Anda di halaman 1dari 81

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

TANAMAN (PNA3109)

ACARA IV
PENGARUH PEMOTONGAN PUCUK

Disusun oleh:
Nama : Rivandi Pranandita Putra
NIM : 10/ 304773/ PN/ 12175
Golongan/Kelompok : C5/ 11 (Sebelas)
Nama Rekan : 1. Jayeng Syahputra (12178)
2. Dian Alice Widara (12180)
3. Fitrah Deri Saputra (12182)
Nama Co-Asisten : 1. Sary Prihatini
2. Nurmasari Fitrisiana
3. Fitriana Solikhatun
4. Rianni Capriyati

LABORATORIUM ILMU TANAMAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
ACARA IV
PENGARUH PEMOTONGAN PUCUK

I. TUJUAN
Mengetahui adanya pengaruh dominansi apikal terhadap pertumbuhan tunas lateral.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Pemangkasan merupakan penghilangan beberapa bagian tanaman. Salah satu jenis
pemangkasan adalah pemangkasan pucuk tanaman. Prinsip pemangkasan pucuk tanaman
adalah menghilangkan tunas apikal, yakni tunas yang tumbuh di puncak (pucuk) batang.
Dalam hal pertumbuhan, dominansi apikal diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk
dengan tunas lateral. Selama masih ada tunas pucuk/ apikal, pertumbuhan tunas lateral akan
terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk. Dominansi apikal disebabkan oleh auksin yang
didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada tunas lateral. Hal ini akan
menghambat pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih terlalu tinggi. Pucuk
apikal merupakan tempat untuk memproduksi auksin, yakni hormon yang berfungsi mengatur
pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Dominansi apikal biasanya ditandai
dengan pertumbuhan vegetatif tanaman seperti pertumbuhan akar, batang, dan daun.
Dominansi apikal dapat dikurangi dengan mendorong bagian pucuk tanaman sehingga
produksi auksin yang disintesis pada pucuk akan terhambat bahkan terhenti. Hal ini akan
mendorong pertumbuhan tunas lateral/ ketiak daun (Anonim, 2012).
Pinching atau pemangkasan pucuk adalah membuang pucuk terminal tanaman dan hal
ini dilakukan untuk menghentikan dominansi tunas apikal untuk merangsang tumbuhnya
tunas-tunas lateral dari ketiak daun. Dari setiap tanaman biasanya dapat mengeluarkan tunas
lateral sebanyak 3-4 tunas produktif. Pada pembibitan tanaman, tunas-tunas yang kecil atau
tidak produktif harus dibuang untuk menjaga kualitas tunas yang dipelihara. Pinching
dilakukan setelah tanaman berumur agak tua; pada krisan setelah tanaman tersebut memiliki
lima daun sempurna dan yang dibuang adalah tunas diantara daun keempat dan kelima (bila
daun pertama dihitung dari bawah). Piching harus dilakukan tepat waktu. Apabila terlambat
maka internode dari tanaman akan terlalu panjang, sehingga jarak antar tunas yang akan
tumbuh saling berjauhan (Anonim, 2010).
Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman nilam yaitu dengan
melakukan pemangkasan tunas apikal. Teknik pemangkasan tunas apikal telah lama
diterapkan dalam dunia pertanian. Pada tanaman anggur, pemangkasan dilakukan agar
produksi buah meningkat. Cabang-cabang muda yang tumbuh dari batang utama dipangkas
agar pada musim berikutnya tumbuh cabang baru penghasil buah. Pada prinsipnya,
pemangkasan pucuk akan merangsang tumbuhnya tunas lebih banyak. Tujuan lain dari
pemangkasan adalah agar sinar matahari dapat menyinari seluruh bagian tanaman sehingga
proses fotosintesis dapat berlangsung sempurna. Selain itu, pemangkasan juga dapat
mengurangi kelembaban sehingga tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit
tumbuhan. Pemangkasan tunas apikal yang telah terbukti meningkatkan pertumbuhan dan
produktivitas pada berbagai jenis tanaman nilam, diharapkan juga dapat meningkatkan
pertumbuhan pada tanaman nilam. Peningkatan pertumbuhan, dalam hal ini berarti
peningkatan pembentukan bagian-bagian vegetatif tanaman. Hal tersebut akan berakibat pada
bertambahnya hasil panen tanaman nilam (daun dan batang) sehingga pada akhirnya produksi
minyak nilam juga akan mengalami peningkatan (Irawati dan Nintya, 2006).
Pengendalian tinggi tanaman dapat dilakukan dengan cara pemangkasan pucuk
maupun dengan menggunakan zat penghambat tumbuh. Selain dapat menghambat gugurnya
cabang-cabang primer yang dekat dengan permukaan tanah, pemangkasan pucuk dapat
mengatur keseimbangan pertumbuhan vegetatif (tunas) dan reproduktif (bunga). Dilaporkan
pula bahwa pemangkasan dapat mengatur keseimbangan kandungan karbohidrat di dalam
daun dan nitrat yang larut di dalam tanaman yang berpengaruh terhadap pembungaan
kenanga. Komposisi karbohidrat yang sedang dan nitrat yang tinggi akan menghasilkan
tanaman yang tumbuhnya sedang dengan bunga yang lebat (Djazuli, 2005).
Hormon pertumbuhan tanaman merupakan sinyal penting pada perkembangan
tanaman yang dipengaruhi oleh politik manajemen tanaman. Konsentrasi auksin dan sitokinin
mempengaruhi arsitektur tanaman dengan mengatur dominansi apikal dan perkembangan
pucuk syleptis. Secara umum, auksin mensupresi percabangan syleptis tanaman dan sitokinin.
mengaturnya. Beberapa sitokinin sudah diketahui terdapat di pucuk dan eksudat xilem di akar,
dan masing-masing memiliki peranan yang unik pada perkembangan arsitektur pohon peach
(Tworkoski et al., 2006).
Pemangkasan pucuk atau batang tanaman biasanya berkaitan dengan pemotongan
bagian-bagian pucuk atau batang yang berpenyakit, tidak produktif, atau yang tidak
diinginkan. Meskipun dianggap kurang penting dan kurang berperan dalam pertumbuhan
tanaman, namun proses pemangkasan dalam kegiatan budidaya sangatlah memberi dampak
yang sangat nyata. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa dampak yang dihasilkan dari
proses pemangkasan, ayitu: merangsang proses pembentukan dan pembungaan; mengurangi
OPT; menambah nilai estetika; memperkokoh batang tanaman; serta mempercepat
pertumbuhan vegetatif tanaman budidaya. Pemangkasan yang baik harus memperhatikan
waktu pelaksanaan yang tepat. Pada umumnya, pemangkasan pucuk tanaman dilakukan pada
musim-musim tertentu tergantung pada jenis dan fase pertumbuhan tanaman (Lakitan, 1995).
Selain pemberian tambahan hormon yang dapat mempercepat suatu proses
pertumbuhan lateral tanaman, cara lain yang dapat digunakan adalah dengan memangkas atau
memotong pucuk tanaman yang dibudidayakan. Dengan dilakukan pemangkasan, maka beban
yang dimiliki oleh batang untuk menopang tanaman secara keseluruhan dapat dikurangi. Hal
ini akan tampak jelas terutama pada tanaman yang dikembangbiakkan secara cangkok karena
pada hasil perbanyakan secara cangkok, akar tanaman tersebut tidak sebanyak seperti
tanaman yang dikembangbiakkan dari biji, sehingga pemangkasan dirasa perlu agar batang
tanaman tetap dapat berdiri tegak dan tidak rebah. Pada jenis tanaman hias, pemangkasan
pucuk-pucuk tanaman sangatlah penting untuk dilakukan terutama pada tanaman yang lebih
menonjolkan keindahan dari segi bentuk. Contohnya ialah tanaman bonsai, pemangkasan
pada tanaman ini sangatlah penting karena dengan dilakukan pemangkasan pada tanaman ini
dapat menambah nilai estetika atau keindahan dari tanaman ini dan tentu saja harga dari
tanaman ini pun menjadi lebih meningkat (Jumin, 1988).
Pemangkasan tanaman penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan
vegetatif dan perkembangan generatifnya. Pemangkasan pada tanaman apel menyebabkan
tanaman mengalami pertumbuhan vegetatif lebih cepat sehingga mempengaruhi produksi
buah-buahan. Pada tanaman yang telah tua, pemangkasan diperlukan untuk meremajakan
pertumbuhan tanaman (Kaith et al., 2011).
Pemangkasan, proses pembuangan berbagai bagian vegetatif tanaman adalah praktek
budidaya yang penting dalam penanaman tanaman buah. Tanaman yang tidak dipangkas
menjadi sangat lebar dan menghambat penetrasi cahaya. Akibatnya, penangkapan cahaya di
bawah/ dekat permukaan tanah menjadi lemah dan fotosintesis menurun. Tujuan
pemangkasan adalah untuk menghasilkan jumlah buah maksimum dan kualitas buah baik
dengan mengatur keseimbangan antara pembuahan dan fase vegetatif (Ahmad et al., 2006).





















III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Acara IV yang berjudul
Pengaruh Pemotongan Pucuk dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 12 Oktober 2012 di
kebun percobaan dan pendidikan Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Gadjah Mada di
Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Dalam melaksanakan praktikum ini, digunakan beberapa
bahan dan alat. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain air kelapa,
ultrastick 0,2 mL/L, serta bibit-bibit tanaman berumur satu bulan dalam polibag. Bibit-bibit
tersebut, antara lain bibit tanaman melati (Jasminum sambac), mawar (Rosa sp.), sambang
darah (Excoecaria cochinchinensis), herpak (Excurcasia folium), tembelekan (Lantana
camara), dan bunga terang bulan (Duranta repens) dalam polibag. Alat-alat yang digunakan
dalam praktikum ini, antara lain pisau cutter, alat penyemprot, dan penggaris.
Cara kerja dalam praktikum ini dimulai dengan menyediakan bibit tanaman melati,
mawar, tagetes, kembang kertas, tembelekan, dan bunga jengger ayam dalam polibag. Setiap
kelompok memiliki 18 bibit tanaman. Bibit tersebut dibagi dalam tiga kelompok (A, B, C)
sebagai berikut:
- Kelompok A digunakan sebagai kontrol (tidak diberi perlakuan apapun).
- Kelompok B dipotong pucuknya.
- Kelompok C dipotong pucuknya, pada permukaan disemprotkan air kelapa 50%, 2
kali penyemprotan.
Adapun penyemprotan pertama dilakukan seminggu setelah pemotongan pucuk dan
penyemprotan kedua satu minggu kemudian (penyemprotan kurang lebih 100 ml/ tanaman).
Pembuatan larutan air kelapa 50 % dilakukan dengan cara melarutkan air kelapa 1 liter + air 1
liter + zat perekat (ultrastick 0,4 ml). Selanjutnya dilakukan pengamatan berkala terhadap
waktu munculnya tunas, jumlah tunas, panjang tunas, tinggi tanaman, dan jumlah daun.
Pemanenan tanaman korban dilakukan dua kali yaitu 3 minggu setelah perlakuan dan 6
minggu setelah perlakuan. Variabel yang diamati meliputi kenampakan visual (foto), jumlah
tunas, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, dan bobot segar tanaman (tajuk
dan akar). Dari hasil pengamatan pada tanaman korban, kemudian dihitung LAB (Laju
Asimilasi Bersih), LPN (Laju Pertumbuhan Nisbi), serta ILD (Indeks Luas Daun), dimana
rumusnya adalah sebagai berikut:


1. Net Assimilation Rate (NAR) = Laju Asimilasi Bersih (LAB)
NAR = W2 - W1 x ln La2 ln La1 g/cm2/minggu
T2 - T1 La2 La1
2. Relative Growth Rate (RGR) = Laju Pertumbuhan Nisbi (LPN)
RGR = ln W2 ln W1 g/g/minggu
T2 - T1
3. Leaf Area Index (LAI) = Indeks Luas Daun (ILD)
LAI = La
Ga
Keterangan:
La = Luas daun
Ga = Luas lahan
T = Waktu
W = Bobot kering total
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan
kelompok sebagai ulangan. Setiap variabel yang diperoleh dianalisis varian dengan taraf
kepercayaan 5%, apabila ada beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji DMRT.
Berikut ini merupakan contoh tabel pengamatan yang harus dibuat.

No. Macam Perlakuan Waktu Tumbuh Tunas Panjang Tunas
1.
2.
3.



