Anda di halaman 1dari 15

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau


kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan. (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia).
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga
sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian
pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan
adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Pendidikan dapat dipandang sebagai proses membantu peserta didik untuk
mencapai tingkat perkembangan yang optimal dalam seluruh aspek
kepribadiannya sesuai dengan potensi yang dimiliki dan sistem nilai yang berlaku
di lingkungan sosial-budaya dimana dia hidup.
Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang
akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan
dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa
pendidikan, maka diyakini bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan
generasi manusia masa lampau, yang dibandingkan dengan manusia sekarang,
telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proses-proses
pemberdayaannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan bahwa maju
mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan
ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa
tersebut.
Pendidikan adalah pembelajaran pemahaman, informasi, dan kemampuan
selama hidup. Pengajar memberikan banyak pelajaran termasuk membaca,
menulis, matematika, pengetahuan alam, dan sosial (sejarah). Pengajar adalah
spesialisasi profesi seperti astronomi, hukum, ilmu hewan, hanya dapat
mengajarkan bidang tersebut, biasanya seperti profesor di institusi belajar tingkat
tinggi. Ada banyak petunjuk khusus untuk dapat memiliki kemampuan dalam
spesialisasi seperti itu, misalnya persyaratan untuk menjadi pilot. Ada berbagai
media dari kesempatan pendidikan pada level non formal juga termasuk
pemahaman dan kemampuan belajar selama hidup, termasuk pendidikan yang
berasal dari pengalaman.
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau
kelompok orang melalui upaya pengajaran dengan menitikberatkan pada
pembentukan dan pengembangan kepribadian.
Dari definisi – definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan
merupakan proses mengubah keadaan anak didik agar memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan dengan berbagai cara untuk mempersiapkan masa depan yang baik
baginya.
Tujuan sistem pendidikan nasional, manusia Indonesia diharapkan menjadi
individu yang mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk secara mandiri
meningkatkan taraf hidup lahir batin, dan meningkatkan perannya sebagai
pribadi,pegawai/karyawan,warga masyarakat, warga negar, dan mahluk Tuhan.
Pendekatan sistem merupakan sutu cara yang memandang pendidikan secara
menyeluruh dan sistemik, tidak persial atau fragmentaris. Proses Pendidikan
adalah proses transformasi atau perubahan kemempuan nyata untuk meningkatkan
taraf hidup nyata lahir dan batin.
Hasil pendidikan adalah lulusan yang sudah terdidik berdasarkan/mengacu
kepada tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Sistem, secara sederhana dapat
didefinisikan sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian
yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk
mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut Coombs ada 12 subsistem dalam pendidikan yaitu; Tujuan,
Murid/Mahasiswa, Manajemen, Stuktur dan jadwal wakru, Materi, Tenaga
Pengajar dan pelaksana, Alatbantu belajar, Fasilitas, Teknologi, Kendali mutu,
Penelitian, Biaya pendidikan.
Pendidikan Sekolah dan Pendidikan Luar Sekolah; Pendidikan sekolah
merupakan merupakan proses pendidikan yang diorganisasikan berdasarkan
struktur hierarkis dan kronologis, dari taman kanak-kanak sampai perguruan
tinggi, yang menawarkan berbagai macam program studi yang unun maupun
program keterampilan khusus. Pendidikan Luar Sekolah merupakan proses
pendidikan sepanjanghayat menuju suatu tujuan, melalaui pembinaan dan
pngambangan siakap, keterampilan, dan pengetahuan bersadarkan pengalaman
hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada disuatu
lingkungan (orang tua,teman,tetangga, masyarakat, museum, perpustakaan
umum,dll)
Consept Mapping adalah istilah yang digunakan oleh novak dan Gowin tentang
cara yang dapat digunakan dosen untuk membantu mahawiswa
mengorganisasikan materi perkuliahan yang telah dipelajari berdasarkan arti dan
hubungan antar komponennya. Pakar-pakar instruksional lain menyebut concept
mapping sebagai pattern noting diterjemahkan menjadi peta kognitif peta Peta
kognitif juga dapat berfungsi menjadi peta visual yang menggambarkan berbagai
cara untuk mengartrikan suatu konsep berdarakan proposisinya.
Pendidikan merupakan perkara penting dalam membangun sebuah negeri.
Rusaknya pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula. Pada hari
pendidikan nasional ini, kami ingin menyajikan sebuah tulisan yang mengungkap
problematika sistem pendidikan di negeri ini yang berbasis sekularisme dan juga
solusi untuk menuntaskan persoalan tersebut. Solusi yang ditawarkan tiada lain
adalah dengan menerapkan sistem pendidikan berbasis syariah yang ditegakkan
oleh Daulah Khilafah Rasyidah. Pastikan anda membaca gagasan cerdas yang
tidak akan ditemukan di Perguruan Tinggi yang ada saat ini.

