Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam undang-undang kesehatan disebutkan bahwa setiap orang mempunyai
hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Pada tahun 2000
di indonesia telah dicanangkan program WHO Vision 2020, the right to sight. Setiap
orang memperoleh hak untuk penglihatan yang optimal pada tahun 2020 dengan
mengeliminasi kebutaan yang dapat dicegah. dalam rangka mewujudkannya
diperlukan data gangguan mata, salah satunya yang mengenai kornea berupa parut
kornea (sikatrik kornea).
kornea merupakan bagian mata yang licin mengkilat, transparan dan tembul
cahaya yangmenutup bola mata bagian depan. kornea tidak mempunyai pembuluh
darah sehingga nutrisinya berasal dari homor aquous dan oksigen dari luar. secara
anatomis kornea terdiri dari lima lapisan, yaitu: epitel, membran bowman, stroma,
membran descement dan endotel. sikatrik kornea dapat menimbulkan gangguan
penglihatan mulai dari kabur sampai dengan kebutaan. gejala klinik ditemui dalam
katagori ringan disebut nebula, kekeruhannya halus dan sukar terlihat dengan senter.
katagori sedang berbentuk makula, kekeruhannya berwarna putih berbatas tegas
mudah terlihat dengan senter sedangkan sikatrik berat disebut leukoma kekeruhanya
berwarna putih padat terlihat jelas oleh mata.
gangguan mata yang mengenai kornea dapat menyebabkan kebutaan.
kebutaan kornea biasanya mengenai usia produktif berbeda dengan katarak yang
terkena pada usia tua. kebutaan kornea merupakan penyebab kebutaan kedua didunia
setelah katarak. Prevalensi kebutaan kornea bervariasi dari satu negara ke negara lain
tergantung dari penyakit mata endemik yang pernah terjadi. Prevalensi kebutaan
kornea dapat disebabkan oleh: infeksi terutama trakoma dan lepra, selain itu dapat
2

juga disebabkan oleh onkosersiasis dan oftalmia neonatorum. selain itu faktor nutrisi
terutama defisiensi vitamin A dapat menimbulkan pelunakan dari kornea yang fase
penyembuhannya membentuk sikatrik kornea. Namun dengan berhasilnya Program
kesehatan Masyarakat dalam mengontrol infeksi trakoma dan defisiensi vitamin A
maka terjadi penurunan kebutaan karena penyakit tersebut. saat ini sikatrik kornea
terjadi disebabkan oleh trauma berupa trauma tajam, tumpul dan kimia. selain itu
infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan protozoa yang tidak tertangani
dengan baik cenderung menjadi ulkus kornea dan juga komplikasi dari penggunaan
obat-obat mata secara tradisional. infeksi tidak tertangani dengan baik dapat terjadi
ulku! kornea, ulkus dapat mencapai sampai kelapisan stroma kornea akibat dari
penyembuhannya terbentuk sikatrik kornea berupa kekeruhan kornea sehingga tajam
penglihatan dapat menurun. Penurunan tajam penglihatan sangat ditentukan oleh
letak, luas, serta kepadatan jaringan sikatrik yang terjadi, irregularitas permukaan
kornea dan cekungan yang terjadi. bila sikatrik kornea telah mengganggu penglihatan
tidak ada pengobatan yang dapat dilakukan kecuali keratoplasti atau pencangkokan
kornea, hal ini juga tidak mudah karena membutuhkan waktu sebab donor kornea
masih sulit didapat.
Prevalensi sikatrik kornea pada kedua mata tertinggi di Provinsi sumbar 2.5%,
terendah di Provinsi sumut, kepulauan Riau, Provinsi DKI Jakarta, Papua Barat dan
Papua (0.3%). Prevalensi sikatrik kornea pada salah satu mata tertinggi di Provinsi DI
yogyakarta dan Provinsi Sulawesi Tengah (0,9%), terendah di Provinsi DKI Jakarta
dan kepulauan Riau (0.1%). Prevalensi sikatrik kornea pada dua mata maupun satu
mata terendah dijumpai pada kelomp+k umur 20-29 tahun (0.1%). sedangkan
prevalensi tertinggi ditemui pada kelompok umur 75 tahun (8.7%). sikatrik kornea
dua mata dan sikatrik kornea satu mata berdasar gender hampir sama prevalensinya,
sedangkan menurut pekerjaan tertinggi pada petani (1.8%) dan terendah pada pekerja
di sector swasta (0.4%) lebih tinggi pada kelompok yang tidak bersekolah (4.1%)
dan terendah pada kelompok pendidikan tamat SLTA (0.4%) lebih tinggi di pedesaan
baik dua mata (1.2%) maupun satu mata (0.6%) dibanding perkotaan. Prevalensi
3

sikatrik kornea dua mata (1.1%) lebih tinggi ditemui pada tingkat pengeluran rumah
tangga yang rendah sedangkan sikatrik kornea pada satu mata (0.4%) persentasenya
lebih rendah pada tingkat pengeluran rumah tangga yang tinggi. -gangguan
penglihatan berat (10.4%) kebutaan (9.8%).

















