Anda di halaman 1dari 73

SEJARAH PEMBENTUKAN NEGARA ISRAEL.( http://hanyasejarah.blogspot.

com/2012/10/sejarah-
pembentukan-negara-israel.html)
Selama lebih dari tiga ribu tahun, nama Israel memiliki pengertian umum dan religi sebagai Tanah
Israel ataupun keseluruhan negara Yahudi. Menurut Alkitab, Yakub dinamai Israel setelah berhasil
bergumul dengan seorang malaikat Tuhan. Berdasarkan penemuan artefak arkeologi, nama "Israel"
(selain sebagai nama pribadi) paling awal disebutkan di prasasti Merneptah Mesir kuno (sekitar akhir
abad ke-13 SM). Pada prasasti tersebut nama "Israel" itu sendiri merujuk kepada sekelompok orang
yang berasal dari tanah tertentu. Negara modern Israel dinamakan Medinat Yisrael, yang artinya
"Negara Israel". Selain itu, terdapat pula nama-nama lain yang digagaskan, meliputi Eretz Israel
("Tanah Israel"), Zion, dan Judea , namun semuanya ditolak. Dalam Bahasa Inggris, warga
negara/orang Israel disebut sebagai Israeli. Istilah tersebut dipilih oleh pemerintah Israel pada awal
kemerdekaannya. Hal ini secara resmi diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Israel saat itu, Moshe
Sharett. Daerah ini juga dikenal sebagai Tanah Suci, yang suci untuk semua agama Abrahamik
termasuk Yahudi, Kristen, Islam dan kepercayaan Bah'. Sebelum Deklarasi Kemerdekaan Israel
1948, seluruh wilayah ini dikenal dengan berbagai nama lain, termasuk Suriah Selatan, Suriah
Palestina, Kerajaan Yerusalem, Provinsi Iudaea, Coele-Suriah, Retjenu, Kanaan, dan khususnya
Palestina. Tanah Israel, yang dikenal dalam bahasa Ibrani sebagai Eretz Yisrael, merupakan tanah
suci orang Yahudi. Menurut kitab Taurat, Tanah Israel dijanjikan kepada tiga Patriark Yahudi oleh
Tuhan sebagai tanah air mereka. Pada cendekiawan memperkirakan periode ini ada pada milenium
ke-2 SM. Menurut pandangan tradisional, sekitar abad ke-11 SM, beberapa kerajaan dan negara
Israel didirikan disekitar Tanah Israel; Kerajaan-kerajaan dan negara-negara ini memerintah selama
seribu tahun ke depan. Antara periode Kerajaan-kerajaan Israel dan penaklukan Muslim abad ke-7,
Tanah Israel jatuh di bawah pemerintahan Asiria, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Sassania, dan
Bizantium. Keberadaan orang Yahudi di wilayah tersebut berkurang drastis setelah kegagalan Perang
Bar Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132, menyebabkan pengusiran besar-besaran
Yahudi. Pada tahun 628-629, Kaisar Byzantium Heraklius memerintahkan pembantaian dan
pengusiran orang-orang Yahudi, mengakibatkan populasi Yahudi menurun lebih jauh. Walau
demikian, terdapat sekelompok kecil populasi Yahudi yang masih menetap di tanah Israel. Tanah
Israel direbut dari Kekaisaran Bizantium sekitar tahun 636 oleh penakluk Muslim. Selama lebih dari
enam abad, kontrol wilayah tersebut berada di bawah kontrol Umayyah, Abbasiyah, dan Tentara
Salib sebelum jatuh di bawah Kesultanan Mameluk pada tahun 1260. Pada tahun 1516, Tanah Israel
menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah, yang memerintah wilayah tersebut sampai pada abad
ke-20. Orang-orang Yahudi yang berdiaspora telah lama bercita-cita untuk kembali ke Zion dan
Tanah Israel. Harapan dan kerinduan tersebut tercatat pada Alkitab dan merupakan tema pusat
pada buku doa Yahudi. Pada permulaan abad ke-12, penindasan Yahudi oleh Katolik mendorong
perpindahan orang-orang Yahudi Eropa ke Tanah Suci dan meningkatkan jumlah populasi Yahudi
setelah pengusiran orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1492. Selama abad ke-16, komunitas-
komunitas besar Yahudi kebanyakan berpusat pada Empat Kota Suci Yahudi, yaitu Yerusalem,
Hebron, Tiberias, dan Safed. Pada pertengahan kedua abad ke-18, keseluruhan komunitas Hasidut
yang berasal dari Eropa Timur telah berpindah ke Tanah Suci. Imigrasi dalam skala besar, dikenal
sebagai Aliyah Pertama (Bahasa Ibrani: ), dimulai pada tahun 1881, yakni pada saat orang-orang
Yahudi melarikan diri dari pogrom di Eropa Timur. Manakala gerakan Zionisme telah ada sejak
dahulu kala, Theodor Herzl merupakan orang Yahudi pertama yang mendirikan gerakan politik
Zionisme, yakni gerakan yang bertujuan mendirikan negara Yahudi di Tanah Israel. Pada tahun 1896,
Herzl menerbitkan buku Der Judenstaat (Negara Yahudi), memaparkan visinya tentang negara masa
depan Yahudi; Tahun berikutnya ia kemudian mengetuai Kongres Zionis Sedunia pertama. Aliyah
Kedua (19041914) dimulai setelah terjadinya pogrom Kishinev. Sekitar 40.000 orang Yahudi
kemudian berpindah ke Palestina. Baik gelombang pertama dan kedua migrasi tersebut utamanya
adalah Yahudi Ortodoks, namun pada Aliyah Kedua ini juga meliputi pelopor-pelopor gerakan
kibbutz. Selama Perang Dunia I, Menteri Luar Negeri Britania Arthur Balfour mengeluarkan
pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour, yaitu deklarasi yang mendukung pendirian
negara Yahudi di tanah Palestina. Atas permintaan Edwin Samuel Montagu dan Lord Curzon,
disisipkan pula pernyataan "it being clearly understood that nothing shall be done which may
prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights
and political status enjoyed by Jews in any other country". Legiun Yahudi, sekelompok batalion yang
terdiri dari sukarelawan-sukarelawan Zionis, kemudian membantu Britania menaklukkan Palestina.
Posisi Arab terhadap rencana ini berujung pada Kerusuhan Palestina 1920 dan pembentukan
organisasi Yahudi yang dikenal sebagai Haganah (dalam Bahasa Ibrani artinya "Pertahanan"). Pada
tahun 1922, Liga Bangsa-Bangsa mempercayakan mandat atas Palestina kepada Britania Raya.
Populasi wilayah ini pada saat itu secara dominan merupakan Arab Muslim, sedangkan pada wilayah
perkotaan seperti Yerusalem, secara dominan merupakan Yahudi. Imigrasi Yahudi berlanjut dengan
Aliyah Ketiga (19191923) dan Aliyah Keempat (19241929), secara keseluruhan membawa 100.000
orang Yahudi ke Palestina. Setelah terjadinya kerusuhan Jaffa, Britania membatasi imigrasi Yahudi,
dan wilayah yang ditujukan sebagai negara Yahudi dialokasikan di Transyordania. Meningkatnya
gerakan Nazi pada tahun 1930 menyebabkan Aliyah kelima (1929-1939) dengan masukknya
seperempat juta orang Yahudi ke Palestina. Gelombang masuknya Yahudi secara besar-besaran ini
menimbulkan Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939, memaksa Britania membatasi imigrasi
dengan mengeluarkan Buku Putih 1939. Sebagai reaksi atas penolakan negara-negara di dunia yang
menolak menerima pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Holocaust, dibentuklah gerakan
bawah tanah yang dikenal sebagai Aliyah Bet yang bertujuan untuk membawa orang-orang Yahudi
ke Palestina. Pada akhir Perang Dunia II, jumlah populasi orang Yahudi telah mencapai 33% populasi
Palestina, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya 11% pada tahun 1922. Setelah 1945,
Britania Raya menjadi terlibat dalam konflik kekerasan dengan Yahudi. Pada tahun 1947, pemerintah
Britania menarik diri dari Mandat Palestina, menyatakan bahwa Britania tidak dapat mencapai solusi
yang diterima baik oleh orang Arab maupun Yahudi. Badan PBB yang baru saja dibentuk kemudian
menyetujui Rencana Pembagian PBB (Resolusi Majelis Umum PBB 18) pada 29 November 1947.
Rencana pembagian ini membagi Palestina menjadi dua negara, satu negara Arab, dan satu negara
Yahudi. Yerusalem ditujukan sebagai kota Internasional (corpus separatum) yang diadministrasi oleh
PBB untuk menghindari konflik status kota tersebut. Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut,
tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari
seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Pada 1
Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendeklarasikan pemogokan selama 3 hari, dan kelompok-
kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi. Perang saudara dimulai ketika kaum Yahudi
yang mula-mulanya bersifat defensif perlahan-lahan menjadi ofensif. Ekonomi warga Arab-Palestina
runtuh dan sekitar 250.000 warga Arab-Palestina diusir ataupun melarikan diri. Pada 14 Mei 1948,
sehari sebelum akhir Mandat Britania, Agensi Yahudi memproklamasikan kemerdekaan dan
menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai "Israel". Sehari kemudian, gabungan lima negara
Arab yaitu Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak menyerang Israel, menimbulkan Perang Arab-
Israel 1948. Maroko, Sudan, Yaman dan Arab Saudi juga membantu mengirimkan pasukan. Setelah
satu tahun pertempuran, genjatan senjata dideklarasikan dan batas wilayah sementara yang dikenal
sebagai Garis Hijau ditentukan. Yordania kemudian menganeksasi wilayah yang dikenal sebagai Tepi
Barat dan Yerusalem Timur, sedangkan Mesir mengontrol Jalur Gaza. Israel kemudian diterima
sebagai anggota PBB pada tanggal 11 Mei 1949. Selama konflik ini, sekitar 711.000 orang Arab
Palestina (80% populasi Arab) mengungsi keluar Palestina. Sumber: Wikipedia
Cara Pembentukan ISRAEL(http://pejuangmelaka.blogspot.com/2011/07/cara-pembentukan-
israel.html)
(Perutusan Maal-Hijrah PACE: 64 tahun berjuang dan semakin menjana kekuatan - pengajaran
daripada peristiwa-peristiwa yang menurap jalan bagi pembentukan Israel)

Lahirnya negara haram Israel di atas bumi Palestin ialah pada tahun 1367, bersamaan tahun 1948
menurut takwim Gregorian. Hari Jumaat 18 Disember 2009 merupakan tahun baru 1431 Hijri
menurut takwim Islam. Setelah 64 tahun Palestin masih dijajah dengan tiada tanda pelepasan oleh
penceroboh Zionis. Mungkin sesuai sempena Maal Hijrah ini untuk kita mengimbau kembali
peristiwa 1948, sebagai satu tragedi yang terbentang dan menyelubungi seluruh rantau itu dalam
perjuangan sengit sehinga ke hari ini.

Pada hari-hari sebelum 15 Mei 1948 iaitu tarikh terakhir untuk pengunduran British, Majlis
Kebangsan Yahudi (Jewish National Council) telah membuat persediaan untuk menubuhkan sebuah
negara Yahudi yang bebas di atas bumi Palestin. Sementara itu tentera British telah berundur secara
berperingkat dari kampung-kampung Palestin dan ini telah memberi ruang untuk pasukan-pasukan
bersenjata Yahudi mengambil alih kedudukan. Haifa telah dikuasai pengganas Yahudi pada 22 April.
Penduduk- penduduk Islam telah dihalau keluar. Mereka juga mengambil alih Baitul Maqdis dan
menghalau keluar penduduk Islam dengan muncung senapang. Masyarakat Arab dan dunia Islam
bertindak balas dengan memprotes dan mengadakan demonstrasi. Setelah menerima tekanan,
pihak Iraq, Syria, Lebanon dan Liga Arab bertindak menghantar tentera untuk mengambil alih
penguasaan daripada tentera British yang sedang berundur. Sementara itu pihak Perancis telah
membekalkan peralatan berat ketenteraan kepada Haganah sekali gus memberi mereka lebih kuasa
senjata untuk mengganggu dan menakut-nakutkan pihak Palestin. Dengan yang demikian, seramai
200,000 penduduk telah berpindah dari tanah air mereka demi keselamatan diri mereka sendiri.

Perjuangan tembak lari berlaku antara pihak Arab yang kekurangan peralatan dengan pasukan
bersenjata Yahudi yang lebih teratur. Jaffa telah dibebaskan oleh tentera Mesir tetapi dengan cepat
telah dikalahkan dan kota itu jatuh kembali ke tangan Yahudi. Pada 14 Mei, hari di mana tentera
British secara rasmi meninggalkan Palestin, tentera Jordan telah masuk dan menyerang kedudukan
Yahudi dan memaksa mereka untuk menyerah. Mengimbau kembali peristiwa-peristiwa tersebut,
ada kemungkinan jika tentera Arab lebih berkoordinasi serta lebih bersemangat, impian Zionis untuk
menyaksikan kelahiran Israel mungkin lebur. Namun setelah pemergian British pada 14 Mei, Ben
Gurion tidak berlengah untuk mengisytiharkan kelahiran Israel. Sebelas minit kemudian Presiden
Harry S Truman bagi pihak Amerika Syarikat mengisytiharkan pengiktirafan terhadap negara Israel.
Jelas sekali bahawa sokongan Amerika untuk Israel telah dirancang dari awal. Mereka hanya
menunggu pengumuman rasmi daripada pihak Zionis.

Dengan pengunduran British pada 15 Mei, tentera Arab telah digerakkan sepenuhnya. Tentera Iraq,
Syria, Mesir, Lebanon dan Jordan bersetuju untuk menghantar tentera ke Wilayah tengah Palestin.
Tentera Mesir menyasarkan Ashkalon sementara Jordan mahu membebaskan Baitul Maqdis dan
Ramalah. Tetapi mereka telah melakukan sesuatu yang menyulitkan perjuangan mereka. Tanpa
diketahui sebab-sebabnya, tentera Arab telah menarik balik senjata daripada kumpulan penentang
Arab termasuk pertubuhan gerila yang diketuai mufti besar al-Haj Amin Husayni, angkatan takhlisan
dan Pesuruhjaya Tinggi Arab yang telah mewakili Palestin dalam perjuangan menghadapi perampas
Yahudi sebelum ini. Dengan itu kekuatan mereka menurun kepada hanya 24,000 askar rasmi untuk
menghadapi Yahudi dengan kekuatan tentera seramai 70,000. Haganah yang dibekalkan oleh British
tidak dapat menandingi tentera Arab. Tetapi setelah British berundur, tentera Yahudi dengan cepat
mengambil alih. Satu demi satu bandar dan kampung jatuh ke tangan Yahudi. Pada saat yang genting
ini pasukan bersenjata sukarela Arab terutamanya daripada al-Ikhwanul Muslimun telah bergerak ke
sempadan. Ikhwanul Muslimin dari Syria dibawah pimpinan al-Ustaz Mustafa as-Sibai melancarkan
serangan dari Syria. Ikhwanul Muslimin dari Iraq di bawah as-Syeikh Muhamad Mahmud Aswaf telah
mengumpulkan seramai 15,000 sukarelawan dari Iraq untuk berjuang di Palestin. Kerajaan Iraq
mengenakan satu syarat kepada pihak Ikhwanil Muslimin iaitu mereka dikehendaki menyertai
angkatan takhlisan di bawah pimpinan al-Haj Amin Husyani. Namun setelah persetujuan dicapai
antara kedua-dua pihak, angkatan takhlisan telah dibubarkan oleh tentera Arab. Walau
bagaimanapun Syeikh Abdul Latif Abu Qurah telah berjaya menyeberangi Sungai Jordan, masuk ke
dalam Palestin dan bertapak di Baitul Maqdis. Kerajaan Mesir yang amat mengekang Ikhwanul
Muslimin terpaksa mengalah kepada rakyat Mesir dan membenarkan tentera Ikhwan di bawah
pimpinan Syeikh Ahmad Abdul Aziz dan dilatih oleh Mahmud Labib masuk ke dalam wilayah Palestin
melalui Gaza. Perlu dinyatakan bahawa terdapat 250 sukarelawan dari Bosnia yang telah ikut serta
dalam jihad untuk memerdekakan Palestin. Kumpulan mujahidin ini berjuang dengan berani dalam
medan pertempuran dan berjaya mengalahkan tentera Zionis. Tentera Palestin pula bersatu dalam
kumpulan al-Qassam and berjuang dengan penuh semangat bersama-sama tentera sukarelawan
Ikhwan.

Pada 19 Mei tentera Yahudi masuk dan merampas Kota Lama Baitul Maqdis, tetapi mendapati
mereka dikepung oleh tentera Jordan dan Ikhwan dari Jordan. Seramai 100,000 pejuang Yahudi telah
terperangkap dalam kota itu. Majlis Keselamatan tidak berlengah untuk menyelamatkan keadaan
dan memaksa negara Arab menerima terma genjatan senjata yang menyelamatkan tentera Yahudi
dari kemusnahan. Genjatan senjata dikuatkuasa dan tentera Arab berundur meninggalkan pasukan
sukarelawan untuk meneruskan perjuangan terhadap tentera Yahudi dalam kota. Ketika ini pasukan
Arab telah berjaya mengalahkan pihak Yahudi. Tentera Mesir membelasah pasukan Yahudi di
Beersheba, Gaza, and sebahagian Nejev. Tentera Iraq mengambil semula Jenin dan tentera Jordan
memerdekakan Jericho dan kawasan barat Kota Lama. Mereka bertapak berdekatan Lydda dan
Ramallah dan bersedia menawan seluruh kota.

Mungkin boleh dihayati kata-kata Panglima British, Glubb Pasha, komander tentera Jordan Jika
pihak Arab membiarkan pasukan mereka terus menyelesaikan tugas mereka dan terus berjuang
pada 15 Mei, mereka mungkin berjaya menghapuskan negara Israel yang baru muncul. Sebaliknya
mereka mematuhi genjatan senjata yang dikenakan oleh kuasa barat yang sememangnya
mempunyai kepentingan dalam kelahiran negara Israel. Keadaan menjadi tenang selama empat
minggu sementara rundingan berlangsung sehingga 11 Jun. Sementara itu Yahudi mengambil
kesempatan dengan membina semula pasukan mereka dan mengambil rekrut dari Eropah. Senjata
juga dibawa masuk dari Amerika Syarikat melalui Eropah. Rundingan gagal apabila kedua-dua pihak
menolaknya dan keganasan bermula sekali lagi. Pihak Arab terkejut apabila mendapati mereka
berdepan dengan tentera Yahudi yang lebih kuat dan persenjataan yang lebih besar dan juga kapal
terbang. Keadaan tenang telah digunakan oleh Yahudi sebaik mungkin untuk mengumpul
persenjataan. Mereka sememangnya mempunyai kelebihan dan dengan pantas berjaya
menyelamatkan 100,000 tentera Yahudi yang dikepung di Baitul Maqdis.

Pihak Palestin, demi menjaga tanah air mereka, enggan mengiktiraf Israel. Al-Haj Amin Husayni telah
diisytiharkan ketua untuk semua rakyat Palestin. Bagaimanapun rejim Arab enggan menngiktiraf
kerajaan Al-Haj Amin Husayni dan memaksa beliau meninggalkan Gaza. Ancaman datang daripada
Raja Farouq dari Mesir yang melayan kepentingan British di Mesir. Ketika itu rakyat Palestin
dibiarkan untuk mempertahankan diri mereka sendiri. Mereka telah diserang oleh juruterbang dari
Eropah yang dibayar 5,000 pound sebulan. Kekuatan senjata dari pihak Yahudi mengakibatkan bumi
Palestin hilang inci demi inci. Dari 585 perkampungan Palestin, 478 telah dimusnahkan oleh
penyangak Yahudi. 34 pembunuhan beramai-ramai telah dilakukan ke atas rakyat Palestin yang tidak
dapat mempertahankan diri termasuk wanita dan kanak-kanak. Lebih 500,000 rakyat Palestin
melarikan diri dari rumah mereka. Majlis keselamatan Bangsa-Bangsa Bersatu sekali lagi
mengenakan genjatan senjata ketika semuanya telah musnah. Pasukan sukarelawan diarah pulang
dan mereka ditangkap sebaik sampai di sempadan. Pada 11 Februari 1949, as-Syeikh Hassan al-
Banna, Mursyidul Am dan pengasas Ikhwanul Muslimin telah dibunuh dan berpuluh-puluh
pengikutnya dipenjarakan.

Pada 24 Februari 1949, Mesir dan Israel bersetuju melakukan genjatan senjata. Ini diikuti oleh Syria
pada 23 Mac dan Jordan pada 4 April. Israel dengan rasminya menjadi anggota Bangsa-Bangsa
Bersatu dan mendapat pengiktirafan dari seluruh dunia. Begitulah negara Israel wujud di atas
kelemahan, ketidaktegasan dan pengkhianatan dari rejim Arab.

Peristiwa-peristiwa 1948 boleh memberi banyak pengajaran kepada umat Islam. Ketika kita
melangkah masuk dalam tahun Hijriah yang baru, kita mesti menghayati detik penting dalam sejarah
kita. Kita perlu mengambil kira dan bersedia untuk perjuangan yang telah mula memihak kepada
kita. Israel sekarang dalam keadaan bertahan. Mereka sedang berundur dan kehilangan tempat
bertahan untuk memperoleh cita-cita Israel Raya. Kita pula janganlan teragak-agak dengan
menunjukkan ketidakmampuan dan ketidaktegasan dalam perjuangan memerdekakan tanah suci
kita. Kita mestilash tegas dalam mempertahankan prinsip dan tidak mudah diperdaya oleh janji
kosong pihak Zionis yang sekarang ini sedang terperuk dan kepenatan. Kita mesti menyelesaikan
tugas kita dan meneruskan perjuangan. Dan kita akan dapat menyaksikan berakhirnya negara Israel
dalam hayat kita, insya-Allah.







SEJARAH PEMBENTUKAN ISRAEL
( Tulisan pengkaji sejarah Indonesia)

Fakta sejarah menunjukkan bahwa hampir duaratus tahun bangsa Yahudi terpontang-panting
dikawsan tidak bertuan (padang Tiih) dan sekitarnya, sampai nabi Daud as dan nabi Sulaiman as
berhasil mendirikan kerajaan di Palestina, tahun 1040-970 SM.
Klik untuk baca seterusnya
Kerajaan nabi Daud as yang kemudian dilanjutkan oleh nabi Sulaiman as itu hanya utuh selama
beliau masih hidup, setelah nabi Sulaiman as wafat, kerajaan itu pecah menjadi dua, Kerajaan
Yahuda dan Kerajaan Israel.

Pada tahun 721 SM, kerajaan Israel ditaklukkan oleh Tiglath-Pileser III, raja Assyyira. Pada tahun 586
SM, raja Nebuchadnezzar menaklukkan kerajaan Yahuda. Seluruh bangsa Yahudi digiring ke
Babylonia untuk menjadi budak. Di Babylonia itulah para pemuka Yahudi menanamkan doktrin janji
kembali ke kampung halaman kepada para pengikutnya.

Kemudian pada tahun 550 SM, hampir seluruh kawasan Palestina diintegrasikan kedalam
kekuasaan Persia. Ketika Alexander the greath menguasai Palestina pada tahun 334 SM, Alexander
membawa bangsa Yahudi ke Yunani, dari sini mereka kemudian menyebar ke berbagai kawasan di
Eropa. Kemudian sejak tahun 160 SM diintegrasikan kedalam kekaisaran Romawi.

Pengungsian besar-besaran bangsa Yahudi terjadi lagi pada tahun 66 M sampai tahun 70 M, setelah
pemberontakan mereka terhadap penguasa Romawi gagal dan Gubernur Romawi pada waktu itu,
Titus membantai puluhan ribu orang Yahudi untuk memadamkan pemberontakan.

Demikianlah seterusnya sampai kedatangan Islam pertama kali dipimpin oleh Umar bin Khattab ra
pada tahun 637 M, mengikuti kemenangan Khalid bin Walid terhadap Romawi Binzantium di
Damascus pada tahun 635 M, Umar bin Khattab ra kemudian mewaqafkan Yerusalem dan tanah
Palestina kepada umat Islam seluruh dunia.

Pada tahun 1099 M tentara salib (crusaders) berhasil menguasai Palestina dan kota Yerusalem,
dengan membantai 70.000 penduduknya, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Dengan ijin Allah
swt, pada tahun 1187 M, pahlawan Islam, Shalahuddin Yusuf bin Ayyub mengembalikannya
kembali dalam pangkuan Islam dan tetap mempertahankannya, meskipun selama lima tahun
sampai 1192 M, harus berperang dengan seluruh raja-raja besar Eropa seperti Richard (Inggris),
Frederick (Jerman), Leopold (Austria), Louis (Perancis), raja Sisilia, yang berusaha merebut
Yerusalem kembali, tetapi mereka tidak berhasil.

Dalam naungan Islam, negeri Palestina dan kehidupan antar bangsa Yahudi, Filistin dan Arab
mengalami perdamaian sampai negeri ini lepas dari naungan Islam pada tahun 1917 setelah Inggris
mengalahkan bani Ustmaniyyah dalam Perang Dunia I, mandat Inggris ini dikokohkan dalam
konferensi San Remo tahun 1920, dan pembela Palestina yang utama hilang bersamaan dengan
runtuhnya bani Ustmaniyyah pada tahun 1924.