I. Latar Belakang
Dalam upaya merekonstruksi kebangkitan suatu masyarakat, negara, bahkan
peradaban umat manusia, keberadaan mabda (ideologi) merupakan salah satu
aspek penting yang menentukan kebangkitan dan pembentukan peradaban
tersebut. Mabda merupakan aqidah aqliyah (difahami melalui proses berfikir)
yang melahirkan segenap peraturan untuk memecahkan berbagai problematika
kehidupan manusia . Dengan memahami bahwa masyarakat adalah sekumpulan
individu yang memiliki pemikiran dan perasaan yang sama serta diikat oleh
peraturan kehidupan yang sama maka rekonstruksi suatu masyarakat dapat
dilakukan dengan perubahan terhadap unsur 2MQ yaitu mengubah Mafahim
(pemahaman, cara berfikir), Maqayis (perasaan-perasaan) serta Qanaat (ketaatan,
keterikatan terhadap nilai-nilai). Masyarakat yang memiliki maqayis, mafahim,
dan qanaat yang bersumber dari mabda kapitalisme maka kehidupannya
senantiasa berjalan di atas rel ‘Sekulerisme’ begitu pula dengan peradaban yang
terbentuknya. Demikian halnya dengan mabda sosialisme-komunisme yang
mengarahkan unsur 2MQ dalam masyarakat berjalan di atas rel ‘Dialektika
Materialisme dan Atheisme’. Adapun dengan mabda islam, masyarakat hendak
diarahkan agar memiliki landasan (qaidah) dan arahan/kepemimpinan (qiyadah)
dalam berfikir, berperasaan serta mengikatkan diri pada peraturan yang bersumber
dari aqidah dan syariah islam dalam menjalani kehidupannya. Bahkan dengan
mabda islam tersebut umat manusia diarahkan untuk membangun sebuah
peradaban yang mulia melalui tegaknya institusi negara yang menjamin
terpeliharanya aqidah dan syariah tersebut dalam kehidupan.
Saat ini kehidupan kaum muslimin di berbagai negeri tengah didera oleh
ideologi kapitalisme maupun sosialisme-komunisme. Tidak terkecuali dengan
Indonesia yang merupakan salah satu negeri muslim terbesar di dunia kini tengah
mengalami berbagai macam keterpurukan akibat mengemban ideologi tersebut.
Secara praktis, mafahim, maqayis, dan qanaah yang dimiliki oleh masyarakatpun
tidak sepenuhnya diberikan kepada Islam, melainkan kepada kapitalisme maupun
sosialisme-komunisme. Oleh karena itu merupakan suatu kewajiban pula bagi
kaum muslimin untuk mengembalikan unsur 2MQ tersebut kepada mabda Islam
melalui aktifitas dakwah yang dilakukan secara berjamaah dalam berinteraksi
dengan masyarakat hingga dapat menanamkan nilai-nilai baru ditengah-tengah
masyarakat secara berkesinambungan.
Dalam pendekatan sistemik, diantara ushlub (strategi) dakwah yang dapat
dilakukan adalah melalui perubahan sistem pendidikan nasional yang saat ini
berkarakteristik sekuler agar menjadi sistem pendidikan yang berbasiskan syari’ah
islam.

