Anda di halaman 1dari 10

SASBEL

1. definisi resistensi obat
Resistensi obat adalah perlawanan yang terjadi ketika bakteri, virus dan parasit lainnya seara
bertahap kehilangan kepekaan terhadap obat yang sebelu!nya !e!bunuh !ereka. Saat obat lebih
banyak digunakan, risiko resistensi obat !eningkat karena kasus penggunaan antibiotik yang tidak
tepat atau putus obat !eningkat.
". faktor" yg !e!pengaruhi terjadinya resistensi
#aktor$faktor yang !e!pengaruhi terjadinya resistensi obat adalah sebagai berikut%
1. Penggunaan obat antimikroba yang terlalu sering. Antibiotik yang terlalu sering
digunakan biasanya akan berkurang efektivitasnya.
". Penggunaan obat antimikroba yang irasional. Beberapa penelitian !enunjukkan bahwa
penggunaan obat anti!ikroba yang irasional seperti suatu keadaan penyakit yang tidak
!e!butuhkan terapi anti!ikroba !alah dipaksakan untuk !enggunakannya, hal ini
!erupkan faktor penting yang !e!udahkan berke!bangnya resistensi pada !ikroba.
&. Penggunaan obat antimikroba baru yang berlebihan. 'ontoh obat anti!ikroba yang
relatif epat kehilangan efektifitasnya setelah dipasarkan yaitu siprofloksasin dan
kotri!oksa(ol.
). Penggunaan obat antimikroba untuk jangka waktu lama. *enggunaan obat anti!ikroba
dala! jangka waktu la!a !e!berikan peluang pertu!buhan !ikroba yang lebih resisten
+first step mutant,.
-. Penggunaan obat antimikroba untuk ternak yang tidak tepat. .a!pir separuh dari
produksi antibiotik di dunia digunakan untuk suple!en pada pakan ternak. /adar anti!ikroba
teruta!a antibiotik dengan kadar rendah pada ternak !e!udahkan untuk tu!buhnya !ikroba
resisten. 'ontoh !ikroba yang telah resisten yaitu vancomycin-resisten enterococci,
Campylobacter dan Salmonella spp.
0. Faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya resistensi yaitu ke!udahan transportasi
!odern, perilaku seksual, sanitasi yang buruk dan kondisi peru!ahan yang tidak !e!enuhi
syarat.
#aktor$faktor yang !enyebabkan resistensi bakteri %
Sera u!u!
- Adanya faktor geneti dari pasien terhadap bakterinya
- *enggunaan terlalu sering
- Adanya pelangan dan perpanjangan dosisi yang tidak sesuai dengan anjuran dokter
- *e!utusan pe!akaian
Seara khusus
- 1eneti % terjadi perubahan geneti bakteri kro!osonal !aupun e2tra kro!osonal
- 3on geneti % keadaan bakteri pada saat istirahat sehingga tidak peka terhadap antibiotik
4okter %
$ *e!berian dosis yang tidak sesuai
*asien %
$ *enggunaan tidak sesuai dengan dosis
$ *enggunaan obat tidak sesuai dengan anjuran dokter
&. bagian bakteri5 virus terkait dengan resistensi obat
Resistensi terhadap penisilin dan sefalosporin
*enisilin dan sefalosporin !engha!bat protein pengikat penisilin +penicillin-binding protein, *B*,
yang !erupakan en(i! dala! !e!bran plas!a sel bakteri yang seara nor!al terlibat dala!
pena!bahan asa! a!ino yang berikatan silang dengan peptidoglikan dinding sel bakteri.
Resistensin bakteri terhadap penisilin dapat ti!bul akibat adanya !utasi yang !enyebabkan
dihasilkannya produksi pengikat penisilin yang berbeda atau akibat bakteri !e!erlukan gen$gen
protein pengiakt penisilin yang baru. Resistensi terhadap penisilin juga dapat !unul akibat
bakteri !e!iliki siste! transfor !e!bran luar +outer membrane, yang terbatas, yang !enegah
penisilin !enapai !e!bran sitoplas!a +lokasi protein pengikat penisilin,. .al ini dapat terjadi
akibat adanya !utasi yang !engubah porin yang etrlibat dala! transport !elewati !e!brane luar.
.al lain yang !e!ungkinkan terjadinya resistensi bakteri terhadap penisilin dan sefalosporin
adalah apabila bakteri !e!iliki ke!a!puan untuk !e!produksi 6$lakta!ase, yang akan
!enghidrolisis ikatan pada inin 6$lakta! !olekul penisilin dan !engakibatkan inaktivasi
anti!ikroba.
Resistensi !ikroorganis!e pathogen terhadap penisilin dan sefalosporin paling sering terjadi
akibat bakteri !e!iliki gen pengkode 6$lakta!ase. 7erdapat & kelas besar 6$lakta!ase, yaitu
penisilinase, oksasilinase, dan karbenisilinase. *enisilinase !e!iliki kisaran aktivitas yang luas
terhadap penisilin dan selafosporin , sedangkan oksasilinase dan karbenisilinase !e!iliki aktivitas
yang lebih terbatas.
*ada bakteri enteri +bakteri fakultatif anaerob gra! negative yang terdapat dala! intestinal
!anusia,, 6$lakta!ase dihasilkan dala! konsentrasi rendah dan terikat pada !e!brane luar.
En(i! ini !enegah anti!ikroba 6$laktan untuk !enapai tapak target pada !e!brane sitoplas!a
dengan ara !erusaknya saat anti!ikroba tersebut !elewati !e!brane luar dan lapisan
periplas!a +periplas!a spae,. 1en yang !engkode 6$lakta!ase terdapat pada kro!oso! bakteri,
pada bebrapa strain bakteri juga terdapat pada plas!id dan transposon. Sebagian besar bakteri
resisten penisilinjuga !e!ilki gen 6$lakta!ase pada plas!id teruta!a plas!id R dan tranposon.
1en 6$lakta!ase yang paling banyak terdapat seara luas adalah 7E8$1 yang terdapat pada
transposon 7n).
Staphylococci resisten$!etisilin terjadi akibat produksi protein ala!i pengikat penisilin *B* "a
atau "9 yang !e!iliki afinitas rendah pada pengikatan !etisilin. Sifat resistensi dikode oleh gen
kro!oso! bakteri +!eA, yang tidak dite!ukan pada se!ua strain Staphylococcus aureus
sensitive$!etisilin. 1en ini na!paknya terbatas pada Staphylococci, na!un gen lain pada
Streptooi juga !engkode *B* yang !e!iliki afinitas rendah terhadap !etisilin dan
anti!ikroba 6$lakta! lainnya.
Resistensi Terhadap Vankomisin
Resistensi vanko!isin berke!bang akibat adanya en(i! pada sel bakteri yyang resisten, yang
akan !e!buang residu alanin dari bagian peptida peptidoglikan. :anko!isin tidak dapat terikat
pada peptide yang berubah, na!un peptide yang berubah tersebut dapat tetap berfungsi dala!
for!asi ikatan silang sela!a sintesis peptidoglikan, sehingga bakteri resisten vanko!isin tetap
dapat !e!buat dinding sel fungsional.
Resisten Terhadap Tetrasiklin
Resistensi bakteri terhadap tetrasiklin dapat !unul bila dihasilkan !e!bran sitoplas!a yang
berbeda +bentuk perubahan, dan !enegah pengikatan tetrasiklin pada subunit &;S riboso!,
sehingga sintesis protein dapat terus berlangsung. 8ekanis!e resistensi tetrasiklin lainnya adalah
resistensi po!pa eflu2, didasarkan atas transpor tetrasiklin keluar sel seara epat, sehingga
!enegah aku!ulasi tetrasiklin pada dosis toksik, sehungga sintesis protein bakteri tidak
terha!bat. .al ini terjadi akibat adanya !utasi pada gen yang !enyebabkan protein eflu2
tetrasiklin.
Seara nor!al, pada saat tetrasiklin berdifusi !elewati !e!bran sitoplas!a bakteri, tetrasiklin
akan dikonversi dala! bentuk ionik. .al ini !e!buat tetrasiklin tidak lagi dapat berdifusi
!elewati !e!bran sehingga !enyebabkan aku!ulasi tetrasiklin di dala! sel, yang akhirnya dapat
!engha!bat sintesis protein bakteri dan !enyebabkan ke!atian sel bakteri.
