Anda di halaman 1dari 6

Investigasi Sensor Serat Optik untuk Aplikasi Sistem Pengukuran Berat Beban Berjalan (Weight in Motion

System) (Andi Setiono)


Akreditasi LIPI Nomor: 377/E/2013
Tanggal 16 April 2013
81
Investigasi Sensor Serat Optik untuk Aplikasi Sistem Pengukuran
Berat Beban Berjalan (Weight in Motion System)

ANDI SETIONO, DWI HANTO, DAN BAMBANG WIDIYATMOKO
Pusat Penelitian Fisika LIPI, Komplek PUSPIPTEK Tangerang Selatan, Banten
E-mail: andisetiono@gmail.com

Diterima: 13 Maret 2013 Revisi: 1 Mei 2013 Disetujui: 15 Mei 2013

INTISARI: J embatan ambruk, jalan rusak dan berlubang, serta kapal tenggelam diakibatkan oleh kelebihan muatan
merupakan kasus tidak terpantaunya berat beban kendaraan. J embatan timbang belum cukup memberikan peran
maksimal dalamhal pengontrolan berat kendaraan. Salah satu faktor penyebabnya adalah waktu yang relatif lama untuk
mendeteksi berat suatu kendaraan. Untuk mengatasi kendala tersebut maka hadir teknologi Weight In Motion (WIM) yang
memungkinkan berat suatu benda dapat diketahui secara cepat. Salah satu komponen penting dalamsistem WIM adalah
sensor. Beberapa syarat yang harus dipenuhi pada suatu sensor WIM antara lain kecepatan respon dan akurasi. Tujuan
penelitian ini adalah melakukan investigasi terhadap serat optik sebagai sensor beban. Hasil investigasi diharapkan dapat
mengetahui potensi serat optik sebagai sensor beban baik beban diammaupun beban berjalan. Prinsip kerja sensor ini
adalah dengan memanfaatkan prinsip rugi-rugi microbending fiber optics. Sensor serat optik memiliki beberapa kelebihan
antara lain tidak terganggu oleh interferensi elektromagnetik dan tahan terhadap korosi. Terdapat 2 macam pengujian
sensor yaitu uji statis dan uji dinamis. Beban sebesar 400 N, 600 N dan800 N ditimpakan diatas sensor secara statis.
Hasil pengujian statis menunjukkan bahwa linieritas sensor cukup baik dengan nilai rata-rata R
2
=0,98. Sedangkan hasil
pengujian dinamis terhadap sensor dengan beban sebesar 400 N, 600 N, 800 N, 1200 N dan 1580 N menunjukkan error
masing-masing sebesar 28,3 %; 8,1 %; 2,9 %; 4,5 % dan 6,4 %. Dengan linieritas baik dan rata-rata error yang kecil
menunjukkan bahwa sensor serat optik memiliki potensi untuk diterapkan pada Weight In Motion System.
KATA KUNCI: mikrobending, sensor serat optik, weight in motion system, beban kendaraan, akurasi.

ABSTRACT: Bridge fall down, damaged roads and potholes, and ship disappeared due to overloading are some examples
of cases in poorly loads monitoring, especially heavy vehicles. Weighbridge existence has not given up optimum function
in terms of weight control vehicle. One of contributing factor is the relatively long time to detect the weight of a vehicle.
Weight In Motion (WIM) technology comes with the ability to knows the weight of an object quickly. One of important
component in WIM system is a sensor. Several requirements that must be met on a WIM sensors are response times and
accuracy. The purpose of research is to investigate the optical fiber as a load sensor. Results of the investigation are
expected to know the potential of optical fiber sensor for statics load and dynamics load. The fiber optic sensor use
microbending principle and then detect power losses in fiber optics. Fiber optic sensor has several advantages such as
not disturbed by electromagnetic interference and resistant to corrosion. There are 2 kinds of testing i.e. static test and
dynamic test. The results of static testing with load 400 N, 600 N and 800 N show that the linearity of the sensor is quite
good with an average value of R2 = 0.98. While the results of dynamic testing with load 400 N, 600 N, 800 N, 1200 N
and 1580 N indicate error respectively 28.3%, 8.1%, 2.9%, 4.5% and 6 , 4%. With good linearity and average small
error indicates that the optical fiber sensor has the potential to be applied in Weight In Motion System.
KEYWORDS: micro bending, optical fiber sensor, weight in motion system, vehicle loads, accuracy.


1. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara dengan bentuk geografis berupa kepulauan sehingga sudah menjadi
keharusan bahwa teknologi dalam keamanan dan keselamatan transportasi, khususnya transportasi antar
pulau, dapat dikuasai. Salah satunya adalah teknologi monitoring atau pengontrolan beban pada alat atau
moda transportasi. Beberapa contoh kejadian akibat beban yang tidak terkontrol antara lain tenggelamnya
kapal di masa lampau, kerusakan jalan yang berakibat pada tingginya angka kecelakaan, dan ambruknya
jembatan bentang panjang di beberapa wilayah Indonesia. Untuk itu perlu ditelaah bagaimana sebenarnya
prosedur pengukuran berat muatan dan memberikan solusi alternatif untuk mencegah atau mengurangi
terjadinya kecelakaan. Salah satu solusi tersebut yaitu teknologi Weight In Motion (WIM). Konsep Weight In
Motion telah diperkenalkan lebih dari 50 tahun yang lalu [1]. Prinsip kerja atau metode teknologi WIM
adalah mendeteksi suatu berat kendaraan yang bergerak pada kecepatan tertentu di atas jalan yaitu dengan
mengukur beban roda kendaraan pada saat berjalan. Berbeda dengan metode jembatan timbang, beberapa
keuntungan teknologi WIM antara lain lebih efisien dan menghemat waktu, khususnya pada saat lalu lintas
sibuk [2]. Hal ini akan mendukung modernisasi manajemen lalu lintas. Sejumlah sistem WIM pada jalan tol
telah dikembangkan dalam kurun 5 dekade yang lalu [2-4] dengan mengaplikasikan beberapa teknologi
sensor WIM. Beberapa teknologi sensor WiM yang ada saat ini menggunakan kabel piezoelectric, capacitive
mats, hydraulic dan sistemload cell [5]. Akan tetapi sensor-sensor tersebut memiliki beberapa kelemahan
TELAAH Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Volume 31 (1) 2013: 81-86
ISSN: 0125-9121

82
antara lain mudah terkena korosi, sekup kecepatan yang rendah, dapat terkena interferensi elektromagnetik,
dan memiliki akurasi yang rendah[5].
Berkaitan dengan masalah tersebut teknologi sensor berbasis serat optik tampaknya dapat dijadikan
solusi alternatif. Sensor serat optik memiliki beberapa keuntungan diantaranya adalah tahan terhadap
interferensi gelombang elektromagnetik, memiliki sensitivitas tinggi, dan tahan terhadap korosi serta tahan
terhadap suhu tinggi. Dalamtulisan ini dibahas tentang sensor beban berbasis serat optik yang menggunakan
teknik mikrobending serat optik. Sensor serat optik juga memiliki keuntungan lain antara lain struktur yang
sederhada dan biaya rendah. Mikrobending serat optik adalah suatu keadaan apabila serat optik berada dalam
kondisi terjepit atau tertindih suatu beban maka didalam serat optik tersebut akan terjadi perubahan
penjalaran cahaya yang mengakibatkan terjadi loss atau rugi-rugi transmisi cahaya. Rugi-rugi ini bersesuaian
dengan berat beban yang menimpanya sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi berat suatu beban.


2. METODOLOGI PENELITIAN

Sensor serat optik berdasarkan prinsip mikrobending terdiri dari serat optik dan bending modulator
yang menyebabkan terjadinya rugi-rugi daya dan intensitas cahaya. Performa sensor serat optik ditentukan
oleh banyaknya lekukan yang terjadi pada serat optik sehingga metode modulasi bending diadopsi untuk
menciptakan lekukan secara periodik. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, bending modulator berupa
papan dengan gerigi berbentuk segitiga pada salah satu sisinya dan serat optik berada tepat ditengah-tengah
antara papan gerigi dan bantalan karet yang berfungsi untuk menimbulkan efek elastis. Tinggi segitiga 5 mm
dengan jarak antar puncak segitiga 10 mm. Bantalan karet yang digunakan memiliki tingkat kekerasan
(hardness) sebesar 65 point. Dengan adanya gaya F yang menekan papan maka akan menyebabkan terjadinya
mikrobending pada serat optik. Hal ini mengakibatkan sebagian cahaya dalam serat optik akan keluar dan
menyebabkan intensitasnya menurun. Penurunan intensitas cahaya ini dapat dideteksi dengan photodiode
sehingga gaya tekan yang dialami oleh serat optik dapat dihitung dengan melihat penurunan respon tegangan
keluaran photodiode.