II. Fakta Pendidikan di Indonesia


Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Pasal 3 disebutkan bahwa, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan definisi ini, dapat difahami bahwa pendidikan nasional berfungsi
sebagai proses untuk membentuk kecakapan hidup dan karakter bagi warga
negaranya dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang
bermartabat, meskipun nampak ideal namun arah pendidikan yang sebenarnya
adalah sekularisme yaitu pemisahan peranan agama dalam pengaturan urusan-
urusan kehidupan secara menyeluruh. Dalam UU Sisdiknas tidak disebutkan
bahwa yang menjadi landasan pembentukan kecakapan hidup dan karakter peserta
didik adalah nilai-nilai dari aqidah islam, melainkan justru nilai-nilai dari
demokrasi.
Pemerintah dalam hal ini berupaya mengaburkan realitas (sekulerisme
pendidikan) tersebut, sebagaimana terungkap dalam pasal 4 ayat 1 yang
menyebutkan, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi
mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.” Sepintas,
tujuan pendidikan nasional di atas memang tidak nampak sekuler, namun perlu
difahami bahwa sekularisme bukanlah pandangan hidup yang sama sekali tidak
mengakui adanya Tuhan. Melainkan, meyakini adanya Tuhan sebatas sebagai
pencipta saja, dan peranan-Nya dalam pengaturan kehidupan manusia tidak boleh
dominan. Sehingga manusia sendirilah yang dianggap lebih berhak untuk
mendominasi berbagai pengaturan kehidupannya sekaligus memarjinalkan
peranan Tuhan.
Keterpurukan yang diakibatkan dari penerapan sistem pendidikan nasional
yang sekuler antara lain:
1. Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC)
yang berpusat di Hongkong pada tahun 2001 saja menyebutkan bahwa sistem
pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang
disurvei, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul
Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Indonesia
menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam
2. Laporan United Nations Development Program (UNDP) tahun 2004 dan
2005, menyatakan bahwa Indeks pembangunan manusia di Indonesia ternyata
tetap buruk. Tahun 2004 Indonesia menempati urutan ke-111 dari 175 negara.
Tahun 2005 IPM Indonesia berada pada urutan ke 110 dari 177 negara. Posisi
tersebut tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Berdasarkan IPM 2004,
Indonesia menempati posisi di bawah negara-negara miskin seperti Kirgistan
(110), Equatorial Guinea (109) dan Algeria (108). Bahkan jika dibandingkan
dengan IPM negara-negara di ASEAN seperti Singapura (25), Brunei
Darussalam (33) Malaysia ( 58), Thailand (76), sedangkan Filipina (83).
Indonesia hanya satu tingkat di atas Vietnam (112) dan lebih baik dari
Kamboja (130), Myanmar (132) dan Laos (135).
3. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan jumlah pengguna narkoba di
lingkungan pelajar SD, SMP, dan SMA pada tahun 2006 mencapai 15.662
anak. Rinciannya, untuk tingkat SD sebanyak 1.793 anak, SMP sebanyak
3.543 anak, dan SMA sebanyak 10.326 anak. Dari data tersebut, yang paling
mencengangkan adalah peningkatan jumlah pelajar SD pengguna narkoba.
Pada tahun 2003, jumlahnya baru mencapai 949 anak, namun tiga tahun
kemudian atau tahun 2006, jumlah itu meningkat tajam menjadi 1.793 anak.
Selain itu, kalangan pelajar juga rentan tertular penyebaran penyakit
HIV/AIDS. Misalnya di kota Madiun-Jatim, dari data terakhir yang dilansir
Yayasan Bambu Nusantara Cabang Madiun, organisasi yang konsen masalah
HIV/AIDS, menyebutkan kasus Infeksi Seksual Menular (IMS) yang beresiko
tertular HIV/AIDS menurut kategori pendidikan sampai akhir Oktober 2007
didominasi pelajar SMA/SMK sebanyak 51 %, pelajar SMP sebesar 26%,
mahasiswa sebesar 12% dan SD/MI sebesar 11%. Dalam hal tawuran, di kota-
kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tingkat tawuran antar pelajar
sudah mencapai ambang yang cukup memprihatinkan. Data di Jakarta
misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus
perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan
menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban
meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230
kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya
korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun
jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat,
dalam satu hari di Jakarta terdapat sampai tiga kasus perkelahian di tiga
tempat sekaligus.
4. Pencapaian APK (Angka Partisipasi Kasar) dan APM (Angka Partisipasi
Murni) sebagai indikator keberhasilan program pemerataan pendidikan oleh
pemerintah, hingga tahun 2003 secara nasional ketercapaiannya ternyata
masih rendah, hal ini didasarkan pada indikator: (1) anak putus sekolah tidak
dapat mengikuti pendidikan (usia 7-15) sekira 693.700 orang atau 1,7%, (2)
putus sekolah SD/MI ke SMP/MTs dan dari SMP/MTs ke jenjang pendidikan
menengah mencapai 2,7 juta orang atau 6,7% dari total penduduk usia 7-15
tahun (Pusat Data dan Informasi Depdiknas, 2003). Rasio partisipasi
pendidikan rata-rata hanya mencapai 68,4 persen. Bahkan, masih ada sekitar
9,6 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas yang buta huruf. Sampai
sekarang masih terdapat 9 provinsi dengan jumlah buta aksara terbesar usia 10
tahun ke atas dan 15-44 tahun, yakni: Jawa Timur (1.086.921 orang), Jawa
Tengah (640.428), Jawa Barat (383.288), Sulawesi Selatan (291.230), Papua
(264.895), Nusa Tenggara Barat (254.457), Nusa Tenggara Timur (117.839),
Kalimantan Barat (117.338), dan Banten (114.763 orang).
5. Data dari Balitbang Depdiknas 2003 yang menyebutkan bahwa porsi biaya
pendidikan yang ditanggung orang tua/siswa berkisar antara 63,35%-87,75%
dari biaya pendidikan total. Sedangkan menurut riset Indonesia Corruption
Watch (ICW) pada 2006 di 10 Kabupaten/Kota se-Indonesia ternyata orang
tua/siswa pada level SD masih menanggung beban biaya pendidikan Rp 1,5
Juta, yang terdiri atas biaya langsung dan tak langsung. Selain itu, beban biaya
pendidikan yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat (selain orang
tua/ siswa) hanya berkisar antara 12,22%-36,65% dari biaya pendidikan total
(Koran Tempo, 07/03/2007). Menurut laporan dari bank dunia tahun 2004,
Indonesia hanya menyediakan 62,8% dari keperluan dana penyelenggaraan
pendidikan nasionalnya padahal pada saat yang sama pemerintah India telah
dapat menanggung pembiayaan pendidikan 89%. Bahkan jika dibandingkan
dengan negara yang lebih terbelakang seperti Srilanka, persentase anggaran
yang disediakan oleh pemerintah Indonesia masih merupakan yang terendah.
6. Perumusan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU
BHP) yang sudah berlangsung sejak 2004 dinilai oleh pengamat ekonomi Tim
Indonesia Bangkit (TIB), Revrisond Bashwir sebagai agenda kapitalisme
global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank
Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU
BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi sektor pendidikan. Semua satuan
pendidikan (sekolah) kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP)
yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh
sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.
7. Kebijakan UN yang banyak ditentang oleh masyarakat karena dinilai
diskriminatif dan hanya menghamburkan anggaran pendidikan, antara lain
ditentang oleh Koalisi Pendidikan yang terdiri dari Lembaga Advokasi
Pendidikan (LAP), National Education Watch (NEW), Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia (YLKI), The Center for the Betterment Indonesia
(CBE), Kelompok Kajian Studi Kultural (KKSK), Federasi Guru Independen
Indonesia (FGII), Forum Guru Honorer Indonesia (FGHI), Forum Aksi Guru
Bandung (FAGI-Bandung), For-Kom Guru Kota Tanggerang (FKGKT),
Lembaga Bantuan Hukum (LBH-Jakarta), Jakarta Teachers and Education
Club (JTEC), dan Indonesia Corruption Watch (ICW), berdasarkan kajian
terhadap UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
Kepmendiknas No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional, Koalisi
Pendidikan menemukan beberapa kesenjangan.
8. Rendahnya tingkat kesejahteraan guru yang berpengaruh terahadap rendahnya
kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru
Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru
menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-
rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan
guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan
pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan
sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore
hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS,
pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.
9. Realisasi anggaran pendidikan yang masih sedikit. Ketentuan anggaran
pendidikan dalam UU No.20/2003 pasal dinyatakan bahwa Dana pendidikan
selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal
20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor
pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) (ayat 1). Realisasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari
APBN/APBD ternyata masih sangat sulit untuk dilakukan pemerintah, bahkan
skenario yang diterapkan pun masih mengalokasikan dana pendidikan dari
APBN/APBD dalam jumlah yang terbatas yaitu Total Belanja Pemerintah
Pusat menurut APBN 2006 adalah sebesar Rp 427,6 triliun. Dari jumlah
tersebut, jumlah yang dianggarkan untuk pendidikan adalah sebesar Rp36,7
triliun. Sedangkan asumsi kebutuhan budget anggaran pendidikan adalah 20%
dari Rp. 427,6 triliun atau sebesar Rp. 85,5 triliun, maka masih terdapat defisit
atau kekurangan kebutuhan dana pendidikan sebesar Rp 47,9 triliun. Skenario
progresif pemenuhan anggaran pendidikan yang disepakati bersama oleh DPR
dan Pemerintah pada tanggal 4 Juli 2005 yang lalu hanya menetapkan
kenaikan bertahap 2,7 persen per tahun hingga 2009, dengan rincian kenaikan
6,6 % (2004), 9,29 % (2005), 12,01 % (2006), 14,68 % (2007), 17,40 %
(2008), dan 20,10 % (2009). Bandingkan dengan anggaran yang ternyata
hanya dialokasikan sebesar 8,1 % pada tahun 2005 dan 9,1 % pada tahun 2006
(Pan Mohamad Faiz;2006).Tahun 2007 hanya mencapai 11,8 persen. Nilai ini
setara dengan Rp 90,10 triliun dari total nilai anggaran Rp 763,6 triliun.
10. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan
angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar
25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada
periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-
masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data
Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah
dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah
ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan
dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang
fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik
memasuki dunia kerja. Pada tahun 2009 diperkirakan ada 116,5 juta orang
yang akan mencari kerja.

