Anda di halaman 1dari 13

15

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA




2.1 Gigi Tiruan Jembatan
Gigi tiruan jembatan adalah gigi tiruan sebagian yang dipasang atau dilekatkan
secara permanen dengan semen ke gigi-gigi asli, akar-akar gigi, dan/atau
penyangga implan yang melengkapi pendukung utama dari gigi tiruan.
4
Bagian-
bagian dari gigi tiruan jembatan adalah:
1. Retainer, yaitu bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan gigi
tiruan dengan gigi penyangga (abutment teeth), yang berfungsi untuk
menjaga agar gigi tiruan tetap stabil dan untuk menyalurkan beban kunyah
ke gigi tetangga.
2. Pontik, yaitu bagian dari gigi tiruan jembatan yang menggantikan gigi asli
yang hilang, berfungsi untuk mengembalikan fungsi stomatognatik dengan
memperhatikan hubungan dengan gigi penyangga dan gigi antagonisnya.
3. Konektor, yaitu bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan
pontik dan retainer, berfungsi sebagai splinting dan penyalur beban kunyah.
4. Gigi penyangga/abutment adalah gigi yang dapat memberi dukungan,
kestabilan, penjangkaran, atau retensi suatu protesa baik yang cekat maupun
yang lepasan, berfungsi untuk mendukung dan menopang protesa.


2.2 Prinsip Biomekanis Preparasi Gigi Tiruan
Preparasi gigi adalah pengambilan jaringan permukaan gigi dengan tujuan
untuk mendapatkan retensi, menghilangkan undercut, memberikan tempat bagi
bahan retainer, penyesuaian sumbu mahkota antar gigi penyangga untuk
mendapatkan arah pasang jembatan, dan memungkinkan pembentukan retainer
sesuai dengan bentuk anatomi.
9

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
16
Prinsip-prinsip biomekanis preparasi
10
adalah:
1. Pemeliharaan struktur gigi
2. Bentuk retensi dan resistensi
3. Daya tahan struktur restorasi
4. Integritas marginal
5. Pemeliharaan jaringan periodontal

2.2.1 Pemeliharaan Struktur Gigi
Selain menggantikan struktur gigi yang hilang, restorasi juga harus
dapat memelihara struktur gigi yang tersisa. J ika dengan pengambilan
sedikit jaringan sudah dapat menghasilkan restorasi yang kuat dan retentif,
maka reduksi minimal harus dilakukan. Tetapi bila dengan reduksi yang
minimal tidak memenuhi persyaratan retentif, maka reduksi dapat ditambah
agar persyaratan tersebut terpenuhi. Reduksi yang berlebihan dapat
menyebabkan hilangnya retensi dan resistensi, hipersensitivitas gigi
terhadap suhu, serta inflamasi dan nekrosis pulpa.
10


2.2.2 Bentuk Retensi dan Resistensi
Untuk mendapatkan hasil restorasi yang baik harus dibuat retensi pada
gigi harus dipreparasi sedemikian rupa agar bahan restorasi yang
digunakan dengan jaringan gigi dapat berkontak dengan baik. Oleh karena
itu, preparasi gigi membutuhkan retensi dan resistensi agar restorasi gigi
tidak mudah lepas dan bertahan lama dalam rongga mulut.
Retensi diperoleh dari tingkat kualitas preparasi yang dapat mencegah
terlepasnya gigi tiruan terhadap gaya-gaya yang berlawanan dengan arah
insersi.
5
Sedangkan resistensi adalah bentuk preparasi yang dibuat agar
mampu menahan gaya yang timbul pada waktu gigi tiruan berfungsi.
11
Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi adalah (1) preparasi, (2)
restorasi, (3) bahan sementasi.