4

BAB II

ISI

2.1. Anatomi dan Fisiologi
kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal
sebuah jam tangan kecil. kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung
melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. kornea dewasa rata-rata
mempunyai tebal 0.54 mm di tengah, sekitar 0.65 di tepi, dan diameternya sekitar
11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-
beda: lapisan epitel yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris, lapisan
bowman, stroma, membran descement, dan lapisan endotel. batas antara sklera dan
kornea disebut limbus kornea. kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan
refraksi sebesar + 43 dioptri. kalau kornea udem karena suatu sebab, maka kornea
juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan
melihat halo.



Gambar 1. Anatomi kornea



5

kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam:
1. Lapisan Epitel
Tebalnya 52 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mito!is sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi
lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan
erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom
dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa
yang merupakan barrier.
sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. bila terjadi
gangguan akan menghasilkan erosi rekuren.
epitel berasal dari ectoderm permukaan.

2. Membran Bowman
Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Jaringan Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan
ang lainnya, Pada permukaan terlihat an(aman (ang teratur sedang dibagian perifer
serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu
lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.keratosit merupakan sel stroma kornea
yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. diduga keratosit
membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embriio atau
sesudah trauma.

4. Membran descement
Merupakan membrana selular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.
6

bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m.


5. Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m.
endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden.



kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar
longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk
ke dalam stroma kornea, menembus membran bowman melepaskan selubung
schwannya. bulbus krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. daya regenerasi
saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.
sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan
air mata. kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir.
Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan
deturgensinya.


7

2.2. Sikatriks
2.2.1. Definisi
sikatris kornea adalah terbentuknya jaringan parut pada kornea oleh berbagai
sebab.

2.2.2. Epidemiologi
Prevalensi sikatrik kornea pada kedua mata tertinggi di Provinsi sumbar
(2.5%), terendah di Provinsi di sumut, kepulauan riau, Provinsi DKI Jakarta,
Papua barat dan Papua (0.3%). Prevalensi sikatrik kornea pada salah salah satu
mata tertinggi di Provinsi DI yogyakarta dan Provinsi sulawesi Tengah (0.9%),
terendah di Provinsi DKI jakarta dan kepulauan Riau (0.1%). Prevalensi sikatrik
kornea pada dua mata maupun satu mata terendah dijumpai pada kelompok umur
20-29 tahun (0.1%). sedangkan prevalensi tertinggi ditemui pada kelompok umur
75 tahun (8.7%). sikatrik kornea dua mata dan sikatrik kornea satu mata
berdasar gender hampir sama prevalensinya, sedangkan menurut pekerjaan
tertinggi pada petani (1.8%) dan terendah pada pekerja di sektor swasta (0.4%)
lebih tinggi pada kelompok yang tidak bersekolah (4.1%) dan terendah pada
kelompok pendidikan tamat SLTA (0.4%) lebih tinggi di pedesaan baik dua mata
(1.2%) maupun satu mata (0.6%) dibanding perkotaan. Prevalensi sikatrik kornea
dua mata (1.1%) lebih tinggi ditemui pada tingkat pengeluaran rumah tangga
yang rendah sedangkan sikatrik kornea pada satu mata(0.4%) persentasenya lebih
rendah pada tingkat pengeluran rumah tangga yang tinggi. gangguan penglihatan
berat (10.4%) kebutaan (9.8%).
2.2.3.Etiologi
kondisi medis berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab luka kornea .
Abrasi kornea Laserasi kornea burn herpes simpleks Neurotrophic keratitis
syphilis kornea cedera cedera mata mata disebabkan oleh luka pada kornea
(abrasi, laserasi, luka bakar, atau penyakit), tergantung pada tingkat jaringan
parut, virus dapat berkisar dari blur ke kebutaan total walaupun sangat
menyakitkan atau penyembuhan transparan tidak meninggalkan bekas luka. Lecet
8

yang lebih dalam dan ulcerations 3 luka mengakibatkan hilangnya jaringan
kornea, yang diganti oleh jaringan parut. sikatrik dari penyakit biasanya
peradangan biasanya merupakan hasil dari proliferasi pembuluh darah baru ke
dalam kornea jelas, untuk membantu dalam proses penyembuhan. Penyakit yang
menyebabkan vaskularisasi termasuk herpes simpleks, sifilis, dan keratitis.

2.2.4 Klasifikasi
sikatrik kornea dibagi menjadi tiga menurut ketebalanya yaitu : Nebula
(bentuk paling ringan, tidak terlihat jika tidak menggunakan senter), Makula
(terlihat dengan menggunakan senter), dan Lekoma (sangat kelihatan sekali
seperti kekeruhan pada kornea
2.2.5 Patofisiologi
kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam
perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan
seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. biasan cahaya terutama terjadi di
permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea,
segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. oleh karenanya
kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan
yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.
Sikatriks sendiri penyebab paling banyak dikarenakan ulkus kornea, maka
dalam perjalanannya menjadi penyakit dapat menimbulkan jaringan parut. karena
kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang,
seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan
kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera
bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh
darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. sesudahnya
baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuklear,sel plasma, leukosit
polimorfonuklear (PMN) yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak
sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
9

permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah
ulkus Kornea.
Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut.
infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada progresif. Ulkus ini menyebar
kedua arah yaitu melebar dan mendalam. jika ulkus yang timbul kecil dan
superfisial maka akan lebih cepat cembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi bersih
kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran bowman dan sebagian stroma maka
akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya sikatrik.

