Anda di halaman 1dari 18

Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

1

STATUS PASIEN

Data Demografi
 Nama : Ghufran Al Raja
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Usia : 14 tahun
 Status Pernikahan : Belum Menikah
 Kebangsaan : Indonesia
 Agama : Islam
 Pekerjaan : Pelajar
 Pendidikan : SMP
 Tanggal MRS : 22-11-2013
Anamnesis
 Autoanamnesis
 Tempat : Eye Center Siloam Hospital Lippo Village
 Waktu : 17.00 WIB
Keluhan Utama
Pandangan mata kiri kabur sejak lahir yang baru disadari semejak 2 minggu SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
2 minggu SMRS pasien, an. Ghufan, berusia 14 tahun, menyadari bahwa pandangan di mata
kirinya kabur saat sedang bermain dengan temannya. Keluhan ini sudah dirasakan pasien
semenjak lahir namun pasien berfikir bahwa penyakitnya tidak serius karena tidak
menganggu kegiatannya sehari-hari. Pasien pernah berobat ke dokter sebelumnya untuk
keluhannya yang sekarang, dan dilakukan pemeriksaan titer antibody toxoplasma yang
menunjukkan peningkatan titer IgG dengan titer IgM yang normal. Lalu pada tanggal 23
November 2013 pasien datang ke poliklinik mata Siloam Hospital Lippo Village untuk
memeriksakan kembali mata kirinya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami trauma pada kedua matanya. Pasien tidak mengalami
komplikasi saat dalam kandungan. Pasien mengaku tidak pernah mengalami keluhan seperti
gangguan pendengaran, hidrosefalus, gangguan psikomotor, maupun riwayat kejang saat
kecil. Pasien mengaku tidak memiliki riwayat asma, DM, dan alergi. Pasien tidak pernah
mengalami sakit berat yang harus membuatnya dirawat di rumah sakit.


Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

2

Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien. Tidak ada
riwayat penyakit berat di keluarga.

Riwayat Sosial
Pasien mengaku tidak merokok, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol. Pasien tidak
pernah kontak dengan binatang kucing, namun pasien memiliki hewan peliharaan burung.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : Keadaan umum pasien baik
Kesadaran : Composmentis
Status Oftalmologis
Visus
AVOD : 20/20
AVOS : 20/100 tidak terkoreksi dengan Pinhole






Kedudukan Bola Mata OD OS
Posisi Orthoposisi Orthoposisi
Eksoftalmus Tidak ada Tidak ada
Enoftalmus Tidak ada Tidak ada
Trofia Tidak ada Tidak ada
Foria Tidak ada Tidak ada


Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

3

Pergerakan Bola Mata OD OS
Nasal + +
Temporal + +
Superior + +
Inferior + +
Nasal Superior + +
Nasal Inferior + +
Temporal Superior + +
Temporal Inferior + +

Palpebra Superior OD OS
Bengkak Tidak Ada Tidak Ada
Hiperemi Tidak Ada Tidak Ada
Benjolan Tidak Ada Tidak Ada
Chalazion Tidak Ada Tidak Ada
Hordeolum Tidak Ada Tidak Ada
Enteropion Tidak Ada Tidak Ada
Abses Tidak Ada Tidak Ada
Ptosis Tidak Ada Tidak Ada
Blefarospasme Tidak Ada Tidak Ada
Lagostalmus Tidak Ada Tidak Ada
Eksteropion Tidak Ada Tidak Ada

Palpebra Inferior OD OS
Bengkak Tidak Ada Tidak Ada
Hiperemi Tidak Ada Tidak Ada
Benjolan Tidak Ada Tidak Ada
Chalazion Tidak Ada Tidak Ada
Hordeolum Tidak Ada Tidak Ada
Enteropion Tidak Ada Tidak Ada
Abses Tidak Ada Tidak Ada
Ptosis Tidak Ada Tidak Ada
Blefarospasme Tidak Ada Tidak Ada
Lagostalmus Tidak Ada Tidak Ada
Eksteropion Tidak Ada Tidak Ada

Area Lakrimal dan Punctum Lakrimal OD OS
Bengkak Tidak Ada Tidak Ada
Hiperemi Tidak Ada Tidak Ada
Fistula Tidak Ada Tidak Ada
Benjolan Tidak Ada Tidak Ada



Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

4

Margo Palpebra Superior et Silia OD OS
Bengkak Tidak Ada Tidak Ada
Hiperemi Tidak Ada Tidak Ada
Ulkus Tidak Ada Tidak Ada
Chalazion Tidak Ada Tidak Ada
Hordeolum Tidak Ada Tidak Ada
Trikiasis Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada

Margo Palpebra Inferior et Silia OD OS
Bengkak Tidak Ada Tidak Ada
Hiperemi Tidak Ada Tidak Ada
Ulkus Tidak Ada Tidak Ada
Chalazion Tidak Ada Tidak Ada
Hordeolum Tidak Ada Tidak Ada
Trikiasis Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada

Konjungtiva Tarsalis Superior OD OS
Kemosis Tidak Ada Tidak Ada
Hiperemis Tidak Ada Tidak Ada
Anemi Tidak Ada Tidak Ada
Folikel/Cobble stone Tidak Ada Tidak Ada
Giant papil Tidak Ada Tidak Ada
Membran/Pseudomembran Tidak Ada Tidak Ada
Litiasis Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Simblefaron Tidak Ada Tidak Ada

Konjungtiva Tarsalis Inferior OD OS
Kemosis Tidak Ada Tidak Ada
Hiperemis Tidak Ada Tidak Ada
Anemi Tidak Ada Tidak Ada
Folikel/Cobble stone Tidak Ada Tidak Ada
Giant papil Tidak Ada Tidak Ada
Membran/Pseudomembran Tidak Ada Tidak Ada
Litiasis Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Simblefaron Tidak Ada Tidak Ada

Konjungtiva Bulbi OD OS
Sekret Tidak Ada Tidak Ada
Kemosis Tidak Ada Tidak Ada
Xerosis Tidak Ada Tidak Ada
Perdarahan Subkonjungtiva Tidak Ada Tidak Ada
Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

5

Injeksi Konjungtiva Tidak Ada Tidak Ada
Injeksi Silier Tidak Ada Tidak Ada
Injeksi Episklera Tidak Ada Tidak Ada
Pterigium Tidak Ada Tidak Ada
Pinguekula Tidak Ada Tidak Ada
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada
Tumor Tidak Ada Tidak Ada

Kornea OD OS
Kejernihan Jernih Jernih
Gambaran Kelainan Normal Normal
Arkus Senilis Tidak Ada Tidak Ada
Bentuk Bulat Bulat
Sikatriks Tidak Ada Tidak Ada

Sklera OD OS
Nodul Tidak Ada Tidak Ada
Warna Putih Putih
Stafiloma Tidak Ada Tidak Ada
Ruptur Tidak Ada Tidak Ada

Tekanan Intraokular OD OS
Palpasi Normal Normal
Tonometri Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Iris OD OS
Warna Cokelat Cokelat
Gambaran Radier Baik Baik
Eksudat Tidak Ada Tidak Ada
Atrofi Tidak Ada Tidak Ada
Sinekia Anterior Tidak Ada Tidak Ada
Sinekia Posterior Tidak Ada Tidak Ada
Rubeosis Iris Tidak Ada Tidak Ada
Iris Tremulans Tidak Ada Tidak Ada
Iris Bombe Tidak Ada Tidak Ada
Iridodialisis/ iris robek Tidak Ada Tidak Ada

COA OD OS
Kedalaman Dalam Dalam
Flare Tidak Ada Tidak Ada
Hipopion Tidak Ada Tidak Ada
Hifema Tidak Ada Tidak Ada
IOL Tidak Ada Tidak Ada

Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

6

Pupil OD OS
Warna Hitam Hitam
Bentuk Bulat Bulat
Besar 3 mm 3 mm
Letak Sentral Sentral
Isokoria/Anisokoria Isokor Isokor
Refleks Cahaya Langsung + +
Refleks Cahaya tidak Langsung + +
Seklusio Pupil Tidak Ada Tidak Ada
Oklusio Pupil Tidak Ada Tidak Ada
Leukokoria Tidak Ada Tidak Ada

Lensa OD OS
Kejernihan Jernih Jernih
Kekeruhan Tidak Ada Tidak Ada
Shadow test - -
Letak Lensa Normal Normal
IOL Refleks - -

Viterus OD OS
Kejernihan Jernih Jernih
Flare Tidak Ada Tidak Ada
Sel Radang Tidak Ada Tidak Ada
Sel Darah Merah Tidak Ada Tidak Ada
Fibrosis Tidak Ada Tidak Ada

