Anda di halaman 1dari 6

1.

Nama senyawa : Hidralazin HCL (Omoigui, 1997)


2. Sinonim : 1 (2H)-Phthalazinone hydrazonei hydrallazine (Mills & Roberson,
1993)
3. Nama Dagang : Apresoline, Apresazide, Serpanil, Unipres (Mills & Roberson, 1993)
4. Rumus bangun : (Anonim, 2014)

5. Kandungan : Hidralazin HCL mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih
dari 101,0% dari C
8
H
8
N
4.HCL
dihiung dengan referensi untuk senyawa kering. (WHO,
2006)
6. Nama IUPAC : 1-hydrazinylphthalazine
7. Rumus molekul : C
8
H
8
N
4 atau
C
8
H
8
N
4.HCL

8. BM : 160,18 (Mills & Roberson, 1993) atau 196,64 (Anonim, 2007)
9. Sifat fisika kimia :
pKa : 7,3 (Lemke, et al., 2013)
Log

: 0,52 (Lemke, et al., 2013)


Kelarutan : larut di 25 bagian air, sedikit larut dalam etanol (750 g/l), sangat
sedikit larut di eter (WHO, 2006)
Titik leleh : 275 C (dengan dekomposisi) (Szulga, 1998)
Bentuk partikel : kristal serbuk (Szulga, 1998)
Warna : white to off-white (Anonim, 2007)
Bau : tidak berbau (Szulga, 1998)
Rasa : sangat pahit
pH : 11 (Anonim, 1997)
Log P : 1,00 (percobaan) & 1,22 (perhitungan) (Anonim, 1997)


max : 565 nm (Anonim, 1997)
10. Sifat farmakologis
t : 1 0,3 jam (Dorwald, 2012)
Bioavailabilitas oral: 10 40% (Dorwald, 2012)
Tingkat obat terikat protein plasma : 87% (Dorwald, 2012)
Fraksi dari dosis obat oral yang tidak berubah ketika diekskresikan lewat urin : 1-15%
(Dorwald,
2012)
Volume distribusi : 1,51,0 (Dorwald, 2012)
Area permukaan polar : 62,8

(Dorwald, 2012)
Mekanisme kerja : Hidralazin bekerja langsung merelaksasi otot polos arteriol dengan
mekanisme yang belum dapat dipastikan. Sedangkan otot polos vena
hampir tidak dipengaruhi. Vasodilatasi yang terjadi menimbulkan
reflek kompensasi yang kuat berupa peningkatan kekuatan dan
frekuensi denyut jantung, peningkatan rennin da norepinefrin plasma.
Karena lebih selektif bekerja pada arteriol, maka hidralazin jarang
menimbulkan hipotensi ortostatik. (Departemen Farmakologi dan
Terapeutik FKUI, 2009)
Penggunaan : Hidralazin biasanya digunakan sebagai obet kedua atau ketiga setelah
diuretic dan blocker karena takifilaksis akibat retensi cairan dan
reflex simpatis akan mengurangi efek anti hipertensinya. blocker
dapat mengatasi retensi cairan oleh diuretic dan menghambat reflex
takikardia. Dosis pemberiannya 25-100 mg dua kali sehari. Untuk
hipertensi darurat seperti pada glomerulonefritis akut dan eklampsia,
dapat juga diberikan secara i.m. atau i.v. dengan dosis 20-40 mg.
Dosis maksimal per hari 200 mg/hari kecuali untuk individu dengan
asetilator cepat, dosis maksimum 300 mg/hari dapat digunakan. dosis
untuk asetilator lambat adalah 2 mg/kg/hari dan asetilator cepat
adalah 30 mg/kg/hari (Shepherd, et al., 1981).
Farmakokinetik : Hidralazin diabsorbsi dengan baik melalui saluran cerna.
Metabolismenya dengan cara asetilasi grup hidrazino atau amino.
Reaksi ini dikatalisis oleh N-asetil transferase-2, suatau enzim dalam
sitosol hati yang memindahkan grup asetil dari asetil koenzim A obat


tersebut. Pada asetilator lambat dicapai kadar plasma yang lebih
tinggi dengan efek hipotensi berlebihan dan efek samping yang lebih
sering. (Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2009)
Efek samping : sakit kepala, mual, flushing, hipotensi, takikardia, palpitasi, angina
pectoris, iskemia miokard (diatasi dg pemberian bersama blocker),
retensi air dan natrium (diatasi dg penggunaan bersama diuretic),
sindorm lupus (lebih sering pada asetilator lambat dengan dosis
tinggi), dll. (Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2009)
11. Contoh Formulasi oral pelepasan terkontrol Hidralazin HCL (kempa langsung)
Bahan aktif : hydralazine hydrochloride
Bahan pengikat : CP 971P
Bahan pembentuk matriks berkelanjutan : HPMC K4M
Lubrikan & glidant : Magnesium stearat
Bahan diluent : Dibasic Calcium Phosphate (DCP)

