Anda di halaman 1dari 13

Referat

MANISFESTASI NEUROLOGIS PADA HIV AIDS





Di susun oleh:
Novi Italiana (1102008178)

Pembimbing :
dr. Nasir Okbah, Sp.S


KEPANITERAAN KLINIK SMF NEUROLOGI
RSU DR.SLAMET GARUT
UNIVERSITAS YARSI
HIV AIDS
A. DEFINISI
HIV adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang
manusia dan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS merupakan penyakit imunologi,
menyerang sistem pertahanan tubuh sehingga menyebabkan penurunan daya tahan tubuh
penderitanya. AIDS sendiri di definisikan sebagai infeksi HIV dengan adanya kondisi klinis
AIDS tanpa memperdulikan hitung sel CD4, atau hitung sel CD4 <200/mikroL tanpa
memperdulikan tanda tanda klinis AIDS.
B. ETIOLOGI
Virus penyebab defisiensi imun yang dikenal dengan nama Human Immunodeficiency Virus
(HIV) ini adalah suatu virus RNA dari famili Retrovirus dan subfamily Lentiviridae. Sampai
sekarang baru dikenal dua serotype HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1, sebagai penyebab
sindrom defisiensi imun (AIDS) yang tersering, dahulu dikenal juga sebagai human T cell-
lymphotropic virus type III (HTLV-III), lymphadenipathy-associated virus (LAV) dan AIDS-
associated virus.
5,6

Secara morfologik, virus ini berbentuk bulat, terdiri dari bagian inti (core) yang
berbentuk silindris dan selubung (envelope) yang berstruktur lipid bilayer yang membungkus
bagian core, dimana didalam core ini terdapat RNA virus ini. Pada selubung (envelope) terdapat
glikoprotein permukaan, terdiri dari dua protein yang mengkordinasi masuknya HIV kedalam
sel. Glikoprotein yang lebih besar dinamakan gp 120, adalah komponen yang menspesifikasi sel
yang diinfeksi. gp 120 ini terutama akan berikatan dengan reseptor CD4, yaitu suatu reseptor
yang terdapat pada permukaan sel T helper, makrofag, monosit, sel-sel langerhans pada kulit,
sel-sel glial, dan epitel usus (terutama sel-sel kripta dan sel-sel enterokromafin). Glikoprotein
yang besar ini adalah target utama dari respon imun terhadap berbagai sel yang terinfeksi.
Glikoprotein yang lebih kecil, dinamai gp 41 atau disebut juga protein transmembran, dapat
bekerja sebagai protein fusi yaitu protein yang dapat berikatan dengan reseptor sel lain yang
berdekatan sehingga sel-sel yang berdekatan tersebut bersatu membentuk sinsitium.
8
C. PATOFISIOLOGI
HIV mempunyai target sel utama yaitu sel limfosit T4, yang mempunyai reseptor CD4.
Setelah masuk ke dalam tubuh, HIV akan menempel pada sel yang mempunyai molekul CD4
pada permukaannya. Molekul CD4 ini mempunyai afinitas yang sangat besar terhadap HIV,
terutama terhadap molekul gp 120 dari selubung virus. Diantara sel tubuh yang memiliki CD4,
sel limfosit T memiliki molekul CD4 yang paling banyak. Oleh karena itu, infeksi HIV dimulai
dengan penempelan virus pada limfosit T. Setelah penempelan, terjadi diskontinuitas dari
membran sel limfosit T yang disebabkan oleh protein gp41 dari HIV, sehingga seluruh
komponen virus harus masuk ke dalam sitoplasma sel limfosit-T, kecuali selubungnya.
5

Setelah masuk ke dalam sel, akan dihasilkan enzim reverse transcriptase. Dengan adanya
enzim reverse transcriptase, RNA virus akan diubah menjadi suatu DNA. Karena reverse
transcriptase tidak mempunyai mekanisme proofreading (mekanisme baca ulang DNA yang
dibentuk) maka terjadi mutasi yang tinggi dalam proses penerjemahan RNA menjadi DNA ini.
Dikombinasi dengan tingkat reproduktif virus yang tinggi, mutasi ini menyebabkan HIV cepat
mengalami evolusi dan sering terjadi resistensi yang berkelanjutan terhadap pengobatan.
7

