Anda di halaman 1dari 2

Sebab Terjadinya Bono Sungai Kampar

OMBAK Bono atau kadang biasa juga disebut Gelombang Bono (Bono Wave) terjadi ketika saat
terjadinya pasang (pasang naik) yang terjadi di laut memasuki Sungai Kampar. Kecepatan air Sungai
Kampar menuju arah laut berbenturan dengan arus air laut yang memasuki Sungai Kampar. Benturan
kedua arus itulah yang menyebabkan gelombang atau ombak tersebut. Bono akan terjadi hanya
ketika air laut pasang. Dan akan menjadi lebih besar lagi jika pada saat air laut mengalami pasang
besar (bulan besar) diiringi hujan deras di hulu Sungai Kampar. Derasnya arus sungai akibat hujan
akan berbenturan dengan derasnya pasang air laut yang masuk ke Kuala Kampar.

Awal akan terjadinya ombak Bono diawali dengan bunyi desingan yang diikuti dengan bunyi gemuruh
air. Bunyi gemuruh semakin lama akan semakin keras bagaikan dentuman guntur diiringi dengan
besarnya gelombang ombak Bono. Kecepatan gelombang ombak Bono mencapai 40 km/jam dan
memasuki ke arah hulu berkilo-kilo meter jauhnya biasanya mencapai jarak 60 km jauhnya ke hulu
dan berakhir di daerah Tanjung Pungai.

Ombak gelombang Bono ini tidak 1 (satu) jumlahnya, tetapi banyak dan beriringan. Kadang berada di
kiri dan kanan tepi atau tebing sungai, kadang menyatu di tengah sungai. Bono biasanya terjadi pada
setiap tanggal 10-20 bulan Melayu dalam tahun Arab yang biasa disebut penduduk sebagai "Bulan
Besar" atau "Bulan Purnama". Biasanya gelombang Bono atau Ombak Bono yang besar terjadi pada
tanggal 13-16 bulan Melayu tahun Arab tersebut. Gelombang yang terjadi biasanya akan berwarna
putih dan coklat mengikut warna air Kuala Kampar.

Selain itu, Bono juga terjadi pada setiap "bulan mati" yaitu akhir bulan dan awal bulan (tanggal 1)
Tahun Arab. Untuk Jadwal Bono tahun 2011 ini diperkirakan besar pada : 25-28 November 2011 9-12
Desember 2011 24-27 Desember 2011 Bono terbesar biasanya terjadi ketika musim penghujan
dimana debit air Sungai Kampar cukup besar yaitu sekitar bulan November dan Desember. Bono
mulai terbentuk dan membesar di kanan kiri Pulau Muda, akibat penyempitan alur sungai karena
adanya pulau (P. Muda) di tengah-tengah alur sungai.

Bono terbesar terjadi di Tanjung Perbilahan, yang terbentuk karena bertemunya Bono yang sudah
terbentuk di kanan-kiri Pulau Muda. Kedalaman sungai di sekitar terjadinya ombak Bono tidaklah
dalam, hanya sekitar 1-2 meter dengan bagian-bagian alur tertentu yang mempunyai kedalaman 10-
15 meter untuk alur lewat jalur transportasi kapal. Hanya saja alur dalam tersebut selalu berpindah-
pindah akibat pergeseran dasar sungai karena adanya ombak Bono. Sehingga, bagi kapal-kapal
yang mau melewati daerah ini untuk keluar dari Kuala Kampar menuju Tanjung Batu, Selat Panjang,
Tanjung Pinang, Batam atau Singapore harus menggunakan orang yang menjadi pengarah atau
biasa disebut "tekong" untuk menunjukkan alur yang bisa dilewati kapal.

Tinjauan Ilmiah Terjadinya Ombak Bono
Bono biasanya terjadi pada muara sungai yang lebar dan dangkal kemudian menyempit atau
menguncup setelah berada di dalam sungai. Bentuk muara sungai yang menguncup mirip dengan
huruf "V" atau corong didukung dengan kondisi sungai yang mendangkal akibat erosi alami
menyebabkan pertemuan air laut pasang dengan air sungai akhirnya membentuk Bono atau Tidal
Bore. Tetapi tidak semua muara berbentuk V yang dangkal dapat terjadi Tidal Bore. Karena
dipengaruhi salah satunya oleh faktor tinggi pasang-surut air laut.

Tidal Bore adalah dianggap sebagai suatu fenomena alam di bidang hidrodinamika yang erat
hubungannya dengan pergerakan massa air. Semakin besar Bono atau Tidal Bore tersebut, maka
semakin besar pula daya rusaknya.
Dikutip dari Wikipedia :

A tidal bore (or simply bore in context, or also aegir, eagre, or eygre) is a tidal phenomenon in which
the leading edge of the incoming tide forms a wave (or waves) of water that travel up a river or narrow
bay against the direction of the river or bay's current.

Dikutip dari Bambang Yulistiyanto:
Pasang surut yang ada di Muara Sungai Kampar mempunyai tinggi gelombang sekitar 4 m
(Deshidros, 2006). Pasang surut tersebut berupa pasang surut tipe Campuran Condong ke Harian
Ganda, dimana dalam 1 hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi pasang surut
yang pertama dan kedua berbeda. Periode gelombang pasang surut sekitar 12 jam 25 menit. Di
Sungai Kampar, muara sungai berbentuk seperti huruf "V", massa air masuk melalui mulut teluk yang
lebar kemudian tertahan, hingga air laut pasang memenuhi kawasan muara. Massa air yang
terkumpul kemudian terdorong kearah hulu yang menyebabkan semacam efek tekanan kuat ketika
melewati areal yang menyempit dan dangkal secara konstan di mulut teluk.

Keadaan ini memunculkan gelombang yang bervariasi di hulu teluk, dari hanya berupa gelombang-
gelombang kecil hingga beberapa meter ketinggiannya. Di muara Sungai Kampar, kecepatan
gelombang dapat lebih rendah dibandingkan kecepatan arus sungai yang berasal dari hulu sungai.
Hal ini berakibat pada terhambatnya gerakan gelombang pasang dari laut, yang berakibat pada
naiknya muka air dari muara, sehingga terbentuk Tidal Bore Bono.



Gelombang Bono bergerak ke hulu sampai ke Tanjung Pungai yang berjarak sekitar 60 km dari
muara. Bono yang menjalar menuju ke hulu melewati alur sungai yang semakin menyempit. Saat
melewati Pulau Muda, gelombang pasang ini terpisah menjadi dua, sebagian lewat alur di sebelah
kiri, dan sebagian lagi lewat alur sebelah kanan Pulau Muda. Di Tanjung Perbilahan Bono yang
terpisah tersebut saling bertemu, menghasilkan momentum yang mengakibatkan Gelombang Bono
semakin besar. Penduduk setempat menyebut peristiwa ini sebagai Bono yang bertepuk. Di Tanjung
Perbilahan, Gelombang Bono terjadi paling besar.