IV. HASIL PENGAMATAN PRAKTIKUM
A. Tabel Pengamatan
1. Tanaman Mawar (Rosa sp.)
Perlakuan
Parameter
TT JD Jml Tunas Pjg Tunas Pjg akar
waktu
muncul
tunas
Kontrol 37.85a 51a 2a 18.75a 21a 2a
Potong 34.85a 54.5a 3a 12.8a 27a 2a
pot+semprt 32.95a 21a 2a 19.15a 24a 2a

Perlakuan
Parameter
LAB ILD LPN
Kontrol 0.185362a 1.109922a 0.09353a
Potong 0.001132a 0.952159a 0.029542b
pot+semprt 0.001711a 0.356249a 0.026784a
*Keterangan : angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
beda nyata dari hasil uji DMRT 5%

2. Tanaman Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis)
Perlakuan
Parameter
TT JD
Jml
Tunas
Pjg
Tunas
Pjg
akar
waktu
muncul
tunas
kontrol 34,00a 36,00a 2,00a 0,45a 25,50a 1a
Potong 24,10a 36,50a 2,00a 3,7a 14,75b 1a
pot+semprt 27,00a 50,00a 2,00a 4,02a 32,00a 1a

Perlakuan
Parameter
LAB ILD LPN
kontrol 0,000a 0,21a 0,17a
Potong 0,005a 0,29a 0,55a
pot+semprt 0,005a 0,66a 0,40a
*Keterangan : angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
beda nyata dari hasil uji DMRT 5%



3. Tanaman Melati (J asminum sambac)
Perlakuan
Parameter
TT JD
Jml
Tunas
Pjg
Tunas
Pjg akar
waktu
muncul tunas
kontrol 22.75a 9.5a 0b 0b 16.495a -
potong 17.75b 19a 1.5ab 3.125b 18.875a 2 msp
pot+semprt 11.15c 17a 2a 9.475a 20.13a 2 msp

Perlakuan
Parameter
LAB LPN ILD
kontrol 0.00007a -0.13a 0.675a
potong -0.004321a -0.1428a 0.43304a
pot+semprt -0.000002a -0.0846a 0.54375a
*Keterangan : angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
beda nyata dari hasil uji DMRT 5%

4. Tanaman Herpak (Excoecaria folium)
Perlakuan
Parameter
TT JD Jml Tunas Pjg Tunas
Pjg
akar
waktu
muncul
tunas
kontrol 21.95a 307a 5.5a 3.5b 29.4a 2.5a
Potong 16.4a 314a 4a 0.58a 27.15a 3a
pot+semprt 18.2a 360a 2a 0.87a 27.3a 2a

Perlakuan
Parameter
LAB ILD LPN
kontrol 0.003808a 0.519803a 0.125975a
Potong 0.001047a 0.62249a 0.045926a
pot+semprt 0.000882a 0.745258a 0.066027a
*Keterangan : angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
beda nyata dari hasil uji DMRT 5%


5. Tanaman Tembelekan (Lantana camara)
Perlakuan
Parameter
TT JD
Jml
Tunas
Pjg
Tunas
Pjg
akar
waktu
muncul
tunas
kontrol 31 a 122.5 0a 0 37.7 0
potong 36.65 ab 64.5 2.5 a 6.15 39.5 3
pot+semprt 43.5 b 124.5 3 b 5.7 40 2

Perlakuan
Parameter
LAB ILD LPN
kontrol 0.001159 1.376111 0.110672
potong 0.003406 1.316616 0.266979
pot+semprt 0.002039 1.54774 0.223258
*Keterangan : angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
beda nyata dari hasil uji DMRT 5%

6. Tanaman Terang Bulan (Duranta repens)
Perlakuan
Parameter
TT JD
Jml
Tunas
Pjg
Tunas
Pjg akar
waktu
muncul
tunas
kontrol 29.2a 40.25a 0b 0b 19.875a 0b
potong 24.35a 54.25a 4.5a 2.1ab 23.65a 1a
pot+semprt 29.125a 72.75a 4.25a 2.4a 18.5525a 1a

Perlakuan
Parameter
LAB ILD LPN
kontrol 0.001860a 0.50483a 0.07136a
potong 0.005139a 1.00350a 0.43031a
pot+semprt 0.005655a 0.66167a 0.464859a
*Keterangan : angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
beda nyata dari hasil uji DMRT 5%




B. Contoh Perhitungan Analisis Pertumbuhan Tanaman (APT)
Pada tanaman tembelekan (Lantana camara L.) Perlakuan Kontrol Ulangan 1
Net Assimilation Rate (NAR) = Laju Asimilasi Bersih (LAB)
NAR = W2 - W1 x ln La2 ln La1
T2 - T1 La2 La1
= 43,47 35,22 x (ln (944,444) - ln (782,222))
6 - 3 944,444 782,222
= 8,25 x 6,851 6,662
3 200,261
= 2,75 x 0,00094
=0,00259
= 0,0026 g/cm2/minggu
Relative Growth Rate (RGR) = Laju Pertumbuhan Nisbi (LPN)
RGR = ln W2 ln W1 g/g/minggu
T2 - T1
= ln (43,47) ln (35,22)
6 - 3
= 3,772 3,562
3
= 0,210 g/g/minggu



Leaf Area Index (LAI) = Indeks Luas Daun (ILD)






















V. PEMBAHASAN
Pada umumnya, pemangkasan batang tanaman pada bagian atas akan merangsang
pembentukan tunas-tunas lateral pada ketiak daun. Pada bagian aksiler batang terdapat tunas-
tunas dorman yang secara fisiologis akan terhambat pertumbuhannya akibat pertumbuhan
tunas pada bagian apikal. Tunas-tunas aksiler tersebut akan tumbuh apabila daerah apikal
pucuk utama dihilangkan. Hormon tumbuh merupakan suatu substansi yang mengendalikan
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Berdasarkan fungsinya, secara garis besar terdapat
dua kelompok hormon tumbuh, yaitu hormon pemacu dan penghambat pertumbuhan. Yang
termasuk hormon pemacu pertumbuhan adalah auxin, giberelin, dan sitokinin. Sitokinin
secara alami terdapat dalam air kelapa, sehingga penyiraman/ penyemprotan dengan air
kelapa dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk memacu pertumbuhan tanaman.
Dominansi apikal merupakan konsentrasi pertumbuhan pada ujung tunas tumbuhan
dimana kuncup terminal secara parsial menghambat pertumbuhan kuncup aksilar. Dominansi
apikal menyebabkan tanaman dapat tumbuh lebih tinggi dan meningkatkan eksposur tanaman
terhadap cahaya matahari. Dominansi apikal adalah suatu prinsip distribusi auksin dalam
organisasi, dengan menekankan pertumbuhan kearah atas (apikal) dan mengesampingkan
percabangan
Pemotongan tunas apikal beserta hormonnya akan menyebabkan tunas lateral dorman
yang terletak dibawah untuk mulai tumbuh. Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan
tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk. Dengan demikian secara
teoritis, dominansi pucuk dapat dikurangi dengan memotong bagian pucuk tumbuhan
Hilangnya pucuk dari tunas aksiler aktif segera mulai tumbuh sebagai tunas utama untuk
menggantikan pucuk yang hilang, sehingga memungkinkan tanaman untuk bertahan hidup.
Sebuah tunas utama berasal dari aktivitas meristem apaikal tunas primer (SAM), yang muncul
selama embriogenesis. Kuncup aksiler juga berasal dari SAM utama dalam proses yang
umumnya melibatkan 2 tahap, terbentuk dari kelompok sel meristematik dan perhentian
pertumbuhan setelah mencapai ukuran tertentu. Pada tanaman perlakuan terdapat tunas-tunas
lateral yang kemudian membentuk cabang-cabang lateral. Pertumbuhan cabang lateral ini
dipengaruhi oleh auksin dan sitokinin. Sitokinin akan mengaktifkan pembelahan sel pada
meristem tunas lateral. Hal ini juga dikemukakan oleh bahwa hormon sitokinin mempunyai
peran yang penting pada pembentukan cabang lateral, karena sitokinin yang terdapat pada
ujung akar akan ditransport secara akropetal melalui bagian xilem ke bagian atas tanaman
bahwa sitokinin akan merangsang pembelahan sel pada tanaman dan sel-sel yang membelah
tersebut akan berkembang menjadi tunas, cabang dan daun daun
Salah satu aktifitas tanaman yang menarik untuk dikaji kaitannya dengan peranan
hormon tumbuh adalah penghambatan pertumbuhan tunas lateral karena adanya dominansi
pucuk. Dominansi pucuk muncul karena adanya akumulasi auxin pada bagian pucuk tanaman.
Apabila bagian ini dibuang, misalnya dengan cara pemotongan pucuk, maka dominansi pucuk
diperkirakan dapat hilang. Sehingga tunas-tunas lateral akan terpacu untuk tumbuh dan
berkembang.
Auksin adalah zat yang di temukan pada ujung batang, akar, pembentukan bunga yang
berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah
belakang meristem ujung. Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis
tanaman.nama lain dari hormon ini adalah IAA atau asam indol asetat. Letak dari hormon
auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar. Auksin adalah hormon pertama yang
terkait dengan aturan percabangan tajuk, dan telah dalam sorotan lebih dari 100 tahun. Hal ini
telah diketahui bahwa puncak dari tanaman menghambat perkembangan tunas ketiak dalam
beberapa cara karena, ketika puncaknya dihapus, tunas ketiak yang telah dorman menjadi
aktif dan tanaman mulai bercabang. Percobaan pertama yang mengaitkan fenomena ini
dengan auksin dilakukan oleh Thimann dan Skoog pada tahun 1934. Mereka menunjukkan
bahwa auksin, diterapkan ke puncak sebuah tanaman yang dipangkas menyerupai efek dari
puncak yang dihilangkan, mencegah tunas hasil.
Fungsi dari hormon auksin ini dalah membantu dalam proses mempercepat
pertumbuhan, baik itu pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat
perkecambahan, membantu dalam proses pembelahan sel, mempercepat pemasakan buah,
mengurangi jumlah biji dalam buah. kerja hormon auksin ini sinergis dengan hormon
sitokinin dan hormon giberelin.tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari
maka pertumbuhannya akan lambat karena kerja auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi
tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja
auksin tidak dihambat.sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung
mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme.
Sitokinin merupakan ZPT yang mendorong pembelahan (sitokinesis). Beberapa
macam sitokinin merupakan sitokinin alami (misal : kinetin, zeatin) dan beberapa lainnya
merupakan sitokinin sintetik. Sitokinin alami dihasilkan pada jaringan yang tumbuh aktif
terutama pada akar, embrio dan buah. Sitokinin yang diproduksi di akar selanjutnya diangkut
oleh xilem menuju sel-sel target pada batang. Sitokinin dapat meningkatkan pembelahan,
pertumbuhan dan perkembangan kultur sel tanaman. Sitokinin juga menunda penuaan daun,
bunga dan buah dengan cara mengontrol dengan baik proses kemunduran yang menyebabkan
kematian sel-sel tanaman. Penuaan pada daun melibatkan penguraian klorofil dan protein-
protein, kemudian produk tersebut diangkut oleh floem ke jaringan meristem atau bagian lain
dari tanaman yang membutuhkannya.
Sebagian besar tumbuhan memiliki pola pertumbuhan yang kompleks yaitu tunas
lateralnya tumbuh bersamaan dengan tunas terminalnya. Pola pertumbuhan ini merupakan
hasil interaksi antara auksin dan sitokinin dengan perbandingan tertentu. Sitokinin diproduksi
dari akar dan diangkut ke tajuk, sedangkan auksin dihasilkan di kuncup terminal kemudian
diangkut ke bagian bawah tumbuhan. Auksin cenderung menghambat aktivitas meristem
lateral yang letaknya berdekatan dengan meristem apikal sehingga membatasi pembentukan
tunas-tunas cabang dan fenomena ini disebut dominasi apikal. Kuncup aksilar yang terdapat
di bagian bawah tajuk (daerah yang berdekatan dengan akar) biasanya akan tumbuh
memanjang dibandingkan dengan tunas aksilar yang terdapat dekat dengan kuncup terminal.
Hal ini menunjukkan ratio sitokinin terhadap auksin yang lebih tinggi pada bagian bawah
tumbuhan.
Interaksi antagonis antara auksin dan sitokinin juga merupakan salah satu cara
tumbuhan dalam mengatur derajat pertumbuhan akar dan tunas, misalnya jumlah akar yang
banyak akan menghasilkan sitokinin dalam jumlah banyak. Peningkatan konsentrasi sitokinin
ini akan menyebabkan sistem tunas membentuk cabang dalam jumlah yang lebih banyak.
Interaksi antagonis ini umumnya juga terjadi di antara ZPT tumbuhan lainnya.
Cara kerja hormon Auksin adalah menginisiasi pemanjangan sel dan juga memacu
protein tertentu yg ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding
sel. Ion H+ mengaktifkan enzim ter-tentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang
hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang
akibat air yg masuk secara osmosis. Salah satu teknik budidaya yang dapat dilakukan untuk
memperbanyak cabang, agar diperoleh bahan untuk stek dalam jumlah yang maksimal adalah
defoliasi. Defoliasi adalah pemangkasan ujung batang. Prinsip dari perlakuan tersebut adalah
untuk mengatur keseimbangan hormone antara lain sitokinin dengan auksin pada ketiak daun
di bawah ujung batang. Sintesis auksin terjadi pada bagian tanaman yang sedang mengalami
pertumbuhan atau pada bagian meristematis, terutama pada ujung batang. Auksin yang
disintesisi pada ujung batang ini akan ditransport secara basipetal ke bagian batang yang lebih
bawah. Hal ini menyebabakan terakumulasinya auksin pada ketiak daun dibawahnya yang
berakibat inisiasi pembentukan tunas lateral pada ketiak daun terhambat atau terjadi dormansi
tunas lateral, karena inisiasi pembentukan tunas lateral mensyaratkan konsentrasi auksin yang
lebih rendah dibandingkan konsentrasi auksin optimal untuk pertumbuhan memanjang batang.
Pertumbuhan pucuk, inisiasi dan perbanyakan tunas aksilar yang dihasilkan umumnya
dirangsang dengan cara menambahkan hormon pertumbuhan (umumnya sitokinin) ke dalam
media pertumbuhannya. Perlakuan ini dapat merangsang pertumbuhan tunas samping dan
mematahkan dominansi apikal dari pucuk yang dikulturkan. Selain itu, dominansi apikal juga
dapat dihilangkan dengan perlakuan lain misalnya pemangkasan daun-daun yang terdapat
pada buku-buku tunas atau meletakkan eksplan dalam posisi horisontal
Praktikum acara IV ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh dominansi
apikal terhadap pertumbuhan tunas lateral pada beberapa komoditas tanaman hias yaitu
mawar (Rosa sp.), sambang dara (Excoecaria cochinchinensis), melati (Jasminum sambac),
bunga herpak (Excoecaria folium), tembelekan (Lantana camara), dan terang bulan (Duranta
repens). Pada pengamatan praktikum acara IV ini juga akan bermnfaat untuk mengetahui
pengaruh hormon sitokinin yang terdapat pada air kelapa dalam memacu pertumbuhan tunas
lateral tanaman hias. Berikut ini adalah hasil pengamatan yang telah disajikan dalam bentuk
grafik dan histogram:

















1. Tanaman Bunga Mawar (Rosa sp.)
Bunga mawar merupakan kelompok tumbuhan biji berupa pohon yang batangnya berkayu.
Sebagai tumbuhan biji tertutup, tanaman bunga mawar juga dianggap sebagai golongan
tumbuhan dengan tingkat perkembangan yang tinggi. Sebagai tumbuhan dikotil, bunga
mawar mempunyai sistem akar tunggang. Batang dan akar mempunyai kambium sehingga
dapat memperbesar.