Data di atas merupakan beberapa indikator yang menunjukan betapa sistem


pendidikan nasional kita saat ini tengah didera oleh berbagai problematika, yang
pada akhirnya penyelenggaraan pendidikan tidak dapat memberikan penyelesaian
terhadap permasalahan pembentukan karakter insan yang berakhlak mulia,
pembentukan keterampilan hidup, penguasaan IPTEK untuk peningkatan kualitas
dan taraf hidup masyarakat, serta memecahkan berbagai problematika kehidupan
lainnya. Padahal diantara tujuan semula pendidikan adalah untuk itu semua.

I. Pemecahan Masalah
3.1 Solusi Masalah Mendasar
Penyelesaian masalah mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental.
Penyelesaian itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perombakan secara
menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi
paradigma pendidikan Islam. Hal ini sangat penting dan utama. Artinya, setelah
masalah mendasar diselesaikan, barulah berbagai macam masalah cabang
pendidikan dapat diselesaikan (yang antara lain dikelompokan menjadi masalah
aksesibilitas pendidikan, relevansi pendidikan, pengelolaan dan efisiensi, hingga
kualitas pendidikan).
Solusi masalah mendasar tersebut adalah dengan melakukan pendekatan
sistemik yaitu secara bersamaan dan menyeluruh agar sistem pendidikan dapat
berubah lebih baik maka harus pula dilakukan perubahan terhadap paradigma
dalam penyelenggaraan sistem ekonomi yang kapitalistik menjadi islami, tatanan
sosial yang permisif dan hedonis menjadi islami, tatanan politik yang oportunistik
menjadi islami, dan ideologi kapitalisme-sekuler menjadi mabda islam, sehingga
perubahan sistem pendidikan yang materialistik pun dapat diubah menjadi
pendidikan yang dilandasi oleh aqidah dan syariah islam sesuai dengan
karakteristiknya. Perbaikan semacam ini pun perlu dikokohkan dengan aspek
formal, yaitu dengan dibuatnya regulasi tentang pendidikan yang berbasiskan
pada konsep syari’ah Islam.
Upaya perbaikan secara tambal sulam dan parsial, semisal perbaikan hanya
terhadap kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana-prasarana,
pendanaan dan sebagainya tidak akan dapat berjalan dengan optimal sepanjang
permasalahan mendasarnya belum diperbaiki. Salah satu bentuk nyata dari solusi
mendasar itu adalah mengubah total UU Sistem Pendidikan yang ada dan
menggantinya dengan UU Sistem Pendidikan (Syari’ah) Islam. Hal paling
mendasar yang wajib diubah tentunya adalah asas sistem pendidikan. Sebab asas
sistem pendidikan itulah yang menentukan hal-hal paling prinsipil dalam sistem
pendidikan, seperti tujuan pendidikan dan struktur kurikulum.

