Anda di halaman 1dari 93

TESIS

KADAR ANTIOKSIDAN ENZIMATIK KATALASE PADA
ABORTUS INKOMPLIT LEBIH RENDAH
DIBANDINGKAN DENGAN KEHAMILAN NORMAL
TRIMESTER PERTAMA







MARIA FLORENTINA TUKAN






PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014



TESIS

KADAR ANTIOKSIDAN ENZIMATIK KATALASE PADA
ABORTUS INKOMPLIT LEBIH RENDAH
DIBANDINGKAN DENGAN KEHAMILAN NORMAL
TRIMESTER PERTAMA






MARIA FLORENTINA TUKAN
NIM 0914038113




PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014



KADAR ANTIOKSIDAN ENZIMATIK KATALASE PADA
ABORTUS INKOMPLIT LEBIH RENDAH
DIBANDINGKAN DENGAN KEHAMILAN NORMAL
TRIMESTER PERTAMA




Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister
Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik
Program Pascasarjana Universitas Udayana





MARIA FLORENTINA TUKAN
NIM 0914038113







PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014




KADAR ANTIOKSIDAN ENZIMATIK KATALASE PADA
ABORTUS INKOMPLIT LEBIH RENDAH
DIBANDINGKAN DENGAN KEHAMILAN NORMAL
TRIMESTER PERTAMA





Tesis untuk Memperoleh Gelar Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Pada Program Pendidikan Dokter Spesialis
Universitas Udayana





MARIA FLORENTINA TUKAN
NIM 0914038113





PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014



Lembar Pengesahan




TESIS INI TELAH DISETUJUI
PADA TANGGAL 15 APRIL 2014





Pembimbing I, Pembimbing II,





Prof.Dr.dr. IGP Surya, SpOG(K) dr. IPG Wardhiana, SpOG(K)
NIP.19431015 197008 1 001 NIP. 19540331 198010 1 001






Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Direktur Program Pascasarjana
Program Pascasarjana Universitas Udayana
Universitas Udayana





Prof.Dr.dr.Wimpie Pangkahila,Sp.And.,FAACS Prof.Dr.dr.A.A.Raka Sudewi,SpS(K)
NIP. 19461213 197107 1 001 NIP. 19590215 1985102 001






Tesis Ini Telah Diuji pada
Tanggal : 15 April 2014





Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana,
No : 0977/UN14.4/HK/2014, Tanggal 10 April 2014


Ketua : Prof.Dr.dr.I G P Surya,Sp.OG (K)
Anggota :
1. dr.I P G Wardhiana,Sp.OG (K)
2. Prof.Dr.dr.Wimpie Pangkahila,Sp.And.,FAACS
3. Prof.dr.N.Tigeh Suryadhi,MPH.Ph.D
4. Prof.Dr.dr.Nyoman Mangku Karmaya,M.Repro











SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT









UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya oleh berkatNya tesis ini dapat diselesaikan.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada : Prof. Dr. dr. I Gede Putu Surya SpOG(K) selaku
pembimbing I dan dr.I P G Wardhiana,Sp.OG (K) selaku pembimbing II, Drs.
Ketut Tunas, Msi selaku pembimbing statistik yang telah memberikan dorongan
semangat, bimbingan dan saran selama penulis mengikuti Program Pendidikan
Dokter Spesialis I (PPDS I) dan Program Magister Program Studi Ilmu Biomedik
kekhususan Kedokteran Klinik (Combined Degree). Terima kasih juga kepada
Prof.Dr.dr.AAG Sudewa Djelantik,SpPK(K), dr Kadek Mulyantari, SpPK dan dr I
Nyoman Wande, SpPK, atas segala bantuan dan bimbingan dalam proses
pemeriksaan sampel penelitian ini.
Ucapan yang sama juga ditujukan kepada Rektor Universitas Udayana Prof.
Dr. dr. Ketut Suastika SpPD (KEMD), Direktur program Pascasarjana yang
dijabat oleh Prof.Dr.dr.A.A.Raka Dewi,SpS(K), Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. I Putu Astawa MKes SpOT(K), M.Kes, Ketua
Program Studi Ilmu Biomedik-Combined Degree, Prof.Dr.dr.Wimpie
I.Pangkahila,SpAnd.,FAACS, Direktu Rumah Sakit Sanglah Denpasar, dr. I
Wayan Sutarga MPHM, serta Kepala Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar, Prof.
Dr. dr. Ketut Suwiyoga SpOG(K) atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan
untuk mengikuti dan menyelesaikan PPDS I dan Program Magister Program Studi
Ilmu Biomedik kekhususan Kedokteran Klinik (Combined Degree) di Universitas
Udayana. Terima kasih penulis ucapkan juga kepada Ketua program Studi
Obstetri dan Ginekologi Fakultas kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit
Sanglah Denpasar, dr. A.A.N. Anantasika SpOG(K) dan seluruh
Dosen/StafBagianObstetri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP
Sanglah atas segala bimbingan dan dorongan yang diberikan selama penulis
mengikuti pendidikan spesialis. Ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan
kepada seluruh guru yang telah mendidik dari Sekolah Dasar sampai Perguruan
Tinggi. Pasien-pasien yang telah menjadi guru yang banyak memberikan
pengetahuan dan pengalaman, rekan-rekan residen Obstetri dan Ginekologi, serta
rekan-rekan paramedis RSUP Sanglah.
Tidak lupa penulis haturkan ucapan terima kasih yang dalam kepada orang
tua Anton A. Tukan dan Sisilia Sumarsini, suami Jakobus Gottes Vendy, kakak,
serta adik-adik tercinta dan keluarga besar yang selalu memberikan dukungan
baik moril maupun materiil sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati semua pihak yang telah
membantu pelaksanaan dan penyelesaian tesis ini.


Penulis



ABSTRAK

KADAR ANTIOKSIDAN ENZIMATIK KATALASE PADA
ABORTUS INKOMPLIT LEBIH RENDAH DIBANDINGKAN DENGAN
KEHAMILAN NORMAL TRIMESTER PERTAMA

Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum umur kehamilan kurang
dari 20 minggu atau dengan kelahiran berat badan janin kurang dari 500 gram.
Penyebab abortus sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Dengan
perkembangan penelitian terhadap plasenta, muncul teori yang menyatakan bahwa
stress oksidatif yaitu ketidakseimbangan antara prooksidan (free radical) dan
antioksidan yang terjadi saat proses plasentasi diduga sebagai salah satu penyebab
terjadinya abortus. Katalase adalah suatu enzim yang berfungsi untuk
mengkatalisis hidrogen peroksida (H
2
O
2
) hidroperoksida organik sehingga
mencegah terjadinya peroksidasi lipid pada membran sel, bekerja sebagai
pengikat radikal bebas

pada endometrium yang berperan dalam keberhasilan
implantasi dengan melindungi blastokist dari radikal superoksida. Tujuan
penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa kadar antioksidan enzimatik
katalase yang rendah pada kehamilan trimester pertama meningkatkan resiko
terjadinya abortus inkomplit.
Desain penelitian ini berupa studi cross-sectional yang melibatkan 52
orang wanita hamil trimester pertama yang dikelompokkan menjadi 26 wanita
dengan abortus inkomplit dan 26 orang hamil muda yang memenuhi kriteria
inklusi, yang datang ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Pemeriksaan darah
dilakukan untuk mengetahui kadar antioksidan enzimatik katalase pada kedua
kelompok dengan metode Elisa.
Berdasarkan uji T tidak berpasangan untuk variabel umur ibu, paritas dan
umur kehamilan, didapatkan data homogen dan berdistribusi normal (p>0.05).
Rerata kadar antioksidan enzimatik katalase pada abortus inkomplit trimester
pertama secara bermakna (p<0,000) lebih rendah dibandingkan kehamilan normal
(524,74 + 154,11 pg/ml vs 885,79 + 134,73 pg/ml). Dengan uji Chi-Square
diperoleh rasio prevalensi (RP= 8,3, IK 95% = 280,1 – 441,4 p=0,000).
Berdasarkan korva ROC diperoleh nilai cut off point kadar antioksidan enzimatik
katalase sebesar 653,13pg/ml dengan nilai sensitivitas 92,3,% dan nilai spesifisitas
sebesar 92,3%.
Kadar antioksidan enzimatik katalase yang rendah meningkatkan risiko
abortus inkomplit trimester pertama. Penelitian lanjutan masih diperlukan dengan
memanfaatkan hasil penelitian ini dalam upaya menemukan obat-obatan yang
dapat meningkatkan kadar antioksidan enzimatik katalase, sehingga dapat
mencegah terjadinya abortus inkomplit trimester pertama.


Kata Kunci : Abortus inkomplit, antioksidan enzimatik katalase




ABSTRACT


Catalase Enzyme Antioxidant Level In Incomplete Abortion Lower Than
Normal Pregnancy In The First Trimester


Abortion is the termination of pregnancy before 20 weeks gestational age
or delivery the fetus weighted less than 500 grams. The cause of abortion is still
unclearly defined. With the development of knowledge and researches about
placenta, there is a new theory that explaing that oxidative stress, the imbalance
between pro-oxidant (free radical) and antioxidant that happened when
placentation is proceed, is suggest to be one of the abortion causes. Catalase is the
enzyme that functioned as catalysis Hydrogen peroxide (H
2
O
2
), organic hyper
peroxide so prevent the lipid peroxidase in cell membrane, work as free radical
binder in the endometrium that take a role in the successful process of
implantation with protect the blastocyst from radical superoxide. The purpose of
the research was to prove that low antioxidant and catalase enzyme level in the
first trimester increased risk factor of abortion.
The design on this research used a cross-sectional study involving 52
pregnant women in the first trimester that categorized as 26 women with
incomplete abortion and the 26 women in early pregnancy fulfill the inclusion
criteria, that came to the Sanglah Hospital. On both groups we do blood tests to
determine levels of catalase enzyme antioxidant by Elisa method.
Based on T-Independent test for variables of mother age, parity and
gestational age, there were homogeneous and normal distribution data (p>0,05).
The mean catalase enzyme antioxidant levels for incomplete abortion in the first
trimester was significantly (p= <0,001) lower than normal early pregnancies
(524,97 + 154,11 pg/ml vs 885,79 + 134,73 pg/ml). With Chi-square test
prevalence ratio (PR= 8,3, CI 95% = 280,1 – 441,4 p=0,000). Based on ROC
curve, cut off point of catalase enzyme antioxidant levels was 653,13, pg/ml with
a sensitivity of 92,3% and a specificity of 92,3,%.
The low level of catalase enzyme antioxidan increased risk of incomplete
abortion in the first trimester. Advance research need to be done with used this
research in the effort to prevent incomplete abortion in the first trimester.

Key word : incomplete obortion, antioxidan and catalase enzyme









DAFTAR ISI

Halaman
SAMPUL DALAM i
PRASYARAT GELAR ii
LEMBAR PERSETUJUAN iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT v
UCAPAN TERIMAKASIH vi
ABSTRAK vii
ABSTRACT viii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR BAGAN xiv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG xv
DAFTAR LAMPIRAN xvii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 5
1.3 Tujuan Penelitian 5
1.4 Manfaat Penelitian 5
1.4.1 Manfaat bagi pengetahuan 5
1.4.2 Manfaat bagi pelayanan 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7
2.1 Definisi Abortus dan Abortus Inkomplit 7
2.2 Insiden Abortus 8
2.3 Penyebab Abortus Inkomplit 8



2.4 Stres Oksidatif Pada Abortus Inkomplit 9
2.4.1 Stes Oksidatif 9
2.4.2 Mekanisme Pertahanan Terhadap Stress Oksidatif 16
2.4.3 Abortus Inkomplit Sebagai Keadaan Stres Oksidatif 23
2.5 Peranan Radikal Bebas dan Katalase Pada Kehamilan Normal 26
2.5.1 Peranan Radikal Bebas Pada Kehamilan Normal 26
2.5.2 Peranan Katalase Pada Kehamilan Normal 28
2.6 Peranan Katalase Pada Abortus Inkomplit 30

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS
PENELITIAN 33
3.1 Kerangka Berpikir 33
3.2 Konsep Penelitian 35
3.3 Hipotesis Penelitian 35

BAB IV METODE PENELITIAN 36
4.1 Rancangan Penelitian 36
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 36
4.2.1 Tempat penelitian 36
4.2.2 Waktu penelitian 36
4.3 Populasi, Sampel Penelitian, Penghitungan Besar Sampel
dan Cara Pemiliha Sampel 36
4.3.1 Populasi Penelitian 36
4.3.2 Sampel penelitian 36
4.3.3 Penghitungan Besar Sampel 37
4.3.4 Cara Pemilihan Sampel 38
4.4 Variabel Penelitian 38
4.5 Definisi Operasional Variabel 38
4.6 Bahan Penelitian 39
4.7 Instrumen Penelitian 40
4.8 Alur Penelitian 40



4.9 Analisis Data 42
4.9.1 Analisis deskriptif 42
4.9.2 Uji normalitas 42
4.9.3 Uji hipotesis 42
4.9.4 Perhitungan rasio prevalen 42

BAB V HASIL PENELITIAN 44
5.1 Karakteristik Sampel Penelitian 44
5.2 Perbedaan Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase Pada Kelompok Abortus
Inkomplit dan Kelompok Kehamilan Normal Trimester I 45
5.3 Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase Yang Rendah Meningkatkan Risiko
Abortus Inkomplit Abortus Inkomplit Trimester Pertama 46

BAB VI PEMBAHASAN 47
6.1 Karakteristik Sampel Penelitian 47
6.2 Perbedaan Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase pada Abortus Inkomplit dan
Kehamilan Normal 49
6.3 Analisa Risiko Sampel Penelitian 50

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 54
7.1 Simpulan 54
7.2 Saran 54

DAFTAR PUSTAKA 55

LAMPIRAN-LAMPIRAN 61







DAFTAR GAMBAR

Halaman
2.1 Kerusakan Akibat Reaktif Oksigen Spesies 10
2.2 Pengaruh Keseimbangan Oksidan dan Reduktan 12
2.3 Klasifikasi Mekanisme Pertahanan Antioksidan Seluler 16
2.4 Penangkapan Endogen Peroksida Seluler 20
2.5 Permukaan Uteroplasenta Awal dan Akhir Trimester 1 25



















DAFTAR TABEL

Halaman
2.1 Metabolit Radikal dan Nonradikal Oksigen 11
4.1 Tabel Analisis Desktiptif 42
4.2 Tabel Rasio Prevalensi 43
5.1 Rerata Umur Ibu, Paritas dan Umur Kehamilan Pada Kelompok Abortus
Inkomplit dan Kelompok Kehamilan Normal 44
5.2 Perbedaan Kadar Antioksidan Enzimatik Katalas Pada Kelompok Abortus
Inkomplit dan Kelompok Kehamilan Normal 45
5.3 Nilai RP,IK dan p Kadar Antioksidan Enzimatik Katalas Pada Kelompok
Abortus Inkomplit dan Kelompok Kehamilan Normal 46


















DAFTAR BAGAN


Halaman
2.1 Fisiologi Pembentukan dan Katalisasi Radikal Bebas 15
2.2 Mekanisme Kerja Katalase Melindungi Kerusakan Sel 22
2.3 Patofisiologi Abortus Akibat Stres Oksidatif 31
3.1 Konsep Penelitian 35
4.1 Alur Penelitian 41


















DAFTAR SINGKATAN

ATP : Adenotriposphate
-HCG : - Human Chorionic Gonadotropin
Cat : Catalase
CYP-19 : Sitokrom P-450 Aromatase
DNA : Deoxyribonucleic Acid
E.C. : Enzyme Code
EDFR : endotelium-derived relaxing factor
ELISA : Enzyme Linked Imonosorbant Assay
Gpx : Glutathione Peroxidase
GSH : Glutathione Tereduksi atau Glutathione
GSSG : Glutathione Teroksidasi atau Glutathione Disulfida
G6PD : Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase
hCG : Human Chorionic Gonadotropin
HClO : Asam Hipoklorit
HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir
H
2
O : Air
H
2
O
2
: Hidrogen Peroksida
I/R : Ischemia-reperfusion
LMWA : Low Molecular Weight Antioxidant
NO : Nitric Oxide
NO3
- :
Nitric
OFRs : Oxygen Free Reactive Spicies
ONOO
-
: Peroksinitric
O
2

