Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PRESENTASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISTEM POLITIK ISLAM

MAKALAH PRESENTASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISTEM POLITIK ISLAM Disusun Oleh : Dewi Ariani 12173 Agung Dwi

Disusun Oleh :

Dewi Ariani

12173

Agung Dwi A

12174

Rivandi Pranandita P

12175

Rima Pratiwi

12176

Nawang Wulandari

12177

Jayeng Syahputra

12178

Dian Alice Widara

12180

Risma Cahyani

12181

Fitrah Deri Saputra

12182

Devi Alvioliana

12183

I.

PENDAHULUAN

Kondisi dunia Islam abad ke-20 tidak terlepas rangkaian situasi dari abad-abad sebelumnya, bahkan jauh lagi ke masa-masa pertengahan Islam dan klasik Islam dimana bentuk- bentuk pemikiran Islam, sosial, politik masih tumbuh di dunia Islam abad ke- 20. Meski dalam beberapa hal dari fenomena yang terlihat mensintessa, atau hilang dari tradisi umat bahkan mengambil bentuk-bentuk baru yang tidak ada sebelumnya.Sejarah Islam terangkai dengan kekhususannya dengan perkembangan yang mengagumkan di masa klasik, di masa pertengahan mundur secara mengejutkan dan bahkan jatuh di bawah kekuasaan kolonial sejak abad 18 hingga akhir abad 19. Dengan sentuhan pikiran Barat umat Islam melihat dunia Islam yang sangat mundur dalam lapangan sosial, ekonomi, budaya, agama khususnya politik sehingga isu besar yang mencuat pada abad ke 19 adalah masalah Islam dan politik (Nasionalisme) disamping aktivitas Islam yang menggalang persatuan dan upaya memisahkan diri dari kolonialisme dan imperialism Barat. Abad ke-18 sering dipandang sebagai abad kegelapan sejarah Islam, gambaran ini berpangkal pada perpecahan yang terjadi dalam pemerintahan kesultanan serta kemerosotan secara umum dunia Islam.Persepsi ini dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai sebahagian dari pengalaman Islam, karena abad ke-19 merupakan periode hilangnya kekuasaan Islam dan mereka berada di bawah kekuasaan pemerintahan kolonial Barat. Umat muslim, dalam hidupnya berpegang teguh pada Al Qur‟an dan Al Hadist sebagai pedoman hidupnya. Dari kedua pedoman tersebut, umat muslim tidak perlu khawatir dalam menjalani persoalan hidup. Segala apa yang menjadi persoalan, solusi, peringatan, kebaikan dan ancaan termuat di dalam pedoman tersebut. Bahkan dalam Al Qur‟an dan Al Hadist permasalahan politik juga tertuang didalamnya. Diantaranya membahas: prinsip politik islam, prinsip politik luar negeri islam. Baik politik luar negeri dalam keadaan damai maupun dalam keadaan perang. Politik berasal dari bahasa latinpoliticos atau politicus yang berarti relating to citizen (hubungan warga negara). Sedangkan dalam bahasa arab diterjemahkan dengan kata siyasah, kata ini diambil dari kata saasa-yasuusu yang diartikan mengemudi, mengendalikan dan mengatur. Sedangkan menurut Abdul Qadir Zallum, mengatakan bahwa politik atau siyasah memiliki makna mengatur urusan rakyat, baik dalam maupun luar negeri.Dalam politik terdapat negara yang berperan sebagai institusi yang mengatur secara praktis, sedangkan rakyat mengoreksi pemerintahan dalam melakukan tugasnya.Maka dapat disimpulkan politik

