Anda di halaman 1dari 3

Obor Rakyat dan Kekerasan Semiotik

Oleh: Ali Rif’an
Peneliti Pol-Tracking Institute, Mahasiswa Pascasarjana UI

Kampanye hitam akhir-akhir ini agaknya sudah keterlaluan sehingga membuat
masyarakat resah. Suasana kebatinan masyarakat terkoyak karena terus dijejali isu-isu miring
yang nyaris tak dapat dibuktikan kebenarannya. Salah satunya adalah munculnya tabloid Obor
Rakyat yang saat ini ramai dibicarakan di media. Tabloid pimpinan Setyardi Budiyono itu
membuat sebagian masyarakat gerah karena berisi tentang isu-isu negatif—bahkan
menghina—salah satu pasangan capres.
Capres yang menjadi serangan tembak adalah Joko Widodo. Dalam tabloid yang dikirim
ke beberapa wilayah strategis di Indonesia seperti di desa-desa dan pesantren-pesantren
tersebut berisi tentang isu-isu negatif yang menurut Dewan Pres tidak memenuhi standar
jusnalistik. Pemberitaannya tidak berimbang karena tak ada konfirmasi ke pihak yang dirugikan.
Bahkan konten dari tabloid itu berisi provokasi dan penghasutan yang jika terus dibiarkan justru
akan menimbulkan permusuhan di masyarakat.
Wajar jika sekarang muncul desakan dari sebagian tokoh masyarakat dan elite politik
untuk segera untuk menghentikan peredaran sekaligus mengusut tuntas siapa dalang di balik
pembuatan dan pendistribusian tabloid Obor Rakyat. Apalagi sudah ada pengakuan dari
Pemimpin Redaksi Obor Rakyat, Setyardi Budiono, bahwa tabloid tersebut dibuat atas
inisiatif—dan konon didanai—sendiri karena dilatari dengan kekesalan pada capres Joko
Widodo. Dia mengaku kesal dengan Joko Widodo karena mantan Waki Kota Solo itu dianggap
tidak konsisten dengan janjinya memimpin DKI Jakarta selama lima tahun. Kekesalan itu
kemudian dilampiaskan dengan melakukan propaganda terhadap masyarakat, mencoba
mengiring preferensi publik agar tidak memilih Joko Widodo nanti saat pencoblosan, 9 Juli
2014.
Meski banyak orang menyangsikan apakah hadirnya tabloid itu memang benar-benar
dari inisiatif Setyardi Budiyono sendiri atau ada pihak ketiga yang bermain, yang jelas
beredarnya Obor Rakyat telah menodai pesta demokrasi dan kesejukan pilpres. Bahkan
beredarnya tabloid Obor Rakyat juga bisa disebut sebagai bagian dari kampanye hitam yang
sistematis, masif, dan terstruktur. Dalam pandangan lebih jernih, tentu bentuk kampanye
hitam—apalagi disertai dengan penggunaan bahasa-bahasa yang sakras—seperti itu bisa
disebut sebagai sebuah kekerasan dalam politik.

