menguasai aturan perlu dipakai semua konsep dalam
aturan itu. Agar dikuasi konsep perlu kemampuan membuat perbedaan,
dan agar dapat membuat perbedaan perlu dikuasai verbal chain, dan
seterusnya.
Biasanya dalam proses pembelajaran di sekolah hanya sampai
pada tingkat konsep. Namun adakalanya kita harus menggunakan taraf
belajar lebih rendah lagi. Agar belajar dapat mencapai lebih taraf tinggi
diperlukan kemampuan guru dalam menerapkan prinsip-prinsip
sebagaimana diuraikan di atas.
Source : http://editopan.guru-indonesia.net/artikel_detail-36689.htmlBest
regards,Dedi Siswoyo
d. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Dalam setiap mengikuti proses pembelajaran di sekolah sudah
pasti setiap peserta didik mengharapkan mendapatkan hasil belajar
yang baik, sebab hasil belajar yang baik dapat membantu peserta didik
dalam mencapai tujuannya. Hasil belajar yang baik hanya dicapai
melalui proses belajar yang baik pula. Jika proses belajar tidak optimal
sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang baik.
Menurut Hamalik (2001:159) bahwa hasil belajar menunjukkan
kepada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan
indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa.
Menurut Nasution (2006:36) hasil belajar adalah hasil dari
suatu interaksi tindak belajar mengajar dan biasanya ditunjukkan
dengan nilai tes yang diberikan guru.
Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:36) hasil
belajar adalah hasil yang ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar
dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru.
http://www.hasiltesguru.com/2012/04/pengertian-hasil-belajar.html
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses
pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh
guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok
bahasan khususnya pada pembelajaran fiqih.
b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran
tidak dapat terlepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya.
Untuk itu, Syah (2006: 144) “ mengemukakan faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil siswa terdiri dari dua faktor yaitu faktor yang
datangnya dari individu siswa (internal factor), dan faktor yang datang
dari luar diri individu siswa (eksternal factor)”. Keduanya dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1). Faktor internal anak, meliputi:
a) Faktor psikis (jasmani). Kondisi umum jasmani yang menandai
dapat mempengaruhi semangat dan intensitas anak dalam
mengikuti pelajaran.
b) Faktor psikologis (kejiwaan). Faktor yang termasuk psikologis
yang dapat mempengaruhi kualitas perolehan hasil belajar siswa
antara lain: (1)Intelegensi, (2) Sikap (3) bakat, (4) minat, dan (5)
motivasi.
2). Faktor eksternal anak, meliputi:
a) Faktor lingkungan social, seperti para guru, sifat para guru, staf
adminitrasi dan teman-teman sekelas.
b) Faktor lingkungan non-sosial, seperti sarana dan prasarana
sekolah/belajar, letaknya rumah tempat tinggal keluarga,
keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan anak.
c) Faktor pendekatan belajar, yaitu cara guru mengajar guru
maupun metode, model dan media pembelajaran yang digunakan
See more at: http://dinulislami.blogspot.com/2013/02/faktor-
faktor-yanmempengaruhihasil.html#sthash.0mM9pGWk.dpuf


e. Metode Pembelajaran Picture and Picture
1. Pengertian Model Pembelajaran Picture and Picture
Menurut Istarani model pembelajaran adalah seluruh rangkaian
penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan
sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang
terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam
proses belajar mengajar.[1] Sedangkan Mohammad Ali menyatakan
bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat
digunakan untuk mengembangkan dan mengarahkan pembelajaran di
kelas atau di luar kelas yang sesuai dengan karakteristik perkembangan
dan karakteristik belajar siswa.[2] Model pembelajaran picture and
picture adalah suatu model belajar yang menggunakan gambar dan
dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis. Model Pembelajaran ini
mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran.
Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran.
Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan
gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam
bentuk carta dalam ukuran besar.[3]
2. Langkah-langkah Model Pembelajaran Picture and Picture
Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan Picture and Picture
ini menurut Jamal Asmani terdapat tujuh langkah yaitu:
1.Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan
dengan materi.
4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian untuk
memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5.Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran dari urutan gambar
tersebut.
6. Dari alasan/urutan gambar tersebut, guru mulai menanamkan
konsep atau materi, sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Siswa diajak untuk menyimpulkan/merangkum materi yang baru
saja diterimanya.
Kesimpulan dan rangkuman dilakukan bersama dengan siswa. Guru
membantu dalam proses pembuatan kesimpulan dan rangkuman. Apabila
siswa belum mengerti hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam
pengamatan gambar tersebut guru memberikan penguatan kembali tentang
gambar tersebut.[4] wordpress.com/2013/05/27/model-pembelajaran-
picture-and-picture/

