Anda di halaman 1dari 12

1

STRATEGI TATA KELOLA MANGROVE SEBAGAI SUMBER
HAYATI PERIKANAN PANTAI

ABSTRAK
Konservasi hutan mangrove telah menjadi kebijakan pemerintah, bahwa konservasi hutan mangrove
merupakan solusi yang harus dilakukan pemerintah baik pemerintah pusat, daerah maupun masyarakat sekitar
yang hidup dan bergantung di sekitar hutan mangrove.
Kenyataan bahwa dalam pengelolaan konservasi mangrove di Indonesia masih terdapat banyak
kekurangan baik dari segi kelola lokasi, habitat dan budaya masyarakat yang menentukan kelangsungan
mangrove sebagai hutan pesisir dan sumber hayati. Hasilnya peran mangrove sebagai pelindung alami
(penangkal bencana maupun sebagai sumber hayati) tidak maksimal, masih terdapat areal konservasi
mangrove tidak pada peruntukannya, dan masih banyak bukaan lahan mangrove yang terbengkalai dan tidak
dilakukan penutupan kembali dan ini mengakibatkan berkurangnya areal mangrove dan pada ujungnya adalah
pengaruh ekonomi masyarakat dimana dengan berkurangnya mangrove karena berbagai faktor, sangat
mempengaruhi produktivitas biota pesisir.
Penelitian menunjukkan bahwa yang menyebabkan berkurangnya mangrove yaitu konversi lahan
mangrove menjadi kawasan pertambakan, pemukiman, dan industri. Kebijakan terkait baik pusat maupun
daerah mempunyai tujuan sama dalam proses konservasi hutan mangrove tetapi tidak dibarengi dengan tata
kelola yang baik sehingga kebijakan akan konservasi hutan mangrove tidak berjalan sesuai dengan yang
diharapkan.
Strategi tata kelola mangrove Indonesia harus melibatkan lintas pemerintahan baik pusat maupun
daerah, departemen- departemen dan masyarakat lokal sebagai pengguna langsung hutang mangrove.
Masyarakat lokal harus merasakan langsung apa yang yang menjadi sebab akibat jika lahan mangrove tidak
ada atau berkurang sehingga timbul kesadaran untuk menjaga kelestarian hutan, peran praktisi dan pemerintah
mendorong dan mensosialisasikan peran hutan mangrove bagi kehidupan pesisir.
Intinya adalah pengelolaan terpadu dari segala aspek untuk dapat mengurangi permasalahan yang
ada seperti kebijakan, konversi lahan, dan recovery fungsi mangrove sebagai pelindung alami pantai dan
pesisir.
Strategi tata kelola hutan mangrove dilakukan terpadu, pola-pola pelibatan masyarakat aktiv dengan
pendampingan dan bimbingan praktisi, pemerintah pusat dan daerah sebagai pembuat kebijakan untuk
melakukan tata kelola mangrove dengan tujuan mangrove sebagai pelindung alami sekitar dan sumber
penghidupan bagi masyarakat.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan mangrove sebagai sebuah ekosistem di wilayah pesisir memiliki salah satu fungsi
ekologis yang berperan penting dalam perlindungan pesisir yaitu sebagai pelindung pantai
dari erosi dan abrasi. Struktur akar mangrove yang unik selain berfungsi untuk mengambil
unsur hara, juga berfungsi untuk memperkokoh pohon dan menahan sedimen yang secara
tidak langsung juga melindungi pantai dari pasang surut dan gelombang. Karena begitu
pentingnya fungsi ini, pemerintah mewajibkan setiap daerah yang memiliki pantai untuk
mempunyai sempadan pantai sebagaimana termaktub dalam UU No.27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau‐Pulau Kecil.
Perubahan yang terjadi pada wilayah pesisir dan laut tidak hanya sekedar gejala alam
semata, tetapi kondisi ini sangat besar dipengaruhi oleh aktifitas manusia yang ada di
sekitarnya. Wilayah pesisir merupakan wilayah pintu gerbang bagi berbagai aktifitas
2