Gambar 1.1. Grafik Tinggi Tanaman Mawar pada Berbagai Perlakuan Pemotongan
Pucuk
Grafik di atas menggambarkan tinggi tanaman mawar berbagai perlakuan pemotongan
pucuk yang diamati seminggu sekali selama 6 minggu (6 kali). Berdasarkan grafik di atas,
dapat diketahui bahwa tanaman mawar yang paling tinggi saat 6 MSP adalah pada perlakuan
kontrol (37,85 cm), kemudian yang tingginya sedang adalah perlakuan pemotongan pucuk
(34,85 cm), sedangkan tanaman mawar yang paling pendek adalah pada perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa (32,95 cm). Auksin cenderung menghambat aktivitas meristem
lateral yang letaknya berdekatan dengan meristem apikal sehingga membatasi pembentukan
tunas-tunas cabang dan fenomena ini disebut dominasi apikal. Berdasarkan grafik tinggi
tanaman mawar di atas, perlakuan kontrol merupakan perlakuan yang menyebabkan tinggi
tanaman tertinggi dibandingkan dengan perlakuan-perlakuan yang lainnya. Di dalam pola
pertumbuhan tanaman, pertumbuhan ujung batang yang dilengkapi dengan daun muda apabila
mengalami hambatan, maka pertumbuhan tunas akan tumbuh ke arah samping yang dikenal
1 2 3 4 5 6
KONTROL 16.5 19.55 22.5 30 32.2 37.85
PUCUK 15 16.35 20.4 23.5 27.7 34.85
POTONG+KELAPA? 18.55 21.3 23.65 26 30.5 32.95
0
5
10
15
20
25
30
35
40
T
i
n
g
g
i

T
a
n
a
m
a
n

Grafik Tinggi Tanaman Mawar
dengan "tunas lateral" misalnya saja terjadi pemotongan pada ujung batang (pucuk), maka
akan tumbuh tunas pada ketiak daun. Apabila tunas apical (apical bud) dibuang, sebagai
akibat treatment tersebut menyebabkan tumbuhnya tunas di ketiak daun. Dari perlakuan
tersebut ternyata bahwa tidak terjadi pertumbuhan tunas pada ketiak daun. Hal ini
membuktikan bahwa auxin yang ada di apical bud menghambat tumbuhnya tunas lateral.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa perlakun potong tidak begitu berpengaruh terhadap
pertumbuhan tinggi tanaman mawar, tetapi perlakuan potong kelapa dapat sedikit
meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman mawar dibanding jika hanya sekedar dipotong.
Namun kedua perlakuan tersebut tidak lebih baik daripada kontrol.
Selanjutnya dilakukan analisis dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
kelompok sebagai ulangan. Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh
hasil bahwa tidak ada beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap tinggi tanaman
mawar. Hal ini dapat disebabkan karena selisih nilai tinggi tanaman mawar ketiga perlakuan
tersebut yang relatif tidak berbeda jauh. Meski demikian, seharusnya ada beda nyata antar
perlakuan yang ada. Perlakuan potong pucuk + kelapa, air kelapa akan memacu tanaman
untuk menghasilkan tunas-tunas lateral sehingga tinggi tanamannya akan berbeda dengan
tanmana kontrol. Hal ini dapat terjadi akibat pemotongan pucuk yang dilakukan membuat
hasil asimilat tanaman untuk pucuk tanaman didistribusikan ke bagian tumbuh tanaman yang
lain, sehingga tingginya pertumbuhan pucuk yang secara langsung mempengaruhi tinggi
tanaman menjadi terhambat. Selain itu, akibat pengaruh hormon auksin yang meningkat
menyebabkan tanaman mengalami pematahan dominansi apikal sehingga secara langsung
hormone akan membentuk tunas lateral yang lebih dominan ke samping. Sehingga tinggi
tanaman yang dipotong pucuknya tidak mengalami peningkatan tinggi. Perlakuam kontrol
seharusnya menunjukkan tinggi tanaman yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan
yang lainnya. Penyimpangan yang diperoleh dapat disebabkan oleh pengaplikasian air kelapa
yang mungkin kurang banyak sehingga kurang berpengaruh terhadap tinggi tanaman yang
dihasilkan.



Gambar 1.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Mawar pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan jumlah daun (JD) tanaman mawar berbagai perlakuan
pemotongan pucuk yang diamati seminggu sekali selama 6 minggu (6 kali). Berdasarkan
grafik di atas, dapat diketahui bahwa tanaman mawar dengan jumlah daun terbanyak pada
umur 6 MSP adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebanyak 54,5 helai
daun), kemudian tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 51 helai daun), dan yang memiliki
jumlah daun paling sedikit adalah pada perlakuan pemotongan pucuk (sebanyak 21 helai
daun). Berdasarkan grafik yang tersaji di atas, dapat dilihat bahwa perlakuan pemotongan
pucuk tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap pertambahan jumlah daun tanaman
mawar.
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah daun tanaman mawar. Hal ini
dapat disebabkan karena selisih nilai jumlah daun tanaman mawar ketiga perlakuan tersebut
yang relatif tidak terlalu berbeda jauh. Seharusnya terdapat adanya beda nyata antar perlakuan
yang diberikan terhadap jumlah daun yang didapatkan. Hal ini dapat dikarenakan oleh pada
perlakuan pemotongan pucuk+ kelapa, air kelapa akan memacu tanaman untuk menghasilkan
tunas-tunas lateral sehingga tinggi tanamannya akan berbeda dengan tanmana kontrol. Hal ini
dapat terjadi akibat pemotongan pucuk yang dilakukan membuat hasil asimilat tanaman untuk
pucuk tanaman didistribusikan ke bagian tumbuh tanaman yang lain, sehingga tingginya
pertumbuhan pucuk yang secara langsung mempengaruhi tinggi tanaman menjadi terhambat.
Selain itu, akibat pengaruh hormon auksin yang meningkat menyebabkan tanaman mengalami
1 2 3 4 5 6
kontrol 12 16.5 22 39 44.5 51
pucuk kelapa 9 9.5 13 25 29 54.5
pucuk 6.5 8.5 8.5 13.5 17 21
0
10
20
30
40
50
60
J
U
m
l
a
h

D
a
u
n

Jumlah Daun Mawar
pematahan dominansi apikal sehingga secara langsung hormone akan membentuk tunas
lateral yang lebih dominan ke samping. Sehingga tinggi tanaman yang dipotong pucuknya
tidak mengalami peningkatan tinggi. Perlakuam kontrol seharusnya menunjukkan tinggi
tanaman yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Penyimpangan yang
diperoleh dapat disebabkan oleh pengaplikasian air kelapa yang mungkin kurang banyak
sehingga kurang berpengaruh terhadap tinggi tanaman yang dihasilkan.















Gambar 1.3. Grafik Jumlah Tunas Tanaman Mawar pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan jumlah tunas tanaman mawar berbagai perlakuan
pemotongan pucuk yang diamati seminggu sekali selama 6 minggu (6 kali). Berdasarkan
grafik di atas, dapat diketahui bahwa tanaman dengan jumlah tunas terbanyak saat umur 6
MSP adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebanyak 3 tunas), diikuti
dengan tanaman perlakuan kontrol dan pemotongan pucuk yang bernilai sama (sebanyak 2
tunas).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah tunas tanaman mawar. Hal ini
dapat disebabkan karena selisih jumlah tunas tanaman mawar ketiga perlakuan tersebut yang
relatif tidak berbeda jauh. Seharusnya hasil analisis menunjukkan adanya beda nyata antar
perlakuan yang diberikan kepada tanaman mawar karena dengan pemotongan pucuk maka
akan menyebabkan tanaman akan menghasilkan tunas lateral sehingga tanaman tidak akan
tumbuh terus ke atas. Sedangkan pada perlakuan potong pucuk+kelapa menyebabkan
tanaman akan lebih terpacu membentuk tunas lateral dibandingkan dengan perlakuan yang
lainnya karena air kelapa akan memacu tanaman untuk membentuk tunas lateral yang lebih
banyak jika dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Sehingga apabila dibandingkan
dengan perlakuan pemotongan pucuk, maka tunas yang terbentuk akan lebih banyak. Setelah
dilakukan pemotongan pucuk, pengaruh menghambat dari auksin terhadap pertumbuhan
tunas aksilar tidak terjadi. Sitokinin yang ditransportasikan dari akar ke batang mampu
1 2 3 4 5 6
Kontrol 0 1 1 1.5 1.5 2
pucuk kelapa 0 1 1 1 2.5 3
pucuk 0 1 1 1 1.5 2
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
J
u
m
l
a
h

T
u
n
a
s

Jumlah Tunas mawar
mengaktifkan pertumbuhan tunas-tunas samping sehingga tanaman memiliki cabang yang
banyak dan menjadi rimbun. Penyimpangan yang terjadi dapat disebebakan oleh
pengaplikasian air kelapa yang masih relatif sedikit sehingga kurang berpengaruh terhadap
jumlah tunas yang dihasilkan.















Gambar 1.4. Grafik Panjang Tunas Tanaman Mawar pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan panjang tunas tanaman mawar berbagai perlakuan
pemotongan pucuk yang diamati seminggu sekali selama 6 minggu (6 kali). Berdasarkan
grafik di atas, dapat diketahui bahwa pada umur 6 MSP, panjang tunas terbanyak dimiliki
tanaman mawar perlakuan pemotongan pucuk, diikuti dengan tanaman perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa dan yang panjang tunasnya terendah adalah perlakuan kontrol.
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap panjang tunas tanaman mawar. Hal
ini dapat disebabkan karena selisih panjang tunas tanaman mawar ketiga perlakuan tersebut
yang relatif tidak berbeda jauh. Seharusnya analisis menunjukkan adanya beda nyata antar
perlakuan yang diberikan kepada tanaman mawar karena dengan pemotongan pucuk maka
akan menyebabkan tanaman akan menghasilkan tunas lateral sehingga tanaman tidak akan
tumbuh terus ke atas. Sedangkan pada perlakuan potong pucuk+kelapa menyebabkan
tanaman akan lebih terpacu membentuk tunas lateral dibandingkan dengan perlakuan yang
lainnya karena air kelapa akan memacu tanaman untuk membentuk tunas lateral yang lebih
banyak jika dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Sehingga apabila dibandingkan
dengan perlakuan pemotongan pucuk, maka tunas yang terbentuk akan lebih banyak.
Penyimpangan yang terjadi dapat dikarenakan oleh pengaplikasian air kelapa masih dapam
kosentasi yang sedikit sehingga kurang berpengaruh terhadap panjang tunas yang dihasilkan
dari berbagai macam perlakuan.
0
10
20
30
40
50
60
1 2 3 4 5 6
P
a
n
j
a
n
g

T
u
n
a
s

(
c
m
)

