Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Zat berkhasiat yang dapat dijadikan sebagai obat penurun demam adalah asetosal. Asam asetil
salisilat atau asetosal banyak dijumpai dalam berbagai nama paten, salah satunya yang terkenal
adalah Aspirin. Yang berguna untukmengurangi rasa sakit, misalnya: sakit kepala, nyeri otot, nyeri
tulang, nyeri haid), Menurunkan demam, misalnya: demam setelah imunisasi, Antiradang, misalnya:
radang sendi rematoid, radang tulang dan sendi.
Seperti halnya obat-obat analgesik yang lain, ia bekerja dengan cara menghambat
sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan
mediator nyeri dan radang/inflamasi. Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan
bantuan enzim cyclooxygenase(COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin
tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda.
Prostaglandin juga merupakan senyawa yang mengganggu pengaturan suhu tubuh
oleh hipotalamus sehingga menyebabkan demam. Hipotalamus sendiri merupakan bagian dari otak
depan kita yang berfungsi sebagai semacam termostat tubuh, di mana di sana terdapat reseptor
suhu yang disebuttermoreseptor. Termoreseptor ini menjaga tubuh agar memiliki suhu normal,
yaitu 36,5 37,5 derajat Celcius.
Pada keadaan tubuh sakit karena infeksi atau cedera sehingga timbul radang, dilepaskanlah
prostaglandin tadi sebagai hasil metabolisme asam arakidonat. Prostaglandin akan mempengaruhi
kerja dari termostat hipotalamus, di mana hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh
(di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini disebabkan karena termostat tadi
menganggap bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/
menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak.
Adanya perubahan suhu tubuh di atas normal karena memang setting hipotalamus yang
mengalami gangguan oleh mekanisme di atas inilah yang disebut dengan demam. Karena itu, untuk
bisa mengembalikan setting termostat menuju normal lagi, perlu menghilangkan prostaglandin tadi
dengan obat-obat yang bisa menghambat sintesis prostaglandin.
Asetosal dapat mengencerkan darah. Karena asetosal bekerja secara cukup kuat pada enzim COX-
1 yang mengkatalisis pembentukan tromboksan dariplatelet, suatu keping darah yang terlibat dalam
proses pembekuan darah. Penghambatan sintesis tromboksan oleh asetosal menyebabkan
berkurangnya efek pembekuan darah. Sehingga, asetosal bahkan dipakai sebagai obat pengencer
darah pada pasien-pasien pasca stroke untuk mencegah serangan stroke akibat tersumbatnya
pembuluh darah.
IMPLIKASI : Karena memiliki efek pengencer darah, maka tentu tidak tepat jika digunakan sebagai
obat turun panas pada demam pada penderita demam berdarah. Karena pada demam berdarah
sudah ada risiko perdarahan karena berkurangnya trombosit.
1.2 Tujuan
Tugas makalah ini dibuat agar lebih memahami tentang Asetosal bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya.
Tugas makalah ini dibuat sebagai persyaratan untuk mengikuti ujian semester ganjil pada mata
kuliah Teknologi Farmasi.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Monografi
Pemerian : Hablur putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun, atau serbuk
hablur putih: tidak berbau atau berbau lemah. Stabil diudara kering; didalam udara lembab secara
terhadap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat.
Warna : Hablur Putih
Bau : Tidak berbau atau berbau lemah
Kelarutan : Sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol; larut dalam koroform, dan dalam
eter; agak sukar arut dalam eter mutlak.
Suhu : Lebur1410 sampai 1440

2.2 Farmakokinetik
Absorbsi : Pada pemberian oral, sebagian salisilat diabsorbsi dengan cepat dalam bentuk
utuh dalam lambung, tetapi sebagian besar diusus halus bagian atas. Pada pemberian rectal, lebih
ambat dan tidak sempurna, sehingga cara ini tidak dianjurkan. Absorbsinya akan lebih cepat dari
kulit sehat, terutama bila dipakai sebagai obat gosok atau salep.
Distribusi : Menyebar keseluruh jaringan tubuh dan cairan transelular sehingga ditemukan
dalam cairan sinovial, cairan spinal, cairan peritoneal, liur dan air susu. Obat ini mudah menembus
sawar darah otak dan sawaruri.
Mekanisme Kerja: Salisila terjadi dibanyak jaringan, tetapi yang terutama di mikrosom dan
mitokondria hati.
Ekskresi : Salisilat dieksresi dalam bentuk metabolit terutama melalui ginjal, sebagian kecil
melalui keringa dan empedu.


2.3 Farmakodinamik
2.3.1 Dosis
Dewasa :
500 - 650 mg setiap 4 jam (maksimal 4 g/hari)
Anak-anak:
2 - 3 tahun : 80 - 160 mg setiap 4 jam
4 - 5 tahun : 160 - 240 mg setiap 4 jam
6 - 8 tahun : 240 - 320 mg setiap 4 jam
9 - 10 tahun : 320 - 400 mg setiap 4 jam
> 11 tahun : 400 - 480 mg setiap 4 jam
2.3.2 Indikasi
Nyeri ringan atau sedang, demam; antiplatelet
2.4.3 Aturan pemakaian:
Jangan digunakan bila terlihat kristal jarum pada tablet atau serbuk.
2.4.4 Kontraindukasi
Anak dibawah usia 12 tahun dan anak yang sedang disusui (singdrom Reye : karena hubungannya
dengan Singdrom Reye, maka sediaan yang mengandung asetosal tidak diberikan pada anak yang
berusia di bawah usia 12 tahun; kecuali ada indikasi yang spesifik; misalnya juvenile arthritis
Penyakit Still. Penting untuk menjelaskan kepada keluarga bahwa asetosal adalah obat yang tidak
cocok untuk anak yang berpenyakit ringan); ulserasi saluran cerna; hemophilia; tidak untuk
pengobatan gout.
2.4.5 Peringatan
Tidak boleh digunakan pada:
Penderita alergi (termasuk asma), tukak lambung (maag), pernah atau sering mengalami
perdarahan dibawah kulit.
Penderita yang sedang diterapi dengan antikoagulan.
Penderita hemofilia dan trombositopenia
Menurunnya fungsi ginjal atau hati ( hindari bila hebat )
Dehidrasi
Kehamilan
Pasien usia lanjut
Defisiensi G6PD

2.4.6 Interaksi
Analgesik lain : hindari pemberian bersama dengan AINS lain (meningkatkan efek
samping)
Antacid dan adsorben : sekresi asetosal dinaikkan pada urin yang biasa
Antikoagulan : resiko perdarahan meningkat karena efek anti platelet
Antiepileptika : peningkatan efek fenitoin dan valproat
Kortikosteroid : resiko perdarahan dan ulserasi saluran cerna meningkat
Sitostatika : mengurangi efek sekresi metotraksat (meningkatkan toksisitas)
Diuretik : antagonisme efek diuretik spironolakton; menurunkan eksresi asetazolamid
(resiko toksisitas)
Metoklopramid dan Domperidon : Metokloramid meningkatkan efek asetosal
(meningkatkan laju absorbs)
Mifepriston : disarankan untuk menghindari asetosal sampai 8 12 hari setelah
mifepriston
Urikosurik : efek probenesid dan sulfinpirazon dikurangi
2.4.7 Efek Samping
Sering menimpa anak-anak, adalah terjadinya Sindrom Reye, suatu penyakit mematikan yang
menganggu fungsi otak dan hati. Gejalanya berupa muntah tak terkendali, demam, mengigau dan
tak sadar. Banyak studi telah menunjukkan adanya hubungan antara kejadian syndrome Reye pada
anak-anak dengan penggunaan aspirin. Memang sih, angka kejadiannya tidak terlalu banyak, tapi
sekali terjadi akibatnya sangat fatal. Sehingga, aspirin direkomendasikan untuk tidak digunakan
sebagai turun panas pada anak-anak.
Gangguan Lambung seperti mual, muntah
Risiko kekambuhan asma bagi mereka yang punya riwayat asma. Aspirin atau asetosal termasuk
salah satu analgesik yang sering dilaporkan memicu kekambuhan asma, sehingga perlu hati-hati juga
untuk pasien yang punya riwayat asma.
Kekuatiran lain dari penggunaan asetosal adalah seringkali mereka ditampilkan dalam bentuk
seperti permen jeruk. Tujuannya supaya anak tidak merasa sedang minum obat, karena seperti
makan permen. Tapi justru bisa jadi, karena dianggap permen, anak-anak bisa minta lebih dari dosis
yang seharusnya. Jika menyimpannya tidak hati-hati, anak-anak bisa cari sendiri permen tadi dan
mengkonsumsinya tanpa sepengetahuan ortunya. Sehingga bisa dibayangkan jika asetosal
dikonsumsi dalam dosis lebih dari seharusnya.
Pemakaian jangka lama dapat menimbulkan tukak lambung, perdarahan lambung.