Bersamaan dengan enzim reverse trancriptase, akan dibentuk RNAse. Akibat aktivitas
enzim ini, maka RNA yang asli dihancurkan. Sedangkan seuntai DNA yang tadi telah terbentuk
akan mengalami polimerisasi menjadi dua untai DNA dengan bantuan enzim polymerase. DNA
yang terbentuk ini kemudian pindah dari sitoplasma ke dalam inti sel limfosit T dan menyisip ke
dalam DNA sel penjamu dangan bantuan enzim integrase, dan DNA ini disebut sebagai
provirus. Provirus yang terbentuk ini tinggal dalam keadaan laten atau dalam keadaan replikasi
yang sangat lambat, tergantung pada aktivitas dan diferensiasi sel penjamu (T-CD4) yang
diinfeksinya, sampai kelak terjadi suatu stimulasi yang dapat memicu DNA ini untuk keluar dari
DNA inang dan menjadi aktif, serta selanjutnya terjadi replikasi dalam kecepatan yang tinggi.
Keadaan laten ini dapat berlangsung selama 1 sampai 12 tahun dari infeksi awal HIV dan dalam
keadaan ini pasien tidak mempunyai gejala (asimptomatik). Pada stadium laten ini, HIV dan
respon imun anti HIV dalam tubuh pasien dalam keadaan steady state.
2,5

Infeksi akut dengan cepat meningkatkan viral load dan menyebabkan viremia yang
ringan sampai moderat. Walaupun viral load cenderung menurun dengan cepat setelah infeksi
akut pada orang dewasa, viral load menurun lebih lambat pada anak-anak yang terinfeksi secara
vertical (2-3 bulan setelah terinfeksi, jumlah viral load dalam tubuh mereka menetap sekitar
750.000/mL) dan dapat tidak mencapai level steady state sampai mereka berumur 4-5 tahun. Hal
ini disebabkan karena imaturitas sistem imun mereka. Walaupun bayi-bayi mempunyai sejumlah
antigen presenting cell dan sel-sel efektor lebih banyak daripada orang dewasa, produksi sitokin,
proliferasi dan sitotoksisitas sel-sel tersebut pada mereka jauh lebih berkurang karena infeksi
HIV ini.
4,8

Infeksi HIV pada limfosit T-CD4 diatas mengakibatkan perubahan pada fungsi dan
penghancuran sel T-CD4, hingga populasinya berkurang. Mekanisme disfungsi dan penurunan
jumlah sel limfosit T-CD4 ini diduga melalui proses pengaruh sitopatik langsung HIV (single
cell killing), pembentukkan sinsitium, respon imun spesifik, limfosit T sitolitik yang spesifik
untuk HIV, mekanisme autoimun dan anergi.
Dengan menurunnya jumlah dan fungsi sel T-CD4 yang merupakan orchestrator dari
suatu sistem imun, maka individu yang terinfeksi HIV akan lebih berisiko untuk terkena infeksi
opportunistik, infeksi sistemik berat, penyakit sistem organ yang kemudian berakhir dengan
kematian.
5
Proses imuno-supresi menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan neoplasma.
Target utama adalah Thymus-derived lymphocytes (T- lymphocytes) , yang secara fenotipikal
disebut sebagai CD4 surface antigen. CD4 site bertindak sebagai reseptor virus. Sheffield dkk
(2005) menyatakan bahwa agar dapat terjadi infeksi diperlukan co-receptor dan untuk itu
dikenal adanya 2 jenis chemokine receptor yaitu CCR 5 dan CXCR4. Setelah infeksi pertama,
tingkat viremia segera merosot sampai titik tertentu dan pasien dengan beban virus terbesar saat
itu dengan cepat mengalami AIDs dan meninggal. Selama beberapa waktu, jumlah sel T merosot
secara tajam sehingga terlihat gejala imunosupresi. Kehamilan diperkirakan berakibat minimal
terhadap CD4
+
, jumlah sel T dan jumlah HIV-RNA. Kenyataan adalah bahwa jumlah HIV-RNA
meningkat pada 6 bulan pasca persalinan dibandingkan dengan jumlah sebelum kehamilan.
Makrofag-monosit juga terinfeksi dan infeksi sel mikroglia otak dapat menyebabkan kelainan
neuropsikiatri pada pasien yang terinfeksi HIV. Selain itu tercatat pula kejadian Kaposi sarcoma,
Lymphoma B-cell dan non-Hodgkin dan sejumlah bentuk karsinoma lain.
D. CARA PENULARAN
1. Melalui hubungan seksual
Baik secara vaginal, oral ataupun anal dengan seorang pengidap. Ini adalah cara yang
umum terjadi, meliputi 80-90% dari total kasus sedunia. Lebih mudah terjadi penularan bila
terdapat lesi penyakit kelamin dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis,
sifilis, gonore. Resiko pada seks anal lebih besar dibandingkan seks vaginal dan resiko juga lebih
besar pada yang reseptive daripada yang insertie. Diketahui juga epitel silindris pada mukosa
rektum, mukosa uretra laki-laki dan kanalis servikalis ternyata mempunyai reseptor CD4 yang
merupakan target utama HIV.
9