Minggu ke-
Grafik Panjang Tunas Mawar
pucuk
pucuk kelapa
kontrol

Gambar 1.5. Histogram Panjang Akar Tanaman Mawar pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan panjang akar tanaman mawar berbagai perlakuan
pemotongan pucuk saat umur 3 MSP dan 6 MSP. Berdasarkan histogram di atas, dapat
diketahui bahwa pada umur 3 MSP panjang akar yang paling banyak dimiliki tanaman mawar
perlakuan pemotongan kontrol, diikuti dengan tanaman perlakuan pemotongan pucuk +
kelapa dan yang panjang akarnya terendah adalah perlakuan pemotongan pucuk. Sementara
itu, pada umur 6 MSP, panjang akar paling banyak secara berturut-turut ditunjukkan oleh
tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa, selanjutnya tanaman perlakuan pemotongan
pucuk, dan yang memiliki jumlah akar paling sedikit adalah tanaman perlakuan kontrol.
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap panjang akar tanaman mawar. Hal ini
dapat disebabkan karena selisih nilai panjang akar tanaman mawar ketiga perlakuan tersebut
yang relatif tidak terlalu berbeda jauh. Seharusnya ada pengaruh beda nyata antar perlakuan
terhadap berat segar yang dihasilkan. Hal ini dapat terjadi akibat pemotongan pucuk yang
dilakukan membuat hasil asimilat tanaman untuk pucuk tanaman didistribusikan ke seluruh
bagian tumbuh tanaman, sehingga tingginya pertumbuhan pucuk yang secara langsung
mempengaruhi tinggi tanaman menjadi terhambat. Adapun distribusi asimilat yang terjadi
akan tetap mempengaruhi berat segar tanaman. Dalam hal ini pengaruh pemotongan tidak
memiliki dampak terhadap perlakuan kontrol. Adanya perubahan pada hasil pengamatan
berupa kenaikan dan penurunan berat segar dapat diartikan bahwa pengaruh pemotongan
memiliki dampak penurunan hasil asimilat pada tanaman.
0
5
10
15
20
25
30
3 msp 6msp
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

(
c
m
)

Korban ke-
Panjang Akar Mawar
kontrol
pucuk kelapa
pucuk

Gambar 1.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Mawar
pada Berbagai Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya berat segar (BS) dan berat
kering (BK) tajuk dan akar tanaman mawar berbagai perlakuan pemotongan pucuk saat umur
6 MSP. Berdasarkan histogram di atas, dapat diketahui bahwa berat segar tajuk tanaman
mawar pada umur 6 MSP yang terberat adalah pada perlakuan kontrol, kemudian perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa, dan perlakuan pucuk. Sementara itu pada umur 6 MSP juga,
berat kering tajuk terbesar adalah pada perlakuan pemotongan pucuk + kelapa, kemudian
perlakuan pemotongan pucuk, dan yang terendah adlaah pada perlakuan kontrol.
Hasil yang demikian menunjukkan bahwa asimilat pada tanaman perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa tersebut banyak. Pada perlakuan potong kelapa tersebut
pertumbuhan tanaman optimal, biasanya ditandai dengan laju pertumbuhan (LPT) optimal.
Selanjutnya LPT optimal akan berpengaruh pada proses fisiologis (fotosintesis) yang optimal
pula yang bisanya ditandai dengan nila laju asimilasi bersih (LAB) optimal. Dengan LPT dan
LAB yang optimal, akan diperoleh hasil yang maksimal yang biasanya ditandai dengan nilai
indeks panen (IP) yang tinggi. Hasil yang berupa asimilat tersebut dapat diukur dari banyak
sedikitnya bobot kering tanaman. Semakin besar nilai bobot kering tanaman, maka
mengindikasikan bahwa proses fotosintesis tanaman optimal.



0
50
Akar
bk total Tajuk
akar
bs total tajuk
B
S
-
B
K

M
a
w
a
r

Akar Tajuk

Berat Segar Dan Kering Mawar
Kontrol
Pucuk Kelapa
Pucuk
2. Tanaman Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis)
Secara umum, Sambang darah merupakan tanaman perdu. T Sambang darah mengandung
tanin, asam behenat, triterpinod, eksokarol dan silosterol. Tingginya sekitar 0,5 - 1,5 mtr.
Batangnya tumbuh tegak, bercabang banyak, berwarna coklat kehitaman, dan bergetah putih
yang beracun. Warna permukaan atas daun sambang darah hijau tua mengkilap, sedangkan
warna permkaan bawah merah kecoklatan mengkilap. Pada daun muda warna merah
kecoklatan ini lebih terlihat terang.
Bunganya keluar dari ujung percabangan, berwarna kuning dan berukuran kecil-kecil.
Buahnya berbentuk bulat, berkeping 3 dan berdiameter kurang dari 1 cm. Sambang darah
dapat ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan atau pagar hidup. Tanaman yang berasal
dari Indocina ini menyukai tempat terbuka atau sedikit ternaungi dan kurang suka tempat
yang tergenangi air. Perbanyakan sambang darah dengan cara distek atau dicangkok,
sebaiknya sudah agak tua.


Gambar 2.1. Grafik Tinggi Tanaman Sambang Darah pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya tinggi tanaman sambang darah
berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati seminggu sekali selama 6 minggu
lamanya (6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa tinggi
tanaman tertinggi umur 6 MSP dimiliki tanaman sambang darah perlakuan kontrol (setinggi
34 cm), kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (setinggi 27 cm), dan yang
0
5
10
15
20
25
30
35
40
1 2 3 4 5 6
t
i
n
g
g
i

t
a
n
a
m
a
n

(
c
m
)

waktu pengamatan
Grafik Tinggi Tanaman Sambang
Darah
kontrol
potong-tanpa kelapa
potong-kelapa
memiliki tinggi tanaman terendah adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk (setinggi
24,10 cm). Hasil tersebut menunjukkan bahwa perlakun potong tidak begitu berpengaruh
terhadap pertumbuhan tinggi tanaman sambang darah, tetapi perlakuan potong kelapa dapat
sedikit meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman sambang darah dibanding jika hanya
sekedar dipotong. Namun kedua perlakun tersebut tidak lebih baik daripada kontrol.
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap tinggi tanaman sambang darah. Hal
ini dapat disebabkan karena selisih nilai tinggi tanaman sambang darah ketiga perlakuan
tersebut yang relatif tidak terlalu berbeda jauh. Seharusnya, data hasil pengamatan
menunjukkan adanya beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk yang diberikan karena
dapat disebabkan oleh pada perlakuan kontrol, pucuk tanaman tidak dipotong sehingga
tanaman akan terus tumbuh ke atas, sehingga pertumbuhannya menghasilkan tinggi tanaman
yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Pertumbuhan pada
perlakuan kontrol yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya hal ini
disebabkan oleh adanya dominansi apikal. Dominasi apikal tersebut menyebabkan tanaman
dapat tumbuh lebih tinggi dan meningkatkan eksposur tanaman terhadap cahaya matahari.
Produksi auksin oleh tunas apikal berdifusi ke arah bawah tumbuhan mengikuti gaya gravitasi
serta menghambat pertumbuhan tunas lateral. Pemotongan tunas apikal beserta hormonnya
akan menyebabkan tunas lateral dorman yang terletak di bawah untuk mulai tumbuh. Ketika
tunas apikal dihilangkan, sumber auksin dihapus. Konsentrasi auksin yang jauh lebih rendah
menyebabkan tunas lateral terpacu untuk tumbuh. Tunas lateral akan lebih sensitive terhadap
auksin daripada tunas apikal. Kemudian, tunas yang berada diantara ketiak daun dan batang
menghasilkan percabangan baru yang akan berkompetisi untuk menjadi titik tumbuh.
Pergerakan auksin pada tempat sintesisnya dilakukan dengan system translokasi floem apabila
terjadi dalam jarak yang cukup jauh dan melalui mekanisme auksin polar transport apabila
dilakukan antar sel yang berdekatan.
Auksin sebagai faktor penyebab dominasi apical ini merupakan hormon yang
diproduksi secara alamiah dalam tumbuh tanaman. Auksin banyak digunakan dalam kerja
mikropropagasi dan bekerja sama dengan medium makanan (nutrien) untuk memelihara
pertumbuhan kalus, suspensi sel atau organ (seperti meristem, tunas dan ujung akar) dan
mengatur morfogenesis.
Penyimpangan data yang didaptkan dapat disebabkan oleh pada perlakuan
dipotong+kelapa, air kelapa yang diaplikasikan kurang tepat mengenai pucuk tanaman
sehingga tanaman tetap tumbuh ke atas dan menyebabkan tidak ada beda nyata dengan
perlakuan kontrol.
















Gambar 2.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Sambang Darah pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah daun (JD) tanaman
sambang darah berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Jumlah daun sambang darah yang
paling banyak pada perlakuan potong pucuk + kelapa ternyata menghasilkan daun yang lebih
banyak jika dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Berdasarkan grafik di atas, dapat
diketahui bahwa jumlah daun tertinggi pada umur 6 MSP dimiliki oleh tanaman perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa (sebanyak 50 daun), kemudian yang kedua adalah tanaman
perlakuan pemotongan pucuk (sebanyak 36,5 daun), dan jumlah daun terendah adalah pada
tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 36 daun).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah daun tanaman sambang darah.
Hal ini dapat disebabkan karena selisih nilai jumlah daun tanaman sambang darah ketiga
perlakuan tersebut yang relatif tidak terlalu berbeda jauh. Seharusnya dengan pengaplikasian
perlakuan potong pucuk + kelapa akan menyebabkan tunas-tunas lateral akan terbentuk
sehingga akan semakin banyak daun yang ada pada tanaman sambang darah tersebut sehingga
akan berbeda nyata terhadap perlakuan kontrol dan berbeda nyata dengan perlakuan potong
pucuk tampa penambahan air kelapa. Hal ini disebabkan air kelapa akan memacu timbulnya
tunas lateral. Sehingga perlakuan pemotongan pucuk tanapa diimbangi dengan pengaplikasian
air kelapa, maka tunas lateral yang terbentuk tidak akan sebanyak potong pucuk + air kelapa.
0
10
20
30
40
50
60
1 2 3 4 5 6
j
u
m
l
a
h

d
a
u
n

waktu pengamatan
Grafik Jumlah Daun Sambang Darah
kontrol
potong-tanpa kelapa
potong-kelapa
Penyimpangan data yang diperoleh dapat disebabkan karena air kelapa kurang berpengaruh
terhadap tanaman sambang merah.
Jumlah daun terendah adalah pada perlakuan kontrol. Hal ini sesuai dengan teori
karena pada kontrol biasanya terjadi dominansi apikal dengan jumlah auksin yang berlimpah..
Auksin merupakan salah satu hormon tanaman yang dapat meregulasi banyak proses fisiologi,
seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein.
Auksin diproduksi dalam jaringan meristimatik yang aktif yaitu tunas, daun muda dan buah
kemudian auxin menyebar luas dalam seluruh tubuh tanaman, penyebar luasannya dengan
arah dari atas ke bawah hingga titik tumbuh akar, melalui jaringan pembuluh tapis (floom)
atau jaringan parenkhim.












Gambar 2.3. Grafik Jumlah Tunas Tanaman Sambang Darah pada Berbagai
Perlakuan Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah tunas tanaman
sambang darah berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik tersebut, diketahui bahwa
jumlah tunas sambang darah terbanyak pada umur 6 MSP adalah pada tanaman perlakuan
pemotongan pucuk (sebanyak 3,5 tunas), sedangkan untuk jumlah tunas sambang darah
perlakuan kontrol dan perlakuan pemotongan pucuk + kelapa bernilai sama (sebanyak 2
tunas).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah tunas tanaman sambang
darah. Hal ini dapat disebabkan karena selisih nilai jumlah tunas tanaman sambang darah
ketiga perlakuan tersebut yang relatif tidak terlalu berbeda jauh. Seharusnya analisis
menunjukkan adanya beda nyata antar perlakuan yang diberikan kepada tanaman sambang
darah karena dengan dilakukannya pemotongan pucuk maka akan menyebabkan tanaman
akan menghasilkan tunas lateral sehingga tanaman tidak akan tumbuh terus ke atas.
Sedangkan pada perlakuan pemotongan pucuk + kelapa menyebabkan tanaman sambang
darah akan lebih terpacu membentuk tunas lateral dibandingkan dengan perlakuan yang
lainnya karena air kelapa akan memacu tanaman untuk membentuk tunas lateral yang lebih
banyak jika dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Sehingga apabila dibandingkan
dengan perlakuan pemotongan pucuk, maka tunas yang terbentuk akan lebih banyak.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
1 2 3 4 5 6
j
u
m
l
a
h

t
u
n
a
s

waktu pengamatan
Grafik Jumlah Tunas Sambang Darah
kontrol
potong-tanpa kelapa
potong-kelapa
Penyimpangan yang terjadi dapat disebebakan oleh pengaplikasian air kelapa yang masih
relatif sedikit sehingga kurang berpengaruh terhadap jumlah tunas yang dihasilkan.
















