Anda di halaman 1dari 33

IKATAN AHLI PENGADAAN INDONESIA

(IAPI)


(INDONESIAN PROCUREMENT PROFESSIONAL ASSOCIATION)













ANGGARAN DASAR
&
ANGGARAN RUMAH TANGGA

MUNAS I 2011










SENGAJA KOSONG












IKATAN AHLI PENGADAAN INDONESIA (IAPI)

ANGGARAN DASAR


P E M B U K A A N

Bahwa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 seperti yang tercantum dalam
pembukaan UUD 1945 adalah merupakan kewajiban dan tanggung jawab
setiap komponen bangsa dan warga negara Republik Indonesia.

Pembangunan Nasional yang dilaksanakan oleh bangsa dan segenap
masyarakat Indonesia perlu terus ditingkatkan pelaksanaannya,
pemeliharaan dan perawatannya agar dapat memberikan jaminan kualitas
dan harga dalam pemanfaatan atau pemakaiannya. Untuk hal tersebut
perlu dikembangkan suatu masyarakat dan lingkungan kerja yang efisien,
efektif transparan, sehat dan sejahtera antara lain melalui keahlian
kegiatan pengadaan barang dan jasa.

Ahli pengadaan barang dan jasa merupakan bagian dari masyarakat
Indonesia yang bertekat turut mengemban tugas untuk melaksanakan,
mendukung dan mensukseskan Pernbangunan Nasional melalui
peningkatan kemampuan, keahlian dan kualitas sumber daya manusia
yang menangani dan terkait dengan kegiatan pengadaan barang dan jasa.

Dalam proses pengadaan barang dan jasa diperlukan adanya tenaga
profesional dibidang pengadaan barang dan jasa yang bersatu padu dalam
suatu wadah sebagai sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan
profesionalisme.

Atas dasar pemikiran tersebut diatas dan didorong oleh rasa tanggung
jawab sebagai warga negara Republik Indonesia yang berprofesi dibidang
pengadaan barang dan jasa, dengan semangat kekeluargaan, dan dengan
memohon rahmat Tuhan Yang Maha Esa dengan ini para ahli pengadaan
barang dan jasa Indonesia bersepakat untuk membentuk organisasi
sebagai berikut :

BAB II

NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN

Pasal 1
Nama

Nama Ikatan ini adalah “IKATAN AHLI PENGADAAN INDONESIA” disingkat
IAPI, dengan terjemahan resmi dalam bahasa Inggris adalah “INDONESIAN
PROCUREMENT PROFESSIONAL ASSOCIATION”

Pasal 2
Waktu

IKATAN AHLI PENGADAAN INDONESIA, berkedudukan di Jalan Gatot
Subroto Kavling 94, Kelurahan Pancoran, Kecamatan Pancoran, Jakarta
Selatan, didirikan di Semarang pada saat Simposium Ahli Pengadaan
Nasional III pada tanggal 3 Juli 2008, untuk jangka waktu yang tidak
ditentukan.

Pasal 3
Kedudukan

Apabila dianggap perlu, dapat dibentuk cabang yang berkedudukan di
kota-kota dalam Wilayah Daerah Indonesia.

BAB II

STATUS

Pasal 4
Status

Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia adalah Ikatan Profesi Ahli Pengadaan
Indonesia.
BAB III

LAMBANG DAN TANDA PENGENAL

Pasal 5

1. Lambang Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia ditetapkan dalam
Musyawarah Nasional dengan mencantumkan tulisan Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia;
2. Tanda Pengenal Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia berupa bendera,
vandel atau tanda-tanda lainnya dengan lambang dan atau tulisan
Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia ditetapkan oleh Dewan Pengurus
Pusat.

BAB IV

AZAS, MAKSUD DAN TUJUAN SERTA KEGIATAN

Pasal 6
Azas

Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia berazaskan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945.

Pasal 7
Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia :
1. Membina serta mengembangkan profesionalisme dan etika para pelaku
Pengadaan Barang dan Jasa Indonesia;
2. Membina dan mengembangkan kerjasama dan saling pengertian antara
para anggota;
3. Mengembangkan norma, standarisasi dan sertifikasi di bidang
Pengadaan Barang dan Jasa ;
4. Menyalurkan aspirasi dan potensi anggota untuk turut berperan aktif
dalam Pembangunan Nasional;
5. Menjalin kerja sama dengan Pemerintah, Lembaga, Perguruan Tinggi
dan organisasi sejenis, di dalam maupun di luar negeri.
Pasal 8
Kegiatan
Untuk melakukan maksud dan tujuan sesuai pasal 7 di atas, Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia mempunyai kegiatan :
1. Membantu Pemerintah menyusun kebijakan di bidang pengadaan
barang dan jasa yang adil, jujur, terbuka, efisien dan efektif, hemat,
serta bebas dari kolusi, korupsi, nepotisme dan pertentangan
kepentingan sehingga dapat dipertanggung-jawabkan secara hukum,
teknis, administrasi dan moral;
2. Membantu pengguna dan penyedia barang dan jasa serta masyarakat
umum untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan pengadaan barang dan
jasa;
3. Membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh para
anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia dalam melakukan tugas dan
kewajibannya;
4. Sebagai wadah komunikasi, koordinasi, pemersatu bagi anggota Ikatan
Ahli Pengadaan Indonesia pada khususnya;

BAB V

KEANGGOTAAN

Pasal 9
Anggota
Keanggotaan di dalam Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia terdiri dari :
1. Anggota Biasa;
2. Anggota Kehormatan.

Pasal 10
Definisi Anggota Biasa dan Anggota Kehormatan
1. Anggota Biasa
Anggota Biasa adalah para Ahli Pengadaan Barang dan Jasa yang
tugas/pekerjaannya terkait langsung atau tidak terkait langsung dalam
pengadaan barang dan jasa.
2. Anggota Kehormatan
Anggota Kehormatan adalah para anggota yang diangkat karena jasa-
jasanya dalam mengembangkan bidang keahlian Pengadaan Barang dan
Jasa.
Pasal 11
Syarat Keanggotaan

Syarat Keanggotaan Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia ditetapkan dalam
anggaran rumah tangga.