2.4 Formulasi
2.4.1 Pre Formulasi
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah analgesic antipiretik
dan anti inflamasi yang sangat digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Selain sebagai
prototip, obat ini merupakan standar dalam menilai obat sejenis.
Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya yang dapat
dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dari asam organik dengan substitusi pada gugus
hidroksil, misalnya asetosal.

2.4.2 Bahan Pembantu
Bahan Pengikat : mikrokristalina sellulosa 2 %
Bahan Pelincir : Talk 5 %
Bahan Penahan lembab : Gliserol 3 %
Bahan Pemanis : Sacharum Laktis 0.75 %
( Penuntun Kuliah Teknologi Farmasi hal.13,15,17,18)
2.4.3 Formula yang Beredar
Ascardia
Poldan Mig
Naspro
2.4.4 Formula Standar
Tablet Asam AsetilSalisilat
2.4.5 Formula yang di Rencanakan
Naspro ( ISO hal 17 )
Formula yang dipilih
Zat Berkhasiat
Asetosal 300 mg
Bahan Tambahan
Mikrokristalina selulosa 2 %
Talk 5%
Gliserol 3%
Sacharum Laktis 0.75%
2.5.5 Alasan Pengambilan Bahan
Asetosal
Kelebihan : Dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik
Kekurangan : Pada dosis terapi salisilat mempertinggi konsumsi oksigen dan produksi
karbondioksida
2.5.6 Perhitungan Dosis
# Antipiretik
Dosis Salisilat untuk dewasa ialah 325 mg 650 mg, diberikan secara oral tiap 3 atau 4 jam.
Untuk anak 15 20 mg/kg BB, diberikan tiap 4 6 jam dengan dosis total tidak melibihi 3.6 g/ hari
2.5.7 Perhitungan Bahan
Tablet Naspro
Tiap tablet mangandung :
Asetosal 300 mg
Bahan Pengikat
Mikrokristalina selulosa 2%
2/100 X 50 gr = 1 gr
Bahan Pelincir
Talk 5%
5/100 X 50 gr = 2.5 gr
Bahan Penahan Lembab
Gliserol 3%
3/100 X 50 gr =1.5 gr
Bahan Pemanis
Sacharum Laktis 0.75%
0.75/100 X 50 gr = 0.375%
2.5.8 Penetapan Kadar
Secara tak Langsung
Timbang 200 mg sample kedalam labu tambahkan 10 ml larutan NaOH 0,5 N didihkan campurkan
secara perlahan lahan selama 10 menit. Tambahkan 2 tetes indicator fenolftalein, kemudian titrasi
kelebihan larutan NaOH dengan larutan H2SO4 0,5 N
Perhitungan : 1 ml larutan NaOH 0,5 N setara dengan 45,04 mg asetosal
Secara Langsung
Timbang 200 mg sample kemudian larutkan dengan 10 ml etanol netral, tambahkan 2 tetes indicator
fenolftalein lalu titrasi dengan larutan NaOH 0,1 N
Perhitungan : 1 ml larutan NaOH 0,1 N setara dengan 18,016 mg asetosal
2.5.9 Cara Kerja
a. Zat berkhasiat, bahan pengisi, bahan penahan penghancur, bahan pengikat dicampur
hingga homogen.
b. Dicetak dengan tekanan tinggi menjadi tablet besar ( slug )
c. Lalu tablet dihancurkan lagi membentuk granul dengan ukuran partikel yang diinginkan.
d. Hitung fine yang terbentuk.
e. Tambahkan bahan pelincir.
f. Cetak sesuai tablet yang diinginkan.
2.5.10 Evaluasi Tablet Jadi
Evaluasi yang perlu dilakukan terhadap tablet :
1. Keseragaman ukuran
Diameter tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang dari sepertiga kali tebal tablet.
Caranya : dilakukan terhadap 5 tablet dengan memakai alat Mikrometer atau jangka Sorong
2. Keseragaman Bobot dan Keseragaman Kandungan
a. Timbang 20 tablet dan dihitung bobot rata ratanya
b. Jika ditimbang satu per satu, tidak boleh lebih dari dua tablet yang menyimpang dari bobot rata
rata lebih besar dari harga yang di tetapkan pada kolom A dan tidak boleh ada satu tablet pun yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga kolom B
c. Jika perlu dapat diulang dengan 10 tablet dan tidak boleh ada satu tablet pun yang bobotnya
menyimpang lebih besar dari rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A maupun kolom B.
BOBOT RATA-RATA
TABLET
PENYIMPANGAN
RATA-RATA
BOBOT
DALAM %
A B
Kurang 25 mg 15 30
26 150 mg 10 20
151 300 mg 7,5 15
Besar dari 300 mg 5 10

3. Waktu Hancur
Caranya : masukkan 5 tablet kedalam keranjang, turun naikkan keranjang secara teratur 30 kali per
menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas kasa, kecuali
fragmen berasal dari zat penyalut.
Kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari
15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan
bersalut selaput.
Alat yang digunakan : Disintregation Tester
4. Kecepatan Disolusi zat berkhasiat
Alat yang digunakan Dissolution Tester
Yang diukur dengan test disolusi ini adalah jumlah zat khasiat yang larut dalam satuan waktu.
Caranya :
Tablet diletakkan dalam keranjang kawat yang dapat berputar sebanyak 50, 100, 150 kali
permenit.
Keranjang kawat ini berada didalam suat cairan dengan suhu 370C
Dalam waktu sewaktu waktu tertentu cairan tersebut diambil dengan pipet, kemudian
ditentukan secara kuantitatif jumlah zat berkhasiat yang larut pada waktu waktu tersebut.
5. Kekerasan Tablet
Alat yang digunakan untuk pengukuran kekerasan tablet adalah hardness tester seperti Strong Cobb,
Stokes.
Pengukuran kekerasan tablet digunakan untuk mengetahui kekerasannya, agar tablet tidak terlalu
rapuh atau terlalu keras. Kekerasan tablet erat hubungannya dengan ketebalan tablet, bobot tablet
dan waktu hancur tablet.
6. Keregasan Tablet (friability)
Friability adalah persen bobot yang hilang setelah tablet diguncang.
Penentuan keregasan atau kerapuhan tablet dilakukan terutama pada waktu tablet akann dilapis
(coating).
Alat yang digunakan disebut friability tester
Caranya :
Bersihkan 20 tablet dari debu, kemudian ditimbang (W1)
Masukkan tablet kedalam alat
Putar alat tersebut selama 4 menit
Keluarkan tablet, bersihkan dari debu dann ditimbang kembali (W2)
Kerapuhan tablet yang didapat :
W1 W2
W1 X 100 %
Batas kerapuhan yang di perbolehkan maksimum 0.8 %









BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Monografi nya, Pemerian : Hablur putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun, atau
serbuk hablur putih: tidak berbau atau berbau lemah. Stabil diudara kering; didalam udara lembab
secara terhadap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat, Sukar larut dalam air; mudah
larut dalam etanol; larut dalam koroform, dan dalam eter; agak sukar arut dalam eter mutlak, Suhu
Lebur: 1410sampai 1440 .
Asam asetil salisilat atau asetosal banyak dijumpai dalam berbagai nama paten, salah satunya yang
terkenal adalah Aspirin. Seperti halnya obat-obat analgesik yang lain, ia bekerja dengan cara
menghambat sintesis prostaglandin.
Efek samping asetosal Asetosal dapat mengencerkan darah. dan sering menimpa anak-anak, adalah
terjadinya Sindrom Reye,suatu penyakit mematikan yang menganggu fungsi otak dan hati, Ganguan
lambung, risiko kekambuhan asma bagi mereka yang punya riwayat asma.

3.2 Saran
Sebaiknya obat ini tidak diberikan pada penderita demam berdarah. Karena asetosal berfungsi
sebagai pengencer darah sedangkan pada demam berdarah terdapat resiko pendarahan akibat
penurunan trombosit.