Gambar 2.4. Grafik Panjang Tunas Tanaman Sambang Darah pada Berbagai
Perlakuan Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang tunas tanaman
sambang darah berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Pada grafik dapat dilihat bahwa
pertumbuhan jumlah tunas tanaman terbaik ditunjukkan oleh perlakuan pemotongan pucuk +
kelapa di akhir minggu pengamatan. Dari grafik tersebut, dapat diketahui bahwa pada umur 6
MSP, panjang tunas terpanjang adalah pada tanaman sambang darah perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa (sebesar 4,025 cm), kemudian yang kedua adalah tanaman sambang darah
perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 3,71 cm), dan tanaman sambang darah perlakuan
kontrol memiliki panjang tunas terpendek (hanya sebesar 0,45 cm).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap panjang tunas tanaman sambang
darah. Hal ini dapat disebabkan karena selisih nilai panjang tunas tanaman sambang darah
ketiga perlakuan tersebut yang relatif tidak terlalu berbeda jauh. Seharusnya analisis
menunjukkan adanya beda nyata antar perlakuan yang diberikan kepada tanaman sambang
darah karena dengan pemotongan pucuk maka akan menyebabkan tanaman akan
menghasilkan tunas lateral sehingga tanaman tidak akan tumbuh terus ke atas. Sedangkan
pada perlakuan potong pucuk + air kelapa menyebabkan tanaman akan lebih terpacu
membentuk tunas lateral dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya karena air kelapa akan
memacu tanaman untuk membentuk tunas lateral yang lebih banyak jika dibandingkan dengan
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
1 2 3 4 5 6
p
a
n
j
a
n
g

t
u
n
a
s

(
c
m
)

waktu pengamatan
Grafik Panjang Tunas Sambang Darah
kontrol
potong-tanpa kelapa
potong-kelapa
perlakuan yang lainnya. Sehingga apabila dibandingkan dengan perlakuan pemotongan
pucuk, maka tunas yang terbentuk akan lebih banyak. Penyimpangan yang terjadi dapat
dikarenakan oleh pengaplikasian air kelapa masih dapat kosentrasi yang sedikit sehingga
kurang berpengaruh terhadap panjang tunas yang dihasilkan dari berbagai macam perlakuan.















Gambar 2.5. Histogram Panjang Akar Tanaman Sambang Darah pada Berbagai
Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang akar (PA) tanaman
sambang darah berbagai perlakuan pemotongan pucuk pada umur 3 MSP dan umur 6 MSP.
Berdasarkan histogram di atas, diketahui bahwa pada umur 3 MSP, tanaman sambang darah
dengan panjang akar terpanjang adalah tanaman perlakuan kontrol (sebesar 33,5 cm),
kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 32,50 cm), dan yang
mempunyai panjang akar paling pendek adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk
(sebesar 21,25 cm). Sementara itu, pada umur 6 MSP, tanaman yang memiliki panjang akar
terpanjang adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 32 cm),
selanjutnya tanaman perlakuan kontrol (sebesar 25,50 cm), dan yang panjang akarnya
terendah adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 14,75 cm).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa ada beda
nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap panjang akar tanaman sambang darah. Hal
ini terjadi karena dengan pemotongan pucuk maka akan menyebabkan tanaman akan
menghasilkan tunas lateral sehingga tanaman tidak akan tumbuh terus ke atas. Sedangkan
pada perlakuan pemotongan pucuk + air kelapa menyebabkan tanaman akan lebih terpacu
membentuk tunas lateral dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya karena air kelapa akan
memacu tanaman untuk membentuk tunas lateral yang lebih banyak jika dibandingkan dengan
perlakuan yang lainnya. Sehingga apabila dibandingkan dengan perlakuan pemotongan
pucuk, maka tunas yang terbentuk akan lebih banyak. Penyimpangan yang terjadi dapat
0
5
10
15
20
25
30
35
40
3 msp 6 msp
p
a
n
j
a
n
g

a
k
a
r

(
c
m
)

waktu pengamatan
Histogram Panjang Akar Sambang
Darah
kontrol
potong-tanpa kelapa
potong-kelapa
dikarenakan oleh pengaplikasian air kelapa masih dapam kosentasi yang sedikit sehingga
kurang berpengaruh terhadap panjang tunas yang dihasilkan dari berbagai macam perlakuan.

















Gambar 2.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Sambang
Darah pada Berbagai Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya berat segar (BS) dan berat
kering (BK) tanaman sambang darah berbagai perlakuan pemotongan pucuk pada umur 3
MSP dan umur 6 MSP. Berdasarkan histogram di atas, dapat diketahui bahwa BS pada umur
3 MSP yang tertinggi adalah pada tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar
29,48 gram), kemudian tanaman perlakuan kontrol (sebesar 22,40 gram), dan BS terendah
dimiliki tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 15,27 gram). Sementara itu, BS pada
umur 6 MSP yang paling tinggi nilainya adalah pada tanaman perlakuan pemotongan pucuk
(sebesar 34,05 gram), kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar
22,21 gram), dan BS terendah ditunjukkan tanaman perlakuan kontrol (sebesar 11,46 gram).
Pada umur 3 MSP, berat kering (BK) tanaman sambang darah secara berturut-turut
dari yang terbesar dimiliki oleh tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 5,75 gram),
kemudian tanaman perlakuan kontrol (sebesar 4,89 gram), dan yang nilai BK nya terendah
adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 3,71 gram). Pada umur 6
MSP, berat kering tanaman sambang darah yang paling tinggi adalah tanaman perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 7,4 gram), kemudian diikuti tanaman perlakuan
pemotongan pucuk (sebesar 3,74 gram), dan yang memiliki berat kering paling rendah adalah
tanaman perlakuan kontrol (sebesar 2,78 gram).
Pada Gambar 2.6 tersebut, diketahui bahwa Bobot Segar dan Bobot Kering Total
Sambang darah, saat 6 MSP bobot segar perlakuan potong kelapa memang lebih rendah
0
5
10
15
20
25
30
35
40
3 msp 6 msp 3 msp 6 msp
BS BK
B
e
r
a
t

(
g
r
)

waktu pengamatan
Histogram BS-BK Sambang Darah
kontrol
potong-tanpa kelapa
potong-kelapa
daripada perlakuan pemotongan pucuk, tetapi dilihat bobot keringnya ternyata pada perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa nilainya paling besar dibandingka kedua perlakuan yang lainnya.
Hasil yang demikian menunjukkan bahwa asimilat pada tanaman perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa tersebut banyak. Pada perlakuan pemotongan + kelapa tersebut pertumbuhan
tanaman optimal, biasanya ditandai dengan laju pertumbuhan tanaman (LPT) optimal.
Selanjutnya LPT optimal akan berpengaruh pada proses fisiologis (fotosintesis) yang optimal
pula yang bisanya ditandai dengan nilai laju asimilasi bersih (LAB) optimal. Dengan LPT dan
LAB yang optimal, akan diperoleh hasil yang maksimal yang biasanya ditandai dengan nilai
indeks panen (IP) tinggi. Hasil yang berupa asimilat tersebut dapat diukur dari banyak
sedikitnya bobot kering tanaman. Semakin besar nilai bobot kering tanaman, maka
mengindikasikan bahwa proses fotosintesis tanaman optimal.















3. Tanaman Melati (J asminum sambac L.)
Bunga melati yang merupakan bunga kebanggaan masyarakat Indonesia merupakan salah satu
komoditas tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, kegunaannya tidak hanya sebagai tanaman
hias pot dan taman, tetapi juga sebagai pengharum teh, bahan baku industri parfum, kosmetik,
obat tradisional, bunga tabur pusara, penghias ruangan, dekorasi pelaminan, dan pelengkap
dalam upacara adat. Melati yang telah dibudidayakan sebanyak 47 spesies, tiga di antaranya
berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, yaitu Jamsmine sambac Maid of Orleans
(Jasmine sambac Aid), Jasmine sambac Grand Duke of Tuscany, dan Jasmine officinale.


Gambar 3.1. Grafik Tinggi Tanaman Melati pada Berbagai Perlakuan Pemotongan
Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya tinggi tanaman (TT) tanaman
melati berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6
minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui
bahwa pada saat tanaman berumur 6 MSP, yang memiliki tinggi tanaman tertinggi adalah
tanaman melati perlakuan A (kontrol), yaitu sebesar 22,75 cm, kemudian yang memiliki
tinggi tanaman tertinggi selanjutnya adalah tanaman melati perlakuan B (pemotongan pucuk),
yaitu sebesar 17,75 cm. Sementara itu, tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa
memiliki tinggi tanaman terendah yaitu hanya sebesar 11,15 cm. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa perlakun potong tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman
melati, tetapi perlakuan potong kelapa dapat sedikit meningkatkan pertumbuhan jumlah daun
0
5
10
15
20
25
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

T
a
n
a
m
a
n

(
c
m
)

Pengamatan ke-
Tinggi Tanaman Melati
A
B
C
tanaman melati dibanding jika hanya sekedar dipotong. Namun kedua perlakun tersebut tidak
lebih baik daripada tanaman perlakuan kontrol.
Hasil yang diperoleh tersebut sesuai dengan teori karena tanaman kontrol tidak
dipotong ujung batangnya, sehingga pertumbuhan ke atasnya lebih tinggi/ lebih baik. Secara
umum, pada pertumbuhan tanaman terdapat persaingan antara tunas pucuk dengan tunas
lateral dalam hal pertumbuhannya. Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral
akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk. Pada batang sebgaian besar, kuncup apikal
memberi pengaruh yang menghambat kuncup terhadap tunas lateral dengan mencegah atau
menghambat perkembangannya. Produksi kuncup yang tidak berkembang mengandung
pertahanan pasif karena bila kuncup rusak kuncup samping akan tumbuh dan menjadi tajuk.
Dominansi apikal disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan
ditimbun pada tunas lateral, hal ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral karena
konsentrasinya masih terlalu tinggi. konsentrasi auksin yang tinggi ini akan menghambat
pertumbuhan tunas lateral yang dekat dengan pucuk. Pucuk apikal merupakan tempat
produksi auksin, jika pucuk apikal (tunas pucuk) dipotong maka produksi auksin terhenti.
Berdasarkan hasil analisis dengan RAL, diketahui bahwa terdapat beda nyata antar
perlakuan pemotongan pucuk terhadap tinggi tanaman melati. Setelah dilakukan uji lanjut
dengan menggunakan DMRT 5%, diperoleh hasil bahwa tinggi tanaman perlakuan kontrol
(huruf a) berbeda nyata terhadap tinggi tanaman perlakuan pemotongan pucuk (huruf b) dan
tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (huruf c), dan begitu pula sebaliknya terdapat
beda nyata antar ketiga perlakuan tersebut. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa
perlakuan kontrol memberikan tinggi tanaman terpanjang diantara perlakuan yang lainnya.








Gambar 3.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Melati pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah daun (JD) tanaman
melati berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6
minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui
bahwa pada saat tanaman berumur 6 MSP, jumlah daun terbanyak dimiliki tanaman perlakuan
pemotongan pucuk (sebanyak 19 helai daun), kemudian tanaman perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa (sebanyak 17 helai daun), dan yang memiliki jumlah daun paling sedikit
adalah tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 9,5 helai daun).
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan RAL, diketahui
bahwa tidak ada beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumalh daun
tanaman melati. Hal ini terjadi karena banyaknya jumlah daun tanaman melati yang tidak
berbeda jauh antar perlakuan. Seharusnya terdpat beda nyata antar perlakuan terhadap jumlah
daun tanaman melati yang dihasilkan. Hal ini dapat terjadi karena pemotongan pucuk
menyebabkan pengaruh hormon auksin yang meningkat menyebabkan tanaman mengalami
pematahan dominansi apikal sehingga secara langsung hormon akan membentuk tunas lateral
yang lebih dominan ke samping. Sehingga tinggi tanaman yang dipotong pucuknya
mengalami peningkatan jumlah daun tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan
perlakuan kontrol.

0
5
10
15
20
25
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

D
a
u
n

Pengamatan ke-
Jumlah Daun Melati
A
B
C

Gambar 3. 3. Grafik Jumlah Tunas Tanaman Melati pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Berdasarkan grafik pada gambar 3.3 di atas, perlakuan potong pucuk dengan disemprot
air kelapa menghasilkan pertumbuhan jumlah tunas yang baik pada melati yaitu 2.
Hasil yang demikian dimungkinkan karena faktor kualitas air kelapa yang digunakan
tidak lagi mengandung banyaak sitokinin sehingga pengaruh pemberian air kelapa tidak
berbeda denagan tanpa pemberian air kelapa. Hasil analisis statistik dengan uji DMRT 5%
menunjukkan bahwa ketiga perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata.









0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

T
u
n
a
s

Pengamatan ke-
Jumlah Tunas Melati
A
B
C

Gambar 3.4. Grafik Panjang Tunas Tanaman Melati pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Berdasarkan grafik pada gambar 3.4 di atas, panjang tunas dengan pertumbuhan yang
maksimal ada pada tanaman melati dengan perlakuan potong dan disemprotkan air kelapa
yaitu 9,475 cm. Berdasarkan hasil analsis data, menunjukkan bahwa ada beda nyata antar
berbagai perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang telah dilakukan ini
berpengaruh terhadap panjang tunas tanaman melati yang ada. Teramati bahwa pada
perlakuan A (kontrol) pertumbuhan panjang akar tetap sejak 1 msp hingga 6 MSP, yaitu rata-
rata 2 cm. akan tetapi, jika dilihat data jumlah tunas, teramati bahwa pada perkaluan A
(kontrol) tidak terjadi pertumbuhan tunas baru. Jadi kemungkinan data panjang tunas yang
tercatat tersebut adalah tunas lama (tunas yang sudan ada sebelum perlakuan).
Ketelitian pengamatan sangat diperlukan agar hasil yang didapatkan valid dan
mengandung informasi yang runtut antara 1 variabel pengamatan denagn variabel lainnya
sehingga pengaruh perlakuan dapat diketahuii dengan jelas. Dari Gambar 16 tersebut juga
teramati bahwa pada perlakuan B (pemotongan pucuk) dan C (pemotongan pucuk + kelapa)
tidak terjadi pertumbuhan tunas. Hasil analisis statistik dengan uji DMRT 5% menuunjukkan
bahwa ketiga perlakuan memberikan pengatuh yang tidak berbeda nyata terhadap panjang
tunas tanaman melati.