Pasal 12
Status Anggota
Anggota Biasa maupun Anggota Kehormatan hilang status keanggotaannya
karena meninggal dunia, mengundurkan diri atau diberhentikan sebagai
anggota oleh Dewan Pengurus.

Pasal 13
Pemberhentian/ Pencabutan Hak Sebagai Anggota

Dewan Pengurus dapat memberhentikan/mencabut hak keanggotaan
seorang anggota dan sekaligus sertifikat keahlian yang dimilikinya jika
anggota tersebut melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Melakukan tindakan yang bertentangan dengan azas dan tujuan
organisasi, bertindak tidak profesional serta melanggar keputusan
penting dari Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia;
2. Melanggar Kode Etik dan Tata Laku Profesi.

Pasal 14
Permohonan berhenti sebagai Anggota
Permohonan untuk berhenti sebagai anggota harus disampaikan secara
tertulis kepada Dewan Pengurus setempat untuk selanjutnya disahkan oleh
Dewan Pengurus Pusat.

BAB VI

KODE ETIK

Pasal 15
Kode Etik Profesi

Dalam melaksanakan tugasnya, seluruh anggota Ikatan Ahli Pengadaan
Indonesia terikat dan harus tunduk pada Kode Etik Ahli Pengadaan
Indonesia seperti yang telah dirumuskan dan disahkan pada Musyawarah
Nasional.
BAB VII

ORGAN

Pasal 16
Kepengurusan

Organ Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia terdiri dari :

1. Musyawarah Nasional / Musyawarah Nasional Luar Biasa / Musyawarah
Daerah / Rapat Kerja / Rapat Pengurus / Rapat Anggota;
2. Pengurus terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus Daerah dan Pengurus
Cabang.

Pasal 17
Pengurus Pusat

1. Pengurus Pusat berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia;
2. Pengurus Pusat terdiri dari Dewan Pembina Pusat, Dewan Pengawas
Pusat dan Dewan Pengurus Pusat;
3. Pengurus Pusat bertugas menjalankan maksud dan tujuan Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia;
4. Pengurus Pusat bertanggung jawab kepada Musyawarah Nasional atau
Musyawarah Nasional Luar Biasa;
5. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat dipilih oleh Musyawarah Nasional
atau Musyawarah Nasional Luar Biasa;
6. Dewan Pengurus Pusat paling tidak terdiri dari seorang Ketua Umum
selaku penanggung jawab umum organisasi, dengan dibantu oleh tiga
orang Ketua, seorang Sekretaris Jenderal dan dua orang Wakil Sekretaris
Jenderal serta seorang Bendahara dan dua orang Wakil Bendahara.





Pasal 18
Pengurus Daerah

1. Pengurus Daerah berkedudukan di Ibu Kota Provinsi di Indonesia;
2. Pengurus Daerah terdiri dari Dewan Pembina Daerah, Dewan Pengawas
Daerah dan Dewan Pengurus Daerah;
3. Pengurus Daerah bertugas menjalankan maksud dan tujuan Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia di Daerah;
4. Pengurus Daerah bertanggung jawab kepada Musyawarah Daerah dan
Pengurus Pusat;
5. Ketua Dewan Pengurus Daerah dipilih oleh Musyawarah Daerah dan
disahkan oleh Dewan Pengurus Pusat;
6. Dewan Pengurus Daerah paling tidak terdiri dari seorang Ketua selaku
penanggung jawab umum organisasi Daerah, dengan dibantu oleh tiga
orang Wakil Ketua, seorang Sekretaris dan dua orang Wakil Sekretaris
serta seorang Bendahara dan seorang Wakil Bendahara.

Pasal 19
Pengurus Cabang

1. Pengurus Cabang berkedudukan di Ibu Kota Kabupaten/Kota di Indonesia
dan dibentuk sesuai kebutuhan;
2. Pengurus Cabang terdiri dari Dewan Pembina Cabang, Dewan Pengawas
Cabang dan Dewan Pengurus Cabang;
3. Pengurus Cabang bertugas menjalankan maksud dan tujuan Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia di Cabang;
4. Pengurus Cabang bertanggung jawab kepada Pengurus Daerah;
5. Ketua Dewan Pengurus Cabang dipilih oleh Rapat Anggota Cabang dan
disahkan oleh Dewan Pengurus Daerah;
6. Dewan Pengurus Cabang paling tidak terdiri dari seorang Ketua selaku
penanggung jawab umum organisasi Cabang, dengan dibantu oleh dua
orang Wakil Ketua, seorang Sekretaris seorang Wakil Sekretaris serta
seorang Bendahara dan seorang Wakil Bendahara.


Pasal 20
Dewan Pembina

1. Dewan Pembina bertugas membina dan memberi arahan atas
penyelenggaraan dan kesuksesan organisasi;
2. Dewan Pembina dipilih oleh Rapat Umum Anggota setempat.

Pasal 21
Dewan Pangawas

1. Dewan Pengawas bertugas mengawasi dan menilai pelaksanaan kegiatan
organisasi, laporan keuangan, memberi arahan dan bimbingan serta saran
perbaikan kepada Dewan Pengurus Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia;
2. Dewan Pengawas paling tidak terdiri dari seorang Ketua, seorang Wakil
Ketua dan tiga Anggota;
3. Dewan Pengawas dipilih oleh Rapat Umum Anggota setempat;
4. Anggota dan Ketua Dewan Pengawas mempunyai Hak Suara yang sama.

