Anda di halaman 1dari 8

KONSTRUKSI JALAN DI ATAS TANAH LUNAK DENGAN

PERKUATAN GEOTEXTILE
Geotextile Reinforcement for Road Construction on Soft Soil


Didiek DJARWADI
1




ABSTRAK: Pelaksanaan konstruksi jalan diatas tanah lunak dengan perkuatan geotextile dapat
menghindarkan terjadinya keruntuhan lokal pada tanah lunak karena rendahnya daya dukung tanah.
Keuntungan penggunaan geotextile pada pelaksanaan jalan diatas tanah lunak adalah kecepatan dalam
pelaksanaan dan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan metoda penimbunan
konvensional. Tulisan ini akan mendiskusikan metoda perencanaan jalan diatas tanah lunak dengan
menggunakan metoda analisa keseimbangan batas, analisis stabilitas, pemilihan geotextile, penetapan
tegangan ijin geotextile, dan satu contoh pelaksanaan jalan diatas tanah lunak di Indonesia.

KATA KUNCI: jalan diatas tanah lunak, geotextile, metoda perencanaan.

ABSTRACT: Construction of road over soft soils using geotextile reinforcement offer an advantage
such as prevent a local failure of the soft soil due its low bearing capacity. Another benefit using
geotextile are faster in construction and cost effective compare to conventional methods. This paper
discusses the design method of soil reinforcement over soft soil using limit equilibrium method,
stability analysis, geotextile selection, determination of allowable stress of geotextile, and a case study
of the construction of road on soft soils in Indonesia.

KEYWORDS: road construction, soft soil, geotextile, limit equilibrium, design method, case study.

1. PENDAHULUAN

Penggunaan konstruksi perkuatan pada tanah lunak pertama kali dilaporkan oleh [1] dengan
menggunakan steel mesh dibawah konstruksi timbunan pada daerah pasang surut di Perancis.
Perbandingan antara timbunan diatas tanah gambut di Afrika dengan dan tanpa kerkuatan dilaporkan
oleh [2]. Konstruksi perkuatan pada timbunan diatas gambut dengan memasang instrumentasi juga
dilaporkan oleh [3] yang menyatakan bahwa selain woven polypropylene fabric, tegangan tarik semua
jenis geotextile yang diambil contohnya dari pemasangan setahun sebelumnya berkurang antara 25%
sampai 36% dari tegangan tarik awalnya, meskipun tidak berpengaruh banyak pada fungsinya..
Penggunaan berbagai jenis geotextile pada 17 lokasi proyek US Army Corps of Engineer di Amerika
Serikat pada tanah yang sangat lunak disampaikan oleh [4].

Penggunaan metoda elemen hingga pada design konstruksi timbunan diatas tanah lunak dengan
perkuatan pertama kali disampaikan oleh [5]. Tanah timbunan dimodelkan sebagai linier-elastis,
sedangkan tanah lunak dimodelkan sebagai anisotropic elastic perfectly plastic. Metoda perencanaan
konstruksi timbunan diatas tanah lunak dengan metoda elemen hingga juga disampaikan oleh [6-7].


1
Mahasiswa Doktoral, Bidang Ilmu Teknik Sipil, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Indonesia.
International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"
Surabaya, August 25-26, 2006
179
Metoda perencanaan dengan analisa keseimbangan batas (limit equilibrium) untuk konstruksi
timbunan diatas tanah lunak dengan perkuatan geotextile disampaikan oleh [8-10]. Metoda ini
dimaksudkan untuk mencari tegangan yang diperlukan oleh geotextile pada modus keruntuhan yang
ditinjau untuk menjaga stabilitas konstruksi. Perumusan yang dipergunakan adalah kaidah yang
berlaku pada bidang Mekanika Tanah sehingga memudahkan dalam memahami metoda ini.