0
0.5
1
1.5
2
2.5
1 2 3 4 5 6
P
a
n
j
a
n
g


T
u
n
a
s

(
c
m
)

Pengamatan ke-
Panjang Tunas Melati
A
B
C

Gambar 3.5. Histogram Panjang Akar Tanaman Melati pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang akar (PA) tanaman
melati berbagai perlakuan pemotongan pucuk pada umur 3 MSP dan pada umur 6 MSP. Pada
umur 3 MSP, tanaman yang memiliki panjang akar tertinggi adalah tanaman melati perlakuan
pemotongan pucuk, lalu yang memiliki panjang akar tertinggi kedua adalah tanaman
perlakuan pemotongan pucuk + kelapa, dan tanaman yang memiliki panjang akar paling
pendek adalah tanaman perlakuan kontrol. Pada umur 6 MSP, panjang akar terpanjang
dimiliki oleh tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa, kemudian panjang akar
terpanjang selanjutnya dimiliki tanaman perlakuan pemotongan pucuk, dan tanaman dengan
panjang akar paling pendek dimiliki tanaman perlakuan kontrol. Secara statistik dengan uji
DMRT 5% menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata antar perlakuan yang diberikan.




0
5
10
15
20
25
A B C
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

Perlakuan
Panjang Akar Melati
3 msp
6 msp

Gambar 3.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Melati pada
Berbagai Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya berat segar (BS) dan berat
kering (BK) tanaman melati berbagai perlakuan pemotongan pucuk pada umur 3 MSP dan
pada umur 6 MSP. Berdasarkan histogram di atas, diketahui bahwa berat segar (BS) pada
umur 3 MSP dan 6 MSP memiliki urutan yang sama, dimana berat segar paling besar adalah
pada tanaman perlakuan pemotongan pucuk, kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk
+ kelapa, dan berat segar terkecil dimiliki tanaman perlakuan kontrol. Sementara itu pada
pengukuran berat kering (BK) menunjukkan berat yang berbeda pada umur 3 MSP dan 6
MSP. Pada umur 3 MSP, diketahui bahwa berat kering tertinggi dimiliki tanaman perlakuan
pemotongan pucuk, kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa, dan perlakuan
kontrol. Pada umur 6 MSP, diketahui bahwa berat kering tertinggi dimiliki tanaman perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa, lalu tanaman perlakuan pemotongan pucuk, dan berat kering
yang terendah adalah pada perlakuan kontrol.
Berdasarkan gambar 3.6. tersebut, Bobot Segar dan Bobot Kering Total Tanaman Melati,
teramati bahwa saat 3 MSP maupun 6 MSP bobot segar perlakuan pemotongan pucuk +
kelapa lebih kecil nilainnya daripada perlakuan potong. Demikian juga bobot kering
pemotongan pucuk + kelapa saat 3 MSP, lebih rendah daripada perlakuan potong. Namun,
saat 6 MSP, bobot kering perlakuan potong kelapa paling besar nilainya. Nilai bobot kering
yang lebih besar mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan tanaman (LPT) dan laju asimilasi
bersih (LAB) juga optimal, dimana bobot kering merupakan timbunan asimilat sebagai hasil
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
3 msp 6 msp 3 msp 6 msp
BS BK
B
e
r
a
t

(
g
r
a
m
)

Berat Segar dan Berat Kering Melati
A
B
C
fotosintesis yang kemudian merupakan komponen hasil yang akan menentukan nilai indeks
panen (IP) tanaman.





















4. Tanaman Herpak (Excoecaria folium)

Gambar 4.1. Grafik Tinggi Tanaman Herpak pada Berbagai Perlakuan Pemotongan
Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya tinggi tanaman (TT) herpak
berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6 minggu
lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Dari grafik tersebut, diketahui bahwa tanaman herpak
dengan tinggi tanaman tertinggi pada umur 6 MSP adalah tanaman perlakuan kontrol
(setinggi 21,95 cm), kemudian yang tertinggi kedua adalah tanaman perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa (setinggi 18,2 cm), dan tanaman herpak yang memiliki tinggi tanaman
terendah adalah perlakuan pemotongan pucuk (setinggi 16,4 cm).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap tinggi tanaman herpak. Hal ini dapat
disebabkan karena selisih nilai tinggi tanaman tanaman herpak ketiga perlakuan tersebut yang
relatif tidak terlalu berbeda jauh.




0
5
10
15
20
25
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

t
a
n
a
m
a
n

Pengamatan ke-
Tinggi Tanaman Herpak
Kontrol
Potong
Potong+Kelapa

Gambar 4.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Herpak pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah daun (JD) tanaman
herpak berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6
minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui
bahwa pada umur 6 MSP, tanaman yang memiliki jumlah daun tertinggi adalah tanaman
perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebanyak 360 helai daun), kemudian yang memiliki
jumlah daun tertinggi kedua adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebanyak 314
helai daun), dan tanaman herpak yang memiliki jumlah daun paling sedikit adalah pada
perlakuan kontrol (sebanyak 307 helai daun).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah daun tanaman herpak. Hal ini
dapat disebabkan karena selisih nilai jumlah daun tanaman herpak ketiga perlakuan tersebut
yang relatif tidak terlalu berbeda jauh.




0
50
100
150
200
250
300
350
400
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

d
a
u
n

Pengamatan ke-
Jumlah Daun Herpak
Kontrol
Potong
Potong+Kelapa

Gambar 4.3. Grafik Jumlah Tunas Tanaman Herpak pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah tunas tanaman herpak
berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6 minggu
lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik tersebut, dapat dilihat bahwa pada
umur 6 MSP, jumlah tunas tanaman herpak perlakuan kontrol adalah yang paling banyak
(sebanyak 5,5 tunas), kemudian diikuti tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebanyak 4
tunas), dan tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa memiliki jumlah tunas paling
sedikit (sebanyak 2 tunas).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah tunas tanaman herpak. Hal ini
dapat disebabkan karena selisih nilai jumlah tunas tanaman herpak ketiga perlakuan tersebut
yang relatif tidak terlalu berbeda jauh.






0
1
2
3
4
5
6
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

T
u
n
a
s

Umut Tanaman (MST)
Jumlah Tunas Herpak
Kontrol
Potong
Potong + Kelapa

Gambar 4.4. Grafik Panjang Tunas Herpak pada Berbagai Perlakuan Pemotongan
Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang tunas tanaman herpak
berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6 minggu
lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa
tanaman herpak yang memiliki panjang tunas terpanjang pada umur 6 MSP adalah tanaman
perlakuan kontrol (sebesar 3,5 cm), kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa
(sebesar 0,87 cm), dan tanaman herpak yang memiliki panjang tunas terpendek adalah
tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 0,58 cm).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa ada beda
nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap panjang tunas tanaman herpak. Hal ini
dapat disebabkan karena selisih nilai panjang tunas tanaman herpak ketiga perlakuan tersebut
yang memang relatif berbeda jauh.





0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
1 2 3 4 5 6
P
a
n
j
a
n
g

T
u
n
a
s

(
c
m
)

Umur Tanaman (MST)
Panjang Tunas Herpak
Kontrol
Potong
Potong + Kelapa

Gambar 4.5. Histogram Panjang Akar Tanaman Herpak pada Berbagai
Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang akar tanaman
herpak berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati pada umur 3 MSP dan pada umur
6 MSP. Pada saat umur 3 MSP, tanaman herpak yang memiliki panjang akar paling panjang
adalah pada perlakuan kontrol (sebesar 22,55 cm), kemudian tanaman perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa (sebesar 21 cm), dan tanaman yang memiliki panjang akar terpendek adalah
tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 17,55 cm). Pada saat umur 6 MSP, tanaman
herpak yang memiliki panjang akar paling panjang adalah tanaman herpak perlakuan kontrol
(sebesar 29,4 cm), selanjutnya tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 27,3
cm), dan tanaman perlakuan pemotongan pucuk memiliki panjang akar yang paling pendek
(sebesar 27,15 cm).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tidak ada
beda nyata antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap panjang akar tanaman herpak. Hal ini
dapat disebabkan karena selisih nilai panjang akar tanaman herpak ketiga perlakuan tersebut
yang relatif tidak terlalu berbeda jauh.



0
5
10
15
20
25
30
35
Kontrol Potong potong+Kelapa
P
a
n
j
a
n
g

a
k
a
r

Perlakuan
Panjang Akar Herpak
3 msp
6 msp

Gambar 4.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Herpak
pada Berbagai Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya berat segar (BS) dan berat
kering (BK) tanaman herpak berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati pada umur
6 MSP. Berdasarkan histogram di atas, dapat diketahui bahwa berat segar (BS) tertinggi
adalah pada perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 48,25 gram), kemudian tanaman perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 44,475 gram), dan yang berat segar terendah dimiliki
tanaman herpak perlakuan kontrol (sebesar 35,925 gram). Sementara itu, berat kering (BK)
tertinggi pada umur 6 MSP yang tertinggi adalah pada perlakuan kontrol (sebesar 11,005
gram), kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 10,265 gram), dan
yang memiliki berat kering terendah adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar
8,315 gram).
Berdasarkan histogram tersebut, diketahui Bobot Segar dan Bobot Kering Tanaman
Herpak, teramati bahwa saat 3 MSP maupun 6 MSP, bobot segar yang paling besar adalah
pada perlakuan pemotongan pucuk. Namun jika dilihat bobot kering saat 3 MSP, perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa yang paling besar nilai bobot keringnya dan di akhir pengamatan
(6 MSP) nilai bobot kering pemotongan pucuk + kelapa hampir sama besarnya dengan
kontrol. Nilai bobot kering yang lebih besar mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan
tanaman (LPT) dan laju asimilasi bersih (LAB) juga optimal, dimana bobot kering merupakan
timbunan asimilat sebagai hasil fotosintesis yang kemudian merupakan komponen hasil yang
akan menentukan nilai indeks panen (IP) tanaman.
0
10
20
30
40
50
60
Kontrol Potong Potong+Kelapa
B
S

d
a
n

B
K

Perlakuan
BS dan BK Herpak
BS
BK
5. Tanaman Tembelekan (Lantana camara L.)
`Tanaman tembelekan termasuk tanaman berhabitus perdu, tegak atau agak memanjat,
yang dapat tumbuh mencapai ketinggian 2 m, berbau dan mampu memiliki percabangan dan
perantingan yang kaya namun pertumbuhannya relatif lambat untuk memiliki batang berkayu
yang besar. Tembelekan dapat mengeluarkan berbagai macam warna bunga seperti kuning,
orange, pink, putih dan biru. Tembelekan memiliki sistem perakaran tunggang, dan memiliki
bulu- bulu akar yang yang tumbuh dari akar pokok. Akar- akar ini berfungsi untuk mencari air
atau untuk memperluas bidang penyerapan dan untuk memperkuat berdirinya batang
tembelekan itu sendiri. Oleh karena itulah, tembelekan biasanya tumbuh di tempat-tempat
yang sedikit panas atau rindang.



Gambar 5.1. Grafik Tinggi Tanaman Tembelekan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan tinggi tanaman (TT) tembelekan pada
berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6 minggu
lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik tersebut, dapat diketahui bahwa
pada umur 6 MSP, tanaman tembelekan perlakuan pemotongan pucuk + kelapa memiliki
tinggi tanaman tertinggi (sebesar 43,5 cm), kemudian diikuti tanaman perlakuan pemotongan
pucuk (sebesar 36,65 cm), dan tanaman tembelekan perlakuan kontrol memiliki tinggi
tanaman yang paling rendah (sebesar 31 cm).
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

T
a
n
a
m
a
n

(
c
m
)

Umur Tanaman (MST)
Tinggi Tanaman Tembelekan
Kontrol
Pucuk
Pucuk + Kelapa
Hasil uji DMRT 5% data tinggi tanaman tembelekan ini menunjukkan bahwa
perlakuan pemotongan pucuk + kelapa memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap
tinggi tanaman tembelekan. Pada pengamatan terakhir, perlakuan pemotongan pucuk + kelapa
menunjukkan rerata tinggi tanaman tertinggi yaitu mencapai 43,50 cm, perlakuan potong
36,65 cm, dan yang terendah pada perlakuan kontrol 31 cm. Adanya pemotongan pucuk
maupun pemotongan pucuk + kelapa memberikan hasil tinggi tanaman tembelekan yang tetap
optimum dan pertumbuhan jumlah maupun panjang tunas juga optimum (akan dibahas pada
Gambar 27 dan 28 di bawah). Dengan hasil yang demikian, menunjukkan karakter tanaman
tembelekan adalah pertumbuhan tinggi tanaman dan pertumbuhan tunas lateral dapat terjadi
bersamaan dengan dipacu oleh perlakuan pemotongan pucuk ataupun pemotongan + kelapa.











Gambar 5.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Tembelekan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan jumlah daun (JD) tanaman tembelekan
pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6
minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Dari grafik tersebut, dapat diketahui bahwa
jumlah daun paling banyak saat umur 6 MSP adalah pada tanaman perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa (sebanyak 124,5), kemudian jumlah daun terbanyak kedua dimiliki tanaman
perlakuan kontrol (sebanyak 122,5), dan jumlah daun paling sedikit dimiliki tanaman
perlakuan pemotongan pucuk (sebanyak 114,5).
Hasil uji DMRT 5% data jumlah daun tanaman tembelekan ini juga menunjukkan
bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah
daun tanaman tembelekan. Pada pengamatan terakhir, perlakuan pemotongan pucuk + kelapa
menunjukkan rerata jumlah daun terbanyak yaitu 124,5; perlakuan kontrol 122,5; dan yang
terendah pada perlakuan pemotongan pucuk yang rerata jumlah daunnya hanya 114,5.
Perlakun pemotongan pucuk + kelapa tidak berbeda nyata dengan kontrol, sedangkan
perlakuan pemotongan pucuk pengaruhnya lebih rendah dari kedua perlakuan lainnya.



0
20
40
60
80
100
120
140
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

D
a
u
n

(
H
e
l
a
i
)

Umur Tanaman (MST)
Jumlah Daun Tanaman Tembelekan
Kontrol
Pucuk
Pucuk + Kelapa

Gambar 5.3. Grafik Jumlah Tunas Tanaman Tembelekan pada Berbagai
Perlakuan Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah tunas tanaman
tembelekan pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat
diketahui bahwa jumlah tunas terbanyak dimiliki oleh tanaman tembelekan perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa (sebanyak 3 tunas), kemudian tanaman perlakuan pemotongan
pucuk (sebanyak 2,5 tunas), dan perlakuan kontrol tidak memiliki tunas (0 tunas).
Berdasarkan hasil analisis CRD yang dilakukan, diketahui bahwa tidak ada beda nyata
antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah tunas tanaman tembelekan. Hal ini
disebabkan karena selisih jumlah tunas tanaman antara ketiga perlakuan tersebut yang tidak
berbeda jauh nilainya. Hal ini berarti semua perlakuan yang diberikan berpengaruh terhadap
jumlah tunas tanaman tembelekan. Meskipun secara statistik, tidak menunjukkan adanya beda
nyata perlakuan, namun data pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas dan
panjang tunas menunjukkan pola pengaruh pertumbuhan yang sama yang mengandung
informasi bahwa perlakuan potong pucuk dan potong kelapa berpengaruh baik pada
pertumbuhan tanaman tembelekan.



0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

T
u
n
a
s

Umur Tanaman (MST)
Jumlah Tunas Tanaman Tembelekan
Kontrol
Pucuk
Pucuk + Kelapa

Gambar 5.4. Grafik Panjang Tunas Tanaman Tembelekan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang tunas tanaman
tembelekan pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat
diketahui bahwa panjang tunas terpanjang dimiliki oleh tanaman perlakuan pemotongan
pucuk (sebesar 6,15 cm), kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar
5,7 cm), dan panjang tunas paling pendek dimiliki tanaman perlakuan kontrol (sebesar 0 cm).
Berdasarkan hasil analisis data, menunjukkan bahwa ada beda nyata antar berbagai
perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang telah dilakukan ini berpengaruh
terhadap panjang tunas tanaman tembelekan.







0
1
2
3
4
5
6
7
1 2 3 4 5 6
P
a
n
j
a
n
g

T
u
n
a
s

(
c
m
)

Umur Tanaman (MST)
Panjang Tunas Tanaman Tembelekan
Kontrol
Pucuk
Pucuk + Kelapa

Gambar 5.5. Histogram Panjang Akar Tanaman Tembelekan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang akar tanaman
tembelekan berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati pada umur 3 MSP dan pada
umur 6 MSP. Pada saat umur 3 MSP, panjang akar paling panjang dimiliki tanaman perlakuan
A/ kontrol (sebesar 38,75 cm), kemudian tanaman perlakuan C/ pemotongan pucuk + kelapa
(sebesar 37,75 cm), dan panjang akar paling rendah dimiliki tanaman perlakuan B/
pemotongan pucuk (sebesar 33,85 cm). Sementara itu pada umur 6 MSP, panjang akar dari
yang tertinggi secara berturut-turut dimiliki tanaman tembelekan perlakuan pemotongan
pucuk + kelapa (sebesar 40 cm), kemudian tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar
41,475 cm), dan tanaman perlakuan kontrol memiliki panjang akar terendah (sebesar 37,7
cm). Hasil analisis statistik dengan uji DMRT 5% mrnunjukkan bahwa ketiga perlakuan
tersebut memperikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap panjang akar tanaman
tembelekan.






30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
A B C
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

(
c
m
)

Perlakuan
Panjang Akar Tanaman Tembelekan
3 MSP
6 MSP

Gambar 5.6. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman
Tembelekan pada Berbagai Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menggambarkan perbandingan besarnya berat segar (BS) dan berat
kering (BK) tanaman tembelekan berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati pada
umur 6 MST. Dari histogram di atas, dapat diketahui bahwa berat segar (BS) tertinggi
dimiliki tanaman perlakuan kontrol (sebesar 49,685 gram), kemudian tanaman perlakuan
pemotongan pucuk (sebesar 41,475 gram), dan tanaman dengan berat segar paling rendah
adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 27,875 gram). Berat kering
(BK) tertinggi dimiliki tanaman perlakuan kontrol (sebesar 12,565 gram), kemudian tanaman
perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 11,91 gram), dan berat kering terendah adalah pada
tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 10,355 gram).
Secara teori, perlakuan pemotongan pucuk + kelapa yang seharusnya memberikan
pengaruh yang paling besar. Namun, pada praktek di lapangan, teori yang ada seringkali tidak
terjadi karena pengaruh faktor lingkungan, serangan hama penyakit tanaman, manusia, dll.
Secara teori perlakuan potong kelapa dapat memberikan pengaruh pertumbuhan dan hasil
tanaman yang lebih baik karena air kelapa mengandung hormon sitokinin yang dapat memacu
pertumbuhan tunas lateral. Tumbuhnya tunas lateral yang lebih banyak berarti juga
peningkatan jumlah daun tanaman, dimana daun merupakan source bagi tanaman. Fungsinya
samgat penting dalam pertumbuhan dan menentukan hasil tanaman. Dengan pertumbuhan
daun yang lebih banyak, maka berarti pertumbuhan organ yang lainnya juga terpengaruh baik
atau dengan kata lain laju pertumbuhan tanaman (LPT) optimal yang selanjutnya dapat
0
10
20
30
40
50
60
A B C
B
S
-
B
K

Perlakuan
BS-BK Tembelekan
BS
BK
berpengaruh pada proses fisiologis (fotosintesis) yang lebih optimal yang ditandai dengan
tingginya nilai laju asimilasi bersih (LAB) dan pada akhirnya akan menentukan tinggi
rendahnya indeks panen (IP) tanaman. Banyak sedikitnya asimilat yang dihasilkan saat
fotosintesis dapat tercermin dari bobot kering tanaman. Semakin besar bobot kering tanaman,
mengindikasikan fotosintesis optimal.



















6. Tanaman Terang Bulan (Duranta repens)
Tanaman Terang Bulan (Duranta repens L.) termasuk tanaman langka, karena itu
peminatnya sangat banyak. Tanaman ini dapat digunakan untuk mencegah maupun mngobati
penyakit stroke, karena bersifat hemostatik. Puring ini termasuk salah satu jenis puring
unggulan dan cukup banyak dicari. Bentuk daunnya menyerupai bentuk daun puring jojon.
Namun berbeda dari segi warna. warna daun mudanya berwarna hijau dan berangsur menjadi
kuning ketika daun semakin tua. Padanan warna kuning dan hijau sangat menarik apalagi jika
serat-serat daun hijaunya mulai berubah menjadi kuning.


Gambar 6.1. Grafik Tinggi Tanaman Terang Bulan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya tinggi tanaman terang bulan
pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali selama 6
minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Dari grafik tersebut, daapt diketahui bahwa
pada umur 6 MSP, tanaman terang bulan yang tertinggi adalah tanaman perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa (sebesar 29,5 cm), kemudian yang memiliki tinggi tanaman
kedua adalah tanaman perlakuan kontrol (sebesar 29,2 gram), dan tanaman yang memiliki
tinggi tanaman terendah adalah tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebesar 24,35 gram).
Berdasarkan hasil analisis dengan CRD, diketahui bahwa tidak terdapat beda nyata
antar perlakuan pemotongan pucuk terhadap tinggi tanaman terang bulan. Hal ini disebabkan
0
5
10
15
20
25
30
35
1 2 3 4 5 6
T
i
n
g
g
i

T
a
n
a
m
a
n

Pengamatan
Grafik Tinggi Tanaman Terang Bulan
Kontrol
Potong
Semprot
karena besarnya selisih tinggi tanaman yang tidak berbeda jauh antar perlakuan. Dengan hasil
yang demikian, mengindikasikan bahwa pada tanaman terang bulan tidak ada dominansi
apikal. Dilihat dari morfologi tanaman terang bulan, dalam keadaan normal pun tunas-tunas
lateral terang bulan tumbuh banyak. Jadi pemotongan pucuk tidak begitu berpengaruh
terhadap pertumbuhan tanaman ini, termasuk juga pada pertumbuhan tinggi tanamannya.
Akan tetapi pemotongan pucuk disertai perlakuan penyemprotan air kelapa dapat memacu
pertumbuhan tinggi tanaman.













Gambar 6.2. Grafik Jumlah Daun Tanaman Tembelekan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah daun (JD) tanaman
terang bulan pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat
diketahui bahwa pada umur 6 MSP, jumlah daun terbanyak dimiliki tanaman perlakuan
pemotongan pucuk + kelapa (sebanyak 72,75), kemudian jumlah daun terbanyak kedua
dimiliki tanaman perlakuan pemotongan pucuk (sebanyak 54,25), dan jumlah daun paling
sedikit dimiliki tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 40,25).
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan menggunakan CRD, diperoleh hasil bahwa
tidak ada beda nyata antara perlakuan pemotongan pucuk terhadap jumlah daun tanaman
terang bulan. Hal ini disebabkan karena selisih nilai jumlah daun yang tidak berbeda jauh
antar perlakuan.



0
10
20
30
40
50
60
70
80
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

D
a
u
n

Pengamatan
Grafik Jumlah Daun Terang Bulan
Kontrol
Potong
Semprot

Gambar 6.3. Grafik Jumlah Tunas Tanaman Terang Bulan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah tunas tanaman terang
bulan pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat
diketahui bahwa pada umur 6 MSP, jumlah tunas terbanyak dimiliki oleh tanaman perlakuan
pemotongan pucuk (sebanyak 4,5), kemudian jumlah tunas terbanyak kedua dimiliki tanaman
perlakuan pemotongan pucuk + kelapa (sebanyak 4,25), dan jumlah tunas paling sedikit
dimiliki tanaman perlakuan kontrol (sebanyak 0/ tidak terbentuk tunas).
Secara statistik dengan uji DMRT 5% menunjukkan bahwa ada beda nyata perlakuan
pemotongan pucuk dan pemotongan pucuk + kelapa dengan kontrol terhadap jumlah tunas
tanaman terang bulan. Kedua perlakuan tersebut memberikan rerata pertumbuhan yang lebih
tinggi daripada tanaman perlakuan kontrol





0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5
1 2 3 4 5 6
J
u
m
l
a
h

T
u
n
a
s

Pengamatan
Grafik Jumlah Tunas Terang Bulan
Kontrol
Potong
Semprot

Gambar 6.4. Grafik Panjang Tunas Tanaman Terang Bulan pada Berbagai Perlakuan
Pemotongan Pucuk
Grafik di atas menggambarkan perbandingan besarnya panjang tunas tanaman terang
bulan pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk yang diamati setiap seminggu sekali
selama 6 minggu lamanya (sebanyak 6 kali pengamatan). Berdasarkan grafik di atas, dapat
diketahui bahwa panjang tunas tertinggi dimiliki tanaman perlakuan pemotongan pucuk +
kelapa (sebesar 6,24 cm), kemudian panjang tunas tertinggi kedua dimiliki tanaman perlakuan
pemotongan pucuk (sebesar 3,64 cm), dan panjang tunas paling pendek dimiliki tanaman
perlakuan kontrol (sebesar 0 cm).
Secara statistik dengan uji DMRT 5% menunjukkan bahwa ada beda nyata perlakuan
pemotongan pucuk dan pomotongan pucuk + kelapa dengan kontrol terhadap panjang tunas
tanaman terang bulan. Kedua perlakuan tersebut memberikan rerata pertumbuhan yang lebih
tinggi daripada tanaman perlakuan kontrol






0
1
2
3
4
5
6
7
1 2 3 4 5 6
A
x
i
s

T
i
t
l
e

Axis Title
Panjang Tunas Terang Bulan
Kontrol
Pucuk
Pucuk + Kelapa

Gambar 6.4. Histogram Panjang Akar Tanaman Terang Bulan pada Berbagai
Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menunjukkan perbandingan panjang akar tanaman terang bulan
pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk pada umur 6 MSP. Berdasarkan histogram di
atas, dapat diketahui bahwa tanaman perlakuan pemotongan pucuk memiliki panjang akar
paling panjang, kemudian tanaman perlakuan kontrol memiliki panjang akar terpanjang
kedua, dan tanaman perlakuan pemotongan pucuk + kelapa mempunyai panjang akar yang
paling pendek. Secara teori, perlakuan pemotongan pucuk + kelapa lah yang seharusnya dapat
memberikan pengaruh pertumbuhan dan hsil tanaman yang lebih baik. Namun di lapangan,
seringkali teori yang ada tidak terjadi karena faktor lingkungan, serangan OPT, manusia, dll
Hasil analisis statistik dengan uji DMRT 5% menunjukkan bahwa ketiga perlakuan
memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap panjangakar tanaman terang bulan.






