Anda di halaman 1dari 14

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KISTA RAHANG
2.1.1 Definisi
Kista adalah rongga patologik yang dibatasi oleh epitelium.
(1-6)
Kista berisi cairan atau setengah cairan yang bukan berasal dari akumulasi
pus maupun darah.
(7,10-11,13-1)
!apisan epitelium itu sendiri dikelilingi oleh
"aringan ikat #ibrokolagen.
(11)
2.1.2 Gambaran Secara Umum
Kista rahang merupakan kista yang paling sering ditemukan
dibandingkan kista tulang lainnya, karena banyaknya sisa epitel yang
tertinggal pada "aringan setelah pembentukan gigi. $enurut %&' (1(())
kista rahang terbagi men"adi dua kelompok besar yaitu kista odontogenik
dan kista non-odontogenik.
(1,7)
$ayoritas kista berukuran kecil dan tidak menyebabkan
pembengkakan di permukaan "aringan.
(6)
*pabila tidak ada in#eksi, maka
secara klinis pembesarannya minimal dan berbatas "elas. +embesaran kista
dapat menyebabkan asimetri ,a"ah, pergeseran gigi dan perubahan oklusi,
hilangnya gigi yang berhubungan atau gigi tetangga, serta pergeseran gigi
tiruan. Kista yang terletak di dekat permukaan dan telah meluas ke dalam
"aringan lunak, sering terlihat ber,arna biru terang dan membran mukosa
yang menutupi sangat tipis.
(1)
Kista dilihat dari gambaran radiogra#ik menun"ukkan lapisan tipis
radioopak yang mengelilingi bulatan radiolusensi.
(1--16)
.amun dapat
ter"adi kalsi#ikasi distro#ik pada kista yang sudah lama berkembang,
sehingga menyebabkan gambaran kista tidak sepenuhnya radiolusensi
pada struktur internalnya.
(16)
Kista dapat berbentuk unilokular dan
multilokular.
(1--16)
Universitas Indonesia
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
2.2 KISTA ODONTOGENIK
2.2.1 Definisi
Kista odontogenik adalah kista yang berasal dari sisa-sisa epitelium
pembentuk gigi (epitelium odontogenik). /eperti kista lainnya, kista
odontogenik dapat mengandung cairan, gas atau material semisolid.
(13)
Kista odontogenik disubklasi#ikasikan men"adi kista yang
berasal dari developmental atau inflammatory. Kista developmental yakni
kista yang tidak diketahui penyebabnya, namun tidak terlihat sebagai hasil
reaksi in#lamasi. /edangkan kista inflammatory merupakan kista yang
ter"adi karena in#lamasi.
(1)
2.2.2 Ei!"!#i
*da tiga macam sisa "aringan yang masing-masing berperan
sebagai asal-muasal kista odontogenik
(13)
0
1. The epithelial rests or glands of Serres yang tersisa setelah terputusnya
dental lamina. 1ni merupakan penyebab odontogenik keratosis. /elain
itu, "uga dapat men"adi penyebab beberapa kista gingi2al dan
periodontal lateral developmental.
). 3mail epitelium tereduksi yang berasal dari organ email dan selubung
gigi yang belum erupsi namun telah terbentuk sempurna. Kista
dentigerous (#olikular) dan kista erupsi berasal dari "aringan ini.
3. The rests of Malassez yang terbentuk melalui #ragmentasi dari
epithelial root selubung Hertwig.
2.2.$ K"asifi%asi
Klasi#ikasi kista odontogenik menurut %&' tahun 1(()
(1,7)
1. Developmental
a. Kista dentigerous
b. Kista erupsi
c. Kista odontogenik keratosis
d. Kista orthokeratinisasi odontogenik
e. Kista gingi2al (al2eolar) pada bayi
Universitas Indonesia
-
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
#. Kista gingi2al pada de,asa
g. Kista lateral periodontal
h. Calcifying odontogenic cyst
i. Kista glandular odontogenik
). Inflammatory
a. Kista periapikal (radikular)
b. Kista residual periapical (radikular)
c. Buccal ifurcation cyst
2.2.& Gambaran Secara Umum
$enurut 4a,son (1((1) dan *rcher (1(7-) kista dentigerous
merupakan kista kedua yang paling banyak ter"adi setelah kista radikular,
yakni dengan "umlah 1--156.
