Anda di halaman 1dari 16

TUTORIAL KASUS

OD KATARAK MATUR
OS KATARAK IMATUR
ODS PRESBIOPI

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Mata
RST Tingkat II Dr. Soedjono Magelang

Pembimbing :
dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp. M
dr. Hari Trilunggono, Sp. M

Disusun Oleh :
Fatin Adilla 1310221069


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2014
HALAMAN PENGESAHAN


TUTORIAL KASUS
OD KATARAK MATUR
OS KATARAK IMATUR
ODS PRESBIOPI


Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi salah satu syarat dalam menempuh program
pendidikan profesi dokter

Bagian ilmu penyakit mata Rumah Sakit Tinggkat II dr. Soedjono Magelang



Fakultas Kedokteran Universitas UPN “Veteran” Jakarta
Magelang, .... Mei 2014




Mengetahui dan menyetujui,
Dosen Pembimbing



dr. Dwidjo Pratinknjo, Sp.M dr. Hari Trilunggono, Sp.M
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : sdr dimar fikri
Umur : 12 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : pelajar
Alamat : magelang
Tanggal pemeriksaan : 5 juni 2014

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara Autoanamnesis pada tanggal 5 juni 2014.

Keluhan Utama :
Terdapat benjolan di kelopak mata atas pada mata kanan dan kiri

Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan utama terdapat benjolan di kelopak mata atas
pada mata sebelah kanan. Benjolan tersebut timbul sejak 4 bulan yang lalu, pada
awalnya benjolannya besar dan terdapat nanah, kelopak mata seperti
membengkak, mengganjal dengan rasa sakit, merah dan nyeri bila ditekan, lalu
pasien pergi ke dokter untuk berobat, lalu oleh dokter diberi salep mata, lalu
benjolan tersebut mengecil namun menjadi keras, benjolan terlihat tidak memerah
dan tidak nyeri. Pasien mengaku tidak terdapat gangguan dalam penglihatan dan
tidak demam.
Bengkak mulai bertambah di kelopak mata kiri, bengkak tidak disertai merah
dan nyeri. Mata belekan dan gangguan penglihatan disangkal. Pasien sering
mengeluh tidak nyaman saat berkedip karena terasa ada yang mengganjal.
Keluhan tidak mengganggu aktivitas pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat menderita penyakit seperti ini sebelumnya disangkal
 Riwayat alergi disangkal
 Riwayat operasi pada mata disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:
tidak ada keluarga yang mengalami keluhan serupa
riwayat alergi pada keluarga disangkal
Riwayat Pengobatan
Pasien pernah berobat ke dokter dan diberi salep mata oleh dokter namun belum
mengalami perbaikan.

Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang pelajar. Biaya ditanggung orangtua. Kesan ekonomi cukup.

III. PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 74 kali/menit
Pernapasan : 20 kali/menit
Suhu : 36,5ºC
Status gizi : Baik







B. STATUS OFTALMOLOGI

OD OS





OCULUS DEXTER (OD) PEMERIKSAAN OCULUS
SINISTER (OS)
6/6 Visus 6/6

Gerak bola mata normal,
terdapat pseudoptosis, tidak
ditemukan proptosis atau
eksoftlamus

Bulbus okuli
Gerak bola mata
normal, terdapat
pseudoptosis, tidak
ditemukan proptosis
atau eksoftlamus
Superior
terdapat benjolan dengan
diameter 0,5x0,5 cm, Tidak
hiperemis, Tidak nyeri tekan,
tidak ditemukan trikiasis,
tidak terdapat bintik
berwarna keputihan atau


Palpebra
Superior
Terdapat benjolan
diameter 0,4x0,4cm,
teraba keras, tidak
hiperemis, tidak
berbenjol-benjol
kekuningan pada benjolan,
dan tidak didapatkan
material rambut atau material
seperti tulang dan jaringan
saraf.
Inferior
Tidak terdapat benjolan,
Tidak hiperemis,
Tidak nyeri tekan, tidak
ditemukan trikiasis.