B. Beberapa karakter Yahudi didalam Al-Quran

Bila kita membuka Al Quran, maka pertama kali kita temukan adalah surah Al Fatihah yang kita
baca setiap kali shalat. Surah pertama itu sudah mulai berbicara mengenai hakikat Yahudi, yakni
mereka adalah orang-orang yang dimurkai Allah (al-maghdhubi-alaihim). Demikian pula surah Al
Baqarah , kita akan menemukan di dalamnya 83 ayat berturut-turut berbicara tentang Yahudi,
dimulai dari ayat 40 sampai ayat 123. Kemudian disusul dengan puluhan ayat lainnya yang
kesemuanya menyoroti tingkah laku kaum Yahudi dalam beragam kondisi dan masalah.

Yang lebih menarik ialah, ayat-ayat tersebut mampu memberikan gambaran sebagian besar sejarah
bangsa Yahudi yang penuh kenistaan serta memberikan kata kunci yang menjelaskan watak asli
mereka. Kata kunci itu terdapat dalam ayat 120 surah Al Baqarah yang artinya, secara psikologis
dan historis, mereka tidak pernah dan tidak akan ridha terhadap uamt Islam. Meskipun pada waktu
tertentu mereka memperlihatkan sikap manis dan tutur kata yang halus, mereka tetap melihat uamt
Islam dengan penuh curiga dan dendam dan menganggap umat Islam merupakan ancaman utama
bagi eksistensi Yahudi.

Catatan sejarah mengenai hal ihwal Yahudi ini kita temukan secara lengkap dalam Al Quran di
pelbagai surah. Bahkan bani Israil adalah umat yang paling banyak disoroti Al Quran daripada
umat lain. Sebab Yahudi adalah tipikal manusia unik. Perjalanan hidup mereka perlu dijadikan
pelajaran agar tingkah laku, pola pikir dan sikap pembangkangan mereka terhadap kebenaran yang
dibawa para rasul, serta kecenderungan mereka melakukan kerusakan di muka bumi tidak terulang
kembali pada umat nabi Muhammad. Juga agar kelicikan dan pengkhianatan mereka terhadap apa
saja bentuk perjanjian dan dengan siapa saja, dapat kita waspadai dan diantisipasi secara baik
sedari awal.

C. Latar belakang berdirinya negara Israel

Bangsa Yahudi yang tinggal diperantauan, terutama di Eropa banyak dibutuhkan untuk menjadi
kuli bangunan dan memajukan perekonomian, yang kesempatan itu menyebabkan mereka menjadi
kelas menengah di Eropa, tetapi mereka tetap menjadi orang asing di Eropa, tahun 500 M, mereka
diintimidasi di Spanyol, tahun 1300 M diusir dari Inggris, tahun 1400 M diusir dari Perancis, tahun
1500 M diusir dari Spanyol. Pada abad inilah Yahudi memperluas petualangannya sampai ke Eropa
Timur, Rusia dan Amerika Selatan.

Selama satu abad, 1600 M sampai 1700 M, kaum Yahudi berhasil menguasai pasar dan
perekonomian Eropa, dan bahkan mereka melibatkan diri dalam pendalaman ilmu pengetahuan
modern.

Akhirnya mereka mulai melihat titik terang yang akan menyinari jalan ketika mereka hendak
melangkah untuk kembali ke Palestina. Para ilmuwan mereka mulai berfikir merumuskan teori
revolusi yang akan menghancurkan kehidupan manusia, dengan tujuan untuk mengacau dunia
sehingga mempermudah jalan menuju Palestina.

Pada tanggal 1 mei 1776, tokoh Yahudi Nathan Bernbaum, mendirikan Zionisme Internasional,
dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika dideklarasikan. Yahuda Kalai (1798 1878), tokoh yang
lain mempertegas perlunya negara Yahudi di Palestina. Izvi Hirsch (1795 1874), membuat studi
agar diaspora Yahudi bisa mendirikan negara di Palestina. Moses Hess tokoh Yahudi membuat
buku Roma dan Yerusalem. Theodore Herzl (1860 1904) membuat buku der Yudentaat (negara
Yahudi) pada tahun 1896.

Untuk dunia Islam mereka tiupkan revolusi nasionalisme, melalui Lowrence of arabica, mereka
berhasil memecahbelah negeri Arab untuk melepaskan diri dari khilafah Utsmaniyyah.
Meskipun Eropa dan Rusia sudah berhasil dikacaukan, penghalang utama cita-cita bangsa Yahudi
adalah khilafah Ustmaniyah, yang menjadi penjaga setia tanah Palestina.

D. Sejarah berdirinya negara Israel

Berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum Yahudi untuk menembus dinding khilafah

Utsmaniyyah, agar mereka dapat memasuki Palestina.



Pertama, pada tahun 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada sultan
Abdul Hamid, untuk mendapatkan ijin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab sultan dengan
ucapan Pemerintan Ustmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin
hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diijinkan menetap di Palestina, mendengar jawaban
seperti itu kaum Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Kedua, Theodor Hertzl, penulis Der Judenstaat (Negara Yahudi), founder negara Israel sekarang,
pada tahun 1896 memberanikan diri menemuai sultan Abdul Hamid sambil meminta ijin
mendirikan gedung di al Quds. Permohonan itu dijawab sultan Sesungguhnya imperium Utsmani
ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah
kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri.

Melihat keteguhan sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi
Basel di Swiss, pada 29-31 agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan
khilafah Ustmaniyyah.

Karena gencarnya aktivitas Yahudi Zionis akhirnya sultan pada tahu 1900 mengeluarkan keputusan
pelarangan atas jamaah peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal disana lebih dari tiga bulan,
paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada tahun 1901 sultan
mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada tahun 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap sultan Abdul Hamid untuk melakukan
risywah. Diantara risywah yang disodorkan Hertzl kepada sultan adalah :

1. 150 juta poundsterling Inggris khusus untuk sultan.

2. Membayar semua hutang pemerintah Ustmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling
Inggris.

3. Membangun kapal induk untuk menjaga pemerintah, dengan biaya 120 juta Frank

4. Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga.

5. Membangun Universitas Ustmaniyyah di Palestina.



Semuanya ditolak sultan, bahkan sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin
Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan Nasehati mr. Hertzl agar dia tidak terlalu
serius menanggapi masalah ini. Sesungguhnya saya tidak sanggup melepaskan kendati hanya satu
jengkal tanah itu, Palestina, sebab bukan milik pribadiku. Tapi milik rakyat, rakyatku sudah
berjuang memperolehnya sehingga mereka siram dengan darah. Silahkan Yahudi itu menyimpan
kekayaan mereka yang milyaran itu. Bila pemerintahanku sudah tercabik-cabik, saat itu mereka
baru bisa menduduki Palestina dengan gratis. Adapun jika saya masih hidup, maka tubuhku
terpotong-potong adalah lebih ringan ketimbang Palestina terlepas dari pemerintahanku. Kasus ini
tidak boleh terjadi. Karena saya tidak kuasa melihat tubuhku diotopsi sedang nadiku masih
berdenyut.

Berbagai cara kotor dilancarkan Yahudi untuk menghancurkan dunia Islam. Mereka mulai dengan
menghancurkan Khilafah Utsmaniyah agar dapat menduduki Palestina. Mereka melakukan lobi
denan Inggris, Perancis, Rusia dan Amerika.

1. Pada tanggal 1 mei 1776, tokoh Yahudi Nathan Bernbaum, mendirikan Zionisme Internasional,
dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika dideklarasikan.

2. Yahuda Kalai (1798 1878), tokoh yang lain mempertegas perlunya negara Yahudi di Palestina.

3. Izvi Hirsch (1795 1874), membuat studi agar diaspora Yahudi bisa mendirikan negara di
Palestina.

4. Theodore Herzl (1860 1904) membuat buku der Yudentaat (negara Yahudi) pada tahun 1896.

5. 1897, Konferensi Basel , Swiss yang disponsori oleh Hertzl, merumuskan penghancuran Bani
Ustmaniyah.

6. 1907, meningkatnya aktivitas Freemasonry untuk menjatuhkan Sultan Abdul Hamid dari kursi
khilafah.

7. 1917, perjanjian Balfour untuk memberikan Palestina sebagai tanah air bagi Yahudi

8. 1927, meningkatnya pembangunan rumah dan gedung milik Yahudi di Palestina atas bantuan
Inggris.

9. 1937, Yahudi di Palestina mulai membangun kekuatan terorisme bersenjata. Kemudian mereka
mendapat bantuan senjata dan latihan militer dari sekutu ketika terlibat dalam PD II

10. Nopember 1947, dikeluarkanlah resolusi PBB tentang pembagian tanah Palestina anatara
penduduk Palestina dengan Yahudi pendatang itu. Kemudian menyusul pembubaran Ikhwanul
Muslimin dan pembunuhan terhadap Hasan al Banna yang banyak berperan membela Palestina.

11. 1956, Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel setelah gerakan Islam di kawasan Arab dipukul.

12. 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Yahudi, demikian juga dataran Tinggi golan
dan Sinai. Terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman gantung terhadap
Sayyid Quthb.

13. 1977, serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang disponsori Anwar Sadat.

14. 1988, surat rahasia Yasser Arafat untuk mengakui eksistensi Israel, berjanji hidup damai

dengan Yahudi dan akan menumpas segala aktivitas rakyat Palestina yang melawan Israel.

15. 1993 Perjanjian Gaza Ariha mengenai pemerintahan sendiri interim bagi bangsa Palestina di
wilayah-wilayah pendudukan Israel.

16. 1994 Kesepakatan yang memberikan otonomi pertama kepada Palestina di Tepi Barat dan Jalur
Gaza.

17. 1995 Kesepakatan perluasan otonomi Palestina ke sebagian besar Tepi Barat.

18. 1996 Pemilu pertama bangsa Palestina, Yasser Arafat terpilih menjadi Presiden

19. 1997 Kesepakatan perluasan otonomi Hebron dan Tepi Barat.

20. 1998 Kesepakatan transfer 13 persen wilayah Tepi Barat dari Israel ke Palestina dengan
imbalan jaminan keamanan.

21. 1999 Kesepakatan Wye River II, di Mesir.

22. 2000 Pertama kali Paus ke Yerusalem dan membela perlunya tanah air bagi Palestina.

23. 2001 Ariel Sharon menggantikan Ehud Barak

24. 2002 Israel membunuh pemimpin brigade al Aqsho, Raed el-Karmi.

D. Tokoh penting di balik berdirinya negara Israel

Beberapa tokoh penting dialik berdirinya negara Israel adalah : Theodore Hertzl, Arthur J Balfour,
David ben Gurion, Golda Meir, Gamal Abdel Nasser, Moshe Dayan, Abdullah, Yasser Arafat,
Anwar Sadat, Jimmy Carter, Menachem Begin, Yitzhak Rabin, Bill Clinton,
Benjamin Netanyahu, Ariel Sharon dan lain-lain

E. Kejahatan Yahudi terhadap dunia terutama Islam

Beberapa kejahatan Yahudi terhadap Islam telah dijelaskan terdahulu, antara lain dengan lahirnya
ideologi Nasionalisme, Kapitalisme, Marxisme, Komusnisme dan lainnya.

Menurut Dr Jusuf Qordhowi, dimasa yang akan datang tantangan kejahatan besar Yahudi terhadap
Islam adalah kejahatan Zionisme, kejahatan Naturalisasi dan kejahatan Globalisasi.

Dunia Islam kini sedang terbakar. Setiap kita berkewajiban segera menyiramkan air sekalipun
sedikit untuk memadamkan api yang bisa dipadamkan, tanpa menunggu orang lain. Syaikh
Amjad Al Zahawi.

Israel akan berdiri dan akan tetap berdiri sampai Islam menghancurkannya sebagaimana telah
dihancurkan sebelum ini. Imam Syahid Hasan Al Banna







kronologi penting pembentukan negara haram Israel
alhamdulillah. hari ini sempat membuat sedikit research tentang kronologi pembentukan negara
haram Israel. say mulakan dari awal 1517 selepas masihi.

1517 A.D. : palestin terletak dibawah pemerintahan kerajaan islam ottoman

1897 : kongres zionist pertama di Basle, Switzerland : mengeluarkan program Basle iaitu cita cita
untuk menjajah palestin

1904 : Kongres zionist ke-4 ; sebuah negara israel di argentina

1906 : kongres zionist ; sebuah negara israel merdeka di bumi palestin

1914 : perang dunia pertama ; britain berjanji untuk membebaskan negAra arab dari pemerintahan
ottoman termasuklah palestin. pemimpin masyarakat arab menyokong britain untuk melawan
kerajaan ottoman

1916 : britain dan perancis menandatangani perjanjian Sykes-Picot. antara kandungan Perjanjian
adalah membahagikan negara arab mengikut zon
lebanon dan syria: perancis
jordan dan iraq: britain
palestin: hak antarabangsa

1917 : Deklerasi Balfour pada 2 november.
surat kepada pemimpin zionist british: dari setiusaha luar Arthur J. Balfour; pembentukan sebuah
negara israel di palestin

1918 : permulaan berakhirnya perang dunia pertama; orang yahudi mula berpindah beramai ramai
ke palestin

1919: diadakan konferens national pertama di palestin; isi kandungannya menentang deklerasi
Balfour

1920: San Remo Conference: memberikan mandat kepada britain terhadap palestin.
Sir Herbert Samuel; seorang zionist dihantar sebagai high commisioner pertama britain ke palestin

1936: rakyat palestin melakukan 6 bulan protes umum
bertujuan untuk protes rampasan tanah palestin dan imigrasi yahudi ke bumi palestin

1937: Peel Commission: diketuai oleh Lord Robert Peel
antara isi kandungan: sudah tidak ada harapan untuk mewujudkan kerajaan uniti merangkumi
bangsa yahudi dan arab. mengusulkan pembahagian palestin kepada negara yahudi, negara arab dan
tanah suci yang neutral dijaga oleh british

1947: british meninggalkan palestin. PBB mengusulkan pembahagian palestin kepada yahudi dan
arab

15/5/1948 : penubuhan sebuah negara yahudi merdeka


















Penyebab Awal Konflik Palestina Dengan Israel


Konflik ini dimulai setelah perang dunia kedua,ketika masyarakat Israel (yahudi) berpikir untuk
memiliki negara sendiri. (menurut sejarah mereka keluar dari tanah Israel setelah Perang Salib
karena dituduh pro-Kristen oleh tentara Islam, yang kemudian ditinggali oleh orang-orang Filistin
atau Palestine) pikiran berbentuk zionisme yang didorong oleh genosida oleh Nazi pada perang
dunia kedua. Pilihan letak negara itu tentu saja adalah tanah leluhur mereka yang pada saat itu
merupakan tanah jajahan Inggris karena secara leluhur mereka memilikinya tapi juga secara religius
beberapa tempat keagamaan Yahudi ada disana.
Meskipun tidak secara terbuka, negara-negara barat setuju dan mendukung (alasannya karena
sebelum orang Palestina tinggal disana, tanah itu adalah milik Israel). sebaliknya negara-negara Arab
berargumen bahwa adalah karena Jerman yang melakukan genosida maka tanah Jerman lah yang
harus disisihkan untuk dijadikan negara Yahudi.Dibalik semua intrik politik dan keuntungan dan
kerugian politik, strategis,dll. Inggris secara sukarela mundur dari negara dan memberikan siapa saja
untuk mengklaimnya. berhubung Isreal lebih siap maka mereka lebih dahulu memproklamirkan
negara.
Sebaliknya orang-orang palestina yang telah tinggal dan besar disana tidak mau terima mejadi
bagian negara Yahudi (dalam literatur doktrin Islam pemimpin negara harus seorang
Muslim),sehingga bangsa Israel kemudian melihat orang Palestina sebagai ancaman dalam negeri,
begitu juga dengan bangsa Palestina yang menganggap Israel sebagai penjajah baru.
Hasilnya bisa ditebak, perang dan konflik yang telah berbelit-belit. yang sebenarnya adalah urusan
antara dua negara/bangsa menjadi konflik antara agama (Yahudi vs Islam) belum lagi stabilitas
kawasan timur tengah dan ikut campur Amerika dengan kebijakan Minyak mereka.
Jadi sebenarnya masalah dasarnya tidak ada hubungannya dengan orang Palestina itu beragama
Islam atau orang Israel itu beragama Yahudi, tapi masalahnya adalah "Tanah dan Kekuasaan".

Tiga Alasan Dasar Perebutan Kota Suci Jerusalem :

1. Alasan Ekonomi
Presiden Bill Clinton sudah menjelaskan hal ini di Gedung Putih dalam wawancaranya dengan koran
Otto Citizen Canada pada tanggal 1 Desember 2000, bahwasanya kota Jerusalem akan menjadi
tempat tujuan utama para turis internasional dan para pelancong dunia dalam sejarah
keparawisataan dan karenanya pula ia berusaha merayu Presiden Yasir Arafat agar mau
memindahkan masjid Al-Aqsho dari sana.
Pada realitasnya, sesungguhnya musuh Israel dengan usaha keras mereka untuk menguasai kota
Jerusalem dan kota Jerusalem yang lama dengan seluruh mesjid dan gereja yang ada di dalamnya-
mereka ingin menguasai dan menjadi coordinator tunggal untuk mengurusi para Haji dan Kristiani ke
sana dan mereka pula yang mengurusi kunjungan umat Islam untuk menyempurnakan Hajinya. Dan
ini akan mendatangkan pendapatan devisa yang sangat besar yang mereka dapat dari kunjungan
umat Kristiani dan umat Islam, bukan kunjungan para turis internasional seperti yang diungkapkan
Bill Clinton.

2. Alasan Politis
Alasan ini terealisasikan lewat program mereka untuk menjadikan kota Jerusalem lama yang
memiliki posisi yang strategis dan sejarah panjang menjadi Ibu Kota Negara yang Abadi menurut
keyakinan mereka), yang dari sanalah mereka akan menguasai seluruh wilayah sekitarnya.
Bariz, seorang politisi Libanon pernah bercerita ketika ada pertemuan di PBB setelah Zionis Israel
mencaplok Libanon pada tahun 1982, ketika Perdana Menteri Israel pada waktu itu Manahen Begin,
mengundang mantan Perdana Mentri Libanon Kamil Syam`un untuk mengunjungi kota suci
Jerusalem,(seperti diceritakan oleh Kamil Syam`un dalam otobiografinya dalam bahasa Prancis)
Manahen Begin berprilaku seolah-olah ia Raja Sulaiman sedangkan Kamil Syam`un diberlakukan
seolah-olah salah satu raja Al-guwaiyiim ( buta huruf /bodoh) di masa mendatang. Yang datang
dari kota Shuur untuk menyembahkan rasa tunduk dan loyal kepada raja Israel yang baru.
Penggalan cerita ini sudah cukup sebagai simulasi untuk menjelaskan alasan yang sangat esensi yang
terwujud lewat aturan yang ada di Timur Tengah. Sebuah aturan dan undang-undang yang ingin
diberlakukan secara paksa oleh Amerika Serikat kepada seluruh wilayah itu, dengan kerja keras
untuk menyamakan aturan bagi warga Arab bagaimanapun caranya.

3. Alasan Historis
Dengan alasan perang budaya, maka merebut kota suci Jerusalem dan menguasai seluruh barang
bersejarah umat Islam dan Kristen di kota itu merupakan kemenangan budaya Barat atas budaya
Arab Islam, dengan keunggulan dan hegemoni politik Barat mengajak sekutunya untuk mengusik
dendam sejarah masa lalu yang
berkobar dalam jiwa dan dada mereka atas budaya Arab Islam yang mengalahkan mereka dalam
perang orang-orang Barat delapan abad yang lalu.

Sudah berapa nyawa melayang ya gara-gara konflik ini...mari kita doakan semoga perang ini akan
jadi perang terakhir dan konflik ini bisa selesai...ya.


Sumber: http://davotmarbun.blogspot.com/2010/01/penyebab-awal-konflik-palestina-
dengan.html#ixzz39zTG27Ew




Israel yang dalam bahasa Ibrani Medinat Yisrael, dan dalam bahasa Arab
Dawlat Isrl merupakan sebuah negara di Timur Tengah yang dikelilingi Laut Tengah, Lebanon,
Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Israel juga dikelilingi dua daerah Otoritas Nasional
Palestina, Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Israel merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia dengan penduduk sekitar 7,28 juta jiwa.Selain
Yahudi, terdapat juga beberapa kelompok etnis minoritas seperti etnis Arab yang
berkewarganegaraan Israel. Di Israel juga terdapat beberapa agama lain seperti Muslim, Kristen,
Druze, Samaria, dan lain-lain.

Awal Sejarah Israel

Kisah & Sejarah Israel & PalestinaMenurut kitab Taurat, Tanah Israel dijanjikan kepada tiga Patriark
Yahudi oleh Tuhan sebagai tanah air Yahudi. Sekitar abad ke-11 SM, beberapa kerajaan dan negara
Israel didirikan disekitar Tanah Israel.

Antara periode Kerajaan-kerajaan Israel dan penaklukan Muslim abad ke-7, Tanah Israel jatuh di
bawah pemerintahan Asiria, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Sassania, dan Bizantium.

Keberadaan orang Yahudi di wilayah tersebut berkurang drastis setelah kegagalan Perang Bar
Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132, menyebabkan pengusiran besar-besaran
Yahudi.

Pada tahun 628/9, Kaisar Bizantium Heraklius memerintahkan pembantaian dan pengusiran orang-
orang Yahudi, mengakibatkan populasi Yahudi menurun lebih jauh lagi.

Tanah Israel direbut dari Kekaisaran Bizantium sekitar tahun 636 oleh penakluk muslim. Selama lebih
dari enam abad, kontrol wilayah tersebut berada di bawah kontrol Umayyah, Abbasiyah, dan
Tentara Salib sebelum jatuh di bawah Kesulatanan Mameluk pada tahun 1260.

Pada tahun 1516, Tanah Israel menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah, yang memerintah
wilayah tersebut sampai pada abad ke-20.

Zionisme dan Mandat Britania

Pengusiran besar-besaran Yahudi atau yang biasa disebut Diaspora Yahudi, menyebabkan
tersebarnya Yahudi ke berbagai negara. Pada permulaan abad ke-12, penindasan Yahudi oleh Katolik
mendorong perpindahan orang-orang Yahudi Eropa kembali ke Tanah Suci. Dan perpindahan itu
meningkatkan jumlah populasi Yahudi setelah pengusiran orang Yahudi dari Spanyol pada tahun
1492.

Selama abad ke-16, komunitas-komunitas besar Yahudi kebanyakan berpusat pada Empat Kota Suci
Yahudi, yaitu Yerusalem, Hebron, Tiberias, dan Safed.

Pada pertengahan kedua abad ke-18, keseluruhan komunitas Hasidut yang berasal dari Eropa Timur
telah berpindah ke Tanah Suci.

Imigrasi dalam skala besar, atau dikenal sebagai Aliyah Pertama (), di mulai pada tahun 1881,
yaitu pada saat orang-orang Yahudi melarikan diri dari pogrom di Eropa Timur.

Pada tahun 1896, Theodor Herzl menerbitkan buku Der Judenstaat (Negara Yahudi), dan
memaparkan visinya tentang negara masa depan Yahudi, Tahun berikutnya ia kemudian mengetuai
Kongres Zionis Dunia pertama.

Aliyah Kedua (19041914) dimulai setelah terjadinya pogrom Kishinev. Sekitar 40.000 orang Yahudi
kemudian berpindah ke Palestina.

Selama Perang Dunia I, Menteri Luar Negeri Britania Arthur Balfour mengeluarkan pernyataan yang
dikenal sebagai Deklarasi Balfour, yaitu deklarasi yang mendukung pendirian negara Yahudi di tanah
Palestina.

Atas permintaan Edwin Samuel Montagu dan Lord Curzon, disisipkan pula pernyataan it being
clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of
existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in
any other country.

Legiun Yahudi, batalion yang terdiri dari sukarelawan-sukarelawan Zionis, kemudian membantu
Britania menaklukkan Palestina. Oposisi Arab terhadap rencana ini berujung pada Kerusuhan
Palestina 1920 dan pembentukan organisasi Yahudi yang dikenal sebagai Haganah (Bahasa Ibrani :
Pertahanan).

Pada tahun 1922, Liga Bangsa-Bangsa mempercayakan mandat atas Palestina kepada Britania Raya.
Populasi wilayah ini pada saat itu secara dominan merupakan Arab muslim, sedangkan pada wilayah
perkotaan seperti Yerusalem, secara dominan merupakan Yahudi.

Aliyah Ketiga (19191923) dan Aliyah Keempat (19241929), secara keseluruhan membawa 100.000
orang Yahudi ke Palestina. Setelah terjadinya kerusuhan Jaffa, Britania membatasi imigrasi Yahudi,
dan wilayah yang ditujukan sebagai negara Yahudi dialokasikan di Transyordania.

Gerakan Nazi pada tahun 1930 menyebabkan Aliyah kelima (1929-1939) dengan masukknya
seperempat juta orang Yahudi ke Palestina. Gelombang masuknya Yahudi secara besar-besaran ini
menimbulkan Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939, memaksa Britania membatasi imigrasi
dengan mengeluarkan Buku Putih 1939.

Sebagai reaksi atas penolakan negara-negara di dunia yang menolak menerima pengungsi Yahudi
yang melarikan diri dari Holocaust, dibentuklah gerakan bawah tanah yang dikenal sebagai Aliyah
Bet yang bertujuan untuk membawa orang-orang Yahudi ke Palestina.

