Anda di halaman 1dari 4

PENDEKATAN KECAKAPAN HIDUP PADA KEAKSARAAN FUNGSIONAL

Posted on 4 Mei 2010 by uptppnfikupang


oleh : Abdul Hamid
Pendidikan keberaksaraan mengandung makna bahwa setiap warga masyarakat penyandang buta
aksara berhak memperoleh dan memiliki pengetahuan dasar, keterampilan dasar serta pembentukan
sikap melalui layanan program pendidikan keaksaraan. Untuk memenuhi harapan tersebut perlu
dilakukan kegiatan pembelajaran, pelatihan, dan bimbingan belajar terhadap masyarakat buta aksara
agar menguasai keterampilan keaksaraan yang juga berorientasi pada keterampilan fungsional.
KETERAMPILAN KEAKSARAAN
Pengetahuan tentang keterampilan keak-saraan merupakan upaya pembelajaran yang diawali dengan
pengenalan huruf, angka dan cara penulisannya sampai pada kemampuan warga belajar keaksaraan
fungsional dalam membaca, menulis dan berhitung. Keterampilan keaksaraan akan tercapai apabila
warga belajarnya telah dapat mengenal huruf, angka, membuat suku kata, merangkai suku kata menjadi
sekata hingga dapat membaca, menulis dan berhitung. Pendekatan yang dipilih adalah melakukan
pembelajaran keaksaraan yang partisipatif disertai penentuan bahan belajar yang fleksibel, yang secara
tematik terpadu dengan aktivitas keseharian warga belajar yang melingkup pada minat dan kebutuhan
belajarnya, potensi dan karakteristik lingkungan, serta situasi belajar pada saat itu. Ketuntasan belajar
keaksaraan oleh warga belajar terukur dari kemampuan dasar yang meliputi kemampuan membaca,
menulis, berhitung, berbahasa Indonesia dan memiliki keterampilan bermatapencaharian atau
kecakapan hidup yang bermakna.
Sudah lama orang menyadari bahwa mengajarkan membaca huruf saja tidak begitu menarik.Karena itu
dicari upaya yang sekiranya akan membuat orang tertarik untuk belajar membaca dan menulis. Salah
satu persyaratan yang harus ada dalam program keaksaraan fungsional adalah memadukan keaksaraan
dengan pekerjaan misalnya dengan pertanian.industri, pertukangan, kerajinan. Besar kecilnya atau baik
tidaknya keterpaduan tergantung pada homogenitas pekerjaan suatu kelompok dan tingkat ketepatan
atau tingkat kesesuaian antara konten dan kurikulum serta masalah yang dihadapi oleh orang-orang
tersebut sebagai pekerja. Sebagai ilustrasi bahwa keberhasilan akan dicapai apabila kita mengajarkan
sesuatu yang terkait dengan kecakapan kelompok yang sudah setengah trampil dalam pekerjaannya
yang bermaksud meneruskan pekerjaan di bidangnya dan telah membuatnya lebih produktif.
Keterpaduan tidak akan dapat dicapai apabila pekerjaan kelompok yang akan menjadi sasaran didik
heterogen.
Yang dimaksud dengan keterpaduan antara pekerjaan dan keaksaraan adalah suatu kegiatan yang
mengajarkan unsur-unsur teknis dengan keaksaraan secara simultan.Dampak kterpaduan antara
keduanya ada dua yaitu :
Metode mengajarnya harus berdasarkan teknik global, sementara yang lain seperti eclectic, phonitik,
silabic dll, dikesampingkan dulu.
Kata-kata yang seeingkali kita dengar dalam kehidupan sehari hari yang tidak terkait dengan pekerjaan
mereka untuk sementara diawal tidak dipergunakan karena bisa jadi kata kata itu tidak sesuai dengan
konten pekerjaan atau vokasional.
Untuk mengajarkan bahasa baru dapat berupa ekspressi sederhana tapi jelas yang terkait dengan
pengertian-pengertian teknis dan istilah istilah pelaksanaan tugas atau pekerjaan. Ini berarti bahwa
pekerja hendaknya dilatih tidak saja membaca dan menulis serta berhitung terkait dengangan
ketrerampilannya, melainkan juga proses matematik dengan prinsip-prinsip rasionalitas yang mengatur
pelaksanaan pekerjaan.Hal ini berarti pula bahwa keterpaduan itu dicapai dengan cara
keaksaraanpekerjaan-akulturasi ilmiah. (literacy-vocation-scientific acculturation).
KECAKAPAN FUNGSIONAL
Kecakapan fungsional merupakan salah satu komponen pelengkap dan terpenting dari serangkaian
komponen keterampilan keberaksaraan, atau aksi penerapan dari keterampilan keaksaraan yang telah
dipelajari/ dikuasai oleh warga belajar yang bersentuhan langsung dengan aktivitas pemenuhan
kebutuhan hidupnya.
Prinsip isi pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran keaksaraan berbasis pada kecakapan
hidup bersumber dari, oleh dan untuk warga belajar artinya bahwa muatan isi kurikulum bersifat
konteks lokal, desain lokal, proses partisipatif dan senantiasa diorientasikan pada aksi/berbuat.
Kendatipun demikian batasan kurikulum dimaksud berdasarkan standar keaksaraan pada setiap
tingkatan karakteristik warga belajar.
IMPLEMENTASI KEAKSARAAN DENGAN KECAKAPAN HIDUP
Memfungsionalkan keberaksaraan mengandung makna bahwa berbagai hal yang telah
dipelajari/dikuasai melalui proses pendidikan keaksaraan dapat diimplementasikan pada aktivitas
bermata-pencaharian. sebagai contoh, keterampilan beternak ayam pedaging, keterampilan mengolah
hasil pertanian pasca panen, dan keterampilan lainnya. Kecakapan fungsional terlihat melalui proses
infiltrasi antara keberaksaraan dengan keterpaduan keterampilan yang diberikan sepanjang proses
pembelajaran.
Keberhasilan program keaksaraan fungsional kecakapan hidup adalah dengan cara mengukur
kemampuan dan keterampilan setiap warga belajar dalam memanfaatkan dan memfungsikan
keaksaraan dan keterampilan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi membaca,
menulis dan berhitung serta keterampilan yang berguna bagi peningkatan mutu dan taraf hidupnya. Dari
hasil proses belajarnya, mereka diharapkan dapat menganalisis dan memecahkan masalah keaksaraan,
dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk peningkatan pendapatan mutu dan taraf hidupnya.
Konsekwensi selanjutnya daripada pendekatan keterpaduan tersebut menuntut pengelola, instruktur
dan ketua kelompok belajar pertama kali harus diberi pengertian yang jelas tentang konsep dan proses
pelaksanaan yang dilaksanakan oleh anggota kelompok selanjutnya menjelaskan konsep itu dan
prosesnya dengan gambar, angka, dan kata yang semuanya diterangkan secara runtut dan logis. Dengan
kata lain cara berfikir baru hendaknya dibangun dan pemikiran baru dapat dicapai.
Warga belajar kita adalah para pekerja yang hidup dalam situasi yang berubah atau berkembang. Dia
telah memiliki pengetahuan dasar dan praktek yang diperlukan untuk bekerja mencari nafkah. Oleh
karena itu hampir semua konsep awal yang akan diajarkan sudah ada dalam dirinya. Dia telah
mengetahui arti kata kata dasar yang terkait dengan pekerjaannya, dan tahu juga cara membetuk
peralatan, obyek dan pengerjaan tugas sehari harinya. Dia telah menggunakannya dalam pekerjaan
secara pragmatis dalam pekererjaan berupa penerapan arithmatika, geometri, matematik, akuntansi,
fisika, kimia, dan beberapa prinsip serta aturan-aturannya.
Untuk memperjelas argumentasi tersebut di atas barangkali contoh berikut ini dapat menolong
kejelasan tersebut.Seorang buruh pabrik tekstil yang buta aksara yang selalu bekerja dengan tangannya
mencampur warna atau menyiapkan zat-zat pewarna. Dia akan dengan mudah diajari tentang prinsip-
prinsip, aturan- aturan, cara-cara mengatur komposisi warna, mengatur, menakar, mengaduk dan
mengaplikasukannya. Beberapa kata atau frasa yang menunjukkan hubungan antara unsur- unsur yang
digunakan dalam mewarna akan mudah diajarkan.
Begitu pula bagi seorang petani banyak prinsip-prinsip yang terlibat dalam pekerjaan sebagai petani.
Salah satu prinsip ilmiah yang biasa dikerjakan misalnya ketika dia mengukur luas tanahnya, yang secara
pragmatis dikerjakannya, demikian pula ketika dia menyiapkan tanah yang akan ditanami dengan cara
menggemburkan atau mencampurnya degan kompos atau pupuk kandang. Kegiatan seperti menanam,
memupuk, memanen, menyimpan dan memasarkan hasilnya juga mempergunakan prinsip-prinsip
ilmiah.
Memperhatikan proses didaktik yang perlu dikembangkan sesuai dengan urutan kronologis sebagai
berikut:
Diskusi kelompok tentang tugas dalam pekerjaan
Tunjukkan tugas tugas yang berhubungan dengan tugas pekerjaan berdasarkan pengalaman
Identifikasikan prinsip dan aturan secara rasional seprti: matematika. geomitri, dsb. Gabungkan dengan
tugas pekerjaan
Lakukan simbolisasi grafis hal-hal diatas dengan gambar, angka, hubungan arithmatik , kata-kata yang
sesuai
Ringkasan hasil diskusi dan formulasikan tertulis dalam kalimat pendek
Aplikasikan prinsip dan aturan sesuai dengan situasi
Tugas pekerjaan hendaknya dipandang dan dipilih sebagai lapangan studi untuk diamati sesuai dengan
kepentngannya dari segi waktu dan uang, yang akan diprtimbangkan dari segi nilai ekonominya. Dalam
kaitan ini, waktu, uang, kejelasan, pertimbangan teknis, keakuratan atau ketepatan, akan ditekankan
agar supaya mendorong anggota kelompok dapat mencapai standar yang lebih baik dalam kinerja dan
produktifitasnya.
Dengan proses seperti ini pekerja diarahkan untuk mengerti tidak hanya hubungan yang jelas antara
konsep abstrak dan fakta konkrit yang dialami sehari hari, tetapi juga struktur intrinsik suatu ucapan
yang rasional dan antar hubungan antar berbagai komponen seperti: symbol, angka, huruf dll.
Selanjutnya dia akan menerapkan urutan logis, jika menyusun kata-kata yang yang telah dipelajarinya
secara tertulis kedalam kalimat. Kalimat-kalimat tersebut sedikit demi sedikit akan membentuk kalimat
baru yang akan menjadi bahasa teknis yang lebih jelas yang akan dapat mendorong memperbiki kinerja
yang lebih produktif. Dengan cara demikian kata-kata yang semula baginya hanya sebagai alat
komunikasi atau menyatakan perasaan, juga menjadi pemikiran dan fungsi kerja. Target seperti ini
mengarahkan kita untuk berpikir bahwa pendekatan terpadu hendaknya dianggap sebagai langkah awal
daripada proses belajar sepanjang hayat, yang tujuannya tidak hanya untuk memperbaiki skills dan
produktifitas pekerja, melainkan juga untuk mengembangkan minat yang terus menerus dalam hal
akulturasi ilmiah, pengertian yang lebih baik terhadap profesinya.Yang dimaksud dengan akulturasi
ilmiah adalah mejadikan pengertian-pengertian yang diperolehnya menjadi kebiasaan untuk berfikir
logis memahami hubungan sebab akibat, memahami hubungan-hubungan antar berbagai kenyataan
hidup sebagai ssuatu yang wajar mengikuti hukum-hukum alam. Kebiasaan seperti itu sangat penting
agar anggota masyarakat kita tidak terjerat dengan berfikir secara naif dan magis kita harus
mengajarkannya berfikir kritis dalam menghadapi kehidupan ini.
PENUTUP
Dengan menulis, membaca dan berhitung bagi orang dewasa mempunyai kesempatan mencoba
mengekspresikan secara bebas dan mandiri tentang pengalamannya. Umumnya mereka melakukan
sesuatu yang sangat penting dan dengan usaha keras untuk dinyatakan secara tertulis. Dengan menulis,
membaca dan berhitung mereka juga terbebas dari kebingungan untuk berbicara hal-hal yang popular,
dan ini merupakan saksi pertama dari suatu tanggung jawab
Pengalaman tersebut menunjukkan kepada kita beberapa hal sebagai berikut (1) keaksaraan ternyata
dapat dipadukan dengan pengajaran kecakapan hbidup atau dipadukan dengan pekerjaan. Kata-kata
kunci yang tersebar dalam diskusi, dipelajari secara menyeluruh, secara serasi atau harmonis
dikembangkan kedalam kamus kata dan simbul teknis yang dalam waktu singkat menjadi dasar yang
berguna untuk memahami pekerjaan untuk perluasan secepatnya keterampilan keaksaraan atau baca
tulis. (2) Sejak awal pengetahuan dan pengertian yang berhubungan dengan kecakapan teknis serta
petunjuknya dapat diajarkan jauh sebelum kecakapan baca tulis tercapai. (3) Keaksaraan, suatu
perintah, kecakapan menggabung huruf dan suku untuk membaca dan menulis, dapat timbul dari
pengertian global dari kata kata dan istilah teknis yang ditulis dan merupakan dasar analisis dan sintesis
dari kata kata yang terdapat dalam keseluruhan kamus lisan.
http://uptppnfikupang.wordpress.com/2010/05/04/pendekatan-kecakapan-hidup-pada-keaksaraan-
fungsional/