Anda di halaman 1dari 12

PLTGU merupakan suatu instalasi peralatan yang berfungsi untuk mengubah energi panas (hasil pembakaran bahan bakar dan udara) menjadi energi listrik yang bermanfaat. Pada dasarnya, sistem PLTGU ini merupakan penggabungan antara PLTG dan PLTU. PLTU memanfaatkan energi panas dan uap dari gas buang hasil pembakaran di PLTG untuk memanaskan air di HRSG (Heat Recovery Steam Generator), sehingga menjadi uap jenuh kering. Uap jenuh kering inilah yang akan digunakan untuk memutar sudu (baling-baling) turbin uap.

PLTGU merupakan suatu instalasi peralatan yang berfungsi untuk mengubah <a href=energi panas (hasil pembakaran bahan bakar dan udara) menjadi energi listrik yang bermanfaat. Pada dasarnya, sistem PLTGU ini merupakan penggabungan antara PLTG dan PLTU . PLTU memanfaatkan energi panas dan uap dari gas buang hasil pembakaran di PLTG untuk memanaskan air di HRSG (Heat Recovery Steam Generator), sehingga menjadi uap jenuh kering. Uap jenuh kering inilah yang akan digunakan untuk memutar sudu (baling-baling) turbin uap . Prinsip pokok dari semua pembangkit listrik bertenaga gas dan uap adalah Brayton Bycle . Apabila kita hanya bicara tentang PLTG maka kita harus berpikir tentang open cycle tetapi apabila ingin mengetahui siklus kerja PLTGU maka kita harus mengetahui tentang combined cycle. Pada open cycle dimulai dari pemompaan bahan bakar dan pemasukan udara dari intake air filter menuju combuster. Di combuster campuran bahan bakar dan udara disemprotkan " id="pdf-obj-0-19" src="pdf-obj-0-19.jpg">

Prinsip pokok dari semua pembangkit listrik bertenaga gas dan uap adalah Brayton Bycle. Apabila kita hanya bicara tentang PLTG maka kita harus berpikir tentang open cycle tetapi apabila ingin mengetahui siklus kerja PLTGU maka kita harus mengetahui tentang combined cycle.

PLTGU merupakan suatu instalasi peralatan yang berfungsi untuk mengubah <a href=energi panas (hasil pembakaran bahan bakar dan udara) menjadi energi listrik yang bermanfaat. Pada dasarnya, sistem PLTGU ini merupakan penggabungan antara PLTG dan PLTU . PLTU memanfaatkan energi panas dan uap dari gas buang hasil pembakaran di PLTG untuk memanaskan air di HRSG (Heat Recovery Steam Generator), sehingga menjadi uap jenuh kering. Uap jenuh kering inilah yang akan digunakan untuk memutar sudu (baling-baling) turbin uap . Prinsip pokok dari semua pembangkit listrik bertenaga gas dan uap adalah Brayton Bycle . Apabila kita hanya bicara tentang PLTG maka kita harus berpikir tentang open cycle tetapi apabila ingin mengetahui siklus kerja PLTGU maka kita harus mengetahui tentang combined cycle. Pada open cycle dimulai dari pemompaan bahan bakar dan pemasukan udara dari intake air filter menuju combuster. Di combuster campuran bahan bakar dan udara disemprotkan " id="pdf-obj-0-25" src="pdf-obj-0-25.jpg">

Pada open cycle dimulai dari pemompaan bahan bakar dan pemasukan udara dari intake air filter menuju combuster. Di combuster campuran bahan bakar dan udara disemprotkan

oleh nozzle sehingga di ruang bakar terjadi pembakaran. Pembakaran tadi akan memutar turbin gas yang selanjutnya akan memutar generator yang akan menghasilkan energi listrik. Gas buang dari turbin gas akan langsung dibuang melalui bypass stack.

oleh nozzle sehingga di ruang bakar terjadi pembakaran. Pembakaran tadi akan memutar turbin gas yang selanjutnya

