Anda di halaman 1dari 8

PERILAKU DALAM MANAGEMENT AUDIT

PEMERIKSAAN AKUNTANSI 2



Disusun oleh :
- Hendra (23210205)
- Santoso Permadi (26210365)
- Stefanus Agung Nugroho (26210680)
- Yuda Nurdiandani (28210699)

Universitas Gunadarma
2013
PERILAKU DALAM MANAJEMEN AUDIT

1. Hubungan antar manusia dalam manajemen audit

Hubungan antar manusia adalah suatu proses interaksi yang terjadi antara seseorang
dengan orang lain untuk mendapatkan saling pengertian, kesadaran, dan kebutuhan psikologis
(O.U Effendi). Pengetahuan hubungan antar manusia dapat digunakan untuk memecahkan
berbagai masalah yang berhubungan dengan faktor manusia dalam manajemen. Beberapa prinsip
umum dari aspek hubungan antar manusia berlaku bagi setiap kejadian di mana dua atau lebih
orang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Hal ini terjadi juga dalam kegiatan audit
intern, antara auditor dan auditee. Beberapa prinsip tersebut yang kiranya berlaku dan
berpengaruh dalam kegiatan audit intern.
Apabila kita perhatikan, kegiatan itu menempatkan orang-orang yang saling berhubungan
dalam posisi tertentu dan khusus. Bila kedua pihak tak mampu membangun hubungannya secara
baik, maka pintu konflik yang berkepanjangan dan berakibat destruktif bagi organisasi makin
terbuka. Karenanya kita perlu menempatkan masalah ini pada proporsi yang benar, sehingga misi
kerja dari para auditor dan auditeenya dapat tercapai serta memberi kontribusi positif bagi
organisasi.
2. Hubungan kerjasama antara manajemen dan eksternal audit

Dalam beberapa hal, manajemen dan auditor eksternal memiliki kesamaan. Keduanya
merupakan profesi yang memainkan peran penting dalam tata kelola organisasi serta memiliki
kepentingan bersama dalam hal efektivitas pengendalian internal keuangan. Keduanya
diharapkan memiliki pengetahuan yang luas tentang bisnis, industri, dan risiko strategis yang
dihadapi oleh organisasi yang mereka layani. Dari sisi profesionalitas, keduanya juga memiliki
kode etik dan standar profesional yang ditetapkan oleh institusi profesional masing-masing yang
harus dipatuhi, serta sikap mental objektif dan posisi independen dari kegiatan yang mereka
audit. Namun, selain berbagai kesamaan tersebut,manajemen dan audit eksternal adalah dua
fungsi yang memiliki banyak pula perbedaan.
Mengidentifikasi Perbedaan antara Pemeriksaan Management Auditor dengan
Pemeriksaan Eksternal Auditor.

1. Perbedaan Misi

Tanggung jawab utama auditor eksternal adalah memberikan opini atas kewajaran
pelaporan keuangan organisasi, terutama dalam penyajian posisi keuangan dan hasil
operasi dalam suatu periode. Mereka juga menilai apakah laporan keuangan
organisasi disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara
umum, diterapkan secara konsisten dari periode ke periode, dan seterusnya. Opini ini
akan digunakan para pengguna laporan keuangan, baik di dalam organisasi terlebih di
luar organisasi, antara lain untuk melihat seberapa besar tingkat reliabilitas laporan
keuangan yang disajikan oleh organisasi tersebut. Sementara itu, tanggung jawab
utama auditor internal tidak terbatas pada pengendalian internal berkaitan dengan
tujuan reliabilitas pelaporan keuangan saja, namun juga melakukan evaluasi desain
dan implementasi pengendalian internal, manajemen risiko, dan governance
dalam pemastian pencapaian tujuan organisasi. Selain tujuan pelaporan keuangan,
auditor internal juga mengevaluasi efektivitas dan efisiensi serta kepatuhan aktivitas
organisasi terhadap ketentuan perundang-undangan dan kontrak, termasuk ketentuan-
ketentuan internal organisasi.

2. Perbedaan organisasional

Auditor Internal merupakan bagian integral dari organisasi di mana klien utama
mereka adalah manajemen dan dewan direksi dan dewan komisaris, termasuk komite-
komite yang ada. Biasanya auditor internal merupakan karyawan organisasi yang
berasngkutan. Meskipun dalam perkembangannya pada saat ini dimungkinkan untuk
dilakukan outsourcing atau co-sourcing internal auditor, namun sekurang-kurangnya
penanggung jawab aktivitas audit internal (CAE) tetaplah bagian integral dari
organisasi. Sebaliknya, auditor eksternal merupakan pihak ketiga alias bukan bagian
dari organisasi. Mereka melakukan penugasan berdasarkan kontrak yang diatur
dengan ketentuan perundang-udangan maupun standar profesional yang berlaku
untuk auditor eksternal.

3. Perbedaan pemberlakuan

Secara umum, fungsi audit internal tidak wajib bagi organisasi. Namun demikian
untuk perusahaan yang bergerak di industri tertentu, seperti perbankan, dan juga
perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia diwajibkan untuk
memiliki auditor internal. Perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) juga
diwajibkan untuk memiliki auditor internal. Sementara itu, pemberlakuan kewajiban
untuk dilakukan audit eksternal lebih luas dibandingkan audit internal. Perusahaan-
perusahaan yang listing, badan-badan sosial, hingga partai politik dalam keadaan-
keadaan tertentu diwajibkan oleh ketentuan perundang-undangan untuk dilakukan
audit eksternal.

4. Perbedaan kualifikasi

Kualifikasi yang diperlukan untuk seorang auditor internal tidak harus seorang
akuntan, namun juga teknisi, personil marketing, insinyur produksi, serta personil
yang memiliki pengetahuan dan pengalaman lainnya tentang operasi organisasi
sehingga memenuhi syarat untuk melakukan audit internal. Auditor Eksternal harus
memiliki kualifikasi akuntan yang mampu memahami dan menilai risiko terjadinya
errors dan irregularities, mendesain audit untuk memberikan keyakinan memadai
dalam mendeteksi kesalahan material, serta melaporkan temuan tersebut. Pada
kebanyakan negara, termasuk di Indonesia, auditor perusahaan publik harus menjadi
anggota badan profesional akuntan yang diakui oleh ketentuan perundang-undangan.

5. Perbedaan focus dan orientasi

Auditor internal lebih berorientasi ke masa depan, yaitu kejaidan-kejadian yang
diperkirakan akan terjadi, baik yang memiliki dampak positif (peluang) maupun
dampak negatif (risiko), serta bagaimana organisasi bersiap terhadap segala
kemungkinan pencapaian tujuannya. Sedangkan auditor eksternal terutama berfokus
pada akurasi dan bisa dipahaminya kejadian-kejadian historis sebagaimana
terefleksikan pada laporan keuangan organisasi.

6. Perbedaan timing

Auditor internal melakukan review terhadap aktivitas organisasi secara berkelanjutan,
sedangkan auditor eksternal biasanya melakukan secara periodik/tahunan.

3. Hubungan kerjasama antara manajemen auditor dengan auditee

Perlu kita fahami bahwa hubungan yang terjadi antara internal auditor dengan auditee-
nya adalah hubungan kerja biasa. Hubungannya seperti hubungan kerja antara satu bagian
dengan bagian lainnya. Hubungan ini mempunyai tujuan seperti apa yang diinginkan dalam
suatu perusahaan adalah menciptakan perusahaan yang sehat dan berkembang secara wajar.
Walaupun dari pihak auditee terdapat perbedaan sudut pandang tapi pada hakekatnya tujuannya
adalah sama.
Karena posisi Internal Auditor adalah Staf dari Pimpinan Puncak (Dirut). Ia tentunya diharapkan
memiliki pengetahuan dalam bidang :

Teknis operasional.
Teknis operasional auditing.
Hubungan antar manusia yang efektif.
Keberhasilan tugasnya secara konsepsional merupakan penjabaran dari apa yang dimilikinya itu.
Dengan demikian keberhasilan pelaksanaan tugasnya akan sangat dipengaruhi oleh :
1. Kemampuan mengolah masukan yang diperolehnya menjadi satu keluaran yang bermakna
2. Cara/metode/prosedur yang digunakan dalam pelaksanaan tugasnya.
3. Proses interaksi kerjasama yang terjadi antara dirinya dengan kelompok.
Jika diperhatikan faktor ke 3 itu, maka hubungan yang terjadi memang menjadi ikut berperan.
Apalagi kalau diperhatikan bahwa selalu ada kesan bahwa kegiatan audit seringkali disalah
artikan sebagai kegiatan untuk mencari kesalahan. Hal tersebut harus selalu dicoba untuk
disingkirkan dan diganti dengan pengertian yang lebih positif. Ini hanya bisa dibina jika terdapat
kerjasama yang efektif antara kedua pihak atau dapat dihindarkan timbulnya konflik yang
merugikan. Dengan demikian pembinaan hubungan antar auditor dengan auditee harus
didasarkan pada sasaran kepentingan bersama dalam posisi mereka sebagai anggota organisasi.
Perbedaan yang ada secara fungsional tidak boleh dijadikan titik tolak mempertentangkan posisi
dalam kegiatan mencapai sasaran tersebut. Hal ini dalam pelaksanaannya memang sulit, karena
pemahaman dari para pihak baik auditor maupun auditee yang sering kali punya persepsi yang
berbeda.
Tugas fungsional sedapat mungkin diusahakan hanya untuk mencari dan menyediakan
informasi secara obyektif. Khusus bagi Auditor, maka pengolahan dan penilaian hasil harus
didasarkan pada standar dan penilaian yang profesional sifatnya dan hal ini tentunya telah diatur
dalam pedoman kerja para auditor intern. Singkatnya hubungan antara Auditor dengan Auditee-
nya harus dikembangkan dalam bentuk hubungan kerja. Pendekatan yang digunakan berorientasi
pada pemecahan masalah dan pengambilan keputusan atas berbagai alternatif dengan orentasi
peningkatan/perbaikan bagi organisasi bank secara menyeluruh. Menempatkan hal-hal tersebut
dalam bentuk konsep seperti yang diuraikan diatas bukanlah perkara mudah. Perlu kematangan
kedua pihak buat memahami posisinya masing-masing dalam bentuk yang lebih konkrit.
Peranan internal auditor

1. Peran sebagai Problem Solver

Temuan Audit pada hakekatnya adalah problem. Internal Auditor harus mampu
menggunakan metode problem solving yang rasional sifatnya. Rangkaian proses
berfikir analisis yang standar perlu dikuasai secara mantap. Hal ini juga sangat
membantunya untuk cepat dalam mengambil kesimpulan/keputusan. Informasi yang
dikemukakan harus obyektif dan benar-benar merupakan fakta. Pengembangan
berbagai alternatif perbaikan harus mampu pula dihasilkannya dan dapat diterapkan
sesuai dengan kondisinya.Dalam kaitan ini maka sang auditor perlu memahami akar
permasalahan, serta mampu menganalisisnya, sehingga solusi yang direkomadasikan
menjadi valid. Disini auditor perlu memahami bagaimana bobot temuan yang menjadi
problem tersebut. Bagaimana intensitasnya. Dia perlu menilai siklusnya, akibatnya,
ramalan-ramalan kejadian sebagai akibat yang akan terjadi dari temuan tersebut. Jika
hal tersebut dilaksanakannya dengan baik, maka pemecahan konflik, yang tidak
mungkin dihindarkan akan dapat diselesaikan secara rasional dan memuaskan bagi
semua pihak.

2. Peran sebagai Conflict Resolution

Temuan audit yang ada dari pelaksanaan audit bisa menjurus pada timbulnya konflik
bila seorang auditor kurang mampu untuk menyelesaikannya dengan auditee. Konflik
itu sendiri adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok)
yang memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan. (Christ Mitchell, Thr Structur Of
International Conflict, Macmillan. London,1981, Bab 1).Dalam kaitan ini maka
masalah penyelarasan agar menjadi sejalan antara auditor dan auditee dalam
mencapai visi bank menjadi fokus utama. Penyelarasan ini berpijak pada visi
keinginan semua pihak di bank untuk melahirkan bank yang sehat dan berkembang
wajar adalah yang paling pokok. Dalam praktiknya konflik ini bisa dilalui dengan
jalan :

Menghindari
Membekukan
Dikonfrontasikan

Menghindari konflik, Auditor semacam ini cenderung menekan reaksi emosional &nb
sp; dengan mencari cara lain yang lebih enak atau bahkan mungkin dia minta pindah
atau keluar dari pekerjaan sebagai internal auditor. Hal ini dimungkinkan pula bila si
Auditor kurang punya kemampuan untuk bernegosiasi secara efektif. Meskipun
strategi menghindari bisa mengatasi persoalan, namun sifatnya sementara saja.
Karena pada kesempatan lain persoalan itu dapat timbul dan si auditor tetap tidak
dapat mengatasinya.