¯ : Radikal Superoksid
OH

: Hidroksil
PC-OOH : Phosphatidylcholine Hydroperoxida
PRX : Peroxiredoksin
RNS : Reactive Nitrogen Species



ROOH : Peroksida Organik
ROS : Reactive Oxygen Species
RT-PCR : Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction
-SH : Gugus Sulfidril
SOD : Superoksid Dismutase
TRX : Thioredoksin
USG : Ultasonografi




















DAFTAR LAMPIRAN


Halaman
Lampiran 1 Keterangan Kelaikan Etik (Ethical Clearance) 59
Lampiran 2 Surat Ijin Penelitian 60
Lampiran 3 Informed Consent 61
Lampiran 4 Formulir Pengumpulan Data . 64
Lampiran 5 Hasil Penelitian 65
Lampiran 6 Statistik Hasil Penelitian 68


















BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehamilan merupakan peristiwa yang dinantikan oleh hampir setiap
wanita pasangan usia subur (PUS). Sebagian besar kehamilan berlangsung dengan
aman, namun sebagian kecil mengalami komplikasi selama kehamilan dan
persalinan. Komplikasi yang ditimbulkan antara lain, perdarahan, hipertensi
dalam kehamilan, infeksi, partus macet dan abortus.
Abortus adalah berakhirnya kehamilan baik secara spontan maupun
disengaja, sebelum janin viabel. Pada umumnya abortus didefinisikan sebagai
berakhirnya kehamilan sebelum umur kehamilan 20 minggu atau kurang dari 500
gram (Cunningham dkk, 2010). Secara klinis, abortus yang paling sering dijumpai
di rumah sakit adalah abortus inkomplit. Pasien pada umumnya datang dalam
keadaan perdarahan dan nyeri perut yang hebat, dari pemeriksaan fisik ditemukan
pembukaan serviks dan tampak keluarnya sebagian dari produk konsepsi
(Puscheck dan Pradhan, 2006).
Kelainan ini merupakan komplikasi kehamilan yang paling sering terjadi.
Diperkirakan abortus spontan (miscarriages) terjadi pada 75% wanita sejak saat
konsepsi namun sebagian besar kejadian tersebut tanpa disadari karena terjadi
sebelum atau bersamaan dengan saat haid berikutnya. Dari sejumlah kasus yang
disadari, 15-20% berakhir dengan abortus spontan atau kehamilan ektopik
(Petrozza dan Berlin, 2010). Kemungkinan untuk mengalami abortus spontan



berulang akan meningkat sejalan frekuensi seseorang mengalami abortus. Bahkan
setelah mengalami abortus spontan tiga kali dan empat kali, kemungkinan untuk
terjadi abortus berikutnya berturut-turut sebesar 45% dan 54,3% (Turrentine,
2008). Lebih dari 80% abortus terjadi pada trimester pertama (Bernirschke dan
Kaufmann, 2000), yaitu hingga umur kehamilan 14 minggu (Cunningham dkk,
2010).
Mekanisme penyebab abortus tidak selalu dapat ditentukan dengan jelas,
karena pada umumnya lebih dari satu faktor yang berperan. Secara umum
penyebab abortus dapat dibagi menjadi faktor fetus dan faktor maternal. Faktor
fetus seperti kelainan kromosom menjadi penyebab sekitar 50% kejadian abortus
spontan, dimana kelainan yang paling sering ditemukan berupa autosomal trisomi
(Eiben dkk, 1990). Faktor maternal yang turut berperan seperti : usia ibu, kelainan
anatomis, faktor imunologis, infeksi, penyakit kronis, kelainan endokrin, nutrisi,
penggunaan obat-obatan dan pengaruh lingkungan (Speroff, 2005).
Dengan perkembangan penelitian terhadap plasenta, muncul teori yang
menghubungkan stress oksidatif yang terjadi pada saat proses plasentasi dengan
patofisiologi terjadinya abortus. Hingga akhir trimester pertama, fetus
berkembang dalam suasana hipoksia fisiologis untuk melindungi dirinya dari efek
buruk dan efek teratogenik dari radikal bebas oksigen (Jauniaux, 2000), serta
menjaga stem sel agar tetap dalam keadaan pluripotent penuh (Ezashi, 2005).
Hingga minimal minggu ke-10, nutrisi embrio juga diperoleh dari sekresi kelenjar
endometrium ke dalam intervillous space (Burton dkk, 2002).



Menurut Jauniaux (2005), abortus spontan merupakan gangguan plasentasi
dan perubahan-perubahan villi yang tampak bukanlah penyebab namun
merupakan konsekuensi dari gangguan plasentasi tersebut. Pada sekitar dua per
tiga abortus pada trimester pertama, dapat ditemukan kelainan anatomis akibat
gangguan plasentasi yang terutama berupa pelindung tropoblast yang lebih tipis
atau terfragmentasi, invasi sitotropoblast ke dalam endometrium yang lebih
sedikit, dan penutupan lumen pada ujung arteri spiralis yang tidak lengkap. Hal ini
menyebabkan hilangnya perubahan fisiologis plasenta yang seharusnya terjadi,
sehingga timbul onset prematur dari sirkulasi maternal pada seluruh permukaan
plasenta. Oksigen dalam plasenta janin stadium awal sangat rendah dan meningkat
ketika mendapatkan aliran darah dari ibu. Metabolisme aerobik sangat
berhubungan dengan pembentukan spesies oksigen reaktif dan kecepatan
pembentukannya sebanding dengan kadar oksigen. Terlepas dari penyebab
terjadinya abortus, peningkatan aliran darah maternal ke ruang intervillus
menyebabkan 2 perubahan, yaitu : 1. efek mekanis langsung terhadap jaringan
villi sehingga menjadi rusak secara progresif, 2. perluasan kerusakan tropoblast
yang secara tidak langsung dimediasi oleh radikal superoksid dan peningkatan
apoptosis (Kokawa dkk, 1998; dan Jauniaux dkk, 2003). Akibat dari proses
tersebut, terjadi degenerasi plasenta dengan hilangnya seluruh fungsi
sinsisiotrophoblas dan pelepasan plasenta dari dinding uterus (Jauniaux dkk,
2006).
Peran oksigen reaktif dalam patogenesis abortus baru-baru ini telah disadari,
namun hubungan dengan abortus inkomplit belum pernah dilakukan. Di dalam



sel, Reaktif Oksigen Spesies (ROS) diproduksi secara terus-menerus sebagai
akibat reaksi biokimia maupun akibat dari faktor eksternal. Apabila produksi ROS
dan radikal bebas yang lain melebihi kapasitas penangkapan oleh antioksidan,
maka timbullah suatu keadaan yang disebut stress oksidatif. Antioksidan sebagai
pelindung terhadap stress oksidatif dapat digolongkan menjadi golongan
enzimatik dan non enzimatik. Diantara antioksidan enzimatik yang ada, katalase
(Cat), superoksid dismutase (SOD) dan glutathione peroxidase (Gpx) merupakan
antioksidan yang bekerja secara langsung (Kohen dan Nyska, 2002).
Katalase termasuk dalam golongan enzim hidroperoksidase yang dapat
mengkatalisis substrat hidrogen peroksida (H
2
O
2)
dan peroksida organik sehingga
mencegah terjadinya peroksidasi lipid pada membran sel dan bekerja sebagai
pengikat radikal bebas (Kohen dan Nyska, 2002). Enzim ini dapat ditemui dalam
darah, sumsum tulang, membran mukosa, ginjal dan hati (Kumar dkk, 2008).
Aktivitas katalase yang terdapat dalam peroksisom, langsung mendegradasi
hidrogen peroksida (2H2O2 → O2 + 2H2O) (Richard et al.,2010) . Maka peran
katalase pada endometrium adalah untuk keberhasilan plasentasi dengan
melindungi blastokist dari radikal superoksid.
Keseimbangan antara jumlah kadar antioksidan enzimatik katalase terhadap
mekanisme pembentukan radikal bebas yang meningkat selama kehamilan
mungkin penting dalam patogenesis gangguan ini. Kadar Katalase pada wanita
hamil normal dikatakan lebih rendah dari pada wanita 24 jam postpartum pada
penelitian di rumah sakit Tama Nagayama - Jepang, dimana kadar Katalase pada
ibu hamil (predelivery) adalah 77.6 ± 29.1, sedangkan pada 24 jam postpartum



114.4 ± 13.2 (Hitoshi dkk , 2002). Penelitian di Rumah Sakit Umum Belgaum –
India, kadar Katalase pada wanita hamil trimester pertama adalah 7.82 ± 2.84,
sedangkan wanita non-pregnant 8.13 ± 2.25 (Kodliwadmath , 2007).
Di Rumah Sakit Sanglah Denpasar belum pernah dilakukan pemeriksaan
mengenai kadar antioksidan enzimatik katalase pada wanita yang mengalami
abortus inkomplit. Atas dasar itu peneliti ingin melakukan penelitian mengenai hal
ini.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah kadar antioksidan enzimatik katalase pada Abortus inkomplit lebih
rendah dibandingkan pada kehamilan normal trimester pertama?
1.3 Tujuan Penelitian
Membuktikan kadar antioksidan enzimatik katalase pada abortus
inkomplit lebih rendah dibandingkan dengan kehamilan normal trimester pertama.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Bagi Pengetahuan
1.4.1.1 Untuk memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan tentang
pengaruh rendahnya kadar antioksidan enzimatik katalase terhadap
kejadian abortus inkomplit pada kehamilan trimester pertama.
1.4.1.2 Sebagai data dasar untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai
obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar antioksidan enzimatik
katalase, sehingga dapat mencegah terjadinya abortus inkomplit
trimester pertama.




1.4.2 Manfaat Bagi Pelayanan
Sebagai bagian dari suatu rangkaian penelitian untuk mendapatkan informasi
tentang hubungan antioksidan terhadap kejadian abortus. Jika hipotesis penelitian
ini terbukti, maka dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk meningkatkan kadar
antioksidan enzimatik katalase pada ibu hamil sebagai usaha pencegahan
terjadinya abortus.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Abortus dan abortus inkomplit
Menurut Kamus Oxford 2002, abortus didefinisikan sebagai berakhirnya
kehamilan dengan cara apapun sebelum janin viabel. Umur kehamilan juga
digunakan untuk membatasi dan mengklasifikasikan abortus untuk tujuan statistik
dan hukum. Misalnya National Center for Health Statistics, Centers for Disease
Control and Prevention dan World Health Organization mendefinisikan abortus
sebagai berakhirnya kehamilan sebelum umur kehamilan 20 minggu atau dengan
berat fetus kurang dari 500 gram (Cunningham dkk, 2010).
Abortus spontan apabila abortus terjadi tanpa tindakan mekanis atau medis
untuk mengosongkan uterus. Abortus biasanya disertai oleh perdarahan ke dalam
desidua basalis dan nekrosis di jaringan dekat tempat perdarahan. Secara klinis,
klasifikasi abortus spontan dapat dengan berbagai cara. Pembagian yang paling
sering digunakan adalah abortus iminen, insipien, inkomplit, missed abortus,
abortus septik dan abortus berulang (Speroff dan Fritz, 2005 ).
Abortus inkomplit adalah abortus yang ditandai dengan perdarahan akibat
terlepasnya sebagian atau seluruh bagian plasenta dari uterus, disertai
membukanya kanalis servikalis. Jaringan fetus dan plasenta dapat tertinggal
seluruhnya di dalam uterus atau dapat juga tampak sebagian di kanalis servikalis.
Sebelum umur kehamilan 10 minggu, fetus dan plasenta biasanya keluar



bersamaan. Namun pada umur kehamilan yang lebih tua, pengeluaran fetus dan
plasenta pada umumnya terpisah (Cunningham dkk, 2010).
2.2 Insiden Abortus
Insiden abortus spontan bervariasi tergantung ketelitian metode yang
digunakan. Wilcox dan koleganya yang meneliti 221 wanita sehat selama 707
siklus menstruasi, menemukan bahwa 31 persen kehamilan mengalami abortus
setelah implantasi. Dengan menggunakan metode yang sangat spesifik, yang
mampu mendeteksi - human chorionic gonadotropin (-HCG) pada serum ibu
dalam konsentrasi yang masih sangat rendah, dua per tiga dari abortus ini
digolongkan sebagai silent abortus secara klinis (Cunningham dkk, 2010). Sekitar
80 persen abortus terjadi pada trimester pertama yaitu hingga umur kehamilan 14
minggu (Cunningham dkk, 2010). Frekuensi abortus berkurang dengan semakin
meningkatnya umur kehamilan (Puscheck dan Pradhan, 2006).
Setelah mengalami abortus satu kali, kemungkinan untuk terjadinya abortus
berulang sebesar 15%, sedangkan bila mengalami dua kali abortus spontan,
kemungkinan terjadinya abortus yang ketiga kalinya sebesar 30% (Petrozza dan
Berlin, 2010). Bahkan setelah mengalami abortus spontan tiga kali dan empat kali,
kemungkinan untuk terjadi abortus berikutnya berturut-turut sebesar 45% dan
54,3% (Turrentine, 2008).
2.3 Penyebab Abortus Inkomplit
Penyebab abortus dapat dibedakan menjadi faktor fetus dan faktor maternal .
Faktor fetus seperti kelainan kromosom menjadi penyebab sekitar 50 persen
kejadian abortus spontan, dimana sekitar 95 persen disebabkan oleh kesalahan



gametogenesis dari pihak ibu (Eiben dkk, 1990). Kelainan kromosom yang paling
sering ditemukan berupa autosomal trisomi dari kromosom 13, 16, 18, 21 dan 22
(Eiben dkk, 1990). Dari penelitian terhadap 47.000 wanita, Bianco dan koleganya
(2006) menemukan bahwa risiko aneuploid pada fetus meningkat sesuai dengan
semakin seringnya abortus. Bila tidak pernah abortus risikonya 1,39%, satu kali
abortus risikonya menjadi 1,67%, dua kali abortus 1,84% dan tiga kali abortus
menjadi 2,18%.
Faktor maternal sebagai penyebab abortus dapat dikelompokkan menjadi
kelainan anatomis sistem reproduksi : mioma uteri dan kelainan uterus, usia,
faktor imunologis, infeksi, penyakit kronis, kelainan endokrin, nutrisi dan
lingkungan (Speroff dan Fritz, 2005).
2.4. Stres Oksidatif Pada Abortus Inkomplit
2.4.1. Stres Oksidatif
Efek merugikan dari radikal bebas yang menyebabkan kerusakan biologis
dikenal dengan nama stress oksidatif (Kovacic dan Jacintho, 2001). Hal ini terjadi
dalam sistem biologis akibat produksi ROS yang berlebihan maupun akibat
defisiensi antioksidan enzimatik dan non-enzimatik. Dengan kata lain, stress
oksidatif terjadi akibat reaksi metabolik yang menggunakan oksigen dan
menunjukkan gangguan keseimbangan status reaksi oksidan dan antioksidan pada
mahluk hidup. ROS yang berlebihan akan merusak lipid seluler, protein maupun
DNA dan menghambat fungsi normal sel (Gambar 2.1).