Pada akhir Perang Dunia II, jumlah populasi orang Yahudi telah mencapai 33% populasi Palestina,
meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya 11% pada tahun 1922.

Kemerdekaan Israel

Kisah & Sejarah Israel & PalestinaSetelah 1945, Britania Raya menjadi terlibat dalam konflik
kekerasan dengan Yahudi. Pada tahun 1947, pemerintah Britania menarik diri dari Mandat Palestina,
menyatakan bahwa Britania tidak dapat mencapai solusi yang diterima baik oleh orang Arab maupun
Yahudi.

Badan PBB yang baru saja dibentuk kemudian menyetujui Rencana Pembagian PBB (Resolusi Majelis
Umum PBB 18) pada 29 November 1947. Rencana pembagian ini membagi Palestina menjadi dua
negara, satu negara Arab, dan satu negara Yahudi. Yerusalem ditujukan sebagai kota Internasional
corpus separatum yang diadministrasi oleh PBB untuk menghindari konflik status kota tersebut.

Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut, tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya
atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30%
dari seluruh penduduk di daerah ini. Pada 1 Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendeklarasikan
pemogokan selama 3 hari, dan kelompok-kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi.

Perang saudara dimulai ketika kaum Yahudi yang mula-mulanya bersifat defensif perlahan-lahan
menjadi ofensif. Ekonomi warga Arab-Palestina runtuh dan sekitar 250.000 warga Arab-Palestina
diusir ataupun melarikan diri.

Pada 14 Mei 1948, sehari sebelum akhir Mandat Britania, Agensi Yahudi memproklamasikan
kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai Israel. Sehari kemudian,
gabungan lima negara Arab Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak menyerang Israel,
menimbulkan Perang Arab-Israel 1948. Maroko, Sudan, Yemen dan Arab Saudi juga membantu
mengirimkan pasukan.

Setelah satu tahun pertempuran, genjatan senjata dideklarasikan dan batas wilayah sementara yang
dikenal sebagai Garis Hijau ditentukan. Yordania kemudian menganeksasi wilayah yang dikenal
sebagai Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sedangkan Mesir mengontrol Jalur Gaza. Israel kemudian
diterima sebagai anggota PBB pada tanggal 11 Mei 1949. Selama konflik ini, sekitar 711.000 orang
Arab Palestina (80% populasi Arab) mengungsi keluar Palestina.

Pada masa-masa awal kemerdekannya, gerakan Zionisme buruh yang dipimpin oleh Perdana
Menteri David Ben-Gurion mendominasi politik Israel. Tahun-tahun ini ditandai dengan imigrasi
massal para korban yang selamat dari Holocaust dan orang-orang Yahudi yang diusir dari tanah Arab.

Populasi Israel meningkat dari 800.000 menjadi 2.000.000 dalam jangka waktu sepuluh tahun antara
1948 sampai dengan 1958. Kebanyakan pengungsi tersebut ditempatkan di perkemahan-
perkemahan yang dikenal sebagai maabarot. Sampai tahun 1952, 200.000 imigran bertempat tingal
di kota kemah ini.

Selama tahun 1950-an, Israel terus menerus diserang oleh militan Palestina yang kebanyakan berasal
dari Jalur Gaza yang diduduki oleh Mesir.

Pada tahun 1956, Israel bergabung ke dalam sebuah aliansi rahasiaBritania Raya bersama dengan
dan Perancis, yang betujuan untuk merebut kembali Terusan Suez yang sebelumnya telah
dinasionalisasi oleh Mesir. Walaupun berhasil merebut Semenanjung Sinai, Israel dipaksa untuk
mundur atas tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai ganti atas jaminan hak pelayaran
Israel di Laut Merah dan Terusan Suez.

Kisah & Sejarah Israel & PalestinaPada tahun 1967, Mesir, Suriah, dan Yordania menutup
perbatasannya dengan Israel dan mengusir pasukan perdamaian PBB keluar dari wilayah tersebut
serta memblokade akses Israel terhadap Laut Merah.

Israel kemudian melancarkan serangan terhadap pangkalan angkatan udara Mesir karena takut akan
terjadinya invasi oleh Mesir. Hal ini kemudian berujung pada Perang Enam Hari yang kemudian
dimenangkan oleh Israel. Pada perang ini, Israel berhasil merebut Tepi Barat, Jalur Gaza,
Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.

Garis Hijau menjadi penanda batas antara wilayah administrasi Israel dengan Wilayah pendudukan
Israel. Batas wilayah Yerusalem juga diperluas dengan memasukkan wilayah Yerusalem Timur.
Sebuah undang-undang yang mengesahkan pemasukan wilayah ini kemudian ditetapkan. Hal ini
kemudian berujung pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 478 yang menyatakan bahwa penetapan
ini tidak sah dan melanggar hukum internasional.

Kisah & Sejarah Israel & PalestinaKegagalan negara-negara Arab pada perang tahun 1967 kemudian
menyebabkan tumbuhnya gerakan kemerdekaan Palestina oleh Organisasi Pembebasan Palestina
(PLO).

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, beberapa kelompok militer Palestina melancarkan berbagai
gelombang serangan terhadap warga-warga Israel di seluruh dunia, termasuk pula pembunuhan
atlet-atlet Israel pada Olimpiade Mnchen 1972. Israel membalas aksi tersebut dengan melancarkan
Operasi Wrath of God (Kemarahan Tuhan). Pada operasi ini, orang-orang yang bertanggung jawab
terhadap peristiwa Mnchen ini dilacak dan dibunuh.

Pada hari Yom Kippur 6 Oktober 1973 yang merupakan hari suci Yahudi, pasukan Mesir dan Suriah
melancarkan serangan mendadak terhadap Israel. Perang tersebut berakhir pada tanggal 26 Oktober
dengan Israel berhasil memukul balik pasukan Mesir dan Suriah. Walaupun demikian perang ini
dianggap sebagai kekalahan Israel.

Pemilihan Knesset 1977 menandai terjadinya titik balik dalam sejarah perpolitikan Israel. Pada
pemilihan ini, Menachem Begin yang berasal dari partai Likud mengambil alih kontrol pemerintahan
dari Partai Buruh Israel. Pada tahun itu pula, Presiden Mesir Anwar El Sadat melakukan kunjungan ke
Israel dan mengucapkan pidato di depan Knesset. Aksi ini dilihat sebagai pengakuan kedaulatan
Israel yang pertama oleh negara Arab.

Dua tahun kemudian, Sadat dan Menachem Begin menandatangani Persetujuan Camp David dan
Perjanjian Damai Israel-Mesir. Israel menarik mundur pasukannya dari semenanjung Sinai dan setuju
untuk bernegosiasi membahas otonomi warga Palestina yang berada di luar Garis Hijau. Namun,
rencana tersebut tidak pernah diimplementasi.

Pemerintahan Begin mendukung warga Israel untuk bermukim di Tepi Barat, mengakibatkan konflik
dengan warga Palestina di daerah tersebut.

Pada tanggal 7 Juni 1981, Israel membom bardir reaktor nuklir Osirak milik Irak pada Operasi Opera.
Badan intelijen Israel, Mossad, mencurigai reaktor nuklir tersebut akan digunakan Irak untuk
mengembangkan senjata nuklir.

Pada tahun 1982, Israel melakukan intervensi pada Perang Saudara Lebanon untuk menghancurkan
basis-basis serangan Organisasi Pembebasan Palestina di Israel Utara. Intervensi ini kemudian
berkembang menjadi Perang Lebanon Pertama. Israel menarik pasukannya dari Lebanon pada tahun
1986. Intifada Pertama yang merupakan perlawanan rakyat Palestina terhadap pemerintahan Israel
terjadi pada tahun 1987, menyebabkan terjadinya kekerasan di daerah pendudukan Israel.

Selama Perang Teluk 1991, PLO dan kebanyakan warga Palestina mendukung Saddam Hussein dan
Irak dalam melancarkan serangan misil terhadap Israel.

Pada tahun 1992, Yitzhak Rabin menjadi Perdana Menteri Israel setelah memangkan pemilihan
umum legislatif Israel 1992. Yitzhak Rabin dan partainya mendukung adanya kompromi dengan
tetangga-tetangga Israel.

Tahun 1993, Shimon Peres dan Mahmoud Abbas, sebagai wakil Israel dan PLO, menandatangani
Persetujuan Oslo. Persetujuan ini memberikan Otoritas Nasional Palestina hak untuk memerintah di
Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu, juga dinyatakan pula pengakuan hak Israel untuk berdiri dan
menyerukan berakhirnya terorisme.

Pada tahun 1994, Perjanjian Damai Israel-Yordania ditandatangani, membuat Yordania menjadi
negara Arab kedua yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

Dukungan publik Arab terhadap persetujuan ini menurun setelah terjadinya peristiwa pembantaian
umat muslim yang sedang bersembahyang di Masjid Ibrahimi oleh sekelompok ekstremis gerakan
Kach. Selain itu, pemukiman warga Israel di daerah pendudukan yang masih berlanjut, serta
menurunnya kondisi ekonomi Palestina juga menurunkan dukungan publik Arab.

Dukungan publik Israel terhadap persetujuan ini juga berkurang setelah terjadinya rentetan kasus
bom bunuh diri yang dilakukan oleh hamas. Pembunuhan Yitzhak Rabin yang dilakukan oleh
esktremis Yahudi ketika ia sedang meninggalkan sebuah pawai yang mendukung perdamaian dengan
Palestina mengejutkan seluruh negeri.

Pada akhir 1990-an, Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu menarik mundur pasukannya
dari Hebron dan menandatangai Memorandum Sungai Wye. Memorandum tersebut memberikan
Otoritas Nasional Palestina kontrol yang lebih luas.

Peta perubahan wilayah Israel dan Palestina :

Kisah & Sejarah Israel & Palestina

Konflik Palestina Israel dari Masa Nabi sampai Masa Kini
Konflik Palestina dan Israel ini seperti tiada akhirnya. Ribuan warga sipil di keduabelah pihak telah menjadi
korban konflik Palestina Israel ini. Konflik Palestina Israel ini, bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana.
Konflik Israel Palestina dimulai ketika pada tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil
merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania).
Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang
masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.
Konflik Palestina Israel dari Masa Nabi sampai Masa Kini
Konflik Israel Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel
(atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama, sementara
seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas terdapat orang-orang dan
kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian
menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara
sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
Konflik Palestina Israel dari Masa Nabi sampai Masa Kini
2000 SM 1500 SM
Istri Nabi Ibrahim A.s., Siti Hajar mempunyai anak Nabi Ismail A.s. (bapaknya bangsa Arab) dan Siti Sarah
mempunyai anak Nabi Ishak A.s. yang kemudian mempunyai anak Nabi Yaqub A.s. alias Israel (Israil, Quran).
Anak keturunannya disebut Bani Israel sebanyak 7 (tujuh) orang. Salah satunya bernama Nabi Yusuf A.s. yang
ketika kecil dibuang oleh saudara-saudaranya yang dengki kepadanya. Nasibnya yang baik membawanya ke
tanah Mesir dan kemudian dia menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika masa paceklik, Nabi Yaqub A.s.
beserta saudara-saudara Yusuf bermigrasi ke Mesir. Populasi anak keturunan Israel (Nabi Yaqub A.s.)
membesar.
1550 SM 1200 SM
Politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi negara Mesir. Banyak dari bangsa Israel
yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel
diturunkan statusnya menjadi budak.
1200 SM 1100 SM
Nabi Musa A.s. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju tanah yang
dijanjikan, asalkan mereka taat kepada Allah Swt dikenal dengan cerita Nabi Musa A.s. membelah laut ketika
bersama dengan bangsa Israel dikejar-kejar oleh tentara Mesir menyeberangi Laut Merah. Namun saat mereka
diperintah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka membandel dan berkata: Hai, Musa, kami sekali-
kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu
pergilah kamu bersama Rabbmu (Tuhanmu), dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk
menanti di sini saja. (QS 5:24)
Akibatnya mereka dikutuk oleh Allah Swt dan hanya berputar-putar saja di sekitar Palestina. Belakangan agama
yang dibawa Nabi Musa A.s. disebut Yahudi menurut salah satu marga dari bangsa Israel yang paling banyak
keturunannya, yakni Yehuda, dan akhirnya bangsa Israil tanpa memandang warga negara atau tanah airnya
disebut juga orang-orang Yahudi.

1000 SM 922 SM
Nabi Daud A.s. (anak Nabi Musa A.s.) mengalahkan Goliath (Jalut, Quran) dari Filistin. Palestina berhasil direbut
dan Daud dijadikan raja. Wilayah kerajaannya membentang dari tepi sungai Nil hingga sungai Efrat di Iraq.
Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel Raya seperti yang dipimpin raja Daud. Bendera
Israel adalah dua garis biru (sungai Nil dan Eufrat) dan Bintang Daud. Kepemimpinan Daud A.s. diteruskan oleh
anaknya Nabi Sulaiman A.s. dan Masjidil Aqsa pun dibangun.
922 SM 800 SM
Sepeninggal Sulaiman A.s., Israel dilanda perang saudara yang berlarut-larut, hingga akhirnya kerajaan itu
terbelah menjadi dua, yakni bagian Utara bernama Israel beribukota Samaria dan Selatan bernama Yehuda
beribukota Yerusalem.
800 SM 600 SM
Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah Swt maka kerajaan tersebut dihancurkan oleh Allah
Swt melalui penyerangan kerajaan Asyiria.
Sesungguhnya Kami telah mengambil kembali perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka
rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini hawa
nafsu mereka, maka sebagian rasul-rasul itu mereka dustakan atau mereka bunuh. (QS 5:70)
Hal ini juga bisa dibaca di Injil (Bible) pada Kitab Raja-raja ke-1 14:15 dan Kitab Raja-raja ke-2 17:18.
600 SM 500 SM
Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia. Dalam Injil Kitab Raja-raja ke-2 23:27
dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan
dipenjara di Babylonia.
500 SM 400 SM
Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem.
330 SM 322 SM
Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan hellenisasi terhadap bangsa-bangsa
taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel, sehingga nantinya Injil pun ditulis dalam bahasa
Yunani dan bukan dalam bahasa Ibrani.
300 SM 190 SM
Yunani dikalahkan Romawi. Maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.
1 100 M
Nabi Isa A.s. / Yesus lahir, kemudian menjadi pemimpin gerakan melawan penguasa Romawi. Namun selain
dianggap subversi oleh penguasa Romawi (dengan ancaman hukuman tertinggi yakni dihukum mati di kayu
salib), ajaran Yesus sendiri ditolak oleh para Rabbi Yahudi. Namun setelah Isa tiada, bangsa Yahudi
memberontak terhadap Romawi.
100 300
Pemberontakan berulang. Akibatnya Palestina dihancurkan dan dijadikan area bebas Yahudi. Mereka
dideportasi keluar Palestina dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi. Namun demikian tetap ada
sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina. Dengan masuknya Islam kemudian, serta
dipakainya bahasa Arab di dalam kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk
Islam.
313
Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.
500 600
Nabi Muhammad Saw lahir di tahun 571 M. Bangsa Yahudi merembes ke semenanjung Arabia (di antaranya di
Khaibar dan sekitar Madinah), kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah tersebut ketika terjadi perang
antara Romawi dengan Persia.
621
Nabi Muhammad Saw melakukan perjalanan ruhani Isra dari masjidil Haram di Makkah ke masjidil Aqsa di
Palestina dilanjutkan perjalana Miraj ke Sidrathul Muntaha (langit lapis ke-7). Rasulullah menetapkan Yerusalem
sebagai kota suci ke-3 ummat Islam, dimana sholat di masjidil Aqsa dinilai 500 kali dibanding sholat di masjid lain
selain masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah. Masjidil Aqsa juga menjadi kiblat umat Islam
sebelum dipindah arahnya ke Kabah di masjidil Haram, Makkah.
622
Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah dan pendirian negara Islam yang selanjutnya disebut khilafah. Nabi
mengadakan perjanjian dengan bangsa Yahudi yang menjadi penduduk Madinah dan sekitarnya, yang dikenal
dengan Piagam Madinah.
626
Pengkhianatan Yahudi dalam perang Ahzab (perang parit) dan berarti melanggar Perjanjian Madinah. Sesuai
dengan aturan di dalam kitab Taurat mereka sendiri, mereka harus menerima hukuman dibunuh atau diusir.
638
Di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab ra. Seluruh Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi.
Seterusnya seluruh penduduk Palestina, Muslim maupun Non Muslim, hidup aman di bawah pemerintahan
khilafah. Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya.
700 1000
Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang
ekonomi dan intelektual yang sama. Ada beberapa ilmuwan terkenal di dunia Islam yang sesungguhnya adalah
orang Yahudi.
1076
Yerusalem dikepung oleh tentara salib dari Eropa. Karena pengkhianatan kaum munafik (sekte Drusiah yang
mengaku Islam tetapi ajarannya sesat), pada tahun 1099 M tentara salib berhasil menguasai Yerusalem dan
mengangkat seorang raja Kristen. Penjajahan ini berlangsung hingga 1187 M sampai Salahuddin Al-Ayyubi
membebaskannya dan setelah itu ummat Islam yang terlena sufisme yang sesat bisa dibangkitkan kembali.
1453
Setelah melalui proses reunifikasi dan revitalisasi wilayah-wilayah khilafah yang tercerai berai setelah hancurnya
Baghdad oleh tentara Mongol (1258 M), khilafah Utsmaniah dibawah Muhammad Fatih menaklukan
Konstatinopel, dan mewujudkan nubuwwah Rasulullah.
1492
Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista). Karena cemas suatu saat umat Islam bisa
bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tidak cuma diarahkan
pada Muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, diantaranya ke Bosnia. Pada
1992 Raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust
(pemusnahan etnis) 500 tahun sebelumnya. (Tapi tidak permintaan maaf kepada umat Islam).
1500 1700
Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan agama / gereja dengan negara),
nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi moderen di Eropa. Abad penjelajahan samudera
dimulai. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi
akhirnya mereka didorong oleh semangat kolonialisme dan imperialisme, yakni Gold, Glory dan Gospel. Gold
berarti mencari kekayaan di tanah jajahan, Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa lain dan Gospel
(Injil) artinya menyebarkan agama Kristen ke penjuru dunia.
1529
Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme/imperialisme serta membalas reconquista langsung
ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun 1683 M kepungan diulang, dan gagal lagi.
Kegagalan ini terutama karena tentara Islam terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.
yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak
memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke
belakang dan bercerai-berai. (QS 9:25).
1798
Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah.
Wilayah itu secara resmi masih di bawah Khilafah.
1831
Untuk mendukung strategi devide et impera Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni
Muhammad Ali di Mesir dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah dirongrong oleh semangat
nasionalisme yang menular begitu cepat di tanah Arab.
1835
Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana.
Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah
pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah Khilafah.
1838
Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.
1849
Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru
sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta
orang.
1882
Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi
penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.
1891
Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi
ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah sakit-sakitan (dijuluki the sick man at Bosporus). Dekadensi
pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur,
termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan
Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I
meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.
1897
Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan
resolusi, bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk
hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi
walaupun secara rahasia pada tanah yang bersejarah bagi mereka. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan
tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi
diskriminasi dan penindasan atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini
mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan
kongres, Herzl berkata, Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi ! Apa yang direncanakan Herzl menjadi
kenyataan pada tahun 1948.
1916
Perjanjian rahasia Sykes Picot oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya Perang Dunia
(PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara
mereka. PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi
Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih
besar).
1917
Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis
Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemu****n Yahudi di Palestina dalam membantu
pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat
kepada Inggris untuk menguasai Palestina.
1938
Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada
PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu penyelesaian terakhir (endivsung).
Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS).
Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun
setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor
berita di dunia.
1944
Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik membiarkan orang-orang
Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong
keluarnya pribumi Arab dari sana. Kondisi Palestina pun memanas.

1947
PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel.
1948, 14 Mei.
Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan
negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, hingga jutaan
dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi
tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang
semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Namun
karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris lihat Imperialisme Perancis dan Inggris
di tanah Arab sejak tahun 1798 maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.
1948, 2 Desember
Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi
imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000
mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun
karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya
tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.
1956, 29 Oktober
Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez. Pada kurun waktu ini,
militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut Tahrir (salah satu harakah Islam) untuk mendirikan kembali
Khilafah. Namun Hizbut Tahrir menolak, karena melihat rakyat belum siap.
1964
Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib
Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah
Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.
1967
Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan, Israel berhasil merebut
Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan
mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA (Central Intelligence
Agency = Badan Intelijen Pusat milik USA). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan
Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan
selama dia ada di udara.
1967, Nopember
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah
yang direbutnya dalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara adil
masalah pengungsi Palestina.
1969
Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania.
1970
Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini
dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja
Husein mengusir markas PLO dari Yordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.
1973, 6 Oktober
Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom
Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-
tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma siap untuk melawan
Israel, namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak.
Akibatnya harga minyak melonjak pesat.
1973, 22 Oktober
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi
Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.
1977
Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa
konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-
negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun
1982.
1978, September
Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan
otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Sadat dan PM Israel Menachem
Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO
menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi
versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto
resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel.
1980
Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem yang didudukinya itu resmi
sebagai ibukota.
1982
Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran
terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena lagi-lagi veto dari AS.
Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di
Iraq, Libya dan Tunis.
1987
Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap
tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai
aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.
1988, 15 Nopember
Diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota Aljazair. Dengan bentuk negara Republik Parlementer.
Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser
Arafat.
Setelah Yasser Arafat mangkat kursi presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang
identik dengan Parlemen Palestina beranggotakan 500 orang.
1988, Desember
AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi
Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di
pengasingan di Tunis.
1991, Maret
Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan menikah dengan
revolusi Palestina.
1993, September
PLO Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada
PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah land for peace (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu
dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-
negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi
mengeluarkan fatwa untuk mendukung perdamaian.
Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus
mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi.
Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.
1995
Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik
membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun
wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan
total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom bunuh diri. Targetnya, menggagalkan usaha
perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya land for peace diartikan Israel sebagai Israel dapat tanah, dan
Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai).
1996
Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi
yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya
negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin
menunggu/menciptakan kontelasi baru (pemu****n Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke
Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru.
AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di AS
terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk mengingatkan si
anak emasnya ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini
memfatwakan jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba
aktif menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka
menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS jalan sendiri tanpa bicara dengan
Eropa.
2002 Sampai sekarang

Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni
Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun
dengan 14 reservasi. Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang
kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS,
Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh kehadiran sipil dan militer yang permanen di Jalur
Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemukiman di Tepi Barat), namun akan mengawasi dan
mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza,
dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza. Pemerintah Israel berpendapat
bahwa akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,
sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa
Israel akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok artinya, Penghalang Tepi Barat Israel dan
mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini
Di hari kemenangan Partai Kadima pada pemilu tanggal 28 Maret 2006 di Israel, Ehud Olmert yang kemudian
diangkat sebagai Perdana Menteri Israel menggantikan Ariel Sharon yang berhalangan tetap karena sakit
berpidato. Dalam pidato kemenangan partainya, Olmert berjanji untuk menjadikan Israel negara yang adil, kuat,
damai, dan makmur, menghargai hak-hak kaum minoritas, mementingkan pendidikan, kebudayaan dan ilmu
pengetahuan serta terutama sekali berjuang untuk mencapai perdamaian yang kekal dan pasti dengan bangsa
Palestina. Olmert menyatakan bahwa sebagaimana Israel bersedia berkompromi untuk perdamaian, ia
mengharapkan bangsa Palestina pun harus fleksibel dengan posisi mereka. Ia menyatakan bahwa bila Otoritas
Palestina, yang kini dipimpin Hamas, menolak mengakui Negara Israel, maka Israel akan menentukan nasibnya
di tangannya sendiri dan secara langsung menyiratkan aksi sepihak. Masa depan pemerintahan koalisi ini
sebagian besar tergantung pada niat baik partai-partai lain untuk bekerja sama dengan perdana menteri yang
baru terpilih.
Sebagai catatan akhir, Perdana Menteri Israel setelah Benjamin Netanyahu berturut-turut adalah Ehud Barak,
Ariel Sharon, dan yang masih berkuasa di Israel dalam penyerangan di Gaza sekarang adalah Ehud Olmert.
Sedangkan 4 faksi utama di Palestina adalah PLO, Al-Fatah, Jihad Islam Palestina (JIP), dan yang berkuasa
sekarang di Palestina adalah Hamas dengan Perdana Menterinya Ismail Haniya.


Palestina Milik Siapa ? Israel atau Palestina ?
Konflik Palestina Israelyang terjadi selama ini tidak lepas dari pertanyaan Palestina Milik Siapa. Baik Israel
maupun Palestina mengklaim tanah ini hak milik mereka. Sejarah peperangan Israel Palestina dari masa ke
masa yang mehilangkan ribuan nyawa tak berdosa tak dapat dihindari lagi. Baik Israel maupun Palestina
mempunyai argumen yang kuat bagi mereka untuk menempati tanah Palestina ini.