Gambar 1. Skema sensor serat optik berbasis mikrobending.

Blok diagramsistem weight in motion menggunakan sensor serat optik ditunjukkan pada Gambar 2.
Spesifikasi laser diode yang digunakan yaitu panjang gelombang 1310 nm, daya 2.5 mW, D Pin Code, SM
Fiber Pigtailed, FC/PC. Laser dipandu oleh 500 mA Universal Laser Diode Driver. Sedangkan
photodetector menggunakan InGaAs Photodiode dengan rise time 100, 800 1800 nm, FC/PC Coupled.
Sebagai data akuisisi digunakan DT9816-S dengan sampling rate hingga 750 kS/s per channel dan resolusi
ADC 16 bit. Cahaya laser melewati dan dimodulasi oleh sensor serat optik. Intesitas laser ini kemudian
dideteksi oleh photodiode. Adanya faktor mikrobending menyebabkan terjadi variasi besar intensitas yang
merupakan representasi dari gaya tekan pada sensor serat optik. Dari photodiode, sinyal mengalami
penguatan kemudian sinyal ini dikonversi oleh ADC menjadi sinyal digital. Sinyal digital ini kemudian
diolah oleh komputer dengan cara memasukan suatu persamaan sehingga didapatkan nilai gaya tekan yang
terjadi.











Gambar 2. Blok diagramsistem pengukuran beban menggunakan sensor serat optik.
Ser at opt ik
Papan ger igi
Bantalan kar et
Laser
Sensor Ser at
Opti k
Photodi ode
Konver si A/ D
Komputer
Investigasi Sensor Serat Optik untuk Aplikasi Sistem Pengukuran Berat Beban Berjalan (Weight in Motion
System) (Andi Setiono)

83
3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Aplikasi sensor serat optik berdasarkan teknik bending serat optik membutuhkan sumber cahaya stabil
[6]. Dalam penelitian ini digunakan cahaya laser dengan kestabilan yang cukup baik dengan nilai
fluktuasinya berkisar 25 mV. Pengujian terhadap sensor beban serat optik dilakukan dengan uji beban diam
dan uji beban berjalan. Intensitas cahaya laser yang merambat dalamserat serat optik berkurang akibat serat
optik tersebut mengalami bending. Penurunan intensitas ini berbanding lurus dengan respon tegangan
keluaran sensor seiring kenaikan beban yang diberikan. Namun demikian, dengan rekayasa software
penurunan respon tegangan ini dapat dibalik sehingga kenaikan beban akan menyebabkan kenaikan respon
tegangan keluaran sensor. Besar beban yang diujikan dalam uji static adalah 40 kg, 60 kg dan 80 kg. Grafik
pada Gambar 3 menunjukkan respon perubahan tegangan keluaran terhadap beban yang diberikan dalam3
kali pengujian.



Gambar 3. Grafik respon sensor terhadap beban 40,60, dan 80 kg.

Persamaan grafik pengujian I, II dan III masing-masing disebutkan dalampersamaan 1, 2 dan 3 sebagai
berikut.

