Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Bank sebagai lembaga keuangan, disamping memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran dan peredaran uang, usaha pokok bisnisnya adalah memberikan
pelayanan kredit kepada para nasabahnya.
Sejak terjadinya Paket Juni ’83 pada masa perkembangan industri
perbankan, yang isinya yaitu menentukan sendiri suku bunga dalam rangka
meningkatkan mobilisasi dana dari masyarakat, dan mengurangi ketergantungan
dari BI, bank dari berbagai jenis kepemilikannya dapat memberikan keleluasaan
kredit kepada nasabahnya. Hal tersebut ternyata menarik perhatian masyarakat
sehingga banyak masyarakat mendatangi bank dengan harapan mendapat
pinjaman modal untuk membangun usaha atau bisnis, ataupun meningkatkan
usaha yang sudah ada.
Setelah kredit yang tersalurkan makin meningkat di kalangan masyarakat
khususnya di lingkungan pengusaha menengah ke atas, banyak bank yang
ternyata menyimpang dari aturan dalam pemberian kredit karena persaingan yang
ketat dalam penarikan nasabah. Selain itu banyak kelalaian yang dilakukan bank
dalam menganalisis pemberian kredit, dan pemberian jumlah pinjaman yang tidak
sesuai dengan kemampuan nasabah bank, sehingga terjadilah kredit macet pada
nasabah. Pernyataan tersebut sejalan dengan fakta yang di ungkapkan oleh
berbagai media masa akhir – akhir ini, yaitu banyak sekali diberitakan direktur
2

utama bank dan beberapa anggota direksinya ditangkap dengan tuduhan
memberikan kredit kepada para debiturnya secara tidak layak sehingga
memberikan risiko kerugian kepada bank karena fasilitas kredit tersebut menjadi
macet.
Timbulnya kredit-kredit macet, selain karena adanya indikasi debitur yang
tidak mau membayar kewajibannya, juga terlihat dalam prosedur pemberian kredit
yang ternyata mengalami penyimpangan atau tidak layak. Kasus kredit macet
dapat disebabkan oleh beberapa faktor ekstern dan faktor intern bank. Faktor
ekstern yang dapat mengakibatkan timbulnya kasus kredit macet adalah kredit
macet yang terjadi pada suatu bank dipengaruhi oleh kondisi ekonomi secara
makro, sedangkan faktor internnya adalah pemisahan wewenang dari para
pegawai yang tidak tegas, prosedur pemberian kredit yang tidak jelas, pegawai
yang tidak kompeten, lemahnya sistem pengawasan dan lain-lain. Seluruh faktor
tersebut terjadi semata-mata karena masih lemahnya profesionalisme para
pengelola bank.
Permasalahan yang biasanya timbul dapat terjadi pada saat pertama kali
diberikannya penyaluran dana oleh bank kepada pihak debitur, seperti pemberian
kredit yang dilakukan tanpa akad perjanjian kredit yang tentunya hal ini sungguh
merupakan suatu kejadian yang sangat tidak masuk akal dan jelas akan sangat
merugikan pihak kreditur. Atau bisa juga kredit itu bermasalah di tengah masa
perkreditan misalnya seperti seorang debitur yang mengalami kesulitan keuangan
sehingga pembayaran kewajiban atas kredit tidak dapat dilakukan sesuai dengan
ketentuan yang telah disepakati bersama sebelumnya. Kemudian bisa juga
3

diakibatkan oleh kondisi diluar bisnis debitur. Seperti kondisi keamanan yang
tidak mendukung untuk berjalannya proses bisnis debitur tersebut atau juga
kondisi alam yang tidak bersahabat seperti terjadinya bencana alam, cuaca yang
buruk dan lain-lain yang tentunya semua kondisi tersebut akan sangat
menghambat berjalannya proses bisnis debitur dan tentunya akan berdampak
secara langsung kepada bank sebagai kreditur dengan tidak dapat dipenuhinya
kewajiban debitur kepada kreditur.
Terdapat beberapa konsep yang dikemukakan oleh berbagai pihak dalam
rangka upaya merumuskan persyaratan atau prinsip – prinsip dalam pemberian
kredit secara sehat, salah satunya yakni prinsip “ the five C of credit analysis “
atau 5C’s, pada dasarnya konsep 5C’s ini akan memberikan informasi mengenai
itikad baik (willingness to pay ) dan kemampuan membayar nasabah untuk
melunasi kembali pinjaman beserta bunganya. Prinsip ini terdiri dari character
(penilaian watak), capacity (penilaian kemampuan), capital (penilaian terhadap
modal), collateral (penilaian terhadap agunan), dan condition of economy
(penilaian terhadap prospek usaha debitur). Prinsip lainnya yakni prinsip 5 P,
yang terdiri dari party (para pihak), purpose (tujuan), payment (pembayaran),
profitability (perolehan laba), dan protection (perlindungan). Selain daripada
kedua prinsip yang disebutkan tadi, bank dalam memberikan krdit juga
menggunakan prinsip 3 R, yaitu, returns (hasil yang diperoleh), repayment
(pembayaran kembali), dan risk bearing ability ( kemampuan menanggung
risiko).
4

Pada dasarnya ada 3 (tiga) pihak dari dalam dan luar bank yang
bertanggung jawab untuk menjaga agar operasi bank tetap sesuai dengan
ketentuan yang berlaku dan sejalan dengan prinsip-prinsip yang ada. Pihak
pertama, berasal dari dalam bank itu sendiri yakni fungsi-fungsi pengendalian
intern bank yang bersangkutan. Pihak kedua adalah pihak-pihak dari luar bank
seperti akuntan publik selaku auditor laporan keuangan bank, dan pihak yang
ketiga adalah bank Indonesia selalu regulator dan pengawas bank.
Tanggung jawab yang paling besar untuk menanggulangi terjadinya kredit
yang macet tentu saja pihak dari dalam bank yaitu pengendalian intern, dimana
dengan pengendalian intern diharapkan bank akan mampu mencapai tujuannya
dalam bidang perkreditan. Pengendalian intern ini dilakukan semata-mata bukan
untuk mencari kesalahan-kesalahan seseorang tetapi untuk membangun suatu
sistem manajemen yang protektif dan konstuktif. Dalam hal ini melakukan
pengelolaan kredit bank dengan suatu perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengawasan sedemikian rupa sehingga perkreditan dapat berjalan
dengan baik dan sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati bersama
sebelumnya.
Perlu ditekankan bahwa kredit merupakan kegiatan operasional terpenting
dalam kegiatan operasi bank dalam menghasilkan laba, karena perkreditan
memiliki nilai asset terbesar jika dibandingkan dengan kegiatan operasional bank
yang lain. Jadi sudah sepantasnya bila bank memberikan perhatian yang lebih
kepada kegiatan perkreditan, karena kredit yang bermasalah terutama kredit macet
akan menjadi ancaman jika pihak perbankan tidak dengan segera mengambil
5

langkah penyelesaiannya. Apabila kredit – kredit macet tersebut tidak segera
diselesaikan dapat mengakibatkan bank tersebut tidak sehat dan tidak menutup
kemungkinan bank tersebut bangkrut.
Oleh karena itu, untuk mengurangi kemungkinan adanya kredit yang
bermasalah yang nantinya akan berdampak pada penurunan laba operasional bank
sangatlah diperlukan suatu fungsi pengendalian intern di dalam bank untuk
memeriksa dan mengevaluasi aktivitas perkreditan yang dilakukan secara efektif
dan efisien. Karena banyak kasus kredit macet yang terjadi lebih disebabkan oleh
masalah yang berasal dari intern bank.
Tabel 1.1
Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu
Dengan Rencana Penelitian
Penelitian terdahulu Persamaan perbedaan Kesimpulan sumber
rury andriani pratama
(2009)
 Judul : Pengaruh
Besarnya pemberian
kredit
dan biaya dana
bank terhadap
rentabilitas
 Studi kasus : PT.
Bank Jabar Banten
Cabang Ciamis
 Variabel X
1

menggunakan
besarnya
pemberian
kredit
 Variabel X
2

menggunakan
biaya dana
bank
 Variabel Y
1

Menggunakan
rentabilitas
pemberian
kredit dan
biaya dana
bank secara
simultan
berpengaruh
signifikan
terhadap
rentabilitas
Skripsi
jurusan
akuntansi
fakultas
ekonomi
universitas
siliwangi
Herman Firmansyah
(2011)
 Judul : pengaruh
 Variabel X
1

menggunakan
besarnya
 Tidak adanya
variabel X
2

yaitu kredit
Besarnya
pemberian
kredit
Skripsi
jurusan
akuntansi
6

besarnya kredit
yang diberikan
terhadap laba
operasional bank
 Studi kasus : BRI
Bangbayang Ciamis
kredit yang
diberikan dan
variabel Y
yaitu laba
operasional
bank
bermasalah berpengaruh
signifikan
terhadap laba
operasional
Bank
fakultas
ekonomi
universitas
siliwangi
Rosmiyanti (2012)
 Judul : pengaruh
penyaluran kredit
dan kredit
bermasalah terhadap
rentabilitas
 Studi kasus : Bank
bjb Cabang
Tasikmalaya
 Variabel X
2

Menggunakan
kredit
bermasalah
 Variabel X
1
menggunakan
penyaluran
kredit dan Y
yaitu
rentabilitas
Penyaluran
kredit dan
kredit
bermasalah
secara
simultan
mempunyai
pengaruh
tidak
signifikan
terhadap
rentabilitas
Skripsi
jurusan
akuntansi
fakultas
ekonomi
universitas
siliwangi

Berdasarkan uraian, masalah yang terjadi, serta penelitian terdahulu di atas
maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang diberi judul :
“ pengaruh besarnya penyaluran kredit dan kredit bermasalah
terhadap laba operasional”

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengidentifikasi masalah yang
akan dibahas dalam penelitian sebagai berikut :
7

1. Berapa besarnya kredit yang diberikan, tingkat kredit yang bermaslah dan
laba operasional pada PT. BPR Mitra Kopjaya Mandiri Manonjaya
2. bagaimana pengaruh penyaluran kredit terhadap kredit yang bermasalah
pada PT. BPR Mitra Kopjaya Mandiri Manonjaya
3. bagaimana pengaruh penyaluran kredit dan kredit yang bermasalah baik
secara parsial maupun secara simultan terhadap laba operasional pada PT.
BPR Mitra Kopjaya Mandiri Manonjaya

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah di identifkasi di atas maka penulis
ingin melakukan penelitian yang bertujuan untuk :
1. Mengetahui berapa besarnya penyaluran kredit, kredit yang bermasalah
terhadap laba operasional pada PT. BPR Mitra Kopjaya Mandiri
Manonjaya
2. Mengetahui pengaruh penyaluran kredit terhadap kredit yang bermasalah
pada PT. BPR Mitra Kopjaya Mandiri Manonjaya
3. Mengetahui pengaruh besarnya penyaluran kredit dan kredit yang
bermasalah baik secara parsial maupun simultan terhadap laba operasional
pada PT. BPR Mitra Kopjaya Mandiri Manonjaya

1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai
pihak, antara lain :
8

1. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
penulis mengenai dunia perbankan khususnya mengenai pengaruh kredit
yang diberikan dan kredit yang bermasalah terhadap laba operasional bank
serta dapat menambah pengalaman penulis.
2. Bagi Bank
Penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk
meminimalisasi terjadinya kredit bermasalah yaitu dalam hal analisis
kredit sehingga dapat meningkatkan laba operasional bank dan
mendapatkan kinerja bank yang semakin sehat.
3. Bagi Pihak Lain
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan referensi serta tolak
ukur untuk diadakannya penelitian lebih lanjut.

1.5 Lokasi dan Jadwal Penelitian
1.5.1. Lokasi Penelitian
Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis melakukan penelitian
pada PT. BPR Mitra Kopjaya Mandiri, yang berlokasi di Jl. RTA. Prawira
Adiningrat No. 190 Manonjaya Tasikmalaya.
1.5.2. Jadwal Penelitian
Adapun waktu penelitian direncanakan dari bulan April 2014, hingga
dengan Agustus 2014.