Funduskopi OD OS
Refleks Fundus + +
Media Jernih Jernih
Bentuk Papil Bulat Bulat
Warna Papil Jingga Jingga
Batas Papil Tegas Tegas
Cup/Disc ratio 0,3 0,3
Arteri Vena Ratio 2/3 2/3
Makula Lutea refleks+ Terdapat Macular scar
Retina Sentral Tenang Tenang
Retina Perifer Tenang Tenang





Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

7



RESUME
 Anamnesis
- Pandangan mata kiri kabur sejak lahir yang baru disadari semejak 2 minggu
SMRS
- Pasien pernah berobat ke dokter sebelumnya untuk keluhannya yang sekarang,
dan dilakukan pemeriksaan titer antibody toxoplasma yang menunjukkan
peningkatan titer IgG dengan titer IgM yang normal

 Status Generalis
Keadaan umum pasien baik.

 Status Oftalmologis
Hasil pemeriksaan yang bermakna ditemukan, yaitu:
OD OS
20/20 VISUS 20/100 Tidak terkoreksi dengan
Pinhole
DbN FUNDUSKOPI Terdapat Macular Scar

Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

8

DIAGNOSIS KERJA
 OD : Normal
 OS : Chorioretinitis ec post infeksi Toxoplasma

TATALAKSANA
Edukasi menjaga imunitas tubuh dengan gizi yang seimbang dan dapat pula diberikan
obat-obat yang meningkatkan imunitas, serta menjaga hygine yang baik.
PROGNOSIS
Prognosis OD OS
Ad Visam Ad Bonam Dubia ad Malam
Ad Cosmeticam Ad Bonam Ad Bonam
Ad Fungsionam Ad Bonam Dubia ad Malam
Ad Sanationam Ad Bonam Dubia
Ad Vitam Ad Bonam Ad Bonam















Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

9

PEMBAHASAN

Dua minggu SMRS pasien, an. Ghufan, berusia 14 tahun, menyadari bahwa
pandangan di mata kirinya kabur saat sedang bermain dengan temannya. Keluhan ini sudah
dirasakan pasien semenjak lahir namun pasien berfikir bahwa penyakitnya tidak serius karena
tidak menganggu kegiatannya sehari-hari. Pasien pernah berobat ke dokter sebelumnya untuk
keluhannya yang sekarang, dan dilakukan pemeriksaan titer antibody toxoplasma yang
menunjukkan peningkatan titer IgG dengan titer IgM yang normal. Hal ini menandakan
infeksi toxoplasma pasien sudah tidak aktif. Lalu pada tanggal 23 November 2013 pasien
datang ke poliklinik mata Siloam Hospital Lippo Village untuk memeriksakan kembali mata
kirinya.
Pasien mengaku tidak pernah mengalami trauma pada kedua matanya. Pasien tidak
mengalami komplikasi saat dalam kandungan. Pasien mengaku tidak pernah mengalami
keluhan seperti gangguan pendengaran, hidrosefalus, gangguan psikomotor, maupun riwayat
kejang saat kecil. Pasien mengaku tidak memiliki riwayat asma, DM, dan alergi. Pasien tidak
pernah mengalami sakit berat yang harus membuatnya dirawat di rumah sakit.
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien. Tidak
ada riwayat penyakit berat di keluarga.
Pasien mengaku tidak pernah kontak dengan binatang kucing, namun pasien memiliki
hewan peliharaan burung.
Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan penurunan visus pada mata kiri pasien yaitu
menjadi 20/100 yang tidak terkoreksi dengan pinhole. Selain itu pada pemeriksaan
funduskopi didapatkan Scar pada makula mata kiri pasien. Kemungkinan scar tersebut
merupakan luka post infeksi toxoplasma pasien yang sudah tidak aktif lagi.
Berdasarkan anamnesis dan hasil pemeriksaan oftalmologis, didapatkan diagnosis
kerja : OD: normal; OS: Chorioretinitis ec post infeksi Toxoplasma.
Hasil diagnosis kerja OS yaitu Chorioretinitis ec post infeksi Toxoplasma berdasarkan
hasil pemeriksaan titer antibodi IgG toxoplasma yang meningkat yang menandakan infeksi
toxoplasma pasien sudah tidak aktif lagi dan ditemukannya scar pada macula OS pasien.
Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

10

Tatalaksana pada pasien ini adalah menjaga imunitas tubuh dengan gizi yang
seimbang dan dapat pula diberikan obat-obat yang meningkatkan imunitas, serta menjaga
hygine yang baik.





















Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

11

TINJAUAN PUSTAKA
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat
ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama
Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan
hewan peliharaan. Penderita toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu gejala klinis
yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan
dalam praktek dokter sehari-hari. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil
trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsi.
Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini
juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan hewan peliharaan lainnya.
Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis
ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing. Untuk tertular penyakit toxoplasmosis
tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing atau anjing tetapi juga bisa terjadi
pada orang lainnya yang suka memakan makanan dari daging setengah matang atau sayuran
lalapan yang terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit toxoplasmosis.
Etiologi
 Kongenital toksoplasmosis
Ketika wanita dengan pertahanan tubuh yang lemah terinfeksi saat kehamilan, terjadi
tranmisi transplacenta dari T. gondii kepada fetus dan menyebabkan terjadinya
congenital toksoplasmosis
 Toksoplamosis didapat
o Memakan kista jaringan yang berasal dari daging sapi, daging kambing, atau
daging babi yang mentah atau setengah matang.
o Memakan ookista yang berasal dari susu, air, atau sayuran.
o Menghirup ookista
o Transfusi darah yang terkontaminasi, transplantasi organ, dan inokulasi yang
tidak disengaja saat berada di laboratorium


Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

12

Patofisiologi
Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista.
Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3 – 7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang
memiliki inti sel. Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi
menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit.
Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10
– 100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot
jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran
10-12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan
feces kucing.
Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau
gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces
kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan
mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleha hospes perantara seperti manusia,
sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk
kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak
dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan
tikus yang
mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing
tersebut.
Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang
mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat, kecoa, tikus, dan
melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin terjadi utero melalui
placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi juga terjadi di laboratorium, pada
peneliti yang bekerjad dengan menggunakan hewan percobaan yang terinfeksi dengan
toxoplasmosis atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi
dengan toxoplasma gondii.
Infeksi akut ditandai oleh tachyzoit yang menginvasi dan berproliferasi pada hampir
semua tipe sel mamalia kecuali eritrosit yang tidak mempunyai inti. Saat organism mencapai
mata melalui aliran darah, tergantung pada status imun host, akan dimulai fase klinis atau
subklinis yang terjadi di retina. Jika imun host memberi respon maka takizoit akan merubah
Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

13

dirinya menjadi bradizoit dan terbentuklah kista. Kista sangat resisten terhadap pertahanan
tubuh host, dan akan terjadi infeksi laten yang menjadikannya kronis.
Jika terjadi infeksi subklinis, tidak ada perubahan yang terjadi pada pemeriksaan
funduskopi. Kista akan menetap pada retina yang nampaknya normal. Saat status imun host
menurun oleh karena sebab apapun, dinding kista akan hancur, melepaskan organism-
organisme tersebut ke retina, dan proses inflamasi pun dimulai kembali. Jika terjadi lesi klinis
aktif, terjadi proses penyembuhan dan terbentuk chorioretinal scar. Kista seringkali tetap
inaktif diantara atau menempel pada scar.
Parasit toxoplasma jarang teridentifikasi pada sampel aqueous humor dari pasien
dengan ocular toxoplasmosis aktif. Hal ini menunjukkan bahwa proliferasi parasit terjadi
hanya pada fase awal infeksi dan bahwa retinal damage mungkin disebabkan oleh respon
inflamasi lanjutan.
Saat sel epitel berpigmen retina terinfeksi oleh toxoplasma gondii, terdapat
peningkatan produksi sitokin – sitokin tertentu termasuk interleukin 1 beta (IL-1β),
interleukin 6 (IL-6). Granulocyte – macrophage colony – stimulating factor (GM-CSF), dan
molekul adhesi intercellular (ICAM). Pasien dengan toxoplasmic retinochoroiditis didapat
mempunyai level IL-1 yang lebih tinggi dibanding pasien – pasien asimptomatis.
Anamnesis
Faktor resiko terjadinya toxoplasmosis:
 Imunodefisiensi (misalnya AIDS), pasien dengan imunosupresi misalnya pada pasien
post transplantasi organ atau dengan penyakit keganasan.
 Kontak dengan kucing
 Riwayat memakan daging mentah atau setengah matang
 Gejala:
o Pandangan kabur
o Floaters
o Nyeri
o Mata merah
o Metamorphopsia
o Fotofobia
Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

14

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang tampak dilihat dengan funduskopi
dan hasil pemeriksaan pada pemeriksaan penunjang.
Hasil laboratorium
 Serology
o Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis pada pemeriksaan fundus.
Pemeriksaan serology hanya sebagai pemeriksaan tambahan
o Serum titer antibody antitoksoplasma dapat ditemukan dengan beberapa tehnik :
 Enzyme-Linked immunosorbent assay (ELISA)
 Indirect fluorescent antibody test
 Indirect hemagglutination test
 Complement fixation
 Sabin-feldman dye test
o Temuan serology penting untuk menentukan apakah infeksi ini termasuk akut atau
kronik. Infeksi akut didiagnosis dengan seroconversion. Titer IgG menunjukkan 4-
fold dan akan memuncak pada 6-8 minggu setelah terjadinya infeksi, dan dapat
bertahan selama lebih dari 2 tahun selanjutnya. Antitoxoplasma IgM akan muncul
pada minggu pertama infeksi. Selain IgM yang akan muncul, pada infeksi yang akut
juga akan ditemukan peningkatan IgA dan IgA dapat bertahan hingga 1 tahun.
 Imaging Studies
o Flourescein angiography (FA) dari lesi yang aktif akan menunjukkan
hypoflourescent selama infeksi, dan diikuti dengan kebocoran yang progresif.
o USG diiindikasikan untuk memeriksa media penglihatan terutama badan vitreous.
Temuan yang paling banyak ditemukan adalah intravitreal punctiform echoes,
penebalan dari hyaloids posterior, parsial atau total vitreous detachment, dan
penebalan fokal retinokoroid.
 Pemeriksaan Histopatologi
o Pemeriksaan ini adalah kriteria standar untuk diagnosis. Pada pemeriksaan
ditemukan, tachyzoite tampak oval atau bulan sabit. Pewarnaan tachyzoite dengan
menggunakan pewarnaan Giemsa. Pada pewarnaan akan tampak sitoplasma
berwarna biru dan nucleus berwarna merah dan berbentuk sferis.
Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

15

o Pada bentuk kista, pada dindingnya ditemukan eosinofil, argyrophilic dan PAS
positif. Bentuk kista terdiri dari 50-3000 bradyzoit.
o Peradangan tampak nyata pada retina, vitreous dan koroid. Koroid yang berdekatan
dengan retina menunjukkan inflamasi granulomatosa. Retina mengalami parsial
nekrosis dengan batas yang jelas. Setelah menyembuh, area retina yang terinfeksi
hancur dan terdapat adhesi corioretina.

Tatalaksana
Terapi Medikamentosa
Karena kondisi ini merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri, sehingga
tatalaksana sistemik dari toksoplasmosis didapat tidak direkomendasikan. Terjadinya
retinokoroiditis tidak selalu merupakan indikasi pengobatan. Pada umumnya, lesi yang
kecil di perifer dapat menyembuh dengan spontan. Tetapi lesi pada arcade pembuluh
darah, lesi dekat optic disk, lesi dekat papil optic harus diberikan pengobatan.
Sedangkan pada Ocular toxoplasmosis, beberapa regimen terapi telah direkomendasikan:
 Terapi Triple drug antara lain pyrimethamine (dosis inisiasi 75-100mg pada hari
pertama dan diikuti 25-50mg pada hari selanjutnya), sulfadiazine (dosis inisial 2-4 g
selama 24 jam dilanjutkan dengan 1 g q.i.d) dan prednison.
 Terapi Quadruple adalah pyrimethamine, sulfadiazin, klindamycin dan prednison.
Pemakaian pyrimethamine seharusnya dikombinasikan dengan asam folad untuk
menghindari komplikasi hematologi.
Lama pengobatan tergantung pada respon dari tiap individu, tetapi pada umumnya 4-6
minggu. Pemberian trimetoprim 60 mg dan sulfametoksazole 160mg selama 3 hari
digunakan sebagai profilaksis toksoplamosis retinokoroiditis. Setelah observasi selama
20 bulan, 6,6 % dari pasien mengalami infeksi rekuren.
Selama kehamilan, spiramycin dan sulfadiazine dapat dikonsumsi selama trimester
pertama. Sedangkan untuk trimester kedua spiramycin, sulfadiazine, pyrimethamine dan
asam folat direkomendasikan. Spiramycin, pyrimethamine dan asam folat dapat
digunakan hingga trimester ketiga.
Penggunaan kostikosteroid adalah sebagai berikut :
Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

16

 Kortikosteroid topikal digunakan apabila terdapat reaksi pada bilik mata depan
 Terapi depot steroid dikontaraindikasikan untuk terapi Ocular toxoplasmosis.
Steroid dosis tinggi yang diberikan pada jaringan mata akan menekan sistem
imun dari host, sehingga akan menimbulkan nekrosis jaringan yang tak terkendali
dan potensial menimbulkan kebutaan.
 Kostikosteroid sistemik digunakan sebagai terapi tambahan untuk meminimalkan
reaksi peradangan.

Pemberian terapi sikloplegik juga dapat diberikan apabila terjadi peradangan pada bilik mata
depan dan mengurangi nyeri serta mencegah terjadinya sinekia posterior.
Agen antitoksoplasma adalah sebagai berikut :
 Sulfadiazine
 Klindamycin
o Terapi intraviteal klindamycin (0,1 mg/0,1 ml) dilaporkan
menguntungkan pada individu yang tidak berespon pada pengobatan oral
o Pemberian intraviteal klindamycin (1mg) dan intraviteal dexamethasone
(400µg) dibandingkan dengan terapi triple drug dari sulfadiazine (dosis
inisial 4g/hari untuk dua hari diikuti dengan 500mg qid), pyrimethamine
(dosis inisial 75mg untuk 2 hari dan diikuti 25 mg/hari), asam folat (5mg
qd) dan prednisolon (1 mg/kg dimulai pada saat hari ketiga) selama 6
minggu pengobatan retinokoroiditis toksoplasma. Hasil yang didapatkan
pada kedua pengobatan adalah pengecilan ukuran lesi, inflamasi pada
vitreous berkurang dan peningkatan kemampuan penglihatan. Sedangkan
intraviteal klindamycin dan dexamethasone lebih menguntungkan pada
retinokoroiditis toksoplama dengan efek samping yang lebih aman.
o Pyrimethamine
o Atovaquone (750 mg qid) : obat ini digunakan untuk terapi lini kedua
o Azithromycin (250 mg/hari atau 500mg pada hari pertama dengan
pyrimethamine 100mg pada hari pertama diikuti dengan 50mg/hari pada
hari selanjutnya) dapat juga digunakan sebagai alternatif.
o Kombinasi dari trimethropim (60mg) dan sulfamethoxsazole (160mg)
dapat mengurangi ukuran lesi.
Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

17


Terapi bedah
 Dapat dilakukan fotokoagulasi atau cryoterapi.
 Komplikasi yang dapat timbul adalah perdarahan intraretina, perdarahan badan
vitreous, dan ablasio retina.
 Pars plana vitrectomy dapat diindikasikan pada ablasio retina sekunder dari traksi
vitreous atau apabila ada kekeruhan pada badan kaca. Dan dianjurkan dilakukan rawat
bersama dengan spesialis penyakit dalam.

Pencegahan
Dalam hal pencegahan toxoplasmosis yang penting ialah menjaga kebersihan,
mencuci tangan setelah memegang daging mentah menghindari feces kucing pada waktu
membersihkan halaman atau berkebun. Memasak daging minimal pada suhu 66ºC atau
dibekukan pada suhu –20ºC. Menjaga makanan agar tidak terkontaminasi dengan binatang
rumah atau serangga.Wanita hamil trimester pertama sebaiknya diperiksa secara berkala akan
kemungkinan infeksi dengan toxoplasma gondii. Mengobatinya agar tidak terjadi abortus,
lahir mati ataupun cacat bawaan.










Simon Ganesya R – 07120080040 Chorioretinitis ec Toxoplasma

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Levinson, Ralph D., Rikkers, Sarah M. 2011. Free Medical Book Chapter 172 Ocular
Toxoplasmosis. http://free-medical-textbook.com/
2. Ng, Paul. 2002. Treatment of ocular toxoplasmosis. Australian Prescriber Vol. 25 No. 4
2002.
3. Soheilian, Masoud et al. 2011. How To Diagnose And Treat Ocular Toxoplasmosis.
Online ophtalmologi, Volume 11 No. 12 2011.
4. Stanford, MR., Gibert, RE. 2009. Treating ocular toxoplasmosis – current evidence. Mem
Inst Oswaldo Cruz, Rio de Janeiro, Vol. 104(2): 312-315.
5. Wu, Lihteh. 2011. Ophthalmologic Manifestations of Toxoplasmosis.
http://www.emedicine.com/.