B. KERANGKA BERPIKIR
Penerapan pembelajaran dengan metode picture and picture pada
pelajaran fiqih tentang wudlu kelas I merupakan tindakan yang sengaja
dipilih untuk mengatasi masalah penanaman konsep yang lemah. Peneliti
berpendapat lemahnya penanaman konsep berakibat tidak berhasilnya
pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan prestasi belajar yang rendah.
Menurut Piaget dalam Sapriati (2008 : 1.19) ada tiga hal yang perlu
diperhatikan oleh guru dalam merancang pembelajaran di kelas I terutama
dalam pembelajaran fiqih yaitu : 1) seluruh anak melewati tahapan yang
sama secara berurutan, 2) anak mempunyai tanggapan yang berbeda
terhadap suatu benda atau kegiatan, dan 3) apabila hanya kegiatan fisik yang
diberikan kepada anak, tidaklah cukup menjamin perkembangan intelektual
peserta didik.
Berdasarkan teori-teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli di atas
peneliti berkeyakinan bahwa pembelajaran fiqih dengan menggunakan
metode picture and picture anak terlibat aktif, bebas memberikan tanggapan
dalam PBM dan diberi kesempatan memperoleh informasi sendiri.
Agar lebih jelas dapat disampaikan dengan bagan/skemakerangka
berfikir seperti di bawah ini :















SIKLUS II









Kondisi

Kondisi
Guru belum
memanfaatkan metode
picture and picture dalam
pembelajaran fiqih
tentang wudlu di kelas I
semester I MI NU
Miftahul Ulum
TP.2013/2014
Hasil prestasi belajar
peserta didik sangat
rendah
Tindakan
Guru menerapkan
metode picture and
picture dalam
pembelajaran fiqih
tentang wudlu di Kelas I
semester I MI NU
Miftahul Ulum
TP.2013/2014
SIKLUS I
SIKLUS II
Kondisi
Akhir
Diduga dengan aplikasi metode picture
and picture dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas I MI NU Miftahul
Ulum pada mata pembelajaran fiqih
tentang wudlu TP.2013/2014

C. HIPOTESIS
Dari uraian kajian teori dan kerangka berfikir diatas peneliti berasumsi
bahwa diduga dengan aplikasi metode picture and picture memang
dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I MI NU MIftahul Ulum
pada mata pelaajaran fiqih tentang wudlu pada tahun pelajaran
2013/2014.




























BAB III : METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian dalam PTK ini adalah siswa kelas I
MI NU Miftahul Ulum tahun pelajaran 2013/2014. Jumlah siswa kelas I
adalah 35 peserta didik. Alasan dipilihnya kelas I sebagai subjek penelitian
karena memang tugas mengajar peneliti adalah sebagai guru fiqih kelas I. Hal
ini bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam mengobservasi dan
mengumpulakan data siswa.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajara
2013/2014. Masing-masing siklus dilaksanakan pembelajaran dua kali
pertemuan. Siklus I dilaksanakan pada hari Kamis,19 Juli 2013 dan 26 Juli
2013, sedangkan siklus II dilaksanakan 16 Agustus 2013 dan 23 Agustus
2013. Tindakan dilaksanakan pada waktu jam pelajaran fiqih sesuai dengan
jadwal pelajaran yang telah ditetapkan yaitu pembelajaran fiqih dilaksanakan
setiap hari Kamis setiap minggunya.
Adapun pembagian waktu yang lebih rinci dapat dilihat pada table di
bawah ini :
Tabel 3.1
Alokasi Waktu Penelitian
NO Uraian Kegiatan Juli
Mg
3
Juli
Mg4
Agust
Mg 3
Agust
Mg 4
Sept
Mg 1
1. Menyusun proposal PTK v
2. Menyusun perangkat dan instrument
penelitian
v v
3.