Menurut Gabel
cit 12
, retensi terbaik didapat
pada preparasi dinding-dinding aksial yang sejajar/paralel satu sama lain.
Karena tidak mungkin menghasilkan preparasi yang sejajar, maka preparasi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
17
dibuat taper/miring untuk mencegah undercut. Terdapat dua faktor yang
mempengaruhi retensi dan retensi dalam preparasi,
11
yaitu faktor primer
dan faktor sekunder. Faktor primer berupa konvergensi, dimensi
oklusoservikal, dan luas permukaan. Sedangkan faktor sekundernya berupa
penambahan groove, box, pinhole, atau kombinasi ketiganya. Berikut
adalah faktor primer yang mempengaruhi retensi dan resistensi.

2.2.2.1 Konvergensi
Dinding aksial preparasi untuk kedudukan restorasi harus
berbentuk taper/miring. Hubungan antara sudut yang divergen
dengan sudut yang konvergen dapat digunakan untuk
menggambarkan hubungan masing-masing antara dinding
preparasi yang berlawanan. J orgensen dan Kaufman
cit 10
telah
melaporkan hasil penelitiannya tentang berkurangnya retensi
karena meningkatnya derajat konvergensi (Gambar 1). Besar
sudut konvergensi preparasi gigi harus dijaga seminimal mungkin
karena jika tidak maka hal tersebut dapat memberikan efek yang
merugikan untuk retensi. Namun ada beberapa gigi yang tidak
dapat dipreparasi dengan sudut konvergensi yang minimum. Gigi
molar, misalnya, permukaan mesial dan distalnya dapat
dipreparasi dengan sudut konvergensi yang kecil namun sulit
sekali untuk mendapatkan sudut konvergensi yang sempit pada
permukaan bukal dan lingualnya.
13

Gambar 1. Terdapat hubungan antara konvergensi dan retensi: jika konvergensi
meningkat, maka retensi berkurang.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
18
(Gambar diambil dari Shillingburg HT, Hobo S, Whitsett LD, et al.
11
)


Secara teoritis, retensi maksimum dapat diperoleh jika
preparasi gigi memiliki dinding aksial yang sejajar. Tetapi, tidak
mudah untuk mendapatkan kesejajaran dalam preparasi. Sedikit
undercut mungkin akan terbentuk yang nantinya dapat
menyulitkan proses insersi. Undercut didefinisikan sebagai
sebuah divergensi antar dua dinding aksial yang berlawanan
dalam arah oklusoservikal (Gambar 2). Kecembungan di daerah
servikal yang sulit terdeteksi juga dapat merupakan suatu
undercut. Dinding mesial preparasi gigi dapat menjadi undercut
terhadap dinding distal, selain itu dinding bukal dapat menjadi
undercut terhadap dinding lingual.
14
Sudut kemiringan yang
terlalu kecil dapat menimbulkan undercut yang tidak diharapkan,
tetapi apabila terlalu besar maka akan menurunkan retensi dari
restorasi. Pada kenyataannya, sulit sekali untuk mendapatkan
sudut kemiringan yang ideal di dalam mulut tanpa membuat
undercut dan merusak gigi tetangga. Selain itu, mata manusia
tidak dapat mendeteksi perbedaan sudut preparasi dalam derajat
yang kecil. Apabila preparasi aksial yang telah dibuat terlalu
konvergen, maka dapat diperbaiki dengan cara membentuk
groove bukal dan lingual.
13


Gambar 2. Perbedaan undercut dengan taper/konvergen. Undercut terbentuk jika
terdapat divergensi antara kedua dinding aksial yang berlawanan.
(Gambar diambil dari http://student.ahc.umn.edu/dental/2009/files/Pros/BMP.pdf)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
19

