Anda di halaman 1dari 14

BAB I

LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. S
Umur : 29 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Pandeyan Tasikmadu
Status Pernikahan : Menikah
Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam
Tanggal Pemeriksaan : 26 Mei 2014
No. RM : 30xxxx

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Telinga kiri mengganjal
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 26 Mei 2014 pasien datang ke poli THT
RSUD Karanganyar dengan keluhan telinga kiri terasa
mengganjal. Keluhan ini dirasakan sejak pagi sebelum datang ke
poli. Keluhan dirasakan karena sebelumnya pasien membersikan
telinga dengan menggunakan cotton bud. Saat membersihkan
telinga sebelah kiri, pasien baru menyadari jika kapas cotton bud
tertinggal di telinga saat akan membuangnya ke tempat sampah.
Kemudian oleh pasien dicoba untuk diambil dengan
menggunakan lidi tapi tidak berhasil diambil. Telinga terasa
penuh (-), tersumbat(-), dan berdengung -). Tidak terasa gatal
pada telinga (-), cairan (-), penurunan pendengaran (-).
Keluhan pada hidung : pilek (-), bersin-bersin (-), hidung
tersumbat (-), perdarahan hidung (-), suara sengau (-), hidung
gatal (-), nyeri (-).
Keluhan pada tenggorokan : nyeri (-), sulit menelan (-),
suara serak (-), kesulitan berbicara (-), batuk (-), tenggorokan
gatal (-).
Keluhan sistemik : demam (-), pusing (-), sakit kepala (-),
penglihatan menurun (-), sesak nafas (-), nyeri dada (-), mual
muntah (-), nyeri perut (-) gatal-gatal (-), BAB dan BAK lancar.

3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku tidak memiliki keluhan serupa
sebelumnya dan tidak ada riwayat rawat inap di rumah sakit atau
riwayat pengobatan sebelumnya.

4. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat Asma : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal
Riwayat keluhan serupa : disangkal

5. Riwayat Kebiasaan
Pasien sering menggunakan cotton bud untuk
membersihkan liang telinganya.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik (Compos Mentis)
Vital Sign:
Tekanan Darah 100/60 mmHg
Nadi 88x/Menit
RR 24x/Menit
Suhu 36,5C
Kepala : Bentuk normocephal,konjungtiva anemis (-),
sklera ikterik (-)
Leher : Retraksi supra sterna (-) Deviasi trachea (-)
Peningkatan JVP (-), Pembesaran kelenjar
limfe (-)
Thorax : Setinggi abdomen, Suara dasar vesikuler
(+/+), Rhonki (-/-), wheezing (-/-), Bunyi
jantung I dan II murni reguler, Bising (-)
Abdomen : Distended (-), Nyeri tekan (-), Peristaltik
Normal 10x/ Menit
Ekstremitas : Clubbing finger (-), Edema tungkai (-),
Sianosis (-), Akral hangat (+)
2. Status Lokalis
a. Telinga
Inspeksi :
Auris Dextra: Bentuk telinga normal, deformitas (-),
bekas luka (-), bengkak (-), hiperemis
(-), sekret(-)
Auris Sinistra : Bentuk telinga normal, deformitas (-
), bekas luka (-), bengkak (-),
hiperemis (-), sekret(-)
Palpasi :
Auris Dextra : Tragus pain (-), Nyeri tarik aurikula
(-)
Auris Sinistra : Tragus pain (-), Nyeri tarikaurikula(-)
Tes Pendengaran
Auris Dextra :
Test Rinne : Positif
Test Weber : Tidak ada lateralisasi
Test Schwabach : Sama dengan pemeriksa
Kesimpulan : Normal
Auris Sinistra :
Test Rinne : Positif
Test Weber : Tidak ada lateralisasi
Test Schwabach : Sama dengan pemeriksa
Kesimpulan : Normal
Otoskopi :
Auris Dextra : CAE udem (-), hiperemis (-),
serumen (-), membran timpani utuh, discharge (-)
Auris Sinistra : CAE udem (-), hiperemis (-),
serumen (-), membran timpani utuh, discharge (-),
tampak kapas cotton bud
b. Hidung
Inspeksi : Deformitas (-), bekas luka (-), sekret (-),
edema (-)
Palpasi : Krepitasi (-), nyeri tekan (-)
Rinoskopi anterior :
Nasus Dextra : Mukosa hiperemis (-), concha media
dan inferior hipertrofi (-),concha hiperemis (-
), sekret (-), septum nasi deviasi (-),udem (-
),massa dirongga hidung (-)
Nasus Sinistra : Mukosa hiperemis (-), concha media
dan inferior hipertrofi (-), concha hiperemis (-
), sekret (-), septum nasi deviasi (-), udem (-),
massa dirongga hidung (-)
c. Tenggorokan
Pemeriksaan Orofaring :
Bibir sianosis (-), ulkus (-), lidah tremor (-), mukosa
faring hiperemis
(-), granulasi (-), tonsil membesar (-), tonsil hiperemis
(-), kriptemelebar (-), detritus (-), uvula, palatum, dan
arkus faringdalam batas normal.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak Diperlukan
E. DIAGNOSIS
Corpus Alienum Kapas Cotton Bud pada Auricula Sinistra
F. TERAPI
1. Ekstraksi cotton bud dengan menggunakan alligator
2. Pemberian antibiotik tetes telinga untuk mencegah infeksi