12. Alasan Pemilihan Bahan :
CP 971P
CP 971P merupakan singkatan dari carbopol 971 P. Carbopol 971P merupakan salah
satu contoh carbopol yang mempunyai residu lemah hanya dari etil asetat. Carbopol
merupakan pengikat basah ataupun kering dengan konsentrasi 5 10%. Pada sediaan
oral mukoadhesive, dapat mengendalikan sistem distribusi obat dan sebagai
bioadhesive pada patch serviks (Rowe, et al., 2006) .
HPMC K4M
HPMC merupakan singkatan dari Hidroxy Propyl Methyl Cellulose. HPMC K4M
adalah polimer untuk tablet bukal adhesive. HPMC mempunyai kompresibilitas yang
bagus dan secara partikuler cocok untuk tablet kompresi langsung. HPMC digunakan
sebagai pengikat (2-6%), sebagai lapisan film (5%) dan pembentuk matriks pelepasan
berkelanjutan (15-35%). Sistem matriks HPMC dipertimbangkan simpel, biaya
murah, dan mudah untuk membuat sistem pelepasan berkelanjutan. Laju pelepasan
meningkat dengan penurunan viskositas dari HPMC (Wen & Park, 2010).
Magnesium stearat
Mg stearat digunakan sebagai lubrikan dan glidant (0,25-5%) (Rowe, et al., 2006).
Magnesium stearat digunakan karena harga murah dan efikasi tinggi (Craig &
Reading, 2007).


Dibasic Calcium Phosphate (DCP)
Digunakan sebagai diluent/pengencer karena kompaktibilitas dan sifat alir bagus.
DCP tidak higroskopis dan stabil di suhu kamar (Rowe, et al., 2006).
13. Sediaan tablet hidralazin di pasaran



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1997. Dictionary Of Pharmacological Agents. London: Chapman & Hall.
Anonim, 2007. USP DI : Approved Drug Products and Label Requirements. 27th ed.
Greenwood Village: Thomson Micromedex.
Anonim, 2014. Wikipedia. [Online]
Available at: http://en.wikipedia.org/wiki/Hydralazine
Craig, D. Q. M. & Reading, M., 2007. Thermal Analysis of Pharmaceuticals. United States:
CRC Press.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2009. Farmakologi dan Terapi. 5th ed.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Dorwald, F. Z., 2012. Lead Optimization for Medicinal Chemists : Pharmacokinetic
Properties of Functional Groups and Organic Compound. Germany: Wiley-VCH.
Lemke, T. L., Williams, d. A., Roche, V. F. & Zito, S. W., 2013. Foye's Principles of
Medicinal Chemistry. 7th ed. China: Lippincott Williams & Wilkins.
Mills, T. & Roberson, J. C., 1993. Instrumental Data For Drug Analysis. 2nd ed. New York:
CRC Press LLC.
Omoigui, S., 1997. Buku Saku Obat-obatan Anestesia. 2nd ed. Jakarta: EGC.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J. & Owen, S. C., 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients.
5th ed. London: Pharmaceutical Press.
Shepherd, A. M. et al., 1981. Plasma Concentration and Acetylator Phenotype Determine
Response to Oral Hydralazine. American Heart Association, Volume III, pp. 579-585.
Szulga, J., 1998. Introduction To Random Chaos. London: Chapman & Hall.
Wen, H. & Park, K., 2010. Oral Controlled release Formulation Design and Drug Delivery :
Theory to Practice. Canada: John Wiley & Sons Inc.
WHO, 2006. The International Pharmacopoeia. 4th ed. Singapore: WHO Press.









STUDI PRAFORMULASI TABLET HIDRALAZIN




TUGAS FARMASETIKA SEDIAAN SOLIDA





Oleh :
Hawwin Elina Arizka (122210101039)







FARMASETIKA SEDIAAN SOLIDA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2014