Pasal 22

Pengangkatan dan Pemberhentian serta Tugas
dan Wewenang Dewan Pengawas

1. Dewan Pengawas diangkat dan diberhentikan oleh Rapat Umum Anggota
setempat;
2. Dewan Pengawas berwenang :
a. Memeriksa dokumen;
b. Memeriksa pembukuan dan mencocokannya dengan uang kas;
c. Mengetahui segala tindakan yang telah dijalankan oleh Dewan
Pengurus;
d. Memberi peringatan kepada Dewan Pengurus.
3. Dewan Pengawas dapat memberhentikan untuk sementara 1(satu) orang
atau lebih Dewan Pengurus, apabila bertindak bertentangan dengan
Anggaran Dasar dan atau peraturan Perundang-undangan yang berlaku
4. Pemberhentian sementara itu harus diberitahukan secara tertulis kepada
yang bersangkutan disertai alasannya;
5. Dalam hal seluruh Dewan Pengurus diberhentikan sementara, maka untuk
sementara Dewan Pengawas diwajibkan mengurus organisasi.

Pasal 23
Rapat Dewan Pengawas

1. Rapat Dewan Pengawas dapat diadakan setiap waktu bila dianggap perlu
atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih Dewan Pengawas;
2. Rapat Dewan Pengawas diadakan ditempat kedudukan organisasi atau
ditempat kegiatan organisasi;
3. Rapat Dewan Pengawas sah dan berhak mengambil keputusan yang
mengikat apabila dihadiri paling sedikit 2/3 dari jumlah Dewan Pengawas;

BAB VIII

RAPAT ORGANISASI IKATAN

Pasal 24
Rapat Organisasi

Rapat Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia terdiri atas :
1. Musyawarah Nasional;
2. Musyawarah Nasional Luar Biasa;
3. Musyawarah Daerah;
4. Rapat Kerja Nasional;
5. Rapat Kerja Daerah;
6. Rapat Dewan Pengawas
7. Rapat Pengurus Pusat;
8. Rapat Pengurus Daerah:
9. Rapat Pengurus Cabang.

BAB IX

DANA

Pasal 25

Dana Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia diperoleh dari :
1. Uang pangkal dan iuran rutin anggota;
2. Sumbangan tidak mengikat dalam bentuk apapun yang diterima secara
transparan dan sah serta tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar;
3. Hasil kegiatan dan pendapatan lain yang sah.
BAB X

ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 26

1. Peraturan dan ketentuan lain yang belum atau tidak tercantum dalam
Anggaran Dasar ini, diatur dalam Anggaran Rumah Tangga atau peraturan
lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar.
2. Anggaran Rumah Tangga disiapkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia dan disahkan oleh Musyawarah Nasional, sedangkan
peraturan lain yang diperlukan disiapkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia.

BAB XI

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 27

Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan dalam Musyawarah
Nasional atau Musyawarah Nasional Luar Biasa berdasarkan keputusan
musyawarah secara demokratis dengan keputusan mínimum 3/4 dari peserta
anggota yang hadir.

BAB XII

PENGGABUNGAN, PELEBURAN, DAN PENGAMBIL ALIHAN

Pasal 28

Dengan mengindahkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku maka penggabungan, peleburan, dan pengambil alihan hanya dapat
dilakukan berdasarkan keputusan musyawarah nasional yang dihadiri oleh
paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari peserta anggota yang hadir dan
keputusan disetujui paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari jumlah anggota yang
hadir.


Pasal 29

PEMBUBARAN DAN LIKUIDASI

1. Dengan mengindahkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku maka pembubaran hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan
musyawarah nasional yang dihadiri paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari
peserta anggota yang hadir, dan disetujui paling sedikit ¾ (tiga per empat)
dari jumlah peserta anggota yang hadir;
2. Apabila dibubarkan baik karena berakhirnya jangka waktu berdirinya atau
dibubarkan berdasarkan musyararah nasional atau karena dinyatakan
bubar berdasarkan penetapan Pengadilan, maka harus diadakan likuidasi
oleh suatu panitia yang bertugas untuk menyelesaikan kewajiban, hak dan
mengurus kekayaan organisasi;
3. Anggaran Dasar seperti yang termaktub dalam Akta Pendirian beserta
pengubahannya di kemudian hari tetap berlaku sampai dengan tanggal
disahkannya perhitungan likuidasi.

BAB XIII

ATURAN KHUSUS

Pasal 30
Aturan Peralihan

1. Untuk pertama kali anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia terdiri dari
para Peserta Simposium III Ahli Pengadaan Indonesia yang diadakan di
Semarang pada tanggal 3 Juli 2008 dan menyatakan minatnya secara
tertulis.
2. Dewan Pengurus Pusat untuk pertama kali dibentuk oleh formatur yang
terdiri dari 7 (tujuh) orang Peserta Simposium Ahli Pengadaan III yang
ditunjuk atas dasar musyawarah dan mufakat yang berasal dari perwakilan
host dan 6 (enam) Wilayah/Daerah, dengan tugas :
a. Melakukan pembentukan kepengurusan;
b. Mensosialisasikan manfaat organisasi kepada umum.


Pasal 31

Untuk pertama kali Anggaran Dasar ini ditetapkan dan disahkan dalam
Simposium Ahli Pengadaan Indonesia III yang diadakan di Semarang pada
tanggal 3 Juli 2008.
Pasal 32
Penutup

Anggaran Dasar ini disahkan dan ditetapkan mulai berlaku sejak Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia didirikan yaitu pada hari Kamis tanggal 3 Juli 2008.