Tidak nyeri tekan ,
tidak terdapat bintik
berwarna keputihan
atau kekuningan
pada benjolan, dan
tidak didapatkan
material rambut atau
material seperti
tulang dan jaringan
saraf,
tidak ditemukan
trikiasis.

Inferior
Tidak terdapat
benjolan,
Tidak hiperemis,
Tidak nyeri tekan,
tidak ditemukan
trikiasis.


Pada konjungtiva palpebra
superior terdapat benjolan,
berwarna merah, tidak nyeri
tekan, tidak terdapat injeksi
siliar, tidak terdapat injeksi
konjungtiva, tidak terdapat

Konjungtiva
Pada konjungtiva
palpebra superior
terdapat benjolan,
berwarna merah,
tidak nyeri tekan,
tidak terdapat injeksi
siliar, tidak terdapat
sekret
Tidak hiperemi, tidak
terdapat injeksi siliar, tidak
terdapat injeksi konjungtiva,
tidak terdapat sekret

injeksi konjungtiva,
tidak terdapat sekret

Jernih, tidak edema, tidak
ada infiltrat,tidak ada ulkus,
tidak ada sikatrik

Kornea Jernih, tidak edema,
tidak ada
infiltrat,tidak ada
ulkus, tidak ada
sikatrik

Jernih,
Kedalaman cukup,
tidak ada hipopion, tidak ada
hifema
Camera Oculi
Anterior
(COA)
Jernih,
Kedalaman cukup,
tidak ada hipopion,
tidak ada hifema
Kripta normal, warna coklat,
tidak ada edema

Iris
Kripta normal, warna
coklat, tidak ada
edema
Bentuk bulat, diameter ±
2mm, reflek pupil
langsung/tidak langsung
(+/+), isokhoris (+)

Pupil
Bentuk bulat,
diameter ± 2mm,
reflek pupil
langsung/tidak
langsung (+/+),
isokhoris (+)
Jernih, iris shadow (-) Lensa Jernih,
iris shadow (-)
Jernih Corpus Vitreum Jernih
+ cemerlang Fundus Refleks + cemerlang
Papil nervus opticus : merah
muda, batas tegas
Vasa : AVR 2:3
Makula lutea : cemerlang
Retina : dalam batas normal

Funduskopi
Papil nervus opticus :
merah muda,
batas tegas, tidak
terdapat edema papil
Vasa : AVR 2:3
Makula lutea :
cemerlang
Retina : dalam batas
normal

Normal TIO Normal

IV. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG :
- Kultur
- Biopsi/histopatologik

V. DIAGNOSA BANDING
Oculus dexter Sinister :
1. Kalazion : dipertahankan. Karena pada pasien ditemukan adanya benjolan pada
kelopak mata, tidak hiperemi, tidak ada nyeri tekan dan adanya pseudoptosis. Dan
ketika palpebra dibalik, konjungtiva palpebra superior menonjol merah.
2. Hordeolum : disingkirkan. Pada hordeolum nampak ada benjolan dikelopak mata
bagian atas atau bawah, berwarna kemerahan, kadang terdapat bintik berwarna
keputihan atau kekuningan disertai dengan pembengkakan kelopak mata, terasa
mengganjal, nyeri tekan.
3. Selulitis Orbita : disingkirkan. Pada selulitis didapatkan gejala demam, mata merah,
kelopak sangat edema dan kemotik, mata proptosis atau eksoftalmus, diplopia, sekit
terutama bila digerakan dan tajam penglihatan menurun. Dan pada retina terlihat
tanda edema papil.
4. Karsinoma kelenjar sebasea: disingkirkan. Karena pada karsinoma terdapat nodul
kecil pada kelopak mata, tidak sakit, keras, ditemukan proptosis, strabismus dan visus
terganggu.