Sedangkan untuk PLTGU menggunakan combined cycle dimana gas buang dari turbin gas akan dimanfaatkan kembali untuk mengoperasikan turbin uap. Dibutuhkan HRSG (Heat Recovery Steam Generator) yang prinsip kerjanya sama dengan boiler. Gas buang dari turbin gas tidak langsung dibuang melalui bypass stack akan tetapi masuk ke HRSG. Setelah masuk ke HRSG maka gas tadi akan berubah menjadi uap bertekanan tinggi yang kemudian digunakan untuk memutar High Pressure Steam Turbine (HPST), kemudian HPST memutar Low Pressure Steam Turbine (LPST) yng akhirnya akan membangkitkan generator. Hasil pembuangan LPST akan dikondensasi dan dialirkan ke pompa. Dari pompa kemudian dilairkan kembali ke HRSG. Begitu seterusnya sehingga terbentuk siklus tertutup.

PLTGU merupakan suatu instalasi peralatan yang berfungsi untuk mengubah energi panas (hasil pembakaran bahan bakar dan udara) menjadi energi listrik yang bermanfaat. Pada dasarnya, sistem PLTGU ini merupakan penggabungan antara PLTG dan PLTU. PLTU memanfaatkan energi panas dan uap dari gas buang hasil pembakaran di PLTG untuk memanaskan air di HRSG (Heat Recovery Steam Generator), sehingga menjadi uap jenuh kering. Uap jenuh kering inilah yang akan digunakan untuk memutar sudu (baling-baling) turbin uap.

Abstrak:

Deaerator merupakan salah satu komponen di dalam instalasi suatu Pembangkit Tenaga

Listrik. Fungsi dari peralatan ini adalah untuk mengurangi kandungan oksigen di dalam air sebelum air dimasukkan ke dalam sistem ketel uap serta sebagai tangki penyimpan air untuk mensuplai kebutuhan air ketel. Proses deaerasi dilakukan dengan memanfaatkan sebagian uap sebelum masuk turbin uap untuk dipakai sebagai pemanas air yang masuk ke dalam deaerator. Terdapat dua macam pengontrolan yang digunakan pada deaerator, yaitu pengontrolan ketinggian air serta pengontrolan tekanan.

Dalam penelitian ini telah dibuat model linier sistem deaerator pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Gresik. Model tersebut adalah dalam bentuk state space dengan 4 masukan, 2 keluaran serta 5 variabel keadaan. Dari model yang telah diperoleh tersebut selanjutnya dilakukan perancangan kontroler dengan menerapkan metoda LQG (Linear Quadratic Gaussian). Dengan memilih parameter perancangan yaitu matriks bobot variabel keadaan Q dan matriks bobot variabel kontrol R serta mengasumsikan matriks kovariansi sistem Qd dan matriks kovariansi pengukuran Rd, maka selanjutnya diperoleh gain umpan balik optimal K dan gain Kalman filter Ke.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan memberikan gangguan step pada kondisi normal maka output ketinggian air mencapai kondisi mantap dalam waktu 25 detik, sedangkan tekanan deaerator mencapai kondisi mantap dalam waktu 20 detik. Dengan memberikan gangguan acak (random) pada variabel input gangguan sebesar 0,05 m3 / det, maka filter meredam gangguan sebesar 0,025 m (2,5 cm) untuk ketinggian air dan 0,9 KPa untuk tekanan deaerator.

Listrik. Fungsi dari peralatan ini adalah untuk mengurangi kandungan oksigen di dalam air sebelum air dimasukkan

Gas dan Uap Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) merupakan kombinasi antara PLTG dan PLTU. Gas buang PLTG bersuhu tinggi akan dimanfaatkan kembali sebagai pemanas uap di ketel penghasil uap bertekanan tinggi. Ketel uap PLTU yang memanfaatkan gas buang PLTG dikenal dengan sebutan Heat Recovery Steam Generator (HRSG). Umumnya 1 blok PLTGU terdiri dari 3 unit PLTG, 3 unit HRSG dan 1 unit PLTU. Daya listrik yang dihasilkan unit PLTU sebesar 50% dari daya unit PLTG, karena daya turbin uap unit PLTU tergantung dari banyaknya gas buang unit PLTG. Dalam