Membekukan konflik, ini adalah suatu taktik untuk menangguhkan tindakan. Strategi
ini bisa digunakan Auditor untuk mendinginkan situasi untuk sementara, sehingga
usaha untuk konfrontasi tetap tidak mungkin. Konfrontasi konflik, artinya atas
problem atau temuan ini langsung dikonfrontasikan dengan auditee. Konfrontasi bisa
dilakukan dengan dengan dua jalan : Dengan memakai kekerasan, misalnya dipaksa
dengan power dari Diektur Utama maka auditee harus melaksanakan rekomendasi
audit. Strategi ini dapat efektif, tapi auditee dapat merasa kalah. Bila merasa kalah
maka bisa timbul kebencian, kekhawatiran, bahkan menjurus pada kerugian. Dengan
memakai strategi negosiasi, Strategi ini kedua pihak bisa menang. Masing-masing
langkah akan mengundang masalahnya sendiri. Strategi Win-Win harus dipakai
sebagai dasar dalam kerangka pemecahan. Setiap kegiatan dan keputusan yang
diambil, dilakukan berdasar motif yang konstruktif sifatnya. Teknik-teknik seperti
kemampuan memahami orang lain, komunikasi dan juga negosiasi perlu dimiliki.

3. Peran interviewer

Komunikasi yang akan dilakukan oleh Auditor, sering kali dalam bentuk wawancara.
Tujuannya adalah mencari fakta dan bukan opini. Karena itu internal auditor harus
faham mengenai konteks dari wawancara yang dilakukan dan isi dari bahan yang
ingin dicarinya. Pola interogasi harus dihindarkan. Hal ini mungkin terjadi jika
keterampilan wawancara kurang dikuasai dan pewawancara kurang mampu menggali
persoalan dengan memotivasi auditee. Wawancara sebaiknya dimulai dengan
menentukan posisi kepercayaan (trust), baru kemudian diikuti dengan penetapan
berbagai aspek yang diperlukan dalam wawancara (positioning) dan dilanjutkan
dengan mengembangkan wawancara sendiri.

4. Peran Negosiator dan Komunikator

Kedua peran ini juga dijumpai pada saat melakukan auditing. Mungkin peran
komunikator akan lebih menonjol dibanding dengan negosiator. Dalam peran
negosiator, seseorang dituntut untuk terus menerus mampu menjual posisi auditor,
program sang auditor ataupun ide-ide -nya. Karena itu kriteria dan materi yang harus
disampaikan haruslah masuk akal. Sebaiknya jangan memandang remeh orang lain,
karena keberhasilan seorang negosiator adalah jika ia berhasil menciptakan kondisi
dimana semua fihak dapat terpenuhi keinginannya. Dalam peran komunikator, posisi
auditor agak berbeda. Ingatlah bahwa sebagian besar konflik dan ketidak setujuan itu
datangnya karena saling kurang fahamnya fihak-fihak yang berkepentingan.
Komunikasi bukan barang baru bagi kita. Tetapi mendapatkan yang efektif bukanlah
hal yang mudah.
4 . komunikasai dalam manajemen audit
Sebagai dasar melakukan koordinasi dan interaksi, komunikasi tak bisa dianggap remeh
dan kecil peranannya dalam sebuah organisasi. Makin ke depan, komunikasi makin menjadi
elemen terpenting dalam organisasi. Sering kali keberhasilan personal dan program sangat
tergantung dari keberhasilan komunikasi yang dilakukan para anggota dalam organisasi itu.
Selama kumunikasi berlangsung fahamilah lawan bicara. Tetapkan strategi atas reaksinya.
Jangan cepat-cepat sampai pada kesimpulan. Berpikirlah positif dan sikap yang terkendali
merupakan sarana penting yang harus kita jaga. Kuasailah bahan yang dibicarakan dan
berdasarkan pada fakta atas informasi nyata.
Komunikasi yang efektif antara auditor dan auditee merupakan suatu hal yang harus
dibina oleh auditor dan dipahami oleh auditee. Kontribusi kedua pihak untuk menjadikan
pekerjaannya bermanfaat bagi organisasi adalah merupakan titik awal bermulanya sukses bagi
semua pihak. Segala kendala yang terjadi bisa ditekan sedemikian rupa bila pemahaman bersama
telah terbentuk. Ini memang perjalanan yang perlu ditempuh para anggota organisasi dalam
mencapai kedewasaan.
KOMUNIKASI DENGAN MANAJEMEN SELAMA MASA AUDIT

Selama berlangsungnya audit, auditor melakukan pembicaraan dengan manajemen
mengenai berbagai hal yang mencakup berikut ini :
Pemahaman atas bisnis klien.
Rencana audit.
Dampak perundangan atau standar professional atas audit.
KESIMPULAN :




http://acong-private.blogspot.com/2012/02/perilaku-dalam-
manajemen-audit.html