Gambar 2.1 Kerusakan Akibat Reaktif Oksigen Spesies
Sumber : Kohen dan Nyska (2002)
Radikal yang berasal dari oksigen merupakan kelompok radikal terpenting
yang dihasilkan dalam tubuh mahluk hidup (Miller dkk, 1990). Secara umum
ROS dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu radikal dan nonradikal,
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.1. Kelompok radikal yang sering dikenal
dengan radikal bebas mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada
orbit atomik atau molekulernya (Halliwell dan Gutteridge, 1999). Elektron yang
tidak berpasangan ini menunjukkan tingkat reaktivitas tertentu pada radikal bebas.
Kelompok nonradikal terdiri dari berbagai bahan yang beberapa diantaranya
sangat reaktif (Kohen dan Nyska, 2002).







Tabel 2.1 Metabolit Radikal dan Nonradikal Oksigen
Sumber : Kohen dan Nyska (2002)

Nama Simbol
RADIKAL OKSIGEN
Oksigen (Bi-radikal) O
2
••

Ion Superoksida O
2
•¯

Hidroksil OH


Peroksil ROO


Alkoksil RO


Nitrit Oksida NO


NONRADIKAL OKSIGEN
Hidrogen Peroksida H
2
O
2

Peroksida organik ROOH
Asam Hipoklorit HOCL
Ozon O
3

Aldehid HCOR
Singlet Oksigen
1
O
2

Peroksinitrit ONOOH

Molekul oksigen memiliki konfigurasi elektron yang unik dan molekul ini
sendiri merupakan bi-radikal karena memiliki dua elektron tidak berpasangan
pada dua orbit yang berbeda. (Kohen dan Nyska, 2002). Penambahan satu
elektron pada dioksigen akan membentuk radikal superoksid (O
2
•¯
). Peningkatan
anion superoksida terjadi melalui proses metabolik atau setelah aktivasi oksigen
oleh radiasi (ROS primer) dan dapat bereaksi dengan molekul lain untuk
membentuk ROS sekunder baik secara langsung maupun melalui proses
enzimatik atau katalisis metal (Valko dkk, 2005).
Organisme harus menghadapi dan mengontrol adanya pro-oksidan dan
antioksidan secara terus menerus. Keseimbangan kedua faktor ini yang dikenal
dengan nama redoks potensial, bersifat spesifik untuk tiap organel dan lokasi
biologis. Hal-hal yang mempengaruhi kesimbangan ke arah manapun
menimbulkan efek buruk terhadap sel dan organisme. Perubahan keseimbangan



ke arah peningkatan pro-oksidan yang disebut stress oksidatif akan menyebabkan
kerusakan oksidatif. Perubahan keseimbangan ke arah peningkatan kekuatan
reduksi atau antioksidan juga akan menimbulkan kerusakan yang disebut stress
reduktif (Gambar 2.2) (Kohen dan Nyska, 2002)

Gambar 2.2 Pengaruh Keseimbangan Oksidan dan Reduktan
Sumber : Kohen dan Nyska (2002)
Radikal bebas memiliki waktu paruh yang sangat singkat, karena setelah
terbentuk, komponen ini segera bereaksi dengan molekul lain. Waktu paruh ROS
dipengaruhi oleh lingkungan fisiologisnya, seperti pH dan adanya spesies lain.
Toksisitasnya tidak selalu sejalan dengan reaktivitas ROS. Pada umumnya, waktu
paruh yang panjang dapat mengakibatkan toksisitas yang lebih besar karena
memiliki waktu yang cukup untuk berdifusi dan mencapai lokasi yang sensitif,
kemudian ROS yang terbentuk akan berinteraksi dan menyebabkan kerusakan di
tempat yang jauh dari tempat produksinya. Sebaliknya, ROS yang sangat reaktif
dengan waktu paruh yang pendek, misalnya OH

, menyebabkan kerusakan
langsung di tempat produksinya. Jika tidak ada target biologis penting di sekitar
tempat produksinya, radikal tidak akan menyebabkan kerusakan oksidatif. Untuk
mencegah interaksi antara radikal dan target biologisnya, antioksidan harus ada di



lokasi produksi untuk bersaing dengan radikal dan berikatan dengan bahan
biologis (Kohen dan Nyska, 2002).
Pada pH fisiologis, superoksid ditemukan dalam bentuk ion superoksid (O
2
•¯
)
sedangkan pada pH rendah ditemukan sebagai hidroperoksil (HO
2
), yang lebih
mudah berpenetrasi ke dalam membran biologis. Dalam keadaan hidrofilik, kedua
substrat tersebut dapat berperan sebagai bahan pereduksi, namun kemampuan
reduksi HO
2
lebih tinggi. Reaksi terpenting dari radikal superoksid adalah
dismutasi, dimana 2 radikal superoksid akan membentuk Hidrogen peroksida
(H
2
O
2
) dan O
2
dengan bantuan enzim superoksid dismutase maupun secara
spontan (Kohen dan Nyska, 2002).
Hidrogen peroksida dapat menyebabkan kerusakan sel pada konsentrasi yang
rendah (10µM), karena mudah larut dalam air dan mudah melakukan penetrasi ke
dalam membran biologis. Efek buruk kimiawinya dapat dibedakan menjadi 2,
yaitu efek langsung dari kemampuan oksidasinya dan efek tidak langsung, akibat
bahan lain yang dihasilkan dari H
2
O
2
, seperti OH

dan HClO. Efek langsung H
2
O
2

seperti degradasi protein Haem, pelepasan besi, inaktivasi enzim, oksidasi DNA,
lipid, kelompok -SH dan asam keto (Kohen dan Nyska, 2002).
Molekul oksigen reaktif termasuk radikal bebas, pada keadaan normal
dibentuk secara kontinyu sebagai hasil sampingan proses metabolisme selular.
Proses metabolisme yang merupakan sumber radikal bebas (Ronzio, 1999,
Wibowo, 2002):
1. Reaksi fosforilase oksidatif pada pembentukan ATP di mitokondria. Secara
normal dalam reaksi ini 1-5% oksigen keluar dari jalur reaksi ini dan



mengalami reduksi univalent. Reduksi satu elektron dari molekul oksigen ini
akan membentuk radikal superoksida, yang harus didetoksifikasi oleh
mekanisme proteksi biokimia endogen untuk mencegah kerusakan sel.
2. Beberapa jenis enzim oksidase, misalnya xantin oksidase dan aldehid oksidase
dapat membentuk zat oksidan yang reaktif, seperti superoksida.
3. Metabolisme asam arakhidonat oleh enzim siklooksigenase untuk membentuk
prostaglandin dan oleh enzim lipooksigenase untuk membentuk leukotrien
menyebabkan pembentukan zat-zat antara berbentuk peroksi maupun radikal
hidroksi.
4. Sistem oksidase NADPH-dependen di permukaan membran neutrofil adalah
sumber pembentukan radikal superoksida yang sangat efisien. Enzim ini lebih
banyak bersifat dorman, namun jika teraktivasi misalnya oleh bakteri, mitogen
atau sitokin, enzim ini akan mengkatalisis reaksi reduksi mendadak dari
oksigen menjadi hidrogen peroksida dan O
2
-
.
5. Sel yang mengandung peroksisom, organela yang mengoksidasi asam lemak
akan memproduksi H
2
O
2
.





















Bagan 2.1 Fisiologi pembentukan dan katalisasi radikal bebas (Adrian dkk, 2000).
O
2
-
dapat bereaksi dengan nitrik oksida (NO) yang menghasilkan
peroksinitrit (ONOO
-
) yang kemudian akan dioksidasi menjadi nitrat (NO3
-
). NO
merupakan suatu endotelium-derived relaxing factor (EDRF), suatu zat yang
menyebabkan vasodilatasi sebagai respon terhadap asetilkolin. Peroksinitrit ini
sangat sitotoksik dan menyebabkan kerusakan oksidatif pada protein, lemak, dan
DNA ( Intyre, 1999).
Radikal bebas dihasilkan selama proses fisiologi normal, namun
pelepasannya meningkat pada keadaan iskemia, keadaan reperfusi, dan saat
terjadinya reaksi imun (Kumar dkk, 2008). Selain dari sumber endogen yang
penting, Sel terpapar reaktif oksigen spesies juga berasal dari sumber eksogen
seperti radiasi sinar gamma, ultraviolet, makanan, obat-obatan, polutan,
Cytoplasma Mitochondria
Cytochrome
P450
O
2
+ e
-

Superoxide
Cu/Zn SOD
Hydrogen
peroxide
H
2
O + O
2

Electron
Transport
chain
O
2
+ e
-

Superoxide
Hydrogen
peroxide
Mn SOD
GPX
CAT

H
2
O + O
2

NO
NO
Peroxynitrite
Hydroxyl
radical
GPX
CAT



xenobiotik dan toxin , merokok, dan polusi udara. Radikal bebas dapat merusak
semua komponen biokimia sel, protein dan asam nukleat adalah target utama yang
paling penting. Karena sangat reaktif, radikal bebas pada umumnya bereaksi
dengan struktur pertama yang dijumpai, yang paling sering adalah komponen lipid
membran sel atau organel (Bagiada, 1995).
2.4.2 Mekanisme Pertahanan terhadap Stress Oksidatif
Sel yang terpapar stress oksidatif secara terus menerus, juga memiliki
berbagai mekanisme pertahanan agar dapat bertahan hidup (Gambar 2.4)











Gambar 2.3 Klasifikasi Mekanisme Pertahanan Antioksidan Seluler .
Sumber :Kohen dan Nyska (2002)

Mekanisme pertahanan terpenting adalah dari antioksidan enzimatik dan
low molecular weight antioxidant (LMWA). Antioksidan enzimatik ada yang
Physical defenses
(e.g, stabilitation of
biological sites, steric
interference
Prevention Mechanisms
(e.g, prevention of production
of ROS by metal chelation)
Repair Mechanisms
(e.g,DNA-Repair
Enzymes)
Antioxidant defense
Defense mechanisms against oxidative stress
Antioxidant enzyms
Direct-acting enzymes (e.g,
SOD, Catalase, peroxidase)
Supporting enzymes (e.g,
G6PD, Xanthine oxidase)
Low- Molecular-Wieght
Antioxidant (LMWA)
(scavengers)
Indirect-acting LMWA
(Chelating agents)
Waste products (e.g,
uric acid)
Shyntesized by the cell (e.g,
histidine di-peptides, carnosine,
homocarnosine, glutatione)
Dietary sources (e.g,
tocopherols, carotenes,
ascorbid acid)



bekerja secara langsung, misalnya Katalase (Cat), superoksid dismutase (SOD),
glutathione peroxidase (Gpx) dan ada yang berupa enzim tambahan, seperti
Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD) dan xanthin oxidase. Sedangkan
yang termasuk kelompok LMWA misalnya glutathione, asam urat, -tokoferol,
asam askorbat, karotenoid dan masih banyak lagi bahan-bahan lainnya (Biri dkk,
2006).
Kalau radikal bebas dan oksidan adalah penerima elektron maka
antioksidan secara kimia adalah semua senyawa yang mampu memberikan
elektron. Dalam arti biologis, antioksidan mempunyai pengertian yang luas yaitu
semua senyawa yang dapat meredam dampak negatif oksidan, termasuk enzim-
enzim dan protein pengikat logam. Dalam meredam efek negatif dari oksidan
dilakukan dengan dua cara yaitu 1) mencegah terjadinya dan tertimbunnya
senyawa oksidan secara berlebihan, 2) mencegah terjadinya reaksi rantai yang
berkelanjutan. Bertitik tolak pada dua cara kerjanya tersebut, antioksidan
digolongkan menjadi antioksidan pencegah dan antioksidan pemutus reaksi rantai.
Pengelompokan antioksidan yang lain adalah berdasarkan mekanisme proteksi
endogen terhadap radikal bebas (Wibowo, 2001), yaitu:
1. Mekanisme antioksidan enzimatik
- Sitokrom oksidase pada mitokondria, mengkonsumsi hampir seluruh oksigen
yang terdapat dalam sel, sehingga mencegah 95% hingga 99% molekul oksigen
dari pembentukan metabolik toksik.
- Superoksid dismutase (SOD), mengkatalisa dismutase radikal bebas O
2
-

menjadi hidrogen peroksida dan molekul oksigen, sehingga tidak tersedia O
2
-




yang dapat bereaksi dengan hidrogen peroksida untuk membentuk radikal
hidroksil.
- Katalase (Cat), mengkatalisa perubahan hidrogen peroksida yang toksik
menjadi molekul air (H
2
O) bersama dengan peroksidase, sehingga mencegah
pembentukan sekunder zat antara yang toksik seperti radikal hidroksil.
Peroksidase yang penting dalam tubuh yang dapat meredam dampak negatif
H
2
O
2
adalah glutation peroksidase.
- Glutation peroksidase (Gpx), bekerja mengoksidasi glutation menjadi
glutation disulfida dan pada saat yang bersamaan karena adanya reaksi redoks,
terjadi perubahan hidroperoksida menjadi H
2
O dan alkohol.
2O
2
-
+ 2H
+
O
2
+ H
2
O
2
(oleh superoksid dismutase)
2H
2
O
2
2H
2
O + O
2
(oleh katalase)
2GSH + H
2
O
2
GSSG + 2H
2
O (oleh glutation peroksidase)
A. Superoksid dismutase
Superoksid dismutase (SOD) merupakan enzim yang mengkatalisis radikal
superoksid menjadi hidrogen peroksida dan oksigen. Terdapat beberapa jenis
SOD, seperti Copper-Zinc-SOD (Cu-Zn-SOD) yang terdapat di dalam sitosol
terutama di lisosom dan nukleus, manganese-SOD (Mn-SOD) yang terdapat di
dalam mitokondria, ekstraseluler SOD (EC-SOD) dan besi-SOD (Fe-SOD) yang
hanya ditemukan pada tumbuhan (Cemelli dkk, 2009). Radikal superoksid dapat
mengalami dismutasi secara spontan maupun dengan bantuan SOD membentuk
H
2
O
2
. Dengan adanya SOD, kecepatan dismutasi meningkat lebih dari 1000 kali
lipat dibandingkan dismutasi spontan (Miwa dkk, 2008)




B. Katalase
Katalase sebagai salah satu antioksidan endogen merupakan senyawa yang
hemotetramer dengan Fe sebagai kofaktor disandi oleh gen kromosom 11; mutasi
pada gen ini dapat menyebabkan akatalasemia. Katalase termasuk dalam golongan
enzim hidroperoksidase karena dapat mengkatalisis substrat hidrogen peroksida
atau peroksida organik. Enzim ini dapat ditemui dalam darah, sumsum tulang,
membran mukosa, ginjal dan hati (Kumar dkk, 2008). Merupakan hemoprotein
yang mengandung empat gugus heme. Di dalam sel, katalase ditemukan di dalam
peroksisom. Mekanisme aktivitas katalase sebagai antioksidan dengan cara
mengkatalisis pemecahan H
2
O
2
menjadi H
2
O dan O
2
, adalah sebagai berikut
(Kumar dkk, 2008).
Katalase-Fe(III) + H
2
O
2
- senyawa-1 +H
2
O tahap I
Senyawa-1 + H
2
O
2
- katalase-Fe(III) + H
2
O
2
+ O
2
tahap II
2H
2
O
2
- 2H
2
O + O
2

Senyawa-1 merupakan senyawa antara serta merupakan kunci dari oksidasi
dalam reaksi enzimatik katalase. Hal ini disebabkan oleh keberadaan senyawa-1
heme dengan suatu atom oksigen dari molekul H
2
O
2
pada tahap I ini. Hasil reaksi
ini membentuk molekul air pada tapak aktif enzim yang dekat heme Fe.
Kapasitas reduksi katalase tinggi pada suasana H
2
O
2
konsentrasi tinggi,
sedangkan pada konsentrasi rendah kapasitasnya menurun (Cemeli dkk, 2009;
Miwa dkk, 2008). Hal ini disebabkan karena katalase memerlukan reaksi dua
molekul H
2
O
2
dalam proses reduksinya, sehingga hal ini lebih jarang ditemukan
pada konsentrasi substrat rendah (Cemeli dkk, 2009). Pada konsentrasi H
2
O
2




rendah seperti yang dihasilkan dari proses metabolisme normal, peroxiredoksin
(PRX) yang berfungsi untuk mengikat H
2
O
2
dan mengubahnya menjadi oksigen
dan air (Miwa dkk, 2008). Reaksi pemecahan hidrogen peroksida dan
hidroperoksida organik secara enzimatik digambarkan dalam Gambar 2.4 (Day,
2009).