pembangunan manusia dan sekaligus menjadi pintu gerbang dari berbagai dampak dari
aktifitas tersebut. Dengan kata lain wilayah pesisir merupakan wilayah yang pertama kali
dan paling banyak menerima tekanan dibandingkan dengan wilayah lain. Tekanan tersebut
muncul dari aktivitas pembangunan seperti pembangunan permukiman dan aktivitas
perdagangan karena wilayah pesisir paling rentan terhadap perubahan baik secara alami
ataupun fisik sehingga terjadi penurunan kualitas lingkungan, salah satunya adalah ekosistem
mangrove (Nurul Huda 2008).
Ekosistem mangrove secara umum adalah merupakan komunitas vegetasi pantai tropis
yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang tumbuh dan berkembang pada
daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Ekosistem mangrove merupakan tipe
hutan daerah tropis yang khas tumbuh disepanjang pantai atau muara sungai yang masih
dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Ekosistem mangrove banyak dijumpai di wilayah
pesisir yang terlindung dari gempuran ombak. Bila dibandingkan dengan ekosistem hutan
yang lain, maka ekosistem mangrove memiliki flora dan fauna yang spesifik dan memiliki
keanekaragaman yang tinggi.
Laju degradasi sumberdaya kelautan meningkat dalam beberapa tahun terakhir seperti
berkurangnya luasan hutan mangrove dan rusaknya ekosistem beberapa daerah penangkapan
ikan. Penduduk pesisir yang merasa memiliki wilayah sering melakukan kegiatan
pemanfaatan sumberdaya dengan mengabaikan kaidah kelestarian demi untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari, belum lagi para pengembang yang memanfaatkan daerah pesisir
sebagai area wisata dan lahan bisnis.
Untuk mengantisipasi yang terjadi diperlukan suatu Strategi Tata Pengelolaan yang tepat
dengan menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang
berwawasan ekologis dengan tetap memperoleh manfaat ekonomisnya secara berkelanjutan.
Pentingnya pengelolaan hutan mangrove dalam menunjang ekonomi masyarakat pesisir
menjadi sebuah perhatian khusus karena vegetasi mangrove ini berperan begitu besar dalam
menjaga keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem pantai dan pesisir (DKP, 2004).
Dampak negatif akan timbul sebagai akibat dari hilangnya komunitas mangrove, yaitu
fungsi perlindungan dan pengaman pantai secara alami sehingga membahayakan bagi lahan
pertanian dan permukiman penduduk di sekitar pantai yang secara otomatis akan terkena
limpasan gelombang laut yang lebih bersifat merusak. Sedangkan bagi pertumbuhan
ekonomi masyarakat, penurunan produksi di sektor perikanan yang berbanding lurus dengan
hilangnya areal hutan mangrove akan berakibat pada menurunnya pendapatan masyarakat
(Nurul Huda 2008). Disamping itu apabila pertanian dan perkebunan yang berada di sekitar
3

pesisir terkena gelombang air laut yang tentunya juga akan berakibat pada menurunnya
produksi panen.
Fungsi Mangrove
Mangrove mempunyai komposisi vegetasi tertentu. Pembentuk kelompok vegetasi ini
adalah berbagai spesies tanaman mangrove yang dapat beradaptasi secara fisiologis terhadap
lingkungan yang khas, yaitu salinitas tinggi, sedang atau rendah, tipe tanah yang didominasi
lumpur, pasir atau lumpur berpasir, dan terpengaruh pasang surut sehingga terbentuk zonasi
(Walter 1971 dalam Mustafa dan Sunusi 1981).
Vegetasi Mangrove mempunyai fungsi sebagai Fungsi fisik, biologi dan ekonomis
pada lingkungan pesisir dan biota sekitarnya. Fungsi fisik yaitu menjaga kondisi pantai agar
tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan
intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah
sebagai habitat benih biota akuatik mangrove seperti udang dan ikan untuk hidup dan
mencari makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan non-akuatik seperti
burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber plasma nutfah. Bengen
(2000) menyatakan bahwa ekosistem mangrove memiliki fungsi antara lain : (1) sebagai
pelindung pantai dari gempuran ombak, arus dan angin, (2) sebagai tempat berlindung,
berpijah atau berkembang biak dan daerah asuhan berbagai jenis biota (3) sebagai penghasil
bahan organik yang sangat produktif (detritus), (4) sebagai sumber bahan baku industri bahan
bakar, (5) pemasok larva ikan, udang dan biota laut lainnya, serta (6) tempat pariwisata.
Fungsi ekonomis mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan
bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan. Mangrove
mengangkut nutrien dan detritus ke perairan pantai sehingga produksi primer perairan di
sekitar mangrove cukup tinggi dan penting bagi kesuburan perairan. Dedaunan, ranting,
bunga, dan buah dari tanaman mangrove yang mati dimanfaatkan oleh makrofauna, misalnya
kepiting, kemudian didekomposisi oleh berbagai jenis mikroba yang melekat di dasar
mangrove dan secara bersama-sama membentuk rantai makanan. Detritus selanjutnya
dimanfaatkan oleh hewan akuatik yang mempunyai tingkatan lebih tinggi seperti bivalvia,
gastropoda, berbagai jenis juvenil ikan dan udang, serta kepiting.
Karena keberadaan mangrove sangat penting maka pemanfaatan mangrove untuk budi
daya perikanan harus rasional. Ahmad dan Mangampa (2000) menyarankan hanya 20% saja
dari lahan mangrove yang dikonversi menjadi pertambakan.


4

Kondisi Mangrove Indonesia
Berdasarkan data Indonesia Maritime Institute (Ekosistem Mangrove), luas hutan
mangrove di Indonesia diperkirakan mencapai Luas 9.36 JH dimana 4.51 JH (48 %) dalam
keadaan rusak sedangkan 2.15 JH (23 %) rusak berat. Kerusakan awal diperkirakan
disebabkan oleh konversi mangrove yang sangat intensif pada tahun 1990-an menjadi
pertambakan terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dalam rangka memacu
ekspor komoditas perikanan. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan luas tambak di
Indonesia dari sekitar 225.000 ha pada tahun 1984 (Direktorat Jenderal Perikanan 1985)
menjadi 325.000 ha pada akhir Pelita IV (Cholik dan Poernomo 1986). Salah satu kerusakan
lain hutan mangrove adalah disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan urbanisasi serta
kebiasan yang buruk penanganan limbah sekitar karena mereka membuang limbah di sekitar
perairan ekosistem hutan mangrove yang tidak jauh dari kota. Oleh karena itu diperlukan
suatu pengelolaan dalam membuang limbah yang tidak merusak ekosistem mangrove
(Lazardi, et al., 2000).
Ekosistem mangrove di Indonesia juga memiliki keunikan tersendiri yaitu memiliki
keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sebaran mangrove yang utama di Indonesia terletak
di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Akan tetapi, kondisi mangrove di
Indonesia baik secara kualitatif maupun kuantitatif terus menurun dari tahun ke tahun hingga
sekarang.
Apri Susanto dkk dari Wetlands International Indonesia Programme menyatakan
bahwa bentuk adaptasi mangrove terhadap tanah yang kurang stabil serta adanya pasang surut
dan gelombang adalah dengan cara mengembangkan struktur akar yang ekstensif dan
membentuk jaringan horisontal yang lebar. Struktur akar yang unik ini selain berfungsi untuk
mengambil unsur hara, juga berfungsi untuk memperkokoh pohon dan menahan sedimen
yang secara tidak langsung juga melindungi pantai dari pasang surut dan gelombang. Arti
penting dari keberadaan hutan mangrove di daerah pesisir sudah diyakini secara luas di
Indonesia, namun pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove saat ini masih belum
didasarkan pada data dasar yang komprehensif dari sumberdaya mangrove tersebut, hingga
mengakibatkan banyak hutan mangrove yang terdegradasi atau bahkan hilang sama sekali.
Karena begitu pentingnya fungsi ini, pemerintah mewajibkan setiap daerah yang memiliki
pantai untuk mempunyai sempadan pantai sebagaimana termaktub dalam UU No.27 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau‐Pulau Kecil. Sempadan pantai adalah
daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
pantai, serta berjarak minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
5

Kurangnya data dan pengetahuan mengenai ekosistem mangrove merupakan salah
satu masalah utama yang penting dalam pengelolaan mangrove di Indonesia. Sudah banyak
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ekosistem mangrove memiliki produktivitas yang
tinggi. Ekosistem mangrove tidak hanya menyediakan berbagai jenis produk hutan, tetapi
juga beberapa fungsi lain yang sangat bermanfaat bagi manusia dan kelestarian lingkungan.
Kondisi saat ini adalah sudah cukup banyak perangkat hukum tersebut dibuat akan
tetapi penegakan hukum atas pelanggaran terhadap perangkat hukum tersebut yang masih
belum maksimal. Terdapat dua konsep utama dalam pengelolaan dan pelestarian mangrove
yang dapat diterapkan yaitu perlindungan hutan mangrove dan rehabilitasi hutan mangrove.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai bentuk perlindungan hutan mangrove
adalah dengan menunjuk kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung, baik itu sebagai
kawasan konservasi atau sabuk hijau di sempadan pantai dan sungai.
Sementara itu dalam program rehabilitasi hutan mangrove, pemerintah lebih berperan
sebagai mediator dan fasilitator (mengalokasikan dana melalui mekanisme yang ditetapkan),
sementara masyarakat sebagai pelaksana yang mampu mengambil inisiatif. Saat ini, pola
pengelolaan dengan melibatkan masyarakat cukup banyak dikembangkan, karena dengan
memberdayakan masyarakat secara langsung, tentunya masyarakat juga akan merasa
bertanggungjawab dengan program rehabilitasi tersebut.
Tabel Kriteria Baku Kerusakan Mangrove
KRITERIA PENUTUPAN (%)
KERAPATAN
(pohon/Ha)
Baik
Sangat Padat ≥ 75 ≥ 1500
Sedang ≥ 50 - ˂ 75 ≥ 100 - ˂ 1500
Rusak Jarang ˂ 75 ˂ 1000

PERMASALAHAN DAN TANTANGAN KONSERVASI HUTAN MANGROVE
Arti penting dari keberadaan hutan mangrove di daerah pesisir sudah diyakini secara luas
di Indonesia, namun pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove saat ini masih belum
didasarkan pada data dasar yang komprehensif dari sumberdaya mangrove tersebut, hingga
mengakibatkan banyak hutan mangrove yang terdegradasi atau bahkan hilang sama sekali.
Kurangnya data dan pengetahuan mengenai ekosistem mangrove merupakan salah satu
masalah utama yang penting dalam pengelolaan mangrove di Indonesia. Sudah banyak hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa ekosistem mangrove memiliki produktivitas yang tinggi.
6

Ekosistem mangrove tidak hanya menyediakan berbagai jenis produk hutan, tetapi juga
beberapa fungsi lain yang sangat bermanfaat bagi manusia dan kelestarian lingkungan.
Keterpaduan dari sudut pandang keilmuan mensyaratkan bahwa di dalam pengelolaan
hendaknya dilaksanakan dasar pendekatan interdisiplin ilmu (interdisciplinary approaches),
yang melibatkan berbagai bidang ilmu.
Berbagai kepentingan dan tujuan tiap Instansi, Pemda dan masyarakat lokal dalam
Konservasi Hutan Mangrove dengan satu tujuan yang sama pelastarian dan perlindungan hutan
mangrove tetapi dengan tidak adanya koordinasi dan kerja sama dan dengan kebijakan yang
saling tumpah tindih menjadikan usaha ini tidak berjalan dengan semestinya. Bengen (2001),
menyebutkan bahwa pelestarian hutan mangrove merupakan suatu usaha yang sangat kompleks
untuk di laksanakan, karena kegiatan tersebut membutuhkan akomodatif terhadap segenap pihak
terkait baik yang berada di sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Sifat akomodatif akan lebih
dirasakan manfaatnya bilamana keberpihakan kepada institusi yang sangat rentan terhadap
sumber daya mangrove, dalam hal ini masyarakat diberikan porsi yang lebih besar. Dalam upaya
pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah mewujudkan, menumbuhkan, dan
meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam (UU No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil).

STRATEGI PENDAYAGUNAAN DAN TATA KELOLA MANGROVE
Pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia dapat dilakukan atas dasar tiga isu utama
yaitu isu ekologi dan sosial ekonomi, kelembagaan dan perangkat hukum, serta strategi dan
implementasi. Isu ekologi yang paling utama meliputi dampak ekologis akibat dari intervensi
manusia terhadap ekosistem mangrove. Adapun isu sosial ekonomi mencakup aspek
kebiasaan manusia dalam memanfaatkan sumber daya mangrove. Kementerian Kehutanan
dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, merupakan lembaga yang sangat berkompeten
dalam pengelolaan mangrove, dan koordinasi antar kementerian/lembaga yang terkait dengan
pengelolaan mangrove adalah faktor penting untuk dilakukan. Aspek perangkat hukum
adalah peraturan/kebijakan dan undang‐undang yang terkait dengan pengelolaan mangrove.
Kondisi saat ini adalah sudah cukup banyak perangkat hukum tersebut dibuat akan tetapi
penegakan hukum atas pelanggaran terhadap perangkat hukum tersebut yang masih belum
maksimal. Sedangkan unsur yang sangat mempengaruhi akan tata kelola ekosistem mangrove,
dimana kerangka akan kebijakannya dari pemerintah sudah dibuat dan dilaksanakan, yaitu :


7

Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan adalah suatu program pembangunan untuk memenuhi
kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (WCED, 1987 dalam Dahuri dkk., 2004). Visi
pembangunan berkelanjutan tidak melarang aktivitas pembangunan ekonomi, tetapi
menganjurkannya dengan persyaratan bahwa laju (tingkat) kegiatan pembangunan tidak
melampaui daya dukung (carrying capacity) lingkungan alam. Dengan demikian generasi
mendatang tetap memiliki aset sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental
services) yang sama atau kalau dapat lebih baik dari pada generasi yang hidup sekarang.

Pembangunan Wilayah Pesisir
Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil yang dimaksud dengan sumberdaya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri
dari sumberdaya manusia dan sumberdaya alam, baik hayati maupun non hayati.
Pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan pada hakekatnya mempunyai makna yang
sama dengan pengelolaan lingkungan hidup. Dimana pengelolaan lingkungan hidup adalah
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan
penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan
pengendalian lingkungan hidup. Dahuri et al. (2001) berpendapat bahwa pengelolaan
sumberdaya pesisir dan lautan terpadu adalah suatu pendekatan pengelolaan wilayah pesisir
yang melibatkan dua atau lebih ekosistem, sumberdaya dan kegiatan pemanfaatan
(pembangunan) secara terpadu (integrated) guna mencapai pembangunan wilayah pesisir
secara berkelanjutan.
Konteks keterpaduan mengadung dimensi sektoral, dimensi bidang ilmu dan dimensi
keterkaitan ekologis (Dahuri, 2004). Keterpaduan secara sektoral berarti bahwa perlu ada
koordinasi tugas, wewenang dan tanggung jawab antar sektor atau instansi pemerintah pada
tingkat pemerintah tertentu (horizontal integration) dan antar tingkat pemerintahan dari mulai
tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai tingkat pusat (vertical integration). Keterpaduan
dari sudut pandang keilmuan mensyaratkan bahwa di dalam pengelolaan wilayah pesisir
hendaknya dilaksanakan dasar pendekatan interdisiplin ilmu (interdisciplinary approaches),
yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Wilayah pesisir tersusun dari berbagai macam
ekosistern yang satu sama lainnya saling terkait, tidak berdiri sendiri. Perubahan dan
kerusakan yang menimpa satu ekosistern akan menimpa pula ekosistem lainnya. Selain itu,
8

wilayah pesisir juga di pengaruhi oleh berbagai kegiatan manusia (up lands areas) maupun
lautan lepas (oceans). Keterpaduan diperlukan karena memperhatikan segenap keterkaitan
ekologis (ecological linkage) yang dapat mempengaruhi suatu wilayah pesisir.

Peran Pemerintah dan yang berkepentingan dalam Pengelolaan Mangrove
Untuk mengatasi tingginya tingkat konversi lahan mangrove menjadi tambak
diperlukan kebijakan-kebijakan pemerintah setempat yang dinilai tepat sasaran tanpa
mengabaikan kesejahteraan masyarakat setempat. Pengadaan kehutanan sosial di areal
mangrove untuk mengatasi tingginya laju konversi lahan mangrove menjadi tambak yang
dilakukan oleh Perum Perhutani, yaitu memadukan pengelolaan mangrove dengan produksi
perikanan (silvofishery). Program ini merehabilitasi lahan-lahan mangrove yang telah
terdegradasi dengan penanaman pohon, dan membangun saluran untuk budidaya ikan dan
udang. Al Rasyid (197l) mendefinisikan tambak tumpangsari sebagai suatu penanaman yang
dipakai dalam rangka merehabilitasikan ekosistem mangrove. Dalam pelaksanaan system ini
ada tiga keuntungan, yaitu :
1. Mengurangi besarnya biaya penanaman, karena tanaman pokok dilaksanakan oleh
penggarap.
2. Meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan dengan hasil pemeliharaan hutan.
3. Menjamin kelestarian hutan mangrove.
Otonomi pengelolaan kawasan pantai dan sumber daya alam yang membawa
konsekuensi penyerahan seluruh tanggung jawab kepada Pemerintah Kabupaten/Kota
termasuk pendanaan, personalia, kelembagaan, peraturan daerah dan prioritas kegiatan sesuai
dengan kondisi lokal akan menjadi basis dalam pengelolaan Kawasan Pantai dan sumber
daya alam. Penerapan Prinsip Keterpaduan Dalam Pengelolaan: 1) Keterpaduan antar sektor;
2) Keterpaduan antar level pemerintahan; 3) Keterpaduan ekosistem darat dan laut; 4)
Keterpaduan sains dan manajemen; 5) Keterpaduan antar daerah/ negara.
Keseriusan atau komitmen pemerintah dalam pengelolaan mangrove sangat
menentukan dalam keberlanjutan ekosistem mangrove, untuk itu diperlukan data penelitian
ekologi (Kairo et al,2001). Kebijakan pendayagunaan mangrove sangat berkaitan dengan
kondisi sosial ekonomi masyarakat. Mulai dari langkah-langkah yang diambil di lapangan
sampai perencanaan di tingkat pusat. Memberdayakan masyarakat pesisir dalam pemanfaatan
dan pengelolaan wilayah pesisir dan laut terpadu serta merehabilitasi dan meningkatkan
kualitas ekosistem pesisir dan laut.
9

Ekositem mangrove yang terjaga dengan baik mempunyai potensi ekowisata yang
dapat dikembangkan. Kegiatan ekowisata sekaligus memberikan informasi lingkungan yang
diharapkan dan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mencintai
alam. Kawasan mangrove yang tumbuh dengan baik dapat menjadi tempat penelitian,
kunjungan siswa sekolah, dan kegiatan ilmiah lainnya (Dep. Kelautan dan Perikanan, 2004).
Pelibatan masyarakat dalam setiap pengelolaan ekosistem mangrove menjamin
keberhasilan program kelestarian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan awal, penerapan
program dan kebijakan, implementasi, pengawasan dan evaluasi.
Karateristik keberhasilan Pelibatan Masyarakat (Nurul Huda 2008) adalah :
 Keuntungan integrasi pengelolaan diakui oleh pemerintah dan stakholder lain.
 Pemerintah, mendukung dan memfasilitasi secara aktif pelibatan masyarakat setempat
dalam pengelolaan
 Para pihak memberikan perhatian, saling percaya dan berpartisipasi secara penuh
dengan peran yang jelas.
 Terselenggaranya “appropriate sharing” (sumberdaya, informasi, kedudukan/
kemampuan, keputusan).
 Akar permasalahan dimengerti dan disetujui untuk ditindak lanjuti.
 Para pihak memiliki kemampuan yang cukup.

Strategi Perlindungan Pesisir
Di wilayah pantai tropis, banyak area hutan mangrove yang telah diubah untuk
membuat ruang bagi kegiatan manusia seperti permukiman, budidaya tambak dan
pemanfaatan lainnya. Kegiatan ini menyebabkan tekanan yang meningkat di area pesisir
sehingga terjadi erosi dan abrasi, intrusi air asin, banjir air pasang dan badai, yang secara
langsung akan membahayakan manusia dan alam sekitarnya. Untuk mengatasi situasi ini,
pengelola pesisir cenderung beralih pada pendekatan struktur keras seperti tanggul dan
pemecah ombak/gelombang. Namun, struktur tersebut relatif mahal dan tidak fleksibel serta
gagal memberikan perlindungan yang memadai bagi masyarakat. Perlindungan yang
diberikan bersifat sementara, dan terkadang menjadi kontraproduktif serta memperburuk
masalah yang seharusnya dipecahkan. Wetlands International melakukan kajian berupa
pendekatan aplikasi hybrid engineering sebagai salah satu alternatif perlindungan pesisir
berbasis mangrove.
10

