Anda di halaman 1dari 27

25

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Alhamdulillahirabbilalamiin, kami kelompok 1
untuk mata kuliah Keperawatan Anak I Semester dapat menyelesaikan makalah ini.
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memberikan in!ormasi kepada pemba"a
men#enai hal$hal yan# berkaitan den#an hiperbilirubinemia pada neonates. Selain itu
makalah ini ditujukan untuk memenuhi tu#as Keperawatan Anak I.
%alam pembuatan makalah ini tentunya ada banyak pihak yan# turut andil dalam
proses pembuatannya. &ntuk itu kami u"apkan terima kasih kepada Allah SWT, kedua
oran# tua kami, Ibu %osen yan# men#ajar kami, dan pihak$pihak yan# tidak dapat kami
sebutkan satu per satu.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yan# bersi!at memban#un selalu saya harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih. Semo#a Allah SWT senantiasa
meridhai se#ala usaha kita. Amin.
Tan#eran# Selatan, 1' %esember ()1*
Tim Penulis
25
DAFTAR ISI
%A+TA, ISI.................................................................................................................................. (
-A- I............................................................................................................................................ *
P./%A0&1&A/.......................................................................................................................... *
1ATA, -.1AKA/2................................................................................................................. *
,&3&SA/ 3ASA1A0............................................................................................................*
T&4&A/.................................................................................................................................... *
III.I T&4&A/ &3&3.......................................................................................................*
III.II T&4&A/ K0&S&S....................................................................................................*
-A- II K5/S.P T.5,I...............................................................................................................6
%.+I/ISI................................................................................................................................... 6
.PI%.3I5152I........................................................................................................................ 7
3A/I+.STASI K1I/IS............................................................................................................8
-A- III P.3-A0ASA/ KAS&S.................................................................................................9
(...................................................................................................................................................... 9
Kasus.......................................................................................................................................... 9
Pembahasan................................................................................................................................ 9
Kemun#kinan dia#nosa...........................................................................................................9
Pato!isiolo#i................................................................................................................................'
Pemeriksaan penunjan#............................................................................................................1)
Penatalaksanaan........................................................................................................................ 11
Komplikasi............................................................................................................................... (1
Asuhan keperawatan.................................................................................................................((
25
25
BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
0iperbilirubinemia adalah salah satu kelainan yan# serin# ditemukan pada
neonates. An#ka kejadian men"apai :); pada bayi "ukup bulan dan 9); pada bayi
kuran# bulan. Ini berarti hiperbilirubinemia merupakan salah satu masalah keperawatan
yan# perlu dipe"ahkan, khususnya ba#i perawat spesialis anak. 3aka dari itu, kami
selaku mahasiswa Pro#ram Studi Ilmu Keperawatan bermaksud membahas masalah
hiperbilirubinemia pada neonates dalam mata kuliah Keperawatan Anak ini.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa de!inisi hiperbilirubinemia<
(. -a#aimana epidemiolo#i hiperbilirubinemia<
*. -a#aimana etilo#i hiperbilirubinemia<
6. -a#aimana mani!estasi klinis dan komplikasi hiperbilirubinemia<
7. -a#aimana pato!isiolo#i hiperbilirubinemia<
:. Apa pemeriksaan penunjan# yan# dibutuhkan untuk hiperbilirubinemia<
8. -a#aimana penatalaksanaan medis dan keperawatan yan# sesuai untuk
hiperbilirubinemia<
1.3 TUJUAN
1.3.1 TUJUAN UMUM
Setelah men#ikuti presentasi ini, di harapkan mahasiswa dapat memberikan
asuhan keperawatan pada neonates den#an hiperbilirubinemia beserta ibunya.
1.3.2. TUJUAN KHUSUS
3ahasiswa dapat memahami de!inisi heprbilirubinemia
3ahasiswa dapat menjelaskan epidemiolo#i kelainan hiperbilirubinemia
3ahasiswa dapat menjelaskan etiolo#i hiperbilirubinemia
25
3ahasiswa dapat menjelaskan mani!estasi klinis dan komplikasi
hiperbilirubinemia
3ahasiswa dapat menjelaskan pato!isiolo#i kelainan hiperbilirubinemia
3ahasiswa dapat menjelaskan pemeriksaan penunjan# untuk
hiperbilirubinemia
3ahasiswa dapat menjelaskan penatalaksanaan medis dan keperawatan pada
penderita hiperbilirubinemia
25
25
BAB II
KONSEP TEORI
2.1 DEFINISI
0iperbilirubinemia 3erupakan suatu kondisi bayi baru lahir den#an kadar bilirubin
serum total lebih dari 1) m#; pada min##u pertama yan# ditandai den#an ikterus.
0iperbilirubinemia yan# merupakan suatu keadaan menin#katnya kadar bilirubin di
dalam jarin#an ekstra=askular, sehin##a konjun#ti=a, kulit, dan mukosa akan berwarna
kunin# >0idayat. ())9?.
-ayi yan# men#alami hiperbilirubinemia memiliki "iri seba#ai berikut @ >0idayat. ())9?
$ Adanya ikterus terjadi pada (6 jam pertama
$ Penin#katan konsentrasi bilirubin serum 1) m#; atau lebih setiap (6 jam
$ Konsentrasi bilirubin serum 1) m#; pada neonatus yan# "ukup bulan dan 1(,7
m#; pada neonatus yan# kuran# bulan
$ Ikterus disertai den#an proses hemolisis
$ Ikterus yan# disertai den#an keadaan berat badan lahir kuran# dari ())) #ram
$ 3asa #estasi kuran# dari *: min##u
$ As!iksia
$ 0ipoksia
$ Sindrom #an##uan pernapasan
$ %ll
Ikterus ada ( ma"am yaitu @ >0idayat. ())9?
$ Ikterus !isiolo#is
Timbul pada hari kedua dan hari ke ti#a dan men#hilan# pada min##u pertama,
selambat$lambatnya adalah 1) hari pertama setelah lahir. Kadar bilirubin indirek
tidak melebihi 1) m#; pada neonatus yan# "ukup bulan dan 1(,7 m#; untuk
neonatus yan# kuran# bulan, ke"epatan penin#katan kadar bilirubin tidak
melebihi 7 m#; setiap hari, kadar bilirubin direk tida melebihi 1 m#;.