Protein eflux tetrasiklin adalah protein !e!bran sitoplas!a yang !entranspor bentuk
nondifusible tetrasiklin keluar sitoplas!a. *ada sel bakteri yang resisten, tetrasiklin dikeluarkan
dari sitoplas!a seepat difusinya kedala! sel, sehingga !enegah aku!ulasi tetrasiklin yang
dapat !engha!bat sintesis protein.
Resistensi Terhadap Aminoglikosida
Resistensi terhadap antibiotik golongan a!inoglikosida !unul karena sel bakteri !e!produksi
en(i!$en(i! yang dapat !ena!bah fosfat, asetat, atau gugus adenil pada berbagai !aa! te!pat
pada antibiotik a!inoglikosida. Antibiotik a!inoglikosida yang telah di!odifikasi tersebut
nantinya tidak akan !a!pu terikat pada subunit &;S riboso! sehingga tidak lagi dapat
!engha!bat sintesis protein.
*ada dasarnya, satu !aa! en(i! yang telah digunakan untuk !e!odifikasi a!inoglikosida tidak
akan !a!pu !e!odifikasi a!inoglikosida yang lain. .al ini !enegah pena!bahan !utasi yang
akan !eningkatkan kisara !odifikasi a!inoglikosida oleh en(i! pe!odifikasi a!inoglikosida.
Sebagai ontoh, tapak ikatan yang di!odifikasi oleh suatu !uatan resisten$srepto!isin !engubah
suatu asa! a!ino pada protein S1" pada subunit &;S riboso! bakteri. 7urunan se!isintetik dari
a!inoglikosida selanjutnya didesain untuk resisten terhadap en(i! pe!odifikasi a!inoglikosida
tersebut. Amikasin adalah salah satu a!inoglikosida se!isintetik yang sangat resisten terhadap
!odifikasi oleh en(i! sehingga banyak bakteri sensitif terhadap antibiotik ini.
Resistensi a!inoglikosida juga !unul atas dasar penurunan aktivitas transpor anti!ikroba ke
dala! sel bakteri. A!inoglikosida tidak ditranspor kedala! sel oleh spesies bakteri Bateroides,
sehingga Bateroides resisten terhadap anti!ikroba ini. Esherihia oli juga lebih resisten
terhadap a!inoglikosida dala! kondisi anaerob seperti pada saluran penernaan !anusia.
Resistensi Terhadap Kloramfenikol
Resistensi klora!fenikol !ayoritas disebabkan oleh adanya en(i! yang !ena!bahkan gugus
asetil kedala! antibiotik. /lora!fenikol yang terasetilasi tidak akan dapat terikat pada sub!it -;S
riboso! bakteri, sehingga tidak !a!pu !engha!bat sinetsis protein.
8ayoritas bakteri yag resistensi terhadap klora!fenikol !e!iliki plas!id dengan sebuah gen yang
!engkode klora!fenikol astiltransferase. En(i! ini !enginaktivasi klora!fenikol yang telah
!elewati !e!bran plas!a dan !e!asuki sel. /lora!fenikol asetiltransfase diproduksi seara
terus !enerus oleh !ayoritas 1ra! negatif, na!un pada Staphyloous aureus, sintesis en(i! ini
diinduksi oleh klora!fenikol.
Resistensi Terhadap akrolida
Eritro!isin dan antibiotik golongan !akrolida yang lain terikat pada subunit -;S riboso! bakteri
dan !engeblok sintesis potein. *ada beberapa kasus, resistensi terhadap antibiotik !akrolida
terjadi akiat !utasi pada target antibiotik. 8ekanis!e uta!a resistensi !akrolida adalah
didasarkan atas en(i! R3A !etilase yang !ena!bahkan gugus !etil kedala! gugus adenin
spesifik pada subunit -;S rR3A. Antibiotik !akrolida ter!asuk eriro!isin tidak akn terikat pad
rR3A yang ter!etilasi.
*ada Escherchia coli dan beberapa strain bakteri resisten$eritro!isin lainnya, terdapat perubahan
pada gen pengkode protein L) atau L1" eritro!isin pada subunit -;S riboso! bakteri,
!engakibatkan penurunan afinitas eritro!isin terhadap riboso!. *ada Staphylococcus aureus,
resistensi eritro!isin akibat di!etilasi residu adenin pada rR3A "&S.