Gambar 2.4 Penangkapan Endogen Peroksida Seluler.
Sumber : Day (2009)

Senyawa H
2
O
2
merupakan salah satu senyawa oksigen reaktif yang
dihasilkan pada proses metabolisme di dalam sel. H
2
O
2
merupakan sumber toksik
berbagai macam penyakit karena dapat bereaksi menimbulkan kerusakan jaringan.
Selain itu, H
2
O
2
dianggap sebagai metabolit kunci karena stabilitasnya relatif
tinggi, cepat menyebar dan terlibat dalam sirkulasi sel.
Katalase di samping mendukung aktivitas enzim SOD juga dapat
mengkatalisa perubahan berbagai macam peroksida dan radikal bebas menjadi
oksigen dan air. Enzim-enzim ini mampu menekan atau menghambat
pembentukan radikal bebas dengan cara memutus reaksi berantai dan



mengubahnya menjadi produk lebih stabil. Reaksi ini disebut sebagai chain-
breaking-antioxidant.
Katalase dan glutathion peroksidase (Gpx) mempunyai sifat yang sama
dalam mengkatalisis H
2
O
2
. Namun, glutation peroksidase mempunyai aktivitas
yang tinggi terhadap H
2
O
2
daripada katalase. Hal ini disebabkan adanya
perbedaan kinetik dari kedua enzim tersebut. Katalase mengkatalisis H
2
O
2
secara
linier sesuai dengan konsentrasi H
2
O
2
, sedangkan glutation peroksidase menjadi
jenuh pada konsentrasi H
2
O
2
di bawah 10
-5
mol/L. Ketika konsentrasi H
2
O
2
sangat
rendah atau pada kondisi normal maka glutation peroksidase mempunyai peran
yang lebih domian untuk mengkatalisis H
2
O
2
daripada katalase.
Tingginya kadar glukosa diduga menghalangi aktivitas antioksidan
endogen. Sebuah penelitian tentang pengaruh berbagai tingkat kadar glukosa
terhadap enzim katalase, ditemukan penurunan aktivitas enzim pada kadar
glukosa yang tinggi. Pada penelitian lainnya dikemukakan bahwa aktivitas
katalase yang ditingkatkan melaui manipulasi transgenik–spesifik dapat
melindungi jantung dari progresi penyakit diabetes kardiomiopati .







Bagan 2.2 Mekanisme kerja Katalase melindungi kerusakan sel.

C. Glutathione peroxidase
Glutathione peroxidase merupakan seleno-enzim yang pertama kali
ditemukan pada mamalia (Toppo dkk, 2009). Kadarnya tinggi pada ginjal, liver,
dan darah, sedang pada lensa dan eritrosit, dan rendah pada alveoli dan plasma
darah (Cemeli dkk, 2009). Enzim ini memerlukan glutathione sebagai donor
substrat untuk mengikat H
2
O
2
maupun hidroperoksida organik (ROOH) untuk
menghasilkan glutathione disulphide (GSSG), air dan bentuk hidroksi dari bahan
organik tersebut (ROH). Pada manusia, saat ini telah dikenal 8 macam Gpx, mulai
dari Gpx1 hingga Gpx8. Sebagian besar merupakan selenoprotein (Gpx1, Gpx2,
Gpx3, Gpx4, dan Gpx6), sedangkan pada Gpx5, Gpx7 dan Gpx8, tempat aktif
residu selenocysteine diganti dengan cysteine. Fungsi dari masing-masing Gpx ini
belum sepenuhnya diketahui. (Toppo dkk, 2009).





2. Mekanisme antioksidan non enzimatik.
Antioksidan nonenzimatik ada yang larut dalam lemak dan yang larut
dalam air. Beta karoten dan vitamin E adalah antioksidan yang larut dalam lemak
sedangkan asam askorbat, asam urat dan glutation larut dalam air. Antioksidan
nonenzimatik bekerja langsung berikatan dengan radikal bebas sehingga
mengurangi reaktifitasnya.
Sebenarnya dalam keadaan normal, sistem pertahanan tubuh sudah mampu
meredam radikal atau oksidan yang timbul dengan memproduksi antioksidan
dalam jumlah yang memadai. Tetapi apabila keseimbangan tersebut terganggu
dalam artian oksidan atau radikal bebas diproduksi dalam jumlah yang melebihi
kemampuan tubuh untuk memproduksi antioksidan maka akan terjadi suatu
keadaan yang disebut sebagai stres oksidatif yang selanjutnya akan diikuti
perusakan jaringan.
2.4.3 Abortus Inkomplit Sebagai Keadaan Stres Oksidatif
Plasenta janin tidak memfasilitasi suplai oksigen kepada fetus selama
periode organogenesis, melainkan membatasinya. Sehingga fase awal dari
perkembangan fetus terjadi dalam lingkungan rendah oksigen. Sebagian besar
oksigen yang digunakan dalam oksidasi molekul organik dalam diet akan diubah
menjadi air melalui kerja enzim dalam proses respirasi. Sekitar 1-5 % dari oksigen
yang digunakan tidak melalui proses ini dan diubah menjadi radikal bebas oksigen
yang sangat reaktif (OFRs) dan spesies oksigen reaktif lainnya (ROS) dengan
kecepatan yang dipengaruhi kadar oksigen yang tersedia. Ketika produksi OFRs



melebihi perlindungan seluler yang alami, kerusakan terhadap protein, lipid dan
DNA dapat terjadi (Jauniaux dkk, 2006).
Salah satu kunci sukses kehamilan adalah terjadinya pertukaran feto-
maternal yang adekuat. Perbandingan antara gambaran morfologi dengan data
fisiologis menunjukkan bahwa struktur kantong gestasi pada trimester pertama di
desain untuk membatasi pemaparan fetus terhadap oksigen yang sangat vital bagi
pertumbuhan fetus (Adrian dkk, 2000).
Plasentasi terjadi akibat infiltrasi difus pada endometrium dan sepertiga
miometrium oleh sel trofoblas ekstravilli. Plasenta manusia digolongkan sebagai
tipe hemokorial dengan trofoblas fetus direndam oleh darah ibu. Sebelumnya
diperkirakan sirkulasi plasenta intervillous dibentuk setelah 1 minggu implantasi.
Namun teori ini di bantah oleh Hustin dan Schaaps, yang menunjukkan bahwa
sirkulasi intraplasenta ibu terbatas sebelum usia kehamilan 12 minggu. Data
tersebut menunjukkan bahwa selama trimester pertama, rongga intervilli plasenta
yang sedang berkembang dipisahkan dari sirkulasi uterus oleh sel-sel trofoblas
yang menutupi arteri uteroplasental (arteri spiralis). Pada akhir trimester pertama
sel-sel trofoblas ini hilang dan mengakibatkan darah ibu mengalir secara bebas ke
ruang intervilli. Sel-sel embrio dan plasenta sangat sensitif terhadap stres oksidatif
karena berada dalam tahap pembelahan sel yang cepat sehingga meningkatkan
risiko pemaparan OFRs pada DNA sel. Sel-sel sinsitiotrofoblas pada plasenta
terutama sangat sensitif tidak hanya karena merupakan lapisan sel terluar dari
hasil konseptus sehingga terpapar linkungan dengan konsentrasi oksigen yang
sangat tinggi, namun karena ternyata sel-sel tersebut memiliki kadar enzim anti-



oksidan yang sangat rendah pada awal kehamilan. Sehingga dapat dihubungkan
antara kehamilan dengan gangguan metabolisme maternal seperti diabetes
mellitus yang diasosiasikan dengan peningkatan produksi OFRs, dengan
peningkatan insiden abortus, vaskulopati dan kelainan struktural pada fetus, yang
menunjukkan bahwa hasil konseptus mamalia dapat mengalami kerusakan yang
irreversibel akibat stres oksidatif. Jadi suplai makan untuk embrio selama
trimester satu melalui kelenjar endometrium yang langsung sekresi pada ruang
intervili plasenta. Pada akhir trimester pertama, sumbatan trofoblastik pada arteri
spiralis dibuka secara bertahap, sehingga meningkatkan aliran darah maternal
kedalam ruang intervillier secara bertahap pula. Selama fase transisi pada umur
kehamilan 10-14 minggu, dua pertiga dari plasenta primitif yang sudah terbentuk
akan menghilang, kavitas eksokoelomik hilang akibat pertumbuhan kantong
amnion dan aliran darah maternal meningkat secara bertahap pada seluruh bagian
plasenta. Perubahan tersebut memungkinkan darah maternal untuk mendekati
jaringan fetus sehingga terjadi pertukaran nutrien dan gas antara sirkulasi maternal
dan fetus (Jauniaux dkk, 2000).

Gambar 2.5 Permukaan uteroplasenta awal dan akhir timester1(Eric Jauniaux, 2006)



Berdasarkan evaluasi sirkulasi plasenta pada berbagai masa kehamilan
dengan menggunakan Doppler, tidak ditemukan sinyal nonpulsatile yang
menunjukkan aliran darah maternal intraplasenta dalam rongga intervilli hingga
umur kehamilan 10 minggu. Salah satu implikasi dari teori baru tersebut adalah
bahwa kadar oksigen dalam plasenta janin stadium awal sangat rendah dan
meningkat ketika mendapatkan aliran darah dari ibu. Sebaliknya, pada kehamilan
muda dengan komplikasi, terlihat hipervaskularisasi pada plasenta jauh sebelum
akhir trimester pertama dengan pemetaan color flow. Pada kehamilan dengan
komplikasi, invasi endometrium oleh trofoblas ekstravilli sangat tebatas
dibandingkan dalam keadaan normal. Pembatasan (plugging) dengan arteri
spiralis tidak sempurna dan dapat menjadi faktor predisposisi pada onset awal
sirkulasi maternal. Jaringan plasenta memiliki enzim antioksidan dalam
konsentrasi rendah dan aktifitas rendah selama trimester pertama sehingga
menjadi sangat rentan terhadap kerusakan yang dimediasi oksidatif. Ditemukan
peningkatan tajam dari ekspresi marker stres oksidatif pada trofoblas pada umur
kehamilan 8 hingga 9 minggu yang berhubungan dengan onset sirkulasi pada
kehamilan normal dan berspekulasi bahwa stres oksidatif yang berlebih pada
plasenta dalam umur kehamilan muda mungkin merupakan faktor yang berperan
dalam patogenesis aborsi.
2.5 Peranan Radikal bebas dan Katalase Pada Kehamilan Normal
2.5.1 Peranan Radikal Bebas Pada Kehamilan Normal
Perbandingan antara gambaran morfologi dengan data fisiologis
menunjukkan bahwa struktur kantong gestasi pada trimester pertama di desain



untuk membatasi pemaparan fetus terhadap oksigen yang sangat vital bagi
pertumbuhan fetus. Data in vivo mendemonstrasikan nilai tekanan parsial dari
oksigen (PO
2
) dua hingga tiga kali lebih rendah pada umur kehamilan 8 hingga 10
minggu dibandingkan umur kehamilan 12 minggu. Seiring meningkatnya umur
kehamilan antara minggu ke-7 hingga minggu ke-12, terdapat peningkatan yang
progresif namun independen dari PO
2
pada desidua, yang mungkin merefleksikan
peningkatan volume darah maternal yang mengalir dalam sirkulasi uterus pada
awal kehamilan. Pada minggu ke 13-16, PO
2
pada sirkulasi fetus hanya 24 mmHg,
dibandingkan nilai yang ditemukan pada pertengah kehamilan atau lebih dimana
PO
2
vena umbilikus berkisar antara 35 hingga 55mmHg. Peningkatan bertahap
pada PO
2
intraplasenta yang dilihat pada umur kehamilan 8 hingga 14 minggu
diikuti peningkatan konsentrasi mRNA dan aktivitas enzim anti-oksidan yang
sebanding dalam jaringan villi. Gradien oksigen dalam uterus pada trimester
pertama memiliki efek regulasi pada perkembangan dan fungsi jaringan plasenta.
Khususnya gradien tersebut mempengaruhi proliferasi dan differensiasi
sitotrofoblas selama proses invasi, serta mempengaruhi vaskulogenesis pada villi.
Hipoksia fisiologis pada kantong gestasi trimester pertama dapat
melindungi fetus terhadap efek deterioasi dan teratogenik akibat OFRs. Data
terakhir mengindikasikan hipoksia dibutuhkan untuk mempertahan stem- cell pada
fase pluripotent yang sempurna, karena pada kadar fisiologis, radikal bebas
mengatur fungsi sel secara luas, khususnya faktor-faktor transkripsi. Produksi
OFRs yang berlebih menyebabkan stres oksidatif dan terdapat dua contoh dimana
hal tersebut dapat terjadi secara fisiologis selama kehamilan. Stres oksidatif dan



peningkatan oksigenasi mungkin juga menstimulasi sintesis dari berbagai protein
trofoblastik seperti hCG dan estrogen. Konsentrasi hCG dalam serum maternal
mencapai puncak pada akhir trimester pertama dan kondisi oksidasi
mempromosikan penyusunan subunit dari hCG in vitro. Konsentrasi hCG lebih
meningkat lagi pada kasus seperti trisomi 21, dimana terdapat bukti adanya stres
oksidatif trofoblas melalui ketidakseimbangan ekspresi enzim anti-oksidan.
Akhir-akhir ini, telah didemonstrasikan bahwa enzim P-450 sitokrom aromatase
(CYP19) yang berperan dalam sintesis estrogen, diregulasi oleh oksigen melalui
transkripsi dan hal tersebut mungkin menjadi penyebab peningkatan signifikan
dari produksi CYP19 pada awal trimester kedua ( Poston dkk, 2006).
2.5.2 Peranan Katalase Pada Kehamilan Normal
Adanya peningkatan produksi hormon steroid pada folikel yang sedang
berkembang, terjadi melalui peningkatan aktivitas sitokrom p450 yang kemudian
akan menghasilkan ROS seperti H
2
O
2
(Ortega dkk, 1999). Behl dan Padey (2002)
meneliti perubahan aktivitas katalase dan estradiol pada sel granulosa folikel
ovarium kambing setelah pemberian FSH dengan dosis yang sama (200ng/ml).
Hasil penelitian tersebut menunjukkan aktivitas katalase dan estrogen yang lebih
tinggi pada sel granulosa yang berukuran besar (lebih dari 6mm) dibandingkan
dengan ukuran sedang (3-6 mm), maupun yang kecil (kurang dari 3mm). Karena
folikel dominan adalah folikel dengan konsentrasi estrogen tertinggi, maka
peningkatan katalase dan estradiol sebagai respon terhadap FSH menunjukkan
peran katalase dalam seleksi folikel dan pencegahan apoptosis (Behl dan Pandey,
2002).



Antioksidan enzimatik dan non enzimatik juga ditemukan dalam jumlah
yang cukup pada spermatozoa, cairan seminal dan cairan folikel ovarium,
menunjukkan bahwa molekul ini memiliki peran sejak masa konsepsi. Telah
diketahui bahwa kapasitas keseluruhan antioksidan pada organ dan darah janin
lebih rendah daripada jaringan orang dewasa, tetapi masih sedikit yang diketahui
mengenai transport molekul dengan aktivitas antioksidan pada plasenta trimester
pertama ( Jauniaux dkk, 2004).
Selanjutnya, dalam kehamilan katalase berperan sangat penting. Pada awal
kehamilan, peran Katalase pada endometrium untuk keberhasilan implantasi
dengan melindungi blastokist dari radikal superokside (Hitoshi dkk, 2002). Reaksi
oksidasi meningkat pada fase sekresi lanjut sesaat sebelum menstruasi dan
menurun pada awal kehamilan terutama di desidua. Aktivitas katalase menurun
pada fase sekresi lanjut namun meningkat pada desidua diawal kehamilan.
Penemuan ini menunjukkan bahwa katalase berperan sangat penting dalam
stabilitas jaringan endometrium seiring dengan meningkatnya SOD dimana kedua
antioksidan ini bekerja secara sinergis. Untuk plasenta, katalase berperan
melindunginya dari lipid peroksidase. Lipid peroksidase mengakibatkan
kerusakan sel melalui reaksi enzymatik, mengubah unsaturated fatty acid menjadi
lipid peroksida, yang akan mengganggu stabilitas membrane sel sehingga
menginduksi kerusakan sel. Pada kehamilan normal lipid peroksidase akan
menurun sedangkan katalase meningkat sesuai dengan meningkatnya umur
kehamilan (Wibowo, 2001).



