Anda di halaman 1dari 6

Laporan Dialog Interaktif

Nama acara : Kick Andy


Yang menayangkan : Metro
TV
Pembawa acara : Andy F. Noya
Narasumber :
- Karina de Vega (pemilik Panti Asuhan Eklesia)
- Fredollin Djoebere (finalis Idola Cilik II, penghuni Panti Asuhan Eklesia)
- Martin (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
- Maria Fransiska Bira (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
- M. Agus Gofurur Rochim (pemimpin Pondok Pesantren Madinnatunajah)
- Ardian Malawat (murid di Madinnatunajah)
- Yusuf (murid di Madinnatunajah)
- Agustina / Stien (pendiri Panti Asuhan Pniel)
- Emma Rachel (penghuni Panti Asuhan Pniel)
- Jelvan (penghuni Panti Asuhan Pniel)
- Arba (pengelola Panti Asuhan Al-Habibah)
- Ichsan Malik (aktivis perdamaian)
- Fitri Fausiah (psikolog lulusan UI)
Waktu penayangan :Jumat, 24 Juli 2009 Pukul 21.30 23.00
Topik : Anak anak Korban Konflik di Ambon
Isi dialog :
Fredollin Djoebere, atau biasanya dipanggil Olin, menceritakan pengalaman hidupnya saat
terjadi konflik besar di Ambon. Saat itu Olin masih kecil ketika konflik terjadi. Ia terpaksa kabur
ke hutan dan tinggal di sana selama 2 bulan, tetapi akhirnya dipindahkan ke barak pengungsian.
Perjuangan Olin tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengaku sering bernyanyi saat hujan deras
di malam hari untuk mengabaikan rasa lapar. Ia berbuat seperti itu karena bila ia bernyanyi
lantang untuk mengalahkan suara hujan, ia akan kelelahan dan tertidur, sehingga rasa lapar
terlupakan. Akhirnya Olin dan teman temannya ditemukan oleh Ibu Karina de Vega, yang
memang membangun panti asuhan untuk melindungi dan merawat anak-anak korban konflik di
Ambon. Olin telah berjanji untuk tidak pernah menyerah dalam menggapai mimpinya dan ia pun
meraih kesuksesan. Dengan usaha dan kemauan yang kuat, Olin telah berhasil mendapatkan
peringkat 10 di acara Idola Cilik II, mengalahkan lebih dari 12.000 anak lainnya.
Selain Olin, Martin, yang juga merupakan anak asuh Ibu Karina, memiliki kenangan yang sangat
buruk dalam peristiwa konflik di Ambon. Ia menyaksikan ibunya ditembak di depan matanya
sendiri. Awalnya ia sempat merasakan dendam yang sangat mendalam, tetapi dengan bimbingan
Ibu Karina ia percaya bahwa ia harus mengampuni orang lain. Martin mengatakan bahwa ia akan
belajar keras agar menjadi orang sukses, lalu ia akan kembali ke Ambon untuk membangun
tempat kelahirannya itu.
Ibu Karina juga ikut menceritakan pengalamannya bersama anak-anak asuhnya. Pada saat awal
ia mulai merawat anak anak korban konflik tersebut, ia menyadari banyak di antara mereka
yang terluka secara fisik. Ada yang telinganya menjadi tuli dan banyak anak yang terkena
serpihan bom. Ia menyatakan bahwa anak anak yang terkena serpihan bom itu awalnya baik
baik saja, tetapi lama kelamaan mulai mengeluh bahwa beberapa bagian tubuh mereka sakit.
Untungnya ia segera membawa mereka ke dokter dan mereka semua bisa disembuhkan. Sampai
sekarang ia masih merawat dan mendidik mereka agar kelak mereka dapat menjadi orang yang
baik. Ia berpesan bahwa untuk berbuat baik kita tidak perlu menjadi orang kaya, yang penting
kita tulus dan ihklas dalam membantu orang lain.