2. Transmisi horisontal (kontak langsung dengan darah/produk darah/jarum suntik):
Tranfusi darah/produk darah yang tercemar HIV, risikonya sekitar 0,5-1% dan telah
terdapat 5-10% dari total kasus sedunia.
9

Pemakaian jarum tidak steril/pemakaian bersama jarum suntik pada para pecandu
narkotik suntik. Resikonya sangat tinggi sampai lebih dari 90%. Ditemukan sekitar 3-5%
dari total kasus sedunia.
9


Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan. Resikonya sekitar
kurang dari 0,5% dan telah terdapat kurang dari 0,1% dari total kasus sedunia.
9


3. Infeksi HIV secara vertikal terjadi pada satu dari tiga periode berikut :
Intra uterin: Terjadi sebelum kelahiran atau pada masa awal kehamilan sampai trimester
kedua, yang mencakup kira-kira 30-50% dari penularan secara vertikal. Janin dapat
terinfeksi melalui transmisi virus lewat plasenta dan melewati selaput amnion, khususnya
bila selaput amnion mengalami peradangan atau infeksi.
8


Intra partum: Transmisi vertikal paling sering terjadi selama persalinan, kurang lebih 50-
60%, dan banyak faktor-faktor mempengaruhi resiko untuk terinfeksi pada periode ini.
Secara umum, semakin lama dan semakin banyak jumlah kontak neonatus dengan darah
ibu dan sekresi serviks dan vagina, maka semakin besar risiko penularan. Bayi prematur
dan BBLR mempunyai resiko terinfeksi lebih tinggi selama persalinan karena barier
kulitnya yang lebih tipis dan pertahanan imunologis pada mereka lebih lemah.
8


Post partum : Bayi baru lahir terpajan oleh cairan ibu yang terinfeksi dan bayi dapat
tertular melalui pemberian air susu ibu yang terinfeksi HIV kira-kira 7-22%.


E. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis infeksi HIV sangat luas spektrumnya, karena itu ada beberapa macam
klasifikasi. Yang paling umum dipakai adalah klasifikasi yang dibuat oleh Center for Disease
Control (CDC), USA,
10
sebagai berikut:
Stadium awal infeksi HIV
Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus umumnya yaitu berupa demam, sakit kepala,
sakit tenggorokan, mialgia, pembesaran kelenjar dan rasa lemah. Pada sebagian orang,
infeksi dapat berat disertai kesadaran menurun.
10
Sindrom ini akan menghilang dalam
beberapa minggu. Dalam waktu 3-6 bulan kemudian tes serologi baru akan positif, karena
telah terbentuk antibodi. Masa 3-6 bulan ini disebut window periode, dimana penderita
dapat menularkan namun secara laboratorium hasil tes HIV-nya negatif.
10