3.2 Solusi Untuk Permasalahan Derivat (Turunan)


Permasalahan cabang dalam sistem pendidikan nasional kita diantaranya
dapat dikelompokan sebagai berikut:
1) Keterbatasan aksesibilitas dan daya tampung,; 2) Kerusakan sarana dan
prasarana; 3) Kekurangan tenaga guru; 4) Kinerja dan kesejahteraan guru yang
belum optimal; 5) Proses pembelajaran yang konvensional; 6) Jumlah dan kualitas
buku yang belum memadai; 7) Otonomi Pendidikan; 8) Keterbatasan anggaran; 9)
Mutu SDM Pengelola pendidikan; 10) Life skill yang dihasilkan belum optimal.

Untuk menyelasaikan masalah-masalah cabang di atas, diantaranya juga


tetap tidak bisa dilepaskan dari penyelesaian terhadap masalah mendasar.
Sehingga dalam hal ini diantaranya secara garis besar terdapat dua solusi yaitu:

Pertama, solusi sistemik. Yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial


yang berkaitan dengan sistem pendidikan, antara lain: sistem ekonomi, sistem
politik, sistem sosial, ideologi, dan lainnya. Penerapan ekonomi syari’ah sebagai
pengganti ekonomi kapitalis ataupun sosialis akan menyeleraskan paradigma
pemerintah dan masyarakat tentang penyelenggaraan pendidikan, dimana
pendidikan sebagai salah satu kewajiban negara yang harus diberikan kepada
rakyatnya dengan tanpa adanya pembebanan biaya yang memberatkan ataupun
diskriminasi terhadap masyarakat yang tidak memiliki sumber dana (capital)
untuk mengenyam pendidikan, karena pendanaan pendidikan harus dialokasikan
dari kas negara, bukan dibebankan kepada rakyat sebagaimana Rasulullah Saw
pernah mencontohkan dengan menetapkan tebusan bagi orang-orang kafir yang
menjadi tawanan dalam perang Badar dengan mengajari masing-masing sepuluh
anak kaum muslimin, padahal harta tebusan tersebut statusnya merupakan
ghanimah yang akan disimpan dalam Baitul Maal (kas negara) dan menjadi milik
kaum muslimin (Struktur Negara Khilafah hal.213: HTI Press). Atas dasar inilah
jaminan pendidikan terhadap rakyat merupakan kewajiban negara.

Penerapan sistem politik islam sebagai pengganti sistem politik sekuler akan
memberikan paradigma dan frame politik yang dilakukan oleh penguasa dan
masyarakat, dimana politik akan difahami sebagai aktifitas perjuangan untuk
menjamin terlaksananya pengaturan berbagai kepentingan ummat oleh penguasa
termasuk diantaranya dalam menetapkan kebijakan bidang pendidikan, sehingga
bukan malah sebaliknya menyengsarakan ummat dengan memaksa mereka agar
melayani penguasa. Penerapan sistem sosial yang islami sebagai pengganti sistem
sosial yang hedonis dan permisif akan mampu mengkondisikan masyarakat agar
memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kewajiban terikat pada hukum-hukum
syari’at sehingga masyarakat akan menyadari pula bahwa peran mereka dalam
mensinergiskan pendidikan di sekolah adalah sebagai pihak yang dapat
memberikan tauladan sekaligus mengontrol aplikasi nilai-nilai pendidikan yang
diperoleh siswa di sekolah.
Secara keseluruhan perbaikan sistem ini akan dapat terlaksana jika pemerintah
menyadari fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Rasulullah Saw
bersabda:
"Seorang Imam ialah (laksana) penggembala dan Ia akan dimintai
pertanggungjawaban atas gembalaannya (rakyatnya)". (HR. Muslim)

Kedua, solusi teknis. Yakni solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan


internal dalam penyelenggaraan sistem pendidikan. Diantaranya, secara tegas,
pemerintah harus mempunyai komitmen untuk mengalokasikan dana pendidikan
nasional dalam jumlah yang memadai yang diperoleh dari hasil-hasil eksploitasi
sumber daya alam yang melimpah yang merupakan milik ummat, menyita
kembali harta milik rakyat yang telah dicuri oleh para koruptor baik dari kalangan
penguasa, aparat pemerintah mauapun para pelaku usaha. Dengan adanya
ketersediaan dana tersebut, maka pemerintahpun dapat menyelesaikan
permasalahan aksesibilitas pendidikan dengan memberikan pendidikan gratis
kepada seluruh masyarakat usia sekolah dan siapapun yang belum bersekolah baik
untuk tingkat pendidikan dasar (SD-SMP) maupun menengah (SLTA), bahkan
harus pula berlanjut pada jenjang perguruan tinggi. Merekrut jumlah tenaga
pendidik dan kependidikan sesuai kebutuhan di lapangan disertai dengan adanya
peningkatan kualitas dan kompetensi yang tinggi, jaminan kesejahteraan dan
penghargaan untuk mereka. Pembangunan sarana dan prasarana yang layak dan
berkualitas untuk menunjang proses belajar-mengajar. Penyusunan kurikulum
yang berlandaskan pada nilai-nilai syari’ah (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Melarang
segala bentuk kapitalisasi dan komersialisasi pendidikan baik oleh pemerintah
maupun masyarakat, serta menjamin terlaksananya pendidikan yang berkualitas
dengan menghasilkan lulusan yang mampu menjalani kehidupan dunia dengan
segala kemajuannya (setelah menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan
teknologi serta seni baik yang berasal dari islam maupun dari non islam sepanjang
bersifat umum) dan mempersiapkan mereka untuk mendapatkan bagiannya dalam
kehidupan di akhirat kelak dengan adanya penguasaan terhadap tsaqofah islam
dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.