Mengumpulkan data dengan melakukan
tindakan :
a. Siklus I
b. Siklus II


v


v



v



v

4 Analisis Data v v v
5 Menyusun Laporan PTK v v v
3. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan di ruang kelas I MI NU Miftahul
Ulum Loram Kulon Jati Kudus denngan jumlah siswa 35 orang. Fokus penelitian
ini adalah proses pembelajaran fiqih materi tentang wudlu. Proses PBM yang
menjadi bahan penelitian untuk menemukan data dilakukan melalui 2 siklus.
Masing-masing siklus dilaksanakan dengan meminta teman sejawat sebagai
observer. Pada siklus I peneliti meminta Bapak Khusnul Aflah,S.Pd.I guru maple
Fiqih kelas V dan bapak Miftahul Ulum,S.Pd.I guru mapel fiqih kelas VI.
Lokasi penelitian ini sengaja untuk mengembangkan ketrampilan dan
kemampuan mengajar penelitian juga bertujuan untuk meningkatkan mutu
pendidikan di MI NU miftahul Ulum, khususnya pada pembelajaran fiqih dan
pembelajaran mata pelajaran lain pada umumnya.

B. PROSEDUR PENELITIAN

Dalam penelitian tindakan kelas ini prosedur tindakan berupa perbaikan
pembelajaran berdasarkan permasalahan Yng dijumpai di kelas pada waktu
melaksanaakan tindakan. Dalam menemukan masalah pada penelitian ini di
bantu dua teman sejawat sebagai observer. Prosedur penelitian ini menurut
Arikunto (2007 : 16) dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut :




Adapun tahapan-tahaapan atau prrosedur pelaksanaan tindakan penelitian
secara rinci dapat diuraikan seperti di bawah ini :
1. Siklus I
a. Proses Persiapan Tindakan
Guru melakukan persiapan :
1.1. Menyusun RPP
1.2. Menyiapkan media yang akan digunakan (gambar-gambar orang
berwudlu)
1.3. Menyiapkan instrument soal-soal (observasi dan tulis)
b. Proses Pelaksanaan Tindakan
1.1 Kegiatan awal
a. Guru menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran
b.Guru menyiapkan alat peraga (gambar-gambar orang wudlu)
1.2 Kegiatan Inti
a. Guru memanggil empat orang anak untuk maju ke depan untuk
mengurutkan gambar yang benar tetang urutan wudlu
b. Salah seorang anak (konsumen kedua) diminta untuk duduk
Akibat Guru menyuruh siswa untuk mengamati dan berdiskusi
tentang dan pengaruhnya apabila komsumen kedua musnah
c. Guru dan siswa melakukan kegiatan tersebut secara berulang-
ulang
d. Penyimpulan materi
1.3 Pengamata dan Evaluasi
1.4 Tahap Refleksi


2. Siklus II
a. Proses Persiapan Tindakan
2.1 Tahap Persiapan Tindakan
a. Appersepsi
b. Menyiapkan LKS
2.2 Tahapan Pelaksanaan Tindakan
a. Guru menjelaskan materi secara singkat
b. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok
c. Guru membagi LKS
d. Siswa memeragakan kartu bergambar yang membentuk urutan
wudlu
e. Siswa melengkapi LKS dan berdiskusi dengan kelompoknya
f. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi
g. Membuat Kesimpulan
2.3 Tahapan pengamatan
2.4 Refleksi

C. KRITERIA KEBERHASILAN
Apabila peserta didik dapat mengurutkan gambar tentang urutan wudlu
dengan benar maka peserta didik dianggap TUNTAS.

D. JADWAL KEGIATAN
NO
Uraian Kegiatan
Juli
Mg 3
Juli
Mg4
Agust
Mg 3
Agust
Mg 4
Agust
Mg 5
1. Menyusun proposal PTK v
2. Menyusun perangkat dan instrument
penelitian
v v
3.



Mengumpulkan data dengan melakukan
tindakan :
a. Siklus I
b. Siklus II


v


v



v



v

4 Analisis Data v v v
5 Menyusun Laporan PTK v v v





DAFTAR PUSTAKA
Hadi, Anis Tanwir. 2008, Pengantar Fiqih Kelas I, Solo,Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri
http://www.hasiltesguru.com/2012/04/pengertian-hasil-belajar.html
Source: http://editopan.guru-indonesia.net/artikel_detail-36689.htmlBest
regards,Dedi Siswoyo
See more at: http://dinulislami.blogspot.com/2013/02/faktor-
faktor-yanmempengaruhihasil.html#sthash.0mM9pGWk.dpuf
Wordpress.com/2013/05/27/model-pembelajaran-picture-and-picture/
Zain, Lukman. 2009. Pembelajaran Fiqih. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan
Islam Departeman Agama Republik Indonesia.