Aktivitas katalase selanjutnya adalah pada perkembangan embrio dan
dalam pemeliharaan kehamilan muda. Katalase bekerja sebagai faktor
penghambat dari kerja peroksida. Hasil penelitian pada tikus menunjukkan
konsentrasi oksigen yang tinggi berbahaya untuk perkembangan embrio secara
invitro dan dapat dicegah dengan mengkultur embrio dalam suasana rendah
oksigen. Kadar katalase dalam plasenta meningkat selama kehamilan dan aktivitas
katalase yang rendah dalam plasma atau plasenta ditemukan pada kasus abortus
spontan. Sugino dkk menemukan penurunan aktivitas total dari katalase dan
peningkatan sintesis prostaglandin F

dalam desisua pada kasus abortus spontan
dengan perdarahan pervaginam, sehingga diduga terminasi kehamilan akibat
penurunan aktivitas katalase yang menstimulasi sintesis prostaglandin. Pada
kehamilan normal ditemukan peningkatan kadar katalase pada awal trimester
pertama (Okan, 2006). Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan kadar
katalase dalam tubuh adalah malnutrisi, diabetes melitus, penyakit kronis,
hipertensi, usia, paritas dan umur kehamilan (Bagiada, 1995, Okan, 2006).
2.6 Peranan Katalase Pada Abortus Inkomplit
Apapun faktor yang terlibat dalam perlindungan katalase terhadap
interaksi materno-plasenta, tujuan utama adalah untuk mengoptimalkan
implantasi, plasentasi dan diikuti dengan transformasi progresif dari arteri spiralis
maternal yang vasoreaktif menjadi arteri utero-plasenta yang flasid dan distensi
yang dibutuhkan untuk mensuplai fetus yang sedang berkembang dan plasentanya
dengan jumlah darah maternal yang akan meningkat seiring dengan bertambahnya
umur kehamilan (Poston dkk, 2006).












Bagan 2.3 Patofisiologi abortus akibat stres oksidatif (Adrian dkk, 2000).
Onset dari aliran darah maternal ke plasenta diduga merupakan fenomena
yang progresif, dimana komunikasi antara arteri uteroplasenta dan rongga
intervilli berawal dari beberapa pembuluh darah kecil dari akhir bulan kedua
kehamilan. Dugaan ini didukung oleh temuan angiografi in vivo yang
menunjukkan hanya beberapa lokasi terbuka pada rongga intervilli yang bisa
diidentifikasi pada umur kehamilan 6,5 minggu, sedangkan pada umur kehamilan
12 minggu lebih banyak ditemukan. Studi anatomi menunjukkan migrasi trofoblas
dan perubahan morfologi pada arteri uteroplasenta lebih luas terjadi pada bagian
sentral dari plasenta (Eric dkk, 2003).
Extravilous trophoblast invasion of endometrium
Unpluging of arteries and onset of maternal circulation
Rise in intraplacental oxygen tension
Maternal diet
Parental genotype
Syncytiotrophoblastic
oxidative stress
Antioxidant
defences
catalase
Metabolic disorders
Mitochondrial dysfunction
Drugs
Differentation trigger
Induction of antioxidant
enzymes
Maladaptation of mitochondria
Poor placental perfusion
Degeneration of
syncytiotrophoblast
Early pregnancy failure
Chronic oxidative stress Pre-eclampsia
Resolution and continuing
pregnancy
Fetal Genotype
Maternal immune system
Endometrial Environtment



Metabolisme aerobik sangat berhubungan dengan pembentukan spesies
oksigen reaktif dan kecepatan pembentukannya sebanding dengan kadar oksigen.
Kadar katalase dalam serum dipengaruhi oleh banyak faktor. Kadar Katalase pada
wanita hamil normal dikatakan lebih rendah dari pada wanita 24 jam postpartum
pada penelitian di rumah sakit Tama Nagayama - Jepang, dimana kadar Katalase
pada ibu hamil (predelivery) adalah 77.6 ± 29.1, sedangkan pada 24 jam
postpartum 114.4 ± 13.2 (Hitoshi dkk , 2002). Penelitian di Rumah Sakit Umum
Belgaum – India, kadar Katalase pada wanita hamil trimester pertama adalah 7.82
± 2.84, sedangkan wanita non-pregnant 8.13 ± 2.25 (Kodliwadmath , 2007).
















BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Berpikir
Lebih dari 50 % kejadian abortus disebabkan oleh kelainan kromosom. Teori
lain yang akhir-akhir ini sedang berkembang, mencoba menghubungkan
peningkatan radikal bebas akibat peningkatan aliran oksigen pada aliran darah
fetoplasetal yang terjadi secara mendadak yang dapat mengakibatkan reperfusion
injury. Apabila sistem pertahanan antioksidan yang ada di dalam tubuh ibu dapat
mengikat radikal bebas tersebut, maka proses plasentasi akan berjalan dengan
baik dan kehamilan akan berjalan dengan normal. Sedangkan apabila antioksidan
enzimatik dalam tubuh ibu tidak dapat mengikat radikal bebas tersebut, maka
akan terjadi kegagalan plasentasi sehingga, pada tingkat yang sangat berat,
kehamilan tersebut akan berakhir dengan abortus.
Katalase merupakan suatu direct acting enzymatic antioxidant yang terdapat
di dalam tubuh. Enzim ini dapat mengikat radikal bebas dengan cara mengubah
Hidrogen Peroksida (H2O2) menjadi air (H20) dan Oksigen (O2). Dengan adanya
enzim ini di dalam tubuh, maka efek langsung hidrogen peroksida seperti
degradasi haem, pelepasan Fe, inaktivasi enzim, oksidasi DNA dan lipid, maupun
efek tidak langsung seperti sebagai sumber radikal bebas hidroksil (OH¯) yang
dapat menyebabkan kerusakan DNA dan asam hipoklorit (HClO) yang lebih
membahayakan dapat dicegah.



Katalase dapat ditemukan pada cairan ekstraseluler seperti plasma dan cairan
amnion. Selama kehamilan trimester pertama, plasenta memfiltrasi darah
maternal, hanya memperbolehkan rembesan plasma, bukan aliran darah murni ke
dalam ruang intervillus. Apabila kadar katalase ini menurun, maka radikal bebas
yang diproduksi oleh embrio tidak dapat diikat dengan sempurna, sehingga H
2
O
2

yang terbentuk semakin banyak dan diubah menjadi radikal hidroksil yang dapat
merusak DNA. Bila kerusakan DNA yang terjadi tidak dapat diperbaiki oleh
mekanisme perbaikan DNA, maka sel akan masuk ke jalur apoptosis dan
terjadilah kematian sel, yang dalam tahap janin, kematian ini akan memicu respon
tubuh untuk mengeluarkan hasil konsepsi, sehingga terjadilah abortus inkomplit.
















3.2 Konsep Penelitian :













Bagan 3.1 Konsep penelitian

3.3 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah kadar antioksidan enzimatik katalase pada
abortus inkomplit lebih rendah dibandingkan dengan kehamilan normal trimester
pertama.


Antioksidan
Katalase Endogen

Tidak Stres Oksidatif
Degenerasi Sinsitiotropoblas
Abortus Inkomplit
Kehamilan Normal
KEHAMILAN
Stres Oksidatif
Radikal
Bebas
O
2
¯
OH¯
H
2
O
2



BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan observasional analitik ( cross-sectional )
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
4.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dan pengambilan sampel darah dilaksanakan di poliklinik dan
IRD Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2013.
4.3 Populasi, Sampel Penelitian, Penghitungan Besar Sampel dan Cara
Pemilihan Sampel
4.3.1 Populasi Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua pasien yang
didiagnosa sebagai abortus inkomplit dan semua ibu hamil normal trimester
pertama yang datang ke poliklinik dan IRD Obstetri dan Ginekologi RSUP
Sanglah Denpasar.
4.3.2 Sampel Penelitian
Sampel Penelitian adalah semua pasien yang didiagnosa sebagai abortus
inkomplit dan semua ibu hamil trimester pertama normal yang datang ke



poliklinik dan IRD Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar yang
memenuhi kriteria inklusi :
 Ibu hamil yang didiagnosis sebagai abortus inkomplit trimester pertama,tanpa
penyakit sistemik lain yang diderita 1 minggu sebelum datang ke poliklinik
dan IRD Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar.
 Ibu hamil normal trimester pertama yang datang ke poliklinik dan IRD
Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar.
 Anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda abortus
provocatus.
 Bersedia ikut penelitian
4.3.3 Penghitungan Besar Sampel
Besar atau jumlah sampel minimal ditentukan berdasarkan asumsi :
Tingkat kesalahan tipe I (α) dipergunakan 0,05  Z
α
= 1,960
Power penelitian sebesar 80% dengan
Tingkat kesalahan tipe II (β) adalah 20%  Z
β
= 0,842
Simpang baku (S) : 2.84 (dari pustaka : Kodliwadmath,2007)
Selisih rerata 2 kelompok yang bermakna (X1-X2) : 7.82 – (1/3 x 7.82) = 1.564
Sampel dihitung berdasarkan rumus Levy & Lemeshow, 2008 sebagai berikut :



2
n1 = n2 = 2 = 25.89

(1,960+0,842).2.84
1.564

n1 = n2 = 2
(Z
α
+ Z
β
) S
2
(x
1
-x
2
)



Berdasarkan perhitungan dengan rumus di atas didapatkan jumlah sampel
masing-masing kelompok yang diperlukan adalah 26.
4.3.4 Cara pemilihan sampel
Sampel diambil dengan cara consecutive sampling hingga jumlah sampel
terpenuhi.
4.4 Variabel Penelitian
 Variabel bebas : Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase
 Variabel tergantung : abortus inkomplit
 Variabel terkontrol : Umur ibu, paritas dan umur kehamilan.
4.5 Definisi Operasional Variabel
1. Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase merupakan kadar Antioksidan
Enzimatik Katalase yang diambil dari sampel penelitian berasal dari vena
mediana cubiti dan dicampur dengan antikoagulan heparin, berdasarkan
metode ELISA dengan BioVision catalase Assay Kit (#K773-100), yang
diperiksa oleh Spesialis Pathologi Klinik di Laboratorium Pathologi Klinik
Rumah Sakit Sanglah Denpasar dengan bekerja sama dengan Palang Merah
Indonesia Cabang Rumah Sakit Sanglah Denpasar, sebagai penyedia alat
ELISA.
2. Abortus inkomplit trimester pertama adalah keluarnya hasil konsepsi
sebelum umur kehamilan 14 minggu dimana saat pemeriksaan ginekologi
tampak canalis serviks terbuka dan masih terdapat sisa hasil konseptus pada
vagina.



3. Kehamilan normal trimester pertama adalah kehamilan dengan umur
kehamilan kurang dari 14 minggu tanpa disertai penyakit sistemik pada ibu
selama kehamilan kali ini dan dari pemeriksaan USG dijumpai kantong
gestasi di dalam uterus pada umur kehamilan lima minggu, dengan fetal pole
setelah kehamilan 6 minggu, fetal movement dan fetal heart beat setelah 7
minggu.
4. Umur ibu adalah umur ibu hamil dihitung dari tanggal lahir atau yang
tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk.
5. Umur kehamilan adalah umur kehamilan dihitung dari Hari Pertama Haid
Terakhir (HPHT) atau apabila ibu hamil tidak dapat mengingat HPHTnya,
umur kehamilan dihitung berdasarkan hasil pemeriksaan USG.
6. Paritas adalah jumlah anak lahir hidup yang dialami oleh ibu hamil sebelum
kehamilan yang sekarang.
7. Abortus provocatus adalah abortus yang sengaja dilakukan oleh ibu, baik
dengan menggunakan obat-obatan maupun secara mekanis dengan
memasukkan lidi, batang sirih maupun alat lain.
4.6 Bahan Penelitian
Bahan penelitian berupa BioVision catalase Assay Kit untuk 100 reaksi.
Bahan tersebut akan dipesan dari Distributor BioVision di Surabaya setelah
sampel terkumpul sebagian. Hal ini karena masa kadaluwarsa kit tersebut hanya 6
bulan dari jangka waktu produksi. Setelah kit tersebut tiba di laboratorium
Patologi Klinik Rumah Sakit Sanglah Denpasar, kit disimpan pada suhu -20
O
C
dan tidak boleh terkena cahaya langsung. Sebelum digunakan, buffer penelitian



harus dihangatkan hingga mencapai suhu kamar. Larutan campuran katalase
reduktase dan kontrol katalase positif harus disimpan dalam es selama
pemeriksaan. Setelah bahan dicampurkan, larutan stabil selama minimal 1 minggu
pada suhu 4
O
C dan 1 bulan pada suhu -20
O
C.
4.7 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa : formulir informed
consent, formulir pengumpulan data, tensimeter merk Riester, multi-sample
needle, needle holder, heparinized vacuum tube dan BioVision catalase assay kit.
4.8 Alur Penelitian
Ibu-ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi seperti yang disebutkan di
atas dimasukkan dalam sampel kehamilan dengan abortus inkomplit dan sampel
kehamilan normal kemudian diminta untuk menandatangani formulir informed
consent yang telah disediakan. Selanjutnya semua sampel penelitian dikelola
sesuai dengan Pedoman Terapi Lab/SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit
Kandungan FK UNUD / RSUP Sanglah Denpasar




Bagan 4.1 Alur Penelitian
Langkah-langkah yang akan dilakukan pada sampel penelitian adalah : pertama
anamnesis meliputi nama, umur, paritas, riwayat abortus sebelum kehamilan
sekarang, hari pertama haid terakhir dan riwayat penyakit sebelumnya. Kemudian
dilakukan pemeriksaan fisik meliputi kesadaran, tekanan darah, denyut nadi arteri
radialis, pemeriksaan ginekologi, tes kehamilan, darah lengkap, dan pemeriksaan
ultrasonografi. Selanjutnya, ibu hamil yang memenuhi kriteria sebagai Abortus
inkomplit dan hamil normal trimester pertama diambil darah sebanyak 6cc untuk
pemeriksaan darah lengkap dan kadar katalase. Sampel darah kemudian diberi
label identitas sesuai nomor urut kelompok sampel, tanpa menulis diagnosa
pasien. Selanjutnya, sampel pemeriksaan darah lengkap akan langsung dikerjakan
di Laboratorium Rumah Sakit Sanglah Denpasar, sedangkan sampel darah untuk
pemeriksaan kadar katalase akan disimpan pada suhu -80
O
C hingga terkumpul
ANALISIS DATA
Penapisan Ibu Hamil Muda Normal dan Abortus
Inkomplit dengan umur kehamilan 8-10 minggu yang
datang ke Poliklinik dan IRD Kebidanan dan
Kandungan RSUP Sanglah Denpasar
Kriteria Inklusi
Abortus Inkomplit Hamil Normal
Pengambilan darah Pengambilan darah
Kadar katalase Kadar katalase



seluruh sampel penelitian. Pengerjaan seluruh sampel akan dikerjakan bersamaan
setelah jumlah sampel terpenuhi.
4.9 Analisis Data
Data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan Program Statistical
Package for The Social Sciences (SPSS) for Windows 16.0.
4.9.1 Analisis deskriptif
Analisis deskriptif yang meliputi umur ibu, paritas, dan umur kehamilan
antara kelompok abortus inkomplit dan kehamilan normal trimester pertama,
kemudian akan disajikan dalam Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Tabel Analisis Deskriptif
No Parameter Mean (SD)
1 Umur ibu (tahun)
2 Paritas
3 Umur kehamilan (minggu)