merupakan pemikiran yang mengurus kepentingan masyarakat.Pemikiran tersebut berupa pedoman, keyakinan hukum atau aktivitas dan informasi. Beberapa prinsip politik islam berisi: mewujudkan persatuan dan kesatuan bermusyawarah, menjalankan amanah dan menetapkan hukum secara adil atau dapat dikatakan bertanggung jawab, mentaati Allah, Rasulullah dan Ulill Amr (pemegang kekuasaan) dan menepati janji. Dari beberapa prinsip diatas yang berkorelasi dengan politik, menggambarkan umat islam dalam berpolitik tidak dapat lepas dari ketentan-ketentuan tersebut. Berpolitik dalam islam tidak dapat berbuat sekehendak hatinya. Maka dapat disimpulkan bahwa politik islam memiliki pengertian mengurus kepentingan rakyat yang didasari prinsip-prinsip agama. Korelasi pengertian politik islam dengan politik menghalalkan segala cara merupakan dua hal yang sangat bertentangan. Islam menolak dengan tegas mengenai politik yang menghalalkan segala cara. Terlebih apabila mementingkan kepentingan individu atau kelompok. Sedangkan islam dalam berpolitik tidak sekedar mengurusi atau mengendalikan rakyat saja, tetapi juga mengemban kebajikan untuk seluruh rakyatnya. Politik dalam bahasa arab berarti siyasah berasal dari kata sasa-yasusu-siyasata bima‟na ra‟iyatan (pengurusan). Al-Jauhari berkata sustu ar-ra’iyatasiyasatan yang artinya aku memerintah dan melarang kepadanya atas sesuatu dengan jumlah perintah dan larangan.Wa as- siyasah maksudnya: al-qiyamu „ala syaiin bima yashluhuhu = memberikan sesuatu yang memberi maslahat padanya. Dengan demikian politik bermakna mengurusi urusan berdasarkan suatu aturan tertentu yang tentunya berupa aturan dan larangan.Islam juga memiliki politik luar negeri. Tujuan dari politik luar negeri tersebut adalah penyebaran dakwah kepada manusia di penjuru dunia, mengamankan batas territorial umat islam dari fitnah agama, dan system jihad fisabilillah untuk menegakkan kalimat Allah SWT. Jadi politik bermakna instansi dari negara untuk keamanan kedaulatan negara dan ekonomi.Kesadaran eksistensi umat Islam memperoleh momentumnya meski berada dalam tekanan politik di negerinya sendiri, umat Islam terobsesi dengan sejarahnya di masa klasik Islam, dengan meneliti sebab-sebab kemerosotan umat Islam dan sebab-sebab kemajuan Barat yang spektakuler, sehingga bangsa-bangsa Barat mampu menaklukkan dunia Islam dan menguasainya dengan kuat secara politik. Keprihatinan in melahirkan pemikir Islam yang melihat betapa seriusnya persoalan umat Islam dalam tekanan politik kaum kolonial Barat.

II.

PEMBAHASAN

  • A. Pengertian Sistem Politik dan Sistem Politik Islam Politik menurut para ahli:

    • a. Ibnu Qoyyim,politik adalah sesuatu kegiatan yang menjadi umat manusia mendekat kepada hidup maslahat dan menjauhkan dari kerusakan ..

    • b. Abdul Hamid Al-Ghozali, politik adalah memerintah dan menjalankan Negara.

Terdapat lima kerangka konseptual dalam memahami makna politik:

  • a. Sebagian usaha warga negara dalam membicarakan dan mewujudkankebaikan bersama.

  • b. Berkaitan dengan penyelenggaraan Negara.

  • c. Sebagai kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan memepertahankankekuasaan dalam masyarakat.

  • d. Digunakan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum.

  • e. Sebagai konflik dalam rangka mencari atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting. Politik dalam Islam adalah suatu kebijakan untuk mengatur suatu pemerintah yang berdaulat atau masyarakat dalam bernegara. Pembahasan sistem politik Islam (siyasah) ada tiga bagian, yaitu :