pengoperasian PLTGU, daya PLTG yang diatur dan daya PLTU akan mengikuti saja. PLTGU merupakan pembangkit yang paling efisien dalam penggunaan bahan bakarnya.Secara umum HRSG tersebut adalah pengganti boiler pada PLTU, yang bekerja untuk menghasilkan uap. Setelah uap dalam ketel cukup banyak, uap tersebut akan dialirkan ke turbin uap dan memutar generator untuk menghasilkan daya listrik. Dan efisiensi PLTGU lebih baik dari pusat listrik termal lainnya mengingat listrik yang dihasilkan merupakan penjumlahan yang dihasilkan PLTG ditambah PLTU tanpa bahan bakar.

Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi krisis dalam penyediaan daya listrik di hampir semua wilayah termasuk di P. Jawa Bali yang merupakan pusat bisnis di Indonesia. Saat ini permintaan tenaga listrik masih terkonsentrasi di wilayah Jawa-Bali yang menyerap sekitar 77% kebutuhan listrik.

Dengan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir sekitar 5-6%, maka terjadi peningkatan permintaan listrik yang berkisar 7-8% per tahun. Padahal, produksi listrik hanya tumbuh sekitar 3% per tahun. Pembangunan pembangkit baru pun sejak 2006 belum menambah kapasitas listrik yang cukup berarti. Hal ini mengakibatkan terjadinya krisis pasokan listrik, yang dalam jangka panjang akan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Permintaan ini diperkirakan akan meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan peralihan penggunaan listrik non-PLN ke listrik PLN, karena kenaikan harga BBM sejak 2005.

Kerbatasan pasok listrik juga disebabkan umur pembangkit yang sudah tua sehingga tidak efisien, serta pasokan bahan bakar yang sering tersendat. Kondisi ini diperparah dengan adanya gangguan dari beberapa pembangkit listrik yang besar. Sepanjang 2007 terjadi penurunan produksi listrik dari beberapa pembangkit yaitu PLTU Tanjung Jati B akibat suplai batubara terganggu karena pengangkutannya mengalami gangguan cuaca.

Demikian juga gangguan terjadi pada PLTU Suralaya karena gangguan Trafo Unit 5, PLTGU Cilegon mengalami gangguan akibat pasokan gas yang berkurang, PLTU Gresik akibat adanya pengalihan suplai gas ke PLN dialihkan ke industri. Selain itu juga terjadi penurunan pasokan dari listrik swasta (Independent Power Producer) akibat gangguan teknis yaitu dari PLTU Cilacap, PLTGU Cikarang, PLTP Drajat III, PLTP Dieng dan PLTA Jatiluhur.

Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak kendala yang menyebabkan proyek-proyek pembangkit terutama pembangkit berbahan bakar gas

tertunda, karena ketidak pastian pasokan gas. Akibatnya pembangkit- pembangkit BBM yang sudah dikonversi ke gas, terpaksa terus beroperasi menggunakan BBM yang harganya semakin mahal. Untuk menekan biaya produksi PLN akibat tingginya harga minyak dunia, maka pemerintah melakukan program diversifikasi pembangkit- pembangkit BBM ke non BBM.

Sejak dua tahun lalu untuk mengatasi krisis listrik tersebut, pemerintah mendorong percepatan crash program pembangunan pembangkit berbahan bakar batubara 10.000 MW. Tahap I sedang berjalan dan direncanakn akan selesai secara bertahap mulai 2009 hingga 2011. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia masih membutuhkan energi listrik 35.000 MW hingga 2015. Untuk mengantisipasi krisis listrik, PLN mendorong investasi pembangkit lsitrik terbarukan dan mendorong perusahaan listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) untuk segera merealisasikan proyek- proyek listriknya.

Menyusul seriusnya krisis listrik yang semakin diperparah dengan melonjaknya harga minyak dunia yang membebani pembangkit listrik. Pemerintah merasa perlu mengeluarkan kebijakan pengaturan penggunaan listrik, termasuk mengatur jam operasional industri, pembatasan jam siaran televisi, serta himbauan penghematan listrik di kantor-kantor pemerintah mulai awal Juli 2008. Keterbatasan pasokan listrik, dapat diatasi diantaranya dengan beban puncak harus ditekan dengan penghematan.

Pengelolaan sistem tenaga listrik di Indonesia

Sesuai dengan UU no 15/1985 mengenai Ketenagalistrikan, sistem kelistrikan di Indonesia ditangani olh PLN sebagai BUMN listrik. Sistem kelistrikan dibagi menjadi beberapa wilayah yang terinterkoneksi yaitu Sistem Jawa-Bali, Sumatera Bagian Selatan (Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan sebagian Riau), Sumatera bagian Utara ( Sumatera Utara dan NAD). Selebihnya di Pulau-pulau lain belum ada sistim interkoneksi seperti di Jawa dan Bali.

Sistem Kelistrikan Jawa Bali Sistem Jawa Bali adalam sistem kelistrikan terbesar di Indonesia yang menghubungkan berbagai pembangkit listrik dan pusat-puat beban di seluruh P. Jawa, P. Madura dan P. Bali. Sistem ini terdiri dari pembangkit listrik dengan total kapasitas 22.236 MW yang dihubungkan dengan saluran transmisi tengangan ekstra tinggi 500KV dan tegangan tinggi 150 KV dan 70 KV.

Jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 KV telah

menghubungkan pembangkit diseluruh

wilayah P. Jawa melalui

jaringan transmisi sepanjang pantai utara P, Jawa dan diperkuat dengan jaringan transmisi di daerah Selatan. Sistim interkoneksi Jawa Bali dikelola oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLNP3B) Jawa Bali.

Pembangkit di Jawa seluruhnya kini dibawah pengelolaan anak perusahaan PLN yang dibentuk khusus untuk menangani pembangkit yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkit Jawa Bali (PT PJB)

PT. Indonesia Power mengelola 8 Unit Bisnis Pembangkitan, yaitu Suryalaya (3.400 MW), Priok (1.343,56 MW), Semarang (1.469,26 MW), Perak (561,83 MW), Bali (324,82 MW), Kamojang (360 MW), Mrica (819 MW), dan Saguling (797,36 MW).

Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya menangani 7 unit PLTU dengan bahan bakar batubara sebagai bahan bakar utamanya. Unit 1 s/d 4 masing-masing mempunyai kapasitas 400 MW dan unit 5 s/d 7 masing- masing 600 MW sehingga U.P.Pembangkitan Suralaya menangani PLTU batubara dengan kapasitas total 3400 MW.

PT Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali II atau saat ini bernama PT.

PJB berdiri pada 1995.

PJB memiliki 8 unit pembangkit dengan

kapasitas terpasang 6.526 MW dan aset setara kurang lebih Rp 41,5 trilyun. Didukung 2.203 karyawan, PJB telah berkembang menjadi produsen energi listrik kelas dunia. Kapasitas, mutu, kehandalan dan layanan yang diberikan mampu memenuhi standar internasional. Yaitu Unit Pembangkit Gresik (2259 MW), Muara Karang (1208 MW), Paiton (800 MW), Muara Tawar (920 MW), PLTA Cirata (1008 MW), PLTA Brantas (281 MW)

Sistem tenaga Listrik Sumatera sudah terpadu Dengan diselesaikannnya Pembangunan Transmisi 150 kV antara Rantau Prapat-Kota Pinang-Bagan Batu sepanjang 102 km pada Juli 2007, maka dengan demikian sistem kelistrikan Sumatera bagian Utara (Sumbagut) terhubung dengan Subsistem kelistrikan Sumatera bagian Selatan-Tengah (Sumbagselteng).

Sistem kelistrikan Sumbagselteng akan memasok daya listrik hingga mencapai 70 MW ke sistem kelistrikan Sumbagut. Sumbagselteng ada kelebihan sekitar 100 MW pada siang hari. Terhubungnya interkoneksi Sumbagut dan Sumbagselteng maka jaringan Saluran Tegangan Tinggi (SUTTI) 150 kV mulai dari Bandar Lampung hingga Banda Aceh sepanjang 3000 km kini telah terpadu. Hal ini menunjukkan sistem

kelistrikan Pulau Sumatera menunjukan kondisi kelistrikan PLN di Sumatera mulai membaik.

Pengiriman energi melalui transmisi jaringan 150 kV mulai dari Kota Panjang Riau hingga Kota Pinang Rantau Prapat, sangat panjang mencapai 400 km. Pengiriman daya itu tidak mudah, ada pengaruh terhadap tegangan sehingga ketika sampai ke Sumbagut sekitar 70 MW.

Namun interkoneksi yang telah terpadu di Sumatera belum sepenuhnya menyelesaikan masalah defisit listrik yang terjadi di Sub Sistem Sumbagut. Hal itu dikarenakan pasokan energi dari pembangkit yang tersedia masih lebih kecil dari beban yang harus dipenuhi.

Sistem kelistrikan di Pulau lain Saat ini sistem kelistrikan di pulau Kalimantan yang sudah terkoneksi yaitu Kalteng-Kalsel. Dalam proses yang sedang berjalan mengkoneksikan Kalsel dan Kaltim. Menurut rencana dalam jangka panjang akan ada koneksi Kalbar-Kalteng. Dengan sistem jaringan kelistrikan interkoneksi itu, jika satu daerah mengalami kendala dari unit pembangkit atau masuk dalam fase pemeliharaan pembangkit, maka suplai listrik dari propinsi lain dapat dilakukan.

Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat dikategorikan tertinggal. Saat ini Pontianak sedang membangun jaringan berpola "loop" (melingkar) untuk kota Pontianak. Sehingga jika terjadi kendala dalam salah satu transmisi, maka dapat disuplai melalui lingkar lainnya. Demikian juga untuk wilayah Kalbar lain hingga kedepannya untuk rencana program sistem jaringan kelistrikan interkoneksi di Kalimantan.

Di Kalimantan Timur terdapat beberapa sistem kelistrikan dan yang terbesar sistim Mahakam yang melayani Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong, ibu kota Kutai Kartanegara.

Selain Sistem Mahakam, PLN memiliki jaringan listrik Bontang-Sangatta untuk Kalimantan Timur bagian utara, Sistem Melak dan Kota Bangun untuk kawasan sekitar Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, serta Sistem Petung dan Tanah Grogot untuk melayani pelanggan di Kalimantan Timur bagian selatan. Namun, yang paling besar memang Sistem Mahakam dengan jumlah pelanggan sekitar 330.000 pelanggan dan daya listrik yang digunakan 171,5 MW. PLTGU Tanjung Batu merupakan satu dari enam pembangkit listrik dalam Sistem Mahakam dengan beban pelanggan 180 MW. Lima pembangkit lainnya menggunakan diesel yang berbahan bakar solar.

Kondisi Sistem Pembangkitan

Kapasitas terpasang PLN di sistem Jawa Bali meningkat menjadi

sebesar 22.236 MW pada 2007 dari sebelumnya 19.514 MW pada

  • 2005. Sampai dengan awal 2008 kapasitas terpasang sistem Jawa Bali

sudah menjadi 22.296 MW. Tambahan daya pembangkit baru diantaranya sebesar 200 MW, yang berasal dari PLTU Tarahan di Lampung, PLTP Darajat dan PLTP Kamojang.

Sementara itu pada sistem luar Jawa Bali, dengan adanya penambahan kapasitas di beberapa lokasi seperti Kalimantan menyebabkan kapasitas pembangkit dari 5.573 MW pada 2005 bertambah menjadi 8.284,28 MW pada 2007. Pembangkit yang telah beroperasi 2007 diantaranya pada sistem Kalimantan misalnya PLTU Perusda 50 MW dan PLTG Menamas 20 MW.

Kondisi Sistem Transmisi

Dalam lima tahun terakhir panjang saluran transmisi 70 kV terus berkurang karena adanya upaya uprating menjadi 150 kV guna meningkatkan keandalan dan perbaikan kualitas pelayanan ke konsumen.

Sistem Penyaluran dan Distribusi di Luar Jawa Bali dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dengan selesainya beberapa proyek transmisi. Sedangkan sistem lainnya, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua belum memiliki saluran transmisi.

Pembangunan Gardu Induk meningkat 11,9% per tahun dimana kapasitas terpasang GI pada tahun 2003 sekitar 9.122 MVA meningkat menjadi 12.381 MVA pada tahun 2006.

Realisasi pertumbuhan sektor tenaga listrik

Jumlah Pelanggan

Akibat krisis moneter semenjak tahun 1998, pertumbuhan jumlah pelanggan listrik mulai melambat. Sebelum tahun 1998 jumlah langganan pertahun meningkat lebih dari 10%. Setelah ditimpa krisis moneter, walaupun jumlah pelanggan masih terus meningkat tapi pertumbuhannya hanya sekitar 3-4% per tahun, jauh dibawah periode sebelumnnya.

Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2003 - 2007 mengalami peningkatan dari 32,2 juta pelanggan menjadi 37,7 juta pelanggan atau bertambah rata-rata sebesar 4,0% tiap tahunnya.

Tabel - Perkembangan jumlah pelanggan per kelompok Pelanggan,2003 - 2007

Tahun

Kantor

Rumah Tangga Penerangan

Industri Jumlah PemerinTahan

Bisnis

%

Jln Umum

Sosial

GD.

2003

29,997,554

46,818

1,310,686

659,034

83,810

53,514

32,151,416

---

2004

31,095,970

46,520

1,382,416

686,851

87,187

67,502

33,366,446

3.78

2005

32,174,922

56,475

1,455,797

716,194

89,533

76,432

34,559,353

3.58

2006

33,441,512

58,717

1,513,592

744,626

93,087

79,466

35,931,000

3.97

2007

35,069,525

61,570

1,587,152

780,814

97,611

83,328

37,680,000

4.86

Sumber: Statistik PLN, 2005

Rasio Elektrifikasi

Rasio Elektrifikasi yaitu jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dengan jumlah rumah tangga yang ada, sampai saat ini relatif masih rendah masih rendah.

Namun demikian dari tahun ke tahun terjadi kenaikan yaitu dari 56,4% tahun 2003 menjadi 61,6% tahun 2007. Rasio elektrifikasi di P. Jawa mencapai 68,9% sedangkan diluar Jawa dan Sumatera masih sekitar

56,5%.

Penjualan Tenaga Listrik meningkat 6,4% per tahun

Seiring dengan mulai membaiknya kondisi perekonomian di Indonesia, menyebabkan pertumbuhan penjualan tenaga listrik PLN selama lima tahun terakhir (2003-2007) mengalami pertumbuhan relatif tinggi yaitu tumbuh rata-rata per tahun sebesar 6,4%. Untuk wilayah Jawa Bali tumbuh rata-rata per tahun sebesar 5,9%, sedangkan di Sumatera tumbuh rata-rata per tahun sebesar 7,2%.

Batu bara menjadi primadona bahan bakar

Dengan terus melambungnya harga minyak dunia, dalam beberapa tahun terakhir, mendorong PLN mengalihkan pemakaian sumber energi pembangkit dari BBM ke non BBM seperti batubara, panas bumi, gas alam dan lainnya.

Pemakaian batubara terus meningkat dalam lima tahun belakangan ini, jika pada 2003 total pemakaian batu bara hanya 15,2 juta ton maka pada 2007 mengalami peningkatan hingga 100% atau mencapai 31,4 juta ton.

Namun ketergantungan pada BBM belum sepenuhnya dapat

dilepaskan. Pemakaian BBM masih berfluktuasi, pada 2003 tercatat sebesar 7,6 juta kilo liter dan sempat naik menjadi 9,0 juta kilo liter pada 2006. Namun lemudian turun lagi menjadi hanya 5,1 juta kilo liter pada 2007 lalu. Menurunnya pemakaian BBM selain karena harganya yang kian melambung tinggi, juga berkat keberhasilan usaha PLN mengkonversi bahan bakar dari BBM ke non BBM terutama

batubara.