4.9.2 Uji normalitas
Uji normalitas data dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov.
4.9.3 Uji hipotesis
Uji hipotesis penelitian ini dilakukan dengan uji T tidak berpasangan.
4.9.4 Perhitungan rasio prevalensi
Dengan menggunakan Kurva ROC, ditentukan cut off point kadar katalase.
Kemudian data dikelompokkan sesuai dengan format table 2x2 sebagai berikut:





Tabel 4.2
Rasio Prevalensi




RP =

Kemudian dilakukan uji tingkat kemaknaan dengan Uji Chi-Square
Hipotesis Stastistik :
Ho:µ1 = µ2
Ha:µ1 ≠ µ2
Keterangan:
µ1 : Rerata kadar katalase pada kehamilan normal trimester pertama
µ2 : Rerata kadar katalase pada abortus inkomplit









Penurunan
Kadar
Katalase
Abortus Inkomplit
Ya Tidak Jumlah
Ya A B A+B
Tidak C D C+D
(+)
( + )




BAB V
HASIL PENELITIAN

Selama periode penelitian, telah dikumpulkan 52 sampel darah terdiri atas 26
orang sampel kehamilan normal dan 26 orang sampel abortus inkomplit pada
bulan Januari sampai dengan Mei 2013.
5.1 Karakteristik Sampel Penelitian
Sebanyak 52 sampel, terdiri atas 26 orang kelompok abortus inkomplit dan 26
orang lainnya kelompok kehamilan normal. Data karakteristik subjek pada kedua
kelompok disajikan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Karakteristik Subjek Penelitian pada Kelompok Abortus Inkomplit dan
Kelompok Hamil Normal

Karakteristik
Abortus Inkomplit
n = 26
Kehamilan normal
n = 26

P
rerata SD Rerata SD
Umur ibu
(tahun)
26,50 5,09 27,92 4,94 0,312
Paritas 0,65 0,56 1,27 1,00 0,059
Umur Kehamilan
(minggu)
8,65 0,74 8,58 0,80 0,741

Tabel 5.1 di atas, menunjukkan bahwa dengan uji T tidak berpasangan
didapatkan nilai p>0,05 pada ketiga variabel, hal ini berarti bahwa tidak ada



perbedaan rerata umur ibu, paritas, dan umur kehamilan antara kelompok abortus
inkomplit dengan kelompok hamil normal.
5.2. Perbedaan Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase Pada Kelompok
Abortus Inkomplit dan Kelompok Kehamilan Normal Trimester
Pertama.
Untuk mengetahui perbedaan kadar antioksidan enzimatik katalase pada
kelompok abortus inkomplit dan kehamilan normal trimester pertama dilakukan
uji T tidak berpasangan. Hasil analisis disajikan pada tabel 5.2.
Tabel 5.2
Perbedaan kadar antioksidan enzimatik katalase pada kelompok abortus
inkomplit dan kelompok kehamilan normal
Kelompok
Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase
(pg/ml)
P
Rerata SD
Kehamilan normal
Abortus Inkomplit
885,79
524,97
134,73
154,11
0,000

Tabel 5.2 di atas menunjukkan bahwa rerata kadar antioksidan enzimatik
katalase pada kelompok abortus inkomplit secara bermakna lebih rendah daripada
kelompok kehamilan normal trimester pertama (p < 0,001).




5.3 Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase Yang Rendah Meningkatkan
Risiko Abortus Inkomplit Trimester Pertama
Untuk mengetahui peranan kadar antioksidan enzimatik katalase terhadap
terjadinya abortus inkomplit dipakai uji Chi-Square. Nilai cut off point kadar
antioksidan katalase berdasarkan kurva ROC 653,132 pg/ml, dengan nilai
sensitivitas 92,3% dan nilai spesifisitas sebesar 92,3%. Hasil analisis disajikan
pada Tabel 5.3

Tabel 5.3
Nilai RP, IK,dan p Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase Antara
Kelompok Abortus Inkomplit Dan Kelompok Kehamilan Normal
Trimester Pertama

Kelompok
RP IK 95% P

Abortus
Inkomplit
Hamil
Normal
Kadar
Katalase
Rendah 23 2
8,3 280,1-441,4 0,000
Normal 3 24

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa kadar antioksidan enzimatik katalase yang
rendah berhubungan dengan peningkatan kejadian abortus inkomplit sebesar 8,3
kali (RP=8,3, IK 95% = 280,1 – 441,4, P = 0,000).




BAB VI
PEMBAHASAN

Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum umur kehamilan kurang
dari 20 minggu atau dengan kelahiran janin dengan berat badan kurang dari 500
gram. Abortus merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang paling sering
dijumpai pada wanita hamil. Diperkirakan 12-20 % dari seluruh wanita hamil
ditemukan gejala perdarahan atau ancaman abortus (threatened abortion) pada
trimester pertama (Cunningham dkk, 2010). Menurut Badan Kesehatan Dunia
(WHO) diperkirakan 4,2 juta kejadian abortus di Asia Tenggara dan di Indonesia
diperkirakan antara 750.000 sampai 1,5 juta kasus dimana menurut survei
kesehatan rumah tangga tahun 1995 menunjukkan bahwa abortus memberikan
kontribusi 11% terhadap angka kematian ibu di Indonesia (Azhari, 2002).Di
RSUP Sanglah Denpasar berdasarkan buku register pasien pasien tahun 2012
didapatkan 332 (9,5%) kasus dari 3502 persalinan pada tahun 2012. Sampai saat
ini penyebab abortus belum jelas, namun salah satu faktor yang diduga menjadi
penyebab terjadinya abortus inkomplit adalah stress oksidatif, dimana pada
keadaan ini terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan.
6.1 Karakteristik Sampel Penelitian
Penelitian cross sectional yang kami lakukan di Poliklinik dan ruang
bersalin RSUP Sanglah selama periode Januari hingga Mei 2013, kami dapatkan
sejumlah 52 sampel yang memenuhi kriteria inklusi yang terdiri dari 26 sampel
abortus inkomplit dan 26 sampel hamil normal trimester pertama.



Rerata umur ibu pada kelompok abortus inkomplit adalah 26,5 tahun SD ±
5,09 dan pada kelompok kehamilan normal adalah 27,92 SD ± 4,94, secara
statistik tidak berbeda bermakna (p>0,05). Dari data rerata usia ibu hamil banyak
terdapat pada kurun usia reproduksi (20-30 tahun). Sebuah penelitian yang
dilakukan dilakukan di RSHS Bandung memperlihatkan sebanyak 40 % sampel
pasien abortus yang memeriksakan diri ke RSHS pada tahun 2004 berkisar antara
umur 20-30 tahun (Wijaya, 2004). Pada penelitian Ozkaya, dkk (2008) di Turki,
didapatkan rerata umur ibu yang mengalami abortus spontan adalah 25±5,1 tahun.
Pada penelitian ini rerata paritas ibu pada kelompok abortus inkomplit
adalah 0,65 SD ± 0,56 dan pada kelompok kehamilan normal adalah 1,27 SD ±
1,00, secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0,05). Dari data yang diperoleh
terlihat pada ibu dengan paritas 1, hal ini sesuai dengan teori yang kami dapatkan,
dimana angka kejadian abortus lebih sering pada ibu dengan paritas 1 dan paritas
> 3 (Hadijanto, 2008). Pada penelitian Ozkaya, dkk (2008) di Turki, didapatkan
rerata paritas Kelompok Abortus Inkomplit adalah 0,92±0,94 kali, dan Kelompok
hamil normal trimester pertama adalah 1,25±1,08 kali. Ibu dengan paritas rendah
cenderung melahirkan bayi yang tidak matur atau ada komplikasi karena
merupakan pengalaman pertama dalam reproduksinya serta memungkinkan akan
timbul penyakit dalam kehamilan. Sedangkan pada paritas tinggi (>3) cenderung
mengalami komplikasi pada kehamilan yang akhirnya berpengaruh pada hasil
kehamilan tersebut (Hadijanto, 2008).
Pada penelitin ini rerata umur kehamilan pada kelompok abortus inkomplit
adalah 8,65 minggu SD ± 0,74 dan pada kelompok kehamilan normal adalah 8,58



SD ± 0,80, secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0,05). Dari data tersebut
terlihat bahwa rerata umur kehamilan pada data kami berkisar 8-9 minggu. Pada
penelitian Ozkaya, dkk (2008) di Turki, didapatkan rerata umur kehamilan
Kelompok Abortus Inkomplit adalah 10,71±1,89minggu dan rerata Kelompok
Hamil Normal trimester pertama adalah 10,69±2,10 minggu.
Berdasarkan hasil analisis uji t-independent didapatkan bahwa
karakteristik subjek pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Jadi
pengaruh variabel pengganggu berupa umur ibu, demikian juga paritas dan umur
kehamilan pada kelompok abortus inkomplit bukan merupakan predisposisi
terjadinya abortus inkomplit.
6.2 Perbedaan Kadar Antioksidan Enzimatik Katalase Pada Kelompok
Abortus Inkomplit dan Kehamilan Normal Trimester Pertama.
Dari penelitian cross sectional yang kami lakukan, didapatkan rerata kadar
antioksidan enzimatik katalase pada kelompok kelompok abortus inkomplit
sebesar 524,97 pg/ml SD ± 154,11, sedangkan rerata kadar antioksidan enzimatik
katalase pada kelompok kehamilan normal sebesar 885,79 pg/ml SD ± 134,73.
Dengan demikian didapatkan perbedaan rerata antara kelompok abortus inkomplit
dan hamil normal adalah 360,82 pg/ml di mana hasil kedua kelompok ini berbeda
secara bermakna (p<0,001).
Penelitian di Rumah Sakit Umum Belgaum – India, kadar katalase pada
wanita hamil trimester pertama adalah 7.82 ± 2.84 IU/gm Hb. Kadar ini lebih
rendah dibandingkan wanita tidak hamil (8,13 + 2,25) IU/gm Hb, dan kadar
katalase turun pada trimester dua yaitu 7,0 + 2,33 IU/gm Hb dan trimester tiga



6,2 +1,73 IU/gm Hb. Penelitian ini juga menyebutkan kadar antioksidan
enzimatik termasuk katalase akan menurun dengan peningkatan umur kehamilan
sebagai respon terhadap perubahan sirkulasi maternal (Patil dkk, 2007). Penelitian
ini sedikit berbeda dalam hal sampel darah yang dipakai. Dimana penelitian di
Rumah Sakit Umum Belgaum – India menggunakan darah vena dan kemudian
dimasukkan ke dalam tabung dengan heparin, sementara pada penelitian kami
menggunakan plasma. Apapun faktor yang terlibat dalam perlindungan katalase
terhadap interaksi materno-plasenta, tujuan utama adalah untuk mengoptimalkan
implantasi, plasentasi dan diikuti dengan transformasi progresif dari arteri spiralis
maternal yang vasoreaktif menjadi arteri utero-plasenta yang flasid dan distensi
yang dibutuhkan untuk mensuplai fetus yang sedang berkembang dan plasentanya
dengan jumlah darah maternal yang akan meningkat seiring dengan bertambahnya
umur kehamilan (Miwa, 2008).
6.3 Analisis Risiko Sampel Penelitian
Untuk mengetahui peranan antioksidan enzimatik katalase terhadap kejadian
abortus inkomplit trimester pertama, digunakan nilai cut off point kadar
antioksidan enzimatik katalase berdasarkan kurva ROC sebesar 653,13 pg/ml
dengan nilai sensitivitas 92,3% dan nilai spesifisitas sebesar 92,3%. Berdasarkan
analisis tabel silang 2 x 2 yaitu dengan uji Chi-Square (X
2
) didapatkan bahwa
pada kelompok abortus inkomplit dengan kadar antioksidan enzimatik katalase ≤
653,13 pg/ml adalah 23 orang dan terdapat 3 orang dengan kadar antioksidan
enzimatik katalase > 653,13 pg/ml, sedangkan pada Kelompok Kehamilan normal
trimester pertama kadar antioksidan enzimatik katalase ≤ 653,13 pgml adalah 2



orang dan terdapat 24 orang dengan kadar antioksidan enzimatik katalase >
653,13 pg/ml. Berdasarkan hasil analisis dengan uji Chi-Square (X
2
) didapatkan
bahwa nilai Rasio Prevalensi = 8,3 (IK 95% = 280,14 - 441,48) dan nilai P =
0,000. Hal ini berarti penurunan kadar antioksidan enzimatik katalase yang lebih
kecil atau sama dengan 653,13 pg/ml dapat meningkatkan kejadian abortus
inkomplit sebesar 8,3 kali.
Penelitian tentang hubungan antara antioksidan dan stress oksidatif
memberikan suatu pemahaman baru mengenai hubungan materno-fetal pada
trimester pertama, menunjukkan bahwa plasenta berfungsi sebagai pembatas
suplai oksigen selama organogenesis.Walaupun fetus telah mulai berimplantasi ke
dalam endometrium sejak 6-7 hari setelah fertilisasi dan berimplantasi lengkap
pada hari ke-10 (Cunningham dkk, 2010), namun aliran darah yang cukup tidak
terjadi hingga akhir trimester pertama, sekitar minggu ke-10. Tekanan parsial
oksigen (PO2) intraplasenta 2-3 kali lebih rendah pada minggu ke 8-10
dibandingkan dengan setelah minggu ke-12. Jadi, hingga akhir trimester pertama,
fetus berkembang dalam suasana hipoksia fisiologis untuk melindungi dirinya dari
efek buruk dan efek teratogenik dari radikal bebas oksigen (Jauniaux dkk, 2003),
serta untuk menjaga stem sel agar tetap dalam keadaan pluripotent penuh. Pada
kadar fisiologis, radikal bebas berfungsi dalam regulasi berbagai fungsi sel,
terutama sebagai faktor transkripsi (Agarwal dkk, 2005).
Pembentukan sistem vaskular uteroplasenta dimulai dari invasi desidua
maternal oleh extravillous cytotrophoblast. Hal ini terdiri dari 2 proses berurutan
dan keberhasilan dari kedua proses ini akan mempengaruhi luaran kehamilan.