1. Siyasah Dusturiyah Ruang lingkup dalam Fiqih Siyasah Dusturiyah (Politik Tata Negara) merupakan hubungan antara pemimpin disatu puhak dengan rakyatnya dipihak lain, dan kelembagaan- kelembagaan yang ada didalam masyarakatnya.Ruang lingkup Fiqih Siyasah Dusturiyah meliputi :

a. Persoalan Imamah (Kepala Negara), Hak Dan Kewajibannya Menurut Al-Mawardi penertian imamah adalah suatu kedudukan atau jabatan yang diadakan untuk mengganti tugas kenabian didalam memelihara agama dan mengendalikan dunia. Hak yang dimiliki oleh imam yaitu, hak untuk ditaati dan dibantu.Namun dengan adanya perkembangan jaman, ada satu hak lagi gabi imam yaitu, hak untuk mendapat imbalan dari harta baitul mal untuk keperluan hidup dan keluarganya.Kewajiban imam nenurut Al-Mawardi adalah :

1)

Memelihara agama.

2) Mentahfidzkan hukum-hukum diantara orang-orang yang bersengketa dan

3)

menyelesaikan perselisihan. Memelihara dan menjaga keamanan.

4)

Menegakkan hukum-hukum Allah.

5)

Menjaga tapal batas dengan kekuatan yang cukup.

6) Menentang orang-orang yang menentang Islam setelah diadakan dakwah kepada mereka dengna baik-baik.

7)

Menetapkan kadar-kadar tertentu pemberian untuk orangorang yan berhak.

8)

Memungut fa’i dan sadaqah sesuai dengan ketentuan.

9) Menggunakan serta mengerahkan pengurusan kekayaan negara kepada orang-orang yang dapat dipercaya dan jujur. 10) Melaksanakan sendiri tugas-tugasnya yang berlangsung didalam membina umat danmenjaga agama b.Persoalan Rakyat, Status, dah Hak-Haknya Rakyat terdiri dari muslim dan non muslim (kafir dzimi dan musta’min). Kafir dzimi adalah warga non muslim yang menetap selamanya. Sedangkan musta‟min

adalah orang asing yang menetap untuk sementara. Kafir dzimi memiliki hak-hak kemanusiaan, sipil, dan hak-hak politik sedangkan musta‟min tidak memiliki hak- hak politik.Hak-hak yang dimiliki rakyat adalah :

1)

Perlindungan terhadap kehidupan, harta, dan kehormatannya.

2)

Perlindungan terhadap kebebasan pribadi.

3)

Kebebasan menyampaikan pendapat dan berkeyakinan.

4) Terjamin kebutuhan pokoknya(tidak membedakan kelas dan kepercayaan). Sedangkan hak imam adalah untuk ditaati dan mendapatkan bantuan serta partisipasi dari rakyat.

  • c. Persoalan Bai’at

Bai‟at adalah membai‟atkan seorang amir dan mengikatkan perjanjian, mereka

meletakkan tangan-tangan mereka ditangannya untuk menguatkan perjanjian

(jual-beli).

  • d. Persoalan Waliy Al-Ahdi, Sumber Kekuasaan dan Kriteria Imam Imamah dapat dipilih dengan dua cara, yaitu dengan pemilihan ahl al-all wa al- aqdi dan dengan janji (penyerahan kekuasaan) imam yang sebelumnya. Cara yang kedua inilah yang disebut dengan waliyul ahdi. Syarat-syarat imam antara lain :

 

1) Adil.

2) Berilmu.

3)

Sehat panca indranya.

4)

Sehat anggota badan.

5)

Kecerdasan dan kemampuan didalam mengatur rakyat dan kemaslahatan.

6)

Kebenaran, bertanggungjawab, dan tabah.

  • e. Persoalan Perwakilan dan Ahl Ai-Hall Wa Al-Aqdi Ahl Ai-Hall Wa Al-Aqdi adalah pemegang kekuasaan tertinggi yang mempunyai wewenang memilih dan membaiat imam, mengarahkan kehidupan masyarakat kepada maslahat, membuat UU yang mengikat seluruh umat didalam hal yang tidak diatur secara tegas oleh Al-Qur‟an dan Hadis, mengawasi jalannya pemerintahan dan segabai tempat konsultasi imim didalam menentukan kebijakannya.