VII. DIAGNOSA KERJA
ODS Kalazion palpebra superior

VIII. TERAPI
Terapi medikamentosa
1. Topical :
 Antibiotik
Gentamycin salep mata 1xsehari ODS
Oral :
 Antibiotik :
Amoxycilin tab 500 mg ( 3 x 1)
2. Dilakukan ekskokleasi kalazion

Terapi nonmedikamentosa
Kompres hangat 4x sehari selama 10-15 menit

IX. EDUKASI
o Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit yang sedang dialami pasien adalah
peradangan di kelopak mata yang dapat disebabkan oleh karena stress, kebersihan
kelopak mata yang kurang dijaga, dan alergi, misalnya alergi terhadap makanan
tertentu seperti mie, telur. Oleh karena itu, dianjurkan untuk menghindari faktor-
faktor penyebab.
o Apabila timbul kembali keluhan serupa segera berobat ke dokter. Karena meskipun
sudah dilakukan tindakan operatif, keluhan tersebut dapat muncul kembali apabila
faktor-faktor penyebab tidak dihindari.
o Menjelaskan pada pasien untuk mengkonsumsi obat secara teratur sesuai dengan
anjuran dokter
o Menjelaskan pada pasien dapat, bahwa pasien dapat melakukan terapi dirumah
dengan kompres hangat pada daerah yang membengkak selama 4 kali sehari 5-10
menit, dan pada daerah yang membengkak tidak boleh digaruk.
IX. PROGNOSIS
OCULUS DEXTER (OD) OCULUS SINISTER (OS)
Quo Ad Vitam : Ad bonam Ad bonam
Quo Ad Sanam : Dubia ad bonam Dubia Ad bonam
Quo Ad Functionam : Ad bonam Ad bonam
Quo Ad Kosmetikam : Dubia ad bonam Dubia ad bonam
Quo Ad Visam : Ad bonam Ad bonam

X. KOMPLIKASI
Rusaknya sistem drainase pada kalazion dapat menyebabkan trichiasis, dan kehilangan
bulu mata. Kalazion yang rekuren atau tampat atipik perlu dibiopsi untuk menyingkirkan
adanya keganasan. Astigmatisma dapat terjadi jika massa pada palpebra sudah mengubah
kontur kornea. Kalazion yang drainasenya hanya sebagian dapat menyebabkan massa
jaringan granulasi prolapsus diatas konjungtiva atau kulit.

XI. RUJUKAN
Dalam kasus ini tidak dilakukan Rujukan ke Disiplin Ilmu Kedokteran Lainnya
karena dari hasil pemeriksaan klinis tidak didapatkan kelainan yang berhubungan
dengan Disiplin Ilmu Kedokteran Lainnya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

 ANATOMI PALPEBRA
Kelopak mata atau palpebra di bagian depan memiliki lapisan kulit yang tipis,
sedangkan di bagian belakang terdapat selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva
tarsal. Pada kelopak terdapat bagian-bagian berupa kelenjar-kelenjar dan otot. Kelenjar
yang terdapat pada kelopak mata di antaranya adalah kelenjar Moll atau kelenjar
keringat, kelenjar Zeiss pada pangkal rambut, dan kelenjar Meibom pada tarsus yang
bermuara pada margo palpebra.
Sedangkan otot yang terdapat pada kelopak adalah M. Orbikularis Okuli dan M.
Levator Palpebra. Palpebra diperdarahi oleh Arteri Palpebra. Persarafan sensorik
kelopak mata atas berasal dari ramus frontal n. V, sedangkan kelopak mata bawah
dipersarafi oleh cabang ke II n. V.


Pada kelopak terdapat bagian-bagian:
1. Kelenjar :
 Kelenjar Assesoria (Tambahan) : Krause & wolfring, dibawah konjungtiva
palpebra, menghasilkan komponen air (lapisan tengah air mata)
 Kelenjar Moll atau Kelenjar Keringat
 Kelenjar Zeis pada pangkal rambut, berhubungan dengan folikel rambut dan
juga menghasilkan sebum
 Kelenjar Meibom (Kelenjar Tarsalis) terdapat di dalam tarsus. Kelenjar ini
menghasilkan sebum (minyak/lapisan terluar air mata)
2. Otot-otot Palpebra:
 M. Orbikularis Okuli
Berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah
kulit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli
yang disebut sebagai M. Rioland. M. Orbikularis berfungsi menutup bola mata
yang dipersarafi N. Fasialis.
 M. Levator Palpebra
Bererigo pada Anulus Foramen Orbita dan berinsersi pada Tarsus Atas dengan
sebagian menembus M. Orbikularis Okuli menuju kulit kelopak bagian tengah.
Otot ini dipersarafi oleh N. III yang berfungsi untuk mengangkat kelopak mata
atau membuka mata.