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BENDA ASING DI TELINGA

1. Pendahuluan
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan
kompleks (pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran
berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan
sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan
pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain
melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.
Benda asing merupakan benda yang berasal dari luar tubuh atau
dari dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada. Telinga sering
kemasukan benda asing. Kadang-kadang benda dapat masuk. Bila
kemasukan benda asing di telinga, tentu saja terjadi penurunan
pendengaran. Terkadang benda asing dapat masuk tanpa sengaja ke
dalam telinga orang dewasa yang mencoba membersihankan kanalis
eksternus atau mengurangi gatal atau dengan sengaja anak-anak
memasukkan benda tersebut ke dalam telinganya sendiri.Namun,
terkadang sering dianggap enteng oleh setiap orang. Pada anak, anak
tak melaporkan keluhannya sebelum timbul keluhan nyeri akibat infeksi
di telinga tersebut, lama-lama telinganya berbau. Jika hal ini terjadi,
orang tua patut mencurigainya sebagai akibat kemasukan benda asing.
Jangan menanganinya sendiri karena bisa-bisa benda yang masuk
malah melesak ke dalam karena anatomi liang telinga yang berlekuk. Di
telinga banyak terdapat saraf-saraf dan bisa terjadi luka. Benda yang
masuk biasanya hanya bisa dikeluarkan oleh dokter THT dengan
menggunakan peralatan dan keahlian khusus.



2. Etiologi
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan benda asing
diliang telinga yaitu :
Faktor kesengajaan, biasanya terjadi pada anak-anak balita.
Faktor kecerobohan sering terjadi pada orang dewasa sewaktu
menggunakan alat alat pembersih telinga misalnya kapas, tangkai
korek api atau lidi yang tertinggal di dalam telinga, yang terakhir
adalah faktor kebetulan terjadi tanpa sengaja dimana benda asing
masuk kedalam telinga contoh masuknya serangga, kecoa, lalat
dan nyamuk.
Berikut beberapa benda asing yang sering masuk ke telinga dan
penangangan pertama yang bisa dilakukan:
a. Air
Sering kali saat kita heboh mandi, berenang dan keramas,
membuat air masuk ke dalam telinga. Jika telinga dalam keadaan
bersih, air bisa keluar dengan sendirinya. Tetapi jika di dalam telinga
kita ada kotoran, air justru bisa membuat benda lain di sekitarnya
menjadi mengembang dan air sendiri menjadi terperangkap di
dalamnya. Segera kunjungi dokter THT untuk membersihkan kotoran
kuping yang ada.
b. Cotton Buds
Cotton buds tidak di anjurkan secara medis untuk membersihkan
telinga. Selain kapas bisa tertinggal di dalam telinga, bahaya lainnya
adalah dapat menusuk selaput gendang bila tidak hati-hati
menggunakannya.
c. Benda-benda kecil
Anak-anak kecil sering tidak sengaja memasukkan sesuatu ke
dalam telinganya. Misalnya, manik-manik mainan. Jika terjadi, segera
bawa ke dokter THT. Jangan coba-coba mengeluarkannya sendiri,
karena bisa menimbulkan masalah baru. Di ruang praktek, dokter
mempunyai alat khusus untuk mengeluarkan benda tersebut.

d. Serangga
Bila telinga sampai kemasukan semut, berarti ada yang salah
dengan bagian dalam telinga. Pada prinsipnya, telinga punya
mekanisme sendiri yang dapat menghambat binatang seperti semut
untuk tidak masuk ke dalam.
3. Manifestasi klinik
Efek dari masuknya benda asing tersebut ke dalam telinga dapat
berkisar di tanpa gejala sampai dengan gejala nyeri berat dan adanya
penurunan pendengaran.
Merasa tidak enak ditelinga :
Karena benda asing yang masuk pada telinga, tentu saja
membuat telinga merasa tidak enak, dan banyak orang yang
malah membersihkan telinganya, padahal membersihkan akan
mendoraong benda asing yang mauk kedalam menjadi masuk
lagi.
Tersumbat
Karena terdapat benda asing yang masuk kedalam liang telinga,
tentu saja membuat telinga terasa tersumbat.
Pendengaran terganggu :
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat
campuran. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak
perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem
pengantaran suara ke telinga tengah.
Rasa nyeri telinga / otalgia
Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan
pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus
lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri
merupakan tanda berkembang komplikasi telinga akibat benda
asing.
Pada inspeksi telinga akan terdapat benda asing


4. Patofisiologi
Benda asing yang masuk ke telinga biasanya disebabkan oleh
beberapa factor antara lain pada anak anak yaitu factor kesengajaan
dari anak tersebut , factor kecerobohan misalnya menggunakan alat-alat
pembersih telinga pada orang dewasa seperti kapas, korek api ataupun
lidi serta factor kebetulan yang tidak disengaja seperti kemasukan air,
serangga lalat, nyamuk dll.
Masukknya benda asing ke dalam telinga yaitu ke bagian kanalis
audiotorius eksternus akan menimbulkan perasaaan tersumbat pada
telinga, sehingga klien akan berusaha mengeluarkan benda asing
tersebut. Namun, tindakan yang klien lakukan untuk mengeluarkan
benda asing tersebut sering kali berakibat semakin terdorongnya benda
asinr ke bagian tulang kanalis eksternus sehingga menyebabkan laserasi
kulit dan melukai membrane timpani. Akibat dari laserasi kulit dan
lukanya membrane timpanai, akan menyebabkan gangguan
pendengaran , rasa nyeri telinga/ otalgia dan kemungkinan adanya
risiko terjadinya infeksi.
5. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan dengan Otoskopik
Caranya :
Bersihkan serumen
Lihat kanalis dan membran timpani
Interpretasi:
Warna kemerahan, bau busuk dan bengkak menandakan
adanya infeksi
Warna kebiruan dan kerucut menandakan adanya
tumpukan darah dibelakang gendang.
Kemungkinan gendang mengalami robekan.
b. Pemeriksaan Ketajaman
Test penyaringan sederhana
1. Lepaskan semua alat bantu dengar
2. Uji satu telinga secara bergiliran dengan cara tutup salah
satu telinga
3. Berdirilah dengan jarak 30 cm
4. Tarik nafas dan bisikan angka secara acak (tutup mulut)
5. Untuk nada frekuensi tinggi: lakukan dgn suara jam
c. Uji Ketajaman Dengan Garpu Tala
Uji weber
1. Menguji hantaran tulang (tuli konduksi)
2. Pegang tangkai garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
3. Letakan tangkai garpu tala pada puncak kepala pasien.
4. Tanyakan pada pasien, letak suara dan sisi yang paling
keras.
Interpretasi
1. Normal: suara terdengar seimbang (suara terpusat pada
ditengah kepala)
2. Tuli kondusif: suara akan lebih jelas pada bagian yang
sakit (obstruksi: otosklerosis, OM) akan menghambat
ruang hampa.
3. Tuli sensorineural: suara lateralisasi kebagian telinga yang
lebih baik.
d. Uji Rine
1. Membandingkan konduksi udara dan tulang
2. Pegang garpu tala, pukulkan pada telapak tangan
3. Sentuhkan garpu tala pada tulang prosesus mastoid, apabila
bunyi tidak terdengar lagi pindahkan kedepan lubang telinga
(2 cm)
4. Tanyakan pasien, kapan suara tak terdengar (hitungan detik)
5. Ulangi pada telinga berikutnya
Interpretasi
1. Normal: terdengar terus suara garpu tala.
2. Klien dengan tuli kondusif udara: mendengar garpu tala lebih
jelas melalui konduksi tulang (Rinne negatif)
6. Pencegahan
Usaha pencegahan
a. Kebiasaan terlalu sering memakai cottonbud untuk membersihkan
telinga sebaiknya dijauhi karena dapat menimbulkan beberapa
efek samping: kulit teling kita yang ditumbuhi bulu-bulu halus
yang berguna untuk membuat gerakan menyapu kotoran di telinga
kita akan rusak, sehingga mekanisme pembersihan alami ini akan
hilang. Jika kulit kita lecet dapat terjadi infeksi telinga luar yang
sangat tidak nyaman dan kemungkinan lain bila anda terlalu dalam
mendorong Cottonbud, maka dapat melukai atau menembus
gendang telinga.
b. Hindarkan memberi mainan berupa biji-bijian pada anak-anak,
dapat tejadi bahaya di atas atau juga dapat tertelan dan yang fatal
dapat menyumbat jalan nafas.
7. Penatalaksanaan
Ekstrasi benda asing dengan menggunakan pengait atau pinset
atau alligator (khususnya gabah). Pada anak yang tidak kooperatif,
sebaiknya dikeluarkan dalam narcosis umum, agar tidak terjadi
komplikasi pada membrane timapani.
Bila benda asing berupa binatang atau serangga yang hidup,
harus dimatikan dulu dengan meneteskan pantokain,xylokain,minyak
atau alcohol kemudian dijepit dengan pinset.
Usaha pengeluaran harus dilakukan dengan hati- hati biasanya
dijepit dengan pinset dan ditarik keluar. Bila pasien tidak kooperatif
dan beresiko merusak gendang telinga atau struktur- struktur telinga
tengah, maka sebaiknya dilakukan anastesi sebelum dilakukan
penatalaksanaan.
Jika benda asing serangga yang masih hidup, harus dimatikan
terlebih dahulu dengan meneteskan larutan pantokain, alcohol, rivanol
atau minyak. Kemudian benda asing dikait dengan pinset atau klem
dan ditarik keluar. Setelah benda asing keluar, liang telinga
dibersihkan dengan larutan betadin. Bila ada laserasi liang telinga
diberikan antibiotik ampisilin selama 3 hari dan analgetik jika perlu.
Benda asing seperti kertas, busa, bunga, kapas, dijepit dengan pinset
dan ditarik keluar.
Benda asing yang licin dan keras seperti batu, manik-manik,
biji-bijian pada anak yang tidak kooperatif dilakukan dengan narkose.
Dengan memakai lampu kepala yang sinarnya terang lalu dikeluarkan
dengan pengait secara hati-hati karena dapat menyebabkan trauma
pada membran timpani.
Pengambilan benda asing dari kanalis audiotorius eksternus
merupakan tantangan bagi petugas perawatan kesehatan. Banyak
benda asing (misalnya : kerikil, mainan, manik-manik, penghapus)
dapat diambil dengan irigasi kecuali ada riwayat perforasi lubang
membrana timpani. Benda asing dapat terdorong secara lengkap ke
bagian tulang kanalis yang menyebabkan laserasi kulit dan melubangi
membrana timpani pada anak kecil atau pada kasus ekstraksi yang
sulit pada orang dewasa. Pengambilan benda asing harus dilakukan
dengan anatesia umum di kamar operasi.