$ Ikterus patolo#is sesuai kasus
Terjadi pada (6 jam pertama, kadar bilirubin serum melebihi 1) m#; pada
neonatus "ukup bulan dan melebihi 1(,7 m#; pada neonatus yan# kuran# bulan,
terjadi penin#katan bilirubin lebih dari 7 m#; per hari, ikterusnya menetap
sesudah dua min##u pertama dan kadar bilirubin direk melebihi 1 m#;..
25
2.2 EPIDEMIOLOGI
0iperbilirubinemiaAikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam
darah. Pada seba#ian besar neonates, ikterus akan ditemukan dalam min##u pertama
kehidupannya.%ikemukakan bahwa an#ka kejadian ikterus terdapat pada :); bayi "ukup
bulan dan pada 9); bayi kuran# bulan. %i Amerika Serikat, dari 6 juta bayi yan# lahir
setiap tahunnya, sekitar :7; men#alami ikterus. Sensus yan# dilakukan pemerintah
3alaysia pada tahun 1''9 menemukan sekitar 87; bayi baru lahir men#alami ikterus
pada min##u pertama. >,iskesdas ())8?.
%i Indonesia, didapatkan data ikterus neonatorum dari beberapa rumah sakit
pendidikan. Sebuah studi "ross$se"tional yan# dilakukan di ,umah Sakit &mum Pusat
,ujukan /asional Bipto 3an#unkusumo selama tahun ())*, menemukan pre=alensi
ikterus pada bayi baru lahir sebesar 79; untuk kadar bilirubin di atas 7 m#Ad1 dan (',*;
den#an kadar bilirubin di atas 1( m#Ad1 pada min##u pertama kehidupan. ,S %r. Sardjito
melaporkan sebanyak 97; bayi "ukup bulan sehat mempunyai kadar bilirubin di atas 7
m#Ad1 dan (*,9; memiliki kadar bilirubin di atas 1* m#Ad1. Pemeriksaan dilakukan
pada hari ), * dan 7. %en#an pemeriksaan kadar bilirubin setiap hari, didapatkan ikterus
dan hiperbilirubinemia terjadi pada 9(; dan 19,:; bayi "ukup bulan. Sedan#kan pada
bayi kuran# bulan, dilaporkan ikterus dan hiperbilirubinemia ditemukan pada '7; dan
7:; bayi. Tahun ())* terdapat sebanyak 1(9 kematian neonatal >9,7;? dari 17)'
neonatus yan# dirawat den#an (6; kematian terkait hiperbilirubinemia.%ata yan# a#ak
berbeda didapatkan dari ,S %r. Kariadi Semaran#, di mana insidens ikterus pada tahun
())* hanya sebesar 1*,8;, 89; di antaranya merupakan ikterus !isiolo#is dan sisanya
ikterus patolo#is. An#ka kematian terkait hiperbilirubinemia sebesar 1*,1;. %idapatkan
ju#a data insidens ikterus pada bayi "ukup bulan sebesar 1(,); dan bayi kuran# bulan
((,9;.
Insidens ikterus neonatorum di ,S %r. Soetomo Surabaya sebesar *); pada tahun
())) dan 1*; pada tahun ())(. Perbedaan an#ka yan# "ukup besar ini mun#kin
disebabkan oleh "ara pen#ukuran yan# berbeda. %i ,S %r. Bipto 3an#unkusumo ikterus
25
dinilai berdasarkan kadar bilirubin serum total C 7 m#Ad1D ,S %r. Sardjito men##unakan
metode spektro!otometrik pada hari ke$), * dan 7.
2.3 Etiologi
a. Penin#katan produksi bilirubin dan sirkulasi enterohepatikD penurunan ambilan
bilirubin ke dalam hepar.
b. Asal etnik@ mereka yan# berasal dari Korea, Bina, serta 4epan# dan Indian
Amerika memiliki kadar bilirubin yan# lebih tin##i.
". -ayi dari ibu diabetes >I%3?.
d. Penin#katan destruksi S%3
1. Isoimunisasi @ periksa #olon#an darah dan ,h bayi, Boombs, hitun# darah
len#kap, serta hitun# retikulosit untuk menentukan adanya penyakit hemolitik.
(. %e!ek metabolisme S%3 @ %e!ek enEim S%3 men##an##u !un#si eritrosit
dan memperpendek rentan# hidup S%3 >mis@ de!isiensi 2:P%, de!isiensi
piru=at kinase, de!isiensi heksokinase, serta por!iria eritropoirtik kon#enital.
*. Abnormalitas struktural S%3@ eritrosit berbentuk abnormal tak dapat
bersirkulasi den#an baik dan dian##ap asin# oleh limpa yan# men#akibatkan
penin#katan destruksi.
6. 0emo#lobulinopati @ sekelompok penyakit yan# men#enai eritrosit akibat
adanya satu atau lebih molekul hemo#lobin yan# terbentuk abnormal >mis@
anemia sel sabit dan talasemia?.
e. In!eksi
!. Sekuestrasi@ 0iperbilirubinemia terjadi ketika tubuh memetabolisme kumpulan
darah yan# banyak. .tiolo#inya meliputi trauma kelahiran >mis@ memar,
se!alohematoma, dan hematoma subdural atau sub#aleal? serta heman#ioma besar
>mis@ sindrom Kasaba"h$3erritt?.
#. Polisitemia sekunder akibat @ diabetes melitus >%3?D FpemerahanG tali pusatD
trans!usi maternal$!etalD dan hipoksia janin.
h. 2an##uan konju#asi bilirubin
1. 0ipotiroidisme
(. Bri#ler$/ajjar tipe I dan II@ #an##uan yan# disebabkan oleh de!ek struktur
atau inakti=itas enEim &%P2T.
*. Sindrom 2ilbert@ %e!ek ambilan bilirubin hepar dan penurunan !un#si
&%P2T.
6. Sindrom 1u"ey$%ris"oll@ #an##uan yan# disebabkan oleh inhibitor #lukoronil
trans!erase yan# tak teridenti!ikasi men#akibatkan hiperbilirubinemia tak
terkonju#asi nonhemolitik berat.
i. 2an##uan resirkulasi dan eksresi
25
1. 5bstruksi usus@ Kelambatan penyaluran tinja, struktural >stenosis atau atresia?
atau mekanis >sumbatan ileus atau mekonium?, stenosis pilorus, penyakit
0irs"hprun#, dan !ibrosis kistik.
(. Ikterus ASI@ terjadi setelah hari kelima kehidupan dan memun"ak pada *
min##u kehidupan. %i perkirakan seba#ai akibat penin#katan sirkulasi
enterohepatik bilirubin tak terkonju#asi sekunder akibat !aktor dalam ASI
yan# belum diketahui. >0aws. ())9?
2.4 MANIFESTASI KLINIS
1. Konjun#ti=a, kulit dan mokasa berwarna kunin#
(. Ikterus pada (6 jam pertama,
*. 4aundi"e yan# tampak pada hari ke dua atau hari ke ti#a, dan men"apai pun"ak
pada hari ke ti#a sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke lima sampai hari
ke tujuh yan# biasanya merupakan jaundi"e !isiolo#is.
6. Penin#katan bilirubin serum 1) m#; pada neonates "ukup bulan dan 1(,7 m#;
pada neonates kuran# bulan
7. 3untah, anoksia, !ati#ue, warna urin #elap dan warna tinja pu"at, seperti dempul
:. Perut membun"it dan pembesaran pada hati
8. As!iksia, hipoksia, sindrom #an##uan pernapasan
9. -ila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus,
kejan#, stenosis yan# disertai kete#an#an otot.
25
BAB III
PEMBAHASAN KASUS
3.1 Ka!
-ayi A, lahir den#an persalinan seksio sesaria den#an AP2A, s"ore 8A9, -- (,7 k#, P-
7) "m, tidak ada "a"at bawaan, anus H. Pada saat lahir -ayi A kelihatan kunin#, bilirubin total
C(6 m#;, bayi kunin# sejak pertama lahir. Saat ini bayi Adilakukan !isioterapi. %ari hasil
wawan"ara den#an Ibu bayi A didapatkan data, bayi malas menyusu, payudara ibu ben#kak dan
terasa sakit, re!leI hisap lemah. Ibu kelihatan "emas dan selalu menanyakan kondisi bayinya. Ibu
men#atakan bin#un# kenapa mata anaknya ditutup dan menanyakan berapa lama anaknya
dilakukan !ototerapi.
3.2 P"#$a%aa&
1. Kemun#kinan dia#nosa pada kasus diatas adalah ...
(. -a#aimana pato!isiolo#i kasus diatas sampai mun"ulnya #ejala$#ejala
tersebut<
*. Pemeriksaan penunjan# apa saja yan# sebaiknya diperiksa untuk
men#e=aluasi pasien tersebut ...
6. -a#aimana penatalaksanaan yan# tepat di#unakan untuk men#atasi masalah
utama J man!aatnya pada kasus diatas<
7. Komplikasi apa saja yan# dapat terjadi pada kasus diatas<
:. -uat ,enpra dan makalah...
3.2.1 K"#!&g'i&a& (iag&oa
Data O$)"'ti* Data S!$)"'ti*
Kelahiran seksio se"aria
AP2A, s"ore 8A9
-- (,7 k#
P- 7) "m
Ba"at >$?
Anus >H?
-ayi terlihat kunin#, bilirubin total
C(6 m#;
-ayi malas menyusu
,e!leI hisap lemah
Payudara ibu sakit dan ben#kak
25
-erdasarkan data$data klinis diatas, maka dia#nose medis @ Hi+",$ili,!$i&"#ia
-+atologi..
3.2.2 Patofsiologi
Sel darah merah 0emolisis 0emo#lobin
0eme Turno=er 0emoprotein
>3ylo#lobulin,Batalase, Peroksidase?
0eme oIy#enase /A%P0
5Iy#en
3etaloloporphyri/ Byto"hrome " >P$67)? ,edu"tase
/A%P
Water
+e
(H

-ili=erdin Iron /ew 0emo#lobin
-ilirubin ,edu"tase
-ilirubin Serum Albumin
3en##an##u trnasmisi Synaps
To 0epato"yte H Asam #lu"unoro"yl 3en#hambatCCCCCC N-3ethil$%$Aspartat$,e"eptor
Konju#ated bilirubin &2T Kerni"terus .limination &rin 2elap
+e"es pu"at
In Adult@ In /ewborn@ -rain
3en#hambat Pertukaran Ion di 2injal
SkinCCC Kellow
Absorb .nterohepati" Bir"ulation ,enal
&n"onju#ated -ilirubin .!!e"t
5ther disease
-lood essel >HIPERBILIRUBINEMIA PATHOLOGI0.
Ds: Bayi malas
menyusui
Do: Bilirubin > 24 mg
Mulai sejak lahir
iktrik/Kuning
Refeks Hisa Kurang
!ayu"ara Be"ngkak
Retikuloen"otelial#y
stem
$nteroheati%
#ystem
Haen &n 'e(er
)ir%ulation #ystem
25
1i=er 5=erstressed
-anyak sel darah merah Peme"ahan 1i=er not 3ature
Pada 0iperbilirubinemia Patolo#is terjadi beberapa permasalahan. %imulai dari banyaknya sel
darah merah pada bayi yan# harus di pe"ah dan di konju#asikan oleh hati. Sementara hati pada
neonatus masih belum semopurna !un#sinya. Terjadinya enterohepati" sistem dimana sel darah
merah yan# sudah di pe"ah, diubah bentuknya dan konju#asikan akan dikeluarkan dan tidak
terkonju#asi kembali menuju sistem enterohepati"us. Ketika hal ini terjadi, maka bahan tersebut
akan memasuki sistyem pembuluh darah. Ketika pembuluh darah dilalui tentunya akan
menyebabkan komplikasi terhadap or#an$or#an yan# lain seperti otak, #injal dan kulit.