(),5)
$enurut penelitian sebelumnya oleh 7ean-+aul $, dkk pada tahun
)006, dengan "umlah kasus 6(- ditemukan bah,a persentase kista
odontogenik yang terdapat di +itie-salpetriere 8ni2ersity &ospital, +aris,
+rancis yaitu
(()
0
1. Kista periodontal -3,-6
). Kista dentigerous )),36
3. Keratosis odontogenik 1(,16
. !esidual cyst ,66
-. Kista lateral periodontal 0,36
6. Kista glandular odontogenik 0,)6
Kista tumbuh secara ekspansi hidrolik dan dilihat dari gambar
radiogra#ik biasanya menun"ukkan lapisan tipis radioopak yang
mengelilingi radiolusensi. *danya proses kortikasi yang terlihat secara
radiogra#ik adalah merupakan hasil dari kemampuan tulang disekitarnya
untuk membentuk tulang baru lebih cepat dibandingkan proses
resorpsinya, hal inilah yang ter"adi selama perluasan lesi.
())
Universitas Indonesia
6
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
2.$. KISTA DENTIGEROUS
2.$.1 Definisi
Kista dentigerous adalah rongga patologik yang dibatasi oleh
epitelium atau kantung "aringan ikat yang berbatas epitelium skuamosa
berlapis yang terbentuk disekeliling mahkota gigi yang tidak erupsi dan
terdapat cairan.
(5)
Kista dentigerous merupakan kista yang berasal dari
pemisahan #olikel disekitar gigi yang belum erupsi.
(1,-,7)
2.$.2 Ei!"!#i 'an Pa!#enesis
Kista dentigerous merupakan kista yang terbentuk pada saat
mahkota gigi telah terbentuk dengan sempurna. 'leh karena itu,
sebelumnya kita perlu mengetahui tahap-tahap pembentukan gigi. 9ahap-
tahap tersebut yaitu
(17)
0
1. 9ahap inisiasi yaitu tahap dimana dental lamina dan benih gigi yang
merupakan bagian dari epitelium mulut mulai membentuk benih gigi.
). 9ahap proli#erasi yaitu tahap dimana sel-sel epitel dalam bertambah
banyak dan membentuk bagian dari organ-organ email.
3. 9ahap histodi##erensiasi yaitu tahap dimana sel-sel epitel dalam dari
organ email berubah men"adi ameloblast dan sel-sel epitel tepi dari
organ dentin men"adi odontoblast.
4. 9ahap morphodi##erensiasi merupakan tahap pertemuan sel-sel
pembentuk disepan"ang bagian yang akan men"adi dentinoenamel
"unction dan denticemento "unction yang akan menentukan kontur dan
ukuran mahkota gigi dan akar gigi.
-. 9ahap aposisi merupakan tahap deposisi atau pengendapan matriks-
matriks keras dari struktur gigi, seperti matriks email, dentin dan
sementum dalam bagian-bagiannya yang berlapis-lapis.
Kelainan atau gangguan pada masa pembentukan gigi akan
menyebabkan terbentuknya kista. +erkembangan dari kista dentigerous
disebabkan karena penumpukan atau akumulasi cairan antara sisa-sisa
Universitas Indonesia
7
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
organ email dan mahkota gigi, dan kadang-kadang di dalam organ email
itu sendiri.
(11)
*dapun alternati# lain mengatakan bah,a mekanisme patogenesis
dari pada pembentukan kista dentigerous merupakan degenerasi retikulum
stelata organ email setelah pembentukan mahkota gigi selesai, tetapi
kebanyakan merupakan akibat dari perubahan degenerasi sisa epitel email
dan email epitelium tereduksi.
(5)
:igi impaksi yang mempunyai potensi untuk erupsi akan
menyebabkan penyumbatan aliran 2enous (venous outflow) dan
mengakibatkan transudasi serum dinding-dinding kapiler. &al ini akan
mengakibatkan tekanan hidrostatik yang akan memisahkan #olikel dari
mahkota gigi.
(5)
/elain itu 9homa menyatakan bah,a pembentukan kista
dentigerous berasal dari perubahan degenerati# dalam retikulum stelata
dalam organ email pada perkembangan pertama. 4airan yang terkumpul
melalui transudasi dari "aringan peri#olikular akan mengakibatkan
ekspansi dari organ email. &al ini merupakan akti#itas osmotik yang dapat
meningkatkan perkembangan kista dimana epitel merupakan membran
yang permeabel. ;olikel disekitar mahkota gigi akan membentuk membran
#ibrosa dari kista dan lapisan luar kista yang merupakan lapisan epitel
berasal dari lapisan epitel luar organ email.