Stadium tanpa gejala
Fase akut akan diikuti fase kronik asimptomatik yang lamanya bisa bertahun-tahun (5-7
tahun). Virus yang ada didalam tubuh secara pelan-pelan terus menyerang sistem
pertahanan tubuhnya. Walaupun tidak ada gejala, kita tetap dapat mengisolasi virus dari
darah pasien dan ini berarti bahwa selama fase ini pasien juga infeksius. Tidak diketahui
secara pasti apa yang terjadi pada HIV pada fase ini. Mungkin terjadi replikasi lambat
pada sel-sel tertentu dan laten pada sel-sel lainnya. Tetapi jelas bahwa aktivitas HIV
terjadi dan ini dibuktikan dengan menurunnya fungsi sistem imun dari waktu ke waktu.
Mungkin sampai jumlah virus tertentu tubuh masih dapat mengantisipasi sistem imun.
9,10

Stadium ARC (AIDS related compleks)
Stadium ARC (AIDS Related Complex) adalah bila terjadi 2 atau lebih gejala klinis yang
berlangsung lebih dari 3 bulan, antara lain :


o Berat badan turun lebih dari 10%
o Demam lebih dari 38
0
C
o Keringat malam hari tanpa sebab yang jelas
o Diare kronis tanpa sebab yang jelas
o Rasa lelah berkepanjangan
o Herpes zoster dan kandidiasis mulut
o Pembesaran kelenjar limfe, anemia, leucopenia, limfopenia, trombositopenia
o Ditemukan antigen HIV atau antibodi terhadap HIV.
9,10

Stadium AIDS
Dalam stadium ini kekebalan tubuh penderita telah demikian rusaknya, sehingga pada
tahap ini penderita mudah diserang infeksi oportunistik antara lain : TBC,
kandidiasistoxoplasmosis, pneumocystis, disamping itu juga dapat terjadi sarkoma kaposi
(kanker pembuluh darah kapiler) dan limfoma.
9,10
Gejala AIDS dikatakan lengkap bila
gejala ARC ditambah dengan satu atau lebih penyakit oportunistik seperti pneumonia
pneumocystis carinii, sarcoma Kaposi, infeksi sitomegalovirus.
Orang dewasa dicurigai menderita AIDS bila dijumpai minimal 2 gejala mayor dan 1
gejala minor.
3
Gejala-gejala mayor tersebut adalah:
Penurunan berat badan lebih dari 10%
Diare kronik lebih dari 1 bulan
Demam lebih dari 1 bulan (terus-menerus/intermitten)
Sedangkan yang termasuk gejala-gejala minor yaitu:
Batuk lebih dari 1 bulan
Dermatitis
Herpes zoster rekuren
Kandidiasis orofaring
Limfadenopatia umum
Herpes simpleks diseminata yang kronik & progresif
Stadium gangguan susunan saraf pusat
Virus AIDS selain menyerang sel limfosit T4 yang merupakan sumber kekebalan tubuh,
ternyata juga menyerang organ-organ tubuh lain. Organ yang paling sering adalah otak
dan susunan saraf lainnya. Selain itu akibat infeksi oportunistik juga dapat menyebabkan
gangguan susunan saraf pusat.
9,10
F. DIAGNOSIS
Seperti penyakit lain, diagnosis infeksi HIV juga ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan klinis dan hasil penemuan laboratorium. Anamnesis yang mendukung kemungkinan
adanya infeksi HIV misalnya :
1. Lahir dengan ibu risiko tinggi.
2. Lahir dari ibu dengan pasangan resiko tinggi.
3. Penerima tranfusi darah atau komponennya, terutama bila berulang dan tanpa uji HIV.
4. Penggunaan obat parenteral atau intravena secara keliru (biasanya pecandu narkotika)
5. Homoseksual atau biseksual.
6. Kebiasaan seksual yang keliru.
Pemeriksaan laboratorium
1. Pembuktian adanya Antibodi atau Antigen HIV
Tes untuk menguji antibodi HIV: Terdapat berbagai macam cara yaitu: ELISA (Enzyme
Linked Immunosorbent Assay), Western Blot, RIPA (RadioImmunoPresipitation Assay)
dan IFA (ImmunoFluorescence Assay).
9

Tes untuk menguji antigen HIV: Pembiakan virus, antigen p24, dan Polymerase Chain
Reaction (PCR).
9


2. Tes Yang Menunjukkan Adanya Defisiensi Imun
Untuk ini dapat dilakukan pemeriksaan Hb, jumlah leukosit, trombosit, jumlah limfosit
dan sediaan apus darah tepi atau sumsum tulang. Pada pasien AIDS dapat ditemukan anemia,
leukopenia atau limfopenia, trombositopenia, dan displasia sumsum tulang normo atau
hiperseluler.
9

Dapat dilakukan perhitungan jumlah sel limfosit T, limfosit B, sel limfosi CD4 dan CD8.
Dikatakan terjadi gangguan sistem imun bila telah terjadi penurunan jumlah sel limfosit, sel CD4
dan menurunnya ratio CD4/CD8. Tes kulit DTH (Delayed Type Hypersensitivity) untuk
tuberkulin dan kandida yang hasilnya negatif atau anergi menunjukkan kegagalan imunitas
seluler. Mungkin saja jumlah CD4 masih normal, tetapi fungsinya sudah menurun. Dapat terjadi
poliklonal hipergammaglobulinemia (IgA dan IgG) yang menunjukkan adanya rangsangan non
apesifik terhadap sel B untuk membentuk imunitas seluler.
9

3. Tes Untuk Infeksi Oportunistik Atau Kanker
Setiap infeksi oportunistik atau kanker sekunder yang ada pada pasien AIDS diperiksa
sesuai dengan metode diagnostik penyakitnya masing-masing. Misalnya pemeriksaan untuk
kandidiasis, PCP, TBC paru, dan sebagainya. Kadang-kadang perlu pemeriksaan penunjang lain,
seperti laboratorium rutin, serologis, radiologis, USG, CT scann, bronkoskopi, pembiakan,
histopatologi dan sebagainya.
9

G. PENATALAKSANAAN

Non medikamentosa
12

1. A= Abstinence (jauhi seks), maksudnya menghindari hubungan seksual di luar
pernikahan dengan siapapun.
2. B= Be faithful (setia dengan pasangan), maksudnya hindari berganti-ganti pasangan
dalam melakukan hubungan seksual.
3. C= condom, pakailah kondom setiap melakukan hubungan seksual penetratif (terutama
bagi lesbian yang menggunakan alat-alat bantu) yaitu melakukan hubungan kelamin, baik
secara anal, vaginal maupun oral. Karena kondom dapat mencegah pertukaran cairan
tubuh yang mungkin mengandung HIV.
4. Hindari hubungan dengan tuna susila (wanita maupun pria) meskipun di daerah yang
dikatakan bebas AIDS. Kita tidak dapat mengetahui apakah seseorang mengidap AIDS
dari penampilannya saja. Orang yang terinfeksi virus AIDS seringkali merasa sehat dan
dari luar tampak sehat.
5. Perhatikan cara sterilisasi bila kita menggunakan alat-alat seperti jarum, jarum suntik,
alat tusuk untuk tato, tindik. Hindari perilaku pemakaian jarum suntik secara bergantian
atau bersamaan.

Medikamentosa
A. Zidovudine
Obat antiretrovirus yang pertama kali diteliti untuk mengurangi resiko transmisi perinatal
adalah zidovudin (ZDV). Pada Pediatric Virology Committee of the AIDS Clinical Trials Group
(PACTG) 076, zidovudin yang diberikan peroral mulai minggu ke-14 kehamilan, dilanjutkan
zidovudin intravena pada saat intrapartum untuk ibu, diikuti dengan zidovudin sirup yang
diberikan pada bayi sejak usia 6-12 jam sampai 6 minggu.
1,7

B. Nevirapin
H. PROGNOSIS
Prognosis HIV-AIDS menyangkut masa lamanya AIDS, kemungkinan terjadi komplikasi,
harapan terjadi kesembuhan, angka keberhasilan hidup, angka kematian dan kemungkinan-
kemungkinan lainnya yang menyangkut prognosis dari HIV-AIDS.
10

Prognosis untuk HIV-AIDS pada beberapa tahun terakhir ini, angka prognosis telah
meningkat secara signifikan, hal ini karena adanya obat-obatan yang baru, dan penyuluhan dalam
hal-hal yang berhubungan dengan pencegahan. Angka rata-rata keberhasilan hidup sekarang ini
adalah 35,7 tahun dan di California Utara 37,9 tahun. Angka kematian HIV adalah 15.245
kematian pada tahun 2000 dan di Amerika pada tahun 1999 dilaporkan terjadi kematian sekitar
14.802.
10

Infeksi HIV pada bayi menyebutkan prognosis yang sangat buruk dengan angka harapan
hidup setelah didiagnosis 9,4 bulan. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan angka harapan
hidup yang lebih baik (median 60-120 bulan). Tanpa obat pencegahan, dua pertiga bayi yang
tertular HIV dari ibunya tetap asimptomatik sampai usia sekolah dan perjalanan penyakitnya
perlahan-lahan; 20-30% sisanya penyakit lebih progresif dan sudah bermanifestasi pada tahun
pertama. Infeksi oportunistik yang berat seperti pneumocystis carinii, ensefalopati dan gangguan
pertumbuhan sudah tampak pada bayi tersebut.
1

Para peneliti juga telah meneliti 2 jenis kelainan pada anak-anak yang menderita HIV, sekitar
20% menderita penyakit yang serius pada tahun pertama kehidupan, dan kebanyakan anak
tersebut meninggal pada umur 4 tahun. Sekitar 80% anak yang terinfeksi HIV mempunyai angka
progresivitas yang rendah dan kebanyakan tidak menderita penyakit-penyakit yang serius
sebelum masuk sekolah sampai masa dewasa. Ada laporan dinegara Eropa dimana anak-anak
yang menderita HIV akan tetap hidup sampai umur 9 tahun. Penelitian lainnya kurang lebih 42
anak yang terinfeksi HIV, yang mempunyai survival rate sampai umur 9 tahun ditemukan kurang
lebih seperempat anak tersebut tidak bergejala dengan sistem pertahanan tubuh yang baik.
10

Pada wanita yang menderita infeksi HIV yang dideteksi secara awal dan mendapat
pengobatan yang sesuai akan bertahan hidup seperti pada laki-laki. Pada beberapa penelitian
menunjukkan bahwa wanita dengan HIV menunjukkan masa hidup yang lebih sebentar
dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan karena pada wanita lebih jarang terdeteksi secara dini.
Pada analisis yang mengikutsertakan 4.500 orang dengan infeksi HIV, ternyata perbandingan
angka kematian antara wanita dan laki-laki adalah 3:1. Para peneliti tidak dapat
mengidentifikasikan alasan penyebab dari kematian tersebut. Namun mereka menduga bahwa
hal ini disebabkan karena akses yang lebih sulit dalam menggunakan pelayanan kesehatan
dibandingkan dengan laki-laki, adanya kekerasan rumah tangga, tidak mempunyai tempat tinggal
dan kurangnya dukungan sosial yang merupakan faktor yang paling penting. Pada orang yang
lebih tua dengan HIV, hidupnya tidak selama dibandingkan orang yang lebih muda.
10

Jika tidak ada pencegahan transmisi ibu ke anak dilaporkan terjadi pada sekitar 25%
kelahiran, dan bisa dikurangi sekitar 8% dengan pengobatan antiretrovirus seperti zidovudine.
Kombinasi terapi antiretroviral, sectio caesarea, menghindari pemberian ASI akan lebih
mengurangi resiko transmisi ibu ke anak sekitar 1%. Di Inggris rata-rata transmisi ibu keanak
sekitar 19,6% pada tahun 1993 dan menurun sampai 22,2% pada tahun 1998.
10

Penelitian terbaru juga menegaskan bahwa suatu kehamilan tidak mempunyai efek terhadap
pertumbuhan AIDS, penyakit yang berhubungan dengan AIDS atau terjadi imunosupresi yang
berat sampai 1 tahun setelah kelahiran ataupun aborsi.
10
Semakin cepat kita memulai pengobatan
maka peluang untuk hidup akan lebih lama.