2. METODA PERENCANAAN DENGAN ANALISA LIMIT EQUILIBRIUM

Timbunan badan jalan diatas tanah lunak akan mengalami penurunan yang besar dan kemungkinan
runtuh akibat kurangnya daya dukung tanah lunak terhadap beban timbunan. Suatu cara untuk
memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan cara penggunaan geotextile yang digelar diatas tanah
lunak sebelum pelaksanaan timbunan yang berfungsi sebagai perkuatan (reinforcement). Perkuatan
dalam kasus ini hanya bekerja sementara sampai dengan kuat dukung (bearing capacity) tanah lunak
meningkat hingga cukup untuk mendukung beban diatasnya. Analisa dengan metoda limit equilibrium
akan meninjau tiga modus stabilitas konstruksi timbunan diatas tanah lunak yaitu; stabilitas internal,
stabilitas fondasi tanah lunak dan stabilitas keseluruhan konstruksi (overall stability). Gambar 1
menunjukkan tinjauan stabilitas konstruksi timbunan diatas tanah lunak.

Gambar 1. Modus stabilitas pada analisa limit equilibrium
Untuk keperluan perencanaan, profil kuat geser tanah lunak perlu dimodelkan. Dua model
dipergunakan untuk mengidealisasikan kuat geser tanah lunak dibawah timbunan yaitu pada lapisan
tanah lunak tebal dan tipis. Pada lapisan tanah lunak tebal kuat geser tanah lunak diidealisasikan
meningkat sebagai fungsi kedalaman, sedangkan pada lapisan tanah lunak tipis, kuat geser tanah lunak
dianggap tetap.

Keseimbangan batas pada stabilitas internal seperti terlihat pada Gambar 2, menunjukkan bahwa untuk
menghindarkan kerusakan pada konstruksi timbunan, kuat tarik geotextile harus lebih besar dari gaya
lateral yang ditimbulkan oleh timbunan diatas tanah lunak.

Gambar 2. Keseimbangan batas pada stabilitas internal
DJARWADI
180
Hubungan antara kuat tarik geotextile pada stabilitas internal (σ
req-int.stab
) dengan gaya lateral timbunan
(P
fill
) dapat disampaikan dengan persamaan:


fill stab req
P >
int .
σ (1)

Seperti disampaikan oleh [11] pada Gambar 3, pada stabilitas internal, perkuatan geotextile harus
mempunyai dua fungsi yang masing-masing menambah stabilitas konstruksi timbunan, yaitu fungsi
pertama adalah menahan gaya lateral timbunan diatas tanah lunak (σ
req
= P
fill
). Apabila kuat tarik
geotextile lebih besar dari gaya lateral akibat timbunan (σ
req
> P
fill
), maka fungsi kedua geotextile
sebagai perkuatan adalah menjaga agar tidak terjadi keruntuhan fondasi, dan dapat disampaikan dalam
persamaan:


fdtn fill stab req
P P + =
int .
σ (2)

dengan σ
req.intstab
adalah kuat tarik geotextile yang diperlukan pada stabilitas internal, P
fill
adalah gaya
lateral oleh timbunan, dan P
fdtn
adalah geser antara tanah lunak dengan geotextile.

a) tanpa perkuatan b) dengan perkuatan geotextile
Gambar 3. Diagram kerja perkuatan geotextile (Jewell, 1988) [11]
Pendekatan keseimbangan batas pada stabilitas fondasi seperti yang disampaikan oleh [12] adalah
modus keruntuhan fondasi pada lapisan tanah lunak yang tebal adalah akibat rotasi (rotational sliding),
seperti terlihat pada Gambar 4a, dan modus keruntuhan pada lapisan tanah lunak yang tipis berbentuk
translasi (translation sliding) seperti terlihat pada Gambar 4b.


a) Lapisan tanah lunak tebal b) lapisan tanah lunak tipis
Gambar 4. Keseimbangan batas pada stabilitas fondasi

Pada keruntuhan bentuk rotasi dan translasi pada lapisan tanah lunak yang tebal, keseimbangan
momen untuk memperoleh kuat tarik geotextile yang diperlukan dapat disampaikan dengan
persamaan:
International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"
181