Kekerasan semiotik
Sejatinya, ada tiga bentuk kekerasan, yakni kekerasan fisik, kekerasan simbol, dan
kekerasan semiotik. Kekerasan fisik adalah kekerasan nyata yang dapat dilihat dan dirasakan
oleh tubuh yang mengakibatkan luka dan rasa sakit fisik. Sementara kekerasan simbol menurut
Pierre Bourdieu adalah sebuah bentuk kekerasan yang halus dan tak tampak, yang dibungbus
melalui tanda-tanda dan simbol. Adapun kekerasan semiotik adalah kekerasan yang terdapat
pada bahasa itu sendiri, baik narasi bahasa, konten, maupun simbol-simbol.
Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era
Virtualitas (2005: 237) pernah mengatakan bahwa kata-kata yang secara vulgar mengandung
unsur menyerang dan menghina sudah bisa dianggap sebagai sebuah bentuk kekerasan pada
tingkat semiotik. Dalam era politik virtual seperti sekarang, kekerasan semiotik dalam politik
sama bahayanya dengan kekerasan fisik. Jika kekerasan fisik mengkibatkan luka-luka fisik yang
bersifat lahiriah, maka kekerasan semiotik akan mengakibatkan luka-luka psikis yang bersifat
batiniah.
Kekerasan fisik dalam politik sebenarnya sudah sering terjadi di Indonesia, seperti pada
era Orde Baru, di mana hak pilih warga seolah-olah ditentukan oleh partai penguasa saat itu.
Tak jarang, melalui perantara alat negara, intimidasi-intimidasi politik dilakukan. Suasana pesta
demokrasi kemudian tak mampu menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat, tapi justru
suasana yang mencekam.
Kini di era reformasi, bandul kekerasan politik lebih banyak mewujud dalam bentuk
simbol dan kata-kata serta tanda (semiotik). Kekerasan simbol misalnya kerap kita temui pada
atribut-atribut kampanye yang berisi gambar menghina ataupun melecehkan lawan politik.
Sedangkan kekerasan semiotik terlihat jelas dengan narasi-narasi yang berseliweran saat ini
yang berisi menghujat, distorsi atau pembalikan fakta, kata-kata yang berbau provokasi, SARA,
dan lain-lain.
Tentu setiap kekerasan yang terjadi bukanlah tindakan yang berdiri sendiri. John Gunn
di dalam Violence in Human Society mengatakan bahwa bencara krisis kemanusiaan (seperti
kekerasan) di dalam sebuah masyarakat terjadi bila ikatan positif atau perekat soial dalam
bentuk cinta dan persahabatan, dan kasih sayang telah hancur (Piliang, 2005: 79). Jika mengacu
pada pandangan tersebut, maka jelas bahwa kekerasan politik dalam konteks pilpres hari ini
terjadi paling tidak karena dua lasan. Pertama, karena adanya barisan sakit hati terhadap salah
satu pasangan capres. Barisan sakit hati ini bisa terbagi dua. Kelompok pertama adalah barisan
yang awalnya mendukung salah satu pasangan kemudian banting setir memusuhinya karena
ada beberapa sebab atau masalah. Kelompok kedua adalah barisan yang memang sedari awal
sudah tidak suka dengan sang capres. Kedua, kekerasan politik dilakukan karena ada
kekhawatiran terhadap lawan politik, seperti persaingan yang ketat, lawan politik lebih unggul,
dan lain lain.
Dalam perspektif politik, kekerasan politik (semiotik) biasanya ditujukan pada
masyarakat pemilih tradisional. Pemilih trandisional biasanya akan lebih mudah dipengaruhi
(dipropaganda) ketimbangan pemilih rasional-kritis. Ceruk pemilih tradisional cenderung
berada di desa-desa sedangkan pemilih rasional-kritis berada di perkotaan. Tentu meski hanya
berupa narasi dan kata-kata, kekerasan semiotik dalam politik sangat berbahaya. Seorang
pemikir Prancis, Jean Baudrillard, dalam bukunya The Perfect Crime (1996) pernah mengatakan
bahwa kekerasan atau teror yang diciptakan sedemikian rupa (sistematis), akan tampak seolah-
olah alamiah.
Karena itu, kekerasan politik—entah apapun bentuknya—harus segera dihentikan.
Publik merindukan suasana menjelang pilpres kali ini berjalan dengan hikmat dan penuh
kesejukan. Jangan nodai suasana hajatan akbar demokrasi dengan bentuk-bentuk kekerasan
sehingga membuat masyakarat menjadi resah. Justru, pesta demokrasi lima tahunan harus kita
sambut dengan penuh kegembiraan, suka cita, dan gegap gempita. Semoga.

Biodata Penulis
Nama Lengkap : Ali Rif’an
Pendidikan : S2 Universitas Indonesia
Pekerjaan : Peneliti Pol-Tracking Institute
Alamat Kantor : Jl. Pangrango No. 3A Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan
Email : alirif.an@yahoo.com
Mobile : 0852-88157188
No Rekening : 0112978891 (BNI) Cab.Melawai Raya, a/n Ali Rif’an