Kondisi pada bayi diperparah den#an tidak adekuatnya asupan nutrisi berupa ASI dari ibu
yan# men#andun# banyak kalori. Ketika kalori jumlahnya sedikit yan# didapat, akan
menyebabkan menin#katnya sirkulasi enterohepatik tersebut.
3.2.3 Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan -ilirubin Serum
Pada bayi "ukup bulan bilirubin men"apai pun"ak kira$kira : m#Adl, diantara (
dan 6 hari kehidupan. Apabila nilainya diatas 1)m#Adl, tidak !isiolo#is. Pada bayi
den#an premature kadar bilirubin men"apai pun"aknya 1)$1(m#Adl, antara 7 dan
8hari kehidupan. Kadar bilirubin yan# lebih dari 16m#Adl adalah tidak !isiolo#is.
%ari -rown AK dalam TeItbooks 5! Pediatri"s 1'':@ ikterus !isiolo#is pada bayi
"ukup bulan bilirubin indirek mun"ulnya ikterus ( sampai * hari dan hilan# 6
sampai 7 hari den#an kadar bilirubin yan# men"apai pun"ak 1)$1(m#Adl.
Sedan#kan pada bayi yan# premature, bilirubin indirek mun"ul * sampai 6hari
dan hilan# 8$'hari den#an kadar bilirubin yan# men"apai pun"ak 17m#Adl.
%en#an penin#katan kadar biirubin indirek kuran# dari 7m#AdlAhari. Pada ikterus
patolo#is menin#katnya bilirubin lebih dari 7m#AdlAhari, dan kadar bilirubin direk
I dari I m#Adl. 3aisets, 1''6 dalam whaley dan won# 1'''@ menin#katnya kadar
serum bilirubin total lebih dari 1( sampai 1* m#Adl.
(. &ltrasound untuk men#e=aluasi anatomi "aban# kanton# empedu
*. ,adioisotope s"an dapat di#unakan untuk membantu membedakan hepatitis dari
atresia biliary.
6. %arah tepi len#kap
25
7. 2olon#an darah ibu dan bayi.
:. Test Boombs.
8. Pemeriksaan radiolo#y,diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau
penin#katan dia!ra#ma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati
9. -iopsy hati, di#unakan untuk memastikan dia#nosa terutama pada kasus yan#
sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepati" den#an intra hepati"
selain itu ju#a untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hati, hepatoma.
'. Peritoneoskopi
%ilakukan untuk memastikan dia#nosis dan dapat dibuat !oto dokumentasi untuk
perbandin#an pada pemeriksaan ulan#an pada penderita penyakit ini.
1). 1aparatomi
%ilakukan untuk memastikan dia#nosis dan dapat dibuat !oto dokumentasi untuk
perbandin#an pada pemeriksaan ulan#an pada penderita penyakit ini.
3.2.4 Penatalaksanaan
Ikterus !isiolo#is tidak memerlukan penan#anan yan# khusus, ke"uali pemberian
minum sedini mun#kin den#an jumlah "airan dan kalori yan# men"ukupi. Pemberian
minum sedini mun#kin akan menin#katkan motilitas usus dan ju#a menyebabkan bakteri
diintroduksi ke usus. -akteri dapat men#ubah bilirubin direk menjadi urobilin yan# tidak
dapat diabsorbsi kembali. %en#an demikian, kadar bilirubin serum akan turun.
3eletakkan bayi di bawah sinar matahari selama 17$*) menit, ini dilakukan setiap hari
antara pukul :.*)$)9.)). selama ikterus masih terlihat, perawat harus memperhatikan
pemberian minum den#an jumlah "airan dan kalori yan# men"ukupi dan pemantauan
perkemban#an ikterus. Apabila ikterus makin menin#kat intensitasnya, harus se#era
di"atat dan dilaporkan karena mun#kin diperlukan penan#anan yan# khusus >Surasi,
())*?.
Fototerapi terdiri atas pemberian lampu !luoresen ke kulit bayi yan# terpajan.
Bahaya membantu eksresi bilirubin den#an "ara den#an "ara *otoio#",ai, yan#
men#ubah struktur bilirubin menjadi bentuk larut >l!#i,!$i&? a#ar ekskresinya lebih
mudah. A#ar !ototerapi e!ekti!, kulit bayi harus terpajan penuh terhadap sumber "ahaya
25
den#an jumlah yan# adekuat. -ila kadar bilirubin serum menin#kat san#at "epat atau
men"apai kadar kritis, dianjurkan untuk memberi !ototerapi dosis #anda atau intensi!D
teknik ini melibatkan pemberian lampu overhead kon=ensional sementara itu bayi tidak
memen#aruhi e!isiensi pemberian !ototerapi. 0asil terbaik terjadi dalam (6 sampai 69
jam pertama terapi.

Setelah men#absorpsi sinar den#an panjan# #elomban# 6(7$687 nm, bilirubin
tidak terkonju#asi akan terkon=ersi menjadi !otoproduk polar yan# siap diekskresi
melalui empedu dan urine, tanpa melalui sistem konju#asi di hati. +ototerapi merupakan
"ara yan# lebih e!ekti! untuk men#uran#i kadar bilirubin dalam jan#ka waktu yan# lama
dibandin#kan den#an trans!use darah tukar.
-ayi yan# mendapat !ototerapi dibarin#kan telanjan# dibawah sumber "ahaya dan
serin# diubah posisinya a#ar semua permukaan tubuh terpajan "ahaya. -e#itu !ototerapi
dimulai, kadar bilirubin serum harus serin# diperiksa >setiap 6 sampai 1( jam? karena
pen#kajian =isual jaundis tidak la#i dian##ap =alid. -eberapa kewaspadaan perlu
diperhatikan untuk melindun#i bayi Selama !ototerapi. 3ata bayi dilindun#i den#an
masker opak untuk men"e#ah pajanan terhadap "ahaya. Penutup mata di#unakan untuk
men"e#ah terjadinya kerusakan retina >S"hwartE, ())6?. Pelindun# mata harus memiliki
ukuran yan# pas dan posisinya benar, a#ar bisa menutup mata den#an sempurna namun
tidak sampai menutup luban# hidun#.