Memang tidak dapat dipungkiri, asal usul terjadinya konflik antara Palestina dan Israel ini tidak lepas dari
keserakahan Israel yang berusaha memperluas daerah kekuasaannya. Tapi ada suatu pembahasan yang
menarik yang kutemukan di sini. Yaitu artikel Palestina Milik Siapa yang dilihat dari sudut pandang pembagian
harta waris mulai zaman Nabi.
Palestina Milik Siapa ? Israel atau Palestina ?
Konflik Palestina-Israel terus saja berlangsung entah sampai kapan berakhir. Sekarang orang Israel mengklaim
sebagai tanah milik mereka sejak 400 tahun sebelum Masehi! Benarkah? Kenapa baru tahun 1897
dipertanyakan kembali? Siapa sebenarnya bangsa Israel itu? Mari kita lihat kembali sejarahnya. Orang-orang
Israel adalah anak keturunan nabi Yakub as anak nabi Ishak cucu nabi Ibrahim. Nabi Yakub AS tinggal di Nablus
daerah Kanan Palestina. Anak keturunan nabi Yakub ada 12 suku yang tersebut 12 suku keturunan Israel.
Jumlahnya kurang dari seratus orang dan hidup sampai 500 tahun lebih. Salah satu keturunan Israel ini adalah
nabi Yusuf Bendahara Negri Mesir. Nabi Yusuf as berusaha mengumpulkan kembali keturuan nabi Yakub ini
yang sudah terpencar-pencar di sepanjang pantai laut tengah sampai daerah Irak bagian utara kembali ke Mesir.
Selain nabi Yusuf yang juga keturunan Israel adalah nabi Harun dan nabi Musa, nabi Daud, nabi Sulaiman.
Sehingga pada zaman Nabi Musa yang juga keturunan Israel, lebih dari 1600 laki-laki keturunan 12 suku Israel
berhasil lolos dari kejaran Firaun (Raja Mesir bergelar Firaun yang sebenarnya bernama Bernevtah atau
Ramses II). Karena sebelum itu mereka berkumpul di Mesir hasil usaha nabi Yusuf as. Mereka berdiam dan
berkembang di Mesir sampai Raja Firaun yang ke 32 berkuasa yang memusuhinya berkat usaha nabi Musa
yang keturunan Israil juga mereka berhasil lolos ke daerah Madyan, dekat Baitul Maqdis dan Padang pasir Tih.
Kira-kira sebelum tahun 500 SM Orang-orang Yahudi berkembang dekat Baitul Maqdis. Berdasarkan wahyu
yang diterima nabi Musa bahwa diperintahkan Bani Israil untuk masuk ke kampung bernama Baitul Maqdis (QS:
2:58-59). Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Baitul Maqdis adalah yang disebut orang Yahudi
dengan Yerusalem lama, atau Hebron dalam keadaan menang.)
1
. Tetapi mereka tidak mau masuk seperti yang
diperintahkan Allah SWT kepadanya. Karena keingkarannya kepada perintah Allah SWT maka jadilah mereka
tersesat di padang Tih selama empat puluh tahun. Sampai datang generasi baru dibawah Yusha bin
Nunmembebaskan mereka dan memasuki kota tersebut.)
2
Tetapi orang-orang zalim menukar perintah Allah swt
kata Hiththah maksudnya masuk dengan menunduk atau merendahkan diri kepada Allah SWT sebagai tanda
tobat dan mohon ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang lalu. Kata Hiththah mereka plesetkan menjadi
Hinthah artinya mohon gandum. Bahkan sangkin menghinanya dalam Hadits yang dikutip di dalam catatan kaki
Tafsir Zhilalil Quran tersebut penerjemah menambahkan: mereka memasuki pintu kota sambil merayap diatas
pantatnya seraya berkata Habbah fi syarai Kami minta biji-bijian gandum.)
3

Karena sifat orang yahudi yang tengkar ini banyak orang yang tidak suka,Roger Garaudy juga menyatakan
bahwa memang benar sifat orang Yahudi (Israel) yang tidak patuh terhadap perintah nabi-nabinya, sehingga ia
mengatakan dengan mengutip Bernard Lazare:
Orang-orang Yahudi melindungi kembali diri mereka sendiri di balik pagar yang telah didirikan sekitar Taurat
serta tulisan-tulisan yang pertama, kemudian oleh orang-orang Farisi/munafik serta kaum Talmudis, pada
penerus Ezra, para penyimpang yang telah menyeleweng dari ajaran-ajaran nabi Musa as yang masih primitif,
serta musuh-musuh para Nabi dan Rasul. Semua tindakan yang mereka lakukan itu bertentangan dengan
ajaran-ajaran Nabi Musa AS yang sebenarnya, yang dimurnikan dan diperluas oleh isaiah, jeremiah dan Ezekiel,
serta selanjutnya diperluas dan digeneralisasikan oleh orang-orang Yudeo-Hellinis.)
4

dan Allah swt pun menurunkan azab padanya berupa penghancuran masyarakatnya mereka kembali terusir dari
Baitul Maqdis dan terpencar-pencar, karena Baitul Maqdis dikuasai oleh Raja Jalut (Goliath), Ketika itu Allah
mengirim pasukan Jalut yang perkasa, kecuali mereka yang selamat dibawah pimpinan raja Thalut dan nabi
Daud sebagai raja orang Yahudi ketika itu. Daud memimpin Bani Israel setelah mengalahkan jalut (Kisah
selengkapnya ada dalam QS: 2:246-249). Tetapi mereka tetap tidak masuk ke Baitul Maqdis karena kehendak
Allah swt. Mereka diam dan berkembang disebelah baitul Maqdis yaitu yang disebut Masyaaruts-Tsani.
Masyaaruts Tsani bukan wilayah Palestina. Tetapi daerah dekat antara Syria dengan Irak Utara sekarang.
Kemudian nabi Ilyas AS adalah anak nabi Harun as mengajak Bani Israil untuk patuh kepada Allah sesuai
dengan ajaran Taurat dan Zabur. Tetapi tiada yang mengikuti kecuali sedikit selainnya hanyalah kedurhakaan
saja. Sampai daerah itu dikuasai oleh Nebucadnesar raja Chaldea. Chaldea adalah kerajaan yang berada
diwilayah Irak Utara kemudian berkembang luas sampai ke tanah Palestina. Bani Israil kembali terpencar sampai
ke daerah Mesoppotamia Utara.
Orang-orang Chaldea menjadi penguasa di kawasan itu. Sedangkan penguasa dan raja terbesar dari mereka
adalah Nebuchadnessar yang mampu menaklukkan negri Syam dan menghancurkan Al-Qud. Dia membunuh
orang-orang Yahudi dan merampas kerajaannya. Orang-orang Yahudi itu dihancurkan diusir dan ditawan. Sejak
saat itulah orang-orang Yahudi Bani Israil terpencar kemana-mana dan bertebaran ke segala tempat. Sebagian
dari mereka berdiam di Hijaz, Mesir dan negri yang lain.)
5

Pada tahun 504 SM Palestina ditaklukkan kerajaan Persia, yang kerajaan dipimpin oleh raja Darius Agung
(522SM-485SM).orang-orang bani Israel kembali terpencar-pencar. Ketika itu Allah swt mengutus nabi Zakaiya
as dan nabi Yahya as. Sampai Alexander Agung (356SM-323SM) raja Macedonia mengalahkan Persia yang
menguasai daerah Persia, Mesopotamia sampai ke Mesir. Setelah Palestina dikuasai oleh Macedonia
Yahudipun terpencar-pencar, ditambah lagi setelah Alexander Agung mangkat Kerajaan Macedonia terbagi
dengan Romawi yang rajanya ketika itu Oktavianus Agustus (31SM-14SM). Ketika itu Romawi sedang bangkit.
Setelah mengalahkan kerajaan Karthago di utara Afrika dalam sebuah pertempuran semangat Romawi bangkit
untuk menaklukkan negri-negri lain termasuk Maceconia, Palestina, dan Mesir bekas taklukkan Alexander
Agung.
Selanjutnya Palestina dikuasai oleh kerajaan Romawi sampai nabi Isa as diangkat orang Yahudi dan Bani Israel
tidak mau mengikuti ajaran nabi Isa as kecuali beberapa orang saja yang mengikuti ajaran nabi Isa as. Bani Israil
tetap dalam keadaan terpencar-pencar. Sampai kerajaan Yunani menguasai daerah tersebut dibawah kaisar
Konstantin Agung (303M-337M). Agama kristen pun berkembang yang diajarkan oleh St. Paulus seorang Yahudi
yang mengaku-ngaku mengikuti ajaran nabi Isa as.
Sampai Islam berkembang dan Palestina dibawah khilafah Islam Utsmaniah. Orang-orang Israel menyebar
sampai ke Yunani, Romawi, Iran, Hijaz, Arab, Mesir, dan negara-negara yang ada di eropa selama lebih dari 250
tahun. Sampai meletus Perang Dunia pertama, melalui makar Yahudi dan Inggris dan sebagian negara-negara
Eropa untuk menumbangkan Kekalifahan Islam dan setelah tumbang untuk menutup kemungkinan bangkitnya
kekalifahan Islam kembali maka, akhirnya terbentuklah negara Israel untuk mengacaukan situasi Timur Tengah.
Terbentuknya Negara Yahudi (Israel).
Sejarah terbentuknya negara Israel, sebenarnya tidak terlepas dari problematik negara-negara yang didiami oleh
orang Yahudi yang mempunyai karakter tidak disukai orang, sehingga timbul sifat antisemitisme di negara-
negara yang didiaminya. Bernard Lazare yang telah menulis buku Antisemitisme et revolution (Maret 1895)
menulis sebagai berikut:
Dalam tulisan saya itu saya kemukakan bahwa terjadinya antisemitisme di dalam sejarah kita karena di
manapun juga, sampai saat kita sekarang ini(huruf miring tersebut sesuai dengan tulisan yang terdapat pada
karangan Lazare), orang-orang Yahudi itu merupakan manusia yang tidak suka bermasyarakat. Sekarangpun
saya masih tetap berkata demikian mengenai mereka akhirnya, pada bagian penutup buku tersebut saya
menulis: Penyebab-penyebab terjadinya antisemitisme, kalau kita perhatikan dari sifatnya, tentulah berdasarkan
masalah-masalah etnik, keagamaan, politik dan ekonomi.)
6

Kebencian terhadap orang Yahudi di negara-negara yang ditempatinya disebabkan tuduhan bahwa orang
Yahudi penyebab terjadinya krisis Ekonomi akibat praktek rentenir yang diterapkan orang Yahudi dan Bank-bank
yang sifat memeras rakyat, krisis sosial karena mereka orang-orang Yahudi melakukan praktek prostitusi di
negara-negara yang didiami Yahudi di mana-mana khususnya Eropa. Dan mereka orang-orang Yahudi merasa
merupakan ras yang paling baik didunia dan tidak segan-segan membunuh manusia lainnya.
Adalah Theodor Herzl (1860-1904) seorang Yahudi yang mencetuskan berdirinya negara Yahudi dalam
bukunya Der Jundenstaat dan menerapkannya pada kongres Zionis pada tahun 1897.Herzl berpendapat karena
terjadinya sifat antisemitisme di negara-negara Eropa terutama Jerman yang berakhir menurutnya dengan
peristiwa Dreyfus maka ia menyimpulkan:
1. Orang-orang Yahudi, dimanapun juga mereka berada di permukaan bumi ini, di negara manapun juga
meereka bertempat tinggal akan tetap saja merupakan sebuah bangsa yang tunggal.
2. Mereka selamanya dan di mana sajapun selalu menjadi korban pengejaran.
3. Mereka sama sekali tidak dapat diasimilasikan oleh negara-negara dimana mereka telah bertempat tiddal
sekian lamanya (sangkaan yang sama yang juga ada pada orang-orang antisemit serta orang-orang
rasialis).
7

Akibat ditariknya kesimpulan oleh Herzl tersebut maka pemecahan masalahnya menurut Herzl dan menurut
orang-orang antisemit juga adalah membuat negara Yahudi baru diatas tanah kosong dunia. Maka dipilihlah
Palestina agar juga mendapat dukungan orang-orang Yahudi aliran Zion (Pecinta tanah sejarah yaitu Mesir,
Kanaan dan sekitarnya)
Jadi tidak benar orang Israel mengaku sebagai tanah suci orang Israel. Karena :
1. Ummat Israel tidak pernah tinggal lama di daerah Palestina walaupun Nabi Yakub as tinggal di Nablus
daerah kanaan tetapi keturunannya tidak lagi tinggal disana. Mereka lebih lama tinggal di Mesir ketika
zaman nabi Musa as. dan daerah-daerah sekitarnya.
2. Tidak bisa pula dikatakan bahwa Palestina sebagai tanah warisan nabi Nuh as sebagai mutlak milik
orang-orang Israel, karena keturunan nabi Nuh as mencakup nabi Luth as, dan nabi Ibrahim as.
Mereka berdasarkan kitab suci mereka yaitu sejak nabi Ibrahim (Abram) as sudah membagi dua tanah Palestina
dengan nabi Luth (Lot) as.
Kitab Kejadian pasal 13:Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala
kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia.Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan
emasnya.Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel,
di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai,ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di
situlah Abram memanggil nama TUHAN.Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba
dan lembu dan kemah.Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta
milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.Karena itu terjadilah perkelahian
antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri
itu.Maka berkatalah Abram kepada Lot: Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara
para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau?
Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke
kiri.Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti
taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan
Gomora. Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan
mereka berpisah.Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan
berkemah di dekat Sodom.Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.(Kejadian 13:1-13)
Kalau memang benar berkeyakinan demikian tentunya dan seharusnya tidak seluruh tanah Palestina dijadikan
milik Israel karena paling tidak setengahnya adalah milik nabi Luth (Lot) as.
Dan Pembagian Warisan yang adil adalah: Tanah Palestina dibagi dua. Setengahnya untuk keturunan nabi Luth
as. dan setengahnya lagi untuk nabi Ibrahim as. serta keturunannya.
Setengah milik nabi Luth as.bagian sebelah timur Palestina.
Bagian timur adalah lembah dengan tanah yang subur. Ini adalah yang setengah yang milik nabi Luth as. adalah
zona bebas yang boleh dimiliki setiap orang karena nabi Luth as. tidak ada keturunan lagi dan tanah dan negri
miliknya sudah ditenggelamkan oleh Allah SWT karena keingkaran dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat
dalam bentuk bencana alam gunung meletus. Jadi setengah Palestina bagian timur hak semua orang adalah hak
penduduk setempat dan setiap orang bebas memilikinya.
Setengah milik nabi Ibrahim as. bagian sebelah barat Palestina.
Daerah bagian barat adalah tanah padang gersang.
Setengah milik nabi Ibrahim dibagi dua karena keturunan nabi Ibrahim AS ada dua dari dua Istrinya yaitu Ismail
as dan Ishak AS.
Karena Bani Israil adalah keturunan nabi Yakub AS. Dan nabi Yakub AS adalah anak nabi Ishak AS. Maka jatah
bani Israil hanya seperempat wilayah Palestina dan seperempatnya lagi adalah untuk keturunan nabi Ismail AS.
orang-orang Arab yang ada di Saudi Mekah sekitarnya.

1. Quraish Shihab, DR. Tafsir Al-Misbah, Lentera hati, Jakarta 2002, hal 205-206
2. Sayyid Quthb, DR.Fi Zhilalil Quran, Gema Insani, Jakarta 2000, hal 87-88.
3. Hadits, Imam Muslim dari Abu Hurairah Hadits no 3013 dalam catatan kaki tafsir fi zhilalil Quran,ibid.hal:
88
4. Bernard Lazare yang dikutip oleh Roger GaraudyZionis, Sebuah gerakan Keagamaan & Politik, Gema
Insani Press, Jakarta 1988, hal:31
5. Ahmad Usairy: Sejarah Islam (sejak zaman nabi adam sampai abad keXX) hal. 31
6. Bernard Lazare, ibid, hal: 28.
7. Theodor Herzl,Der Jundenstaat, dalam ibid hal: 21-22.
sumber : http://risalahrasul.wordpress.com/2009/01/17/apakah-memang-benar-palestina-untuk-israel/



















Sejarah Palestin & Israel
Posted on Januari 5, 2009
Gambar Satelit
Gambar Satelit

Posting ini adalah bertujuan menyebarkan maklumat asas mengenai sejarah konflik Palestin-Israel
yang telah wujud sejak ribuan tahun yang lalu, sekaligus berlaku terus-terusan sehingga ke sekarang
malah disusuli pula dengan keganasan dan kekejaman.

Posting ini adalah ditulis berdasarkan kefahaman saya, sebarang kesilapan terutamanya dari segi
fakta, mohon diperbetulkan.

Posting dipetik dari Leokid.com

Tanah Rahmat

Bagi kedua-dua pihak Islam dan Yahudi, tanah yang didiami oleh Palestin dan Israel sekarang
merupakan tanah yang istimewa, yang telah ditentukan oleh Allah sejak ribuan tahun lampau.

Bagi umat Islam, di tanah inilah terbinanya Masjidil Aqsa, iaitu masjid ketiga paling mulia di dunia ini,
setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Bagi penganut Yahudi pula, tanah tersebut merupakan Tanah Yang Dijanjikan Tuhan kepada
mereka. Di situlah nenek moyang mereka berasal (Bani Israel), dan di situlah kampung halaman
mereka. Mereka percaya, di tanah itulah terletaknya Bukit Zion, dan situlah tertanamnya Temple of
Solomon, iaitu kuil suci mereka.

Atas kedua-dua sebab inilah, tanah tersebut menjadi rebutan antara Muslim dan Yahudi sejak dari
dahulu, hinggalah membawa kepada pertumpahan darah sekarang.

Bagaimana dengan Kristian pula? Kristian juga, menganggap tanah tersebut sebagai tanah suci. Di
Temple of Nazareth, yang terletak di tanah tersebut, merupakan tempat kelahiran Nabi Isa. Di tanah
itulah Nabi Isa menyampaikan ajarannya, dan di tanah itu jugalah Nabi Isa disalib (mengikut
kepercayaan kristian).

Sejarah Awal

Sebenarnya sejarah bani Israel wujud sedari zaman Nabi Ibrahim lagi. Namun, kita susuri sedari
kependudukan Bani Israel itu di Mesir, sepertimana yang diutuskan Nabi Musa a.s kepada mereka.
Kita tahu melalui alQuran, bahawa Firaun dan tenteranya mengejar Nabi Musa dan kaumnya
sehingga ke Laut Merah, di mana ketika itu Nabi Musa menggunakan mukjizatnya membelah dan
menyeberangi lautan tersebut.

Setelah itulah Nabi Musa dan kaumnya Bani Israel mendiami tanah Palestin tersebut. Kita boleh baca
sendiri dalam alQuran, betapa kaum ini semakin lama semakin besar kepala, meminta yang
pelbagai dari Nabi Musa dan sebagainya. Kita juga boleh lihat kisah Talut dan Jalut yang berlaku
setelah kewafatan Nabi Musa, sebagaimana yang diceritakan di dalam alQuran di surah alBaqarah.

Setelah Talut menawan kembali tanah palestin tersebut dari kekuasaan Jalut, tampuk pemerintahan
Palestin disambung pula oleh Nabi Daud. Seterusnya disambung oleh Nabi Sulaiman, dengan bala
tenteranya dan kegemilangan kerajaannya (termasuk haiwan, jin dan angin). Palestin dimiliki oleh
Bani Israel, sehinggalah lebih kurang 60 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa. Pada tempoh ini, kerajaan
Rom menekan kependudukan Bani Israel di tanah Palestin tersebut, sehinggalah akhirnya tanah
Palestin dijarah oleh tentera Rom dan kaum Bani Israel diusir keluar lalu. Lalu tersebarlah kaum Bani
Israel, atau dikenali sekarang sebagai Yahudi, ke serata dunia.

Sejak dari itu, tanah Palestin menjadi milik kerajaan Rom. Sehinggalah setelah kelahiran Nabi Isa,
seterusnya kewujudan agama Kristian. Lebih kurang pada tahun 300 Masihi, kerajaan Rom di bawah
pemerintahan Raja Constantine yang menjadikan Constantinople sebagai pusat pemerintahan,
mengalami Kristianisasi. Sejak dari tempoh tersebut, kerajaan Rom menguasai Palestin.


Kedatangan Islam

Palestin kekal di bawah milik kerajaan Rom sehinggalah kelahiran Nabi kita Muhammad s.a.w.
Setelah Rasulullah berjaya menubuhkan Empayar Islam, beliau wafat pada 632 Masihi. Seterusnya
empayar Islam semakin berkembang, dan Palestin berjaya ditawan dari kerajaan Rom pada tahun
638 Masihi. Maka sedari itulah Palestin menjadi milik Islam, sebagai tanah suci yang ketiga selepas
Makkah dan Madinah.

Sepanjang dari tempoh tersebut, kerajaan Rom yang telah menjalani Kristianisasi, mengalami
pelbagai perubahan dari sudut struktur pemerintahan. Bangsa-bangsa asal Eropah seperti Vikings,
Magyar dan sebagainya dikristiankan, dan pemerintahan dikuasai oleh golongan Church.

Sejak dari 1000 Masihi, tentera Kristian telah melakukan pelbagai usaha menawan kembali Palestin.
Pada tahun 1063, Pope Alexander II memberikan fatwa mengerahkan penganut Kristian untuk
berjuang mendapatkan kembali Palestin, dan barangsiapa yang berjuang diberikan status kemuliaan
dan pengampunan tertinggi. Itulah yang dikenali sebagai Perang Salib (Crusades)

Akhirnya pada tahun 1099, tentera Salib berjaya menawan Palestin, dan menguasai tanah suci
tersebut selama hampir 200 tahun.

Menawan Semula

Setelah Palestin ditawan, kerajaan Islam yang sedia ada konflik dalaman pada ketika itu, semakin
hilang semangat. Keadaan berlanjutan sehinggalah lahirnya seorang pemimpin agung, yang dikenali
sebagai Salahuddin Al Ayyubi. Salahuddin Al Ayyubi, menyatukan masyarakat Arab yang ketika itu
berpecah belah akibat perbezaan mazhab dan aliran, seterusnya membawa tentera Islam
menyerang kembali Palestin. Akhirnya, pada sekitar tahun 1187, ibunegara Palestin berjaya ditawan,
dan pada tahun 1291 kubu terakhir tentera Salib di tanah suci tersebut berjaya dimusnahkan.

Sejak itulah tanah suci Palestin kekal di bawah pemerintahan Islam dengan aman damai. Malahan,
penduduk asal Palestin iaitu Yahudi/Bani Israel dibenarkan pulang ke kampung halaman mereka,
walaupun masih ramai yang bermastautin di luar. Kerajaan Islam berkembang meluas, hinggalah
masuk ke era pemerintahan Turki Uthmaniyyah.

Zaman Turki Uthmaniyyah mengalami kejatuhan sejak dari abad ke-19 lagi. Proses modenisasi
semakin berlaku, dan kebergantungan terhadap kuasa barat semakin wujud. Krisis-krisis dan konflik
dalaman melemahkan lagi kekuasaan empayar Turki Uthmaniyyah. Khalifah pada masa tersebut
hanyalah pada namaEmpayar Islam semakin lemah, di bawah kekuasaan barat seperti Britain dan
Perancis.

Perang Dunia Pertama

Akhirnya, pada tahun 1914, tercetusnya perang dunia pertama. Perang dunia pertama terdiri
daripada 2 kuasa besar, iaitu Pakatan Bertiga Britain-Perancis-Russia menentang Pakatan Pusat iaitu
Jerman dan Austria/Hungary. Setelah perang berterusan, negara-negara lain seperti Amerika
Syarikat dan Italy menyertai Pakatan Bertiga, manakala Kerajaan Turki Uthmaniyah pula menyertai
Pakatan Pusat.

Berada di bawah Pakatan Pusat, kerajaan Turki Uthmaniyyah diserang hebat oleh Pakatan Bertiga
Britain-Perancis-Russia. Kerajaan Islam Timur diserang dan ditawan oleh Britain. Kerajaan Islam
Barat yang menjangkaui sehingga ke Algeria, Sudan dan negara-negara utara Afrika, dikuasai oleh
Perancis. Kerajaan Islam juga diserang dari utara, oleh Russia, menyaksikan Russia menawan
kawasan utara kerajaan Islam.

Perlu diberi perhatian, pada ketika ini, masih belum wujud negara bangsa, kerajaan Islam adalah
disatukan di bawah satu pemerintahan khalifah, manakala setiap kawasan pula ditadbir oleh
gabenor masing-masing.

Perpecahan Negara Arab

Pada ketika tempoh inilah, kerajaan Turki Uthmaniyyah mengalami konflik yang semakin hebat.
Britain melalui perisiknya yang dikenali sebagai Lawrence of Arabia, menyuburkan semangat
nasionalisma di negara-negara Arab. Pejuang kebangsaan/nasionalisma Arab pula menyerang
kerajaan Turki Uthmaniyyah. Pemerintah Arab ketika itu, Emir Faisal 1, berpaling tadah dan
memihak kepada Britain. Sejak dari itulah kerajaan Arab menjadi tali barut Britain.

Pada tahun 1915, Britain mula menduduki kawasan Iraq. Akhirnya pada 1917, Britain menduduki
semula kawasan Palestin. Tentera Britain, diketuai General Allenby, memasuki Palestin pada 9
Disember 1917 lalu memberi ucapan hari ini, perang salib sudah berakhir.

Pada 1917, Britain mengisytiharkan Deklarasi Balfour, iaitu perjanjian antara kerajaan Britain dengan
ketua persatuan Yahudi Britain ketika itu, yang mana antaranya menjanjikan tanah Palestin kepada
Yahudi. Penempatan Yahudi di Palestin meningkat, dari 50,000 sebelum itu kepada mencecah
setengah juta, manakalan penduduk Islam Palestin ketika itu hampir mencecah 1.4 juta.

Wakil dari Yahudi ketika deklarasi tersebut, merupakan seorang Yahudi bernama Chaim Weizzmann.
Weizzman juga merupakan seorang saintis, malahan saintis pertama yang menghasilkan bahan kimia
acetone, seterusnya acetone digunakan sebagai cordite, iaitu sejenis bahan letupan yang
menyumbang besar kepada kejayaan Britain dalam perang tersebut. Weizzman mendesak
setiausaha luar Britain ketika itu, Arthur Balfour, supaya diadakan Deklarasi tersebut. Kerana
terhutang budi ke atas sumbangan Weizzman, kerajaan Britain bersetuju. Pada mulanya, Britain
menawarkan tanah di Uganda kepada Weizmann, namun Weizmann menolak dan mahukan
Palestin. Dikatakan, Weizmann bertanya kepada Balfour,

Encik Balfour, katakanlah saya menawarkan Paris dan London kepada encik, yang mana satukah
yang encik mahukan?

Tetapi, kami sememangnya sudah memiliki London!

Betul itu, tetapi ketika London masih lagi sebuah kawasan paya, kami telahpun memiliki tanah
Palestin!

Akhirnya, British membenarkan kaum Yahudi berhijrah ke tanah Palestin.

Pada tahun 1919, Emir Faisal I ketika itu pula menandatangani perjanjian antara beliau dengan
Chaim Weizzmann, menyatakan sokongan sepenuhnya beliau dan kerajaan Arab kepada Deklarasi
Balfour.

Akhirnya pada tahun 1919, berakhirnya Perang Dunia Pertama. Kerajaan Islam Turki Uthmaniyyah
menerima tamparan hebat setelah kehilangan kawasan-kawasannya yang luas, termasuklah
Palestin. British dan Perancis mula menjalankan kolonisasi di tanah-tanah jajahannya. Dari situ
wujudlah negara bangsa, apabila sempadan-sempadan digariskan memisahkan sempadan agama.

Kejatuhan Turki Uthmaniyyah.

Pada tahun 1918, tentera kolonial Britain menduduki pusat pemerintahan Turki Uthmaniyyah, iaitu
Istanbul. Pada tahun 1922, setelah tamat Perang Dunia Pertama, sebuah Persidangan Lausanne
diadakan, yang antaranya mempunyai beberapa tuntutan seperti sistem khalifah ditamatkan,
khalifah mestilah dibuang negeri, harta khalifah dirampas, dan kerajaan turki baru akan ditubuhkan
atas dasar sekular. Ya, persidangan tersebut menjanjikan kemerdekaan ke atas negara Turki.

Seorang ahli Parlimen Turki pernah bertanya kepada Lord Curzon, ketua perunding pihak pakatan
ketika itu Kenapa hanya Turki dimerdekakan, sedangkan negara-negara Arab yang lain masih di
bawah pemerintahan kolonial?

Lord Curzon menjawab Hakikatnya Turki telah dimusnahkan dan tidak akan bangkit lagi, kerana
kita telah menghancurkan kekuatannya Khalifah dan Islam.

Dalangnya utamanya, Mustafa Kamal Attartuk. Dia mengeluarkan ugutan ke atas kabinet turki ketika
itu, lalu merombak parlimen sedia ada yang tidak bersetuju dengan persidangan tersebut. Parlimen
kedua yang ditubuhkan juga tidak bersetuju dengan persidangan tersebut. Akhirnya, Mustafa Kamal
Attartuk mengadakan konspirasi politik lalu merampas tampuk pemerintahan.

3 Mac 1924, kerajaan khalifah secara rasminya ditamatkan. Pada pagi hari tersebut juga, khalifah
terakhir, khalifah Abdul Mejid II, diusir keluar dan dibuang negeri. Mustafa Kamal Attartuk
mengambil mengambil takhta, dan proses pengsekularan bermula.

Holocaust

Keadaan berterusan, sehinggalah naiknya seorang pemerintah Jerman ketika itu, iaitu Adolf Hitler.
Ketika tercetusnya perang dunia kedua oleh beberapa sebab, Hitler melaksanakan pelan
pemusnahan kaum yang dikenali sebagai Action T4. Pelan ini merencanakan pembunuhan
euthanasia beramai-ramai keatas golongan tertentu, majoritinya Yahudi.

Setelah tamat Perang Dunia Kedua, dianggarkan seramai hampir 6 juta Yahudi di seluruh Eropah
mati dibunuh.

Setelah mengalami kerugian yang besar, Britain berundur dari Palestin dan tanah-tanah jajahannya
yang lain pada 1948.

Penglibatan Amerika Syarikat

Amerika Syarikat, selaku kuasa besar dunia setelah Perang Dunia Kedua, memainkan peranan
penting dalam penubuhan negara Israel. Pada asalnya, Israel tidaklah wujud sebagai sebuah negara
yang hakiki. Setelah holocaust yang dilakukan oleh Hitler tamat, jumlah penduduk Yahudi yang ada
adalah sedikit, serta mereka hidup dalam kesusahan dan ketakutan.

Pada ketika itulah, Persatuan Yahudi Amerika mengutuskan tuntutan kepada Presiden US ketika itu,
Harry Truman. Pada November 1947, tuntutan tersebut dibawa ke persidangan PBB lalu PBB
mendeklarasi pemisahan Palestin. Pada 16 May 1948, kerajaan sementara Israel ditubuhkan di
Palestin, dengan sokongan dari PBB. Presiden Harry Truman menyokong sepenuhnya penubuhan
Israel, maka wujudlah penempatan Israel di tanah Palestin sehingga kini. Presiden Israel yang
pertama Chaim Weizmann.

Palestin Sekarang

Sejak dari holocaust, ramai Yahudi berhijrah ke Amerika atas dasar terbuka negara tersebut
terhadap mereka, serta ramai juga yang pulang ke tanah air di Israel. Yahudi di Amerika diterima
dengan tangan terbuka, bantuan dan pekerjaan diberikan kepada mereka atas dasar belas kasihan
akibat holocaust tersebut. Dari situlah, Yahudi di Amerika berkembang dan memegang tampuk
ekonomi dan pentadbiran Amerika. Amerika, selaku kuasa besar dunia setelah Perang Dunia Kedua,
memberikan sokongan tanpa putus-putus kepada negara Israel, yang didirikan di atas tanah Palestin
yang dirampas secara haram.

Sehingga kini, Israel terus-terusan menyerang Palestin dalam usaha meluaskan sempadannya.
Palestin pula berjihad, dalam usaha menawan kembali Masjidil Aqsa. Sejak kerajaan khalifah Islam
tumbang, tiada sesiapa lagi yang mahu menyokong Palestin. Negara-negara Islam yang lain tunduk
takut dan akur kepada Amerika. Sampai bila keadaan ini akan berakhir? Hanya 2 sama ada Palestin
akan terus dihapuskan dan Masjidil Aqsa dimusnahkan dalam usaha mereka mencari Temple of
Solomon, ataupun tertegaknya kembali kerajaan khalifah Islam menyokong perjuangan Palestin.

Di mana kita? Kita boleh berdiam diri tidak berbuat apa-apa, sekaligus menjadikan kesudahan yang
pertama tadi sebagai realiti.

Ataupun, kita boleh berusaha melakukan sedaya upaya menyokong perjuangan Palestin, yang
membawa kepada kesudahan yang kedua.

Fikir-fikirkan.

















Sejarah Palestina
Akhir-akhir ini terjadi keprihatinan yang mendalam di bumi Palestina. Beribu orang tewas akibat
serangan Israel ke jalur Gaza yang dimulai tanggal 27 Desember 2008. Dunia pun bergejolak.
Beberapa negara dengan keras menentang Israel bahkan dengan memutuskan hubungan
diplomatiknya. Unjuk rasa menentang serangan Israel pun terjadi di mana-mana termasuk di
Indonesia. Namun, perang masih mungkin meletus hingga beberapa tahun mendatang.
Palestina memang memiliki sejarah yang pelik. Israel, yang merupakan bangsa Yahudi, mendirikan
negaranya di atas tanah Palestina. Hal ini menyebabkan situasi berkembang hingga keadaan
sekarang. Untuk lebih memahami konflik ini, maka saya berusaha merangkum sejarah Palestina dari
awal hingga terjadinya konflik.

Wilayah Palestina-Israel (swaramuslim.com)
Tulisan ini dirangkum dari beberapa sumber yaitu:
1. Makalah Umar Asasudin, M.A. yang berjudul Peranan Cendekiawan dalam Perjuangan
Kemerdekaan Palestina: Pendekatan Sejarah
2. Pidato Ikhrimah Shabri (Imam Masjid Al-Aqhsa Palestina pada tahun 1992) yang berjudul
Palestina: Sejarah Perjuangan, Intifada, dan Agresi Israel terhadap Masjidil Aqsha.
3. Makalah Dr. Roeslan Abdoelgani yang berjudul Solidaritas Indonesia terhadap Palestina: Suatu
Tinjauan Historis
Ketiganya terdapat dalam buku Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru, dengan
editor : M Riza Sihbudi & Achmad Hadi, cetakan Pustaka Hidayah tahun 1992. Buku ini berintikan
makalah dalam seminar Pekan Persahabatan Indonesia Palestina 13-18 Januari 1992 di
Yogyakarta.
Kejadian setelah tahun 1992 dirangkum dari:
1. Tabel Sejarah Timur Tengah dalam blog Kajian Timur Tengah oleh Dina Y. Sulaeman
2. Sejarah Berdirinya Negara Israel oleh Panji Prabowo (Kepala GAMAIS ITB 2008-2009)
dalam blognya
3. Berita-berita dalam kompas.com tentang perang Israel Palestina.
Selamat membaca!
***
Wilayah Palestina pada mulanya ditinggali oleh beberapa bangsa, yaitu bangsa Ammonit dan
Philistine. Lalu, sekitar tahun 1000 SM, Palestina ditaklukan oleh Raja Thalut dan Daud a.s. Daud a.s.
dan keturunannya, yang merupakan bangsa yahudi, akhirnya menjadi raja di sana dan Palestina
menjadi tanah air bangsa yahudi dari 1000 SM 135 M. Palestina sendiri sempat dikuasai oleh
Kerajaan Persia, Babilonia, Mesir, dan kerajaan-kerjaaan lain secara bergantian dalam rentang waktu
tersebut.
Wilayah Palestina Dikuasai Kerajaan Romawi
Sekitar tahun 100 SM muncullah kekuatan Roma dan pada tahun 63 SM, Roma, di bawah
pemerintahan Raja Pompey, menaklukan kerajaan yang menguasai Palestina. Tahun 66 M, timbul
pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. Perang terjadi dan pemberontak kalah dan
akhirnya pada tahun 70 M, Jerussalem jatuh sepenuhnya ke tangan Roma.

Raja Pompey dari Romawi (www.usu.edu)
Pada saat itu, biasanya Roma tidak melakukan penekanan tetapi memperlakukan daerah jajahannya
dengan lembut untuk mempersatukan warga negeranya dengan bangsa jajahannya. Namun, di
dalam kasus bangsa Yahudi, cara ini tidaklah berhasil. Seringkali timbul huru-hara dari bangsa
Yahudi. Hal ini menyebabkan akhirnya Roma berlaku keras kepada bangsa Yahudi dan
mengeluarkan dekrit yang mematikan nasionalismen bangsa Yahudi dengan cara melarang berbagai
peribadatan mereka.
Pada akhirnya dekrit ini membuat sebuah pemberontakan besar dari 200.000 orang Yahudi yang
dipimpin oleh Barcocheba di Jerussalem. Raja Hadrian yang saat itu memimpin Roma mengirimkan
Julius Sevenus dan tentara yang jumlahnya besar untuk memadamkan pemberontakan dan
menaklukan Jerussalem. Pada saat itu, bangsa Yahudi kalah dan dikeluarkan peraturan mereka
dilarang masuk ke kota apapun alasannya. Jerussalem dijadikan koloni Roma dan tempat
peribadatan Yahudi, haikal Yahudi, diganti dengan candi lambang supremasi Roma, candi Yupiter.
Mulai saat itu bangsa Yahudi tersebar ke luar Palestina. Namun, ada sebagian kecil yang tetap
bertahan di sana.
Setelah masa itu, pengaruh agama Kristen masuk ke Roma, sehingga menumbuhkan penyebaran
agama Kristen di Palestina. Agama Kristen tumbuh di daerah tersebut. Lalu, pada pembagian
kerajaan Roma tahun 395, Palestina berada dalam kekuasaan Kerajaan Bizantium, yang disebut juga
kerajaan Romawi Timur. Pada saat itu Palestina menjadi daerah yang makmur, menjadi pusat
perkembangan jemaah haji (beribadah mengunjungi tempat-tempat suci yang dilakukan oleh
penganut Kristen,Yahudi,dll.). Namun sesekali muncul penyiksaan kepada bangsa Yahudi oleh
bangsa yang menguasai.
Tahun 611 M, Chosroes II, raja Kerajaan Sasan dari Persia, menyerang daerah itu. Diikuti oleh
bangsa Yahudi yang ingin membalas dendam. Yerussalem direbut. Gereja Holy Sepulchre
dihancurkan dengan tanah dan hartanya dibawa. Gereja lain bernasib sama dan uskupnya ditahan.
Tahun 628 M, Raja Heralcus dari Bizantium menaklukan kembali teritorial tersebut. Namun
kemenangan ini bersifat sementara karena munculnya kekuatan Islam yang melemahkan Kerajaan
Bizantium tersebut.
Palestina Dikuasai Islam
Islam muncul tahun 610 M di bawah kepemimpinan Muhammad saw. Di selang tahun 610-632 M,
suku-suku di daerah Arab berhasi l dipersatukan di bawah kepemimpinannya yang asalnya saling
bermusuhan. Kerajaan Islam (Kekhalifahan Islam) setelah Muhammad saw meninggal di bawah
pemimpin Abu Bakar (632-634 M) berusaha merebut daerah Palestina dari tangan Bizantium.
Namun, usaha tersebut tidak berhasil dan akhirnya baru berhasil ketika Kekhalifahan Islam dipimpin
oleh Umar ra. Pada tahun 636, Bizantium jatuh.
Di bawah kepemimpinan Umar ra. terjadi perjanjian damai di Jerussalem antara pemerintahan Umar
dengan umat Kristen yang dipimpin oleh Uskup Sophronius. Umar sendiri sempat mengunjungi The
Holy Rock (tempat ibadah Daud as. dan tempat Haikal Yahudi) dan tempat itu menjadi Masjid Umar.
Muncullah pengaruh Islam di Jerussalem.
Perselisihan yang terjadi di antara kepemimpinan umat Islam setelah zaman Muhamamad saw dan
Khulafaurrasyidin (4 sahabat Nabi Muhamamad saw yang memimpin setelah nabi wafat)
menyebabkan munculnya berbagai dinasti yang berganti memimpin Islam dari Dinasti Muawiyah
sampai dengan Dinasti Abbassiah. Pada tahun 685-705, khalifah Abdul Malik dari Dinasti Abbasiah
memperindah tempat suci Jerussalem dengan membangun Kubah Al-Sakhrah, atau Dome of the
Rock. Pada tahun 929, terjadi pemberontakan kaum Qaramithah yang merampas Mekkah. Hal ini
menyebabkan banyaknya eksodus bangsa Arab ke Jerussalem. Pada tahun 1969, Mesir, diduduki
dinasti Fathimah yang menyatakan kemerdekaannya dari Dinasti Abbassiyah. Terjadi pertikaian
antara kedua dinasti tersebut sampai dengan 1072 dan akhirnya Palestina dikuasai oleh Dinasti
Fathimiah. Gereja Holy Sepulchre hancur saat serangan Dinasti Fathimiah ke Dinasti Abbasiyah.

Dome of the Rock (history.boisestate.edu)
Pada masa Perang Salib dan setelahnya (1099-1900)
Pada tahun 1099, datang serangan suku Frank dari Eropa yang membawa ke daerah Yerussalem
yang membawa 40.000 tentara untuk menguasai Jerussalem. Jerussalem takluk dan akhirnya
berdirilah kerajaan Latin di Jerussalem. Perang ini disebut Perang Salib I. Palestina dikuasai oleh
suku Frank yang beragama Kristen. Adanya Perang Salib II yang berlangsung tahun 1147-1187
menyebabkan Palestina kembali berada di tangan Kerajaan Islam. Perang Salib berlangsung
beberapa kali namun akhirnya berbuntut kepada perjanjian damai.
Pada tahun 1258, muncul serangan dari suku Tartar di bawah pimpinan Hulagu yang berasal dari
Asia Tengah (Mongol). Serangan ini sempat menakukan Baghdad, Damaskus, dan Suriah. Namun,
datangnya tentara dari Mesir menyebabkan mereka kalah dan akhirnya daerah itu dikuasai oleh
Mesir.
Wilayah Dikuasai Turki (1516-1900)
Pada 1516, Turki menaklukan Mesir yang menyebabkan daerah itu ditaklukan Turki. Turki
menjadikan daerah Palestina sebagai salah satu provinsi dan gubernur dikirim dari Konstatinopel.
Turki menguasai Palestina selama 4 abad. Mulai 1840, Turki membuka Palestina demi kepentingan
ekonominya. Akhirnya muncul pelabuhan-pelabuhan dan konsulat-konsulat Eropa. Hal ini
memunculkan semakin kecilnya pengaruh Turki dan membesarnya pengaruh para konsulat di sana.
Sempat terjadi Perang Krim (1854-1856) karena persaingan antara Ortodoks Yunani dan Pendeta
Latin.

Theodor Herzl (www.israelvets.com)
Tahun 1896, Theodor Herzl, penggagas gerakan zionisme, mengeluarkan usulannya untuk
mendirikan negara Israel di Palestina. Hal ini disebabkan bangsa Yahudi yang terpencar dan tidak
memiliki tanah air sejak Romawi menguasai Palestina. Akhirnya, beberapa orang Yahudi mendirikan
koloni di daerah Palestina.
Berdirinya Negara Israel
Tahun 1914, muncul perselesihan antara Inggris Raya dan Turki. Akhirnya menyebabkan keduanya
berperang. Palestina sempat dijadikan markas militer oleh Turki. Namun, akhirnya tahun 1918 Inggris
resmi menang, dan Palestina dikuasai oleh Inggris.
Tanggal 2 November 1917, keluar deklarasi menteri luar negeri Inggris, Arthur Balfour, yang dikenal
sebagai Deklarasi Balfour. Deklarasi ini berisi tentang dukungan Inggris terhadap pendirian negara
Yahudi di Palestina. Hal ini disebabkan oleh bangsa Yahudi telah membantu Inggris dalam
memenangi Perang Dunia I dan Inggris ingin menguasai Palestina karena berada di daerah strategis
di antara Asia, Eropa, dan Afrika.

Arthur Balfour (www.firstworldwar.com)
Pada tahun 1920, kantor pemerintahan Inggris di Palestina (British Mandate of Palestine) berdiri,
Komisi Tinggi-nya adl Herbert Samuel. Setelah tahun-tahun tersebut, imigrasi Yahudi ke daerah
Palestina terus meningkat. Orang Yahudi yang baru datang, biasanya masuk ke kota dan mendirikan
perusahaan-perusahaan di sana.
Tahun 1929, mulai terjadi kerusuhan besar antara bangsa Arab dan Yahudi. Konflik ini terjadi karena
adanya perebutan hak-hak beberapa tempat suci di Yerussalem. Selain itu, berdasarkan hasil
penyelidikan tim yang dibuat Inggris, hal ini terjadi karena orang-orang Arab tertekan dengan
pembelian tanah dan imigrasi orang Yahudi yang akhirnya mendesak mereka.
Tahun 1933, bangsa Yahudi hanya berjumlah 17% dari seluruh masyarakat Palestina. Namun,
setelah masa itu, saat Hitler berkuasa di Jerman dan Polandia, terjadi gelombang migrasi besar-
besaran dari Eropa ke Palestina. Pada saat itu juga terjadi perubahan politik di Timur Tengah. Mesir
dan Suriah yang merdeka menyebabkan tumbuhnya nasionalisme untuk memerdekakan diri.
Akhirnya timbul wacana untuk melepaskan Palestina dari Inggris.
Tahun 1938, Konflik antara Arab-Yahudi memuncak. Inggris mengeluarkan mandat yang intinya
akan membagi Palestina menjadi dua bagian, yaitu untuk Arab dan Yahudi untuk menghentikan
perpecahan. Namun, beberapa tahun kemudian mandat itu dicabut dan diganti dengan white paper
yang intinya mendesak dibentuk satu pemerintahan gabungan antara Arab dan Yahudi. White-paper
ini ditentang oleh bangsa Yahudi.
Pada saat itu, bangsa Yahudi yang tinggal di Amerika memegang peranan penting dalam
perekonomian Amerika. Hal ini menyebabkan Amerika berpihak kepada kepentingan bangsa Yahudi.
Inggris yang mulai merasa terganggu hubungannya dengan Amerika akhirnya menyerahkan tentang
Palestina ke PBB. Inggris sendiri akan menarik mandatnya dari Palestina tanggal 15 Maret 1948.
1 September 1947, PBB menyarankan agar Palestina dibagi 2, menjadi daerah untuk bangsa Yahudi
dan Arab. Bangsa Yahudi dan Arab yang tinggal di Palestina saling berebut pengaruh dan menolak
aturan tersebut. Mulailah berbagai perang gerilya yang melibatkan keduanya. Namun, sayangnya,
semangat bangsa Yahudi lebih berlipat dibanding dengan bangsa Arab di sana. Di saat terjadi
perang, para ningrat Arab malah kabur ke negara lain. Tanggal 14 Mei 1948, Israel diproklamirkan
orang-orang Yahudi. Esoknya Amerika Serikat mengakui kedaulatan Israel.
Perjuangan Palestina Pasca 1948
(red. Mulai saat ini, digunakan istilah bangsa Palestina untuk penduduk yang kebanyakan Arab yang
tinggal di Palestina yang bukan masyarakat Yahudi)
Negara-negara Arab di sekitar Palestina menolak kehadiran Israel di sana. Terjadilah perang. Israel
menang telak, dan akhirnya mengusai seluruh daerah Palestina kecuali Tepi Barat yang dikuasai
Suriah dan Jalur Gaza yang dikuasai Mesir. Terjadi pengungsian besar-besaran bangsa Palestina
dari Palestina. Penduduk Palestina terbagi menjadi 3, yang tinggal di pendudukan Israel, tinggal di
jalur Gaza dan Tepi Barat, dan yang mengungsi ke daerah-daerah luar Palestina. Setelah itu, sering
terjadi bentrok antara Israel dan negara-negara sekitarnya. Tahun 1964 berdiri PLO (Palestinian
liberation Organization), sebuah organisasi yang nantinya diakui sebagai satu-satunya organisasi
yang mewakili aspirasi masyarakat Palestina. Pada kelanjutannya, PLO dipimpin oleh Yaseer Arafat.

Yasser Arafat (www.mukto-mona.com)
Pata tahun 1967, terjadi perang 6 hari antara Israel-Mesir. Mesir kalah telak sehingga Israel berhasil
menduduki daerah Sinnai. Tahun 1973, Mesir dan Suriah bersatu untuk menyerang Israel, namun
Israel menang dan menguasai daerah hingga mendekati Terusan Suez. Mesir akhirnya mengakui
keberadaan negara Israel, dengan imbalan daerahnya sampai dengan Sinnai dikembalikan ke Mesir
(tercantum dalam Perjanjian Camp David 1978).
Sejak saat itu, wilayah Palestina dikuasai Israel. Israel sendiri demi kepentingan zionismenya,
membentuk perumahan-perumahan untuk bangsa Yahudi di daerah Palestina. Israel sendiri
menduduki Jalur Gaza dan Tepi Barat. Di sana, bangsa Palestina dijadikan masyarakat kelas dua.
Perumahan mereka digusur dan diteror. Bangsa Palestina terus menerus menderita di bawah
pendudukan Israel.
Akibat dari tekanan pendudukan Israel, muncullan gerakan yang dinamakan Intifada pada tahun
1987. Gerakan Intifada sendiri, yang secara harfiah berarti pemberontakan, merupakan gerakan
melawan tentara Israel yang bersenjata dengan batu-batu dan ketapel. Seluruh aspek bangsa
Palestina, baik itu anak-anak dan orang tua, lelaki dan wanita melakukan perjuangan dengan
melempar batu ke arah tentara-tentara Israel yang bersenjata dan bertank lapis baja. Selain itu
munculnya beberapa kelompok-kelompok garis keras, seperti HAMAS pada tahun 1987, yang
memiliki pemikiran bahwa satu-satunya cara menguris Israel dari Palestina adalah dengan perang
jihad.

Seorang Anak Melempar Batu ke Tentara Israel dalam Intifada (www.voltairenet.org)

Intifada (www.israelnewsradio.net)
Jalur Diplomasi Dimulai
Pada 30 Oktober 1991, dimulai konferensi Madrid, antara Israel dan Palestina yang diwakili oleh
PLO. Pertemuan berlanjut sehingga pada 13 September 1993, ditandatangai Perjanjian Oslo yang
berisi PLO diberi wilayah otonomi, yaitu 60% dari Jalur Gaza dan kota Ariha di Tepi Barat.
Imbalannya, PLO mengakui eksistensi Israel. Pada 1 Juli 1994, Arafat memasuki Gaza dalam rangka
mendirikan Otoritas Nasional Palestina (Palestinian National Authority; selanjutnya disebut PNA).
Pada 1996 diadakan pemilu pertama bangsa Palestina, Yasser Arafat terpilih menjadi Presiden.
Selanjutnya muncul beberapa perjanjian seperti:
1. 17 Januari 1997, Perjanjian Al Khalil ditandatangani Israel-Palestina yang berisi 20% wilayah Al
Khalil tetap dikuasai Israel, sisanya diserahkan kepada Palestina.
2. 23 Okt 1998, Perjanjian Maryland ditandatangani Israel-PNA. Berisi Israel menyerahkan sebagian
wilyah di Tepi Barat kepada PNA, sebagai imbalan, PNA berjanji mengatasi masalah terorisme
(terorisme sendiri merujuk kepada tindakan HAMAS)
Wilayah Palestina sendiri terbagi dua, yaitu Tepi Barat dan Jalur Gaza yang masing-masing
dipisahkan oleh wilayah Israel.

Yitzhak Rabin, Bill Clinton, Yasser Arafat dalam Kesepekatan Oslo (kenraggion.com)
Pada 28 Sept 2000, Intifadah Kedua dimulai, dipimpin oleh HAMAS. PNA sendiri dalam pihak yang
bertentangan dengan HAMAS. PNA lebih milih untuk berdialog daripada berperang. Pada 26 Okt
2004, gigihnya perjuangan Intifadah II membuat Israel kewalahan dan mengesahkan program
penarikan mundur dari Jalur Gaza. Pada, 11 Nov 2004 Yaser Arafat meninggal. Kepemimpinan di
PLO digantikan oleh Mahmoud Abbas. September 2005 dimulai penarikan mundur tentara Israel dari
Jalur Gaza. Inilah kemenangan para pejuang Palestina setelah 38 tahun. Namun, Israel terus
melancarkan serangan dan teror ke Jalur Gaza. Selain itu, Israel mendirikan tembok-tembok
pembatas yang mengucilkan pemukiman Palestina dan memperlebar perumahan bagi bangsa
Yahudi.
Pada Pemilu 2006, HAMAS memenangi pemilu. Namun, sebagian besar negara barat menolak hasil
pemilu ini karena menanggap HAMAS adalah teroris dunia. HAMAS sendiri berpusatkan di daerah
Jalur Gaza.

Sayap Militer Hamas (heavenawaits.wordpress.com)
Beberapa kali terjadi bentrok antara HAMAS dan Israel yang ditandai saling meluncurkan roket dan
misil di perbatasam. Hal ini memaksa perang terjadi. Perang yang terakhir terjadi pada Desember
2008. Pasca gencatan senjata berakhir pada November 2008, tank-tank Israel masuk ke
perbatasan jalur Gaza dan milisi HAMAS menembakkan roket ke arah Israel dari Jalur Gaza.
Akhirnya, dimulailah perang yang ditandai dengan tanggal 27 Desember 1998, Israel melakukan
serangan udara yang diikuti serangan darat ke arah Jalur Gaza dengan dalih memusnahkan HAMAS.
Perang terjadi sampai dengan 19 Januari 2008 dan menewaskan 1200 lebih warga Palestina dan
belasan tentara Israel. Sayangnya, dari kebanyakan warga yang tewas bukanlah dari kalangan
militer. Bahkan, sekitar 600 orang merupakan anak-anak dan perempuan.
Pada saat tulisan ini dibuat (21 Januari 2009), Israel telah menarik mundur pasukannya dari Jalur
Gaza. Keadaan Jalur Gaza saat ini bagaikan kota yang luluh lantah. Bangunan hancur dan
masyarakat yang mengalami luka baik fisik maupun mental yang traumatis akibat perang. Rumah
sakit penuh oleh orang yang terluka dan masyarakat yang hidup di sana kekurangan bahan makanan
dan obat-obatan. Meskipun bantuan telah masuk, namun diperkirakan Jalur Gaza tidak akan pulih
dalam waktu dekat. Padahal, deadaan di Palestina masih memungkinkan untuk terjadi perang
kembali. Korban-korban lain masih mungkin berjatuhan.

Perempuan Gaza sedang Meratap (www.populisamerica.com)

Korban Anak-Anak di Gaza (www.monde-magouilles.com)





















JELASKAN KESAN-KESAN PEPERANGAN TERHADAP MASYARAKAT ASIA.

Kuasa imperialisme Barat seperti Portugis,Belanda , Inggeris , Perancis, Sepanyol , Jerman, dan
Amerika Syarikat datang ke timur adalah dengan tiga tujuan asas iaitu gold , glory dan god.
Kedatangan mereka telah menimbulkna persaingan sengit dalam menguasai sumber di Asia.
Anggapan bahawa tamadun timur adalah mundur oleh orang barat telah mendorong kuasa barat
mengambil kesempatan untuk campur tangan. Tindakan barat ini boleh diibaratkan seperti menangguk
di air yang keruh kerana tiada sifat ikhlas orang barat melainkan untuk kepentingan mereka sendiri.
Akhirnya , campur tangna ini berkesudahan dihujung mata pedang ( peperangan ) yang menyaksiokan
orang timur dan terpaksa menandatangani perjanjian. Sifat rakus orang barat telah banyak
meninggalkan kesan terhadap masyarakat Asia. Antara peperangan yang melibatkan orang barat dan
orang timur ialah perang Inggeris-Burma, perang Candu , perang Russia-Jepun , perang Jawa , perang
Dahagi India dan perang di Indochina. Peperangan ini telah memberi kesan utama dari aspek polotik,
ekonomi dan sosial masyarakat Asia.
Dari aspek polotik , masyarakat Asia telah mengalami pelbagai reformasi impak daripada
peperangan ini berlaku. Antaranya ialah kebanyakan negara-negara Asia mula diletakkan di bawah
sistem pentadbiran baru oleh penjajah. Raja dan para pembesar telah kehilangan takhta dan kuasanya.
Ada pula raja-raja yang diberi mandat untuk memegang tampuk pemerintahan negara oleh penjajah
hanyalah menjadi boneka sahaja. Hal ini telah dilihat ke atas beberapa buah negara seperti Burma,
Indonesia dan India. Sebagai contoh semasa peperangan Jawa meletus yang telah berlaku di
Indonesia, Belanda telah mempergunakan Sultan Surakarta iaitu Pakubuwono VII untuk melemahkan
pasukan pemberontak pimpinan Dipo Negoro yang selaku seorang putera raja dari kerajaan Jogjakarta
yang menyebabkan beliau dibuang negeri ke utara Sulawesi. Tindakan ini telah mengakhiri
pemerintahan beraja di Jogjakarta selepas menandatangani perjanjian. Sistem pemerintahan negara
tersebut telah disusun semula dan diletakkan di bawah penguasaan penjajah. Masyarakat terpaksa
menerima seoramg penasihat dalam mengendalikan pentadbiran negara.
Selain itu, kita boleh lihat akibat daripada perang British-Burma yang berlarutan sehingga
berlaku tiga siri peperangan antara British dan Burma pada abad ke-19. Burma telah mengalami
kekalahan tiga kali berturut-turut dan memberi kesempatan kepada British untuk menguasai Burma.
Kekalahan Burma pada siri pertama peperangan British Burma telah menyebabkan Burma
kehilangan hak dan kuasa di beberapa wilayah seperti Arakan , Tenassenim , Assam , Manipur dan
Cachar melalui perjanjian Yandabo. Ini diikuti dalam kekalahan Burma dalam siri kedua peperangan
British-Burma ( 1852 ) yang meryebabkan British menguasai seluruh wilayah di Burma hilir iaitu dari
pelabuhan Rongoon ke Toungao. Dan nasib yang sama menimpa Burma dalam peperangan British-
Burma yang ketiga iaitu ( 1855-1856 ) yang meyebabkan British mengambil alih wilayah Burma hulu
dan menguasai seluruh Burma dan memulakan pemerintahan British di Burma. Kejayaan British ini
telah meyebabkan berakhirnya pemerintahan beraja dinasti Konbeang yang diasaskan oleh
Alaungpaya ( 1752-1856 ).
Peperangan yang berlaku juga telah memberikan kesan yang cukup penting iaitu masyarakat
Asia terpaksa menandatangani perjanjian. Perjanjian-perjanijian yang ditandatangani telah
menyebabkan masyarakat Asia kehilangan wilayah-wilayah dan tanah jajahan. Hak milik mereka tela
dirampas oleh kuasa-kuasa asing. Sebagai contoh kesan daripada peperangan Inggeris-Burma,
perjanjian Yandabo telah ditandatangani. Akibatnya masyarakat Burma kehilangan hak keatas tanah
dan wilayah sehinggalah Perang Inggeris-Burma ketiga ( 1855-1856 ) yang mengakibatkan seluruh
Burma ditakluk oleh Inggeris. Begitu juga kesan perang Jepun-China ( 1894-1895 ) yang
mengakibatkan kuasa imperialis menjadikan negara China seperti kek yang telah dibahagi-bahagikan
sesama mereka. Berdasarkan bukti tersebut jelaslah peperangan hanya menyebabkan masyarakat di
negara-negara Asia kehilangan kuasa. Ini keran perjanjian yang ditandatangani antara mereka
hanyalah mengenyangkan golongan penjajah sebaliknya masyarakat Asia terus menahan kelaparan.
Dalam aspek polotik juga, peperangan yang telah berlaku meyebabkan segelintir negara Asia
mengubah dasar dan pemikiran untuk kepentingan polotik antaranya ialah Siam dan Jepun. Di Siam
pada permulaannya melaksanakan dasar pemencilan atau dasar tutup pintu sejak abad ke 17 terhadap
penjajah barat. Walaupun raja Rama II (1808-1825) dan Rama III ( 1825-1852 ) menjalinkan
hubungna dengan kuasa barat seperti Inggeris dan Perancis melalui perjanjnian seperti perjanjian
Burney. Siam tetap menghadkan segala hubungan dengan barat , sehingga meyebabkan kuasa barat
merasa tertekan. Raja Rama III merasa curiga keatas niat dan takut akan memberi kesan politik dan
sosial seperti yang berlaku di negara Asia lain yang menagmbil dasar buka pintu. Namun demikian
Raja Rama III iaitu Raja Mongkut ( 1852-1868 ) mengambil keputusan untuk membuka pintu
perdagangan kepada dunia barat. Baginda bertindak demikian keran melihat situasi kuasa barat yang
menggunakan dasar kekrasan untuk menjajah negara-negara Asia yang enggan membuka pintu.
Baginda sedar jika mahu mengekalkan kemerdekaan Siam , dasar pintu tertutup harus di tamatkan dan
negara Siam dibuka kepada hubungan perdagangan dan diplomatik barat. Antara langkah baginda
ialah dengan menandatangani satu perjanjian persahabatan dan perdagangan dengan barat iaitu
perjanjian Bowring pada 18 April 1853.

Selain itu juga, melalui perjanjian yang telah ditandatangani antara kuasa barat dengan negara
Asia telah menyebabkan negara Asia terpaksa menerima penasihat dari barat untuk membantu sistem
pentadbiran negara-negara Asia.contonya boleh dilihat di negara Burma, setelah kekalahan Burma
keatas British sebanyak tiga kali. British telah mengambil alih pentadbiran Burma dan menempatkan
seorang resident British dan melantik seorang duta Burma ke Calcutta. Begitu juga di Vietnam,
pentadbiran perancis telah meletakkan seorang penasihat di vietnam. Ini telah mencabar kedaulatan
negara-negara Asia.
Manakala jika dilihat daripada aspek akonomi, kebanyakan masyarakat Asia telah banyak
menanggung kesengsaraan akibat peperangan. Peperangna yang meletus telah meragut banyak jiwa.
Malahan wabak penyakit pula yang datang mengundang akibat kekurang sumber makanan yang
berzat. Ditambah pula dengan berlakunya kemelesetan ekonomi. Contohnya di Indonesia bagi
menjana semula ekonomi di sini, kerajaan Belanda telah memansuhkan undang-undang pembatalan
kontrak sewa tanah dan memperkenalkan sistem tanaman paksa yang jelas manunjukkan penindasan
masyarakat Asia oleh penjajah. Ternyata tindakan Belanda ini hanyalah menguntungkan sebelah
pihak sahaja sedangkan masyarakat terus melarat.
Kekalahan negara-negara Asia keatas kuasa barat juga telah meyebabkan negara barat
mengambil tindakan sesukahatinya dengan memaksa negara Asia membayar ganti rugi sebagai
pampasan ke atas kerugian yang mereka tanggung semasa peperangan. Di Burma, pihak Inggeris telah
memaksa Burma supaya membayar pampasan sebanyak 10 juta rupee kepada Inggeris. Di China pula
semasa perang candu berlaku, pihak Inggeris telah banyak kerugian akibat tindakan China yang
merampas candu daripada Inggeris. Kekalahan China keatas Inggeris dalam perang candu telah
memberi kesempatan kepada Inggeris untuk memaksa China untuk membayar ganti rugi keatas candu
yang dirampas. Begitu juga kekalahan China keatas British, dalam perang British-China telah
memaksa China membayar ganti rugi kepada British dan Perancis. Ini telah merugikan pihak China
dam pemberontakan Boxer, ini juga telah dipaksa oleh British supaya membayar ganti rugi sebanyak
450 juta tael dan jika gagal berbuat demikian dalam masa 40 tahun nilai ini akan digandakan. Ini
menyebabkan ekonomi China mengalami kemelesetan yang teruk dan dikuasai orang asing sahaja.
Selain itu juga peperangan terlah mengakibatkan kuasa asing memonopoli beberapa sumber
negara Asia. Sebagai contoh boleh dilihat di negara Burma, British telah menguasai kawasan-kawasan
hutan Burma yang kaya dengan kayu jati yang mahal. Terutamanya di kawasan utara Pegu. Selain itu
juga kebanyakan pedagang terpaksa melalui kawasaan yang dikuasai oleh British untuk berdagang. Di
Vietnam pula pihak Perancis, telah merampas kawasan pertanian utama Vietnam yang merupakan
hasil utama negara Vietnam. Mankala di China, British telah memasukkan barangan import dari barat
yang mempunyai mutu yang lebih baik dan harga lebih murah berbanding barangan China. Ini
menyebabkan barangan China tidak mendapat tempat dan bersaing dengan barangan dari Barat.
Sekaligus melemahkan ekonomi China sehingga meletuskan pemberontakan Boxer.
Dalam aspek ekonomi juga, peperangan telah membuatkan negara-negara Asia yang
menjalankan ekonomi tertutup terpaksa membuka pelabuhannya kepada para pedagang barat. Di
Vietnam, Perancis telah mendesak Vietnam membuka tiga pelabuhannya seperti Da Ning , Delat dan
Queng Yen kepada para pedagang daripada Perancis. Begitu juga di China, British telah mendesak
China membuka pelabuhan utamanya seperti Canton , Amoy , Foo Chow , Ningpo , dan Shang Hua
kepada pedagang barat. Tindakan ini jelas telah merubah pendirian China dan Vietnam yang
menjalankan dasar pintu tertutup terhadap kuasa asing.
Seterusnya, peperangan juga memberi kesan kepada aspek sosial. Ini termasuklah dari aspek
keagamaan , perpespektif masyarakat dan kebudayaan. Peperangan yang berlaku antara orang barat
dengan Asia kebanyakannya berkesudahan dengan kekalahan dipihak orang Asia. Kekalahan ini telah
memberi kesempatan kepada orang barat menuntut hak seperti penyebaran agama Kristian. Dengan
ini masyarakat Asia terpaksa menerima kemasukan agama Kristian kerana telah terikat dengan
perjanjian yang telah dimerterai selepas peperangan. Sebagai contoh amalan Kow Tow di China iaitu
penyembahan maharaja semasa menghadap telah dihapuskan tetapi agama Kristian dibenarkan
penyebarannya. Perkara ini juga telah terjadi di negara-negra Asia lain. Pengaruh agama yang datang
dari barat telah menyebabkan sistem kepercayaan dan amalan tradisi masyarakat tempatan mula
tergugat. Nilai adat resam mula semakin rapuh dan dilupakan. Begitu juga dengan nilai-nilai agama.
Nilai moral masyarakat turut dicemari akibat peperanga yang berlaku. Contohnya, beberapa adat di
India seperti Suttee , Thugee dan pembunuhan bayi perempuan telah dihapuskan sama sekali. Malah
balu-balu hindu juga dibenarkan berkahwin semula. Ini jelas menunjukkan peperangan memberi
kesan ke atas sosial masyarakat Asia.
Masyarakat Asia juga menghadapi masalah serangan wabak penyakit dan kebuluran kesan
peperangan. Banyak jiwa yang terkorban dan menjadi mangsa peperangan. Penderitaan dan
kesengsaraan yang btertimpa keatas masyarakat Asia telah mendorong untuk bergerak bangun
menentang kuasa penjajah. Setelah berlakunya peperangan mereka mulai sedar untuk
mempertahankan diri dan tanah air. Dengan ini timbulah semangat nasionalisme dikalangan
masyarakat Asia. Ditambah pula akibat peperangan Russia-Jepun, dimana masyarakat Asia telah
mengambil iktibar bahawa orang timur bolah tewaskan orang barat. Ataskesedaran inilah pelajar-
pelajar tempatan mula dihantar untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan akhirnya lahirlah tokoh-
tokoh reformasi. Disini dapat dilihat, bahawa peperangan juga telah memberi sumbangan kepada
masyarakat Asia.
Kesimpulannya, peperangan sememangnya telah memberi pelbagai intipati sama ada positif
mahupun negatif. Perspektif masyarakat Asia terhadap peperangan akhirnya telah berjaya mencorak
tamadun masyarakat Asia.
















Konflik Israel dan Palestin
Konflik Israel-Palestin merupakan satu pertikaian yang masih berlangsung antara Israel dan orang
Arab Palestin yang merupakan sebahagian daripada konflik Arab-Israel yang terbesar. Pada
dasarnya, konflik kini merupakan pertikaian antara dua kumpulan atau intiti politik mengenai tuntutan
kawasan tanah yang sama. Banyak percubaan telah dibuat untuk membantu menyelesaikan
pertelingkahan dan masalah yang berlaku ini.
Pada masa ini, kebanyakan orang Israel dan Palestin bersetuju bahawa sebuah penyelesaian dua
negara merupakan cara yang terbaik untuk menamatkan konflik menurut banyak tinjauan pendapat
yang utama. Secara umumnya konflik yang berlaku ini merangkumi aspek politik, ekonomi, sosial dan
juga melibatkan isu agama yang ternyata memberi kesan yang berterusan terhadap negara Palestin
dan negara-negara lain. Konflik yang berlaku antara dua pihak ini tidak pernah surut dari rundingan
namun seolah-olah rundingan yang dilakukan tidak membawa kesan yang positif atau menemui jalan
penyelesaian.
Pertikaian ini bertambah buruk apabila terdapat beberapa kuasa barat yang masuk campur sama ada
secara langsung atau tidak langsung. Konflik antara dua pihak ini telah melibatkan kuasa atau respon
secara langsung atau tidak lansung daripada antarabangsa khususnya negara kuasa veto seperti
Amerika Syarikat, Britain dan negara-negara lain. Penglibatan kuasa-kuasa barat sebenarnya
mempunyai pelbagai muslihat yang tersembunyi malahan mereka boleh dibaratkan ada udang
disebalik batu kerana mempunyai motif dan matlamat tersendiri.

2.0 SEJARAH ISRAEL DAN PALESTIN
2.1 Palestin
Kedudukan negara Palestin terletak di bahagian Barat daya negara Syam iaitu di sebelah Barat Asia
yang memanjang ke persisiran pantai di sebelah Timur Laut Mediterranean. Kedudukannya yang
strategik dan penting dianggap sebagai tempat yang menghubungkan benua Asia dengan Afrika dan
juga sebagai titik pertemuan di antara dunia-dunia Islam. Menurut kajian arkeologi, kota pertama
yang telah dibina ialah Kota Jericho yang terletak di sebelah Timur Laut Palestin iaitu lebih kurang
8000 tahun S.M.
Bumi Palestin lebih dikenali sebagai Bumi Kaan iaitu bersempena dengan nama kabilah Kaan,
komuniti terawal yang mula-mula mendiami kawasan ini setelah berjuang dari Semenanjung Arab
semenjak tahun 2500 S.M. Nama Palestin juga diambil daripada nama kaum pelaut yang mendiami
kawasan pantai yang berasal dari sebelah barat Asia Kecil dan kawasan Laut Aegean di sekitar kurun
ke-12 M. Namanya juga terpahat pada ukiran peninggalan Mesir dalam bentuk tulisan P.L.S.T dan
ditambah huruf N pada hujungnya sebagai kata nama majmuk. Golongan ini tinggal di persisiran
pantai dan berlaku proses pencampuran dan pergaulan begitu cepat sekali dengan kabilah Kanan
sehingga tidak nampak perbezaan yang ketara di antara kedua-dua puak tersebut sehingga mereka
sepakat menamakan bumi tersebut dengan nama begitu.
Menurut kajian, majoriti penduduk Palestin sekarang adalah berasal daripada keturunan kabilah Arab
seperti Kanan, Umuriah, Palestin dan kabilah-kabilah Arab yang menetap di Palestin sebelum dan
selepas era pembukaan Islam. Semua mereka ini bergabung di bawah satu ikatan iaitu Islam dan
bahasa Arab yang menyatukan mereka setelah memeluk dan menjadi bangsa Arab di bawah
pemerintahan Islam selama 13 kurun.
Oleh kerana lokasi Palestin terletak di pertengahan negara-negara Arab, negara ini mempunyai
kedudukan geografi yang sangat strategik. Tanah Palestin mempunyai keistimewaan berbanding
tempat lain kerana tempat ini merupakan turunnya agama Samawi, tempat peradaban kuno muncul,
menjadi jambatan aktiviti dan penyusupan tentera pada era yang berbeza. Lokasi yang strategik ini
membolehkan negara ini menjadi penghubung pelbagai benua lain di dunia. Palestin juga dijadikan
pintu masuk bagi perjalanan ke tempat-tempat jiran. Palestin menjadi penghubung bagi menusia
semenjak dahulu lagi dan kerana kemakmuran dan keistimewaan inilah Palestin menjadi mangsa
kerakusan orang-orang yang ingin berkuasa dan mengeksploitasi keistimewaannya.




2.2 Israel
Nama Israel berasal dalam kitab Bible Ibrani, apabila Jacob menamakan semula Israel selepas
berjaya bergelut dengan seorang musuh yang penuh misteri. Negara yang diasaskan oleh Jacob ini
kemudian digelar anak-anak Israel atau orang-orang Israel (Israelite). Secara etimologinya, Bani
bermakna anak-anak Nabi Ishaq a.s manakala Israil merupakan nama asal Nabi Yaakub a.s.
Baginda berhijrah ke Haran iaitu wilayah Syria utara dan bernikah di sana. Kemudian, disana
generasi pertama Bani Israel berkembang. Tradisi-tradisi Yahudi mengganggap Tanah Israel sebagai
Tanah Suci Yahudi dan Negeri Kanaan selama 3000 tahun. Tanah Israel memegang tempat istimewa
kerana merangkumi tempat-tempat agama Yahudi yang paling penting contohnya Kuil Pertama dan
Kuil Kedua Solomon, Raja terkenal Yahudi.
Di bawah pemerintahan Assyria, Babylon, Parsi, Yunani, Rom Byzantine dan Sassanid, kehadiran
orang-orang Yahudi merosot akibat pengusiran beramai-ramai dan akibat kegagalan pemberontakan
Bar Kokhba terhadap empayar Rom pada tahun 132 M. Pada masa tersebut, Rom memberikan nama
kawasan tersebut sebagai Palestin Syria. Namun, kedatangan orang-orang Yahudi masih beterusan.
Sebahagian penduduk Yahudi berpindah ke Galilea, Mishnah, Talmud dan Jurusalem. Kemudian
Islam menakluk tempat tersebut selepas mengalahkan empayar Byzantine pada tahun 638 M.
Kawasan ini sering bertukar tampuk pemerintahan sehinggalah menjadi sebahagian empayar
Mamluk dan seterusnya Empayar Turki Uthmaniyyah pada tahun 1517 M.
Orang-orang Yahudi telah cuba berhijrah berabad-abad lamanya. Contohnya, pada tahun 1141,
Yahuda Halevi memanggil orang-orang Yahudi berhijrah ke Israel Eretz dan meninggal dunia di
Baitulmauqqadis. Pada tahun 1267, Nahmanides menetap di Jurusalem dan semenjak itu, komuniti
kaum Yahudi semakin berkembang. Penghijrahan golongan rabai pula berlaku pada tahun 1808-1809
dan membuat petempatan di Tiberias, Safed dan kemudian di Baitulmuaqaddis. Golongan besar
imigrasi moden yang pertama ke Israel bermula pada tahun 1881 apabila orang-orang Yahudi
melarikan diri daripada penyeksaan yang semakin bertambah iaitu selepas timbul idea-idea Zionisme
Sosialis mengenai penebusan tanah yang dicadangkan oleh Moses Hess. Mereka membeli tanah
daripada orang-orang Turki Uthmaniyyah dan pemilik-pemilik tanah perseorangan Arab. Seterusnya
mereka mengasaskan petempatan demi petempatan berasaskan pertanian sehingga tercetusnya
ketegangan antara orang yahudi dan orang Arab.
Kemudian, lahir pula satu gerakan moden yang diasaskan oleh Theodor Herzl (1860-1904) seorang
Yahudi Austria-Hungary yang menggelarkannya gerakan Zionisme. Pada tahun 1896, dia
menerbitkan Der Judenstaat (negara Yahudi) dan tujuannya adalah untuk menyeru pembentukan
sebuah negara Yahudi. Kemudian pada tahun 1897, beliau membantu mengadakan Kongres
Zionisme Dunia yang pertama. Penubuhan Zionis telah mencetuskan Aliyah kedua (1904-1914)
dengan banjiran sekitar 40,000 bangsa Yahudi. Pada tahun 1917 pula, Arthur J. Balfour, Setiausaha
Luar Negara Britian ketika itu memandang baik usaha penubuhan satu negara rakyat Yahudi dalam
Palestin dan mengisytiharkan Deklarasi Balfour. Pada tahun 1920, Palestin diterima ke dalam Liga
Bangsa-bangsa.
Penghijrahan bangsa Yahudi beterusan dalam gelombang ketiga (1919-1923) dan keempat (1924-
1929) selepas Perang Dunia I. Pada tahun 1929 telah berlaku pembunuhan beramai-ramai bangsa
Yahudi oleh bangsa Arab yang mengorbankan 133 Yahudi termasuk 67 di Hebron. Kebangkitan
Nazisme di Jerman pada tahun 1933 telah mengakibatkan gelombang Aliyah yang kelima. Pada
waktu tersebut kaum Yahudi telah bertambah dari 11% kepada 30% pada tahun 1940. Pada tahun
1947, PBB telah memutuskan untuk membahagikan daerah mandat British-Palestin. Keputusan ini
ditentang hebat oleh negara-negara Timur Tengah dan banyak negara Islam lain. Menurut PBB,
Yahudi berhak mendapat 55% dari seluruh tanah wilayah tersebut manakala Baitulmuaqaddis yang
menjadi bandar suci Yahudi, Muslim dan Kristian dijadikan bandar kebangsaan.
Akhirnya, negara Israel telah ditubuhkan pada 14 Mei 1948. Namun, sekali lagi sejarah terukir apabila
sehari selepas penubuhannya, Israel telah diserang oleh tentera pakatan Lubana, Syria, Jordan,
Mesir, Iraq dan negara Arab yang lain. Namun, dalam peperangan ini Israel berjaya mengalahkan
tentera Bersekutu Arab dan merampas 70% dari wilayah kekuasaan Palestin. Sehingga itu, kuasa
Israel semakin kuat dan terus bertapak di bumi Arab.
3.0 HUBUNGAN ISRAEL DAN PALESTIN
Perhubungan dua intiti negara iaitu Palestin dan Israel sememangnya telah wujud sejak zaman
kegemilangan Islam lagi sehinggalah berterusan pada zaman Kerajaan Turki Uthmaniyyah dan
sehingga kini. Namun, isu mengenai Israel muncul atau wujud secara langsung semasa kerajaan
Turki Uthmaniyyah diambang kemerosotan dan keruntuhan. Justeru, sebaik sahaja Empayar Turki
telah mengalami kekalahan, pihak-pihak Barat telah bertekad untuk menguasai wilayah-wilayah yang
asalnya di bawah taklukan Kerajaan Uthmaniyyah. Maka, bermulalah episod yang banyak
meninggalkan kesan dan jalinan hubungan orang Barat dan Yahudi dengan rakyat Arab khususnya
Palestin.
Hubungan politik yang terjalin tidak pernah surut dari permasalahan, konflik dan jalan penyelesaian.
Ironinya jalan penyelesaian yang diwujudkan tidak pernah mendapat keputusan yang bijak dan adil
bagi kedua-dua belah pihak. Hubungan Israel dengan Palestin juga secara langsung turut melibatkan
hubungan dengan negara-negara Arab. Perhubungan dalam hal-hal politik telah menghasilkan
pelbagai jenis perjanjian sama ada berkaitan ekonomi atau politik. Negara-negara Arab yang melihat
konflik yang wujud pernah mencuba menyelesaikan masalah dengan mencadangkan usaha damai
antara kedua-dua intiti politik ini. Sebagai contoh pada tahun 1981, Raja Saudi iaitu Raja Fahd
mencadangkan usaha damai untuk menamatkan konflik dan cadangan beliau diterima oleh sidang
Arab di Fez, Maghribi 1982. Namun, cadangan ini telah ditolak tanpa banyak bicara apabila pada
masa yang sama Ronald Reagan (Presiden Amerika) mengemukakan cadangan sendiri melibatkan
pembukaan penempatan. Manakala Sharon pula telah menolak semua tawaran dan memberi amaran
kepada Washington supaya tidak bersekongkol dengan Arab Saudi.
Selain itu, konflik juga tercetus apabila tementerainya Sykes-Picot Agreement yang telah
ditandatangani oleh pihak barat dengan Israel tanpa pengetahuan Arab Saudi juga menjelaskan
situasi hubungan yang terjalin antara Israel dengan Arab terutamanya Palestin. Kewujudan negara
Israel ini telah diiktiraf oleh Amerika Syarikat yang menjadi negara pertama mengiktiraf Israel sebagai
sebuah negara pada 14 Mei 1948 oleh Presiden Harry Truman. Beliau menyatakan hubungan politik
dengan Palestin telah bemula secara langsung walaupun hakikatnya tidak kerana semuanya
hanyalah helah atau muslihat untuk mengaburi mata dan pandangan negara Arab bagi mengawal
Palestin secara mutlak dan secara tidak langsung.
Banyak perkaitan yang menghubungkan orang Yahudi dengan rakyat di Palestin dari segi sosialnya
khususnya agama dan kepercayaan. Perebutan tanah atau wilayah merupakan asas utama yang
menjadikan punca utama konflik yang berlaku. Hal ini boleh dijelaskan melalui peristiwa peperangan
pada tahun 1967 yang melibatkan tiga agama kerana Yahudi telah menguasai tempat-tempat suci
bagi agama Kristian dan Islam. Tempat suci Kristian yang dikuasai oleh Yahudi adalah di Jericho,
Qumran, Sungai Jordan, Bethlehem dan Baitulmauqaddis. Selain itu, Yahudi turut menguasai tempat
suci bagi penganut agama Islam iaitu di Masjid Al-Aqsa, Kubah Al-Sakhra dan makam-makam para
anbia di Khalil yang sememangnya mencetuskan konflik besar. Hubungan dua intiti politik ini lebih
buruk dan ditambahkan lagi persengketaan selepas tercetusnya peperangan pada tahun 1967 yang
telah menyebabkan lebih ramai rakyat Palestin menjadi pelarian dari Tebing Barat ke Jordan iaitu
seramai 150000 dan 200000 pelarian. Sebelum tahun 1967, penduduk yang mendiami di Gaza
merupakan pelarian manakala penduduk di Tebing Barat terdiri daripada penduduk peribumi dan
pelarian. Perebutan kawasan atau wilayah ternyata terserlah apabila orang Yahudi berpindah secara
beramai-ramai ke bumi Palestin selepas jemputan secara rasmi oleh tokoh politik pertama yang
melakukan hal yang sedemikian iaitu Napoleon Bonaparte pada 20 April 1799.
Terdapat perjanjian-perjanjian yang melibatkan perhubungan dua intiti politik dalam hal politik dan
ekonomi dalam Proses Damai Oslo seperti Perjanjian Kaherah (1994), Perjanjian Toba (Oslo II,
1995), Perjanjian Sharm al-Sheikh (1999). Rundingan yang membawa kepada setiap perjanjian yang
telah dimenterai sebenarnya tidak dapat menyelesaikan masalah atau konflik yang berhubung
dengan Israel dan Palestin. Hal ini disebabkan oleh masalah yang cuba diungkitkan oleh sebelah
pihak sebagai halangan kepada penyelesaian konflik yang berlaku. Hubungan dari segi ekonomi
dapat dilihat melalui perjanjian-perjanjian yang telah dimenterai merangkumi hal-hal ekonomi di
samping politik dan sosial.
Selain itu, jalinan hubungan Israel dengan Palestin dalam sektor ekonomi dapat dilihat apabila
berlakunya penggabungan ekonomi Israel dengan Palestin. Israel berpendapat bahawa dasar-dasar
ekonomi mereka di Palestin dapat membantu dalam pembangunan ekonomi. Namun, pada
hakikatnya rakyat Palestin sebenarnya telah ditransformasikan menjadi golongan bawahan atau
pekerja yang bergantung ekonomi daripada Israel dan diibaratkan bahawa rakyat Palestin tidak dapat
berdiri di atas kaki sendiri dari segi sektor ekonomi. Hal ini dapat dibuktikan pada tahun 1973, ramai
rakyat Palestin yang diambil dari Tebing Barat untuk bekerja dalam sektor pembinaan dan pertanian.
Malahan, rakyat Palestin juga bergantung ekonomi kepada Israel dalam sektor perindustrian apabila
90 peratus barangan diimport dari Israel dan barangan dari wilayah yang diduduki menjadi pasaran
eksport kedua terbesar bagi Israel.
4.0 FAKTOR-FAKTOR KONFLIK ISRAEL DAN PALESTIN
4.1 Faktor Agama
Konflik antara Israel dengan Palestin berpunca dari salah satu faktor utama iaitu keagamaan apabila
golongan Israel telah menubuhkan gerakan Zionisme sebagai sebuah gerakan keagamaan yang
dijalankan oleh orang-orang Yahudi . Keadaan ini menyebabkan mereka ingin mendapatkan negara
atau kawasan untuk dijadikan pusat penyebaran agama mereka. Malahan mereka percaya kerajaan
mereka atau pusat penyebaran agama mereka perlu dipusatkan pada tempat-tempat diturunnya kitab
Injil iaitu di kawasan Palestin dan kawasan ini juga berlakunya kisah-kisah yang dialami oleh Nabi
Ibrahim a.s dan Nabi Musa a.s. .
Konflik ini mula tercetus apabila Israel dimasukkan ke dalam Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu
(PBB). PBB yang cuba mencari penyelesaian kepada masalah pelarian yang terdiri daripada
golongan Yahudi ini telah mencadangkan supaya 100 000 rakyat Palestin dimasukkan dan diterima
menjadi rakyat Israel tetapi cadangan ini telah ditolak mentah-mentah oleh golongan Yahudi . Hal ini
kerana golongan Yahudi inginkan negara Israel dihuni oleh rakyat yang terdiri daripada golongan
beragama Yahudi sahaja dan tidak mahu menerima golongan lain terutamanya golongan Islam.
Keadaan ini telah mendorong berlakunya perebutan tanah di Palestin yang mencetuskan konflik
antara Israel dan Palestin. Hal ini kerana, mereka percaya bahawa tanah di Palestin adalah tanah
suci mereka dan berhak terhadap tanah tersebut, keadaan ini menjadi faktor konflik kepada Isreal
dan Palestin sehingga tercetusnya peperangan dan kematian.
4.2 Perebutan Tanah
Perebutan tanah antara Isreal dengan Palestin adalah disebabkan kepercayaan yang dipegang oleh
golongan Zionis yang terdiri daripada orang Isreal yang percaya bahawa tanah Palestin, khususnya
Jurusalem, merupakan tanah suci bagi agama Yahudi dan mereka berhak ke atas tanah tersebut .
Orang-orang Yahudi mempercayai hak kebebasan beragama dan tiada paksaan dalam menganuti
agama. Namun perkara sebaliknya berlaku apabila mereka sendiri seolah-olah tidak memegang dan
menafikan prinsip-prinsip agama tersebut dan melakukan kezaliman ke atas rakyat Palestin seperti
pengusiran secara paksa, rampasan tanah, harta dan lain-lain kekejaman yang mereka lakukan.
Pandangan golongan Islam pula berbeza dengan golongan Yahudi (Israel) yang menafikan hak dan
tuntutan orang-orang Yahudi terhadap bumi Palestin ini . Hal ini kerana, golongan Islam berpendapat
bahawa tanah Palestin terutamanya Jurusalem adalah tempat suci mereka kerana dua alasan iaitu
merupakan kiblat pertama umat Islam saat menjalankan ibadah solat. Selain ia disebabkan tempat
terjadinya mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad, iaitu Isra Mikraj, perjalanan malam
dari Masjid Haram di Mekah menunju Masjid Aqsa di Jurusalem, kenaikannya ke langit, dan kembali
lagi ke Masjid haram .
Aspek sejarah juga menjadi faktor berlakunya konflik perebutan tanah antara Israel dengan Islam. Hal
ini terjadi apabila golongan Bani Israel yang pernah memerintah di beberapa kawasan Palestin
menjadikan faktor tersebut sebagai dorongan kepada mereka untuk mendapatkan kem bali tanah
Palestin . Bani Israel mendakwa mereka layak memerintah di tanah Palestin kerana mereka lebih
lama bertapak atau mentadbir di sana. Namun begitu, kajian sejarah menunjukkan bahawa zaman
pemerintahan Bani Israel di beberapa kawasan di Palestin begitu singkat tempoh masanya iaitu tidak
lebih daripada 4 kurun, berbanding kerajaan Islam iaitu selama 12 kurun (6361917) . Majoriti Yahudi
iaitu golongan Israel telah keluar dari tanah Palestin dan memutuskan hubungan dengan Palestin
selama 18 kurun manakala penduduk peribumi tetap menetap di situ. Keadaan mula berubah apabila
golongan Israel datang kembali menuntut hak mereka yang mengatakan bahawa tanah Palestin itu
adalah kepunyaan mereka dan bertindak mengusir keluar penduduk tetap di Palestin dengan biadab
oleh rejim Zionis pada tahun 1948. Perebutan tanah ini menjadi faktor konflik antara Israel dan
Palestin sehingga berlaku kekacuan dan peperangan yang berterusan, namun begitu terdapat faktor-
faktor lain juga menjadi punca kepada konflik ini seperti Ideologi Zionosme dan faktor ekonomi.

4.3 Faktor-faktor lain
Faktor Ideologi Zionisme
Theodor Herzl (1860-1940), seorang wartawan Yahudi berasal dari Austria telah membawa ideologi
zionisme dalam agenda dunia pada akhir abad ke-19. Herzl dan rakan-rakannya melihat
keyahudian sebagai sebuah nama ras bukan sebuah masyarakat beriman. Mereka mengatakan
bahawa orang-orang Yahudi menjadi sebuah ras terpisah dari bangsa Eropah dan ini menyebabkan
amat mustahil bagi mereka untuk hidup bersama-sama. Oleh sebab itu, amat penting ertinya bagi
mereka untuk membangun tanah air mereka sendiri. Pada mulanya Rheodor Herzl mencadangkan
Uganda sebagai tempat atau negara orang Yahudi tetapi kemudiannya memutuskan Palestin menjadi
negara orang-orang Yahudi. Alasannya Palestin dianggap sebagai tanah air bersejarah bagi orang
Yahudi. Ideologi Zionisme juga menekankan bahawa mereka tidak hidup aman dan damai dengan
bangsa-bangsa lainnya. Keadaan ini telah menyebabkan konflik Palestin-Israel berlarutan sehingga
mencapai satu masa yang sangat panjang dan menjadikan keadaan di bumi Palestin huru-hara.
4.4 Faktor ekonomi
Terusan Suez terkenal sebagai sebuah terusan buatan manusia yang terbesar terletak antara Mesir
dan Semenanjung Sinai dengan kepanjangan 163 kilometer (101 batu) dan kelebaran 300m (984
kaki) dan berfungsi antara Pelabuhan Said di Laut Mediterranean dan Suez di Laut Merah. Terusan
ini membenarkan laluan air secara dua hala, dan menjadi kepentingan antara Eropah dan Asia tanpa
mengelilingi benua Afrika. Sebelum pembukaan dalam tahun 1869, barang dagangan dipunggah
keluar dari kapal dan diangkut menggunakan kenderaan darat antara 2 laut tersebut. Terusan
tersebut menggabungkan dua bahagian, Utara dan Selatan tasik besar Bitter yang menyambungkan
Laut Mediterranean hingga Teluk Suez di Laut Merah.
Akibat kekhuatiran Israel terhadap Revolusi Mesir pada tahun 1952 dan perhubungan persahabatan
yang lebih erat dengan Amerika Syarikat yang cuba diwujudkan oleh pemimpin baru Mesir Gamal
Abdul Naseer. Israel bercadang melancarkan perang tetapi tidak kesampaian kerana risau akan
hubungan dengan Amerika Syarikat. Pada bulan Julai pendedahan dibuat bahawa serangan
beberapa bom dan kebakaran di beberapa buah pawagam Kaherah pada musim panas sebelumnya
dikatakan pengkhianatan beberapa orang Yahudi Mesir adalah angkara hasutan Lavon di Israel. Ben
Gurion yang menggantikan pemerintahan telah menyerang pusat Mesir di Gaza pada 17 Februari
1955 menyebabkan hampir 40 orang Mesir terbunuh. Akibatnya, Abdul Naseer yang tidak
berpuashati walaupun pada dasarnya menerima perdamaian kerana berfikiran betapa terdedahnya
Mesir terhadap serangan Israel, beliau telah mengambil langkah sendiri dengan memiliknegarakan
Terusan Suez yang mempunyai kepentingan yang besar terhadap Israel dan penyokong-
penyokongnya.
Pemiliknegaraan Terusan Suez oleh Mesir melalui ucapan Gamal Abdul Naseer yang memerintah
Mesir pada ketika itu menyebabkan ketidakpuashatian beberapa pihak yang mempunyai
kepentingannya. Ekoran daripada itu, Israel telah melancarkan serangannya ke atas Mesir yang
menyebabkan konflik antara dua negara ini semakin sengit. Ditambahkan lagi apabila terdapat pihak
lain yang turut mengambil kesempatan dalam hal tersebut. Hal ini disebabkan Israel mempunyai
kepentingan ekonomi terhadap Terusan Suez iaitu laluan untuk mengangkut senjata perang yang
diimport dari Perancis, menyebabkan mereka bertekad untuk menyekat kuasa Mesir di kawasan
tersebut dan keadaan ini menjadikan persengketaan antara Mesir dengan Israel semakin rumit.
5.0 RESPON KUASA-KUASA BARAT
5.1 Amerika Syarikat
Perjanjian Oslo 1993 merupakan kesepakatan damai terpenting di Timur Tengah setelah perjanjian
damai IsraelMesir di Camp David 1979. Namun kesepakatan Oslo itu, akhirnya tewas di tangan
ekstremis Yahudi, Yigal Amir pada 1995. Peristiwa tersebut disebabkan oleh Parti Buruh yang
moderat dari Parti Likud yang radikal pada pilihan raya umum Israel bulan Mei 1996. Hal ini
menyebabkan tersendatnya pelaksanaan kesepakatan Oslo yang merupakan hasil kesepakatan
antara Palestine Liberation Organization (PLO) dengan parti buruh Israel. Pada bulan Januari 1997,
terjadi kesepakatan Hebron dengan perundingan IsraelPalestin pada era Perdana Menteri Benjamin
Netanhayu. Kesepakatan Hebron ini hampir gagal, seandainya tidak ada campur tangan langsung
utusan khusus Amerika Syarikat pada ketika itu ialah Dennis Ross.
Palestin harus menerima Kota Hebron dibahagi menjadi dua bahagian pada bulan Mei 1999 yang
dimenangkan pimpinan parti buruh Ehud Barak yang memberi semula harapan atas masa depan
perdamaian. Perdana Menteri Israel, Ehud Barak dan pimpinan Palestin Yasser Arafat
menandatangani kesepakatan Sharm elSheikh di Mesir pada bulan September 1999. Perdana
Menteri Barak lebih memilih kesepakatan akhir langsung daripada kesepakatan bertahap. Faktor
inilah yang mendorong Amerika Syarikat, Bill Clinton dengan persetujuan Perdana Menteri Ehud
Barak menggelar perundingan Camp David II pada bulan Julai 2000 yang akhirnya mengalami
kakalahan. Kegagalan perundingan Camp David merupakan kejatuhan awal menuju pemerintah
Perdana Menteri Ehud Barak. Pasca perundingan Camp David, Israel dilihat krisis politik luar biasa
yang memaksa Perdana Menteri Barak mengundur diri dan menggelar pilihanraya lebih cepat.
Kegagalan ini juga menunjukkan rakyat Israel belum bersedia menciptakan perdamaian yang adil di
Timur Tengah. Mereka mengakui kedaulatan Palestin atas Masjid AlAqsa dan ini merupakan
penyebab utama gagalnya perundingan Camp David.
Pada tahun 2007, pada zaman pemerintahan akhir George W. Bush, Quartet On Middle East
ditambah dengan penyertaan dari Mesir telah mengadakan konferensi untuk kembali membicarakan
perdamaian antara Palestin dan Israel di Annapolis. Bagi pertama kalinya disebutkan secara eksplisit
dalam proses perundingan.. Penerimaan resoulusi dua Negara dalam Annapolis Conference, maka
telah terjadi perubahan dalam platform politik yang telah lama dialami oleh Palestin dan Israel.
Walaupun demikian, hasil dari Annapolis Conference masih belum dapat diimplementasikan kerana
semakin rumitnya konflik yang terjadi di wilayah Palestin dan Israel.
Deklarasi Belfour pada 1917, telah menjanjikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestin pada
gerakan Zionis. Di bawah payung legitimasi Perjanjian SkyesPicot dan deklarasi Belfour tersebut,
warga Yahudi di Eropah mulai melakukan imigrasi ke tanah Palestin pada tahun 1918. Tindakan
Amerika Syarikat yang enggan menerima dan mengiktiraf kerajaan Hamas yang telah memenangi
pilihan raya Palestin yang telah diadakan secara bebas dan demokratik. Hal ini menampakkan
double standardnya Amerika Syarikat yang kononya menjuarai demokrasi dan ingin mewujudkan
negara yang demokratik di rantau tersebut, tetapi enggan mengiktiraf Hamas apabila ia memenangi
pilihanraya. Setiap kali Israel melakukan keganasan, Amerika akan mempertahankannya. Semasa
Gaza diserang, Bush telah mengistiharkan Hamas itulah pengganas. Demokrasi yang kononnya yang
hendak dijuarai oleh Amerika di dunia Arab hanyalah permainan politik semata-mata.
Amerika telah membekalkan senjata kepada Israel dan Washington telah mencadangkan usaha
damai kepada Israel tetapi Israel telah menolaknya. Dasar Amerika Syarikat terhadap proses damai
berubahubah, tetapi kandungannya konsisten sejak dari awal lagi. Peranan Amerika Syarikat
berubahubah pada tahap rundingan yang berlainan bagi memastikan laluannya tidak terpesong di
Timur Tengah yang sentiasa bergolak. Ia berubah daripada peranan pihak pemudah cara, menjadi
tuan rumah kepada pihak yang terlibat hinggalah kepada rakan kongsi penuh yang menentukan
kompromi dan mengenakannya ke atas rakan kongsi mereka yang lemah. Amerika Syarikat wujud
sebagai kuasa politik dan diplomatik yang merangka kompromi dan menulis surat jaminan kepada
pihak yang terlibat dan menjadi hakim, juri dan pendakwa raya secara serentak. Diplomatik Amerika
ini sejak Persetujuan Oslo ditandatangani pada 13 September 1993 di perkarangan Rumah Putih. Hal
ini kerana hubungan ideologi dengan Israel, tekanan politik dalaman terutama daripada Israel. Di
dalam masa yang sama juga kerana keasyikan dengan penubuhan zon perdagangan yang dikuasai
Amerika Syarikat serta memastikan masyarakat antarabangsa, pengasas undangundang dalam
negeri di Amerika Syarikat dan PBB tidak terlibat dalam proses penyelesaian konflik itu.
Hal ini berlaku di sekitar Israel dan terdapat enam prinsip yang perlu dihormati semasa rundingan itu.
Salah satunya ialah mengekalkan undangundang dan kuasa tentera yang tidak stabil antara Israel
dan Palestin supaya Palestin terus bergantung kepada Israel. Hal ini telah menunjukkan Amerika
Syarikat bukan pengantara yang jujur atau pendamai dalam sebarang cara atau bentuk yang disedari
oleh Palestin semasa Camp David. Amerika Syarikat ini bersifat memaksa dalam pendekatannya dan
wawasannya pula bersifat penjajah. Hal ini jelas sikap berat sebelah kepada sekutunya Israel jelas
kelihatan dalam pendekatan pasukan Clinton yang kebanyakannya Yahudi Zionis yang bertindak bagi
pihak puak kiri dan puak kanan Israel yang kerap kali membentangkan cadangan Israel kepada
Palestin sebagai cadangan damai Amerika Syarikat. Sebaliknya Amerika Syarikat berikrar akan
menyokong Israel jika Israel mengambil risiko yang perlu bagi keamanan dan berjanji akan terus
berada di pihak Israel jika risiko itu dirasakan terlalu besar. Israel ini kebal daripada sebarang tekanan
dan jika enggan melaksanakan perjanjian itu atau mencabul resolusi 242 PBB yang meminta supaya
pertukaran wilayah dilakukan bagi mencapai keamanan. Atas semangat Pax Amerika Timur Tengah
yang baru ini, Washington menyokong Israel dengan memberikan lebih banyak bantuan ketenteraan
dan ekonomi serta subsidi kepada pasukan keselamatan PNA untuk membendung akibat proses
damai yang sememangnya tidak adil dan stabil.
Bagi mengekalkan peranan Clinton sebagai pengantara, pentadbiran Clinton menggunakan beberapa
kaedah penipuan yang menjadi ciri penting diplomasinya. Pentadbiran Clinton sentiasa berbohong
kepada Palestin dan memperdaya kepimpinan ikat supaya mereka percaya Amerika Syarikat
memahami dan bersimpati dengan kekecewaan serta kebimbangan apabila tugas diubah dan
disempitkan terutama apabila resolusi PBB dilangkaui atau dicabul secara terangterangan. Amerika
Syarikat selalu menyediakan perjanjian draf surat jaminan. Jaminan mengenai penempatan dan
Baitulmauqqadis menunjukkan satu lagi penipuan pentadbiran Amerika. Pentadbiran Bush dan
pentadbiran Clinton, menggugut akan memutuskan hubungan dengan pihak yang enggan menerima
surat jaminan itu dan diugut dengan pengasingan. Amerika juga menawarkan insentif pada negara
yang menerimanya, termasuk bantuan, geran, senjata dan pertemuan dengan Presiden Amerika
Syarikat. Hal ini merupakan janji manis yang disertai dengan ugutan. Presiden Clinton berkuasa di
Rumah Putih, beliau lebih kerap menerima Arafat daripada manamana pemimpin luar yang lain
seperti yang disebut dalam Majlis Keselamatan Negara. Proses damai itu merupakan sesuatu yang
peribadi bagi Clinton yang ghairah untuk melaksanakan tetapi garis panduan Pro-Israel yang
diamalkan menjejaskan proses damai. Rundingan status akhir berlangsung sebaik selepas proses
sementara dilaksanakan dengan memihak kepada Yahudi.
Washington memulakan rundingan dengan pegawai Israel mengenai pakej bantuan ketenteraan yang
akan membebaskan pembayar cukai Amerika $ 17 bilion. Hal ini dianggap pendorong kepada Israel
untuk menandatangani dengan Syria dan Palestin yang melibatkan pengunduran dari Golan dan
Tebing Barat. Washington menawarkan kepada Israel perjanjian pertahanan stategik yang
ditandatangani dengan negara NATO, Jepun dan Korea Selatan selepas Perang Dunia Kedua. Surat
jaminan bertarikh 4 September 1999, daripada setiausaha negara Amerika Syarikat, Madeline
Albright menetapkan kami sedar kebimbangan anda mengenai penempatan. Presiden Clinton
mengatakan, Amerika Syarikat tahu kesan kerana aktiviti penempatan haram ini memusnahkan
usaha mencapai keamanan antara Palestin dan Israel. Pentadbiran Clinton mengabaikan isu
penempatan dan merujuk isu ini sebagai tidak membantu, bukan lagi penghalang proses damai.
Pada 4 Oktober 1994, selepas perjanjian Oslo ditandatangani, Timbalan Setiausaha Negara Amerika
Syarikat bagi Timur Tengah, Robert Pellertau mengatakan empat perkara yang salah satunya
pembinaan penempatan haram yang ditaja secara persendirian tidak mencabuli sebarang perjanjian
dengan Amerika Syarikat dan peluasan penempatan seluas selepas Perjanjian Oslo serta bukan lagi
penghalang proses damai tetapi sekadar faktor yang merumitkan proses damai.
Amerika Syarikat juga banyak terlibat dalam perundingan ini yang menyebabkan Israel berwaspada
walaupun jelas Amerika Syarikat menyebelahi Israel dan pemimpin Israel mengambil sikap berhati
hati dengan tidak mencampuradukkan kepentingan dan wawasan menjadi kuasa besar yang
kadangkala tidak serasi dengan Amerika Syarikat. Penglibatan Amerika ini akan memberi tekanan
kepada Israel. Hal ini berlaku kepada kerajaan pimpinan bermula semasa persetujuan Camp David
dan juga berlaku apabila Amerika Syarikat campur tangan semasa Israel dipimpin oleh Shamir dan
Netanyahu. Pada masa yang sama juga Amerika berulang kali menggunakan apa sahaja yang boleh
untuk menekan Palestin supaya berkompromi. Sebagai contoh, Amerika menggunakan Syria sebagai
alasan untuk mengambil kesempatan daripada hubungan buruk antara Arafat dengan Presiden Hafez
AlAssad.
Pada awal 1999, rundingan SyriaIsrael melangkah setapak ke depan apabila Menteri Luar Syria,
Farouk AsShara, bertemu Perdana Menteri Ehud Barak di Washington begi membincangkan syarat
pengunduran, perjanjian keselamatan dan memulihkan hubungan. Amerika Syarikat terutamanya
Kongres yang menggunakan agenda dalam negerinya sebagai alat untuk menekan Palestin.
Pentadbiran Clinton, yang kononnya seorang kawan menuntut bantuan Arafat supaya mengundi ahli
kongres yang radikal dengan membuat lebih banyak kompromi dan kurang menimbulkan masalah.
Hanya selepas sokongan kuat dari Rumah Putih, Palestin telah mematuhi garis panduan Amerika
dalam isu keselamatan, barulah kongres membenarkan Washington mengekalkan hubungan
diplomatik yang normal dengan PLO. Malah dasar Amerika mengubah proses damai itu menjadi
gencatan senjata yang berterusan bahkan berkekalan yang bukannya suatu perjanjian damai.
Apabila genjatan senjata itu gagal pada 28 September 2000, Washington menyalahkan Palestin
sedangkan ia sendiri yang wajar dipersalahkan. Amerika melepaskan satu demi satu peluang
penyelesaian damai yang menjamin hak negara Palestin yang minimum dan juga keselamatan serta
kewujudan bersama PalestinIsrael sebagai negara yang sama rata. Proses damai yang disalah
anggap sebagai pendamaian menyebabkan Amerika menyatakan dirinya sebagai pendamai dan
Israel sebagai rakan pendamai yang lebih berpengalaman walaupun ketika ia mencabul undang
undang antarabangsa. Oleh itu, kesalahan Israel di peringkat antarabangsa yang tidak dikenakan
hukuman dijamin sepenuhnya oleh Washington yang pastinya menggalakkan Israel supaya terus
mencabul hak Palestin. Malah proses damai tajaan Amerika ini memberikan perlindungan yang
diperlukan Israel untuk merampas lebih banyak tanah, mengepung rakyat Palestin di bandar mereka
sendiri, kuasai mereka dari segi ekonomi dan mengawal mereka secara fizikal.
Amerika Syarikat dan Eropah Barat yang merupakan sekutu Israel terus memberi sokongan kepada
rejim Tel Aviv itu untuk membunuh rakyat Palestin dan bagi Israel sokongan Amerika dan Eropah
amat penting. Mereka tidak kisah bahagian dunia lain khususnya Islam marah tetapi yang penting
ialah Amerika Syarikat dan Eropah menyokongnya. Amerika Syarikat dan Israel memihak kepada
PLO yang diberi bantuan supaya menekan Hamas. Hal ini kerana Amerika dan Israel melihat Hamas
sudah menjadi ancaman kepada Israel. Tujuan Amerika dan Israel adalah untuk memastikan PLO
khususnya organisasi utamanya iaitu Fatah akan sentiasa berseteru dengan Hamas. Amerika
Syarikat juga telah membantu Israel untuk menjadi semakin keras kepala dan perbicaraan gagal
pada hari berikutnya. Fork menyatakan walaupun Amerika Syarikat telah membantu Israel untuk
menjadi lebih kuat secara tentera dibanding dengan semua tetangga Arabnya disatukan, dengan
harapan akan menjadi lebih baik, pendirian menjadi semakin keras dan perdamaian tidak mungkin
akan terjadi.
Perdamaian Bush 1989, pemerintah Bush berpegang kepada Resolusi 242 sebagai landasan bagi
pendamaian. Pada 22 Mei, telah mendesak semua pihak mengambil sikap morderat agar suatu
proses pendamaian dapat dimulai. Kepentingan Israel di tepi Barat dan Gaza, berkaitan dengan
keamanan atau tidak dapat dikomodasikan melalui suatu penyelesaian yang didasarkan atas resolusi
242. Meskipun pemerintahan Bush memberikan suara setuju pada resolusi Dewan Keamanan PBB
yang mengecam Israel kerana tindakan itu dan menuntut sesuai dengan hukum internasional agar
rakyat Palestin dikembalikan ke rumah mereka tanpa ditunda-tunda lagi. Penggantinya dalam jabatan
itu dengan segera mengembalikan tradisi Amerika untuk selalu terlibat dalam pelanggaran yang
dilakukan Israel. Bahkan tanpa adanya ledakan kontreversi, proses keberhasilan dalam perbicaraan
damai cukup suram. Apa yang jelas tidak akan ada kemajuan serius kecuali jika Amerika Syarikat
secara langsung ikut campur tangan menangani masalah-masalah atau konflik.
5.2 Britain