2.2.5. Manifestasi Klinis
Gejala klinis pada sikatriks kornea secara umum dapat berupa :
Gejala Subjektif
Pandangan kabur
Gejala objektif
Nebula
Makula

10




2.2.6. Diagnosis
diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan
adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang
bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpss simplek yang sering
kambuh. hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien
seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi,
virus terutama keratitis herpes simplek. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala
objektif berupa adanda debula, makula, leukoma.

2.2.7. Penatalaksanaan
ketika jaringan parut kornea cukup padat untuk mempengaruhi
penglihatan,sebuah transplantasi kornea ditunjukkan. Prosedur ini 92% berhasil
karena laju penolakan minimal (karena kurangnya pasokan darah pada kornea).
kmplikasi: Pengobatan terbaik adalah pencegahan (penyakit dan cedera). edukasi
kebutuhan akan bervariasi, tergantung kondisi individu (luas dan location jaringan
parut kornea.
2.2.8. Komplikasi
komplikasi yang paling sering timbul berupa kebutaan parsial atau komplit.
2.2.9. Prognosis
Prognosis sikatris tergantung pada tingkat keparahanya namun siktriks kornea
prognsisnya buruk.



11

BAB III
KESIMPULAN

Bagian dari mata yang penting dalam memfokuskan bayangan adalah
kornea,lensa dan retina. Kornea adalah suatu jaringan yang transparan, jernih, di
depan iris( bagian mata yang berwarna ). Lensa adalah struktur bikonveks, avaskular,
tidak berwarna dan hampir transparan sempurna. Retina adalah selembar tipis
jaringan saraf yang semi transparan dan multi lapis pada dinding posterior bola mata.
Cahaya yang melewati kornea akan diteruskan melalui pupil, kemudian
difokuskan oleh lensa ke bagian belakang mata, yaitu retina. Fotoreseptor pada retina
mengumpulkan informasi yang ditangkap mata, kemudian mengirimkan sinyal
informasi tersebut ke otak melalui saraf optik. Semua bagian tersebut harus bekerja
simultan untuk dapat melihat suatu objek.
Sikatriks merupakan mata dengan kornea terdapat jaringan parut yang
menutupi sehingga sinar yang sejajar atau datang dari tak dapat difokuskan didepan
retina. Kelainan ini diperbaiki dengan transplantasi kornea.
Dalam menegakkan diagnosis Sikatriks kornea, harus dilakukan dengan
anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa, pasien
mengeluh penglihatan kabur. Pada pemeriksaan opthalmologis dilakukan
pemeriksaan refraksi yang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara
subjektif dan cara objektif. Cara subjektif dilakukan dengan penggunaan optotipe dari
snellen da trial lenses; dan cara objektif dengan oftalmoskopi direk dan pemeriksaan
retinoskopi.





12

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidarta, 2009. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga cetakan ke-6. Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 72-83.
2. Ilyas, Sidarta, 2006. Kelainan Refraksi dan Kacamata Edisi Kedua. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Sherwood, Laralee. Fisiologi manusia dari sel ke system. Jakarta; Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2001
4. Mansjoer, A.2002. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ke-3 Jilid I. Media
Aesculpaius. Jakarta, FK UI
5. Curtin B.J., 2002. The Myopia. Philadelphia: Harper & Row Publisher, 348-381
6. Saw, S., Katz, J., Schein, O.D., Chew, S.J., and Chan, T., 1996. Epidemiology of
Myopia. In Epidemiologic Reviews Vol. 18 (2): 175-187. Available from:
http://epirev.oxfordjournals.org/content/18/2/175.full.pdf. [Accessed 20 September
2012].
7. American Optometric Association (AOA). 2006. OPTOMETRIC CLINICAL
PRACTICE GUIDELINE: CARE OF THE PATIENT WITH MYOPIA. AOA
Consensus Panel on Care of the Patient with Myopia, AOA Clinical Guidelines
Coordinating Committee. Avaiable from: http://www.aoa.org/documents/CPG-
15.pdf. [Accessed 20 September 2011].
8. Sativa, Oriza, 2003. Tekanan Intraokular Pada Penderita Myopia Ringan dan
Sedang. Bagian Ilmu Penyakit Mata Universitas Sumatra Utara. Available from:
http://drshafa.wordpress.com/2010/03/09/miopia/. [Accessed 20 September
2011].
9. Siregar, Nurchaliza H., 2008. Retinoskopi. Medan: Departermen Ilmu Kesehatan
Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
13

10. Myopia.http://www.emedicine.com/OPH/topik255.htm
11. Vaughan, Daniel G., Asbury, T., Riordan-Eva, P., 2007. Oftalmologi Umum.
Edisi 17. Jakarta: EGC.