I. Sistem Pendidikan Berbasis Syari'ah


Seperti diungkapkan di atas, bahwa sistem pendidikan Islam merupakan
alternatif solusi mendasar untuk menggantikan sistem pendidikan sekuler saat ini.
Bagaimanakah gambaran sistem pendidikan Islam tersebut? Berikut uraiannya
secara sekilas.

4.1 Tujuan Pendidikan Islam


Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan
sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter (khas)
Islami. Antara lain:

Pertama, berkepribadian Islam (shaksiyah islamiyah). Ini sebetulnya


merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim
harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (’aqliyyah) dan pola
jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada akidah Islam.
Untuk mengembangkan kepribadian Islam, paling tidak, ada tiga langkah
yang harus ditempuh, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu:
1. Menanamkan akidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan
kategori akidah tersebut, yaitu sebagai ‘aqîdah ‘aqliyyah (akidah yang muncul
dari proses pemikiran yang mendalam).
2. Menanamkan sikap konsisten dan istiqâmah pada orang yang sudah memiliki
akidah Islam agar cara berpikir dan berprilakunya tetap berada di atas pondasi
akidah yang diyakininya.
3. Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang
dengan senantiasa mengajaknya untuk bersungguh-sungguh mengisi
pemikirannya dengan tsaqâfah islâmiyah dan mengamalkan ketaatan kepada
Allah SWT.
Kedua, menguasai perangkat ilmu dan pengetahuan (tsaqâfah) Islam. Islam
telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran
kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu dibagi dalam dua kategori, yaitu:
1. Ilmu yang termasuk fardhu ‘ain (kewajiban individual), artinya wajib
dipelajari setiap Muslim, yaitu tsaqâfah Islam yang terdiri dari konsepsi, ide,
dan hukum-hukum Islam; bahasa Arab; sirah Nabi saw., Ulumul Quran,
Tahfizh al-Quran, ulumul hadis, ushul fikih, dll.
2. Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif); biasanya ilmu-
ilmu yang mencakup sains dan teknologi serta ilmu terapan-keterampilan,
seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dll.
Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan
Seni/IPTEKS). Menguasai IPTEKS diperlukan agar umat Islam mampu mencapai
kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah
di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu
kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran,
kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll. Begitu pula dengan
penguasaan terhadap seni, dimana seni merupakan sesuatu yang dibutuhkan pula
baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menyelaraskan teknologi
dengan fitrah manusia yang menyenangi keindahan (sepanjang tidak bertentangan
dengan ketentuan syara’).
Keempat, memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu
teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan
salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka
melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT. Sebagaimana penguasaan
IPTEKS, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardlu kifayah,
yaitu jika keterampilan tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti rekayasa industri,
penerbangan, pertukangan, dan lainnya.

4.1 Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Terpadu


Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus
dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya
terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus
memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul. Dalam hal
ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian, yaitu:
Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan
yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas
menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur
tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut
juga belum berfungsi secara benar. Buruknya pendidikan anak di rumah memberi
beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di
tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba,
dan sebagainya. Pada saat yang sama, situasi masyarakat yang buruk jelas
membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga
dan sekolah/kampus menjadi kurang optimal. Apalagi jika pendidikan yang
diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar
pendidikan tersebut.
Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK
hingga Perguruan Tinggi. Kurikulum sebagaimana tersebut di atas dapat menjadi
jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada setiap
jenjangnya. Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam yang
secara terus-menerus diberikan mulai dari tingkat TK hingga PT, muatan tsaqâfah
Islam dan Ilmu Kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan) diberikan secara
bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik
berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.
Pada tingkat dasar atau menjelang usia baligh (TK dan SD), penyusunan
struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu, dan
merata bagi semua anak didik yang mengikutinya. Khalifah Umar bin al-
Khaththab, dalam wasiat yang dikirimkan kepada gubernur-gubernurnya,
menuliskan, “Sesudah itu, ajarkanlah kepada anak-anakmu berenang dan
menunggang kuda, dan ceritakan kepada mereka adab sopan-santun dan syair-
syair yang baik.”
Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mewasiatkan kepada Sulaiman al-Kalb,
guru anaknya, “Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya mataku. Saya
mempercayaimu untuk mengajarnya. Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah
dan tunaikanlah amanah. Pertama, saya mewasiatkan kepadamu agar engkau
mengajarkan kepadanya al-Quran, kemudian hafalkan kepadanya al-Quran…”
Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan
secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme,
misalnya, dapat diperkenalkan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami
mabda Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain mabda Islam dan konsepsi-
konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan
untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya dengan
fitrah manusia, agar menjadi pemahamaan untuk menguraikan kerusakan mabda
selain islam tersebut.
Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam, kepribadian Islam,
dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Ketiga hal di atas merupakan target
yang harus dicapai. Dalam implementasinya, ketiga hal di atas menjadi orientasi
dan panduan bagi pelaksanaan pendidikan.