( ) [ ]
a
FS b a S c W
fdtn req
. .
.
+ −
= σ (3)

dan
[ ]FS S P P
p a fdtn req
− − =
.
σ (4)

dengan σ
req.fdtn
adalah tegangan ijin geotextile untuk stabilitas fondasi, W adalah berat tanah diatas
bidang longsor, a adalah jarak antara permukaan tanah lunak ke titik pusat rotasi, b adalah tebal tanah
lunak diatas bidang longsor, P
a
dan P
p
adalah tekanan aktif dan pasif tanah lunak diatas bidang
translasi, dan SF adalah faktor keamanan.
Modus keruntuhan pada stabilitas keseluruhan konstruksi (overall stability) mirip dengan modus
keruntuhan fondasi. Perbedaan antara keduanya adalah, pada stabilitas fondasi analisa dilakukan hanya
pada bagian tanah lunak saja, sedangkan pada stabilitas keseluruhan, analisa keruntuhan dibuat
menyeluruh termasuk timbunan dan fondasi tanah lunak dibawahnya. Gambar 5 menunjukkan pola
keruntuhan pada analisa stabilitas keseluruhan konstruksi baik keruntuhan rotasi maupun keruntuhan
translasi.


a) lapisan tanah lunak tebal b) lapisan tanah lunak tipis
Gambar 5. Keseimbangan batas pada stabilitas keseluruhan konstruksi

Pada keruntuhan bentuk rotasi dan translasi keseimbangan momen dan gaya untuk memperoleh kuat
tarik geotextile yang diperlukan dapat disampaikan dalam persamaan-persamaan:


( ) ( ) { }
a
b a S c W h a P FS
fill
ovrstab req
+ − + −
=
. 3
.
σ (5)
dan
[ ]FS S P P P
p a fill ovrstab req
− − + >
.
σ (6)

dengan σ
req.ovrstab
adalah tegangan ijin geotextile untuk stabilitas keseluruhan, dan h adalah tebal
timbunan tanah diatas tanah lunak.

3. PEMILIHAN DAN PENETAPAN TEGANGAN IJIN GEOTEXTILE

Tegangan ijin geotextile untuk perencanaan konstruksi perkuatan didefinisikan sebagai kuat tarik
ultimate sesuai umur rencana konstruksi dibagi dengan faktor reduksi yang diperhitungkan.
Perhitungan tersebut disampaikan oleh [12] dalam persamaan sebagai berikut:
DJARWADI
182









=
c m env d
c all
f f f f
1
.
1
.
1
.
1
. σ σ (7)

dengan σ
all
tegangan ijin geotexiile, σ
c
kuat tarik ultimate geotextile sesuai dengan umur konstruksi, f
d

faktor reduksi karena mechanical damage, f
env
factor reduksi oleh kondisi lingkungan, f
m
faktr reduksi
karena extrapolasi data kuat tarik geotextile, and f
c
faktor aman konstruksi.

Pemilihan geotextile untuk perkuatan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan external.
Faktor internal geotextile terdiri dari; kuat tarik geotextile, sifat perpanjangan (creep), struktur
geotextile dan daya tahan terhadap faktor lingkungan, sedangkan faktor external adalah jenis bahan
timbunan yang berinteraksi dengan geotextile. Struktur geotextile, yaitu jenis anyam (woven) atau nir-
anyam (non-woven) juga mempengaruhi pada pemilihan geotextile untuk perkuatan. Kondisi
lingkungan juga memberikan reduksi terhadap kuat tarik geotextile karena reaksi kimia antara
geotextile dengan lingkungan disekitarnya. Sinar ultra violet, air laut, kondisi asam atau basa serta
mikro organisme seperti bakteri dapat mengurangi kekuatan geotextile. Waktu pembebanan juga
mengurangi kekuatan geotextile karena akan terjadi degradasi pada geotextile oleh faktor fatigue dan
aging. Untuk menutupi kekurangan tersebut, tidak seluruh kuat tarik geotextile yang tersedia dapat
dimanfaatkan dalam perencanaan konstruksi perkuatan.

4. STUDI KASUS KONSTRUKSI JALAN DIATAS TANAH LUNAK

Sebagai studi kasus, disampaikan pelaksanaan jalan diatas tanah lunak dengan perkuatan geotextile di
pulau Setoko dan Nipah di kepulauan Riau. Jalan yang dibangun di daerah ini melewati beberapa
dataran rendah yang tertutup tanaman bakau dan terpengaruh pasang surut. Penyelidikan tanah yang
dilakukan menunjukkan bahwa lapisan tanah lunak sampai kedalaman 15 m dibawah permukaan
tanah. Gambar 6 menunjukkan potongan melintang tipikal jalan diatas tanah lunak dengan perkuatan
geotextile beserta parameter geoteknik bahan timbunan dan tanah lunak.