Menurut Bapak Ichsan Malik yang merupakan seorang aktivis perdamaian, pemicu konflik di
Ambon saat itu adalah Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi. Keadaan ekonomi
sedang tidak stabil dan akhirnya muncul ricuh di mana mana. Ia mengatakan bahwa untuk
mencegah hal semacam itu terulang lagi, masyarakat harus belajar untuk menghargai perbedaan
dan meningkatkan integrasi bersama.
Lalu ada juga cerita lain dari Ibu Agustina (biasanya dipanggil Ibu Stien). Pertama kali ia
mendirikan Panti Asuhan Pniel dengan tujuan menampung anak anak korban konflik di
Ambon. Namun begitu panti asuhan mulai berjalan, ia sempat merasa putus asa dan hampir
menyerah karena anak anak itu begitu sulit untuk diatur dan tidak berdisiplin. Padahal ia sudah
berpengalaman dalam bidang tersebut karena ia juga memiliki panti jompo. Tetapi akhirnya
seiring dengan berjalannya waktu anak anak itu sudah bersikap lebih baik. Mereka mengisi
waktu luang mereka dengan bernyanyi dan bermain musik, dan kelompok paduan suara mereka
pernah tampil dalam kampanye Megawati-Prabowo belum lama ini. Semua anak yang pernah
menjadi korban konflik yang hadir di situ mendambakan perdamaian agar tak ada lagi yang
memiliki pengalaman pahit seperti mereka.
Penilaian :
a) Acara : Acara Kick Andy selalu memberikan inspirasi bagi orang orang
yang menontonnya. Topiknya juga tidak membosankan dan disajikan dengan data yang jelas,
lengkap dengan para narasumber dan pakar di bidang yang sedang dibahas. Saya mendapat
banyak pengetahuan dari menonton acara ini, contohnya tentang kasus kematian David, seorang
murid di sekolah NTU, Singapur. Juga mengenai derita yang dialami anak anak yang
mengalami korban konflik di Indonesia dan berbagai informasi lainnya.
b) Pembawa acara : Menurut saya, Pak Andy itu berkarisma dan pintar bertanya pada
para narasumbernya untuk mendapatkan informasi. Penontonnya menjadi mengerti akan masalah
yang dibicarakan dan apa yang dialami para narasumber. Ia juga membawakan acara dengan
santai seperti berbincang bincang dengan teman, sehingga para narasumbernya tidak terlalu
tegang dan gugup.
c) Narasumber : Semua anak yang diundang dalam acara Kick Andy kali ini memiliki
cita cita dan mimpi yang mulia; mereka ingin membangun kembali Ambon dan mereka
menginginkan perdamaian. Mereka tak mau melihat orang lain menderita seperti mereka karena
mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Mereka telah
membuktikan bahwa mereka pun mampu meraih prestasi gemilang dan menjadi pribadi yang
utuh walau kehidupan tak selalu adil pada mereka.
d) Isi : Secara keseluruhan, acara ini sangat baik untuk disaksikan menurut
saya. Kick Andy ditampilkan dengan menarik dan dapat membuka mata kita akan apa yang
sebenarnya terjadi di sekitar kita. Acaranya juga tidak hanya wawancara terus, kadang diselingi
lagu lagu (seperti penampilan paduan suara dalam acara kali ini) sehingga penontonnya tidak
bosan.
Nilai hidup :
1. Konflik dan perang hanya akan membawa penderitaan.
2. Jangan pernah menyerah walau pun keadaan dan lingkungan sangat tidak mendukung,
sebab bila kita terus berusaha, kita bisa meraih kesuksesan kelak.

Dalam naskah dialog interktif, kita harus pakai prinsip 5 W, 1 H(what,who,when,where,why,how) yang
berarti ; apa yang didialogkan,siapa yang berdialog,kapan dialog dilakukan,dimana dialog
dilakukan ,kenapa dialog dilakukan,dan bagaimana dialog dilakukan. jadi semuanya itu harus ada di
dialog. Pokoknya mirip latar,tokoh,waktu dan isi naskah. Harus detail.
Contoh:
Indra " Selamat siang, bu Sila!"
B.Sila : " Ya, selamat siang Indra , ada apa kemari tergesa-gesa ke rumah saya?"
Indra : " Begini bu, apa ada SIska? Tadi dia meninggalkan buku catatan bahasanya di kelas.. "
B.Sila : " Oh, kok bisa? coba saya panggil siska...sebentar ya, ayo masuk!"
Indra : " baik bu."
(Siska pun keluar)
Siska :" eh indra, ada apa?"
indra: ini bukumu ketinggalan nih dikelas!"
Siska : " oh iya!, dari tadi aku cari-cari, kupikir hilang!"
B.Sila: gimana sih siska, jadi merepotkan orang kan? bilang apa ayo
Siska: eh iya terimakasih ya Indra..!!
(tiba-tiba seorang bapak-bapak datang)
Siska: ah, ayah sudah pulang? tumben cepat!
Indra,: selamat siang pak!, nama saya Indra..
Pak Ole: selamat siang juga nama saya pak ole. ada apa ini?
B,Sila: ini loh yah, si siska meninggalkan buku catatannya di kelas, terus indra langsung
mengantarkannya, padahal rumahnya kan jauh.
PAK ole : wah, baik sekali indra, maaf ya jadi repot gara-gara anak saya yang teledor.
siska : ih ayahh
Indra : tidak apa apa kok pak, soalnya besok ada ulangan bahasa jadi haru diantarkan secepat cepat nya.
P.ole : oh baiklah saya masuk kedalam dulu ya
Indra : silahkan pak! oh iya siska aku pulang dulu ya, takutanya nanti dimarahi nih
Siska : oh ok deh makasih banyak ya indra, dahh
b.sila : iya, terimakasih indra, kapan kapan datang main ya
indra : iya bu, terima kasih, dah siska!

Berikut adalah contoh dialog interaktif ditelevisi
Tema dialog : Budi Daya Tanaman Adenium.
Narasumber : Pakar tanaman adenium dari tabloid Agrobis
Narasumber : Hal-hal yang perlu disiapkan untuk membudidayakan tanaman hias
adenium adalah menyiapkan bibit tanaman adenium; manyiapkan media yang sesuai
dengan tanaman adenium; mempelajari sifat-sifat tanaman adenium; memahami cara
perawatan tanaman adenium.
Peserta 1 : Saya pemula tanaman adenium. Bagaimana cara mempercepat percabangan
tanaman adenium?
Narasumber : Cara mempercepat percabangan tanaman adenium biasanya dengan
pemotongan batang atau pruning. Untuk mendapatkan percabangan yang bagus, anda
perlu memerhatikan mata tumbuh pada batang agar cabang yang tumbuh tidak asal-
asalan. Untuk pembangunan akar lebih cepat jika kebutuhan akan sinar matahari
terpenuhi dengan cukup. Pada musim kemarau, anda dapat memberikan pupuk
pembungaan yang slow release, misalnya dekastar dan jangan terlalu banyak melakukan
penyiraman.
Peserta 2 : Saya penggemar tanaman adenium. Kapan keluar kalender dan poster tentang
tanaman adenium?
Narasumber : tunggu saja waktu yang tepat.
Kesimpulan dialog
Untuk membudidayakan adenium diperlukan ketelatenan serta pengetahuan tentang sifat-
sifat serta cara merawat taanaman tersebut.
Komentar
Tema pembudidayaan tanaman hias adenium sangat berguna bagi para penggemar
tanaman adenium.
Narasumber memberikan tanggapan serta jawaban dengan jelas dan rinci.
Peserta 1 menanyakan hal relevan dengan tema dialog.
Peserta 2 menanyakan hal tidak revelan dengan tema dialog.
8. Dialog interaktif di televisi seperti contoh di atas juga disebut talk show. Acara ini
dilakukan secara langsung., yaitu antara narasumber dan peserta berhadapan langsung
dipandu dengan presenter atau moderator.
9. Dialog interaktif di radio atau televisi juga dapat dilakukan melalui telepon.
Berikut adalah contoh dialog interaktif yang dilakukan melalui telepon dan disiarkan melalu
stasiun radio.
Tema : Narkoba Lebih dari Sekadar Khamar
Narasumber : A. Saefullah M.A.
Adakah defnisi spesifik mengenai narkoba dalam Islam ?
Definisi mengenai narkoba dalam Alquran tidak ada, karena memang Alquran itu bukan
kitab mengatur secara detail satu per satu. Tapi, persoalan narkoba dapat didekati melalui
pendekatan qiyas, yakni satu kasus yang tidak ada nash-nya dalam Alquran dicarikan
padanan kasusnya yang ada nash-nya dalam Alquran. Hal itu dilakukan dengan melihat ilat
(motivasi hokum) yang sama, yakni sama-sama membahayakan. Narkoba bisa digolongkan
dalam khamar, namun dampak negative narkoba lebih berbahaya daripada khamar.
Bagaimana pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba?
Banyak langkah yang bisa dilakukan. Antara lain, melalui bimbingan agama atau dakwah,
terutama oleh pihak-pihak yang terkait dengan persoalan narkoba. Dalam konsep Islam lebih
besifat sinergi keserasian jasmani dan rohani. Kalau jiwa sehat, tubuh sehat. Dalam masalah
narkoba lebih kepada konsep pencegahan daripada sanksi. Memang sanksi hukum Islam itu
berat, tapi sebenarnya Islam lebih kepada pencegahan.
Untuk kondisi di Indonesia, apa yang bisa dilakukan?
Indonesia perlu merevisi UU No. 22/1997 tentang narkotika dan UU No. 5/1997 tentang
psikotropika. Perbaikan itu terutama di bagian sanksi hokum pidana terhadap pemakai,
pecandu, dan pengedar narkoba.
Anda tampaknya tertarik pada masalah narkoba, ada pengalaman sebelumnya?
Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Pertama, saya pernah jadi
pembina Terapi Ilahiah terhadap pecandu narkoba di Cipanas, Jawa Barat, tahun 2000-an.
Waktu itu ada sekitar 50 pasien yang kebanyakan merupakan pelajar dan mahasiswa. Saya
perhatikan, ternyata para pecandu narkoba itu umumnya adalah orang-orang yang tidak
paham agama.
Kedua, penyalahgunaan narkoba tidak hanya orang dewasa, tapi anak-anak dan remaja.
Bahkan, belakangan ini anak-anak SD pun banyak yang terkena narkoba. Hal ini
menimbulkan keprihatinan. Ketiga, putus hukum yang menggunakan hukum positif di
Indonesia banyak yang tidak sesuai lagi dibandingkan dengan perkembangan dan rasa
keadilan di Indonesia. Misalnya, memilik pabrik ekstasi di Tangerang yang menghasilkan 1,8
juta butir ekstasi per bulan hanya dijatuhi hukuman 3 bulan 28 hari. Kemudian, para pecandu
ternyata di penjara mendapat pelajaran baru tentang narkoba.
Selain itu, fakta menunjukkan banyak pengedar narkoba tetap mampu menjalankan bisnisnya
dari dalam penjara. Apakah hukum yang salah atau para oknum pejabat berwenang yang
menangani kasus-kasus narkoba tersebut yang tidak benar. Karena itu, perlu ada alternatif
hukum sebagai solusi responsif dan antisipatif terhadap perkembangan masyarakat di
Indonesia, khasusnya terkait dengan masalah narkoba.