Axial Inclination (AI) merujuk pada sudut dinding preparasi
terhadap sumbu aksis gigi sedangkan Convergence Angle (CA)
atau Total Occlusal Convergence (TOC) merujuk pada sudut
antara sisi yang berlawanan dari preparasi. J umlah nilai AI dari 2
dinding yang berlawanan sama dengan CA atau TOC. J ika
preparasi yang dihasilkan simetris, maka nilai TOC/CA adalah
dua kali nilai AI.
15
Banyak pakar yang merekomendasikan nilai
sudut konvergensi. Malone et al
cit 15
merekomendasikan 5 hingga
10 derajat untuk AI ( =10 hingga 20 derajat sudut konvergensi).
Dykema et al
cit 15
merekomendasikan 3 hingga 5 derajat untuk
sudut konvergensi. Rosenstiel et al
cit 15
merekomendasikan 6
derajat untuk sudut konvergensi. Wilson dan Chan
cit 16
, pada
tahun 1994, merekomendasikan bahwa retensi maksimal terjadi
antara 6-12 derajat konvergensi. Pada banyak penelitian biasanya
digunakan diagram untuk mengevaluasi derajat konvergensi
(Gambar 3). Gambar 4 menunjukkan kemiringan yang
direkomendasikan untuk menghasilkan retensi maksimal yaitu 6
untuk tiap dinding aksial.



Gambar 3. Diagram untuk proses evaluasi derajat konvergensi dari dinding-dinding
aksial (TOC 5, 10, 15, 20, dan 25).
(Gambar diambil dari http://student.ahc.umn.edu/dental/2009/files/Pros/BMP.pdf.)



Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
20


Gambar 4. Kemiringan ideal, yaitu 6, dianalogikan sama dengan satu detik pada jam
tangan.
(Gambar diambil dari http://student.ahc.umn.edu/dental/2009/files/Pros/BMP.pdf.)


Pandangan oklusal biasanya digunakan untuk menilai
konvergensi tetapi terbatas pada penentuan berapa besar sudut
konvergensi yang terbentuk. Untuk itu, saat preparasi gigi,
disarankan untuk menggunakan kaca mulut sehingga aspek fasial
dan lingual dari gigi yang dipreparasi dapat terlihat jelas. Aspek
fasial dan lingual merupakan aspek yang paling efektif dalam
menilai derajat konvergensi karena sudut konvergensi pada
permukaan mesial dan distal dapat dilihat langsung.
16

Dodge et al
cit 16
melakukan percobaan terhadap daya tahan
dari mahkota tiruan yang disemenkan ke gigi terhadap gaya yang
menyebabkan tipping dengan TOC 10, 16, dan 22 dengan
dimensi oklusoservikal 3,5 mm dan diameter 10 mm. Mereka
melaporkan bahwa sudut konvergensi 22 menghasilkan
resistensi yang tidak adekuat dan tidak ada perbedaan antara
resistensi dari sudut konvergensi 10 dan 16. Mereka
menyimpulkan bahwa 16 TOC merupakan sudut yang paling
optimal dari tiga tes tersebut karena pada prakteknya sudut
konvergensi 10 tidak mudah dihasilkan.

2.2.2.2 Tinggi Servikooklusal/Servikoinsisal
16

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
21
Tinggi servikooklusal sangat penting untuk retensi dan
resistensi. Preparasi yang lebih panjang akan memiliki luas
permukaan yang besar sehingga lebih retentif. Dinding aksial
yang tinggi akan memberikan resistensi yang baik untuk mahkota
(Gambar 5A), sedangkan dinding aksial yang pendek tidak
mempunyai resistensi yang baik (Gambar 5B). Dinding preparasi
yang pendek harus memiliki derajat kemiringan yang kecil untuk
meningkatkan retensi. Preparasi untuk dinding aksial yang pendek
mungkin dapat berhasil jika dilakukan pada gigi dengan
diameter/keliling kecil. Preparasi pada gigi dengan diameter kecil
akan mempunyai radius rotasi yang lebih pendek untuk
pergeseran lengkung. Resistensi pada preparasi dinding aksial
yang pendek dengan diameter gigi yang besar dapat ditambah
dengan penempatan groove pada dinding aksial.
10
Parker et al
cit 16
mengindikasikan bahwa resistensi yang cukup
dapat dihasilkan pada preparasi molar dengan diameter 10 mm
dengan tinggi servikooklusal 3 mm serta sudut konvergensi
17,4. Preparasi dengan tinggi 1 dan 2 mm dan diameter 10 mm
membutuhkan sudut konvergensi antara 5,8-11,6.
Maxwell et al
cit 16
melakukan percobaan terhadap resistensi
mahkota tiruan dengan tinggi servikooklusal 1, 2, 3, dan 5 mm
dan sudut konvergensi minimal (6 derajat). Mereka
menyimpulkan bahwa tinggi servikooklusal 3 mm merupakan
yang paling minimal untuk menghasilkan resistensi yang
cukup/adekuat untuk mahkota tiruan dengan ukuran gigi insisif
rahang atas dan premolar rahang bawah.

