Anda di halaman 1dari 5

PROPOSAL PENELITIAN

STUDI EVALUASI PASCA HUNI RUMAH SUSUN SEWA DI
BANDA ACEH TERHADAP ASPEK ARSITEKTUR
BANGUNAN DAN PERILAKU PENGHUNI
BAB I. PENDAHULUAN
Proses urbanisasi yang terjadi di wilayah perkotaan membawa
pengaruh terhadap peningkatan jumlah penduduk. Proses urbanisasi
ini mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan tidak terbangun menjadi
lahan terbangun untuk perumahan. Perumahan merupakan kebutuhan
dasar setiap manusia yang akan terus ada dan berkembang sesuai
dengan tahapan atau siklus kehidupan manusia. Selain sebagai
pelindung terhadap gangguan alam maupun cuaca serta makhluk
lainnya, perumahan atau rumah juga memiliki fungsi sosial sebagai
pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya, nilai kehidupan,
penyiapan generasi muda, dan sebagai manifestasi jati diri. Dalam
kerangka hubungan ekologis antara manusia dan lingkungan
pemukimannya, maka terlihat bahwa kualitas sumber daya manusia di
masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kualitas perumahan
dan pemukiman, termasuk rumah susun, dimana manusia
menempatinya.
Rumah susun merupakan salah satu alternatif seiring dengan
semakin bertambahnya penduduk dan terbatasnya lahan yang
tersedia. Usaha pemerintah dalam memenuhi kebutuhan perumahan
bagi masyarakat perkotaan khususnya masyarakat bawah adalah
dengan membangun perumahan sederhana secara vertikal atau rumah
susun, baik rumah susun milik maupun rumah susn sewa !omaruddin,
"##$%. Untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah, pemerintah
membangun rumah susun sewa Rusunawa%, dimana masyarakat
tersebut diberikan hak sewa pakai karena tidak memiliki kemampuan
membeli dan memiliki rumah sendiri. Sedangkan bentuk dan layout
bangunan rumah susun telah ditentukan, sehingga terdapat
keterbatasan bagi penghuni untuk melakukan perubahan seperti pada
landed housing. Pembangunan Rusunawa adalah salah satu solusi
dalam penyediaan permukiman layak huni bagi masyarakat
berpenghasilan rendah Undang&Undang 'omor () *ahun (+,-,
tentang Rumah Susun%. Rusunawa seharusnya mampu membantu
perkotaan dalam menyediakan hunian yang layak untuk warganya.
Perkotaan masih menjadi penanggung beban paling berat terkait
penyediaan perumahan. Pada tahun "#(", kekurangan backlog%
rumah secara nasional mencapai (.,) juta unit Data /adan Pusat
Statistik, "#("% sedangkan berdasarkan perhitungan 0ndonesia
Property 1atch 0P1% pada "#(" angka ini sudah bertambah menjadi
"(,$ juta. /erdasarkan tren tersebut maka backlog rumah nasional
terus akan bertambah pada tahun&tahun kedepan.
2enyikapi persoalan&persoalan di atas, Pemerintah !ota /anda
3ceh mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk membangun
rumah susun di !ota /anda 3ceh. Rumah susun yang dibangun pada
tahun "##+ berupa rumah susun sewa rusunawa% yang terdiri dari 4
blok, .+" unit hunian dan mulai dioperasikan sejak februari "#(# yang
berada di !elurahan !eudah !ota /anda 3ceh. 5uas unit hunian pada
rusunawa ini adalah "4 m
"
, sedangkan !ementerian Perumahan Rakyat
mengeluarkan standar untuk luas hunian yang layak adalah sebesar
$," m
"
6orang Peraturan 2enteri Perumahan Rakyat 'o.
""6P7R27'626"##,%. !elompok sasaran rusunawa ini adalah terutama
masyarakat berpenghasilan rendah dan sudah berkeluarga, yaitu
orang tua dengan kedua anaknya ataupun orang tua tunggal dengan
ketiga anaknya. Dari pengamatan awal pada rusunawa tersebut masih
kurang memperhatikan aspek manusia yang penghuninya sebagai
bagian dari kearifan lokal, sehingga timbul ketidaksesuaian pada
perancangan 8sik arsitektur rusunawa tersebut.
Pada perancangan suatu bangunan, termasuk rumah susun
banyak permasalahan&permasalahan atau dampak yang dapat kita
temui, salah satunya adalah permasalahan bangunan pasca huni.
Permasalahan bangunan pasca huni ini di sebabkan oleh berbagai
faktor, mulai dari faktor kesalahan pada saat perancangan hingga
faktor kurang di rawatnya bangunan itu sendiri. *erdapat dua sisi
kepentingan dan permasalahan, yaitu rumah susun sebagai tempat
tinggal yang dihuni dan masyarakat sebagai penghuninya. Disatu sisi
rumah susun sebagai tempat tinggal memperlihatkan kualitasnya yang
semakin menurun, di sisi lain penghuni yang mempunyai sifat dinamis
dan berkembang menuntut kondisi hunian yang layak dan nyaman
untuk tinggal sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya /laang,
"##+%. /erdasarkan konsep perumahan masyarakat umum public
housing%, keberadaan rumah susun yang ditempati oleh golongan
masyarakat menengah kebawah yang hidup secara bersama&sama
perlu diperhatikan perencanaannya secara utuh, antara lain
memperhatikan aspek latar belakang penghuni akan kebutuhan
tenggal di dalam lingkungan tersebut, perlu memperhatikan kebutuhan
dan kebiasaan 8sik, ekonomi serta kebiasaan perilaku penghuninya
karena hal tersebut akan mempengaruhi perilaku penghuni dalam
menciptakan tingkat kepuasan berhuni /udihardjo, "##)%. !epuasan
penghuni terhadap lingkungan huniannya merupakan salah satu faktor
penentu terbentuknya ikatan batin terhadap lingkungan tersebut.
!epuasan berhuni muncul karena persepsi positif penghuni terhadap
kualitas lingkungan huniannya. 9ubungan antara kepuasan berhuni
yang dijembatani oleh persepsi terhadap kualitas lingkungan
huniannya merupakan persoalan mendasar dalam bidang ilmu
psikologi lingkungan dan hal yang penting untuk mengkaji hubungan
antara manusia dengan lingkungan hunian mereka 9artatik, dkk,
"#(#%.
!egagalan pembangunan rumah susun seringkali justru
disebabkan oleh faktor non teknis karena faktor manusianya sebagai
penghuni kurang mendapat perhatian Subagijo, 7., "##4%. Seharusnya
program pengadaan rumah&rumah tidak hanya ditinjau dari aspek
kuantitatif saja namun juga harus dinilai aspek kualitatifnya Silas, :.
(+""%. /erdasarkan beberapa hasil penelitian arsitektur di 0ndonesia
menunjukkan bahwa pembangunan rumah untuk masyarakat kelas
bawah di 0ndonesia kurang memperhatikan kenyamanan sebagai faktor
penting aspek manusiawi. Untuk itu, dibutuhkan evaluasi pasca huni
terhadap rusunawa dengan menitikberatkan pada aspek arsitektur
bangunan dan perilaku penghuninya.
Penelitian ini mengkaji dampak dari desain 8sik arsitektur
bangunan Rusunawa !eudah !ota /anda 3ceh dalam beberapa periode
tahun pembangunannya terhadap penghuninya. Pada penelitian ini
mencari hubungan timbal&balik antara lingkungan 8sik arsitektur
bangunan rusunawa dengan perilaku behavioral% penghuninya.
5ingkungan 8sik arsitektur bangunan rusunawa merujuk pada aspek
fungsional dan aspek teknis bangunan, sedangkan perilaku penghuni
merujuk pada aspek persepsi, kepuasan dan kebetahan penghuni.
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu; (% identi8kasi
desain 8sik arsitektur bangunan rusunawa, dan karakteristik
penghuninya "% kajian fenomena korelasi hubungan timbal balik%
antara desain 8sik bangunan rusunawa dengan perilaku penghuninya,
serta .% rumusan konsep desain rusunawa dari aspek arsitektur dan
perilaku penghuni.
BAB II. PERUMUSAN MASALAH
Rumah susun sewa sebagai bentuk dan sistem perumahan yang
mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bentuk dan sistem
perumahan yang selama ini dikenal dalam kehidupan sosial budaya
masyarakat 0ndonesia pada umumnya dan masyaralat 3ceh pada
khususnya. !ondisi ini menuntut perlunya penyesuaian kebiasaan yang
berbeda dan penyesuaian aspirasi pada masyarakat kelompok sasaran
pengguna rumah susun sewa. Penyesuaian ini diperlukan agar program
pembangunan rumah susun yang sudah digagas dan dilaksanakan
oleh pemerintah dapat berjalan baik dan dapat diterima oleh
masyarakat. Salah satu aspek penting dalam upaya penyesuaian
tersebut adalah aspek desain 8sik arsitektur rusunawa yang
berpengaruh terhadap perilaku penghuni yang muncul dalam
menanggapi lingkungan binaan tersebut. !esalahan dan
ketidaktepatan perancangan 8sik arsitektur pada rusunawa dapat
berdampak pada munculnya permasalahan&permasalahan yang
merugikan penghuni dan kegagalan desain rusunawa tersebut.
Permasalahan&permasalahan tersebut lebih lanjut dapat berdampak
pada penurunan kualitas hidup penghuni. Upaya&upaya untuk
meminimalkan permasalahan dan kekeliruan dalam perancangan
arsitektur bangunan rusunawa perlu dikaji dan dianalisis agar diperoleh
konsep yang tepat untuk perancangan rusunawa, karena
perkembangan pembangunan rusunawa akan terus meningkat seiring
dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan terbatasnya lahan.
/erdasarkan hal tersebut diatas, upaya evalusi bangunan
rusunawa yang sudah terbangun merupakan suatu yang sangat
dibutuhkan untuk mengetahui hubungan timbal balik korelasi% antara
lingkungan 8sik arsitektur rusunawa dengan perilaku penghuni
rusunawa tersebut. 9al ini penting untuk mengetahui timbal balik
penggunan bangunan terhadap performa bangunan termasuk
didalamnya fungsi dan ketersediaan fasilitas. Dengan adanya kajian
ini, nantinya akan dapat dirumuskan konsep desain rusunawa yang
tepat dengan karakter penghuni setempat sebagai bagian dari kearifan
lokal. !onsep desain ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah
daerah dalam pembangunan rusunawa di masa yang akan datang,
sehingga memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas
hidup manusia penghuni rusunawa.