0
5
10
15
20
25
Kontrol Potong Semprot
P
a
n
j
a
n
g

A
k
a
r

Perlakuan
Histogram Panjang Akar Terang Bulan
Kontrol
Potong
Semprot

Gambar 6.5. Histogram Berat Segar (BS) dan Berat Kering (BK) Tanaman Terang
Bulan pada Berbagai Perlakuan Pemotongan Pucuk
Histogram di atas menunjukkan perbandingan nilai bobot segar dan bobot kering
tanaman terang bulan pada berbagai perlakuan pemotongan pucuk pada umur 6 MSP. Bobot
segar tanaman terang bulan tertinggi diperlihatkan oleh tanaman perlakuan pemotongan
pucuk, kemudian berat segar tertinggi kedua dimiliki tanaman perlakuan pemotongan pucuk +
kelapa, dan berat segar paling rendah dimiliki tanaman perlakuan kontrol.
Secara teori, perlakuan pemotongan pucuk + kelapa yang seharusnya memberikan
pengaruh yang paling besar. Namun, pada praktek di lapangan, teori yang ada seringkali tidak
terjadi karena pengaruh faktor lingkungan, hama penyakit tanaman, manusia, dll. Secara teori
perlakuan potong kelapa dapat memberikan pengaruh pertumbuhan dan hasil tanaman yang
lebih baik karena air kelapa mengandung hormon sitokinin yang dapat memacu pertumbuhan
tunas lateral. Tumbuhnya tunas lateral yang lebih banyak berarti juga peningkatan jumlah
daun tanaman, dimana daun merupakan source bagi tanaman. Fungsinya samgat penting
dalam pertumbuhan dan menentukan hasil tanaman. Dengan pertumbuhan daun yang lebih
banyak, maka berarti pertumbuhan organ yang lainnya juga terpengaruh baik atau dengan kata
lain laju pertumbuhan tanaman (LPT) optimal yang selanjutnya dapat berpengaruh pada
proses fisiologis (fotosintesis) yang lebih optimal yang ditandai dengan tingginya nilai laju
asimilasi bersih (LAB) dan pada akhirnya akan menentukan tinggi rendahnya indeks panen
(IP) tanaman. Banyak sedikitnya asimilat yang dihasilkan saat fotosintesis dapat tercermin
0
10
20
30
40
50
60
Kontrol Potong Semprot
B
S

d
a
n

B
K

Perlakuan
Histogram Bobot Segar dan Kering
Terang Bulan
Bobot Segar
Bobot Kering
dari bobot kering tanaman. Semakin besar bobot kering tanaman, mengindikasikan
fotosintesis optimal.






















VI. KESIMPULAN
1. Dengan adanya pemotongan pucuk tanaman akan mematahkan dominansi apikal sehingga
terjadi peningkatan sitokinin pada tanaman.
2. Dengan perlakuan pemotongan pucuk akan meningkatkan jumlah daun tanaman, jumlah
pucuk, berat segar maupun berta kering tanaman.
3. Peningkatan konsentrasi sitokinin akan menyebabkan tunas membentuk cabang dalam
jumlah yang lebih banyak.
4. Dengan penambahan air kelapa pada pemotongan pucuk tanaman membantu tanaman
untuk memunculkan tunas lateral yang lebih banyak.
5. Pemotongan pucuk tidak terlalu mempengaruhi tinggi tanaman, namun Perlakuan yang
paling baik dari pemotongan pucuk adalah pemotongan pucuk + air kelapa.
1. Pada tanaman mawar (Rosa sp.), sambaing dara (Excoecaria cochinchinensis), melati
(Jasminum sambac), bunga herpak (Excoecaria folium), tembelekan (Lantana camara),
dan terang bulan (Duranta repens) terjadi dominansi apikal yang berpengaruh pada
terhambatnya pertumbuhan tunas lateral, sehingga dapat dikatakan bahwa pemotongan
pucuk berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas baru.












DAFTAR PUSTAKA
Ahmad S., Zia A.C., M.A. Nasir, Abdul A., Naveed A.V., dan Abdul R.K. 2006. Effect of
pruning on the yield and quality of kinnow fruit. Journal of Agriculture and Social
Sciences 2 : 51 53.
Anonim. 2010. Teknik Budidaya Bunga Krisan. <http://binaukm.com/2010/06/teknik
budidaya-bunga-krisan-pot/>. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2012.
Anonim. 2012. Latar Belakang Dilakukan Pemangkasan.
<http://www.scribd.com/doc/87936074/Tugas-Horti-2-UAS>. Diakses pada tanggal
15 Oktober 2012
Djazuli, M. 2005. Peningkatan produktivitas dan peluang pengembangan ylang-ylang di
Indonesia. Jurnal Perspektif 4 : 64 70.
Irawati, H. dan Nintya S. 2006. Pertumbuhan tunas lateral tanaman nilam (Pogosteman
cablin Benth) setelah dilakukan pemangkasan pucuk pada ruas yang berbeda. Jurnal
Elektronik Universitas Diponegoro 4 : 261 268.
Jumin, H.B. 1988. Dasar-dasar Agronomi. CV Rajawali, Jakarta.
Kaith, N.S., Usha S., D.D. Sharma, dan D.K. Mertha. 2011. Effect of different pruning
intensities on growth, yield, and leaf nutrients status of starking delicious apple in
hilly region of Himachal Pradesh. Journal of Farm Sciences 1 : 37 42.
Lakitan, B. 1995. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo
Persada Press, Jakarta.
Tworkoski, T., S. Miller, dan R. Scorza. 2006. Relationship of pruning and growth
morphology with hormone ratios in shoots of pillar and standard peach trees. Journal
of Plant Growth Regulation 25 : 1 14.








































LAMPIRAN 1. TABEL ANOVA

1. Tanaman Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis)













2. Tanaman Melati (J asminum sambac)
Tinggi Tanaman
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan
135.4133 2 67.70666667 688.5424 0.000101 9.552094
Sesatan
0.295 3 0.098333333
Total
135.7083 5

Jumlah Daun
Source of
Variation SS Df MS F P-value F crit
Perlakuan
100.3333 2 50.16667 5.679245 0.095503 9.552094
Sesatan
26.5 3 8.833333
Total
126.8333 5

Jumlah Tunas
Source of
Variation SS Df MS F P-value F crit
Perlakuan
4.333333 2 2.166667 13 0.033272 9.552094
Sesatan
0.5 3 0.166667
Total
4.833333 5

Panjang Tunas
Source of
Variation SS Df MS F P-value F crit
Perlakuan
93.2425 2 46.62125 35.9316 0.008022 9.552094
Sesatan
3.8925 3 1.2975
Total
97.135 5






Panjang Akar
Source of
Variation SS Df MS F P-value F crit
Perlakuan
13.6351 2 6.81755 0.041531 0.959861 9.552094
Sesatan
492.4651 3 164.155
Total
506.1002 5

LAB
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan
2.53E-05 2 1.26E-05 0.358139 0.725303 9.552094
Sesatan
0.000106 3 3.53E-05
Total
0.000131 5

LPN
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan
0.254781 2 0.127391 1.589328 0.33833 9.552094
Sesatan
0.240461 3 0.080154
Total
0.495243 5

ILD
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan
0.058685 2 0.029343 0.837421 0.514081 9.552094
Sesatan
0.105118 3 0.035039
Total
0.163803 5







3. Tanaman Mawar (Rosa sp.)
Tinggi Tanaman
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 24.4133333 12.2066667 0.05 0.9530

Error 3 748.4950000 249.4983333

Corrected Total 5 772.9083333

Jumlah Daun
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 1356.333333 678.166667 1.68 0.3239

Error 3 1210.500000 403.500000

Corrected Total 5 2566.833333

Jumlah Tunas
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 1.33333333 0.66666667 0.50 0.6495

Error 3 4.00000000 1.33333333

Corrected Total 5 5.33333333

Panjang Tunas
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 50.590000 25.295000 0.08 0.9274

Error 3 981.650000 327.216667

Corrected Total 5 1032.240000

Panjang Akar
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 36.00000000 18.00000000 1.59 0.3385

Error 3 34.00000000 11.33333333

Corrected Total 5 70.00000000

ILD
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 0.00568300 0.00284150 1.13 0.4319

Error 3 0.00757700 0.00252567

Corrected Total 5 0.01326000

LAB
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 0.04501900 0.02250950 1.80 0.3066

Error 3 0.03753850 0.01251283

Corrected Total 5 0.08255750

LPN
Sum of
Source DF Squares Mean Square F Value Pr > F

Model 2 0.63275633 0.31637817 16.16 0.0248

Error 3 0.05873850 0.01957950

Corrected Total 5 0.69149483

4. Tanaman Herpak (Excoecaria folium)

Tinggi Tanaman
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
32.07 16.035 0.645661 9.552094
Sesatan 3
74.505 24.835

Total 5
106.575


Jumlah Daun
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
3316 1658 0.063332 9.552094
Sesatan 3
78538 26179.33

Total 5
81854


Jumlah Tunas
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
22.33333 11.16667 3.190476 9.552094
Sesatan 3
10.5 3.5

Total 5
32.83333


Panjang Tunas
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
13.14623 6.573117 18.84044 9.552094
Sesatan 3
1.04665 0.348883

Total 5
14.19288


Panjang Akar
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
6.33 3.165 0.085815 9.552094
Sesatan 3
110.645 36.88167

Total 5
116.975


Waktu
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
1 0.5 0.6 9.552094
Sesatan 3
2.5 0.833333

Total 5
3.5


ILD
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
0.050965 0.025482 0.788783 9.552094
Sesatan 3
0.096917 0.032306

Total 5
0.147882


LAB
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
1.08E-05 5.4E-06 0.588392 9.552094
Sesatan 3
2.75E-05 9.18E-06

Total 5
3.83E-05


LPN
Sbr
Ragam
db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 2
0.006937 0.003469 0.30457 9.552094
Sesatan 3
0.034165 0.011388

Total 5
0.041103















5. Tanaman Tembelekan (Lantana camara L.)
Tinggi Tanaman
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 156.73 2 78.365 15.87943 0.025356 9.552094
Within Groups 14.805 3 4.935
Total 171.535 5

Jumlah Daun
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 5.853333 2 2.926667 0.35008 0.730048 9.552094
Within Groups 25.08 3 8.36
Total 30.93333 5

Jumlah Tunas
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 4645.333 2 2322.667 1.475802 0.357875 9.552094
Within Groups 4721.5 3 1573.833
Total 9366.833 5
ILD
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 10.33333 2 5.166667 31 0.009915 9.552094
Within Groups 0.5 3 0.166667
Total 10.83333 5

LAB
Source of
Variation SS df MS F P-value
Between
Groups 47.01 2 23.505 6.28196 0.084626
Within Groups 11.225 3 3.741667
Total 58.235 5

LPN
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between
Groups 0 2 0 65535 #NUM! 9.552094
Within Groups 0 3 0
Total 0 5
6. Tanaman Terang Bulan (Duranta repens)

Tinggi Tanaman
Sumber Ragam JK db KT F hit F tabel
Perlakuan 61.77167 2 30.88583 0.258898 4.256495
Sesatan 1073.678 9 119.2975
Total 1135.449 11

Jumlah Daun
Sumber Ragam JK db KT F hit F tabel
Perlakuan 2126 2 1063 1.108286 4.256495
Sesatan 8632.25 9 959.1389
Total 10758.25 11

Jumlah Tunas
Sumber Ragam JK db KT F hit F tabel
Perlakuan 51.16667 2 25.58333 5.032787 4.256495
Sesatan 45.75 9 5.083333
Total 96.91667 11

ILD
Sumber Ragam JK db KT F hit F tabel
Perlakuan 0.260084 2 0.130042 1.43054 9.552094
Sesatan 0.272712 3 0.090904
Total 0.532796 5

LAB
Sumber Ragam JK db KT F hit F tabel
Perlakuan 1.69E-05 2 8.47E-06 0.609446 9.552094
Sesatan 4.17E-05 3 1.39E-05
Total 5.87E-05 5

LPN
Sumber Ragam JK db KT F hit F tabel
Perlakuan 0.189921 2 0.094961 1.551485 9.552094
Sesatan 0.183619 3 0.061206
Total 0.37354 5