Hal-hal yang belum tercantum dalam anggaran dasar akan ditetapkan dalam
anggaran rumah tangga

Untuk pertama kali, Dewan Pembina Pusat, Dewan Pengawas Pusat dan
Dewan Pengurus Pusat ikatan adalah :

1. Dewan Pembina Pusat :

Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)
2. Dewan Pengawas Pusat :

Ketua : Eiko Whismulyadi
Wakil Ketua : Bima Haria Wibisana
Agus Prabowo
Anggota : Himawan Adinegoro
Harmawan Kaeni
Budihardjo Hardjowijono
Fitri Yusman
Sutardi Sudirman

3. Dewan Pengurus Pusat (DPP)

Ketua Umum : Agus Rahardjo
Ketua I : Djamaludin Abubakar
Ketua II : Ikak G. Patriastomo
Ketua III : Willem Siahaya
Sekretaris Jenderal : Arif Rahman Hakim
Wakil Sekretaris Jenderal : Bambang Adi Subagio
Wakil Sekretaris Jenderal : Khairul Rizal
Bendahara : Sonny Sumarsono
Wakil Bendahara : Ignatius Suranto
Wakil Bendahara : Dwi Wahyuni

IKATAN AHLI PENGADAAN INDONESIA (IAPI)

ANGGARAN RUMAH TANGGA

BAB I

KEANGGOTAAN

Pasal 1
Jenis Keanggotaan


Jenis Keanggotaan adalah :

1. Anggota Biasa;
2. Anggota Kehormatan.

Pasal 2
Syarat Menjadi Anggota


1. Syarat umum untuk menjadi anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia
baik Anggota Biasa maupun Anggota Kehormatan adalah apabila
memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. Memiliki keahlian khusus di bidang pengadaan barang dan jasa yang
dibuktikan dengan Sertifikat Ahli Pengadaan yang dikeluarkan oleh
BAPPENAS atau Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah (LKPP);
b. Menyetujui Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta
peraturan Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia;
c. Mengajukan permohonan secara tertulis dengan mengisi formulir
pendaftaran kepada pengurus;
d. Membayar uang pangkal keanggotaan yang besarnya ditetapkan oleh
Dewan Pengurus Pusat;
e. Permohonan disetujui dan dinyatakan sah oleh Dewan Pengurus
Pusat.

2. Syarat khusus bagi Anggota Biasa adalah mempunyai keahlian khusus
dalam pengadaan barang dan jasa, telah mengikuti pelatihan Pengadaan
Barang dan Jasa dari lembaga pelatihan dan pendidikan atau institusi lain
yang telah diakui oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah (LKPP), telah berpengalaman kerja dan atau masih bekerja
langsung dan aktif dalam bidang pengadaan barang dan jasa.
3. Syarat khusus bagi Anggota Kehormatan adalah berjasa dalam
mengembangkan bidang profesi Pengadaan Barang dan Jasa, diusulkan dan
diangkat oleh Rapat Anggota menjadi Anggota Kehormatan, dimana
permohonan keanggotaannya harus diajukan secara tertulis oleh sekurang-
kurangnya 5 (lima) orang Anggota Biasa.

Pasal 3
Cara Menjadi Anggota

Untuk dapat diterima sebagai Anggota Biasa Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia,
prosedur yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut :

1. Mengajukan permohonan dengan mengisi formulir pendaftaran dan
menanda-tangani serta disampaikan kepada Dewan Pengurus Daerah
atau Dewan Pengurus Cabang yang ada;
2. Kecuali yang telah ditetapkan pada Anggaran Dasar, maka permohonan
untuk menjadi Anggota Biasa harus didukung adanya rekomendasi oleh
sponsor 2 (dua) orang anggota biasa atau 1 (satu) orang anggota Dewan
Pengurus;
3. Permohonan tersebut diteliti oleh Dewan Pengurus Daerah dan Dewan
Pengurus Cabang dalam suatu rapat Dewan Pengurus;
4. Apabila permohonan tersebut telah diteliti serta memenuhi seluruh
persyaratan seperti yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga, maka Dewan Pengurus perlu memberitahukan secara
tertulis kepada anggota;
5. Setiap Anggota Biasa berhak untuk menyatakan keberatan-keberatan
terhadap penerimaan calon Anggota tersebut dengan mengajukan
alasan-alasan kepada Dewan Pengurus dalam waktu selambat-lambatnya
2 (dua) bulan sejak tanggal pemberitahuan;
6. Apabila dalam jangka waktu 2 (dua) bulan sejak tanggal pemberitahuan
tersebut tidak ada pengajuan keberatan, maka calon Anggota tersebut
dianggap dapat diterima dan untuk selanjutnya diumumkan secara
tertulis oleh Dewan Pengurus kepada anggota;

7. Apabila ternyata terhadap penerimaan calon Anggota tersebut ada yang
keberatan, maka Dewan Pengurus perlu mengadakan klarifikasi selambat-
lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya pengajuan
keberatan tersebut;

8. Keanggotaan Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia Daerah dan Cabang
dilaporkan secara detail kepada Dewan Pengurus Pusat.

Pasal 4
Hak Suara, Hak Dipilih dan Hak Memilih

1. Anggota Biasa memiliki hak-hak sebagai berikut :

a. Hak bicara dan hak suara pada rapat-rapat organisasi sesuai dengan
peraturan tata tertib yang berlaku;
b. Hak memilih dan dipilih menjadi pengurus melalui perwakilan;
c. Hak menyampaikan pendapat atau saran baik lisan maupun tulisan;
d. Hak mendapat bimbingan, perlindungan dan bantuan organisasi
sesuai dengan peraturan dan tata tertib yang berlaku;
e. Hak untuk mendapat pendidikan, pelatihan serta jenjang keahlian
dan layanan organisasi serta penerbitan berkala Ikatan Ahli
Pengadaan Indonesia;
f. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama sebagai Anggota;
g. Hak untuk menerima penghasilan atas pelaksanaan tugas yang
diberikan oleh pihak pengguna jasa;
h. Memperoleh Kartu Tanda Anggota.

2. Anggota Kehormatan mempunyai hak bicara pada rapat-rapat organisasi
sesuai dengan peraturan dan tata tertib yang berlaku.


Pasal 5
Kewajiban Anggota

1. Kewajiban Anggota Biasa tanpa kecuali harus memenuhi kewajiban-
kewajiban:

a. Mentaati dan menjunjung serta melaksanakan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga serta peraturan-peraturan lain yang sah dari
organisasi;
b. Mentaati Kode Etik Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia;
c. Melaksanakan kegiatan yang diberikan oleh organisasi atas
permintaan pihak lain yang memerlukan;
d. Menghadiri rapat atau musyawarah/ pertemuan-pertemuan
organisasi sesuai dengan sifat dan ketentuan-ketentuan yang berlaku;
e. Memberikan kontribusi kepada organisasi dari penghasilan atas
pelaksanaan butir 3) yang besarnya diatur lebih lanjut oleh Dewan
Pengurus Pusat.

2. Kewajiban khusus Anggota Biasa adalah :

a. Mengikuti pelatihan/ seminar/ workshop yang ditujukan untuk
penyegaran kualifikasi keahlian;
b. Mengikuti pelatihan penjenjangan bagi ahli yang akan meningkatkan
kualifikasi keahlian;
c. Memperbaharui sertifikat keahlian sesuai dengan ketentuan.

3. Kewajiban Anggota Kehormatan adalah :
a. Mentaati dan menjunjung tinggi serta melaksanakan Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga serta peraturan-peraturan lain yang sah
dari organisasi;
b. Melaksanakan, menjaga dan memelihara Kode Etik Organisasi;
c. Memberikan saran dan nasehat untuk meningkatkan peranan dan
fungsi Organisasi.



Pasal 6
Tindakan Disiplin

1. Dewan Pengurus Pusat membentuk Dewan Etika dan mengangkat serta
memberhentikan Anggota Dewan Etika;
2. Dewan Etika bertugas mengawasi dan menilai pelaksanaan kode etik
profesi oleh anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia serta memberikan
bimbingan, pembinaan, pendapat/ nasehat/ usul dan rekomendasi
mengenai kasus-kasus yang menyangkut kode etik dan tata laku profesi;
3. Dewan Etika terdiri paling tidak lima orang anggota biasa dengan jumlah
gasal dan diketuai oleh seorang Ketua yang dipilih oleh anggota Dewan
Etika serta mempunyai hak suara yang sama;
4. Setiap anggota yang dengan sengaja melalaikan atau melanggar
ketentuan Anggaran Dasar dan atau Anggaran Rumah Tangga Organisasi,
dikenakan tindakan disiplin berupa :
a. Peringatan tertulis;
b. Skorsing;
c. Pemberhentian.
5. Peringatan tertulis diputuskan oleh Dewan Pengurus Cabang dan Dewan
Pengurus Daerah serta ditembuskan ke Dewan Pengurus Pusat;
6. Skorsing diputuskan oleh Dewan Pengurus Daerah serta diketahui Dewan
Pengurus Pusat;
7. Skorsing berlaku paling lama satu tahun dan dapat diaktifkan kembali
atau diberhentikan sebagai anggota berdasarkan keputusan Dewan
Pengurus Pusat;
8. Pemberhentian sebagai Anggota diusulkan oleh Dewan Pengurus Cabang
dan Dewan Pengurus Daerah serta diputuskan oleh Dewan Pengurus
Pusat, setelah dibahas dan dipertimbangkan dalam rapat Dewan
Pengurus Pusat;
9. Anggota yang terkena tindakan organisasi mempunyai hak membela diri
yang diatur sebagai berikut :
a. Bagi yang mendapat peringatan tertulis, banding diajukan kepada
Dewan Pengurus Pusat dengan tembusan kepada Dewan Etika;
b. Bagi yang mendapat skorsing, banding diajukan kepada Dewan
Pengurus Pusat dan kepada Dewan Etika;
c. Bagi yang mendapat pemberhentian sebagai Anggota, banding
diajukan kepada Dewan Etika.
10. Dewan Pengurus Daerah atau Dewan Pengurus Pusat menetapkan
keputusan dengan mempertimbangkan rekomendasi dari Dewan Etika;
Pasal 7
Pemberhentian Anggota

Keanggotan dinyatakan gugur apabila :

1. Meninggal dunia atau berhalangan tetap;
2. Mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
3. Diberhentikan dengan keputusan Dewan Pengurus Pusat.

BAB II

ORGANISASI

Pasal 8
Susunan Dewan Pengurus Pusat

1. Susunan Dewan Pengurus Pusat terdiri dari Ketua Umum selaku penanggung
jawab umum organisasi, dengan dibantu oleh Ketua I, Ketua II, Ketua III,
Sekretaris Jenderal, Wakil Sekretaris Jenderal I, Wakil Sekretaris Jenderal II,
Bendahara, Wakil Bendahara I dan Wakil Bendahara II (Susunan Dewan
Pengurus Pusat selengkapnya merupakan lampiran yang tidak terpisahkan
dari waktu ke waktu dalam Anggaran Rumah Tangga);
2. Anggota Dewan Pengurus Pusat harus memenuhi persyaratan sebagai
Anggota Biasa.

Pasal 9
Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Pengurus Pusat

1. Dewan Pengurus Pusat adalah lembaga eksekutif Ikatan Ahli Pengadaan
Indonesia;
2. Dewan Pengurus Pusat menetapkan strategi, program dan kebijakan dalam
pengelolaan organisasi, mengeluarkan peraturan-peraturan pelaksanaan yang
diperlukan untuk melaksanakan tugas, kegiatan dan kewajiban, sepanjang
tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga serta
keputusan-keputusan Musyawarah Nasional dan atau Musyawarah Nasional
Luar Biasa;
3. Pembagian Tugas Dewan Pengurus Pusat dalam menyelenggarakan kegiatan
organisasi Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia diatur sebagai berikut :