3. Di dalam kelopak mata terdapat :
 Tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di dalamnya atau
kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra
 Septum Orbita yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita
merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan
 Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada seluruh
lingkaran pembukaan rongga orbita. Tarsus (tediri atas jaringan ikat yang
merupakan jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar Meibom (40 buah di
kelopak mata atas dan 20 buah di kelopak bawah)
 Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah A. Palpebrae
 Persarafan sensorik kelopak mata atas dapat dibedakan dari remus frontal N.
V, sedang kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V (N. V
2
).

Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat dilihat dengan
melakukan eversi kelopak.Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup bulbus okuli.
Konjungtiva merupakan membrane mukosa yang mempunyai sel goblet yang
menghasilkan musin.

Gerakan palpebra :
1. Menutup  Kontraksi M. Orbikularis Okuli (N.VII) dan relaksasi M. Levator
Palpebra superior. M. Riolani menahan bgn belakang palpebra terhadap
dorongan bola mata.
2. Membuka  Kontraksi M. Levator Palpebra Superior (N.III). M. Muller
mempertahankan mata agar tetap terbuka.
3. Proses Berkedip (Blink): Refleks (didahului oleh stimuli) dan Spontan (tidak
didahului oleh stimuli)  Kontraksi M. Orbikularis Okuli Pars Palpebra.

I. KALAZION
 DEFINISI
Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang
tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi
ringan yang mengakibatkan peradangan kronis tersebut. Biasanya kelainan ini
dimulai penyumbatan kelenjar oleh infeksi dan jaringan parut lainnya.

 ETIOLOGI
Kalazion disebabkan oleh minyak dalam kelenjar terlalu pekat untuk mengalir
keluar kelenjar atausaluran kelenjar minyak yang tersumbat. Oleh karena tidak
dapat mengalir keluar, produksiminyak tertimbun di dalam kelenjar dan
membentuk benjolan di palpebra. Kelenjar dapat pecah,mengeluarkan minyak ke
jaringan palpebra sehingga menyebabkan inflamasi dan kadang-kadang jaringan
parut

 FAKTOR RISIKO
Belum diketahui dengan pasti factor resiko apa yang menyebabkan terjadinya
kalazion. Hygiene palpebra yang buruk mungkin dapat dihubungkan dengan
kalazion meskipun perannya masih perlu dibuktikan. Stress juga sering
dihubungkan dengan kalazion namun stress belum dibuktikan sebagai penyebab
dan mekanisme stress dalam menyebabkan kalazion belum diketahui.

 PATOFISIOLOGI
Kalazion adalah peradangan noninfeksi granulomatosa pada kelenjar Meibom.
- Nodul kalazion terdiri dari berbagai jenis sel imun yang responsif terhadap
steroid, termasuk makrofag jaringan ikat yang dikenal sebagai histiosit, sel-sel
raksasa multinukleat, sel plasma, leukosit PMN, dan eosinofil.
- Kalazion mungkin merupakan agregasi sisa sel-sel inflamasi setelah infeksi
kelopak mata seperti hordeolum dan selulitis preseptal, atau mungkin
berkembang dari retensi sekresi kelenjar Meibom
- Kerusakan lipid yang mengakibatkan tertahannya sekresi kelenjar,
kemungkinan karena enzim dari bakteri, membentuk jaringan granulasi dan
mengakibatkan inflamasi.
- Proses granulomatous ini yang membedakan antara kalazion dengan
hordeolum internal atau eksternal (terutama proses piogenik yang
menimbulkan pustul), walaupun kalazion dapat menyebabkan hordeolum,
begitupun sebaliknya.