4.2 Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Negara


Islam merupakan sebuah sistem yang memberikan solusi terhadap berbagai
problem yang dihadapi manusia. Setiap solusi yang disajikan Islam secara pasti
selaras dengan fitrah manusia. Dalam konteks pendidikan, Islam telah
menentukan bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek
yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan mengupayakan
agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw. bersabda:
"Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai
pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan tampak ketika beliau
menetapkan para tawanan Perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan
baca-tulis kepada sepuluh orang anak kaum muslimin Madinah. Hal ini
merupakan tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan itu merupakan hak
Baitul Mal (Kas Negara). Tebusan ini sama nilainya dengan pembebasan tawanan
Perang Badar. Artinya, Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu
setara nilainya dengan barang tebusan yang seharusnya milik Baitul Mal. Dengan
kata lain, beliau memberikan upah kepada para pengajar (yang tawanan perang
itu) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal. Kebijakan
beliau ini dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggung jawab penuh atas
setiap kebutuhan rakyatnya, termasuk pendidikan.
Imam Ibnu Hazm, dalam kitabnya, Al-Ihkâm, menjelaskan bahwa kepala
negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana pendidikan, sistemnya,
dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Jika kita melihat sejarah
Kekhalifahan Islam, kita akan melihat begitu besarnya perhatian para khalifah
terhadap pendidikan rakyatnya. Demikian pula perhatiannya terhadap nasib para
pendidiknya. Imam ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari al-
Wadliyah bin Atha’ yang menyatakan, bahwa di kota Madinah pernah ada tiga
orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin al-Khaththab
memberikan gaji kepada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25
gram emas). Jika harga 1 gram emas=Rp 200.000,00, maka gaji seorang pendidik
yang diberikan oleh Daulah Khilafah sejak 13 abad yang lalu jumlahnya mencapai
Rp 12.750.000,00 (subhanallah), sungguh merupakan angka yang fantastis,
apalagi jika dibandingkan dengan saat ini dimana berlangsungnya sistem ekonomi
kapitalisme telah nyata sangat tidak menghargai peran pendidik, semisal upah
yang didapatkan seorang guru honorer hanya berkisar Rp 5.000-30.000 untuk
setiap jam pelajaran dengan perhitungan kerja riil satu bulan namun gajinya hanya
dihitung satu minggu.
Perhatian para khalifah tidak hanya tertuju pada gaji pendidik dan sekolah,
tetapi juga sarana pendidikan seperti perpustakaan, auditorium, observatorium,
dll. Pada masa Kekhilafahan Islam, di antara perpustakaan yang terkenal adalah
perpustakaan Mosul didirikan oleh Ja‘far bin Muhammad (w. 940 M).
Perpustakaan ini sering dikunjungi para ulama, baik untuk membaca atau
menyalin. Pengunjung perpustakaan ini mendapatkan segala alat yang diperlukan
secara gratis, seperti pena, tinta, kertas, dll. Bahkan para mahasiswa yang secara
rutin belajar di perpustakaan itu diberi pinjaman buku secara teratur. Seorang
ulama Yaqut ar-Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa
karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan
apapun perorang. Ini terjadi pada masa Kekhalifahan Islam abad 10 M. Bahkan
para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis
buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.

4.3 Sistem Pendidikan Islam bersifat Multidisipliner


Sistem pendidikan Islam juga sekaligus merupakan sub sistem yang tak
terlepas dari pengaruh sub sistem yang lain dalam penyelenggaraannya. Sistem
ekonomi, politik, sosial-budaya, dan idoelogi akan sangat menentukan
keberhasilan penyelenggaran sistem pendidikan yang berbasiskan aqidah dan
syari’ah islam. Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa dengan sistem ekonomi
yang islami maka penyediaan dana pendidikan akan menjadi perhatian penting
negara agar dapat dialokasikan dari kas negara dalam jumlah yang memadai, yang
sumber-sumbernya dapat diperoleh dari hasil pengelolaan kepemilikan umum
yang saat ini di Indonesia misalnya, jumlahnya masih melimpah seperti barang
tambang, mineral, hasil hutan, kekayaan laut, maupun dari hasil penyitaan
kembali asset rakyat yang dikorupsi oleh para pejabat, pemerintah, dan
pengusaha. Sistem politik yang islami akan mengarahkan penguasa untuk
mengambil kebijakan yang berpihak pada rakyat sebagai konsekuensi dari
aktifitas politiknya yaitu riayah syu’unil ummah (mengatur urusan-urusan ummat)
termasuk kebijakan dalam bidang pendidikan yang harus didasarkan pada aqidah
dan syari’ah islam. Sistem sosial-budaya yang islami akan mengarahkan
masyarakat memiliki perspektif yang benar tentang wajibnya berpendidikan,
memiliki motivasi yang tinggi untuk menggali ilmu pengetahuan, teknologi,
keterampilan dan menciptakan berbagai kreasi yang bermanfaat untuk
kemaslahatan hidup. Selain itu sistem sosial-budaya yang islami juga akan mampu
menjadi filter dan pengendali terhadap berbagai aktifitas yang dilakukan oleh
individu dalam masyarakat, dimana satu sama lain akan menyadari tentang
kewajiban amar ma’ruf nahyi munkar, yang dengan aktifitas ini maka hasil
pendidikan di sekolah dapat bersinergi dengan pengaplikasiannya di masyarakat.
Adapun ideologi, merupakan aspek yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan
karena antara keduanya saling mempengaruhi, yakni pendidikan merupakan salah
satu proses menginternalisasikan ideologi kepada semua warga negara dan
ideologi merupakan asas bagi penyelenggaran sistem pendidikan tersebut.
Dengan demikian maka pengaruh berbagai sistem lainnya terhadap
keberhasilan penyelenggaran sistem pendidikan islam memiliki keterkaitan yang
erat. Sedangkan Boundary (sistem yang menaungi semua sistem) terhadap
berbagai sistem tersebut adalah sistem pemerintahan/ negara. Oleh karenanya
penjuangan terhadap terlaksananya sistem pendidikan yang berbasis syari’ah juga
tidak terlepas dari perjuangan terhadap wajibnya menegakan kembali institusi
Daulah Khilafah Islamiyah sebagai institusi yang akan menjamin penerapan
hukum-hukum islam dalam semua aspek secara kaffah. Wallahu a’lam bi shawab.
Desentralisasi pendidikan akibat semakin besarnya otonomi daerah semakin
menunjukkan kemiripan sistem pendidikan di negeri ini dengan sistem pendidikan
di Amerika. Demikian salah satu yang terungkap dalam Seminar Peduli
Pendidikan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Rabu (27/02) lalu.
Acara yang digelar oleh Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan
Indonesia ini mengangkat tema, "Masa Depan Pendidikan Dasar dan Menengah di
Era Otonomi Daerah". Acara yang juga didukung oleh situs dunia Islam
Syabab.Com ini dihadiri sekitar 250 peserta, baik dari para guru, kepala sekolah
dan juga mahasiwa.
Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut diantaranya, Drs. Kustiwa
Benoputra selaku Kabid PSMP Dinas Pendidikan Kota Bandung, Mirza
Satriawan, M.Si. Ph.D., alumnus University of Illinois di Chicago, USA juga
sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, serta Ir. Dwi Condro
Triono, M.Ag., kandidat Doktor Ekonomi Islam Universitas Kebangsaan
Malaysia.
Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang potret buram
pendidikan di Indonesia. Sungguh sangat menyedihkan komersialisasi dan
sekularisasi pendidikan yang digambarkan dalam film singkat tersebut.
Selanjutnya, Kustiwa Benoputra dari Dinas Pendidikan Kota Bandung
menyampaikan penjelasan seputar manajemen pendidikan dasar dan menengah
dalam kerangka otonomi daerah. Sedangkan Mirza Satriawan, Ph.D.
menyampaikan makalah dengan judul, "Desentralisasi Pendidikan di Indonesia
Keterkaitannya dengan Sistem Pendidikan di Amerika". Terakhir, Pendidikan
dalam Strategi Global disampaikan oleh Dwi Condro Triono.
Menurut Mirza Satriawan, alumnus University of Illinois USA ini
menyatakan desentralisasi pendidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem
pendidikan di Amerika.
"Amerika tidak memiliki sistem pendidikan nasional, yang ada adalah
sistem pendidikan dalam artian terbatas, pada masing-masing negara bagian,"
jelas Mirza.
Mirza menyimpulkan bahwa sistem pendidikan di Amerika sangat
desentralistis, dengan kewenangan yangs sangat terbatas pada pemerintah federal.
Hal ini diikuti oleh langkahnya pada beberapa aspek dalam sistem pendidikan di
negeri ini.
Salah satu hal yang mirip dengan sistem pendidikan di Amerika diantaranya,
adanya kewenangan penetapan kurikulum pada distrik sekolah maupun pada guru
seperti diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Program sertifikasi guru juga mirip dengan sistem pendidikan di Amerika.
Sedangkan dalam hal pendanaan, sejalan dengan otonomi daerah sangat jelas
tidak semua satuan pendidikan atau tidak semua pemerintah daerah dapat
mendapatkan dana pendidikan sesuai dengan kebutuhan dari pemerintah pusat.
Menurut Mirza, ada beberapa hal yang sangat mendasar dan bukan sekedar
permasalahan manajemen melainkan permasalahan mengikuti ideologi suatu
bangsa, yakni ideologi kapitalisme.
"Konsep kebebasan individu membuat masyarakat Amerika enggan terhadap
campur tangan yang dalam dari pemerintah federal terhadap pendidikan anak-
anak mereka, karena itu pola desentralistik yang memberikan kewenangan besar
pada pemerintah lokal atau distrik lebih disukai dibandingkan sentralistik," lanjut
Mirza.
Adapun Dwi Condro mengungkapkan bahwa proses pendidikan yang
berlangsung sesungguhnya baru mencapai tingkatan yang ketiga. Padahal
menurutnya dalam sistem pendidikan Islam, proses pendidikan mampu
menghantarkan setiap insan hingga tingkatan keenam. Tingkatan ini adanya
kemampuan untuk memecahkan segenap problem.
Secara gambalang Dwi Condro menjelaskan sistem pendidikan Islam
sebagai solusi tuntas atas persoalan pendidikan yang menimpa negeri ini.
"Negara menyediakan pendidikan secara gratis bagi setiap warga negaranya,
baik yang fakir miskin maupun yang kaya," jelas Dwi Condro.
"Khalifahlah yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah Swt. terhadap
terpenuhinya sarana-sarana tersebut," imbuhnya lagi.