25
Kelopak mata harus ditutup sebelum men#enakan masker, karena kornea dapat
men#alami ekskoriasi bila berkontak lan#sun# pada pembalut ini. Setiap per#antian tu#as
perawat , mata diperiksa men#enai adanya "airan, tekanan berlebihan pada kelopak, atau
iritasi kornea. Pelindun# mata dilepas selama pemberian makan, untuk memberi
kesempatan mendapat ran#san# =isual dan sensoris. %apat dipakai popok khusus
!ototerapi tembus "ahaya, -ilibottoms, atau popok bi#ini yan# sesuai de#an masker untuk
menutup #enitalia dan bokon#.
-ayi yan# diletakkan di tempat tidur terbuka harus diberi pelindun# PleIi#las
yan# menutup di antaranya dan lampu !luoresen untuk meminimalkan jumlah sinar
ultra=iolet yan# men"apai kulit mereka dan untuk melindun#inya bila terjadi ke"elakaan
pe"ahnya bola lampu. Suhu bayi dipantau den#an ketat untuk men"e#ah hipotermia atau
hipertermia. %en#an mempertahankan bayi dalam posisi !leksi den#an #ulun#an selimut
di kedua sisi badan dapat membantu mempertahankan kehan#atan dan memberikan
kenyamanan.
+ototerapi alternati=e untuk men##antikan !ototerapi tradisional bililights
adalah +a&"l atau "li#!t *i$",o+ti' >Walaby,-iliblankett?, yan# terdiri atas illuminator
sumber "ahaya, seuntai serat plastik dihubun#kan ke panel yan# akan menyebarkan
ener#y, dan penutup lembut, sekali pakai, tembus "ahaya untuk melindun#i bayi. Selimut
memberi "ahaya terapi se"ara konsisten dan terus menerus kepada bayi dan men"apai
e!ek !otoisomerasi yan# sama den#an !ototerapi kon=esional. Selimut !ibroptik terutama
"o"ok untuk dipakai di rumah. Selimut jinjin#an memun#kinkan interaksi oran# tua$bayi
yan# lebih banyak, selain lebih terkontrol den#an baik karena bayi dapat ditutupi. Bara
ini ju#a tidak perlu men##enakan penutup mata >bila mata tidak terpajan langsung pada
25
sumber cahaya) dan menempatkan "ahaya pada jarak yan# tepat. Akan tetapi, perlu
perhatian khusus untuk menempatkan bantalan plasti" yan# menutup komplet dan
men#hindari pemajanan kulit lembut bayi yan# san#at premature atau lemah terhadap
selimut !iberoptik, karena telah dilaporkan adanya "edera dermal palin# tidak dua kasus
>0ussain dan Sharie!, 1'':D Woo, 1''9 dalam won#, ())9?

Pen"atatan yan# akurat merupakan tan##un# jawab keperawatan dan meliputi >1?
waktu dimulai dan dihentikannya !oto terapi, >(? pelindun# mata yan# benar, >*? tipe
lampu !luoresen >pabriknya?, >6? jumlah lampu, >7? jarak antara permukaan lampu dan
bayi >tidak boleh kuran# dari 67 "m?, >:? pen##unaan !ototerapi bersama den#an
in"ubator atau barsinet terbuka, >8? pen#ukuran !otometer intensitas "ahaya, dan >9?
adanya e!ek sampin#.
Terapi sinar pada ikterus bayi baru lahir yan# di rawat di rumah sakit.
%alam perawatan bayi den#an terapi sinar,yan# perlu diperhatikan seba#ai berikut @
1? %iusahakan ba#ian tubuh bayi yan# terkena sinar dapat seluas mun#kin den#an
membuka pakaian bayi.
(? Kedua mata dan kemaluan harus ditutup den#an penutup yan# dapat memantulkan
"ahaya a#ar tidak membahayakan retina mata dan sel reproduksi bayi.
*? -ayi diletakkan 9 in"i di bawah sinar lampu. 4arak ini dian##ap jarak yan# terbaik
untuk mendapatkan ener#i yan# optimal.
6? Posisi bayi sebaiknya diubah$ubah setiap 19 jam a#ar ba#ian tubuh bayi yan# terkena
"ahaya dapat menyeluruh.
25
7? Suhu bayi diukur se"ara berkala setiap 6$: jam.
:? Kadar bilirubin bayi diukur sekuran#$kuran#nya tiap (6 jam.
8? 0emo#lobin harus diperiksa se"ara berkala terutama pada bayi den#an hemolisis.
P"&g%"&tia& T",a+i i&a,
-ayi "ukup bulan bilirubin L 1( m#Adl
-ayi kuran# bulan bilirubin L 1) m#Adl
-ila timbul e!ek sampin#
.!ek sampin# rin#an yan# harus diwaspadai perawat meliputi !eses en"er kehijauanD
ruam kulit transenD hipertermiaD penin#katan ke"epatan metabolism, seperti
hipokalsemiaD dan priapismus. &ntuk men"e#ah atau meminimalkan e!ek tersebut, suhu
dipantau untuk mendeteksi tanda awal hipotermia dan hipertermia, dan kulit diobser=asi
men#enai adanya dehidrasi dan kekerin#an, yan# dapat menyebabkan ekskoriasi dan
luka. Pelumas minyak atau losion tidak boleh dioleskan ke kulit untuk men#hindari kulit
menjadi "oklat, atau e!ek #oson#. -ayi "ukup bulan yan# mendapat !ototerapi mun#kin
perlu tambahan =olume "airan untuk men#kompensas kehilan#an "airan insensible dan
intestina. Karena !ototerapi menin#katkan ekskresi bilirubin tidak terkonju#asi melalui
usus, !eses "air menunjukkan penin#katan pen#eluaran bilirubin. Serin# de!ekasi
menyebabkan iritasi perianalD sehin##a pentin# dilakukan asuhan kulit yan# teliti
terutama menja#a kulit bersih dan kerin#.
-e#itu !ototerapi dihentikan permanen, terkadan# terjadi penin#katan kadar bilirubin
serum, serin# disebut seba#ai rebound effectD biasanya bersi!at sementara dan
men#hilan# tanpa pemberian terapi la#i. Pentin# untuk memastikan bahwa kadar
bilirubin terkonju#asi tidak menin#katD jika tidak, kulit dapat berwarna seperti perun##u.
Setelah pen#hentian !ototerapi kadar bilirubin akan kembali mein#kat 1$* m#Adl >18$71
molAl? >S"hwartE, ())6?..
Pada dasarnya, pen#endalian bilirubin adalah seperti berikut@
25
a? Stimulasi proses konju#asi bilirubin men##unakan !enobarbital. 5bat ini kerjanya
lambat, sehin##a hanya berman!aat apabila kadar bilirubinnya rendah dan ikterus
yan# terjadi bukan disebabkan oleh proses hemolitik. 5bat ini sudah jaran# dipakai
la#i.
b? 3enambahkan bahan yan# kuran# pada proses metabolisme bilirubin>misalnya
menambahkan #lukosa pada hipo#likemi? atau >menambahkan albumin untuk
memperbaiki transportasi bilirubin?. Penambahan albumin bisa dilakukan tanpa
hipoalbuminemia. Penambahan albumin ju#a dapat mempermudah proses ekstraksi
bilirubin jarin#an ke dalam plasma. 0al ini menyebabkan kadar bilirubin plasma
menin#kat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin tersebut ada dalam ikatan den#an
albumin. Albumin diberikan den#an dosis tidak melebihi 1#Ak#--, sebelum maupun
sesudah terapi tukar.
"? 3en#uran#i peredaran enterohepatik den#an pemberian makanan oral dini
d? 3emberi terapi sinar hin##a bilirubin diubah menjadi isomer !oto yan# tidak toksik
dan mudah dikeluarkan dari tubuh karena mudah larut dalam air.
e?3en#eluarkan bilirubin se"ara mekanik melalui trans!usi tukar>3ansjoer et al, ())8?. !?
3en#hambat produksi bilirubin. 3etalloprotopor!irin merupakan kompetitor inhibiti!
terhadap heme oksi#enase. Ini masih dalam penelitian dan belum di#unakan se"ara
rutin.
#? 3en#hambat hemolisis. Immuno#lobulin dosis tin##i se"ara intra=ena>7))$
1)))m#AK# IC(? sampai ( hin##a 6 jam telah di#unakan untuk men#uran#i le=el
bilirubin pada janin den#an penyakit hemolitik isoimun. 3ekanismenya belum
diketahui tetapi se"ara teori immuno#lobulin menempati sel +" reseptor pada sel
retikuloendotel den#an demikian dapat men"e#ah lisisnya sel darah merah yan#
dilapisi oleh antibody>Bloherty et al, ())9?.
Trans!use darah tukar dilakukan apabila !ototerapi tidak dapat mene#endalikan
kadar bilirubin. Pada uji "oba klinis, pen##unaan aran# dan a#ar, a#en yan# men#an##u
sirkulasi enterohepatik, terbukti "ukup berman!aat. -eberapa pesain# heme, meliputi
mesopor!irin timah, protopro!irin timah, por!irin sen#, dan protopor!irin kobalt, telah
di#unakan dan menunjukkan keberhasilan >S"hwartE, ())6?.
25
Trans!usi tukar akan dilakukan oleh dokter pada neonates den#an kadar bilirubin
indirek sama den#an atau lebih tin##i dari () m#; atau se"ara lebih awal sebelum
bilirubin men"apai kadar () m#;. pada neonates den#an kadar bilirubin tali pusat lebih
dari 6 m#; dan kadar hemo#lobin 1 tali pusat kuran# dari 1) m#;, penin#katan kadar
bilirubin 1 m#; tiap jam. %arah yan# di#unakan seba#ai darah pen##anti >darah donor?
ditetapkan berdasarkan penyebab hiperbilirubinemia. %arah yan# di#unakan usianya
harus kuran# dari 8( jam. %arah yan# akan dimasukkan dihan#atkan dulu, dua jam
sebelum trans!use tukar bayi dipuasakan, bila perlu dipasan# pipa naso#astrik, lalu bayi
dibawa ke ruan# asepti" untuk menjalani prosedur trans!use tukar.
Saat trans!usi tukar, darah donor dihan#atkan sesuai suhu temperature ruan#.
Pemanasan darah dapat merusak eritrosit yan# akan men#hemolisis dan men#hasilkan
bilirubin. Pemanasan tidak boleh dilakukan se"ara lan#sun# dan tidak boleh
men##unakan microware. %arah dihan#atkan den#an koil pen#han#at yan# diran"an#
untuk tujuan tersebut.
0al yan# harus diperhatikan selama trans!use tukar
1. /eonatus harus dipasan# alat monitor kardio$respirasi
(. tekanan darah neonates harus terus dipantau
*. neonates dipuasakan bila perlu dipasan# sedan# naso#astrik
6. neonates dipasan# in!use
7. suhu tubuh dipantau dan dija#a dalam batas normal
:. disediakan peralatan resusitasi
25
Pada umunya, trans!usi tukar dilakukan den#an indikasi seba#ai berikut@
1? Pada semua keadaan den#an kadar bilirubin indirek M()m#;
(? Kenaikan kadar bilirubin indirek yan# "epat yaitu ),*$1m#;Ajam
*? Anemia yan# berat pada neonatus den#an #ejala #a#al jantun#
6? -ayi den#an kadar hemoglobin tali pusat L16m#; dan uji Coombs direct
positi!>0assan et al, ())7?.
Penatalakasanaan !armakolo#is hiperbilirubinemia den#an !enobarbital dipusatkan
terutama pada bayi den#an penyakit hemolitik dan palin# e!ekti! bila diberikan kepada
ibu beberapa hari sebelum persalinan. +enobarbital membantu >1? sintesis #lukuronil
trans!erase dalam hati, yan# akan menin#katkan konju#asi bilirubin dan klirens hati
pi#men dalam empedu, dan >(? sintesis protein, yan# dapat menin#katkan albumin untuk
menambah tempat ikatan bilirubin. Produksi bilirubin pada bayi baru lahir dapat
dikuran#i den#an men#hambat oksi#en heme$suatau enEim yan# diperlukan untuk
meme"ah heme >menjadi bili=erdin? den#an metaloprofirin, terutama tin$protopro!irin
dan tin$mesopor!irin. Pen##unaan pen#hambat heme$oksi#enase memberikan pendekatan
pre=enti! terjadinya hiperbilirubinemia >3artineE dkk dalam Won#, ())9?
Kewaspadaan Keperawatan @
-ukti jaundis yan# tampak sebelum bayi berumur (6 jam merupakan indikasi untuk
melakukan pen#kajian kadar bilirubin.
Saat pen#ambilan darah !ototerapi harus di matikan, dan sampel darah dikirim dalam
tabun# tertutup untuk men#hindari kesalahan pemba"aan akibat kerusakan bilirubin
dalam tabun# uji.
25
Fotot",a+i (a& I&t",a'i O,a&g t!a1$a2i
Pen##unaan tradisional !ototerapi telah memun"ulkan keprihatinan men#enai berba#ai
masalah psiko$perilaku, termasuk pemisahan oran# tua$bayi, potensial isolasi so"ial,
penurunan ran#san#sensorineural, perubahan irama biolo#is, perubahan pola makan, dan
perubahan akti=itas. Ke"emasan oran# tua san#at tin##i, terutama saat menyaksikan bayi
baru lahir ditutupi matanya dan berada di bawah "ahayakhusus. Terputusnya pemberian
ASI karena !ototerapi merupakan potensial pen#an##u keterkaitan dan interaksi
maternal$bayi. Karena riset telah menunjukkan bahwa katabolisme bilirubin terjadi
terutama dalam beberapa jam pertama saat dimulai !ototerapi, maka semakin banyak
dukun#an untuk men#hentikan !ototerapi ketika saat akan disusui atau di#endon#.
+ototerapi intermiten mun#kin sama e!ekti!nya den#an terapi terus$menerus bila
dilakukan den#an benar. Keuntun#an men#hentikan !ototerapi untuk penyusuan dan
pen##endon#an lebih berhar#a dari keprihatinan men#enai klirens bilirubin >-la"kburn
dan 1oper dalam Won#, ())9?. +ototerapi di rumah memberikan kesempatan tambahan
untuk memperkuat keterikatan oran# tua$bayi.
3.2.5 Komplikasi
1. .nse!alo!ati bilirubin
Terjadi akibat e!ek sitotoksik bilirubin tak terkonju#asi pada neuron >terutama
#an#lia basalis, korteks hipokampus, dan nu"leus subtalamus?. Pada penyakit berat,
mula$mula #ejala berupa letar#i dan hipotonia kemudian berlanjut menjadi kekakuan
>ri#iditas?, timbul opistotonus, tan#isan bernada tin##i, demam, dan jkejan# serta
berakhir den#an kematian pada 7); kasus. -ayi yan# bertahan hidup men#alami #ejala
sisa berupaserebral palsi koreoatetoid, de!i"it penden#aran, paralisis #erakan melirik
kearah bawah dan kadan#$kadan# terjadi retardasi mental. Kondisi yan# menin#katkan
risiko ense!alo!ati bilirubin adalah prematuritas, hipoksia, sepsis, asidosis, hipo#likemia,
hemolisis yan# "epat, obat$obatan yan# kompetiti! berikatan den#an reseptor bilirubin
dan keadaaan rendah albumin
(. Kern ikterus
25
Ialah suatu keadaan dimana terjadi penimbunan bilirubin di dalam otak, sehin##a terjadi
kerusakan otak. -iasanya terjadi pada bayi yan# san#at prematur atau bayi yan# sakit
berat. 2ejalanya berupa@ ,asa men#antuk, tidak kuat men#hisap, muntah, mata berputar$
putar ke atas, kejan#, bisa diikuti den#an kematian. Kernikterus terjadi pada
hiperbilirubinemia indirek yan# san#at tin##i, "edera sawar otak akibat adanya molekul
yan# berkompetensi den#an bilirubin untuk men#ikat albumin. Pada bayi "ukup bulan
tanpa hemolisis, kernikterus jaran# dijumpai pada kadar hemo#lobin kuran# dari
(7m#Adl. Semakin rendah berat lahir bayi, semakin rendah kadar toksik
*. Berebral palsi
Berebral palsi terjadi disebabkan mal!un#si pusat motorik dan saluran$salurannya di otak.
Anak$anak se"ara mental men#alami ke"a"adan , paralysis, lemah, inkoordinasi dan
ataksia. Kemajuan perkemban#an lambat dalam se#ala aspek. -eberapa anak menin##al
den#an "epat dikarenakan in!eksi dan yan# lainnya hidup lebih lama, akan tetapi kemjuan
dan kehidupannya ter#antun# pada beratnya "erebral palsi atau Fspasti"G.
3.2.5 Asuhan keperawatan
3.2.5.1 Pengkajian
%ata 5bjekti! %ata subyekti!
anus H
lahir den#an badan yan# kunin#
bilirubin total C (6m#;
ibu terlihat "emas
-ayi lahir den#an persalinan
seksiosesaria
AP2A, S"ore bayi 8A9 >normal?
-- bayi (,7 K# >normal?
P- bayi 7) "m >normal?
Tidak ada "a"at bawaan
%ilakukan !isioterapi
ibu men#atakan bayi malas menyusui
ibu men#atakan payudaranya ben#kak
dan sakit
ibu men#atakan re!lek hisap bayi
lemah
ibu men#atakan bin#un# kenapa mata
anaknya ditutup dan bertanya sampai
kapan anaknya dilakukan !oto terapi
25
3.2.5.2 Diagnosa untuk Bayi
Diag&oa 1
%ia#nosa @ ketidake!ekti!an Pemberian ASI b.d ,e!leks men#hisap bayi buruk >))1)6?
%e!inisi @ Keadaan ibu, bayi yan# men#alami ketidakpuasaan atau kesulitan pada proses
menyusui
Tujuan @ Pemberian ASI menjadi e!ekti!
