Anda di halaman 1dari 6

7/23/2014 10 Mitos tentang Kepemimpinan Prabowo « Indoprogress

http://indoprogress.com/2014/07/10-mitos-tentang-kepemimpinan-prabowo/ 1/6
10 Mitos tentang Kepemimpinan
Prabowo
7 July 2014
Rianne Subijanto dan Iqra Anugrah
Harian Indoprogress
1. Tidak mungkin kediktatoran kembali di Indonesia. Kita memiliki demokrasi yang kuat selama 16
tahun era reformasi.
Tentu kita tidak akan kembali ke masa Orde Baru yang menindas, tetapi kediktatoran dalam topeng
‘demokrasi’ akan berjalan mulus dengan penguasaan mesin-mesin ideologi seperti media, sekolah dan
institusi agama.
Buktinya bisa kita lihat sekarang: sejumlah media dan kelompok yang mengatasnamakan agama yang pro-
7/23/2014 10 Mitos tentang Kepemimpinan Prabowo « Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/07/10-mitos-tentang-kepemimpinan-prabowo/ 2/6
Prabowo seperti stasiun televisi TVOne, grup MNC, tabloid Obor Rakyat, dan kelompok paramiliter dan
fundamentalis seperti Front Pembela Islam (FPI), Forum Betawi Rempug (FBR), dan Pemuda Pancasila (PP)
melancarkan berbagai propaganda pro-Prabowo dan melakukan kampanye hitam.
Kepentingan segelintir elite ekonomi dan politik dibuat seolah-olah menjadi kebutuhan rakyat banyak biasanya
dengan menunggangi suara ‘mayoritas’, misalnya kaum Muslim. Penindasan terhadap rakyat akan dilakukan
tidak melalui aparat negara tetapi melalui konflik sesama rakyat. Inilah yang terjadi di Rusia saat ini dalam
bentuk ‘demokrasi’ elektoral otoritarian’, yaitu ‘sebuah sistem saat pemilu tetap berlangsung, tetapi kebebasan
sipil dan partisipasi demokratis dimanipulasi supaya elit terus-menerus berkuasa’ (lihat ‘Prabowo dan Bahaya
Terhadap Demokrasi Indonesia’).
2. Kalau memang Prabowo memimpin secara otoriter, woles aja bro. Kan tinggal didemo dan diturunin
kaya tahun 1998.
Demonstrasi di masa 1998 tidak terjadi dalam sekejap. Bertahun-tahun para aktivis bekerja di bawah tanah
untuk menentang ‘kesadaran palsu’ bikinan pemerintah. Ribuan orang mati dalam proses tersebut: dibunuh,
dibantai, diculik, dan disiksa. Gerakan seperti ini pun melemahkan stabilitas keamanan dan ekonomi sehingga
konflik horizontal di dalam masyarakat pun muncul di mana-mana. Menurunkan seorang diktator dari tampuk
kekuasaan tidak berarti hanya menurunkan satu orang, tetapi sistem, kroni, dan teror yang sudah
dibangunnya.
3. Prabowo adalah seorang nasionalis yang mempromosikan kebangkitan Indonesia.
Jangan tertipu dengan retorika nasionalisme dan nasionalisasi Prabowo. Kenyataannya, Prabowo adalah salah
satu elit kapitalis terkaya di Indonesia yang akan menggencarkan kebijakan ekonomi pro-pasar yang neoliberal
dan semakin memiskinkan rakyat. Adiknya, Hashim Djojohadikusumo, adalah pebisnis yang memiliki koneksi
kuat dengan Amerika Serikat (AS) (lihat ‘Membeli Peran Washington: Menelusuri Peran Hashim
Djojohadikusumo’ . Calon wakilnya, Hatta Rajasa, adalah salah satu arsitek Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang sangat neoliberal. Prabowo hanya akan
mempromosikan kebangkitan dirinya dan para kroninya (lihat ‘Nalar Ekonomi-Politik Prabowo: Studi Kasus
Kebijakan MP3EI dan Pengandaiannya’).
Nasionalisme Prabowo sebagai seorang militer pun wajib dipertanyakan, sesuai dengan pengakuannya
sebagai ‘anak emas Amerika Serikat’. Semasa mudanya di militer, Prabowo pernah bekerja untuk Pentagon
dan Intelijen Amerika, bertentangan dengan klaim-klaim anti-asing yang selama ini ia gembar-gemborkan. (lihat
‘Allan Nairn: Prabowo Adalah Pejabat Yang Menerima Pelatihan Paling Intensif Dari Amerika’)
4. Islam akan bangkit dengan adanya pemimpin tegas seperti Prabowo.
Prabowo sesungguhnya tidak mewakili Islam, melainkan menggunakan kelompok-kelompok Islam untuk
7/23/2014 10 Mitos tentang Kepemimpinan Prabowo « Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/07/10-mitos-tentang-kepemimpinan-prabowo/ 3/6
menggapai kekuasaan dengan cara-cara yang tidak Islami, yang terbukti dengan peranannya dalam memicu
kerusuhan antar-etnis di tahun 1998. Kubu Prabowo juga sering melakukan kampanye hitam, sebuah tindakan
yang sama sekali tidak Islami. (lihat ‘Di Bawah Bayang-Bayang Masa Lalu: Prabowo dan Kerusuhan Anti-
Tionghoa’). Kebangkitan Islam justru hanya bisa dicapai dengan menggalakkan pendidikan dan pemikiran,
bukan bergantung kepada pemimpin tangan besi.
5. Prabowo adalah penjelmaan Orde Baru. Memang apa salahnya sih Orde Baru?
Orde Baru sukses karena selama 32 tahun membangun kesadaran akan ‘musuh’. Rasa aman diwujudkan
dengan ‘menyelamatkan’ kita dari musuh yang dibuat tadi melalui teror dan pembantaian yang merenggut
nyawa banyak orang seperti yang terjadi di tahun 1965. Di tahun 1998 kita baru menurunkan diktatornya, tapi
belum mengganti kesadarannya.
Selain pembunuhan, Orde Baru memberi kesempatan bagi Suharto dan kroninya untuk mencuri dan
menghisap kekayaan rakyat yang sebenarnya bisa digunakan untuk memberikan kemakmuran bagi rakyat
Indonesia. Anehnya, Prabowo mengulangi janji-janji palsu a la Orde Baru. Menariknya, ia juga menggunakan
slogan yang persis sama seperti ‘menyelamatkan Indonesia’ dari musuh-musuh ‘asing’ atau musuh lokal
seperti ‘PKI’ dan ‘kelompok-kelompok radikal’. Ini mengalihkan perhatian kita dari musuh yang sebenarnya,
yaitu orang-orang kaya, koruptor, dan kelompok-kelompok preman yang berlindung di balik Prabowo. Janji
hanya akan tinggal janji saja. (lihat: ‘Antara ‘Rakyat’ dan ‘Publik’: Politik Komunikasi Pemilu 2014’)