Gambar 6. Potongan melintang tipikal jalan diatas tanah lunak di pulau Setoko dan Nipah

Karakteristik pemampatan tanah lunak dari hasil uji konsolidasi disampaikan pada Gambar 7. Nilai
tersebut akan dipergunakan untuk mengkontrol penurunan selama pelaksanaan timbunan dengan
menggunakan settlement plate yang dipasang dengan interval 50 meter. Pada akhir penimbunan
tambahan timbunan sebagai kompensasi terhadap penurunan jangka panjang diberikan untuk
menjamin agar permukaan jalan sesuai dengan elevasi rencana.
International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"
183
-30
-20
-10
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160
Consolidation pressure (kPa)
V
e
r
t
i
c
a
l

D
e
f
o
r
m
a
t
i
o
n

(
%
)
first layer
second layer
third layer
fill pressure

Gambar 7. Karakteristik pemampatan tanah lunak dari hasil uji konsolidasi
4.1 KESEIMBANGAN BATAS STABILITAS INTERNAL

Dengan mengacu pada Gambar 3 dan Persamaan (2), tegangan geotextile yang diperlukan adalah:
fdtn fill req
P P + = σ (8)
P
fill


= 0.5×Ka×h
2
×γ dan
FS
h n S
P
u
fdtn
. . .
0
α
= (9)
σ
req
= 86.82 kN/m

dengan σ
req
adalah tegangan ijin geotextile untuk stabilitas internal, P
fill
adalah gaya lateral timbunan,
P
fdtn
adalah gaya geser antara tanah lunak dengan geotextile.

4.2 KESEIMBANGAN BATAS STABILITAS FONDASI

Mengingat ketebalan tanah lunak mencapai 15 meter, maka pola keruntuhan rotasi dipergunakan
dalam analisa. Gambar 8 menunjukkan analisa dengan 3 bidang longsoran yang berbeda. Hasil
hitungan menunjukkan bahwa bidang longsoran dengan radius R
1
memerlukan kuat tarik geotextile
yang terbesar, yaitu σ
req.fdtn
= 198.85 kN/m.

Gambar 8. Pola keruntuhan rotasi pada stabilitas fondasi

DJARWADI
184
4.3 KESEIMBANGAN BATAS STABILITAS KESELURUHAN

Dengan cara yang sama, keseimbangan batas stabilitas keseluruhan dihitung dengan pola keruntuhan
rotasi. Gambar 9 menunjukkan analisa dengan dua bidang longsoran yang berbeda. Hasil hitungan
menunjukkan bahwa bidang longsoran dengan radius R
2
memerlukan kuat tarik geotextile yang
terbesar, yaitu σ
req.fdtn
= 272.80 kN/m.

Hasil hitungan pada tiga modus stabilitas konstruksi timbunan diatas tanah lunak menunjukkan bahwa
kuat tarik geotextile maksimum yang diperlukan adalah 272.80 kN/m.

Gambar 9. Pola keruntuhan rotasi pada stabilitas keseluruhan
4.4 PEMILIHAN DAN PENETAPAN TEGANGAN IJIN GEOTEXTILE

Untuk memenuhi kriteria perkuatan yang disyaratkan maka dipilih polyester woven geotextile untuk
perkuatan jalan diatas tanah lunak di pulau Setoko dan Nipah. Faktor reduksi yang diperhitungkan
adalah; bahan timbunan residual soil, maka nilai f
d
digunakan 1,10. Geotextile dipasang di lingkungan
laut, maka nilai f
env
diambil 1,05. Tidak terdapat extrapolasi data kuat tarik geotextile untuk umur
rencana 2 tahun, maka σ
c
= 75%σ
ult
, dan f
m
diambil 1,00. Faktor aman (f
c
) diambil sebesar 1.10,
sehingga:


75%.
1,10 1, 00 1, 05 1, 00 1.10
ult
all
σ
σ =
× × × ×
= 60% σ
ult
. ⇒ σ
ult
= 454.67 kN/m.
-2
-1
0
1
2
3
4
5
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Working day
S

(
m
)







E
m
b
a
n
k
m
e
n
t

(
m
)

final elevation
extra embankment
remaining settlement

Gambar 10. Progres pelaksanaan penimbunan jalan diatas tanah lunak.
International Civil Engineering Conference "Towards Sustainable Civil Engineering Practice"
185
Penimbunan dilakukan dengan ketebalan 30 cm dan dipadatkan dengan vibratory smooth drum
compactor dengan berat 15 ton. Jumlah lintasan yang disyaratkan untuk mencapai derajat kepadatan >
97% Standard Proctor Compaction adalah 8 lintasan dengan kecepatan 10 km/jam. Kadar air
pelaksanaan dikontrol pada kisaran (-3% < OMC < +2%). Uji sand cone dilaksanakan dengan interval
setiap penimbunan 2500 m
3
untuk mengkontrol derajat kepadatan lapangan yang dicapai. Pengamatan
pelaksanaan timbunan sepanjang 400 meter, bagian dari pekerjaan disampaikan pada Gambar 10.

5. PENUTUP

Dari uraian tentang perencanaan jalan diatas tanah lunak dengan perkuatan geotextile dengan metoda
limit equilibrium, dan studi kasus, dapat disampaikan bahwa analisa perencanaan dengan metoda limit
equilibrium dengan tiga modus stabilitas konstruksi menunjukkan hasil yang memuaskan.

6. DAFTAR PUSTAKA

1. Kerisel, J., Le Barrage d’Arzal un barrage sur sol tres compressible construit au travers d’un
estuaire a mare . Geotechnique. Vol.23, No.1:49-65, 1973.
2. Belloni, L, and Sembenelli, P., “Road Embankments on Compressible Soils Constructed with the
Aid of Synthetic Fabrics”. Proc 1
st
Intl Conference on the Use of Fabrics in Geotechnics. Paris.
Vol 1:49-54, 1977.
3. Barsvary, A.K, MacClean, M.D, and Cragg, C.B.H., “Instrumented Case Histories of Fabric
Reinforced Embankments over peat Deposits”. Proc 2
nd
Intl Conference on Geotextiles. Las
Vegas. Vol III: 647-652, 1982.
4. Fowler, J, and Koerner, R.M., “Stabilization of very weak soft soils using geosynthetics”.
Miscellaneous Paper GL-87-3. US Army Corps of Engineer, Waterways Experiment Station.
Vicksburg, 1987.
5. Bell, J.R, Greenway, D.R, and Visher, W., “Construction and Analysis of a Fabric Reinforced
Low Embankment”. Proc 1
st
Intl Conference on the Use of Fabrics in Geotechnics. Paris. Vol
1:71-75, 1977.
6. Brown, B.S, and Poulos, H.G., “Analysis of Foundations on Reinforced Soil”. Civil Engineering
Research Report R.377. University of Sydney, 1980.
7. Rowe, K.R, and Soderman, K.L., “Stabilization of Very Soft Soils using High Strength
Geosynthetics: the Role of Finite Element Analyses”. Geotextiles and Geomembranes. Vol.6,
No.1-3: 53-80, 1987.
8. Broms, B.B., “Polyester fabric as reinforcement in soil”. Proc 1
st
Intl Conference on the Use of
Fabrics in Geotechnics. Paris. Vol 1:129-135, 1977.
9. Houlsby, G.T, and Jewell, R.A., “Analysis of unreinforced and reinforced embankment on soft
clays by plasticity theory”. Proc Conf on Numerical Method in Geomechanics (Innsbruck 1988),
A.A. Balkema: 1443-1448, 1988.
10. Hird, C.C., and Jewell, R.A., “The Theory of Reinforced Embankment”. Proc Conf of Reinforced
Embankments, Theory and Practice in the British Isles. Thomas Telford: 117-142, 1990.
11. Jewell, R.A., “The mechanics of reinforced embankments on soft soils”. Geotextiles and
Geomembranes. Vol.7: 237-273, 1988.
12. Voskamp, W., “Determination of allowable design strength of polyester reinforcing mats”. Proc
Conference Reinforced Embankments: Theory and Practice in the British Isles. Thomas Telford.
pp 67-81, 1990.
DJARWADI
186