%S @ ,e!leks hisap bayi lemah dan payudara ibu ben#kak dan sakit
%5 @ Saat lahir bayi terlihat kunin# dan -ilirubin total C(6 m#;
/5B /IB
-reast!eedin# .stablishment @ In!ant
Ibu dan bayi akan men#alami
pemberian ASI yan# e!ekti!
-ayi akan menunjukkan kemantapan
menyusu ditandai den#an @
* 3en"en#kram dan men#ompresi
areola den#an tepat
* men#isap dan menempatkan lidah
bayi den#an benar,
* menelan dapat diden#ar
Tidak men#alami nyeri tekan pada
payudara
Penambahan berat badan sesuai usia
Konselin# laktasi den#an @
* Kaji kemampuan bayi untuk
menempel dan men#hisap se"ara
e!ekti!
* .=aluasi pola men#hisap dan
menelan bayi
* Tentukan kein#inan dan moti=asi ibu
untuk menyusui
* Pantau keterampilan ibu dalam
menempelkan bayi pada puttin#
* Pantau inte#ritas putin#
* .=aluasi pemahaman tentan#
pen#hambatan kelenjar susu
Instruksikan tentan# teknik
pemompaan payudara
Diag&oa 2
%ia#nosa @ kekuran#an =olume "airan b.d asupan "airan yan# tidak adekuat akibat re!leks
men#isap pada bayi tidak adekuat
%e!inisi @ keadaan indi=idu yan# men#alami penurunan "airan intra=askular, interstisial danA
intrasel
Tujuan @ kekuran#an =olume "airan teratasi
%S @ Klien men#atakan re!leks men#hisap bayi lemah
%5 @ bilirubin tin##i dan bayi terlihat kunin#
/5B /IB
Kekuran#an =olume "airan teratasi
0emo#lobin >0b? dan hematokrit
dalam batas normal untuk pasien
Terapi intra=ena
Pen#elolaan "airan
Identi!ikasi !aktor$!aktor yan#
25
Klien menampilkan hidrasi yan# baik
>membran mukosa lembab dam
mampu berkerin#at?
berkontrinbusi terhadap bertambah
buruknya dehidrasi >misalnya, obat$
obatan, demam, stres, dan pro#ram
pen#obatan?
-erikan "airan sesuai den#an
kebutuhan
Diag&oa 3
%ia#nosa @ Kerusakan inte#ritas kulit, resiko kulit kerin# b.d pen#obatan akibat terpajan
!ototerapi >)))6:?
%e!inisi @ Suatu kondisi seoran# indi=idu yan# men#alami perubahan dermis
Tujuan @ Keutuhan kulit dapat dipertahankan
%ata @ n##a ada y# menunjan#
/5B /IB
3empunyai kulit yan# utuh
3enunjukkan rutinitas perawatan kulit
yan# e!ekti!
3enunjukkan pen#endalian resiko
den#an men#enal perubahan pada
status kesehatan >yan# mempen#aruhi
kulit?
3enunjukkan per!usi jarin#an ditandai
den#an @
* Tin#kat sensasi dan warna kulit
normal
* Tidak ada #an##uan suhu ekstremitas
kuat
* 3en#in#esti makanan se"ara adekuat
untuk menin#katkan inte#ritas kulit
Identi!ikasi sumber penekanan dan
!riksi
Pen"e#ahan luka penekanan
Sur=eilans kulit, pantau kulit dari
adanya@
* ,uam dan le"et
* Warna dan suhu
* Kelembaban dan kekerin#an yan#
berlebihan
* Area kemerahan dan rusak
2unakan lapisan pelindun#, seperti
krim
Diag&oa 4
%ia#nosa @ Inte#ritas jarin#an >kornea?, kerusakan b.d !aktor mekanik >tekanan? akibat
pen##unaan penutup mata terus menerus >)))66?
%e!inisi @ Suatu kerusakan pada jarin#an korneal dan inte#umen seseoran#
Tujuan @ Inte#ritas kulit terja#a
%ata @ $
/5B /IB
3enunjukkan inte#ritas jarin#an Identi!ikasi sumber penekanan dan
25
ditandai den#an @
* Keutuhan struktural dan !un#si
!isiolo#is normal dari kulit
* Adanya per!usi jarin#an
!riksi
Pen"e#ahan luka penekanan
Pen"e#ahan komplikasi luka
Sur=eilans kulit, pantau kulit dari
adanya@
* ,uam dan le"et
* Warna dan suhu
* Kelembaban dan kekerin#an yan#
berlebihan
* Area kemerahan dan rusak
2unakan lapisan pelindun#, seperti
krim
3.2.5.3 Diagnosa untuk Ibu
%ia#nosa @ Ansietas >))16:?
%e!inisi @ perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yan# samar disertai respons autonomD
perasaan takut yan# disebabkan oleh antipasti terhadap bahaya.
Tujuan @ setelah di berikan asuhan keperawatan ibu dapat men#uran#i ke"emasannya
%ata @
ibu terlihat "emas
ibu men#atakan bin#un# kenapa mata anaknya ditutup dan bertanya sampai kapan
anaknya dilakukan !oto terapi
/5B /IB
AnIiety 1e=el @
ke#elisahan berkuran#
kete#an#an berkuran#
AnIiety ,edu"tion @
use a "alm, reassurin# approa"h
4elaskan semua prosedur yan# akan
dilakukan
kaji tanda =erbal dan non=erbal
ke"emasan ibu
%ia#nosa @ 2an##uan ,asa /yaman >))(16?
%e!inisi @ merasa kuran# senan#, le#a dan sempurna dalam dimensi !isik, psikospiritual,
lin#kun#an, sosial.
Tujuan @ setelah dilakukan asuhan keperawatan rasa tidak nyaman pada payudara ibu berkuran#
%ata @ payudaya terasa sakit
25
/5B /IB
Bom!ort Status @ Physi"al @
symptom "ontrol
"om!ortable position
se=erly @ 1
substantially @ (
moderately @ *
mildly @ 6
not "ompromised @ 7
Positionin# @
posisikan tubuh senyaman mun#kin
immobiliEer ba#ian tubuh yan# nyeri