7/23/2014 10 Mitos tentang Kepemimpinan Prabowo « Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/07/10-mitos-tentang-kepemimpinan-prabowo/ 4/6
Ilustrasi oleh Alit Ambara

6. Jokowi berasal dari rakyat. Memang prabowo bukan berasal dari rakyat? TNI kan asalnya dari rakyat,
kepada rakyat dan untuk rakyat.
Latar belakang sipil dan militer itu berbeda. Militer memiliki akses ke alat senjata yang dapat digunakan untuk
kekerasan, sementara sipil tidak. Kemudian, latar belakang sipil biasanya mengutamakan dialog, sementara
militer cenderung sentralistis dan hierarkhis. Dengan alasan keamanan, militer bisa melakukan terror kepada
warga sipil dengan dalih ‘perintah atasan’ yang bisa dimanipulasi, seperti yang dilakukan Prabowo. Sebagai
tambahan, selama jejaring kekuasaan militer masih kuat sehingga mampu mengintervensi pemerintahan sipil
7/23/2014 10 Mitos tentang Kepemimpinan Prabowo « Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/07/10-mitos-tentang-kepemimpinan-prabowo/ 5/6
dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lampau, memilih calon presiden dengan latar
belakang militer jelas bukan opsi yang baik bagi rakyat.
Sebaliknya, Jokowi betul-betul berasal dari rakyat karena dia adalah pemimpin sipil yang berprestasi dan tidak
pernah menyakiti rakyat.
7. Prabowo asli; Jokowi pencitraan!
Jokowi adalah keberpihakan. Banyak cara lain untuk membuat pencitraan, tetapi Jokowi memilih untuk benar-
benar turun ke lapangan untuk langsung mendengar dari masyarakat. Blusukan Jokowi adalah upaya untuk
mendengar rakyat secara langsung, menciptakan ruang dialog yang kritis, terbuka, dan sehat.
Sebaliknya, pencitraan Prabowo justru sudah dikalkulasi dan direncanakan dengan matang, yang didukung
oleh manipulasi fakta, kepentingan-kepentingan yang sempit, dan tentu saja uang (lihat‘Kampanye Hitam:
Hantu Lee Atwater… di Indonesia?’) . Lihat saja bagaimana semua data tentang pelanggaran HAM yang
melibatkan Prabowo hanya dianggap sekadar ‘fitnah’ oleh kubu Prabowo-Hatta. Ini adalah salah satu contoh
gaya kampanye Prabowo yang manipulatif dan mengandalkan pencitraan.
8. Jokowi capres boneka; Prabowo capres independen
Jokowi sudah melalui proses pemilihan kepala daerah beberapa kali. Sementara Prabowo, sebagai bekas
perwira militer, belum pernah mengikuti proses yang sama. Sama halnya dengan Hatta Rajasa yang ditunjuk,
bukan dipilih, sebagai menteri.
Jokowi maju sebagai capres karena dukungan masyarakat yang begitu besar kepada dirinya. Sepanjang
karirnya, dia selalu memenuhi mandat rakyat, dan rakyatpun mengakuinya, sebagaimana dibuktikan dengan
antusiasme warga dan relawan yang begitu besar dalam perjuangan politiknya (lihat ‘The Role of Volunteers
and Political Participation in the 2012 Jakarta Gubernatorial Election’).
Dengan rekam jejak kepemimpinan yang mengakar di masyarakat, Jokowi justru dapat melawan dominasi elit
partai, pengusaha, dan kelompok-kelompok kepentingan lainnya. Contoh yang paling nyata adalah ketika masih
menjabat walikota, Jokowi melawan keputusan gubernur Jawa Tengah (yang adalah rekan separtainya sendiri)
untuk membangun Mall di area Pabrik Es Petojo. Ini berbeda jauh dengan Prabowo, yang disokong oleh elit-elit
predator, sehingga dia harus berbagi kekuasaan dengan para elit tersebut.
9. Prabowo itu pemimpin berskala nasional dan internasional, Jokowi hanya pernah menjabat sebagai
kepala daerah, tidak cocok menjadi presiden
Sepanjang karirnya, Prabowo hanya pernah berkecimpung di dua dunia: militer dan bisnis. Prabowo tidak
memiliki rekam jejak pemerintahan sipil, berpolitik dalam arena demokrasi, dan berinteraksi dengan berbagai
kelompok masyarakat. Sebaliknya, prestasi Jokowi sebagai pemimpin telah teruji: Jokowi terpilih secara
7/23/2014 10 Mitos tentang Kepemimpinan Prabowo « Indoprogress
http://indoprogress.com/2014/07/10-mitos-tentang-kepemimpinan-prabowo/ 6/6
demokratis sebagai Walikota Solo dan Gubernur Jakarta, dan selama masa kepemimpinannya
mengedepankan proses dialog dengan warga dan menerapkan kebijakan-kebijakan yang progresif dan pro-
rakyat (lihat ‘Jokowi dan Proyek Kekuasaan Pro Rakyat’)
10. Untuk maju, Indonesia butuh pemimpin yang kuat dan tegas, maka Prabowo jawabannya, bukan
Jokowi
Kuat tidak sama dengan tegas. Tegas tidak harus berlatar belakang militer. Dan tegas harus dibedakan
dari tega. Untuk maju, kita memang butuh ketegasan, tapi yang tak kalah penting, kita juga butuh dialog dan
partisipasi rakyat. Prabowo, yang memiliki kecenderungan militeristik dan otoriter dengan topeng ‘tegas’, justru
akan membawa kita kepada kehancuran. Sebaliknya, Jokowi, yang tegas melawan dominasi elit, akan
membawa kita maju sebagai sebuah bangsa karena kesediaannya untuk mendengar dan berjuang dengan
dan di sisi rakyat. Prabowo adalah bagian dari masa lalu yang kelam yang akan membawa kita kepada
kemunduran. Jokowi adalah sosok yang akan membawa kita ke masa depan yang demokratis dan maju.***

Rianne Subijanto adalah kandidat doktor ilmu komunikasi di University of Colorado, Boulder, AS.
Iqra Anugrah adalah mahasiswa doktoral ilmu politik di Northern Illinois University, AS yang sedang berusaha
sebisa mungkin untuk sembuh dari virus #KelasMenengahNgehek. Beredar di twitterland dengan id @libloc