a. Ketua
1) Ketua Umum bertanggung jawab menyelenggarakan koordinasi
dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas secara umum baik
keluar maupun kedalam serta menyampaikan pertanggung
jawaban organisasi kepada Rapat Anggota/ Musyawarah
Nasional/Musyawarah Nasional Luar Biasa;
2) Dalam menyelenggarakan tugasnya sehari-hari Ketua Umum
dibantu oleh beberapa orang Ketua;
3) Ketua I menyelenggarakan tugas-tugas organisasi yang meliputi
bidang Teknik, Litbang, Standarisasi dan Layanan Masyarakat serta
bertanggung jawab kepada Ketua Umum;
4) Ketua II menyelenggarakan tugas-tugas organisasi yang meliputi
bidang Sumber Daya Manusia (SDM), Pelatihan, Sertifikasi dan
Kode Etik serta bertanggung jawab kepada Ketua Umum;
5) Ketua III menyelenggarakan tugas-tugas organisasi yang meliputi
bidang Kelembagaan, Organisasi dan Dana serta bertanggung
jawab kepada Ketua Umum;
6) Apabila Ketua Umum berhalangan tugas maka tugasnya diwakili
oleh salah seorang Ketua yang ditunjuk;
7) Apabila diperlukan Dewan Pengurus Pusat dapat membentuk
divisi-divisi sesuai kebutuhan.

b. Sekretaris Jenderal

Sekretaris Jenderal melaksanakan kegiatan administrasi organisasi
secara umum dan bertanggung jawab kepada Ketua Umum, serta
dibantu oleh Wakil Sekretaris Jenderal I dan Wakil Sekretaris Jenderal
II.

c. Bendahara

Bendahara melaksanakan kegiatan perbendaharaan secara umum dan
bertanggung jawab kepada Ketua Umum, serta dibantu oleh Wakil
Bendahara I dan Wakil Bendahara II.

4. Kegiatan Dewan Pengurus Pusat disampaikan kepada Dewan Pengurus
Daerah secara berkala;
5. Personil Dewan Pengurus Pusat harus memenuhi persyaratan : sebagai
anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia yang aktif dalam kegiatan
pengadaan barang dan jasa, memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang
dan jasa, memiliki integritas yang tinggi serta loyal kepada ikatan;
6. Dewan Pengurus Pusat dapat membentuk Bidang sesuai kebutuhan
organisasi.

Pasal 10
Susunan Dewan Pengurus Daerah

1. Susunan Dewan Pengurus Daerah sekurang-kurangnya terdiri dari :
a. Ketua
b. Wakil Ketua, tiga orang
c. Sekretaris
d. Wakil Sekretaris I
e. Wakil Sekretaris II
f. Bendahara
g. Wakil Bendahara

2. Dewan Pengurus Daerah dapat membentuk seksi-seksi sesuai kebutuhan.

Pasal 11
Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Pengurus Daerah

1. Ketua Dewan Pengurus Daerah
Ketua Dewan Pengurus Daerah menyelenggarakan kegiatan organisasi
tingkat Daerah sesuai dengan program yang ditetapkan oleh Dewan
Pengurus Daerah serta bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Pusat;

2. Para Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah
Para Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah menyelenggarakan kegiatan
organisasi tingkat Daerah sesuai pengelompokan bidang tugas yang
ditetapkan oleh Dewan Pengurus Daerah dan bertanggung jawab kepada
Ketua Dewan Pengurus Daerah;

3. Sekretaris dan Wakil Sekretaris Dewan Pengurus Daerah
Sekretaris Dewan Pengurus Daerah melaksanakan kegiatan administrasi
organisasi tingkat Daerah dan bertanggung jawab kepada Ketua Dewan
Pengurus Daerah serta dibantu oleh dua orang Wakil Sekretaris;
4. Bendahara dan Wakil Bendahara Dewan Pengurus Daerah
Bendahara Dewan Pengurus Daerah bertugas mengurus keuangan dan
harta benda milik organisasi tingkat Daerah dan bertanggung jawab
kepada Ketua Dewan Pengurus Daerah serta dibantu oleh seorang Wakil
Bendahara;
5. Seksi-seksi
a. Dewan Pengurus Daerah dapat membentuk Seksi-seksi sesuai
kebutuhan organisasi setempat;
b. Ketua Seksi melaksanakan pekerjaan Dewan Pengurus Daerah
menurut Seksi masing¬-masing sesuai kebijakan Ketua Dewan
Pengurus Daerah;
c. Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari Ketua Seksi dapat dibantu
oleh beberapa orang staff.
6. Setiap kegiatan yang diadakan oleh Dewan Pengurus Daerah wajib
disampaikan kepada Dewan Pengurus Pusat secara berkala sebagai
laporan.
7. Personil Dewan Pengurus Daerah harus memenuhi persyaratan : sebagai
anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia yang aktif dalam kegiatan
pengadaan barang dan jasa, memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang
dan jasa, memiliki integritas yang tinggi serta loyal kepada ikatan.

Pasal 12
Susunan Dewan Pengurus Cabang

1. Susunan Dewan Pengurus Cabang sekurang-kurangnya terdiri dari :
a. Ketua
b. Dua Wakil Ketua
c. Sekretaris
d. Wakil Sekretaris
e. Bendahara
f. Wakil Bendahara
2. Jika diperlukan Dewan Pengurus Cabang dapat membentuk seksi-seksi
sesuai kebutuhan.
Pasal 13
Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Pengurus Cabang

1. Ketua
Ketua Dewan Pengurus Cabang menyelenggarakan kegiatan organisasi
tingkat Cabang sesuai dengan program yang ditetapkan oleh Dewan
Pengurus Cabang serta bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus
Daerah;
2. Para Wakil Ketua
Para Wakil Ketua Dewan Pengurus Cabang membantu Ketua Dewan
Pengurus Cabang menyelenggarakan kegiatan organisasi sesuai penugasan
bidang tugas yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Cabang dan
bertanggung jawab kepada Ketua Dewan Pengurus Cabang;
3. Sekretaris
Sekretaris Dewan Pengurus Cabang melaksanakan kegiatan administrasi
organisasi tingkat Cabang dan bertanggung jawab kepada Ketua Dewan
Pengurus Cabang serta dibantu oleh seorang Wakil Sekretaris;
4. Bendahara
Bendahara Dewan Pengurus Cabang bertugas mengurus keuangan dan
harta benda milik organisasi tingkat Cabang dan bertanggung jawab
kepada Ketua Dewan Pengurus Cabang serta dibantu oleh seorang Wakil
Bendahara;
5. Seksi-seksi
a. Dewan Pengurus Cabang dapat membentuk Seksi-seksi sesuai
kebutuhan organisasi setempat;
b. Ketua Seksi melaksanakan pekerjaan Dewan Pengurus Cabang
menurut Seksi masing¬-masing;
c. Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari Ketua Seksi dapat dibantu
oleh beberapa orang staff.
6. Setiap kegiatan yang diadakan oleh Dewan Pengurus Cabang wajib
disampaikan kepada Dewan Pengurus Daerah secara berkala sebagai
laporan.
7. Personil Dewan Pengurus Cabang harus memenuhi persyaratan sebagai
anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia yang aktif dalam kegiatan
pengadaan barang dan jasa, memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang
dan jasa, memiliki integritas yang tinggi serta loyal kepada ikatan.
Pasal 14

Pengisian Kekosongan Jabatan Dewan Pengurus

1. Apabila karena sesuatu hal seseorang Anggota Dewan Pengurus Pusat
tidak dapat terus memegang jabatannya sampai akhir periode
kepengurusan, maka anggota Dewan Pengurus Pusat yang lain dapat
bersidang untuk menetapkan tetap mengosongkan jabatan tersebut atau
menetapkan salah seorang Anggota Biasa lain untuk menggantikannya.

2. Apabila karena sesuatu hal seseorang Anggota Dewan Pengurus Daerah
tidak dapat terus memegang jabatannya sampai akhir periode
kepengurusan, maka anggota Dewan Pengurus Daerah bersangkutan
lainnya dapat bersidang untuk menetapkan tetap mengosongkan jabatan
tersebut atau menetapkan salah seorang Anggota Biasa lain untuk
menggantikannya.

3. Apabila karena sesuatu hal seseorang Anggota Dewan Pengurus Cabang
tidak dapat terus memegang jabatannya sampai akhir periode
kepengurusan, maka anggota Dewan Pengurus Cabang bersangkutan
lainnya dapat bersidang untuk menetapkan tetap mengosongkan jabatan
tersebut atau menetapkan salah seorang Anggota Biasa lain untuk
menggantikannya.

4. Apabila Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat atau Ketua Dewan Pengurus
Daerah atau Ketua Dewan Pengurus Cabang tidak dapat terus memegang
jabatannya sampai akhir periode kepengurusan, maka diadakan
Musyawarah Nasional atau Musyawarah Nasiona Luar Biasa atau
Musyawarah Daerah atau Rapat Anggota Pengurus Cabang sesuai
tingkatannya untuk memilih Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat atau
Ketua Dewan Pengurus Daerah atau Ketua Dewan Pengurus Cabang.




BAB III

HARTA BENDA

Pasal 15
Keuangan

1. Besarnya Uang pangkal dan iuran ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat
berdasarkan Rapat Dewan Pengurus Pusat;

2. Penggunaan uang pangkal dan iuran adalah :
a. 30 % untuk Pengurus Pusat;
b. 70 % untuk Pengurus Daerah/Cabang

2. Untuk kehidupan dan pengembangan organisasi dapat diadakan kegiatan
yang positif, baik di tingkat Pusat, Daerah maupun Cabang, sepanjang tidak
bertentangan dengan hukum dan etika profesi, guna mendapatkan
keuangan yaitu:

a. Usaha-usaha untuk mendapatkan bantuan yang tidak mengikat;
b. Menciptakan usaha atau kegiatan yang dapat menghasilkan keuangan
bagi kepentingan organisasi

Pasal 16
Inventaris dan Harta Benda

1. Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus
Cabang wajib mengelola inventaris milik organisasi yang menjadi tanggung
jawab Dewan Pengurus masing-masing dan digunakan semata-mata untuk
kepentingan organisasi.

2. Pertanggung-jawaban tentang penggunaan Harta Benda yang menyangkut
masalah pemasukan, pengeluaran dan penggunaan harta benda organisasi
harus dipertanggung-jawabkan oleh Dewan Pengurus.



BAB IV

LAMBANG DAN TANDA PENGENAL

Pasal 17
Lambang

Lambang adalah identitas organisasi yang ditetapkan dalam Musyawarah
Nasional dengan tulisan Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia, yang ketentuan
penggunaannya ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat.

Pasal 18
Tanda Pengenal

Tanda Pengenal Organisasi berupa :

1. Bendera dengan ukuran panjang dan lebar adalah 3 berbanding 2 berwarna
dasar putih dengan lambang organisasi di dalamnya;
2. Vandel dan tanda-tanda pengenal lain dengan warna dasar putih dan
terdapat lambang Organisasi di dalamnya serta ukurannya ditentukan oleh
Dewan Pengurus Pusat.

BAB V

RAPAT-RAPAT ORGANISASI

Pasal 19
Musyawarah Nasional

1. Musyawarah Nasional adalah musyawarah anggota yang tertinggi dan
dihadiri oleh Pengurus Pusat, Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang;
2. Musyawarah Nasional diselenggarakan 3 (tiga) tahun sekali;
3. Musyawarah Nasional mempunyai wewenang sebagai berikut:
a. Merupakan kekuasaan tertinggi organisasi;
b. Menetapkan dan merubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga;
c. Menetapkan kebijakan dan program kerja organisasi;
d. Memilih dan mengangkat Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat dengan
tata cara sebagai berikut :
1) Memilih Ketua Umum yang sekaligus sebagai Formatur Tunggal.
2) Ketua Umum terpilih sebagai Formatur Tunggal memilih dan
menetapkan keanggotaan Dewan Pengurus Pusat.
e. Mensahkan Anggota Kehormatan yang diajukan oleh Dewan Pengurus
Pusat;
f. Menerima dan menolak sebagian atau keseluruhan laporan
pertanggung jawaban Dewan Pengurus Pusat;
g. Mengesahkan pendirian IAPI Daerah.