Resistensi Terhadap Fluorokuinolon
Antibiotik golongan fluorokkuinolon seperti halnya siprofloksasin dan norfloksasin terikat pada
subunit 6 en(i! 43A girase, dan !engeblok aktivitas en(i! yang essensial dala! !enjaga
superoling 43A dan penting dala! proses replikasi 43A. 8utasi pda gen pengkode 43A girase
!enyebabkan diproduksinya en(i! yang aktif na!un tidak dapat diikat oleg fluorokuinolon.
Resistensi Terhadap Rifampisin
Rifa!pisin +rifa!pin, terikat pada subunit 6$R3A poli!erase bakteri dan !engha!bat fungsi
en(i! ini dala! transkripsi !R3A. Rifa!pisin !e!iliki afinitas terhadap R3A poli!erase bakteri
yang lebih tinggi dibandingkan terhadap R3Apoli!erase !a!alia, sehingga rifa!pisin dapat
!engeblok transkripsi !R3A dan sintesis protein pada sel !anusia. Resistensi terhadap rifa!pisi
!unul akibat !utasi pada gen subunit R3A poli!erase. R3A poli!erase yang berubah akibat
!utasi tersebut berfungsi seara nor!al, na!un tidak dapat diha!bat oleh rifa!pisin.
Resitensi Terhadap !ulfonamid "an Trimetoprim
Sulfa drug +sulfona!id, dan tri!etropin !egha!bat reaksi yang berbeda pada jalur !etabolis!e
yang !e!produksi asa! tetrahidrofolat +tetrahydrofolic acid ,, yang !erupakan kofaktor esensial
dala! sintesis asa! nukleat.
Resistensi terhadap sulfona!id dan tri!etopri! disebabkan oleh !utasi pada gen pengkode en(i!
yang terlibat dala! jalur !etabolis!e sintesis asa! tetrahidrofolat. En(i! berubah berfungsi
seara nor!al na!un tidak diha!bat oleh sulfanaid dan tri!etopri!.
*enegahan resistensi dapat dilakukan dengan !enggunakan penakaran obat yang relatif tinggi,
!elebihi dosis efektif !ini!al, dan digunakan dala! waktu yang singkat. *enggunakan ko!binasi
dari " atau lebih obat juga ddapat dilakukan, !isalnya pada pengobatan 7B', lepra, kanker. 'ara
penegahan yang lain adalah dengan pe!batasan pe!berian antibiotik hanya untuk penyakit
infeksi yang parah dan penggunaan dosis yang benar dan sesuai aturan.
*enegahan resistensi dapat dilakukan dengan !enggunakan penakaran obat yang relatif tinggi,
!elebihi dosis efektif !ini!al, dan digunakan dala! waktu yang singkat. *enggunaan ko!binasi
dari " atau lebih obat juga dapat dilakukan, !isalnya pada pengobatan 7B', lepra, kanker. 'ara
penegahan yang lain adalah dengan pe!batasan pe!berian antibiotik hanya untuk penyakit
infeksi yang parah dan penggunaan dosis yang benar dan sesuai aturan.
*enegahan resistensi dapat dilakukan dengan !enggunakan penakaran obat yang relatif tinggi,
!elebihi dosis efektif !ini!al, dan digunakan dala! waktu yang singkat. *enggunakan ko!binasi
dari " lepra, dan kanker. 'ara penegahan yang lain adalah dengan pe!batasan pe!berian
antibiotik hanya untuk penyakit infeksi yang parah dan penggunakan dosis yang benar dan sesuai
aturan.
). !ekanis!e resistensi antibiotik terhadap plas!id bakteri5virus
8ekanis!e tejadinya resistensi %
8ekanis!e resistensi peda awalnya, proble! resistensi bakteri terhadap antibiotik telah dapat
dipeahkan dengan adanya pene!uan golongan baru dari antibiotik, sepeerti a!nogsida,
!akrolida, dan glikopeptida. 8ekanis!e resistensi pada bakteri !eliputi !utasi, pengha!batan
aktivitas antibiotik seara en(i!atik, perubahan protein yang !erupakan target antibiotik,
perubahan jalur !etabolik, efluks antibiotik, perubahan pada porin hannel, dan perubahan
per!eabilitas !e!bran. 8utasi geneti tunggal !ungkin !enyeabkan terjadinya resistensi tanpa
perubahan patogentas atau viabilitas dari satu bakteri. *erke!bangan resistensi terhadap obat$
obatan tuberkulos, seperti strepto!isin !erupakan ontoh dari perunbahan siste! ini %
$ adanya syste! en(i! dala! bakteri yang dapat !erusak antibiotika
$ !erubah per!ebilitas dindingnya bakteri !enjadi kuat sehingga tidak dapat !asuk dala! sel
baketeri
$ adanya syste! antagonis!e resistensinya dala! bentuk sekresi suatu substansi oleh !ikro
organis!e.