BAB III
PEMBAHASAN

Benda asing merupakan benda yang berasal dari luar tubuh atau dari
dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada. Telinga sering
kemasukan benda asing. Kadang-kadang benda dapat masuk. Bila
kemasukan benda asing di telinga, tentu saja terjadi penurunan pendengaran.
Terkadang benda asing dapat masuk tanpa sengaja ke dalam telinga orang
dewasa yang mencoba membersihankan kanalis eksternus atau mengurangi
gatal atau dengan sengaja anak-anak memasukkan benda tersebut ke dalam
telinganya sendiri.
Pada Tn. S yang datang ke poliklonik THT RSUD Karanganyar
dengan keluhan rasa mengganjal di telinga kiri. Akibat adanya kapas cotton
bud yang tertinggal di dalam telinga saat pasien sedang membersihkan
telinga pagi sebelum pasien datang ke poli. Pasien tidak mengeluhkan
adanya penurunan pendengaran. Dari pemeriksaan otoskopi ditemukan pada
auricula sinistra terdapat kapas cotton bud yang tertinggal pada kanalis
auricula externa.
Saat itu juga di poliklinik dilakukan ekstraksi dengan menggunakan
alligator dan didapatkan kapas cotton bud tersebut. Selain dilakukan
ekstraksi pasien juga mendapatkan terapi berupa antibiotik tetes telinga
untuk mencegah infeksi.
Edukasikan kepada pasien bahwa cotton buds tidak di anjurkan secara
medis untuk membersihkan telinga. Selain kapas bisa tertinggal di dalam
telinga, bahaya lainnya adalah dapat menusuk selaput gendang bila tidak
hati-hati menggunakannya.






DAFTAR PUSTAKA

Anson, BJ, Et all. Embryology of the Ear, Dalam : Paparella MM.
Otolaringology, 3rd ed, Vol I, Philadelphia ; WB Saunders Company,
1991 : 4 - 12.
Boies. Penyakit Telinga Luar. Buku Ajar Penyakit Telinga, Hidung,
Tenggorokan, ed 6, Alih Bahasa Dr. Caroline Wijaya, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC, Jakarta, 1994: 78 - 80. 28. Maqbool M. Textbook
Liston SL. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam : Boies,
Buku Ajar Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, ed 6. Alih Bahasa
Dr. Caroline Wijaya,Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta., 1994:
27 - 33.
Wright A. Anatomy and Ultrastructure of the Human Ear, Basic Science,
Dalam : Scott- Brown's Otolaryngology, 6"' ed, Vol I, Oxford ;
Butterworth- Heinemann Ltd, International Editions : 1/1/1 - /11.