Anda di halaman 1dari 1

Oleh Gede Suarnaya, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

“Seorang pegawai pajak tertangkap tangan oleh KPK sedang menerima suap...”, itulah kira-kira
potongan berita yang sangat berpotensi menghebohkan kantor pajak diseluruh negeri ini.
Makan tak enak, tidur pun tak enak. Apalagi jika akan ditugaskan memberikan pelayanan ke
lapangan. Sayup-sayup suara “Gayus” nampaknya sudah mulai terngiang-ngiang di telinga.
Wajar saja, karena “Gayus” masih menjadi bahan lelucon favorit masyarakat kalau berurusan
dengan pajak.
Pegawai pajak selalu menjadi bulan-bulanan media, ketika ada kasus korupsi yang melibatkan
oknum pegawai pajak. Tidak bisa di pungkiri lagi teori popcorn terbukti disana. Virus
generalisasi semacam ini sangat mempengaruhi kondisi psikologi saya dan rekan-rekan di DJP.
Alih-alih stres karena beban kerja yang berat, pegawai pajak malah terbebani oleh beban
Psikilogis. Di cap koruptor oleh sanak famili, teman, bahkan tetangga. Padahal realitanya tidak
semua pegawai pajak korup dan tidak jujur.
Kita harus belajar melihat sesuatu dengan realistis. RAPBN Tahun 2013 sebesar Rp1.507,7
T sebagian besar akan di topang oleh sumber-sumber penerimaan negara yang berasal dari
kemampuan bangsa Indonesia sendiri. Pajak, dalam lima tahun terakhir telah memberikan
kontribusi terhadap pendapatan negara meningkat dari 60% menjadi hampir 70%, sisanya
berasal dari penerimaan Kepabeanan dan Cukai, Penerimaan Negara Bukan Pajak, serta dari
Hibah.
Dalam konteks Perpajakan, DJP dalam mengumpulkan penerimaan Negara tak bisa bekerja
sendiri. Tak bisa hanya dibebankan di pundak DJP seorang. Semua elemen bangsa harus
mendukungnya. Peran POLRI dan Kejaksaan dalam mengejar para penunggak Pajak
sangatlah penting. Begitu pula peranan besar KPK dalam melakukan tindakan pencegahan
tindak pidana korupsi atas penggunaan uang Pajak dalam APBN. Maka, yang dibutuhkan
sekarang adalah Sinergi. Sinergi untuk bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan cita-cita
bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pancasila.
Mengapa korupsi bisa terjadi? Mengacu kepada kasus Gayus Tambunan, melihat keterkaitan
korupsi dengan kekuasaan, tindak kejahatan korporasi dan birokrasi, adalah hal yang akan
dibahas dalam makalah ini. Kasus korupsi yang dilakukan oleh kalangan atas, para elite, pejabat
dan petinggi Negara semakin serius sehingga menimbulkan banyak kerugian bagi Negara dan
masyarakat.
Mari kita dukung DJP untuk mencapai target Penerimaan Negara Rp1.000 Triliun untuk
Indonesia. Mari dukung KPK untuk memberantas koruptor di negeri ini. Kita dukung POLRI
dan Kejaksaan RI untuk memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi setiap warga Negara
di republik ini.