416 , 3 092 , 0 = x y dengan 989 , 0
2
= R (1)

482 , 3 097 , 0 = x y dengan 950 , 0
2
= R (2)

378 , 3 088 , 0 = x y dengan 999 , 0
2
= R (3)

Dimana y adalah tegangan output sensor dan x adalah beban yang diberikan. Dari hasil pengujian dapat
dianalisa bahwa respon sensor serat optik memiliki kelinieran yang cukup baik terhadap beban diamantara
40 kg - 80 kg, ditunjukkan dengan nilai R
2
yang mendekati 1. Namun demikian repeatibilitas dan kestabilan
pengukuran belumcukup konsisten dalam 3 kali pengujian yang dilakukan. Hal ini disebabkan oleh modulasi
bending tidak merata dan tingkat elastisitas karet yang masih rendah.
Selain pengujian terhadap beban diam juga dilakukan pengujian terhadap beban berjalan. Terdapat 2
model modulasi bending dalamuji berjalan. Modulasi bending pertama menggunakan papan gerigi yang
lebih lancip dari pada model modulasi kedua (papan gerigi lebih tumpul). Papan gerigi yang lebih lancip
memungkinkan untuk mendeteksi beban yang relatif kecil sebaliknya dengan papan gerigi yang lebih tumpul
dapat mendeteksi beban dalamcakupan yang lebih besar. Untuk model pertama, beban yang diujikan yaitu
400 N, 600 N, dan 800 N. Sedangkan model kedua digunakan untuk menguji beban 1200 N dan 1580 N.
Bentuk respon tegangan keluaran sensor serat optik terhadap beban berjalan tampak seperti pada Gambar 4.
Analisa penghitungan berat beban berjalan didekati dengan konsep gaya impuls. Impuls adalah besaran
vektor yang arahya sejajar dengan arah gaya dan menyebabkan perubahan momentum, dinotasikan dengan I,
satuannya N.s atau kg.m/s. Berkaitan dengan pegukuran berat beban berjalan maka formulasi untuk
menghitung beban tersebut ditunjukkan pada persamaan 1 dan 2. Persamaan 1 merupakan analogi dari rumus
impuls yang kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan faktor kalibrasi C untuk
TELAAH Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Volume 31 (1) 2013: 81-86
ISSN: 0125-9121

84
menghitung berat beban berjalan (persamaan 2). Dengan adanya dua model ini maka sebagai konsekuensinya
adalah terdapat dua faktor kalibrasi C.





Gambar 4. Sampel respon sensor beban serat optik terhadap beban berjalan dengan amplitude A dan waktu tempuh t.

( ) t W A A = . (4)
C
t
A
W .
|
.
|

\
|
A
= (4)

Dengan W = Berat (N), A = Amplitudo (Volt), t = waktu (s). Analisa penghitungan beban berjalan melalui
pendekatan impuls didahului dengan mencari nilai amplitude dan waktu tempuh beban diatas sensor.
Selanjutnya dapat dihitung respon tegangan output per satuan waktu (volt/second). Hasil pengujian sensor
untuk beban 400 N, 600 N dan 800 N dengan model modulasi bending pertama (papan gerigi lancip)
ditunjukkan pada Gambar 5. Sedangkan hasil pengujian sensor untuk beban 1200 N dan 1580 N ditunjukkan
pada Gambar 6. Berdasarkan grafik tersebut dapat dihitung nilai faktor kalibrasi masing-masing beban
ditunjukkan pada Tabel 1.




Gambar 5. Grafik respon sensor terhadap beban berjalan 400 N, 600 N dan 800 N.



Gambar 6. Grafik respon sensor terhadap beban berjalan 1200 N dan 1580 N.
A
t
Investigasi Sensor Serat Optik untuk Aplikasi Sistem Pengukuran Berat Beban Berjalan (Weight in Motion
System) (Andi Setiono)

85
Tabel 1. Faktor kalibrasi beban 400 N, 600 N, 800 N, 1200 N dan 1580 N.

Beban (N) Faktor kalibrasi (N.s/V)
400 165.96
600 181.75
800 103.53
1200 9018.15
1580 15772.82

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, faktor kalibrasi untuk sensor dengan model modulasi pertama
dan kedua masing-masing adalah sebagai berikut.

648 , 3
1148 W
C

= (5)
untuk faktor kalibrasi model modulator bending I dan

12312 77 , 17 = W C (6)

untuk faktor kalibrasi untuk model modulasi bending II


















Gambar 9. Hasil pengukuran sensor untuk beban 800 N.

Hasil penghitungan berat beban berjalan sebesar 400 N, 600 N dan 800 N berdasarkan persamaan 4
masing-masing ditunjukkan dalam grafik pada Gambar 7, Gambar 8 dan Gambar 9. Error pengukuran untuk
beban 400 N, 600 N dan 800 N berturut-turut 28,3 %; 8,1 %; dan 2,9 %. Sedangkan hasil penghitungan berat
beban berjalan sebesar 1200 N dan 1580 N berdasarkan persamaan 4 masing-masing ditunjukkan dalam
grafik pada Gambar 10 dan Gambar 11. Error pengukuran untuk beban 1220 N sebesar 4,5 % sedangkan
pengukuran beban 1580 N memiliki error pengukuran sebesar 6,4 %. Error pengukuran terjadi sebagian besar
disebabkan oleh adanya vibrasi pada sensor ketika beban melewati sensor. Namun demikian, dengan rata-rata
error pengukuran yang relatif kecil menunjukkan bahwa konsep impuls dapat digunakan sebagai salah satu
formula untuk menghitung berat beban berjalan sehingga dapat diterapkan dalam sistemWeight In Motion
Gambar 7. Hasil pengukuran sensor untuk
beban 400 N.
Gambar 8. Hasil pengukuran sensor untuk
beban 600 N.

TELAAH Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Volume 31 (1) 2013: 81-86
ISSN: 0125-9121

86
dengan tingkat akurasi cukup tinggi. Perlu pengkajian lebih dalamlagi mengenai penerapan konsep impuls
pada sensor WIM dengan melibatkan lebih banyak data.















4. KESIMPULAN

Investigasi ini telah membuka tentang peluang bagi sensor serat optik untuk dijadikan sebagai alternatif
lain dalampengukuran beban baik beban diammaupun beban berjalan. Hal tersebut didukung dengan tingkat
kelinieran yang cukup baik terhadap beban yang diberikan dengan nilai rata-rata R
2
=0,98. Hasil pengujian
dinamis terhadap sensor dengan beban sebesar 400 N, 600 N, 800 N, 1200 N dan 1580 N menunjukkan error
masing-masing sebesar 28,3 %; 8,1 %; 2,9 %; 4,5 % dan 6,4 %. Selain itu dengan konsep impuls serat optik
dapat pula digunakan untuk mendeteksi berat beban yang berjalan sehingga kedepannya diharapkan mampu
mendukung sistem pengukuran berat beban berjalan (Weight In Motion System). Namun demikian masih
perlu penelitian lebih lanjut dan lebih banyak data lagi untuk mendapatkan formulasi.
penghitungan/pengukuran dengan tingkat error sekecil mungkin dan tingkat akurasi yang tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

[1] Ramesh B. Malla, Amlan Sen and Norman W. Garrick, A Special Fiber Optic Sensor for Measuring
Wheel Loads of Vehicles on Highways, Sensors vol 8, 2008, 2551-2568.
[2] Lee, C.E, Standards for Highway Weigh-In-Motion (WIM) Systems, ASTM Standardization News, Feb.
1991; pp. 32-37.
[3] Wyman, J.H, An Evaluation of Currently Available WIM System, In Proc. 3rd. National Conf. on Weigh-
In-Motion, March 1989, pp. 6-176.
[4] Cottrell, B. Jr, Evaluation of Weigh-In-Motion Systems, Final Report, FHWA Report FHWA/VA- 92-
RB, VTRC 92-RB; Nat. Tech. Info. Service: Springfield VA, 1992,p. 100.
[5] Ma Bin and Zou Xinguo, Study of Vehicle Weight-In-Motion System Based on Fiber-optic Microbend
Sensor, International Conference on Intelligent Computation Technology and Automation, 2010, pp.
458-461.
[6] Andi Setiono, Bambang Widiyatmoko, dan Imam Mulyanto, Kajian Mikrobending sebagai Sensor
Beban Berbasis Serat Optik Multimode, Prosiding Pertemuan Ilmiah XXVI HFI J ateng & DIY,
Purworejo 14 April 2012 ISSN : 0853-0823, pp. 179-181.







Gambar 10. Hasil pengukuran sensor untuk beban 1580 N. Gambar 11. Hasil pengukuran sensor untuk beban 1200.