2. Siyasah Dauliyah Titik berat pembicaraan Siyasah Dauliyah atau hukum Tata Negara adalah

sekitar hubungan antara negara dan orang-orang yang tercakup dalam hukum internasional.Materi pokok pembahasan fiqih siyasah dauliyah antara lain :

  • a. Korps diplomatik Korps diplomatik adalah kepala negara asing yang berkuasa di Darukufar atau di wilayah negeri nono muslim termasuk tamu-tamu sahabat dan perwakilan negara asing (staf Kepala Negara di waktu mereka berada di negara Darussalam).

  • b. Tawanan perang

Tindakan terhadap tawana perang ada dua, yaitu membebaskan tawanan itu dengan baik (manna) dan menukarkan tawanan itu dengan tebusan (fida’).

  • c. Perjanjian damai Perjanjian yang dilakukan oleh Darussalam dengan negara lainnya salam keadaan perang itu disebut perjanjian damai atau gencatan senjata.

  • d. Penyerahan penjahat antar negara Darusalam Menurut teori fiqih siasah setiap negara yang termasuk darusalam dipandang sebagai wakil yang mutlak bagi negara lain untuk menjalankanhukum Islam.

3. Siyasah Maliyah Didalam Siyaasah Maliyah dibicarakan bagaimana cara-cara yang harus diambil untuk mengharmoniskan orang-orang kaya dan orang-orang miskin agar tidak

terjadi kesenjangan.Dalam Siyasah Maliyah yang menjadi pembahasan antara lain :

  • a. Persoalan Hak Milik

  • b. Zakat

  • c. Harta Wakaf

  • d. Perpajakan

  • e. Bea Cukai

B. Ciri-ciri Sistem Politik Islam

Mengenai ciri-ciri sistem politik Islam dapat dibatasi oleh tujuh ciri sebagai berikut:

  • 1. Kekuasaan dipegang penuh oleh umat Umat (rakyat) yang menentukan yang menentukan piilihab terhadap jalannya kekuasaan, dan persetujuannya merupakan syarat bagi kelangsungan orang orang yang menjadi pilihannya . Mayoritais Ahlu – Sunnah, Mu‟taszilah, Khowarij, dan Najariyah mengatakan : ”Sesungguhnya cara penetapan Imamah atau kepemimpinan adalah melalui pemilihan dari umat“. Dengan demikian, umat merupakan pemilik kepemimpinan secara umum, dia berhak memilih dab menncabut jabatan Imam (pemimpin). Dengan kata lain, umat adalah pemilik utama kekuasaan tersebut.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh beberapa ulama‟ Usul Fiqh kenamaan.

Diantaranya, ungkapan yang ditulis Dr. Muhammad Yusuf Musa ,” Sesugguhnya sumber otoritas adalah umat dan bukan pemimipin (penguasa) , karena pemimipin hanya sebagai wakilnya dalam menangani masalah-masalah agama dan mengatur arusannya sesuai dengan syariat Allah SWT. Dengan demikian, seorang pemimpin mendapatkan kekuasaan dari umat, dan umat dapat menasehati, memberikan pengarahan, dan mengkritik bila hal itu dibutuhkan.Bahkan dia berhak mencabut kekuasaan yang diberikan kepadanya apabila dia mendapatkan alasan pencabutannya.Jadi, logikannya yang menjadi sumber otoritas adalah orang yang mewakilkan dan bukan orang yang mewakilinya.

  • 2. Masyarakat ikut berperan dan bertanggung jawab Penegkan agama, pemakmuran dunia, serta pemaliharaan atas semua kemaslahatan umum merupakan tanggung jawab umat dan bukan hanya tanggung jawab penguasa saja.Dalil yang memperkuat hal itu adalah bahwa Al – Qur‟an telah berbicira tentang peran atau (tugas) tersebut kepada umat manusia dalam beberapa ayat, diantaranya. “Hai orang – orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil(Qs. Al Maidah : 8 ). Ayat Qur‟an diatas memerintahkan pembentukan masyarakat yang anggotanya saling memenuhi kepentingan antara yang satu dengan yang lainnya serta mengerahkan semua kekuatannya untuk melakukan perbaikan dan reformasi, yaitu melalui pelaksanaan amar ma‟ruf nahi munkar. Pelaksanaan amar ma‟ruf nahi munkar merupakan sesuatu yang dapat membendung semua aktifitas dan gerak masyarakat dari kemungkaran kemungakaran yang terjadi di jalan-jalan, di pasar-pasar , sampai kemungkaran yang dilakukan oleh penguasa dan bawahannya. Sampai-sampai Imam Ghazali menganggapnya (amar ma‟ruf nahi munkar) sebagai kutub agama yang terbesar dalam agama.

  • 3. Kebebasan adalah hak bagi semua orang . Pengekspresian manusia akan kebebasan dirinya merupakan wajah lain dari akidah Tauhid. Pengucapan dua kalimat Syahadat yang menjadi ikrar pengabdian dirinya hanya untuk Allah SWT semata, dan juga kebebasan dirinya dari segala macam kekuasaaan manusia.” Allah SWT telah membuka jalan kepada kita menuju kehendak – Nya saja , tapi Dia tidak memaksa kita untuk berjalan sesuai dengan kehendak tersebut . Dia memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih. Dengan demikian , jika menghendaki kita dapat memilih jalan sesuai dengna syari‟at , sebagaimana kita juga dapat menempuh jalan yang bertentangan dengan perintah-Nya seta mengabaikan syari‟at-Nya . Tetapi kita akan menanggung akibat dari semua tindakan kita tersebut, karena bagaimanapun wujud pilihan tersebut akan berakibat kepada kita. Diantara pengekspresian kebebasan yang terpenting adalah kebebasan memilih dan berpendapat . Jadi, menurut Al-Qur‟an tidak ada paksaan, sebagaimana tertuang dalam beberapa ayat yang berbunyi :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) sesungguhnya telah jelasjalan yang benar dari jalan yang sesat . “ (Qs. Al-Baqarah : 256). Dengan demikian, ketentuan islam tentang kebebasan berkeyakinan adalah larangan bagi manusia untuk mempersempit seseorang hanya karena ia berakidah lain dan berusaha untuk melaksanakan akidahnya kepada orang tersebut . Pemakasaan suatu akidah merupakan suatu hal yang mustahil dan penghinaan tehadap orang lain karena akidahnya merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima sama sekali. Dengan demikian, kebebasan politik merupakan istilah modern , tidak lain kecuali hanya cabang dari pokok kebebasan universal yang diberikan islam, yaitu kebebasan manusia dalam kedudukannya sebagai manusia, yang telah ditetapkan dengan nash nash baik dalam Al – Qur‟an maupun dalam Hadist. Sebagai dalil yang memperkuat hal tersebut, kita dapat sebutkan sebuah Hadist Rasulullah SAW yang disampaikan kepada para sahabatnya:

“Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian tidak berpendirian, ia mengatakan aku bersama-sama dengan banyak orang, apabila mereka baik , maka aku baik, Dan apabila mereka jelek, maka akupun jelek.“

Sesungguhnya nenek moyang kita adalah satu. Kesemuanya diciptakan min nafsin wahidah (dari diri yang satu) (Qs. An- Nisa‟ : 1). Dan semuanya mendapat perlindungan dan penghormatan yang telah ditetapkan dalam Al-Qur‟an tanpa melihat kepada agama atau ras . Rasulullah SAW sendiri pada khutbah Wada‟ telah mengisyaratkan kepada makna kesatuan asal manusia . Beliau bersabda,” Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan ketahuilah bahwa Bapak kalian juga satu .” Sedangkan di Al- Qur,an juga difirmankan :

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang kaki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling mengenal .Ssesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal(Qs. Al-Hujurat : 13) . Secara lahiriyah, ayat tersebut ditujukan kepada seluruh umat manusia.Ayat tersebut diberikan komentar oleh Ustadz Muhammad Izzah dalam bukunya Al-Dustur Al-

Qur‟ni.Dia mengatakan, Ayat tersebut dimaksudkan sebagai ketetapan tidak adanya perbedaan diantara sekaian manusia, dengan sebab apapun. Sedangkan takwa yang diisyaratkan ayat diatas sebagai suatu keutamaan sebagin manusia atas yang lainnya tidak mempunyai pengaruh terhadap dasar persamaan dalam kehidupan manusia didunia, karena pengutamaan dengan takwa tersebut akan diperhitungkan diakhirat dan bukan didunia, dihadapan Allah SWT. Dan bukan diantara manusia yang demikian itu tidak dapat digambarkan bahwasannya hal itu memiliki dampak terhadp aplikasi kaidah kaidah syariat dalanm kehidupan seluruh manusia. Dengan kata lain, hal itu tidak akan berpengaruh terhadap penerapan dasar dasar persamaan dihadapan hukum yang telah ditetapkan oleh nash nash syariat .

  • 5. Kelompok yang berbeda juga memiliki legalitas. Sejak diputuskannya kesatuan dasar kemanusiaan dan ditetapkannya kehormatan bagi setiap orang didalm Al-Qur‟an, setiap orang lain (yang berbeda paham) berhak mendapatkan perlindungan dan legalitas sebagai manusia, ketika Nabi Muhammad Saw berdiri sebagai penghoormatan atas seorang mayat yang diusung dihadapan beliau, dikatakan kepada beliau bahwa mayat yang diusun dihadapan beliau adalh orang Yahudi,

maka beliau menjawab, “ Bukankah ia manusia?” Demikian halnya ketika Ali bin Abi

Thalib r.a mengirim surat kepada gubernurnya di Mesir, Malik Al Asytar, beliau menulis

dalam surattersebut :” Tanamkanlah dalam hatimu kasih sayang, cinta, dan kelembutan

kepada rakyatmu. Sesungguhnya mereka ada dua golongan, baik meeka sebagai saudara dalam agama, atau mitramu sesama makhluk.

  • 6. Kezaliman mutlak tidak diperbolehkan dan usaha meluruskannya adalah wajib. Dalam islam, kezaliman tidak hanya termasuk dalam kemungkaran dan dosa terbesar saja, juga tidak hanya merusak kemakmuran, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Khaldun. Tetapi lebih dari itu, kezaliman merupakan tindakan yang memperkosa hak Allah SWT dan menghancurkan nilai-nilai keadilan yang merupakan tujuan dari diutusnya Rasul dan Nabi. Allah SWT berfirman :

” Agar memberi peringatan orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Qs. Al-Ahqaf : 12). Nabi Muhammad SAW bersabda :” Seutama-utama jihad adalah mengatakan yang hak kepada penguasa zalim”.

  • 7. Undang-undang di atas segalanya . Legalitas kekuasaan dinegara islam tegak dan berlangsung dengan usaha mengimplementasikan sistem undang-undang Islam secara keseluruhan, tanpa membedakan antara hokum-hukumnya yang mengatur tingkah laku seorang muslim dalam kedudukannya sebagai anak bangsa dan hakim dengan nilai-nilai pokok dan tujuan-tujuannya yang mulia, yang telah disebutkan didalam Al-Qur‟an dan Hadist. Pada tingkat yang lebih tinggi, norma-norma syariat dan ketundukan semua orang terhadapnya, baik dari pihak penegak maupun pelaku hukum itu sendiri harus mendapatkan tempat yang lebih tinggi dari undang-undang, kemandirian referensi syariat pada kekuasaan negara dan penegak hukum memerikan jaminan penting dalam melawan kesewenang -wenangan kekuasaan eksekutif, khususnya di negara-negara berkembang, dimana kekuasaan tersebut adalah pengambil keputusan parlemen serta menjalankannya demi tercapainya keinginan keinginan mereka sendiri .

C.Nilai-Nilai Dasar Politik Dalam Islam Prinsip-prinsip penggunaan kekuasaan politik :

  • 1. Perintah menunaikan amanah

  • 2. Perintah berlaku adil dalam menetapkan hukum

  • 3. Perintah taat kepada Allah, Rosul, dan Ulul Amri (pemimpin)

  • 4. Perintah kembali kepada Al-Qur‟an dan Sunah

Orang yang mempunyai atau pemegang kekuasaan harus amanah dan berlaku adil, artinya menggunakan kekuasaan yang dipegang untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang adil dan makmur. Jika ada persoalan yang dihadapi (pemerintah maupun rakyat), seluruhnya harus dikembalikan kepada dua sumber hukum pokok yaiutu Al-Qur‟an dan

Sunah. Barang siapa berpegang kepada keduanya, maka akan selamat didunia maupun di akhirat. Dan barang siapa meninggalkan keduanya, maka yang akan diperoleh adalah kesesatan dan kecelakaan baik didunia maupun di akhirat.

  • D. Prinsip-prinsip Dasar Politik (Siyasah) Islam Prinsip-prinsip dasar siasah dalam islam meliputi ;

    • 1. Mewujudkan persatuan dan kesatuan umat “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.(QS.Al-Mu‟minun;52).

    • 2. Keharusan musyawarah dalam menyelesaikan masalah-masalahijtihadiyah “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembutterhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.Karena itumaafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudianapabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepadaAllah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakalkepada-Nya” (QS Ali Imran : 159).

    • 3. Selalu amanah dan menetapkan hukum secara adil Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanatkepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabilamenetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkandengan adil.Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik- baiknya kepadamu.Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS An Nisa‟:58).

  • 4. Mentaati Allah SWT, Rasul SAW dan ulil amri (pemeggangkekuasaan) Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (AlQur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar berimankepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama(bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS.An Nisa‟:59).

  • 5. Mendamaikan konflik antar kelompok dalam masyarakat islam “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperangmaka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduagolongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itukembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali(kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya denganadil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”(QS Al Hujurat:9)

  • 6. Mempertahankan kedaulatan Negara dan larangan melakukan agresidan invasi “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allahtidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS AlBaqoroh :190)

  • 7. Mementingkan perdamaian dari pada permusuhan “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglahkepadanya dan bertawakallah kepada Allah.Sesungguhnya DialahYang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS Al Anfal:61)

  • 8. Meningkatkan kewaspadaan dalam bidang pertahanan dan keamanan “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yangkamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang(yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah,musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamunafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukupkepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”(QS Al Anfal :60)

  • 9. Menepati janji Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudahmeneguhkannya, sedang kamu telah

menjadikan Allah sebagaisaksimu (terhadap sumpah-sumpah itu).Sesungguhnya

Allahmengetahui apa yang kamu perbuat.”(QS An Nahl:91)

  • 10. Beredarnya harta pada seluruh lapisan masyarakat Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul- Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah,Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin danorang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yangdiberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yangdilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepadaAllah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”(QS AlHasyr:7)

  • 11. Mengikuti prinsip-prinsip pelaksanaan hukum:

    • a) Menyedikitkan beban (taqlil al takalif)

    • b) Brangsur angsur (al tadarruj)

    • c) Tidak menyulitkan (‟adam al harajangat keras hukuman-Nya.”(QS Al-Hasyr:7)

E.Kontribusi Umat Islam terhadap kehidupan Politik di Indonesia

Islam sebagai sebuah ajaran yang mencakup persoalan spiritual dan politik telah memberikan konstribusi yang cukup signifikan terhadap kehidupan politik di Indonesia. Pertama ditandai dengan munculnya partai-partai berasaskan Islam serta partai nasionalis berbasis umat islam dan kedua denganditandai sikap proaktifnya tokoh-tokoh politik islam dan umat islam terhadapkeutuhan negara kesatuan republik Indonesia, sejak proses awal kemerdekaan, hingga sekarang jaman reformasi. Berkaitan dengan keutuhan negara, misalnya Muhammad Natsir pernahmenyerukan umat islam agar tidak mempertentangkan pancasila dengan islam. Dalam pandangan islam, perumusan pancasila bukan merupakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Al-Quran karena nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila juga merupakan bagian dari nilai-nilai yang terdapat dalam Al- Quran.Demi keutuhan dan persatuan kesatuan bangsa, umat Islam rela menghilangkan

tujuh kata dari sila kesatu dari pancasila yaitu kata-kata “kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi para pemeluknya”.Umat islam Indonesia dapat menyetujui kesepakatan

pancasila danUUD 1945 setidak-tidaknya atas 2 pertimbangan :

  • 1. Pertama, nilai-nilainya dibenarkan oleh ajaran Islam;

2.

Kedua, fungsinya sebagai noktah-noktah kesepakatan antar berbagai golongan

untuk mewujudkan kesatun politik bersama.Islam merupakan agama yang serba lengkap. Selain mencakup persoalan spiritual juga politik.Oleh karena itu,umat Islam melalui ajarannya telah memberikan konstribusi yang dapat dikatakan cukup signifikan terhadap kehidupan politik dunia internasional maupun nasional. Islam telah membentuk Civic Culture,yaitu budaya bernegara yang meliputi solidaritas nasional,ideologi jihad dan kontrol sosial.sambungan tersebut berujung pada keutuhan negara serta terwujudnya persatuan dan kesatuan.hal ini menghasilkan banyaknya partai politik yang berbasis idiologi Islam yang baik langsung maupun tak langsung dan terpengaruhinya sistem politik pemerintahan Indonesia yang dilandasi nilai nilai keislaman.

III. PENUTUP Tujuan sistem politik Islam ialah untuk membangunkan sebuah sistem pemerintahan dan kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melaksanakan seluruh hukum syari'at Islam. Tujuan utamanya ialah untuk menegakkan sebuah negara Islam atau Darul Islam.Dengan adanya pemerintahan yang mendukung syari'ah, maka akan tertegaklah al Din dan berterusanlah segala urusan manusia.menurut tuntutan tuntutan al Din tersebut. Para fuqaha Islam telah menggariskan sepuluh perkara penting sebagai tujuan kepada sistem politik dan pemerintahan Islam, antara lain :

  • 1. Melaksanakan proses pengadilan di kalangan rakyat dan menyelesaikan masalah di kalangan orang orang yang berselisih

  • 2. Menjaga keamanan daerah daerah Islam agar manusia dapat hidup dalam keadaan aman dan damai

  • 3. Melaksanakan hukuman hukuman yang ditetapkan syara' demi melindungi hak hak manusia

  • 4. Menjaga perbatasan negara dengan pelbagai persenjataan bagi menghadapi kemungkinan serangan daripada pihak luar

  • 5. Melancarkan jihad terhadap golongan yang menentang Islam

  • 6. Mengendalikan urusan pengutipan cukai, zakat dan sedekah sebagai mana yang ditetapkan oleh syara'

  • 7. Mengatur anggaran belanjawan dan perbelanjaan daripada perbendaharaan negara agar tidak digunakan secara boros ataupun secara kikir

  • 8. Mengangkat pegawai pegawai yang cekap dan jujur bagi mengawal kekayaan negara dan menguruskan hal ihwal pentadbiran negara

  • 9. Menjalankan pengaualan dan pemeriksaan yang rapi di dalam halihwal amam demi untuk memimpin negara dan melindungi ad-Din.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Sistem Politik dalam Islam. <http://www.geocities.ws/farouq1965>. Diakses 31 Oktober 2012.

Anonim.2012.

Ciri

Sistem

Politik

Islam.<xa.yimg.com/kq/groups/

...

/CIRI

+CIRI+POLITIK+ISLAM.DOC>.Diakses pada tanggal 31 Oktober 2012.

Djazuli, A. 2000. Fikih Siyasah. Gunung Pati Press, Bandung.

Setyawati, R. 2012. Sistem Politik Islam.<http://rinna

neezt.blogspot.com/2012/05/sistem-

politik-islam_09.html>.Diakses pada tanggal 31 Oktober 2012.

Wijaya,

R.

2012.

Makalah

Sistem

Politik

Islam.