*enyebab genetik
Resistensi genetik yaitu suatu keadaan !ikroorganis!e yang se!ula peka terhadap suatu antibiotik
pada suatu saat dapat berubah sifat genetiknya !enjadi tidak peka atau !e!erlukan konsentrasi
yang lebih besar. *erubahan ini karena gen bakteri !endapatkan ele!en genetik yang terbawa sifat
resistensi. <aitu resistensi bakteri yang terjadi karena perubahan genetik !eliputi kro!oso!
!aupun ekstra kro!oso!. *erubahan genetik dapat ditransfer atau dipindahkan dari satu spesies
bakteri ke spesies lainnya !elalui berbagai !ekanis!e.
a. Resistensi kro!oso!al
Resistensi kro!oso!al bakteri terhadap antibiotik dapat terjadi karena adanya !utasi 43A yang
!engontrol keookan +suseptibility, terhadap obat tertentu. Resistensi bakteri terhadap antibiotik
yang !e!punyai sebab genetik kro!osal terjadi seara spontan, !isalnya karena terjadi !utasi
spontan terhadap lokus 43A +4eoksi 3ukleat Aid, yang !engontrol keookan +suseptibility,
terhadap antibiotik tertentu.
'ontoh % Bakteri Streptoous pneu!oniae !erubah struktur riboso!nya sehingga tidak diook
lagi sebagai target antibiotik eritro!isin
b. Resistensi ekstrakro!oso!al
Resistensi ekstrakro!oso!al sering disebut plas!id. *las!id adalah !olekul 43A yang bulat5
sirkuler. 'iri$iri plas!id %
1. /ira$kira !e!epunyai berat 1$&= dari kro!oso! bakteri
". Berada bebas dala! sitoplas!a bakteri
&. Adakalanya dapat bersatu ke dala! kro!oso! bakteri
). 4apat !elakukan replikasi sendiri seara otono!
-. 4apat pula berpindah atau dapat dipindahkan dari spesies ke spesies lain
Beberapa ontoh dari plas!id adalah %
#aktor R +1en Resisten,◊
#aktor R adalah satu golongan plas!id yang !e!bawa gen$gen resisten terhadap satu atau lebih
antibiotik. 1en dala! plas!id yang sering kali !enyebabkan resistensi obat dengan !e!produksi
en(i!$en(i! yang dapat !erusak daya kerja obat.
'ontoh % Bakteri Staphyloous aureus pada gennya !engandung faktor R yang terdapat gen
untuk replikasi !engatur sintesis protein yang !engkode en(i! en(i! 6$lakta!ase yang dapat
!erusak struktur 6$lakta! pada >>>>ilin.
#aktor # +#ili Se2,◊
Bakteri 1ra! negatif u!u!unya !e!iliki fili pada struktur tubuhnya. #ili !erupakan ra!but
pendek dan keras di sekililing bada sel bakteri #ili terdiri dari subunit$subunit protein. 7erdapat
dua jenis fili %
1. #ili yang !e!egang peranan dala! adhesi ku!an dengan tubuh hospes
". #ili seks, yaitu fili yang berfungsi dala! konjugasi " sel bakteri.
#ili seks inilah yang berperan dala! konjugasi terhadap bakteri lain dan !e!berikan gen resisten
pada suatu antibiotik.
'ontoh % E. oli, Sal!onella, Shigella, /lebsiella, Serratia, :ibrio holerae dan *seudo!onas
dengan ara konjugasi !e!berikan gen resisten !elalui fili se2 sehingga resisten pada
a!inoglikosida, tetrasiklin, klora!phenikol dan >>>>ilin.
7oksin◊
Beberapa toksin dari bakteri !erupakan produk dari plas!id sehingga toksin yang dihasilkan
bakteri !engha!bat antibiotik untuk bekerja !e!bunuh bakteri.
'ontohnya % *ada kasus diare yang disebabkan bakteri Esherihia oli pe!berian antibiotik justru
!e!perparah diare karena Esherihia oli yang !enghasilkan toksin enteroksigenik sehingga
antibiotik sendiri bisa !enyebabkan diare dan !endorong ti!bulnya bakteri yang resisten.
-. !enjelaskan adverse drug reation
8enurut ?.@, A4R !erupakan suatu respon yang tidak dikehendaki A !e!bahayakan pada
penggunaan obat dosis la(i! pada !anusia, baik untuk tujuan diagnosa, profilaksis, terapi !aupun
!odifikasi fungsi fisiologis.
P#$%%&'&$%A$ A"R
A4R seara u!u! dibagi !enjadi dua kelo!pok uta!a, yaitu %
1. Reaksi 7ipe A +augmented,
Adverse drug reaction tipe ini !erupakan aksi far!akologis yang nor!al tetapi !eningkat.
Reaksi tipe A berhubungan dengan dosis obat yang di!inu!. Reaksi ini dibagi lagi !enjadi
reaksi yang dihasilkan dari aksi far!akologis pri!er atau sekunder. 'ontoh reaksi yang
dihasilkan dari aksi far!akologis pri!er adalah bradikardi karena pe!akaian pengha!bat
adrenoseptor beta (beta-blocker), sedangkan ontoh reaksi yang dihasilkan dari aksi
far!akologis sekunder adalah ti!bulnya !ulut kering karena pe!akaian antidepresi trisiklik
yangdisebabkan aktivitas anti!uskarinik +Asla!, et al., ";;&,.
". Reaksi 7ipe B +bizarre,
Adverse drug reaction tipe B !erupakan reaksi yang aneh dan tidak terkait sa!a sekali dengan
dosis, !isalnya he!olisis dengan !ethyldopa atau tro!bositopenia dengan pengha!bat
A'E(Angiotensin-Converting Enzyme nhibitors). Reaksi tipe ini berkaitan dengan siste!
!etabolis!e obat dan siste! i!un tubuh penderita. 'ontoh yang u!u! terjadi adalah syok
anafilaksis setelah pe!akaian antibiotik, hiperter!ia ganas setelah pe!berian anestesi, ane!ia
aplastik karena pe!akaian klora!fenikol +Asla!, et al., ";;&,.
Berikut !erupakan perbedaan iri$iri antara A4R tipe A dan tipe B %
Tipe A Tipe (
4apat diprediksi +dari pengetahuan
far!akologinya,
7idak dapat diprediksi +dari pengetahuan
far!akologinya,
7ergantung dosis Barang tergantung dosis
8orbiditas tinggi 8orbiditas rendah
8ortalitas rendah 8ortalitas tinggi
4apat ditangani dengan pengurangan
dosis
4apat ditangani dengan penghentian
pengobatan
Angka kejadian tinggi Angka kejadian rendah
FAKT&R)FAKT&R *A$% #$*#(A(KA$ A"R
C Setiap pasien yang !enggunakan obat tertentu BELD8 7E37D !engala!i se!ua A4R yang
disebabkan oleh obat, dan tidak juga A4R individual !e!pengaruhi se!ua pasien.
C Apoteker harus !enyadari faktor uta!a yang !e!pengaruhi terjadinya A4R sehingga !ereka
dapat !engidentifikasi pasien yang paling berisiko.
+. ,'T-P'# "R,% T.#RAP*
4engan se!akin !eningkatnya ju!lah obat yang diresepkan, !e!ungkin lebih banyak efek
aditif yang terjadi. Enteraksi antar obat yang diresepkan !ungkin penyebab dari situasi ini.
'ontoh A4R yang !ungkin terjadi karena interaksi obat%
Type of intera/tion "rugs in0ol0ed #ffe/t
Pharma/odynami/ "igoxin1 beta)blo/kers
Al/ohol1 2$! depressants
"iureti/s1 alpha)blo/kers
3 risk of brady/ardia
3 sedati0e 4 other 2$!
depressant effe/ts
3 .ypotensi0e effe/ts
Pharma/okineti/ 2imetidine1 warfarin
Thia5ides1 lithium
!!R-s1 theophylline
3 risk of o0er)anti/oagulation
3 risk of lithium toxi/ity
3 theophylline toxi/ity
6.,,R
Beberapa Ensiden A4R yang dikenal dengan !eningkatnya usia.
Lansia%
a. perubahan far!akokinetik dan far!akodina!ik.
b. peningkatan sensitivitas terhadap beberapa obat.
. obat lainnya diresepkan.
d. !ultiple patologi
3eonatus%
a. pengurangan learane obatF Ggrey babyH sindro! karena klora!fenikol
b. obat berbeda dari orang dewasa.
. *eningkatan kerentanan terhadap A4R dari beberapa obat
7. ultiple disease state
tingkatan penyakit dapat !engubah respon terapi pasien untuk obat dan dapat !e!pengaruhi
kerentanan terhadap A4R. pasien dengan penyakit ulkus peptiku!, peningkatan risiko
pendarahan karena 3SAE4, *asien dengan as!a dapat !engala!i bronkospas!e dengan beta$
adrenoeptor !e!blokir obat.
8. Tipe dari obat yang diresepkan
Beberapa obat enderung !enyebabkan A4R daripada yang lain. A4R juga lebih !ungkin
terjadi ketika regi!en obat ter!asuk obat$obatan dengan 7E se!pit, seperti digoksin,
antikoagulan dan insulin. <ang paling sering dari obat yang terlibat dala! A4R ukup serius
untuk !enja!in orang !asuk ru!ah sakit adalah obat jantung, diuretik, 3SAE4, kortikosteroid,
antikoagulan, anti!ikroba, dan psikotropika.
9."&!-!
Banyak tipe A dari A4R ta!paknya terkait dosis dan dapat dikelola dengan penurunan dosis
obat. Endividualisasi terapi obat yang digunakan untuk !enghindari A4R. A4R dari kantuk dan
ataksia dari obat antiepilepti +fenitoin, fenobarbital dan 'arba!a(epine, adalah terkait dosis.
:. R&,T# P#AKA-A$
Bika obat diberikan terlalu epat dengan rute E:, A4R dapat ti!bul teruta!a dengan obat yang
bekerja pada jantung. '@37@.% digo2in E:, !enyebabkan !ual dan arit!ia.
;. F&R,'A!-
A4R dapat disebabkan eksipien dala! for!ulasi, !isalnya agen pewarna, pe!anis dan
pengawet, atau konta!inan seperti eosinofilia I nyeri berhubungan dengan L$tryptophan.
8e!pengaruhi ketersediaan hayati !enyebabkan toksisitas, 4igo2in, perubahan for!ulasi
!enyebabkan keraunan, #enitoin, !engubah pengener dari kalsiu! sulfat ke laktosa
<. %#$"#R % Beberapa A4R !unul lebih sering terjadi pada wanita, yang !elibatkan 1it.
Alasannya tidak diketahui.
=. RA! "A$ FAKT&R %#$#T-K
*erbedaan kerentanan terhadap A4R telah ditunjukkan antara ras, ke!ungkinan disebabkan
perbedaan dala! genetika yang dapat !e!pengaruhi !etabolis!e obat dan disposisi. *asien
yang kekurangan en(i! 10*4 lebih rentan terhadap toksisitas dari obat tertentu seperti kuinolon.
Afrika, 7i!ur 7engah dan Asia 7enggara !engala!i insiden lebih tinggi dari ras lain.
*erke!bangan tipe genetik di !asa depan akan !e!ungkinkan A4R untuk diidentifikasi
sebelu! !e!ulai terapi.
+>.K#PAT,.A$ PA!-#$ ? ketidakpatuhan terapi obat juga !ungkin !e!ainkan peranan
dala! A4R. 8enga!bil terlalu banyak obat dapat A4R !engakibatkan keraunan obat tak
terduga
#aktor Risiko A4R%
1. Dsia +anak$anak A lanjut usia,
". 8ultiple !ediation. ontohnya% pasien 7B
&. 8ultiple o$!orbid ondition
). @bat diresepkan kurang tepat5tepat tapi tidak di!onitoring penggunaannya
-. 4isfungsi organ tahap akhir
0. *erubahan fisiologis.ontohnya% ibu ha!il. Saat ha!il, progresteron !eningkat sehingga
!eningkatkan perfusi darah ke kulit, sehingga absorbsi obat topikal dan p.o !eningkat
J. Adanya riwayat A4R sebelu!nya
K. *resdiposisi genetik
:. menjelaskan pern/eghan agar tdk terjafi ad0erse drug
8enurut !ritish "ational #ormulary beberapa ara untuk !enegah A4R yaitu %
1. Bangan !enggunakan obat bila tidak diindikasikan dengan jelas. Bika pasien sedang ha!il
jangan gunakan obat keuali benar$benar diperlukan.
". Alergi dan idiosinkrasi !erupakan penyebab penting A4R. 7anyakan apakah pasien pernah
!engala!i reaksi sebelu!nya.
&. 7anyakan jika pasien sedang !enggunakan obat$obatan lain ter!asuk obat yang dipakai sebagai
swa!edikasi. .al ini dapat !eni!bulkan interaksi obat.
). Dsia dan penyakit hati atau ginjal dapat !engubah !etabolis!e dan ekskresi obat, sehingga
dosis yang lebih keil diperlukan.
-. 8eresepkan obat sesedikit !ungkin dan !e!berikan petunjuk yang jelas kepada pasien geriatri
dan pasien yang kurang !e!aha!i petunjuk yang ru!it.
0. Bika !e!ungkinkan gunakan obat yang sudah dikenal. 4engan !enggunakan suatu obatbaru
perlu waspada akan ti!bulnya A4R.
J. Bika ke!ungkinan terjadinya A4R yang serius, pasien perlu diperingatkan.
Pen/egahan
@bat yang diketahui !enyebabkan hipersensitifitas harus diatat dan tidak boleh diberikan
ke!bali. @bat tersebut harus diinfor!asikan kepada tenaga kesehatan, kalau diperlukan dapat
dibuat keterangan pada pasien +gelang, kalung tanda alergi5hipersensitif,.
*e!berian oabt$obatan sedianya berdasarkan indikasi, karena dengan pe!berian obat sesuai
indikasi dala! dosis yang tepat saja tetap !e!iliki ke!ungkinan !eni!bulkan A4R. Bila tidak
!e!erlukan obat !aka jangan !enggunakan obat karena obat tetap bahan ki!ia yang dapat
!eni!bulkan efek yang tidak diinginkan
J. !enjelaskan !ekanis!e adverse drug reation
#KA$-!# A"R
C 8ekanis!e A4R juga dijelaskan oleh /arh dan Lasagna. 8ekanis!e ini terkait dengan aspek
far!akodina!ik atau far!akologis obat dan dapat digunakan untuk !engklasifikasikan jenis
reaksi yang terjadi.
8ekanis!e tersebut adalah%
a. /eisti!ewaan% respon yang biasa untuk pasien karena obat, tetapi biasanya tidak terjadi pada
ad!inistrasi.
b. .ipersensitivitas% reaksiyang tidak dijelaskan oleh efek far!akologis obat, disebabkan oleh
reaktivitas pasien yang berubah dan u!u!nya dianggap sebagai !anifestasi alergi.
. Entoleransi% efek far!akologis karakteristik dari obat yang diproduksi oleh dosis yang luar biasa
keil, sehingga dosis biasa enderung !engakibatkan @4.
d. Enteraksi obat% respon far!akologis tidak biasa yang tidak bisa dijelaskan oleh aksi obat tunggal,
tetapi disebabkan oleh dua atau lebih obat$obatan.
e. #ar!akologis% dikenal, !elekat pada efek far!akologis obat, langsung berhubungan dengan
dosis.
!umber?
1unawan S1, 3afrialdi RS, Elysabeth. ";;J. #armakologi dan $erapi. Edisi ke$-. Bakarta%
4eparte!an #ar!akologi dan 7erapeutik #/$DE.
8utshler E. 1LL1. %inamika &bat #armakologi dan $oksikologi. Edisi ke$-. Bandung% E7B.
8yek 8B, .arvey RA, 'ha!pe *', #isher B4. ";;1. #armakologi 'lasan !ergambar.
Edisi ke$". Bakarta% ?idya 8edika.
KONSEP MAPPING
Penyakit
Teraupeti
k
Bakteri
Antibioti
k
Resisten
Dosis
tidak tepat
, d
!aktu
tidak tepat
Dosis
tepat