Hybrid engineering merupakan konsep inovatif yang berusaha untuk memadukan
disiplin ilmu konstruktur dengan proses alam dan sumber dayanya, menghasilkan solusi
dinamis yang lebih mampu beradaptasi dengan perubahan keadaan.
Hybrid engineering terdiri dari beberapa tahapan perlindungan dengan tujuan akhir
yaitu mengembalikan sistem pertahanan alami pantai. Hybrid engineering dibangun dengan
menggunakan bahan yang tersedia secara lokal seperti kayu, bambu dan ranting pohon.
Bangunan yang semi permeabel (berpori) ini berfungsi untuk mengembalikan kondisi pantai
melalui proses alami seperti sedimentasi sehingga kondisi hidrodinamika dan ekologi akan
kembali seperti sedia kala dan merangsang pertumbuhan lahan yang sebelumnya sudah
terdegradasi oleh erosi/abrasi.
Pendekatan hybrid engineering dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan
ekosistem. Untuk di Indonesia, pendekatan yang dilakukan adalah untuk mengatasi erosi
pantai di daerah tropis dengan menggunakan infrastruktur hutan bakau alami untuk
menstabilkan garis pantai ( Apri Susanto, Etwin Kuslati Sabarini Wetlands International
Indonesia Programme)


















11

KESIMPULAN
Dari bahasan – bahasan seperti diatas dapat disimpulkan bahwa, :
• Kerusakan mangrove lebih besar disebabkan oleh konversi lahan. Penyebab lain
kerusakan mangrove adalah penebangan liar dan pemanfaatan sumber daya oleh
masyarakat sekitar yang tidak terkendali.
• Rusaknya hutan mangrove dapat menimbulkan kerugian sangat besar ditambah kerugian
korban jiwa dan recovery wilayah pesisir untuk mengembalikan ke kondisi semula.
• Membangun pemahaman masyarakat pesisir akan pentingnya vegetasi mangrove bagi
kehidupan sekitar
• Kebijakan pemerintah akan program suistainable development, Pembangunan wilayah
pesisir dan komitmen kebijakan itu sendiri.
• Strategi yang diterapkan untuk menciptakan kelestarian seperti pembatasan budidaya
terutama untuk daerah terbangun di wilayah pesisir yang didukung secara instituisional
dan pemberdayaan masyarakat, jadi konversi lahan mangrove dapat dibatasi.
• Pemberlakuan kebijakan dari pemerintah setempat atau yang berwewenang secara tegas
untuk mengendalikan konversi hutan dengan melalui sosialisasi dan pemberian insentif
dan disinsentif bagi para pelanggarnya.
• Membuat suatu area dan ruang penelitian lokal untuk mangrove sehingga dapat dijadikan
tempat kunjungan penelitian, wisata agro dan pengembangan biota hutan mangrove














12


DAFTAR PUSTAKA
1. Al Rasyid, H. 1971. Pemakaian Sistem Hutan Tambak dalam Rangka Reboisasi dan
Konversi Hutan Payau. Laporan No. 122 : 1-17. Lembaga Penelitian Hutan Bogor.
2. Nurul Huda, 2008. Strategi Kebijakan Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan di Wilayah
Pesisir Kab. Tanjung Jabung Timur Jambi, UNDIP Semarang
3. Apri Susanto, Etwin Kuslati Sabarini, Wetlands International Indonesia Programme.
4. Gunarto, Konservasi Mangrove Sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai,
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Sulawesi Selatan
5. Bengen, D.G. 2000. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan EkosistemMangrove.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor.
6. Bengen, D.G. 2004a. Menuju Pembangunan Pesisir dan Lautan Berkelanjutan Berbasis
ekosistem. P4L. Bogor.
7. Bengen, DG. 2004b. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove. PKSPL. Institut Pertanian Bogor.