5.2.1 Perjanjian Balfour
Selain Amerika Syarikat, sekutu kuatnya Britain juga telah mencampuri beberapa urusan penting
dalam konflik Israel-Palestin. Hal ini telah pun bermula sebelum konflik ini tercetus lagi. Antara yang
jelas terlihat adalah termeterainya Perjanjian Balfour. Perjanjian Balfour ini telah membawa impak
yang sangat besar ke atas bumi Palestin. Pada tahun 1915, Britain mula menduduki kawasan Iraq
dan akhirnya pada 1917, Britain menduduki semula kawasan Palestin. Tentera Britain yang diketuai
oleh General Allenby telah memasuki Palestin. Deklarasi Balfour berlangsung pada 2 November 1917
antara Arthur James Balfour Menteri Luar Britain dengan Lord Rothschild, pemimpin Zionis Britain.
Antara intipati yang terkandung dan menjadi fokus dalam perjanjian ini adalah:
"Dengan sukacitanya saya ingin menyampaikan kepada tuan atas nama kerajaan Baginda satu
Deklarasi yang mengandungi perasaan simpati terhadap cita-cita Zionis-Yahudi. Deklarasi ini telah
diperkenankan oleh kabinet. Kerajaan Yang Dipertuan Baginda melihat dengan penuh simpati untuk
membentuk atau menjadikan Palastin sebagai Tanah Air Kebangsaan bagi orang-orang Yahudi dan
akan berusaha dengan pelbagai cara bagi memudahkan tercapainya objektif tersebut. Deklarasi ini
perlu difahami secara jelas supaya pelaksanaannya tidak akan mengancam hak-hak sivil dan
keagamaan golongan bukan Yahudi di Palastin dan juga tidak mencabuli hak-hak politik golongan
Yahudi di mana negara pun. Saya akan berterima kasih sekiranya tuan menyampikan deklarasi ini
kepada persatuan Zionist."
Israel sebenarnya telah mendapat naungan daripada kuasa besar sejak dari dulu lagi. Mereka akan
melihat mana negara yang mampu membantu mereka lalu mereka akan jadikan sebagai tempat dan
naungan mereka. Penempatan Yahudi di Palestin meningkat, dari 50,000 sebelum itu kepada
mencecah setengah juta, manakala penduduk Islam Palestin ketika itu hampir mencecah 1.4 juta.
Wakil dari Yahudi ketika deklarasi tersebut, merupakan seorang Yahudi bernama Chaim Weizzmann.
Weizzman juga merupakan seorang saintis, malahan saintis pertama yang menghasilkan bahan
kimia Acetone, digunakan sebagai cordite, iaitu sejenis bahan letupan yang menyumbang besar
kepada kejayaan Britain dalam peperangan. Weizzman mendesak Setiausaha Luar Britain ketika itu,
Arthur Balfour, supaya diadakan Deklarasi tersebut. Kerana terhutang budi ke atas sumbangan
Weizzman, kerajaan Britain pun bersetuju. Pada mulanya, Britain menawarkan tanah di Uganda
kepada Weizmann, namun Weizmann menolak dan mahukan Palestin.

5.2.2 Pembatalan Perjanjian Balfour
Pada tahun 1938, pihak British telah menambah kekuatan tenteranya di Palestin untuk menghadapi
pemberontakan Palestin yang semakin hebat. Orang Yahudi mulai mengebom penduduk awam di
tengah pasar. Kemudian dibalas orang Arab untuk membunuh orang Yahudi. Berlakulah pertempuran
antara tentera British dibantu oleh Yahudi dan orang Arab Palestin. Lebih 10 ribu orang orang British
terbunuh dan cedera dalam peristiwa itu. Begitu juga dengan orang Yahudi. Orang Arab yang syahid
lebih 12 ribu orang. Kemudian tentera Yahudi telah bertambah kepada 42,000 , 20,000 polis, 18,000
pengawal dan 60,000 Yahudi telah melakukan operasi pembersihan di Palestin. Mereka telah
menangkap 50,000 orang dan memusnahkan 5,000 rumah.
Pada tahun 1939, pemberontakan terus menyala sehingga ia tidak mampu dikawal oleh penguasa
British. Akhirnya pihak British membatalkan projek membahagikan Palestin kepada dua dan
membatalkan Perisytiharan Balfour. Mereka mahu menubuhkan kerajaan Palestin berdaulah dalam
masa sepuluh tahun di bawah kepimpinan orang Palestin. Perkara ini ditentang hebat oleh orang-
orang Yahudi. Pihak British menerangkan kepada mereka bahawa ini caranya untuk menenangkan
pemberontakan oleh orang arab Palestin. Pada ketika ini telah berlaku perperangan dunia ke dua di
antara Jerman dan negara-negara Eropah. Lebih dari 25 juta orang telah mati.
Pada tahun 1942 Parti Republikan dan Demokratik di Amerika telah menyokong penuh orang Yahudi
untuk mewujudkan negara di Palestin. Amerika telah meminta kepada British supaya membatalkan
perjanjian dengan orang Arab dan pembahagian Palestin kepada dua. Oleh kerana Britain perlu
kepada pertolongan Amerika untuk menghadapi peperangan yang sengit, mereka telah membatalkan
perjanjian mereka dengan orang Arab dan membenarkan orang-orang Yahudi berhijrah ke Palestin.
Seramai 90 ribu orang Yahudi telah berpindah ke Palestin semasa peperangan tersebut. Pada ketika
ini orang-orang Yahudi merancang untuk menghalau British keluar dari Palestin. Mereka telah
membunuh pegawai British dan memusnahkan pejabat-pejabat British. Pada tahun 1944, Britain
merasakan kepentingan mereka di Palestin dan Yahudi sudah tiada lagi dan mengandaikan bahawa
mereka sudah mampu untuk menubuhkan negara mereka sendiri. Parti Buruh di Britain telah
mengeluarkan keputusan untuk menggalakkan orang-orang Palestin meninggalkan Palestin dan
memberi ganjaran berbentuk kewangan kepada warga Palestin yang berpindah.


5.2.3 Respon Britain Hari Ini : Peace Valley Plan/ The Valley of Peace Initiative
Tindakan HAMAS melancarkan roket adalah satu tindak-balas kepada beberapa siri serangan yang
dilancarkan tentera Israel di sekitar sempadan Gaza yang telah membunuh beberapa orang rakyat
Palestine dan tentera Gaza. Israel jelas tidak menghormati gencatan senjata selama 6 bulan yang
dipersetujui dalam Peace Valley Plan hasil inisiatif Tony Blair, Ketua Pasukan PBB tentang isu
Palestin tatkala melancarkan serangan ke wilayah Gaza bermula pada 4 November 2008. Projek
Valley of Peace atau Lembah Keamanan ini adalah satu usaha untuk menggalakkan kerjasama
ekonomi antara Israel, Jordan dan Palestin. Ia telah mendapat perhatian dan sokongan yang khusus
dari Presiden Israel iaitu Shimon Perez.
Projek ini melibatkan usaha sama kepimpinan tertinggi di Israel dan Palestin untuk melancarkan
projek ekonomi dan industri yang diharapkan dapat mewujudkan peluang perniagaan dan pekerjaan
di samping mengeratkan kerjasama yang erat. Ia juga sebagai satu usaha baru untuk memupuk
persefahaman masyarakat antara kedua-dua negara ini berdasarkan kerjasama ekonomi yang telah
diwujudkan. Fasa perlaksanaan Valley of Peace ini secara khusus merujuk kepada Lembah Arava di
dalam daerah Arava yang menganjur ke Selatan sempadan antara Israel dan Jordan.
Rancangan ini telah mengutamakan sektor swasta dengan memperuntukkan USD 3 Billion iaitu untuk
membina terusan sepanjang 166 kilometer yang dikenali sebagai Two Seas Canal dan
menyambungkan Laut Merah dan Laut Mati. Namun, sesetengah pengkritik telah mempertikaikan
rancangan ini dan mengatakan bahawa lebih baik memajukan Sungai Jordan berbanding Lembah
Arava itu kerana Sungai Jordan mempunyai laluan yang lebih selamat untuk ke Laut Mati dan dapat
mengurangkan risiko serangan. Idea Tony Blair, Perdana Menteri Britain selaku ketua PBB ini
bagaimanapun tidak banyak mengubah keadaan di Palestin dan Israel. Walaupun banyak peluang
perniagaan dan pekerjaan yang dibuka namun masih banyak rakyatnya yang terpaksa menggunakan
terowong rahsia untuk berniaga atau mendapatkan peluang perniagaan. dan seperti yang dinyatakan
tadi pihak HAMAS telah melanggar perjanjian ini dan melancarkan roket ke arah tentera Israel.

6.0 RESPON NEGARA-NEGARA LAIN.
Selain Amerika Syarikat dan Britian, terdapat juga beberapa kuasa Barat yang turut memberikan
respon terhadap konflik Israel dan Palestin. Negara-negara Barat ini terdiri daripada Russia,
Peranchis, Norway, Sepanyol dan lain-lain. Peranchis merupakan salah satu negara di sebalik konflik
ini sebenarnya. Malah ia boleh dianggap sebagai negara yang memulakan konflik ini dan respon
terhadap masalah yang dicipta bersama dengan Britian ini adalah senada dengan kuasa-kuasa Barat
yang lain. Di dalam perjanjian Sykes-Picot Agreement pada bulan Mei 1916, Peranchis bersetuju
menyerahkan Palestin kepada kekuasaan Britian. Hal ini sebenarnya membawa kepada konflik Israel
dan Palestin.
Sebelum kewujudan negara Israel, Britian telah menyerahkan kepada Pertubuhan Bangsa-Bangsa
Bersatu (PBB) bagi menyelesaikan masalah Palestin. PBB telah menubuhkan U.N.S.C.O.P atau
United Nation Special Committee on Palestine yang bertujuan mencari maklumat bagi tujuan
menyelesaikan masalah Palestin dan penubuhan sebuah negara Israel. U.N.S.C.O.P. ini dianggotai
beberapa negara Barat seperti Amerika Syarikat, Soviet Union (Russia), Kanada dan Australia. Di
dalam jawatankuasa ini Soviet Union (Russia) hanya menyokong sebahagian daripada rancangan
negara Israel ini walaupun beberapa negara lain membantah. Jelas dapat dilihat bagaimana sejak
awal lagi respon Russia terhadap isu Israel dan Palestin ini nampak berbelah bagi. Malah hingga
sekarang pun dalam isu Palestin dan Israel ini, respon Russia selalu tidak konsisten. Kadang-kadang
Russia menyokong usul undi menyokong Israel tetapi ada masanya membantah dan mengunakan
kuasa veto mereka.
Selain itu, Sweden menerusi dutanya iaitu Dr. Gunnar Jarring yang merupakan seorang diplomat
yang berpengalaman Timur Tengah telah diberikan tugasan tambahan sebagai wakil khas
Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu dengan Sweden sebagai pengantaranya. Hal ini berlaku
selepas sehari pengumuman Resoulusi 242 Majlis Keselamatan Bangsa-Bangsa Bersatu mengenai
pendamaian antara Israel dan Palestin. Di dalam hal ini Dr. Gunnar Jarring telah berusaha selama
enam tahun bagi menyelesaikan masalah ini supaya segala persengketaan ini dapat dileraikan
dengan keadaan yang aman. Di sini jelas menunjukkan peranan yang dimainkan oleh Sweden
menerusinya dutanya untuk membantu menyelesaikan isu Palestin dan Israel ini.
Justeru, Soviet Union ( Russia) telah memberikan respon yang agak kuat terhadap konflik ini apabila
memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Syarikat dan Israel telah membawa implikasi
besar terhadap perjanjian damai yang diharap-harapkan. Tindakan ini disebabkan oleh peranan Israel
sebagai negara penampan Amerika Syarikat di Asia Barat dan kebetulan pada masa itu perang
dingin sedang berlaku di antara Soviet Union dengan Amerika Syarikat. Hal ini sekaligus telah
menyebabkan konflik Israel dan Palestin semakin hangat.
Kegagalan usaha Dr. Gunnar Jarring telah menyebabkan Setiausaha Agung Pertubuhan Bangsa-
Bangsa Bersatu pada masa itu, U Thant cuba mengembalikan sokongan daripada kuasa-kuasa
besar. Bemula pada bulan April 1969, Britain, Peranchis, Soviet Union dan Amerika Syarikat
bermesyuarat dengan harapan untuk mencari jalan penyelesaian berhubung isu Palestin dan Israel
ini. Namun, adakah kuasa-kuasa Barat ini terutama Soviet Union dan Amerika Syarikat betul-betul
serius dan mengenepikan persengketaan mereka. Adakah ini merupakan salah satu cara untuk
masing-masing menunjukkan kekuatan masing-masing semasa perang dingin? Di sini kita akan
melihat sendiri keikhlasan dua negara kuasa besar ini dalam usaha mendamaikan konflik Israel dan
Palestin dan respon kedua-duanya yang adakalanya bertentangan sehingga menimbulkan
kecelaruan.
Selain itu Russia juga turut memainkan peranan penting di dalam usaha damai selepas perang
dingin. Dalam perjanjian damai antara dua negara berkonflik ini iaitu Israel dan Palestin, Russia telah
mengambil inisiantif bekerjasama dengan Amerika Syarikat dan beberapa kuasa Barat lain menaja
Perjanjian Oslo sebagai salah satu cara untuk mendamaikan kedua-dua negara ini. Perjanjian Oslo
ini berlaku pada 20 Ogos 1993. Dalam Perjanjian Oslo ini, Norway juga turut memainkan peranan
penting walaupun perjanjian ini mendapat kritikan daripada sarjana-sarjana serta penganalisis-
penganalisis politik. Selain menjadi tuan rumah kepada perjanjian ini, Norway turut menemukan
pemimpin-pemimpin kuasa besar seperti Presiden Amerika Syarikat, Bill Clinton dan Presiden
Russia, Ditmitry Melvedev terutamanya selepas tamat era perang dingin. Hal ini amat penting kerana
melalui perjanjian Oslo ini, tindakan bagi proses damai Israel dan Palestin semakin serius.
Selain itu, peranan yang dimainkan oleh negara Barat yang lain pula adalah tidak begitu menonjol.
Kebanyakkan negara Barat lain peranannya tidak begitu nampak kerana kebanyakkan mereka
bergabung membuat keputusan di bawah Kesatuan Eropah ( EU ). Melalui Kesatuan Eropah, negara-
negara Barat lain seperti Sepanyol, Itali, Peranchis, Belgium, Belanda, Jerman dan banyak lagi
memainkan peranan penting bagi membantu menyelesaikan konflik dua negara bergolak ini. Antara
peranan yang dimainkan oleh Kesatuan Eropah ialah menjadi pengantara dalam Perjanjian Oslo
yang diwakili oleh Norway dan Perjanjian Camp David. Selain itu negara-negara Barat ini menerusi
Kesatuan Eropah turut menghantar bantuan kemanusian dan lain-lain bantuan apabila berlakunya
peperangan antara dua kuasa ini. Contohnya makanan, perubatan dan pendidikan.
Namun begitu yang menjadi tanda tanya apakah negara-negara Barat selain kuasa-kuasa besar ini
terutama melalui Kesatuan Eropah tidak membantah Israel sekiranya serangan dilancarkan tetapi
apabila Palestin melancarkan serangan ke atas Israel, negara-negara Barat lain ini menerusi
Kesatuan Eropah ini kuat pula mengutuk serangan. Sebaliknya selepas serangan Israel, kuasa Barat
yang lain ini akan sibuk-sibuk untuk menghantar bantuan kemanusian daripada mengutuk atau
mengambil tindakan yang tegas terhadap Israel. Di sini jelas sekali sikap berat sebelah kuasa-kuasa
Barat yang bernaung di bawah Kesatuan Eropah ini walaupun mereka banyak kali ingin
menyelesaikan konflik Israel dan Palestin ini.

7.0 KESIMPULAN
Secara tuntasnya dapat disimpulkan bahawa konflik Israel dan Palestin ini merupakan satu konflik
yang berpanjangan sejak dahulu lagi. Hal ini disebabkan oleh pelbagai faktor terbabit yang
mempengaruhi kemunculan gerakan zionisme dan penubuhan negara Israel. Antaranya ialah faktor
agama, perebutan tanah, faktor ekonomi dan ideologi Zionisme. Hal ini telah membangkitkan konflik
di antara dua negara ini dengan kuasa-kuasa besar berada di belakang konflik ini. Di dalam konflik
ini, ia telah mengundang pelbagai respon daripada negara-negara barat dan sudah pastinya respon
yang pelbagai. Antara respon negara-negara Barat paling ketara dapat dilihat ialah usaha mencari
jalan pendamaian di antara Israel dan Palestin. Namun begitu sehingga sekarang, usaha damai yang
dianjurkan oleh pihak Barat selalunya mengalami jalan buntu dan usahanya hanya terjadi semasa
adanya peperangan di antara kedua-dua negara ini. Oleh itu, kita mengharapkan agar suatu hari
nanti akan ada jalan penyelesaian kepada konflik Israel dan Palestin demi keamanan sejagat.