Anda di halaman 1dari 9

Nama : Tifani Titah Dwi Tyastari

Kelas/NIM : PPAk UB 23 / 2013230895


Mata Kuliah : Pasar Modal dan Manajemen Keuangan

PENGANGGARAN MODAL

Prinsip Penilaian Aset Secara Umum

Penganggaran modal adalah proses perencanaan pengeluaran modal untuk
memperoleh asset yang aliran kasnya diperkirakan di atas satu tahun (Brigham and Houston;
2003 ; Rosyd 2009). Penganggaran modal mencakup keseluruhan proses penganalisisan
proyek-proyek dan penetapan proyek mana yang akan dimasukkan ke dalam penganggaran
modal. Ada dua jenis proyek dalam penganggaran modal, yaitu: proyek independen dan
proyek saling ekslusif (Hansen dan Mowen, 2005). Proyek independen adalah proyek yang
jika diterima atau ditolak, tidak akan mempengaruhi arus kas proyek lainnya sedangkan
proyek saling ekslusif adalah proyek-proyek yang apabila diterima, akan menghalangi
penerimaan proyek lainnya. Misalkan, keputusan untuk mengotomatisasi proses produksi
menggantikan sistem manual yang selama ini dipakai. Keputusan ini akan menghilangkan
sistem produksi manual yang selama ini dipakai karena hanya salah satu sistem yang akan
dipakai. Proses penganalisaan dan penetapan proyek dalam penganggaran modal akan
melibatkan tiga faktor utama yang saling terkait yaitu manfaat, waktu, dan resiko. Faktor
manfaat terkait dengan aliran kas masuk bagi perusahaan di masa depan. Faktor waktu terkait
dengan jeda waktu antara investasi di awal periode dengan realisasi kas masuk. Sedangkan
faktor resiko terkait dengan tingkat resiko yang dihadapi sehubungan dengan realisasi dari
kas masuk di masa depan (Belkaoui, 1993; Rosyd 2009).
Berbagai macam faktor yang harus diperkirakan dengan tepat dalam membuat
penganggaran modal merupakan fungsi terpenting yang harus dijalankan oleh manajer
keuangan dan para stafnya (Brigham and Houston; 2003, Ryan and Ryan; 2002, Hansen dan
Mowen, 2005). Hal ini karena hasil dari keputusan penganggaran modal yang telah
ditetapkan oleh manajer keuangan akan berdampak kepada perusahaan selama beberapa
tahun dan menghilangkan fleksibilitas yang dimiliki oleh perusahaan. Jika perusahaan
berinvestasi berlebihan maka akan menimbulkan tingginya biaya depresiasi dan biaya-biaya
lain. Di sisi yang lain, jika investasi perusahaan terlalu kecil dari yang dibutuhkan, dua
permasalahan akan muncul. Pertama, peralatan dan software komputer yang dimilikinya
tidak cukup modern sehingga menyebabkan perusahaan tidak mampu berproduksi secara
kompetitif. Kedua, jika kapasitas yang dimiliki oleh perusahaan tidak mencukupi, perusahaan
akan kehilangan pangsa pasarnya dan harus merelakannya direbut oleh pesaing. Untuk
merebut kembali pelanggan dari tangan pesaing dibutuhkan biaya penjualan yang besar,
pemotongan harga jual, dan perbaikan produk dimana kesemua itu sangat besar biayanya
(Brigham and Houston; 2003).
Setiap keputusan yang diambil untuk suatu investasi, ada risiko yang harus dihadapi
oleh manajemen perusahaan. Risiko tersebut tidak mudah untuk diperkirakan akan terjadi
atau akan mungkin dihadapi di masa yang akan datang. Semakin besar ketidakpastian di
dalam suatu proyek maka akan semakin besar pula risiko yang akan dihadapi. Risiko yang
mungkin dihadapi manajemen di dalam pelaksanaan suatu proyek investasi adalah tingkat
suku bunga, nilai tukar, inflasi, situasi keamanan dan politik dimana proyek tersebut
dilaksanakan. Risiko terbagi atas 3 (tiga) yaitu (1) risiko yang berdiri sendiri (stand-alone
risk) yaitu risiko proyek karena tidak membagi risiko yang ada ke dalam beberapa aset atau
saham, risiko ini diukur melalui expected return dari proyek tersebut (2) risiko perusahaan
(corporate/within firm risk) yaitu risiko yang terbagi atas beberapa aset dalam satu portofolio,
diukur melalui dampak proyek pada ketidakpastian mengenai laba perusahaan di masa
mendatang (3) risiko pasar (market/beta risk) yaitu tingkat risiko proyek yang terdiversifkasi
dengan baik, proyek hanyalah salah satu dari aktiva-aktiva yang ada, diukur melalui pengaruh
proyek pada koefisien beta perusahaan (Houston, 2006).
Di dalam melakuan analisa capital budgeting diperlukan estimasi arus kas. Dimulai
dari investasi awal hingga proyek itu berjalan. Pada tahap awal kas perusahaan masih negatif
karena perusahaan hanya mengeluarkan dana untuk pelaksanaan proyek tersebut, setelah
proyek tersebut selesai dan arus kas akan menjadi positif akibatnya adanya penghasilan yang
dihasilkan dari investasi tersebut.

Masalah Dalam Menghitung Aliran Kas
Perusahaan mengharapkan akan menghasilkan arus kas yang lebih besar daripada
sebelum melakukan suatu investasi. Di dalam capital budgeting ini disebut sebagai arus kas
tambahan (incremental cash flow). Incremental cash flow ini yang digunakan untuk
menghitung atau menganalisa kelayakan suatu proyek dengan metode net present value.
Empat (4) hal yang harus diperhatikan di dalam menentukan arus kas tambahan yaitu (Ross,
2008):
1. Sunk Cost Pengeluaran yang telah terjadi di masa lalu, yang tidak terpengaruh oleh
keputusan menerima atau menolak suatu proyek.
2. Opportunity Cost Biaya yang timbul karena perusahaan kehilangan kesempatan menerima
suatu pendapatan karena aset perusahaan digunakan pada proyek yang lain.
3. Side Effect Dapat diklasifikan sebagai erosion atau synergy. Erosion terjadi ketika
produk baru menurukan cash flow sedangkan synergy terjadi sebaliknya
4. Allocated Cost Dilihat sebagai pengeluaran kas jika terjadi kenaikan cost pada proyek.
Arus kas dalam suatu proyek terdiri atas beberapa komponen yaitu:
a) Initial investment (Investasi awal) : Semua pengeluaran yang digunakan untuk
membiayai proyek tersebut.
b) Free Cash Flow Arus kas bersih yang dapat dihasilkan selama proyek tersebut
berlangsung. Yang diperhitungkan disini adalah selisih arus kas masuk dan keluar
(pendapatan dan biaya) setelah dikurangi pajak dan tidak memperhitungkan bunga dan
depresiasi.
c) Terminal Value Arus kas yang dihasilkan jika pada akhir periode, investasi tersebut dijual.
Nilai ini adalah nilai bersih dari penjualan tersebut

Net Present Value (NPV)
Metode NPV didasarkan pada metode discounted cash flow (DCF). Metode ini
adalah nilai sekarang dari setiap arus kas termasuk arus kas masuk dan arus kas keluar, yang
didiskontokan pada biaya modal (discount rate) proyek, dengan formulasi sebagai berikut
(Houston, 2006): NPV-CF
Kriteria suatu proyek investasi dapat diterima jika NPV lebih dari 0 (NPV > 0) dan
suatu proyek akan ditolak jika NPV lebih kecil dari 0 (NPV < 0) (Ross, 2008). Ada 3 (tiga)
sifat mendasar dari Net Present Value adalah (1) menggunakan arus kas, arus kas ini dapat
digunakan untuk keperluan lain seperti pembayaran dividen, capital budgeting proyek yang
lain atau untuk membayar bunga pinjaman, (2) menggunakan semua arus kas dari proyek,
pendekatan yang lain mengabaikan arus kas diantara waktu tertentu, (3) mendiskontokan arus
kas dengan pantas, pendekatan yang lain mengabaikan nilai waktu uang (time value of
money) dari uang. (Ross, 2008). Keuntungan dengan menggunakan metode NPV adalah
memperhitungkan nilai waktu uang (time value of money), mempertimbangkan semua arus
kas yang diharapkan pada potensi investasi tanpa memperhatikan waktu dari arus kas tersebut
dan model ini memungkinkan perbandingan yang dibuat antara proyek dengan pola arus kas
yang berbeda dengan menggunakan tingkat diskonto yang sama yang ditetapkan sebelumnya
(Klammer, 2000). Kelemahan dari metode ini adalah model memberikan sebuah kesalahan
kecermatan, perhitungan present value didasarkan pada estimasi dari ketidakpastian arus kas
masa akan datang, keakuratan perhitungan keuangan mungkin berakibat pada kualitas dan
faktor waktu tanpa menerima pertimbangan yang cukup dan asumsi pemilihan discount rate
adalah sulit untuk sebagian individu (Klammer, 2000).
Metode NPV menggunakan teknik Discounted Cash Flow (DCF) untuk
memperhitungkan nilai waktu uang dari semua arus kas proyek Persamaan NPV dapat
dinyatakan sebagai berikut :

Internal Rate Of Return (IRR)
IRR digunakan dalam menentukan apakah investasi dilaksanakan atau tidak, untuk itu
biasanya digunakan acuan bahwa investasi yang dilakukan harus lebih tinggi dari Minimum
acceptable rate of return atau Minimum atractive rate of return. Minimum acceptable rate of
return adalah laju pengembalian minimum dari suatu investasi yang berani dilakukan oleh
seorang investor.

Cara perhitungan IRR
IRR merupakan suku bunga yang akan menyamakan jumlah nilai sekarang dari penerimaan
yang diharapkan diterima (present value of future proeed) dengan jumlah nilai sekarang dari
pengeluaran untuk investasi. Besarnya nilai sekarang dihitung dengan menggunakan
pendekatan sebagai berikut:

Perhitungan IRR praktis
Untuk mempermudah perhitungan IRR, yaitu dengan mencoba suku bunga yang diperkirakan
akan memberikan nilai NPV positif misalnya 10 % yang akan memberikan NPV sebesar 382
dan dilanjutkan dengan perhitungan NPV yang negatif, Misalnya pada 20 % akan
memberikan NPV sebesar -429.

NPV dan IRR sudah terkenal sebagai dua metode untuk menilai usul investasi. Yang sedikit
belum terkenal keduanya sama-sama termasuk kelompok discounted cash flow penganut nilai
waktu dan proceeds selama total usia proyek. Berdasarkan kesamaan demikian, NPV IRR
akan memberikan keputusan yang sama dalam menilai usul investasi. Andaikan berbasis
NPV usul investasi layak diterima maka demikian pula IRR. Dalam paragrap pertama
dikemukakan NPV, IRR akan memberikan keputusan yang sama. Tetapi sebenarnya telah
terbukti terkandung sebuah pengecualian. Pengecualian yang dimaksudkan tidak lain jika
berkaitan dengan menilai salah satu dari dua atau lebih usul investasi bersifat mutually
exclusive. Untuk kondisi seperti begitu NPV, IRR dapat bertolak belakang memberikan
jawaban secara khusus sering terjadi pada susunan peringkat usul investasi. Hal tersebut,
dikarenakan perbedaan asumsi yang melekat terkait tingkat reinvestasi dana bebas. IRR
berasumsi dana bebas diinvestasikan kembali dengan tingkat rate of returnnya selama periode
sisa usia. Sebaliknya NPV berpegang konsisten besarnya tingkat reinvestasi adalah tetap
sebesar tingkat diskonto yang ditetapkan sebelumnya. NPV pada umumnya dipandang
unggul ketimbang IRR. Mengapa demikian? NPV konsisten, NPV mempertimbangkan
perbedaan skala investasi dari pernyataan secara absolut dalam rupiah tidak seperti IRR yang
memiliki pernyataan berbentuk persentase sehingga skala investasi terabaikan.

Definisi Payback Period
Periode Payback menunjukkan berapa lama (dalam beberapa tahun) suatu investasi akan
bisa kembali. Periode Payback menunjukkan perbandingan antara initial investment
dengan aliran kas tahunan. Apabila periode payback kurang dari suatu periode yang telah
ditentukan proyek tersebut diterima, apabila tidak proyek tersebut ditolak.
Jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan
penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut juga untuk mengukur kecepatan
kembalinya dana investasi.

Kebaikan dan Kelemahan Payback Method
Kebaikan Payback Method
1) Digunakan untuk mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi
dengan resiko yang besar dan sulit.
2) Dapat digunakan untuk menilai dua proyek investasi yang mempunyai rate of return dan
resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya
cepat.
3) Cukup sederhana untuk memilih usul-usul investasi.

Kelemahan Payback Method
1) Tidak memperhatikan nilai waktu dari uang.
2) Tidak memperhitungkan nilai sisa dari investasi.
3) Tidak memperhatikan arus kas setelah periode pengembalian tercapai.


Profitability Indeks
Metode ini menghitung perbandingan antara nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas
bersih di masa datang dengan nilai sekarang investasi.

Persyaratannya:
Jika PI < 1 maka usulan investasi tersebut tidak layak
Jika PI > 1 maka usulan investasi tersebut layak.

Kelebihannya:
Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungan
Memperhatikan nilai waktu dari uang
Konsisten dengan tujuan perusahaan, yaitu memaksimalkan kekayaan pemegang saham.

Kelemahannya:
Dapat memberikan panduan dan pilihan yang salah pada proyekproyek yang mutually
exsclusive yang memiliki unsur ekonomis dan skala investasi yang berbeda.

Mutually Exclusive Project
Mutually exclusive Project adalah proyek proyek yang mempunyai fungsi yang sama.
Diterimanya salah-satu proyek atau kelompok proyek yang mutually exclusive akan
menghilangkan kesempatan kelompok mutually exclusive yang lain. Jumlah dana yang
dimiliki oleh perusahaan untuk melakukan capital expenditure akan sangat mempengaruhi
keputusan keputusan yang akan diambil sehubungan dengan proyek proyek mana yang
diterima tau ditolak. Jika perusahaan mempunyai dana yang tidak terbatas jumlahnya maka
pengambilan keputusan dalam melakukan capital budgeting tidaklah sulit tetapi dalam
kenyataannya hampir tidak ada perusahaan yang seperti ini maka dari tu di perlukan capital
rationing. Capital rationing yaitu perusahaan harus mengatur penggunaan dana yang tersedia
sedemikian rupa, mengalokasikannya dalam proyek yang akan memberikan return yang
paling maksimal dalam jangka yang panjang.
Ada dua pendekatan terhadap keputusan capital budgeting. Pendekatan itu dipengaruhi oleh
keadaan keuangan perusahaan (terbatas ataukah tidak terbatas). Disamping itu, kedua
pendekatan tersebut juga dipengaruhi oleh jenis dari proyek yang sedang dipertimbangkan.
Kedua pendekatan tersebut
a. Accept reject approach
Meliputi pengevaluasian proposal capital expenditure untuk menentukan apakah
proposal proposal tersebut dapat diterima atau tidak. Pendekatan ini cukup
sederhana Karena hanya membandingkan kriteria yang dimiliki oleh masing masing
proposal dengan kriteria mnimum yang sudah ditetapkan sebelumnya. Pendekatan ini
akan sangat sesuai untuk perusahaan perusahaan yang mempunyai dana yang tak
terbatas.
b. Ranking approach
Pendekatan yang kedua adalah dengan cara merangking proyek proyek berdasarkan
kriteria kriteria yang sudah ditentukan sebelumnya, misalkan dirangking
berdasarkan rate of return atau lainnya.

Nilai Tahunan Ekivalen (EAW)
Disebut juga Arus Kas Tahunan Seragam Ekivalen (UAC) atau Nilai Tahunan Seragam
Ekivalen Jika berkaitan dengan arus kas negatif atau pembayaran Biaya Tahunan Ekivalen
(Equivalent Annual Cost- EAC) Perhatikan bahwa prhitungan ini, EAW/UAC, adalah
ekivalen dengan Nilai Sekarang (PW) melalui persamaan berikut:
EAW (X) = PW (X) (A/P,i,N)

Mengapa menggunakan nilai Tahunan Ekivalen?
untuk memudahkan
karena kebutuhan

Pengukuran Nilai Tahunan Ekivalen
Apakah EAW > 0?
Standar untuk proyek yang diinginkan adalah
EAW >0EAW = 0 pengabaian ekonomi
EAW < 0 usahakan untuk menghindari proyek

Real Option ( Option to Expand, Option to Abandon, dan Timing Option )
Adanya pilihan manajerial mendorong peningkatan nilai proyek investasi. Nilai proyek dapat
dianggap sebagai nilai sekarang bersih, dihitung secara tradisional, ditambah nilai setiap
pilihan.
Nilai proyek = NPV + Nilai Pilihan

Semakin banyak pilihan dan semakin tinggi ketidakpastian yang meliputi penggunaan
proyek, semakin besar nilai proyek. Semakin besar ketidakpastian, semakin besar
kemungkinan pilihan akan dilaksanakannya dan selanjutnya semakin besar nilai pilihan. Jenis
pilihan manajerial tersedia meliputi .

Pilihan Untuk berekspansi
Dalam proyek seperti pendirian pabrik, manajemen seringkali memiliki pilihan untuk
membuat investasi lanjutan. Misal, Gummy Glue Company sedang mempertimbangkan
pembuatan lem baru yang revolusioner. Perusahaan itu dapat membangun pabrik yang
mampu memproduksi 25.000 galon lem/bulan. Namun tingkat produksi tersebut dipandang
dari sisi produksi maupun pemasaran bersifat tidak ekonomis. Akibatnya, nilai sekarang
bersih proyek diperkirakan -$ 3juta. Menurut metode tradisional arus kas diskonto, proyek ini
seharusnya ditolak.

Namun lem baru ini diperkirakan dapat memenangkan persaingan. Jika penjualan meningkat
secara dramatis, perusahaan dapat memperluas pabrik baru, misalnya dalam dua tahun.
Dengan perluasan ini, produksi akan meningkat tiga kali lipat, dan pabrik akan beroperasi
pada skala efisiensi yang tinggi .Akan tetapi, kesempatan untuk memenuhi tingkat
permintaan yang lebih tinggi tidak dapat diperoleh jika investasi tahap pertama tidak
dilakukan. Jika Gummy Glue Company tidak melakukan investasi awal, Perusahaan itu tidak
akan mengalami apa yang disebut ahli-ahli strategi bisnis sebagai keuntungan pelopor.

Pilihan Untuk Berhenti
Pilihan kedua adalah membatalkan proyek yang telah dipilih, Pembatalan ini dapat dilakukan
dengan cara menjual aktiva proyek atau menggunakannya di bagian lain perusahaan. Dalam
cara di atas, nilai pembatalan dapat diperkirakan. Namun demikian, proyek-proyek tertentu
tidak memiliki nilai pasar atau alternatif penggunaan dan oleh karena itu nilai pelepasannya =
0.
Alasan yang digunakan untuk menentukan apakah suatu proyek sebaiknya dibatalkan sama
dengan alasan dilakukan penganggaran modal. Dana harus dipindahkan atau dibatalkan dari
proyek yang dianggap sudah tidak memberikan nilai ekonomis yang mencukupi. Secara
umum, proyek investasi seharusnya dilepaskan pada saat : (1) Nilai pembatalan melebihi nilai
sekarang arus kas berikutnya di masa depan.

Pilihan Untuk Menunda
Pada beberapa proyek investasi, terdapat pilihan untuk menunda, yaitu pelaksanaan proyek
tidak perlu dilakukan saat itu juga. Dengan menunggu, perusahaan dapat memperoleh
infromasi baru tentang pasar, harga, biaya dan hal-hal lain. Namun penundaan menyebabkan
perusahaan kehilangan arus kas yang seharusnya dapat diperoleh lebih cepat serta
keuntungan sebagai pelopor. Pada saat melakukan keputusan yang berkaitan dengan produk
baru, manajemen memiliki pilihan untuk meluncurkan produk saat ini atau di kemudian hari.
Jika produk diluncurkan sekarang, perusahaan akan memperoleh arus kas lebih cepat
daripada jika dilakukan penundaan. Namun jika perusahaan menunda, perusahaan dapat
melakukan peluncuran yang lebih menguntungkan; Seperti halnya pilihan manajerial lainnya,
semakin besar perubahan arus kas yang mungkin, semakin besar nilai pilihan untuk menunda.