Pasal 20
Musyawarah Nasional Luar Biasa

1. Musyawarah Nasional Luar Biasa adalah musyawarah anggota organisasi
tertinggi yang diadakan sewaktu-waktu bila diperlukan, atas permintaan
sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Daerah atau permintaan Rapat
Dewan Pengurus Pusat khusus untuk hal itu yang dihadiri sekurang-
kurangnya 2/3 anggota Dewan Pengurus;
2. Permintaan untuk mengadakan Musyawarah Nasional Luar biasa hanya
dapat dilakukan bila :
a. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat dinilai tidak mampu lagi
melaksanakan tugasnya;
b. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat melanggar Anggaran Dasar dan
atau Anggaran Rumah Tangga atau Keputusan Musyawarah Nasional;
c. Dewan Pengurus Pusat menghadapi situasi tertentu yang dapat
menimbulkan perpecahan yang sangat tajam, dan mengancam
kelangsungan hidup organisasi.

Pasal 21
Rapat Kerja Nasional

Rapat Kerja Nasional adalah rapat tingkat nasional untuk membahas
pelaksanaan program kerja serta kebijakan organisasi serta hal penting lainnya,
diadakan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun sekali dan dihadiri oleh Pengurus
Pusat, Daerah dan Cabang.
Pasal 22
Rapat Dewan Pengurus Pusat

Rapat Dewan Pengurus Pusat adalah rapat yang sewaktu-waktu diadakan
sesuai dengan keperluan, sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun sekali oleh
Dewan Pengurus Pusat untuk membahas pelaksanaan program kerja serta
kebijakan organisasi pada tingkat Pusat.

Pasal 23
Musyawarah Daerah

1. Musyawarah Daerah adalah Musyawarah Anggota ditingkat Daerah;
2. Musyawarah Daerah bertugas memilih dan mengusulkan Dewan Pengurus
Daerah dengan tata cara pemilihan yang telah ditentukan;
3. Musyawarah Daerah diselenggarakan setiap 3 (tiga) tahun sekali sebelum
Musyawarah Nasional.

Pasal 24
Rapat Kerja Daerah

Rapat Kerja Daerah adalah rapat tingkat daerah untuk membahas pelaksanaan
program kerja serta kebijakan organisasi serta hal penting lainnya, diadakan
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun sekali dan dihadiri oleh Pengurus Daerah
dan Cabang.

Pasal 25
Rapat Dewan Pengurus Daerah

Rapat Dewan Pengurus Daerah adalah rapat yang sewaktu-waktu diadakan
sesuai dengan keperluan dan sekurang-kuranya 1 (satu) tahun sekali oleh
Dewan Pengurus Daerah untuk membahas pelaksanaan program kerja dan
kebijaksanaan orgasnisasi di tingkat Daerah.

Pasal 26
Rapat Dewan Pengurus Cabang

Rapat Dewan Pengurus Cabang adalah rapat yang sewaktu-waktu diadakan
sesuai dengan keperluan dan sekurang-kuranya 1 (satu) tahun sekali oleh
Dewan Pengurus Cabang untuk membahas pelaksanaan program kerja dan
kebijaksanaan orgasnisasi di tingkat Cabang.

Pasal 27
Kuorum dan Tata cara Pengambilan Keputusan

1. Sahnya Musyawarah Nasional, Musyawarah Nasional Luar Biasa, adalah
bila dihadiri sekurangnya-kurangya 2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Pusat,
Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang;
2. Sahnya Musyawarah Daerah, adalah bila dihadiri sekurangnya-kurangya
2/3 dari jumlah Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang;
3. Apabila saat musyawarah dibuka ternyata jumlah pesertanya belum
terpenuhi, musyawarah ditunda paling lama selama 3 (tiga) jam, setelah
waktu penundaan habis jumlah peserta tetap belum terpenuhi,
musyawarah dinyatakan sah dan dapat dilanjutkan;
4. Pengambilan Keputusan pada dasarnya dilakukan secara demokratis
melalui musyawarah untuk mencapai mufakat kecuali apabila tidak
mungkin, maka pengambilan keputusan ini dilakukan dengan dasar suara
terbanyak;
5. Pengambilan Keputusan untuk merubah AD/ART dilakukan dengan
persetujuan sekurang-¬kurangnya 3/4 dari jumlah peserta anggota yang
hadir;
6. Peserta anggota rapat yang tidak hadir dapat memberikan kuasa secara
tertulis kepada perserta lainnya yang hadir untuk mewakilinya.

BAB VI

PERUBAHAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 28
Usulan Perubahan

Usulan perubahan Anggaran Rumah Tangga dapat diajukan oleh Dewan
Pengurus Pusat atau oleh sekurang-kurangya 1/3 (sepertiga) jumlah Anggota
Biasa untuk dibahas dan diputuskan dalam Musyawarah Nasional.



Pasal 29
Perbedaan Isi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

Jika ada pertentangan (perbedaan) isi antara Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga, maka isi Anggaran Dasar yang berlaku.

BAB VII

PENUTUP

Pasal 30
Penutup

1. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan
diatur lebih lanjut oleh Pengurus, sesuai dengan jiwa dan semangat
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga;

2. Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal disahkan dan ditetapkan
mulai berlaku sejak Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia didirikan yaitu pada
hari Kamis Tanggal 3 Juli 2008 dalam Simposium Ikatan Ahli Pengadaab
Indonesia Kongres IAPI III di Semarang.




















HALAMAN LEBIH




































HALAMAN LEBIH