 GEJALA KLINIK
Kalazion akan memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak
hiperemi, tidak ada nyeritekan, dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preurikel tidak
membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat
tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut
Awalnya, gejala kalazion mungkin menyerupai hordeolum. Setelah beberapa
hari, gejala-gejalaawal hilang, tanpa rasa sakit, tumbuh lambat, benjolan tegas
dalam kelopak mata. Kulit di atas benjolan dapat digerakkan secara longgar.
Kalazion lebih sering terjadi pada palpebra superior dibandingkan palpebra
inferior karenabanyaknya jumlah kelenjar Meibom di palpebra superior
Gejala yang mungkin dirasakan pasien dengan kalazion adalah sebagai berikut.
- Pembengkakan di kelopak mata
- Kekakuan pada kelopak mata
- Sensitivitas terhadap cahaya
- Peningkatan keluarnya air mata
- Berat dari kelopak mata
- Rasa seperti mengantuk

 DIAGNOSIS
Dari anamnese diriwayatkan pembesaran dari waktu ke waktu, dan mungkin ada
riwayat infeksipada kelopak mata yg nyeri sebelum terbentuk kalazion, tapi ini
tidak selalu terjadi.
- Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tes penglihatan masing-masing mata dan
inspeksi muka, palpebra, dan mata itu sendiri. Sebagai tambahan dalam
memeriksa kulit palpebra, dokter mata juga akan melihat bagian dalam
palpebra superior jika benjolan ada di palpebra superior
- Temuan klinis dan respon terhadap terapi pada pasien kalazion biasanya
spesifik. Materi yang diperoleh dari kalazion menunjukkan campuran sel-sel
inflamasi akut dan kronik.
- Analisis lipid memberikan hasil asam lemak dengan rantai karbon panjang.
- Kultur bakteri biasanya negatif, tapi Staphylococcus aureus, Staphylococcus
albus, atauorganisme komensal kulit lainnya bisa ditemukan.
Propionibacterium acnes mungkin ada didalam isi kelenjar
- Pencitraan fotografik infra merah dari kelenjar Meibom dapat menunjukkan
dilatasi abnormal yang tampak pada permukaan tarsal palpebra yang dieversi.
- Kadang saluran kelenjar Meibom bisa tersumbat oleh suatu kanker kulit, untuk
memastikan hal ini maka perlu dilakukan pemeriksaan biopsy/histopatologis

 Penatalaksanaan
 Kompres hangat dengan cara menempelkan handuk basah oleh air hangat
selama lima sampai sepuluh menit. Kompres hangat dilakukan empat kali
sehari untuk mengurangi pembengkakandan memudahkan drainase
kelenjar. Meskipun handuk dan air harus bersih, namun tidak perlu steril.
Selain itu, pasien juga bisa memijat dengan lembut area kalazion beberapa
kali sehari.Namun, kalazion tidak boleh digaruk.
 Pemberian antibiotic diperlukan jika dicurigai adanya infeksi bakteri.
 Injeksi steroid di area benjolan dapat membantu meredakan inflamasi.
 Jika kalazion menimbulkan gejala yang berat atau tidak sembuh setelah
berminggu-minggu,mungkin diperlukan operasi. Jika pembengkakan tidak
berakhir dalam beberapa minggu atau muncul gejala penglihatan kabur,
dokter mata akan menyarankan operasi untuk mengangkat kalazion. Jika
penampilan kalazion mengganggu pasien, operasi juga akan menjadi
indikasi

 Komplikasi
Rusaknya sistem drainase pada kalazion dapat menyebabkan trichiasis, dan
kehilangan bulu mata. Kalazion yang rekuren atau tampat atipik perlu dibiopsi
untuk menyingkirkan adanya keganasan. Astigmatisma dapat terjadi jika
massa pada palpebra sudah mengubah kontur kornea. Kalazion yang
drainasenya hanya sebagian dapat menyebabkan massa jaringan granulasi
prolapsus diatas konjungtiva atau kulit.