...........................................

Sejarah PLTGU ( Pembangkit Tenaga Listrik Gas dan Uap ) Tanjung Batu

PT PLN (Persero) Wolayah VI Sektor Pembangkitan dan Penyaluran Mahakam

merupakan unit yang baru lahir di lingkungan PT PLN (Persero) Wilayah VI yang

terbentuk berdasarkan Keputusan Direktur Utama PT PLN (Persero) No :

045.K/023/DIR/1996 tanggal 06 Mei 1996 dan merupakan unit kesepuluh di lingkungan

PT PLN (Persero) Wilayah VI.

Walaupun sebagai unit yang baru lahir, beban kerja dan tanggung jawab PT PLN

(Persero) Wilayah VI Sektor Mahakam termasuk besar di antara unit yang berada di

lingkungan PT PLN (Persero) Wilayah VI, di mana pada tahun 1997 PT PLN (Persero)

Wilayah VI Sektor Mahakam mempunyai target produksi KWh sekitar 40% dari target

PT PLN (Persero) Wilayah VI, setara dengan 662.450 MWh dari 1.660.486 MWh untuk

memasok kota Samarinda dan Balikpapan dan sekitarnya.

Selain itu PT PLN (Persero) Wilayah VI Sektor Mahakam bertanggung jawab atas

pengoperasian dan pemeliharaan seluruh sarana dan fasilitas pembangkit yang terdiri dari

lima unit Pembangkit Listrik dan tujuh lokasi Gardu Induk yang tersebar antara

Balikpapan – Samarinda beserta sistem

penyalurannya, yaitu transmisi 150 kV terbentang sepanjang 160 Kmr (198 Kms) di atas

402 buah tower, daya trafo daya di Gardu Induk sebesar 210 MVA.

Pada tanggal 15 Januari 1997 didirikanlah PLTGU (Pusat Listrik Tenaga Gas Dan

Uap) Tanjung Batu di bawah tanggung jawab PT PLN (Persero) Wilayah VI Sektor

Mahakam dengan kapasitas daya 60 MW. PLTGU Tanjung Batu terletak di Tanjung Batu,

Desa Embalut, Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

Jarak tempuh sekitar 25 Km ke arah barat daya Samarinda dengan waktu tempuh 45

menit jalan darat dan 60 menit menyusuri sungai Mahakam. Luas area PLTGU Tanjung

Batu ini 20 Ha dari 183 Ha yang disediakan Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan

Timur.

PLTGU dibangun untuk memenuhi sebagian target dari beban kerja dan tanggung

jawab PT PLN (Persero) Wilayah VI Sektor Mahakam. Hal tersebut adalah target

produksi KWh sekitar 40% dari target PT PLN (Persero) Wilayah VI, setara dengan

662.450 MWh dari 1.660.468 MWh untuk memasok kota Samarinda dan Balikpapan dan

sekitarnya.

PLTGU merupakan pembangkit modern yang sedang dikembangkan saat ini,

merupakan gabungan dari dua jenis pembangkit listrik PLTG dan PLTU. PLTG Open

Cycle merupakan pembangkit yang cepat untuk di start dan mempunyai respon yang baik

terhadap perubahan beban, tetapi mempunyai kelemahan yaitu konsumsi energinya besar

(efisiennya rendah) sehingga tidak menguntungkan bila dioperasikan sebagai base load.

Pada operasinya diketahui bahwa temperatur gas buang dari turbin gas masih

tinggi dan juga laju aliran yang tinggi (energi dari gas buang turbin gas masih tinggi).

Dengan pertimbangan tersebut maka dimanfaatkanlah energi yang terbuang untuk

menguapkan air untuk selanjutnya uap air tersebut digunakan untuk memutar turbin uap.

Penguapan air di PLTGU diproses

di HRSG (Heat Recovery Steam Generation). Jadi, dengan cara tersebut dapat

menaikkan efisiensi keseluruhan dan dapat dimanfaatkan energi secara optimal.