Proses yang terjadi pertama kali adalah extravillous cytotrophoblast menutupi
dinding luar kapiler tropoblast dan arteri spiralis cabang intra-endometrium,
sehingga membentuk tudung pada pembuluh darah tersebut. Sumbatan ini
berfungsi sebagai filter yang memperbolehkan plasma untuk berdifusi ke arah
intervillous space, bukan aliran darah sejati. Invasi ini terjadi sekitar pada minggu
ke 5 hingga 8. Aliran ini ditambah dengan sekresi kelenjar uteri yang dilepaskan
ke dalam intervillous space hingga sekitar usia kehamilan 10 minggu. Pada
minggu ke 8 hingga ke 13, sumbatan ini akan terlepas perlahan-lahan. Kemudian
terjadi proses invasi tropoblast yang kedua terhadap arteri spiralis intramiometrial
(pada minggu ke 13 hingga 18) (Jauniaux dkk, 2000)
Pada abortus spontan terjadi defisiensi plasentasi. Terjadi kegagalan pada
gelombang kedua invasi trofoblas. Sehingga perubahan fisiologis pada arteri
spiralis tidak terjadi. Perubahan hanya terjadi pada sebagian arteri spiralis segmen
desidua, sementara arteri spiralis segmen miometrium masih diselubungi oleh sel-
sel otot polos. Selain itu juga ditemukan adanya hiperplasia tunika media dan
trombosit. Garis tengah arteri spiralis lebih kecil dibandingkan dengan dengan
kehamilan normal. Hal ini menyebabkan tahanan terhadap aliran darah bertambah
dan pada akhirnya menyebabkan insufisiensi dan iskemia. Sebagian arteri spiralis
dalam desidua dan miometrium tersumbat oleh materi fibrinoid, berisi sel-sel
busa, terdapat akumulasi makrofag yang berisi lemak dan infiltrasi sel
mononukleus pada perivaskular (Biri dkk, 2006). Terjadinya abortus juga
disebabkan tidak adekuatnya invasi trofoblast sehingga terbentuknya



trophoblastic oxidative stress menyebabkan hubungan hasil konsepsi dengan
arteri spiralis tidak terjadi dengan baik dan sempurna (Jauniaux dkk, 2004).
Diperlukan keseimbangan antara oksidan atau radikal bebas dan
antioksidan untuk mencegah terjadinya stres oksidatif. Diperlukan antioksidan
yang mampu bekerja dimana ROS terbentuk. Pada kehamilan dimana
sinsitiotropoblas merupakan tempat yang memiliki antioksidan dalam jumlah
yang lebih sedikit sehinggga sangat peka terhadap peningkatan oksigen yang
berpeluang menyebabkan terjadinya keadaan stres oksidatif. Disinilah katalase
ikut berperan untuk mencegah terjadinya keadaan stres oksdatif tersebut(Jauniaux
dkk, 2000).
Penelitian spesifik yang meneliti tentang kadar antioksidan enzimatik
katalase pada abortus inkomplit belum kami temukan, namun beberapa literatur
mengemukakan apabila kadar katalase ini menurun, maka radikal bebas yang
diproduksi oleh embrio tidak dapat diikat dengan sempurna, sehingga H
2
O
2
yang
terbentuk semakin banyak dan diubah menjadi radikal hidroksil yang dapat
merusak DNA. Bila kerusakan DNA yang terjadi tidak dapat diperbaiki oleh
mekanisme perbaikan DNA, maka sel akan masuk ke jalur apoptosis dan
terjadilah kematian sel, yang dalam tahap janin, kematian ini akan memicu respon
tubuh untuk mengeluarkan hasil konsepsi, sehingga terjadilah abortus (Jauniaux
dkk, 2000).






BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Pada penelitian ini didapatkan rerata kadar antioksidan enzimatik katalase pada
abortus inkomplit lebih rendah dibandingkan kehamilan normal trimester
pertama secara bermakna. Nilai cut off point kadar antioksidan enzimatik
katalase sebesar 653,13pg/ml dengan nilai sensitivitas 92,3% dan nilai
spesifisitas sebesar 92,3% didapatkan peningkatan kejadian abortus inkomplit
sebesar 8,3 kali pada kelompok dengan kadar antioksidan enzimatik katalase
yang rendah.
7.2 Saran
Penelitian lanjutan masih diperlukan dengan memanfaatkan hasil
penelitian ini dalam upaya pencegahan terjadinya abortus inkomplit. Berdasarkan
penelitian ini maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan pemberian
antioksidan eksogen seperti Astaxanthin pada penderita yang berisiko, untuk
mencegah terjadinya abortus inkomplit atau kegagalan kehamilan yang berulang.









DAFTAR PUSTAKA

Adrian, L., Eric, J., Joanne, H., Yi-Ping, Bao., Jeremy, S., Graham, J. 2000. Onset
of Maternal Arterial Blood Flow and Placental Oxidative Stress, A Possible
Factor in human Early Pregnancy Faillure. American Journal of Pathology,
Vol.157, No.6, 2111-2122.

Agarwal, A., Gupta, S., Sharma, R.K. 2005. Role of Oxidative Stress in Female
Reproduction. Reproductive Biology and Endocrinology; 14 :3-28

Ajith, W., Sohinee, B., Ashalatha, S., Norman, S., Siladitya, B. 2006. Obsteric
Outcome in Women With Threatened Miscarriage in the First Trimester.
Obstetrics and Gynecology, vol.107,No.3, pp.557-562.

Azhari. 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Bagian
Obstetri & Ginekologi FK UNSRI/RSMH Palembang.

Bagiada, N.A. 1995, Radikal Bebas dan Antioksidan, Laboratorium Biokimia
Fakultas Kedokteran UNUD Bali.

Behl, R., Pandey, R.S. 2002. FSH Induced Stimulation of Catalase Activity in
Goat Granulosa Cells In Vitro. Animal Reproduction Science,70:215–221.
Benirschke, K., Kaufmann, P. 2000. Pathology of the Human Placenta. Forth
edition. Springer-Verlag.
Bianco, K., Caughey, A.B., Shaffer, B.L. 2006. History of Miscarriage and
Increased Incidence of Fetal Aneuploidy In Subsequent Pregnancy. Obstetetrics
and Gynecology 107:1098-1102.
Biri, A., Kuvutcu, M., Bozkurt, N., Devrim, E., Nurlu, N., Durak, I. 2006.
Investigation of Free Radical Scavenging Enzyme Activities and Lipid
Peroxidation in Human Placental Tissue with Miscarriage. Journal of the Society
for Gynecologic Investigation, 13:384-388.
Burton, G.J., Watson, A.L., Hempstock, J., Skepper, J.N., Jauniaux, E. 2002.
Uterine Glands Provide Histiotrophic Nutrition for The Human Fetus During The
First Trimester of Pregnancy. The Journal of Clinical Endocrinology and
Metabolism, 87:2954–2959.
Cemelli, E., Baumgartner, A., Anderson, D. 2009, Antioxidant and The Commet
Assay. Mutation Research, 681:51-67.



Cunningham, F.G., Leveno, K.J., Bloom, S.L., Hauth, J.C., Rouse, D.J., Spong,
C,Y. 2010. Williams Obstetrics. Twenty third edition. The McGraw-Hill
Companies.
Day, B.J. 2009. Catalase and Glutathione Peroxidase Mimics. Biochemical
Pharmacology, 77:285-296.
Eiben, B., Bartels, I., Bahr-Prosch, S.,Borgmann, S., Gatz, G., Gellert, G., Goebel,
R. 1990. Cytogenetic Analysis of 750 Spontaneous Abortions With The Direct-
Preparation Method Of Chorionic Villi and Its Implications for Studying Genetic
Causes of Pregnancy Wastage. The American Journal of Human Genetic 47:656-
663.
Eric, J., Tereza, C., Jemma, J., Christina, D., Joanne, H., Frank, J., Graham, J.
2004. Distribution and Transfer Pathways of Antioxidant Molecules Inside the
First Trimester Human Gestational Sac. Journal Clinical Endocrinology and
Metabolism, Vol.89, No.3.1452-1458.

Eric, J., Lucilla, P., Graham, J. 2006. Placental-Related Diseases of Pregnancy:
Involvement of Oxidative Stress and Implications in Human Evolution. Human
Reproduction Update, vol.12, No.6, pp.747-755.

Eric, J., Joanne, H., Natalie, G., Graham, J. 2003. Trophoblastic Oxidative Stress
in Relation to Temporal and Regional Differences in Maternal Placental Bood
Flow in Normal and Abnormal Early Pregnancies. The American Journal of
Pathology, Vol.162, No.1, pp.115125.

Ezashi, T., Das, P., Roberts, R.M. 2005. Low O2 Tensions and The Prevention of
hES Cells. The Proceedings of the National Academy of Sciences of the United
States of America , 102:4783–4788.
Gracia, C.R., Sammel, M.D., Chittams, J., Hummel, A.C., Shaunik, A., Barnhart,
K.T. 2005. Risk factors for spontaneous abortion in early symptomatic first-
trimester pregnancies. Americans College of Obstretrician and Gynecologists,
106(5): 993-9.

Griebel, C.P., Halvorsen, J., Golemon, T.B., Day, A.A. 2005. Management of
spontaneous abortion. The Americans Family Physician, 72 : 1243-50.

Hadijanto B. 2008. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawiroharjo. Penerbit PT Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta .459-90

Halliwell, B., and Gutteridge, J. M. C. 1999. Free Radicals in Biology and
Medicine. Third Edition. Oxford University Press




Hitoshi, Kobe., Akihito, Nakai., Tatsuo, Koshino., and Tsutomu, Araki., 2002.
Effect of Regular Maternal Exercise on Lipid Peroxidation Levels and
Antioxidant Enzymatic Activities Before and After Delivery.

Intyre, M.M., Bohr, D.F., Dominiczak, A.F. 1999. Endothelial Function in
Hypertension: The Role of Superoxide Anion. American Hypertension,Vol.34,
pp. 539-545.

Jauniaux, E., Burton, G.J. 2005. Pathophysiology of Histological Changes in
Early Pregnancy Loss. 26:114-123.
Jauniaux, E., Gulbis, B., Burton, G.J. 2003ª. The Human First Trimester
Gestational Sac Limits Rather Than Facilities Oxygen Transfer to The Foetus. A
Review Placenta-Trophoblast Research, 24:S86–S93.
Jauniaux, E., Hempstock, J., Greenwold, N., Burton, G.J. 2003b. Trophoblastic
Oxidative Stress in Relation to Temporal and Regional Differences in Maternal
Placental Blood Flow in Normal and Abnormal Early Pregnancies. The American
Journal of Pathology, 162:115–125.
Jauniaux, E., Poston, L., Burton, G.J. 2006. Placental-Related Diseases of
Pregnancy : Involvement of Oxidative Stress and Implications in Human
Evolution. Human Reproduction Update 12(6):747-55.
Jauniaux, E., Watson, A.L., Hempstock, J., Bao, Y.P., Skepper, J.N., Burton, G.J.
2000. Onset of Maternal Arterial Blood Flow and Placental Oxidative Stress- A
Possible Factor in Human Early Pregnancy Failure. The American Journal Of
Pathology, 157:2111-2122.
Kodliwadmath, M.V., Sheela, M., Patil, S.B. 2007. Study Of Oxydative Stress
And Enzymatic Antioxidant In Normal Pregnancy.The Indian Journal Of Clinical
Biochemistry, 22(1) 135-137

Kohen, R., Nyska, A. 2002. Oxidation of Biological System : Oxidative Stress
Phenomena, Antioxidant, Redox Reaction and Methods for Their Quantification.
Toxicologic Pathology, 30:620-650

Kokawa, K., Shikone, T., Nakano, R. 1998. Apoptosis in Human Chorionic Villi
and Decidua During Normal Embryonic Development and Spontaneous Abortion
in The First Trimester. Placenta, 19:21–26.




Kovacic, P., Jacintho, J.D. 2001. Mechanisms of Carcinogenesis: Focus On
Oxidative Stress and Electron Transfer. Current Medicinal Chemistry, 8, 773–
796.
Kovacic, P., Pozos, R.S., Somanathan, R., Shangari, N., and O’rien, P.J. 2005.
Mechanism of Mitochondrial Uncouplers, Inhibitors, and Toxins: Focus On
Electron Transfer, Free Radicals, and Structure–Activity Relationships. Current
Medicinal Chemistry, 12:2601–2623.
Kumar, V., Abbas, A.K., Fausto, N., Aster, J.C., Hauth, J,C. 2008. Robbins and
Cotran Pathologic Basic of Disease. Eight edition. Cellular Adaptations,Cell
Injury, and Cell Death, 1:16-18

Levy, P.S.,Lemeshow,S.2008.S ampling of Population: Methods and
Application.Fourth Edition. A Willey interscience Publication. John Willey &
Sons inc., New York,

Miller, D. M., Buettner, G. R., Aust, S. D. 1990. Transition Metals As Catalysts of
“utoxidation” Reactions. Free Radical Biology Medicine, 8:95–108.

Miwa, S., Muller, F.L., and Beckman, K.B. 2008. The Basics of Oxidative
Biochemistry, Oxidative Stress in Aging From Model Systems to Human
Diseases. Humana Press.
Okan, O., Mekin, S., Hakan, K. 2008. Serum Malondialdehyde, Erythrocyte
Glutation Peroxidase, and Erythrocyte Superoxide Dismutase Levels in Woman
With Early Spontaneous Abortion Accompanied by Vaginal Bleeding. Medicinal
Science Monitor, Vol.14, No.1, pp.47-51.

Ortega-Camarillo, C., Guzman-Grenfell, A.M., Hicks, J.J. 1999. Oxidation Of
Gonadotrophin (Pmsg) By Oxygen Free Radicals Alters Its Structure and
Hormonal Activity. Mol Reprod Dev, 52:264–268.

Ozkaya, O., Sezik, M., Kaya, H. 2008. "Serum Malondialdehyde, Erythrocyte
Glutathione Peroxidase, and Erythrocyte Superoxide Dismutase Levels in Women
with Early Spontaneous Abortion Accompanied by Vaginal Bleeding". Medical
Science Monitor, vol.14, No.1: CR47-51.
Patil, S.B., Kodliwadmath, M.V., Kodliwadmath, S.M. 2007. Study Of Oxydative
Stress And Enzymatic Antioxidant In Normal Pregnancy. Indian Journal Of
Clinical Biochemistry; 22(1) 135-137




Petrozza, J.C., Berlin, I. 2010. Recurrent Early Pregnancy Loss. Emedicine.
medscape, [cited 2010 Jan. 22]. Available from: http://emedicine.medscape.com
/article/260495-overview.

Poston, L., Eric, J., Graham, J. 2006. Placental-Related Diseases of Pregnancy:
Involvement of Oxidative Stress and Implications in Human Evolution. Human
Reproduction Update, vol.12, No.6, pp.747-755.

Puscheck, E.E., Pradhan, A. 2006. First Trimester Pregnancy Loss. Emedicine.
medscape, [cited 2010 Jan. 22]. Available from: http://emedicine.medscape.com
/article/266317-overview.

Richard, N., Mitchel., Ramzi, S., Cotran, M. 2010. Cellular Adaptations, Cell
Injury, and Cell Death. Robbins and Cotran. Pathologic Basic of Desease 8th
edition, 1:16-18

Ronzio, R.A. 1999. Naturally Occuring Antioxidants. Textbook of Natural
Medicine, 2
nd
ed., Churchill Livingstone, Inc., pp. 831-843.

Sarwono, Prawiroharjo. Abortus : Etiologi. Ilmu Kebidanan dan Kandungan, edisi
4,2008 ; 37:465

Speroff, L., Fritz, M.A. 2005. Clinical Gynecologic Endocrinology And
Infertlility. Seventh Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Toppo, S., Flohe, L., Ursini, F., Vanin, S., Maiorino, M. 2009. Catalytic
Mechanism and Spesificities Of Glutathione Peroxidases : Variation of A Basic
Scheme. Biochimica et Bioplysica Acta, 1790:1486-1500.

Turrentine, J.E. 2008. Clinical Protocols in Obstetrics and Gynecology. Third
Edition. Informa Health Care.

Valko, M. 2007. Free radicals and antioxidants in normal physiological functions
and human disease. Elsevier.

Valko, M., Rhodes, C. J., Moncol, J., Izakovic, M., and Mazur, M. 2006. Free
Radicals, Metals and Antioxidants in Oxidative Stress-Induced Cancer. Chemistry
Biology Interactive, 160:1–40.
Valko, M., Leibfritz, D., Moncol, J., Cronin, M.T.D., Manzur, M., Telser, J. 2007.
Free Radical and Antioxidant in Normal Physiological Function and Human
Disease. The International Journal Of Biochemistry and Cell Biology, 39:44-84.



Valko, M., Morris, H., and Cronin, M.T.D. 2005. Metals, Toxicity and Oxidative
Stress. Current Medicinal Chemistry., 12:1161–1208.
Wibowo. 2001. Peran Radikal Bebas dan Antioksidan pada sejumlah
Penyakit.Bagian Farmakologi dan trapeutik FKUI.