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
22

Gambar 5. Preparasi dengan dinding yang panjang (A) kemungkinan terjadi
pergeseran tipping dari restorasi lebih kecil dari preparasi yang pendek (B)
(Gambar diambil dari Shillingburg HT, Hobo S, Whitsett LD, et al.
10
)


2.2.2.3 Luas Permukaan
11

Terdapat hubungan langsung antara luas permukaan dengan
potensi retensi dan resistensi dari retainer. Semakin besar
diameter servikal gigi, semakin besar luas permukaan yang
tersedia untuk preparasi. Dengan demikian, semakin besar
lingkar/keliling gigi, semakin besar kemungkinan retainer untuk
lepas. Oleh karena itu, dengan meningkatnya keliling/lingkar gigi
maka perlu penambahan tinggi dinding-dinding aksial, sehingga
retensi dan resistensi akan meningkat.

2.2.3 Durabilitas/Daya Tahan Restorasi
Bahan restorasi yang akan digunakan harus dapat menutupi seluruh
ruang pada preparasi gigi agar didapatkan keadaan yang harmonis dan
kontur aksial yang normal. Bahan restorasi harus cukup rigid, tidak lentur.
J ika bahan restorasi tidak rigid, maka lapisan semen pada tepi restorasi
akan terpisah dan pada akhirnya semen akan larut menghilangkan
perlekatan antara bahan restorasi dengan permukaan gigi yang pada tahap
lebih lanjut dapat menimbulkan karies gigi.
17
Di bawah ini akan dijelaskan
hal-hal dalam preparasi yang mempengaruhi daya tahan restorasi.

2.2.3.1 Reduksi Oklusal
Reduksi oklusal diperlukan untuk menjaga ketahanan dari
bahan restorasi, misalnya metal. Untuk restorasi emas, reduksi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
23
oklusal pada cusp fungsional (cusp lingual pada premolar dan
molar maksila, cusp bukal pada premolar dan molar mandibula)
adalah berjarak 1,5 mm. Sedangkan untuk cusp non-fungsional
reduksi cukup dilakukan sekitar 1 mm.
10

Untuk metal keramik, reduksi oklusal pad cusp fungsional
sekitar 1,5-2 mm, sedangkan untuk cusp non-fungsional sekitar 1-
1,5 mm. J ika restorasi yang digunakan adalah all-ceramic, maka
jaringan yang direduksi pada semua permukaan adalah sekitar 2
mm (Gambar 7B).
10

2.2.3.2 Bevel pada Cusp Fungsional
Cusp fungsional pada gigi posterior harus dibevel sebagai
antisipasi dalam menahan tekanan oklusal. Bevel dibuat dengan
cara memperluas reduksi oklusal dan dibuat mengelilingi sudut
garis oklusal (Gambar 6).
17




Gambar 6. Bevel dibuat di sudut oklusal yang telah dipreparasi sebelumnya.
(Gambar diambil dari http://student.ahc.umn.edu/dental/2009/files/Pros/BMP.pdf.)

2.2.3.3 Reduksi Aksial
Reduksi aksial penting untuk menambah ketebalan bagi bahan
restorasi agar retensi menjadi cukup. J ika reduksi aksial kurang,
maka akan terjadi distorsi dari bahan restorasi yang pada akhirnya
akan menyebabkan kegagalan perawatan.
10
Reduksi aksial yang
direkomendasikan adalah sekitar 1,5 mm (Gambar 7B).

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
24


A. PREPARASI MAHKOTA ANTERIOR



B. PREPARASI MAHKOTA POSTERIOR

Gambar 7. Reduksi yang dilakukan pada gigi anterior (A) dan posterior (B) pada
pembuatan crown.
(Gambar diambil dari http://www.aurumgroup.com/english/aurum ceramicclassic/
crownbridge/prepcement/ipsempressprep.htm)



2.2.4 Integritas Marginal
Restorasi yang baik harus memiliki integritas marginal/tepi yang
adekuat. Terdapat tiga syarat untuk mendapatkan tepi restorasi yang
sukses:
17

1. Tepi restorasi harus fit/pas saat dipasang pada finish line dari
preparasi untuk mencegah semen larut.
2. Tepi restorasi harus memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan
gaya-gaya mastikasi.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
25
3. J ika memungkinkan, tepi restorasi ditempatkan pada area di mana
dokter gigi dapat dengan jelas memeriksa dan pasien dapat
membersihkannya dengan baik.

2.2.5 Pemeliharaan Jaringan Periodontal
Persepsi tradisional menyatakan bahwa gigi berlubang tidak terjadi
pada tepi restorasi subgingival selama mereka ditutupi oleh gingiva yang
sehat (GV Black, 1891). Tetapi dari penelitian-penelitian modern yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa penempatan tepi restorasi pada
subgingival dapat mengakibatkan gingiva yang tidak sehat. Hal ini
disebabkan karena peningkatan bakteri gram negatif (gangguan
keseimbangan mikroorganisme), iritasi, dan retensi plak. Dari penelitian-
penelitian modern tersebut, sangat disarankan untuk menempatkan tepi
restorasi pada supragingival jika memungkinkan.
17



2.3 Visualisasi dan Evaluasi Derajat Kemiringan
18

Menghasilkan preparasi gigi yang optimal membutuhkan akses visual yang
baik. Penggunaan fiberoptic handpiece lights (Gambar 8) dan sejumlah cahaya
yang mengarah ke rongga mulut dari arah-arah yang berbeda sangat membantu
dalam penglihatan. Selain itu, asisten yang mampu membuang cairan dalam mulut,
meretraksi jaringan lunak yang mengganggu penglihatan, dan menyesuaikan
cahaya saat dokter gigi mengubah pandangannya merupakan hal yang mendukung
dalam menghasilkan preparasi gigi yang baik.
Walaupun beberapa area dari gigi yang dipreparasi dapat dilihat secara
langsung, penglihatan tidak langsung/indirect dari kaca mulut kadang menjadi
satu-satunya cara untuk menilai apakah reduksi gigi yang diinginkan telah
tercapai. Derajat kemiringan preparasi dari gigi penyangga secara individual, dan
hubungannya ke gigi penyangga yang lain, serta jalur insersi, sering hanya dapat
dinilai melalui kaca mulut. Penggunaan kaca mulut berukuran besar dapat
membantu melihat gigi-gigi penyangga secara bersamaan dan lebih dapat
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
26
diandalkan daripada menggeser kaca mulut berukuran kecil dari satu gigi ke gigi
yang lain.




Gambar 8. Fiberoptic handpiece lights
(Gambar diambil dari Martanto, P
9
)



















2.4 Kerangka Teori

Gigi penyangga
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia
27






















Prinsip biomekanis preparasi

Retensi dan resistensi yang baik
Restorasi optimal
Bentuk retensi dan resistensi
Sudut konvergensi ideal
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia