Anda di halaman 1dari 5

Mengenal fenomena global yang

mempengaruhi iklim di Indonesia
REP | 20 May 2014 | 12:40 Dibaca: 57 Komentar: 0 0
Oleh: Kartika Lestari | www.kompasiana.com/putribobo
Sekitar beberapa tahun yang lalu, saat saya naik bis jarak jauh di Jepang, saya sempat terkesima
dengan komentar supir bis tentang cuaca saat itu. Karena komentar nya tidak hanya sekedar
mengenai panasnya suhu udara, tapi juga dilanjutkan dengan komentar-komentar sederhana tapi
tidak salah mengenai cuaca. Yang terpikir oleh saya saat itu adalah, pengenalan tentang iklim
kepada masyarakat awam cukup penting tidak hanya untuk memberikan wawasan tetapi juga di
perlukan untuk mendapatkan dukungan dalam menjaga keseimbangan kondisi alam.
Di sekolah, kita selalu dikenalkan tentang posisi negara yang srategis, di garis khatulistiwa,
diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan diapit oleh dua samudra (Hindia dan Pasifik). Dan
dengan posisi inilah, Indonesia banyak dipengaruh oleh fenomena iklim global dan sekaligus
berperan dalam perubahan iklim global. Di sini saya akan mengenalkan sesederhana mungkin
beberapa fenomena global yang banyak berpengaruh pada iklim di Indonesia. Semoga ini dapat
menjadi wawasan dan untuk selanjutnya mendukung dalam mengurangi dampak negatif dari
iklim dengan memulai dari diri kita sendiri.
1. El Nino dan La Nina
El Nino/La Nina adalah fenomena global yang terjadi di lautan Pasifik di
sepanjang ekuator (lautan luas di sebelah timur Indonesia, yang membatasi
kita dengan benua Amerika). Fenomena ini dimulai pada sekitar bulan Juli
(atau lebih awal) dan puncak kejadian terjadi pada sekitar bulan November
hingga Januari.
Lautan Pasifik yang dekat dengan Indonesia, sering disebut sebagai Pasifik
Barat dan yang dekat dengan benua Amerika sering disebut sebagai Pasifik
Timur, sedangkan di Antara nya disebut sebagai Pasifik Tengah. Dalam
kondisi normal, angin berhembus menuju Indonesia dan menghangatkan
suhu permukaan temperature laut (red: sea surface temperature, atau SST) di
Pasifik Barat, sehingga SST di Pasifik Barat menjadi lebih hangat daripada di
Pasifik Timur. Pada saat El Nino, kecepatan angin menuju Indonesia
melemah dan akibatnya SST di Pasifik Tengah-Timur lebih hangat daripada
kondisi normal. Curah hujan akan bergerak menuju ke daerah yang lebih
hangat yang menyebabkan curah hujan di Indonesia berkurang pada musim
penghujan. Fenomena sebaliknya disebut dengan La Nina, yang terjadi
karena penguatan angin menuju Indonesia dan lebih hangatnya SST di
Pasifik Barat, yang berakibat pada lebih tinggi nya curah hujan di Indonesia.
Parameter yang digunakan untuk mengenali El Nino dan La Nina adalah
perubahan SST di Laut Pasifik Tengah-Timur sepanjang ekuator. Jika SST di
sini lebih hangat daripada kondisi rata-rata, maka sedang terjadi El Nino dan
jika lebih dingin daripada kondisi rata-rata maka sedang terjadi La Nina. Data
SST yang dilihat adalah data rata-rata bulanan dan kekuatan El Nino dan La
Nina dilihat berdasarkan SST yang melebihi 0,5 derajat dalam sekitar 5 bulan
atau lebih berturut-turut. Umumnya, jika perbedaan SST dengan kondisi
normal masih di bawah 0,5derajat, atau perubahan SST yang melebihi
0,5derajat hanya kurang dari 5 bulan, maka masih belum dikatakan sebagai
El Nino atau La Nina. Kejadian El Nino/La Nina ini mempunyai siklus sekitar 2
hingga 7 tahun sekali, dan hingga saat ini belum dapat dikonfirmasikan bahwa
perubahan iklim yang terjadi saat ini akan meningkatkan jumlah kejadian El
Nino/La Nina, tetapi diindikasikan bahwa perubahan iklim meningkatkan
dampak dari El Nino/La Nina. Artinya dibandingkan dengan masa-masa
sebelumnya, saat El Nino, Indonesia akan mengalami kondisi lebih kering dan
pada saat La Nina, Indonesia akan mendapatkan curah hujah yang jauh lebih
tinggi.

Source of figure : http://www.tampabay.com/specials/2010/graphics/la-nina-vs-el-nino/
2. Indian Ocean Dipole, yang sering disingkat dengan IOD.
Sesuai dengan namanya, IOD adalah fenomena global yang terjadi di sepanjang ekuator dari Lautan
Hindia (lautan di sebelah barat Indonesia yang memisahkan Indonesia dengan benua Afrika). Serupa
dengan El Nino/La Nina, fenomena ini juga dibedakan menjadi dua, yaitu fase positif dan fase negatif.
Berbeda dengan El Nino yang mengalami puncak kejadian di sekitar November hingga Januari, IOD
mencapai puncak nya pada sekitar bulan September hingga November dan diawali pada sekitar bulan
Mei atau 1-2 bulan sebelumnya. Lautan Hindia di dekat Indonesia sering disebut sebagai Hindia Timur
dan yang berada di dekat benua Afrika sering disebut sebagai Hindia Barat.
Parameter yang digunakan untuk melihat kejadian IOD adalah perbedaan dari
perubahan SST yang terjadi Laut Hindia Barat dan yang terjadi di Laut Hindia
Timur. Jika perubahan SST di laut Hindia Barat lebih tinggi daripada di laut
Hindia Timur, artinya laut Hindia Barat lebih hangat daripada laut Hindia Timur
dan terjadilah IOD fase positif. Dalam IOD fase positif, curah hujan akan
bergeser menuju ke barat menjauhi Indonesia dan mengakibatkan Indonesia
mengalami kekeringan pada musim kemarau. Dalam IOD fase negatif,
kejadian sebaliknya terjadi, yaitu perubahan SST di laut Hindia Timur akan
lebih hangat daripada laut Hindia Barat dan akibatnya, Indonesia mengalami
curah hujan yang lebih tinggi pada musim kemarau.
Perubahan SST di Hindia Barat dan Hindia Timur ini berosilasi setiap tahun
tetapi tidak semuanya adalah fenomena IOD, karena selisih perubahan SST
di Hindia Barat dan Timur juga harus melebihi nilai tertentu (biasanya sekitar
0,4derajat) selama paling tidak 3 bulan terturut-turut.

Source of figure: http://www.jamstec.go.jp/frsgc/research/d1/iod/e/iod/about_iod.html

3. Monsoon
Monsoon adalah fenomena global yang terjadi secara musiman dan dibagi
menjadi monsoon Asia, yang puncaknya terjadi sekitar bulan Juni hingga
Agustus, dan monsoon Australian, yang puncaknya terjadi sekitar bulan
Desember hingga Februari. Kejadian monsoon ini sebagai akibat dari
perbedaan suhu permukaan lautan dan daratan karena perubahan posisi
matahari.
Pada sekitar bulan April, matahari bergerak menuju ke utara yang
mengakibatkan suhu di daratan Asia lebih panas daripada di lautan sekitarnya
(red: lautan bersifat menyerap panas lebih lambat daripada daratan). Karena
perbedaan ini, maka arah angin berubah menuju ke arah benua Asia (red:
itulah mengapa disebut sebagai monsoon Asia) yang membawa uap air dari
dari selatan dan mengakibatkan curah hujan di belahan bumi utara lebih
tinggi. Pada saat terjadinya monsoon Asia, Indonesia akan mengalami musim
kemarau, karena awan konveksi yang pada saat dalam kondisi normal berada
di Indonesia bagian selatan bergeser ke arah utara menuju ke laut Cina
Selatan (laut di sebelah utara pulau Kalimatan).
Sebaliknya pada bulan September, matahari kembali bergerak menuju ke
selatan, yang mengakibatkan benua Australia lebih hangat daripada lautan di
sekitarnya, dan arah angin pun berbalik arah menuju ke selatan menuju
Australia (red: itulah mengapa disebut monsoon Australia). Pada saat ini,
awan konveksi kembali menuju ke bagian selatan dari Indonesia dan
mengakibatkan Indonesia mengalami curah hujah yang tinggi.
Parameter yang sering dilihat untuk melihat kekuatan monsoon ini adalah
arah angin atau outgoing longwave radiation (red: OLR). OLR adalah radiasi
yang dipancarkan kembali dari bumi dan tergantung dari kondisi awan. Jika
kondisi awan tebal, maka radiasi yang dipancarkan kembali menjadi rendah
(OLR rendah), dan jika langit cerah maka radiasi yang dipancarkan kembali
akan tinggi (OLR tinggi). Biasanya nilai perubahan OLR di laut Cina Selatan
akan berbanding terbalik dengan nilai perubahan OLR di Indonesia bagian
tengah. Pada saat monsoon Asia, perubahan nilai OLR di laut Cina Selatan
akan negatif dan di Indonesia akan positif. Ini berarti bahwa curah hujan yang
tinggi di laut Cina Selatan (OLR rendah) berkaitan dengan curah hujan rendah
di Indonesia (OLR tinggi).
4. Madden Julian Oscillation, atau yang sering disingkat dengan MJO
MJO adalah fenomena yang terjadi di ekuator di mana awan konveksi
merambat di sepanjang ekuator dan perjalanannya selama 30 hingga 90 hari.
Fenomena ini dikenali terutama di lautan Hindia dan lautan Pasifik. Hujan
yang cukup tinggi biasanya pertama kali dikenali di lautan Hindia dan
kemudian merambat ke arah timur menuju lautan hangat di Pasifik Barat-
Tengah. Kekuatannya melemah saat menuju lautan yang lebih dingin di
Pasifik Timur, kadang-kadang muncul kembali dengan kekuatan yang kecil di
Lautan Atlantik dan kembali terdeteksi dengan kekuatan yang tinggi di lautan
Hindia. Dari karakter geraknya, maka kita dapat mengetahui bagaimana
fenomena ini mempengaruhi curah hujan di Indonesia.
Parameter yang sering digunakan untuk melihat pergerakan MJO adalah
OLR, karena dengan menggunakan OLR kita dapat melihat pergerakan dari
awan konveksi yang berkaitan dengan tinggi/rendahnya curah hujan di daerah
tersebut.

Source of figure: http://www.meteoportaleitalia.it/didattica/didattica/didattica-circolazione-atmosferica/3153-didattica-sulla-
mjo-parte-1-informazioni-generali.html