Wijaya, M., Sutisna M., Ningrum E. 2004. Hasil Luaran Janin Pada Ibu Paska
Abortus di Rumah Sakit dr.Hasan Sadikin Bandung Tahun 2004, Fakultas
Kedokteran Universitas Padjajaran.




















Lampiran 1 KETERANGAN KELAIKAN ETIK (ETHICAL CLEARANCE)








Lampiran 2 SURAT IJIN PENELITIAN









Lampiran 3 Informed Consent
I NFORMED CONSENT
PERBEDAAN KADAR ANTIOKSIDAN ENZIMATIK KATALASE PADA
ABORTUS INKOMPLIT DENGAN KEHAMILAN NORMAL
TRIMESTER PERTAMA

Ibu-ibu yang terthormat,
Kehamilan merupakan peristiwa yang dinantikan oleh hampir setiap wanita.
Sebagian besar kehamilan berlangsung dengan aman, namun sebagian kecil
mengalami komplikasi selama kehamilan. Salah satu komplikasi yang
ditimbulkan adalah abortus. Abortus merupakan terhentinya kehamilan sebelum
usia 20 minggu dengan atau tanpa disertai pengeluaran hasil konsepsi. 15-20%
kehamilan akan berakhir dengan abortus.
Penyebab dari abortus ini bermacam-macam diantaranya: kelainan
kromosom, infeksi, penyakit kronis yang melemahkan, faktor imunologis, trauma
fisik, kelainan uterus dan faktor radikal bebas. Kemungkinan seseorang untuk
mengalami abortus berulang akan meningkat sejalan semakin seringnya
mengalami abortus. Secara klinis, abortus bisa dibagi menjadi beberapa tingkatan.
Salah satu tingkatan dimana kehamilan tersebut sudah tidak dapat dipertahankan,
dan sebagian dari bagian janin masih tertinggal di dalam rahim, dikenal dengan
sebutan abortus inkomplit.
Peran radikal bebas dalam proses terjadinya abortus inkomplit belum
banyak diteliti. Namun penelitian terbaru menunjukkan peningkatan insiden
kegagalan plasentasi berhubungan dengan ketidakseimbangan radikal bebas
(oksidan) dengan antioksidan. Ada beberapa jenis antioksidan yang diperlukan
oleh tubuh, seperti Superoksid Dismutase (SOD), Glutathione Peroxidase (Gpx),
dan Katalase yang memang diproduksi oleh tubuh dalam jumlah yang relatif
konstan dan beberapa antioksidan lain yang dapat diperoleh dari asupan makanan,
seperti vitamin A, C, E, asam folat, dan sebagainya. Dalam keadaan tertentu
seperti pada penyakit-penyakit kronis, kadar antioksidan akan menurun dan



mengakibatkan suatu keadaan stress oksidatif yang merugikan bagi tubuh. Dalam
penelitian ini, antioksidan yang diteliti adalah Katalase.
Katalase berfungsi untuk memecah hidrogen peroksida menjadi oksigen
dan air . Pemecahan hidrogen peroksida ini bertujuan agar tidak terbentuk radikal
hidroksil yang sangat berpotensi untuk menyebabkan kerusakan DNA. Dalam
kehamilan normal, kadarnya seharusnya meningkat, namun pada penyakit-
penyakit tertentu, kadar katalase dapat menurun, sehingga menyebabkan
terbentuknya radikal hidroksil dalam jumlah yang banyak. Hal ini menyebabkan
peningkatan kerusakan DNA pada sel janin yang kemudian akan menyebabkan
suatu kehamilan berakhir dengan abortus. Dengan mengetahui kadar katalase pada
wanita dengan abortus inkomplit, diharapkan nantinya bisa dipergunakan obat-
obatan yang mengandung katalase untuk mencegah terjadinya abortus. Kadar
katalase di dalam darah dapat diukur dengan sampel darah sebanyak 3cc di
Laboratorium Patologi Klinik RSUP Sanglah Denpasar. Biaya untuk pemeriksaan
dalam penelitian ini akan ditanggung oleh Peneliti. Hasil pemeriksaan akan
dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian ini. Dengan ikut sebagai sampel dalam
penelitian ini, berarti Ibu ikut berperan serta dalam pengembangan ilmu
pengetahuan, khususnya dalam mengungkapkan proses terjadinya abortus dan
cara pencegahannya.
Demikian keterangan yang dapat kami berikan kepada Bapak/Ibu. Atas
kesediaan Ibu untuk ikut serta dalam penelitian ini, kami mengucapkan terima
kasih.

Bila ada hal-hal yang belum jelas, Ibu-Ibu dapat menghubungi kami di Nomor
HP: 0811165440
Hormat kami,

dr. Maria Florentina Tukan
Peneliti




PERNYATAAN PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN
( I nformed Consent )

Yang bertanda tangan dibawah ini :
1. Nama Responden :
Umur :
Alamat :

2. Nama Suami/Wali :
Umur :
Alamat :


Setelah mendapatkan penjelasan yang lengkap mengenai maksud, tujuan
dan manfaat penelitian dengan judul PERBEDAAN KADAR ANTIOKSIDAN
ENZIMATIK KATALASE PADA ABORTUS INKOMPLIT DENGAN
KEHAMILAN NORMAL TRIMESTER PERTAMA, menyatakan bersedia
bersedia ikut serta sebagai responden dalam penelitian ini dan mengikuti
perosedur penelitian seperti yang telah disampaikan.

Denpasar , _________________

Saksi Ibu hamil Suami

( _____________) ( _____________) ( _____________)

Peneliti,

( dr. Maria Florentina Tukan)



Lampiran 4 FORMULIR PENGUMPULAN DATA

FORMULIR PENGUMPULAN DATA

No. Sampel :
No CM :
Tgl pemeriksaan :

1. Nama Pasien : ______________________________________________
2. Umur : th
3. Nomor Telepon : _______________
4. Gravida :
5. Paritas :
6. Riwayat Abortus :
11. Umur Kehamilan : Minggu Hari
12. Laboratorium : HB : ______ g/dL WBC : _______ 10
3
/µL
Hct : ______ % Ne : _______ 10
3
/µL
Plt : ______ 10
3
/µL Ly : _______ 10
3
/µL
MCV : ______ fL Mo : _______ 10
3
/µL
MCH : ______ pg Eo : _______ 10
3
/µL
MCHC : ______ g/dL Ba : _______ 10
3
/µL

13. Diagnosis : 1. Abortus Inkomplit Trimester Pertama
2. Kehamilan Normal Trimester Pertama
14. Kadar Katalase : ____________ μIUml Plasma









Lampiran 5 Hasil Penelitian


No Umur Paritas Diagnosis
UK
(minggu)
WBC HGB PLT
Kadar
katalase
(pg/ml)
1 25 1 Abortus inkomplit 10 8,7 10,9 290 308.58
2 27 0 Abortus inkomplit 9,57 10,1 9,8 287 598.78
3 22 1 Abortus inkomplit 8 10,4 10,9 276 603.09
4 40 1 Abortus inkomplit 8,71 8,2 12,8 382 625.31
5 36 2 Abortus inkomplit 8,42 8,1 11,7 275 568.34
6 32 1 Abortus inkomplit 9,57 7,6 12.3 341 621.23
7 29 1 Abortus inkomplit 8,14 11,4 10,6 285 633.21
8 21 0 Abortus inkomplit 8,57 10,8 12.8 276 615.62
9 26 1 Abortus inkomplit 10 7,8 11,9 345 525.24
10 29 1 Abortus inkomplit 8,14 10,1 9,7 208 520.42
11 24 0 Abortus inkomplit 8 7,2 11,8 278 171.49
12 26 0 Abortus inkomplit 9 8,2 12.7 345 565.38
13 20 0 Abortus inkomplit 10 10,3 10,4 285 545.21
14 26 1 Abortus inkomplit 8,42 12,7 12,4 340 612.53
15 24 1 Abortus inkomplit 8,14 9,2 11,2 326 534,16
16 25 0 Abortus inkomplit 9,42 10,2 10,5 354 634.28
17 24 0 Abortus inkomplit 8,14 10,5 10,3 253 490.46
18 25 1 Abortus inkomplit 9,14 7,2 12,1 256 498.65
19 22 0 Abortus inkomplit 9,85 8,4 10,3 286 588.64
20 29 1 Abortus inkomplit 9,14 9,0 10,1 221 587.89
21 29 1 Abortus inkomplit 8,14 10,7 11,2 354 215.91
22 19 0 Abortus inkomplit 9 8,06 11,27 231 486.74
23 18 0 Abortus inkomplit 9,14 7,8 10,2 289 409.401
24 28 1 Abortus inkomplit 8 9,4 11,8 284 211.777
25 31 1 Abortus inkomplit 8,85 8,1 10,8 241 649.26
26 32 1 Abortus inkomplit 10 8,8 12,2 326 527.929
27 33 2 Normal 7,71 6,8 10,5 289 856.812
28 27 0 Normal 8,42 10,1 12,5 345

967.89
29 33 2 Normal 9,71 9.1 11,7 278

788.27
30 29 1 Normal 9,14 10,8 10,2 287

931.34
31 22 1 Normal 8,14 6,7 12,2 387

847.42
32 27 1 Normal 7,28 9,6 11,4 389 847.82



33 18 0 Normal 9,14 7,2 10 302 989.87
34 34 2 Normal 8,42 7,3 8 385 994.52
35 32 3 Normal 8,71 8,8 12 279 978.95
36 28 2 Normal 10 8,6 12,7 304 787.439
37 22 2 Normal 9,71 7,9 10,9 390 976.76
38 35 2 Normal 8 6.9 11,3 289 999.25
39 26 0 Normal 9,14 7,1 12,7 378 994.95
40 20 0 Normal 9 8,8 12,6 308 911.433
41 28 1 Normal 9,57 8,9 11,4 342 982.28
42 25 0 Normal 9,71 7,7 11,0 190 990.87
43 28 1 Normal 9,14 6,7 12,4 342 975.88
44 35 1 Normal 8.14 6,2 11,9 199 734.299
45 21 1 Normal 8 7,5 13.6 345 685.99
46 34 3 Normal 10 8,9 12,4 312 702.93
47 34 3 Normal 9,89 9,7 11.9 268 975.98
48 23 0 Normal 8,85 10,1 12,6 329 657.005
49 26 0 Normal 8,42 10,1 12.8 287 784.219
50 28 2 Normal 9,42 7,4 11,5 267 990.96
51 27 1 Normal 8,42 11.6 12,0 278 998.68
52 31 2 Normal 10 6,7 12.7 354 978.83



















Lampiran 6 Statistik Hasil Penelitian

Uji Normalitas Data
Tests of Normality

Diagnosis
Kolmogorov-Smirnov
a
Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Umur Abortus inkomplit .119 26 .200
*
.963 26 .460
Kehamilan Normal .117 26 .200
*
.948 26 .203
Paritas Abortus inkomplit .347 26 .000 .724 26 .000
Kehamilan Normal .190 26 .016 .875 26 .004
UK Abortus inkomplit .310 26 .000 .762 26 .000
Kehamilan Normal .237 26 .001 .876 26 .005
Kadar_katalase Abortus inkomplit .158 26 .092 .929 26 .072
Kehamilan Normal .135 26 .200
*
.940 26 .135
a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.



T-Test

Group Statistics

Diagnosis N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Umur Abortus inkomplit
26 26.50 5.093 .999
Kehamilan Normal 26 27.92 4.947 .970
Paritas Abortus inkomplit
26 .65 .562 .110
Kehamilan Normal 26 1.27 1.002 .197
UK Abortus inkomplit
26 8.65 .745 .146
Kehamilan Normal 26 8.58 .805 .158









T-Test
Group Statistics
Diagnosis N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Kadar katalase Abortus inkomplit 26 524.9757 154.11723 30.22488
Kehamilan Normal 26 885.7941 134.73029 26.42278

Uji T Independent

Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Differen
ce
Std.
Error
Differe
nce
95% Confidence
Interval of the
Difference

Lower Upper
Um
ur
Equal variances
assumed
.003 .958 -1.022 50 .312 -1.423 1.392 -4.220 1.374
Equal variances
not assumed

-1.022 49.958 .312 -1.423 1.392 -4.220 1.374
Parit
as
Equal variances
assumed
10.14
5
.002 -2.731 50 .059 -.615 .225 -1.068 -.163
Equal variances
not assumed

-2.731 39.289 .059 -.615 .225 -1.071 -.160
UK Equal variances
assumed
.067 .797 .333 50 .741 .072 .215 -.361 .504
Equal variances
not assumed

.333 49.705 .741 .072 .215 -.361 .504

Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Differen
ce
Std.
Error
Differe
nce
95% Confidence
Interval of the
Difference

Lower Upper
Kad
ar
katal
ase
Equal variances
assumed .028 .868 -8.988 50 .000
-
360.8184
6
40.1460
7
-441.45421 -280.18271
Equal variances
not assumed

-8.988 49.123 .000
-
360.8184
6
40.1460
7
-441.48990 -280.14702






Area Under the Curve
Test Result Variable(s):Kadar_katalase

Area Std. Error
a
Asymptotic Sig.
b

Asymptotic 95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
.959 .025 .000 .910 1.008
a. Under the nonparametric assumption
b. Null hypothesis: true area = 0.5











Coordinates of the Curve
Test Result Variable(s):Kadar_katalase
Positive if Greater
Than or Equal To
a
Sensitivity 1 - Specificity
170.4900 1.000 1.000
191.6335 1.000 .962
213.8435 1.000 .923
262.2450 1.000 .885
358.9905 1.000 .846
448.0705 1.000 .808
488.6000 1.000 .769
494.5550 1.000 .731
509.5350 1.000 .692
522.8300 1.000 .654
526.5845 1.000 .615
530.9645 1.000 .577
539.6050 1.000 .538
555.2950 1.000 .500
566.8600 1.000 .462
577.1650 1.000 .423
586.9400 .962 .423
588.0800 .962 .385
588.4550 .923 .385
593.7100 .923 .346
600.9350 .923 .308
607.8100 .923 .269
614.0750 .923 .231
618.4250 .923 .192
627.2200 .923 .154
641.2350 .923 .115
653.1325 .923 .077
679.9675 .885 .077
714.1200 .846 .077
729.8045 .846 .038
759.2590 .808 .038
785.8290 .769 .038
810.8595 .731 .038
840.8500 .731 .000
847.6200 .692 .000
852.3160 .654 .000
884.1225 .615 .000
921.3865 .577 .000
949.6150 .538 .000
971.8850 .500 .000



975.9300 .462 .000
976.3700 .423 .000
977.7950 .385 .000
978.8900 .346 .000
980.6150 .308 .000
986.0750 .269 .000
990.3700 .231 .000
990.9150 .192 .000
992.7400 .154 .000
994.7350 .115 .000
996.8150 .077 .000
998.9650 .038 .000
1000.2500 .000 .000
a. The smallest cutoff value is the minimum
observed test value minus 1, and the largest cutoff
value is the maximum observed test value plus 1. All
the other cutoff values are the averages of two
consecutive ordered observed test values.

Kat_kadar_katalase * Diagnosis Crosstabulation
Count



Diagnosis
Total

Abortus inkomplit Kehamilan Normal
Kadar katalase Rendah
23 2 25
Normal 3 24 27
Total
26 26 52

RP =

= 8,3








( 23/25 )
( 3/27 )



Chi-Square Tests

Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Pearson Chi-Square
33.973
a
1 .000

Continuity Correction
b

30.815 1 .000

Likelihood Ratio
39.312 1 .000

Fisher's Exact Test
.000 .000
Linear-by-Linear
Association
33.320 1 .000

N of Valid Cases
b

52

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.50.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

Value
95% Confidence Interval

Lower Upper
Odds Ratio for Kat_kadar katalase
(Rendah / Normal)
92.000 14.061 601.944
For cohort Diagnosis = Abortus
inkomplit 8.280 2.831 24.215
For cohort Diagnosis = Kehamilan
Normal .090 .024 .342
N of Valid Cases
52