(15)
9ekanan hidrostatik tersebut
berperan dalam pembesaran kista dan diduga sebagai penyebab dari
tekanan hidrostatik berhubungan dengan adanya perbedaan tekanan
osmotik di dalam kista. <isamping itu pelepasan deskuamasi sel-sel epitel
dan sel-sel radang ke dalam lumen kista akan menambah tekanan osmotik
di dalam kista dan lebih "auh lagi berperan dalam pembesaran atau
ekspansi dari kista.
(1()
2.$.$ Gambaran K"inis
7umlah kista dentigerous yakni )),36 dari seluruh kista
odontogenik dan merupakan kista kedua yang paling banyak ter"adi
setelah kista periodontal.
(3,5-()
Universitas Indonesia
5
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
Kisaran umur untuk kasus kista dentigerous sangat ber2ariasi.
$enurut 4a,son (1((1), .e2ille ()00)) dan =ege>i ()003) kista
dentigerous paling sering ter"adi pada pasien dengan usia 10 ? 30 tahun
(dekade hidup kedua dan ketiga).
(1-),11)
/edangkan menurut ;onseca ()000)
dan !anglais ()003) kista ini biasanya ter"adi sebelum usia )0 tahun dan
lebih sering ter"adi pada pria.
(3,)0)
$enurut penelitian yang dilakukan oleh ;reitas ()00-)( di @ra>il
bah,a kasus kista dentigerous dapat ter"adi pada kisaran usia 3 ? -7 tahun.
<an ditemukan pula 10 dari kasus 17 kasus kista dentigerous ter"adi pada
anak diba,ah usia 1- tahun.
(1))
$enurut ;onseca ()000) kemungkinan ter"adinya kista ini akan
bertambah seiring bertambahnya usia, karena berhubungan dengan gigi
impaksi. /ebagai contoh seseorang berusia -0 tahun dengan gigi impaksi,
kemungkinannya memiliki kista dentigerous lebih besar dibandingkan
dengan pasien )1 tahun dengan gigi impaksi pula. .amun karena sebagian
besar masyarakat telah membuang gigi impaksinya saat masih muda, maka
kelompok usia muda mendominasi statistik yang ada.
(3,)0-)1)
+enelitian
terakhir menun"ukkan ter"adi pemerataan "umlah kasus dari berbagai usia
dalam lima dekade terakhir ini.
(13)
Kista dentigerous hampir selalu melibatkan gigi permanen,
,alaupun ada beberapa laporan mengenai keterlibatan gigi sulung.
(1-3,10)
:igi permanen yang paling sering terlibat adalah molar ketiga rahang
ba,ah, kaninus rahang atas, dan premolar rahang ba,ah, karena impaksi
paling sering ter"adi pada daerah tersebut diatas.
(1,3,10)
<apat "uga
ditemukan pada comple# compound odontoma atau pada gigi
supernumerari.
(1-10)
Kista dentigerous biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi
kadang-kadang dapat pula menimbulkan rasa sakit yang disebabkan oleh
pembesaran dari kista atau kista tersebut terin#eksi.
(3,11)
Kista ini dapat
terin#eksi melalui "alur hematogen, dan dapat terkait dengan adanya rasa
sakit dan bengkak.
(1,5)
1n#eksi dapat ter"adi karena erupsi gigi sebagian
atau karena perluasan lesi periapikal atau periodontal yang mempengaruhi
Universitas Indonesia
(
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
gigi sekitar.
(3,5,11)
/ecara ekstra oral, kista dapat diketahui bila kista sudah membesar
dan ditandai dengan adanya asimetri ,a"ah. /edangkan, secara intra oral
terlihat tidak tumbuhnya gigi pada daerah yang membengkak, adanya
pergeseran letak gigi yang ekstrim, dan resorpsi tulang al2eolar dan akar
gigi, hal ini biasanya ter"adi bila kista sudah men"adi kronis.
(10)
7ika ka2itas
kista mengandung darah, pembengkakan dapat ber,arna ungu atau biru
tua yang disebut eruption hematoma.
(1-),)
+embesaran kista terutama pada regio molar ketiga rahang ba,ah
dapat meliputi seluruh ramus sampai prosesus koronoid dan kondilus,
diikuti pembesaran pada tulang kortikal. +ada keadaan ini gigi molar
ketiga dapat terdesak sampai batas in#erior tulang mandibula, pembesaran
kista ini dapat mengakibatkan penipisan tulang kortikal karena proses
erosi yang disebabkan dari ekspansi kista tersebut. /ehingga, penipisan
dari tulang kortikal ini dapat mengakibatkan #raktur patologis ,alaupun
hal ini "arang ter"adi. +ada kasus kista dentigerous di regio kaninus rahang
atas dapat mengakibatkan sinusitis akut atau selulitis.
(3,11)
2.$.& Gambaran Ra'i!#rafi%
+emeriksaan radiogra#ik pada rahang dengan kista dentigerous
menggambarkan daerah radiolusensi yang mengelilingi gigi impaksi atau
mahkota gigi yang tidak erupsi.
(1,3,10)
Kista dentigerous dibagi men"adi beberapa tipe sesuai posisi
dimana kista terbentuk dalam hubungannya dengan mahkota gigi
(1,,)))
0
1. 9ipe /entral
Kista dentigerous tipe ini mengelilingi mahkota gigi dan mahkota
terproyeksi ke dalam kista.
(1)
+ada tipe sentral pembentukan kista
ter"adi sebelum degenerasi organ email yang meliputi mahkota gigi.
Kista dentigerous sentral yang mengelilingi keseluruhan mahkota gigi
secara berangsung-angsur akan membesar.
()))
Universitas Indonesia
10
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
$amar %.&. Kisa Deni#er!us. 9ipe sentral menun"ukan mahkota
terproyeksi kedalam rongga kista.
/umber 0 'ral A $aBillo#acial +athology. )
nd
.
(1)
). 9ipe !ateral
Kista dentigerous tipe ini terbentuk pada sisi mesial atau distal gigi
dan meluas "auh dari gigi, namun hanya ter"adi disekitar mahkota gigi.
(1,)
Kista ini terbentuk pada bagian email yang menetap setelah bagian
atas permukaan oklusal telah berubah men"adi dental cuticle. Kista ini
dapat memiringkan gigi atau menggantikan gigi ke arah sisi yang
terlibat.
()
$amar %.%. Kisa Deni#er!us. 9ipe lateral menun"ukan kista yang besar
sepan"ang akar mesial gigi yang tidak erupsi.
/umber 0 'ral A $aBillo#acial +athology. )
nd
.
(1)
Universitas Indonesia
11
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
3. 9ipe /irkum#erensial
+ada tipe ini, seluruh email disekitar leher gigi dapat men"adi kista
dentigerous, dan biasanya sering menyebabkan gigi untuk erupsi
melalui kista (seperti lingkaran donat), sehingga menghasilkan
gambaran yang mirip dengan kista radikular.
()
Kista tampak
mengelilingi mahkota dan meluas ke sepan"ang akar sehingga akar
tampak terletak di dalam kista.
(1)
$amar %.'. Kisa Deni#er!us. 9ipe sirkum#erensial menun"ukan kista
meluas sepan"ang akar mesial dan distal gigi yang tidak erupsi.
/umber 0 'ral A $aBillo#acial +athology. )
nd
.
(1)
:ambaran radiogra#ik kista dentigerous umumnya berupa lesi yang
halus, unilokular, dan kadang-kadang multilokular.
(3)
!esi yang terlihat
unilokular berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi atau odontoma.
<aerah radiolusensi dibatasi oleh lapisan tipis sklerotik yang menun"ukkan
ter"adinya reaksi tulang, yang hanya tampak "ika ter"adi in#eksi sekunder.
(1,3)
7ika terdapat kasus kista dentigerous yang multipel, kemungkinan lain
berupa kista odontogenik sindrom sel basal ne2us.
(10)
+ada radiogra#ik, kista terlihat sebagai radiolusensi perikoronal
yang diselubungi oleh "aringan kortikal, dimana harus dibedakan dari
ruang #olikular normal.
()0)
Kadang terdapat pseudoloculation sebagai hasil
dari trabekulasi atau penggabungan dinding yang keras (tulang). !esi
dapat men"adi cukup besar dan kemungkinan untuk ter"adinya penetrasi
Universitas Indonesia
1)
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
kortikal lebih besar "ika ukurannya bertambah.
()3)
+ada gambar radiogra#ik
ruang #olikular dari molar ketiga besarnya sekitar ) mm, dimana 3 mm
merupakan batas dari gigi kaninus yang impaksi.
(3,)0)
9erdapat kesamaan tampilan antara kista dentigerous kecil dengan
#olikel yang hiperplastik.
())
'dontogenik keratosis atau ameloblastoma
"uga kadang menyelubungi mahkota gigi, dan keduanya dapat
menciptakan tampilan radiogra#ik seperti kista dentigerous.

'leh karena
itu identi#ikasi intraoperati# dari lesi kista ini, paling baik dilakukan
dengan cara diru"uk ke ahli patologi oral. /ebagai petun"uk umum, "ika
ruang #olikular di sekitar mahkota lebih besar dari 3 mm, maka dapat di
diagnosis sebagai kista dentigerous.
()3)
!ebar ruang perikoronal ),- mm
atau lebih merupakan daerah minimal yang dibutuhkan untuk diagnosis
kemungkinan kista dentigerous.
()
7ika kista tetap tidak dikenali selama
periode yang pan"ang, maka gigi yang disertainya akan teresorbsi, namun
"arang ter"adi.
()3)
$amar %.(. Kisa Deni#er!us. !esi radiolusensi melibatkan
mahkota premolar mandibula yang tidak erupsi.
/umber 0 'ral A $aBillo#acial +athology. )
nd
.
(1)
2.$.) Gambaran His!*a!"!#i
9idak ada gambaran mikroskopik yang khas untuk membedakan
kista ini dengan kista odontogenik lainnya.
(10)
Kista dentigerous terdiri dari
dinding "aringan ikat tipis dengan lapisan tipis epitel skuamosa berlapis.
Universitas Indonesia
13
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
(3,10)
9idak ada pembentukan rete peg kecuali kista terin#eksi sekunder.
+ermukaan epitelium umumnya dilapisi lapisan beralur dari parakeratin
atau orthokeratin. 9erdapat in#ilrasi sel peradangan dari "aringan ikat.
Kandungan lumen berupa cairan kuning, tipis, dan terkadang terdapat
darah.
(10)
/ediaannya menun"ukkan "aringan ikat #ibrokolagen yang padat
sebagai gambaran utamanya. )pithelial rest odontogenic biasanya terlihat
disediaannnya, dengan konsentrasi disekitar lumen atau dibatas epitelnya
meningkat. @atas luminalnya terdiri dari epitelium skuamosa berlapis dan
non-keratin.
(3)
+ada gigi yang berkembang tidak ,a"ar, dapat ditemukan email
epitelium tereduksi dengan eosino#ilik sitoplasma yang berbentuk kubus
atau persegi pan"ang. Keseluruhan lumen biasanya tidak dibatasi dengan
epitelium, bahkan beberapa bagian tampak hanya dibatasi oleh "aringan
ikat.
()-)
Kadang "uga ditemukan numerous mucous cells, sel bersilia, dan
yang paling "arang, ditemukan sel sebasea di sisi (lining) epitel.
(11)
$amar %.*. Kisa 'eni#er!us. Kista dentigerous non in#lamasi
menun"ukan lapisan tipis, non+eratinized epithelial lining.
/umber 0 'ral A $aBillo#acial +athology. )
nd
.
(1)
Universitas Indonesia
1
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
$amar %.,. Kisa 'eni#er!us. Kista dentigerous in#lamasi menun"ukan
epithelial lining yang lebih tipis dengan hyperplastic rete ridges.
/umber 0 'ral A $aBillo#acial +athology. )
nd
.
(1)
$amar %.-. Kisa 'eni#er!us. Scattered mucous cell dapat tampak
dalam epithelial lining.
/umber 0 'ral A $aBillo#acial +athology. )
nd
.
(1)
2.$.+ P!ensi Ke#anasan
/etiap #olikel gigi pada gigi yang impaksi atau gigi yang tidak
erupsi dan gigi berlebih yang impaksi, berpotensi men"adi kista
dentigerous.
(10)
/edangkan kista dentigerous berpotensi men"adi
ameloblastoma. <iperkirakan 336 dari kasus ameloblastoma berhubungan
dengan kista dentigerous. Cegarelli pada tahun 1(( mengatakan bah,a
kista odontogenik merupakan langkah pertama perkembangan
ameloblastoma.
()))
Universitas Indonesia
1-
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
Kista dentigerous dapat bertrans#ormasi men"adi neoplasma
sebenarnya, dengan riset menun"ukkan bah,a 176 dari ameloblastoma
dihubungkan dengan kista dentigerous yang sudah ada. 9rans#ormasi
malignan yang paling sering dihubungkan dengan kista dentigerous
adalah karsinoma sel skuamosaD karsinoma mukoepidermoid "uga
memungkinkan.
(1-)
@eberapa komplikasi potensial yang dapat ter"adi selain
kemungkinan ter"adinya rekurensi akibat pembedahan yang tidak
sempurna, adalah
(10)
0
1. +erkembangan ameloblastoma
*meloblastoma berkembang pada dinding kista dentigerous
dari lapisan epitelium atau sisa epitelial. &asil penelitian dari 61
kasus ameloblastoma, 176 kasus berkaitan dengan gigi impaksi
E#olikular Ekista dentigerous. <isposisi dari proli#erasi epitelial
neoplastik dalam bentuk ameloblastoma ini lebih sering ditemui pada
kista dentigerous dibandingkan kista odontogenik lainnya. $ani#estasi
pembentukan tumor ini ter"adi sebagai penebalan nodul pada dinding
kista tetapi gambaran klinis yang "elas sulit ditentukan, sehingga perlu
pemeriksaan mikroskopis dari "aringan kista dentigerous tersebut.
). +erkembangan karsinoma epidermoid
+erkembangan karsinoma epidermoid berasal dari lapisan
epitelium. ;aktor predisposisi dan mekanisme perkembangan belum
diketahui, tetapi ke"adiannya menampakkan une.uivocal.
3. +erkembangan karsinoma mukoepidermoid
Karsinoma mukoepidermoid merupakan bentuk dari tumor
kelen"ar sali2a malignan dari lapisan epitelium kista dentigerous yang
mengandung sel sekresi mukus. !ebih "arang ter"adi dibandingkan
karsinoma epidermoid. <an sering ter"adi pada kista dengan impaksi
molar ketiga mandibula.
Universitas Indonesia
16
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
2.$., Pera-aan 'an Pr!#n!sis
Kista dentigerous biasanya mudah diangkat dengan cara enukleasi,
dimana pada gigi yang berhubungan "uga dilakukan ekstraksi gigi.
(3)
3nukleasi dari kista tersebut dapat diikuti dengan pera,atan orthodontik,
untuk menahan gigi yang bersangkutan (seperti kaninus maksila).
(1,3)
8ntuk kista yang lebih besar harus dilakukan marsupialisasi,
karena apabila dilakukan enukleasi dan ekstraksi gigi maka dapat
menghasilkan kerusakan sara# dan pembuluh darah terhadap gigi
serta struktur anatomi disekitarnya, seperti sinus maksila, rongga nasal
ataupun rongga orbita.
(3)
+ada kasus dimana kista mempengaruhi sebagian besar mandibula,
maka tindakan a,al yang dilakukan adalah e+steriorization atau
marsupialisasi kista, sehingga memungkinkan ter"adinya dekompresi
(pengurangan tekanan udara) dan penyusutan pada lesi, dengan demikian
dapat mengurangi luas bagian yang akan dibedah nantinya.
(11)
8ntuk
mendapat akses ke kistanya, diperlukan pembuatan #lap mukoperiosteal
yang cukup.
(5)
*lternati#nya gigi dapat di transplantasi ke al2eolar ridge
atau di ekstraksi, lalu kista dienukleasi.
(),)3)
+rognosis kista dentigerous baik, dan tanpa adanya rekurensi.
(3)
=ekurensi "arang ter"adi "ika pengangkatan keseluruhan kista dilakukan
dengan baik.
(1)
2.$.. Dia#n!sis Ban'in#
<iagnosis banding radiolusensi perikoronal kista dentigerous
meliputi odontogenik keratosis, ameloblastoma, dan tumor odontogenik
lainnya. 9rans#ormasi ameloblastik dari dentigerous cyst lining "uga bisa
men"adi diagnosis banding. 9umor odontogenik adenomatoid bisa men"adi
pertimbangan apabila ada radiolusensi perikoronal anterior, dan #ibroma
ameloblastik apabila ada lesi yang ter"adi di rahang posterior pasien
usia muda.
(3)
Universitas Indonesia
17
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia